Monthly Archives: Juli 2008

Very Idam Henyaksyah Alias Ryan – Si Tukang Jagal Dan Pembunuh Berantai Homoseksual Gay Dari Jombang Yang Membunuh 4 Orang

JOMBANG – Terjun ke dunia gay yang salah menurut agama dengan mengobral cinta sejenis membuat Very Idam Heryansyah alias Ryan, 30, lupa diri. Kenikmatan hidup bergelimang dosa itulah membuatnya terjerat dalam kasus pembunuhan berantai.

Pemuda tampan lemah gemulai ini menjadi tukang jagal berdarah dingin. Ia tidak hanya membunuh Ir. Heri Santoso di Apartemen Margonda Residence, Depok, kemudian memotong tubuh korban menjadi 7 bagian, tapi juga menghabisi nyawa Aril Somba Sitanggang, 34. Bahkan, tiga teman kencannya sesama gay dibantai.

Mayat Heri Santoso yang dimutilasi dimasukkan Ryan kedalam dua koper kemudian dibuang di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Sedang empat korban lainnya dibantai di rumah orangtua tersangka kemudian dikubur di belakang rumah. Pembantaian mengerikan itu dilakukan Ryan dalam 12 bulan terakhir ini.

Perbuatan sadis Ryan membuat tetangga dan kerabatnya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Jombang, Jawa Timur, terperangah. Di halaman belakang rumah orangtuanya itulah, polisi menemukan empat kerangka pria yang dikubur secara terpisah. Senin (21/7) pagi, keempat jenazah gay teman bercinta Ryan digali petugas Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur, dan Polres Jombang.

Menjelang siang, penggalian jenazah empat pria, seorang di antaranya diyakini sebagai WN Belanda, selesai dilakukan. Dengan menggunakan dua ambulan, korban pembantaian ini dibawa ke RS Bhayangkara, Surabaya. “ Di rumah sakit ini jenazah keempat korban akan diotopsi, “ kata Kasat Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Fadil Imron.

4 GAY DIKUBUR
Empat gay yang menjadi korban keganasan Ryan kemudian dikubur di halaman belakang rumah orang tua tersangka, menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs. Carlo B. Tewu, adalah Aril Somba Sitanggang, yang dibunuh pada akhir April lalu. Pria yang bekerja di agen properti ini diketahui pergi ke Surabaya bersama Ryan pada 23 April.

“ Dari hasil pelacakan adanya pengeluaran uang di rekening Aril melakui ATM dan printout telepon seluler korban, didapat informasi berharga bahwa tersangka Ryan dicurigai membunuh Aril, “ kata Carlo, yang turun langsung menyaksikan penggalian jenazah di Jombang.

Ditambahkan Carlo, korban lainnya, Vincen, 28, asal Jombang. Pemuda ini dibunuh pada awal April 2008, dua minggu sebelum Aril dihabisi. Guntur, 30, asal Nganjuk, Jawa Timur dibantai pada pertengahan Juli 2007. Sedangkan Grendy, 28, WN Belanda, dibunuh pada pertengahan Januari 2008. Keempat korban yang dijagal Ryan ini dikubur dalam jarak berdekatan di bawah pohon pisang di belakang rumah orangtua tersangka.

“ Keempat korban ini dibunuh dengan cara dipukul pakai batu dan linggis. Pembunuhan dan penguburan korban dilakukan malam hari, “ tegas Carlo.

Ryan tidak hanya membantai keempat gay tersebut, ia juga dicurigai membunuh seorang ibu rumah tangga bernama Nani dan putranya. Empat bulan lalu, ibu dan anak ini dilaporkan warga kepada petugas yang menggali kerangka gay, pernah jalan bersama Ryan. Sejak itu, korban tidak kelihatan batang hidungnya. Namun, kepastian bahwa Ryan membunuh kedua korban warga Jombang itu masih diusut petugas. Pasalnya, tersangka selalu memberi keterangan berbelit-belit.

Tidak tertutup kemungkinan masih ada korban lain yang dibunuh Ryan. Untuk mengungkap tuntas dan mencari tahu ada korban lain, Carlo menyediakan telepon seluler layanan masyarakat yang siap menampung dalam 24 jam. Nomor telepon itu, 0816851777, 081510666666, dan 08179189993. “ Sekecil apapun informasi yang masuk akan kami pelajari , “ tambah Carlo.

RYAN DIBAWA KE JOMBANG
Sebelum ditemukannya 4 korban pembantaian, petugas memeriksa Ryan dengan ketat. Pemuda yang maniak seks dan doyan foya-foya bersama kaum gay ini memberi alibi bahwa ia tidak membunuh Aril. Kendati bukti berupa tiket kereta api, saksi yang dimintai keterangan, adanya hubungan telepon, dan pengambilan uang Aril di ATM, memperkuat kepergian Aril ke Surabaya, tidak membuat Ryan buka mulut.

Pengakuan Aril ini tidak membuat petugas putus asa. Sabtu siang, dengan menumpang pesawat dan dikawal ketat lima petugas Reserse Polda Metro Jaya, Ryan dibawa ke Surabaya kemudian naik mobil ke Jombang, ke rumah orangtuanya.

Di rumah sedarhana itu, Ryan dipertemukan dengan Ahmad, 54, ayah dan Ny. Saitun, 47, ibu kandung tersangka. Berhadapan dengan kedua orangtuanya, Ryan bersujud minta ampun. Tangis pun meledak di rumah tersebut. Dalam waktu singkat, tetangga berdatangan.

Ketika petugas menggeledah rumah ini, ditemukan beberapa potong baju dan celana, yang mirip dengan kepunyaan Aril. Kedua orangtua Ryan menjelaskan bahwa baju dan celana itu milik teman anaknya. Tapi pasangan ini tidak tahu siapa nama teman anak mereka.

Langkah lain yang diambil petugas adalah memeriksa halaman belakang rumah. Dari tumpukan tanah yang ditemui, petugas curiga ada sesuatu dibalik tanah ini. Karena hari sudah menjelang malam, kecurigaan petugas tidak dilanjuti. Ryan dibawa ke Polres Jombang.

Di kantor polisi ini, Ryan diinterogasi ketat yang melibatkan petugas Polda Jawa Timur dan Polres Jombang. Minggu pagi, petugas mulai menyebar ke perkampungan warga. Dari informasi yang dikumpulkan, didapat tahu bahwa ada warga yang pernah melihat Ryan menggali tanah di belakang rumahnya.

Menjelang tengah malam, Ryan buka mulut bahwa memang benar ia membunuh Aril dan mayatnya dikubur di belakang rumahnya. Tanpa membuang waktu, puluhan petugas mendatangi rumah Ahmad. Petugas Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur memasang police line. Warga diminta tidak mendekat ke lokasi ini.

SAKIT HATI
Senin pagi, penggalian tanah pun dimulai. Begitu mata cangkul menembus tanah, petugas menemukan potongan baju kemudian kerangka manusia. Penemuan yang mengejutkan ini mengundang perhatian ratusan warga yang berbondong-bondong datang melihat penemuan kerangka manusia ini. Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, terutama adanya ada balas dendam, rumah tersangka dijaga ketat. Bahkan Detesement 88 Anti Teror Polda Jatim, diterjunkan.

Penemuan mayat ini membuat Ryan tidak bisa berkelit. Apalagi tidak hanya mayat Aril ditemukan, tapi juga tiga korban lainnya. Kepada petugas, gay yang menyewa apartemen di Depok itu mengakui terus terang semua perbuatannya. “ Saya membunuh karena sakit hati. Mereka saya bunuh karena menolak menikahi saya, “ tutur Ryan, yang mengaku berniat nikah dengan Noval di Belanda.

Namun, alasan pelaku dicurigai polisi sebagai alasan yang tidak masuk akal. Carlo menduga, pelaku menghabisi korban karena ingin menguasai harta bendanya.

Menurut Ryan, dia menghabisi Ariel dengan batu yang dihantamkan ke kepala korban sebanyak tiga kali. Korban tewas kemudian dikubur di samping septik tank di dekat pagar belakang rumah.

IBU ARIL SHOCK
Mendapat kabar anaknya dibunuh Ryan dan mayatnya sudah ditemukan, Ny. Tiarma boru Tambunan, ibu kandung Aril, tak mampu menahan sedih. “Saya sudah mendapat kabar kalau anak saya meninggal. Saya shok anak saya meninggal dengan cara seperti itu,” ujar Tiarma. “Hukum mati saja Ryan.”

Kepastian bahwa jenazah yang dikubur adalah Aril diperoleh polisi dari dua anggota keluarganya yang berangkat ke Surabaya, Minggu pagi. Saat ditanya apakah Tiarma mengenal Ryan, wanita tersebut mengaku tidak mengenal pelaku. “Saya tidak kenal dengan Ryan, saya cuma tahu nama dia dari anak saya,” ujarnya.

Sementara itu, Noval Andreas , pacar Ryan kaget ketika mendengar Ryan terlibat pembunuhan Aril Sitanggang.”Dia kaget diberitahu Ryan juga membunuh Aril. Tersangka Noval mengaku tidak kenal dengan Aril,” ujar Desi, teman Noval saat ditanya usai membesuk rekannya itu di tahanan Narkoba Polda Metro Jaya. Menurut Desi, Noval sempat mengantar Ryan ke Stasiun Gambir yang saat itu akan berangkat ke Surabaya.

Ditangkapnya Ryan, membuat keluarga meradang. “Kami tidak percaya kalau Ryan sebagai pelaku mutilasi. Sebab dia anak baik dan ramah dan supel pasti ada orang lain yang sengaja memfitnah dan mengubur mayat dibelakang rumah kami tanpa sepengetahuan kami, ini semua hanya konspirasi untuk menjatuhkan nama baik  keluarga kami,” kata Dedi Sudarsono,32, paman tersangka. Dedi juga mengaku kurang tahu persis tingkah laku Ryan sejak ke Jakarta.

“Kalau saya tidak seberapa paham. Soal kasus yang terjadi, keluarga juga tidak mengerti. Tahu-tahu ada polisi datang ke sini,” katanya.

BELUM TENTU PSIKOPAT
Menanggapi aksi pembunuhan berantai tersebut, Kriminolog Erlangga Masdiana mengatakan, tersangka Ryan belum tentu seorang psikopat. Alasannya, perlu pemeriksaan oleh dokter jiwa untuk melihat kestabilan emosinya dan membuktikannya.

Menurutnya, tindakan yang dilakukan Ryan karena adanya sejumlah faktor yang kondusif di antaranya waktu, tempat, keberanian dan tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menguasai harta selain mengeksekusi korbannya. “Biasanya pelaku termasuk orang supel dan ramah sehingga tak mudah ditebak apa yang akan dilakukannya,” ujarnya.

Mengenai Ryan yang membunuh dan menggasak harta korban, Erlangga mengatakan, kemungkinan tersangka memiliki bermacam motif mulai dari masalah ekonomi hingga kekecewaan yang membuatnya balas dendam. “Paling tidak, ia memiliki sebuah nilai yang dianggapnya benar hingga ia melakukan aksinya,” katanya.

PENEMUAN JENAZAH
Empat jenazah yang diduga menjadi korban pembunuhan tersangka Verry Idham Henyaksyah (versi lain menyebut Very Idam Henyansyah) alias Ryan (30), ditemukan terkubur di sekitar rumah orang tuanya di Jatiwates, Tembelang, Jombang, Jawa Timur, Senin (21/7). Dua lainnya masih dicari polisi.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Carlo Brix Tewu mengimbau, mereka yang merasa kehilangan keluarganya terkait kasus Ryan, diminta menghubungi nomor telepon selular (Ponsel) 0816851777, atau mengirim pesan lewat pelayanan pesan singkat (SMS) Ponsel 1717.

Carlo mengkhawatirkan jumlah korban yang diduga dibunuh Ryan bertambah banyak. Agar kasusnya cepat tuntas, ia ingin masyarakat lebih banyak terlibat.

Menurut pengakuan Ryan, keempat jenazah yang ditemukan di kebun belakang rumahnya adalah jenazah Ariel Somba Sitanggang (34), Vincent, Guntur, dan Grendy warga negara Belanda. Usia ketiganya diperkirakan 25-30 tahun.

Vincent dan Ariel diduga dibunuh pada akhir April 2008. Guntur dibunuh Agustus 2007, sedang Brendy pada Januari 2008. ”Semuanya baru sebatas pengakuan dan dugaan. Belum melewati penelitian forensik dan sejumlah prosedur penyelidikan dan penyidikan polisi lainnya,” kata Carlo.

KAWAN FITNESS
Dua jenazah lainnya yang belum ditemukan adalah Nani Kristanti (35), dan seorang putranya (3). Keduanya dilaporkan hilang oleh suami Nani.

Menurut suaminya, Nani adalah teman fitness Ryan. Ryan, Nani, dan putranya terlihat terakhir di sebuah toko emas di Jombang, pada tanggal sembilan April 2008.

Anggota Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direskrimum Polda Metro, Ajun Komisaris Danang, membenarkan informasi tersebut.

Ryan adalah tersangka mutilasi Heri Santoso (40) di sebuah apartemen di Margonda, Depok, Jawa Barat, Jumat (11/7). Ryan mengaku mengenal korban di Jalan Karet Pedurenan Raya, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Tiga hari setelah Ariel hilang, orangtuanya melapor ke Polsek Metro Setiabudi dan Polda Metro Jaya. Ryan pernah diperiksa polisi, tetapi dilepas kembali karena tidak cukup bukti. Ariel mengenal Ryan di tempat indekos Ariel yang ditempatinya sejak April 2008 di Jalan Karet Pedurenan Raya, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dua pekan setelah indekos, Ariel menghubungi ibunya. Ariel mengatakan, akan berangkat ke Surabaya bersama Ryan untuk sebuah rencana pembangunan rumah sakit.

ENAM JAM PENGGALIAN
Menjelang penggalian di kebun belakang rumah, Ryan dengan kedua tangan terborgol, diminta menunjukkan lokasi. Penggalian dilakukan mulai pukul 10.00. Sekitar satu setengah jam kemudian, dua dokter forensik Polda Jatim mendapat isyarat, di lubang pertama ada dua mayat. Ketika lubang diperluas, terdapat satu mayat lagi.

Dua jam setelah penggalian pertama, lokasi makam baru ditemukan sekitar empat meter ke arah selatan makam pertama. Di situ terdapat satu mayat. Ketiga jenazah tidak dimutilasi. Penggalian berlangsung hingga enam jam.

Menurut Tarubi (55), tetangga Ryan, tersangka mulai berubah menjadi penyendiri sejak berusia 20 tahun. Ia lalu aktif bergaul dengan menjadi instruktur senam dan pegawai salon di Surabaya.

Kepala Dusun Maijo, Anang Fauzi (33), menambahkan, beberapa tahun terakhir, warga menonaktifkan keluarga orangtua Ryan dari semua kegiatan lingkungan. Tapi ketika ditanya tentang alasan warga mengucilkan keluarga ini, Anang tak mau berkomentar. ”Silakan langsung bertanya kepada warga yang bermasalah dengan keluarga tersebut,” ucapnya.

Di lokasi penggalian, seorang warga, Moh Shobirin (37), mengaku kehilangan keponakannya, Moh Zainul Abidin alias Zaki (21) sejak 7 Januari 2008. Pekerjaan Zaki adalah penyiar Radio Gita FM, Jombang.

“Zaki kenal Ryan lewat temannya yang sudah kenal lebih dulu. Berdasarkan informasi beberapa teman, Zaki terakhir terlihat bersama dengan Ryan,” ujar Shobirin.

Jumlah Paedofilia dan Peminat Gadis ABG Bertambah : Penjualan Gadis Dibawah Umur Naik

JAKARTA – Jumlah gadis desa di bawah umur yang dijual sebagai pekerja seks komersial kian banyak. Semester pertama tahun ini jumlahnya sudah lebih dari 400.000 orang.

Sepanjang tahun 2006 jumlahnya 42.771 orang. Tahun berikutnya menjadi 745.817 orang. ”Semester pertama ini jumlahnya sudah lebih dari separuh tahun lalu. Memprihatinkan,” tutur Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) Seto Mulyadi, Minggu (20/7) sore. Sebagian besar korban berasal dari keluarga miskin di kawasan pesisir, seperti Indramayu dan Subang.

”Menyambut Hari Anak nasional tanggal 23 Juli mendatang, saya telah mendesak Presiden untuk mencanangkan kembali tema ’Hentikan Kekerasan terhadap Anak’,” ucap Seto.

Kepada orangtua

Pada Sabtu malam, menurut Seto Mulyadi, Kepolisian Sektor Metro Taman Sari Jakarta Barat telah mengembalikan sembilan pekerja seks komersial di bawah umur yang terjaring operasi kepada orangtua mereka.

Kepala Polsek Metro Taman Sari Komisaris Imam Saputra membenarkan bahwa hari Sabtu malam pihaknya mengamankan 115 perempuan yang dipaksa menjual diri di dua lokasi tempat hiburan malam di Jakbar. Dari jumlah itu, ada sembilan perempuan di bawah umur.

”Mereka diamankan dari Diskotek Stdm di Jalan Hayam Wuruk dan Panti Pijat Mdn di Kompleks Lokasari, Jalan Mangga Besar Raya,” kata Imam.

Seto datang ke kantor polisi dalam rangka mendampingi dan memberikan konseling kepada kesembilan perempuan di bawah umur tersebut.

”Hasilnya menunjukkan bahwa orangtua mereka teperdaya oleh para mucikari. Begitu korban sudah di tangan, mereka memperlakukan korban seperti budak. Mereka meneror dan merendahkan harga diri korban dengan mengatakan, orangtuamu sendiri sudah menjual kamu kepada saya,” ucap Seto.

Mereka yang diamankan umumnya mempunyai kartu tanda penduduk asli palsu. Tujuannya untuk menyamarkan alamat dan usia korban.

Aril Somba Sitanggang Diduga Dibunuh Oleh Ryan – Sang Pembunuh Berantai – Pelaku Mutilasi Heri Santoso

JAKARTA – Hidup adalah pilihan. Sedangkan perjalanan hidup yang diambil tersangka Very Idan alias Ariansyah alias Ryan, 30, sebagai kaum gay ternyata tidak seindah yang diharapkannya. Pemuda yang doyan mengobral cinta sejenis ini tidak hanya terlibat pembantaian Ir. Heri Santoso, tapi juga dicurigai sebagai pelaku pembunuh Aril Somba Sitanggang yang juga gay alias homoseksual.

Aril Somba Sitanggang, 34, yang bekerja di salah satu perusahaan agen propeti ini, sejak 23 April lalu hilang bagai ditelan bumi. Tiga hari kemudian, keluarga pemuda ganteng itu melaporkan hilangnya Aril ke Polda Metro Jaya. Bahkan, begitu kasus mutilasi yang menimpa Ir. Heri Sansoto mencuat ke permukaan, keluarga menduga Aril dibunuh Ryan.

Ternyata tidak hanya keluarga Aril yang mencurigai Ryan, petugas Polda Metro Jaya juga mengambil sikap yang sama. Untuk membuktikan keterlibatan Ryan dalam kasus pembunuhan tersebut, pemuda yang menyimpan cinta sejati dengan Noval itu diperiksa ketat oleh satuan Reserse Jatanras Polda Metro Jaya.

Kecurigaan adanya hubungan cinta sejenis antara Ryan dan Aril terungkap dari hasil pemeriksaan. Kepada petugas, tersangka mengaku kenal dekat dengan Aril. Sewaktu Aril indekos di rumah mewah di Jalan Karet Pedurenan, RT 09/04, Kel. Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Ryan kerap menyambanginya.

“ Sampai sejauh mana kedekatan hubungan mereka hingga hilangnya Aril, masih kami telusuri, “ kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Drs. Carlo B. Tewu, Kamis (17/7).

Carlo Tewu menjelaskan, pihaknya saat ini memfokuskan pencarian Aril dan hingga kini belum diketahui dimana keberadaan pria tersebut. “ Sejuah ini tersangka Ryan tetap mengaku tidak tahu keberadaan Aril, “ ujar Carlo.

“ Kami minta petugas mengusut tuntas hilangnya Aril. Apalagi Ryan sudah ditangkap. Kami berharap semua ini bisa terungkap. Kami tidak menuduh Ryan membunuh Aril. Tapi mereka saling kenal, “ kata Ny. Tiarma, ibu Aril.

KE SURABAYA
Hilangnya Aril, anak kelima dari enam bersaudara, membuat resah keluarganya. Menurut Ny. Tiarma, 23 April lalu, Aril minta ijin pergi ke Surabaya, Jawa Timur. Keberangkatannya Aril berkaitan ada rencana proyek pembangunan rumah sakit. “ Proyek pembangunan rumah sakit ini diberikan oleh Ryan, “ ujar Ny. Tiarma.

Ke Surabaya, mereka hendak survei lokasi. Rencananya, pembangunan rumah sakit itu akan dilakukan oleh Aril. “ Anak saya menjelaskan lahan yang akan dibangun untuk rumah sakit itu milik orang tua Ryan, “ kata Ny. Tiarma.

Sebelum Aril berangkat ke Surabaya, sekitar pukul 07.00 pagi, Ryan mengajak Yono penjaga rumah kos untuk membeli tiket kereta api tujuan Surabaya di Stasiun Gambir.

Sekitar pukul 09.00, Yono dan Ryan kembali ketempat kos Ariel. Menurut Yono, yang sempat dimintai keterangan seputar hilangnya Aril, ketika sibuk membersihkan kamar yang berada disamping kamar Ariel, ia menyempatkan menelepon Ny. Tiarma. Kepda wanita ini, Yono menginformasikan bahwa Aril sore ini akan berangkat ke Surabaya dan kini sudah berada di stasiun.

Bahkan Ny. Tiarma sempat menanyakan keseriusan Aril pergi ke Surabaya bersama Ryan, yang baru sebulan dikenalnya. “ Ketika saya berbicara melalui HP dengan Aril, anak saya mengatakan kalau Ryan yang ditunggunnya sudah datang di stasiuan. Aril mengatakan dimana dia tinggal di Surabaya, akan dikabari melalui SMS, “ tutur Ny. Tiarma.

Ternyata pembicaraan melalaui HP itu adalah pembicaraan terakhir antara ibu dan anak. Sejak itu, Aril tak ada kabar beritanya. Nyonya Tiarma mulai cemas dan gelisah. Wanita itupun berkali-kali menghubungi ke telepon seluler anaknya, namun usahanya itu sia-sia. HP Aril tidak aktif. Bahkan ibu rumah tangga ini sempat meminta suadaranya untuk menghubungi Aril, namun hasilnya tetap sama.

RYAN PERNAH DIPERIKSA
Upaya mencari Aril terus dilakukan, tapi nihil. Bersama sopirnya Kurnanto, Ny. Tiarma mendatangi rumah kos Aril, ternyata kamar kos Aril kosong.

Ketika hilangnya Aril dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Kurnanto dimintai keterangan. Kepada penyidik, ia mengatakan, dua hari setelah kepergian Aril ke Surabaya, ia menyempatkan diri datang ke rumah kos Aril. Saat itu, Kurnanto bertemu dengan Ryan.

Ketika Kurnanto menanyakan keberadaan Aril, tersangka Ryan yang membantai Heri Santoso di Apartamen Margonda Residence, Depok kemudian memotong tubuh menjadi 7 bagian, menjelaskan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan Aril, apalagi pergi ke Surabaya. “ Saya juga kesulitan menghubungi Aril, “ kata Ryan ketika itu.

Saat itu Ryan menjelaskan, ia memang pernah janjian dengan Aril di Stasiun Gambir, sekitar pukul 16.00, namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Karena Aril tidak datang, akhirnya Ryan berangkat sendiri ke Surabaya. Pada hari Kamis (24/4), ia balik lagi dan sampai di Jakarta hari Jumat.

Karena tidak kunjung ditemukan, keluarga korban sempat melaporkan kasus hilangnya Ariel ke Polda Metro Jaya dengan No.Pol LP/1077/k/IV/2008/ SPK unit II. Setelah menerima laporan polisi lalu mengecek sinyal keberadaan telepon Aril. Dari situ diketahui Aril sempat berada di Ceper, Solo, Jawa Tengah. Bahkan ada informasi, Aril juga pernah berada di Pantura, Surabaya, dan Mojokerto.

Pada 24 April, polisi juga mengecek ke Stasiun Gambir dan mendapat tahu ada tiket keberangkatan KA Anggrek atas nama Ryan dengan tujuan Surabaya, berangkat pukul 21:30.

Bahkan polisi juga pernah memeriksa Ryan, dari hasil keterangannya dia tetap mengaku tidak tahu keberadaan Aril. Bahkan dua minggu kemudian Ryan kembali diperiksa, namun hasilnya tetap sama belum ada perkembangan. “Saya saat ini sedang sakit karena memikirkan Aril,” tutur Ny.Tiarma Sitanggang.

Dia juga mengaku anaknya bekerja di properti sedirian. “Sejak lulus sekolah pada tahun 2002, Aril pernah menaksir seorang wanita. Ketika itu dia pernah bilang sama saya senang dengan wanita itu. Tapi sejak itu pula mereka tak pernah ketemu lagi,” tambahnya.

KOS DUA MINGGU
Aril Sitanggang, yang dilaporkan hilang tiga bulan lalu sempat kos di Jalan Karet Pedurenan., Jaksel. Namun pria berperawakan atletis dan berkulit putih ini hanya dua minggu kos di tempat mewah yang bertarif Rp2,6 juta/bulan.

Yono, 30, pegawai kos, menyatakan saat tinggal di tempat itu Aril tidak pernah didatangi teman maupun keluarganya. “Aril orangnya tertutup dan jarang bergaul. Saya juga tidak tahu pekerjaan Aril. Ia tiba-tiba pergi dari tempat kos, padahal sudah membayar uang sewa untuk sebulan,” katanya.

Yono mengaku tidak tahu alamat keluarganya. Kamar 212 yang dulu ditempati Aril, kini dihuni seorang karyawati perusahaan asing. Terkait dengan menghilangnya Aril, Yono mengakui pernah dipanggil sebagai saksi oleh Polda Metro Jaya pada April lalu.

IBU NOVAL SHOCK
Nyonya Endang, 50, ibu kandung Noval Andreas, 28, tersangka yang dkasus mutilasi shock berat ketika dijumpai di rumahnya, Kamis (17/7). Bahkan ibu beranak lima ini mengaku tidak ada satupun polisi mengabarkan penangkapan anak bungsunya itu.

Orangtua Noval yang tinggal di Perumahan Cikande Permai Blok H7 No.11, Kec. Cikande, Serang, Banten, langsung menanyakan perihal penangkapan Noval. Setelah dijelaskan, sektika itu juga ia terlihat pucat bahkan nyaris pingsan.

“Sebentar Pak, saya sama sekali belum tahu kabar ini. Bapak tahu dari mana kalau anak saya terlibat kasus pembunuhan,” suara Endang gemetaran seraya memegang bekas jahitan operasi di tubuhnya.

Setelah beristirahat sebentar, istri dari Hanafiah ini menjelaskan pihak keluarga tidak percaya jika anak bungsunya ini terlibat pembunuhan. “Saya nggak percaya, kalau Noval ditangkap. Lagian kenapa polisi tidak memberitahu,” tanya istri pensiunan Imigrasi ini.

Selama ini dirinya jarang bertemu dengan Noval. Komunikasi hanya melalui telepon. “Tidak percaya itu, karena saya tahu benar perilaku anak bungsu saya itu.”

Komunikasi terakhir dengan Noval terjadi Jum’at (11/7) lalu. Anaknya yang bekerja di Kantor Imigrasi Depok, menelepon dan membicarakan rencana untuk pergi ke Kuningan, Jawa Barat menjenguk salah seorang saudaranya.

Ditanya tentang hubungan Noval dengan Very Idam alias alias Ryan, ia mengaku tidak tahu.

TAK KENAL ARIL & RYAN
Yuli Rustinawati, 32, Sekjen Arus Pelangi, sebuah organisasi yang menolak penggunaan segala bentuk kekerasan terhadap kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender, mengaku tidak mengenal Aril Somba Sitanggang. “Kami memiliki 300an anggota di seluruh Indonesia. Kami belum pernah kenal dengan nama itu.”

Ketika disinggung mengenai Ryan yang disebut-sebut sebagai ketua gay Jakarta, Yuli juga tak mengetahuinya. “Tapi mungkin saja benar. Karena banyak sekali kelompok-kelompok gay di Jakarta. Mereka sering kumpul-kumpul bareng,” jelasnya.

RUMAH KOS DIGELEDAH
Petugas gabungan Satuan Jatanras Polda Metro menggeledah rumah kontrakan Ryan di Pesona Kayangan, RT 04/01, Kelurahan Kemiri Muka, Beji, Depok Timur, Kamis (17/7).

Dalam penggeledahan tersebut polisi menyita sejumlah peralatan rumah tangga termasuk sebuah kaos yang terdapat noda darah. Selain di rumah kontrakan, polisi juga menggeledah kamar apartemen yang ditempati Ryan dan pacarnya Noval di Apartemen Margonda Residence. Ditempat itu polisi menemukan besi yang digunakan pelaku untuk menghabisi Heri Santosa.

Polisi menyisir bagian belakang gedung apartemen dan menemukan dompet, dokumen serta tas korban. Barang-barang tersebut dibuang oleh pelaku beberapa jam setelah menghabisi korban. Lokasi pembuangan barang-barang tersebut disamping tembok kolam renang.

“Pertama saya menemukan SIM korban, kemudian tas dan dompet,” ujar Kompol Amir yang turun ke lokasi pembuangan yang lebarnya hanya sekitar 30 centimeter.

Ryan yang diminta melihat proses pencarian barang bukti mengatakan seluruh barang yang ada di mobil korban dia buang ke lokasi itu.”Pokoknya barang-barang yang ada di mobil saya lempar ke situ,” ujar Ryan yang siang itu mengenakan baju tahanan warna orange.

Proses penggeledahan yang dipimpin Kanit V Jatanras Kompol Rudi Renewal pertama kali menyisir rumah kontrakan pelaku di Pesona Kayangan. Di rumah kontrakannya milik H Abdul Majid polisi menyita televisi 21 inci, rak meja, bantal, bedcover, termasuk magig jar.Polisi juga menyisir bagian belakang rumah kontrakan. Dilokasi itu, petugas menemukan abu bekas pembakaran.

Barang yang disita dari kontrakan yang disewa seharga Rp 700 ribu/bulan dibeli dari uang yang diambil dari ATM korban. Barang tersebut dibeli oleh Ryan bersama pacarnya Noval di Giant Hypermarket, Jalan Margonda, Depok.

Di pusat perbelanjaan itu, pelaku juga sempat membeli HP Nokia seharga Rp 2,3 juta. HP tersebut kemudian dihadiahkan kepada Noval. Menurut H Abdul Majid, pemilik kontrakan, Ryan dan Noval datang ke tempat kontrakannya, Sabtu sore sekitar pukul 15.00. “Ryan ngakunya dokter, kalau Noval pengawai Imigrasi,” ujar Abdul Majid.

Kisah Lanjutan: Ryan Si Tukang Jagal Juga Membunuh 6 Orang Yang Dikubur Dibelakang Rumah Orang Tua

Seorang Gadis 17 Tahun Di Siksa Dan Diperkosa Lalu Dibuang Di Kebun Dalam Keadaan Telanjang

CIREBON – SR alias Ani (17), gadis belia warga Blok Wage, Ds Mertapada, Kec Astanajapura (Asjap), Kab Cirebon mengalami stress berat. Dia diduga menjadi korban pemerkosaan dengan pelaku lebih dari satu orang. Tak hanya diperkosa, gadis muda itu juga disiksa dengan cara dijerat, setelah pingsan lalu tubuh telanjangnya dibuang ke tengah kebun tebu.

Pemerkosaan dan penganiayaan itu terungkap setelah seorang gembala menemukan tubuh Ani, yang tergolek dalam keadaan telanjang bulat dan pingsan di kebun tebu, Rabu pagi. Saat ditemukan, tubuhnya penuh luka lebam bekas siksaan, terdapat luka pada leher bekas jeratan seutas tali. Diduga, setelah diperkosa, Ani disiksa dan hendak dibunuh. Para pelaku yang diduga lebih dari satu orang membuang tubuh yang dikira telah tewas.

Sobandi (25), kakak korban, menuturkan, sebelum pergi, Ani ditelefon pacarnya, bernama Sandi. Setelah itu dia pergi tanpa pamit, tahu-tahu tubuhnya ditemukan di tengah kebun tebu. Belum jelas motif kekerasan itu, sampai Kamis (17/7), Ani masih trauma dan tidak mau menceritakan penyiksaan yang dialaminya.

Namun Sobadi memperkirakan, kekerasan itu bermotif kecemburuan, sebab ada cinta segi tiga antara adiknya dengan dua teman lelakinya, yakni Sandi dan Yudi. Diantara kedua lelaki itu, Ani memilih Yudi. Kepolisian Cirebon masih menunggu normalnya Ani yang menjadi kunci dari peristiwa tersebut.

Penjahat Kolor Coklat Beraksi Hampir Berhasil Memperkosa Dua ABG

PEKANBARU – Bila penjahat Kolor Ijo ada di Jakarta, kini muncul penjahat bugil Kolor Coklat.

Bedanya, Si Kolor Ijo mengenakan celana dalam pada tempatnya. Sedangkan Si Kolor Coklat mengenakan celana dalam di kepala sebagai topeng,

Penjahat bugil dengan bertopengkan kolor coklat itu, nyaris memperkosa dua ABG kakak beradik, warga Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Menurut Kapolsek Mandau, AKP Ade Muliana, seperti dikutip detikcom, Kamis, dua korban kakak beradik itu adalah Sari (16) dan Dian (13) warga Jalan Tuanku Tambusai, Duri, sekitar 150 Km arah utara dari Pekanbaru.

Kepada petugas, keduanya mengaku peristiwa itu terjadi pada Rabu (16/7) dinihari. Ketika kedua gadis ini terlelap tidur, cerita Sari kepada Polsek Mandau, diduga saat itu pria kolor coklat masuk ke dalam kamar mereka. Namun beruntung Sari tersentak dari tidurnya dan melihat ada orang masuk ke kamarnya.

Pria yang masuk kekamar berciri-ciri berbadan gemuk dengan perut buncit, rambut keriting mengenakan tutup kepala dengan kolor warna coklat. Sedangkan sekujur tubuhnya dibalur dengan lumpur warna kuning. Lantas pria kolor coklat ini sempat memukul Dian yang tengah terlelap tidur.

“Ketika adik saya dipukul dengan benda tumpul, saya tersadar, namun saya tidak bisa berbuat banyak.

Mulut ini rasanya terkunci. Malah pria itu mengajak saya untuk turut membantu membunuh adik saya Dian,” kata Sari seperti dikisahkan Kapolsek Mandau.

“Pagi itu saya benar-benar ketakutan. Setelah adik saya dipukul, pria bertopeng kolor coklat meminta saya meladeni nafsunya,” kata Sari yang kemudian berteriak minta tolong.

Mendengar gadis itu berteriak, pria kolor coklat kabur lewat jendela. Diduga pelaku kabur pakaim motor.

Kawin Kontrak Dengan Pria Arab Marak Kembali Di Puncak

BOGOR – Kawin kontrak antara pria asing asal Timur Tengah (timteng) dengan wanita lokal kembali marak di kawasan wisata Puncak, Bogor.

Kondisi ini membuat masyarakat di seputar kawasan berhawa sejuk itu mulai dilanda keresahan.

Pasalnya, mereka sering mendapati pemandangan wanita muda berpakaian seronok di sejumlah vila yang bertebaran di kawasan tersebut.

Menurut informasi, fenomena kawin kontrak biasanya terjadi pada Juli hingga Nopember. Namun Pemkab Bogor dan Kantor Urusan Agama (KUA) Cisarua mengatakan tidak pernah memfasilitasi adanya kawin kontrak.

“Apa yang menjadi perbincangan dan keresahan masyarakat terkait kawin kontrak, kami dari KUA Cisarua, sama sekali tidak memfasilitasi apalagi memberi dukungan dalam melegalkannya, semua surat yang kami keluar hanya untuk pasangan yang menikah saja,” ujar Sekretaris Badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) KUA Cisarua, Drs Nurudin, Kamis (17/7).

Pelaku kawin kontrak itu, tandas Nurudin, bukan asli Bogor. “Untuk wanitanya berasal dari Sukabumi, Cianjur serta Bandung . Sedangkan prianya berasal dari negara Arab,” tegasnya.

300 ABG Diperdagangkan Sebagai Pelacur Dengan Tarif 500 Ribu Per Jam

BOGOR – Perdagangan manusia untuk dijadikan pelacur kian marak. Hasil pemeriksaan petugas Polwil Bogor yang menangkap 3 germo menyebutkan ada sekitar 300 cewek ABG yang ditampung di Jakarta Barat. Mereka siap melayani lelaki hidung belang di tempat hiburan papan atas.

Lokasi penampungan para ABG yang direkrut dari beberapa propinsi ini, diakui Eli, salah satu germo yang ditangkap, Senin (14/7) malam lalu, berada di delapan lokasi berbeda.

Satu lokasi sebelumnya sudah digerebek Polwil Bogor, Jumat (11/7). Ke tujuh lokasi penampungan lainnya, diakui tiga tersangka, sudah diketahui aparat setempat.

”Selama tiga tahun, operasi kami diketahui aparat setempat. Kami aman, karena ’koordinasi’ lancar. Ini hanya faktor sial saja, saat satu lokasi kami di bilangan Mangga Dua di gerebek Polwil Bogor. Sementara tujuh lokasi lain, masih aman sampai sekarang,” kata seorang sumber di kepolisian mengutip pengakuan ketiga tersangka yang ditangkap yakni Oki, 40, Ny. Ama, 49, dan Eli, 40.

DIIMING-IMINGI KERJA DI SALON
Perwira di Polresta Bogor ini menambahkan jaringan ini memberi iming-iming bagi para korban dengan menawarkan bekerja di mal dan salon dengan gaji besar. Korban yang terjerat lalu di antar kepada Evi, salah satu tersangka yang ditangkap pada Jumat pekan lalu.

Selanjutnya, Evi menyerahkan para ABG itu ke tangan Daniel yang juga ditangkap pada saat yang bersamaan. Tersangka mengaku para ABG itu kemudian dipekerjakan sebagai wanita penghibur di tempat hiburan malam Jakarta seperti Stadium, Malboro, Milles, Milenium dan 1001.

Wanita-wanita ini biasanya mendapat fasilitas antarjemput dan didandani dengan baju mahal dan modis agar tampil menarik. Tarif mereka berkisar Rp500 ribuan sekali kencan. Namun dari jumlah itu, sang cewek hanya mengantongi Rp70 ribu saja.

Setelah menangkap Evi dan Daniel, Polwil Bogor menyusul membekuk tiga tersangka penjualan ABG dan gadis di bawah umur lainnya pada Senin (14/7) malam.

Mereka yang sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) polisi Bogor ini ditangkap di sebuah rumah di Jalan Sudirman Air Mancur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Para tersangka yang diringkus itu adalah Oki 40, pacar Evi, warga Gang Aut, Bogor Selatan, Ny Ama, 40, ibunda Daniel, dan satu germo lagi bernama Eli, 40, warga Jalan Mangga Besar, Jakarta.

DARI BEBERAPA WILAYAH
Keberhasilan Polresta dan Polwil Bogor membongkar sindikat perdagangan ABG dan gadis di bawah umur ini berkat pengaduan Ny. SA, orangtua RM, salah satu korban sindikat ini.

Pengaduan Ny. SA ditindaklanjuti Polwil Bogor yang akhirnya mengamankan 40 ABG di dua tempat berbeda masing-masing di Gang Industri, Mangga Dua, dan Jalan Mangga Besar II, Jakarta, Jumat (11/7) malam lalu.

Dalam penggerebekan yang dipimpin Iptu Herry itu, petugas mengamankan dua tersangka yakni Rhama Daniel, 20, warga Jalan Mangga Besar, Jakarta Barat dan Evi Rahayu, 24, warga Jalan Roda 2 RT 03/09, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Para ABG ini direkrut dari beberapa wilayah seperti Bogor, Sukabumi, Bandung, Jakarta, Tangerang, Bekasi, Indramayu, Subang, Majalengka, Tegal, Kalimantan Selatan dan Lampung.

Kepada petugas, RM, korban, yang masih duduk dibangku kelas 3 SMP, mengaku ia dijanjikan Evi diberikan pekerjaan di salon ternama di Jakarta dengan gaji besar.

Namun baru berselang sehari, Ny. SA, mendapat informasi jika anaknya bukan dipekerjakan di salon melainkan dipaksa menjadi pekerja seks komersial (PSK) di klab malam. Mereka dijual ke om-om dengan tarif Rp500 ribu untuk short time. Dari tarif ini, mereka hanya diberi Rp70 ribu.