Category Archives: kejahatan anak

Video Kekerasan Cewek Bali Beredar Dimana Korban Yang Tidak Bisa Bayar Hutang Dipukuli, Digunduli dan Ditelanjangi

Sebuah video berisi kekerasan dan pelecehan ala geng nero beredar di Bali. Video berdurasi 5 menit 37 detik itu berisi seorang remaja perempuan yang dikerubuti beberapa teman wanitanya. Seorang diantaranya kemudian menempeleng remaja itu beberapa kali, seorang lainnya menjambak rambutnya dan akhirnya pakaian remaja itu digunting sehingga nyaris telanjang.

Video yang beredar lewat berbagai media sosial seperti Facebook dan Twitter serta Blackberry Messenger di Denpasar itu sudah diunggah ke situs Youtube. Pengunggahnya bernama Mandabrother dengan judul “Kekerasan Cewek Bali.”

Dari pembicaraan yang terekam dengan bahasa Indonesia campur Bali itu, terdengar seorang dari mereka menagih uang sebesar Rp200 ribu kepada korban dengan menggunakan bahasa Bali dan Indonesia. Setelah itu , sejumlah pukulan dilayangkan ke muka korban yang berbaju ungu dan cuma bisa menangis.

Lebih heboh lagi, pakaian korban kemudian digunting sehingga korban tampak hanya mengenakan celana dalam. Kekerasan berlanjut dimana rambut korban pun menjadi korban gunting.

“Masih untung rambut kamu yang dipotong, daripada nyawa kamu!” kata salah-satu pelaku. Kemudian korban didorong hingga tersungkur. Untungnya, saat itu ada seorang ibu yang memergoki mereka sehingga para pelalu langsung kabur dengan motornya.

Terkait dengan peristiwa itu, Kepolisian Daerah Bali masih mempelajarinya. Sementara ini dugaan kuat, persitiwa itu terjadi di wilayah Denpasar dengan melihat plat nomor yang digunakan pelaku yakni, DK 7993 CY dan DK 7904 CH. “Kami akan mendalami video ini,” kata Juru Bicara Polda Bali, Komisaris Besar Hariadi.

Video kekerasan serupa dulu pernah beredar di Pati dengan pelakunya para pelajar wanita pengecut (yang hanya berani main keroyokan sedang kalo lagi sendirian takut) sehingga menamakan dirinya geng Nero alias neko-neko (macam-macam) dikeroyok.

Gadis KA, remaja yang jadi korban dalam video kekerasan oleh kelompok geng motor di Bali menyebut, video kekerasan itu diunggah dan disebarkan kawan-kawannya dalam satu geng motor di jejaring sosial dengan tujuan mempermalukan dirinya. Namun ternyata, kemudian justru membuat kasus ini terungkap.

Menurut KA, aksi kekerasan berujung penganiayaan terhadap dirinya berlangsung Desember 2011 lalu. Para pengeroyoknya, adalah teman-teman KA sesama anggota geng motor “Cewek Macho Performance”. KA mengaku bergabung dalam kelompok itu sejak setahun sebelum dianiaya. ” Itu sudah lama kejadiannya, Desember lalu” kata KA yang ditemui di Denpasar, Selasa 7 Februari 2012.

Seperti diberitakan sebelumnya, video kekerasan remaja perempuan di Denpasar beredar luas di sejumlah situs dan facebook. Video berdurasi 5 menit 37 detik itu berisi kekerasan dan pelecehan ala geng nero terhadap seorang remaja putri yang belakangan diakui KA adalah dirinya.

Dalam video itu terlihat KA dikerubuti beberapa teman wanitanya. Seorang diantaranya kemudian menempeleng remaja itu beberapa kali, seorang lainnya menjambak rambutnya dan akhirnya pakaian remaja itu digunting sehingga nyaris telanjang. Video yang beredar lewat berbagai media sosial seperti Facebook dan Twitter serta Blackberry Messenger di Denpasar itu sudah diunggah ke situs Youtube. Pengunggahnya bernama Mandabrother dengan judul “Kekerasan Cewek Bali.”

Dari pembicaraan yang terekam dengan bahasa Indonesia campur Bali itu, terdengar seorang dari mereka menagih uang sebesar Rp200 ribu kepada korban dengan menggunakan bahasa Bali dan Indonesia. Setelah itu, sejumlah pukulan dilayangkan ke muka korban yang berbaju ungu dan cuma bisa menangis.

Lebih heboh lagi, pakaian korban kemudian digunting sehingga korban tampak hanya mengenakan celana dalam. Kekerasan berlanjut dimana rambut korban pun menjadi korban gunting. “Masih untung rambut kamu yang dipotong, daripada nyawa kamu!” kata salah-satu pelaku. Kemudian korban didorong hingga tersungkur. Untungnya, saat itu ada seorang ibu yang memergoki mereka sehingga para pelalu langsung kabur dengan motornya.

Video kekerasan serupa dulu pernah beredar di Pati dengan pelakunya pelajar wanita yang menamakan dirinya geng Nero alias neko-neko (macam-macam) dikeroyok. Kasus ini kini diselidiki Polisi.

Kapolresta Denpasar Komisaris Besar Pol I Wayan Sunartha masih mendalami kasus tersebut untuk memastikan terlebih dahulu lokasi kejadiannya. “Apakah kejadian ini benar atau tidak, kami sedang menunggu adanya laporan dari pihak yang mungkin dirugikan dari video tersebut,” katanya, Selasa 7 Februari 2012.

Johanes Brian Richo Tersangka Perampokan dan Pemerkosaan Angkot M26 Semakin Beringas Dalam Penjara

Johanes Brian Richo, 18 tahun, tersangka otak perampokan dan pemerkosaan terhadap Rs, 35 tahun, warga Sukmajaya, Depok, pada 14 Desember lalu, adalah mantan narapidana. “Johanes adalah mantan residivis tahun 2009 dengan kejahatan penggelapan,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Depok Komisaris Besar Mulyadi Kaharni di kantornya Senin 26 Desember 2011.

Menurut dia, seharusnya para mantan narapidana yang sudah dibina berubah menjadi baik ketika keluar penjara, tidak melakukan kejahatan lagi, dan siap diterima kembali di masyarakat. “Tapi kenyataannya tambah beringas,” kata Mulyadi.

Johanes, Mulyadi menambahkan, merekrut tersangka lainnya dan mengajak mereka berbuat jahat. Dalam menjalankan aksinya, Johanes menggunakan angkot M26 yang disewanya dari tangan ketiga. Jadi sang pemilik tidak tahu angkotnya digunakan untuk kejahatan. “Pemilik mobil tidak terkena pasal. Dia tidak sengaja menyewakan kendaraan untuk melakukan kejahatan. Memang seharusnya ia tidak menyewakan barang kepada yang tak dikenal.”

Keuntungan dari gonta-ganti sopir ini, ucap Mulyadi, hanya Rp 10 ribu. Mereka menggunakan sistem setoran per hari. Jika pemilik angkot mendapatkan setoran dari hasil kejahatan dan membagikannya, ia akan diproses pidana.

Selain Johanes, Polres Depok membekuk dua tersangka lainnya pada Jumat pekan lalu. Mereka adalah Deden Rosadi, 18 tahun, dan Aida, 19 tahun. Aida, mahasiswi sebuah universitas di Jakarta Timur, adalah pacar Johanes, yang dijemput sebelum mereka beraksi. Ia diduga menyaksikan pacarnya ketika memperkosa Rs. Polisi masih memburu tersangka MS, 19 tahun, pengemudi angkot itu.

Tiga tersangka dibekuk dalam 10 hari karena kehabisan ongkos. Uang Rp 500 ribu dan giwang milik Rs yang dirampok habis dalam perjalanan. Saat di Cirebon, Jawa Barat, mereka kehabisan ongkos untuk kabur.

“Uang hasil kejahatan itu untuk makan saja enggak cukup. Mereka juga minta sama tukang becak Rp 1.000, penangkapan kan pada hari kesembilan pelarian,” kata Mulyadi. Untuk kabur lebih jauh, mereka sudah kehabisan logistik.

Rs berharap tersangka yang merampok dan memperkosanya dihukum mati. “Keponakan saya meminta tersangka dihukum mati atau dipenjara seumur hidup,” kata Joy, 50 tahun, paman Rs, di Polres Depok, Ahad lalu. Keinginan itu disampaikan saat Rs diminta untuk mengenali tersangka dan membuat berita acara pemeriksaan (BAP) tambahan.

Menurut Joy, Rs dan keluarga belum puas jika tersangka hanya divonis 10 atau 15 tahun penjara. “Sekarang mungkin keponakan kami sedikit tenang dengan ditangkapnya ketiga tersangka. Tapi dia belum puas.”

Ketika polisi memperlihatkan foto Johanes, ibu dua anak itu langsung melepaskan napas panjang dan membenarkan bahwa Johanes yang telah memperkosanya. Korban tidak dipertemukan langsung dengan pelaku karena belum sanggup. “Tadi diperlihatkan fotonya, betul si Johanes itu yang perkosa keponakan saya,” kata Joy.

SIswi SMP Terpaksa Membayar Traktiran Semangkok Bakso Dengan Menyerahkan Keperawanannya

At (15), siswa kelas III di salah satu sekolah menengah pertama swasta di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, terpaksa harus berurusan dengan polisi. Penyebabnya, At nekat memerkosa DC (15), perempuan warga Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Kamis (17/2) malam, At, yang merupakan anak salah seorang berpunya di Desa Cidokom, Kecamatan Rumpin, mengajak tetangga satu desanya, Yt (19), untuk makan bakso di Desa Gobang, juga di Rumpin. At lalu mengirimkan pesan singkat kepada DC yang baru seminggu dikenalnya.

Ia menawarkan ajakan yang sama kepada DC, gadis yang tak lagi melanjutkan sekolah seusai menamatkan sekolah dasar. Gayung bersambut, DC mau-mau saja ditraktir menyantap bakso oleh At.

Sekitar pukul 20.00, At dan Yt menjemput DC di rumahnya di Desa Rabak dengan menggunakan sepeda motor. Di rumah itu, DC tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya. Ibu kandung DC sudah meninggal dunia.

Mereka lalu berboncengan bertiga dengan satu sepeda motor. Setelah makan bakso, sekitar pukul 21.00, At dan Yt membawa DC ke Kampung Pengangkang, Desa Gobang, juga di daerah Rumpin. Di perkebunan karet itu mereka berhenti. Suasana di sekitar lokasi cukup sunyi dan sepi karena jalan yang membelah hutan karet itu tak banyak dilalui warga.

Lokasi itu pada akhir pekan kerap dijadikan lokasi berpacaran sejumlah muda-mudi. Ada beberapa gazebo yang kerap digunakan untuk tempat rehat bagi para penyadap karet di sekitar lokasi itu.

Di lokasi sepi itu At memaksa DC untuk diajak bersetubuh, tetapi gadis itu menolak ajakan tersebut. Penolakan itu tak diindahkan oleh At dan

meminta Yt untuk memegang tangan DC. Begitu gadis mungil ini tidak berdaya dalam pegangan Yt, seketika itu pula At melampiaskan hasrat seksualnya.

Setelah At selesai menyetubuhi DC, ia diduga sempat menawarkan kepada Yt untuk melakukan hal serupa. Namun, Yt menolak tawaran At karena merasa tak sampai hati memerkosa DC yang terus menangis.

Kedua pemuda ini kemudian mengantarkan DC pulang ke rumahnya. Tindakan At itu baru terungkap Sabtu (19/2) setelah DC menceritakan kejadian yang menimpanya kepada kakak perempuannya.

”Awalnya dia menangis terus dan menolak makan. Setelah ditanya baru akhirnya bercerita,” tutur Abet (40-an), paman korban, Minggu (20/2).

Dari pengakuan itu, keluarga lalu melapor ke Polsek Rumpin. Petugas lalu menangkap At dan Yt di rumah masing-masing pada Sabtu malam. Keluarga tengah berupaya memikirkan penyelesaian yang terbaik bagi masa depan DC.

Akibat kasus tersebut, konflik nyaris meluas menjadi konflik antarkampung. Pihak keluarga sudah ”panas” mendengar kejadian yang menimpa DC. Beruntung tokoh masyarakat sempat meredamnya.

Minggu siang, Kepala Desa Gobang M Harun, Kepala Desa Cidokom Asep Nuryana, serta keluarga korban dan pelaku bertemu untuk mendinginkan suasana.

Sementara itu, Kepala Polsek Rumpin Komisaris Nundun Radiaman mengatakan, setelah itu pihaknya pada Minggu kemarin melimpahkan kasus tersebut ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Bogor.

Korban di bawah umur

Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak pada Polres Bogor Ajun Komisaris Ari Trisnawati mengaku masih mendalami latar belakang penyebab At nekat memerkosa DC. Namun, dari kasus yang pernah ditangani Polres Bogor, salah satu pemicu adalah mudahnya anak-anak mengakses pornografi. Setelah menonton, mereka kesulitan untuk mengendalikan hawa nafsu sehingga nekat memerkosa.

Sejak awal tahun 2011, kata dia, pihaknya sudah menangani lebih dari 10 kasus pemerkosaan dengan korban perempuan di bawah umur. Sebagian kecil dari kasus itu melibatkan pelaku di bawah umur, yakni kurang dari 18 tahun. Pelaku bisa dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

”Ada kecenderungan kasus kekerasan seksual terhadap anak meningkat, sedangkan kekerasan dalam rumah tangga agak turun pada awal tahun ini,” ujarnya.

Siti Maemunah, Ketua Forum Komunikasi Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Bogor, menuturkan, masalah akses tayangan pornografi memang bisa menjadi pemicu pelaku. Namun, lingkungan yang kini semakin permisif juga memberi andil terhadap kejadian itu.

Sementara dari sisi perempuan, gaya hidup kini membuat anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. ”Misalnya, ada ibu-ibu menonton sinetron dewasa, tetapi anak perempuannya yang masih kecil dibiarkan ikut menonton. Dia bisa terpengaruh menjadi dewasa sebelum waktunya,” ujar Maemunah.

Tukang Kebun dan Satpam Ramai Ramai Ngeseks Dengan Seorang Siswi SMPKarena Tiap Hari Ditantang Untuk Berhubungan Intim Oleh Siswi SMP Tersebut

Hatman (41), bapak dua anak yang jadi tukang kebun sebuah SMP negeri di Banjarmasin Barat, Kalimantan Selatan, menyetubuhi Bunga (14), bukan nama sebenarnya, siswi SMP negeri itu. Tragisnya lagi, perbuatan warga Banyiur Dalam, Banjarmasin itu dilakukan dua kali di pos satpam. Hatman pun dilaporkan orangtua Bunga ke Mapolresta Banjarmasin. Hatman sampia Senin (14/2) dikurung di Polresta Banjarmasin.

Petugas juga meringkus satpam SMP tersebut, Sam’ani (28). Pria ini diduga ikut menyetubuhi Bunga di pos Satpam sekitar Juli 2010 lalu.

Saat ditemui usai menjalani pemeriksaan, Hatman maupun Sam’ani mengakui telah menggauli Bunga di pos Satpam. Namun keduanya berkilah, perbuatan dilakukan lantaran sering diejek korban. “Dia (korban) yang mengajak. Pas kami tidak mau, malah diejeknya. Katanya kami tidak jantan,” kilah Sam’ani.

Warga Jafri Zamzam yang sudah memiliki satu anak itu merasa tertantang dengan ucapan korban. Apalagi, korban selalu mengajak dengan alasan tidak punya uang saku.

Begitu juga dengan Hatman. Dua kali menggauli korban, dia mengeluarkan uang Rp 100.000 sebagai imbalan telah melayani hasratnya. “Pas dia menunggu jemputan, kami gawe di pos Satpam. Tapi setelah itu kami memberi dia uang,” cetusnya.

Peristiwa itu terkuak lantaran korban yang saat ini duduk di bangku kelas dua hendak dikeluarkan pihak sekolah tanpa alasan jelas. Rencana tersebut membuat kaget seorang guru di SMP itu, hingga berusaha memberikan perlindungan dengan alasan korban merupakan siswi yang rajin. Namun, kabar itu akhirnya sampai ke telingan orangtua korban.

Sementara itu, Kasat reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Suhasto melalui Kanit Jatanras Aiptu Ganef Brigandono, mengatakan, kedua tersangka bekerja di sekolah, tempat korban menuntut ilmu.

Petugas juga bakal mendalami apakah ada unsur ancaman ataupun paksaan saat melakukan hubungan itu. Karena meski tidak ada, tetap menyalahi aturan karena bersetubuh dengan anak di bawah umur.

Siswi Pelajar SMP Diperkosa Sehari Semalam Oleh 9 Pemuda dan Hasilnya Direkam Pakai HP Untuk Kenang Kenangan

Siswi SMp Diperkosa Seharian dan Direkam HP

Siswi SMp Diperkosa Seharian dan Direkam HP

Seorang siswi kelas II SMP, sebut saja Mawar, warga Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi korban perlakukan tidak senonoh yang diduga dilakukan sembilan pemuda.

Para tersangka mencekoki korban dengan tuak dan pil dextro, lalu menggagahi korban sejak sore hingga keesokan paginya. Sebagian adegan tidak senonoh para tersangka juga direkam melalui video ponsel.

Polisi sudah mengamankan kelima tersangka, Taufik (18), Saefudin (17), Asep Saripudin (21), Rendi Bolu (18), dan Rizki (18). Mereka adalah warga Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis. Polisi juga masih melacak keberadaan empat tersangka lainnya, yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.

“Kami sudah mengamankan lima tersangka dan terus melakukan pengembangan, termasuk masih menunggu hasil visum puskesmas untuk mengetahui kondisi korban,” ujar Kapolsekta Ciawi, AKP Baharudin, Kamis (3/2) sore.

Menurut penyelidikan sementara polisi, kasus tersebut berawal dari perkenalan Mawar (14), dengan Taufik melalui SMS nyasar. Mereka kemudian janjian bertemu. Setelah bertemu satu kali, Taufik mengajak lagi bertemu hari Minggu (30/1) siang. Sesuai dengan janji, Mawar datang menemui Taufik.

Tersangka kemudian membawa korban ke daerah di Cihaurbeuti, dan mampir di sebuah tempat. Di situ sudah menunggu empat tersangka lainnya. Taufik lantas pergi sebentar dan kembali dengan membawa 2 liter tuak serta 170 butir pil dextro.

Taufik kemudian mengajak korban serta teman-temannya menuju sebuah tempat di Desa Cikadu, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Di situlah kelima pelaku menggelar pesta miras dan pil dextro. Mereka pun memaksa Mawar ikut minum tuak.

Melihat korban pingsan, para pelaku memperdayainya dan merekam adegan tak senonoh yang mereka lakukan. Saat hari menjelang sore para tersangka membawa Mawar kembali ke rumah pelaku bernama Markum di Cihaurbeuti. Di tempat itu sudah ada lagi empat pemuda berandal yang lagi-lagi melakukan perbuatan tidak senonoh hingga keesokan paginya.

Taufik akhirnya mengantar Mawar yang mulai sadar ke Ciawi dan meninggalkan begitu saja di sebuah tempat. Korban, yang berhasil pulang ke rumahnya, akhirnya mengadukan perbuatan para tersangka ke polisi.(tribunjabar/ce1)

Makin Banyak ABG Putri Memilih Jadi Pelacur Karena Ingin Hidup Enak dan Mewah Tanpa Kerja Keras

Tujuh remaja berumur 13-16 tahun di Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, masuk dalam jaringan prostitusi yang dimotori tetangga mereka, Dede. Dede menghubungkan remaja ini dengan pemesan. Kegiatan ini terbongkar polisi pekan lalu dan Dede dijadikan tersangka.

Di tempat tinggal mereka para remaja ini saling kenal dan merupakan teman bermain. Mereka akrab sejak awal karena sama-sama tumbuh di situ. Rumah mereka berada di dalam gang di samping pusat perbelanjaan Pasaraya Manggarai. Sebagian besar penduduknya adalah warga lama. Sebagian rumah ada yang dikontrakkan dan ada yang dijadikan rumah kos. Beberapa rumah kontrakan dihuni warga setempat yang semula menempati rumah orangtua mereka.

Jun, orangtua K, yang juga menjadi korban, mengaku tak tahu persis hal yang membuat anaknya masuk dalam lingkaran itu. Jun menduga putri pertamanya itu terseret dalam pergaulan yang mendewakan hidup enak dan nyaman tanpa harus kerja dengan teman-teman sebayanya di kampung tersebut.

Sebelum kasus ini terbongkar, Jun tidak mengetahui jaringan itu. Dari pengakuan anaknya, K baru satu kali terlibat dalam jaringan tersebut, sementara sosok Dede tidak terlalu dikenal. ”Saya tidak mengenal Dede karena dia baru empat bulan pindah ke rumah mertuanya di sini,” ujar Jun, Rabu (26/1/2011).

Di sekitar rumah, K dikenal sebagai remaja yang cantik. Oleh karena itu, sejumlah remaja pria tertarik dan kerap menggoda K.

Dari sisi finansial, Jun mengaku selama ini memberikan uang saku kepada K. ”Seluruh kebutuhan K juga saya bayari. Namanya juga anak sendiri,” kata Jun.

Hal senada disampaikan DD, yang juga orangtua korban Y. DD, yang tukang ojek, dan istrinya, yang membuka warung, saban hari memberikan uang saku Rp 30.000 untuk Y. Artinya, keuangan untuk sekedar jajan dan nonton film atau jalan jalan ke Mall bukan menjadi halangan bagi anak-anak ini karena mereka masih dibiayai oleh orangtua masing-masing.

Yuni, warga setempat, yang juga mempunyai putri kelas V SD, khawatir dengan kejadian itu. ”Lantaran ini kampung kecil, pergaulan anak-anak juga mencampur. Saya khawatir anak akan terpengaruh. Apalagi, kejadian seperti yang sudah terungkap itu tidak diketahui sebelumnya sampai ada penangkapan oleh polisi,” kata Yuni.

Terjunnya remaja ke dunia prostitusi bukan hanya di Manggarai. Ria (16) mengaku sekitar dua tahun terjun ke dunia pelacuran. ”Dibilang malu, ya malu ya nggak malu juga sih. Tapi, dari (melacur) itu saya dapat uang dan kenikmatan sekaligus. Bisa beli baju, sabun mandi yang wanginya enak, terus ngerasain tidur di hotel bagus juga dan bisa berteman dengan banyak orang kaya juga” kata Ria yang tinggal di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu.

Seperti remaja pada umumnya, Ria tampil modis, energik, dan ceria dengan celana jeans ketat model pensil, sepatu kanvas, dan baju kaus pas di badan. Ia berbicara ceplas-ceplos. Awalnya ada sedikit keraguan saat akan bercerita tentang hidupnya. Namun, semakin lama berbincang, dia semakin terbuka.

Ria resmi menjajakan diri sekitar umur 13 tahun. Bapak ibunya bercerai sejak ia masih kanak-kanak dan Ria kecil lebih banyak diasuh neneknya di Pondok Ungu, Bekasi.

Gadis berkulit putih ini mengatakan sempat sekolah sampai kelas VI SD, tapi tidak lulus. Kebetulan dia memang sering bermain bersama anak lelaki di sekitar tempat tinggal neneknya. Suatu hari saat nongkrong bersama teman, sebut saja A, datang dan meminta Ria menemani kenalannya dengan bayaran Rp 200.000.

Pengalaman pertama menemani lelaki hidung belang itu ternyata tidak terlalu buruk baginya. ”Sakit memang namanya juga masih perawan, tetapi orangnya baik, mau ngertiin kalo saya belum tahu caranya. Dia sempat beberapa kali bertemu lagi dengan saya setelah pertemuan pertama itu. Yang terakhir, dia ngasih Rp 1 juta. Banyak banget. Langsung dibeliin HP,” tutur Ria lagi.

Sejak itu Ria menjajakan diri sendiri atau melalui perantara A. Peralatan make up, pakaian, telepon seluler, dan walkman dengan mudah dibelinya. Namun, Ria tidak pernah bisa menabung karena hidupnya boros dan suka bersenang-senang. Hidupnya bergulir hingga di pertengahan 2009 lalu terjaring razia yang membawanya ke pusat rehabilitasi di sebuah panti sosial di Jakarta Timur.

Tiga bulan berada di panti tak menghalangi Ria untuk melacur lagi. Awal 2010 Ria terjaring razia dan kembali menghuni panti yang sama. Di panti ini ia diajari menjahit dan keterampilan lain. Cerita hidupnya menjadi berbeda ketika akhirnya bertemu Indah (40), seorang karyawati di kantor pemerintahan yang memfasilitasi Ria bisa lanjut sekolah.

Ria mengaku mencoba mengikuti arahan Indah dan selama sekitar enam bulan ini sangat menikmati hidup barunya meskipun harus bekerja keras. Namun, ia mengaku belum pasti soal masa depannya

Siswi Kelas 5 SD Diperkosa Di Sekolah Malakasari Oleh Dua Orang Teman Sekelasnya

Ini cerita soal kekerasan seksual. Kabar miring yang masih saja menghiasi jutaan halaman media massa di Tanah Air. “Korban adalah siswi kelas V SD. Ia mengalami kekerasan seksual oleh teman satu angkatannya,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Timur Komisaris Dodi Rahmawan, Rabu lalu.

Aksi bejat itu terjadi beberapa hari lalu di sebuah sekolah yang berada di Kecamatan Malakasari. Puluhan siswa yang baru selesai menjalani kegiatan pencak silat diminta gurunya menyalin pakaian di kamar mandi. Namun tidak bagi dua siswa berinisial DK dan RM. Keduanya berkomplot mengajak seorang siswi berinisial WMA ke samping ruang perpustakaan yang saat itu sedang sepi.

“Di tempat itulah keduanya melakukan kekerasan seksual,” ujar Dodi. Permintaan itu mulanya ditolak WMA. Namun malang, penyakit epilepsinya ketika itu mendadak kambuh. WMA pingsan. Kondisi itu lantas dimanfaatkan DK dan RM untuk mencabuli WMA.

“Saat itu, ada beberapa rekan pelaku yang melihat kejadian tersebut. Mereka juga menyaksikan kedua pelaku yang membopong tubuh korban ke kamar mandi,” kata Dodi. Setelah WMA siuman, ia melaporkan kejadian tersebut kepada guru dan orang tuanya. “Dari laporan orang tuanyalah kejadian ini kami ketahui,” kata Dodi.

Hasil visum yang dilakukan pihak rumah sakit menyimpulkan adanya bercak darah dan bekas perlakuan seksual berupa air mani. “Belum bisa kami simpulkan. Masih harus kami uji kembali,” katanya. Saksi mata pun dimintai keterangan.

Tempo sempat menyambangi sekolah dasar bercat hijau dengan satu lantai itu. Salah seorang siswa yang sempat diajak bicara pun membenarkan kejadian tersebut. “Hus… kata Bu Guru masalah itu tidak boleh diceritakan kepada siapa pun,” kata salah seorang temannya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia Ariest Merdeka Sirait menilai kasus kekerasan seksual tersebut sebagai akibat persentuhan anak dengan Internet, khususnya akses pornografi. “Apalagi sekarang sudah bisa diakses lewat telepon genggam,” katanya.