Gadis ABG Umur 17 Tahun Di Surabaya Menjadi Germo Yang Menyediakan Gadis Dibawah Umur Sebagai Pelacur

Unit Pidum Satreskrim Polrestabes Surabaya berhasil mengungkap perdagangan anak di bawah umur (trafficking). Tersangka trafficking masih berusia 17 tahun bernama M. Mar alias VR yang berasal dari Lamongan. Di Surabaya, tersangka yang hanya tamatan SD ini  kos  di Jalan Pakis Sidokumpul gang I Surabaya.

“Tersangka ini terbukti memperdagangkan anak di bawah umur sebagai pekerja seks komersial. Korbannya sebagian besar masih berstatus pelajar SMP,” ujar Kabag Humas Polrestabes Surabaya Kompol Wiwik Setyaningsih mendampingi Kasat Reskrim AKBP Anom Wibowo di Mapolrestabes Surabaya, Jumat (8/10).

Anom mengungkapkan keberhasilan berkat penyelidikan. Awalnya petugas mendapat informasi kalau tersangka ini mampu menyediakan anak di bawah umur yang bisa diajak ngeseks. Atas informasi tersebut, anggota unit Pidum melakukan penyelidikan.
“Ternyata informasi tersebut benar. Tersangka memiliki 3 anak buah yang masih berstatus pelajar,” kata mantan Kabag Binamitra Polres Surabaya Utara ini.

Kita sebut saja ketiga anak buah tersangka yakni Wulan,15 tinggal di Sidokumpul, Lintang.14 tinggal di Wonokromo dan Mulan ,15 asal Bekasi yang tinggal di Surabaya. “Tarif untuk sekali boking adalah Rp 500 ribu. Pembagiannya Rp 200 ribu untuk tersangka, sedang sisanya Rp 300 ribu untuk anak buahnya. Tapi terkadang tersangka ini curang dengan tak memberi uang pada anak buahnya,” tambah Anom.

Selanjutnya petugas membuntuti gerak gerik tersangka. Dan Jumat dinihari sekitar pukul 03.00 WIB, petugas melihat tersangka berada di hotel Istana Permata di Jalan Dinoyo. Petugas pun tak membuang kesempatan ini dan langsung menangkap tersangka.
“Saat itu tersangka ini sedang menunggu anak buahnya yang sedang dibooking pria hidung belang. Selanjutnya tersangka kita tangkap beserta anak buahnya,” lanjut Anom.

Atas perbuatannya, tersangka MAR dijerat pasal 88 UU No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan denda Rp 600 juta.

ABG Tersebut Ternyata Anak Yang Cerdas

Siapa sangka, Ver, 17, germo cilik sekaligus pekerja seks komersial (PSK) yang punya belasan anak buah, ternyata siswi yang pintar. Semasa SD dan SMP sebelum dikeluarkan dari sekolahnya, dia selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya.

Namun kecerdasan itu tak mendapat perhatian semestinya. Orangtuanya yang tinggal di Lamongan tergolong miskin. Saat pindah ke Surabaya, Ver hidup dalam lingkungan yang membuatnya nakal. Sampai akhirnya ia masuk dalam dunia hitam dan ditangkap anggota Satuan Pidana Umum (Sat Pidum) Reskrim Polrestabes Surabaya, Kamis (7/10) tengah malam.

Kini masalah Ver yang terakhir indekos di Jl Pakis Sidokumpul I itu bertumpuk-tumpuk. Selain menjadi tersangka dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara karena menjual belasan anak di bawah umur seusia SMP dan SMA sebagai PSK, Ver juga tengah hamil tanpa suami.

Kepada Surya di tahanan Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (9/10), Ver yang bertubuh kurus itu mengisahkan, sejak kecil kondisi keluarganya sudah tidak harmonis. Anak bungsu dari dua bersaudara itu menceritakan sewaktu kelas III SD di Lamongan, ayah dan ibunya kerap bertengkar. Suatu ketika usai pertengkaran hebat, ayahnya meninggalkan rumah dan tak diketahui kemana perginya.

Bahkan, Ver yang gaya bicaranya ceplas-ceplos ini mengaku tidak begitu ingat bagaimana wajah ayahnya. “Saya tidak ingat lagi. Ibu cuma bilang kalau ayahnya sudah pergi dan tidak kembali,” kata Ver lirih.

Masalah keluarga itu sedikit mengganggu sekolahnya. Ver yang sejak kelas I sampai kelas III SD selalu ranking satu, dengan munculnya persoalan keuarga itu, maka saat kelas IV merosot ke ranking dua. “Mulai kelas IV sampai kelas VI, kadang saya menjadi juara kelas atau nomor 2 atau tiga. Nggak pastilah, karena kepikiran kondisi keluarga,” ucapnya.

Lalu terjadilah peristiwa saat dia kelas IV SD. Saat itu, ibunya yang terpaksa mencari nafkah dengan berjualan kosmetik keliling kampung, tiba-tiba meninggal dunia.

Ver syok mendapati kenyataan ayah dan ibunya sudah tidak di sampingnya lagi. Saudaranya yang ada di Lamongan kemudian merawatnya hingga lulus SD.

Hidup tanpa didampingi orangtua terkadang membuat Ver iri dan nelangsa. Ia kerap menyaksikan anak lain sepulang sekolah dijemput orangtuanya, ada yang naik sepeda motor atau sepeda onthel. “Saya benar-benar sedih kalau melihat itu,” ungkapnya sedih.

Setelah lulus SD, bibinya yang merawat Ver di Lamongan terbentur masalah ekonomi, sehingga tidak bisa menyekolahkan Ver ke jenjang SMP. Maka anak cerdas itu kemudian dititipkan ke tantenya di Mojokerto. “Saya lalu dimasukkan ke panti asuhan,” kata Ver.

Di panti asuhan itu, Ver hanya bertahan sekitar sebulan. Ia dikeluarkan karena tidak mau mengaji dan sekolah atau mengikuti kegiatan lainnya. “Di sana (panti) saya nggak kerasan,” katanya.

Mengetahui hal tersebut, tantenya kemudian menyekolahkan Ver ke SMP di Mojokerto. Namun tidak lama tantenya merasa tak sanggup menyekolahkan Ver karena masalah ekonomi.

Ver kemudian diserahkan ke saudaranya yang lain di Nginden, Surabaya. Di Surabaya, Ver masuk di salah satu SMPN favorit di Surabaya. Di SMPN ternama itu, Ver cukup disegani karena memiliki otak encer. Mulai kelas I sampai pertengahan kelas II, Ver selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya.

Mulai Kenal Bolos

Namun mulai kelas II, Ver sudah mulai kenal bolos sekolah. Ia merasakan kadang agak terkekang.

Saking seringnya bolos, Ver yang kini berstatus tersangka kasus trafficking ini, lalu dipanggil ke kantor sekolah untuk diperingatkan. Meski begitu, perempuan berambut sebahu itu tidak kapok. Ia malah kerap bolos sekolah, meski hanya untuk jalan-jalan ke Kebun Binatang Surabaya atau cangkruk di Taman Bungkul. “Terakhir saya dikeluarkan dari sekolah sekitar tahun 2007,” paparnya.

Tahu Ver dikeluarkan dari sekolah, tantenya marah. Ia sempat dikunci sendirian di rumah supaya kapok dan mau sekolah lagi. Setelah ditanya tantenya apakah masih ingin melanjutkan sekolah, Ver malah tegas mengatakan tak mau sekolah lagi. Tak pelak, semua pakaian Ver dibuang ke depan rumah. Ver yang masih berusia sekitar 14 tahun itu pun minggat dari rumah tantenya.

Ver mengaku tak mau sekolah lagi, karena tiap hari oleh tantenya hanya diberi sangu Rp 1.500. Menurutnya itu hanya cukup untuk naik bemo, sedangkan pulangnya ke Nginden harus jalan kaki.

Begitu memutuskan minggat dari rumah tantenya, Ver mengaku sempat melihat banyak anak jalanan di Jembatan Panjangjiwo. Ia pun bergabung. Setelah kenalan, ternyata anak jalanan itu berasal dari Jakarta. Beberapa anak jalanan itu akhirnya menawari Ver ikut ke Jakarta. Ver yang hidup sendirian langsung mengiyakan.

Setelah perjalanan naik kereta api (KA) hingga Jakarta, Ver mengaku diajak ke daerah Tanah Abang. Ia diajak masuk ke sebuah rumah gubug. Di tempat itu, Ver dikenalkan dengan teman-teman anak jalanan pria dan perempuan. “Jumlah perempuannya kalau tidak salah ada empat termasuk saya dan laki-lakinya banyak sekali,” ungkapnya.

Selama di Jakarta, ia disuruh mengamen di jalanan. Tidak itu saja, ia juga menjadi ‘piala bergilir’ oleh sesama anak jalanan. “Keperawanan saya hilang ya di Jakarta itu,” kata Ver tertunduk.

Karena ia tidak kerasan, Ver memilih balik ke Surabaya dengan naik KA. Ia memilih ngamen di jembatan Panjang Jiwo. Malamnya terkadang tidur di emperan toko atau di bawah kolong jembatan. Sekitar sepekan kemudian Ver ditangkap petugas Satpol PP Pemkot Surabaya karena dianggap mengganggu ketertiban.

“Keluarga di Nginden yang mengambil, karena diberitahu petugas. Ketika itu saya berjanji tidak akan macam-camam lagi,” jelasnya.

Setelah diambil pihak keluarga, Ver lalu memutuskan bekerja di sebuah tempat biliar di Bratang. Ia ingin menjadi orang baik-baik. Rupanya, Ver kecantol dengan seorang lelaki dan diajak minggat selama sepekan. Ia tidak berani kembali ke rumah tantenya. Lebih parah lagi, Ver dikeluarkan dari pekerjaannya karena sering tidak masuk kerja.

Setelah itu, Ver menjadi freelance di cafe kawasan Jl Mayjen Sungkono. Di sinilah Ver kerap bertemu lelaki hidung belang. Ia juga kerap dibooking dan diajak pesta minuman keras. “Kadang aku dibooking dan diberi uang Rp 300.000 sampai Rp 500.000,” ungkapnya.

Ver mengaku pernah dijual Mami Tutik yang kemudian ditangkap anggota Reskrim Polrestabes Surabaya pada Maret 2008. Namun Ver tidak ditahan karena sebagai korban. “Mami Tutik yang ditahan,” jelasnya.

Dari cafe itu pula, Ver lalu mulai coba-coba menjadi germo atau bos-nya para ABG untuk dijual ke para lelaki hidung belang. Hingga akhirnya ia punya anak buah 15 hingga 17 orang seusai SMP dan SMA.

Puncaknya, Kamis (7/10) malam, Ver ditangkap saat mengantar anak buahnya, Cit, 17, pelajar SMA kelas I, ke Hotel Istana Permata Jl Dinoyo. Dalam penangkapan itu, tersangka juga membawa dua anak buahnya, Rez, 17, pelajar SMP kelas III, dan Lil, 14, lulusan SD.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Anom Wibowo mengatakan pihaknya akan terus mencari germo lain yang menyuplai anak di bawah umur bagi lelaki hidung belang. Penyidik sudah mengantongi tujuh nama germo yang kerap memasok anak usia di bawah umur. “Ini pasti ada mata rantainya,” tutur mantan Kasat Pidum Ditreskrim Polda Jatim ini, Sabtu.

Dijelaskan, penyidik sudah mendatangi rumah korban Cit, 17, untuk mengambil akta kelahiran dan kartu keluarga di Lamongan. Namun penyidik harus balik ke Surabaya lagi karena tempat tinggal Cit bukan di Lamongan, tapi di Pagesangan. “Korban sudah kami serahkan ke orangtuanya,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s