Category Archives: gay dan lesbian

Gay Homoseksual Pembunuh asal Sidoarjo Ditangkap di Jabar

Anggota Kepolisian Resor (Polres) Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), menangkap WP, seorang tersangka pelaku pembunuhan dengan korban bernama Mulyono Harjo Winoto, warga Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo.

Kepala Satusan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sidoarjo, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Ernesto Saiser,  mengatakan anak buahnya  menangkap  WP setelah melakukan perburuan hingga ke Jawa Barat.  “Tersangka tertangkap setelah anggota kami melakukan perbururan selama kurang lebih dua bulan,” katanya, Senin (15/11/2010), di kantornya.

Ia mengemukakan, modus operandi yang digunakan oleh tersangka untuk membunuh korban  yaitu dengan cara mencampur racun ikan dengan minuman korban hingga tewas. “Tersangka yang juga seorang gay ini mengaku dijanjikan oleh korban akan diberi uang sebesar dua juta rupiah,” katanya.

Diajak Hubungan Badan

Namun, kata dia, uang tersebut tidak pernah diberikan, dan korban meminta kepada tersangka untuk diajak berhubungan badan.  “Karena merasa ditipu oleh korban, tersangka kemudian merencanakan untuk membunuh korban dengan cara memberi racun ikan,” katanya,

Ernesto menjelaskan, kala itu melihat korban sudah meninggal dunia, tesangka kemudian mengambil kartu debet (’kartu ATM’) milik korban, di mana  sebelumnya tersangka sudah mengetahui nomor PIN-nya.  “Selain itu, tersangka juga mengambil uang tunai di almari korban senilai Rp 4 juta, kamera digital, handycam dan juga sepeda motor dengan nomor polisi W 30033 PY,” katanya.

Selain menangkap tersangka, polisi juga menyita beberapa barang bukti seperti sepeda motor milik korban, yang diparkir di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya. “Kami juga menyita kartu parkir, dan jam tangan merek swiss Army yang dibeli tersangka dengan menggunakan uang korban,” katanya.

Atas kejahatan tersebut, kata dia, tersangka dijerat dengan Pasal 340 dan Pasal 265 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pembunuhan.  “Dengan pasal ini, tersangka dijerat dengan ancaman hukuman penjara sekurang-kurangnya 15 tahun penjara dan maksimal tersangka bisa dijerat dengan hukuman mati,” kata Ernesto.

Dua Pelajar SMP Gay Homoseksual Di Kediri Membunuh Pacarnya Karena Tergiur Sepeda Motor

Dari hasil pengembangan penyidikan, polisi menyeret dua pelaku lain yang terlibat pembunuhan seorang gay di Kediri, Jawa Timur. Masing-masing DA (15) dan AC (15). Dua-duanya masih tercatat sebagai siswa SMP.

DA adalah warga Kelurahan Semampir Kota Kediri yang terdaftar sebagai siswa kelas dua SMP negeri. Ia ditangkap di rumah kosnya di Semampir. Sedangkan AC warga Jalan Mayor Bismo Kota Kediri yang juga duduk dibangku kelas dua SMP swasta. Agi ditangkap di Simpang Empat Semampir.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Kediri Ajun Komisaris Polisi Rofiq Ripto Himawan, Senin (17/5/2010) mengatakan hasil pemeriksaan polisi terungkap informasi jika otak pelaku pembunuhan adalah JS (19) yang diketahui pasangan gay korban. Ia meminta bantuan DA untuk melakukan eksekusi dengan cara menjerat leher korban menggunakan tali. Setelah itu korban dibuang di selokan. Dia ditinggalkan bersama gerobaknya, sedangkan motornya dibawa lari.

Peran DA adalah menjebak korban dengan cara mengajaknya berciuman. Saat korban lengah, tersangka JS langsung mengalungkan tali ke leher korban dan menjeratnya hingga tewas. Peran DA adalah turut serta menikmati hasil kejahatan. Ia tidak ikut serta pada saat terjadi pembunuhan terhadap korban. Atas perbuatannya, ia dikenai Pasal 363, Pasal 480, Pasal 55 dan Pasal 56 Kitab Undang Undang Hukum Pidana.

“Sedangkan Jefri sebagai otak pelaku pembunuhan berencana dan Agi yang membantunya, dikenai Pasal 340, Pasal 338 dan Pasal 363 KUHP. Ancaman hukumannya di atas 5 tahun penjara,” ujar Rofiq.

Khusus pada dua tersangka yang masih berstatus pelajar SMP, akan diperlakukan sebagaimana diatur dalam UU perlindungan anak. Akan tetapi, untuk sanksi hukuman, mereka tetap dikenai sesuai dengan KUHP. “Hanya cara perlakuannya saja yang beda. Tidak ada perpanjangan masa tahanan. Selain itu, mereka juga harus didampingi saat pemeriksaan,” ucap Rofiq.

Pangeran “Gay” Saud Nasser Bin Abdulaziz Al Saud Dari Arab Saudi Membunuh Pembantunya

Seorang pangeran Saudi dinyatakan bersalah, Selasa (19/10/2010), karena telah membunuh seorang pembantunya di sebuah hotel di London, Februari lalu, dalam kasus yang menurut para jaksa memiliki unsur seksual.

Pangeran Saud Nasser Bin Abdulaziz Al Saud dinyatakan bersalah atas kematian dan luka parah dalam pembunuhan terhadap Bandar Abdulaziz.

Abdulaziz tewas setelah dipukuli dan menyebabkan pembengkakan dan memar otak serta keretakan di tulang rusuk dan leher. Dia juga memiliki bekas gigitan di telinga, wajah, dan lengan.

Pangeran itu tidak menyangkal telah membunuh pembantunya, tetapi mengatakan bahwa ia tidak bermaksud melakukannya. Ia dijadwalkan akan divonis, Rabu ini, dan menghadapi ancaman hukuman maksimum berupa penjara seumur hidup.

CNN melaporkan, karena sang pangeran tidak menyangkal telah membunuh Abdulaziz, adalah pekerjaan juri untuk menentukan apakah ia bersalah atas pembunuhan itu. Untuk melakukan hal tersebut, para juri harus menentukan dasar pikiran dan niatnya pada saat ia membunuh Abdulaziz. Para juri membutuhkan waktu satu setengah jam, Selasa, untuk memperoleh putusan mereka.

Pangeran yang masih keponakan Raja Abdullah itu tidak menunjukkan reaksi saat putusan dengan suara bulat para juri dibacakan di pengadilan.

Para jaksa mengatakan, penganiayaan sistematis sang pangeran terhadap korban memiliki unsur seksual. “Luka gigitan yang diderita Abdulaziz bukan merupakan faktor yang berakibat pada kematiannya, melainkan secara jelas berkonotasi seksual,” kata Jaksa Jonathan Laidlaw dalam pernyataan pembukaan, dua minggu lalu.

Kedua orang itu berada di London pada awal tahun ini dalam rangka liburan keluar negeri Al Saud dengan tujuan Maroko, Maladewa, dan kota-kota Eropa lainnya. Dalam hal ini, Abdul menjadi rekannya.

Pengacara Al Saud, John Kelsey-Fry, mengatakan dalam argumen penutupnya, Senin, bahwa Al Saud harus hidup dengan konsekuensi karena telah membunuh Abdulaziz, tetapi ia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti korbannya.

Kelsey-Fry mengingatkan para juri bahwa seorang patolog tidak akan mampu menentukan bagaimana Abdul tewas. Namun bahwa hanya satu dari sekian luka yang bisa membunuhnya, cekikan di leher, hal itu bisa saja disebabkan ketika Al Saud sempat mencekik tenggorokan Abdulaziz. “Ini adalah sesuatu yang mengerikan, tercela, dan salah,” katanya, “Namun (apakah), ini merupakan tindakan pembunuhan?” katanya seperti dikutip CNN.

Siswi SMP Depok Melarikan Diri Bersama Guru Taekwondo Yang Lesbian

Hubungan asmara sesama jenis kembali mencuat. Seorang siswi SMP di Depok, Jawa Barat berinisial Tn (15) terlibat hubungan lesbian dengan Sj (26) yang tidak lain guru Taekwondo-nya.

Jalinan asmara sesama jenis ini menjadi masalah setelah Tn yang sedang menjalani terapi pengobatan orientasi seksual di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA), Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, tiba-tiba menghilang pada Jumat (10/9/2010) malam lalu.

Usut punya usut, ternyata Tn dibawa kabur oleh Sj, kekasih sesama jenisnya. Sj menjadi guru taekwondo Tn sejak remaja putri itu berusia 13 tahun dan masih duduk di kelas I SMP di Depok.

Hubungan lesbian atau sesama jenis antara Tn dan Sj ini ditentang oleh orangtua Tn, yakni Mb. Mb adalah seorang konsultan perbankan.

Karena merasa khawatir dengan anaknya, Mb lalu mengadukan kasus ini ke Komisi Nasional Perlindungan Anak. Akhirnya sejak Juli lalu, Komnas memberikan terapi orientasi seksual pada Tn dengan merumahkannya di RSPA, Bambu Apus, Cipayung.

Namun, ternyata Sj tak hilang akal. Pada Hari Raya Lebaran, ia menculik Tn dari RSPA. Sj berhasil mengelabui satpam RSPA.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengakui bahwa ketika itu petugas keamanan RSPA lalai.

“Yang jelas petugas keamanan lalai, karena tak tahu ada anak dibawa kabur orang,” tegas Arist Merdeka Sirait di kantornya, Senin (27/9/2010). Saat ini petugas keamanan akan dimintai keterangan pihak berwajib.

Kisah pertemuan Tn dengan Sj bermula dari latihan Taekwondo di sebuah tempat di Depok dua tahun silam. Mereka akhirnya sering bertemu.

Saking seringnya pertemuan mereka, Tn mengaku jatuh cinta pada Sj. Bahkan Tn juga mengaku sudah beberapa kali berhubungan intim dengan Sj.

Gadis 15 tahun berinisial T diduga dibawa lari S (26), perempuan lesbian yang tak lain guru taekwondo korban.

“T dibawa lari dari Rumah Perlindungan Sosial Anak, Bambu Apus, Jakarta Timur, sejak Idul Fitri tahun ini. T dijemput S pada malam hari,” kata Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak.

Ketika itu petugas keamanan Rumah Perlindungan Anak tidak mengetahui T dibawa lari S. “Yang jelas petugas keamanan lalai,” tegas Arist di kantornya.

T diduga menjadi korban lesbian yang dilakukan S. Menurut Arist, ayah T yang menjadi konsultan Bank Dunia telah meminta Komnas Anak menyembuhkan orientasi seks T yang menyukai sesama jenis. Namun, lanjut Arist, “Baru beberapa pekan tinggal di sana sudah kabur,” katanya.

Arist menjelaskan, kisah pertemuan T dengan S bermula dari latihan taekwondo di kawasan Depok dua tahun silam. Sekali sepekan, korban bertemu S yang menjadi pelatih taekwondo T.

Korban kemudian kerap dibawa jalan-jalan ke sejumlah tempat di Jabodetabek. Pernah korban meninggalkan rumah sampai sebulan. “T mengakui sudah sering berhubungan intim dengan S,” ujar Arist.

Menurut dia, T sulit dipisahkan karena sangat mencintai S. Arist menegaskan, polisi harus segera menangkap pelaku karena kasus ini diduga terkait dengan penculikan.

“Lebih dari 1 x 24 jam dia tidak kembali ke rumah sudah termasuk penculikan,” ujarnya.

Arist mengakui, baik korban maupun pelaku saling menyukai. Namun, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, hal itu tidak bisa dikategorikan sama-sama menyukai.

“Ini jelas ada unsur rayuan dan bujukan. Selain itu, korban masih anak, bukan orang dewasa,” kata Arist.

Arist mengimbau agar polisi tidak menerapkan KUHP dalam kasus ini. Sebab, bila itu dilakukan, kasus bisa tidak berakhir di meja hijau. “Unsur suka sama suka bisa membuat tersangka bebas, kasus menguap,” ujarnya.

Arist berpendapat, KUHP dinilainya tidak tepat menuntaskan kasus ini. “Sekali lagi, korbannya adalah anak. Karena itu, harus diselesaikan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak,” katanya.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Grace Harianja, saat ditemui terpisah, mengatakan, polisi masih mencari S.

“Kami masih menghimpun informasi dari keluarga dan orang-orang dekat S,” kata Grace.

Kelainan Seksual Para Senior Menyebabkan Siswi Paskibra Jakarta Disuruh Bugil dan Mandi Sambil Ditonton Rame Rame

Polisi sudah meminta keterangan dari beberapa siswi SMA anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) DKI Jakarta 2010 yang diduga jadi korban kekerasan dan pelecehan seksual oleh senior mereka.

Made Indah Pramandari, 16 tahun, siswi anggota Paskibraka, menceritakan dalam sehari dipastikan diperintahkan bugil dua kali, yakni pada saat akan mandi pagi dan sore. Sebelum mandi, kata siswi SMA Negeri 8 ini, sambil telanjang 15 peserta putri berbaris dari barak tidur. Satu kamar mandi untuk tiga orang.

Pintu kamar mandi terbuka agar senior bisa melihat. “Kami ke kamar tanpa handuk,” kata dara bertinggi 163 sentimeter ini, Selasa (24/8). Mereka juga didikte selama mandi dan berpakaian. Setiap kesalahan berbuah hukuman, seperti jalan jongkok sambil telanjang, push-up, dan tamparan.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Murnila, mengatakan pihaknya sudah mendengar pengakuan dari anggota Paskibraka. “Kami datangi di sekolahnya Senin kemarin,” kata Murnila, di kantornya, Selasa. Ia menolak menjelaskan pengakuan beberapa dari total 15 korban itu.

Menurut Murnila, polisi ingin mendengar dari para siswi karena datanya berbeda dengan hasil investigasi Purna Paskibraka Indonesia (PPI) DKI Jakarta. Namun polisi tetap menanti pengaduan agar kasusnya bisa disidik.

Rita Ritonga, orang tua salah satu peserta, mengatakan polisi mendatangi sekolah anaknya di SMA Al-Azhar 1 dan 3, Kebayoran Baru, Senin lalu. Lauren Nouville Djunaidi, ibu anggota lainnya, menjelaskan ada satu anak yang tak mengakui terjadi pelecehan dalam Orientasi Kepaskibrakaan 2010 di Lembaga Pendidikan Kader Gerakan Pramuka Tingkat Nasional, Cibubur, pada 2-6 Juli lalu. Ia berterus terang setelah diyakinkan oleh teman-temannya. “Anak itu datang ke Polda Metro Jaya dan mengaku,” kata Lauren.

Selama masa orientasi, para siswi merasa dilecehkan. Begitu pula anggota pria. Jumat pekan lalu, tim investigasi PPI merekomendasikan larangan mengikuti kegiatan Paskibraka selama 5 tahun bagi empat senior. Senior pria adalah FDT (anggota Paskibraka angkatan 2006) dan FPN (2007), sedangkan yang wanita IE (2006) dan SS (2007). Tapi para orang tua menilai hasil investigasi itu tak sesuai dengan kenyataan. Kemarin Gubernur Fauzi Bowo menolak mengomentari kasus ini.

Tadi malam, sejumlah orang tua peserta bertemu dengan Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Saefullah serta Kepala Bidang Kepemudaan Firmansyah di kantornya di Jatinegara, Jakarta Timur.


							

Babeh Pembunuh Berantai Dengan Korban 14 Orang Anak Yang Disodomi Ternyata Teman Robot Gedek

Hasil penyidikan polisi sampai saat ini terungkap, 14 anak di berbagai wilayah dibunuh oleh Baekuni (48) alias Babeh, yang delapan di antaranya dimutilasi. Jumlah korban ini jauh lebih besar dibandingkan kasus Robot Gedek maupun Very Idam Henyansyah alias Ryan.

Demikian diungkapkan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono, yang didampingi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, psikolog Sarlito Wirawan Sarwono, dan kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala di Polda Metro Jaya, Senin (1/2).

”Jumlah korban dalam kasus Babeh jauh lebih besar daripada kasus Robot Gedek dan Ryan yang ditangani Polda Metro Jaya,” kata Wahyono.

Korban mutilasi Robot Gedek (1994-1996) dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997 disebutkan enam orang, sementara korban Ryan (2006-2008) 11 orang. Dari hasil pemeriksaan polisi, korban pembunuhan dan mutilasi Babeh sampai saat ini sudah mencapai 14 orang. Babeh membunuh sejak tahun 1993.

Korban Babeh yang sudah terungkap adalah Adi, Rio, Arif Abdullah alias Arif ”Kecil”, Ardiansyah, Teguh, dan Irwan Imran yang dimutilasi, serta Aris, Riki, dan Yusuf Maulana. Empat korban terakhir yang terungkap juga dimutilasi adalah Feri, Doli, Adit, dan Kiki. Rata-rata usia mereka 10-12 tahun, kecuali Arif yang masih berusia 7 tahun.

Kasus pembunuhan yang dilakukan Babeh ini, kata Adrianus, layak menjadi sebuah cerita kriminalitas yang paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia.

Kasus Robot Gedek

Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga Babeh memiliki peran besar dalam kasus Robot Gedek. Bahkan, Babeh kemungkinan besar memanfaatkan kasus Robot Gedek karena Babeh menjadi saksi utama kasus itu.

Data yang dihimpun Kompas menunjukkan, dalam pengadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997, di depan majelis hakim yang dipimpin hakim Sartono, Babeh mengaku melihat Robot Gedek menggandeng seorang anak laki-laki di Pasar Jiung, Kemayoran. Anak tersebut dibawa Robot Gedek ke semak-semak.

Sementara itu, Babeh menunggu giliran mendapat kesempatan untuk menyodomi bocah lelaki yang dibawa Robot Gedek. Babeh mengaku menunggu satu jam dan setelah itu mendekati lokasi Robot Gedek. Di lokasi itu, dia menyaksikan Robot Gedek memutilasi korbannya.

Akhirnya Robot Gedek (42) divonis pengadilan dengan hukuman mati pada 21 Mei 1997. Namun sehari sebelum dilakukan eksekusi diketahui bahwa Robot Gedek telah meninggal dunia di RSUD Cilacap karena serangan jantung.

Sampel darah

Sementara itu, Kepolisian Resor Magelang telah mengambil sampel darah Askin (54) dan Isromiyah (44), orangtua Sulistyono, bocah yang diduga korban mutilasi Babeh. Sampel darah ini akan dicocokkan dengan tes DNA dari tulang belulang yang ditemukan di Dusun Mranggen, Desa Kajoran, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

”Sampel darah sudah kami kirimkan untuk diteliti dan dicocokkan dengan hasil tes DNA oleh Dokkes (Bidang Kedokteran dan Kesehatan) Polda Jawa Tengah,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Aris Suwarno, Senin. Proses penelitian dan pencocokan ini kira-kira memerlukan waktu sekitar dua minggu

Seroang Gay Di Kota Serang Beraksi Dengan Memperkosa Mensodomi Siswa SMU Pria Serta Menularkan Penyakit Kelaminnya

Diduga melakukan sodomi terhadap seorang pelajar, Tim Reskrim Polres Serang menangkap MS,31, seorang pegawai swasta yang tinggal di Taman Krakatau, Kabupaten Serang, Banten.

Tersangka ditangkap karena dituduh menyodomi korban AS,16, seorang pelajar SMK yang tinggal di Desa Wanayasa, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang.

Keterangan yang dihimpun, peristiwa itu terungkap setelah korban mengalami penyakit kelamin. Orangtua korban yang curiga, sempat menanyakan penyebabnya. Korban mengaku disodomi tersangka.

Aksi sodomi terhadap korban, dilakukan di dalam mobil tersangka. Perbuatan itu dilakukan sejak bulan November 2008 hingga Februari 2009.

Kasat Reskrim Polres Serang, AKP Sofwan Hermanto melalui Kanit RPK, Ipda Herlia, membenarkan adanya penangkapan tersebut. Tersangka ditangkap setelah polisi mendapat laporan dari keluarga korban.