Category Archives: gay dan lesbian

Siswi SMP Depok Melarikan Diri Bersama Guru Taekwondo Yang Lesbian

Hubungan asmara sesama jenis kembali mencuat. Seorang siswi SMP di Depok, Jawa Barat berinisial Tn (15) terlibat hubungan lesbian dengan Sj (26) yang tidak lain guru Taekwondo-nya.

Jalinan asmara sesama jenis ini menjadi masalah setelah Tn yang sedang menjalani terapi pengobatan orientasi seksual di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA), Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, tiba-tiba menghilang pada Jumat (10/9/2010) malam lalu.

Usut punya usut, ternyata Tn dibawa kabur oleh Sj, kekasih sesama jenisnya. Sj menjadi guru taekwondo Tn sejak remaja putri itu berusia 13 tahun dan masih duduk di kelas I SMP di Depok.

Hubungan lesbian atau sesama jenis antara Tn dan Sj ini ditentang oleh orangtua Tn, yakni Mb. Mb adalah seorang konsultan perbankan.

Karena merasa khawatir dengan anaknya, Mb lalu mengadukan kasus ini ke Komisi Nasional Perlindungan Anak. Akhirnya sejak Juli lalu, Komnas memberikan terapi orientasi seksual pada Tn dengan merumahkannya di RSPA, Bambu Apus, Cipayung.

Namun, ternyata Sj tak hilang akal. Pada Hari Raya Lebaran, ia menculik Tn dari RSPA. Sj berhasil mengelabui satpam RSPA.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengakui bahwa ketika itu petugas keamanan RSPA lalai.

“Yang jelas petugas keamanan lalai, karena tak tahu ada anak dibawa kabur orang,” tegas Arist Merdeka Sirait di kantornya, Senin (27/9/2010). Saat ini petugas keamanan akan dimintai keterangan pihak berwajib.

Kisah pertemuan Tn dengan Sj bermula dari latihan Taekwondo di sebuah tempat di Depok dua tahun silam. Mereka akhirnya sering bertemu.

Saking seringnya pertemuan mereka, Tn mengaku jatuh cinta pada Sj. Bahkan Tn juga mengaku sudah beberapa kali berhubungan intim dengan Sj.

Gadis 15 tahun berinisial T diduga dibawa lari S (26), perempuan lesbian yang tak lain guru taekwondo korban.

“T dibawa lari dari Rumah Perlindungan Sosial Anak, Bambu Apus, Jakarta Timur, sejak Idul Fitri tahun ini. T dijemput S pada malam hari,” kata Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak.

Ketika itu petugas keamanan Rumah Perlindungan Anak tidak mengetahui T dibawa lari S. “Yang jelas petugas keamanan lalai,” tegas Arist di kantornya.

T diduga menjadi korban lesbian yang dilakukan S. Menurut Arist, ayah T yang menjadi konsultan Bank Dunia telah meminta Komnas Anak menyembuhkan orientasi seks T yang menyukai sesama jenis. Namun, lanjut Arist, “Baru beberapa pekan tinggal di sana sudah kabur,” katanya.

Arist menjelaskan, kisah pertemuan T dengan S bermula dari latihan taekwondo di kawasan Depok dua tahun silam. Sekali sepekan, korban bertemu S yang menjadi pelatih taekwondo T.

Korban kemudian kerap dibawa jalan-jalan ke sejumlah tempat di Jabodetabek. Pernah korban meninggalkan rumah sampai sebulan. “T mengakui sudah sering berhubungan intim dengan S,” ujar Arist.

Menurut dia, T sulit dipisahkan karena sangat mencintai S. Arist menegaskan, polisi harus segera menangkap pelaku karena kasus ini diduga terkait dengan penculikan.

“Lebih dari 1 x 24 jam dia tidak kembali ke rumah sudah termasuk penculikan,” ujarnya.

Arist mengakui, baik korban maupun pelaku saling menyukai. Namun, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, hal itu tidak bisa dikategorikan sama-sama menyukai.

“Ini jelas ada unsur rayuan dan bujukan. Selain itu, korban masih anak, bukan orang dewasa,” kata Arist.

Arist mengimbau agar polisi tidak menerapkan KUHP dalam kasus ini. Sebab, bila itu dilakukan, kasus bisa tidak berakhir di meja hijau. “Unsur suka sama suka bisa membuat tersangka bebas, kasus menguap,” ujarnya.

Arist berpendapat, KUHP dinilainya tidak tepat menuntaskan kasus ini. “Sekali lagi, korbannya adalah anak. Karena itu, harus diselesaikan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak,” katanya.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Grace Harianja, saat ditemui terpisah, mengatakan, polisi masih mencari S.

“Kami masih menghimpun informasi dari keluarga dan orang-orang dekat S,” kata Grace.

Kelainan Seksual Para Senior Menyebabkan Siswi Paskibra Jakarta Disuruh Bugil dan Mandi Sambil Ditonton Rame Rame

Polisi sudah meminta keterangan dari beberapa siswi SMA anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) DKI Jakarta 2010 yang diduga jadi korban kekerasan dan pelecehan seksual oleh senior mereka.

Made Indah Pramandari, 16 tahun, siswi anggota Paskibraka, menceritakan dalam sehari dipastikan diperintahkan bugil dua kali, yakni pada saat akan mandi pagi dan sore. Sebelum mandi, kata siswi SMA Negeri 8 ini, sambil telanjang 15 peserta putri berbaris dari barak tidur. Satu kamar mandi untuk tiga orang.

Pintu kamar mandi terbuka agar senior bisa melihat. “Kami ke kamar tanpa handuk,” kata dara bertinggi 163 sentimeter ini, Selasa (24/8). Mereka juga didikte selama mandi dan berpakaian. Setiap kesalahan berbuah hukuman, seperti jalan jongkok sambil telanjang, push-up, dan tamparan.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Murnila, mengatakan pihaknya sudah mendengar pengakuan dari anggota Paskibraka. “Kami datangi di sekolahnya Senin kemarin,” kata Murnila, di kantornya, Selasa. Ia menolak menjelaskan pengakuan beberapa dari total 15 korban itu.

Menurut Murnila, polisi ingin mendengar dari para siswi karena datanya berbeda dengan hasil investigasi Purna Paskibraka Indonesia (PPI) DKI Jakarta. Namun polisi tetap menanti pengaduan agar kasusnya bisa disidik.

Rita Ritonga, orang tua salah satu peserta, mengatakan polisi mendatangi sekolah anaknya di SMA Al-Azhar 1 dan 3, Kebayoran Baru, Senin lalu. Lauren Nouville Djunaidi, ibu anggota lainnya, menjelaskan ada satu anak yang tak mengakui terjadi pelecehan dalam Orientasi Kepaskibrakaan 2010 di Lembaga Pendidikan Kader Gerakan Pramuka Tingkat Nasional, Cibubur, pada 2-6 Juli lalu. Ia berterus terang setelah diyakinkan oleh teman-temannya. “Anak itu datang ke Polda Metro Jaya dan mengaku,” kata Lauren.

Selama masa orientasi, para siswi merasa dilecehkan. Begitu pula anggota pria. Jumat pekan lalu, tim investigasi PPI merekomendasikan larangan mengikuti kegiatan Paskibraka selama 5 tahun bagi empat senior. Senior pria adalah FDT (anggota Paskibraka angkatan 2006) dan FPN (2007), sedangkan yang wanita IE (2006) dan SS (2007). Tapi para orang tua menilai hasil investigasi itu tak sesuai dengan kenyataan. Kemarin Gubernur Fauzi Bowo menolak mengomentari kasus ini.

Tadi malam, sejumlah orang tua peserta bertemu dengan Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Saefullah serta Kepala Bidang Kepemudaan Firmansyah di kantornya di Jatinegara, Jakarta Timur.


							

Babeh Pembunuh Berantai Dengan Korban 14 Orang Anak Yang Disodomi Ternyata Teman Robot Gedek

Hasil penyidikan polisi sampai saat ini terungkap, 14 anak di berbagai wilayah dibunuh oleh Baekuni (48) alias Babeh, yang delapan di antaranya dimutilasi. Jumlah korban ini jauh lebih besar dibandingkan kasus Robot Gedek maupun Very Idam Henyansyah alias Ryan.

Demikian diungkapkan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono, yang didampingi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, psikolog Sarlito Wirawan Sarwono, dan kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala di Polda Metro Jaya, Senin (1/2).

”Jumlah korban dalam kasus Babeh jauh lebih besar daripada kasus Robot Gedek dan Ryan yang ditangani Polda Metro Jaya,” kata Wahyono.

Korban mutilasi Robot Gedek (1994-1996) dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997 disebutkan enam orang, sementara korban Ryan (2006-2008) 11 orang. Dari hasil pemeriksaan polisi, korban pembunuhan dan mutilasi Babeh sampai saat ini sudah mencapai 14 orang. Babeh membunuh sejak tahun 1993.

Korban Babeh yang sudah terungkap adalah Adi, Rio, Arif Abdullah alias Arif ”Kecil”, Ardiansyah, Teguh, dan Irwan Imran yang dimutilasi, serta Aris, Riki, dan Yusuf Maulana. Empat korban terakhir yang terungkap juga dimutilasi adalah Feri, Doli, Adit, dan Kiki. Rata-rata usia mereka 10-12 tahun, kecuali Arif yang masih berusia 7 tahun.

Kasus pembunuhan yang dilakukan Babeh ini, kata Adrianus, layak menjadi sebuah cerita kriminalitas yang paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia.

Kasus Robot Gedek

Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga Babeh memiliki peran besar dalam kasus Robot Gedek. Bahkan, Babeh kemungkinan besar memanfaatkan kasus Robot Gedek karena Babeh menjadi saksi utama kasus itu.

Data yang dihimpun Kompas menunjukkan, dalam pengadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997, di depan majelis hakim yang dipimpin hakim Sartono, Babeh mengaku melihat Robot Gedek menggandeng seorang anak laki-laki di Pasar Jiung, Kemayoran. Anak tersebut dibawa Robot Gedek ke semak-semak.

Sementara itu, Babeh menunggu giliran mendapat kesempatan untuk menyodomi bocah lelaki yang dibawa Robot Gedek. Babeh mengaku menunggu satu jam dan setelah itu mendekati lokasi Robot Gedek. Di lokasi itu, dia menyaksikan Robot Gedek memutilasi korbannya.

Akhirnya Robot Gedek (42) divonis pengadilan dengan hukuman mati pada 21 Mei 1997. Namun sehari sebelum dilakukan eksekusi diketahui bahwa Robot Gedek telah meninggal dunia di RSUD Cilacap karena serangan jantung.

Sampel darah

Sementara itu, Kepolisian Resor Magelang telah mengambil sampel darah Askin (54) dan Isromiyah (44), orangtua Sulistyono, bocah yang diduga korban mutilasi Babeh. Sampel darah ini akan dicocokkan dengan tes DNA dari tulang belulang yang ditemukan di Dusun Mranggen, Desa Kajoran, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

”Sampel darah sudah kami kirimkan untuk diteliti dan dicocokkan dengan hasil tes DNA oleh Dokkes (Bidang Kedokteran dan Kesehatan) Polda Jawa Tengah,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Aris Suwarno, Senin. Proses penelitian dan pencocokan ini kira-kira memerlukan waktu sekitar dua minggu

Seroang Gay Di Kota Serang Beraksi Dengan Memperkosa Mensodomi Siswa SMU Pria Serta Menularkan Penyakit Kelaminnya

Diduga melakukan sodomi terhadap seorang pelajar, Tim Reskrim Polres Serang menangkap MS,31, seorang pegawai swasta yang tinggal di Taman Krakatau, Kabupaten Serang, Banten.

Tersangka ditangkap karena dituduh menyodomi korban AS,16, seorang pelajar SMK yang tinggal di Desa Wanayasa, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang.

Keterangan yang dihimpun, peristiwa itu terungkap setelah korban mengalami penyakit kelamin. Orangtua korban yang curiga, sempat menanyakan penyebabnya. Korban mengaku disodomi tersangka.

Aksi sodomi terhadap korban, dilakukan di dalam mobil tersangka. Perbuatan itu dilakukan sejak bulan November 2008 hingga Februari 2009.

Kasat Reskrim Polres Serang, AKP Sofwan Hermanto melalui Kanit RPK, Ipda Herlia, membenarkan adanya penangkapan tersebut. Tersangka ditangkap setelah polisi mendapat laporan dari keluarga korban.

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Tsunami Maksiat Gay Homoseksual Makin Menjadi Polisi Menggrebek Pesta Seks Gay

Polisi Malaysia menahan lebih dari 70 pria pelacur maupun pelanggan mereka dalam empat penggerebekan akhir pekan lalu.

Kantor berita DPA mengutip harian Star yang menyebut polisi di negara bagian Penang melakukan penggerebekan di empat lokasi terpisah termasuk di satu panti pijat dan satu pusat kebugaran.

Penggerebekan itu menghasilkan 28 pria ditangkap termasuk seorang yang berkebangsaan China. Kepala polisi Gan Kong Meng mengemukakan para tersangka berusia antara 20 hingga 40 tahun.

Dia menyebutkan beberapa pelanggan pria pelacur itu berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Harian Star melaporkan bahwa saat penggerebekan beberapa pria dalam keadaan telanjang dan kondom yang sudah terpakai berceceran di lokasi.

Polisi juga menyita barang-barang pornografi dan kotak-kotak kondom. Pemilik tempat yang digerebek akan didakwa dengan pasal-pasal susila.

Pengusaha Pengisian Air Aki Tewas Dibunuh Teman Gay Homoseksualnya Karena Menolak Diajak Behubungan Intim

Di tempat terpisah, Lim Kia Seng alias Darmadi Limas (42), pengusaha pengisian air aki, ditemukan tewas. Ia diduga dianiaya MD (24) dan AR (24) di rumah korban di Bumi Mutiara II, Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Rabu sekitar pukul 03.00.

Kepala Satuan Unit Reserse Kriminal Gunung Putri Ajun Komisaris I Dewa Nyoman Putra mengatakan, dari keterangan tersangka, pembunuhan mereka lakukan setelah MD menolak melakukan hubungan seks dengan korban.

Keduanya lalu berkelahi. Mendengar perkelahian itu, AR yang saat itu tengah menonton acara TV masuk ke kamar korban lalu turut membantu Edy menganiaya korban. ”Berdasarkan keterangan sopir korban, Imat (24), kedua pelaku sudah berada di rumah korban sejak Senin pagi,” katanya.

Adik kandung korban, Sarito (38), yang menunggui proses otopsi jenazah korban, membantah kakaknya itu mempunyai kelainan orientasi seksual. Sebab, jelasnya, koran sudah beristri dan memiliki dua anak.

”Ipar saya pulang ke Pontianak karena anak pertama mereka, Rn (6), harus masuk sekolah. Keduanya memutuskan menyekolahkan mereka di sana karena biaya sekolah di sini mahal,” tutur Sarito.

Guru Homoseksual Gay Ditangkap Polisi Karena Mencabuli Anak Didiknya

Guru bantu SMAN 26 Tebet yang mencabuli empat siswanya dengan dalih hendak dijadikan pemain futsal profesional, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Jakarta Selatan. Ia pun harus merasakan dinginnya tinggal di penjara.

Joe, 35, sang guru yang melatih futsal itu dicokok petugas Polsek Tebet, Selasa (4/11) pagi. “Yang bersangkutan telah kami tetapkan sebagai tersangka atas tuduhan pencabulan,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, Kompol Iwan Kurniawan.

Terungkapnya kasus pencabulan yang menimpa para pelajar pria ini membuat Ketua Komnas Anak, Seto Mulyadi, yang biasa dipanggil Kak Seto prihatin. Sebagai bentuk kepedulian, Kak Seto mendatangi SMAN 26 Tebet dan bertemu dengan Kepala Sekolah, Hj. Radiati, murid-murid serta guru.

Menurut Kak Seto, ulah pelatih futsal itu sangat tidak layak dilakukan kepada murid-muridnya. “Fenomena ini bisa menimpa siapa saja. Karena itu perlu perhatian bagi orangtua murid, guru dan siswa agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Sebelumnya, Joe yang menjadi pelatih futsal sejak 10 tahun di SMAN 26 dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan karena mencabuli empat siswanya di tempat kos, Jalan Minangkabau (Pos Kota, 4/11). Korban dirayu dan dijanjikan mempunyai stamina kuat dan jago main futsal. Nyatanya di tempat tersebut keempatnya malah dicabuli pria yang senang dengan sesama pria.

Pembunuh Pejabat BPN Bogor Agus Sanusi Tertangkap Dan Ternyata Adalah Teman Homoseksual Pejabat Tersebut

Tersangka pembunuh pejabat Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bogor diringkus polisi. Ucen Ade Saputra mengaku membunuh korban karena sakit hati. Pasalnya, Agus Sanusi kerap ingkar janji ketika mereka melakukan hubungan sejenis.

Pembunuhan itu terjadi 21 Agustus di kontrakan korban Jalan Atletik Tanah Saeral Bogor . Agus Sanusi, 39, ditemukan tewas oleh istrinya.Sekarang tersangka Ucen,30, ditahan di Polresta Bogor.

MOBIL PARKIR
Rabu 15 Agustus ,Polsek Sukra Indramayu, curiga melihat mobil Kijang kapsul sejak magrib, parkir di pinggir jalan Patrol Desa Patrol Kecamatan Anjatan.Sekitar pukul 21.00 Ucen datang mengambil mobil itu.

Petugas yang sudah menunggu memeriksa surat-surat mobil tersebut.STNK nomor polisinya T 460 ES sedangkan di bodi mobil nomor polisinya H 2180 LG.

Dari hasil pemeriksaan , pelaku mengaku, mobil tersebut milik pejabat BPN Kota Bogor yang dua bulan lalu dibunuhnya.Hal itupun dilaporkan ke Polresta Bogor yang kemudian menjemput pelaku ke Indramayu.Penangkapan itu dibenarkan Wakapolresta Bogor, Kompol Wahyu Bintono

Menurut tersangka, sejak tiga bulan berkenalan dengan korban, dirinya selalu dirugikan. “Korban selalu ingkar janji. Dia janji mau kasih Rp 200 ribu sekali berhubungan, malah hanya Rp 50 ribu. Bahkan waktu korban janji mau kasih HP juga nggak terealisasi. Karenanya saya kesal. Begitu korban telepon saya untuk datang, saya langsung bawa palu dan memukulnya hingga tewas,” kata Ucen, Jumat (17/10).

Ditambahkan pelaku, sebelum mereka berhubungan seks , korban selalu memutar film porno . “Kami melakukan hubungan di kasur,” aku pelaku.

Kasat Reskrim Polresta Bogor mengatakan, hasil pemeriksaan korban memang memiliki kelainan dalam hubungan seks.

MENCURI BH
Pelaku pembunuh tukang parkir di Stasiun KA Juanda, Sawah Besar, Jakpus, dibekuk polisi dari tempat persembunyian di Pasar Bantar Gebang, Bekasi, Kamis (16/10) malam.

Iwan,28, tewas mengenaskan setelah dianiaya tiga temannya (Pos Kota 7/10). Kini tersangka Doni,22, Aderi,26, sedang Rona alias Deden,27, diseret ke kantor Polsek Sawah Besar.

Menurut pelaku, ia kesal karena korban Sabtu 4 Oktober mencuri BH istrinya (Desi,20,-red) dari rumah. Menganggap itu perbuatan melcehkan, akhirnya Iwan, mengajak dua temannya yang belum tertangkap ke Jakarta menganiaya tersangka hingga tewas.