Category Archives: kekerasan pada wanita

Cinta Segitiga Dengan Pasangan Suami Istri Berakhir Dengan Mutilasi

Warga Desa Bailangu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dua hari menjelang Lebaran atau 8 September, digemparkan penemuan mayat perempuan di Sungai Musi dalam kondisi mengenaskan.

Mayat itu ditemukan dalam keadaan bugil, tanpa kepala, tanpa kedua tangan, dan tanpa kedua kaki. Identitas mayat yang dimutilasi itu sangat sulit diketahui, tetapi aroma pembunuhan terasa sangat kuat.

Secara kebetulan, sehari kemudian warga menemukan potongan kepala perempuan di Sungai Musi yang diduga adalah kepala dari mayat itu. Pelacakan identitas semakin mudah setelah potongan kepala ditemukan dan dilakukan tes DNA.

Langkah awal yang dilakukan polisi adalah memastikan identitas mayat tersebut yang ternyata adalah Zuraidah Syakdiah (51), warga Jalan Tanjung, Kelurahan 20 Ilir, Palembang. Perburuan terhadap pelaku mutilasi pun dimulai.

Polisi menemukan petunjuk bahwa korban terlihat naik angkot yang dikemudikan Gofur (47), warga Jalan Ki Gede Ing Suro, Palembang, pada 7 September, sehari sebelum mayat korban ditemukan.

Otomatis polisi mencurigai Gofur si sopir angkot. Apalagi di dalam angkot itu ditemukan bercak darah dan rambut. Pria kurus berkumis itu menjadi daftar pencarian orang.

Polisi lalu menahan Rosdahawati (49), istri Gofur, dengan tuduhan membantu Gofur membunuh korban.

Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Ajun Komisaris Sabarudin Ginting, Jumat (24/9), mengatakan, Gofur melarikan diri sejak 10 September ke Yogyakarta, Cilacap, Purwakarta, Subang, dan terakhir ke Bekasi, tempat dia berhasil diringkus pada hari Rabu (22/9).

Menurut Sabarudin, pembunuhan yang diikuti dengan mutilasi itu bermotif cinta segitiga antara Gofur dan korban. Namun, hubungan Gofur dan korban retak. Bahkan, korban melaporkan Gofur dan istrinya ke Polsek Ilir Timur I dua hari sebelum ia dibunuh karena korban mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keduanya.

”Saat mereka dalam perjalanan ke Meranjat, Ogan Ilir, tanggal 7 September mereka bertengkar. Korban lalu dibunuh dalam angkot dengan gunting dan kunci ban,” kata Sabarudin.

Menurut Sabarudin, setelah menghabisi nyawa korban, Gofur pulang ke rumahnya di Palembang untuk menjemput istrinya pergi ke Babatoman, sementara mayat masih berada dalam angkot. Di tengah perjalanan ke Babatoman naik angkot, Gofur dibantu istrinya memutilasi korban.

”Tubuh korban dimutilasi untuk menghilangkan jejak. Namun, meskipun korban sudah dimutilasi, perbuatan Gofur masih dapat terbongkar,” kata Sabarudin.

Menurut kriminolog Universitas Sriwijaya, Syarifuddin Pettanasse, pembunuhan sadis kebanyakan justru dilakukan oleh orang yang mengenal korban. Pembunuhan sadis biasanya berlatar belakang dendam pribadi. Para pelaku pembunuhan sadis akan menunggu saat yang tepat untuk menghabisi korbannya.

Pria Keren Tertangkap Karena Membius 30 Wanita Yang Ingin Check In Dengannya

Heppy Kinan (59), pelaku pembiusan di Jakarta Pusat, dibekuk aparat Kepolisian Sektor Metro Kemayoran, Selasa (21/9) dini hari. Aksi yang dilakukan di Jakarta Pusat itu rupanya bukan yang pertama. Sejak Januari 2010, pelaku melakukan modus serupa kepada 30 korban.

Heppy mempunyai beragam nama samaran dalam aksinya. Dalam dua kali pembiusan di Jakarta Pusat, pelaku memakai nama samaran Pia Ramadhan. Ada juga sejumlah nama samaran lain seperti Herry Sabir, Lukman, Hendra, atau Yopy.

Dia juga mempunyai sejumlah kartu tanda penduduk (KTP) palsu dengan beragam nama serta alamat. Selembar KTP palsu dibeli pelaku seharga Rp 150.000.

Pembiusan itu dilakukan tidak hanya di Jakarta, tetapi di sejumlah tempat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Awalnya pelaku beraksi dengan kawannya, Jimmy. Dua hari sebelum Lebaran, Jimmy dibekuk oleh jajaran Kepolisian Resor Cirebon.

Setelah itu, Heppy beraksi sendiri termasuk ketika membius dua perempuan di dua hotel yang berbeda di Kecamatan Kemayoran, pekan lalu. Salah seorangnya adalah DJ Wanita yang ditinggal dalam keadaan bugil atau telanjang bulat sendirian dihotel bahkan mobilnyapun lenyap (baca ceritanya disini: Wanita Disc Jockey Dihipnotis Dan Dirampok Kenalan Baru Sampai Telanjang Di Lobby Hotel)

Dalam aksinya, pelaku berkenalan dengan calon korban dari berbagai cara, antara lain dikenalkan teman-temannya. Di Jakarta Pusat, umumnya pelaku bertemu dengan calon korban di sekitar Simpang Lima Senen.

Perawakan pelaku yang tinggi dan putih, pakaian yang rapi dan trendi, serta gaya bicara yang meyakinkan membuat calon korban mudah terbujuk. Calon korban lantas diajak berjalan- jalan sebelum keduanya check-in di hotel. Heppy biasanya meninggalkan KTP palsu saat mendaftar masuk di resepsionis hotel dan tidak mengambil KTP itu lagi.

Di kamar, pelaku menyiapkan minuman jamu atau jus yang sudah diberi campuran obat penenang dan pil tidur. Setelah minum, korban langsung tidak sadarkan diri. Saat itu dipakai pelaku untuk memereteli perhiasan dan uang milik korban.

”Saya spekulasi saja dengan korban. Kadang-kadang juga saya dapat perhiasan imitasi,” ucap Heppy di Markas Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat.

Perhiasan korban langsung dijual Heppy. Uang itu yang dipakai untuk hidup dan melaksanakan kejahatan selanjutnya.

Obat penenang yang dipakai dalam kejahatan itu diperoleh Heppy dari apotek. Dia sebelumnya meminta resep dokter dengan dalih membutuhkan obat itu untuk diri sendiri. ”Satu plastik kecil obat, saya beli seharga Rp 150.000,” kata Heppy.

Korban yang mengonsumsi minuman bercampur obat penenang racikan Heppy itu biasanya pingsan dan tidak sadar diri selama beberapa jam atau bahkan hari. Heppy mengatakan, bila kondisi fisik orang yang minum jamu ini kuat, dia akan pingsan sekitar 12 jam. Kalau tidak, maka waktu pingsan akan lebih lama.

Korban biasanya ditemukan masih dalam kondisi pingsan di kamar hotel. Mereka langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Dalam beberapa hari, korban biasanya belum mengingat secara penuh rentetan kejadian sebelum pingsan.

Heppy dibekuk polisi yang dipimpin Kanit Reskrim Kemayoran Ipda Endi Suhendi, di sebuah rumah kos di Jalan Kramat Pulo Dalam II, Kecamatan Senen. Heppy baru menyewa kamar kos itu sekitar sebulan terakhir. Sebelumnya, Heppy mengaku berpindah-pindah hotel.

Modus lama

Tindak kejahatan Heppy itu merupakan modus lama. Heppy memang terbiasa membius calon korbannya sebelum mengambil barang-barang berharga. ”Agustus 2009, pelaku baru keluar dari penjara karena kasus penipuan dengan modus membius sopir mobil rental. Setelah itu, pelaku menurunkan korban dan membawa kabur mobil rental,” ucap Kepala Polsek Metro Kemayoran Komisaris JR Sitinjak.

Pelaku divonis bersalah atas aksinya itu pada tahun 2007. Tercatat, 43 mobil rental yang dibawa kabur pelaku. Sebelumnya, Heppy pernah divonis bersalah pada tahun 1983 setelah melakukan kejahatan di wilayah Polres Jakarta Pusat dalam kasus penggelapan uang.

Tahun 1993, Heppy dinyatakan bersalah lagi dan dipenjara lima tahun karena membius orang yang menyebabkan korban meninggal. Tahun 2000, lagi-lagi korban masuk penjara karena membius sopir mobil rental dan membawa kabur mobil korban.

Dalam catatan polisi, Heppy mempunyai latar belakang ilmu farmasi. Ilmu itulah yang dimanfaatkannya untuk melakukan kejahatan.

Berpenampilan perlente, kakek satu ini membius pasangan kencannya di kamar hotel. Bolak-balik beraksi di berbagai kota, petualangan si ‘Good Father’ terhenti setelah diringkus polisi di sebuah rumah kos di Senen, Jakpus, Senin (20/9) malam.

Pria 59 tahun yang dijuluki Good Father dan punya banyak nama itu tak berkutik dan hanya bisa menghela nafas panjang saat Kanit Reskrim Polsek Kemayoran Ipda Endi Suhendi bersama Ipda Yossy Jannuar meringkusnya di tempat kos-nya di Jl. Kramat Pulo Dalam II.

Heppy Kinan alias Pia Ramadhan alias Herry Tabir alias Yopi, hanya bisa memandang tas berisi pakaian yang sudah siap disandangnya untuk kabur dari tempat itu. Empat KTP dengan foto sama namun nama berbeda,  disita polisi dari dompetnya.

Kakek tiga cucu dari empat anaknya itu belakangan  membuat sibuk polisi. Pasalnya, dua wanita ditemukan teler terbius di dua hotel berbeda di Kemayoran. Sha, 30, dibius di Hotel Cempaka Sari pada 17 September lalu uang dan HP-nya dibawa kabur.

Hal sama dilakukannya pada Sug, 33, yang juga dikuras hartanya dan dipreteli perhiasannya di Hotel Ilham II pada hari berikutnya.

Di sekitar tempat kos itu, kakek necis ini dikenal dengan panggilan Good Father karena ramah dengan sikap kebapakaan pada orang-orang yang usianya jauh lebih muda. Cara itu pula yang digunakan  sebagai senjata untuk menjerat wanita korbannya.

Tak tanggung-tanggung, 30 wanita di berbagai kota di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jakarta  telah diperdayanya. Di antaranya di Cikampek, Karawang, Bandung, Solo, Yogyakarta dan Jakarta. Semula, ia berpetualang bersama satu bandit lainnya. “Tapi teman saya itu
tertangkap di Cirebon, Agustus tahun lalu. Jadi ya saya sendiri saja,”
katanya.

KTP BANYAK

Mengenai beragam KTP yang diberikan saat check in, pria asal Sumatera Barat ini mengaku memang memiliki sejumlah KTP asli tapi palsu.  Ron, teman  yang tinggal di Tanah Abang, kerap dimintai membuat KTP dengan membayar Rp150.000. Tujuannya, agar tidak terlacak
polisi.

Dalam menggaet mangsa, kakek necis ini mengaku mencarinya tak jauh dari hotel. Setelah berkenalan, ia mengajak kencan dengan tarif tinggi. Selanjutnya, dalam kamar pria berpostur atletis ini mengajak makan malam.

“Setelah itu, saya beri dia minuman atau jamu yang telah diberi obat tidur dosis tinggi. Kalau sudah pingsan hartanya saya ambil, perhiasan saya preteli,” katanya. “Tapi uang yang didapat cepat habis untuk foya-foya.”

Kapolsek Kemayoran Kompol Robert Sitinjak mengatakan berdasarkan pemeriksaan diketahui pada 1993 tersangka pernah menghipnotis hingga korban tewas. “Kejadiannya di Johar Baru dan ia telah divonis lima tahun penjara,” ungkapnya.

Pelacur Anak Anak Di Surabaya Ternyata Didukung Oleh Orangtua

Aparat Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Surabaya melacak nomor ponsel milik beberapa pelaku dan korban kejahatan prostitusi anak yang terjadi di kota ini. Sebagian pelacur anak tersebut selama ini jika bepergian diantar-jemput orangtua mereka.

Menurut Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Anom Wibowo, pelacakan nomor ponsel ini untuk mengembangkan kasus dan mencari pelaku-pelaku lain yang diduga terlibat.

“Kami mencari nomor-nomor itu untuk mencari tahu dan membongkar kasus ini. Selain mencari pelaku, polisi juga mencari korban agar tidak sampai terjerumus lagi,” ujarnya kepada wartawan di ruangan kerjanya, di Mapolrestabes, Jalan Taman Sikatan 1, Selasa (21/9/2010).

Seperti diketahui, Polrestabes Surabaya menangkap sindikat pelaku praktik perdagangan anak yang dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Kedua tersangka kasus ini menyediakan perempuan yang katanya masih perawan, tidak tanggung-tanggung, jumlahnya sekitar belasan gadis yang mayoritas masih di bawah umur.

Sampai saat ini, piha Anom masih memburu pelaku lain, khususnya yang berperan sebagai mucikari atau pencari korban dan pelanggan. Anom yakin masih ada pelaku lain yang masih berkeliaran.  “Kami yakin masih ada pelaku lain. Semoga bisa segera terungkap dan membongkar sindikat kasus prostitusi perempuan serta perdagangan anak. Saat ini masih dalam tahap pelacakan,” papar dia.

Selain itu, lanjut dia, sampai saat ini polisi sudah mengamankan 12 korban prostitusi perempuan di bawah umur. Ini berarti ada delapan perempuan lain yang terungkap setelah polisi membongkar kasus ini tengah pekan lalu.

“Benar, korban dalam kasus ini bertambah. Awalnya empat, kemudian tambah tiga, kemudian tambah lima lagi. Kami masih berupaya mencari korban lainnya dan mengembalikan anak-anak ini ke bawah pengawasan orang tua,” ujar  mantan Kasat Pidana Umum Ditreskrim Polda Jatim itu.

Diajak Kawan

Anom juga menjelaskan, tidak semua korban terjerumus ke dunia ini karena alasan ekonomi. Di depan penyidik, korban mengaku karena diajak kawan yang sudah dikenalnya sejak lama.

“Korban ada yang setiap harinya di antarjemput orangtua dan mampu, ada juga yang terbentur persoalan ekonomi untuk menambah kehidupan mereka sehari-hari. Tapi ada juga korban terjerumus karena kurangnya perhatian dari orangtua,” ucapnya.

Karena itulah, ia mengimbau kepada para orangtua supaya selalu mengawasi dan memberikan nasihat kepada anaknya, terutama anak gadisnya, untuk tidak mudah terpengaruh dengan ajakan teman-temannya yang salah.

Menyediakan Gadis Gadis Perawan

Wali Kota Surabaya terpilih, Tri Rismaharini alias Risma, di Mapolrestabes Surabaya, Selasa (21/9/2010), memarahi tiga tersangka pelaku perdagangan manusia atau trafficking yang memperjual-belikan perempuan di bawah umur.

“Di mana hati dan nurani kalian? bayangkan kalau yang dijual itu saudara perempuan kalian! Di mana otak kalian? Sikap kalian ini pasti ada balasan dari Tuhan,” ujar Tri Rismaharini dengan nada tinggi kepada para pelaku.

Ketiga pelaku masing-masing berinisial SWM dan PUT, perempuan berusia 21 tahun, dan M, laki-laki yang juga berperan sebagai mucikari, hanya terdiam. Mereka duduk dengan kepala menunduk dimarahi perempuan yang selalu berbusaha Muslim tersebut.

“Ingat itu, jangan diulangi lagi,” tambah pejabat yang akrab disapa Risma tersebut, didampingi Kepala Dinas Badan Pemberdayaan Masyarakat, Dr Iksan S Psi

Selain itu, dia juga memberikan harapan kepada empat perempuan yang menjadi korban trafficking akibat ulah para pelaku. Sambil memegang tangan keempatnya, Risma meminta supaya mereka tetap tabah dan sabar serta tidak putus harapan untuk meraih masa depan.

“Kalian masih punya cita-cita dan harus melanjutkan sekolah. Ingat, Tuhan itu ada dan tidak diam. Ibu juga akan membantu kalian sampai semuanya selesai. Pokoknya jangan sampai putus asa, sebab kalian masih punya harapan,” tutur Risma, sambil memeluk mereka bergantian.

Cari Kehidupan

Mantan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya tersebut mengucapkan terima kasih kepada Satreskrim Polrestabes Surabaya karena bisa mengungkap kasus ini. “Namun yang lebih penting dari semua ini, adalah terhentinya aktivitas pelaku dan korban pelaku, yang kemudian pasti memberikan harapan kepada para korban untuk mencari kehidupan sejatinya. Anak-anak ini punya harapan dan masa depan,” ucap Risma.

Ia juga berharap, supaya kasus semacam ini tidak terjadi lagi, khususnya di Surabaya. Perdagangan anak, lanjut dia, selain mendapat hukuman dari polisi, juga pasti mendapat balasan di akherat kelak.

Seperti diketahui, Polrestabes Surabaya menangkap sindikat pelaku praktik perdagangan anak yang dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) alias pelacur. Kedua tersangka menyediakan perempuan yang katanya masih perawan, tidak tanggung-tanggung jumlahnya belasan gadis yang mayoritas masih di bawah umur.

Pelaku ini cukup lincah juga dalam menjaring pelanggan. Mereka punya cara lain untuk memuaskan tamu yang akan memesan dengan saling berkoordinasi menggunakan telepon seluler dalam mencari pelanggan di kawasan mal-mal di Surabaya.

Wanita Disc Jockey Dihipnotis Dan Dirampok Kenalan Baru Sampai Telanjang Di Lobby Hotel

Wanita Disc Jockey (DJ) diperdaya pria setengah baya yang menawarinya pekerjaan. Setelah makan di hotel, ia tertidur hingga tak sadarkan diri ditelanjangi, lalu hartanya termasuk mobil dibawa kabur.

Rasiti Saputri, 31, korban, ditemani Suryajaya, 38, suami, datang ke Redaksi Pos Kota Jl. Gajah Mada 100, Jakbar, Senin (6/9) siang. Membawa surat laporan No Pol: 479/K/VI/2010/POLSEK.TMS tanggal 4 Juni 2010.

Menurutnya, seorang pria yang mengaku bernama Wil menelepon menanyakan niatnya mencari pekerjaan. Meski curiga lantaran tak merasa pernah memberi nomor HP pada orang lain, wanita itu tetap datang ke tempat yang dijanjikan pada 3 Juni Pk. 22:00. Di lobby satu hotel di Jl. Hayam Wuruk, pria yang mengaku bernama Wil menemuinya.

Setelah berjabat tangan, Rasiti mengaku bagai dicokok hidung mengikuti pria itu ke kamar 310. Sambil mengobrol, mereka makan dan minum.  “Tau–tau ketika saya terbangun saya sudah dalam keadaan telanjang ditempat tidur,” katanya. Perhiasan yang dikenakan, tas isi uang Rp500.000, ATM dan surat identitas raib. “Bahkan semua baju saya sampai pakaian dalampun juga tak ada.”

Panik karena merasa dilecehkan dan telah diperkosa, Rasiti nyaris bunuh diri dengan memotong pergelangan tangan pakai pecahan gelas. Namun, niat bunuh diri urung dilakukan. Belakangan, disadarinya juga mobil Honda City merah nopol B 1201 FAA yang dibawanya sudah dibawa kabur Wil.

Setelah melapor ke Polsek Taman Sari, pasangan Rasiti dan Surya terus memburu Wil. Termasuk meminta gambar dari kamera pengintai (closed circuit television/cctv) hotel yang merekam pertemuan di lobby. Selain itu, terekam pula beberapa jam sebelumnya penjahat itu datang bersama seorang pria yang dikenalnya.

“Saya kecewa polisi belum juga menangkap pelakunya, padahal ada gambarnya dalam kamera cctv,” kata wanita yang berencana melapor ke Polda Metro Jaya ini.

Menanggapi hal itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Boy Rafli Amar, mengatakan polisi memerlukan waktu untuk penyelidikan. “Apapun informasi yang dimiliki korban segera diberitahu ke penyidik agar memudahkan penyelidikan. Jangan sungkan-sungkan,” ujarnya

PELAKU TELAH TERTANGKAP: LIHAT BERITANYA DISINI

Orangtua Paskibra Putra dan Putri Akan Lapor Kasus Pelecehan Seksual Pada Polisi Karena Dinas Olahraga Jakarta Tidak Peduli

Sore ini, sekitar pukul 15.00 WIB, orangtua anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Jakarta 2010 putra akan melapor ke Polda Metro Jaya terkait kasus tindakan asusila yang diduga dilakukan seniornya.

“Awalnya, kami minta Disorda yang memproses secara hukum. Tapi ternyata tidak bisa mengakomodasi keinginan kami, mereka lebih bersikap diam,” kata Jusuf Ginting, Jumat 3 September 2010.

Secara terpisah, orangtua Paskibraka putri, Laurent, menambahkan para orangtua yang anak-anaknya diduga menjadi korban pelecehan seksual juga akan turut memberikan kesaksian dan mendampingi Jusuf Ginting. Putri Laurent sendiri diduga menjadi korban seniornya dan kasusnya telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu.

Laurent menambahkan para orangtua anggota Paskibra Jakarta terpaksa mengambil langkah hukum untuk menuntaskan dugaan kasus pelecehan seksual dan kekerasan saat putra-putri mereka mengikuti Orientasi Pelatihan Paskibra di Cibubur, 2-6 Juni 2010.

Langkah ini diambil, lanjut Laurent, karena Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) Jakarta dinilai tidak mampu lagi menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Para orangtua berharap setelah para senior Paskibra Jakarta terbukti bersalah, mereka dijerat dengan UU Perlindungan anak, bukan dengan KUHP

Kelainan Seksual Para Senior Menyebabkan Siswi Paskibra Jakarta Disuruh Bugil dan Mandi Sambil Ditonton Rame Rame

Polisi sudah meminta keterangan dari beberapa siswi SMA anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) DKI Jakarta 2010 yang diduga jadi korban kekerasan dan pelecehan seksual oleh senior mereka.

Made Indah Pramandari, 16 tahun, siswi anggota Paskibraka, menceritakan dalam sehari dipastikan diperintahkan bugil dua kali, yakni pada saat akan mandi pagi dan sore. Sebelum mandi, kata siswi SMA Negeri 8 ini, sambil telanjang 15 peserta putri berbaris dari barak tidur. Satu kamar mandi untuk tiga orang.

Pintu kamar mandi terbuka agar senior bisa melihat. “Kami ke kamar tanpa handuk,” kata dara bertinggi 163 sentimeter ini, Selasa (24/8). Mereka juga didikte selama mandi dan berpakaian. Setiap kesalahan berbuah hukuman, seperti jalan jongkok sambil telanjang, push-up, dan tamparan.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Murnila, mengatakan pihaknya sudah mendengar pengakuan dari anggota Paskibraka. “Kami datangi di sekolahnya Senin kemarin,” kata Murnila, di kantornya, Selasa. Ia menolak menjelaskan pengakuan beberapa dari total 15 korban itu.

Menurut Murnila, polisi ingin mendengar dari para siswi karena datanya berbeda dengan hasil investigasi Purna Paskibraka Indonesia (PPI) DKI Jakarta. Namun polisi tetap menanti pengaduan agar kasusnya bisa disidik.

Rita Ritonga, orang tua salah satu peserta, mengatakan polisi mendatangi sekolah anaknya di SMA Al-Azhar 1 dan 3, Kebayoran Baru, Senin lalu. Lauren Nouville Djunaidi, ibu anggota lainnya, menjelaskan ada satu anak yang tak mengakui terjadi pelecehan dalam Orientasi Kepaskibrakaan 2010 di Lembaga Pendidikan Kader Gerakan Pramuka Tingkat Nasional, Cibubur, pada 2-6 Juli lalu. Ia berterus terang setelah diyakinkan oleh teman-temannya. “Anak itu datang ke Polda Metro Jaya dan mengaku,” kata Lauren.

Selama masa orientasi, para siswi merasa dilecehkan. Begitu pula anggota pria. Jumat pekan lalu, tim investigasi PPI merekomendasikan larangan mengikuti kegiatan Paskibraka selama 5 tahun bagi empat senior. Senior pria adalah FDT (anggota Paskibraka angkatan 2006) dan FPN (2007), sedangkan yang wanita IE (2006) dan SS (2007). Tapi para orang tua menilai hasil investigasi itu tak sesuai dengan kenyataan. Kemarin Gubernur Fauzi Bowo menolak mengomentari kasus ini.

Tadi malam, sejumlah orang tua peserta bertemu dengan Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Saefullah serta Kepala Bidang Kepemudaan Firmansyah di kantornya di Jatinegara, Jakarta Timur.


							

Foto Telanjang Clara Adelin Supit Beredar Di Facebook Setelah Di Foto Bugil Membantu Mantan Pacar

Keluarga korban penyebaran foto bugil melalui jejaring pertemanan Facebook meminta, agar pelakunya segera ditangkap. Penyebaran foto tanpa busana Clara Adelin Supit alias Devi Sartika 23, mahasiswi, menurut polisi, diduga dilakukan oleh Jos, mantan pacar Mis, yang tidak lain teman korban sendiri.

Di temui di rumahnya di kawasan Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor, ibu korban yang enggan di sebut namanya ini menuturkan, siap berdamai jika pelaku mengaku perbuatannya. Mengenai dugaan penyebar yang dilakukan teman dekatnya sejak kecil Jos, pihak keluarga tidak mau menuduhnya,

“Dugaan sementara ya dia, tapi kalau hukum itu perlu bukti dan keterangan diatas BAP,” katan ibu Devi Senin (13/4) pagi.

Ibu korban menambahkan, selain berteman sejak kecil, Jos kuliah di satu perguruan tinggi swasta jurusan parawisata. “Saat ini belum ada pengakuan dari dia namun kami siap memaafkannya,” katanya.

Kasat Reskrim Polresta Bogor, AKP Irwansyah saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya pada Selasa (14/4) besok akan melakukan pemeriksaan atas korban sendiri, Mis dan Jos. Pihaknya menurut Irwansyah, belum pada tahap penetapan tersangka, mengingat proses pemeriksaan atas Jos, baru dilakukan besok.

Dalam gambar FC, nampak korban yang juga memiliki pekerjaan lain sebagai chear leader ini, terlihat tanpa busana. Sedikitnya ada empat foto korban yang menghadap kedepan dan sisanya diambil dari samping.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, akibat perbuatan rekannya, korban merasa diri dan keluarganya sangat terhina. Untuk itu, ia meminta pihak kepolisian untuk menangkap pelaku dan memberinya hukuman.

Pengambilan gambar Devi tanpa busana dengan memakai HP ini dilakukan disebuah kamar kost di Kebon Jeruk Jakarta . Devi mau di foto bugil atas rayuan temannya MS, 23, warga Citeureup Bogor.

Kepada korban, Mis mengatakan, mantan cowoknya Jos, 26, warga Tangerang mengidap penyakit guna-guna. Jos menurut Mis dapat sembuh jika melihat foto bugil cewek cantik.

Rayuan demi rayuan dengan nada belas kasihan, membuat korban yang juga seorang Cher Leader ini mau untuk di foto bugil. Kepada Mis, temannya, ia meminta, agar foto telanjang dirinya hanya diperlihatkan pada mantan kekasihnya dan bukan untuk di konsumsi publik.

Usai adegan foto syur, korban menerima sejumlah uang dari Mis rekannya.

“Saya melapor karena merasa dirugikan nama baik dan terhina martabat keluarga. Saya tahu pertama foto syur diri sendiri dari teman tanggal 6/4 lalu. Melihat jelas dan pasti, saya lalu lapor polisi,” kata Devi.

Mis, teman korban juga sudah dimintai keterangan oleh petugas di RS Azra Bogor saat usai melahirkan anaknya Sabtu (10/4). Mis mengakui semua gambar tersebut adalah gambar Devi yang di potret dirinya dengan HP di kamar kostnya di Kebon Jeruk.

“Usai saya foto Devi, semua gambarnya saya kasih ke mantan pacar saya Jos. Saya juga wanti-wanti agar tidak disebarkan ke jejaring social. Eh tahunya sekarang sudah menyebar,” kata seorang petugas mengutip pengakuan Mis saat dikonfirmasi wartawan Sabtu siang.

Kasat Reskrim Polresta Bogor, AKP Irwansyah mengungkapkan, pasca laporan korban, pihaknya sudah meminta keterangan tiga saksi. Hingga saat ini, petugas belum menetapkan tersangka atas kasus ini.

Joshua yang diduga sebagai pelaku penyebaran gambar tanpa busana ini baru akan dimintai keterangan Senin (12/4). Foto syur Devi, menurut Kasat Irwansyah, terakses di account FC.

“Banyak foto telanjang korban. Paling banyak itu menghadap kedepan. Makanya semua yang terlarang terlihat semua,” tandas Irwansyah sambil memperlihatkan gambar telanjang korban, ke wartawan, namun dilarang untuk diabadikan.

Menurut Irwansyah, pelaku penyebaran gambar telanjang, akan dikenakan pasal UU IT Nomor 11 tahun 2008 pasal 27 ayat 1 dan 3 tentang seseorang dengan sengaja menyebarkan asusila atau penghinaan, maka akan diancam penjara 6 tahun atau denda Rp 1 miliar.

Dewi Sartika, 23, mahasiswi Binus yang heboh foto bugilnya di pasang di jejaring sosial facebook mengaku pada polisi pernah di foto bugil di kamar kos2an.

“Tapi foto bugil itu sudah 2 tahun lalu dan itu di fotonya di kamar kos2an untuk album pribadi aja,” ujar Dewi ketika diperiksa polisi, Senin.

Dewi datang ke Polresta Bogor untuk untuk melaporkan kasus foto bugilnya yang di pasang di Facebook oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Pemasangan foto bugil di Facebook, Dewi Sartika mahasiswi Bina Nusantara, Jakarta merupakan kapten cheer leader.

Dalam Facebook-nya, warga Ciparigi, Kota Bogor ini menggunakan nama Clara Adheline Supit.

Menurut Kasat Reskrim Polresta Bogor AKP Irwansyah, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap kasus pencemaran nama baik via Facebook ini.

“Kita masih melakukan penyelidikan dan mudah2an dalam waktu dekat pelakunya sudah bisa ditangkap,” ujar Irwansyah.

Beredarnya foto bugil mahasiswi Binus Dewi Sartika di facebook membuat geger masyarakat, tak kurang pihak keluarganya.

Keluarga Dewi meminta meminta agar pelaku penyebar foto bugil itu segera ditangkap. Ibu Dewi yang ditemui di rumahnya di kawasan Ciparigi, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin, menduga penyebar foto anaknya dilakukan oleh teman dekatnya sejak kecil Joshua.

Dijelaskan, selain berteman sejak kecil, Joshua kuliah di Trisaksi jurusan parawisata. “Saat ini belum ada pengakuan dari dia, namun kami siap memaafkannya,” katanya

Pemasangan foto bugil di Facebook, Dewi Sartika (23),mahasiswi Bina Nusantara, Jakarta merupakan kapten cheer leader. Dalam Facebook-nya, warga Ciparigi, Kota Bogor ini menggunakan nama Clara Adheline Supit.

Menurut Kasat Reskrim Polresta Bogor AKP Irwansyah, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap kasus pencemaran nama baik via Facebook ini. “Hari Senin mendatang kita akan kembali panggil korban,” ujarnya.

Di Mapolresta Bogor untuk melaporkan kasus foto bugilnya yang di pasang di Facebook oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Dwi mengaku pernah di foto bugil dua tahun lalu saat masih kuliah di Binus di kamar kos-an.