Category Archives: kekerasan pada wanita

Keperawanan Gadis Bogor Dijual Dengan Harga 250 Ribu Untuk Tiga Malam

Perdagangan gadis di bawah umur untuk dijadikan pelacur kembali diungkap polisi. Seorang cewek ABG dijual wanita germo kepada lelaki hidung belang di Puncak setelah selama seminggu disekap di penampungan.

Korban, Im,15, berhasil kabur dari kamar hotel di kawasan Puncak setelah selama tiga hari dipaksa melayani om-om yang membokingnya. Petugas Polsek Citeureup selanjutnya menciduk Nn, 30, wanita germo yang menjual Im, Selasa (19/11) malam di rumahnya di kawasan Gunung Putri. Petugas juga membebaskan 12 ABG lainnya dari rumah itu.

Im,15, berhasil kabur dari kamar hotel saat lelaki yang mengencaninya tengah berada di kamar mandi. Anak kedua dari tiga bersaudara ini pulang ke rumahnya di Citeurep lalu menceritakan apa yang dialaminya kepada orangtuanya.

Ny Rohyana,38, ibu korban berang lalu langsung melapor ke Mapolsek Citeureup. “Enak benar dia menjual keperawanan anak saya. Pokoknya saya minta pelaku dihukum berat, anak saya masih trauma,” kata Ny Rohyana usai melapor polisi.

Nasib malang Im berawal ketika ia ditawari pekerjaan oleh Nn dengan gaji besar, namun tak disebutkan jenis pekerjaan itu. Saat dibawa ke di rumah Nn, korban yang tidak lulus SMP ini curiga lantaran di rumah itu sudah ada belasan ABG lainnya. “Kami disekap, nggak bisa keluar. Salah satu dari yang disekap itu bilang, dia pernah melayani om-om,” ucap Im.

Tiga hari kemudian, Im dibawa pergi menggunakan mobil, katanya untuk menemui lelaki yang akan memberinya pekerjaan. Ia tak bisa karena Nn membawa pengawal. Rupanya Im dibawa ke sebuah hotel, lalu diserahkan kepada lelaki setengah baya.

Kapolsek Citeureup, AKP Fathoni mengungkapkan Nn mengaku menjual Im Rp250 ribu. Rinciannya, Rp200 ribu untuk Im dan Rp50 ribu untuk Nn. “Tapi itu pengakuan dia, kami masih mengorek keterangan dia yang sebenarnya,” kata Fathoni sambil menambahkan Nn mengaku-ngaku istri simpanan oknum tentara.

PEMILIK DELTA DIBURU
Lokasi penyekapan 15 wanita muda di ‘Kokan Delta Spa’ Permata Blok E, Kelapa Gading, Jakut, dan Graha Bina Nayaka, Cipendeuy, Ciawi, Bogor, Kamis (19/11), masih dipasangi police line (garis polisi). Suasana di sekitar lokasi terlihat sepi, namun akstifitas Delta Spa & Health Club Kelapa Gading masih buka.

Sampai saat ini aparat Polres Jakarta Utara masih memintai keterangan beberapa saksi termasuk Muhammad Ichwan, Manager area Delta Spa. “Kami telah menetapkan managernya sebagai tersangka,” jelas Kasat Reskrim Polres Jakut Kompol Roma Hutajulu.

Pemilik Spa masih diburu polisi. Ke-15 wanita di bawah umur yang disekap sudah kembali ke rumah masing-masing. “Orang tua korban minta anaknya langsung dipulangkan setelah diminati keterangan.”

Lima Guru SMU Ditangkap Polisi Karena Menelanjangi Gadis Yang Tertangkap Pacaran Dan Merekam Korban Dalam Keadaan Bugil Serta Mengancam Akan Memperkosa

Berawal dari tersebarnya video bugil sepasang kekasih, jajaran Kepolisian Resor Kampar, Riau, menangkap Ali Iskandar Bin Bakri (34) yang berstatus guru di sebuah SMU negeri.

Kapolres Kampar, AKBP MZ Muttaqien, kepada ANTARA di Pekanbaru, Selasa, mengatakan Ali Iskandar ditetapkan sebagai salah satu tersangka pemerasan dan penyebar video porno. Polisi juga sudah menahan pelaku lainnya bernama Hamizar (54), dan masih mengejar empat tersangka lainnya yang masih buron.

MZ Muttaqien menjelaskan, para pelaku aksi premanisme pemerasan video bugil itu ditangkap pada Selasa dini hari (18/11) sekitar pukul 00:30 WIB, oleh tim gabungan yang dipimpin Kapolsek Siak Hulu, AKP Feryanto.

Para tersangka dijerat dengan pasal berlapis, yakni pasal 368 jo. 282 KUHP tentang menyebarkan dan mempertontonkan video porno juga pemerasan, dan pasal 27 (1) (4) UU No. 11 Tahun 2008 dengan ancaman enam tahun penjara dan denda Rp1 miliar.

Tersangka kini ditahan di Polres Kampar bagi penyidikan lebih lanjut guna mengetahui keberadaan tersangka lainnya yang telah melarikan diri.

Beredar Luas

Penangkapan tersangka itu bermula dari beredarnya video berdurasi lebih dari 34 menit yang berisi dua sejoli dalam kondisi bugil. Dalam video terdengar jelas para tersangka dengan menggunakan bahasa daerah setempat melakukan ancaman terhadap pasangan malang tersebut.

MZ Muttaqien mengatakan tempat kejadian perkara berlokasi di kawasan Taman Jefry Noor, Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kampar. Adapun korban berinisial F dan D, yang berprofesi sebagai pedagang.

Menurut Kapolres, waktu perekaman video dilakukan tersangka pada 13 Oktober 2008 sekitar pukul 16:00 WIB. Sewaktu korban sedang berpacaran di ruang publik, lanjutnya, mereka dipergoki oleh tersangka dan dipaksa menanggalkan baju dan salah satu tersangka merekam menggunakan handycam korban perempuan dalam keadaan bugil.

Tersangka juga memeras dengan meminta uang sebesar Rp 1 juta, sebagai imbalan apabila korban perempuan tidak mau melayani nafsu bejat mereka dan video disebarluaskan. Namun, korban pada saat itu hanya bisa memberikan uang sekitar Rp300 ribu dan dikabarkan para tersangka juga mengambil handphone dan cincin emas milik korban.

Pemerkosa Gadis Bisu dan Gagu Akhirnya Ditangkap Setelah Menolak Disuruh Kawin

Jajaran Reskrim Polres Pamekasan, Madura, Jawa Timur, akhirnya menahan pelaku pemerkosa gadis bisu asal Desa Bidang, Kecamatan Pasean Pamekasan.

Penahanan terhadap gadis malang yang masih berusia 15 tahun itu dilakukan setelah yang pelaku, Fathor (20) yang juga masih tetangga korban menolak dimintai pertanggungjawaban keluarga korban menikah dengan gadis yang menderita tuna rungu dan tuna wicara itu.

Menurut Kasat Reskrim Polres Pamekasan AKP Mohamad Kholil, Minggu, peristiwa naif yang menimpa korban ST itu terjadi dua bulan lalu di rumah korban di Desa Bindang.

Korban sendiri tinggal serumah dengan saudara kandungnya Buning. Tapi ia jarang di rumah karena, karena sering berjualan di pasar. Sehingga setiap hari pasaran ST selalu tinggal sendirian.

Suatu ketika, Fathor datang ke rumah Buning, saat ia sedang berjualan ke pasar. Sesampainya di rumah itu ia langsung menemui ST yang waktu sedang menyapu halaman rumahnya. Fathor memberikan uang Rp5 ribu dan mengajak korban masuk kamar. Saat itulah keperawanan ST direnggut pelaku.

Aksi bejat tersangka Fathor tidak hanya sekali, tapi dilakukan berulangkali setiap saudaranya Bening berjualan di pasar. Hingga akhirnya tersangka Fathor kepergok Buning, keluar dari kamar ST dengan wajah pucat.

“Buning itu pula langsung bertanya pada korban tentang kedatangan Fathor. Dengan menggunakan bahasa isyarat, korban memperagakan jika dirinya baru saja berhubungan badan dengan Fathor yang masih tetangganya itu,” kata AKP Mohamad Kholil menjelaskan.

Selanjutnya meminta pertanggungjawaban pelaku Fathor untuk menikah dengan adiknya itu. Tapi karena pelaku menolak, ia lalu melaporkannya ke polisi

“Untuk memperkuat laporan pemerkosaan, korban dibawa ke RSU Pamekasan untuk dimintai visum. Hasilnya, korban bukan hanya mengalami luka sobek di bagian kemaluan, tapi juga hamil dua bulan,” katanya.

Dihadapan penyidik, pelaku mengaku memperkosa korban hingga enam kali. Ia tertarik dengan wajah korban yang cantik dan bertubuh seksi.

“Tersangka kita dijerat pasal 285 dan 289 KUHP dengan ancaman hukuman lebih dari 5 tahun penjara dan dikenakan undang-undang perlindungan anak,” kata AKP Mohamad Kholil menjelaskan

Pembantu Disergap Orang Tidak Dikenal dan Diperkosa Selama Tiga Hari Tanpa Diberi Makan

Malang nian nasib Sum, gadis pembantu rumah tangga asal Semarang, Jawa Tengah ini. Disuruh belanja majikan ke supermarket, malah diculik dua pria bertopeng di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Cilandak, Jakarta Selatan. Selama tiga hari dalam sekapan pelaku, korban secara terus menerus diperkosa bergilir di rumah kosong.

Gadis berusia 20 tahun itu saat ini masih trauma. Ketika dijumpai di rumah majikannya di Jalan H.Mandor, Cilandak Barat, ia langsung menangis dan menolak diwawancarai. “Dia sangat trauma. Kami menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini ke polisi,” kata majikan korban, Ny.Wayan Dasning, Jumat (14/11).

Kata Supardi, 50, tetangga korban, peristiwa yang menghancurkan masa depan Sum terjadi Minggu (9/11) sekitar pukul 09.30. Mengutip keterangan dari pembantu tetanganya, Supardi menyebut, saat itu Sum berjalan kaki menuju Giant Hypermart sekitar satu kilometer dari rumah majikan. Ketika melewati Jalan Taman Wijaya Kusuma, tiba-tiba sebuah mobil Toyota Kijang warna biru memepetnya. Dalam hitungan detik, salah seorang pria langsung menyeretnya masuk ke kendaraan roda empat tersebut. Korban pun dibawa kabur para pelaku.

Di dalam mobil, korban diikat,  matanya ditutup pelaku dan ditelanjangi para pelaku. Mereka membawa kabur Sum ke suatu tempat yang tidak diketahui korban. “Di tempat inilah, para pelaku menodai korbannya,” kata Supardi berdasarkan pengakuan Sum.

Selama dalam penguasaan penculik, pembantu asal Semarang (Jawa Tengah), itu tidak diberi makan. Ia hanya diberi air putih. Selain itu, korban juga diancam akan dibunuh jika berani berteriak dan tidak mau melayani mereka. Setelah puas memperkosa sum, pelaku kemudian membebaskan Sum dan membuangnya di pinggir Jalan Raya Fatmawati pada Selasa (11/11) malam. Ia ditolong warga yang curiga melihat ada seorang perempuan yang terlihat kelelahan dan merintih kesakitan.

Menurut Supardi, para pelaku juga mengambil HP milik Sum dan uang Rp300 ribu yang sedianya untuk belanja. Kapolsek Cilandak, Kompol Makmur Simbolon yang dihubungi wartawan menyatakan, pihaknya masih mengembangkan kasus ini termasuk memburu pelaku.

Komarudin Buruh Serabutan Memperkosa Keponakan Karena Cemburu

Di Jakarta Timur, seorang buruh serabutan digelandang ke kantor polisi, Kamis (13/11), karena memperkosa gadis ABG keponakan sendiri. Tersangka Komarudin, 47, kini mendekam di tahanan Polres Jakarta Timur. Sedangkan An, 15, korban, telah divisum di RS Polri Kramatjati.

Informasi, tersangka beraksi di siang hari saat Mil, istrinya, bekerja sebagai tukang cuci. Korban tak berdaya lantaran selalu diancam akan diusir bila tak menuruti perintahnya.

Sekali waktu, Komarudin kesal mendapati di HP keponakannya terdapat pesan singkat dari seorang satpam. Tersulut cemburu, An dimarahi dan dilarang berhubungan dengan satpam tersebut. Gadis yang tak lulus SMP itu pun kabur dari rumah lalu menginap di rumah temannya.

Komarudin yang makin kesal menyeret An untuk pulang, Rabu (12/11) pagi. Sesampainya di rumah, gadis itu diperkosanya. Namun, saat bersamaan sejumlah teman An yang iba melihat perilaku Komarudin datang ke rumah itu.

Tersangka kaget lalu lari menyelamatkan diri meninggalkan korban yang menangis. Tak lama, peristiwa itu diketahui tokoh masyarakat yang segera lapor ke polisi.

Makin Hari Wanita Semakin Bengis dan Sadis – Karena Senggolan Seorang Wanita Dipukuli Habis Habisan Oleh 4 Wanita

Senggolan joget di arena musik dangdut, janda muda baku hantam dengan cewek pengunjung diskotek. Duel yang berlanjut jambak-jambakan itu tentu saja menjadi tontonan pengunjung lainnya.

Pertengkaran yang membuat heboh pengunjung diskotek di Jalan Pramuka Raya, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, terjadi Selasa (11/11) dinihari. Belum puas dengan adu fisik di dalam ruangan, di luar arena diskotek keributan berlanjut.

Nurlela,22, janda muda warga Jalan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, dikeroyok oleh Li, De, Ve, Ir dan Ni, geng cewek yang dugem di tempat hiburan malam tersebut. Ibu satu anak ini luka di pipi, leher dan wajah benjol.

Nurlela divisum di RSCM, selanjutnya melapor ke Polsek Cempaka Putih. Sedangkan lima cewek jagoan yang mengeroyoknya kabur. “Saya dibawa paksa ke basement lalu ditarik ke jalan raya dan dikeroyok,” kata Nurlela di Polsek Cempaka Putih.

“Seret tuh Nurlela, biar dia tahu siapa kita,” kata satu pelaku seperti ditirukan korban. Lima pelaku memang mengenal Nurlela karena mereka sama-sama doyan dugem di diskotek. Wanita berkulit sawo matang ini tak terima dianiaya, ia minta lima cewek pengeroyoknya ditangkap.

Awal keributan terjadi, kata Kapolsek Cempaka Putih Kompol Pentus Napitu,SH, lima cewek pengeroyok itu sedang asyik berjoget ria di arena Diskotek Sentral yang menyuguhkan musik dangdut ritmix. Begitupula Nurlela, ia juga asyik bergoyang. Saat itu sekitar pukul 01:30 dinihari.

“Rupanya korban senggolan dengan satu pelaku hingga terjadi cekcok mulut,” jelas Kanit Reskrim Iptu Suhendar. Di tengah hingar binger musik, dua perempuan itu sempat saling pukul bahkan jambak-jambakan.

Saat alunan musik berakhir, tiba-tiba Nurlela dikeroyok oleh 5 pelaku itu hingga menjadi tontonan sejumlah cluber alias penikmat hiburan malam. Keributan itu sempat dilerai pengunjung lainnya.

Merasa kurang puas, salah satu pelaku mengajak korban keluar diskotek. Rupanya di basement empat cewek lainnya sudah menunggu. Nurlela digebuki, ditarik ke jalan raya dan kembali diberi bogem mentah. Setelah itu para perempuan yang mengeroyoknya kabur.

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Siswi SMP Diperkosa Pacarnya Yang Jauh Lebih Tua

Pelajar kelas 3 SMP swasta di kawasan Ciputat, Tangerang, dinodai kekasihnya di tempat kos. Ibu korban melaporkan kasus tersebut ke Polres Jakarta Selatan, Jumat (7/11).

Ny.Linda, 45, ibunda Nr,15, berharap pacar anaknya ditahan karena telah menghancurkan masa depan putrinya. “Ia jadi berhenti sekolah karena malu. Kalau mau dinikahkan juga masih belum cukup umur. Saya sudah mendesaknya untuk sekolah, namun belum mau.”

Menurut ibu korban sejak enam bulan ini anaknya berpacaran dengan Znl, 23, yang dikenalnya saat pulang sekolah. “Enah kenapa anak saya mau saja diajak main di tempat kos dia lalu dinodai di tempat tersebut.”

Kasus ini terungkap saat Linda melihat Nur bersikap murung. Setelah didesak, anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku telah dinodai pacarnya.

Karena Menduakan Pacar, Maryati Tewas Diperkosa dan Dibunuh Pacar Sendiri

Maryatun (27) yang sebelumnya ditemukan sebagai mayat tanpa identitas di Waduk Perikanan, Kampung Rawa Lele, Jakarta Barat, 29 Oktober, ternyata dibunuh pacarnya, Kuat Rohadi alias Dapril, karena cemburu.

Kepala Polres Jakarta Barat Komisaris Besar Iza Fadri dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (5/11), menjelaskan, pembunuhan terungkap setelah adik korban, Maryanto alias Pujo, dan pacar Maryati yang lain, yakni Febry Ardyansyah, mengidentifikasi mayat Maryati yang ditemukan tanpa identitas di Kamar Mayat RSCM.

Akhirnya didapat keterangan dari adik korban, saat terakhir kali, ia katanya hendak menemui Kuat alias Dapril. ”Polisi pun memburu Dapril yang akhirnya ditangkap di daerah Pakuwon, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (4/11) malam. Tidak ada perlawanan dari tersangka saat ditangkap,” kata Iza menjelaskan.

Pembunuhan terjadi karena Kuat Rohadi cemburu buta dan merasa ditipu Maryati. Ketika pertama kali berkenalan, Maryati mengaku belum punya pacar. Padahal Maryati, lanjut Iza mengutip keterangan tersangka, sudah berhubungan dengan Febry Ardyansyah.

Pada hari pembunuhan, Kuat Rohadi pergi berdua dengan Maryati. Kuat menjadi kalap setelah Maryati menerima telepon yang ternyata berasal dari Febry Ardyansyah.

Kuat pun menganiaya korban hingga tewas dan ditinggalkan di dekat Waduk Perikanan, Kampung Rawa Lele. Kuat mengambil telepon genggam, senilai Rp 20.000, cincin, dan gelang milik korban. Telepon genggam korban dijual kepada teman pelaku.

Penyidik menanyakan apakah tersangka terlebih dahulu memerkosa korban. Menurut pengakuan tersangka kepada penyidik, hubungan seksual dilakukan suka sama suka. Dari hasil otopsi terhadap tubuh Maryati ditemukan ceceran sperma yang diduga milik Kuat Rohadi.

Saat ditemukan warga, Maryati mengenakan ikat pinggang putih dan kotak hitam, sepasang sandal dan pakaian. Tubuh Maryati ditemukan setengah telanjang. Kuat Rohadi kini ditahan di Polsek Kalideres, Jakarta Barat.