Arsip Kategori: kejahatan anak

Tukang Kebun dan Satpam Ramai Ramai Ngeseks Dengan Seorang Siswi SMPKarena Tiap Hari Ditantang Untuk Berhubungan Intim Oleh Siswi SMP Tersebut

Hatman (41), bapak dua anak yang jadi tukang kebun sebuah SMP negeri di Banjarmasin Barat, Kalimantan Selatan, menyetubuhi Bunga (14), bukan nama sebenarnya, siswi SMP negeri itu. Tragisnya lagi, perbuatan warga Banyiur Dalam, Banjarmasin itu dilakukan dua kali di pos satpam. Hatman pun dilaporkan orangtua Bunga ke Mapolresta Banjarmasin. Hatman sampia Senin (14/2) dikurung di Polresta Banjarmasin.

Petugas juga meringkus satpam SMP tersebut, Sam’ani (28). Pria ini diduga ikut menyetubuhi Bunga di pos Satpam sekitar Juli 2010 lalu.

Saat ditemui usai menjalani pemeriksaan, Hatman maupun Sam’ani mengakui telah menggauli Bunga di pos Satpam. Namun keduanya berkilah, perbuatan dilakukan lantaran sering diejek korban. “Dia (korban) yang mengajak. Pas kami tidak mau, malah diejeknya. Katanya kami tidak jantan,” kilah Sam’ani.

Warga Jafri Zamzam yang sudah memiliki satu anak itu merasa tertantang dengan ucapan korban. Apalagi, korban selalu mengajak dengan alasan tidak punya uang saku.

Begitu juga dengan Hatman. Dua kali menggauli korban, dia mengeluarkan uang Rp 100.000 sebagai imbalan telah melayani hasratnya. “Pas dia menunggu jemputan, kami gawe di pos Satpam. Tapi setelah itu kami memberi dia uang,” cetusnya.

Peristiwa itu terkuak lantaran korban yang saat ini duduk di bangku kelas dua hendak dikeluarkan pihak sekolah tanpa alasan jelas. Rencana tersebut membuat kaget seorang guru di SMP itu, hingga berusaha memberikan perlindungan dengan alasan korban merupakan siswi yang rajin. Namun, kabar itu akhirnya sampai ke telingan orangtua korban.

Sementara itu, Kasat reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Suhasto melalui Kanit Jatanras Aiptu Ganef Brigandono, mengatakan, kedua tersangka bekerja di sekolah, tempat korban menuntut ilmu.

Petugas juga bakal mendalami apakah ada unsur ancaman ataupun paksaan saat melakukan hubungan itu. Karena meski tidak ada, tetap menyalahi aturan karena bersetubuh dengan anak di bawah umur.

Siswi Pelajar SMP Diperkosa Sehari Semalam Oleh 9 Pemuda dan Hasilnya Direkam Pakai HP Untuk Kenang Kenangan

Siswi SMp Diperkosa Seharian dan Direkam HP

Siswi SMp Diperkosa Seharian dan Direkam HP

Seorang siswi kelas II SMP, sebut saja Mawar, warga Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi korban perlakukan tidak senonoh yang diduga dilakukan sembilan pemuda.

Para tersangka mencekoki korban dengan tuak dan pil dextro, lalu menggagahi korban sejak sore hingga keesokan paginya. Sebagian adegan tidak senonoh para tersangka juga direkam melalui video ponsel.

Polisi sudah mengamankan kelima tersangka, Taufik (18), Saefudin (17), Asep Saripudin (21), Rendi Bolu (18), dan Rizki (18). Mereka adalah warga Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis. Polisi juga masih melacak keberadaan empat tersangka lainnya, yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.

“Kami sudah mengamankan lima tersangka dan terus melakukan pengembangan, termasuk masih menunggu hasil visum puskesmas untuk mengetahui kondisi korban,” ujar Kapolsekta Ciawi, AKP Baharudin, Kamis (3/2) sore.

Menurut penyelidikan sementara polisi, kasus tersebut berawal dari perkenalan Mawar (14), dengan Taufik melalui SMS nyasar. Mereka kemudian janjian bertemu. Setelah bertemu satu kali, Taufik mengajak lagi bertemu hari Minggu (30/1) siang. Sesuai dengan janji, Mawar datang menemui Taufik.

Tersangka kemudian membawa korban ke daerah di Cihaurbeuti, dan mampir di sebuah tempat. Di situ sudah menunggu empat tersangka lainnya. Taufik lantas pergi sebentar dan kembali dengan membawa 2 liter tuak serta 170 butir pil dextro.

Taufik kemudian mengajak korban serta teman-temannya menuju sebuah tempat di Desa Cikadu, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Di situlah kelima pelaku menggelar pesta miras dan pil dextro. Mereka pun memaksa Mawar ikut minum tuak.

Melihat korban pingsan, para pelaku memperdayainya dan merekam adegan tak senonoh yang mereka lakukan. Saat hari menjelang sore para tersangka membawa Mawar kembali ke rumah pelaku bernama Markum di Cihaurbeuti. Di tempat itu sudah ada lagi empat pemuda berandal yang lagi-lagi melakukan perbuatan tidak senonoh hingga keesokan paginya.

Taufik akhirnya mengantar Mawar yang mulai sadar ke Ciawi dan meninggalkan begitu saja di sebuah tempat. Korban, yang berhasil pulang ke rumahnya, akhirnya mengadukan perbuatan para tersangka ke polisi.(tribunjabar/ce1)

Makin Banyak ABG Putri Memilih Jadi Pelacur Karena Ingin Hidup Enak dan Mewah Tanpa Kerja Keras

Tujuh remaja berumur 13-16 tahun di Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, masuk dalam jaringan prostitusi yang dimotori tetangga mereka, Dede. Dede menghubungkan remaja ini dengan pemesan. Kegiatan ini terbongkar polisi pekan lalu dan Dede dijadikan tersangka.

Di tempat tinggal mereka para remaja ini saling kenal dan merupakan teman bermain. Mereka akrab sejak awal karena sama-sama tumbuh di situ. Rumah mereka berada di dalam gang di samping pusat perbelanjaan Pasaraya Manggarai. Sebagian besar penduduknya adalah warga lama. Sebagian rumah ada yang dikontrakkan dan ada yang dijadikan rumah kos. Beberapa rumah kontrakan dihuni warga setempat yang semula menempati rumah orangtua mereka.

Jun, orangtua K, yang juga menjadi korban, mengaku tak tahu persis hal yang membuat anaknya masuk dalam lingkaran itu. Jun menduga putri pertamanya itu terseret dalam pergaulan yang mendewakan hidup enak dan nyaman tanpa harus kerja dengan teman-teman sebayanya di kampung tersebut.

Sebelum kasus ini terbongkar, Jun tidak mengetahui jaringan itu. Dari pengakuan anaknya, K baru satu kali terlibat dalam jaringan tersebut, sementara sosok Dede tidak terlalu dikenal. ”Saya tidak mengenal Dede karena dia baru empat bulan pindah ke rumah mertuanya di sini,” ujar Jun, Rabu (26/1/2011).

Di sekitar rumah, K dikenal sebagai remaja yang cantik. Oleh karena itu, sejumlah remaja pria tertarik dan kerap menggoda K.

Dari sisi finansial, Jun mengaku selama ini memberikan uang saku kepada K. ”Seluruh kebutuhan K juga saya bayari. Namanya juga anak sendiri,” kata Jun.

Hal senada disampaikan DD, yang juga orangtua korban Y. DD, yang tukang ojek, dan istrinya, yang membuka warung, saban hari memberikan uang saku Rp 30.000 untuk Y. Artinya, keuangan untuk sekedar jajan dan nonton film atau jalan jalan ke Mall bukan menjadi halangan bagi anak-anak ini karena mereka masih dibiayai oleh orangtua masing-masing.

Yuni, warga setempat, yang juga mempunyai putri kelas V SD, khawatir dengan kejadian itu. ”Lantaran ini kampung kecil, pergaulan anak-anak juga mencampur. Saya khawatir anak akan terpengaruh. Apalagi, kejadian seperti yang sudah terungkap itu tidak diketahui sebelumnya sampai ada penangkapan oleh polisi,” kata Yuni.

Terjunnya remaja ke dunia prostitusi bukan hanya di Manggarai. Ria (16) mengaku sekitar dua tahun terjun ke dunia pelacuran. ”Dibilang malu, ya malu ya nggak malu juga sih. Tapi, dari (melacur) itu saya dapat uang dan kenikmatan sekaligus. Bisa beli baju, sabun mandi yang wanginya enak, terus ngerasain tidur di hotel bagus juga dan bisa berteman dengan banyak orang kaya juga” kata Ria yang tinggal di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu.

Seperti remaja pada umumnya, Ria tampil modis, energik, dan ceria dengan celana jeans ketat model pensil, sepatu kanvas, dan baju kaus pas di badan. Ia berbicara ceplas-ceplos. Awalnya ada sedikit keraguan saat akan bercerita tentang hidupnya. Namun, semakin lama berbincang, dia semakin terbuka.

Ria resmi menjajakan diri sekitar umur 13 tahun. Bapak ibunya bercerai sejak ia masih kanak-kanak dan Ria kecil lebih banyak diasuh neneknya di Pondok Ungu, Bekasi.

Gadis berkulit putih ini mengatakan sempat sekolah sampai kelas VI SD, tapi tidak lulus. Kebetulan dia memang sering bermain bersama anak lelaki di sekitar tempat tinggal neneknya. Suatu hari saat nongkrong bersama teman, sebut saja A, datang dan meminta Ria menemani kenalannya dengan bayaran Rp 200.000.

Pengalaman pertama menemani lelaki hidung belang itu ternyata tidak terlalu buruk baginya. ”Sakit memang namanya juga masih perawan, tetapi orangnya baik, mau ngertiin kalo saya belum tahu caranya. Dia sempat beberapa kali bertemu lagi dengan saya setelah pertemuan pertama itu. Yang terakhir, dia ngasih Rp 1 juta. Banyak banget. Langsung dibeliin HP,” tutur Ria lagi.

Sejak itu Ria menjajakan diri sendiri atau melalui perantara A. Peralatan make up, pakaian, telepon seluler, dan walkman dengan mudah dibelinya. Namun, Ria tidak pernah bisa menabung karena hidupnya boros dan suka bersenang-senang. Hidupnya bergulir hingga di pertengahan 2009 lalu terjaring razia yang membawanya ke pusat rehabilitasi di sebuah panti sosial di Jakarta Timur.

Tiga bulan berada di panti tak menghalangi Ria untuk melacur lagi. Awal 2010 Ria terjaring razia dan kembali menghuni panti yang sama. Di panti ini ia diajari menjahit dan keterampilan lain. Cerita hidupnya menjadi berbeda ketika akhirnya bertemu Indah (40), seorang karyawati di kantor pemerintahan yang memfasilitasi Ria bisa lanjut sekolah.

Ria mengaku mencoba mengikuti arahan Indah dan selama sekitar enam bulan ini sangat menikmati hidup barunya meskipun harus bekerja keras. Namun, ia mengaku belum pasti soal masa depannya

Siswi Kelas 5 SD Diperkosa Di Sekolah Malakasari Oleh Dua Orang Teman Sekelasnya

Ini cerita soal kekerasan seksual. Kabar miring yang masih saja menghiasi jutaan halaman media massa di Tanah Air. “Korban adalah siswi kelas V SD. Ia mengalami kekerasan seksual oleh teman satu angkatannya,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Timur Komisaris Dodi Rahmawan, Rabu lalu.

Aksi bejat itu terjadi beberapa hari lalu di sebuah sekolah yang berada di Kecamatan Malakasari. Puluhan siswa yang baru selesai menjalani kegiatan pencak silat diminta gurunya menyalin pakaian di kamar mandi. Namun tidak bagi dua siswa berinisial DK dan RM. Keduanya berkomplot mengajak seorang siswi berinisial WMA ke samping ruang perpustakaan yang saat itu sedang sepi.

“Di tempat itulah keduanya melakukan kekerasan seksual,” ujar Dodi. Permintaan itu mulanya ditolak WMA. Namun malang, penyakit epilepsinya ketika itu mendadak kambuh. WMA pingsan. Kondisi itu lantas dimanfaatkan DK dan RM untuk mencabuli WMA.

“Saat itu, ada beberapa rekan pelaku yang melihat kejadian tersebut. Mereka juga menyaksikan kedua pelaku yang membopong tubuh korban ke kamar mandi,” kata Dodi. Setelah WMA siuman, ia melaporkan kejadian tersebut kepada guru dan orang tuanya. “Dari laporan orang tuanyalah kejadian ini kami ketahui,” kata Dodi.

Hasil visum yang dilakukan pihak rumah sakit menyimpulkan adanya bercak darah dan bekas perlakuan seksual berupa air mani. “Belum bisa kami simpulkan. Masih harus kami uji kembali,” katanya. Saksi mata pun dimintai keterangan.

Tempo sempat menyambangi sekolah dasar bercat hijau dengan satu lantai itu. Salah seorang siswa yang sempat diajak bicara pun membenarkan kejadian tersebut. “Hus… kata Bu Guru masalah itu tidak boleh diceritakan kepada siapa pun,” kata salah seorang temannya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia Ariest Merdeka Sirait menilai kasus kekerasan seksual tersebut sebagai akibat persentuhan anak dengan Internet, khususnya akses pornografi. “Apalagi sekarang sudah bisa diakses lewat telepon genggam,” katanya.

Kebanyakan Nonton Film Porno Seorang Kakak Memperkosa Adik Kandung Sendiri

Syaifudin (20) tega memperkosa adiknya sediri, NI (9), yang masih duduk di bangku kelas 4 SD. Akibat perbuatannya, pemuda bekerja serabutan asal Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri ini, harus meringkuk di sel tahanan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kediri, Kamis (30/12).

Perkosaan itu terjadi dua kali pada tanggal 11 Desember dan 14 Desember 2010, di ruang tamu rumah pamannya, Masruri. Saat melakukan aksinya, korban sedang berada di rumah sendiri, sedang pamannya sedang keliling menjual jamu. Pemicunya, tersangka mengaku terpengaruh adegan film porno yang sering dia tonton. “Dia jadi tidak kuat menahan nafsu,” kata Kanit PPA Polres Kediri Ipda Rini Pamungkas menirukan pengakuan tersangka.

Terbongkarnya kasus tersebut, setelah korban mengaku takut berada di rumah sendiri. Selain itu, korban juga mengeluh perutnya sakit. Kemudian paman korban, Masruri, memeriksakan korban ke puskesmas setempat. Saat menjalani pemeriksaan tersebut, korban bercerita kepada pamannya, kalau dia telah digagahi oleh kakanya sendiri.

Mendengar kabar tersebut, paman korban tidak terima dan melaporkan kasus tersebut ke polisi. “Kami masih menunggu hasil visum,” jelas Rini

Aneh Tapi Nyata … Siswi SMK Madiun Tiba Tiba Melahirkan Di Ruang Kelas

Seorang siswa kelas XI Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Kota Madiun, Jawa Timur, berinisial R diketahui melahirkan bayi perempuan di ruang UKS gedung sekolahnya, Kamis (16/12).

R yang merupakan siswa jurusan Administrasi Perkantoran ini sebelumnya mengeluh sakit perut ke gurunya usai mengikuti ujian semester. Oleh gurunya, ia disuruh ke ruang UKS untuk berobat.

“Namun, setelah berada di ruang UKS, tiba-tiba yang bersangkutan melahirkan seorang bayi perempuan secara normal. Petugas ruang UKS dan guru yang mengetahuinya langsung memanggil dokter dan bidan untuk memeriksanya,” ujar Kepala SMK Negeri 2 Kota Madiun, Sumardiono.

Setelah memeriksa beberapa saat, tim medis yang dipanggil langsung membawa R dan bayinya ke RSUD dr Soedono Madiun untuk dirawat lebih lanjut.

Dokter menyatakan bayi milik R tergolong prematur karena dilahirkan dari kehamilan yang hanya berusia enam bulan.

“Berat badan bayi juga di bawah berat badan bayi secara normal, yakni hanya 600 gram lebih, tidak sampai 700 gram. Namun, saat dilahirkan hingga dibawa ke rumah sakit masih dalam keadaan hidup,” kata Sumardiono.

Pihak sekolah kaget dengan kejadian ini karena tidak menyangka R dalam keadaan hamil. Selain postur tubuh yang kecil, R juga diketahui sehari-harinya mengenakan jilbab yang seharusnya alim dan tidak genit.

Selama ini, R juga terlihat aktif mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di sekolah, baik di kelas maupun olahraga. Selain itu, catatan kehadiran yang bersangkutan cukup bagus dan jarang bolos.

R juga tergolong anak yang biasa di lingkungan sekolahnya, sehingga di luar dugaan guru jika gadis asal Desa Rejosari, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun ini, hamil di luar nikah.

Sekolah akan memberikan sanksi tegas kepada R, yakni dikembalikan ke orangtua atau dikeluarkan dari sekolahi karena dia dinilai telah melanggar peraturan sekolah serta kesepakatan antara orang tua dengan sekolah.

Siswi SMP Umur 13 Tahun Kabur Bersama Tukang Sate Yang Biasa Mangkal Di Depan Rumah

SEORANG siswi kelas dua SMP di Cileungsi, Bogor, dua kali diculik oleh seorang penjual sate yang kerap mangkal di dekat rumahnya, Taman Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Siswi berwajah cantik bernama Marsha Rianda Putri (13) itu dinyatakan hilang pertama kali pada 23 Oktober lalu. Pelaku sempat mengembalikan korban kepada orangtuanya, namun sekitar dua pekan kemudian diculik lagi.

Menurut Achyat Riyadi (40), ayah korban, tudingan bahwa tukang sate itu adalah pelaku penculikan karena pria tersebut menghilang dan tak pernah berdagang lagi bersamaan dengan hilangnya Marsha. Selain itu, Marsha sebelumnya sempat terlihat ngobrol dengan tukang sate tersebut.

Achyat mengisahkan, saat kejadian pertama pada Sabtu, 23 Oktober, dia bersama istrinya gelisah karena sampai sore anaknya belum juga pulang sekolah. Akhirnya mereka mendapat kabar dari teman Marsha bahwa putrinya itu tak masuk sekolah karena dijemput seorang pria.

“Kami kaget bukan kepalang. Teman anak saya bilang, penjemput masuk sampai ke halaman sekolah,” ujarnya.

Setelah menunggu sampai malam, putrinya tak juga muncul, Achyat lantas melaporkan kejadian itu ke Polres Bogor. Namun, setelah berhari-hari menunggu, tak juga ada kabar dari kepolisian. Saat ditanya, polisi malah terkesan menyepelekan laporannya itu.

“Alasannya aneh. Katanya masih koordinasilah atau SP2-nya belum turun. Jawaban ini, membuat kami tambah khawatir tentang keselamatan anak kami,” tuturnya.

Akhirnya, Achyat bersama saudara-saudaranya berupaya sendiri mencari Marsha ke berbagai tempat. Sebulan kemudian, atau sekitar pertengahan November, pihaknya mendapat kabar bahwa anaknya berada di Madura bersama pedagang sate yang biasa mangkal di dekat rumahnya itu.

Guna menjemput si buah hati, Achyat lantas berkoordinasi dengan polisi. Namun, sebelum berangkat ke Madura, Achyat mendapat kabar dari polisi bahwa pelaku dan anaknya sudah meninggalkan rumah di Madura dengan menggunakan angkutan kota. “Kami heran, mengapa pelaku tahu bahwa kami akan berangkat ke Madura,” lanjutnya.

Pria ini tetap nekat membawa pulang putrinya. Setelah berkoordinasi dengan Polres Sampang, Madura, Achyat berangkat ke sana. Sesampainya di Madura, pria ini langsung menuju ke rumah salah satu anggota Polsek Sreseh untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut. Sialnnya, Polsek Sreseh tak berani melakukan pengamanan dengan alasan belum memiliki dasar.

Achyat akhirnya mendatangi rumah Kepala Desa Sreseh untuk mendapat informasi.

“Aneh sekali, Kepala Desa mengatakan anak kami selalu menolak untuk diantar pulang. Jadi, dari situlah saya berkesimpulan bahwa anak saya berada di bawah pengaruh guna-guna karena anak saya tidak mungkin ganjen apalagi mau sama tukang sate yang miskin,” katanya.

Diculik di Bandung

Pria itu akhirnya pulang dengan tangan hampa ke Bogor. Pada 22 November, dia mendapat telepon dari penyidik Polres Bogor agar segera menuju Polres Sampang karena anaknya sudah ditemukan.

Setelah berangkat ke sana, Achyat berhasil bertemu putri tercintanya, walau sang anak dalam kondisi kurang sehat dan langsung dibawanya ke Bogor.

Marsha dibawa ke Bogor dan beberapa hari kemudian diungsikan ke rumah neneknya di Bandung. “Yang kami sayangkan, pelaku tidak diamankan polisi, sehingga pelaku berusaha kembali mencari anak saya,” katanya.

Beberapa hari kemudian, Achyat kaget karena neneknya menghubungi bahwa Marsha diculik lagi. “Anak saya pada 2 Desember lalu dibawa lari lagi oleh pelaku yang sama. Sampai saat ini kami tidak mengetahui di mana anak kami berada,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah anaknya berpacaran dengan pelaku, Achyat mengatakan tidak. “Anak saya tidak pacaran karena sudah saya larang,” tegasnya.

Sementara itu, M Rizki Nasution dari bagian Pengaduan Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengatakan, sampai saat ini pihaknya terus mengikuti proses yang tengah dilakukan aparat kepolisian. “Kami tetap melakukan monitor apa yang bisa kami bantu terhadap kasus itu, tapi ini kan masih dalam ranah mereka (penyidik kepolisian),” paparnya.

Rizki sudah menyampaikan saran kepada orangtua korban untuk memeriksakan fisik Marsha agar diketahui ada-tidaknya kekerasan. “Kami proaktif dengan penyidik dan mendesak polisi untuk menjadikan tersangka ke dalam daftar pencarian orang. Kami curiga kasus ini ada kaitannya dengan trafficking (penjualan anak),” urainya.

Siswi SMP Ditikam Berkali Kali Karena Menolak Cinta

Rasa kecewa akibat cinta ditolak, rupanya sudah membuat gelap hati dan pikiran seorang Fahri (21). Ia pun menghadiahi Dian Dwita Safitri (15), seorang siswi SMP yang baru menolak cintanya, dengan 15 tikaman pisau dapur.

Peristiwa di kawasan pemakaman umum Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, tersebut terjadi Sabtu (27/11). Saat itu, Dian, siswi sebuah SMP negeri di kawasan tersebut, tengah berjalan kaki menuju sekolahnya.

Menurut saksi mata bernama Winarto (49), saat melewati Jl Ternate, Dian, anak seorang tukang las keliling dari Jl Kasin gang Keramat RT8/RW3, tersebut, dicegat oleh seorang pemuda.

”Sebelum korban datang, anak muda itu sudah berada cukup lama di jalan itu. Motornya diparkir, lalu dia berdiri di pinggir jalan menunggu korban,” kata Winarto.

Pemuda itu belakangan diketahui bernama Fahri. Ia tinggal di Jl Raya Budi Utomo, Dusun Sedudud, Kelurahan Mulyorejo.

Winarto mengaku tak mendengar percakapan antara Dian dan Fahri. Yang dia tahu, sesaat setelah bertemu Fahri, Dian lalu terhuyung-huyung, dan tiba-tiba ambruk bermandi darah.

”Begitu korban ambruk, anak laki-laki tadi langsung lari menuju sepeda motornya. Dia lalu kabur,” kata Winarto.

Melihat kejadian itu, Winarto, sebenarnya sempat mengejar Fahri. Ia juga sempat melihat, Yamaha Mio warna hitam yang digunakan Fahri bernopol N 2788 A.

Namun Fahri terlalu cepat. Winarto, yang mengejar Fahri dengan sepeda motor bertipe sama, mengaku sudah kehilangan jejak di Jl Belitung, atau sekitar 500 meter dari lokasi kejadian.

Winarto mengatakan, luka Dian saat itu sangat parah. Warna coklat di seragam pramuka yang dikenakannya, nyaris tak tersisa karena penuh darah.

Winarto mengingat, Dian mendapat banyak luka sayatan senjata tajam. Antara lain, di kedua pergelangan tangan, sendi bahu, siku, leher belakang, pelipis mata kanan, pipi, serta pada bagian payudaranya.

Namun begitu, menurut dia, Dian tetap dalam kondisi sadar. ”Waktu masih tergeletak di jalan, ia bahkan sempat bilang kalau pelakunya itu mantan pacarnya,” ujar Winarto.

Oleh sejumlah warga yang datang menolong, Dian pun dilarikan ke RSI Aisyah, di Jl Sulawesi, Kota Malang. Setelah masuk UGD, ia mendapat perawatan intensif di ruang isolasi.

Pernah Ditempeleng

Ibunda Dian, Dwi Yuliati (37), mengatakan anak keduanya dari tiga bersaudara itu masih dalam kondisi syok. Bahkan, dokter mengatakan, putrinya itu mendapat 15 luka senjata tajam.

Meski demikian, Dian sempat menceritakan sekelumit kejadian itu. Ia juga sempat menyebut nama Fahri, sebagai pelakunya.

”Kata anak saya, dia diserang secara membabi buta dengan pisau dapur. Anak saya mengaku tidak bisa melawan, selain melindungi kedua wajahnya dengan kedua tangannya. Ia khawatir kalau wajahnya yang tersayat,” kata Dwi, ditemui kemarin saat menunggui anaknya di rumah sakit.

Dwi mengakui anaknya sudah mengenal Fahri cukup lama. ”Fahri itu sebenarnya teman kakaknya Dian. Mereka lalu dikenalkan satu sama lain,” kata Dwi.

Fahri dikenal oleh Dwi sebagai remaja pengangguran. Kepada dia, Fahri mengaku pernah bersekolah di sebuah SMK negeri. Menurut Dwi, Fahri memang terang-terangan berusaha mendekati anaknya itu.

Tapi, keinginan itu bertepuk sebelah tangan, karena Dian tidak terlalu suka dengan sikap Fahri yang dikenalnya sering berperilaku kasar.

Kejadian penganiayaan ini memang bukan yang pertama kali dilakukan Fahri terhadap Dian. Pada September 2010 lalu, Dian pernah mengadukan ulah Fahri yang memukuli dirinya.
”Saya tidak tahu apa perkaranya. Yang jelas saat itu anak saya dipukuli dan ditendangi,” kata Dwi kesal.

Ayah Dian, Muhammad Sholeh (42), saat itu sampai hendak melaporkan Fahri ke polisi, tapi dicegah oleh Dwi. Ketika itu, masalah diselesaikan secara kekeluargaan, dengan janji keluarga Fahri, bahwa anaknya tak akan mendekati Dian lagi.

Semenjak peristiwa itu, Dian mengaku kapok berteman dengan Fahri. Kata Dwi, Fahri sebenarnya sering datang ke rumah, hanya untuk menemui Dian. Tapi upaya pedekate itu bertepuk sebelah tangan, karena tak pernah digubris oleh anaknya.

”Mungkin karena itu juga, kemarahannya lalu memuncak, dan menyerang anak saya seperti ini,” ujar Dwi.

Setelah kejadian ini, Dwi mengaku tak akan memaafkan ulah Fahri. Menurutnya, Fahri sudah berencana membunuh putrinya itu. Ia meminta polisi menangkap dan menghukum Fahri dengan seberat-beratnya.

Sementara itu, Kapolsek Klojen, Kompol Kartono, membenarkan adanya peristiwa ini. Hingga saat ini, pihaknya masih memburu pelaku. ”Bersama orangtua korban, kami sudah datangi rumah pelaku, tapi dia tidak ada,” kata Kapolsek yang berjanji menangkap Fahri secepatnya.

Siswa SMA Ambon Bersama Teman Teman Sekelasnya Memaksa Teman Putri Untuk Membuat Video Porno

Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease AKBP Djoko Susilo mengatakan, pihaknya telah menahan pelajar SMA Negeri 5 Ambon, pelaku dan perencana pembuatan video mesum yang dilakukan pada 8 Oktober 2010.

“Pelajar pria kelas XII berinisial F itu ditahan dengan dugaan sementara telah merencanakan aksi mesum bersama kekasihnya Y, yang kemudian direkam untuk disebarluaskan,” katanya di Ambon, Kamis (11/11/2010).

Bahkan, F sengaja mengancam Y menggunakan sebilah pisau untuk memenuhi nafsu bejatnya. Pelaku telah ditahan guna pemeriksaan selanjutnya, kata Djoko Susilo.

Dia mengatakan, selain F, sebelumnya juga telah ditahan lima orang saksi yakni Y, E1, E2, B dan C yang juga merupakan pelajar kelas XII SMA Negeri 5 Ambon.

“F dan E1 berjenis kelamin laki-laki, sedangkan Y, E2, B dan C perempuan. Karena usia mereka di bawah 17 tahun, maka mereka dipulangkan dengan syarat wajib lapor,” katanya.

Djoko Susilo menegaskan, penyelidikan kasus ini akan terus dilakukan sehingga pelakunya dapat diproses hukum. Tunggu saja perkembangan hasil penyelidikan, ujarnya.

Adegan mesum ini terjadi di rumah B, yang berlokasi di BTN Passo, Kecamatan Baguala, sekitar pukul 09.00 WIT ketika kedua orang tua B sudah berangkat ke kantor.

Agar Y tidak curiga, semua teman-temannya telah hadir terlebih dahulu di rumah B tanpa F. Kemudian Y menghubungi F via pesan singkat (sms) dari telepon genggamnya agar segera datang.

Karena hari itu mereka bersekolah siang, semua berpakaian santai dan hanya Y yang memakai seragam sekolah. Y yang sebelumnya sempat memberi perlawanan terhadap aksi mesum F, akhirnya luluh setelah sebilah pisau ditodongkan ke lehernya.

Selain sebagai pemilik rumah, B juga bertugas merekam aksi itu dengan handycam miliknya, dibantu E1, E2 dan C yang turut menyaksikan peristiwa tersebut.

Dua Pelajar SMP Gay Homoseksual Di Kediri Membunuh Pacarnya Karena Tergiur Sepeda Motor

Dari hasil pengembangan penyidikan, polisi menyeret dua pelaku lain yang terlibat pembunuhan seorang gay di Kediri, Jawa Timur. Masing-masing DA (15) dan AC (15). Dua-duanya masih tercatat sebagai siswa SMP.

DA adalah warga Kelurahan Semampir Kota Kediri yang terdaftar sebagai siswa kelas dua SMP negeri. Ia ditangkap di rumah kosnya di Semampir. Sedangkan AC warga Jalan Mayor Bismo Kota Kediri yang juga duduk dibangku kelas dua SMP swasta. Agi ditangkap di Simpang Empat Semampir.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Kediri Ajun Komisaris Polisi Rofiq Ripto Himawan, Senin (17/5/2010) mengatakan hasil pemeriksaan polisi terungkap informasi jika otak pelaku pembunuhan adalah JS (19) yang diketahui pasangan gay korban. Ia meminta bantuan DA untuk melakukan eksekusi dengan cara menjerat leher korban menggunakan tali. Setelah itu korban dibuang di selokan. Dia ditinggalkan bersama gerobaknya, sedangkan motornya dibawa lari.

Peran DA adalah menjebak korban dengan cara mengajaknya berciuman. Saat korban lengah, tersangka JS langsung mengalungkan tali ke leher korban dan menjeratnya hingga tewas. Peran DA adalah turut serta menikmati hasil kejahatan. Ia tidak ikut serta pada saat terjadi pembunuhan terhadap korban. Atas perbuatannya, ia dikenai Pasal 363, Pasal 480, Pasal 55 dan Pasal 56 Kitab Undang Undang Hukum Pidana.

“Sedangkan Jefri sebagai otak pelaku pembunuhan berencana dan Agi yang membantunya, dikenai Pasal 340, Pasal 338 dan Pasal 363 KUHP. Ancaman hukumannya di atas 5 tahun penjara,” ujar Rofiq.

Khusus pada dua tersangka yang masih berstatus pelajar SMP, akan diperlakukan sebagaimana diatur dalam UU perlindungan anak. Akan tetapi, untuk sanksi hukuman, mereka tetap dikenai sesuai dengan KUHP. “Hanya cara perlakuannya saja yang beda. Tidak ada perpanjangan masa tahanan. Selain itu, mereka juga harus didampingi saat pemeriksaan,” ucap Rofiq.