Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘kecelakaan’

Usai Kencan Biar Romantis, Mandi Bareng Disumur Diiringi Hujan Namun Sial Sang Wanita Malah Tewas Terjebur Kesumur Dalam Keadaan Telanjang Bulat

November 18, 2008 · 1 Tanggapan

Usai berkencan dengan supir taksi, janda Komala,38, warga Cilengkrang, Bandung, tewas masuk sumur di rumah pacarnya, Ado,43, di Cicukang Kidul Bandung, Minggu malam.

Mayat korban yang bugil itu diangkat warga sekira pukul 23.00 saat hujan deras. Hingga Senin kemarin supir taksi Ado,43, masih ditahan di Mapolresta Bandung Timur.

Ketua RW 8 Adi Mulyadi menjelaskan, peristiwa naas yang menimpa janda Komala berlangsung Minggu malam sekira pukul 21.00.

Saat hujan deras, kata dia, korban yang sudah lama menjalin cinta dengan supir taksi, mendatangi rumah pria itu. Setelah tiga jam berkencan dan memadu kasih, korban yang berada di rumah itu keluar bersama Ado dalam keadaan bugil tanpa busana untuk mandi bersama ditengah guyuran hujan dihalaman belakang yang terbuka, tiba-tiba Ado berteriak minta tolong karena Komala jatuh ke sumur saat saling membersihkan badan.

Petugas di Polresta Bandung Timur menjelaskan, korban tewas lantaran masuk ke sumur yang berkedalaman 14 meter. Saat dievakuasi terdapat luka serius pada kepala dan tubuh korban.

Kategori: kebodohan · kecelakaan · perzinahan

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

November 12, 2008 · 1 Tanggapan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Tujuh Puluh Persen Kecelakaan Lalu Lintas Akibat Sepeda Motor

Oktober 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sekitar 70 persen kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di jalan raya di Indonesia disebabkan oleh para pengendara sepeda motor, kata pakar transportasi, Djoko Setyowarno, Rabu.

Ia menyebutkan, sepanjang arus mudik dan balik Lebaran 2008, rata-rata per hari korban tewas tercatat 45 orang akibat laka lantas di jalan raya.

Sebagian besar korban tewas adalah pengendara sepeda motor. Jumlah korban tewas pada arus mudik dan balik Lebarabn itu meningkat drastis, sebab pada hari biasa korban tewas per hari sekitar 12 orang.

Melihat kenyataan itu, katanya, pemerintah harus lebih fokus untuk mengoperasikan moda transportasi massal, seperti kereta api (KA) dan bus-bus besar.

“Pengoperasian angkutan massal ini harus dijadikan program nasional,” katanya dosen Fakultas Teknik Unika Soegijapranata Semarang itu.

Ia menambahkan, pemerintah sebaiknya mulai mengurangi penggunaan sepeda motor sebagai moda angkutan mudik dan balik Lebaran atau saat libur panjang lainnya.

Sebab, menurut dia, pemudik yang menggunakan sepeda motor sebagai alat angkutan transportasi sangat riskan terhadap lakalantas.

Di negara-negara produsen sepeda motor, seperti Cina dan Jepang, katanya, penggunaan sepeda motor justru dibatasi.

“Tidak semua jalan raya di Cina dan Jepang boleh dilalui sepeda motor. Di sana (negara produsen sepeda motor) tidak semua jalan boleh dilalui sepeda motor karena negara tersebut tahu dan menyadari bahwa sepeda motor sangat rawan laka lantas,” katanya menjelaskan.

Untuk itu, sebaiknya Indonesia mulai melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh negara produsen sepeda motor itu, katanya

Kategori: kecelakaan

Tunangan Tewas Dalam Kebakaran, Ranjang Pengantin dan Pelaminan Hanya Tinggal Mimpi

Oktober 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Impian indah Oman, 25, mempersunting gadis pujaannya kandas. Rencana bersanding di pelaminan sebulan lagi kini tinggal kenangan. Sang kekasih, Ratna Zulaika yang akrab disapa Ika, 22, harus menghadap Yang Maha Kuasa lantaran kebakaran di tempatnya bekerja.

Gadis asal Madiun, Jatim, itu tewas bersama tujuh karyawati lainnya dan seorang teknisi akibat terjebak di dalam gudang yang terbakar. Air mata tak kuasa dibendung oleh Oman saat melihat tubuh sang gadis melepuh terbujur kaku di kamar mayat RSUD Tangerang. Kematian wanita yang baru dua bulan menjadi kekasihnya itu membuat hatinya luka dan pilu.

“Sebulan lagi kami akan menikah di Madiun,” ucap Oman yang tampat amat terpukul. Pemuda asal Medan ini tak lagi mampu berucap, ia terus menundukkan wajah sambil menyeka air mata.

Oman kenal dengan Ika sebulan sebelum puasa, tak lama setelah mereka resmi berpacaran. Pemuda yang bekerja di Bekasi ini tak mau berlama-lama pacaran, dia mengutaraka niatnya untuk segera menikahi putri ketiga dari pasangan Suwito dan Sunarsih tersebut. Namun maut memisahkan mereka, Oman harus merelakan kepergian gasi Madiun itu untuk selamanya.

Sehari sebelum musibah datang, Ika cerita kepada keluarganya bercerita tentang mimpi naik mobil bersama rekan-rekan sekerjanya. “Dia mimpi mobil yang dinaikinya itu terbakar. Saya sempat tidak enak dan melarang dia pergi bekerja,” kata Yoga, kakak Ika.

Namun, Ika yang rajin bekerja itu tak menghiraukan saran kakaknya tersebut, dan ika tetap berangkat kerja dengan mengendarai sendiri motor bebek milik Yoga. “Ternyata mimpi itu pertanda buruk.”

Jasad Ika dimakamkan di kampung halamannya. Oman ikut mengantar jenazah kekasihnya itu ke kampung halamannya di Desa Demangan jalan Raya Ponorogo Jawa Timur.

KAKAK BERADIK
Duka mendalam juga dirasakan keluarga besar Meiling, 31, dan Tasya, 27, dua kakak beradik yang ikut tewas dalam peristiwa kebakaran hebat di PT. Surya Sejahtera Metalindo Lestari. Keluarganya terpukul lantaran kehilangan sekaligus dua nyawa.

“Mereka orangnya baik dan penuh perhatian kepada saudara yang lain. Bahkan beberapa hari sebelum meninggal Tasya berjanji akan membantu membiayai pernikahan kami bulan November nanti,” cerita Agus, 30, adik ipar Tasya di Rumah Duka Atmajaya, Pluit, Penjaringan.

Seperti diberitakan, peristiwa kebakaran gudang di Tangerang pada Jumat (10/10) mengakibatkan 8 orang tewas 7 diantaranya wanita yakni Ratna Zulaika,22, Mery,20, Tasya,28, Mei Ling,30, Mala,22, Lisye,25, Endang.22. Korban lainnya seorang lelaki tehnisi mesin Supriyono,26.

Dari hasil penyelidikan sementara tim Puslabfor Mabes Polri diduga kebakaran dipicu percikan api las di ruang gudang yang tengah direnovasi.

Kapolres Kabupaten Tangerang AKBP Agus Andreanto mengatakan pihaknya sedang memeriksa 8 saksi termasuk direktur utama dan direktur gudang baja bernama Warjono dan Wirianto. Gudang berlantai 2 itu tertutup rapat dan tak dilengkapi dengan pintu darurat “Seharusnya gudang itu ada pintu daruratnya sehingga bila terjadi kebakaran atau bahaya lainnya karyawan bisa untuk menyelamatan diri,” jelasnya

Kategori: kecelakaan

Dalam Sehari Terjadi Dua Kebakaran Di Jakarta Pusat – Jalan Kartini Sawah Besar dan Pejambon Gambir

Oktober 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dua peristiwa kebakaran terjadi di Jakarta Pusat, Sabtu (11/10). Kebakaran pertama terjadi di Jalan Kartini, Sawah Besar, sekitar pukul 09.00. Pada kebakaran itu, sebanyak 25 rumah di permukiman padat ludes.

Sementara itu, kebakaran kedua terjadi di Jalan Pejambon, Gambir, Jakarta Pusat, sekitar pukul 14.50. Dari kedua kebakaran itu tidak ada korban jiwa.

Menurut Muis, seorang warga, kebakaran di Sawah Besar terjadi akibat ledakan kompor gas dari rumah Oneng, warga RT 02 RW 09. ”Ada anak yang main korek api dekat kompor gas. Entah bagaimana, api itu tahu-tahu membesar,” kata Muis yang tubuhnya basah kuyup ikut membantu memadamkan kebakaran itu.

Fudholy AR, Sekretaris Kelurahan Kartini, mengaku, kebakaran ini merupakan yang kedua kalinya terjadi di Kelurahan Kartini dalam minggu ini. Yang pertama terjadi di Gang Fajar VIII RT 13 RW 05, Kamis (9/10). Jika ditotal secara keseluruhan dengan kejadian sebelumnya, jumlah warga yang mengungsi sebanyak 249 orang atau 55 keluarga, sementara 39 bangunan luluh lantak, 10 di antaranya rusak berat. ”Kebakaran ini hendaknya dapat menjadi pelajaran berharga bagi warga. Terlebih permukiman padat seperti di Kelurahan Kartini ini,” ujarnya.

Kepala Suku Dinas Kebakaran Jakarta Pusat Susilo Budhi mengatakan, kebakaran ini bisa dipadamkan dengan mengerahkan 16 mobil pemadam kebakaran.

Sementara di Jalan Pejambon, dua rumah milik Samuel dan Robert hangus terbakar. Diduga hal itu disebabkan oleh hubungan pendek arus listrik.

Kepala Polres Jakarta Pusat Komisaris Besar Ike Edwin mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kebakaran ini. ”Kami belum tahu apakah dari puntung rokok, listrik, atau lainnya. Kami masih menyelidikinya,” ujar Ike

Kategori: kecelakaan

Karyawati Tewas Dilindas Busway Karena Masuk Jalur Transjakarta Sambil Ngebut

Juni 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

JAKARTA  – Sepasang kekasih boncengan sepeda motor diseruduk bus Transjakarta di jalur busway Jalan Sultan Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (13/6) pagi.

Akibat tabrakan itu, Sri Wahyuningsih, 21, terpental dari motor yang dikendarai Medy, 23, kekasihnya. Wanita yang bekerja sebagai operator mesin fotokopi di kantor KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ini pun tewas seketika.

Peristiwa naas menimpa kedua sejoli ini ketika mereka hendak menuju ke tempat kerja di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Merasa takut telat, Medy memutuskan untuk masuk ke jalur busway. Ia rupanya tak menyadari jika di belakangnya meluncur bus trans Jakarta.

Lelaki asal Tegal, Jawa Tengah, ini sempat membuang kemudi dan menabrak separator jalan. Medy kemudian terseret bersama motor Yamaha Vega-R, sedangkan Sri Wahyuningsih tewas terlindas bus Transjakarta B 7514 IX.

“Saya tidak melihat ada Trans Jakarta di kaca spion kanan motor saya karena saya sedang buru-buru dan ngebut, klakson juga tak terdengar, pikiran saya waktu itu hanya bagaimana supaya cepat sampai,” ujar Medy saat ditemui di RSCM mendampingi jenazah kekasihnya.

TAK ADA FIRASAT
Medy mengaku telah memadu kasih selama lebih dari satu tahun bersama Sri. Ia menyatakan tidak memiliki firasat apa-apa pada malam hari sebelumnya. Namun, dijelaskan Medy, kekasihnya yang tinggal satu mess di Jalan Tubagus Angke, Kec. Jelambar, Jakarta Barat, itu memang terlihat murung dalam beberapa hari belakangan.

Sejumlah rekan korban berharap kasus ini bisa diselesaikan secara adil. “Memang korban masuk jalur busway secara mendadak dan dengan kecepatan tinggi, tapi seharusnya sopir bus itu bisa mengklakson atau mengerem kendaraannya walaupun jarak tinggal beberapa senti,” ujar teman-teman korban di rumah sakit.

Ketika ditanya apakah mereka mengetahui bahwa masuk ke jalur busway adalah pelanggaran, teman-teman korban serempak menjawab mereka tidak peduli apakah itu melanggar hukum atau tidak, entah perilaku teman mereka itu membahayakan orang lain entah tidak.

Diantar teman dan kekasihnya, jenazah korban dibawa ke kampung halamannya di Ngawi, Jawa Timur, untuk dikebumikan.

Kategori: bunuh diri · kebodohan · kecelakaan

Sekeluarga Mengalami Luka Bakar Akibat Disambar Petir

Juni 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

SERANG – Angin puting beliung disertai hujan es, Selasa (3/6) sore, menerjang 2 desa di Kecamatan Pamarayan, Serang, Banten.

Dalam musibah bencana alam itu, seorang warga tewas tertimpa pohon Rambutan. Selain itu, sejumlah warga juga menderita luka-luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Sedangkan di Lebak, sekeluarga sedang nonton televisi, terkapar disambar petir. Korban yang mengalami musibah ini seorang ibu dan empat anaknya. Tubuh mereka menderita luka bakar.

Tercatat sepuluh rumah roboh serta ratusan rumah lainnya mengalami kerusakan. Sebagian besar rumah mengalami kerusakan pada bagian atap akibat tertiup angin atau tertimpa pohon.

Korban tewas Kamsin, 60, warga Kampung Rumbut, tertimpa pohon rambutan saat akan memasukan kerbau ke dalam kandang. Kerugian akibat bencana alam itu diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Korban ditampung di balai desa serta rumah tetangganya yang selamat.

Puting beliung itu menerjang Kampung Pasir Sela, Rumbut dan Kampung Cibogo, Desa Kebon Cau dan Kampung Kopeng, Desa Wirana, Kecamatan Pamarayan.

Sebelum angin menghepas rumah, kondisi langit di Desa Kebon Cau nampak gelap. Sesaat kemudian terjadi hujan deras disertai turunnya es.

Selain rumah, atap sebuah bangunan SD Wirana Pasir juga berhamburan. Begitu juga Ponpes Nurul Hikmah milik Ustad Karta ikut rusak.

Kapolsek Pamarayan, AKP Syahril Minda saat ditemui Pos Kota di lokasi bencana, Rabu (4/6), mengatakan, pihaknya sampai saat ini masih menginventarisir kerugian akibat bencana alam tersebut.

SEDANG NONTON TV
Sedangkan di Lebak, sekeluarga sedang nonton televisi disambar petir. Peristiwa mengenaskan ini terjadi di Kampung Parakan, Desa Nameng, Kecamatan Rangkasbitung, Selasa (3/6) pukul 18.00.

Meski tak merenggut korban jiwa, namun ibu bersama 4 anaknya mengalami luka bakar di tubuhnya akibat sambaran geledek.

Korban luka Nurhayati, 40, serta 4 putra-putrinya Mariam, 16, Tedi, 9, Holipah, 8, dan Nurhasanah, 5. Para korban menderita luka bakar pada bagian kaki dan tangan. Saat ini masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas Rangkasbitung.

Di tempat terpisah, musibah serupa juga dialami seorang ibu rumahtangga Nurlela, 26, warga Kampung Kukulu, Desa Kolelet Wetan, Rangkasbitung.

Kepala Desa Nameng, Rudi, mengatakan kejadian naas yang menimpa satu keluarga di desanya tersebut, terjadi saat para korban sedang menyaksikan acara televisi di rumahnya.

KANTOR BUPATI
Hasil pengecekan kerusakan Kantor Bupati Tangerang berlantai IV di Tigaraksa yang diterpa hujan-angin keras kemarin, tidak sampai pada konstruksi bangunan.

Kesimpulan ini didapat setelah Bupati Tangerang H. Ismet Iskandar bersama Kepala Bagain Umum Pemkab Tangerang meninjau kerusakan, Rabu (4/6) pagi.

“Kerusakan yang terjadi semuanya disebabkan kerasnya terpaan angin,” jelas H. Zaenal Arifien, Kabag Humas Pemkab Tangerang.
Bupati pun, kata dia, segera memerintahkan agar ruang-ruang yang rusak secepatnya diperbaiki, “Tadi pun sejumlah tukang sudah mengukur-ukur sejumlah ruang yang rusak untuk diperbaiki.”

Kategori: kecelakaan