Monthly Archives: Maret 2008

Belum Ada Titik Terang, Penyidikan Pemerkosaan Berjalan Lambat Karena Bukan Prioritas Polisi

BANDUNG – Kapolsek Cileunyi AKP Asep Saefudin mengaku pihaknya belum menemukan titik terang tentang keberadaan ketiga tersangka pemerkosaan terhadap Bunga,16,siswi SMP di Kecamatan Cileunyi.”Sampai saat ini masih dalam penyelidikan. Kami belum menemukan titik terang keberadaan mereka, meski dibantu pihak keluarga tersangka maupun warga masyarakat,” ungkap Asep saat ditemui SINDO di ruang kerjanya kemarin. Dia menerangkan, berdasarkan penyelidikan sementara tersangka Emus, 21,warga RT 01/15, Kampung Babakan Kinim, Desa Cileunyi Kulon,Kecamatan Cileunyi, diketahui bekerja di Bogor.

Namun, setelah ditelusuri pihak kepolisian tidak berhasil menemukannya di sana. Demikian pula terhadap Kojeg dan Asep yang keduanya merupakan warga Kampung Paledang, Kecamatan Cileunyi, belum juga diketahui keberadaannya. ”Pihak keluarga ketiga tersangka DPO sudah kami minta keterangan, namun mereka sendiri mengaku tidak tahu di mana keberadaan tersangka,” kata Asep.

Kanit Reskrim Polsek Cileunyi Ipda Dadang Garnadi menambahkan, ketujuh tersangka lainnya akan tetap ditahan di sel tahanan Mapolsek Cileunyi hingga proses penyelidikan tuntas.”Mereka akan tetapditahandisiniselamaproses pemeriksaan dan penyelidikan belum tuntas,”ujar Dadang. Dia mengungkapkan,Balai Pengawasan Anak (Bapas) Jabar telah meminta keterangan dari empat tersangka di bawah umur, yakni Iwan Suhendar,17; Heri Ruswandi, 17; Dedeng Pernama, 14; Atep,16.

”Bapas hanya memastikan jika keempat tersangka itu masih di bawah umur untuk selanjutnya mereka proses lebih lanjut sampai berkas perkara diajukan ke kejaksaan dan pengadilan.Kami sendiri belum menerima laporan dari hasil pemeriksaan Bapas tersebut,” terang dia.

Korban diperkosa dua kali diKompleks Perumahan Taman Cileunyi, Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi dan di Kompleks Perumahan DPRD Kabupaten Bandung, Kecamatan Cileunyi. Sebanyak 10 remaja resmi dijadikan tersangka dalam kasus ini dengan empat di antaranya sebagai pemerkosa dan enam lainnya terkategori pasal perbuatan cabul karena hanya membantu memegangi tangan dan kaki korban atau hanya memasukan jari ke vagina korban

Tersangka Pembunuh dan Pemerkosa Nur Izna Afridiasari Adalah Wanita

SLAWI – Siapa pembunuh Nur Izna Afridiasari,20,mahasiswi IMKI Prima,Tegal yang tewas di kamar rumahnya,hingga kemarin,masih misterius. Namun, pihak keluarga menduga, korban dibunuh bukan oleh teman laki-lakinya karena korban tidak tertarik dengan laki-laki.

Hal itu dibuktikan dari pengakuan saksi mata yang juga adik korban Arbi Azuman,4.”Saat saya tanya, dia (Arbi) bilang tidak lihat ada orang laki-laki masuk ke rumah. Dia tahunya wanita, kakak sering mengajak wanita menginap dirumah” kata Abdul Nasar,47, ayah kandung Nur Izna Afrdiasari atau biasa disapa Dias ditemui seusai pemakaman di rumahnya Desa Babakan,RT 04/IV, Kec Kramat, Kab Tegal, kemarin. Dia mengatakan, saat pertama kali ditemukan, posisi Dias sudah dalam keadaan setengah telanjang tanpa celana dalam.

”Saya juga curiga karena tidak ada tanda-tanda kekerasan seksual. Tetapi,ibu saya bilang ada bekas luka dan darah di alat vitalnya. Kemungkinan dia (pelaku) hanya mau melukai saja,”ujar dia. Frida,21, kakak korban mengaku selama ini Dias memang dikenal pendiam dan tidak pernah cerita maupun mengeluh soal pacar.”Setahu saya dia baru punya pacar, namanya Watia,” jelasnya. Sejak duduk di SMA, adiknya juga dikenal tidak suka berpacaran.

”Kalau teman cowok memang ada. Tetapi, kalau pacar tidak, dia lebih senang bergaul dengan wanita”tuturnya. Sementara itu, Deri,20, teman korban mengaku kaget dengan kematian tragis yang menimpa Dias.Menurut dia, selama satu semester berteman korban tidak pernah bercerita atau mengeluh tentang pacar. ” Tidak. Sama teman ceweknya juga tidak pernah cerita soal ceweknya,” kata dia saat mengikuti prosesi pemakaman korban.

Hal sama diungkapkan Linda, 20.Menurut dia, Dias memang pendiam dan jarang mengeluh soal pacarnya.”Setahu saya, selama ini pacarnya baik-baik saja.Tidak pernah bertengkar,”ungkapnya. Aminah,45, tetangga korban mengatakan, dirinya sering melihat korban banyak didatangi teman wanita. Namun, dia mengaku tidak tahu persis siapa pacar korban karena korban dikenal pendiam dan tidak pernah main ke rumah tetangga.

”Selama saya tinggal di sini, tidak pernah ngobrol sama dia (korban). Habis pulang kuliah juga tidak pernah ke luar rumah. Tetapi, saya sering lihat banyak teman-temannya pada main ke rumahnya,” ujar Amina. Sementara itu, hasil keterangan dari petugas Reskrim Polres Tegal sudah ada empat orang yang dicurigai melakukan aksi tersebut.Saat dikonfirmasi, KapolresTegal AKBP Hotman Simatupang melalui Kapolsek Kramat AKP Suyitno mengatakan,pihaknya belum mengarah pada seseorang.

”Hanya kami menduga korban dibunuh oleh orang dekat,”ungkapnya. Dia mengatakan, untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan pihaknya dibantu Tim Reskrim Polres Tegal dan sudah dua kali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP),yakni pada hari saat kejadian (Kamis 13/3) dan kemarin.”Dari hasil penyelidikan sementara, ada dugaan pelaku memiliki hubungan dekat dengan korban. Tetapi, kami belum tahu apa motifnya,”jelasnya. Upaya perkosaan yang gagal oleh pelaku, kata dia, hanya dugaan saat melakukan penyelidikan awal.

Motif lain seperti pencurian dikesampingkan, mengingat tidak ada barang berharga yang hilang dari rumah itu. ”Tidak ada barang-barang berharga milik korban yang hilang.Kami hanya menemukan kayu di kamar korban yang ada bercak darahnya,” ujarnya. Sementara itu, dr Leny Harlina, mengungkapkan berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap mayat korban ditemukan pendarahan di kedua telinga dan hidung. Selain itu, lebam di pipi kiri dan daun telinga serta leher.

”Korban meninggal karena pendaraan di daerah kepala akibat benturan benda tumpul dan muka dibekap bantal sehingga kekurangan oksigen,” ujarnya. Humas RS Mitra Siaga Tegal itu menjelaskan, hasil visum korban mendapat perlakuan asusila sebelum dibunuh.‘’Sejauh ini ditemukan tanda-tanda perkosaan terhadap korban. Tapi kepastiannya apakah ada bercak sperma atau tidak itu bukan wewenang kami. Sebab, itu merupakan tugas Labfor,’’ terangnya.

Dikenal Pintar

Kematin tragis yang menimpa Dias tidak saja membuat syok pihak keluarga.Sejumlah teman satu kuliahnya juga mengaku kaget dan tidak percaya dengan kematian cepat Dias.

Di mata temantemannya, Dias dikenal sosok yang pendiam dan tidak pernah mengeluh. Pimpinan Cabang IMKI Prima Kota Tegal Agung Prasetyo mengatakan korban dikenal mahasiswi berprestasi cukup baik. Hampir semua nilai mata kuliahnya didominasi A (sangat baik). ”Dia itu sebenarnya mahasiswa yang memiliki prospek bagus. Karena, hampir semua nilainya A,” teran-gnya. Sementara itu, Siyami, 42, ibu korban hingga kemarin masih shockdan belum bisa diwawancarai

Sama Sama Bermental Penjahat, Seorang Pembunuh Disiksa Dan Dipotong Akhirnya Dibunuh Dokter RSD Bekasi

BEKASI – Seorang tersangka pembunuh tewas disiksa secara keji oleh keluarga korban yang dendam terhadapnya. Peristiwa sadis ini terjadi di Kampung Jaya Sampurna, Kecamatan Serang Baru, Jumat (14/3).

Setelah diambil paksa dari rumahnya, Ahmad alias Madun, 30, lalu diseret beramai-ramai menggunakan tali hingga ke persawahan. Di situ Madun kembali disiksa. Sebelum dibenamkan ke lumpur, kaki pria ini dikampak hingga putus.

Usai melampiaskan dendam kesumat yang terpendam selama 3 tahun itu, para pelaku kemudian meninggalkannya di tengah sawah karena Madun dianggap sudah mati.

DITEMUKAN PETANI
Madun ditemukan petani yang kemudian melaporkannya ke Polsek Serang. Oleh petugas, Madun yang sudah tidak berdaya itu dilarikan ke RSD Kabupaten Bekasi.

Karena lukanya sangat parah dan peralatan yang ada tidak memadai untuk melakukan operasi, pihak rumah sakit menyarankan Madun dibawa ke rumah sakit besar.

TEWAS DIBUNUH DOKTER
Mendengar pernyataan pihak rumah sakit, tiga petugas Polsek Serang yang mengantar korban tidak bisa berbuat apa-apa. “Nanti siapa yang tanggung jawab, uang aja nggak ada dari kantor,” kata satu petugas yang mengaku kasihan dengan korban.

Akhirnya Madun tewas di kamar kosong RSD Kabupaten Bekasi, Sabtu (15/3) dinihari dengan ditonton oleh polisi dan dokter yang seharusnya berdasarkan sumpah dokter akan menolong siapa saja dan kapan saja. Beginilah akhir kisah tragis Madun untuk menebus dosanya hingga akhirnya mati terbunuh oleh dokter.

SEBELUM TEWAS MADUN CERITA
Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Madun sempat menceritakan peristiwa yang menimpanya dan bahkan minta minum kepada detektif Conan.

Menurut Madun, peristiwa tersebut berlatar belakang dendam karena ia telah membunuh Emus pada tahun 2005 di Jonggol. Dia mengaku sakit hati terhadap Emus karena sering ditagih utang di depan mertua.

“Saya malu ditagih di depan mertua,” kata lelaki yang mengaku punya satu anak itu sebelum tewas.

Setelah menghabisi Emus, Madun lalu buron dan menjadi DPO Polsek Jonggol. Tiga tahun lamanya ia melarikan diri hingga Jumat (14/3) dia memberanikan diri pulang ke rumah orang tuanya di Kampung Ciantra, Cikarang Selatan.

Mamat, 50, orang tua Madun, mengaku menyesal tidak segera datang untuk membawa anaknya berobat ke tempat lain. “Coba kalau saja dia cepat ditangani, pasti nggak akan begini,” katanya.

Polsek Serang hingga kini masih mengusut kasusnya, sedangkan jasad korban dikirim ke RSCM untuk diotopsi.

Jaksa Agung Tidak Punya Rasa Malu Apalagi Sense of Justice

JAKARTA – Masih lekat di benak masyarakat ketika Jaksa Agung Andi Ghalib terpaksa menerima pemberian ayam betina –simbol pengecut– dari sejumlah mahasiswa tahun 1998.

Masih terkenang saat dalam rapat kerja tahun 2005 anggota Komisi II DPR Anhar menyebut Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh sebagai ustad di kampung maling.

Kedua contoh peristiwa itu telah mencoreng kewibawaan institusi Kejaksaan Agung beserta jajarannya sebagai lembaga penyelenggara kekuasaan negara di bidang penuntutan hukum dan merupakan habitat para jaksa sebagai pelaksana penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Tragedi pencorengan terhadap kejaksaan kini mengemuka kembali tatkala Urip Tri Gunawan, jaksa dan bekas ketua tim penyelidik kasus BLBI pada Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) milik obligor Sjamsul Nursalim yang tertangkap basah oleh penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Minggu (2/3) atas dugaan menerima uang suap senilai 660 ribu dolar AS atau lebih dari Rp6 miliar dari Arthalita Suryani yang disebut-sebut orang dekat Nursalim.

Penangkapan terhadap Urip hanya berselang dua hari setelah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kemas Yahya Rahman mengumumkan menghentikan penyidikan kasus BLBI di Bank Central Asia dengan obligor Anthoni Salim dan di BDNI karena tak ditemukan perbuatan melawan hukum yang mengarah ke tindak pidana korupsi, sekaligus membubarkan tim penyelidik kasus itu yang terdiri atas 35 jaksa.

Atas kasus Urip itu Jaksa Agung Hendarman Supandji hanya bisa menangis sedih dan merasa amat terpukul. Nilai-nilai adhyaksa atau jaksa yang luhur yang menjadi simbol agung kejaksaan runtuh ke titik nadir. Adhyaksa seakan tak urip (Jawa: hidup).

Hendarman mencoba bangkit dengan langsung memerintahkan Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Marwani Slamet Rahardjo untuk memeriksa seluruh jajarannya termasuk 35 jaksa, Direktur Penyidikan M Salim, hingga Jampidsus Kemas Yahya Rahman.

Yang lebih menyesakkan kasus itu diungkap oleh KPK yang dipimpin Antasari Azhar, mantan Direktur Penuntutan pada Jaksa Agung Muda Penuntutan Umum Kejaksaan Agung yang separuh karirnya dijalani sebagai jaksa. Sebagian publik yang bermoral rusak membacanya sebagai “jeruk makan jeruk”.

Sambil menunggu hasil dari proses penyidikan terhadap Urip, bisa jadi ia telah lupa atas sumpah/janji sebagai seorang jaksa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia yang antara lain menyebutkan:

“bahwa saya senantiasa akan menolak atau tidak menerima atau tidak mau dipengaruhi oleh campur tangan siapa pun juga dan saya akan tetap teguh melaksanakan tugas dan wewenang saya yang diamanatkan undang-undang kepada saya.

“bahwa saya dengan sungguh-sungguh, untuk melaksanakan tugas ini, langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan nama atau cara apa pun juga, tidak memberikan atau menjanjikan sesuatu apapun kepada siapa pun juga”.

“bahwa saya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam tugas ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapa pun juga suatu janji atau pemberian”.

Hendarman berjanji akan menindak tegas oknum kejaksaan yang terlibat penyuapan. Jika memang terbukti melakukan kesalahan, Jaksa Agung tidak akan memberi ampun kepada semua pihak.

“Termasuk pada pejabat yang di atas, di samping maupun di bawah,” katanya.

Hendarman juga memerintahkan Rahardjo melakukan klarifikasi ke KPK untuk mengungkap kasus tersebut.

Ia juga meminta KPK untuk menuntut seberat-beratnya jika ada anak buahnya yang melakukan penyimpangan. “Tuntut sebesar-besarnya jika anak buah saya ada yang melakukan penyimpangan,” katanya menegaskan.

Sedangkan terhadap sejumlah kalangan yang mendesak agar mundur dari jabatan Jaksa Agung, Hendarman hanya berkomentar, “Apakah dengan mengundurkan diri bisa menyelesaikan masalah?”. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak tahu malu, dinegara lain yang sekuler, mengundurkan diri adalah bentuk rasa tanggung jawab. Malah di Jepang bentuk pernyataan bertanggung jawab dan penyelasan adalah dengan bunuh diri meskipun kasus korupsi itu dilakukan oleh anak buahnya. Mungkin bangsa Indonesia kurang lama dijajah Jepang hingga nilai-nilai yang baik dari bangsa Jepang tidak meresap kedalam hati bangsa Indonesia.

Pengunduran diri Jaksa Agung jelas bisa menyelesaikan masalah karena Jaksa Agung itu adalah masalah yang harus disingkirkan. Ketidak mampuan Jaksa Agung untuk memilih bawahan yang bersih dan jujur menandakan ketidak pantasannya sebagai Atasan.

Setelah sejumlah kalangan mahasiswa dan aktivis LSM yang mendesak agar Hendarman mundur, anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar Aulia Rachman, Senin (10/3) kembali menegaskan sikapnya mendesak Jaksa Agung segera melepaskan jabatannya.

“Ini sudah menyangkut etika dan moral kita sebagai orang timur yang selalu diagung-agungkan paling tinggi di dunia. Ini juga menyangkut kepercayaan rakyat dan negara yang telah tak mampu dipertanggungjawabkan,” katanya kepada Antara.

Sebagai bawahan Presiden RI, kata fungsionaris DPP Partai Golkar itu, Jaksa Agung semestinya langsung punya rasa bersalah, tidak cuma kecewa dan sedih.

“Kalau cuma kecewa dan sedih, tak ada pertanggungjawabannya. Jantan saja, mundur, karena sebagai bawahannya Presiden RI, telah mencoreng tanggung jawab yang diembannya,” kata Aulia.

Namun ada pula yang merasa yakin Hendarman dapat membersihkan jaksa-jaksa nakal mulai dari pusat hingga daerah, sebagaimana disampaikan pengacara Ruhut Sitompul.

“Saya percaya dia mampu karena dia diangkat menjadi Jaksa Agung oleh Presiden. (Dia) dikenal sangat bersih,” kata Ruhut.

Ruhut yang juga salah seorang Ketua DPP Partai Demokrat bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY minta publik mempercayakan Jaksa Agung menindak jajarannya yang nakal.

Memburu koruptor

Sekadar mengingatkan, Hendarman sebelum diangkat menjadi Jaksa Agung menyampaikan komitmennya untuk memburu para koruptor.

“Presiden memberi petunjuk agar saya meneruskan proses penegakan hukum, khususnya pemberantasan korupsi dan saya akan mengikuti petunjuk presiden seperti Harmoko dahulu” kata Hendarman Supandji seusai dipanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kediaman Cikeas, Kabupaten Bogor, Jabar, Sabtu (5/5/07).

Jaksa senior kelahiran Klaten, Jateng, 6 Januari 1947 itu, beberapa tahun terakhir ini giat memburu koruptor yang merupakan tugas utamanya, selaras dengan tekad Yudhoyono untuk melakukan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu. Ia dipercaya Yudhoyono sebagai Ketua Tim Pemberantas Tindak Pidana Korupsi sejak 4 Mei 2005.

Maka publik dapat dengan mudah ketika Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) ini dipanggil Yudhoyono untuk menjadi Jaksa Agung menggantikan Abdul Rahman Saleh.

Sebagian besar perjalanan hidupnya digeluti di Kejaksaan Agung dan suami Dr. Sri Kusumo Amdani, DSA, MSc itu sukses mengungkap praktek koruptor kakap seperti mantan Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo.

Karirnya di institusi “Adhyaksa” itu mulai moncer ketika pada tahun 1979-1981 menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

Pada tahun 1982-1983 ia menjabat Kepala Pusat Operasi Intelijen Kejaksaan Agung, kemudian diperbantukan di Badan Koordinasi Instruksi Presiden untuk masalah narkotika dan diperbantukan di Botsupal Badan Koordinasi Intelejen Negara (sekarang Badan Intelejen Negara) tahun 1984-1985.

Hendarman kemudian menjadi Kepala Seksi Penanggulangan Tindak Pidana Umum Intelejen selama lima tahun sejak 1985. Selama lima tahun berikutnya, Hendarman bertugas di luar negeri ketika dipercaya menjadi Atase Kejaksaan di Kedubes RI di Bangkok.

Kembali ke tanah air, Hendarman bertugas di Pusdiklat Kejaksaan Agung pada tahun 1995-1996. Lalu, Hendarman menjabat Asisten Perdata dan TUN di Kejaksaan Tinggi Sumsel di Palembang tahun 1996-1997.

Hendarman kembali ke Gedung Bundar Kejaksaan Agung untuk menjadi Staf Khusus Jaksa Agung tahun 1998, lalu menjadi Kepala Biro Keuangan Kejaksaan Agung pada 1998-2000.

Antara tahun 2002-2004, Hendarman menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Yogyakarta dan Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas), kemudian menjabat Jampidsus sejak 25 April 2004.

Ketika awal-awal menjabat Ketua Timtas Tipikor, Hendarman pernah mengajukan pertanyaan “mengejutkan” kepada Presiden Yudhoyono. “Seandainya di dalam menjalankan tugas itu, saya menemukan keterlibatan teman Bapak Presiden, sahabat Bapak, atau pembantu Bapak, apa yang akan Bapak Presiden lakukan?” tanya Hendarman. Presiden pun menjawab, silakan dan tidak akan melakukan intervensi.

Namun sebelum Hendarman menemukan kasus yang melibatkan teman, sahabat, atau pembantu Yudhoyono, justru Hendarman yang seakan “terkena batunya” karena ternyata teman, sahabat dan pembantunya yang tertangkap oleh KPK itu. Tak heran bila kondisinya seperti “memercik air didulang muka sendiri yang basah”.

Kasus Urip memang amat mengusik nilai “Adhyaksa” Jaksa Agung Hendarman Supandji dan ia mesti membuktikan ke publik mampu membersihkan jajarannya agar korsa kejaksaan benar-benar tegak dan berwibawa dan Ia juga harus terlebih dahulu membuktikan dirinya bersih dengan menjelaskan asal usul kekayaaannya dan bukti pembayaran pajak atas semua kekayaannya itu.

Program VISIT MUSI 2008 Hanya Didatangi Para Pejabat Yang Hendak Wisata Dengan Biaya Negara

PALEMBANG – Sorak-sorai menyambut penampilan artis-artis Ibu Kota pada malam peluncuran program Visit Musi 2008 di Benteng Kuto Besak, 5 Januari lalu, diwarnai peristiwa berdarah. Di bawah dekat Jembatan Ampera, tak jauh dari pusat acara, seorang siswa SMA harus meregang nyawa akibat ditujah (tusuk).Situasi itu sungguh ironis. Bayangkan saja, tepat saat Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mencanangkan tahun kunjungan wisata, justru terjadi peristiwa yang menunjukkan rapuhnya keamanan, sektor penting dalam dunia wisata. Tujah (yang kerap terjadi di hari-hari biasa) itu jadi pengingat, ada pekerjaan rumah (PR) besar yang perlu ditangani jika mau menyukseskan program Visit Musi 2008.

Sebenarnya sebagian besar masyarakat Sumsel menyambut Visit Musi 2008 sambil berharap, kebijakan itu dapat mendorong roda ekonomi. Namun, sebagian kalangan khawatir, program itu hanya jadi slogan birokrasi yang elitis, yang menguntungkan penguasa, pejabat dan pegawai negeri saja.

Memang, hingga kini, wisatawan yang berkunjung itu masih didominasi para pejabat yang datang untuk mengikuti kegiatan birokrasi sambil berekreasi ataupun para pegawai negeri yang sedang dinas keluar kota. Mereka ikut pertemuan, menginap di hotel-hotel, lalu naik kapal pesiar di Sungai Musi. Menurut Ketua PHRI Sumatera Selatan Iwan Setiawan, tingkat hunian hotel di Palembang meningkat, dari 70 persen tahun 2007 menjadi 80 persen pada periode Januari-Maret tahun 2008.

Namun, kehadiran para wisatawan itu masih belum dirasakan masyarakat bawah. Ketika banyak pejabat menyewa kapal-kapal pesiar, misalnya, para tukang ketek atau speedboat hanya jadi saksi sambil gigit jari. ”Janganlah program ini jadi omong besak bae (omong besar saja) di kalangan pejabat, sedangkan rakyat kecil malah dilupakan,” kata Tamsil (36), warga Palembang.

Ini masalah serius. Soalnya, citra rawan kriminalitas memang masih lekat dengan Palembang. Data dari Kepolisian Daerah Sumsel menunjukkan, angka kriminalitas di provinsi itu mencapai 12.709 kasus tahun 2007 dan 11.112 kasus tahun 2006. Sebagian besar kejahatan itu berupa penodongan, penjambretan, perampokan, yang kadang disertai penusukan (tujah).

”Angka kriminalitas di Kota Palembang menurun 38 persen, tapi polisi tetap mewaspadai sejumlah kejahatan,” kata Kepala Kepolisian Kota Besar Palembang Komisaris Besar (Kombes) Zainul Arifin.

Apakah citra itu benar-benar mengganggu? Bagi Gracia, warga Waropen, Papua, yang mengunjungi Sungai Musi, Selasa (11/3), situasi ini memang membuat susah. ”Kemarin malam saya mau keluar hotel untuk membeli pulsa telepon genggam, sekitar pukul 21.00, tapi dicegah karyawan hotel karena takut saya jadi korban kejahatan,” katanya.

Pengamat sosial dari Universitas Sriwijaya (Unsri), MH Thamrin, menilai, soal keamanan hanya salah satu PR yang pernu dibenahi. Demi menyukseskan Visit Musi 2008, masih banyak PR lain yang tak kalah penting, terutama menyiapkan budaya masyarakat agar turut menciptakan suasana nyaman bagi wisatawan. Itu mencakup soal perilaku yang ramah, bersih, terbuka, serta berkebudayaan.

Thailand, China, atau Bali cukup berhasil menjadi tujuan wisata karena pemerintah di sana jauh-jauh hari telah menyiapkan budaya masyarakat yang prowisata. ”Saya khawatir, pemerintah tak memiliki grand design untuk menyiapkan masyarakat sebagai subyek wisata. Kalau tidak, masyarakat tak siap dan merasa tak harus terlibat untuk program wisata,” katanya.

Rekan Kerja Menjerumuskan Sahabat Baiknya Ke Dukun Cabul

BANJARMASIN – Jajaran Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Banjarmasin berhasil mengamankan Mahyuni (32), warga Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara, karena terbukti menjadi dukun yang mencabuli seorang wanita usia 29 tahun yang menjadi pasiennya.Tersangka Mahyuni diamankan pihak berwajib, Kamis, dari rumahnya atas pengaduan korban yang mengaku telah hamil dua bulan lantaran dicabuli si dukun.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Poltabes Banjarmasin, AKP Bahrudin Tampubolon, kejadian pencabulan berawal pada Juni 2007 saat korban mengeluh kepada isteri tersangka tentang keinginannya untuk segera menikah dan menemukan laki-laki yang cocok sekaligus ideal.

Oleh isteri tersangka, korban disarankan untuk mengkonsultasikan keluhannya tersebut kepada suaminya yang memiliki kemampuan mistik alias ahli dalam dunia perdukunan.

Oleh karena percaya terhadap nasihat teman sekerjanya itu, korban bersedia untuk mengikuti anjuran melakukan upacara ritual khusus, yaitu seluruh bagian tubuhnya diukir menggunaan minyak yang telah diberikan mantera, dan melakukan mandi kembang.

Korban, yang lagi-lagi percaya, mengikuti permintaan tersangka yang berujung kepada tindak pencabulan sekaligus merenggut kegadisannya di rumah tersangka, persisnya di kamar khusus tempat semua ritual berlangsung.

Menurut pengakuan korban kepada detektif conan, dirinya sudah tak sadarkan diri ketika tersangka dukun cabul menyetubuhinya, ia hanya ingat ketika disuruh membuka semua pakaiannya dan ketika tersangka mulai mengukir seluruh tubuhnya dengan jari yang dilumuri minyak, ada perasaan seperti terbang namun anehnya seusai ritual tersebut dirinya tak kunjung mendapatkan menstruasi.

Oleh karena merasa ada kelainan dalam tubuhnya, korban pun akhirnya memeriksakan diri ke Poliklinik Kandungan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin, Banjarmasin, guna memastikan kondisi rahimnya, dan ternyata dokter memberitahukan bahwa ada benih bayi dalam kandungannya.

Tidak terima atas perlakuan tersangka, korban akhirnya melaporkan kejadian yang telah menimpanya tersebut ke pihak berwajib

Polisi Berhasil Menangkap 12 Bajak Laut

SAMARINDA – Kepolisian Resor Tarakan, Kalimantan Timur, menahan 12 tersangka perampok yang selama ini meresahkan pemilik tambak serta kapal ikan dan barang di perairan daerah tersebut. Kawanan bersenjata api itu ditangkap di perbatasan Kalimantan Timur dengan Tawau, Malaysia Timur.

”Mereka kerap beroperasi di kawasan Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan,” kata Kepala Kepolisian Resor (Polres) Tarakan Ajun Komisaris Besar Suwono Rubiyanto melalui Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Tarakan Ajun Komisaris Wahyu Kuncoro, Sabtu (15/3).

Penangkapan itu berlangsung sejak Selasa lalu. Saat ini polisi masih mengejar lima perampok yang kabur ke Tawau.

Wahyu Kuncoro mengungkapkan, penangkapan kawanan itu berawal dari tertangkapnya tiga perampok yang bersembunyi di daerah Jembatan Bangkok, Kecamatan Tarakan Barat. Mereka masing-masing berinisial IR (23), RS (24), dan BR (24).

”Saat disergap, mereka sempat melawan. Petugas akhirnya melepaskan tembakan di kaki untuk melumpuhkan mereka. Saat ini mereka dirawat di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan,” katanya.

Dari tiga perampok itulah, lanjut Wahyu, diketahui ada kawanan perampok lain yang bersembunyi di Pulau Sebatik, di perbatasan Kaltim-Tawau. Pengejaran terhadap para pelaku kejahatan dilakukan bekerja sama dengan sejumlah anggota polisi dari Polres Nunukan.

Penangkapan para perampok tersebut berlangsung selama dua hari, yakni pada Rabu dan Kamis (13/3). Petugas berusaha melumpuhkan mereka karena para perampok menggunakan sejumlah senjata api. Komplotan penjahat itu ditangkap di beberapa rumah penduduk yang dijadikan tempat persembunyian.

”Polisi menangkap sembilan pelaku dan seorang di antaranya adalah pimpinan mereka. Namun, beberapa perampok berhasil melarikan diri ke perbatasan Malaysia,” kata Wahyu.

Wahyu mengatakan, saat penangkapan polisi menyita delapan senjata api, yakni lima senjata laras panjang dan tiga senjata pendek jenis FN. Selain itu, juga disita dua perahu motor cepat (speedboat) bermesin 75 PK dan 60 PK.

20 kali merampok

Sejak 2007 hingga Maret 2008, aksi kejahatan mereka di perairan utara Kaltim sebanyak 20 kali.

Menurut Wahyu, kawanan perampok tersebut dalam melakukan aksinya diduga terbagi dalam tiga kelompok. Semua kelompok itu dipimpin BH sebagai koordinator dan penyandang dana. Adapun pasokan senjata api didapat dari JM yang pandai membuat senjata rakitan. Sasaran mereka adalah tambak yang akan dipanen. Hasilnya mereka jual ke pedagang penampung.

Kawanan penjahat itu juga merampok kapal penangkap ikan yang memiliki GPS (global positioning system). Alat ini mereka jual ke Tawau dengan harga sekitar 3.000 ringgit Malaysia. Selanjutnya, mereka juga menggasak barang dari sejumlah kapal kargo antarpulau yang mengangkut barang di perairan itu. ”Para pelaku sebagian besar adalah pendatang dari Sulawesi,” ujar Wahyu.