Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘bunuh diri’

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

November 12, 2008 · 1 Komentar

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Perampok Bersentaja Api Melakukan Bunuh Diri Karena Ketahuan

November 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kawanan rampok bersenjata api (senpi rakitan) dan golok, beraksi di kediaman Wagimin,53, warga Desa Isorejo Kecamatan Bungamayang, Lampung Utara, Minggu (9/11) sekitar pukul 03:00.

Kelima perampok menodong korban dan keluarganya dengan senjata api dan golok. Korban melawan, namun dengan sadis, kawanan rampok ini menembak dada dan membacok lengan kiri dan kaki kanan Wagimin.

Selain itu, pelaku juga membacok anak korban, Muhtarom,18. Kini kedua korban dirawat intensif tim di RS Handayani, Kotabumi.

Kawanan rampok ini masuk ke rumah dengan cara memanjat atap. Namun, aksi perampok bertopeng ini diketahui warga. Mereka lalu melarikan diri sambil melepaskan tembakan.

EMPAT KABUR
Empat rampok kabur ke hutan. Erpan,35, warga Desa Penagan Ratu Kecamatan Abung Timur Lampura yang membawa senpi rakitan kabur ke rumah Tarji ,34, yang tidak jauh dari rumah korban.

Warga langsung mengepungnya. Diduga takut dikeroyok Erpan bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri.

Dari tempat kejadian perkara (TKP), petugas berhasil mengamankan satu slongsong peluru, satu pucuk senpi rakitan sisa dua peluru yang masih aktif disita dari tangan tersangka Erpan.

Kapolsek Sungkai Selatan AKP Emrosadi didampingi Kabag Ops Polres Lampura Kompol Muchtarom S.Sos, dan Kasat Samapta Polres Laura AKP Suhardjono mengatakan, pihaknya mengetahui kejadian itu dari laporan Kepala Desa Isorejo.

Kategori: bunuh diri · perampokan

Polisi Diminta Menyelidiki Kasus Tewasnya Wanita Yang Terjun Bebas Dari Apartemen Meditrania Tanjung Duren

November 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Keluarga wanita cantik yang terjun dari lantai 16 Apartemen Meditrania Tanjung Duren, Jakarta Barat, meminta polisi agar mengusut kasus tersebut sampai tuntas. Mereka tak percaya korban tewas akibat bunuh diri.

Grifith Mirizka (bukan Marlina Wiwin-red) tewas terhempas dari lantai 16 J Tower D Apartemen Mediterania, Kamis (6/11) malam. Kedua kakinya patah, kedua tangan korban tampak bekas irisan senjata tajam. Namun petugas Polsek Tanjung Duren belum mengetahui apakah Grifith sengaja terjun atau ada orang yang mendorongnya.

Paman korban, Ambro William Siwi, 40, yang diminta keterangan di Polsek Tanjung Duren, ia curiga ketika melihat jenazah korban. Gadis asal Tomohon, Sulut, yang semasa hidupnya bekerja di sebuah salon di Makasar itu, di kedua tangannya tampak bekas irisan silet.

”Bekas sayatan senjata tajam itu yang membuat kami curiga,” kata pamannya yang datang ke Jakarta, untuk mengurus pengambilan jenazah korban. Grifith Meriska atau akrab dipanggil Mei yang merupakan anak tunggal Ny. Vera, 49, kata Ambro, tidak pernah memakai obat terlarang.

Hal itu dipertanyakan polisi kepada pamannya, karena polisi menemukan silet, pisau komando, barang terlarang sejenis putau dan shabu-shabu, puluhan bong kertas, almunium foil berantakan di kamar korban.

Dijelaskan pamannya, seminggu lalu sebelum Mei pergi ke Jakarta sempat pamitan kepada ibunya.”Waktu itu sebenarnya mau pulang menemui ibunya di Manado. Tapi ia mau ke Jakarta dulu. Ibunya sempat bilang mau ke tempat siapa ke Jakarta.”

Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, Kompol Suyudi Ario Seto SH, Sik, mengatakan, pihaknya masih mengusut kasus tersebut. “Kami masih menyelidiki siapa pemilik kamar apartemen tersebut,” jelasnya.

Kategori: bunuh diri · pembunuhan

Anak Anak Makin Sering Bunuh Diri Karena Pendidikan Agama Yang Kurang dan Moral Yang Rusak Akibat Terlalu Sering Melihat Korupsi

Oktober 20, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

enomena bunuh diri tampaknya mulai merambah ke kalangan anak-anak dan remaja. Yang membuat miris, perbuatan nekat itu hanya karena persoalan sepele. Keinginan tak dipenuhi, sering dimarahi, malu belum membayar iuran sering menjadi pemicu anak-anak bunuh diri.

Orang tua mungkin menganggap sepele persoalan itu, tapi tidak demikian dengan anak- anak.

Kasus terakhir dilakukan oleh Ahmad,15, siswa kelas 2 STM di Koja. Dia nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kusen jendela kamar rumah orang tuanya, di Legoa, Koja, Jakut, Minggu (19/10) siang.

Rasa kecewa karena tidak dibelikan sepeda motor oleh orang tuanya menjadi pemicu aksi nekat pelajar itu. Jasad Ahmad ditemukan oleh neneknya Seba, 56, yang curiga karena sejak pagi ia tidak juga keluar kamar.

Perempuan asal Tegal, Jateng, itu lalu naik ke loteng kamar. Wanita ini menjerit histeris manakala melihat pemandangan mengerikan. Tubuh cucunya sudah kaku tergantung di kusen. Pelajar STM Hasanudin, Lagoa itu tewas dengan lidah menjulur.

KEPINGIN MOTOR
Ahmad adalah anak semata wayang dari Mimi, 36, buruh pabrik garmen di KBN Marunda. Sejak bayi, Ahmad tinggal di rumah neneknya bersama sang ibu. “Ibunya bercerai sejak Ahmad kecil,” sebut Agung, kerabat korban.

Selama ini Ahmad dikenal sebagai sosok remaja pendiam dan jarang bergaul. Sikap pendiam inilah yang kerap membuat bingung keluarga yang khawatir ada keinginan yang terpendam.

Pagi hari sebelum korban ditemukan tewas, Ahmad sempat ‘curhat’ kepada Agung. “Dia mau minjam motor matik, tapi dikasih sama pamannya motor bebek biasa,” ujar Agung yang ditemui di rumah duka, kemarin.

Bahkan, saat itu, korban juga sempat mengutarakan rasa kecewanya lantaran sang ibu tidak bisa memenuhi keinginannya memiliki motor matik impiannya.

SEPEDA RUSAK
Sebelumnya, tindakan mengerikan juga nyaris merenggut nyawa Rr, seorang bocah perempuan berusia 7 tahun. Dia gantung diri pakai kain selendang di kamar rumah orang tuanya di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (10/10).

Beruntung nyawa bocah ini bisa diselamatkan meskipun dia harus dirawat intensif di rumah sakit. Diduga kuat Rr nekat kepingin mati lantaran takut dihardik oleh kedua orang tuanya, setelah ia merusak sepeda yang baru saja dibelikan oleh sang ayah.

Beragam kasus bunuh diri dengan cara beragam pula dilakukan anak dan remaja dengan alasan yang terkadang dianggap kurang masuk akal dan dianggap sebagai persoalan sederhana.

Linda,15, pelajar sebuah SMP di Jakarta Selatan misalnya. Remaja ini nekat bunuh diri karena malu sering diejek teman-temannya akibat pernah tak naik kelas. Di Bogor, pelajar SD perutnya robek akibat lompat dari pohon. Dia mencoba bunuh diri karena malu belum bayar uang pangkal sekolah.

Di Bekasi juga pernah terjadi kasus serupa. Am, 14, pelajar SD minum racun karena orang tuanya tak mampu menyediakan uang Rp150 ribu untuk nebus ijazah dan biaya perpisahan.

PENGARUH MEDIA
Psikolog UI, Tika Bisono mengatakan fenomena bunuh diri pada anak-anak dibawah umur ada beberapa faktor. Entah itu karena tekanan dari orang tua, lingkungan bermain ataupun karena dorongan untuk memiliki sesuatu tidak terpenuhi.

“Pengaruh tersebut membuat si korban merasa tidak nyaman dan ketakutan sehingga dia mencoba melakukan hal tersebut,” jelasnya.

Selain faktor tersebut pengaruh acara televisi yang ekstrim seperti aksi kejahatan yang ditampilkan secara vulgar bisa memicu perilaku pada anak-anak. “Anak-anak masih perlu pengawasan dan pendampingan oleh keluarga karena daya nalar yang terbatas ketika menonton televisi yang terlalu ekstrim bisa mengubah perilakunya,” terang Tika.

Untuk itu ia minta film yang menyuguhkan kekerasan terhadap anak perlu segera distop. Keluarga harus bisa mengontrol dan mengawasi putra-putrinya dalam beraktivitas. ”Disiplin perlu diterapkan bukan memanjakannya. Karena anak butuh rasa kasih sayang dan bimbingan merasakan keluarga sebagai tempat berlindung,” sambungnya.

STRES BERLEBIHAN
Hal senada juga dikatakan Kak Seto, Ketua Komnas Perlindungan Anak. Seorang pelajar nekat bunuh diri karena stres yang berlebihan bisa karena faktor keluarga, lingkungan hingga sekolahnya.

“Guru membebani PR yang berlebihan, tuntutan terlalu tinggi secara akademi. Akhirnya si anakyang bodoh menjadi tidak terlatih kecerdasan emosi dan spritualnya,” kata Kak seto.

Sistem pendidikan kita saat ini, kata Kak Seto, tidak melatih kecerdasan emosi dan spiritual anak sehingga bagi anak yang bodoh hal ini semakin membuatnya bertambah bodoh. Sudah selayaknya hal tersebut diberikan.

Lingkungan, yakni keluarga adalah faktor yang paling menentukan bagi perkembangan jiwa anak-anak. Bila komunikasi antara orang tua dan anak lancar, anak merasa ada perlindungan di dalam rumah maka perkembangan anak-anak bisa terkontrol. Faktor masyarakat juga menentukan apabila anak-anak melihat banyak sekali pelaku kejahatan terutama koruptor yang tidak dihukum dan malah dipuja akan membuat anak menjadi bingung dan rusak moralnya akhirnya memicu tindakan bunuh diri.

Kategori: bunuh diri

Sekeluarga Tewas Setelah Melakukan Ritual Pukul Kepala Karena Ingin Berhenti Merokok

Oktober 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Satu keluarga besar di Kuala Lumpur, Malaysia, melakukan ritual yang berbahaya, saling memukul, Rabu (1/10). Akibatnya, sepasang suami istri tewas dan anggota keluarga yang lain terluka parah setelah mereka memukul kepala satu sama lain dengan sekuat tenaga.

Ritual saling memukul itu dimaksudkan agar sang suami dapat menghentikan kebiasaan merokok dan mengurangi beban istrinya yang mengeluh sakit lever. Keduanya tewas setelah saling memukul kepala dengan menggunakan batang sapu dan helm sepeda motor. Selain pasangan malang itu, tiga anak dan seorang keponakan mereka juga harus dilarikan ke rumah sakit dengan kepala terluka.

Hingga saat ini kepolisian setempat belum dapat menentukan siapa yang bertanggung jawab atas ritual berujung maut itu. Polisi masih mendalami kasus tersebut. Menurut informasi dari orang di sekitarnya, keluarga itu bergabung dengan aliran tertentu, tetapi hal itu belum dapat dikonfirmasi. Beberapa anggota keluarga lain yang turut ambil bagian dalam ritual baku pukul itu sudah dilepaskan polisi.

Kategori: bunuh diri · kebodohan · pembunuhan

Pria Stress Bunuh Diri Di Mesjid Istiqlal Sehabis Sholat Ied

Oktober 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

badah salat Ied yang berlangsung khusuk di Mesjid Istiqlal, Jalan Pintu Air, Sawah Besar, Jakpus, Rabu (1/10) pagi berakhir gempar. Betapa tidak. Di tengah keramaian jemaah yang sedang bersalam-salaman usai salat Ied, tiba-tiba seorang lelaki bunuh diri dengan cara terjun dari lantai lima mesjid.

Kontan kejadian itu membuat gempar. Tubuh lelaki yang belakangan diketahui bernama Holipu Madeong,36, itu menimpa tubuh H. Usman,62, sebelum terhempas ke halaman belakang mesjid. H. Usman langsung pingsan lantaran tertimpa tubuh Holipu. Lelaki tua ini dilarikan ke RSCM bersama Holipu.

“Sewaktu ditemukan terhempas ke bawah, korban masih bernafas dan langsung dibawa ke rumah sakit, tapi korban tak tertolong,” kata Kapolres Jakpus, Kombes Pol Ike Edwin yang saat kejadian berada tak jauh dari lokasi.

Peristiwa yang membuat heboh ribuan jemaah ini terjadi pukul 07:45 usai salat Ied yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para petinggi negara. Tak ada yang menduga ada orang yang akan bunuh diri. Sesaat jemaah akan beranjak dari mesjid, tiba-tiba seorang pria lompat dari lantai lima.

Dari KTP yang ditemukan di tubuh korban, diketahui lelaki itu bernama Holipu Madeong, alamat di Lawang Wingin, Lingkungan 3, Menado, Utara. Polisi menduga Holipu mengalami stres dan sudah berencana bunuh diri.

Di saku celananya polisi menemukan surat wasiat bertulis ‘saya minta maaf pada jemaah yang sedang sholat Ied, karena melakukan bunuh diri di tempat ibadah. Jangan terlantarkan jasad saya karena tidak punya saudara di Jakarta.” Surat wasiat itu disita polisi, sementara jasad korban yang terbujur kaku di RSCM belum ada kerabatnya yang datang.

Kapolsek Sawah Besar Kompol Iskandar,Sik,Msi, mengatakan yang mengenakan celana panjang hitam dan baju lengan pendek kotak-kotak putih dan memakai peci itu ikut salat Ied. “Diduga dia stres,” kata Iskandar.

Menurut H Mahfud,55, salah satu jemaah, korban sebelum kejadian kelihatan gelisah, terkadang duduk dan kadang berdiri. Ternyata setelah itu ia bunuh diri.

Kategori: bunuh diri

Pengerajin Batu Nisan Di Bintaro Jaya Gantung Diri

Agustus 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perajin batu nisan, Wakiman alias Maman, 45, tewas gantung diri di rumahnya Jalan Bintaro Raya RT 012/010 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan, Selasa (12/8) subuh.

Kematian bapak tiga anak ini membuat sang istri, Homsani, 40, histeris dan beberapa kali pingsan. Homsani tidak menduga suaminya bakal berbuat nekat dan meninggalkan dirinya beserta ketiga anaknya untuk selamanya.

Adik ipar korban, Akhyar, 32, menjelaskan malam sebelum ditemukan tewas, Maman sempat mengikuti aktivitas warga memasang umbul-umbul untuk perayaan tujuhbelasan hingga pukul 02:00.

Saat pagi menjelang, Homsani mendatangi ruangan tempat korban memajang nisan dagangannya untuk membangunkannya salat subuh. Namun Maman didapati sudah tewas tergantung menggunakan tali tambang plastik.

Ketua RT setempat, Salahudin, 56, menambahkan almarhum semasa hidupnya termasuk warga yang aktif berorganisasi di RT/RW. Motif bunuh diri masih dalam penyelidikan. Pihak keluarga juga mengaku belum tahu penyebab korban gantung diri. Kasus ini ditangani Polsek Kebayoran Lama.

Kategori: bunuh diri

Karyawati Tewas Dilindas Busway Karena Masuk Jalur Transjakarta Sambil Ngebut

Juni 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

JAKARTA  – Sepasang kekasih boncengan sepeda motor diseruduk bus Transjakarta di jalur busway Jalan Sultan Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (13/6) pagi.

Akibat tabrakan itu, Sri Wahyuningsih, 21, terpental dari motor yang dikendarai Medy, 23, kekasihnya. Wanita yang bekerja sebagai operator mesin fotokopi di kantor KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ini pun tewas seketika.

Peristiwa naas menimpa kedua sejoli ini ketika mereka hendak menuju ke tempat kerja di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Merasa takut telat, Medy memutuskan untuk masuk ke jalur busway. Ia rupanya tak menyadari jika di belakangnya meluncur bus trans Jakarta.

Lelaki asal Tegal, Jawa Tengah, ini sempat membuang kemudi dan menabrak separator jalan. Medy kemudian terseret bersama motor Yamaha Vega-R, sedangkan Sri Wahyuningsih tewas terlindas bus Transjakarta B 7514 IX.

“Saya tidak melihat ada Trans Jakarta di kaca spion kanan motor saya karena saya sedang buru-buru dan ngebut, klakson juga tak terdengar, pikiran saya waktu itu hanya bagaimana supaya cepat sampai,” ujar Medy saat ditemui di RSCM mendampingi jenazah kekasihnya.

TAK ADA FIRASAT
Medy mengaku telah memadu kasih selama lebih dari satu tahun bersama Sri. Ia menyatakan tidak memiliki firasat apa-apa pada malam hari sebelumnya. Namun, dijelaskan Medy, kekasihnya yang tinggal satu mess di Jalan Tubagus Angke, Kec. Jelambar, Jakarta Barat, itu memang terlihat murung dalam beberapa hari belakangan.

Sejumlah rekan korban berharap kasus ini bisa diselesaikan secara adil. “Memang korban masuk jalur busway secara mendadak dan dengan kecepatan tinggi, tapi seharusnya sopir bus itu bisa mengklakson atau mengerem kendaraannya walaupun jarak tinggal beberapa senti,” ujar teman-teman korban di rumah sakit.

Ketika ditanya apakah mereka mengetahui bahwa masuk ke jalur busway adalah pelanggaran, teman-teman korban serempak menjawab mereka tidak peduli apakah itu melanggar hukum atau tidak, entah perilaku teman mereka itu membahayakan orang lain entah tidak.

Diantar teman dan kekasihnya, jenazah korban dibawa ke kampung halamannya di Ngawi, Jawa Timur, untuk dikebumikan.

Kategori: bunuh diri · kebodohan · kecelakaan

Lelah Dihina Istri Karena Menderita Tumor Tenggorokan – Seorang Suami Memilih Bunuh Diri Dengan Memotong Lehernya Sendiri

Juni 14, 2008 · 1 Komentar

PEKANBARU – Jampen Purba (34), sopir truk yang berdomisili di Jalan Damai, Gang Selamat, Rumbai, Pekanbaru, Riau, tewas secara mengenaskan dengan bunuh diri. Belum jelas motif bunuh diri itu. Akan tetapi, berdasarkan keterangan yang dihimpun polisi, korban mengidap penyakit berat berupa tumor pada tenggorokan.

”Menurut penuturan keluarganya, korban merasa marah dan tersinggung atas ucapan istrinya yabg menghinanya sebagai pria penyakitan, parasit dan tidak mampu dikerjaan maupun diatas ranjang,” papar Kepala Polsek Rumbai Ajun Komisaris Dainar, Jumat (13/6) di lokasi kejadian.

Dainar mengungkapkan, peristiwa bunuh diri itu berlangsung pada Jumat pagi setelah Jampen makan pagi bersama istri dan mertuanya yang baru datang dari Medan. Dalam acara makan pagi itu terjadi perbincangan serius menyangkut pembiayaan untuk berobat ke rumah sakit.

Karena ucapan istrinya yang keterlaluan, Jampen merasa tersinggung dan kemudian masuk ke kamar untuk mengambil celurit. Istrinya mencoba mencegah, tetapi tidak dipedulikan. Dengan celurit tajam, Jampen membacoki leher dan dadanya. Istri dan mertuanya langsung histeris dan mencoba menghentikan aksi itu.

Karena tidak mampu menghentikan aksi mengerikan itu, Sianipar berlari keluar memanggil tetangga terdekat. Beberapa pemuda di perumahan yang cukup padat penduduk itu kemudian masuk ke rumah dan mencoba mendekati Jampen.

Namun, Jampen yang sudah penuh darah justru mengancam akan membacok siapa pun yang akan mendekat. Ketika Jampen lemah, para tetangga berhasil merampas celurit.

Kategori: bunuh diri