Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘kejahatan anak’

Seorang Anak Berumur 10 Tahun Tega Membunuh Ibunya Karena Kesal

Oktober 14, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang siswa sekolah dasar berinisial M (10) mengaku membunuh ibu angkatnya, Ety Rochyati (55). M mengaku kesal karena sering dimarahi.

Kasus ini berawal dari penemuan jenazah Ety di selokan belakang rumahnya di Jalan Sembung I Nomor 137, RT 01 RW 07 Kompleks Perumahan Angkatan Darat, Cibubur, Jakarta Timur (Jaktim), Selasa pukul 05.00.

Jenazah ditemukan polisi setelah suami korban, Amir Hamzah (57), dan anaknya, Zulkarnaen Iskandar (28), pukul 01.00 melapor ke Polsek Metro Ciracas bahwa korban hilang sejak hari Minggu (11/10). Polisi menemukan korban dalam selokan selebar sekitar 40 sentimeter di belakang rumah. Ketika ditemukan, polisi melihat tiga titik luka akibat benda tumpul di kepala belakang korban. Selain itu, ada sebilah pisau menancap di pinggang kiri tanpa noda darah. Itu karena, Ngadiyo menduga, pisau ditikamkan ke tubuh korban setelah korban meninggal.

Jenazah kemudian dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jaktim, untuk diotopsi. Selasa malam, jenazah sudah ada di rumah duka.

Menurut Hadi Suhaedi (49), sekretaris RT setempat, jenazah akan dimakamkan di pemakaman Pondok Ranggon, Jaktim. ”Keluarga tinggal menunggu kakak kandung almarhumah tiba dari Palembang,” ucapnya.

Menonton televisi

Ngadiyo menjelaskan, hari Minggu pukul 07.00 Amir keluar rumah mengantar Zulkarnaen kembali ke Bandung. Amir hanya mengantar anaknya sampai sekitar Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jaktim.

Ngadiyo menduga, saat itulah M, seperti pengakuannya kepada polisi, memukul ibu angkatnya dari belakang dengan balok kayu satu kali, lalu memukul lagi dengan martil dua kali.

”M mengaku melakukan hal itu saat ibunya menonton televisi, yaitu saat Amir dan Zulkarnaen meninggalkan rumah,” kata Ngadiyo. ”Pelaku pembunuhan adalah orang dekat korban. Sampai sekarang M baru kami tetapkan sebagai saksi kunci. Sekarang dalam penanganan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak,” papar Ngadiyo.

Amir tiba di rumahnya pukul 11.00. Ia mendapati rumah sudah kosong, terkunci. Ia mengira istrinya sudah berangkat ke hajatan di Bekasi. Amir pun memberi tahu tetangga bahwa ia akan ke Bekasi menyusul istrinya.

Karena di tempat hajatan Amir tidak menemui Ety, ia menelepon Zulkarnaen memberi tahu bahwa Ety hilang. Keduanya lalu melaporkan ke polisi, termasuk menghilangnya M.

Menurut Ngadiyo, M adalah anak Nias. Seluruh keluarganya tewas saat tsunami menerjang Nias. Dua tahun terakhir, ia diangkat anak oleh Amir dan Ety.

Sejumlah warga, termasuk Hadi, mengatakan, sampai pukul 22.00 hari Minggu lalu, rumah Amir gelap tanpa penghuni. Mereka sempat melihat M tidur berpindah-pindah di emperan rumah warga. Saat berjalan, M seperti kebingungan. Warga lalu menitipkan M ke seorang guru mengaji sampai akhirnya dibawa ke Polsek Metro Ciracas hari Selasa kemarin.

Kategori: kejahatan anak · kekerasan pada wanita · psikopat

Masih Disekolah Dasar Sudah Pintar Berbohong dan Memperkosa Beramai-ramai Anak Gadis Teman Sekolah

April 17, 2009 · 8 Tanggapan

Tiga pelajar SD dilaporkan ke polisi karena diduga memerkosa teman satu sekolahnya, di Cematan Buay Madang, OKU Timur, Sumatera Selatan.

Korban, sebut saja Melati,10, penyandang cacat tuna rungu. Siswa SD kelas 3 Desa Negeri Ratu, OKU Timur, diperkosa temannya pada Selasa (14/4), seusai pulang sekolah.

Korban dicegat tiga teman satu sekolah yakni Irh,10, Cdr,13, dan Sah,11 dan diseret ke semak-semak, lalu diperkosa.

Pelaku diperiksa di Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Namun, saat diperiksa, Cdr mengaku tidak melakukan perkosaan.

“Kami tidak melakukan yang itu. Kami balik sekolah sama-sama dan sempat mengganggunya dengan kata-kata. Dia lari pulang melewati jalan pintas,” katanya Cdr kepada polisi.

Untuk membuktikan perkosaan itu, Melati dibawa ayahnya ke Puskesmas untuk pemeriksaan. Dari hasil visum diketahui alat vital korban robek.

Kapolres OKU Timur AKBP ML John Mangundap SH SIK kepada wartawan di Martapura, Kamis, mengatakan, ketiga siswa SD yang dilaporkan memperkosa itu sudah diperiksa.

“Tiga orang siswa itu kita panggil untuk dimintai keterangan dengan didampingi orangtua dan pejabat desa,” katanya.

Kategori: kejahatan anak · kekerasan pada wanita · pelecehan seksual · psikopat

Pemulung Cilik Tanpa Penyesalan Membunuh Wanita Penolongnya Untung Tidak Sampai Diperkosa

Maret 31, 2009 · 3 Tanggapan

Istri pejabat Kantor Imigrasi Bogor tewas dibantai pemulung cilik di rumahnya, Jl. Darulung Raya RT 02/07 Perum Bantarjati Indraprasta, Kota Bogor. Pembantunya juga sekarat dibabat pakai pisau dan gaco sampah.

Ny Bianstuti Caniago 46, istri Kasubsi Forsakim Imigrasi Bogor, Muchlis Amri,48, jantung dan tangannya tertembus sabetan alat gaco oleh pelaku. Ia sempat dibawa di RS Azra Bogor, namun nyawa ibu empat anak ini tak tertolong.

Wanita pembantunya, Soliyem, 43, alias Iyem luka parah di kepala, dada, tangan, pundak dan tangannya. Pelakunya, Junaedi,13, sudah lama kenal dengan keluarga korban dan selama ini sering dibantu. Dia ditangkap warga tak lama setelah kejadian.

Peristiwa sadis Senin (30/3) ini, berawal ketika Junaedi masuk ke rumah korban sekitar Pk. 11:00 dan hendak mengambil DVD. Aksinya kepergok Iyem, pembantu korban. Dia langsung mengayunkan gaco hingga mengenai tangan Iyem.

Korban lari ke dalam rumah sambil berteriak minta tolong tapi dikejar. Bagai kerasukan setan pelaku menikam dan membabat tubuh wanita itu pakai pisau yang ada di dapur.

Ny Bianstuti yang saat itu baru selesai mandi, keluar dari kamar mandi dengan hanya menggenakan handuk. Belum sempat bertanya, pelaku menyerang membabi buta.

DISERAHKAN KE POLISI
Ibu empat anak, Muhamad Arief, Isti, Usti dan Amirul Akbar ini, terkapar bersimbah darah. Saat kejadian di dalam rumah hanya ada Ny Bianstuti dan Iyem, sedangkan Muchlis Amri sudah berangkat kerja dan keempat anaknya sedang sekolah.

Warga sekitar berdatangan ke rumah korban, termasuk Ketua RT 02 Sudrajat. ”Ketika saya tiba, warga lainnya sedang mengejar pelaku,” kata Sudrajat.

Junaedi, bocah yang hanya sekolah sampai kelas IV SD ini diserahkan ke polisi. Dia mengaku sudah berencana membunuh Ny Bianstuti sejak Minggu (29/3). Dia dendam karena meminta sepeda bekas yang tak dipakai tapi tolak.

Bocah yang tinggal di Tegalega Bogor Tengah ini mengatakan memulung mengikuti jejak bapaknya karena hidup melarat. Ibunya juga banting tulang menjadi tukang cuci pakaian.

”Sebetulnya Ibu Bianstuti sangat baik ke saya. Sering ibu dan bapak ngasih uang, kalau saya habis bantu membersihkan barang bekas di rumah. Tapi saya tidak menyesal membunuh ibu,” kata anak ke-10 dari 11 bersaudara pasangan Uci,55, dan Ny Ati,49, tersebut.

TELAH MEMAAFKAN
Muchlis Amri, suami korban yang datang ke rumah sakit juga mengakui Junaedi selama ini dekat dengan keluarganya. Meski kelihatan terpukul dengan peristiwa ini, Muchlis tampak tabah.

”Saya tidak tahu motifnya apa kenapa dia tega membunuh istri saya. Yang jelas, saya dan anak-anak telah memaafkan. Balas dendam, bukanlah solusi,” ucap Muchlis.

Kasat Reskrim Polresta Bogor, AKP Irwansyah didampingi Kapolsek Bogor Utara, AKP Saryono menegaskan pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP dan kemungkinan pasal 365 tentang perampokan.

”Ancaman pidananya 20 tahun atau hukuman mati, walau usianya masih 13 tahun. Pasalnya, perbuatannya mengakibatkan nyawa orang lain meninggal. Kami juga akan melakukan tes mental kepada pelaku serta menyilidiki latar belakang keluarganya,” tandas Irwansyah.

Kategori: kejahatan anak · kekerasan pada wanita · pembunuhan · perampokan · psikopat

Anak Durhaka Menculik Diri Sendiri Guna Memeras Orangtua dan Hidup Senang Dengan Janda Muda

Maret 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Rabu (11/3) siang, Fajar Radiansyah (20) dan kekasihnya, Rita (26), terlibat pertengkaran di rumah kontrakan Rita di kawasan Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur. Pemicunya utang. Rita mengaku kesal kepada Fajar sebab saat seseorang menagih utang kepada Rita sebesar Rp 150.000, Fajar justru berniat pergi.

Fajar kena cakar Rita. Fajar tidak melawan, tetapi berteriak meminta tolong. Saat itu telepon genggam Fajar berdering. Tombol telepon genggam tertekan. Iqbaluddin, kakak Fajar, mendengar teriakan adiknya dari balik telepon genggam. Tiba-tiba terdengar suara, ”Blaam!”. Pintu dibanting.

Rita merampas dan mematikan telepon genggam Fajar. Rita, janda beranak dua itu, lalu mengurung Fajar di kamar. Iqbaluddin menduga, adiknya diculik. Sang adik terinspirasi dugaan kakaknya.

Ia lalu memerankan dirinya seolah-olah diculik. Penculiknya? Fajar juga. Ia berharap, jika keluarganya jadi memberi uang tebusan Rp 3 juta, ia akan bebas dari lilitan utang kontrakan rumah sang kekasih dan biaya hidup sehari-hari mereka. Sepeda motor bebek Yamaha Vega yang Fajar gadai Rp 800.000 pun bisa kembali.

Drama penculikan pun bergulir sampai akhirnya polisi menangkap Fajar-Rita, Sabtu pukul 02.00 di rumah kontrakan Rita. ”Keduanya kami temukan sedang bobok manis di sana,” kata Kepala Unit IV Satuan Kejahatan dengan Kekerasan (Sat Jatanras) Polda Metro Jaya Komisaris Audie Latuheru kepada wartawan di ruang penyidik, Sabtu sore. Fajar dan Rita tersenyum kecil.

Audie menjelaskan, setelah timnya menganalisis kalimat- kalimat dalam layanan pesan singkat yang disampaikan penculik, timnya menduga, pelaku dan korbannya sama: Fajar.

Ia lalu membagi timnya menjadi dua. Tim pertama ke Stasiun Senen, Jakarta Pusat, dan tim kedua menyisir kawasan Condet, Jakarta Timur.

”Semua rumah bidan, tempat praktik dokter bersama poliklinik serta rumah sakit di kawasan Condet, kami telusuri. Sebab, menurut si penculik, ia meminta uang tebusan untuk biaya melahirkan istrinya,” kata Audie.

Hampir dua tahun

Fajar dan Rita mengaku sudah hampir dua tahun menjalin asmara. Enam bulan terakhir, Fajar tinggal bersama sang janda itu. Keduanya bertemu saat Fajar masih bekerja sebagai pelayan rumah makan Padang di Bintaro. Fajar hanya bertahan bekerja enam bulan, setelah itu menganggur.

Meski demikian, Fajar masih berusaha menghidupi Rita dan kedua anaknya. Tentu saja dengan berutang sana-sini. ”Dia masih tetap pria yang manis buat saya dan kedua anak saya. Orangnya ngalahan dan jenaka,” kata Rita yang mengaku sangat mencintai Fajar.

Sayang, hubungan keduanya tidak direstui kedua orangtua dan saudara-saudara Fajar. Maklum, Rita sudah janda beranak dua. ”Lagi pula keduanya menganggur,” kata HM Yusuf (53), ayah Fajar.

Kemarin polisi belum menetapkan status keduanya. ”Statusnya masih terperiksa,” kata Audie. Meski demikian, baik Audie maupun Kepala Sat Jatanras Ajun Komisaris Besar Nico Afinta mengingatkan, atensi pimpinan Polda Metro terhadap kasus penculikan tinggi. ”Jadi jangan main-main terlibat kasus seperti ini. Pasti kami tangani,” kata Nico

Kategori: kebodohan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · penculikan · penipuan · psikopat

Siswa SMU Babak Belur Dihajar Teman Karena Punya HP Bagus dan Polisi Menyalahkan Orangtua Siswa Karena Memberikan HP Bagus Buat Anak

Maret 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Telepon genggam keren bisa membawa petaka. Lantaran menggunakan telepon genggam yang dianggap paling bagus di sekolahnya, Danang (17), siswa sebuah sekolah menengah atas di kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, malah babak belur dihajar lima temannya.

Untuk ukuran Jakarta, telepon seluler (ponsel) Nokia tipe 5320 klasik dengan kamera 3,2 megapiksel barangkali tak dilirik orang. Banyak ponsel-ponsel yang lebih mutakhir dan keren lainnya di Ibu Kota. Namun, untuk ukuran Kecamatan Ampel, Boyolali, ponsel seperti itu sudah dianggap paling mentereng dan memancing kecemburuan.

Aga (19) dan Fauzan (17), teman satu sekolah Danang, jadi tertarik ingin memiliki ponsel itu. Akhirnya keduanya menyusun rencana bersama tiga temannya yang lain, termasuk Sulung (19) yang memendam sakit hati lantaran wanita pujaan hatinya pernah direbut Danang.

Mereka mengajak Danang minum minuman keras dan mendatangi lokalisasi Sarirejo, Salatiga, Sabtu (7/3). Setelah mabuk, mereka lalu membawa Danang ke kompleks pekuburan di Ambarawa (Kabupaten Semarang) menaiki mobil Toyota Avanza warna metalik milik Aga. Setiba di sana, Danang diturunkan dan dipukuli hingga luka parah di bagian lengan dan wajah babak belur dihantam potongan bambu.

”Tadinya sempat mau dibunuh sekalian, dilempar ke Kali Tuntang, tetapi enggak tega soalnya niat kami hanya mau ambil HP-nya aja,” kata Fauzan yang ditemui di Markas Polres Salatiga, Selasa (10/3).

Setelah puas menghajar Danang dan menyikat ponsel serta dompet miliknya, dia lalu diturunkan di Kalicacing, Sidomukti, Salatiga. Keluarga korban lalu melaporkan kejadian itu kepada kepolisian.

”Sementara ini alasan mereka (mengerjai Danang) memang karena tertarik dengan HP yang, menurut mereka, paling bagus di sekolah. Kami masih mengejar tiga pelaku lainnya,” kata Kepala Polres Salatiga Ajun Komisaris Besar Agus Rohmat.

Menurut dia, kejadian ini juga harus menjadi pelajaran. Orangtua tidak perlu membelikan ponsel terlalu bagus bagi anak mereka yang masih sekolah. Hanya gara-gara memancing iri, ponsel bagus itu pun malah membawa petaka

Kategori: kebodohan · kejahatan anak · penganiayaan · perampokan · polisi korup

Kegadisan Siswi SMP Bogor Dihargai 15 Juta Sedangkan Yang Sudah Tidak Perawan Harganya 5 Juta

Desember 13, 2008 · 4 Tanggapan

Memilukan. Akibat bekapan kemiskinan dan keterbatasan ekonomi orangtua untuk melanjutkan sekolah, lima siswi SMA di Kota Bogor terpaksa masuk ke dalam sindikat pelacuran yang dikendalikan seorang napi dari balik jeruji penjara.

Kelima siswi SMA itu, Kamis (11/12) malam, diselamatkan oleh petugas Polresta Bogor saat hendak melayani tamu di sebuah hotel di Kota Bogor.

Ls, 18, salah satu wanita anggota jaringan tersebut mengaku terpaksa menjadi wanita panggilan lantaran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. ”Ayah saya cuma seorang petani penggarap. Sementara saya ingin sekali melanjutkan sekolah,” aku Ls usai dimintai keterangan di Polresta Bogor.

Pelajar yang sedang menjalani ujian di sekolahnya ini menuturkan dia tergiur jadi anggota sindikat setelah melihat temannya yang bergaya hidup mewah. ”Waktu itu saya diajak sama dia untuk kerja sampingan. Eh nggak tahunya kerja seperti ini,” katanya.

PETUGAS MENYAMAR
Sindikat pelacuran yang dikendalikan Novi alias Ambon alias Ega alias Nizar 35, narapidana LP kelas 2 Tangerang, ini digulung Polresta Bogor, Kamis (11/12) malam.

Bersama otak sindikat tersebut, petugas juga meringkus Oki Maulana alias Oki ,36, Deri Arianie alias Deri, 34, dan Andriansyah alias Andri ,35, yang menjadi kaki tangannya.

Sindikat pelacuran yang memanfaatkan siswi SMA sebagai pemuas nafsu lelaki hidung belang ini terendus setelah polisi melakukan penyelidikan selama satu minggu menyusul adanya laporan masyarakat.

Masyarakat melaporkan akhir-akhir ini marak praktek pelacuran dengan korban gadis yang berstatus pelajar. Petugas pun kemudian melakukan penyamaran dan berpura-pura memesan wanita panggilan kepada para tersangka.

Setelah dicapai kesepakatan, petugas akhirnya menangkap Oki dan Deri, saat keduanya mengantar ke lima korban Dw, 19, Wn, 19, Nn, 19, Ls, 18, dan Ln, 16, ke Hotel Pangrango 2 di Jalan Pajajaran Kota Bogor.

PERAWAN DIHARGAI RP15 JUTA
Dalam pemeriksaan polisi, ke lima pelajar yang menjadi korban itu mengaku siap melayani om-om berkantong tebal sesuai perintah kaki tangan Ambon.

”Tarif sekali kencan Rp5 juta bagi yang sudah tidak perawan. Sedangkan yang masih perawan dihargai Rp15 juta,” ujar Ln yang mengaku sudah masuk dalam jaringan Ambon sejak masih duduk di kelas 3 SMP.

Pengakuan korban lainnya, selain di Hotel Pangrango, mereka juga pernah melayani om-om di wilayah Sentul.

Sementara itu para kaki tangan Ambon mengaku mereka ditugaskan sang bos untuk memfasilitasi permintaan konsumen di wilayah Bogor.

”Kalau untuk wilayah Bogor, kami berdua yang menjalankan. Sementara untuk wilayah Jakarta, bagian rekan saya Andri yang tinggal di Slipi,” paparnya.

Berdasarkan informasi ini, petugas lalu memburu Andri, seorang penjual voucher isi ulang. Tersangka Andri sendiri mengaku, dirinya selama ini yang menyuplai pulsa ke Ambon yang berada dalam penjara.

Kapolresta Bogor, AKBP Guntor Gaffar, didampingi Wakapolresta, Kompol Arief Rahman dan Kasat Reskrim, AKP Irwansyah, mengatakan para tersangka dikenakan UU 21 tahun 2007 pasal 2 tentang tindak pidana perdagangan orang junto pasal 83 UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak junto pasal 297 da 55 KUHP dengan pidana penjara 15 tahun.

Kategori: kebodohan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · pelanggaran HAM · perzinahan · prostitusi

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

November 12, 2008 · 1 Tanggapan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Seorang Bocah Umur Delapan Tahun Menembak Orangtuanya Sendiri

November 9, 2008 · 1 Tanggapan

Seorang bocah laki-laki berumur delapan tahun telah membunuh ayahnya dan seorang pria lainnya di St. Johns, Negara Bagian Arizona, Amerika Serikat, demikian BBC, Minggu.

Polisi St. Johns, sebuah kota terpencil di barat daya kota Phoenix, Ariizona, mengungkapkan bahwa anak itu telah mengaku menembak dua pria tersebut dengan senjata kaliber 22 mm, Rabu lalu.

“Siapa coba yang mengira bocah berumur delapan tahun bisa membunuh dua pria dewasa,” tanya Kepala Polsek St. Johns Roy Melnick.

Hakim pengadilan setempat telah memerintahkan pihak berwajib untuk memeriksa kondisi psikologi anak itu yang kini sedang dikarantina polisi, sementara para jaksa menyatakan anak itu tak memiliki catatan perilaku buruk di sekolah dan tidak pula bermasalah di rumahnya bahkan anak tersebut dikenal ceria dan memiliki banyak teman.

Melnick mengungkapkan. polisi berdatangan ke rumah anak itu beberapa menit setelah penembakkan terhadap dua pria itu terjadi pada Rabu pagi dan mendapatkan seorang terbaring parah di luar pintu sedangkan lainnya terkapar di ruang atas rumah itu.

Pria yang tewas di dalam rumah dipercaya ditembak anak itu di dalam rumahnya sendiri.

“Anak itu lalu lari ke rumah tetangganya sambil berkata ayahnya telah mati,” kata Jaksa Brad Carlyon. Polisi lalu menerima pengakuan dari anak itu berkaitan dua pembunuhan itu.

Pengacara tersangka, Benjamin Brewer. menuduh polisi telah menanyai bocah itu tanpa didampingi orangtua dan pengacara, serta tidak menerangkan hak-hak si bocah.

Kategori: kejahatan anak · pembunuhan

Geng Cewek Duel Di Makasar Dengan Aksi Saling Pukul dan Jambak

Oktober 22, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok siswi sekolah menengah atas (SMA) anggota Geng Nero yang sempat heboh di Pati, Jawa Tengah, juga muncul di Makassar.

Adalah Syarifah Mukti (16) yang menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh tiga siswi lainnya, Rizky Fitriani, Dian Vulqani, dan Fadillah. Ketiga pelaku juga berusia 16 tahun.

Syarifa dianiaya di atas mobil jenis Mitsubishi Kuda oleh ketiga pelaku di sekitar Jl Abubakar Lambogo, Makassar, Rabu (20/8) malam. Wajah korban Syarifah bengkak dan memar. Korban dan pelaku sebenarnya berteman akrab dan tergabung di dalam satu geng. Namun polisi belum bersedia mengungkapkan nama geng tersebut.

Kepala Satuan Reserse dan Krimiminal (Kasatreskrim) Polresta Makassar Barat, AKP Ronald Sumigar, mengatakan, pihaknya menahan para pelaku dan akan dijerat dengan pasat 170 KUHP dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Direkam

Adegan kekerasan tersebut terekam dengan durasi sekitar delapan menit. Adegan ini direkam menggunakan ponsel oleh Dian. Dalam rekaman tersebut, korban ditempeleng beberapa kali dan rambutnya dijambak.

Syarifah yang tinggal di Jl Sukabumi, Panakkukang, sama sekali tak bisa melawan. Siswi SMA Negeri 5 Makassar ini hanya bisa pasrah karena berada di jok tengah dan dikelilingi oleh ketiga pelaku.

Dua pelaku duduk di kursi tengah bersama korban, sedangkan seorang pelaku lainnya duduk di bagian belakang. Korban menjadi bulan-bulanan sejak di Jl Bawakareng, hingga ke Jl Emmy Saelan.Mobil dikemudikan oleh rekan pelaku bernam Sutrisno sedangkan seorang pria lainnya, Fikrah, duduk di samping Sutrino. Keduanya juga siswa SMA. Sustrisno adalah siswa SMA 16 sedangkan Fikrah siswa SMA 11.

Kejadian bermula ketika korban menghubungi Kiky melalui telepon selular. Syarifah menyampaikan permohonan maaf terkait persoalan pribadi antara mereka berdua.

Kiky pun meminta korban untuk menunggu di sekitar Jl Abubakar Lambogo. Tanpa curiga akan “dikerjai”, Syarifah pun memenuhi ajakan Kiky.

Tak lama berselang, Kiky bersama Dian, Fadilah, Sutrisno, dan Fikrah datang dengan menggunakan mobil. Korban langsung naik di jok tengah.

Setelah diajak berkeliling, korban mulai ditempeleng saat berada di sekitar Jl Bawakaraeng. Setelah diturunkan oleh pelaku, korban bersama orangtuanya melapor ke Mapolresta Makassar Barat sekitar pukul 21.00 wita. Polisi bergerak cepat dengan mengejar pelaku. Rizky yang akrab disapa Kiky ditangkap di rumahnya di Jl Muh Yamin. Sedangkan Dian dan Fadillah menyerahkan diri saat mengetahui Kiky ditangkap polisi.

Kategori: kebodohan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · penganiayaan