Monthly Archives: Maret 2008

Ketidakmampuan Presiden SBY Dalam Memerintah Membuat Iis Meninggal

TANGERANG – Gara-gara sakit tetapi tak kunjung mendapat pengobatan, Iis Maya (22), warga RT 04 RW 03 Kelurahan Poris Plawad Indah, Cipondoh, Kota Tangerang, Kamis (13/3) pagi, meninggal dunia di rumah kontrakannya. Siang harinya, jenazah Iis diantar mobil tetangganya untuk dimakamkan di Cirebon.

Suasana sendu, kemarin, masih terasa di rumah kontrakan Juanda (35), suami Iis. Kakak kandung Iis, Saodah (26), bersama suami dan anaknya yang berusia tiga bulan menunggui rumah kontrakan berukuran lebar sekitar dua meter dengan panjang tiga meter itu.

Juanda sejak tiga tahunan ini tinggal di kontrakan yang hanya berisi kasur tipis, sebuah teve 14 inci, dan alat putar VCD tersebut. Sewanya Rp 120.000 per bulan, sudah termasuk pemakaian listrik.

”Suaminya dan Rama, anak Iis yang berusia tiga tahun, ikut mengantar jenazah ke kampung,” tutur Saodah. Di sisinya berdiri Sumining, tetangga Iis yang sama-sama mengontrak di rumah petak milik Hajah Sini.

Menurut Sumining, kondisi Iis pertama kali diketahui oleh suaminya yang baru pulang dari Pasar Baru, Tangerang, pada Kamis sekitar pukul 07.30. Juanda sehari-hari berjualan ikan pindang di Pasar Baru dari malam hingga pagi. ”Posisi Iis nungging persis di belakang pintu sini,” ujar Sumining sembari menirukan posisi tubuh Iis.

Begitu datang, Juanda memanggil-manggil istrinya. Sumining yang tinggal di samping rumah kontrakan keluarga tersebut spontan masuk ke rumah Juanda. Segera Juanda dan Sumining memegang badan Iis. ”Badannya masih terasa hangat. Terus saya bantu Juanda melumuri tangan, badan, dan kaki Iis dengan minyak gosok. Kami pijat-pijat, tetapi Iis tak bergerak juga,” urai Sumining.

Tetangga pun heboh karena Juanda menangis histeris melihat istrinya yang tak bereaksi saat dipijat dan dipanggil-panggil. Bidan Hesti yang tinggal di dekat rumah Iis turun tangan. Ia memeriksa nadi Iis yang ternyata tak lagi berdenyut. ”Kata bu bidan, Iis sudah meninggal dunia,” kata seorang tetangga korban yang ikut memberi pertolongan pertama.

Tak punya uang berobat

Masih menurut Sumining, Iis sudah mengeluh kurang enak badan sejak seminggu terakhir. Perempuan tak lulus SD asal Ciledug-Cirebon yang menderita penyakit gondok itu mengeluh sakit di bagian lehernya. Tiga hari terakhir ia malah muntah-muntah saat perutnya diisi makanan.

Akan tetapi, setiap hari ia tetap memasak, membersihkan rumah, dan menjaga Rama, anak tunggalnya. Ny Syarif, istri ketua RT 04 RW 03, menyatakan masih bertemu Iis pada Rabu siang. ”Ia bilang ingin ikut arisan karena selama ini tak pernah punya tabungan,” tuturnya.

Kepada tetangganya, Juanda mengaku ingin membawa Iis berobat, tetapi ia tak punya uang. ”Penghasilannya sehari paling banyak Rp 15.000 yang harus dipotong ongkos pulang dari pasar ke rumah,” ujar tetangga yang tak mau disebut namanya.

Ia bahkan sudah berupaya meminjam uang ke pemilik usaha ikan pindang, tetapi ditolak.

Berkat uluran tangan Ketua RT 04 RW 03, Syarif, dan para tetangga, jenazah Iis bisa segera dibawa ke Cirebon untuk dimakamkan.

Karena warga tak mampu membiayai sewa ambulans, Syarif meminta bantuan Sugih, warga RT setempat, untuk mengantar jenazah Iis menggunakan mobil pribadinya.

Camat Cipondoh Syahrudin membantah keterangan yang menyatakan Iis menderita gizi buruk. ”Tidak benar ia menderita gizi buruk. Ia meninggal karena sakit dan memang waktunya meninggal. Setiap orang pasti akan meninggal cuma caranya saja yang berbeda. Hanya orang-orang bodoh saja yang mati dengan cara demikian,” tukasnya. Ia menyatakan sudah memberi bantuan berupa pembuatan surat kematian Iis untuk memudahkan keluarga dan tetangga Iis membawa jenazah Iis ke kampung yang sebenarnya bisa ia persulit, kalau bantuan keuangan dan pembebasan biaya berobat sebagai Camat, Ia menolak untuk memberikan karena akan menyebabkan masyarakat malas untuk bekerja. Dananya tidak tersedia dan tahun anggaran ini lebih diutamakan untuk perbaikan rumah dinas yang lebih penting dan mendesak.

“Setiap hari pasti ada orang meninggal, jangan terlalu dibesar-besarkanlah tapi kalau rumah dinas pejabat yang tidak mewah itu hanya terjadi di Indonesia saja. Hal inilah yang seharusnya diberitakan,”lanjutnya menutup pembicaraan

Usai Pesta Ulang Tahun, Kegadisan Rossa Direngut Oleh Temannya Sendiri

MEDAN – Sehabis manggung di acara pesta, Ros,14, penyanyi organ tunggal diperkosa di Perkebunan Sawit, Labuhan Batu, Sumatera Utara, Selasa malam.Menurut keterangan, malam itu artis berkulit putih ini manggung bersama, Ita,18, temannya di Labuhan Batu. Usai manggung Ita dijemput pacarnya dan berpesan kepada temannya KK, agar mengantar korban pulang ke rumahnya.

Awalnya korban menolak diantar KK, namun karena desakan Ita akhirnya gadis malang itu bersedia. Tapi, celakanya Ros, bukannya diantar pulang, melainkan dibawa tersangka ke perkebunan sawit.

Ditempat sepi itu pelaku mencekik leher korban dan mengikat leher korban ke pohon sawit sementara pelaku menelanjangi korban yang kemudian direnggut kegadisannya. Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku meninggalkan korban dalam keadaan tanpa busana. Ross kemudian ditolong pekerja perkebunan sawit dan kemudian diserahkan ke polisi

Teman Tidur Gogon Tidak Terima Dihukum Karena Mengkonsumsi Narkoba

TANGERANG – Wanita teman tidur pelawak Margona alias Gogon dituntut hukuman penjara 5 tahun serta denda Rp 150 juta di PN Tangerang, Rabu (12/3). Sedangkan Gogon tampak tegang lantaran terkejut mendengar tuntutan jaksa.

“Saya tidak bersalah. Saya malah memberitahu polisi kalau Gogon memiliki Narkoba di rumahnya. Kenapa saya malah dihukum. Bagaimana hukum di Indonesia ini,” teriak Tri Kusni Handayani,37, alias Anggi usai sidang. Tak lama setelah berteriak, wanita bertubuh gemuk ini lalu ambruk di depan sel.

Petugas kemudian mengangkat tubuh janda beranak dua itu lalu dibaringkan di bangku panjang. Pengacara terdakwa Husen Tuhuteru,SH dan Zulfikar Siregar,SH nampak bingung karena kliennya pingsan. Kedua pengacara ini berusaha menenangkan Anggi setelah ia siuman.

“Ibu tak tak usah bingung, nanti ibu akan saya bela dalam sidang. Ini kan baru tuntutan jaksa, belum putusan hakim,” bujuk Husen. Anggi lalu dibawa petugas tahanan ke LP Wanita.

Jaksa Fauzan,SH dan Trimulyono,SH dalam tuntutannya di hadapan majelis hakim pimpinan Barmen Sinurat,SH menyatakan Anggi terbukti mengkonsumsi narkoba jenis shabu dan pil ekstasi bersama Gogon di rumah pelawak Srimulat itu di Perumahan Bandara Mas Blok U No18, Neglasari, Kota Tangerang pada 21 Agustus 2007 lalu.

Dalam sidang terpisah Gogon juga dituntut hukuman yang sama dengan Anggi. Gogon sempat kaget karena tuntutan itu dinilai sangat berat. “Saya keberatan dengan tuntutan itu,” ucapnya usai sidang.

Tim pembela Gogon yang terdiri dari 20 pengacara antara lain Husen Tuhuteru dan Zulfikar Siregar juga akan berjuang melakukan pembelaan pada sidang dua minggu mendatang.

Sama Sama Buat Film Porno, Yang Cewek Dipecat Sedang Yang PNS Jadi Pahlawan

BANDARLAMPUNG – Sementara itu, adegan syur yang dilakukan Ajeng dengan Sa di HP yang sudah direkam oleh beberapa warga Bandar Lampung, berbuntut panjang. Ajeng yang selama ini dikenal sebagai seorang gadis cantik yang pendiam itu, dipecat sebagai sebagai pegawai honorer di Pemda Lampung. Sedangkan lawan mainnya seorang PNS yang harusnya jadi teladan serta melindungi rakyat tidak menerima sangsi apapun.Sementara itu, Kapoltabes Bandar Lampung, Kombes Pol. Drs. Syauqie Achmad mengatakan, pihaknya telah mengumpulkan bukti-bukti peredaran adegan video porno. Tidak ada bukti yang mengarah pada unsur keterpaksaan karena posisi Ajeng yang lemah sebagai honorer sedang Sa adalah atasannya. Semua bukti mengarah bahawa tanpa adanya Ajeng tidak mungkin video itu dibuat. Jadi untuk melindungi korban Sa maka hanya nama Ajeng saja yang dipublikasikan.

Untuk membuktikan keaslian adegan itu, Pakar telematika, Roy Suryo, akan datang ke Lampung.

“Kita akan mendatangkan Roy Suryo, jika memang tidak ada pakar telematika di Bandarlampung,” kata Kapoltabes Bandarlampung.

Putra Rano Karno Tabrak Polisi

JAKARTA – Polisi pulang bertugas patah kaki ditabrak mobil milik anak aktor yang juga Wakil Bupati Tangerang, Rano Karno, di perempatan lampu merah Blok U, jalan Wijaya 1, Jaksel, Rabu (12/3) dinihari.

Aiptu Ratno, anggota Reskrim Polres Jakarta Selatan, Aiptu Ratno, terkapar ditabrak Honda Civic B 312 IO milik Raka Widyatma, 17, putra Rano, yang dikemudikan oleh temannya, Capisehan Hariadi,18. Ratno, warga Cikoko RT 02/02, Pancoran, Jakarta Selatan, mengalami patah tangan dan kaki.

Setelah sempat dibawa ke RS Fatmawati, ia langsung dilarikan ke dukun patah tulang di Cimande, Sukabumi, Jawa Barat. “Itu atas permintaan keluarga korban guna menyembuhkan tangan dan kaki yang patah,” kata Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Chairul Anwar MH didampingi Kanit Laka AKP Yassir.

Menurut AKP Yasir, kecelakaan yang menimpa Aiptu Ratno terjadi Pk. 02.30 saat ia hendak pulang ke rumahnya pakai motor Honda Supra X B 6375 SDP. Setibanya di lokasi, tiba-tiba muncul mobil Honda Civic yang dikemudikan rekan Raka, Capisehan Hariadi, 18. Karena kecepatan cukup tinggi, tabrakan pun tak bisa dihindari.

Ratno terjungkal dari motornya, sementara mobil yang ditumpangi Hariadi bersama Raka menabrak trotoar. Namun kedua remaja ini tidak menderita luka. Petugas Satuan Lalu Lintas yang menangani kasus ini langsung mengamankan keduanya untuk dimintai keterangan.

“Hariadi siap menanggung biaya pengobatan atas diri Aiptu Ratno. Masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Orangtua Hariadi juga sudah mengunjungi korban,” tandas Yasir.

Menanggapi kecelakaan yang menimpa Raka Widyatma, anak dari Rano Karno, Suti Karno mengatakan, bukan Raka yang mengemudikannya.

“Malam itu yang mengemudikan temannya meminjam mobil Raka,” kata Suti, si pemeran Atun dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan itu, Rabu (12/3). Menurut Suti, kini persoalannya telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Calon Dokter Hilang Setelah Menerima Uang 92 Juta, Diduga Akibat Ikuti Ajaran Sesat

DEPOK – Penghuni rumah sederhana di Jalan Ancol Selatan, RT 02/01, Tanjung Priok, Jakarta Utara itu menyimpan cerita duka. Kusno Sujarwadi, 21, anak tertua pasangan Kusmanto, 45, dan Ny. Gini, 38, yang diharapkan menjadi dokter, hilang tak tentu rimbanya. Tragisnya, mahasiswa kedokteran Universitas Pembangunan Nasional (UPN) itu menghilang dari rumah kosnya setelah menerima kiriman uang sebesar Rp 92 juta.Tanpa kabar kemana perginya Kus, panggilan akrab anak tertua dari empat bersaudara ini tentu membuat duka yang mendalam bagi keluarga tersebut. “ Sudah tingga minggu ini kami tidak mendapat kabar kemana perginya Kusno. Hilangnya Kusno sudah kami laporkan ke Polsek Limo, “ tutur Kusmanto, yang ditemui Pos Kota, Rabu (12/3) siang.

Dijelaskan Kusmanto, anak tertuanya itu menuntut ilmu di UPN mengambil jurusan kedokteran. Untuk menghemat biaya hidup, Kusno kos di dekat kampusnya di Depok. “ Sebelum melapor ke polisi, saya mendatangi rumah kos, tapi sudah kosong. Bahkan barang-barang berharga milik anak saya sudah tidak ada. Tolong bantu saya mencari Kusno, “ kata Kusmanto penuh harap.

KOMUNITAS KEAGAMAAN
Hilangnya mahasiswa semester tiga ini, kata Kusmanto, diduga kuat terkait dengan ajaran sebuah komunitas agama Islam yang gencar ia promosikan kepada orang tua dan saudaranya. “ Komunitas keagamaan ini berpusat di daerah Indramayu. Anak saya pernah memutar DVD yang berisi ajaran keagamaan itu. Saya yakin anak saya terpengaruh dengan ajaran ini. Tapi mungkin saja ia diculik, “ ujar Kusmanto.

Nyonya Gini menambahkan anak pertamanya yang diharapkan akan menjadi dokter itu menghilang tanpa pesan. “Komunikasi terakhir Selasa (4/3) malam. Waktu itu dia nelepon nanya kabar saya,” tutur Gini sedih.

Ketika itu Kus hanya sebentar menghubungi.“Dia cuma bertanya tentang keadaan saya dan keluarga. Setelah itu langsung ditutup teleponnya tanpa menyebutkan keberadaannya,” lanjut Gini.

Sikap tak biasa putra sulungnya itu pun menyulut kecurigaan kedua pasangan suami istri ini. Namun, perasaan itu masih dipendamnya. Jumat (7/3) malam, Gini bersama suaminya mengunjungi tempat kos Kus di Jalan Pangkalan Jati II, RT 05/02, Limo, Depok. Di tempat ini keduanya mendapati kamar yang dihuni anaknya telah kosong.

Kusmanto langsung tersentak saat Hj. Andayani, pemilik kos, menyebutkan kalau sudah dua minggu lebih ini Kus tidak datang ke tempat kosnya. “Mendengar itu saya langsung lemas,” ujar Kusmanto.

Terekam dalam benak Kusmanto tentang perilaku sang anak yang sempat diperlihatkan kepadanya sebelum hilang. Kusno terakhir datang ke rumah pada 22 Februari lalu. Saat itu, dia datang untuk menaruh sepeda motor bebeknya. “Waktu itu dia juga sempat memperlihatkan sebuah kepingan DVD yang dibawanya tentang profil dan ajaran pesantren di daerah Indramayu. Bahkan dia juga sempat meminta sama saya kalau adiknya nanti disekolahkan di tempat itu,” kata Gini.

Sambil sedikit berpromosi, Kusno kembali menyebutkan kepada sang ibu bahwa masa depan akan cerah jika mengikuti ajaran yang diterapkan pesantren tersebut. “ Pokoknya apa yang kita inginkan pasti bisa terwujud jika kita masuk ke kelompok itu,” ujar Gini menirukan ucapan Kusno.

MINTA UANG
Sebelumnya, awal Februari, Kusno meminta uang sebesar Rp92 juta kepada orang tuanya. Beralasan untuk membayar uang kuliah, Kusno mendesak agar segera mentransfer uang sebesar itu. Permintaan calon dokter ini dituruti. Pada 18 dan 20 Februari, Kusmanto bersama istri mentransfer ke rekening milik anaknya itu. “Sebenarnya saya nggak punya uang sebanyak itu. Uang itu terkumpul berkat pinjaman dari saudara saudara saya,” tutur Kusmanto yang mengaku percaya dengan permintaan anaknya setelah diperlihatkan sebuah kertas rincian biaya yang dikeluarkan dari kampus tempat Kusno kuliah. “Belakangan diketahui kalau surat itu palsu,” lanjut Kusmanto.

Selama ini Kusno dikenal berperilaku baik. Oleh warga di sekitar tempatnya tinggal, Kusno dikenal sebagai sesosok pemuda yang taat beragama. Perilaku itulah yang memicu kedua orang tuanya untuk menyekolahkan SMP nya di Pondok Pesantren Al Muchlisin, Parung, Bogor. “Lulus dari pondok, dia saya sekolahkan di SMA 41 Sunter,” kata Kusmanto, yang bekerja sebagai karyawan di Ancol.

Terkait kekhawatiran dirinya dengan masuknya sang putra ke dalam suatu kelompok ajaran keagamaan tertentu. Kusmanto sempat menyebutkan kehadiran seorang rekan Kusno yang datang ke rumahnya pada bulan puasa tahun lalu. Saat itu seorang pria berpenampilan rapi dan alim datang ke rumahnya.

“Saya lupa nama lelaki itu. Tetapi semenjak lelaki itu datang, prilaku anak saya langsung berubah. Setiap apa yang dia minta mesti dituruti. Saya juga heran, sepetinya ada yang menyuruh dia” ungkap Kusmanto. Kini, lelaki asal Sragen, Jawa Tengah ini berharap sang putra bisa kembali dengan selamat.

“Masalah uang saya tak pikirkan, yang penting anak saya bisa berkumpul kembali,” kata Kusmanto, sambil mengimbau kepada warga yang mengetahui keberadaan anaknya segera menghubungi nomor telepon 021-98184639.

Hilangnya Kusno ini bukan cerita baru. Beberapa waktu lalu, Fitri, mahasiswi yang kuliah di Bandung, juga tak tentu rimbanya. Orangtua mahasiswi ini menduga, sang anak pergi tanpa pamit karena terpengaruh ajaran sesat. Bahkan, kasus serupa menimpa Anggraini, mahasiswa di Bogor

Salesman Gelapkan Uang

JAKARTA – Kehidupan Ahmad Subari sangat memprihatinkan. Dalam keadaan perokonomian negara ini yang carut-marut ditambah lagi banyak masyarakat miskin, dia rela masuk bui demi kelangsungan pendidikan anak-anaknya.

Subari, warga Tanah Kusir, ini mengaku pasrah ketika dirinya tak bisa lagi mengembalikan uang perusahaannya yang dipakai untuk biaya hidup sehari – hari. “Saya terpaksa gunakan uang perusahaan demi biaya sekolah anak, Pak,” katanya saat diadili di PN Jakpus, Rabu (12/3).

Lelaki berusia 42 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai slaes di perusahaan sepatu PT Asia Safety Indonesia ini, dituduh Jaksa Tining Hariati menggelapkan penjualan selusin sepatu Rp2,2 juta lebih. “Perbuatan ini dilakukan terdakwa 25 Mei 2006,” kata jaksa sambil menyebutkan hal itu dilakukan setelah Subari bekerja sekitar setahun di perusahaan yang berkantor di Mega Global, Jakpus.

“Ya, kalau memang saudara pakai uang itu, kenapa tidak segera dikembalikan?” tanya Moef’ri, ketua majelis hakim.

“Saya pikir dipotong gaji, Pak,” jawab terdakwa yang mengaku digaji setiap bulannya Rp1,9 juta itu sambil menundukkan mukanya. “Saya menyesal, Pak. Tapi apa mau dibilang, semua ini karena kebutuhan.”

Artis Video Porno Threesome Sisca Canonball Ditangkap Polisi

SURABAYA – Salah satu pelaku dalam rekaman video porno berjudul Siscacanonball yang wajahnya mirip Siska, vokalis grup Cannonball, Senin (10/3), berhasil ditemukan anggota Kepolisian Sektor Kota Wiyung, Surabaya. Perempuan bernama Kartika Sabrina (24), warga Jl Ploso, Tambaksari itu selanjutnya diamankan dan dimintai keterangan di Mapolsekta Wiyung.Terungkapnya kasus itu bermula dari tayangan seputar video mesum tersebut di sebuah infotainmen yang disaksikan petugas Polsek Wiyung. Petugas kepolisian Wiyung juga berhasil mendapatkan gambar utuh tontonan pemacu adrenalin itu dalam bentuk utuh lewat internet yang kemudian ditonton beramai-ramai oleh rekan-rekan yang lain.Salah seorang petugas Polsek Wiyung rupanya mengenali sosok yang melakukan adegan mesum itu sebagai penyanyi sebuah klab malam di Surabaya karena sering mengunjungi klab-klab malam dan kebetulan pelaku adalah langanannya. “Terutama dari anting dan tindik yang ada di daun telinga sebelah kanan, saya tidak akan pernah lupa,” jelas Kepala Polsekta Wiyung Ajun Komisaris Kasijan.Jajaran kepolisian Wiyung kemudian melakukan penelusuran dan berhasil menemukan tempat tinggal Kartika Sabrina. Ketika ditunjukkan rekaman video itu, Kartika Sabrina sempat terkejut. Namun, ibu satu anak ini lalu mengaku pernah melakukan adegan itu.Dalam proses pemeriksaan selanjutnya, Kartika Sabrina menyebut saat kejadian diambil di Hotel Novotel Palembang pada bulan Februari 2006 lalu. Saat itu dirinya tengah mendapat kontrak menyanyi di sebuah pub di Palembang bersama delapan orang anggota band lainnya.Yang lebih aneh, saat di hadapan penyidik, perempuan cantik yang wajahnya mirip dengan Siska ini mengaku melakukan adegan tersebut atas dasar suka sama suka.

Saat kejadian berlangsung, menurut pengakuan Kartika Sabrina, dirinya dalam pengaruh minuman keras. Sebagai pengambil gambar adalah Wahyu, rekan satu grup band yang juga rekan dari suaminya yang tak mau dia sebutkan. Kami sudah biasa melakukan itu beramai-ramai tapi biasanya tidak ada yang berani merekam bila ada suami.

Ditambahkan Kartika Sabrina, saat itu suaminya –juga pemain band—sedang menjalani konser di Batam. “Awalnya saya dan Wahyu hanya minum-minum. Setelah mabuk, saya ingat Wahyu memanggil dua temannya dan karena dibawah pengaruh alkohol saya jadi mudah terangsang dan akhirnya saya lakukan adegan itu,” katanya seperti dikutip polisi. Lebih lanjut Kartika Sabrina mengaku tidak mengenal dua pria yang ikut bersetubuh bersamanya.

Setelah puas ‘bermain’ bersama dua orang sekaligus, Kartika Sabrina yang kecapaian kemudian tertidur sampai keesokan harinya. Dan waktu sadar, Wahyu menunjukkan hasil rekaman itu kepadanya. Waktu itu, dia sudah minta pada Wahyu agar rekaman itu dihapus. “Eh, bukannya dihapus, malah disebarluaskan,” rutuknya.

Kartika Sabrina juga meminta agar keselamatanya selama dalam tahanan dijamin, ia khawatir dengan banyaknya berita wanita yang jadi bulan-bulanan pemerkosaan polisi selama berada dalam tahanan polisi. Terlebih dalam video itu, ia melayani dua lak-laki sekaligus. “Lelaki mana yang tidak akan tergoda,” ujarnya.

Mental PNS Bobrok Luar Dalam, Adujan Gubernur Lampung Juga Jadi Artis Video Porno

LAMPUNG – Masyarakat Lampung heboh dengan beredarnya video mesum yang ‘diperankan’ Ajeng, ajudan Gubernur Lampung dengan lawan mainnya Sandy, pegawai di Pemerinatahan Kota Bandarlampung.Hebohnya video porno berdurasi 1 menit 51 detik yang beredar bebas di handphone masyarakat Bandarlampung itu, saat ini diselidiki Poltabes Bandarlampung.

Kapoltabes Bandarlampung Kombes Polisi Syauqie Ahmad yang dikonfirmasi membenarkan beredarnya video mesum kedua PNS tersebut ditengah masyarakat. Kini pihaknya masih menyelidiki dan memanggil saksi korban.

“Kami akan memanggil korban untuk dimintai keterangan terkait video mesum itu,” ujarnya. Untuk tersangka, Syauqie Ahmad menyatakan hingga kini pihaknya belum bisa memastikan karena masih meminta keterangan dari saksi-saksi.

Sementara, dilingkungan kantor Pemerintah Propinsi Lampung, beberapa karyawan menyatakan mengetahui adegan porno itu dari handphone. Selama ini, Ajeng merupakan karyawan honor di bagian protokol. “Sudah 2 hari ini dia sudah tidak masuk kantor,” jelas Lety, teman Ajeng.

Kadis Komunikasi dan Informasi Pemerintah Propinsi Lampung Adeham, menyatakan sama sekali belum menerima informasi salah satu karyawan honor di bagian protokol melakukan perbuatan tidak senonoh. “Kami akan menyelidiki lebih dulu,” tegasnya.

Dijebak Jadi WTS, Seorang Gadis Diajari Cara Melayani Dua Pria

PEKANBARU – Kepolisian Resort (Polres) Pelelawan, Riau, kini sedang mengembangkan kasus perdagangan manusia dan anak di bawah umur yang diduga turut menyeret anggota DPRD pada salah satu kabupaten di Riau sebagai salah satu pengguna.

“Kami sedang mengembangkan kasus tersebut yang diduga melibatkan oknum anggota Dewan(DPRD, red) sebagai pengguna,” kata Kapolres Pelelawan AKBP Gusti K Gunawa, Rabu.

Gusti Gunawa menjelaskan, Polres Pelelawan mendapat pelimpahan berkas perkara dari Polres Indragiri Hilir (Inhil) yakni satu orang tersangka yang terlibat dalam kasus perdagangan manusia dan anak di bawah umur di wilayah Tembilahan, ibukota Kabupaten Inhil, Riau karena tempat kejadian perkaranya di Pelelawan.

Berdasarkan berkas pelimpahan perkara tersebut Polres Pelelawan baru menahan satu orang tersangka yakni Nanik, pemilik kafe di di wilayah Simpang Karet, Sorek, Kabupaten Pelalawan, tempat korban dijual.

Sedangkan dua tersangka lainnya yakni Syafrizal Lubis dan Ujang masih ditahan di Polres Inhil. Kapolres menjelaskan, tersangka Nanik yang diduga menjadi mucikari akan dijerat dengan pasal 506 KUHP mengenai Menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang wanita dan menjadikannya sebagai mata pencaharian serta dilapisi pasal perdagangan anak dalam undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Dari hasil pemeriksaan terhadap Nanik diketahui bahwa dirinya menyuruh korban melayani dua laki-laki, kami sedang mengembangkan kemungkinan apakah dari dua laki-laki tersebut salah satunya merupakan pria yang disebut-sebut anggota(DPRD, red) tersebut,” kata Kapolres.

Ia menambahkan, polisi terus mencari saksi dan bukti tambahan mengenai keterlibatan anggota Dewan sebagai pengguna, karena pihaknya tidak bisa mengandalkan pengakuan sepihak dari korban.

“Kita perlu pemeriksaan saksi lainnya yang memang melihat orang yang disebut-sebut anggota Dewan itu datang ke kafe dan tidur satu kamar dengan anak itu,” katanya.

Menurut dia, apabila memang ada saksi yang melihat dan bukti-bukti mengarah kesana maka akan dilakukan prosedur lanjutan yakni melapor pada Kepolisian Daerah (Polda) Riau, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, hingga akhirnya meminta izin Gubernur Rusli Zainal untuk memeriksa anggota Dewan tersebut.

“Prosedur pemanggilan anggota Dewan tersebut akan dilakukan apabila memang ada saksi dan bukti kuat. Karena itu kami akan terus mengembangkan dan tidak akan tebang pilih dalam kasus ini,” katanya.

Sebelumnya, Polres Inhil berhasil menemukan Upik, nama samaran (11) siswa kelas V SD, Tembilahan yang menghilang selama sembilan hari karena menjadi korban perdagangan manusia.

Ia dijual untuk menjadi pelayan di sebuah kafe di wilayah Simpang Karet, Sorek, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Selain itu, Eka mengaku sempat melayani tamu yang datang ke kafe itu dengan menyuguhkan minuman yang dipesan oleh tamu dan menemani mereka ngobrol seraya minum bersama. Tamu anggota Dewan itu berinisial US.

Saat menemani tamu tersebut minum, Eka tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri hingga ia dibopong ke kamar oleh oknum anggota dewan itu dan baru keesokan paginya bocah perempuan itu sadar.

Saat terbangun di pagi hari, rekan kerja Eka yang usianya hampir sebaya dengannya, memberi informasi bahwa dirinya melihat US membopong Eka dan tidur di dekatnya saat pingsan.