Category Archives: kejahatan anak

Siswi SMK di Jakarta Timur Diperkosa Bergantian Oleh Mantan Pacar Hingga Hamil

Siswi sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jakarta Timur, menjadi korban pemerkosaan. Mantan pacar dan dua temannya tega menyetubuhi gadis ini secara bergantian dengan mengikat dan menyumpal mulutnya.

Ketiga pria yang merupakan kakak kelas korban berinisial T, 18, A, 18, dan P, 18, dengan teganya memperkosa korban di sebuah kos-kosan wilayah Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur. Bahkan, aksi itu juga pernah dilakukan salah satu pelaku di toilet gedung sekolahnya.

Aksi pemerkosaan itu tersebut terjadi pada 24 Agustus 2013 silam, saat gadis ini baru saja selesai mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolahnya yang berada di kawasan Jakarta Timur itu. Kala itu, korban berpapasan dengan T, mantan pacarnya di lantai 3 sekolah tersebut yang kala itu dalam keadaan sepi.

Pelaku lalu berbincang dengan korban dan mengatakan hendak membicarakan suatu hal. Tak ada rasa curiga, ia mengikuti T dan menuju ke lantai 7 sekolah tersebut. “Korban lalu ditarik ke WC perempuan oleh T itu,” kata Hardiyan Saksono, pengacara korban, di Polres Jakarta Timur, Kamis (12/12) sore.

Aksi bejat T pun langsung dilakukan dengan memerkosa di kamar mandi. Padahal, saat itu, gadis belia ini sedang dalam keadaan sedang menstruasi. “Korban juga tidak dapat melawan saat T melakukan aksi bejatnya itu,” ujar Hardiyan.

Berselang satu bulan kemudian, pada tanggal 28 September rupanya pelaku berniat melakukan aksinya kembali. Kali ini T membujuk korban makan di kos-kosan dua temannya A dan P. Kebetulan, dua rekan T tidak berada di kosan tersebut.

“T ngajak korban masuk ke dalam dengan dipaksa. Langsung digeret ke kosan temannya itu,” tambah Hardiyan lagi.
Saat melakukan aksinya, T yang mantan pacar korban, kepergok oleh A dan P yang pulang ke kosan tersebut.

Menurutnya, A dan P mengancam akan mengarak T dan korban. Kala itu, T berniat membayar dua temannya A dan P dengan uang Rp200 ribu untuk menutup mulut. “Namun, niat itu ditolak oleh kedua temannya. Keduanya meminta hal yang sama untuk meniduri korban,” ungkap Hardiyan.

Permintaan kedua teman T pun akhirnya disetujui. Korban lalu diperkosa oleh tiga pelaku di waktu yang sama secara bergantian di bawah ancaman dan penyiksaan. “Kejadian kedua itu, korban disumpel mau teriak, mau berontak diikat,” ujarnya.

Usai kejadian itu, korban mengalami perubahan sikap dan berbadan dua. Hal ini terungkap setelah orangtua curiga dengan kejadian keadaan anaknya yang tidak kunjung datang bulan. “Ada sempat nanya curiga-curiga. Karena tidak mens, ditanya sama keluarga. Akhirnya kebuka,” ungkap Hardiyan.

Ibu korban melaporkan kejadian yang menimpa anaknya ke Polres Jakarta Timur pada 17 November 2013 lalu. Setelah dilakukan visum, korban terbukti hamil dua bulan. “Dari situ, korban menceritakan para pelaku yang menyetubuhinya,” tuturnya.

Petugas polres Jakarta Timur, kemudian menangkap tiga pelaku pada Selasa (10/12) kemarin. Karena korban masih di bawah umur, pengacara korban menggunakan pasal 81 ayat 1 dan 2 undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman 18 tahun penjara.

Horee … Anak Umur 12 Tahun Sodomi 3 Orang dan Perkosa 1 Perempuan Tidak Dipidana

Seorang bocah di Yogyakarta dihukum mengikuti pelatihan kerja hingga usia 18 tahun di LP Anak, Purworejo. Dia dihukum karena telah menyodomi 3 temannnya dan seorang perempuan yang berusia sebaya.

“Saya juga pernah disodomi,” kata terdakwa dalam buku ‘Kumpulan Putusan Pidana Khusus’ halaman 13 cetakan pertama yang diterbitkan MA, Senin (2/9/2013).

Pengakuan ini disampaikan di depan hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN Sleman) Suratno. Orang yang menyodomi tersebut kini telah menjalani hukuman penjara dengan berkas terpisah.

“Saya sering dilihatin video porno oleh dia sehingga saya timbul nafsu untuk melakukan hal yang sama seperti dalam video itu,” tutur terdakwa.

Terdakwa merupakan anak dari keluarga miskin, ayahnya sopir dan ibunya buruh cuci baju. Sepanjang siang, terdakwa tidak mendapat perhatian dari orang tuanya karena keduanya sibuk mencari nafkah. Kedua orang tua telah meminta maaf kepada seluruh korban atas ulah anaknya itu dan sanggup mendidik anaknya kembali.

Bocah yang belum genap berusia 12 tahun itu memperkosa anak perempuan teman sepermainan pada 14 September 2011. Ulah cabul ini diulangi lagi pada awal Agustus 2011 hingga September 2011.

Atas perbuatannya, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman menuntut agar si anak mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja di LP Anak Kutoarjo sampai usianya 18 tahun. Tuntutan ini dikabulkan PN Sleman pada 29 Mei 2011 oleh hakim tunggal Suratno dan dikuatkan hingga tingkat kasasi.

“Putusan PN Sleman dan PT Yogyakarta sudah mencerminkan asas for the best interest of the child yaitu demi kepentingan anak maka terdakwa tidak perlu menjalani pidana penjara,” putus majelis kasasi yang diketuai Prof Dr Komariah Emong Sapardjaja dengan anggota Suhadi dan Sri Murwahyuni.

MA berpendapat pidana penjara bukanlah tempat yang tepat bagi anak karena anak masih dapat diperbaiki melalui sistem pembinaan yang tepat.

“Pembinaan anak sebagai anak negara hanya sampai 18 tahun adalah cara yang paling tepat untuk menghindari efek negatif pemenjaraan, lebih-lebih apabila bercampur dengan narapidana orang dewasa,” demikian pertimbangan MA pada 28 November 2012.

Meski menyodomi 3 anak lelaki dan memperkosa seorang anak perempuan, seorang bocah lolos dari hukuman penjara. Mahkamah Agung (MA) menilai penjara tidak perlu dijalani karena asas for the best interest of the child.

Kasus ini bermula saat seorang bocah yang belum genap berusia 12 tahun dimejahijaukan dengan dakwaan memperkosa seorang anak perempuan usai bermain kuda lumping bersama. Anak perempuan yang belum 12 tahun itu disuruh berpura-pura kesurupan dan disembuhkan oleh bocah tersebut pada 14 September 2011.

Namun dalam permainan itu, bocah itu memperkosa si anak perempuan di rumah bocah laki-laki itu.

Ulah cabul ini diulangi lagi pada awal Agustus 2011 dengan korban teman lelaki yang berusia sebaya. Berturut-turut hal ini diulang kepada teman lainnya pada akhir Agustus 2011 dan September 2011. Semua dilakukan di rumah si bocah.

Atas perbuatannya, jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman menuntut agar si anak mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja di LP Anak Kutoarjo sampai usianya 18 tahun. Tuntutan ini dikabulkan PN Sleman pada 29 Mei 2011 oleh hakim tunggal Suratno.

Atas vonis ini terdakwa keberatan dan mengajukan banding namun ditolak. Pengadilan Tinggi (PT) Yogyakarta menguatkan vonis PN Sleman pada 29 Juni 2012. Atas vonis ini, terdakwa yang ingin bebas tetap melakukan perlawanan hukum dan lagi-lagi kandas. Sebab Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi itu.

“Putusan PN Sleman dan PT Yogyakarta sudah mencerminkan asas for the best interest of the child yaitu demi kepentingan anak maka Terdakwa tidak perlu menjalani pidana penjara,” putus MA dalam buku ‘Kumpulan Putusan Pidana Khusus’ halaman 46 cetakan pertama yang diterbitkan MA, Senin (2/9/2013).

Majelis kasasi yang diketuai Prof Dr Komariah Emong Sapardjaja dengan anggota Suhadi dan Sri Murwahyuni ini juga berpendapat pidana penjara bukanlah tempat yang tepat bagi anak karena anak masih dapat diperbaiki melalui sistem pembinaan yang tepat.

“Pembinaan anak sebagai anak negara hanya sampai 18 tahun adalah cara yang paling tepat untuk menghindari efek negatif pemenjaraan, lebih-lebih apabila bercampur dengan narapidana orang dewasa,” demikian pertimbangan MA pada 28 November 2012.

3 Remaja Diarak Warga Kerena Melakukan Threesome

Puluhan warga Dusun Kedung Pring, Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur mengerebek kamar kos di dusun setempat, Jumat (21/6)dini hari. Di dalam kamar kos, warga menemukan, dua laki-laki dan perempuan sedang berbuat mesum.

Ketiganya masing-masing, KRA,17, warga Kecamatan Jetis, Dwi Hernawan,24 warga Desa Daleman, Kecamatan Sooko dan Ahmad Faisal,20 warga Desa Daleman, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Saat digrebek, kedua remaja laki-laki berusaha menyembunyikan sang remaja perempuan di kamar mandi. Usai ketiganya tertangkap tangan, ketiganya langsung diarak ke balai desa setempat dengan wajah tertunduk. Ketiganya langsung menjalani pemeriksaan perangkat desa setempat.

Kepala Desa (Kades) Jampirogo, Ahmad Fauzi mengatakan, sebelum digerebek ketiganya sudah sering diperingkatkan warga tentang etika bertamu. “Tapi mereka tetap tidak menghiraukan peringatan warga sehingga warga sepakat mengerebek ketiganya,” ungkapnya, tadi pagi.

Dalam pemeriksaan perangkat desa, lanjut Kades, disepakati jika proses hukum tidak dilanjutkan ke pihak kepolisian. Namun pihak perangkat desa akan memanggil masing-masing orang tua dari ketiga pasangan mesum ke Balai Desa Jampirogo.
“Hasil pertemuan disepakati, kasus tidak dilanjutkan ke polisi tapi hanya memanggil orang tua masing-masing agar mengetahui kejadian tersebut. Ketiganya juga kita kenakan sanksi dengan membayar denda untuk kas desa dan sejumlah material,” jelasnya.

Perampokan dan Pembunuhan Sadis Bapak dan Anak Di Perumahan Griya Satria Jingga Bojong Gede Adalah Anak Umur 14 Tahun

Perampokan disertai pembunuhan sadis terjadi di Bojong Gede, Depok. Jordan (50) dan Edward (22), yang merupakan ayah dan anak dihabisi dengan luka-luka di kepala dan leher. Polisi sudah menangkap pelaku yang ternyata bocah masih berusia 14 tahun yang kemungkinan adalah psikopat muda. Informasi yang dikumpulkan detikcom, Kamis (19/7/2012) pelaku berinisial A dengan rekannya D merampok rumah korban di Bojong Gede karena ingin menguasai harta korban. A mengira Jordan dan anaknya memiliki harta berlimpah sehingga nekat menyatroni rumah korban.

Saat pelaku beraksi, korban melakukan perlawanan. Hingga akhirnya pelaku bertindak kejam dan membunuh korban. Namun pihak kepolisian yang dikonfirmasi soal kasus ini masih belum mau berbicara banyak. Pihak kepolisian hanya menyebut, A masih diperiksa intensif. “Ya masih diinterogasi,” kata Kanit Reskrim Polsek Bojong Gede, Iptu Ibnu. Pelaku ditangkap dini hari tadi sekitar pukul 02.00 WIB. Tidak ada perlawanan yang dilakukan remaja tersebut.

R, anak bungsu korban pembunuhan sadis di Bojong Gede, Yordan diinapkan di kantor Mapolsek Bojong Gede. Polisi butuh keterangannya untuk mengungkap pelaku sambil terus memberinya rasa aman. Dari keterangan polisi, R adalah orang pertama yang menemukan jenazah Yordan (50) dan Edward (20). Saat ini, gadis belia ini sekrarang berada di sebuah ruangan Mapolsek Bojonggede Jalan Raya Tojong, didampingi Kasat Reskrim olresta Depok Kompol Febriansyah. “Kasihan dia menerima kenyataan begini. Kita harus menanyainya secara perlahan-lahan. Kita buat dia senyaman mungkin dulu,” ujar seoran polisi.

Dari pengamatan, gadis belia coklat manis ini perawakan kurus dengan tinggi 140 cm dan berambut ikal panjang sebahu. Mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam, dia hanya diam termangu dengan pandangan mata kosong. Polisi masih mencoba menghubungi ponsel Dina Sutiyem, istri Yordan. Pasangan tersebut mempunyai tiga anak. Sejak ada pertengkaran dengan Yordan, Dina sudah sekitar 2 bulan meninggalkan rumah. Informasi yang detikcom kumpulkan, polisi juga memanggil Buluk, hansip perumahan Griya Satria Jingga, Ragajaya ke Mapolsek Bojonggede. Namun, Buluk masih bertugas sebagai Satpam di PT KAI di Depok. penyidik ingin tanyakan kepada Buluk, apakah dia melihat orang yang mencurigakan ketika malam Selasa itu.

Polisi mencari istri dari korban perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Polisi mencoba menghubungi istri korban tersebut. Namun perempuan tersebut tidak bisa dikontak. “Istrinya menghilang, Karena kita coba hubungi namun tidak bisa,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (18/7/2012).

Hingga saat ini polisi masih terus mencari istri dari korban pembunuhan itu. Diketahui korban bernama Jordan Raturomon (50) dan Edwar (22). “Kita masuh upayakan pencarian untuk dimintai keterangan,” ucapnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Pelaku menggasak uang tunai sekitar Rp 10 Juta, Motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi masih mendalami kasus perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Malam ini polisi akan memeriksa lima orang saksi. Pelaku pembunuhan atas Jordan (50) dan anaknya Edwar (22) diperkirakan lebih dari satu orang. “Lima orang akan kita periksa,” kata Kapolsek Bojong Gede, Kompol Bambang Irianto, kepada detikcom, Rabu (18/7/2012). Bambang menjelaskan polisi saat ini masih berada di lokasi. Saat ini petugas masih mengumpulkan keterangan dari sekitar lokasi kejadian. “Kita coba urai. Kita panggil saksi, saksi korban, saksi yang dengar ada suara motor jam berapa, saksi yang kemungkinan melihat. Masih kita selidiki,” paparnya.

Bambang menduga pelakunya lebih dari satu orang. “Kalau melihat korbannya ada dua orang, kemungkinan pelakunya lebih dari satu orang,” ujarnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Bambang juga menegaskan, bahwa dari rumah korban yang hilang hanya motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi terus mengembangkan penyidikan atas tewasnya Edward alias Edo dan ayahnya Yordan di Bojong Gede, Bogor. Motif aksi keji tersebut masih dicari. Namun sementara beberapa pihak menduga karena utang-piutang.

Sebagai langkah awal menyidik kasus ini, polisi memeriksa istri Edo, Fifi Oktavianus. Wanita muda itu diperiksa oleh tim Reskrim gabungan dari Polda Metro Jaya, Polresta Depok dan Polsek Bojong Gede di rumah korban, Perumahan Griya Satria Jingga di RT 3/14, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat.

Dalam pemeriksaan sementara, Fifi mengaku sudah dua minggu kerap bertengkar dengan sang suami seputar masalah keluarga. Cekcok biasanya dipicu oleh masalah keyakinan. “Karena beda agama, jadi kami kadang suka berantem,” tutur Fifi di lokasi, Rabu (18/7/2012). Dari Fifi, polisi ingin mengumpulkan serpihan-serpihan kasus ini sehingga dapat menemukan siapa pelakunnya. Menurut Fifi, sekitar pukul 00.00 WIB, Selasa (17/7/2012) dirinya masih SMS-an dengan Edo.

“Kalau saya sedang libur kerja, Edo suka mengajak saya jalan. Jadi semalam dia SMS saya ngajak jalan. Dia ingin baikan. Edo belum punya kerja tetap, sekarang kerja jaga internet di Tanah Baru, Kota Depok,” sambungnya.

Selain Fifi, polisi juga meminta ayahnya untuk datang ke Mapolsek Bojong Gede guna menjalani pemeriksaan. Terkait motif peristiwa sadis ini, polisi masih melakukan pengembangan. Namun dari informasi yang beredar di TKP, ada dugaan pembunuhan ini terkait masalah utang piutang. Belum bisa pastikan siapa pelakunya. Tapi ini korban pembunuhan. Bisa jadi utang-piutang atau pun jual beli sepeda motor,” ujar seorang polisi kepada detikcom di lokasi.

Polisi mencari informasi dan sumber terkait untuk merangkai kisi-kisi dari kasus pembunuhan ini. Namun, diduga, pembunuh adalah orang yang kenal dengan korban karena karpet dalam keadaan terbuka layaknya sedang menerima tamu dan duduk bersama di atas karpet.

“Kita masih terus menyidik dan mengumpulkan informasi dari pelbagai pihak. Semua yang kita anggap kenal dan terkait dengan korban perlu kita mintai keterangan,” tambah polisi tersebut. Para tetangga pun menduga kasus ini berkaitan dengan urusan utang piutang motor. “Saya dengar Pak Edo ngomong beberapa hari lalu, dia sekarang sedang rintis usaha jual-beli motor,” ujar Roland tetanggga korban.

Geng Wools dan Teror 58 Spesialis Mengincar Pelajar Untuk Dipukuli Setiap Hari Berantem Di Johar Baru

Geng Wools, kelompok pemuda yang dipimpin tersangka berinisial LH, 16 tahun, sering bikin onar. Terakhir, geng ini membacok dua remaja pada Kamis dan Sabtu, 21 April 2012 lalu. LH ditangkap polisi pada 22 April.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, mengatakan kelompok itu sering tawuran. “Hampir setiap hari mereka bikin ribut di daerah Johar Baru, Kemayoran, dan Cempaka Putih,” kata Gozali saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, anggota geng Wools berjumlah 17 sampai 19 orang. Mereka memiliki ciri-ciri, yakni memakai jaket berwarna biru dengan tulisan “We Are The Wools Big Family”.

Geng ini mengincar pelajar yang mengenakan seragam sekolah. “Tidak ada target tertentu. Pokoknya, kalau ada anak sekolah yang bergerombol atau agak ngebut, pasti diserang,” kata Gozali.

Pengakuan LH kepada penyidik, geng Wools sudah eksis sejak dua tahun lalu. Tapi, kata Gozali, kasus pembacokan secara tiba-tiba seperti yang menimpa Dwiki Hendra Saputra, siswa SMP Negeri 216 Jakarta, 21 April 2012, baru pertama terjadi. “Sebelumnya mereka sering tawuran. Kalau itu, kami sudah antisipasi dengan berjaga di lapangan,” kata Gozali.

LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai sepeda motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, saya bacok saja mereka,” kata LH, 22 April 2012. LH juga membacok Rusydan Fathy, siswa MAN 3 Jakarta, Kamis, 19 April 2012.

Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng ini, yakni LH, 16 tahun; RP (16); dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Salemba Jakarta. Di sana ada tempat untuk anak. Di sini kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Geng Wools, yang tiga anggotanya kini ditahan Kepolisian Sektor Metro Cempaka Putih, ternyata masih bersaudara dengan geng Teror 58. Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, menyatakan ada beberapa anggota Wools yang merangkap sebagai anggota Teror 58. “Ketua gengnya pun sama, LH,” kata dia saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, dalam melakukan aksinya, kedua geng itu sama-sama mengincar pelajar. “SMP, SMA, SMK, tidak ada sasaran dari sekolah tertentu,” kata Gozali menceritakan hasil pemeriksaan LH yang ditengarai sebagai Ketua Geng Wools maupun Teror 58. Perbedaannya, geng Teror 58 mengincar siswa-siswa berseragam yang menumpang Kopaja 58. “Makanya, namanya Teror 58,” ujar Gozali.

Polisi belum mengetahui jumlah anggota Teror 58. Hanya, ada beberapa anggota geng itu yang juga tergabung dalam geng Wools. Tempat nongkrong mereka pun sama, yakni di warung Wools di Jalan Cempaka Tengah IV, Jakarta Pusat. Adapun jumlah anggota geng Wools berkisar antara 17 sampai 19 orang.

Geng yang sering berkumpul di warung itu, menurut Gozali, memang kerap tawuran di daerah Johar Baru, Kemayoran, atau Cempaka Putih. “Mereka sudah ada sejak dua tahun lalu,” katanya.

Sabtu pekan lalu, LH membacok Dwiki, seorang siswa SMP Negeri 216, Jakarta Pusat. LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, jadi saya bacok,” kata LH saat ditemui Ahad, 22 April.

Saat ini Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng, yakni LH, 16 tahun, RP (16), dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lapas Salemba yang ada tempat untuk anak. Di sini, kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Punya Hobi Videokan Para Siswi Yang Lagi Mandi Telanjang Seorang Siswa Ditangkap Polisi

Seorang siswa di sekolah menengah elit terpaksa berurusan dengan hukum. Semuanya berawal dari hobinya memvideokan para siswi di sekolah itu yang sedang mandi dan disimpan sebagai koleksinya di komputer.

Siswa usia 16 tahun itu bersekolah di Charterhouse School, salah satu sekolah bergengsi dan mahal biayanya di Inggris Raya. Per tahun, pelajar yang sekolah di sana harus membayar 30 ribu poundsterling atau di kisaran Rp 430 juta.

Belum jelas apakah video porno yang direkam sang siswa itu sudah disebarkan ke internet atau media lainnya. Namun polisi setempat langsung tanggap karena perbuatan itu dinilai sebagai kasus pornografi anak di mana korbannya masih di bawah umur.

Tersangka yang tidak disebutkan namanya karena alasan hukum telah ditangkap dan diwawancarai polisi sebagai bagian dari investigasi. Ia dibebaskan sementara dengan uang jaminan. Pihak sekolah pun mengakui ada siswanya yang ditangkap.

“Charterhouse bisa mengkonfirmasi bahwa seorang siswa telah ditanyai oleh polisi tentang material yang ditemukan di komputernya,” kata juru bicara sekolah, seperti dilansir DailyMail Senin (26/3/2012).

Tidak dijelaskan bagaimana pelaku bisa merekam temannya yang sedang mandi. Kemungkinan, dia menempatkan kamera video tersembunyi.

Jika terbukti, kasus ini bisa mempermalukan nama sekolah itu, yang punya alumni terkenal seperti Baden Powell yang adalah pendiri kepramukaan. Namun memang pornografi anak dipandang sebagai kejahatan serius di Inggris. Pembuat dan pemirsa tontonan pornografi anak biasanya mendapat hukuman cukup berat.

Siswa Kelas 6 SD Di Lumajang Yang Menghamili Siswi SMP Sudah Ditangkap Polisi

DAMPAK pornografi terhadap dunia anak telah menapaki titik paling buruk di Jawa Timur. Seorang siswa kelas 6 sekolah dasar (SD) di Lumajang, ditangkap polisi karena dituduh menghamili temannya setelah terpengaruh video porno.

Satu lagi dampak buruk tayangan film porno melalui VCD yang bisa diperoleh dengan bebas di pasaran merusak moral generasi bangsa ini. Mirisnya, kejadian ini menimpa seorang bocah ingusan yang masih duduk di bangku kelas 6 SD di Dusun Sukosari, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.

Bocah berinisial WY (12) itu melakukan seks bebas dengan anak gadis tetangganya, EK, yang berusia tiga tahun di atasnya atau 15 tahun hingga hamil enam bulan. Perbuatan buruk WY ini sebagai dampak buruk dari kegemarannya menonton VCD porno di rumah salah seorang temannya.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, kediaman WY dan EK hanya berjarak beberapa meter. EK sendiri selama ini tak sekolah karena menderita keterbelakangan mental alias idiot.

Kasus ini terungkap setelah orangtua EK melihat adanya perubahan fisik pada diri putrinya. Karena curiga, mereka memeriksakan anak gadis itu ke seorang bidan. Hasil pemeriksaan, EK positif hamil. Itulah yang menggegerkan kedua orangtuanya.

Apalagi, mereka mendapatkan pengakuan bahwa orang yang menghamili EK tak lain adalah WY yang masih tetangganya. Atas keterangan ini, akhirnya orangtua EK melaporkan perbuatan pelajar SD itu ke Mapolsek Candipuro, Selasa (8/2) siang.

Menyusul laporan itu, petugas langsung menjemput WY di rumahnya saat bocah itu baru pulang dari sekolah. Lantaran kasus ini melibatkan korban dan pelaku yang masih di bawah umur, aparat Polsek Candipuro melimpahkannya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polres Lumajang.

Guna mengungkap kasus ini, petugas memboyong WY dan EK didampingi orangtua masing-masing serta perangkat Desa Sumberwuluh ke Mapolres Lumajang untuk menjalani proses hukum. Dalam pemeriksaan terungkap juga bahwa WY telah melakukan perbuatan itu cukup lama alias sudah berkali-kali.

Kepada petugas, pelajar itu mengaku bahwa dia melakukan perbuatan tersebut bersama korban pertama kali sebelum Lebaran 2010. Tindakan itu dia lakukan lantaran terdorong nafsu setelah sering melihat tayangan film porno melalui VCD di rumah temannya.

“Saya sering melihat film porno di rumah teman saya berinisial RC. Saya melihat film porno melalui VCD yang diberi seseorang kenalan,” kata WY blak-blakan.

Yang mengejutkan lagi, di usianya yang masih anak-anak itu, WY tak hanya melakukan seks bebas, tapi sudah terbiasa dengan minuman keras dan obat-obatan berbahaya. Bocah ingusan ini mengaku sering menenggak pil koplo dan mabuk-mabukan bersama teman-temannya.

Ketagihan

Dia mengaku, setelah menonton film porno, rasa ingin melakukan sendiri begitu dahsyat. Makanya, dia mendatangi EK. Secara kebetulan pula, saat itu kediaman EK sedang kosong. Dia lantas mengajak korban masuk kamar, lalu menyetubuhinya. Perbuatan itu leluasa dilakukan tersangka karena orangtua korban sedang tidak berada di rumah.

“Perbuatan itu awalnya memang ada pemaksaan. Sampai-sampai WY melakukan pemaksaan dengan merobek celana dalam EK,” kata Kapolsek Candipuro Ajun Komisaris H Sutopo.

Perbuatan pertama itu tak terendus, karena WY mewanti-wanti agar EK tak melaporkannya kepada siapa pun. Pengalaman pertama itu membuat WY ketagihan, sehingga terus mengulang perbuatannya. Dan, terakhir kali pekan lalu sebelum perbuatan itu terbongkar.

“Meski korban diketahui hamil, WY masih terus melakukan hubungan intim dengan EK di rumahnya. Sampai akhirnya, perbuatannya terbongkar berkat kecurigaan orangtua EK,” ujar Kapolsek.

Menurut Kapolsek, karena perbuatan ini melibatkan anak di bawah umur, pasal yang dikenakan adalah Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Namun, untuk proses penyidikan, ungkapnya, dilimpahkan ke Unit PPA Satuan Reskrim Polres Lumajang.

Hanya saja, lanjutnya, untuk melengkapi prosedur penyidikan pihaknya telah memintakan visum dari dokter yang menyatakan bahwa korban EK memang hamil 6 bulan. “Kami juga telah menyita VCD porno yang menjadi pemicu WY melakukan perbuatan itu untuk proses penyidikan lebih lanjut,” tambahnya.

67% siswa SD

Sementara itu, keterlibatan anak SD dalam mengakses atau menonton tayangan pornografi saat ini sudah dalam tahap memprihatinkan. Berdasarkan hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati, sejak tahun 2008 sampai 2010 muncul fakta bahwa 67 persen dari 2.818 siswa SD kelas IV, V, dan VI di wilayah Jabodetabek mengaku pernah mengakses informasi pornografi. Sekitar 24% mengaku melihat pornografi melalui media komik, 22% dari internet, 17% dari game, 12% dari film di televisi, dan 6% melalui telepon genggam.

Menurut Elly, pengurus Yayasan Kita, komik dan game perlu diwaspadai. Komik Naruto, game Counter Strike dan Point Blank, ujarnya, sangat digemari anak-anak. Belakangan ini, kata Elly, ada game baru bernama Rape Play (Permainan Perkosaan) yang bisa diunduh secara gratis dari internet.

Menurut dia, tontonan-tontonan itu telah menanamkan pornografi di benak anak-anak dan remaja. Makanya, belakangan ini banyak pertanyaan dari anak SD yang sudah berbau seks seperti halnya orang dewasa.

Menurut survei, lanjutnya, kebanyakan anak-anak (sekitar 48%) melihat pornografi justru di rumah. Dan, orangtua mereka tanpa sadar membayari biaya internet dan pulsa telepon genggam anak-anaknya.

Selain itu, yang juga perlu dikhawatirkan, imbuh Elly, saat ini kita belum mempunyai ahli pengobatan khusus pornografi. Padahal, sebagaimana dikatakan Randy Hyde, anak-anak yang mengalami kejadian ini harus segera dibantu. Pasalnya, bukan saja merusak mental sang pecandu pornografi, tapi bagian otaknya pun ikut terpengaruh. Jika kecanduan narkoba merusak tiga bagian otak, maka kecanduan pornografi bisa merusak lima bagian otak.

“Harus kita tangani secara serius sebelum terlambat. Jangan sampai menjadi fenomena gunung es,” kata Elly.

Sedangkan praktisi home schooling Seto Mulyadi mengatakan, orangtua harus intensif mendampingi anak untuk mengantisipasi dampak pemberitaan video seks. Komunikasi orangtua dan anak harus mengutamakan dialog.

“Orangtua harus mendengarkan pendapat anak tentang kasus itu. Jangan memberi ceramah panjang lebar,” katanya.

Orangtua diminta proaktif berdialog dengan anak terkait peredaran video seks itu. Namun, orangtua sebaiknya lebih banyak mendengarkan anak daripada menasehatinya.

“Yang harus dilakukan adalah dialog. Lalu, orangtua bisa mengkaitkan kasus itu dengan nilai-nilai moral maupun agama yang telah diajarkan,” katanya.

Menurut dia, penyebar video seks itu telah melakukan tindak kriminal dan harus diproses hukum. Pemberitaan dan penyebaran video itu mengancam perkembangan jiwa anak yang dalam proses imitasi atau meniru. “Penyebaran video itu membuat masyarakat goncang,” ujarnya