Arsip Kategori: mutilasi

Seorang Gadis Di Mutilasi Setelah Diperkosa Ramai Ramai

Lebih dari satu bulan, aksi keji pemerkosaan dan pembunuhan dengan mutilasi terhadap warga Banjarbaru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Fatmawati (16) sudah berlalu. Meskipun tujuh orang yang diduga melakukan aksi biadab itu telah ditangkap, potongan tubuh Fatma belum utuh ditemukan.

“Kami selalu berharap dan berdoa agar potongan tubuh—bagian dada—itu segera ditemukan. Jika sudah ditemukan, rencananya makam Fatma akan dibongkar lalu dikubur ulang dengan sisa potongan tubuh tersebut. Kasihan jika dimakamkan terpisah,” kata ayah Fatma, Basuni, di Banjarbaru, Sabtu (8/1/2011).

Sebelumnya, potongan-potongan tubuh Fatma yang telah ditemukan sudah dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Muslimin Guntung Harapan, Guntung Manggis, Landasan Ulin Utara, Jumat (26/11/2010) silam. Pencarian pun terus dilakukan aparat kepolisian dibantu relawan dari Team Radio Communication (TRC) Banjarmasin. Namun, hasilnya masih nihil.

Jumat (7/1/2011) sore, pencarian kembali dilakukan di kawasan saluran irigasi Desa Jingah Habang Ilir, Karang Intan, Banjar. Dalam pencarian ini, salah seorang tersangka, yakni Ardiansyah alias Sawa, dilibatkan.

“Kami mencari berdasarkan pengakuan Sawa mengenai tempat dirinya membuang potongan tubuh Fatma. Namun, kami hanya menemukan karung biasa dan bra (penutup dada perempuan). Itu pun belum bisa dipastikan apakah terkait dengan kasus ini,” ujar kerabat Fatma, Syaiful.

Dia mengungkapkan, saat pencarian itu Sawa seperti orang bingung. “Dia diminta menunjukkan lokasinya, tetapi justru bingung, Seperti linglung,” ujar Syaiful.

Syaiful yakin potongan tubuh Fatma akan ditemukan meski sudah membusuk. “Tulang belulangnya pasti masih ada,” tegasnya.

Kasatreskrim Kepolisian Resor Banjar Ajun Komisaris Nuryono saat dikonfirmasi membenarkan adanya pencarian. Dia pun mengungkapkan, hasil pencarian dibawa ke Markas Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan.

Adapun Kasat I Ditreskrim Polda Kalsel Ajun Komisaris Besar Namora menyatakan masih perlu penelitan untuk memastikan karung dan bra itu terkait kasus mutilasi terhadap Fatma. “Masih perlu dibuktikan untuk memastikan,” tegasnya.

Selain Sawa, ada enam tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Fendi Ardiyanto alias Fendi, Akramudin alias Icun, Alex Pratama alias Alex, M Aldiansyah alias Tole, Alamsyah alias Ancah, dan M Syafii Rifani alias Erfan. Diduga, kasus yang terjadi Kamis (18/11/2010) malam itu diotaki oleh Fendi yang mengaku sebagai kekasih Fatma. Padahal, Fatma sudah menikah dengan Syahlan.

Aksi keji tersebut berawal dari pertemuan para tersangka dengan Fatma di kawasan Minggu Raya, Banjarbaru. Di sini Fatma menenggak pil koplo dan meminum alkohol murni dicampur minuman energi yang diberi Icun. Setelah itu mereka menuju hutan pinus.

Berdasarkan pengakuan mereka kepada penyidik, saat itu Icun membawa tas warna hitam merek Revo yang berisi parang. Sementara Fendi membawa tas warna hitam merah berisi parang dan karung beras. Kedua parang tersebut merupakan milik Fendi.

Begitu tiba di hutan pinus, Fatma yang sudah dalam kondisi mabuk dibekap lalu diperkosa secara bergantian. Setelah memerkosa, Sawa mengeluarkan parang dan menggorok leher Fatma. Aksi mutilasi pun dilakukan. Setelah potongan tubuh dimasukkan ke tas dan karung serta dibuang secara terpisah di kawasan Bincau.

Jumat (19/10/2010) petang, tas hitam merek Revo yang berisi potongan kepala, kedua tangan, dan kaki kiri Fatma ditemukan warga di saluran irigasi Desa Bincau. Tiga hari kemudian potongan kaki kanan sampai pusar Fatma ditemukan di sungai Desa Bincau.

Sejak itu polisi terus melakukan penyelidikan dan perburuan terhadap orang-orang yang diduga menjadi pelaku. Informasi yang diperoleh, tujuh tersangka itu dibekuk di tempat berbeda pada Selasa (14/12/2010) hingga Kamis (31/12/2010) malam.

Adalah Fendi yang pertama kali ditangkap di kawasan Pasar Pagi, Banjarmasin. Lalu, Ancah di Sungai Sipai Banjar dan Icun di depan STM Banjarbaru. Tidak lama kemudian giliran Sawa di kawasan Balitan Banjarbaru, Erfan di kawasan Pasar Lama Banjarmasin serta Alex dan Tole di Guntung Paikat Banjarbaru.

Kronologi Mutilasi Karyadi Banpol Pasar Kramatjati Oleh Istrinya Sendiri

Korban mutilasi Kramatjati dipastikan adalah Karyadi (53) banpol (bantuan polisi) Pasar Induk Buah dan Sayur Kramatjati. Pemutilasi Karyadi adalah Muryani (44), istri ketiganya sendiri.

Karyadi dibunuh dan dimutilasi di rumah kontrakan mereka di Jalan Anggrek, RT 4/2, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

Kepastian itu diungkapkan Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Timur, Kompol Nicolas A Lilipaly saat melakukan olah TKP di rumah kontrakan Muryani, Selasa (19/10).

Menurut Kasat, setelah polisi mencurigai Muryani, sejak pemeriksaan pertama pada Minggu (17/10), Muryani akhirnya mengakui bahwa ia membunuh suaminya dan memutilasinya.

“Siang tadi dia akhirnya mengakui perbuatannya,” ujar Kasat.

Menurut Kasat sejak Senin (18/10) malam ia memeriksa Muryani secara intensif. “Dan ia baru mengakuinya, siang tadi,” kata Kasat.

Dari pengakuan Muryani kepada polisi, sebelum memutilasi Karyadi, ia menghantamkan tabung gas 3 Kg ke kepala Karyadi yang sedang tidur. “Baru itu saja pengakuannya. Masih kita kembangkan,” kata Kasat.

Saat ini tim Puslabfor Mabes Polri berada di rumah kontrakan Muryani tempat kejadian perkara dimana Muryani memutilasi Karyadi. Mereka mengecek berkas darah yang tertinggal di gorden dan di beberapa tempat.

Selain itu polisi saat ini menyisir aliran Kali Baru untuk mencari pisau yang digunakan Muryani untuk membunuh dan memutilasi Karyadi. Muryani mengaku membuang pisau yang digunakannya untuk membunuh dan memutilasi Karyadi ke aliran Kali Baru tak jauh dari Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur.

Karyadi Tewas Dipenggal

Karyadi (53) banpol Pasar Induk Kramatjati yang dimutilasi istri keduanya Muryani (53), ternyata tewas digorok oleh Muryani di kamar mandi, Selasa (12/10) lalu sebelum dimutilasi.

Hal tersebut diungkapkan Kadiv Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar dalam jumpa pers Mapolrestro Jakarta Timur, Rabu (20/10).

“Korban dalam kondisi setengah sadar setelah dihantam tabung 3 kg, diseret dan dibawa ke kamar mandi oleh pelaku,” ujar Boy.

Menurut Boy, saat dikamar mandi itulah, Muryani menggorok leher Karyadi hingga tewas dan putus. “Lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam dan dibuang di Kali Baru dekat Pasar Induk Kramatjati,” kata Boy.

Boy menuturkan Muryani membuang potongan kepala itu sembari dia berbelanja buah di pasar induk untuknya berjualan di Pasar Cijantung, Kramatjati.

Sehabis berjualan, Selasa (12/10) malam, Muryani memutilasi jasad Karyadi yang sudah tanpa kepala dan disimpannya di kamar mandi sedikitnya selama 13 jam itu.

“Malam itu hingga dinihari pelaku membuangnya secara mencicil dan bertahap di tiga lokasi berbeda,” katanya

Muryani Simpan Dulu Tubuh Karyadi Yang Tanpa Kepala Sebelum Dimutilasi

Muryani (53), perempuan yang membunuh dan memutilasi suaminya sendiri, ternyata sempat menyimpan tubuh Karyadi yang sudah tanpa kepala di rumahnya selama 13 jam.

Akhirnya dia memutuskan untuk memotong-motong tubuh itu kembali dan membuangnya di aliran Kali Baru, Kramatjati serta di bak sampah di Jalan Makmur, Ciracas pada Selasa (12/10).

Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum, AKBP Nico Afinta, kepada Warta Kota, Selasa (19/10) malam, menjelaskan Muryani menghabisi Karyadi pada Selasa (12/10) pagi sekitar pukul 05.30.

Saat itu Karyadi baru saja akan bangun tidur. Muryani menghantamkan tabung elpiji 3 kg ke kepala Karyadi hingga tewas. Setelah tewas, Muryani, memotong kepala Karyadi, sementara bagian tubuhnya dibiarkan begitu saja.

Muryani lalu memasukkan potongan kepala Karyadi ke kantong plastik hitam dan membuangnya ke pintu saringan air Kali Baru, Kramatjati, Jakarta Timur.

Usai membuang potongan kepala suaminya, Muryani berkemas seperti biasanya dan langsung berjualan buah di Pasar Obor Cijantung, Jakarta Timur, sekitar 500 meter dari rumahnya.

Menurut Nico, usai berdagang buah, Muryani kembali ke rumah sekitar pukul 19.00. Saat itulah dia memotong-motong bagian tubuh Karyadi yang sudah tanpa kepala itu dengan sebilah pisau. Awalnya Muryani memotong tubuh Karyadi dua bagian yakni pada bagian pinggang dan diletakkan di ruang tamu dan di kamar mandi.

Dia kemudian memotong-motong lagi beberapa bagian tubuh dengan menggunakan balok sebagai alas. Muryani juga mengiris bagian depan pinggang atau kelamin Karyadi.

Usai memotong-motong sedikitnya hingga tiga belas bagian Muryani memasukkan setiap potongan tubuh itu ke dalam kantong plastik hitam dan membuangnya di beberapa lokasi, di antaranya di bak sampah di Jalan Makmur, Ciracas dan di beberapa titik di aliran Kali Baru, Kramatjati.

Atas perbuatan sadis dan kejamnya ini, Muryani dikenaiPasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Motif pembunuhan sekaligus mutilasi yang dilakukan Muryani (44) terhadap Karyadi (53) diduga kuat adalah cemburu. Karyadi dikenal memiliki banyak istri dan wanita simpanan lainnya. Muryani sendiri diketahui sebagai istri ke tiga Karyadi.

Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Timur Kompol Nicolas Lilipaly mengatakan untuk sementara dari pengakuan Muryani, motif itulah yang memicunya membunuh dan memutilasi Karyadi. “Untuk sementara pengakuannya seperti itu,” ujarnya, Selasa (19/10).

Menurut Kasat pihaknya belum dapat memastikan apakah ada orang lain yang ikut membantu Muryani membuang sepuluh potongan tubuh di empat lokasi berbeda di aliran Kali Baru, Kramatjati dan di bak sampah di Ciracas, Jakarta Timur.

“Kita masih lakukan pengembangan terus,” ujarnya.

Saat ini polisi juga masih menyusuri aliran Kali Baru, Kramatjati, Jakarta Timur untuk mencari pisau yang digunakan Muryani membunuh dan memutilasi Karyadi.

Motif penganiayaan dan pembunuhan sekaligus mutilasi yang dilakukan Muryani (53) terhadap Karyadi dilatarbelakangi cemburu buta dan kemarahan karena Karyadi melanggar perjanjian pra nikah mereka 12 tahun lalu.

Kadiv Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar dalam jumpa pers di Mapolrestro Jakarta Timur mengatakan motif utama penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan Muryani karena akumulasi kecemburuan akibat Karyadi menikah lagi dan sering main perempuan. “Kecemburuannya sudah terakumulatif,” kata Boy.

Menurut Boy, saat Muryani dan Karyadi menikah 12 tahun lalu, ada perjanjian tak tertulis antara keduanya kalau Karyadi tidak boleh menikah lagi, main perempuan, dan berjudi. “Ternyata korban diketahui menikah lagi dan juga berhubungan dengan wanita lain,” katanya.

Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Timur Kompol Nicolas A Lilipaly mengatakan kemarahan Muryani memuncak pada Minggu (10/10) lalu saat ia menelepon Karyadi yang ternyata sedang berada di rumah istri ketiganya, Tati Susianti (35), di Jalan Setia Kawan, Kelurahan Tengahg, Kramatjati, Jakarta Timur.

“Saat Muryani menelepon, dia mendengar ada suara anak kecil memanggil Karyadi, papa, papa,” kata Kasat.

Dari situlah Muryani mengetahui Karyadi berada di rumah istri ketiganya yang menimbulkan kecemburuan dan amarah yang amat sangat. “Dan Karyadi selalu berdalih bahwa, Tati bukan istri ketiganya,” kata Kasat.

Dan akhirnya Muryani membunuh suaminya Karyadi pada Selasa (12/10) pagi. Ia menghantamkan tabung gas melon ke wajah Karyadi hingga rusak berat.

Dalam keadaan setengah sadar, Muryani meyeret Karyadi ke kamar mandi dan di sanalah, ia menggorok leher Karyadi hingga putus. Potongan kepala Karyadi lalu dibuang di aliran Kali Baru, Kramatjati

 

Karyadi Pria Beristri Tiga Dimutilasi Oleh Istri Kedua Karena Cemburu dan Dibuang Di Kali Baru

Polisi mengungkap potongan jenazah yang ditemukan di Kali Baru, Kramatjati, Jaktim, ialah korban mutilasi bernama Karyadi (53). Ia diduga dibunuh istri kedua, Muryani (53), dengan tabung gas melon saat tidur. Motif pembunuhan adalah perselingkuhan.

Demikian rangkuman penjelasan Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nico Afinta dan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Nicolas A Lilipaly, di tempat kejadian perkara di rumah tersangka Muryani, di Jalan Anggrek, RT 4 RW 2, Kelurahan Susukan, Ciracas, Jaktim, Selasa (19/10).

Kedua polisi menjelaskan, pada pukul 13.00 kemarin, Muryani akhirnya mengaku kepada polisi membunuh Karyadi. Sejak itulah ia dijadikan tersangka.

Muryani mengaku membunuh Karyadi pada hari Selasa (12/10) pukul 05.30. Saat korban masih tidur, kepalanya dihantam tabung gas berukuran 3 kilogram (tabung gas melon). Setelah korban tewas, lehernya dipotong, dibungkus tas keresek, dan dibuang ke tumpukan sampah di Kali Baru, Jalan Karya, RT 6 RW 1, Kelurahan Tengah, Kramatjati, pukul 06.00.

Mutilasi

Muryani kemudian kembali ke rumahnya. Pukul 07.00, ia berdagang buah di Pasar Rebo, seperti biasanya. Saat kembali ke rumah, Muryani baru memotong-motong jenazah suaminya di ruang tamu. Malam hari, ia membuang potongan jenazah di beberapa lokasi.

Menurut kedua polisi, Muryani mengaku membunuh korban karena suaminya ”bermain” perempuan. Sodik (35), sahabat korban, memastikan, perempuan yang dimaksud adalah seorang janda asal Solo.

”Saya pernah menasihati korban agar mengakhiri hubungan gelapnya dengan janda tersebut karena janda ini juga menjalin hubungan dengan pria lain. Tapi korban bersikeras melanjutkan hubungan gelapnya,” ungkap Sodik saat ditemui di rumahnya di Jalan Haji Ali, Kelurahan Gedong, Kramatjati.

Menurut Sodik, korban dan si janda tersebut sering bertemu di sekitar Gandaria di Jalan Raya Bogor, Jaktim, dan menginap di motel yang berlokasi di persimpangan Caglak, di ujung Jalan Raya Gedong.

 

Sodik, pemilik lapak tempat berjualan singkong dan ubi di Los E Pasar Induk Kramatjati, yakin tersangka Muryani mengetahui hubungan gelap suaminya dengan si janda.

Adik ipar korban, Nurhayati (34), menambahkan, Muryani sudah berulang kali mengancam akan membunuh Karyadi bila korban masih terus ”bermain” perempuan. ”Kalau kamu main perempuan lagi, saya berani matiin kamu,” kata Nurhayati menirukan ucapan Muryani.

Tiga istri

Menurut kedua polisi, Karyadi, pria kelahiran Demak, Jawa Tengah, memiliki tiga istri, yaitu, Munawaroh (40), petani di Desa Sumber Rejo, Demak, Muryani yang lahir di Boyolali, dan Tatik yang tinggal di RT Kampung Tengah, Kramatjati.

 

Lima potongan jenazah Karyadi, termasuk potongan kepalanya, ditemukan hari Rabu (13/10). Mendengar berita ini, Huskandar, adik kandung Karyadi, dan anak korban, Abidin, mengadu ke Polsek Metro Kramatjati.

 

Saat Muryani ditemui wartawan di rumahnya, Senin (18/10) malam, ia mengatakan, sejak pamit pergi berbisnis ke Cianjur Minggu (10/10), Karyadi tidak kembali. Tetapi pukul 13.00 kemarin Muryani akhirnya mengaku telah membunuh Karyadi.

Selasa kemarin, polisi menyita sejumlah barang bukti kejahatan yang diduga dilakukan Muryani di rumahnya. Barang bukti yang diambil adalah tabung gas melon, tikar, pisau, balok kayu, dan gorden berbercak darah.

Tersangka diancam hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati.

Cinta Segitiga Dengan Pasangan Suami Istri Berakhir Dengan Mutilasi

Warga Desa Bailangu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dua hari menjelang Lebaran atau 8 September, digemparkan penemuan mayat perempuan di Sungai Musi dalam kondisi mengenaskan.

Mayat itu ditemukan dalam keadaan bugil, tanpa kepala, tanpa kedua tangan, dan tanpa kedua kaki. Identitas mayat yang dimutilasi itu sangat sulit diketahui, tetapi aroma pembunuhan terasa sangat kuat.

Secara kebetulan, sehari kemudian warga menemukan potongan kepala perempuan di Sungai Musi yang diduga adalah kepala dari mayat itu. Pelacakan identitas semakin mudah setelah potongan kepala ditemukan dan dilakukan tes DNA.

Langkah awal yang dilakukan polisi adalah memastikan identitas mayat tersebut yang ternyata adalah Zuraidah Syakdiah (51), warga Jalan Tanjung, Kelurahan 20 Ilir, Palembang. Perburuan terhadap pelaku mutilasi pun dimulai.

Polisi menemukan petunjuk bahwa korban terlihat naik angkot yang dikemudikan Gofur (47), warga Jalan Ki Gede Ing Suro, Palembang, pada 7 September, sehari sebelum mayat korban ditemukan.

Otomatis polisi mencurigai Gofur si sopir angkot. Apalagi di dalam angkot itu ditemukan bercak darah dan rambut. Pria kurus berkumis itu menjadi daftar pencarian orang.

Polisi lalu menahan Rosdahawati (49), istri Gofur, dengan tuduhan membantu Gofur membunuh korban.

Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Ajun Komisaris Sabarudin Ginting, Jumat (24/9), mengatakan, Gofur melarikan diri sejak 10 September ke Yogyakarta, Cilacap, Purwakarta, Subang, dan terakhir ke Bekasi, tempat dia berhasil diringkus pada hari Rabu (22/9).

Menurut Sabarudin, pembunuhan yang diikuti dengan mutilasi itu bermotif cinta segitiga antara Gofur dan korban. Namun, hubungan Gofur dan korban retak. Bahkan, korban melaporkan Gofur dan istrinya ke Polsek Ilir Timur I dua hari sebelum ia dibunuh karena korban mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keduanya.

”Saat mereka dalam perjalanan ke Meranjat, Ogan Ilir, tanggal 7 September mereka bertengkar. Korban lalu dibunuh dalam angkot dengan gunting dan kunci ban,” kata Sabarudin.

Menurut Sabarudin, setelah menghabisi nyawa korban, Gofur pulang ke rumahnya di Palembang untuk menjemput istrinya pergi ke Babatoman, sementara mayat masih berada dalam angkot. Di tengah perjalanan ke Babatoman naik angkot, Gofur dibantu istrinya memutilasi korban.

”Tubuh korban dimutilasi untuk menghilangkan jejak. Namun, meskipun korban sudah dimutilasi, perbuatan Gofur masih dapat terbongkar,” kata Sabarudin.

Menurut kriminolog Universitas Sriwijaya, Syarifuddin Pettanasse, pembunuhan sadis kebanyakan justru dilakukan oleh orang yang mengenal korban. Pembunuhan sadis biasanya berlatar belakang dendam pribadi. Para pelaku pembunuhan sadis akan menunggu saat yang tepat untuk menghabisi korbannya.

Babeh Pembunuh Berantai Dengan Korban 14 Orang Anak Yang Disodomi Ternyata Teman Robot Gedek

Hasil penyidikan polisi sampai saat ini terungkap, 14 anak di berbagai wilayah dibunuh oleh Baekuni (48) alias Babeh, yang delapan di antaranya dimutilasi. Jumlah korban ini jauh lebih besar dibandingkan kasus Robot Gedek maupun Very Idam Henyansyah alias Ryan.

Demikian diungkapkan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono, yang didampingi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, psikolog Sarlito Wirawan Sarwono, dan kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala di Polda Metro Jaya, Senin (1/2).

”Jumlah korban dalam kasus Babeh jauh lebih besar daripada kasus Robot Gedek dan Ryan yang ditangani Polda Metro Jaya,” kata Wahyono.

Korban mutilasi Robot Gedek (1994-1996) dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997 disebutkan enam orang, sementara korban Ryan (2006-2008) 11 orang. Dari hasil pemeriksaan polisi, korban pembunuhan dan mutilasi Babeh sampai saat ini sudah mencapai 14 orang. Babeh membunuh sejak tahun 1993.

Korban Babeh yang sudah terungkap adalah Adi, Rio, Arif Abdullah alias Arif ”Kecil”, Ardiansyah, Teguh, dan Irwan Imran yang dimutilasi, serta Aris, Riki, dan Yusuf Maulana. Empat korban terakhir yang terungkap juga dimutilasi adalah Feri, Doli, Adit, dan Kiki. Rata-rata usia mereka 10-12 tahun, kecuali Arif yang masih berusia 7 tahun.

Kasus pembunuhan yang dilakukan Babeh ini, kata Adrianus, layak menjadi sebuah cerita kriminalitas yang paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia.

Kasus Robot Gedek

Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga Babeh memiliki peran besar dalam kasus Robot Gedek. Bahkan, Babeh kemungkinan besar memanfaatkan kasus Robot Gedek karena Babeh menjadi saksi utama kasus itu.

Data yang dihimpun Kompas menunjukkan, dalam pengadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997, di depan majelis hakim yang dipimpin hakim Sartono, Babeh mengaku melihat Robot Gedek menggandeng seorang anak laki-laki di Pasar Jiung, Kemayoran. Anak tersebut dibawa Robot Gedek ke semak-semak.

Sementara itu, Babeh menunggu giliran mendapat kesempatan untuk menyodomi bocah lelaki yang dibawa Robot Gedek. Babeh mengaku menunggu satu jam dan setelah itu mendekati lokasi Robot Gedek. Di lokasi itu, dia menyaksikan Robot Gedek memutilasi korbannya.

Akhirnya Robot Gedek (42) divonis pengadilan dengan hukuman mati pada 21 Mei 1997. Namun sehari sebelum dilakukan eksekusi diketahui bahwa Robot Gedek telah meninggal dunia di RSUD Cilacap karena serangan jantung.

Sampel darah

Sementara itu, Kepolisian Resor Magelang telah mengambil sampel darah Askin (54) dan Isromiyah (44), orangtua Sulistyono, bocah yang diduga korban mutilasi Babeh. Sampel darah ini akan dicocokkan dengan tes DNA dari tulang belulang yang ditemukan di Dusun Mranggen, Desa Kajoran, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

”Sampel darah sudah kami kirimkan untuk diteliti dan dicocokkan dengan hasil tes DNA oleh Dokkes (Bidang Kedokteran dan Kesehatan) Polda Jawa Tengah,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Aris Suwarno, Senin. Proses penelitian dan pencocokan ini kira-kira memerlukan waktu sekitar dua minggu

Jatuh Cinta Pada Adik Tiri, Bapak Kandung Dibunuh dan Dimutilasi

Anak durhaka pembunuh bapak kandung dibekuk petugas Polsek Jagakarsa dan Polres Jakarta Selatan saat akan mengambil gaji di Jalan Margonda Raya, Depok, Kamis (4/12) sore.

Dia mengaku tega menghabisi bapak lantaran jatuh cinta kepada adik tirinya tapi ditentang sang ayah. “Kami memang sering bertengkar karena hal sepele. Namun waktu itu, bapak marah dan menendang saya. Saya pun tidak terima dan langsung membunuhnya,” kata tersangka Deden Supriatna alias Udin alias Badin, 26, Jumat (5/12).

Menurut Udin, pembunuhan yang terjadi di rumah kontrakan, Jalan M.Kahfi II, Gang Assyakirin, Kelurahan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dilakukan pada Rabu (26/11) pagi sekitar Pk. 07.30. Saat itu di rumah hanya ada Rahmat Hidayat, 60, korban, dan dirinya.

Ny.Umi, 58, istri korban yang juga ibu tiri pelaku, sedang dagang di Gang Damang, Jagakarsa. Dian, 22, adik tiri pelaku, sudah berangkat kerja.

Pemuda yang bekerja pada satu salon di Jagakarsa ini kerap mengirim SMS kepada Dian. Isi SMS-nya menyatakan rasa suka kepada adik satu bapak namun lain ibu itu.

Pria yang sehari-hari kerja membantu dagang istrinya ini pun tewas seketika. Udin masih belum puas dan bermaksud memutiliasi mayat sangn ayah tujuannya agar menghilangkan jejak.

Pelaku membaringkan tubuh korban dan memotong kaki. Namun belum sempat putus, pelaku mengurungkan niatnya. “Diduga, ia takut karena setelah mayatnya dimasukkan ke karung dan diangkut naik motor, darah berceceran,” jelas Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, Kompol Iwan Kurniawan didampingi Kapolsek Jagakarsa, Kompol Udik Tanang Y.

DIMASUKKAN KE KARUNG
Gagal membawa jenazah, pelaku menutup mayat korban dengan dua karung. Setelah itu, ia melarikan diri ke Bogor dan Depok. Selama delapan hari, pria yang pernah dipenjara karena kasus pembunuhan semasa masih SMA ini selalu berpindah-pindah tempat.

Petugas yang menyelidiki kasus ini mendengar kesaksian dari keluarga Udin serta SMS yang dikirim kepada Dian, berisi pernyataan rasa suka kepada saudaranya itu.

Kompol Udik Tanang Y menjelaskan, dalam memburu pelaku, pihaknya bersama jajaran Polres Jakarta Selatan membentuk tiga tim. “Mereka mencari Udin hingga ke Bandung, Bogor, Bekasi, Tangerang dan lainnya. Alhamdulillah, berkat kerja keras kami berhasil menangkap pelaku di Depok,” tandasnya.

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Masyarakat Indonesia Hanya Pandai Meniru Termasuk Dalam Kasus Pembunuhan

Dokter ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Abdul Mun’im Idris, Senin (3/11), mengatakan, jenis kejahatan, terutama pembunuhan, saat ini makin beragam dan cenderung meniru. Mutilasi dan mayat dalam koper, misalnya, telah menjadi tren yang terus berulang serta makin sulit diungkap pelakunya.

”Lihat juga kasus Robot Gedek. Setelah ia ditangkap polisi, tak lama berselang muncul kasus kematian lima bocah laki-laki serupa dengan kasus Robot Gedek. Pada tahun 2008, ada lagi pembunuhan dua bocah laki-laki dengan luka bekas sodomi dan kekerasan fisik di tubuhnya. Pelakunya belum terungkap hingga kini,” kata Mun’im Idris.

Sepanjang tahun 2008, terjadi sedikitnya delapan kali kasus mutilasi. Pertengahan tahun ini, muncul kasus pembunuhan Eka Putri, warga Bekasi berusia sekitar 20 tahun. Dari hasil visum dan otopsi terhadap jasad korban, Mun’im menemukan banyak persamaan luka seperti korban- korban luka dalam kasus Ryan, si pembunuh berantai.

Berdasarkan analisis Mun’im, pembunuhan ada dua kategori, yaitu membunuh sebagai sarana dan karena alasan emosional. Membunuh sebagai sarana, seperti perampok yang terpaksa membunuh pemilik rumah agar usahanya berhasil.

”Sedangkan, karena alasan emosional, seperti tersulut amarah, bisa dendam atau cemburu. Bisa juga karena kelainan seksual. Pembunuhan karena alasan emosional paling banyak terjadi. Demi menghilangkan jejak agar tak tertangkap, pelaku makin kreatif, termasuk meniru cara pelaku lainnya,” kata Mun’im.

Sudarmono, sejarawan Universitas Negeri 11 Maret, Solo, menjelaskan, makin seringnya kasus kejahatan sadis terjadi dapat dikaitkan dengan ada fenomena kaum urban, mereka yang hijrah dari daerah ke kota dan terbiasa mengadopsi seluruh gaya hidup. Nilai-nilai kekerasan pun mudah diterima dan merasuki mereka.

Sudarmono mengambil contoh kasus Ryan. Ryan dengan latar belakang keluarga tak harmonis, miskin, dan terlepas dari pengawasan keluarga tidak punya pegangan apa-apa selain kekosongan hidup di pengembaraan. Ada elemen masuk, seperti homoseksual dan materialisme, merasuki Ryan dan menjadi tujuan hidupnya.

Dipicu media massa

Sementara itu, Awang Ruswandi, pengajar jurnalistik televisi di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, dan kriminolog dari UI Adrianus Meliala berpandangan, media massa cukup berperan dalam memengaruhi perilaku agresif di kalangan masyarakat, termasuk yang berujung pada tindak kriminalitas dan kecenderungan meniru.

Menurut Awang, pengemasan pemberitaan kriminal, khususnya di televisi, memiliki kekuatan untuk menginspirasi penontonnya dalam berbuat kriminal.

Pembunuhan Mutilasi Menggerus Rasa Aman Masyarakat Karena Dilakukan Oleh Orang Terdekat Anda

Peristiwa pembunuhan, khususnya yang disertai mutilasi, tahun 2008 ini mewarnai pemberitaan di media massa. Peristiwa tersebut bahkan terjadi berturut-turut. Setelah kasus Ryan, berturut-turut peristiwa mutilasi terungkap bermunculan di sejumlah daerah.

Berbagai kasus pembunuhan mutilasi itu kerap dilatarbelakangi rasa marah, sakit hati, dan dendam pelaku terhadap korbannya. Pelaku dan korban kerap kali saling mengenal cukup baik, mulai dari keluarga sendiri, pembantu, juga tetangga. Profil pelaku kekejaman mutilasi ini semakin membenarkan pepatah yang menyebutkan “orang yang bermuka galak dan dingin memiliki hati yang lembut” karena semua pelaku mutilasi dikenal ramah, murah senyum, pandai bergaul dan banyak teman, hampir semua mereka menyembunyikan kekejaman dan kesadisan mereka dibalik senyum dan perilaku yang lemat lembut. Jadi berhati-hatilah … mereka ini serigala berbulu domba.

Pada bulan September, Hendra, warga Tangerang, dibunuh dan dimutilasi istri keduanya, Sri Rumiyati. Sri mengaku dendam karena sering dianiaya suaminya. Tubuh Hendra dimutilasi menjadi 13 bagian yang dimasukkan dalam delapan kantong plastik. Salah kantong plastik berisi potongan tubuh Hendra ditemukan di bus Mayasari Bhakti P-64.

Roni bin Hasan (42) membunuh dan memutilasi tetangganya, Ahmad bin Mintra (67), warga Sukabumi.

Pada bulan Oktober, warga Cibinong-Bogor, Sainan alias Entong (60), membunuh dan memutilasi istri keduanya, Atikah (18), karena dendam. Alasan Entong, Atikah kerap menjelek-jelekkannya yang terlalu cepat selesai diatas ranjang di depan laki-laki lain.

Peristiwa pembunuhan sadis disertai mutilasi memang tidak terjadi baru-baru ini. Setidaknya, sejak lebih tiga dekade yang lalu, negeri ini juga kerap digemparkan peristiwa pembunuhan mutilasi yang keji.

Mutilasi di masa silam

  1. Salah satu peristiwa fenomenal adalah pembunuhan mutilasi Lily Kartika Dewi (28) dan anaknya, Iwan Kartika (5), oleh Bob Liem alias Ray Manaf pada tahun 1967. Ketiganya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Hongkong. Liem mencincang tubuh istri dan anaknya lalu dikubur di dalam tembok dapur di apartemen mereka di Green Mansion, Hongkong. Motif pembunuhan itu adalah harta.
  2. Tahun-tahun berikutnya, pembunuhan mutilasi lainnya menimpa Henny Lihiang (49) pada tahun 1976. Pembunuhnya Sukirman bin Supandji (38), rekan kerjanya. Henny adalah kasir Induk Administrasi Penyaluran Tenaga Kerja (Inminlurja) TNI AD. Motif pembunuhan ini menyangkut uang yang ditilap oleh Sukirman. Pembunuhan dan mutilasi itu berlangsung di mess kantor Inminlurja TNI AD di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.
  3. Pada tahun 1978, potongan tubuh Nurdin Koto, karyawan Bogasari Tanjung Priok, ditemukan di Kali Kresek, Jakarta Utara. Dalam kasus itu, Pengadilan Negeri Jakarta Timur-Utara menjatuhi hukuman mati terhadap Carl Albert Togas, teman Nurdin, pada tahun 1979 karena diyakini terbukti membunuh Nurdin dengan motif harta.
  4. Pada tahun 1981, mayat terpotong 13 ditemukan di Jalan Jenderal Sudirman, hingga kini belum terungkap.
  5. Tahun 1989, Ny Diah dibunuh dan dimutilasi suaminya sendiri di rumahnya di Jalan Percetakan Negara VI, Jakarta Pusat. Motif pembunuhan karena suaminya tak ingin ketahuan menikah lagi.

Kondisi ini, menurut psikolog sosial Sartono Mukadis, merupakan gejala yang mengkhawatirkan. Sartono menyebutnya sebagai cetusan sosial yang lahir akibat dari kemarahan, keputusasaan, dan ketidakmampuan dalam menghadapi konflik yang biasanya diciptakan oleh dirinya sendiri.

Kekejian dan kekerasan yang menggejala juga merupakan indikasi fenomena anomi di masyarakat yaitu suatu fenomena dimana banyaknya kejahatan yang jelas-jelas salah seperti korupsi yang tidak dihukum, malah para pelakunya dipuja, dihormati dan menjadi pemimpin membuat kegamangan masyarakat dalam menyikapi nilai, agama dan norma. Persoalan dalam tata nilai masyarakat tidak semata bisa dijawab dengan penerapan pelajaran budi pekerti di sekolah. Namun, negara harus memiliki strategi yang lebih besar dan serius untuk membenahi karakter bangsa tanpa terjebak dalam program-program yang sloganistik.

Memberikan contoh

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran mengatakan, para pelaku umumnya mengaku melakukan tindakan kejahatan itu mencontoh dari berbagai pemberitaan di media cetak maupun televisi.

Salah satu contoh nyata adalah pengakuan Yati. Istri Hendra ini memutilasi suaminya karena terinspirasi berita di televisi yang diputar berulang-ulang.

Menurut Fadhil, para pelaku lupa bahwa tindakan yang dilakukan dengan cara seperti itu masuk kategori pembunuhan berencana dan bukan pembunuhan biasa. ”Meniru tindakan orang lain membunuh sudah masuk kategori pembunuhan berencana,” tegas Fadhil.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, pun memberikan hasil pengamatannya. Menurut dia, umumnya pelaku adalah keluarga sendiri.

Namun, Andrianus melihat dari sudut pandang khusus mengenai tindakan mutilasi, yang bertujuan menghilangkan jejak. Menurut dia, boleh jadi pelaku kejahatan semakin kalkulatif dalam melakukan kejahatan.

”Tampak tren bahwa pelakunya adalah pelaku yang berhitung. Ini untuk mempersulit polisi. Sebab, ada dua pilihan bagi pelaku kejahatan: dia lari atau korban dihilangkan jati dirinya. Dengan demikian, entry point bagi polisi untuk mengetahui pelaku semakin sulit,” katanya.

Namun, Fadhil berpandangan, pelaku melakukan tindakan itu karena alasan sederhana. Pelaku mau cari praktisnya saja. Pelaku terlalu berat membawa korban. ”Jadi jangan heran kalau pelakunya akan lebih banyak wanita ketimbang laki-laki.”

Namun Adrianus tidak sepaham dengan Fadhil, bahwa pelaku melakukan kejahatan sekadar copy cat (meniru) kejahatan yang dilakukan orang lain. Menurut dia, pembunuhannya sendiri bukan semata peniruan, namun modus penghilangan jejaknya boleh jadi terinspirasi.

”Dan media pun tak berpengaruh langsung dalam perilaku keji. Dia (media) boleh jadi sebatas penyebab antara,” ujar Adrianus.

Tentang copy cat, Fadhil mengatakan, copy cat berpotensi menciptakan kecenderungan atau tren. ”Sebagian masyarakat kita adalah masyarakat yang latah. Kalau sebagian latah, sikap latah itu cepat meluas. Saya berharap, kasus Yati tidak berpotensi menjadi sikap latah,” tuturnya.

Rasa aman tergerus

Sementara itu, kejahatan yang makin beragam jenisnya dan makin kejam menyebabkan masyarakat dipaksa meningkatkan kewaspadaan di mana pun ia berada. Sistem keamanan di perkantoran, pusat perbelanjaan, dan di rumah-rumah makin ditingkatkan.

Namun, terkadang bukan rasa aman yang dicapai, tetapi justru ketidaknyamanan serta rasa takut yang amat mengganggu. Apalagi, terkadang kejahatan muncul tanpa bisa diduga, bahkan di lokasi yang selama ini dianggap aman, seperti di gedung pengadilan atau di lingkungan paling dekat, yaitu di sekitar rumah sendiri. Pelakunya pun bisa jadi adalah orang-orang yang selama ini kita kenal baik.

Suasana yang melingkupi Kompleks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, akhir-akhir ini misalnya, berubah kaku dan tegang. Terali besi warna hijau tua mengapit rapat sebuah alat pendeteksi logam berdiri di pintu masuk gedung pengadilan yang berlantai tiga. Jika dulu setiap pengunjung pengadilan bebas keluar masuk gedung, kini semua harus dicek.

Humas PN Pusat Sugeng Riyono mengatakan, sistem keamanan diperketat setelah kasus pembunuhan yang terjadi di lantai 3 gedung pengadilan, Selasa, 21 Oktober.

”Ini sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadi lagi kasus serupa. Kami juga meningkatkan kerja sama dengan pihak kepolisian agar selalu menyiagakan petugasnya di kompleks ini,” kata Sugeng Riyono, Sabtu (1/11).

Suasana yang tidak nyaman juga kental terasa di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Puluhan pedagang kaki lima di kawasan itu sudah menyiapkan banyak skenario penyelamatan diri jika tiba-tiba tawuran antarmahasiswa, mahasiswa dengan satuan polisi pamong praja, atau antarpreman terjadi lagi.

”Yang pasti, jantung selalu deg-degan. Pertama, takut kita yang jadi korban, entah terkena lemparan batu atau salah pukul. Kedua, kerugian materiil karena dagangan diobrak-abrik atau hilang akibat tidak sempat diselamatkan,” kata Hanafi (32), pedagang aneka minuman ringan di tepi Jalan Diponegoro.

Hanafi selalu merasa dirinya tidak aman. Namun, ia tidak memiliki pilihan selain tetap berdagang di kawasan rawan tawuran. Di Salemba ini terdapat empat universitas, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia, dan Universitas Bung Karno.

”Setiap hari, di sini selalu ada minimal satu unit mobil patroli satpol PP atau polisi. Namun, kalau suasana sudah panas tanpa tahu siapa yang memulai, tetap saja tawuran. Saya juga heran, kenapa satpol PP atau polisi kurang bisa mencegah terjadinya tawuran,” kata Sukesti (40), pedagang ketoprak.

Data dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, tawuran di kawasan Salemba sudah terjadi sejak tahun 2002. Seorang sumber di Polres Metro Jakarta Pusat mengatakan, polisi sebenarnya selalu memantau kawasan itu, namun karena kejadian yang tidak terduga, terkadang terlihat polisi lamban mengantisipasi.

Pindah kontrakan

Selain rasa waswas, trauma berkepanjangan dialami orang-orang yang berada di sekitar lokasi terjadinya kejahatan. Para tetangga korban mutilasi di Kampung Teriti Kotabumi, Sepatan, Kabupaten Tangerang, misalnya, hingga kini masih diliputi rasa ketakutan.

Ini semua disebabkan, di salah satu rumah petak kontrakan di Kampung Teriti, tepatnya di RT 04 RW 04 Kotabumi, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Ny Sri Rumiyati membunuh suaminya, Hendra.

Data dari Kepolisian Polda Metro Jaya dan Kepolisian Sektor Pasar Kemis, Tangerang, ada warga setempat yang sampai memilih meninggalkan rumah kontrakannya hanya karena lokasinya berdekatan dengan rumah pembantaian Hendra. Warga sekitar sama sekali tidak menduga, seorang perempuan yang mereka kenal dan terlihat baik, serta ramah sehari-harinya itu bisa membunuh dengan cara sekejam itu.