Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘internet’

Karena Merayu ABG Di Internet, Pria Paruh Baya Di Jerman Dihukum Penjara dan Bertambah Berat Karena Sang Pria Suka Menghabiskan Waktu Di Internet dan Bukan Dunia Nyata

Desember 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang pria Jerman usia paruh baya yang berhubungan dengan seorang remaja putri 14 tahun lewat chatroom Internet dan membujuknya agar lari dari rumah, diganjar hukuman penjara 21 bulan, Senin, atas tuduhan melakukan penculikan.

Di Internet, pria pengangguran berusia 53 tahun itu berpura-pura menjadi pemuda ganteng.

Namun demikian, ketika ia tiba pada April lalu untuk menjemput remaja bau kencur itu dengan mobilnya,  remaja itu baru menyadari kekeliruannya. Ia ternyata lebih tua daripada ayahnya, kata pengadilan di Konstanz, Jerman baratdaya.

Ia membujuk remaja putri itu untuk berkunjung ke kota asalnya, sekitar lima jam perjalanan.

Pengadilan menarik tuduhan melakukan perkosaan, dengan menyatakan tak ada bukti yang cukup untuk menjerat pria tua-tua keladi itu dengan pasal perkosaan.

Ayah empat anak yang telah bercerai itu mengobrol di lokamaya dengan gadis itu selama dua bulan, dengan mengaku jatuh cinta kepada remaja itu dan mendorongnya agar memberontak terhadap oprang tuanya serta lari dari rumahnya dekat Moenchengladbach, Jerman barat.

Hakim Joachim Weimer menolak permohonan pembebasan dengan jaminan, dengan alasan mantan buruh pabrik tersebut tak memperlihatkan perasaan menyesal dan tak berusaha mencari pekerjaan dan hanya menghabiskan waktunya berselancar di Internet.

“Kamu kurang peduli dengan dunia nyata,” kata hakim, seperti dikutip DPA.

“Alasan utama kamu ngobrol di Internet adalah menjerat gadis-gadis muda untuk diajak tidur. Hal yang paling kamu inginkan dari gadis ini adalah seks.

Kategori: internet · paedofilia

Puluhan Pengguna Internet Penyuka Pornografi Anak-Anak Digerebek

Desember 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Polisi Spanyol pada hari Senin mengatakan  telah menangkap 34 orang di seantero negara itu atas tuduhan memiliki, mendistribusikan dan menjual berbagai gambar pornografi anak-anak di Internet.

Polisi melakukan pencarian di lebih dari 20 provinsi, menyita 88 perangkat keras, dan lebih dari empat juta file pornografi anak, termasuk gambar dan video para korban pelecehan seksual.Polisi Jerman dan Inggris juga berpartisipasi dalam pencarian tersebut.

Lebih dari 400 orang telah ditangkap pada tahun ini atas tuduhan pornografi anak.Penyelidikan dipusatkan pada orang-orang yang menggunakan kartu kredit untuk membeli dan mendistribusikan gambar-gambar pornografi anak tersebut

Kategori: internet · paedofilia · pornografi · prostitusi

Akibat Krisis Ekonomi Global Makin Banyak Orang Tertipu Lewat Internet Atau Membantu Melakukan Pencucian Uang

Desember 14, 2008 · 2 Tanggapan

Memburuknya ekonomi global tampaknya menjadi kesempatan emas bagi para penipu di Internet untuk memperdaya orang membuka rumah mereka dan rekening bank serta menjadi “keledai” untuk mencuci uang hasil kejahatan dan mencuri berbagai barang.

Scam atau berita elektronik dalam Internet yang membohongi dan bersifat menipu bukanlah hal baru.

Scam dikirimkan dalam bentuk e-mail yang tak kita kehendaki kehadirannya, seperti tawaran “bekerja di rumah” yang menjanjikan uang sampingan yang lumayan besar, dengan membantu berbagai perusahaan membayar nasabah di mancanegara.

Para korban diminta membuka rekening bank atas namanya sendiri, sepakat menerima pembayaran yang tak diketahui berasal dari mana ke rekeningnya dan kemudian meneruskan pembayaran tersebut dengan cara mentransfer uang, biasanya ke lokasi di Eropa Timur.

Scam merupakan pencucian uang klasik dengan plintiran Internet. Uang tersebut umumnya ada, dan perantara dijanjikan mendapat bagian.

Apa yang tak diketahui perantara transaksi adalah mereka menyelundupkan uang yang diperoleh secara ilegal dan membantu para penjahat saling bertransaksi sambil menyamarkan sumbernya.

Dan si perantara lah atau “si keledai” itu sering menjadi orang yang paling berisiko untuk ditangkap pihak berwenang.

Iklan lowongan kerja

Para pengguna komputer yang cerdas biasanya mengidentifikasi ini sebagai scam. Namun demikian, para peneliti keamanan menyatakan banyak orang berani mengambil risiko pada berbagai tawaran itu, seiring dengan naiknya angka pengangguran dan meningkatnya jumlah email yang menjebak.

“Bila orang takut lapangan kerja melayang atau mereka cemas tentang kondisi keuangan untuk membayar rekening, mereka boleh jadi akan melihat hal-hal seperti ini ketimbang hal yang menyenangkan dan menambah semangat,” kata David Marcus, direktur riset keamanan dan komunikasi McAfee Inc. kepadakantor berita AP.

Iklan lowongan kerja menjadi lebih menarik dan meyakinkan, namun iklan itu kurang memberikan perincian, sehingga orang yang akan dipikat tentang mudahnya mencari uang bisa mencurigai kelayakan iklan itu untuk  dipercaya.

Jenis pekerjaan yang ditawarkan dalam spam (email yang kedatangannya tak dikehendaki) biasanya meliputi “perwakilan penjualan internasional” atau manajer perkapalan”.

Menurut Panda Security, perusahaan penjual software Spanyol, menyatakan pesan-pesan yang berkaitan pekerjaan jumlahnya telah mencapai rekor pada Oktober lalu dan angka keberhasilan spam menjerat korban yang lugu ini dalam transaksi uang haram telah meningkat menjadi 1,8 persen pada bulan yang sama, dari 0,5 persen pada Agustus.

Serangan pada komputer pada umumnya telah melonjak dalam beberapa bulan belakangan ini.

IBM Corp menyatakan jumlah serangan setiap harinya yang dipergokinya atas berbagai server Web dan jaringan komputer meningkat 30 persen dalam empat bulan terakhir, menjadi 2,5 miliar upaya serangan di seluruh dunia.

“Jumlah tersebut sangat menakutkan,” kata kepala peneliti keamanan tim layanan keamanan X-Force dari IBM

Kategori: internet · kejahatan terorganisasi

Marcella Somasi Roy Suryo Karena Berhasil Mengangkat Kembali SMS dan Video Rekaman Penyiksaan Yang Telah Dihapus Marcella Dari Handphonenya

Desember 13, 2008 · 6 Tanggapan

Marcella Zalianty (MZ) melalui pengacaranya, Minola Sebayang, mensomasi pakar telematika Roy Suryo. Somasi ini buntut dari aksi Roy membeberkan bukti-bukti di handphone (HP) kepada publik.

“Kami menolak seluruh kesaksian Roy Suryo dan kami tunggu 3x 24 jam, kalau dia tidak meminta maaf saya kami akan mensomasinya. Roy itu bersengkongkol dengan Agung, karena tadi dia (Roy, red) bilang sama saya pas malam Idul Adha ketemu dengan pengacara Agung, Malik Bawazier,” cetus Minola, Jumat (12/12).

Minola meyesalkan Roy memberikan pernyataan di tengah penyelidikan. “Ini benar-benar dia mengabaikan azas praduga tak bersalah,” cetusnya.

Menganggapi somasi itu, Roy Suryo mengemukakan itu (somasi) bukti ketidaksiapan pihak MZ terhadap bukti-bukti yang ada. “Biarkan saja kalau mau disomasi. Itu hanya reaksi ketidak siapan saja terhadap perkembangan teknologi yang bisa mengangkat file-file yang sudah dihapus. Saya bicara sesuai fakta,” ujarnya kepada Pos Kota.

Dalam waktu 2 jam, Roy menemukan 8 foto adegan penyekapan pada 3 Desember mulai pukul 02:35 hingga pukul 02:54 WIB, dari ponsel N 70 dan SE K550i milik karyawan MZ, H dan R yang jelas-jelas itu terbukti bentuk penganiyaan yang dialami Agung Setiawan. Selain itu, dirinya menemukan rangkaian SMS yang dimulai dari MZ, AM dan para eksekutor Agung.

“Foto-foto tersebut tidak pantas diceritakan. Soal SMS-SMS tersebut sudah ada 2 hari sebelum kejadian, bahkan setelah kejadian pun ada. Yang paling mencengangkan ada SMS dari MZ yang berbunyi ‘Bego kenapa Agung dikasih HP’. Untuk membuktikan semua ini perlu ahli bahasa,” ungkapnya.

BELUM DIPINDAH
Secara terpisah, Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Pol Ike Edwin mengatakan dari hasil penyidikan, telah mendapatkan bukti kuat berupa hasil foto HP yang telah dihapus tersangka. “Iya, sudah dibuka isi filenya dan bukti itu dapat dijadikan dalam penyidikan nantinya.”

Dia juga mengemukakan pemeriksaan terhadap Marcella belum tuntas. Karena itu, pihaknya belum dapat memindahkan Marcella ke Rutan Pondok Bambu. Bintang sinetron ‘Belahan Jiwa’ tersebut bersama Ananda Mikola masih berada di lantai 2 Reskrim Polres Jakarta Pusat.

Di tempat berbeda, adik Marcella, Olivia Zalianty, menemui Menpora Adyaksa Dault. Olivia menegaskan pertemuan itu bukan dimaksudkan untuk meminta dukungan menpora kepada Marcella.

Kategori: internet · kebodohan · kejahatan terorganisasi · pelanggaran HAM · penculikan · penganiayaan · selebriti psikopat

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

November 12, 2008 · 1 Tanggapan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Kisah Seorang Suami Yang Menjual Istri Sendiri Di Internet

November 6, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang pria Romania menjual istrinya lewat suatu situs web yang mengkhususkan diri dalam jual-beli mobil bekas.

Sebagaimana diberitakan Annanova, Alex Cretu (20) melelang istrinya dengan harapan laku 4 juta euro, tapi kini penawarannya sudah turun jadi tiga ribu euro.

Iklan di www.okazii.ro bertuliskan: Istri dijual. Buatan tahun 1983, kondisi bagus, full variasi, bagasi luas, tangan kedua.

“Harga nego, variasi ada yang berumur tiga maupun lima tahun. Hanya untuk yang serius.”

Alex mengaku iklan itu dia pasang karena bosan dengan istrinya yang berusia 25 tahun itu tukang mengomel. Iklan itu sekaligus untuk lelucon.

Dia mengatakan iklan itu dipasang diam-diam setelah istrinya mencari kerja ke Spanyol.

Beberapa penawaran sudah masuk, tapi belum ada yang cocok karena ditawar terlalu murah atau karena minta pembayaran diangsur.

Kategori: internet

Situs Resmi Kepolisian Indonesia Dibobol Oleh Hacker

November 1, 2008 · 3 Tanggapan

Situs resmi Kepolisian RI dibobol hacker. Meski tak mengubah total tampilan situs, si pembobol berhasil menyisipkan pesan di beberapa kanal sehingga tampilan situs terlihat lucu.

Di kanal “Tentang Polri”, si peretas mengganti logo Kepolisian dengan gambar siluet sekelompok anak muda dan dibubuhi tulisan “YOGYACARDERLINK” bersemboyan “we can do what you can’t do”.

Orang jahil ini juga berhasil mengganti foto di kanal “Daftar Pencarian Orang”. Di sini, tercantum montase foto Roy Suryo, pakar telematika yang sering membantu kepolisian mengidentifikasi hal-hal menyangkut teknologi informasi. Adapun di kanal “Regular News”, dia sukses menyisipkan dua pesan yang terekam pada pukul 22:40:42 kemarin dan pukul 01:15:22 dini hari ini, Sabtu (31/1).

Sampai pukul 05.30 pagi Sabtu ini, situs belum diperbaiki. Si pembobol memperingatkan situs ini gampang dijebol. “Bener gak secure kok Pak. Coba pakai Mysql V 4 saja biar rada susah kita masuknya,” tulis si pembobol

Kategori: internet

Pengusaha Ditangkap Karena Meng-Klik Iklan Online Saingannya Hingga Bangkrut

Oktober 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang pengusaha bunga di Seoul, Korea Selatan, Selasa (7/10), ditahan polisi atas tuduhan melakukan aksi ilegal yang menyebabkan sejumlah pengusaha bunga saingannya merugi. Jeong membuat saingan-saingannya rugi dengan berulang kali mengontak iklan internet mereka.

Atas ulahnya ini, saingan-saingan Jeong harus kehilangan anggaran mencapai 500 juta won atau sekitar Rp 3,5 miliar. Jaksa menegaskan, ulah Jeong ini telah melanggar UU yang mendorong jaringan komunikasi dan perlindungan informasi. Para pengusaha bunga ini membayar fee tertentu pada perusahaan penyedia jasa internet prabayar berdasarkan jumlah konsumen yang mengontak iklan mereka di internet.

Begitu biaya fee-nya sudah melebihi dana prabayar, maka iklan mereka akan hilang dari internet. Jeong diduga hanya sekilas membuka iklan saingan-saingannya agar fee mereka melambung melebihi batasan yang berakibat iklannya sirna. Akibat ulah Jeong ini, saingan bisnisnya tidak memperoleh pesanan apa pun dari iklan internet mereka.

Akibatnya, uang 600 juta won yang sudah mereka keluarkan untuk iklan prabayar di internet hilang percuma. Kini jaksa juga sedang mengorek informasi dari empat pengusaha bunga lainnya yang diduga bekerja sama dengan Jeong agar membuat saingan-saingan mereka rugi.

Kategori: internet · kebodohan · penipuan

Beredar Kembali Video Mesum Artis KDI Kontes Dangdut Indonesia Asal Tegal Lewat Ponsel Dan Dapat Didownload Di Rapidshare

Agustus 30, 2008 · 5 Tanggapan

Jajaran Polres Tegal memburu penyebar video mesum yang melibatkan peserta Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 5 berinisial IRA (20). Hal itu dilakukan untuk menindaklanjuti laporan warga Desa Mejasem, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal yang menjadi korban kasus video mesum tersebut.

Tercatat, hingga kini sebanyak empat orang saksi telah dimintai keterangan terkait dengan kasus video berdurasi sekitar 1 menit 22 detik tersebut. Mereka adalah kekasih korban Nryt (34), ayah korban BS dan dua orang kakak perempuan korban yakni VP dan SDR.

Kapolres Tegal AKBP Drs Agustin Hardiyanto SH MM MH melalui Kasat Reskrim AKP Rudi Hartono SIK mengungkapkan, kasus video mesum tersebut dilaporkan korban ke SPK Mapolres Tegal, Senin (18/8).

Korban saat itu melaporkan kekasihnya yang diduga menjadi penyebar video mesum bersama dirinya. Ia menjelaskan, adegan mesum tersebut dibuat pada tanggal 15 Agustus 2008, tepatnya di rumah Nyrt di Desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal. Sedangkan proses perekamannya menggunakan sebuah alat web cam.

Kemudian, adegan mesum tersebut ditransfer ke telepon seluler Sony Ericsson H320i milik Nyrt. Adegan itu menampilkan kedua sejoli telanjang bulat di ranjang. Terlihat korban mengelap tubuh kekasihnya dengan menggunakan sebuah kain berwarna putih. Sementara Nyrt terus menatap camera yang sedang menyorotnya.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan. Dari hasil pemeriksaan sementara, korban menolak apabila dianggap sebagai penyebar video mesum tersebut,” katanya didampingi Kanit I Reskrim Ipda Bayu Marwanto.

Menurut pengakuan IRA, kasus tersebut dilaporkan setelah ia mengetahui video mesum bersama kekasihnya menyebar luas. Pertama kali, ia melihat adegan mesum itu dari dua orang temannya di Desa Bogares Kidul, Kecamatan Pangkah. Karena merasa dilecehkan, IRA selanjutnya langsung melaporkan kekasihnya ke Mapolres Tegal.

Sedangkan, Nyrt mengaku tidak pernah menyebarluaskan adegan mesumnya bersama korban. Ia mengatakan, tidak mungkin apabila yang melakukan dirinya. Sebab, adegan itu membuatnya malu apabila tersebar luas ke masyarakat.

Video mesum yang diduga diperankan salah satu finalis Kontes Dangdut Indonesia (KDI) beredar di Kota Tegal, Jawa Tengah, baru-baru ini. Rekaman adegan layaknya suami istri itu berdurasi 1 menit 22 detik. Sang pemeran merupakan finalis KDI asal Tegal dengan inisial L. Rekaman beredar tak hanya melalui telepon seluler, tapi juga lewat internet. Menurut polisi, terkait beredarnya rekaman, artis lokal Tegal telah meminta agar kasus ini diusut tuntas, termasuk mencari dalang penyebaran video mesum. Sejauh ini tujuh saksi akan dimintai keterangan

Kategori: internet · perzinahan · pornografi