Arsip Kategori: kejahatan anak

Geng Wools dan Teror 58 Spesialis Mengincar Pelajar Untuk Dipukuli Setiap Hari Berantem Di Johar Baru

Geng Wools, kelompok pemuda yang dipimpin tersangka berinisial LH, 16 tahun, sering bikin onar. Terakhir, geng ini membacok dua remaja pada Kamis dan Sabtu, 21 April 2012 lalu. LH ditangkap polisi pada 22 April.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, mengatakan kelompok itu sering tawuran. “Hampir setiap hari mereka bikin ribut di daerah Johar Baru, Kemayoran, dan Cempaka Putih,” kata Gozali saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, anggota geng Wools berjumlah 17 sampai 19 orang. Mereka memiliki ciri-ciri, yakni memakai jaket berwarna biru dengan tulisan “We Are The Wools Big Family”.

Geng ini mengincar pelajar yang mengenakan seragam sekolah. “Tidak ada target tertentu. Pokoknya, kalau ada anak sekolah yang bergerombol atau agak ngebut, pasti diserang,” kata Gozali.

Pengakuan LH kepada penyidik, geng Wools sudah eksis sejak dua tahun lalu. Tapi, kata Gozali, kasus pembacokan secara tiba-tiba seperti yang menimpa Dwiki Hendra Saputra, siswa SMP Negeri 216 Jakarta, 21 April 2012, baru pertama terjadi. “Sebelumnya mereka sering tawuran. Kalau itu, kami sudah antisipasi dengan berjaga di lapangan,” kata Gozali.

LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai sepeda motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, saya bacok saja mereka,” kata LH, 22 April 2012. LH juga membacok Rusydan Fathy, siswa MAN 3 Jakarta, Kamis, 19 April 2012.

Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng ini, yakni LH, 16 tahun; RP (16); dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Salemba Jakarta. Di sana ada tempat untuk anak. Di sini kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Geng Wools, yang tiga anggotanya kini ditahan Kepolisian Sektor Metro Cempaka Putih, ternyata masih bersaudara dengan geng Teror 58. Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, menyatakan ada beberapa anggota Wools yang merangkap sebagai anggota Teror 58. “Ketua gengnya pun sama, LH,” kata dia saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, dalam melakukan aksinya, kedua geng itu sama-sama mengincar pelajar. “SMP, SMA, SMK, tidak ada sasaran dari sekolah tertentu,” kata Gozali menceritakan hasil pemeriksaan LH yang ditengarai sebagai Ketua Geng Wools maupun Teror 58. Perbedaannya, geng Teror 58 mengincar siswa-siswa berseragam yang menumpang Kopaja 58. “Makanya, namanya Teror 58,” ujar Gozali.

Polisi belum mengetahui jumlah anggota Teror 58. Hanya, ada beberapa anggota geng itu yang juga tergabung dalam geng Wools. Tempat nongkrong mereka pun sama, yakni di warung Wools di Jalan Cempaka Tengah IV, Jakarta Pusat. Adapun jumlah anggota geng Wools berkisar antara 17 sampai 19 orang.

Geng yang sering berkumpul di warung itu, menurut Gozali, memang kerap tawuran di daerah Johar Baru, Kemayoran, atau Cempaka Putih. “Mereka sudah ada sejak dua tahun lalu,” katanya.

Sabtu pekan lalu, LH membacok Dwiki, seorang siswa SMP Negeri 216, Jakarta Pusat. LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, jadi saya bacok,” kata LH saat ditemui Ahad, 22 April.

Saat ini Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng, yakni LH, 16 tahun, RP (16), dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lapas Salemba yang ada tempat untuk anak. Di sini, kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Punya Hobi Videokan Para Siswi Yang Lagi Mandi Telanjang Seorang Siswa Ditangkap Polisi

Seorang siswa di sekolah menengah elit terpaksa berurusan dengan hukum. Semuanya berawal dari hobinya memvideokan para siswi di sekolah itu yang sedang mandi dan disimpan sebagai koleksinya di komputer.

Siswa usia 16 tahun itu bersekolah di Charterhouse School, salah satu sekolah bergengsi dan mahal biayanya di Inggris Raya. Per tahun, pelajar yang sekolah di sana harus membayar 30 ribu poundsterling atau di kisaran Rp 430 juta.

Belum jelas apakah video porno yang direkam sang siswa itu sudah disebarkan ke internet atau media lainnya. Namun polisi setempat langsung tanggap karena perbuatan itu dinilai sebagai kasus pornografi anak di mana korbannya masih di bawah umur.

Tersangka yang tidak disebutkan namanya karena alasan hukum telah ditangkap dan diwawancarai polisi sebagai bagian dari investigasi. Ia dibebaskan sementara dengan uang jaminan. Pihak sekolah pun mengakui ada siswanya yang ditangkap.

“Charterhouse bisa mengkonfirmasi bahwa seorang siswa telah ditanyai oleh polisi tentang material yang ditemukan di komputernya,” kata juru bicara sekolah, seperti dilansir DailyMail Senin (26/3/2012).

Tidak dijelaskan bagaimana pelaku bisa merekam temannya yang sedang mandi. Kemungkinan, dia menempatkan kamera video tersembunyi.

Jika terbukti, kasus ini bisa mempermalukan nama sekolah itu, yang punya alumni terkenal seperti Baden Powell yang adalah pendiri kepramukaan. Namun memang pornografi anak dipandang sebagai kejahatan serius di Inggris. Pembuat dan pemirsa tontonan pornografi anak biasanya mendapat hukuman cukup berat.

Siswa Kelas 6 SD Di Lumajang Yang Menghamili Siswi SMP Sudah Ditangkap Polisi

DAMPAK pornografi terhadap dunia anak telah menapaki titik paling buruk di Jawa Timur. Seorang siswa kelas 6 sekolah dasar (SD) di Lumajang, ditangkap polisi karena dituduh menghamili temannya setelah terpengaruh video porno.

Satu lagi dampak buruk tayangan film porno melalui VCD yang bisa diperoleh dengan bebas di pasaran merusak moral generasi bangsa ini. Mirisnya, kejadian ini menimpa seorang bocah ingusan yang masih duduk di bangku kelas 6 SD di Dusun Sukosari, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.

Bocah berinisial WY (12) itu melakukan seks bebas dengan anak gadis tetangganya, EK, yang berusia tiga tahun di atasnya atau 15 tahun hingga hamil enam bulan. Perbuatan buruk WY ini sebagai dampak buruk dari kegemarannya menonton VCD porno di rumah salah seorang temannya.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, kediaman WY dan EK hanya berjarak beberapa meter. EK sendiri selama ini tak sekolah karena menderita keterbelakangan mental alias idiot.

Kasus ini terungkap setelah orangtua EK melihat adanya perubahan fisik pada diri putrinya. Karena curiga, mereka memeriksakan anak gadis itu ke seorang bidan. Hasil pemeriksaan, EK positif hamil. Itulah yang menggegerkan kedua orangtuanya.

Apalagi, mereka mendapatkan pengakuan bahwa orang yang menghamili EK tak lain adalah WY yang masih tetangganya. Atas keterangan ini, akhirnya orangtua EK melaporkan perbuatan pelajar SD itu ke Mapolsek Candipuro, Selasa (8/2) siang.

Menyusul laporan itu, petugas langsung menjemput WY di rumahnya saat bocah itu baru pulang dari sekolah. Lantaran kasus ini melibatkan korban dan pelaku yang masih di bawah umur, aparat Polsek Candipuro melimpahkannya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polres Lumajang.

Guna mengungkap kasus ini, petugas memboyong WY dan EK didampingi orangtua masing-masing serta perangkat Desa Sumberwuluh ke Mapolres Lumajang untuk menjalani proses hukum. Dalam pemeriksaan terungkap juga bahwa WY telah melakukan perbuatan itu cukup lama alias sudah berkali-kali.

Kepada petugas, pelajar itu mengaku bahwa dia melakukan perbuatan tersebut bersama korban pertama kali sebelum Lebaran 2010. Tindakan itu dia lakukan lantaran terdorong nafsu setelah sering melihat tayangan film porno melalui VCD di rumah temannya.

“Saya sering melihat film porno di rumah teman saya berinisial RC. Saya melihat film porno melalui VCD yang diberi seseorang kenalan,” kata WY blak-blakan.

Yang mengejutkan lagi, di usianya yang masih anak-anak itu, WY tak hanya melakukan seks bebas, tapi sudah terbiasa dengan minuman keras dan obat-obatan berbahaya. Bocah ingusan ini mengaku sering menenggak pil koplo dan mabuk-mabukan bersama teman-temannya.

Ketagihan

Dia mengaku, setelah menonton film porno, rasa ingin melakukan sendiri begitu dahsyat. Makanya, dia mendatangi EK. Secara kebetulan pula, saat itu kediaman EK sedang kosong. Dia lantas mengajak korban masuk kamar, lalu menyetubuhinya. Perbuatan itu leluasa dilakukan tersangka karena orangtua korban sedang tidak berada di rumah.

“Perbuatan itu awalnya memang ada pemaksaan. Sampai-sampai WY melakukan pemaksaan dengan merobek celana dalam EK,” kata Kapolsek Candipuro Ajun Komisaris H Sutopo.

Perbuatan pertama itu tak terendus, karena WY mewanti-wanti agar EK tak melaporkannya kepada siapa pun. Pengalaman pertama itu membuat WY ketagihan, sehingga terus mengulang perbuatannya. Dan, terakhir kali pekan lalu sebelum perbuatan itu terbongkar.

“Meski korban diketahui hamil, WY masih terus melakukan hubungan intim dengan EK di rumahnya. Sampai akhirnya, perbuatannya terbongkar berkat kecurigaan orangtua EK,” ujar Kapolsek.

Menurut Kapolsek, karena perbuatan ini melibatkan anak di bawah umur, pasal yang dikenakan adalah Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Namun, untuk proses penyidikan, ungkapnya, dilimpahkan ke Unit PPA Satuan Reskrim Polres Lumajang.

Hanya saja, lanjutnya, untuk melengkapi prosedur penyidikan pihaknya telah memintakan visum dari dokter yang menyatakan bahwa korban EK memang hamil 6 bulan. “Kami juga telah menyita VCD porno yang menjadi pemicu WY melakukan perbuatan itu untuk proses penyidikan lebih lanjut,” tambahnya.

67% siswa SD

Sementara itu, keterlibatan anak SD dalam mengakses atau menonton tayangan pornografi saat ini sudah dalam tahap memprihatinkan. Berdasarkan hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati, sejak tahun 2008 sampai 2010 muncul fakta bahwa 67 persen dari 2.818 siswa SD kelas IV, V, dan VI di wilayah Jabodetabek mengaku pernah mengakses informasi pornografi. Sekitar 24% mengaku melihat pornografi melalui media komik, 22% dari internet, 17% dari game, 12% dari film di televisi, dan 6% melalui telepon genggam.

Menurut Elly, pengurus Yayasan Kita, komik dan game perlu diwaspadai. Komik Naruto, game Counter Strike dan Point Blank, ujarnya, sangat digemari anak-anak. Belakangan ini, kata Elly, ada game baru bernama Rape Play (Permainan Perkosaan) yang bisa diunduh secara gratis dari internet.

Menurut dia, tontonan-tontonan itu telah menanamkan pornografi di benak anak-anak dan remaja. Makanya, belakangan ini banyak pertanyaan dari anak SD yang sudah berbau seks seperti halnya orang dewasa.

Menurut survei, lanjutnya, kebanyakan anak-anak (sekitar 48%) melihat pornografi justru di rumah. Dan, orangtua mereka tanpa sadar membayari biaya internet dan pulsa telepon genggam anak-anaknya.

Selain itu, yang juga perlu dikhawatirkan, imbuh Elly, saat ini kita belum mempunyai ahli pengobatan khusus pornografi. Padahal, sebagaimana dikatakan Randy Hyde, anak-anak yang mengalami kejadian ini harus segera dibantu. Pasalnya, bukan saja merusak mental sang pecandu pornografi, tapi bagian otaknya pun ikut terpengaruh. Jika kecanduan narkoba merusak tiga bagian otak, maka kecanduan pornografi bisa merusak lima bagian otak.

“Harus kita tangani secara serius sebelum terlambat. Jangan sampai menjadi fenomena gunung es,” kata Elly.

Sedangkan praktisi home schooling Seto Mulyadi mengatakan, orangtua harus intensif mendampingi anak untuk mengantisipasi dampak pemberitaan video seks. Komunikasi orangtua dan anak harus mengutamakan dialog.

“Orangtua harus mendengarkan pendapat anak tentang kasus itu. Jangan memberi ceramah panjang lebar,” katanya.

Orangtua diminta proaktif berdialog dengan anak terkait peredaran video seks itu. Namun, orangtua sebaiknya lebih banyak mendengarkan anak daripada menasehatinya.

“Yang harus dilakukan adalah dialog. Lalu, orangtua bisa mengkaitkan kasus itu dengan nilai-nilai moral maupun agama yang telah diajarkan,” katanya.

Menurut dia, penyebar video seks itu telah melakukan tindak kriminal dan harus diproses hukum. Pemberitaan dan penyebaran video itu mengancam perkembangan jiwa anak yang dalam proses imitasi atau meniru. “Penyebaran video itu membuat masyarakat goncang,” ujarnya

Video Kekerasan Cewek Bali Beredar Dimana Korban Yang Tidak Bisa Bayar Hutang Dipukuli, Digunduli dan Ditelanjangi

Sebuah video berisi kekerasan dan pelecehan ala geng nero beredar di Bali. Video berdurasi 5 menit 37 detik itu berisi seorang remaja perempuan yang dikerubuti beberapa teman wanitanya. Seorang diantaranya kemudian menempeleng remaja itu beberapa kali, seorang lainnya menjambak rambutnya dan akhirnya pakaian remaja itu digunting sehingga nyaris telanjang.

Video yang beredar lewat berbagai media sosial seperti Facebook dan Twitter serta Blackberry Messenger di Denpasar itu sudah diunggah ke situs Youtube. Pengunggahnya bernama Mandabrother dengan judul “Kekerasan Cewek Bali.”

Dari pembicaraan yang terekam dengan bahasa Indonesia campur Bali itu, terdengar seorang dari mereka menagih uang sebesar Rp200 ribu kepada korban dengan menggunakan bahasa Bali dan Indonesia. Setelah itu , sejumlah pukulan dilayangkan ke muka korban yang berbaju ungu dan cuma bisa menangis.

Lebih heboh lagi, pakaian korban kemudian digunting sehingga korban tampak hanya mengenakan celana dalam. Kekerasan berlanjut dimana rambut korban pun menjadi korban gunting.

“Masih untung rambut kamu yang dipotong, daripada nyawa kamu!” kata salah-satu pelaku. Kemudian korban didorong hingga tersungkur. Untungnya, saat itu ada seorang ibu yang memergoki mereka sehingga para pelalu langsung kabur dengan motornya.

Terkait dengan peristiwa itu, Kepolisian Daerah Bali masih mempelajarinya. Sementara ini dugaan kuat, persitiwa itu terjadi di wilayah Denpasar dengan melihat plat nomor yang digunakan pelaku yakni, DK 7993 CY dan DK 7904 CH. “Kami akan mendalami video ini,” kata Juru Bicara Polda Bali, Komisaris Besar Hariadi.

Video kekerasan serupa dulu pernah beredar di Pati dengan pelakunya para pelajar wanita pengecut (yang hanya berani main keroyokan sedang kalo lagi sendirian takut) sehingga menamakan dirinya geng Nero alias neko-neko (macam-macam) dikeroyok.

Gadis KA, remaja yang jadi korban dalam video kekerasan oleh kelompok geng motor di Bali menyebut, video kekerasan itu diunggah dan disebarkan kawan-kawannya dalam satu geng motor di jejaring sosial dengan tujuan mempermalukan dirinya. Namun ternyata, kemudian justru membuat kasus ini terungkap.

Menurut KA, aksi kekerasan berujung penganiayaan terhadap dirinya berlangsung Desember 2011 lalu. Para pengeroyoknya, adalah teman-teman KA sesama anggota geng motor “Cewek Macho Performance”. KA mengaku bergabung dalam kelompok itu sejak setahun sebelum dianiaya. ” Itu sudah lama kejadiannya, Desember lalu” kata KA yang ditemui di Denpasar, Selasa 7 Februari 2012.

Seperti diberitakan sebelumnya, video kekerasan remaja perempuan di Denpasar beredar luas di sejumlah situs dan facebook. Video berdurasi 5 menit 37 detik itu berisi kekerasan dan pelecehan ala geng nero terhadap seorang remaja putri yang belakangan diakui KA adalah dirinya.

Dalam video itu terlihat KA dikerubuti beberapa teman wanitanya. Seorang diantaranya kemudian menempeleng remaja itu beberapa kali, seorang lainnya menjambak rambutnya dan akhirnya pakaian remaja itu digunting sehingga nyaris telanjang. Video yang beredar lewat berbagai media sosial seperti Facebook dan Twitter serta Blackberry Messenger di Denpasar itu sudah diunggah ke situs Youtube. Pengunggahnya bernama Mandabrother dengan judul “Kekerasan Cewek Bali.”

Dari pembicaraan yang terekam dengan bahasa Indonesia campur Bali itu, terdengar seorang dari mereka menagih uang sebesar Rp200 ribu kepada korban dengan menggunakan bahasa Bali dan Indonesia. Setelah itu, sejumlah pukulan dilayangkan ke muka korban yang berbaju ungu dan cuma bisa menangis.

Lebih heboh lagi, pakaian korban kemudian digunting sehingga korban tampak hanya mengenakan celana dalam. Kekerasan berlanjut dimana rambut korban pun menjadi korban gunting. “Masih untung rambut kamu yang dipotong, daripada nyawa kamu!” kata salah-satu pelaku. Kemudian korban didorong hingga tersungkur. Untungnya, saat itu ada seorang ibu yang memergoki mereka sehingga para pelalu langsung kabur dengan motornya.

Video kekerasan serupa dulu pernah beredar di Pati dengan pelakunya pelajar wanita yang menamakan dirinya geng Nero alias neko-neko (macam-macam) dikeroyok. Kasus ini kini diselidiki Polisi.

Kapolresta Denpasar Komisaris Besar Pol I Wayan Sunartha masih mendalami kasus tersebut untuk memastikan terlebih dahulu lokasi kejadiannya. “Apakah kejadian ini benar atau tidak, kami sedang menunggu adanya laporan dari pihak yang mungkin dirugikan dari video tersebut,” katanya, Selasa 7 Februari 2012.

Johanes Brian Richo Tersangka Perampokan dan Pemerkosaan Angkot M26 Semakin Beringas Dalam Penjara

Johanes Brian Richo, 18 tahun, tersangka otak perampokan dan pemerkosaan terhadap Rs, 35 tahun, warga Sukmajaya, Depok, pada 14 Desember lalu, adalah mantan narapidana. “Johanes adalah mantan residivis tahun 2009 dengan kejahatan penggelapan,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Depok Komisaris Besar Mulyadi Kaharni di kantornya Senin 26 Desember 2011.

Menurut dia, seharusnya para mantan narapidana yang sudah dibina berubah menjadi baik ketika keluar penjara, tidak melakukan kejahatan lagi, dan siap diterima kembali di masyarakat. “Tapi kenyataannya tambah beringas,” kata Mulyadi.

Johanes, Mulyadi menambahkan, merekrut tersangka lainnya dan mengajak mereka berbuat jahat. Dalam menjalankan aksinya, Johanes menggunakan angkot M26 yang disewanya dari tangan ketiga. Jadi sang pemilik tidak tahu angkotnya digunakan untuk kejahatan. “Pemilik mobil tidak terkena pasal. Dia tidak sengaja menyewakan kendaraan untuk melakukan kejahatan. Memang seharusnya ia tidak menyewakan barang kepada yang tak dikenal.”

Keuntungan dari gonta-ganti sopir ini, ucap Mulyadi, hanya Rp 10 ribu. Mereka menggunakan sistem setoran per hari. Jika pemilik angkot mendapatkan setoran dari hasil kejahatan dan membagikannya, ia akan diproses pidana.

Selain Johanes, Polres Depok membekuk dua tersangka lainnya pada Jumat pekan lalu. Mereka adalah Deden Rosadi, 18 tahun, dan Aida, 19 tahun. Aida, mahasiswi sebuah universitas di Jakarta Timur, adalah pacar Johanes, yang dijemput sebelum mereka beraksi. Ia diduga menyaksikan pacarnya ketika memperkosa Rs. Polisi masih memburu tersangka MS, 19 tahun, pengemudi angkot itu.

Tiga tersangka dibekuk dalam 10 hari karena kehabisan ongkos. Uang Rp 500 ribu dan giwang milik Rs yang dirampok habis dalam perjalanan. Saat di Cirebon, Jawa Barat, mereka kehabisan ongkos untuk kabur.

“Uang hasil kejahatan itu untuk makan saja enggak cukup. Mereka juga minta sama tukang becak Rp 1.000, penangkapan kan pada hari kesembilan pelarian,” kata Mulyadi. Untuk kabur lebih jauh, mereka sudah kehabisan logistik.

Rs berharap tersangka yang merampok dan memperkosanya dihukum mati. “Keponakan saya meminta tersangka dihukum mati atau dipenjara seumur hidup,” kata Joy, 50 tahun, paman Rs, di Polres Depok, Ahad lalu. Keinginan itu disampaikan saat Rs diminta untuk mengenali tersangka dan membuat berita acara pemeriksaan (BAP) tambahan.

Menurut Joy, Rs dan keluarga belum puas jika tersangka hanya divonis 10 atau 15 tahun penjara. “Sekarang mungkin keponakan kami sedikit tenang dengan ditangkapnya ketiga tersangka. Tapi dia belum puas.”

Ketika polisi memperlihatkan foto Johanes, ibu dua anak itu langsung melepaskan napas panjang dan membenarkan bahwa Johanes yang telah memperkosanya. Korban tidak dipertemukan langsung dengan pelaku karena belum sanggup. “Tadi diperlihatkan fotonya, betul si Johanes itu yang perkosa keponakan saya,” kata Joy.

SIswi SMP Terpaksa Membayar Traktiran Semangkok Bakso Dengan Menyerahkan Keperawanannya

At (15), siswa kelas III di salah satu sekolah menengah pertama swasta di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, terpaksa harus berurusan dengan polisi. Penyebabnya, At nekat memerkosa DC (15), perempuan warga Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Kamis (17/2) malam, At, yang merupakan anak salah seorang berpunya di Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin, mengajak tetangga satu desanya, Yt (19), untuk makan bakso di Desa Gobang, juga di Rumpin. At lalu mengirimkan pesan singkat kepada DC yang baru seminggu dikenalnya.

Ia menawarkan ajakan yang sama kepada DC, gadis yang tak lagi melanjutkan sekolah seusai menamatkan sekolah dasar. Gayung bersambut, DC mau-mau saja ditraktir menyantap bakso oleh At.

Sekitar pukul 20.00, At dan Yt menjemput DC di rumahnya di Desa Rabak dengan menggunakan sepeda motor. Di rumah itu, DC tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya. Ibu kandung DC sudah meninggal dunia.

Mereka lalu berboncengan bertiga dengan satu sepeda motor. Setelah makan bakso, sekitar pukul 21.00, At dan Yt membawa DC ke Kampung Pengangkang, Desa Gobang, juga di daerah Rumpin. Di perkebunan karet itu mereka berhenti. Suasana di sekitar lokasi cukup sunyi dan sepi karena jalan yang membelah hutan karet itu tak banyak dilalui warga.

Lokasi itu pada akhir pekan kerap dijadikan lokasi berpacaran sejumlah muda-mudi. Ada beberapa gazebo yang kerap digunakan untuk tempat rehat bagi para penyadap karet di sekitar lokasi itu.

Di lokasi sepi itu At memaksa DC untuk diajak bersetubuh, tetapi gadis itu menolak ajakan tersebut. Penolakan itu tak diindahkan oleh At dan

meminta Yt untuk memegang tangan DC. Begitu gadis mungil ini tidak berdaya dalam pegangan Yt, seketika itu pula At melampiaskan hasrat seksualnya.

Setelah At selesai menyetubuhi DC, ia diduga sempat menawarkan kepada Yt untuk melakukan hal serupa. Namun, Yt menolak tawaran At karena merasa tak sampai hati memerkosa DC yang terus menangis.

Kedua pemuda ini kemudian mengantarkan DC pulang ke rumahnya. Tindakan At itu baru terungkap Sabtu (19/2) setelah DC menceritakan kejadian yang menimpanya kepada kakak perempuannya.

”Awalnya dia menangis terus dan menolak makan. Setelah ditanya baru akhirnya bercerita,” tutur Abet (40-an), paman korban, Minggu (20/2).

Dari pengakuan itu, keluarga lalu melapor ke Polsek Rumpin. Petugas lalu menangkap At dan Yt di rumah masing-masing pada Sabtu malam. Keluarga tengah berupaya memikirkan penyelesaian yang terbaik bagi masa depan DC.

Akibat kasus tersebut, konflik nyaris meluas menjadi konflik antarkampung. Pihak keluarga sudah ”panas” mendengar kejadian yang menimpa DC. Beruntung tokoh masyarakat sempat meredamnya.

Minggu siang, Kepala Desa Gobang M Harun, Kepala Desa Cidokom Asep Nuryana, serta keluarga korban dan pelaku bertemu untuk mendinginkan suasana.

Sementara itu, Kepala Polsek Rumpin Komisaris Nundun Radiaman mengatakan, setelah itu pihaknya pada Minggu kemarin melimpahkan kasus tersebut ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Bogor.

Korban di bawah umur

Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak pada Polres Bogor Ajun Komisaris Ari Trisnawati mengaku masih mendalami latar belakang penyebab At nekat memerkosa DC. Namun, dari kasus yang pernah ditangani Polres Bogor, salah satu pemicu adalah mudahnya anak-anak mengakses pornografi. Setelah menonton, mereka kesulitan untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga nekat memerkosa.

Sejak awal tahun 2011, kata dia, pihaknya sudah menangani lebih dari 10 kasus pemerkosaan dengan korban perempuan di bawah umur. Sebagian kecil dari kasus itu melibatkan pelaku di bawah umur, yakni kurang dari 18 tahun. Pelaku bisa dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

”Ada kecenderungan kasus kekerasan seksual terhadap anak meningkat, sedangkan kekerasan dalam rumah tangga agak turun pada awal tahun ini,” ujarnya.

Siti Maemunah, Ketua Forum Komunikasi Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Bogor, menuturkan, masalah akses tayangan pornografi memang bisa menjadi pemicu pelaku. Namun, lingkungan yang kini semakin permisif juga memberi andil terhadap kejadian itu.

Sementara dari sisi perempuan, gaya hidup kini membuat anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. ”Misalnya, ada ibu-ibu menonton sinetron dewasa, tetapi anak perempuannya yang masih kecil dibiarkan ikut menonton. Dia bisa terpengaruh menjadi dewasa sebelum waktunya,” ujar Maemunah.

Tukang Kebun dan Satpam Ramai Ramai Ngeseks Dengan Seorang Siswi SMPKarena Tiap Hari Ditantang Untuk Berhubungan Intim Oleh Siswi SMP Tersebut

Hatman (41), bapak dua anak yang jadi tukang kebun sebuah SMP negeri di Banjarmasin Barat, Kalimantan Selatan, menyetubuhi Bunga (14), bukan nama sebenarnya, siswi SMP negeri itu. Tragisnya lagi, perbuatan warga Banyiur Dalam, Banjarmasin itu dilakukan dua kali di pos satpam. Hatman pun dilaporkan orangtua Bunga ke Mapolresta Banjarmasin. Hatman sampia Senin (14/2) dikurung di Polresta Banjarmasin.

Petugas juga meringkus satpam SMP tersebut, Sam’ani (28). Pria ini diduga ikut menyetubuhi Bunga di pos Satpam sekitar Juli 2010 lalu.

Saat ditemui usai menjalani pemeriksaan, Hatman maupun Sam’ani mengakui telah menggauli Bunga di pos Satpam. Namun keduanya berkilah, perbuatan dilakukan lantaran sering diejek korban. “Dia (korban) yang mengajak. Pas kami tidak mau, malah diejeknya. Katanya kami tidak jantan,” kilah Sam’ani.

Warga Jafri Zamzam yang sudah memiliki satu anak itu merasa tertantang dengan ucapan korban. Apalagi, korban selalu mengajak dengan alasan tidak punya uang saku.

Begitu juga dengan Hatman. Dua kali menggauli korban, dia mengeluarkan uang Rp 100.000 sebagai imbalan telah melayani hasratnya. “Pas dia menunggu jemputan, kami gawe di pos Satpam. Tapi setelah itu kami memberi dia uang,” cetusnya.

Peristiwa itu terkuak lantaran korban yang saat ini duduk di bangku kelas dua hendak dikeluarkan pihak sekolah tanpa alasan jelas. Rencana tersebut membuat kaget seorang guru di SMP itu, hingga berusaha memberikan perlindungan dengan alasan korban merupakan siswi yang rajin. Namun, kabar itu akhirnya sampai ke telingan orangtua korban.

Sementara itu, Kasat reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Suhasto melalui Kanit Jatanras Aiptu Ganef Brigandono, mengatakan, kedua tersangka bekerja di sekolah, tempat korban menuntut ilmu.

Petugas juga bakal mendalami apakah ada unsur ancaman ataupun paksaan saat melakukan hubungan itu. Karena meski tidak ada, tetap menyalahi aturan karena bersetubuh dengan anak di bawah umur.

Siswi Pelajar SMP Diperkosa Sehari Semalam Oleh 9 Pemuda dan Hasilnya Direkam Pakai HP Untuk Kenang Kenangan

Siswi SMp Diperkosa Seharian dan Direkam HP

Siswi SMp Diperkosa Seharian dan Direkam HP

Seorang siswi kelas II SMP, sebut saja Mawar, warga Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi korban perlakukan tidak senonoh yang diduga dilakukan sembilan pemuda.

Para tersangka mencekoki korban dengan tuak dan pil dextro, lalu menggagahi korban sejak sore hingga keesokan paginya. Sebagian adegan tidak senonoh para tersangka juga direkam melalui video ponsel.

Polisi sudah mengamankan kelima tersangka, Taufik (18), Saefudin (17), Asep Saripudin (21), Rendi Bolu (18), dan Rizki (18). Mereka adalah warga Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis. Polisi juga masih melacak keberadaan empat tersangka lainnya, yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.

“Kami sudah mengamankan lima tersangka dan terus melakukan pengembangan, termasuk masih menunggu hasil visum puskesmas untuk mengetahui kondisi korban,” ujar Kapolsekta Ciawi, AKP Baharudin, Kamis (3/2) sore.

Menurut penyelidikan sementara polisi, kasus tersebut berawal dari perkenalan Mawar (14), dengan Taufik melalui SMS nyasar. Mereka kemudian janjian bertemu. Setelah bertemu satu kali, Taufik mengajak lagi bertemu hari Minggu (30/1) siang. Sesuai dengan janji, Mawar datang menemui Taufik.

Tersangka kemudian membawa korban ke daerah di Cihaurbeuti, dan mampir di sebuah tempat. Di situ sudah menunggu empat tersangka lainnya. Taufik lantas pergi sebentar dan kembali dengan membawa 2 liter tuak serta 170 butir pil dextro.

Taufik kemudian mengajak korban serta teman-temannya menuju sebuah tempat di Desa Cikadu, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Di situlah kelima pelaku menggelar pesta miras dan pil dextro. Mereka pun memaksa Mawar ikut minum tuak.

Melihat korban pingsan, para pelaku memperdayainya dan merekam adegan tak senonoh yang mereka lakukan. Saat hari menjelang sore para tersangka membawa Mawar kembali ke rumah pelaku bernama Markum di Cihaurbeuti. Di tempat itu sudah ada lagi empat pemuda berandal yang lagi-lagi melakukan perbuatan tidak senonoh hingga keesokan paginya.

Taufik akhirnya mengantar Mawar yang mulai sadar ke Ciawi dan meninggalkan begitu saja di sebuah tempat. Korban, yang berhasil pulang ke rumahnya, akhirnya mengadukan perbuatan para tersangka ke polisi.(tribunjabar/ce1)

Makin Banyak ABG Putri Memilih Jadi Pelacur Karena Ingin Hidup Enak dan Mewah Tanpa Kerja Keras

Tujuh remaja berumur 13-16 tahun di Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, masuk dalam jaringan prostitusi yang dimotori tetangga mereka, Dede. Dede menghubungkan remaja ini dengan pemesan. Kegiatan ini terbongkar polisi pekan lalu dan Dede dijadikan tersangka.

Di tempat tinggal mereka para remaja ini saling kenal dan merupakan teman bermain. Mereka akrab sejak awal karena sama-sama tumbuh di situ. Rumah mereka berada di dalam gang di samping pusat perbelanjaan Pasaraya Manggarai. Sebagian besar penduduknya adalah warga lama. Sebagian rumah ada yang dikontrakkan dan ada yang dijadikan rumah kos. Beberapa rumah kontrakan dihuni warga setempat yang semula menempati rumah orangtua mereka.

Jun, orangtua K, yang juga menjadi korban, mengaku tak tahu persis hal yang membuat anaknya masuk dalam lingkaran itu. Jun menduga putri pertamanya itu terseret dalam pergaulan yang mendewakan hidup enak dan nyaman tanpa harus kerja dengan teman-teman sebayanya di kampung tersebut.

Sebelum kasus ini terbongkar, Jun tidak mengetahui jaringan itu. Dari pengakuan anaknya, K baru satu kali terlibat dalam jaringan tersebut, sementara sosok Dede tidak terlalu dikenal. ”Saya tidak mengenal Dede karena dia baru empat bulan pindah ke rumah mertuanya di sini,” ujar Jun, Rabu (26/1/2011).

Di sekitar rumah, K dikenal sebagai remaja yang cantik. Oleh karena itu, sejumlah remaja pria tertarik dan kerap menggoda K.

Dari sisi finansial, Jun mengaku selama ini memberikan uang saku kepada K. ”Seluruh kebutuhan K juga saya bayari. Namanya juga anak sendiri,” kata Jun.

Hal senada disampaikan DD, yang juga orangtua korban Y. DD, yang tukang ojek, dan istrinya, yang membuka warung, saban hari memberikan uang saku Rp 30.000 untuk Y. Artinya, keuangan untuk sekedar jajan dan nonton film atau jalan jalan ke Mall bukan menjadi halangan bagi anak-anak ini karena mereka masih dibiayai oleh orangtua masing-masing.

Yuni, warga setempat, yang juga mempunyai putri kelas V SD, khawatir dengan kejadian itu. ”Lantaran ini kampung kecil, pergaulan anak-anak juga mencampur. Saya khawatir anak akan terpengaruh. Apalagi, kejadian seperti yang sudah terungkap itu tidak diketahui sebelumnya sampai ada penangkapan oleh polisi,” kata Yuni.

Terjunnya remaja ke dunia prostitusi bukan hanya di Manggarai. Ria (16) mengaku sekitar dua tahun terjun ke dunia pelacuran. ”Dibilang malu, ya malu ya nggak malu juga sih. Tapi, dari (melacur) itu saya dapat uang dan kenikmatan sekaligus. Bisa beli baju, sabun mandi yang wanginya enak, terus ngerasain tidur di hotel bagus juga dan bisa berteman dengan banyak orang kaya juga” kata Ria yang tinggal di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu.

Seperti remaja pada umumnya, Ria tampil modis, energik, dan ceria dengan celana jeans ketat model pensil, sepatu kanvas, dan baju kaus pas di badan. Ia berbicara ceplas-ceplos. Awalnya ada sedikit keraguan saat akan bercerita tentang hidupnya. Namun, semakin lama berbincang, dia semakin terbuka.

Ria resmi menjajakan diri sekitar umur 13 tahun. Bapak ibunya bercerai sejak ia masih kanak-kanak dan Ria kecil lebih banyak diasuh neneknya di Pondok Ungu, Bekasi.

Gadis berkulit putih ini mengatakan sempat sekolah sampai kelas VI SD, tapi tidak lulus. Kebetulan dia memang sering bermain bersama anak lelaki di sekitar tempat tinggal neneknya. Suatu hari saat nongkrong bersama teman, sebut saja A, datang dan meminta Ria menemani kenalannya dengan bayaran Rp 200.000.

Pengalaman pertama menemani lelaki hidung belang itu ternyata tidak terlalu buruk baginya. ”Sakit memang namanya juga masih perawan, tetapi orangnya baik, mau ngertiin kalo saya belum tahu caranya. Dia sempat beberapa kali bertemu lagi dengan saya setelah pertemuan pertama itu. Yang terakhir, dia ngasih Rp 1 juta. Banyak banget. Langsung dibeliin HP,” tutur Ria lagi.

Sejak itu Ria menjajakan diri sendiri atau melalui perantara A. Peralatan make up, pakaian, telepon seluler, dan walkman dengan mudah dibelinya. Namun, Ria tidak pernah bisa menabung karena hidupnya boros dan suka bersenang-senang. Hidupnya bergulir hingga di pertengahan 2009 lalu terjaring razia yang membawanya ke pusat rehabilitasi di sebuah panti sosial di Jakarta Timur.

Tiga bulan berada di panti tak menghalangi Ria untuk melacur lagi. Awal 2010 Ria terjaring razia dan kembali menghuni panti yang sama. Di panti ini ia diajari menjahit dan keterampilan lain. Cerita hidupnya menjadi berbeda ketika akhirnya bertemu Indah (40), seorang karyawati di kantor pemerintahan yang memfasilitasi Ria bisa lanjut sekolah.

Ria mengaku mencoba mengikuti arahan Indah dan selama sekitar enam bulan ini sangat menikmati hidup barunya meskipun harus bekerja keras. Namun, ia mengaku belum pasti soal masa depannya

Siswi Kelas 5 SD Diperkosa Di Sekolah Malakasari Oleh Dua Orang Teman Sekelasnya

Ini cerita soal kekerasan seksual. Kabar miring yang masih saja menghiasi jutaan halaman media massa di Tanah Air. “Korban adalah siswi kelas V SD. Ia mengalami kekerasan seksual oleh teman satu angkatannya,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Timur Komisaris Dodi Rahmawan, Rabu lalu.

Aksi bejat itu terjadi beberapa hari lalu di sebuah sekolah yang berada di Kecamatan Malakasari. Puluhan siswa yang baru selesai menjalani kegiatan pencak silat diminta gurunya menyalin pakaian di kamar mandi. Namun tidak bagi dua siswa berinisial DK dan RM. Keduanya berkomplot mengajak seorang siswi berinisial WMA ke samping ruang perpustakaan yang saat itu sedang sepi.

“Di tempat itulah keduanya melakukan kekerasan seksual,” ujar Dodi. Permintaan itu mulanya ditolak WMA. Namun malang, penyakit epilepsinya ketika itu mendadak kambuh. WMA pingsan. Kondisi itu lantas dimanfaatkan DK dan RM untuk mencabuli WMA.

“Saat itu, ada beberapa rekan pelaku yang melihat kejadian tersebut. Mereka juga menyaksikan kedua pelaku yang membopong tubuh korban ke kamar mandi,” kata Dodi. Setelah WMA siuman, ia melaporkan kejadian tersebut kepada guru dan orang tuanya. “Dari laporan orang tuanyalah kejadian ini kami ketahui,” kata Dodi.

Hasil visum yang dilakukan pihak rumah sakit menyimpulkan adanya bercak darah dan bekas perlakuan seksual berupa air mani. “Belum bisa kami simpulkan. Masih harus kami uji kembali,” katanya. Saksi mata pun dimintai keterangan.

Tempo sempat menyambangi sekolah dasar bercat hijau dengan satu lantai itu. Salah seorang siswa yang sempat diajak bicara pun membenarkan kejadian tersebut. “Hus… kata Bu Guru masalah itu tidak boleh diceritakan kepada siapa pun,” kata salah seorang temannya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia Ariest Merdeka Sirait menilai kasus kekerasan seksual tersebut sebagai akibat persentuhan anak dengan Internet, khususnya akses pornografi. “Apalagi sekarang sudah bisa diakses lewat telepon genggam,” katanya.