Category Archives: kekerasan pada wanita

ABG Umur 17 Tahun Di Rampok dan Diperkosa Didepan Orangtuanya

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, demikian ungkapan yang dialami SA (49) seorang Petani di Kecamatan Peranap kabupaten Indragiri Hulu ini. Selain menjadi korban perampokan, anak gadisnya pun diperkosa. Tragisnya lagi pemerkosaan tersebut dilakukan pelaku di depan mata kepalanya sendiri.

Todongan senjata tajam berupa parang di lehernya membuat SA tak mampu melawan tak pasrah atas perbuatan bejat para pelaku. Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo, Kamis (3/7) mengatakan, korban SA (49) yang berprofesi sebagai petani tersebut mengalami perampokan di rumahnya saat tengah tertidur pulas.

“Kasus ini terjadi pada Senin (1/7) lalu sekitar Pukul 01.30 WIB dini hari menjelang sahur, di Blok C Desa P Wangi Kecamatan Peranap kabupaten Inhu, saat ini petugas tengah memburu para pelaku,” kata Guntur.

Peristiwa tersebut bermula saat SA tengah tertidur lelap dikejutkan dengan suara gaduh pintu rumahnya, yang didobrak oleh pelaku. Saat keluar kamar SA langsung ditodong senjata berupa sebilah parang oleh 4 pelaku menggunakan penutup wajah (Sebo). Lalu korban disuruh tiarap oleh para pelaku ini. Mendengar suara ribut itu, istri korban MA (47) kelur dari kamar, dan saat itu istrinya juga ditodong senjata lalu disuruh tiarap agar tidak melakukan perlawanan.

Sebagian pelaku memeriksa kamar yang lain, di sini pelaku melihat anak gadis SA berinisial JP (17 tahun) yang sedang tertidur pulas. Melihat paras cantik sang anak, para pelaku melampiaskan nafsu bejatnya dengan memperkosa JP secara bergiliran di hadapan kedua orangtuanya.

Tak ayal SA sebagai ayah tak mampu melawan dan menyelamatkan kesucian anak gadisnya lantaran dia dan istrinya juga di bawah ancaman senjata tajam. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, para pelaku menggiring JP ke ruang tengah dan menyuruh tiarap bersama kedua orangtuanya.

Melihat korbannya sudah dapat dikendalikan, keempat pelaku ini selanjutnya memulai aksinya dengan mengobrak-abrik seisi rumah dan mengambil 1 buah mesin sainsaw, 1 buah ketam, 1 buah dompet berisi uang Rp 100 ribu, dan 1 buah Handphone.

“Pelaku di perkirakan berjumlah 4 orang, dengan 2 orang di antaranya mengenakan Sebo penutup wajah. Korban sudah dimintai keterangannya, dan saat ini petugas tengah melakukan pencarian terhadap pelaku,” pungkas Guntur.

Abdul Aziz Gorok Istri Tetangga Yang Ditinggal Sumai Keluar Kota Karena Sang Istri Tidak Rela Diperkosa

Devita Sari (32) warga Pajarakan, Probolinggo, Jawa Timur yang sedang ditinggal suaminya keluar kota harus mengalami nasib buruk lantaran rumahnya didatangi pencuri yang tidak lain adalah tetangganya sendiri Abdul Aziz (24). Menurut Kapolsek Pajarakan AKP Sugeng Wikhanto kejadian pencurian ini terjadi pada hari Sabtu (7/6) malam. Pelaku berhasil menggasak uang tunai sejumlah Rp 600 ribu dan juga STNK motor milik korban.

“Benar ada kejadiannya, pencurian itu dilakukan Abdul Aziz yang merupakan tetangga korban sendiri Devita Sari. Pelaku mencuri uang tunai Rp 600 ribu dan STNK korban,” Ujar Sugeng saat dikonfirmasi, Senin (9/6).

Sugeng mengatakan adanya kasus ini lantaran adanya laporan dari warga yang mendatangi TKP karena mendengar teriakan korban saat kejadian. Setelah dapat laporan tersebut polisi langsung kesana dan menangkap pelaku yang sedang berusaha melarikan diri. “Setelah dapat laporan warga adanya kasus pencurian tersebut polisi langsung ke TKP dan mengusut kasus tersebut, namun korban tidak bisa dimintai keterangan lantaran dalam keadaan kritis. Kami sudah tangkap pelakunya dan sekaligus meminta laporan dari warga,” ujar Sugeng.

Sugeng mengungkapkan, kronologi kejadian berawal dari pencurian yang dilakukan Abdul Aziz, seusai mencuri pelaku melihat korban yang sedang tertidur. Saat melihat korban yang tertidur, dia tergoda dan berniat untuk memperkosa korban. “Setelah menjalani aksinya menurut keterangan dari pelaku dia tergoda melihat keindahaan tubuh korban yang sedang tertidur dan akan memperkosanya,” ujar Sugeng.

Saat akan diperkosa, menurut Sugeng, korban terbangun dan kaget bahwa Abdul Aziz menodongnya dengan pisau lipat. Pelaku mengancam korban akan dibunuh apabila berteriak saat akan diperkosa olehnya, namun nahas korban tetap berteriak sehingga warga mendatangi rumah korban.

“Korban yang mau diperkosa digorok pakai pisau lipat karena dia teriak minta tolong pada warga,” ujar Sugeng. Setelah kejadian itu pelaku tidak bisa melarikan diri karena dikepung oleh warga. Setelah polisi tiba di TKP, polisi langsung melumpuhkan pelaku lantaran saat akan ditangkap dia memberikan perlawanan. “Kami terpaksa lumpuhkan karena dia melawan saat akan ditangkap,” ujar Sugeng.

Kini korban sedang menjalani pemeriksaan di rumah sakit Waluyo Jati Kraksaan sekaligus menjalani proses visum untuk mengetahui adanya dugaan pemerkosaan atau tidak. Sedangkan pelaku kini mendekam di tahanan untuk menjalani proses penyidikkan.

Diperkosa 15 Orang Selama 2 Hari Hingga Rahim Busuk … Gadis ABG Diberi Uang Damai 2 Juta

Kisah tentang perkosaan yang dialami gadis belia berusia 14 tahun di Desa Bau, Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur terus berlanjut. Melalui, Nasrul –warga setempat yang kemudian mendampingi korban, meski telah dijanjikan diobati setelah mendapatkan uang sebesar Rp 2 juta dari seorang anggota DPRD fraksi PDIP, selama di Bandarlampung, korban tidak diobati. Bahkan gadis belia itu diajak menggunakan sabu-sabu oleh anggota dewan yang menginginkan kasus itu berakhir “damai”.

Keberangkatan korban ke Bandarlampung, tanpa pendampingan dari pihak keluarga. “Saat pulang ke kampung, korban tidak diantar ke rumahnya, hanya diturunkan di sebuah persimpangan jalan dan kami yang menjemputnya karena anak ini nelpon minta dijemput,” kata Nasrul dalam percakapan dengan Kompas,com akhir pekan lalu.

Rahim membusuk
Pendamping lainnya Ali Arsyadat alias Ujang menjelaskan, kondisi korban sudah sangat memprihatinkan, rumah sakit Adiwaluyo mendiagnosa bahwa kondisi rahim korban sudah rusak bahkan mengalami kebusukan. “Bidan sudah angkat tangan, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan anak ini, harus diangkat rahimnya agar kebusukan itu tidak menjalar ke organ lainnya,” kata Ujang.

Ujang mengaku, untuk mengajak korban untuk dirawat secara medis sangatlah sulit. “Anak ini luar biasa kerasnya, sulit sekali kami mengajaknya untuk berobat dan visum, berbagai cara bujukan dipakai untuk bisa mengajak ini berobat,” kata dia. Atas persoalan yang melibatkan banyak pihak, ayah korban sebagai seorang buruh petani nan buta huruf itu merasa kelelahan mengikuti tahapan demi tahapan kasus yang menimpa putrinya itu.

“Beberapa kali ayahnya bilang, saya ini orang bodoh dan tidak punya biaya untuk meneruskan persoalan ini ke ranah hukum, ia kerap bilang pihak keluarga hanya ingin penyelesaian damai saja yang terpenting putrinya diobati,” terang Ujang.

LBH Lampung Timur mundur
Di tengah ketidakpastian hukum, LBH Lampung Timur yang semula ditunjuk menjadi kuasa hukum korban, malah mencabut diri melakukan pembelaan terhadap korban. “Pihak korban tidak kooperatif dalam memberikan keterangan. Korban tidak mau divisum hingga menyulitkan bagi kami untuk melakukan pendampingan,” kata staf advokasi LBH R Hutagalung saat dikonfirmasi.

Namun pihaknya tetap menyarankan pihak keluarga untuk melanjutkan perkara tersebut ke pihak berwajib.
Setelah berusaha panjang, Nasrul dan beberapa warga di Desa Bau, Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, mampu membuat gadis korban perkosaan berbicara. Menurut cerita Nasrul, berdasarkan keterangan korban, gadis berusia 14 tahun ini diperkosa beramai-ramai di dua tempat berbeda hanya berselang beberapa hari.

“Kejadian pertama, korban diajak oleh teman lelakinya di satu rumah di Desa PP Brawijaya, Lampung Timur ternyata dalam rumah itu sudah ada pemuda sekitar 15 orang untuk menggilirnya,” tutur Nasrul. Dalam perkosaan itu korban dicekoki minuman hingga mabuk dan diancam jika tidak melayani akan dibunuh. Akibat tak ada perlawanan apapun dari korban, apalagi dia bungkam, korban dipanggil lagi di tempat berbeda. Kali ini sebuah lapangan di Desa Purwosari, Lampung Timur.

“Dia diperkosa oleh empat pemuda dengan perlakuan yang sama seperti kejadian pertama,” kata Nasrul. Atas permasalahan itu, ia dan beberapa warga lain termasuk kepala bersepakat menyampaikan perkara pelecehan seksual pada anak di bawah umur ini kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lampung Timur.

“Tapi di tengah jalan, saya ditelpon supaya menemui salah satu anggota dewan dari PDIP yang katanya bisa membantu penyelesaian persoalan ini,” kata Nasrul. Korban tanpa didampingi keluarga inti bertemu dengan sejumlah pelaku yang didampingi keluarga pelaku dalam sebuah perundingan.

Uang damai
Nasrul mengatakan, telah terjadi kesepakatan sepihak. “Melalui tangan anggota dewan, korban diberi uang senilai Rp2 juta untuk biaya pengobatan lalu korban dibawa ke Bandarlampung,” terang dia. Beberapa hari kemudian korban menelpon Kriting, warga yang sebelumnya rumahnya disinggahi korban, ketika sakit parah. “Korban mengaku dibawa ke Bandarlampung oleh anggota dewan itu selama dua hari, ia merasa tidak betah dan minta minta pulang,” kata Nasrul lagi. Menurut pengakuan korban pula, kata Nasrul, selama di Bandarlampung korban tidak diobati. Bahkan, anak belia itu mengaku diajak memakai sabu oleh anggota dewan itu.

Seorang remaja perempuan berusia 14 tahun, warga Lampung Timur, melapor ke Polda Lampung, Rabu (22/1/2014), karena diperkosa oleh 12 orang. Peristiwa itu terjadi sebulan yang lalu, tetapi baru hari ini korban berani melapor ke polisi. Pada Rabu (22/1/2014), Kepala Bidang Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih mengatakan, tim penyidik Reskrimum masih memeriksa korban yang didampingi pamannya.

“Setelah sebulan, korban akhirnya berani mengadukan kasusnya ke Polda Lampung yang ditemani pamannya,” kata Sulistyaningsih. Lebih lanjut, ia menambahkan, dalam waktu dekat, pihaknya segera memanggil 11 orang yang diduga pelaku perkosaan yang mana salah satunya oknum anggota dewan.

Sementara itu, paman korban menyatakan, jumlah pelaku perkosaan sebanyak 12 orang. Dia menceritakan, saat itu korban yang tinggal di Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, itu diculik, lalu diperkosa oleh lima orang yang tidak dikenal pada Desember 2013. Korban kemudian mengadukan kasus penculikan dan perkosaan itu ke saudaranya, Nas. Lalu, Nas mengajak korban menemui salah satu anggota dewan berinisial KI untuk meminta bantuan penyelesaian hukum.

Namun, sesampai di rumah KI, korban malah diajak oleh oknum wakil rakyat itu ke Bandar Lampung selama dua hari. Selama di sana, korban bukannya dibantu untuk penyelesaian hukum, malah diperkosa secara bergilir oleh KI dan enam teman KI.

Mendengar korban diperkosa 12 orang, paman korban merasa iba dan marah. Dia kemudian membawa korban ke Bandar Lampung untuk melaporkan kasusnya ke Polda Lampung.

Pemerkosa Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Dihukum Mati Mahkamah Agung

Soleh dihukum mati dan Orek dipenjara hingga tewas terkait pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan secara sadis. Korban gadis berjilbab yang masih mengenyam bangku kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang diperkosa bergiliran oleh 5 orang sebelum akhirnya dibunuh. Seperti dikutip dari dakwaan jaksa yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Senin (13/1/2013), kasus bermula saat Soleh membekap mahasiswi di rumahnya pada 6 April 2012 tengah malam. Soleh lalu mengumpulkan teman-temannya yaitu Noriv, Chandra, Jasrip dan Endang. Setelah semuanya berkumpul di rumah Solaeh, mereka bergiliran memperkosa mahasiswa malang tersebut.

“Kumpul di sini dulu, nanti kalian abis gue,” kata Soleh kepada teman-temannya.

Setelah 15 menit memperkosa mahasiswi itu, berurutan mahasiswi itu digilir oleh Noriv, Orek dan Jasrip. Setelah puas, Orek sempat pulang kembali ke rumahnya namun dijemput lagi oleh Noriv untuk berkumpul kembali. Sesampainya di lokasi, Soleh gundah.

“Gimana tuh cewe, nggak terima diperkosa rame rame dan mau melaporkan ke polisi. Mau diapain? Apa matiin aja?,” kata Soleh.”Ya sudahlah,” jawab Orek, Noriv, Endang, Jasrip dan Endang kompak.

Lantas korban yang sudah lemas karena habis digilir rame rame dibopong ke sepeda motor untuk dibonceng dengan posisi Jasrip di depan dan Soleh di belakang. Adapun korban diapit di tengah. Udah, ikutin dari belakang,” kata Soleh kepada yang lain.

Saat melintas jalan Cor, Desa Siangir, Soleh meminta semuanya berhenti. Waktu yang merambat dini hari dan lokasi yang sepi dirasakan tempat yang aman untuk menghabisi nyawa korban. Namun sebelum dibunuh, mereka kembali memperkosa korban secara bergiliran sebanyak dua kali dengan posisi korban di atas motor.

Setelah selesai memperkosa, Chandra lalu memukul kepala korban dengan batu. Korban pun sempoyongan. Lantas Noriv memegang tangan kiri korban, Endang memegang kaki kanan, Chandra memegang kaki kiri korban dan Orek mengawasi situasi sekitar. Dalam kondisi lemah tak berdaya tersebut, leher mahasiswi tersebut digorok Soleh dengan pisau yang telah disiapkan. Mahasiswi itu pun menghembuskan nafas terakhir tepat pukul 02.30 WIB.

Atas perbuatannya, Soleh dihukum mati, Orek dipenjara seumur hidup dan lainnya dipenjara 20 tahun. MA memperberat hukuman Orek (30), salah satu gerombolan pembunuh sadis mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Jika sebelumnya Orek dihukum 20 tahun penjara, MA menguatkan hukuman penjara seumur hidup yang dijatuhkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Banten.

Kasus bermula saat ditemukannya korban tanpa nyawa di Jalan Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang pada 7 April 2012. Korban mengenakan jilbab warna putih, celana hitam, baju hijau dengan dalaman kaos warna loreng. Belakangan terungkap korban yang masih kuliah di UIN Ciputat itu dibunuh oleh M Soleh, Orek, Chandra, Jasrip dan Endang dengan terlebih dahulu korban diperkosa secara bergiliran.

Pada 4 Desember 2012, jaksa menuntut Oreg penjara seumur hidup karena terlibat pembunuhan berencana dan pemerkosaan. Tuntutan ini tidak dikabulkan sepenuhnya sebab pada 18 Desember 2012 PN Tangerang menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara.

Atas vonis ini, jaksa lalu banding dan dikabulkan. Pada 14 Maret 2013 Pengadilan Tinggi Banten memperberat hukuman menjadi penjara seumur hidup atau sesuai tuntutan jaksa. Tidak terima, Orek pun mengajukan kasasi namun ditolak MA.

“Perbuatan terdakwa sangat brutal dan meresahkan masyarakat serta mengakibatkan korban meninggal dunia dengan dilakukan penganiayaan dengan cara memukul batu, kayu dan pemukulan itu setelah dilakukan pemerkosaan bergiliran,” putus MA seperti dilansir website MA, Senin (13/1/2014).

Vonis ini dijatuhkan oleh ketua majelis Andi Abu Ayub Saleh dengan hakim anggota Sofyan Sitmopul dan Syarifuddin. Dalam pertimbangannya, MA menyebutkan Orek menyadari betul melakukan tindakan kekerasan dan pemerkosaan sehingga jelas merupakan perbuatan kumulatif yang sangat berdasar hukum untuk dilakukan pemberatan pidana dengan menerapkan ketentuan concurcus realis.

“Yakni menjatuhkan pidana yang ancaman pidananya berat ditambah sepertiga atas perbuatan terdakwa melakukan perkosaan dan pembunuhan berencana,” ucap majelis secara bulat pada 23 Juli 2013 lalu.

Sebelumnya, M Soleh lebih dulu divonis mati dan putusan itu dikuatkan hingga MA. Adapun Chandra dihukum 20 tahun penjara dan dikuatkan hingga MA.

Pemerkosa Berantai Khusus Penyanyi Dangdut Beraksi Kembali dan Tinggalkan Korban Dalam Keadaan Telanjang Bulat

Aksi bejat dan sadis terjadi di Semarang. Seorang pedangdut jadi korbannya. Ia diperkosa di hutan dan ditinggalkan dalam keadaan telanjang bulat. Si pelaku menggunakan masker. Siapa dia?

Korban yang berusia 20 tahun itu mengenal pelaku melalui Facebook pertengahan Oktober 2013 lalu. Keduanya berkomunikasi melalui telepon soal job dan honor untuk acara pernikahan di Tembalang Kota Semarang. Setelah deal, mereka janjian di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang, Kamis (31/10) sekitar pukul 19.00 WIB.

“Motor korban dititipkan di RS, lalu diboncengkan pelaku ke lokasi acara,” kata Sekretaris DPC Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Kabupaten Semarang Eko Budi Santosa melalui telepon kepada detikcom, Kamis (7/11) kemarin.

Korban tidak langsung ke lokasi acara, melainkan diajak berkeliling di kawasan Tembalang hingga pukul 22.00 WIB. Karena kawasan tersebut cukup ramai dan banyak permukiman, korban fine-fine saja. Lama-kelamaan motor menjauh dari keramaian dan sampai di kawasan Rowosari, Tembalang. Perbatasan Kabupaten dan Kota Semrang ini cukup sepi. Antarpermukiman dipisahkan perbukitan dan hutan.

“Pelaku menghentikan motor dan mengancam korban dengan senjata tajam. Di situ kejadiannya,” ungkap Budi.

Korban yang berasal dari Kabupaten Semarang ini disuruh melepas semua pakaiannya sampai telanjang. Mulut dan tangannya diikat lakban. Kemudian pelaku memerkosa dan menyodomi korban berulang kali hingga subuh.

“Pakaian, uang Rp 3 juta, dua handphone, satu BlackBerry, dan tas dibawa lari pelaku,” sambung Budi

Korban ditinggalkan dalam keadaan telanjang dan terikat di tengah hutan. Setelah berhasil melepaskan ikatan, ia berlari sejauh 2 km dengan kondisi telanjang bulat ke permukiman Ungaran Timur Kabupaten Semarang.

“Ditolong warga Ungaran (Kabupaten Semarang). Warga melaporkan ke polisi,” kata Budi

Lokasi kejadian masuk wilayah Tembalang Kota Semarang. Karena itu, Polres Semarang yang menerima laporan warga, meneruskan ke Polsek Tembalang. Kapolsek Tembalang AKP Wahyu Broto Narsono Adhi mengaku sudah menerima pelimpahan kasus tersebut. Namun ia belum bisa berkomentar banyak.

“Sudah kami terima pelimpahan kasusnya dari Polres Semarang,” kata Wahyu saat dikonfirmasi.

Informasi dari PAMMI, peristiwa serupa dialami oleh penyanyi asal Kendal seminggu sebelumnya. Ia diperkosa di Penggaron, Kabupaten Semarang. Ciri-ciri pelaku mirip. “Belum tahu apakah modusnya sama atau tidak,” tandas Kapolsek yang mengaku sudah mendengar informasi kasus tersebut.

Siapa pelakunya? Eko Budi Santosa menjelaskan, kepada korban, pelaku mengaku bernama Lilik. Ciri-cirinya badan tidak terlalu tinggi, agak gemuk, rambut pendek ikal, kulit putih, dan memakai motor Yamaha Jupiter.

“Sejak bertemu dan melakukan pemerkosaan pria itu pakai masker terus,” jelas Budi sambil menjelaskan saat ini korban shock berat karena ditinggal dalam keadaan telanjang dan meminta polisi menangkap pria sadis tersebut.

Mahasiswi Binus Disiram Air Keras Oleh Mantan Pacar

AL (19) masih menjalani perawatan intensif di RS Royal Taruma akibat air keras yang disiramkan mantan pacarnya Riki Halim Levin (23) di kamar kos di Jalan U, Palmerah, Jakarta Barat. Di dalam kamar kos mahasiswi jurusan Manajemen tersebut masih terlihat sisa-sisa air keras yang menimbulkan bercak warna kuning.

Pantuan detikcom, Rabu (9/10/2013), di kamar kos yang berukuran 3×4 meter terlihat banyak bercak-bercak warna kuning sisa air keras. Bercak-bercak kuning tersebut paling banyak terlihat di kasur lipat warna merah yang berada tepat di depan pintu masuk kamar.

Bercak kuning sisa air keras juga terlihat pada dispenser yang ada di belakang pintu dan televisi yang berada di sebelah kanan pintu. Lantai di dalam kamar tersebut juga terlihat kotor bekas cairan. Terlihat juga belum ada police line di depan kamar korban. Kunci kamar masih dipegang oleh penjaga kos berlantai 4 tersebut.

Menurut penjaga kos, Amink, saat kejadian dirinya sedang makan bubur ayam di depan kos. Dirinya sempat curiga ada seorang lelaki yang tiba-tiba lari dari dalam kos, tapi tidak sempat bertanya kenapa orang tersebut lari. “Saya lihat dia lari, terus balik lagi tapi pas lihat tukang sampah turun dari lantai dua kos, pelaku lari lagi. Lalu, tukang sampah tersebut panggil-panggil saya bahwa ada penghuni kos yang butuh bantuan,” ujar Amink.

Amink menceritakan, saat melihat korban dia langsung tahu bahwa korban tersiram cairan kimia. “Dari baunya saya tahu, oleh karena itu saya langsung bawa korban ke kamar mandi dan men-shower wajah dan terutama matanya karena dia mengeluh tidak bisa buka matanya,” imbuh Amink. Dalam kasus ini, pelaku masih dalam pengejaran polisi. Diduga pelaku marah karena korban tidak mau diajak balikan. Akibat penyiraman air keras itu AL menderita luka di bagian wajah, tangan dan kakinya.

Pelaku penyiraman air keras terhadap mahasiswi Binus, Ricky Halim Levin (23), sampai sekarang belum juga bisa ditangkap. Untuk itu, Polisi juga meminta bantuan jasa paranormal untuk mengetahui keberadaan pelaku. “Kita juga sudah mencoba menggunakan jasa indigo. Dari infonya, kepalanya sudah dibotakin,” kata Kanit Reskrim Polsek Palmerah Sigit Kumono, Kamis (10/10/2013).

Sigit mengatakan, polisi juga telah mengumpulkan semua data mengenai pelaku dari aku sosial media miliknya. Dan kasus ini sudah dilimpahkan ke Polres Jakarta Barat.”Kasus ini ditangani Reskrim Polres Jakbar,” ujar Sigit.Sebelumnya, menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengki Haryadi, Tim Pemburu Preman Polres Jakarta Barat siap membantu mencari pelaku. “Kita akan bantu polsek untuk mencari pelaku,” ujar Hengki Haryadi, Selasa (8/10).

Sedangkan Kakak Korban, Fuad Hamdani, mengatakan pelaku memiliki tinggi 170 cm, berbadan kurus dan berkulit putih. “Namun, kata teman-temannya pelaku tempramen dan suka bohong,” ujar Fuad. Hingga kini mahasiswi Binus AL (19) yang menjadi korban penyiraman air keras oleh mantan pacarnya itu masih menjalani pengobatan di RS Royal Taruma. AL menderita luka di bagaian wajah akibat penyiraman air keras tersebut.

Mahasiswi Binus AL (19) yang menjadi korban penyiraman air keras oleh mantan pacarnya masih menjalani pengobatan intensif di RS Royal Taruma. Menurut kakak korban, Fuad Hamdani, korban saat ini mentalnya masih terguncang.

“Kata dokter adik saya kena luka bakar grade 3 tapi itu masih dugaan awal. Tapi yang tidak kalah mengkhawatirkan ya mentalnya yang masih terguncang,” ujar Fuad kepada wartawan saat berbincang di RS Royal Taruma, Tanjung Duren, Jakbar, Senin (7/10/2013).Fuad mengatakan, dari hasil pemeriksaan untuk organ dalam tidak masalah. Namun, kedua matanya saat ini bengkak akibat terkena air keras tersebut.

“Untuk kedua matanya masih harus di terapi terus. Semoga tidak terjadi apa untuk kedepannya,” ujar Fuad yang tampak sedih saat menceritakan kondisi adiknya.Fuad dan keluarga berharap adiknya tersebut bisa segera sembuh dan pelaku segera ditangkap. “Mohon doanya ya semoga lekas sembuh. Dan yang terpenting pelaku cepat ditangkap,” imbuh Fuad.

Mahasiswi Binus jurusan manajemen LD (19) menjadi korban tindak penyiraman air keras yang dilakukan oleh Riki Halim Levin (23), mantan kekasihnya. Sebelum terjadi penyiraman air keras, pelaku sering datang ke tempat kos korban dan mengaku sebagai pengantar makanan.

“Itu katanya mantannya, pernah beberapa kali ke sini ngaku-ngaku pengantar makanan. Tapi gak pernah ketemu korban,” ujar Merlina salah satu penghuni kos saat ditemui di kosan korban di Palmerah, Jakarta Barat, Senin (7/10/2013). Merlina mengatakan, saat datang pelaku memakai kaos dan terlihat santai. “Tapi setelah itu dia lari kenceng banget. Saya gak lihat dia pake motor apa tidak,” ujar Merlina. Penjaga kos, Danu mengatakan pagi itu keadaan kos memang lagi sepi. Jadi tidak melihat pelaku masuk dan keluar dari tempat kos itu.

“Yang punya kos lagi ngopi di warung depan. Tiba-tiba ada minta tolong dan pelakunya sudah kabur. Tapi pas ada tukang sampah, sempat lihat pelaku tapi gak ketangkap. Itu kalau ketahuan bisa dihajar sama warga,” ujar Danu. Danu mengatakan, sebelumnya belum ada kejadian kayak. Korban juga belum satu bulan tinggal disini. “Waktu baru pindahan orang itu (pelaku) kesini. Nanya nyari korban. Waktu itu dia nanya sama saya. Sudah dua kali ke sini,” imbuh Danu.

Mahasiswi Binus yang menjadi korban penyiraman air keras masih menjalani perawatan di rumah sakit atas luka bakar yang dialaminya. Keluarga korban masih mengharapkan adanya itikad baik dari keluarga pelaku yang merupakan mantan kekasih korban. “Sampai saat ini, belum ada itikad baik, belum ada permintaan maaf,” ucap kakak korban, Fuad saat dihubungi, Selasa (8/10/2013).

Fuad sendiri mengaku tidak begitu mengenal pelaku karena hanya sempat bertemu 2 kali. Hubungan asmara antara adiknya dengan pelaku memang hanya berjalan singkat selama 2 bulan. Lebih lanjut dia menuturkan, kondisi adiknya sedikit mengalami kemajuan. Luka yang paling mengkhawatirkan adalah di bagian mata korban yang juga terkena cipratan air keras. Namun, dokter menyatakan ada kemungkinan untuk pulih.

“Kata dokter, untuk mata ada kemungkinan recovery,” terangnya. Fuad meminta doa agar adiknya bisa sembuh. Serta agar pelaku yang kini masih dalam pengejaran, bisa segera tertangkap. Keluarga korban juga tetap terbuka untuk menyambut itikad baik pelaku dan keluarganya. “Harusnya ada itikad baik. Tapi kalau enggak, ya enggak apa-apa,” tandasnya.

Dalam kasus ini, pelaku yang diketahui bernama Riki Halim Levin (23) mendatangi kost korban di Palmerah, Jakarta Barat dan menyiramkan air keras ke tubuh korban. Pelaku yang juga mantan kekasih korban ini masih dalam pengejaran polisi. Diduga pelaku marah karena korban tidak mau diajak balikan.

Polsek Palmerah masih terus mencari Riki Halim Levin (23) pelaku penyiraman air keras ke wajah mantan pacarnya Mahasiswi Binus AL (19). Supaya segera tertangkap Tim Pemburu Preman Polres Jakarta Barat siap membantu mencari pelaku. “Kita akan back up polsek untuk mencari pelaku,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengki Haryadi, Selasa (8/10/2013).

Sebelumnya, kaka korban Fuad Hamdani mengatakan, pelaku memiliki wawasan yang luas dan sopan. Pelaku juga memiliki ciri-ciri tinggi 170 cm, kulit putih, berbadan kurus. “Namun, kata teman-temannya pelaku tempramen dan suka bohong,” ujar Fuad. Fuad mengatakan, terakhir pelaku bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan asuransi swasta. Tapi menurut Fuad, pelaku sudah dipecat. “Dan sekarang saya tidak tahu dia kerja dimana,” imbuh Fuad.

Unsur air keras yang disiramkan Riki Halim Levin (23) kepada mahasiswi Binus di kostan korban di korban disiram air keras di kosnya di Jalan U No 7B, Rt 09/ Rw 15, Palmerah, Jakarta Barat, Kamis (3/10) lalu masih diteliti. Baju korban yang rusak akibat cairan tersebut dibawa ke Labfor untuk penelitian selanjutnya.

“Masih kita selidiki untuk jenis cairan kimianya dan dapat dari mana juga ini msh kita selidiki karena RH (Riki Halim) belum tertangkap. Pakaian korban sudah dikirim ke labfor untuk ketahui jenisnya,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (8/10/2013).

Rikwanto mengatakan, saat ini penyidik sudha memeriksa 4 orang saksi yang merupakan teman kost korban dan juga keluarganya. Polisi akan mengembangkan kasus tersebut dengan memeriksa saksi-saksi lain. Selanjutnya, Rikwanto mengatakan, pihaknya masih mencari Riki. Polisi, kata dia, sudah mencari Riki di rumah ibunya di Pademangan, Jakarta Utara dan di rumah ayahnya di kawasan Tamansari, Jakarta Barat.

“Tetapi tidak ada di dua rumah orang tuanya itu,” kata Rikwanto. Seorang mahasiswi Binus menderita luka bakar di bagian wajah karena disiram air keras oleh mantan pacarnya Riki Halim Levin (23). Akibatnya mahasiswi itu harus menjalani operasi di Rumah Sakit Royal Taruma.

Peristiwa itu dilakukan pelaku karena sakit hati lantaran ditolak bekali-kali oleh korban untuk kembali menjalin hubungan. Pelaku kemudian mendatangi kostan korban, berpura-pura mengantarkan minuman. Saat di depan kamar kost korban, pelaku kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar. Setelah korban membukakan pintu kamar, pelaku kemudian menyiramkan minuman yang sudah diisi air keras itu.

Siswi SMA Diperkosa Ramai Ramai Oleh 7 Pria Di Pontianak

Tindakan para pelaku ini benar-benar biadab. Mereka tega menghancurkan masa depan seorang siswi SMA berusia 16 tahun. Siswi itu diperkosa secara bergiliran.

“Korban berusia 16 tahun dan masih berstatus pelajar,” kata Kasat Reskrim Polres Pontianak AKP Edy Haryanto, Sabtu (14/9/2013)

Peristiwa keji itu dilakukan DP, JM, Rz, El, Sy, Re dan Rh. Peristiwa perkosaan itu terjadi Jumat (13/09/2013) sekitar pukul 22.10 WIB di di dekat Jalan Pendidikan, Kota Mempawah, Kalimantan Barat.

Salah seorang pelaku juga remaja teman dekat korban. Malam itu, korban diajak berboncengan naik motor menikmati malam. Setibanya di Jalan Baru jurusan Pontianak, Pinyuh Kabupaten Pontianak, korban dan tujuh tersangka ini berhenti di tepi jalan.

“Karena suasana gelap dan sepi, korban disekap mulutnya dan dipaksa melayani nafsu para pelaku di tepi jalan itu,” ujar Edi.

Meski sempat berontak mengiba, para pelaku secara bergiliran memperkosa korban. Usai melampiaskan nafsu, para pelaku meninggalkan korban sendirian dengan tubuh setengah telanjang.

Dalam keadaan setengah sadar, korban ditolong warga dan kemudian melaporkan perbuatan asusila para pelaku kepada petugas kepolisian. “Sebanyak 6 pria dewasa dan 1 remaja telah diamankan di Mapolres Mempawah,” terang Edi.

Perkosaan dilakukan para pelaku dalam kondisi sadar dan tidak terpengaruh alkohol. “Para pelaku sepertinya telah merencanakan perbuatan ini sejak lama,” ungkap Edi.

Polisi menjerat para tersangka ini dengam pelanggaran tindak pidana Persetubuhan anak dibawah umur, diancam pasal 81 ayat 2 UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman 15 Tahun penjara.

“Korban mengalami trauma psikis, dan harus menjalani pemulihan psikologis di shelter Perlindungan Perempuan dan Anak di Pontianak,” tutur Edi.