Category Archives: hipnotis

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

THR Tunjangan Hari Raya Dibagikan Para Penghipnotis Langsung Beraksi

Warga diimbau untuk semakin waspada. Pasalnya, di hari-hari mendekati Lebaran, saat sebagian warga mulai menerima tunjangan hari raya (THR), komplotan bandit makin gencar beraksi.

Hipnotis dan pembiusan adalah dua modus kejahatan yang sering terjadi dan dilancarkan pelaku untuk melumpuhkan korbannya lalu menggasak hartanya.

Kasus teranyar menimpa seorang wanita guru SD di Bogor. Uang gaji dan THR sejumlah Rp7 juta yang rencananya mau digunakan untuk belanja Lebaran, melayang disambar penjahat yang menghipnotisnya.

Pelaku adalah seorang pria perlente. Penjahat ini cukup nekat dalam beraksi karena berani menyambangi korbannya yang tengah mengajar di dalam kelas.

Peristiwa yang dialami Wina ,42, guru kelas IV SD YZA pada Jumat (19/9) pagi ini membuatnya menderita kerugian Rp 7 juta. Informasi yang diperoleh, saat sedang mengajar, korban didatangi pria perlente yang menanyakan keberadaan kepala sekolah. Kepada ibu dua anak ini, pelaku mengatakan kedatangannya karena anaknya tidak pulang sekolah sejak Kamis (18/9).

Lantaran iba, istri Erwin Fauzian, Kasubag antar lembaga pada Humas Pemkab Bogor, ini lalu mengantar pelaku menuju ruang pimpinannya. Namun saat berjalan keluar pintu ruangan kelas, pundak warga Perumahan Taman Pagelaran RT 06/12 Blok C-9 Ciomas, Bogor, ini ditepuk pelaku.

Satu tepukan disertai tatapan mata pelaku, membuat korban langsung hilang ingatan. “Saat itu saya menuruti semua perintah pelaku. Waktu dia bilang pinjam uang, saya langsung ambil tas dan menyerahkan uang Rp 7juta yang sedianya untuk beli baju lebaran dan keperluan lainnya ke mal usai mengajar,” kata Wina ditemani suaminya tertunduk lemas.

Sementara Erwin, sang suami menuturkan, uang sejumlah Rp 7 juta yang hendak dipakai belanja, merupakan kumpulan gaji ia dan istrinya serta tunjangan hari raya. Erwin berharap, pelaku bisa ditangkap oleh aparat kepolisian.

TKI PULANG KAMPUNG DIINCAR
Para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri dan hendak pulang kampung untuk merayakan Lebaran juga menjadi incaran penjahat.

Dua TKI yang baru datang dari Malaysia ini adalah contohnya. Membawa uang Rp4,8 juta, 2 HP, dan 10 gram emas hasil kerja bertahun-tahun sebagai pandai besi di negeri jiran, Sutanto, 24, dan Kohir, 26, Kamis (18/9) sore, tiba di Bandara Soekarno Hatta.

Rencananya uang dan sedikit oleh-oleh itu mau digunakan untuk merayakan Lebaran bersama orangtuanya di kampung halaman di Pati, Jateng.

Namun niat mulia itu tak kesampaian karena mereka menjadi korban pembiusan 5 penjahat. Uang, perhiasan dan oleh-oleh digasak pelaku. Kedua korban ditemukan dalam kondisi pingsan di Jl. Perwira, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis malam.

Menurut keterangan korban dalam keadaan setengah sadar di Polsek Sawah Besar, setelah turun dari pesawat mereka disambut lima lelaki berpakaian rapi yang mengaku saudara.

Karena tak curiga, korban bersama ke 5 penjahat naik bus menuju Stasiun KA Gambir. Di dalam bus, korban sempat disuguhi minuman kemasan beras kencur. Dua menit kemudian ke dua korban pingsan. Setelah itu korban dibawa naik mobil pelaku yang membuntuti dari belakang.

Di dalam mobil, pelaku lalu mempreteli semua barang berharga yang dibawa korban dari negeri jiran. Setelah dibawa mutar-mutar, kedua TKI dibuang di Jl. Perwira, belakang Mesjid Istiqlal.

PURA-PURA TAWARKAN PARFUM
Modus pembiusan untuk melumpuhkan korban akhir-akhir semakin beragam saja. Masyarakat kini juga diresahkan dengan praktik kejahatan dengan berpura-pura menawarkan parfum. Korban yang diincar adalah pengendara mobil atau motor di lokasi parkiran. Mailing list atau milis-milis di internet sudah ramai membicarakan modus kejahatan yang satu ini. Seorang peserta milis mengaku temannya belum lama ini mengalaminya.

Ketika itu korban baru keluar dari sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Blok M. Begitu tiba di mobilnya, ia didekati 2 sales (1 pria dan 1 wanita) yang menawarkan parfum.

Wewangian itu disemprotkan ke selembar tisu dan kemudian ditawarkan kepada korban. Tanpa curiga, korban menciumnya dan tak lama kemudian dia merasa pusing dan mengantuk. Ketika sadar mobilnya sudah raib dan dia menemukan dirinya terduduk di trotoar.

Modus lain yang patut diwaspadai adalah pelaku berpura-pura terjatuh dan terluka. Ketika pengendara motor hendak menolong korban yang minta air minum, anggota komplotan lain mendekati lalu menepuk bahunya. Dalam sekejap motor korban lenyap dibawa kabur pelaku.

SEBAR PETUGAS BERPAKAIAN PREMAN
Mengantisipasi maraknya aksi kejahatan menggunakan obat bius dan hipnotis sebagai senjatanya, Polda Metro Jaya menegaskan telah menyebar petugas berpakaian preman di sejumlah wilayah yang dianggap rawan. Ini dilakukan polisi untuk memberi rasa aman dan kenyamanan bagi masyarakat.

Kasat V Ranmor Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Nico Afinta, Jumat (19/9), mengakui pihaknya telah menangani berbagai kasus pencurian kendaraan bermotor dengan modus pembiusan. “Saat ini sebagian kasus berhasil kami ungkap dan pelakunya ditangkap,”ujarnya.

Nico mengungkapkan biasanya modus pembiusan dilakukan dengan cara berpura-pura menyewa atau menumpang kendaraan yang menjadi target kejahatan.

Saat berada di dalam kendaraan, pelaku berlaku sopan kepada calon korbannya. Bahkan pelaku tak segan-segan mentraktir korban makanan. “Setelah korban terbuai, pelaku langsung beraksi dan memberi minuman yang sudah dicampur dengan obat bius,”kata Nico yang mengaku dari berbagai kasus ranmor yang ditanganinya belum ada laporan mengenai pembiusan menggunakan parfum.

Menyangkut penjahat yang diduga menggunakan hipnotis obat bius, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Zulkarnaen, mengimbau kepada masyarakat supaya jangan mudah percaya terhadap orang yang baru dikenal. “Jangan hanya karena baik awalnya, kita langsung terlena,”ujarnya.

Pelaku biasanya menggunakan alat atau benda untuk mengelabui calon korbannya. “Saya minta apabila ada orang yang kita jumpai di jalan dan memberikan sesuatu langsung diambil. Soalnya biasanya pelaku menggunakan benda atau alat untuk menjerat para korbannya,” tambahnya.

Pengantin Baru Dihipnotis dan Dibawa Ke Hotel Untuk Diperkosa Oleh Supir

JAKARTA – Bermodalkan ilmu hipnotis yang dipelajarinya selama tiga bulan di Lampung, sopir angkot memperkosa wanita pengantin baru di hotel. Pelaku juga menggasak perhiasan serta uang ratusan ribu milik korban.

Tr, 20, dua kali diperkosa di hotel kelas melati di kawasan Tanah Abang, Jakpus, oleh Andri Ari Wibowo,25, sopir angkot jurusan Grogol-Muara Angke. Perempuan ini bertemu Ari saat tengah menanti angkutan umum di Terminal Blok M, Jumat (11/7) siang.

Sebuah tepukan di pundak menjadi awal malapetaka bagi perempuan yang baru empat bulan dinikahi oleh Abdul, 29, ini. Saat itu, korban berniat pulang ke rumahnya di Muara Baru, Penjaringan usai berkunjung ke rumah salah seorang kerabatnya.

“Mau kemana mbak?,” tanya Andri saat itu sambil menepuk korban.

“Saya nggak sadar, pokoknya setiap ajakannya waktu itu saya turuti,” kata korban yang ditemui di Polsek Penjaringan, Sabtu (12/7) siang.

Korban menurut saja ketika dibawa ke sebuah hotel kelas melati di kawasan Tanah Abang. Di tempat itu, dua kali lelaki asal Brebes, Jateng itu melampiaskan hawa nafsunya. Selanjutnya uang Rp700 ribu, cincin serta HP Tr diambil pelaku. “Dia bilang biar aman disimpan sama dia,” lanjut korban.

Pelaku kemudian membawa korban ke daerah Penjaringan. Persis di depan Mega Mal Pluit, korban ditinggal. “Setelah pelaku pergi, saya baru sadar kalau kena tipu,” tandasnya.

Kapolsek Penjaringan Kompol Asep Adi Saputra menyebutkan, Andri berhasil ditangkap saat sedang nongkrong di Jalan Tanah Merah, Jembatan Tiga. “Dia ternyata pelaku perampasan motor pengojek dengan modus hipnotis,” jelas kapolsek didampingi Kanit Reskrim Iptu Ali Zusron.

Andri mengaku belajar hipnotis di Lampung. “Tiga bulan saya berguru ilmu itu,” ucapnya.

PURA-PURA MINTA DAUN JAMBU
Aksi hipnotis juga menimpa Ny.Eli, 55, warga RT 08/12 No. 29, Kelurahan Pasar Manggis, Setiabudi, Jaksel, Sabtu (12/7). Empat pelaku pura-pura minta daun jambu untuk obat muntaber, menggasak perhiasan senilai Rp20 juta dan uang Rp100 ribu. Korban baru menyadari kena hipnotis setelah pelaku kabur.

Eli menurut saja saat pelaku menyuruhnya mengambil daun jambu, seorang pelaku menyelinap masuk ke kamar lalu menggasak perhiasan. Kasusnya ditangani Polsek Setiabudi, Jaksel.

Modal Berdagang Dirampok Tukang Hipnotis

BOGOR – Burhan (35) sangat sedih karena tidak dapat mewujudkan impiannya menjadi pedagang di Pasar Bogor. Uang modalnya, sebesar Rp 2,8 juta, hilang setelah berkenalan dengan tiga laki-laki di dalam bus yang Burhan tumpangi dari Sukabumi menuju Kota Bogor, Senin (30/6) sore.

Polisi menjumpai Burhan di Terminal Bus Baranangsiang dalam keadaan lemas dan linglung, Senin malam. Warga Kampung Pasir Angin, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, tersebut diduga menjadi korban kejahatan dengan modus pelaku menghipnotis korbannya.

”Saya mulai merasa lemas dan bingung setelah orang yang duduk di samping menepuk pundak saya tiga kali. Waktu itu bus sudah mau masuk Ciawi,” kata Burhan di UGD RS PMI Bogor. Karena korban lemas dan pusing, polisi membawanya ke rumah sakit tersebut untuk mendapat pengobatan secukupnya.

Menurut Burhan, tiga penumpang bus mengajaknya bercakap-cakap sepanjang jalan. Ia melayani karena ketiganya bertutur kata sopan dan baik. Apalagi ketiganya mengatakan juga akan ke Pasar Anyar untuk mencoba berdagang sayuran, sebagaimana dirinya.

”Salah seorang dari mereka menepuk saya tiga kali sambil mengatakan hati-hati dengan orang yang baru dikenal kalau sedang merintis dagang. Eh, tidak tahunya mereka yang jahat, mengambil modal saya,” kata Burhan.

Dompet korban ditemukan Enjah (48), petugas kebersihan jalan, di taman di depan terminal. Di dalam dompet itu hanya ada KTP dan foto anak Burhan.

Burhan pun memutuskan untuk pulang kampung. Sebab, uang yang dimilikinya hanya Rp 86.000, kembalian ongkos naik bus. Uang tersebut selamat dari tiga penjahat itu karena Burhan menyimpan di saku bajunya.

”Uang segini (Rp 86.000) tidak cukup untuk modal dagang. Lebih baik saya pulang saja. Saya tidak tahu bagaimana mencari modal lagi untuk dagang. Uang yang mereka ambil itu adalah hasil saya menjual tanah warisan dari almarhum bapak saya,” katanya.

Kejadian seperti ini sebenarnya sudah berkali-kali menimpa warga yang tengah bepergian dengan menggunakan bus. Tidak hanya di Bogor, tetapi juga di Jakarta, terutama di Terminal Kalideres dan Pulo Gadung, penjahat dengan modus beramah-ramah dengan calon korbannya juga sering terjadi.

Waspadalah Kawanan Penghipnotis Beraksi Di Blok M – Salah Seorang Pelaku Memakai Jilbab

JAKARTA – Tawanan hipnotis kembali beraksi. Guru SMA Negeri 70, Bulungan, Jakarta Selatan, hendak mengajar dihipnotis empat penjahat di Jalan Lamando, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pelaku membawa kabur uang Rp10 juta milik sang guru.

Korban Ny.Sugiyanti SPd, 36, menjelaskan, kasus yang menimpa dirinya terjadi pada Kamis (19/6) pagi. Namun baru dilaporkan ke Polsek Kebayoran Baru, Jumat (20/6) siang. “Dari empat pelaku, seorang di antaranya perempuan yang memakai jilbab,” kata Sugiyanti yang dijumpai di SMAN 70.

Menurut dia, pukul 08.30, dirinya tiba di kawasan Bulungan setelah naik Metromini dari rumahnya di Jalan AUP Barat, RT 03/10, Pasar Minggu. Saat sedang jalan kaki menuju sekolah, guru Bahasa Indonesia ini dihentikan seorang pria yang berpura-pura tanya alamat sebuah yayasan di Bintaro Jaya.

“Bu, saya mau memberi sumbangan ke yayasan. Ini alamatnya, ibu tahu nggak,” kata pria tersebut, seperti diungkapkan Sugiyanti. Karena tidak curiga, korban memberitahu kalau alamat tersebut cukup jauh dari Blok M. Tak berapa lama, muncul seorang wanita yang bernama Dewi. Wanita ini langsung mendekati Sugiyanti dan pria yang mengaku bernama Zakaria.

“Wah, kalau mau nyumbang bagus dong. Saya juga mau ikut,” kata Sugiyanti, mengutip perkataan Dewi. Korban pun mulai masuk perangkap kawanan penghipnotis ini. Terbukti, selang dua menit kemudian muncul dua pria lainnya naik mobil Toyota Avanza warna kuning.

DIAJAK KE RUMAH IBU GURU
Sugiyanti yang sudah 8 tahun mengajar di sekolah unggulan ini akhirnya terpengaruh bujuk rayu kawanan ini. Apalagi, sang sopir yang membawa Avanza mengaku kerja di Bank Mandiri. Di bawah pengaruh hipnotis, akhirnya Sugiyanti mengajak para pelaku ke rumahnya untuk mengambil buku tabungan.

Setelah itu, mereka pun menuju ke Bank DKI Cabang Panglima Polim dan mencairkan uang Rp10 juta. “Sisa saldo yang ada Rp4 juta. Saya benar-benar tidak sadar mau mengambil uang di tabungan itu. Padahal itu hasil jerih payah mengajar,” ungkapnya. Dari bank ini, Sugiyanti diturunkan di dekat Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).

Kanit Reskrim Polsek Kebayoran Baru, Ipda Dian Indra menyatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus yang menimpa Sugiyanti.

Empat Tukang Hipnotis Ditangkap Karena Mencuri Berlian Senilaii 1,2 Milyar

JAKARTA – Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat menangkap empat laki-laki yang diduga menggelapkan perhiasan berlian senilai lebih dari Rp 1,2 miliar, Jumat (16/5). Perhiasan berlian tersebut diambil dari pemiliknya, pedagang berlian Jannes Warko Saputra, warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat, 9 April 2008.

”Dari hasil penyelidikan selama lebih dari satu bulan, keberadaan para pelaku akhirnya dapat dilacak. Dua pelaku ditangkap hari Kamis (15/5) di Bandung. Menyusul sehari setelahnya, dua tersangka lain ditangkap di Bekasi,” kata Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Heru Winarko, Jumat.

Keempat tersangka adalah Ruddy Soenarto alias Wibowo Setiawan (38), Usman Tanjung alias Galing (41), Iwan Ardiansyah alias Asbarudin (44), dan Bambang Purwadi (49). Dalam pemeriksaan polisi, Usman mengatakan, Maret 2008 Asbarudin dan Ruddy Soenarto mulai menghubungi Jannes melalui telepon membicarakan kemungkinan berbisnis.

”Mereka kemudian bertemu di rumah korban, 5 April 2008. Ruddy memperkenalkan diri sebagai Wibowo. Jannes memperlihatkan sebagian koleksi cincin, kalung, dan anting berlian. Mereka mengambil foto perhiasan dengan alasan akan diperlihatkan kepada bos mereka,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Agustinus.

Selasa (8/4), Ruddy yang tinggal di Bandung berangkat ke Jakarta bersama Asbarudin. Mereka sepakat bertemu korban di Hotel Puri Mega, Jalan Pramuka Raya, Jakarta Pusat, Rabu (9/4). Korban juga diberi tahu, Bambang dan Usman, sesama makelar berlian, akan ikut hadir.

Rabu itu pukul 11.00, Ruddy dengan menggunakan KTP atas nama Wibowo menyewa kamar nomor 215 di Hotel Puri Mega. Ditemani Asbarudin di kamar tersebut, Ruddy menemui Jannes.

Saat mengobrol, tiba-tiba Usman mengetuk pintu dan mengabarkan, ”bos” peminat berlian menunggu di kamar sebelah.

”Kemungkinan mereka menghipnotis saya karena saya biarkan mereka membawa semua perhiasan berlian di kotak hitam dengan alasan akan diperlihatkan kepada bosnya. Mungkin hampir satu jam saya tenang saja di kamar. Tiba-tiba saya tersadar, panik, dan segera lapor polisi,” kata Jannes yang dihubungi melalui telepon.

Komisaris Agustinus mengatakan, para pelaku ditangkap di rumah masing-masing. Namun, hingga Jumat kemarin, baru sekitar separuh dari semua koleksi perhiasan berlian milik Jannes yang berhasil didapatkan kembali.

”Mungkin sudah dijual lagi. Kami masih terus menyelidiki. Untuk sementara, mereka ditahan karena melanggar Pasal 378 dan 372 KUHP, yaitu tentang penipuan. Ancaman hukuman di atas lima tahun,” kata Agustinus