Cerita Kriminal

Masukan dari Oktober 2008

Putri Intel TNI AD Diculik dan Minta Tebusan 40 Juta

Oktober 31, 2008 · & Komentar

Maharani Nur Anika (5,5), putri seorang staf Intel Angkatan Darat, diculik oleh kenalan ayahnya, Rabu (29/10) sekitar pukul 15.00. Penculik mengancam akan menjual Anika jika orangtuanya tidak membayar uang tebusan sebesar Rp 40 juta.

Menurut Toto, paman korban, Nika panggilan akrab Anika diduga diculik oleh TY dengan berpura-pura diajak membeli voucer telepon. TY juga diduga mencuri sebuah telepon genggam yang kemudian dipakai untuk mengirim pesan singkat kepada ayah korban, Sersan Kepala Tata Mardi Utama (37).

TY adalah kenalan Nunu, teman Tata. Mereka berkenalan saat ada pendaftaran menjadi tamtama pada tahun 2006. Setiap kali ujian, TY dan Nunu menginap di rumah Tata di Jalan Bulaksari RT 14 RW 09, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Namun, keduanya gagal menjadi tamtama.

Setelah pengumuman itu, TY tak pernah lagi mengontak Tata. Tiba-tiba, Selasa, TY datang lagi ke rumah Tata dan menginap. Pada Rabu siang, saat Tata kerja, dan di rumah hanya ada ibu korban, Titin Nurbayanti (37), Nika, dan Ima (2), tiba-tiba TY meminta izin keluar mau membeli voucer pulsa telepon.

Tidak lama setelah TY dan Nika pergi, TY mengirim pesan singkat kepada Tata yang isinya meminta tebusan Rp 40 juta. Jika Tata tidak mengabulkan permintaan itu, dia akan menjual Nika.

Tata pun segera pulang dan benar tidak menemukan Nika di rumah. Dalam SMS itu, TY bilang tidak akan berkomunikasi dengan berbicara, dia hanya mau berkomunikasi melalui SMS.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Royke Harilangi yang dihubungi terpisah mengatakan, sejak Rabu malam anggotanya sudah disebar. ”Kami sudah melacak kerabat pelaku,” ujarnya

Kategori: penculikan

Terbukti Kejahatan Seksual Tidak Berhubungan Dengan Cara Berpakaian Atau Perilaku Wanita Tetapi Semata Mata Karena Pria Tidak Bisa Menahan Nafsu

Oktober 31, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang wanita alumnus Universitas Indonesia melaporkan mantan dosennya telah menodai semasa ia kuliah di perguruan tinggi tersebut. Laporan ke polisi itu mendapat sambutan luas lewat situs internet yang lalu memunculkan dugaan ada belasan korban lain.

Pihak kampus bereaksi cepat. Setelah dimintai keterangan, dosen yang telah mengajar belasan tahun itu diskors dan terancam pemecatan bila kelak terbukti bersalah. Polisi sendiri masih mendalami kasus ini, murni pemerkosaan ataukah ada motif ingkar janji pelaku kepada korban.

Pada saat yang sama muncul berita, seorang remaja putri melapor telah diperkosa oknum petugas reserse di Polres Metro Jakarta Timur. Ia dipaksa menuruti kemauan pelaku dengan ancaman kekasihnya yang kini ditahan polisi dalam kasus narkoba akan dijatuhi hukuman berat. Pihak provost kini tengah memproses laporan itu.

Sebelum dua kasus itu dilaporkan, berita di media massa juga diwarnai kasus-kasus kejahatan seksual. Pemerkosaan di dalam lingkungan keluarga, seperti anak perempuan dinodai ayah tiri atau bahkan ayah kandung, keponakan dinodai paman. Di lingkungan permukiman juga terjadi kasus pemerkosaan antartetangga, anak-anak dinodai pedagang keliling. Kejahatan seksual di lingkungan kerja, atasan menodai anak buah atau sesama pegawai.

Kasus-kasus tersebut seolah menegaskan bahwa sebagian besar kasus justru terjadi dalam situasi antara korban dan pelaku saling mengenal. Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia pernah melansir hasil penelitian, 74 persen kasus menunjukkan pelaku adalah ‘orang dekat’ korban. Artinya, lebih banyak kasus kejahatan seksual yang didahului oleh interaksi antara korban dan pelaku. Sebaliknya, sangat sedikit kasus pemerkosaan di mana korban dan pelaku tidak saling kenal. Pelaku kasus seperti ini mungkin tergolong sebagai psikopat yang jumlahnya relatif tidak banyak.

Realitas tersebut memberi pemahaman baru terutama kepada kaum perempuan yang lebih banyak menjadi korban kejahatan seksual, untuk lebih cermat dan berhati-hati dalam bergaul. Ketika terhadap orang asing, perempuan dan anak-anak diminta waspada, maka terhadap orang sekitar, perempuan juga tidak

boleh lengah.

Mengingat lebih banyak kasus kejahatan seksual yang didahului oleh interaksi antara korban dan pelaku, maka kerap ada anggapan agar perempuan juga tidak bersikap atau berperilaku ‘mengundang.’ Pandangan semacam ini kadang dinilai bias gender karena terkesan memberi bobot tanggungjawab lebih berat pada pihak perempuan. Seolah kejahatan seksual yang dilakukan kaum pria karena berpikiran penuh hawa nafsu dan kurang pengendalian diri disumbang oleh kesalahan perempuan.

Pengenaan hukum yang lebih berat agaknya bisa menerbitkan harapan agar kaum pria pelaku kejahatan seksual menanggung akibat yang setimpal. Tambahan ancaman sanksi pidana sepertiga masa hukuman harus sungguh-sungguh dikenakan kepada pelaku yang mestinya melindungi korban, seperti pada kasus
pemerkosaan orang dewasa terhadap anak-anak, atasan terhadap bawahan, guru terhadap murid, dan sebagainya.

Pengenaan hukuman tambahan dengan menggunakan aturan hukum yang terkait juga perlu dipertimbangkan. Misalnya, pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak, juga bisa dikenai hukuman dengan mengunakan UU Perlindungan Anak

Kategori: kekerasan pada wanita · pelecehan seksual · pemerkosaan

Karena Sayang Sama Pacar Seorang Siswi SMA Rela Diperkosa Oleh Polisi

Oktober 31, 2008 · & Komentar

Sebagai aparat penegak hukum, HK mestinya melindungi masyarakat. Namun yang terjadi sebaliknya. Ia justru menggunakan kekuasaannya untuk menakut-nakuti seorang siswi SMA agar menuruti nafsunya. Jika menolak, pacarnya yang terlibat kasus narkoba diancam dijebloskan ke penjara.

Korban, Ka, 17, mengadukan peristiwa itu ke Komnas Perlindungan Anak, Kamis (30/10) siang, didampingi Budi Alfian, kakak kandungnya. Keduanya diterima Sekretaris Komnas PA Arist Merdeka Sirait. Sebelumnya, Ka telah melapor ke Propam Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jaktim. Hasil visum di RS Polri Kramatjati menunjukkan kemaluan gadis ini positif rusak akibat kemasukan benda tumpul.

DUA KALI DIPERKOSA
Tanggal 16 Agustus 2008, adalah hari tak terlupakan bagi Ka. Malam sekitar Pk. 20:00, ia dan Rahman, pacarnya, dihubungi teman Rahman yang ingin bertemu di SDN 28 Cipinang Besar Selatan.

Di tempat itu sudah menunggu lima polisi berpakaian preman. Keduanya digeledah petugas tetapi tak ditemukan barang bukti. Rahman diringkus setelah polisi menunjuk ganja yang tergeletak tak jauh dari gedung sekolah itu.

Melihat pria yang sudah tiga tahun menjadi kekasihnya ditangkap, Ka jatuh tak sadarkan diri. HK pun membawanya ke mobil Suzuki Carry. Tak lama, sepasang kekasih itu dibawa ke Polres Metro Jaktim untuk diperiksa. Rahman dinyatakan bersalah karena memiliki ganja sedangkan HK dinyatakan tak bersalah. “HK bilang kalau saya tak mau di penjara seperti pacar saya maka saya harus menuruti semua permintaannya,” ujarnya.

Gadis berkulit bersih dengan rambut lurus melewati bahu itu pun diajak HK keluar kantor. Bersama sejumlah polisi lain yang menumpang kendaraan berbeda, HK menjenguk istri temannya di RS Polri Kramatjati.

Selanjutnya, HK membawa gadis itu ke Motel Bumi Putra di Jatinegara. Melihat gelagat tak baik, Ka mencoba menghindar agar ke motel ditunda esok harinya dengan alasan hari itu karena sudah Pk. 02:30. Tapi HK menolak dengan alasan khawatir Ka kabur. Di kamar itulah kegadisan direnggut karena dua kali diperkosa. Menyedihkan! Sudah keperawanan hilang pacarnya tetap ditahan polisi.

Budi mengetahui peristiwa itu dari Rahman. Setelah didesak, Ka mengakuinya. “Saya malu dan takut. Saya cuma menceritakan kejadian itu pada Rahman.”

Arist Merdeka Sirait mengatakan akan mengirim surat ke Kapolda Metro Jaya agar menyelidiki kasus itu dengan berdasarkan UU Perlindungan Anak. “Tindakan oknum polisi itu sangat tak terpuji. “Sebagai penegak hukum, polisi mestinya melindungi masyarakat sehingga mendapat kepercayaan penuh,” ujarnya. “Bukan malah melanggar hukum.”

Kapolres Metro Jaktim Kombes Hasanuddin saat dikonfirmasi mengatakan kasus tersebut tengah dalam penyelidikan. Oknum polisi itu pun dibebastugaskan sampai pengusutan kasus itu selesai.

Kategori: kekerasan pada wanita · paedofilia · pelecehan seksual · pemerkosaan · perzinahan · polisi korup

Narapidana Meksiko Membunuh 8 Wanita Dalam Ritual Memuja Setan

Oktober 30, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang narapidana Meskiko yang diekstradisi dari AS mengaku, Rabu, telah membunuh delapan wanita dalam ritual memuja setan dekat Ciudad Juarez, kota perbatasan Meksiko yang penuh dengan aksi kekerasan.

Francisco Granados mengemukakan kepada hakim Meksiko bahwa dia dan dua temannya mengkonsumsi narkoba sebelum mebunuh para wanita malang itu dan membuang mayat mereka di saluran irigasi sebuah ladang kapas.
Mayat mereka ditemukan pada 2001.

Salah satu dari pembunuh bertugas membuat sesaji kepada Setan, katanya dalam kesaksiannya, seperti dilaporkan AFP.

Granados ditahan tiga tahun lalu di AS, tempat ia masih harus mendekam di balik jeruji besi setahun lagi akibat melakukan kejahatan lainnya.

Granados mengemukakan dirinya dan dua temannya juga mengambil bagian dalam pembunuhan lainnya dan banyak lagi mayat dikubur di salah satu rumah mereka.

Hakim telah mengganjar salah satu dari tersangka, Edgar Alvarez, dengan hukuman 26 tahun penjara.

Berbagai serangan brutal atas wanita dalam perang antar-gang penyelundup narkoba di Ciudad Juarez telah menyebabkan tewasnya lebih dari 1.000 orang pada tahun ini.

Lebih dari 400 wanita telah tewas dalam berbagai kejahatan yang disertai aksi kekerasan di kawasan itu, termasuk mutilasi dan pelecehan seksual, sejak 1993.

Kategori: kebodohan · kekerasan pada wanita · pembunuhan

Kronologi Mutilasi Mayasari Karena Tidak Adil Berbagi Kasih Dengan Keempat Istrinya

Oktober 29, 2008 · 1 Komentar

Sri Rumiyati alias Yati akhirnya mengakui latar belakang pembunuhan sadis terhadap suaminya. Wanita hiperseks yang disebut-sebut telah 15 kali menikah ini mengaku memutilasi suaminya lantaran sakit hati.

Wanita asal Dusun Kupen, Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah, ini kepada petugas penyidik mengatakan suaminya seorang yang ringan tangan dan sering marah-marah.

Di samping itu, wanita berkulit sawo matang ini, juga menuding Hendra, 50, sebagai suami yang pelit padanya. “Perlakuannya pada saya dan istri ketiganya, Dewi, sangat jauh berbeda. Dia hanya sayang pada istri ketiga. Padahal dia tinggal satu atap dengan saya,”tutur istri keempat korban itu.

Di puncak kekesalannya, pada akhir September silam, Yati menjadi gelap mata. Suatu ketika, suaminya meminta sang istri untuk mengerok dan memijit punggungnya.

“Saat saya kerokin dan pijit dia (Hendra, red) langsung tertidur pulas. Secara diam-diam saya mengambil sebongkah batu lalu menghantamkan ke kepala belakangnya,” tuturnya kepada penyidik.

Mendapat hantaman itu, sang sopir angkot, tewas seketika. Melihat korban berlumuran darah wanita itu mengaku panik. Saat itulah timbul niatnya memotong-motong mayat Hendra.

Setelah dipotong menjadi 13 bagian, bagian-bagian tubuh korban dimasukkan tas plastik lalu dimasukkan lagi ke dalam tiga buah kardus. “Kasur saya potong menjadi dua bagian dan saya buang ke kali,” tutur wanita yang mengaku sendirian dalam menghabisi korban itu.

Sekembalinya di rumah, Yati membawa 3 kardus berisi potongan mayat korban menggunakan angkot jurusan Kotabumi- Kalideres. Sesampainya di Kalideres, ia lalu naik bus Mayasari Bakti P 64 jurusan Pulogadung dan meninggalkan satu kardus di bus itu.

Di daerah Grogol wanita itu turun dan menyetop taksi minta diantar ke Terminal Kalideres. Satu kardus lainnya ia tinggal di bagasi belakang taksi. Yati kemudian pura-pura hendak mudik dengan naik bus patas jurusan Cirebon.

“Saya minta tolong kenek bus itu untuk menaruh kardus di dalam bus. Saya lalu pulang lagi ke kontrakan,” tutur Yati.

Wanita berusia 39 tahun ini mengaku juga membuang bungkusan ke-4 di sebuah tempat sampah di Kalideres. Yati mengaku tidak tahu bungkusan mana yang berisi kepala, jeroan dan potongan tubuh lainnya.

RESMI JADI TERSANGKA
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Purwadi, mengatakan Yati kemarin resmi dijadikan tersangka. Namun mengenai identitas korban, pihaknya masih menunggu hasil tes DNA.

“Meski kami sudah menetapkan tersangka, namun polisi belum mengetahui secara pasti identitas korban. Namun, untuk sementara kami mengetahuinya bernama Hendra alias Burung,”ujar Purwadi.

Tim Puslabfor Mabes Polri dalam olah TKP kemarin menemukan beberapa bercak darah di tembok dan lantai rumah kontrakan Yati di Kampung Teriti RT 04/04, Desa Karet, Sepatan, Kabupaten Tangerang. Di duga darah tersebut milik Hendra.

Saat rumah kontakan berukuran 5×3 meter itu digeledah, sudah tidak ada barang-barang lagi. Yang tersisa hanya bangku rusak berwarna biru. Pada sekat yang terbuat dari triplek, petugas menemukan bercak darah. “Tapi sudah dilap,””ungkap AKBP Fadil Imron, Kasat Jatanras Polda Metro Jaya.

Kepala Biddokkes Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Agus Prayitno, mengatakan hasil temuan TKP akan dicocokkan dengan DNA yang terdapat pada tubuh korban mutilasi.

Dewi, isteri ketiga korban yang tinggal di Lampung, kemarin terlihat mendatangi rumah kontrakan korban bersama anaknya yang masih balita.

Dewi mengatakan hanya ingin melihat proses olah TKP saja. Kedatangan Dewi hanya sebentar saja. Dia tak kuat menahan tangis. “Saya mampir ke sini karena ingin melihat saja,” ujarnya .

Wanita ini mengaku tidak menyangka jika madunya tersebut tega menghabisi nyawa Hendra. Pasalnya, selama ini Dewi melihat Yati dan Hendra hidup bahagia. “Saya tidak menyangka dia tega membunuh Hendra,” ujar Dewi.

Dewi mengatakan terakhir bertemu dengan Hendra pada 27 September lalu. Saat itu Hendra mengatakan mempunyai uang Rp5 juta hasil menjual mobil. Rencananya uang tersebut akan diberikan Hendra untuk dirinya dan anaknya

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Penjagal dan Pemutilasi Suami Pernah Menikah 15 Kali dan Penderita Hiperseks

Oktober 28, 2008 · 1 Komentar

Wanita yang satu ini memang benar-benar super dalam segala hal. Betapa tidak. Dia berani memotong-motong suaminya hingga 13 bagian. Yang lebih mencengangkan lagi, ternyata dia juga pernah memiliki 15 suami . Alasan Sri Rumiyati alias Yati, sering kawin cerai karena dia adalah seorang hiperseks atau yang memiliki hasrat seks sangat tinggi dan tidak pernah terpuaskan alias kecanduan seks.

Bahkan, keterangan yang diperoleh dari rekan korban dan tetangganya, pernikahan wanita berusia 28 tahun ini kebanyakan dilakukan secara siri.

Endah, tetangga korban di Kampung Teriti, Desa Karet, Sepatan, Kabupaten Tangerang, mengaku Yati pernah bercerita kepadanya tentang kebutuhan seksnya yang luar biasa tersebut.  “Biarpun dia jarang diberi nafkah lahir oleh suaminya, yang penting Yati merasa Hendra bisa memenuhi kebutuhan seksnya alias nafkah batin,” ungkap Endah, Senin (27/10).

Kelainan seks wanita asal Desa Kupen, Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah, ini juga diakui oleh Duhri, teman korban. Menurut Duhri, korban, Hendra, 50, pernah curhat padanya mengenai perilaku seks istri keempatnya itu.  “Malah salah satu mantan suaminya pernah dicerainya karena dianggap sudah tak mampu lagi memenuhi kebutuhan seksnya itu.”

BAWA TIGA KARDUS
Di mata tetangga, Yati dikenal baik, pandai bergaul, ramah dan suka tersenyum. Di lingkungannya ia akrab dipanggil tante. Menurut Endah, empat hari sebelum Lebaran, Yati mengatakan Hendra sedang pergi ke Bandung dan dia diminta tinggal bersama anaknya dari pernikahan terdahulu di Pasar Kemis.

“Selama Bang Hendra lagi dapat orderan ke Bandung, saya disuruh tinggal bersama anak saya” ungkap Endah meniru ucapan Yati.

Yati yang menurut orangtuanya memiliki nama asli Sutemi ini pun kemudian pergi membawa tiga buah dus yang diikat rapi. Diduga tiga dus tersebut berisi potongan tubuh Hendra yang kemudian dibuang di dalam bus Mayasari P64 jurusan Kalideres-Pulo Gadung dan ditemukan pada 29 September lalu.

Saat itu Yati mengaku, jika kardus tersebut berisi kue Lebaran yang akan dikirim ke Dewi, istri Hendra, yang berada di Lampung.”Kardus itu dibungkus rapi dan tidak tercium bau amis ataupun darah,” kata Endah.

Endah juga mengatakan jika malam hari sebelum Yati pergi ia sempat mendengar suara orang sedang memukul dari dalam rumah kontrakan tersebut. Di duga saat itu pelaku sedang memotong-motong tubuh Hendra, pasalnya petugas dari kepolisian sudah mengamankan sebilah golok dan batu yang diduga sebagai barang bukti.

Empat hari setelah Lebaran atau sepekan setelah mayat potongan mayat Hendra ditemukan, Yati datang kembali ke rumah kontrakannya di Kampung Teriti Sepatan, Kabupaten Tangerang. Saat itu tetangga melihat istri ke empat korban itu berperilaku aneh.

Yati selalu menggunakan topi dan kacamata hitam, padahal biasanya tidak pernah.

Ketika tayangan berita televisi menyiarkan penemuan potongan tubuh manusia dengan ciri tato kepala macan di lengan kanannya, Yati sempat mengatakan bahwa kemungkinan besar mayat tersebut adalah suaminya.“Tetapi tetangga saat itu tidak curiga,” imbuh Mas’ud.

DIBAWA UNTUK CARI POTONGAN TUBUH
Yati yang ditangkap polisi Sabtu (25/10) petang di kampung halamannya itu sampai Senin masih diperiksa di Polda Metro Jaya. Yati kemarin dibawa oleh petugas mencari potongan tubuh Hendra lainnya seperti kepala, kaki, tangan, dan bagian belakang tubuh. “Bokong korban juga belum ditemukan,” ujar satu petugas.

Dalam pemeriksaan, wanita berkulit sawo matang, rambut lurus sebahu, tinggi badan sedang dan perawakan agak besar, itu terkesan berbelit-belit. Meski demikian, soal pembantaian sadis itu, Yati mengaku dialah pelakunya. “Saya sakit hati,” kata Yati tanpa merinci apa yang membuatnya sakit hati itu.

Proses penangkapan terhadap Yati, menurut sumber tersebut, berawal dari informasi dari warga yang mengenai ciri-ciri tato di lengan kiri korban yang dimuat di media massa. Dari laporan tersebut akhirnya petugas mengetahui identitas korban sebagai Hendra alias Burung, asal Pekanbaru, Riau.

Meski polisi sudah berhasil menangkap tersangka pelakunya, namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi. Hal ini diduga lantaran polisi tidak ingin mengulang kesalahan seperti di Jombang beberapa waktu lalu hingga terjadi kesalahan identifikasi.

KORBAN MUTILASI ADALAH SEORANG MUALAF
Pos Kota kemarin mendatangi kediaman Mega, istri kedua Hendra yang tinggal di bilangan Cengkareng. Menurut penuturan Desniar, 40, adik Mega, korban adalah pria keturunan Tionghoa. “Dia masuk Islam ketika menikah dengan kakak saya,” jelas Desniar.

Wanita ini menyebutkan, Mega dan Hendra bercerai tahun 2000. Hendra terpikat dengan wanita asal Lampung. Karena tidak mau dimadu, Mega yang kemarin juga didengar keterangannya oleh polisi akhirnya minta berpisah.

Korban memiliki anak dari Mega yang kini duduk di kelas 3 SMA. Sampai saat ini Ic belum mengetahui kematian sang ayah. “Ibunya berpesan jangan dikasih tahu dulu takut shock,” tutur Desniar.
Yang membuat Desniar sedih pada 3 Desember mendatang Ic akan berulang tahun. “Ic sempat menelepon papinya agar datang pada pesta ulang tahunnya. Papinya janji mau datang,” cerita Desniar.

Nasir, warga yang sempat mengenal korban mengatakan Hendra adalah orang yang pendiam dan jarang bergaul. “Dia orangnya baik banget cuma memang rada susah bergaul. Orang –orang sini yang kenal dia pasti kaget mendengar berita kematiannya,” jelas Nasir, suami Desniar

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Dicurigai Berselingkuh Dengan Istrinya, Seorang Suami Bodoh Menyewa Orang Untuk Membunuh Pacar Istrinya

Oktober 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebanyak lima kasus pembunuhan sadis terjadi di Jakarta Barat dalam dua bulan terakhir dan baru satu kasus terungkap. Kepala Polres Jakarta Barat Komisaris Besar Polisi Iza Fadri yang ditemui Senin (27/10) menjelaskan, pihaknya terus mengumpulkan bukti dan saksi dari empat kasus yang belum terungkap.

”Dalam kasus pembunuhan guru SMP Rosalina Sibarani sudah diperiksa 17 saksi. Sejauh ini kecurigaan belum terbukti karena ada alibi yang kuat dari orang yang dicurigai. Kita berusaha mengumpulkan bukti dan kontak manusia di sekitar korban. Polisi tidak mau sembarang tangkap,” kata Iza.

Sebelumnya, Iza menjelaskan penangkapan Rudy Candra, otak pembunuhan Johny alias Bobby, warga Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yang ditemukan penuh luka tusuk di Kamar 420 Hotel Royal Regal, Jalan Mangga Besar VIII, Jakarta Barat, Sabtu (25/10). Polisi juga menangkap Andri Wijaya dan Bachtiar yang menjadi eksekutor serta diupah uang masing-masing Rp 1,5 juta.

Kasus itu terungkap kurang dua hari setelah penemuan mayat Johny. Johny dibunuh karena Rudy Candra cemburu ada affair antara istrinya, Romy Widyasari alias Jeanette, dengan korban.

Para pembunuh sebelum mengeksekusi meminta nomor pengaman ATM korban. Setelah membunuh, mereka menjarah isi ATM Rp 10 juta, kalung, gelang, dan dua telepon seluler milik Johny yang pengusaha bengkel.

Melalui penyelidikan menyeluruh dan bantuan teknologi, komplotan pembunuh ditangkap di Bogor dan Mangga Besar, Jakarta Barat.

Adapun rangkaian pembunuhan dalam dua bulan terakhir yang belum terungkap adalah kasus penikaman yang menewaskan Turwan (27) seusai shalat tarawih di Jalan Gudang Bandung, RT 05 RW 05, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora (3/9). Kemudian, kasus pembunuhan Komaruddin (29) di halaman SDN 01-07 Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora (16/9). Pembunuhan Jimmy Tjik Zahari alias Iwan (36), desainer distro. Ia ditemukan tewas membusuk dengan luka benda tumpul di kamar kos di Jalan AA RT 11 RW 04, Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk (8/10). Terakhir kasus pembunuhan Guru SMP Citra Kasih Rosalina Sibarani (25) di kamar kos di Jalan Waru RT 06 RW 11, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres.

Kepadatan penduduk

Kriminolog Universitas Indonesia Erlangga Masdiana yang dihubungi menerangkan, belum terungkapnya empat kasus pembunuhan biasanya disebabkan kesulitan dalam pengumpulan data. ”Kalau ada indikasi tertentu tetap dibutuhkan pengumpulan data. Terkadang minim alat bukti di TKP. Bukti awal sangat penting,” kata dia.

Tingginya tingkat pembunuhan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara dipicu karakter penduduk yang heterogen. Itu membawa konsekuensi, setiap individu atau kelompok memiliki perilaku masing-masing yang kerap terjadi benturan.

Di permukiman padat terjadi pembunuhan karena tingkat stres lebih tinggi dibanding di wilayah kurang padat. Tingginya interaksi antarmanusia di daerah padat sepadan dengan tingkat kekerasan

Kategori: pembunuhan · perampokan

Perjudian Kelas Atas Di Hotel The Sultan Jakarta Berhasil Dibongkar Polisi

Oktober 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Polisi menggerebek sebuah kamar suite bernomor 296 di hotel bintang lima The Sultan—sebelumnya Hotel Hilton—di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (24/10) malam, terkait aktivitas perjudian. Aktivitas judi di kamar itu telah berlangsung sejak Januari 2008.

Polisi mulai menyidik kemungkinan keterlibatan oknum petugas hotel. Hal itu diungkapkan Wakil Direktur I Komisaris Besar Bachtiar Tambunan dan Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, Senin (27/10).

Bachtiar menuturkan, ketika kamar itu digerebek sekitar pukul 19.30. Di dalam kamar terdapat 27 orang, 15 orang di antaranya kini ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Bareskrim Mabes Polri. Mereka tertangkap basah tengah bermain judi.

Sisanya dimintai keterangan sebagai saksi, seperti orang-orang yang hanya menonton, pelayan, dan koki eksternal hotel.

”Selama berbulan-bulan di sana, mereka memang memasak sendiri di dalam kamar, punya koki dan pelayan sendiri,” kata Bachtiar.

Sebanyak 15 tersangka itu terdiri dari delapan laki-laki dan tujuh perempuan. Rentang usia tersangka 42-60 tahun. Inisialnya YN (penyelenggara permainan judi), ER (pencatat permainan), dan 13 pemain. Mereka adalah BT (presiden komisaris di suatu perusahaan), AN, AT, AB, LD, VD, JK, GP, RL, SK, PP, WS, dan JHT. Ke-13 tersangka itu tengah bermain judi dengan kartu jenis joker Manado, joker Karo, dan jenis leng/song.

Pembelajaran

Marketing and Communication Manager The Sultan Shakira Tamayanti mengatakan, polisi menunjukkan surat perintah penggerebekan kepada pihak hotel. Penggerebekan disaksikan petugas hotel yang tengah bertugas malam itu. Namun, Shakira mengatakan, selama ini pihak hotel tidak tahu-menahu aktivitas di kamar itu.

”Kejadian ini pembelajaran juga bagi kami. Ini mencederai image hotel juga karena seolah-olah mengakomodir yang ilegal seperti itu,” kata Shakira.

Dari penggerebekan itu, polisi menyita sejumlah barang bukti, di antaranya uang tunai sejumlah Rp 91.750.000 dan perhiasan. Polisi belum dapat memperkirakan besar omzet perjudian itu setiap hari. sejak digelar di The Sultan. ”Setiap hari mereka mulai main judi sejak pukul 15.00 sampai 04.00,” kata Bachtiar.

Perabot kamar

Bachtiar mengatakan, berbagai perabot dan susunannya di kamar 296 itu tidak sesuai dengan standar kamar suite. Dengan demikian, polisi menduga interior di kamar itu memang diubah oleh para penghuninya untuk mengakomodasi aktivitas perjudian.

Contohnya, di kamar 296 terdapat tiga meja bundar ukuran besar yang tidak sama seperti yang terdapat di kamar suite lainnya. Selain itu, di berbagai sudut kamar dipasangi lampu-lampu neon. Berdasarkan fakta-fakta itulah polisi menduga ada keterlibatan oknum petugas hotel terkait aktivitas itu.

”Sebab, untuk memasukkan meja-meja dan kursi-kursi itu kurang masuk akal kalau tidak terlihat,” kata Bachtiar.

Menurut Shakira, sulit bagi pihak hotel bisa memantau segala aktivitas setiap tamunya, terlebih jika telah masuk kamar.

Kategori: perjudian

Perawan Eh Perempuan Disarang Penyamun

Oktober 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jakarta, kota yang serba gemerlap ini, pada saat yang sama sekaligus terasa semakin kelam. Kriminalitas terus merajalela. Perampokan semakin nekat, pembunuhan jadi berita ”biasa” sehari-hari. Belum lagi kejahatan yang dilakukan secara lebih halus. Jakarta semakin tak ramah.

Kriminalitas memang senantiasa mengintai warga Jakarta di mana pun, kapan pun. Tekanan ekonomi memang kerap menjadi faktor yang diyakini menjadi penyebab tindak kriminal. Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri saat melantik Kepala Badan Reserse Kriminal Polri yang baru Inspektur Jenderal Susno Duadji pekan lalu memperingatkan soal kecenderungan maraknya berbagai macam kriminalitas belakangan ini.

Menurut Bambang, gejala melesunya perekonomian belakangan ini yang menyebabkan penurunan produksi barang dan jasa di sektor riil akan menimbulkan pengangguran bertambah. Dan, hal itu pada akhirnya berpotensi menyulut tindak kriminal, khususnya yang berkategori konvensional. Kriminalitas berkategori konvensional itu, misalnya penganiayaan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor, dan pemerkosaan.

Berdasar data Litbang Kompas, ”surga” kejahatan saat ini terdapat di wilayah Jakarta Barat. Tercatat sepanjang Januari-Mei terjadi lebih dari 2.000 kasus yang dilaporkan. Padahal dari rasio jumlah polisi dan penduduk, Jakarta Barat dengan rasio 1:983 masih ”lebih baik” dibandingkan dengan Jakarta Timur misalnya, yaitu 1:1.067.

Permukiman padat dan kampung kumuh menjadi salah satu titik maraknya kejahatan. Dalam berbagai peristiwa, pada kesempatan pertama, kejahatan kerap menjadikan perempuan dan anak sebagai sasaran empuk. Salah satu contoh mutakhir adalah pembunuhan Rosalina Sibarani (25), Guru SMP Citra Kasih, di Kalideres, Jakarta Barat. Rosa ditemukan terbunuh di kamar kos di permukiman padat di Gang Waru, Kelurahan Kalideres, Jumat (10/10) pagi.

Di Jakarta Barat, berdasarkan data yang dikumpulkan Litbang Kompas dari berbagai sumber, kawasan rawan kejahatan adalah Daan Mogot, Kyai Tapa, dan Tomang. Kerawanan kriminalitas tersebut tak hanya di DKI Jakarta, melainkan juga di wilayah pendukung lainnya, seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Makin tak nyaman

Lantas siapakah yang senantiasa jadi sasaran tindak kriminal di perkotaan? Kriminolog dari Universitas Indonesia Erlangga Masdiana mengatakan, di tengah kondisi sosial ekonomi saat ini—yang berpotensi menyulut praktik kejahatan—sasaran empuk tindak kejahatan selalu saja adalah perempuan. Erlangga menyebut, perempuan merupakan potential victim (korban potensial) tindak kriminal. ”Persepsi terhadap kaum perempuan itu memengaruhi terhadap realitas kejahatan itu sendiri,” kata Erlangga.

Erlangga menjelaskan, persepsi mendasar terhadap perempuan tersebut adalah bahwa perempuan bisa dieksploitasi membuat perempuan senantiasa bisa dijadikan korban. Turunan dari persepsi itu, di antaranya, perempuan dianggap punya rasa takut yang lebih tinggi, lemah, gampang menyerah, bisa dipaksa, mudah disuruh-suruh, lebih penyabar, tidak mudah melawan. Persepsi itulah yang senantiasa membuat perempuan kerap menjadi korban kejahatan.

Sejak enam bulan terakhir, setidaknya ada 11 peristiwa kriminal menonjol yang menyasar perempuan sebagai korban. Bentuknya, mulai dari perampokan sampai pembunuhan. Sementara motifnya, mulai dari faktor ekonomi sampai sakit hati.

Peristiwa terkini ialah pembunuhan terhadap Irma Yuli (19), mahasiswa Universitas Gunadarma Program Diploma III Bidang Kebidanan. Irma diduga dirampok sebelum dibunuh. Jenazahnya lalu dibuang di dekat gerbang masuk Universitas Indonesia di Pondok Cina, Depok.

Peristiwa semacam itu tentu saja mudah menebarkan rasa waswas dan ketakutan, khususnya di kalangan perempuan. Meskipun pembunuhan Irma tidak terjadi di areal Kampus UI, Yenti Aprianti, mahasiswi pascasarjana UI, Jurusan Antropologi, merasa semakin tidak aman. Yenti kini selalu meminta tukang ojek memilih jalan memutar melalui daerah yang ramai. ”Lebih jauh tidak apa dibanding memotong jalan yang dekat, tetapi sepi. Saya merasa tidak aman,” kata Yenti.

Erlangga mengatakan, kota Jakarta—yang lebih merupakan sebagai kota jasa ketimbang industri—sebenarnya tengah mengalami anomi terhadap peran perempuan. Anomi adalah suatu gejala kehilangan nilai moral yang merujuk pada pemikiran sosiolog asal Perancis David Emile Durkheim, belum terbentuknya nilai yang baru namun nilai yang lama semakin tergerus, penderita Anomi ini biasanya adalah mereka yang senang bergaul dan pandai bicara. Perempuan, misalnya, sejak dahulu dianggap harus dilindungi, dihormati, dihargai. Namun, dalam kehidupan kota saat ini, nyatanya kaum perempuan banyak yang dieksploitasi dan menjadi sasaran kejahatan.

Pada kota jasa seperti Jakarta, tambah Erlangga, perempuan banyak berperan dan dimanfaatkan sebagai pelaku ekonomi di sektor jasa. Hal itu karena bertolak dari persepsi perempuan cocok dalam hal pelayanan.

Namun, semakin tinggi keterlibatan perempuan di luar rumah atau wilayah domestik, keamanan terhadap mereka tidak terjamin baik. ”Sehingga di satu sisi kaum perempuan banyak terlibat dan berjasa dalam proses pembangunan, tapi di sisi lain sekaligus juga menjadi korban pembangunan,” tambah Erlangga.

Akibatnya, di tengah kondisi kota demikian, keberadaan perempuan seolah jadi serba salah. Di lingkungan domestik terancam KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), di lingkungan nondomestik senantiasa dibayangi jadi sasaran empuk kriminalitas.

Dengan demikian, mau tak mau kaum perempuan—terlebih yang turut terlibat di sektor nondomestik—sebaiknya lebih waspada menyadari wilayah-wilayah rawan serta berbagai modus kejahatan yang bisa sewaktu-waktu menimpa dirinya. Sebab, rasanya tak mungkin menunggu kondisi kota menjadi lebih ramah.

Kategori: kekerasan pada wanita · pelecehan seksual · pembunuhan · pemerkosaan · perampokan

Takut Diperiksa Polisi, Syekh Puji Beserta Istri Muda Melarikan Diri Ke Singapura

Oktober 28, 2008 · & Komentar

Setelah maraknya pemberitaan dan kecaman tentang pernikahannya dengan bocah 12 tahun, Syeh Puji bersama keluarga termasuk kedua istrinya hengkang dari rumahnya.

Ulama kontroversial ini dikabarkan pergi berlibur ke Singapura sejak Minggu kemarin .

Sebelum ke Singapura, kepada wartawan, Syeh Puji pernah mengatakan ingin berlibur tanpa memberi batas waktu. “Ya, dari pada pusing-pusing mikirin yang tidak perlu,” katanya sebelum meninggalkan rumah sekaligus pondoknya, beberapa hari lalu.

Ketika didesak seputar kepergiannya, lelaki berjenggot itu mengatakan, hanya ingin liburan bersama keluarga sekalian mengecek penjualan kerajinan kuningannya di Singapura.

Syeh Puji menepis anggapan sejumlah kalangan bahwa kepergiannya ke Singapura karena takut diperiksa polisi atau menghadapi sejumlah gugatan terkait pernikahan dengan isteri keduanya Ulfa yang masih dibawah umur.

“Siapa takut,” tepisnya. “Sekali lagi saya tidak pernah merasa takut menghadapi siapa pun terkait pernikahan kedua saya ini,” tambahnya.

Sementara itu, menurut sejumlah sumber, Syeh Puji sengaja berlibur ke Singapura karena pusing memikirkan reaksi sejumlah kalangan atas pernikahannya dengan Ulfa, 12.

Selain itu, Syeh Puji juga tidak mau bertemu dengan Ketua Komnas Perlindungan Anak Kak Seto Mulyadi. Padahal Kak Seto sudah berada di Semarang, namun gagal bertemu Syeh Puji.

ORANGTUA IKHLAS
Lutfiana Ulfa,12, gadis kecil putri pasangan Suroso – Ny Siti Huriyah, warga Desa Randugunting, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, ini mendadak popular.  Bocah lulusan SD ini kontan menjadi bahan pergunjingan lantaran bersedia menjadi isteri kedua Syeh Puji.

Menurut Suroso, sang ayah, putrinya bersedia dinikah karena akan dipercaya memimpin perusahaan kerajinan kuningan PT Sinar Lendoh Terang (Silenter) milik Syeh Puji, kita semua sekolah tinggi-tinggi kan supaya bisa jadi pemimpin. Nah sekarang Ulfa sudah jadi pemimpin.  Ulfa juga bisa sekolah lagi kalau dia masih mau sekolah meski dengan cara mengundang guru ke rumah.

’’Saya masih kuat bekerja dan bisa menghidupi anak istri. Tetapi melihat niat dan tujuan Syeh Puji yang baik serta memberikan jaminan hari tua, saya, istri, dan anak saya setuju dan ikhlas dengan pernikahan ini. Anak saya juga ingin membahagiakan orangtuanya secara jasmani,’’ terang Suroso, kepada wartawan.

Bahkan Suroso,33, dan istrinya Siti Huriah,30, mengaku sudah tahu jika Syeh Puji banyak uang. Namun bukan itu satu-satunya tujuan. ’’Tujuan anak saya itu bahagia dunia dan akherat. Kalau ada orang kaya yang menikahi anak saya tapi tujuannya tidak jelas, tentu kami tidak bersedia, ini ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, kaya didunia dan akhirat’’ sambungnya.

Suroso menjelaskan, meski sudah menikah, Ulfa direncanakan baru akan memiliki anak di atas usia 17 tahun. Jadi sekarang senang-senang dulu lah.

Kategori: kebodohan