Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘mutilasi’

Jatuh Cinta Pada Adik Tiri, Bapak Kandung Dibunuh dan Dimutilasi

Desember 6, 2008 · 2 Tanggapan

Anak durhaka pembunuh bapak kandung dibekuk petugas Polsek Jagakarsa dan Polres Jakarta Selatan saat akan mengambil gaji di Jalan Margonda Raya, Depok, Kamis (4/12) sore.

Dia mengaku tega menghabisi bapak lantaran jatuh cinta kepada adik tirinya tapi ditentang sang ayah. “Kami memang sering bertengkar karena hal sepele. Namun waktu itu, bapak marah dan menendang saya. Saya pun tidak terima dan langsung membunuhnya,” kata tersangka Deden Supriatna alias Udin alias Badin, 26, Jumat (5/12).

Menurut Udin, pembunuhan yang terjadi di rumah kontrakan, Jalan M.Kahfi II, Gang Assyakirin, Kelurahan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dilakukan pada Rabu (26/11) pagi sekitar Pk. 07.30. Saat itu di rumah hanya ada Rahmat Hidayat, 60, korban, dan dirinya.

Ny.Umi, 58, istri korban yang juga ibu tiri pelaku, sedang dagang di Gang Damang, Jagakarsa. Dian, 22, adik tiri pelaku, sudah berangkat kerja.

Pemuda yang bekerja pada satu salon di Jagakarsa ini kerap mengirim SMS kepada Dian. Isi SMS-nya menyatakan rasa suka kepada adik satu bapak namun lain ibu itu.

Pria yang sehari-hari kerja membantu dagang istrinya ini pun tewas seketika. Udin masih belum puas dan bermaksud memutiliasi mayat sangn ayah tujuannya agar menghilangkan jejak.

Pelaku membaringkan tubuh korban dan memotong kaki. Namun belum sempat putus, pelaku mengurungkan niatnya. “Diduga, ia takut karena setelah mayatnya dimasukkan ke karung dan diangkut naik motor, darah berceceran,” jelas Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, Kompol Iwan Kurniawan didampingi Kapolsek Jagakarsa, Kompol Udik Tanang Y.

DIMASUKKAN KE KARUNG
Gagal membawa jenazah, pelaku menutup mayat korban dengan dua karung. Setelah itu, ia melarikan diri ke Bogor dan Depok. Selama delapan hari, pria yang pernah dipenjara karena kasus pembunuhan semasa masih SMA ini selalu berpindah-pindah tempat.

Petugas yang menyelidiki kasus ini mendengar kesaksian dari keluarga Udin serta SMS yang dikirim kepada Dian, berisi pernyataan rasa suka kepada saudaranya itu.

Kompol Udik Tanang Y menjelaskan, dalam memburu pelaku, pihaknya bersama jajaran Polres Jakarta Selatan membentuk tiga tim. “Mereka mencari Udin hingga ke Bandung, Bogor, Bekasi, Tangerang dan lainnya. Alhamdulillah, berkat kerja keras kami berhasil menangkap pelaku di Depok,” tandasnya.

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

November 12, 2008 · 1 Tanggapan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Masyarakat Indonesia Hanya Pandai Meniru Termasuk Dalam Kasus Pembunuhan

November 4, 2008 · 2 Tanggapan

Dokter ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Abdul Mun’im Idris, Senin (3/11), mengatakan, jenis kejahatan, terutama pembunuhan, saat ini makin beragam dan cenderung meniru. Mutilasi dan mayat dalam koper, misalnya, telah menjadi tren yang terus berulang serta makin sulit diungkap pelakunya.

”Lihat juga kasus Robot Gedek. Setelah ia ditangkap polisi, tak lama berselang muncul kasus kematian lima bocah laki-laki serupa dengan kasus Robot Gedek. Pada tahun 2008, ada lagi pembunuhan dua bocah laki-laki dengan luka bekas sodomi dan kekerasan fisik di tubuhnya. Pelakunya belum terungkap hingga kini,” kata Mun’im Idris.

Sepanjang tahun 2008, terjadi sedikitnya delapan kali kasus mutilasi. Pertengahan tahun ini, muncul kasus pembunuhan Eka Putri, warga Bekasi berusia sekitar 20 tahun. Dari hasil visum dan otopsi terhadap jasad korban, Mun’im menemukan banyak persamaan luka seperti korban- korban luka dalam kasus Ryan, si pembunuh berantai.

Berdasarkan analisis Mun’im, pembunuhan ada dua kategori, yaitu membunuh sebagai sarana dan karena alasan emosional. Membunuh sebagai sarana, seperti perampok yang terpaksa membunuh pemilik rumah agar usahanya berhasil.

”Sedangkan, karena alasan emosional, seperti tersulut amarah, bisa dendam atau cemburu. Bisa juga karena kelainan seksual. Pembunuhan karena alasan emosional paling banyak terjadi. Demi menghilangkan jejak agar tak tertangkap, pelaku makin kreatif, termasuk meniru cara pelaku lainnya,” kata Mun’im.

Sudarmono, sejarawan Universitas Negeri 11 Maret, Solo, menjelaskan, makin seringnya kasus kejahatan sadis terjadi dapat dikaitkan dengan ada fenomena kaum urban, mereka yang hijrah dari daerah ke kota dan terbiasa mengadopsi seluruh gaya hidup. Nilai-nilai kekerasan pun mudah diterima dan merasuki mereka.

Sudarmono mengambil contoh kasus Ryan. Ryan dengan latar belakang keluarga tak harmonis, miskin, dan terlepas dari pengawasan keluarga tidak punya pegangan apa-apa selain kekosongan hidup di pengembaraan. Ada elemen masuk, seperti homoseksual dan materialisme, merasuki Ryan dan menjadi tujuan hidupnya.

Dipicu media massa

Sementara itu, Awang Ruswandi, pengajar jurnalistik televisi di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, dan kriminolog dari UI Adrianus Meliala berpandangan, media massa cukup berperan dalam memengaruhi perilaku agresif di kalangan masyarakat, termasuk yang berujung pada tindak kriminalitas dan kecenderungan meniru.

Menurut Awang, pengemasan pemberitaan kriminal, khususnya di televisi, memiliki kekuatan untuk menginspirasi penontonnya dalam berbuat kriminal.

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Pembunuhan Mutilasi Menggerus Rasa Aman Masyarakat Karena Dilakukan Oleh Orang Terdekat Anda

November 3, 2008 · 1 Tanggapan

Peristiwa pembunuhan, khususnya yang disertai mutilasi, tahun 2008 ini mewarnai pemberitaan di media massa. Peristiwa tersebut bahkan terjadi berturut-turut. Setelah kasus Ryan, berturut-turut peristiwa mutilasi terungkap bermunculan di sejumlah daerah.

Berbagai kasus pembunuhan mutilasi itu kerap dilatarbelakangi rasa marah, sakit hati, dan dendam pelaku terhadap korbannya. Pelaku dan korban kerap kali saling mengenal cukup baik, mulai dari keluarga sendiri, pembantu, juga tetangga. Profil pelaku kekejaman mutilasi ini semakin membenarkan pepatah yang menyebutkan “orang yang bermuka galak dan dingin memiliki hati yang lembut” karena semua pelaku mutilasi dikenal ramah, murah senyum, pandai bergaul dan banyak teman, hampir semua mereka menyembunyikan kekejaman dan kesadisan mereka dibalik senyum dan perilaku yang lemat lembut. Jadi berhati-hatilah … mereka ini serigala berbulu domba.

Pada bulan September, Hendra, warga Tangerang, dibunuh dan dimutilasi istri keduanya, Sri Rumiyati. Sri mengaku dendam karena sering dianiaya suaminya. Tubuh Hendra dimutilasi menjadi 13 bagian yang dimasukkan dalam delapan kantong plastik. Salah kantong plastik berisi potongan tubuh Hendra ditemukan di bus Mayasari Bhakti P-64.

Roni bin Hasan (42) membunuh dan memutilasi tetangganya, Ahmad bin Mintra (67), warga Sukabumi.

Pada bulan Oktober, warga Cibinong-Bogor, Sainan alias Entong (60), membunuh dan memutilasi istri keduanya, Atikah (18), karena dendam. Alasan Entong, Atikah kerap menjelek-jelekkannya yang terlalu cepat selesai diatas ranjang di depan laki-laki lain.

Peristiwa pembunuhan sadis disertai mutilasi memang tidak terjadi baru-baru ini. Setidaknya, sejak lebih tiga dekade yang lalu, negeri ini juga kerap digemparkan peristiwa pembunuhan mutilasi yang keji.

Mutilasi di masa silam

  1. Salah satu peristiwa fenomenal adalah pembunuhan mutilasi Lily Kartika Dewi (28) dan anaknya, Iwan Kartika (5), oleh Bob Liem alias Ray Manaf pada tahun 1967. Ketiganya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Hongkong. Liem mencincang tubuh istri dan anaknya lalu dikubur di dalam tembok dapur di apartemen mereka di Green Mansion, Hongkong. Motif pembunuhan itu adalah harta.
  2. Tahun-tahun berikutnya, pembunuhan mutilasi lainnya menimpa Henny Lihiang (49) pada tahun 1976. Pembunuhnya Sukirman bin Supandji (38), rekan kerjanya. Henny adalah kasir Induk Administrasi Penyaluran Tenaga Kerja (Inminlurja) TNI AD. Motif pembunuhan ini menyangkut uang yang ditilap oleh Sukirman. Pembunuhan dan mutilasi itu berlangsung di mess kantor Inminlurja TNI AD di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.
  3. Pada tahun 1978, potongan tubuh Nurdin Koto, karyawan Bogasari Tanjung Priok, ditemukan di Kali Kresek, Jakarta Utara. Dalam kasus itu, Pengadilan Negeri Jakarta Timur-Utara menjatuhi hukuman mati terhadap Carl Albert Togas, teman Nurdin, pada tahun 1979 karena diyakini terbukti membunuh Nurdin dengan motif harta.
  4. Pada tahun 1981, mayat terpotong 13 ditemukan di Jalan Jenderal Sudirman, hingga kini belum terungkap.
  5. Tahun 1989, Ny Diah dibunuh dan dimutilasi suaminya sendiri di rumahnya di Jalan Percetakan Negara VI, Jakarta Pusat. Motif pembunuhan karena suaminya tak ingin ketahuan menikah lagi.

Kondisi ini, menurut psikolog sosial Sartono Mukadis, merupakan gejala yang mengkhawatirkan. Sartono menyebutnya sebagai cetusan sosial yang lahir akibat dari kemarahan, keputusasaan, dan ketidakmampuan dalam menghadapi konflik yang biasanya diciptakan oleh dirinya sendiri.

Kekejian dan kekerasan yang menggejala juga merupakan indikasi fenomena anomi di masyarakat yaitu suatu fenomena dimana banyaknya kejahatan yang jelas-jelas salah seperti korupsi yang tidak dihukum, malah para pelakunya dipuja, dihormati dan menjadi pemimpin membuat kegamangan masyarakat dalam menyikapi nilai, agama dan norma. Persoalan dalam tata nilai masyarakat tidak semata bisa dijawab dengan penerapan pelajaran budi pekerti di sekolah. Namun, negara harus memiliki strategi yang lebih besar dan serius untuk membenahi karakter bangsa tanpa terjebak dalam program-program yang sloganistik.

Memberikan contoh

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran mengatakan, para pelaku umumnya mengaku melakukan tindakan kejahatan itu mencontoh dari berbagai pemberitaan di media cetak maupun televisi.

Salah satu contoh nyata adalah pengakuan Yati. Istri Hendra ini memutilasi suaminya karena terinspirasi berita di televisi yang diputar berulang-ulang.

Menurut Fadhil, para pelaku lupa bahwa tindakan yang dilakukan dengan cara seperti itu masuk kategori pembunuhan berencana dan bukan pembunuhan biasa. ”Meniru tindakan orang lain membunuh sudah masuk kategori pembunuhan berencana,” tegas Fadhil.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, pun memberikan hasil pengamatannya. Menurut dia, umumnya pelaku adalah keluarga sendiri.

Namun, Andrianus melihat dari sudut pandang khusus mengenai tindakan mutilasi, yang bertujuan menghilangkan jejak. Menurut dia, boleh jadi pelaku kejahatan semakin kalkulatif dalam melakukan kejahatan.

”Tampak tren bahwa pelakunya adalah pelaku yang berhitung. Ini untuk mempersulit polisi. Sebab, ada dua pilihan bagi pelaku kejahatan: dia lari atau korban dihilangkan jati dirinya. Dengan demikian, entry point bagi polisi untuk mengetahui pelaku semakin sulit,” katanya.

Namun, Fadhil berpandangan, pelaku melakukan tindakan itu karena alasan sederhana. Pelaku mau cari praktisnya saja. Pelaku terlalu berat membawa korban. ”Jadi jangan heran kalau pelakunya akan lebih banyak wanita ketimbang laki-laki.”

Namun Adrianus tidak sepaham dengan Fadhil, bahwa pelaku melakukan kejahatan sekadar copy cat (meniru) kejahatan yang dilakukan orang lain. Menurut dia, pembunuhannya sendiri bukan semata peniruan, namun modus penghilangan jejaknya boleh jadi terinspirasi.

”Dan media pun tak berpengaruh langsung dalam perilaku keji. Dia (media) boleh jadi sebatas penyebab antara,” ujar Adrianus.

Tentang copy cat, Fadhil mengatakan, copy cat berpotensi menciptakan kecenderungan atau tren. ”Sebagian masyarakat kita adalah masyarakat yang latah. Kalau sebagian latah, sikap latah itu cepat meluas. Saya berharap, kasus Yati tidak berpotensi menjadi sikap latah,” tuturnya.

Rasa aman tergerus

Sementara itu, kejahatan yang makin beragam jenisnya dan makin kejam menyebabkan masyarakat dipaksa meningkatkan kewaspadaan di mana pun ia berada. Sistem keamanan di perkantoran, pusat perbelanjaan, dan di rumah-rumah makin ditingkatkan.

Namun, terkadang bukan rasa aman yang dicapai, tetapi justru ketidaknyamanan serta rasa takut yang amat mengganggu. Apalagi, terkadang kejahatan muncul tanpa bisa diduga, bahkan di lokasi yang selama ini dianggap aman, seperti di gedung pengadilan atau di lingkungan paling dekat, yaitu di sekitar rumah sendiri. Pelakunya pun bisa jadi adalah orang-orang yang selama ini kita kenal baik.

Suasana yang melingkupi Kompleks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, akhir-akhir ini misalnya, berubah kaku dan tegang. Terali besi warna hijau tua mengapit rapat sebuah alat pendeteksi logam berdiri di pintu masuk gedung pengadilan yang berlantai tiga. Jika dulu setiap pengunjung pengadilan bebas keluar masuk gedung, kini semua harus dicek.

Humas PN Pusat Sugeng Riyono mengatakan, sistem keamanan diperketat setelah kasus pembunuhan yang terjadi di lantai 3 gedung pengadilan, Selasa, 21 Oktober.

”Ini sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadi lagi kasus serupa. Kami juga meningkatkan kerja sama dengan pihak kepolisian agar selalu menyiagakan petugasnya di kompleks ini,” kata Sugeng Riyono, Sabtu (1/11).

Suasana yang tidak nyaman juga kental terasa di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Puluhan pedagang kaki lima di kawasan itu sudah menyiapkan banyak skenario penyelamatan diri jika tiba-tiba tawuran antarmahasiswa, mahasiswa dengan satuan polisi pamong praja, atau antarpreman terjadi lagi.

”Yang pasti, jantung selalu deg-degan. Pertama, takut kita yang jadi korban, entah terkena lemparan batu atau salah pukul. Kedua, kerugian materiil karena dagangan diobrak-abrik atau hilang akibat tidak sempat diselamatkan,” kata Hanafi (32), pedagang aneka minuman ringan di tepi Jalan Diponegoro.

Hanafi selalu merasa dirinya tidak aman. Namun, ia tidak memiliki pilihan selain tetap berdagang di kawasan rawan tawuran. Di Salemba ini terdapat empat universitas, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia, dan Universitas Bung Karno.

”Setiap hari, di sini selalu ada minimal satu unit mobil patroli satpol PP atau polisi. Namun, kalau suasana sudah panas tanpa tahu siapa yang memulai, tetap saja tawuran. Saya juga heran, kenapa satpol PP atau polisi kurang bisa mencegah terjadinya tawuran,” kata Sukesti (40), pedagang ketoprak.

Data dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, tawuran di kawasan Salemba sudah terjadi sejak tahun 2002. Seorang sumber di Polres Metro Jakarta Pusat mengatakan, polisi sebenarnya selalu memantau kawasan itu, namun karena kejadian yang tidak terduga, terkadang terlihat polisi lamban mengantisipasi.

Pindah kontrakan

Selain rasa waswas, trauma berkepanjangan dialami orang-orang yang berada di sekitar lokasi terjadinya kejahatan. Para tetangga korban mutilasi di Kampung Teriti Kotabumi, Sepatan, Kabupaten Tangerang, misalnya, hingga kini masih diliputi rasa ketakutan.

Ini semua disebabkan, di salah satu rumah petak kontrakan di Kampung Teriti, tepatnya di RT 04 RW 04 Kotabumi, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Ny Sri Rumiyati membunuh suaminya, Hendra.

Data dari Kepolisian Polda Metro Jaya dan Kepolisian Sektor Pasar Kemis, Tangerang, ada warga setempat yang sampai memilih meninggalkan rumah kontrakannya hanya karena lokasinya berdekatan dengan rumah pembantaian Hendra. Warga sekitar sama sekali tidak menduga, seorang perempuan yang mereka kenal dan terlihat baik, serta ramah sehari-harinya itu bisa membunuh dengan cara sekejam itu.

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Kronologi Mutilasi Mayasari Karena Tidak Adil Berbagi Kasih Dengan Keempat Istrinya

Oktober 29, 2008 · 1 Tanggapan

Sri Rumiyati alias Yati akhirnya mengakui latar belakang pembunuhan sadis terhadap suaminya. Wanita hiperseks yang disebut-sebut telah 15 kali menikah ini mengaku memutilasi suaminya lantaran sakit hati.

Wanita asal Dusun Kupen, Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah, ini kepada petugas penyidik mengatakan suaminya seorang yang ringan tangan dan sering marah-marah.

Di samping itu, wanita berkulit sawo matang ini, juga menuding Hendra, 50, sebagai suami yang pelit padanya. “Perlakuannya pada saya dan istri ketiganya, Dewi, sangat jauh berbeda. Dia hanya sayang pada istri ketiga. Padahal dia tinggal satu atap dengan saya,”tutur istri keempat korban itu.

Di puncak kekesalannya, pada akhir September silam, Yati menjadi gelap mata. Suatu ketika, suaminya meminta sang istri untuk mengerok dan memijit punggungnya.

“Saat saya kerokin dan pijit dia (Hendra, red) langsung tertidur pulas. Secara diam-diam saya mengambil sebongkah batu lalu menghantamkan ke kepala belakangnya,” tuturnya kepada penyidik.

Mendapat hantaman itu, sang sopir angkot, tewas seketika. Melihat korban berlumuran darah wanita itu mengaku panik. Saat itulah timbul niatnya memotong-motong mayat Hendra.

Setelah dipotong menjadi 13 bagian, bagian-bagian tubuh korban dimasukkan tas plastik lalu dimasukkan lagi ke dalam tiga buah kardus. “Kasur saya potong menjadi dua bagian dan saya buang ke kali,” tutur wanita yang mengaku sendirian dalam menghabisi korban itu.

Sekembalinya di rumah, Yati membawa 3 kardus berisi potongan mayat korban menggunakan angkot jurusan Kotabumi- Kalideres. Sesampainya di Kalideres, ia lalu naik bus Mayasari Bakti P 64 jurusan Pulogadung dan meninggalkan satu kardus di bus itu.

Di daerah Grogol wanita itu turun dan menyetop taksi minta diantar ke Terminal Kalideres. Satu kardus lainnya ia tinggal di bagasi belakang taksi. Yati kemudian pura-pura hendak mudik dengan naik bus patas jurusan Cirebon.

“Saya minta tolong kenek bus itu untuk menaruh kardus di dalam bus. Saya lalu pulang lagi ke kontrakan,” tutur Yati.

Wanita berusia 39 tahun ini mengaku juga membuang bungkusan ke-4 di sebuah tempat sampah di Kalideres. Yati mengaku tidak tahu bungkusan mana yang berisi kepala, jeroan dan potongan tubuh lainnya.

RESMI JADI TERSANGKA
Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Purwadi, mengatakan Yati kemarin resmi dijadikan tersangka. Namun mengenai identitas korban, pihaknya masih menunggu hasil tes DNA.

“Meski kami sudah menetapkan tersangka, namun polisi belum mengetahui secara pasti identitas korban. Namun, untuk sementara kami mengetahuinya bernama Hendra alias Burung,”ujar Purwadi.

Tim Puslabfor Mabes Polri dalam olah TKP kemarin menemukan beberapa bercak darah di tembok dan lantai rumah kontrakan Yati di Kampung Teriti RT 04/04, Desa Karet, Sepatan, Kabupaten Tangerang. Di duga darah tersebut milik Hendra.

Saat rumah kontakan berukuran 5×3 meter itu digeledah, sudah tidak ada barang-barang lagi. Yang tersisa hanya bangku rusak berwarna biru. Pada sekat yang terbuat dari triplek, petugas menemukan bercak darah. “Tapi sudah dilap,””ungkap AKBP Fadil Imron, Kasat Jatanras Polda Metro Jaya.

Kepala Biddokkes Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Agus Prayitno, mengatakan hasil temuan TKP akan dicocokkan dengan DNA yang terdapat pada tubuh korban mutilasi.

Dewi, isteri ketiga korban yang tinggal di Lampung, kemarin terlihat mendatangi rumah kontrakan korban bersama anaknya yang masih balita.

Dewi mengatakan hanya ingin melihat proses olah TKP saja. Kedatangan Dewi hanya sebentar saja. Dia tak kuat menahan tangis. “Saya mampir ke sini karena ingin melihat saja,” ujarnya .

Wanita ini mengaku tidak menyangka jika madunya tersebut tega menghabisi nyawa Hendra. Pasalnya, selama ini Dewi melihat Yati dan Hendra hidup bahagia. “Saya tidak menyangka dia tega membunuh Hendra,” ujar Dewi.

Dewi mengatakan terakhir bertemu dengan Hendra pada 27 September lalu. Saat itu Hendra mengatakan mempunyai uang Rp5 juta hasil menjual mobil. Rencananya uang tersebut akan diberikan Hendra untuk dirinya dan anaknya

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Penjagal dan Pemutilasi Suami Pernah Menikah 15 Kali dan Penderita Hiperseks

Oktober 28, 2008 · 1 Tanggapan

Wanita yang satu ini memang benar-benar super dalam segala hal. Betapa tidak. Dia berani memotong-motong suaminya hingga 13 bagian. Yang lebih mencengangkan lagi, ternyata dia juga pernah memiliki 15 suami . Alasan Sri Rumiyati alias Yati, sering kawin cerai karena dia adalah seorang hiperseks atau yang memiliki hasrat seks sangat tinggi dan tidak pernah terpuaskan alias kecanduan seks.

Bahkan, keterangan yang diperoleh dari rekan korban dan tetangganya, pernikahan wanita berusia 28 tahun ini kebanyakan dilakukan secara siri.

Endah, tetangga korban di Kampung Teriti, Desa Karet, Sepatan, Kabupaten Tangerang, mengaku Yati pernah bercerita kepadanya tentang kebutuhan seksnya yang luar biasa tersebut.  “Biarpun dia jarang diberi nafkah lahir oleh suaminya, yang penting Yati merasa Hendra bisa memenuhi kebutuhan seksnya alias nafkah batin,” ungkap Endah, Senin (27/10).

Kelainan seks wanita asal Desa Kupen, Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah, ini juga diakui oleh Duhri, teman korban. Menurut Duhri, korban, Hendra, 50, pernah curhat padanya mengenai perilaku seks istri keempatnya itu.  “Malah salah satu mantan suaminya pernah dicerainya karena dianggap sudah tak mampu lagi memenuhi kebutuhan seksnya itu.”

BAWA TIGA KARDUS
Di mata tetangga, Yati dikenal baik, pandai bergaul, ramah dan suka tersenyum. Di lingkungannya ia akrab dipanggil tante. Menurut Endah, empat hari sebelum Lebaran, Yati mengatakan Hendra sedang pergi ke Bandung dan dia diminta tinggal bersama anaknya dari pernikahan terdahulu di Pasar Kemis.

“Selama Bang Hendra lagi dapat orderan ke Bandung, saya disuruh tinggal bersama anak saya” ungkap Endah meniru ucapan Yati.

Yati yang menurut orangtuanya memiliki nama asli Sutemi ini pun kemudian pergi membawa tiga buah dus yang diikat rapi. Diduga tiga dus tersebut berisi potongan tubuh Hendra yang kemudian dibuang di dalam bus Mayasari P64 jurusan Kalideres-Pulo Gadung dan ditemukan pada 29 September lalu.

Saat itu Yati mengaku, jika kardus tersebut berisi kue Lebaran yang akan dikirim ke Dewi, istri Hendra, yang berada di Lampung.”Kardus itu dibungkus rapi dan tidak tercium bau amis ataupun darah,” kata Endah.

Endah juga mengatakan jika malam hari sebelum Yati pergi ia sempat mendengar suara orang sedang memukul dari dalam rumah kontrakan tersebut. Di duga saat itu pelaku sedang memotong-motong tubuh Hendra, pasalnya petugas dari kepolisian sudah mengamankan sebilah golok dan batu yang diduga sebagai barang bukti.

Empat hari setelah Lebaran atau sepekan setelah mayat potongan mayat Hendra ditemukan, Yati datang kembali ke rumah kontrakannya di Kampung Teriti Sepatan, Kabupaten Tangerang. Saat itu tetangga melihat istri ke empat korban itu berperilaku aneh.

Yati selalu menggunakan topi dan kacamata hitam, padahal biasanya tidak pernah.

Ketika tayangan berita televisi menyiarkan penemuan potongan tubuh manusia dengan ciri tato kepala macan di lengan kanannya, Yati sempat mengatakan bahwa kemungkinan besar mayat tersebut adalah suaminya.“Tetapi tetangga saat itu tidak curiga,” imbuh Mas’ud.

DIBAWA UNTUK CARI POTONGAN TUBUH
Yati yang ditangkap polisi Sabtu (25/10) petang di kampung halamannya itu sampai Senin masih diperiksa di Polda Metro Jaya. Yati kemarin dibawa oleh petugas mencari potongan tubuh Hendra lainnya seperti kepala, kaki, tangan, dan bagian belakang tubuh. “Bokong korban juga belum ditemukan,” ujar satu petugas.

Dalam pemeriksaan, wanita berkulit sawo matang, rambut lurus sebahu, tinggi badan sedang dan perawakan agak besar, itu terkesan berbelit-belit. Meski demikian, soal pembantaian sadis itu, Yati mengaku dialah pelakunya. “Saya sakit hati,” kata Yati tanpa merinci apa yang membuatnya sakit hati itu.

Proses penangkapan terhadap Yati, menurut sumber tersebut, berawal dari informasi dari warga yang mengenai ciri-ciri tato di lengan kiri korban yang dimuat di media massa. Dari laporan tersebut akhirnya petugas mengetahui identitas korban sebagai Hendra alias Burung, asal Pekanbaru, Riau.

Meski polisi sudah berhasil menangkap tersangka pelakunya, namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi. Hal ini diduga lantaran polisi tidak ingin mengulang kesalahan seperti di Jombang beberapa waktu lalu hingga terjadi kesalahan identifikasi.

KORBAN MUTILASI ADALAH SEORANG MUALAF
Pos Kota kemarin mendatangi kediaman Mega, istri kedua Hendra yang tinggal di bilangan Cengkareng. Menurut penuturan Desniar, 40, adik Mega, korban adalah pria keturunan Tionghoa. “Dia masuk Islam ketika menikah dengan kakak saya,” jelas Desniar.

Wanita ini menyebutkan, Mega dan Hendra bercerai tahun 2000. Hendra terpikat dengan wanita asal Lampung. Karena tidak mau dimadu, Mega yang kemarin juga didengar keterangannya oleh polisi akhirnya minta berpisah.

Korban memiliki anak dari Mega yang kini duduk di kelas 3 SMA. Sampai saat ini Ic belum mengetahui kematian sang ayah. “Ibunya berpesan jangan dikasih tahu dulu takut shock,” tutur Desniar.
Yang membuat Desniar sedih pada 3 Desember mendatang Ic akan berulang tahun. “Ic sempat menelepon papinya agar datang pada pesta ulang tahunnya. Papinya janji mau datang,” cerita Desniar.

Nasir, warga yang sempat mengenal korban mengatakan Hendra adalah orang yang pendiam dan jarang bergaul. “Dia orangnya baik banget cuma memang rada susah bergaul. Orang –orang sini yang kenal dia pasti kaget mendengar berita kematiannya,” jelas Nasir, suami Desniar

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Pelaku Mutilasi Mayasari Ditangkap Polisi Dan Ternyata Istri Korban

Oktober 27, 2008 · 1 Tanggapan

Wanita yang diduga kuat membantai, Hendra, pria tato macan, lalu memotong-motong menjadi 13 bagian ditangkap aparat Polda Metro Jaya di Desa Tekungsari, Temanggung, Jateng.

Sri Rumiyati alias Supeni dituduh sebagai pelaku ditangkap di rumah orangtuanya, Parminto, Sabtu (25/10). Dia baru empat hari pulang ke kampungnya. Bahkan di kampungnya Rumiyati sempat bertanya kepada tetangga bagaimana caranya memotong sapi. Wanita ini disebutkan sudah tiga kali menikah, terakhir dengan Hendra yang menjadikannya istri ke empat.

Sumber di kepolisian menyebutkan Hendra, lelaki asal Riau dan Rumiyati tinggal di rumah kontrakan di daerah Tangerang. Ditangkapnya Rumiyati berdasarkan pengakuan Abdul Rojak, kenek angkot yang membuang mayat mutilasi di atas bus pada 29 September 2008.

Dia mengaku disuruh Rumiyati. Wanita ini sebelumnya pernah diperiksa di Polda Metro Jaya, namun disuruh pulang karena waktu itu belum ada bukti.

Sampai saat ini polisi masih menunggu hasil tes DNA keluarga Hendra. Tim Jatanras Polda Metro Jaya dua hari lalu berangkat ke Riau untuk mengambil sampel darah keluarga Hendra guna pemeriksaan DNA.

MENYAMAR SOPIR ANGKOT
Terbongkarnya kasus multilasi ini berawal ketika polisi menangkap Rojak lima hari sebelumnya di Terminal Kalideres, Jakarta Barat. Rojak dibekuk setelah polisi Reserse Polda Metro Jaya menyamar sebagai sopir angkot. Sri Rumiati diduga membantai Hendra di daerah Kotabumi, Tangerang.

Kepala Satuan Kejahatan Keras Polda Metro Jaya AKBP Fadil Imron yang dikonfirmasi soal penangkapan itu tetap membantah. “Kami belum melakukan penangkapan terhadap siapapun dan kasusnya masih dalam penyelidikan,” kata Fadil.

Seperti diberitakan sebelumnya, satu bungkusan plastik berisi mayat pria dipotong 13 ditemukan di dalam Bus Mayasari Bakti jurusan Pulogadung-Kalideres pada 29 September 2008. Ciri yang bisa diidentifikasi hanya tato macan di lengan korban, telapak tangan dan kepala tak ditemukan.

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Ayo Adu Pintar Dengan Pejahat … Mari Pecahkan Misteri Mayat Mutilasi Mayasari

Oktober 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Polisi menguji DNA mayat pria korban mutilasi yang terpotong 13 dan bertato macan yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

Kepala Satuan Kejahatan Dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fadil Imran yang ditemui pada hari Senin (13/10) menjelaskan, uji DNA (deoxyribonucleic acid) tersebut dilakukan oleh laboratorium polisi dan dikerjakan para dokter kepolisian di Cipinang, Jakarta Timur.

”Kami menunggu hasil uji DNA yang akan dijadikan dasar acuan untuk mengetahui identitas korban mutilasi. Saat ini belum ada data pembanding yang valid karena dua orang yang mengaku kehilangan anggota keluarga, yakni Hasan Basri dan Leo Aritonang, ternyata tidak memiliki kecocokan dengan tubuh korban,” kata Fadil menjelaskan.

Berdasar keterangan keluarga, diketahui tato kepala macan yang ada di tangan kanan Hasan Basri, warga Bekasi, berbeda dengan tato yang ada di lengan kanan atas mayat korban mutilasi.

Menurut Fadil, tato di lengan kanan Hasan Basri menggambarkan kepala macan dari arah samping dan ada tato Kujang. Selain itu, di dada kanan atas Hasan Basri juga ada tato. Secara kasatmata, itu berbeda dengan ciri-ciri pada mayat korban mutilasi.

”Kecil kemungkinan kalau mayat korban mutilasi adalah Hasan Basri. Ciri-ciri yang ada juga berbeda dengan laporan keluarga dari Leo Aritonang warga Tangerang. Tindakan pelaku mutilasi kemungkinan didasari rasa marah, dendam, ataupun cemburu yang berlebihan,” kata Fadil.

Kini polisi menunggu hasil uji DNA yang akan selesai dalam waktu dekat. Polisi sejauh ini menerima banyak telepon yang menyatakan kehilangan anggota keluarga. Tetapi, baru keluarga Hasan Basri dan Leo Aritonang yang aktif berhubungan dengan polisi.

”Jika dibutuhkan, akan dilakukan uji DNA dengan keluarga Hasan Basri. Tetapi sejauh ini ciri-ciri yang ada tidak sesuai dengan Hasan Basri,” kata Fadil.

Selain itu, banyak penelepon yang hanya sekadar bertanya. Selanjutnya mereka sulit dihubungi kembali oleh polisi.

Potongan tubuh korban mutilasi itu dibawa dalam dua bungkusan plastik pada hari Senin (29/9) sekitar pukul 14.00 di deretan bangku keempat dari belakang bus Mayasari Bhakti jurusan Kalideres-Pulo Gadung. Pembawa bungkusan adalah seorang perempuan. Bungkusan ditemukan di lantai bus saat mengisi bahan bakar di pom bensin dekat Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Selebaran baru

Polisi mengedarkan selebaran terbaru tentang mayat korban mutilasi di seluruh wilayah Jabodetabek.

Fadil menjelaskan, ada informasi baru, yakni tinggi tubuh korban di atas 170 sentimeter, ukuran sepatu di atas nomor 40, sering menjalani pengobatan tradisional yang terlihat dari bekas-bekas di tubuh dan korban disunat. Semua potongan tubuh pria korban mutilasi dipastikan berasal dari satu orang yang sama.

Ketika ditanya, apakah tato kepala macan dibuat justru setelah korban dibunuh, Fadil menjawab tato tersebut dibuat sebelum pembunuhan terjadi.

Polisi terus membuka call center +628129508867 untuk menangani kasus mutilasi.

Kategori: mutilasi · pembunuhan

Wanita Asal Lampung Diduga Menjadi Pelaku Mutilasi Di Bus Mayasari

Oktober 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Polisi menunda menyebar sketsa wajah wanita pembawa mayat potong 13 yang ditinggal di bus untuk penyidikan lebih lanjut. Alasannya keluarga H Hasan, pria yang diduga sebagai korban mutilasi, mengenal sosok perempuan itu.

Sumber Pos Kota menyebutkan perempuan berambut pendek itu suka merokok dan berasal dari Lampung. Dia termasuk salah satu dari sekian teman wanita yang cukup dekat dengan makelar tanah yang tinggal di Bekasi tersebut.

Meskipun hasil tes DNA belum diumumkan polisi, namun penyidikan mulai mengarah kepada H Hasan Basri sebagai korbannya. Keluarga Hasan sendiri kini tertutup, bahkan istri dan ibunya syock dan mengurung diri di rumah.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman saat dikonfirmasi mengatakan tidak mau gegabah dalam menyimpulkan siapa korban mutilasi. Sketsa wajah pembawa bungkusan potongan mayat belum disebar karena identitas korban belum dipastikan.

“Kita tidak mau salah identifikasi, kita masih menunggu kecocokan tes DNA. Penyidikan memang mulai mengerucut,” kata kapolda usai sertijab Kapolri di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (9/10).

GOLONGAN DARAH B
Ahli Forensik RSCM, dr Mun’im Idris mengatakan, belum mengetahui secara pasti penyebab kematian korban sebelum akhirnya dimutilasi. “Baru ditemukan tusukan di bagian tubuhnya. Golongan darah korban adalah B,” katanya.

Tim penyidik Polda Metro Jaya mengaku kesulitan mengungkap kasus potongan tubuh manusia yang ditinggal di bus Mayasari Bakti P 64 jurusan Pulogadung-Kalideres pada 29 September 2008 itu.

Kanit Jatanras Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kompol J.Saragih mengku penyelidikan terfokus pada pencarian identitas korban karena bukti yang dimiliki polisi sangat minim.

“Kami belum bisa mempublikasikan sketsa wajah itu karena belum sempurna. Bukti yang bisa dipublikasi hanya tato macan,” dalih Saragih.

Dia mengimbau masyarakat yang keluarganya hilang dan mempunyai ciri tato macan untuk segera melapor. “Hingga saat ini baru ada dua warga melapor salah satunya keluarga Hasan Basri dari Bekasi,” katanya.

KELUARGA HASAN TERPUKUL
Ditemui di rumahnya di Bekasi, keluarga H Hasan Basri terlihat terpukul meski polisi belum menyimpulkan siapa korban mutilasi itu. “Istri Haji Hasan dan ibu saya sekarang syock, tidak mau keluar rumah,” kata H Mustofa, adik Hasan.

Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya saat baru melapor kehilangan kakaknya, H Mustofa kini tak mau banyak komentar. “Semua kami serahkan ke polisi,” tambah Mustofa yang berencana akan ke Cirebon untuk mencari pembuat tato macan di lengan kakaknya.

Kategori: mutilasi · orang hilang · pembunuhan