Monthly Archives: Juni 2008

Akibat Berhubungan Seks dengan Sesama Jenis 10 Siswa SMA Cianjur Positif Mengidap HIVAIDS

CIANJUR – Hubungan seks dengan sesama jenis dan narkoba di kalangan remaja Cianjur bukan isapan jempol belaka. Sedikitnya 10 siswa SMAN di Cianjur, positif terjangkit Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/Aids).

Mereka dinyatakan mengidap virus mematikan ini setelah menjalani pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan Pemkab Cianjur.

Kepala Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cianjur, Tjitjih Kurniasih mengatakan hasil labotorium menunjukkan 10 siswa yang semuanya lelaki itu positif terjangkit HIV akibat sering melakukan seks bebas dengan sesama jenis alias homoseksual alias gay dan pecandu narkoba menggunakan jarum suntik.

“Saya belum lihat hasil wanitanya. Tapi untuk 10 siswa yang sudah positif, kami lakukan rehabilitasi secara rutin yang bekerjasama dengan pihak rumah sakit,” kata Tjitjih, Rabu (11/6). Namun, dia tak bersedia menyebutkan dari SMA mana pelajar yang terjangkit HIV itu.

SOSIALISASI KE SEKOLAH
Untuk mencegah penyebaran HIV/Aids, Dinkes Kabupaten Cianjur, RSU Cianjur dan kepolisian melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. “Perilaku seks dengan sesama jenis, menjadi topik Dinkes dalam sosialisasinya. Sedangkan polisi dari sisi narkoba,” paparnya.

Direktur RSUD Cianjur, dr Suranto meminta warga secepatnya melakukan pemeriksaan, jika merasa gejala lain pada alat vital. Usia yang paling rawan di kalangan remaja yakni berkisar antara 14-18 tahun.

“Kebanyakan mereka yang datang berobat, penyebaran virus sudah parah, bahkan masuk dalam kategori risiko tinggi,” tandas Suranto sambil meminta peran orangtua lebih ditingkatkan.

Dua Pemuda Pengangguran Lenteng Agung Bobol Situs Tamsin Invex Corp dan Mencuri 350 Juta Rupiah

LENTENG AGUNG – Dua penjahat ini termasuk berotak encer. Kedua pemuda pengguran ini berhasil menjebol situs milik sebuah perusahaan besar di Amerika dan berhasil menjebol perusahaan melalui internet banking senilai sekitar Rp350 juta.

Kedua pelaku, Rizky Martin,27, alias Steve Rass,28, dan Texanto alias Doni Michael melakukan transaksi pembelian barang atas nama Tim Tamsin Invex Corp, perusahaan yang berlokasi di AS melalui internet.

Aksi cyber crime dilakukan dengan modus transaksi pembelian barang-barang dengan membobol kartu kredit milik orang lain melalui internet banking. Akibatnya, perusahaan itu mengalami kerugian mencapai 41.927 dolar AS atau sekitar Rp 350 juta.

Menurut Kasat Cyber Crime Polda Metro Jaya, AKBP Tommy Watuliu, terungkap kasus ini bermula korban melaporkan kasus ini ke kepolisian di AS. Pihak Kepolisian AS lalu menghubungi Polri lalu diteruskan ke Direktorat Krimsus Polda Metro Jaya.

Pelacakan dilakukan melalui IP adress pelaku, keduanya pun berhasil ditangkap oleh Satuan Cyber Crime Polda Metro Jaya di sebuah warnet di Lenteng Agung, Jaksel, awal Juni lalu. Dari tangan mereka disita dua helm merek Suomy, 21 set stang Jepit sepeda motor, kamera digital D300 merek Nikon yang dibeli lewat transaksi di internet.

“Mereka melakukan aksi kejahatannya sejak Januari hingga Maret 2008. Mereka melakukan aksinya itu dari sebuah warung internet di Jalan Lenteng Agung, Jaksel.

Modus yang dilakukan, keduanya memesan barang lewat website http://www.convertibars.com yang berkedudukan di Invex Corp. 287 East 6 th, 160 Saint Paul, Amerika Serikat.
“Kedua tersangka membayar dengan memakai kartu kredit milik perusahaan yang dibobol itu,” kata Kasat.

Mereka mengambil data kartu kredit milik orang lain melalui geogle media dan dalam transaksi menggunakan nama dan alamat samaran. Kedua pelaku dikenakan UU tentang transaksi elektronik.

Dalam catatan Mabes Polri, kepolisian Indonesia sering menerima laporan pembolan internet banking milik luar negeri yang dilakukan warga Indonesia. Hal ini menjadi salah satu sebab transaksi internet dari Indonesia sering ditolak.

Paedofilia Dan Pemerkosa Anak Dibawah Umur Akhirnya Menikah Dengan Tunangannya

BEKASI – Dari penjara saja bisa mimpin PSSI, apa salahnya dari tahanan bisa pula mengambil istri? Itulah agaknya kiat yang diambil Misbah Dani, 22, tahanan Polres Metro Bekasi. Maka disaksikan keluarga dan aparat polisi, Rabu pagi kemarin (11/06) dia menikahi kekasihnya, Karyati, 18, dengan penghulu dari KUA Bekasi Barat.

Ruang rapat unit reskrim Polres Metro Bekasi, pagi itu berubah fungsi. Ruang berukuran sekitar 4×4 meter yang biasanya digunakan untuk membahas kasus-kasus kejahatan, selama sekitar 2 jam digunakan untuk kegiatan sakral dua anak manusia yang tengah dibuai asmara.

Suasana haru dan sedih berbaur menjadi satu, saat Misbah Dani – Karyati, mengucapkan ijab kabul di depan penghulu yang dipimpin oleh M Yusuf. Cincin emas seberat 4 gram menjadi maskawinnya. “Saya akan berusaha membahagiakan istri. Sekeluar penjara nanti saya akan mencari pekerjaan,” papar Misbahdani seusai ijab kobul.

Acara tersebut memang sangat sederhana. Ny.Esih dan Aep, kedua orangtua Misbahdani tampak mendampingi anak ke 3 dari 4 bersaudara tersebut. Begitu pula kedua orangtua Karyati yakni Ny. Ani dan Kardi hadir di sana. Tampak juga tiga anggota Polwan bagian RPK Polres Metro Bekasi besrta beberapa keluarga kedua mempelai.

Usai acara akad nikah, Misbahdani kembali digiring ke dalam tahanan, sedangkan mempelai wanita dan keluarga pulang ke rumahnya di Kranji. Karena kondisi dan situasi pasangan pengantin ini tak bisa menikmati “serangan umum” non 1 Maret sebagaimana umumnya pengantin baru.
“Mudah-mudahan saya dapat mendampingi suami sampai menjadi nenek-nenek,” papar Karyati saat melepas suami kembali ke dalam sel.

Menurut Aep, ayah Misbahdani, sebenarnya sudah setahun lalu anaknya bertunangan dengan Karyati. Karenanya dia merasa senang anaknya jadi menikah. Begitu pula Ny. Esih ibunya, dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan itu. Dia selalu menitikkan air mata.

Ketika putra kesayangan itu belum digiring kembali ke dalam sel, sesekali wanita setengah baya ini memeluk Misbahdani. Rasa gembira dan sedih bercampur jadi satu. Gembira karena anak menikah, sedih karena pernikahan itu dalam tahanan. “Misbah sudah lama tak pulang ke Sukabumi, tahu-tahu malah bertemu menikah di kantor polisi,” ujarnya sambil berlinang air mata.

Ny. Esih berharap anaknya kuat menjalani cobaan ini. Jika Karyati menantunya berkenan, akan diboyong ke Cibadak, Sukabumi. Sedangkan Ny. Ani, dan Kardi, kedua orangtua Karyati juga mengaku gembira anak ke 5 dari 6 bersaudara itu berhasil menikah setelah tertunda karena masalah

Misbahdani adalah tahanan Polres Metro Bekasi terjerat kasus pasal 287 KUHP yakni persetubuhan dengan wanita dibawah umur. Lelaki yang bekerja menjadi pedagang ikan di Pasar Kranji Baru tersebut, mendekam dalam tahanan sejak 16 hari lalu karena terbukti bahwa setahun lalu ia dituduh memperkosa gadis ingusan berusia 13 tahun beberapa kali.

Sekeluarga Tewas Dirajam Warga Karena Dituduh Dukun Santet

GAUHATI – Empat orang dalam satu keluarga tewas mengenaskan. Mereka dibunuh penduduk desa karena dianggap mempraktikkan santet.

Tuduhan itu dipicu kematian seorang warga desa pekan lalu. Pria itu meninggal setelah minum obat tradisional yang diberikan keluarga itu, kata Bhaben Kumar, seorang tetangga korban di desa Koilajuli, 260 km timur laut Gauhati, ibu kota negara bagian Assam, Rabu (11/6).

Sejumlah warga kemudian mengundang keluarga itu, yaitu seorang pria, istri, anak laki-laki dan menantunya dalam sebuah pertemuan, Selasa (10/6). Pertemuan musyawarah itu semula berlangsung tenang namun mendadak dari belakang muncul sejumlah orang yang langsung memukuli menggunakan pentungan, sang istri dan menantunya diseret, ditelanjangi dan digunduli rambutnya kemudian dihukum rajam sampai pingsan, kata Kumar.

Menurut polisi, dalam kondisi tidak sadar, keempat orang itu dilempar ke parit lalu ditimbun lumpur.

Kemungkinan di situ lah mereka meninggal. Keempat jenazah itu diangkat Selasa malam dan langsung dikirim ke rumah sakit untuk diotopsi, kata petugas polisi, Kulo Saikia.  Menurut Saikia, belum ada satu pun warga yang ditahan atas peristiwa itu dan polisi sedang menyelidiki.

Pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, ternyata tidak serta merta membebaskan penduduk pedesaan dari tahayul. Masih banyak orang yang terus percaya pada ilmu hitam dan sudah banyak orang tewas tiap tahun karena praktik santet itu.

Mahasiswi Elizabeth Sibarani Korban Perkosaan Fadli Praja IPDN Akhirnya Berdamai Dengan Sejumlah Kompensasi Materi dan Non Materi

BANDUNG – Mahasiswi Elizabeth Sibarani,23, yang melapor diperkosa praja IPDN Fadli asal Gorontalo tahun 2006, Selasa (10/6) mencabut laporannya di Sat Reskrim Polresta Bandung Tengah.

Dia mengaku, pembatalan itu dikarenakan pihaknya dengan keluarga M Fadli, praja yang baru di wisuda dua hari lalu telah melakukan perdamaian.

“Saya mencabut laporan karena sudah berdamai,” kata dia saat berkonsultasi di ruangan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Bandung Tengah.

Namun, lanjut dia, jika dalam tempo seminggu keluarga Fadli ingkar janji memenuhi sejumlah tuntutan kompensasi materi maupun imaterial, Elizabeth menegaskan akan menempuh langkah-langkah hukum.

Kanit PPA Polresta Bandung Tengah, Aiptu Betty Karo mengatakan, tidak ada laporan terkait pelecehan seksual yang dilakukan Fadli terhadap Elizabeth.

Menurut Betty, yang dilakukan korban tiada lain sebatas konsultasi terkait masalah hubungan yang dialaminya dengan praja itu yang hingga kini terkatung-katung.

Sebagaimana diberitakan, Elizabeth mendatangi Polres Minggu (8/6) melaporkan Praja asal Gorontalo karena telah memperkosanya pada tahun 2006. Namum, Selasa kemarin didampingi keluarga dan mantan dosen IPDN Inu dia mencabut laporan itu dengan alasan sudah damai.

Takut Ketahuan Istri, Pacar Dibunuh Supaya Tidak Buka Mulut

BOGOR – Eko Priyono (25) mengaku merencanakan membunuh Dina Eva Rosmalia (24) karena khawatir kisah cintanya dengan korban akan diketahui istrinya.

”Kami sudah lama juga berpacaran dan Dina tidak bersedia mengakhiri hubungan kami. Saya takut ketahuan istri, apalagi anak saya baru berusia 2 bulan,” kata Eko seusai diperiksa polisi di Polsek Ciawi, Sabtu (7/6).

Eko dan saudaranya, Asep Ridwan (20), sejak Minggu resmi menjadi tersangka pembunuh Dina, karyawan perusahaan perkreditan di Warung Jambu, Bogor Utara.

Perempuan warga Sempur, Bogor Tengah, itu tewas mengenaskan di depan dekat saung di kebun Kampung Tapos, Desa Cileungsi, Bogor, pada Rabu petang.

Eko mengaku tidak menduga Dina tidak mau mengakhiri hubungan cinta dengan dirinya. Padahal, kata Eko, cara pacaran mereka normal-normal saja. ”Kami tidak pernah melakukan hal yang kelewat batas seperti melakukan hubungan seks. Kami tidak pernah melakukan itu,” ujarnya.

Rabu siang lalu, Eko dan Dina berjanji bertemu sepulang Dina dari kantornya. Eko pun menjemputnya. Saat itu, Eko sempat bertanya, apakah Dina mau pulang atau tidak. Kalau Dina mau pulang, dia akan antar sampai ke rumah. Dina, kata Eko, tidak mau langsung pulang, tetapi ingin ikut Eko dulu. Mendengar hal itu, Eko langsung berpikir bahwa ini kesempatan untuk membunuh korban.

Dengan membonceng korban, Eko ke rumah Asep untuk bertanya di mana tempat sepi. Ia juga mengajak Asep ikut ke sana. Mereka pun dengan menggunakan dua motor menuju kawasan pekuburan China. Namun, karena sore itu masih ramai, ketiganya lalu menuju Ciawi dan menemukan saung di kebun Kampung Tapos. Di saung itulah Dina dibunuh.

Keluarga korban segera melapor kepada polisi setelah membaca berita surat kabar tentang pembunuhan di saung. Eko dan Asep pun ditangkap. Kini keduanya meringkuk di ruang tahanan Polsek Ciawi.

Sumber:

Liputan 6 : Menuntut Dinikahi, Pacar Dibunuh

Kompas: Takut Ketahuan Istri, Suami Membunuh Pacarnya

Karyawan Nur Karya Bakti Pertiwi Dibunuh dan Dicongkel Matanya

BEKASI – Bimo, karyawan kontraktor, ditemukan tewas membusuk di dekat Danau Cibereum, Kampung Trenggilis, Desa Lambang Jaya, Tambun Selatan, Minggu (8/6) siang. Leher korban dijerat dan matanya dicongkel.

Jasad Wahyu Bimbim Pajari, alias Bimo, 21, warga Jl. Pulau Lombok II No 173, RT06/11, Aren Jaya, Bekasi Timur, pertama kali ditemukan Joko, 65, dan Ny Herni, 50, kerabatnya yang sejak dua hari lalu mencari. “Saya punya perasaan kalau korban ada di sekitar sini,” tutur Joko, yang dihubungi Pos Kota.

Joko mengaku, antara orangtua korban dengan dirinya ada hubungan besan. Karena itu, ketika diberitahu bahwa Bimo, karyawan CV Nur Karya Bakti Pertiwi (NKBP) di Jl Serayu, Perumahan Taman Galaksi, Bekasi Selatan ini hilang, semua kerabat langsung mencari.

Menurut Joko, korban yang merupakan anak bungsu dari dua bersaudara itu hilang pada Jumat malam. “Kami curiga kalau dia menjadi korban kejahatan,” tutur Joko, yang menambahkan mobil Honda Jazz milik perusahaan tersebut ditemukan di sekitar lokasi yang sepi .

MENCARI HIBURAN
Sari Padil, 50, karyawan PT NKBP menuturkan, sekitar Jumat pukul 21:00, pemuda yang dikenal rajin ibadah, pendiam dan suka membaca novel ini, bermaksud mencari hiburan malam ke diskotek di sekitar Terminal Bekasi. “Biasalah dia mencari hiburan bersama teman-temannya,” tutur Padil.

Korban pun datang ke kantor untuk pinjam mobil Honda Jazz B 8558 YO. “Dia bilang mau ke rumah sakit dan perusahaan meminjamkan mobil,” timpal Padil, yang mengaku semua cerita itu didapat dari teman korban sebelum tewas.

Berangkatlah Bimo bersama temannya yakni Agung, 24, Tata, 23, Deni , 21, dan Mirza alias Aris, 23, nama terakhir ini diduga pelakunya. Pada Sabtu siang, Tata dan Agung melapor kepada keluarga Bimo, kalau dia diturunkan di tengah jalan dan hanya Deni dan Mirza yang mendampingi. Ternyata mobil ditemukan di dekat Danau Cibereum, Kampung Trenggilis, sedangkan Bimo tidak ada.

Penemuan itu pun dilaporkan ke Polsek Tambun dan sejumlah saksi termasuk Deni yang diduga pelaku ditanya seputar keberadaan Bimo.

LEHER DIJERAT
Polisi yang dihubungi memeriksa tempat kejadian peristiwa (TKP). Dari hasil sementara kematian korban diduga karena pembunuhan, karena ada bekas jeratan pada lehernya. Kedua matanya dicongkel, dan tengkuknya seperti bekas benturan benda tumpul.

Kapolsek Tambun AKP Shinto Silitonga, mencari pelaku. Sekitar pukul: 17.00 sore, Mirza alias Aris bersama Deni ditangkap. Keduanya diduga sebagai pelaku pembunuhan.

Dari pemeriksaan intensif pihak kepolisian Tambun, kedua pelaku mengaku semula mereka hanya ingin mengembil mobil Honda Jazz tersebut.

Namun mobilnya masuk selokan sehingga niat Mirza dan Deni merampas mobil batal. Mereka meninggalkan mobil tersebut di selokan.