Kamis (25/8) menjelang tengah malam, informasi penting masuk. Sinyal telepon genggam milik Livia Pavita Soelistio yang berhari-hari mati, tiba-tiba terlacak berada di Rawa Belong, Kemangisan, Jakbar. Bersama anggotanya, Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Ferdy Sambo, langsung bangkit dari kursi di ruang kerjanya. Tak buang waktu, ia meluncur ke daerah Rawa Belong, tak jauh dari rumah kos mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) itu.
Sesuai petunjuk sinyal HP, Sutarno dan Abdul Madjid dibekuk. Mereka baru saja bertransaksi HP Ericsson. Sutarno menjual HP itu kepada Abdul Majid yang dihargai Rp200.000. Dalam pemeriksaan, Sutarno mengaku HP yang dijualnya milik Rohman.
Tak buang waktu, polisi langsung memburu Rohman. Saat itu, sudah masuk Jumat (26/8) dinihari. Pria 24 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai sopir tembak itu dibekuk di rumah di Rawa Belong. Ketika itu ia bersama Fahri, 22, tengah menunggu Sutarno. Kduanya langsung digelandang ke Polres Jakarta Barat.
Dalam pemeriksaan terungkap Fahri dan Roman berperan dalam hilangnya mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) Livia Pavita Soelistio, 21. Gadis cantik itu hilang pada 16 Agustus usai mengikuti sidang skripsi di jurusan Sastra Mandarin sekitar Pk. 13:00. Sejumlah temannya melihat ia menumpang Mikrolet 24 jurusan Srengseng-Slipi yang biasa ditumpanginya menuju tempat kos di Rawa Belong, Kemanggisan, Jakbar.
Sejak itu, keberadaan mahasiswi yang juga sekretaris sebuah biro perjalanan di Gambir, Jakpus, ini tak terlacak. HP-nya tak bisa dihubungi. Ny. Yusni Chandra, ibu kandung, dan Hermanto, ayah tiri, melapor kehilangan anaknya ke Polsek Kebun Jeruk pada 17 Agustus. Orangtua itu juga mengabarkan kehilangan anaknya melalui BlackBerry Messenger.
Empat hari kemudian, ia ditemukan membusuk di parit sedalam 2 meter di Cisauk, Tangerang. Bajunya terbuka karena seluruh kancingnya terlepas dan celana dalamnya melorot selutut. Ia dikenali sebagai Livia dari pakaian dan kalung berliontin Buddha yang dikenakannya.
PEMBUNUHAN DAN PERKOSAAN
Dalam pemeriksaan yang dilakukan Kanit Krimum AKP Agung Wibowo, SH, Fahri dan Rohman menuding Afri yang mencekik Livia hingga tewas. Aksinya dibantu Rohman dan Raymond. Afri juga memerkosa mayat Livia dalam angkot. Kini, polisi memburu Afri dan Raymond. “Kedua tersangka yang tertangkap itu kami jerat dengan pasal pencurian dengan kekerasan,” ujar Kapolres Jakarta Barat, Kombes Setija Junianta, Hum, tentang Fahri dan Rohman yang dikenakan pasal 365 KUHP karena perampokan HP dan uang Rp200,000 milik korban dan terancam hukuman 20 tahun penjara. “Kami juga memburu dua tersangka lainnya, termasuk pelaku pembunuhan dan perkosaan terhadap korban.”
Didampingi Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Baharuddin Jafar, kapolres mengatakan kawanan itu adalah komplotan bandit yang kerap menjadikan wanita sebagai korbannya. Bahkan, tersangka Rohman pernah dipenjara dua tahun terkait kasus narkoba.
Sementara itu, terhadap tersangka Sutarno dan Abdul Majid, polisi menjerat keduanya dengan pasal 480 KUHP karena menerima barang hasil kejahatan. Mereka terancam hukuman empat tahun penjara. “Kalau tahu HP itu bermasalah, apalagi korban pembunuhan, saya nggak bakal mau terima. Sekarang, saya nggak tau apa-apa masuk penjara juga,” ujar Sutarno.
Malang nian nasib Livia. Wanita cantik ini harus tewas ditangam empat awak angkot. Sedihnya pelaku hanya mengincar dua HP milik mahasiswi Binus, Kemandoran, Jakarta Barat ini. Keempat pelaku rupanya mengincar HP Black Berry dan Sony Ericsson model terbaru. Hanya saja seorang tersangka mengaku karena tergiur atas kecantikan Livia, dia tega memperkosa gadis ini meski sudah tidak berdaya.
PENGAKUAN PELAKU
Dalam wawancara dengan Pos Kota, tersangka Rohman dan Fahri bercerita. Pada Selasa (16/8) siang, angkot M24 B 2912 TK jurusan Srengseng-Slipi, yang dikemudikan Fahri dicegat Livia di depan kampusnya. Tiga teman Fahri; Rohman dan dua tersangka lain yang masih buron; Afri dan Raymond, juga berada di angkot. Mereka berlagak penumpang. “ Kami memang berniat mencari wanita penumpang untuk diambil hartanya, “ kata Rohman.
Meski berada dalam kendaraan yang sama, tersangka Rohman dan Fahri menuding Afri sebagai otak di balik kejahatan sadis itu. Fahri mengatakan, pembunuhan dan pemerkosaan dilakukan Afri di belakang kendaraannya. “ Afri yang mencekik sampai mati lalu memerkosa mayat korban,” ungkap Fahri.
Menurut Fahri, saat itu korban melawan tapi tak kuasa menahan kekuatan tiga pria yang menyergapnya. “ Silahkan ambil HP saya, tapi jangan bunuh saya,” kata Fahri, mengenang permintaan terakhir anak kandung Ny. Yusni Chandra itu.
Permohonan dengan derai airmata itu tak ditanggapi. Sebaliknya, Raymond dan Fahri semakin beringas dan bernafsu langsung memegang kedua tangan gadis itu dan Afri mencekik lehernya. Seketika, korban lemas. Tubuh Livia yang tersungkur diinjak punggungnya oleh Rohman. Kawanan penjahat sadis itu pun mencari tempat pembuangan mayat.
Sampai di kawasan Pos Pengumben, kendaraan diambil alih Rohman yang lebih mengerti daerah itu lalu membawanya ke kawasan Serpong, Tangerang.
Anggota Polres Jakarta Barat yang menangani kasus ini masih terus memeriksa dua tersangka yang sudah diringkus. Diyakini motif awalnya adalah perampokan. “Mereka rupanya mengincar dua HP korban. Apalagi satu yakni yang Sony Ericsson keluaran terbaru. Jika akhirnya
Livia Pavita Soelistio, mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus), telah tiada. Gadis cantik berusia 21 tahun yang baru lulus sidang skripsi jurusan Sastra Mandarin itu, diperlakukan biadab oleh kawanan preman. Ia dicekik hingga menemui ajal. Dalam keadaan tak bernyawa, korban diperkosa dalam angkot yang ditumpangi dari kampus menuju tempat kos.
Delapan hari setelah pembantaian terjadi dan Livia dilaporkan keluarga ke Polsek Kebon Jeruk sebagai orang hilang, petugas Polres Jakarta Barat dipimpin Kasat Reskrim AKBP Ferdy Sambo, yang bekerja keras membongkar peristiwa ini membuahkan hasil.
Tersangka Rohman, 23, dan Fahri, 22, ditangkap tak jauh dari rumah kos Livia Pavita Soelistio, di kawasan Rawa Belong, Kemanggisan, Jakbar, Jumat (26/8) dinihari. Polisi juga membekuk Sutarno dan Abdul Madjid, penadah HP korban yang dirampas pelaku.
Mahasiswi, yang juga sekretaris sebuah biro perjalanan di Gambir ini ditemukan membusuk di Cisauk, Tangerang, empat hari setelah menghilang sepulang dari kampusnya pada 16 Agustus. Saat ditemukan, baju korban terbuka karena seluruh kancingnya terlepas. Bahkan celana dalam korban melorot selutut.
Seperti diberitakan sebelumnya, dua tersangka pembunuh Livia, mahasiswa Binus ditangkap polisi di Kemanggisan, Jakarta Barat, Jumat dinihari tadi. Pelakunya empat orang awak angkot. Dua lagi pelaku masih dikejar polisi. Menurut informasi, Livia pada 16 Agustus lalu usai mengikuti sidang skripsi pulang naik angkot bersama teman-temannya. Rupanya dia yang terakhir turun. Di angkot tersebut, wanita cantik ini disergap oleh empat orang yang ada di angkot tersebut.
Diduga karena melawan, pelaku makin ganas dan membekap korban. Livia, mahasiswa jurusan Bahasa Mandarin ini dibawa ke Tangerang tepatnya di Cisauk lalu korban dihabisi. Mayatnya dibuang ke selokan hingga akhirnya empat hari kemudian ditemukan penggembala kambing sudah dalam keadaan membusuk.Sebelum dibunuh sempat diperkosa karena ditemukan bercak sperma.
Rupanya pelaku membawa HP Black Berry korban. Oleh pelaku HP tersebut dijual kepada seseorang di Kemanggisan Jakarta Barat. Tadi pagi saat sahur, Black Berry itu tiba-tiba mengudara sehingga polisi berhasil melacak signyalnya. Lelaki yang membeli HP itu lalu ditangkap. Dia mengaku kalau Black Berry itu dibeli dari sopir angkot. Dengan gerak cepat polisi mengejar pelaku di daerah Kemanggisan dan berhasil meringkus dua tersangka. Dua lagi yang sudah diketahui identitasnya masih dikejar polisi.
Kepergian Livia Pavita Soelastio,21, membuat keluarga terpukul. Bagaimana tidak. Setelah dinyatakan lulus kuliah dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta Barat mahasiswi jurusan Sastra Mandarin ini langsung menghilang.
Selama 5 hari mencari keberadaan anak semata wayang pasangan Hermanto,67, dengan Yusni Chandara,50, malah mendapat kabar jika Livia ditemukan sudah tak bernyawa.
“Saya sangat terpukul atas kematian anak saya. Bagaimana tidak, sejak kecil saya merawat dan membesarkan anak saya hingga terakhir dikabarkan lulus kuliah malah berakhir seperti ini. Saya berharap polisi berhasil menangkap anak saya,” ungkap Hermanto terbata-bata. Terakhir 16 Agustus sore, Livia menghubungi dirinya dan memberitahu jika dirinya baru selesai melakukan siding skripsi dan dinyatakan lulus. Mendapat kabar itu, Hermanto kemudian mengucapkan selamat atas kelulusan Livia.
Namun pada keesokan harinya, ketika akan dijemput oleh keluarga, Livia dikabarkan menghilang. Keluarga akhirnya melaporkan ke Polsek Kebun Jeruk. Keluarga kemudian berusaha mencari keberadaan Livia ke teman-temannya bahkan ke paranormal. Namun Minggu (20/8) malam, dirinya mendapat kabar jika ada mayat perempuan dengan pakaian yang sama dengan Livia ditemukan di parit di Jalan Suradita, Cisauk, Kabupaten Tangerang.
Mendapat Informasi tersebut Hermanto kemudian langsung mendatangi kamar mayat RSU Tangerang untuk melihat langsung jenazah wanita tersebut. Setelah diperiksa, mayat wanita malang itu adalah Livia Pavita Soelastio, mahasiswi Bina Nusantara jurusan Sastra Mandarin
Like this:
Be the first to like this post.