Monthly Archives: Agustus 2008

Pria Beristri Karena Cemburu Membunuh Pacar Gelapnya Dan Memperkosa Serta Menyodomi Mayatnya Hingga Dua Kali

Dipicu cemburu setelah membaca SMS dari lelaki lain pada HP pacar gelapnya, seorang pria yang sudah memiliki istri dan anak, menjadi gelap mata. ABG selingkuhannya dibunuh lalu ditelanjangi dan dibuang ke semak-semak. Enam jam kemudian pelaku kembali lagi memerkosa dan menyodomomi mayat korban sampai dua kali.

ABG selingkuhannya itu dibunuh lalu ditelanjangi dan dibuang ke semak-semak. Enam jam kemudian pelaku kembali lagi dan astaga! mayat korban diperkosa dan disodomi sampai dua kali.

Korban, Ani Suharni, 16, warga Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Bekasi, tewas dicekik oleh Nanang alias Pongah, 20, warga Jl Kemuning I, RT 05/05 Bojong Menteng, Rawalumbu, pada Kamis malam sekitar pukul 20:30.

“Saya cemburu membaca SMS yang ada di HP dia,” ujar Nanang, ayah satu anak ini.

Menurut dia, pada Kamis malam dirinya menjemput Ani, kekasih gelapnya itu. Saat Nanang membaca SMS di HP Ani yang isinya menyebutkan korban pernah diajak jalan-jalan oleh seorang lelaki lain, hatinya panas dan dadanya sesak karena cemburu.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan ini pun menjadi gelap mata dan berniat menghabisi anak yatim lulusan SD itu. Ani kemudian diajak keliling kampung menggunakan sepeda motor.

Setibanya di Kampung Rawa Roko Jl Caringin Ujung RT 03/05 Bojong Menteng, Rawalumbu, keduanya terlibat cekcok mulut. ”Dia nggak ngaku kalau habis jalan sama cowok lain,” kata tersangka.
Kesal, leher wanita ABG bertubuh mungil itu pun dicekiknya hingga lemas. Untuk memastikan korban telah tewas, pelaku melilitkan tali gantungan kunci sepeda motor dan menjeratnya hingga tewas.

Untuk menghilangkan jejak, pelaku melucuti seluruh pakaian korban dan menyimpannya di semak-semak 200 meter dari tubuh korban.

PERKOSA MAYAT
Usai melakukan perbuatan biadabnya, pelaku pergi. Namun Jumat pagi sekitar pukul 07:00, Nanang datang lagi ke lokasi ia membuang mayat Ani. Ketika melihat kekasihnya tergeletak dengan tubuh bugil, timbullah nafsu setannya. Mayat pun diperkosa dan disodomi hingga dua kali.

“Saya nafsu ngeliat dia bugil. Sebelumnya dia nggak mau diajak ‘main’,” kata pelaku yang mengaku keduanya memang sering berhubungan badan. “Kami juga sempat putus, tapi sudah balikan lagi,” lanjut Nanang.

Terungkapnya kasus pembunuhan ini, menurut Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol. Mas Guntur Laupe, didampingi Kapolsek Bekasi Timur, AKP Rokhmad Hari Purnomo, setelah tim yang dipimpin Kapolsek dan Kanit Reskimnya Iptu Bambang S Nugroho, mendatangi tempat kejadian perkara (TKP).

“Kami melihat pelaku mondar-mandir di TKP dan mengaku melihat baju-baju korban,” tutur kapolsek.

Saat diperiksa secara intensif, tersangka juga mengaku mengenal korban. Akhirnya pria ini diinterogasi petugas secara lebih mendalam.

DIPERTEMUKAN DENGAN KELUARGA
Semula pelaku menolak diperiksa sebagai saksi karena mengaku sedang sakit. ”Saat kami pertemukan dengan keluarga korban, mereka menyebutkan kalau Ani terakhir pergi dengannya,” tandas kapolsek. Akhirnya pelaku pun mengakui membunuhnya karena cemburu.

Seperti diberitakan (Pos Kota 30/8), sejumlah anak-anak yang sedang main bola pada Jumat (29/8) sekitar pukul 15:00 kaget ketika melihat sesosok mayat perempuan bugil tergeletak di semak belukar.

Saat ditemukan posisi korban setengah tertelungkup ke arah kanan. Pipi korban terlihat lebam dan di lehernya terdapat bekas cekikan. Di kelamin dan dubur korban ada bekas luka seperti bekas diperkosa dan disodomi. Jenazah korban kemarin dimakamkan di dekat rumahnya

Identitas perempuan muda yang mayatnya ditemukan di lapangan penuh ilalang adalah Ani Suharni, remaja berusia 16 tahun asal Kampung Babakan, Kelurahan Mustika Sari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Ani tewas di tangan pacarnya sendiri, Nanang (20), yang terbakar api cemburu.

Nanang ditangkap pada Jumat (29/8) malam. Sebelum ditangkap, Nanang dijadikan saksi oleh polisi karena dialah yang kali pertama memberi tahu penemuan mayat perempuan muda tanpa busana itu ke warga Kampung Rawa Roko, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

”Motifnya cemburu. Tersangka marah kepada korban karena menerima SMS dari lelaki lain,” kata Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Komisaris Besar Mas Guntur Laupe ketika memaparkan pengungkapan kasus pembunuhan Ani, Sabtu (30/8).

Ani dibunuh pada Kamis malam setelah dia dan Nanang terlibat pertengkaran di lapangan ilalang dekat perumahan Rawalumbu.

Nanang marah-marah karena mengetahui pacarnya yang masih berusia belia itu menerima pesan singkat yang berisi kalimat mesra dari lelaki lain. Ironisnya, Nanang sendiri ternyata sudah beristri dan sudah memiliki seorang anak.

Pembunuhan berencana

Nanang mengaku gelap mata setelah mengetahui Ani menerima pesan singkat dari lelaki lain. Nanang mencekik Ani hingga pacarnya itu tewas.

Pada jumat pagi, Nanang datang lagi ke lapangan itu dan melepaskan seluruh pakaian Ani. Nanang juga mengaku memerkosa mayat Ani.

Nanang ditetapkan sebagai tersangka pembunuh Ani. Dia dijerat ancaman pasal pembunuhan berencana. Sejak Jumat malam, kata Kepala Kepolisian Sektor Metropolitan Bekasi Timur Ajun Komisaris R Hari Purnomo, Nanang ditahan di sel Kepolisian Sektor Metropolitan Bekasi Timur.

Ani dimakamkan kemarin siang di Pemakaman Kamboja, Kampung Babakan, Mustika Sari. Ayah Ani, Sanim, mengatakan, putrinya meninggalkan rumah sejak Kamis malam.

Menurut adik Ani, Dede, sebelumnya Ani pernah mengatakan akan dijemput Nanang dan bertemu di rumah teman Ani. Tidak disangka akan terjadi seperti ini.

Dari Penjara Devid Menulis Kisah Sedihnya Disiksa Hingga Terpaksa Mengaku Oleh Polisi Di Polsek Bandar Kedungmulyo

Siti Rochana (38) memandang lurus lembaran ijazah putranya, Devid Eko Prianto (19), yang lulusan SMK PGRI I Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada tahun 2007.

Devid adalah salah terpidana kasus pembunuhan atas korban yang sebelumnya diduga sebagai Moh Asrori (28), selain terdakwa Maman Sugianto alias Sugik (28) serta terpidana Imam Hambali alias Kemat (35).

Ijazah yang masih baru itu tampak lebih tua dari yang semestinya. Dilipat menjadi dua dan terus-menerus digenggam Siti di rumah berlantai plesteran semen di Dusun Ngemplak, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Tak lebih dari tiga bulan setelah lulus dari SMK tersebut pada pertengahan 2007, Devid bekerja di salon milik Imam Hambali di Desa Kalang Semanding, Kecamatan Perak. Tugas utama Devid adalah membantu pembuatan dekorasi bagi acara-acara pernikahan yang biasanya diterima salon tersebut.

Hanya bekerja sebagai tenaga lepas di salon tersebut selama satu bulan, Devid hijrah ke Surabaya. ”Yah, terus ditangkap di rumah Mbahnya di Tuban pada tanggal 21 Oktober 2007 saat masih tidur di waktu subuh,” kata Siti.

Malam hari sebelum ditangkap, lanjut Siti, Devid didatangi orang yang mengaku sebagai polisi di warung kopi di depan rumah mereka. Devid diberi uang Rp 20.000 dan disuruh melarikan diri. ”Saya ya tidak tahu kenapa Devid disuruh melarikan diri,” ucap Siti.

Setelah penangkapan, Devid belum boleh dijenguk. Barulah, dua pekan setelah penangkapan, Devid bisa dikunjungi.

Sejumlah lebam di muka Devid segera saja memicu rasa pilu Siti, ibunda Devid dalam pertemuan itu.

Devid divonis bersalah dan penjara 12 tahun harus dihadapinya sejak vonis Pengadilan Negeri Jombang pada 8 Mei 2008. Sebuah surat ditulis Devid seusai putusan itu.

”Saya tidak kuat atas pukulan bapak polisi Bandar (Polsek Bandar Kedungmulyo). Saya dipukuli sampai babak belur dan bahkan bapak polisi menodongkan pistolnya ke perut saya dan ke kepala saya,” demikian antara lain bunyi surat Devid. Surat lusuh yang ditulis dalam secarik kertas buku tulis bolak-balik itulah yang diberikan Devid kepada Siti.

Mulyono (50) dan Sulistiyawati (43), yang merupakan ayah dan ibu kandung Maman Sugianto, berharap hal serupa. Adapun Sumarmi (41), kakak ipar Kemat, dan Suciati (20) yang merupakan keponakan Kemat menyebutkan, selama berada dalam tahanan, Kemat selalu disiksa.

Temuan terbaru polisi berdasarkan uji DNA yang membuktikan bahwa jenazah Moh Asrori ternyata adalah yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Very Idam Henyasnyah melegakan Siti. ”Saya ingin anak saya dibebaskan,” kata Siti.

Bagi Siti, kembalinya Devid ke tengah keluarga sungguh amat berarti. Sebab, ancaman hukuman melalui vonis 12 tahun penjara untuk kejahatan yang menurut versi Siti memang tak dilakukan Devid sungguh berarti.

”Devid tidak pernah bikin masalah selama sekolah. Satu-satunya masalah ya karena (kami) sering dipanggil ke sekolah akibat tidak punya biaya untuk membayar biaya sekolah,” kata Siti lirih.

ABG Umur 17 Tahun Diperkosa dan Disodomi Sampai Tewas Di Bojong Mentang Lalu Ditinggal Dalam Keadaan Bugil

Sadis. Cewek ABG diperkosa dan disodomi lalu dibunuh di Kampung Caringin Ujung RT 003/05 Kelurahan Bojong Menteng, Rawalumbu. Tubuh bugil perempuan belasan tahun ini ditemukan anak-anak yang sedang main bola, Jumat (29/8) sore.

Sejumlah anak-anak yang sedang main bola sekitar jam 15:00 kaget ketika melihat sesosok mayat perempuan bugil tergeletak di semak belukar.

Lokasi dekat Jalan Caringin itu setiap sore dijadikan arena bermain anak-anak. Lahan tersebut kosong, sebagian ditumbuhi perdu dan alang-alang. Bila malam hari gelap gulita.

Diduga wanita malang itu dianiaya dan diperkosa. Warga yang melihat penemuan tak satu pun mengenal cewek dengan ciri-ciri kulit sawo matang, usia diperkirakan 17 tahun, rambut sebahu tinggi 150 cm tersebut.

DIPERKOSA DAN SODOMI
Anggota Polsek Bekasi Timur dipimpin AKP Hary Purnomo, melakukan olah (TKP). Posisi korban setengah tertelungkup ke arah kanan.

Pipi luka lebam dan leher seperti bekas cekikan. Di kelamin dan dubur korban ada bekas luka seperti bekas diperkosa dan disodomi.

Di lokasi kejadian polisi menemukan cincin emas, gelang manik-manik warna pink, diduga benda itu milik korban.

Tak ditemukan selembar pun pakaian korban. Diduga pelaku sengaja membawa pakaian korban untuk menghilangkan jejak.Jasad wanita itu dikirim ke RSCM.

Kapolsek Bekasi Timur AKP Hary Purnomo mengatakan korban tewas belum 24 jam, karena tubuhnya belum bau. “Dia korban kekerasan seksual, karena kelamin dan duburnya berdarah. cKami berharap kasus ini cepat terungkap,” jelas Kapolsek.

BERITA LANJUTAN: Pembunuhnya Ternyata Pria Beristri Yang Menjadi Kekasih Gelapnya, Tersangka Memperkosa dan Menyodomi Myata Korban Sebanyak Dua Kali

Beredar Kembali Video Mesum Artis KDI Kontes Dangdut Indonesia Asal Tegal Lewat Ponsel Dan Dapat Didownload Di Rapidshare

Jajaran Polres Tegal memburu penyebar video mesum yang melibatkan peserta Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 5 berinisial IRA (20). Hal itu dilakukan untuk menindaklanjuti laporan warga Desa Mejasem, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal yang menjadi korban kasus video mesum tersebut.

Tercatat, hingga kini sebanyak empat orang saksi telah dimintai keterangan terkait dengan kasus video berdurasi sekitar 1 menit 22 detik tersebut. Mereka adalah kekasih korban Nryt (34), ayah korban BS dan dua orang kakak perempuan korban yakni VP dan SDR.

Kapolres Tegal AKBP Drs Agustin Hardiyanto SH MM MH melalui Kasat Reskrim AKP Rudi Hartono SIK mengungkapkan, kasus video mesum tersebut dilaporkan korban ke SPK Mapolres Tegal, Senin (18/8).

Korban saat itu melaporkan kekasihnya yang diduga menjadi penyebar video mesum bersama dirinya. Ia menjelaskan, adegan mesum tersebut dibuat pada tanggal 15 Agustus 2008, tepatnya di rumah Nyrt di Desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal. Sedangkan proses perekamannya menggunakan sebuah alat web cam.

Kemudian, adegan mesum tersebut ditransfer ke telepon seluler Sony Ericsson H320i milik Nyrt. Adegan itu menampilkan kedua sejoli telanjang bulat di ranjang. Terlihat korban mengelap tubuh kekasihnya dengan menggunakan sebuah kain berwarna putih. Sementara Nyrt terus menatap camera yang sedang menyorotnya.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan. Dari hasil pemeriksaan sementara, korban menolak apabila dianggap sebagai penyebar video mesum tersebut,” katanya didampingi Kanit I Reskrim Ipda Bayu Marwanto.

Menurut pengakuan IRA, kasus tersebut dilaporkan setelah ia mengetahui video mesum bersama kekasihnya menyebar luas. Pertama kali, ia melihat adegan mesum itu dari dua orang temannya di Desa Bogares Kidul, Kecamatan Pangkah. Karena merasa dilecehkan, IRA selanjutnya langsung melaporkan kekasihnya ke Mapolres Tegal.

Sedangkan, Nyrt mengaku tidak pernah menyebarluaskan adegan mesumnya bersama korban. Ia mengatakan, tidak mungkin apabila yang melakukan dirinya. Sebab, adegan itu membuatnya malu apabila tersebar luas ke masyarakat.

Video mesum yang diduga diperankan salah satu finalis Kontes Dangdut Indonesia (KDI) beredar di Kota Tegal, Jawa Tengah, baru-baru ini. Rekaman adegan layaknya suami istri itu berdurasi 1 menit 22 detik. Sang pemeran merupakan finalis KDI asal Tegal dengan inisial L. Rekaman beredar tak hanya melalui telepon seluler, tapi juga lewat internet. Menurut polisi, terkait beredarnya rekaman, artis lokal Tegal telah meminta agar kasus ini diusut tuntas, termasuk mencari dalang penyebaran video mesum. Sejauh ini tujuh saksi akan dimintai keterangan

Terbukti Metoda Polisi Dalam Mengungkap Kejahatan Masih Dengan Cara Menyiksa Tersangka Hingga Mengaku – Kemat Dihajar Sampai Setengah Mati Agar Mau Mengaku Membunuh Ashori Hingga Dihukun 17 Tahun Penjara … Eh Ternyata Dibunuh Oleh Ryan

Air mata Imam Hambali alias Kemat (34) langsung mengucur saat Eka Lisnawati, sang kemenakan, menyalaminya lewat lubang sebuah pembatas berjeruji kawat yang memisahkan antara pembesuk dan napi LP Jombang, Kamis (28/8) kemarin.

Kemat adalah salah satu terpidana salah tangkap dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idam Henyansah alias Ryan, warga Desa Jatiwates, Jombang, yang telah membantai 11 orang.

Kemat dihukum 17 tahun, sementara Devid Eko Priyanto 12 tahun setelah pengadilan memvonis keduanya membunuh Asrori, pria yang mayatnya ditemukan di kebun tebu Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, 29 September 2007 lalu.

Namun, Rabu (27/8) lalu terungkap bahwa pembunuh Asrori adalah Ryan, dan makam Asrori sesungguhnya bukanlah di kebun tebu, melainkan di belakang rumah orangtua Ryan di Jatiwates.

Keadaan ini membuat pertemuan Kemat dan keluarga yang menjenguknya di LP kemarin diliputi keharuan. “Alhamdulillah…akhirnya kebenaran itu terkuak juga. Doakan ya… semoga masalahnya lekas selesai dan saya bisa bebas,” ujar Kemat sambil terus menangis.

Kemat mengaku sudah mendengar kabar salah tangkap dirinya dan Devid sejak kemarin pagi lewat siaran berita radio yang dibawanya ke Blok A3 LP Jombang. Blok inilah yang dihuni Kemat sejak dia dijebloskan ke bui setelah dicatut polisi sebagai tersangka pembunuh Asrori, 21 Oktober 2007 lalu. Devid menempati Blok F-4.

Sementara itu, Maman Sugianto alias Sugik, yang disangka sebagai pelaku, masih dalam masa karantina dan menempati Blok D-2. Kemarin Sugik menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jombang.

Surya kemarin turut membesuk Kemat di LP Jombang. Kepada Surya, Kemat berkisah bahwa sepanjang Ramadhan 2007 lalu polisi berulang kali menciduknya dari rumahnya di Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Namun, berulang kali pula dia kembali dipulangkan. Pada pemanggilan berikutnya ke polsek saat lebaran ketupat, Kemat akhirnya ditahan. “Ayo guk melu aku nang polsek (ayo Mas ikut saya ke polsek),” ujar Kemat, mengulang kalimatnya saat itu.

Dia mengajak kakaknya yang nomor empat itu karena sudah merasa tak enak akan terjadi sesuatu. Kemat adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Khamin (75) dan Watini (65).

Benar saja. Hingga sore, Kemat tak lagi pulang ke rumah. Sekitar pukul 24.00, Karnadi tiba di rumah tanpa Kemat. Di Polsek Bandarkedungmulyo, Kemat mengaku mendapat siksaan fisik dari penyidik. Bahkan, untuk memaksa agar dia mengakui sebagai otak pembunuh Asrori, menurut Kemat, polisi membawanya ke tanggul Sungai Kayen. “Aku dipukuli Mas pakai karet diesel,” tuturnya.

Kemat ditangkap setelah polisi menangkap Devid di Tuban, rumah neneknya, pertengahan Oktober tahun lalu. Setelah Kemat, nama lain yang disangka terlibat dalam penghilangan nyawa Asrori adalah Maman Sugianto atau Sugik. “Saya enggak tahu apa-apa Mas. Katanya saya bawa sepeda motor Asrori, itu juga tidak benar,” kata Kemat.

Tangis Kemat tak terbendung lagi saat rombongan keluarga Sugik datang membesuk. Orangtua Sugik, Sulistyowati dan Mulyono, datang sekitar pukul 12.40. Mereka mengunjungi LP Jombang setelah mengikuti sidang Sugik di PN Jombang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa. Sebelum mereka, teman-teman Kemat dari desa tiba lebih dulu.

Wis tenang ae. Engko nek wis metu tak kancani sampek elek (Sudah tenang saja kamu. Nanti kalau sudah bebas akan kuajak main-main sampai puas),” ujar Arif, salah satu kawan Kemat.

Tak Dijenguk
Berbeda dengan keluarga Kemat, keluarga Devid tak bisa mengunjungi LP. Ibunda Devid, Siti Rokhanah (38), saat ditemui di kediamannya, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Jombang, mengaku bersyukur akhirnya mayat di kebun tebu bukan Asrori dan berharap Devid segera dibebaskan. Kendati demikian, Rokhanah tidak bisa segera membesuk anaknya ke LP Jombang karena tidak memiliki biaya.

“Ya alhamdulillah kalau sekarang ada bukti anak saya tidak bersalah. Tapi kalau untuk menjenguk ke penjara belum bisa. Ongkosnya dari mana?” tanya Rokhanah. Selain tak ada biaya, Rokhanah juga mengaku, jika membesuk di LP khawatir dirinya tak mampu menahan perasaan karena trauma.

Rokhanah berkisah, Devid ditangkap dalam suasana Idul Fitri 2007. Dalam kisahnya, tersirat ada skenario untuk sengaja menjebloskan Devid maupun Kemat, serta Sugik sebagai terpidana.

Kata Rokhanah, berdasarkan pengakuan Devid setelah divonis, penangkapannya bermula ketika suatu siang Devid sedang minum kopi di warung yang tak jauh dari rumah. Saat itu ada polisi datang dan memberinya uang Rp 20.000 untuk pergi alias kabur.

Entah karena alasan apa, Devid menuruti kemauan polisi itu. Devid kemudian pergi ke Tuban, ke rumah kakeknya. Saat di Tuban itulah dia ditangkap polisi. “Polisi tentu mudah menangkap karena saat itu Idul Fitri dan yang dikunjungi pasti kakeknya yang di Tuban atau di Surabaya,” kata Rokhanah dengan berurai air mata.

Kemarin, polisi membongkar kuburan mayat Asrori di kebun tebu di Desa Kalangsemanding. Pembongkaran ini disaksikan ratusan warga dan dipimpin Kasat I Pidum Ditreskrim Polda Jatim AKBP Susanto sejak pukul 11.00 hingga pukul 13.15.

Mayat ‘Asrori’, yang sekarang berubah menjadi mayat tak dikenal karena mayat Asrori sesungguhnya telah ditemukan di belakang rumah Ryan, kini tinggal tulang belulang dengan sedikit daging yang membusuk dan bau menyengat. Selanjutnya mayat tersebut dikirim ke RS Bhayangkara, Surabaya. AKBP Susanto mengatakan, akan dilakukan uji DNA untuk dicocokkan dengan DNA kerabat orang-orang yang kehilangan keluarganya. “Yang jelas dia bukan Asrori karena sesuai DNA, Asrori dikubur di belakang rumah orangtua Ryan,” kata Susanto.

Tentang kemungkinan adanya sanksi bagi penyidik atau pimpinan di atasnya, Susanto mengaku itu akan mengacu pada aturan yang ada. Sedangkan kepada keluarga terpidana dan terdakwa dibuka peluang untuk melakukan upaya hukum sesuai aturan yang ada, seperti pengajuan peninjauan kembali (PK), rehabilitasi nama baik, dan sebagainya.

Menurut sumber di kepolisian, BAP (Berita Acara Pemeriksaan) kasus Asrori kebun tebu yang menyebabkan salah tangkap itu sudah dibawa ke Polda Jatim. Sejumlah penyidik di jajaran Polres Jombang serta Kapolsek Ngoro AKP Anang Nurwahyudi (yang saat terjadinya kasus penemuan mayat Asrori di kebun tebu menjabat Kapolsek Bandarkedungmulyo dan melakukan penyidikan) juga segera diperiksa tim khusus ini.

Ada yang menarik saat pembongkaran mayat kemarin. Jajaran pimpinan Polres Jombang tampak serba salah, bahkan kelihatan tegang. Agaknya ini karena sebelumnya Polres Jombang tetap bersikukuh mayat yang ditemukan di kebun tebu adalah Asrori.

Anang Nurwahyudi juga tegang dan serba kikuk. Ditanya tentang kemungkinan salah tangkap, dia memilih menghindar. Kapolres Jombang AKBP Moh Khosim, saat dicecar wartawan terkait pembongkaran mayat “Asrori”, juga sangat jelas terlihat gugup. Dengah suara agak bergetar, Khosim mengatakan, terhadap mayat tersebut akan diuji DNA untuk dicocokkan dengan keluarga Asrori.

“Ini untuk melihat apakah ada kesamaannya,” kata Kapolres Khosim. Dengan jawaban demikian, seolah dia mengisyaratkan masih terbuka peluang bahwa mayat tersebut adalah Asrori. Padahal AKBP Susanto mengatakan, tidak mungkin ada kesamaan DNA antara `Asrori` di kebun tebu dengan Asrori di belakang rumah Ryan. “Ini fakta ilmiah, kebenarannya 99,99 persen,” kata Susanto.

Yang mengejutkan, kendati berdasarkan uji DNA mayat Asrori adalah yang ditemukan di belakang rumah Ryan, keluarga Asrori masih meragukannya. Paman Asrori, Jaswadi (43), yakin mayat yang dibongkar kemarin itu adalah mayat Asrori. “Saya yakin itu Asrori karena ada bekas luka kena knalpot, kukunya rapi, dan giginya juga jelas milik Asrori,” kata Jaswadi, Kamis

Kepastian mayat Mr X adalah Asrori membuat lega keluarga Imam Hambali alis Kemat (26). Eka Lisnawati, keponakan Kemat, berulang kali mengucap syukur saat diberitahu kabar itu. “Semua keluarga senang, alhamdulillah akhirnya kebenaran itu terungkap,” ucap Eka, Rabu (27/8).

Dengan kabar ini, Eka bersama keluarganya berencana mengunjungi Kemat di LP Jombang hari ini. Mereka ingin memberi kabar bahagia itu langsung ke Kemat. “Kasihan dia tidak bersalah tapi sudah dihukum setahun,” ujar Eka.

Sebagai rasa syukur, keluarganya berencana menggelar selamatan di rumahnya sambil menunggu kepulangan Kemat.

Kata Eka, sejak awal keluarganya yakin Kemat tidak membunuh Asrori. Keyakinan itu didapat setelah seluruh keluarga menginterogasi Kemat. “Dia ngakunya tidak pernah membunuh, sampai bersumpah. Jadi keluarga mempercayainya,” katanya.

Hingga kemarin, Eka dan anggota keluarga Kemat belum berencana mengajukan gugatan ke polisi terkait kesalahan penangkapan. “Kami menunggu sampai pulang dulu. Enggak tahu nanti,” katanya.

Ayah Kemat, Khamin (75), juga mengaku tak pernah percaya anaknya membunuh Asrori. Menurut Khamin, Kemat tidak mungkin membunuh. “Terhadap hewan saja dia itu tidak tega memukul, apalagi terhadap manusia, membunuh lagi. Lebih-lebih lagi Asrori itu tetangganya sendiri,” kata Khamin.

Kemat, jelas dia, juga sangat penakut. “Kalau keluar rumah, misalnya ke tetangga, pada malam hari, selewat pukul 10.00 malam saja dia pasti akan minta diantar. Orang penakutnya seperti itu kok dituduh membunuh, jelas kami tidak percaya,” ujar Khamin.

Khamin makin yakin Kemat tidak membunuh karena setiap keluarga membesuk Kemat ke LP Jombang, Kemat hampir selalu menangis dan bercerita dirinya tidak membunuh siapa pun. “Dia mengaku kepada kami, saat di kepolisian tubuhnya dipukuli polisi sehingga terpaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya. Kasihan sekali dia,” kata Khamin.

“Kalau mengingat kejadian dia ditangkap, saya dan istri saya pasti menangis karena sedih. Saat itu, sedang enak-enak santai habis makan sahur, menunggu datangnya imsak, tiba-tiba rumah kami didatangi beberapa polisi. Mereka membawa anak saya pergi,” tutur Khamin, dengan suara tersendat

Keluarga terpidana dan terdakwa kasus pembunuhan kebun tebu di Dusun Braan, Desa Bandar Kedungmulyo, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang meminta rehabilitasi nama baik anggota keluarga mereka.

Mereka adalah adalah keluarga terdakwa Maman Sugianto alias Sugik (28), serta terpidana Imam Hambali alias Kemat (35) dan Devid Eko Prianto (19). Kemat dan Devid sudah divonis hukuman masing-masing 17 tahun dan 12 tahun.

“Saya meminta keadilan, saya minta anak saya dibebaskan,” kata Sulistiyawati (43), ibu kandung Sugik. Ia dan suaminya, Mulyono (50) juga berharap agar nama baik keluarganya bisa dipulihkan.

Ini terkait dengan bukti bahwa jenazah korban pembunuhan yang sempat diidentifikasi sebagai Moh. Asrori yang dibunuh pada 29 September 2007 itu ternyata orang lain. Berdasarkan tes DNA yang dilakukan polisi, diketahui jenazah Moh. Asrori adalah yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Very Idam Henyansyah alias Ryan pada penggalian kedua, Senin (28/7) lalu.

Siti Rochana (38), ibu kandung Devid meminta ada upaya rehabilitasi nama baik keluarganya dari polisi akibat kasus ini. Ia belum memikirkan upaya hukum lanjutan terhadap polisi. Adapun Sumarmi (41) kakak ipar Kemat mengatakan pihak keluarga masih menunggu perkembangan kasus tersebut.

“Yang penting keluar (bebas) dulu,” katanya.

Sementara itu, dalam persidangan perdana yang dilakukan terhadap terdakwa Sugik di Pengadilan Negeri Jombang, Kamis (28), Ketua Majelis Hakim Kartijono menyatakan bakal tetap melanjutkan perkara itu.

“Kita sesuai saja dengan hukum acara pidana,” kata Kartijono.

Waspadai Badut Pesta Yang Lucu, Bocah 7 Tahun Diperkosa Badut

Bunga Lestari (nama samaran) berusia 7 tahun, siswi SD di Kecamatan Jatiluhur, mengalami nasib tragis. Gadis cilik ini diperkosa pria yang berprofesi sebagai badut.

Peristiwa ini terjadi di rumah korban Desa Cibinong, Kec Jatiluhur, Purwakarta, saat ditinggal kedua orangtuanya, Rabu pagi.

Aksi bejat lelaki tersebut diketahui ibu korban Ny. Tika, 45, selepas mencuci pakaian di perairan Jatiluhur. Ketika kembali ke rumah, Ny. Tika terperanjat dan berteriak minta tolong saat melihat putri bungsunya diperkosa BN, 26, badut jalanan itu. Teriakan Ny. Tika mengundang perhatian warga.

Massa yang dibakar emosi langsung menghakimi pelaku hingga babak belur. Beruntung, sejumlah petugas Polsek Jatiluhur tiba di lokasi kejadian dan mengamankan BN dari amuk massa.

“Jika polisi tidak cepat datang, pelaku bisa mati dikeroyok massa, “ kata satu warga.

Polisi membawa pelaku ke RSU Bayu Asih, Purwakarta karena luka dialami pelaku parah. Di rumah sakit, polisi kaget saat melihat pelaku mendadak segar bugar. Polisi mengira pelaku memiliki ilmu kebal.

Sementara itu, korban Bunga didampingi ibunya Ny. Tika menjalani pemeriksaan intensif di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Purwakarta. Sedangkan staf RSUD Bayu Asih, Budiman memastikan korban sudah diperkosa.

Patah Hati Karena Ditinggal Menikah, Seorang Pemuda Memperkosa Adik Pacarnya Untuk Menghibur Diri

Sakit hati ditinggal nikah, adik kandung diperkosa. Peristiwa itu dialami Humaedi alias Hendra, 18, warga Kampung Sadang, Desa Kadinding, Kecamatan Kibin, Serang.

Akibat perbuatannya, Selasa (26/8), pekerja serabutan inipun dikeroyok massa. Tak sampai di situ, warga yang kesal mengaraknya ke kantor polisi.

Diperoleh keterangan, peristiwa perkosaan ini berawal ketika tersangka datang ke rumah Ning,17, mantan pacarnya di Desa Barengkok, Kecamatan Kibin, Serang.

Tiba di rumah mantan pacar, tersangka hanya bertemu Dandi, 40, orang tua Ningsih. “Udah, kamu jangan ganggu si Ning. Dia itu sudah punya keluarga,” ujar Dandi kepada tersangka.

Begitu mendengar jawaban dari orangtua Ning, tersangka ngeloyor pergi. Namun dalam perjalanan, tersangka bertemu dengan Er, 14, adik kandung Ning yang akan pergi ke sekolah.

Dengan dalih mengantarkan ke sekolah, tersangka mengajak korban naik motornya. Karena tak mengetahui niat jahatnya, korban menuruti ajakan tersangka.

DIBAWA KE RUMAH PAMAN
Namun bukannya diantar ke sekolah, korban malah dibawa ke rumah pamannya di Kampung Tambak, Desa Pasir, Kecamatan Cikande.

Kebetulan rumah pamannya ini dalam keadaan sepi karena ditinggal penghuninya bekerja. Berpura-pura minta dibuatkan minuman, tersangka kemudian mengajak korban ke ruang dapur.

Setiba di ruang dapur, tubuh korban didorong hingga jatuh ke atas dipan.  Tahu akan diperkosa, korban berusaha berontak namun korban tak mampu melawan karena diancam akan dibunuh kemudian dengan tenang pelaku menelanjangi korban dan memperkosanya.  Perbuatan bejad itupun dilakukan tidak hanya sekali tetapi berkali-kali.

Kasat Reskrim Polres Serang, AKP. Sofwan Hermanto, S.Ik, ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. “Kasus ini masih dalam penyelidikan. Tersangka belum dapat diperiksa karena kondisinya yang tidak memungkinkan,” terang Kasat.

Hendra yang ditemui Pos Kota di ruang Unit RPK, mengaku kesal karena ditinggal menikah Ning. “Saya kesal sama kakaknya karena nikah tak bilang-bilang,” ujar Hendra sambil memegang mukanya yang bengkak-bengkak.