Peristiwa pembunuhan, khususnya yang disertai mutilasi, tahun 2008 ini mewarnai pemberitaan di media massa. Peristiwa tersebut bahkan terjadi berturut-turut. Setelah kasus Ryan, berturut-turut peristiwa mutilasi terungkap bermunculan di sejumlah daerah.
Berbagai kasus pembunuhan mutilasi itu kerap dilatarbelakangi rasa marah, sakit hati, dan dendam pelaku terhadap korbannya. Pelaku dan korban kerap kali saling mengenal cukup baik, mulai dari keluarga sendiri, pembantu, juga tetangga. Profil pelaku kekejaman mutilasi ini semakin membenarkan pepatah yang menyebutkan “orang yang bermuka galak dan dingin memiliki hati yang lembut” karena semua pelaku mutilasi dikenal ramah, murah senyum, pandai bergaul dan banyak teman, hampir semua mereka menyembunyikan kekejaman dan kesadisan mereka dibalik senyum dan perilaku yang lemat lembut. Jadi berhati-hatilah … mereka ini serigala berbulu domba.
Pada bulan September, Hendra, warga Tangerang, dibunuh dan dimutilasi istri keduanya, Sri Rumiyati. Sri mengaku dendam karena sering dianiaya suaminya. Tubuh Hendra dimutilasi menjadi 13 bagian yang dimasukkan dalam delapan kantong plastik. Salah kantong plastik berisi potongan tubuh Hendra ditemukan di bus Mayasari Bhakti P-64.
Roni bin Hasan (42) membunuh dan memutilasi tetangganya, Ahmad bin Mintra (67), warga Sukabumi.
Pada bulan Oktober, warga Cibinong-Bogor, Sainan alias Entong (60), membunuh dan memutilasi istri keduanya, Atikah (18), karena dendam. Alasan Entong, Atikah kerap menjelek-jelekkannya yang terlalu cepat selesai diatas ranjang di depan laki-laki lain.
Peristiwa pembunuhan sadis disertai mutilasi memang tidak terjadi baru-baru ini. Setidaknya, sejak lebih tiga dekade yang lalu, negeri ini juga kerap digemparkan peristiwa pembunuhan mutilasi yang keji.
Mutilasi di masa silam
- Salah satu peristiwa fenomenal adalah pembunuhan mutilasi Lily Kartika Dewi (28) dan anaknya, Iwan Kartika (5), oleh Bob Liem alias Ray Manaf pada tahun 1967. Ketiganya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Hongkong. Liem mencincang tubuh istri dan anaknya lalu dikubur di dalam tembok dapur di apartemen mereka di Green Mansion, Hongkong. Motif pembunuhan itu adalah harta.
- Tahun-tahun berikutnya, pembunuhan mutilasi lainnya menimpa Henny Lihiang (49) pada tahun 1976. Pembunuhnya Sukirman bin Supandji (38), rekan kerjanya. Henny adalah kasir Induk Administrasi Penyaluran Tenaga Kerja (Inminlurja) TNI AD. Motif pembunuhan ini menyangkut uang yang ditilap oleh Sukirman. Pembunuhan dan mutilasi itu berlangsung di mess kantor Inminlurja TNI AD di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.
- Pada tahun 1978, potongan tubuh Nurdin Koto, karyawan Bogasari Tanjung Priok, ditemukan di Kali Kresek, Jakarta Utara. Dalam kasus itu, Pengadilan Negeri Jakarta Timur-Utara menjatuhi hukuman mati terhadap Carl Albert Togas, teman Nurdin, pada tahun 1979 karena diyakini terbukti membunuh Nurdin dengan motif harta.
- Pada tahun 1981, mayat terpotong 13 ditemukan di Jalan Jenderal Sudirman, hingga kini belum terungkap.
- Tahun 1989, Ny Diah dibunuh dan dimutilasi suaminya sendiri di rumahnya di Jalan Percetakan Negara VI, Jakarta Pusat. Motif pembunuhan karena suaminya tak ingin ketahuan menikah lagi.
Kondisi ini, menurut psikolog sosial Sartono Mukadis, merupakan gejala yang mengkhawatirkan. Sartono menyebutnya sebagai cetusan sosial yang lahir akibat dari kemarahan, keputusasaan, dan ketidakmampuan dalam menghadapi konflik yang biasanya diciptakan oleh dirinya sendiri.
Kekejian dan kekerasan yang menggejala juga merupakan indikasi fenomena anomi di masyarakat yaitu suatu fenomena dimana banyaknya kejahatan yang jelas-jelas salah seperti korupsi yang tidak dihukum, malah para pelakunya dipuja, dihormati dan menjadi pemimpin membuat kegamangan masyarakat dalam menyikapi nilai, agama dan norma. Persoalan dalam tata nilai masyarakat tidak semata bisa dijawab dengan penerapan pelajaran budi pekerti di sekolah. Namun, negara harus memiliki strategi yang lebih besar dan serius untuk membenahi karakter bangsa tanpa terjebak dalam program-program yang sloganistik.
Memberikan contoh
Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran mengatakan, para pelaku umumnya mengaku melakukan tindakan kejahatan itu mencontoh dari berbagai pemberitaan di media cetak maupun televisi.
Salah satu contoh nyata adalah pengakuan Yati. Istri Hendra ini memutilasi suaminya karena terinspirasi berita di televisi yang diputar berulang-ulang.
Menurut Fadhil, para pelaku lupa bahwa tindakan yang dilakukan dengan cara seperti itu masuk kategori pembunuhan berencana dan bukan pembunuhan biasa. ”Meniru tindakan orang lain membunuh sudah masuk kategori pembunuhan berencana,” tegas Fadhil.
Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, pun memberikan hasil pengamatannya. Menurut dia, umumnya pelaku adalah keluarga sendiri.
Namun, Andrianus melihat dari sudut pandang khusus mengenai tindakan mutilasi, yang bertujuan menghilangkan jejak. Menurut dia, boleh jadi pelaku kejahatan semakin kalkulatif dalam melakukan kejahatan.
”Tampak tren bahwa pelakunya adalah pelaku yang berhitung. Ini untuk mempersulit polisi. Sebab, ada dua pilihan bagi pelaku kejahatan: dia lari atau korban dihilangkan jati dirinya. Dengan demikian, entry point bagi polisi untuk mengetahui pelaku semakin sulit,” katanya.
Namun, Fadhil berpandangan, pelaku melakukan tindakan itu karena alasan sederhana. Pelaku mau cari praktisnya saja. Pelaku terlalu berat membawa korban. ”Jadi jangan heran kalau pelakunya akan lebih banyak wanita ketimbang laki-laki.”
Namun Adrianus tidak sepaham dengan Fadhil, bahwa pelaku melakukan kejahatan sekadar copy cat (meniru) kejahatan yang dilakukan orang lain. Menurut dia, pembunuhannya sendiri bukan semata peniruan, namun modus penghilangan jejaknya boleh jadi terinspirasi.
”Dan media pun tak berpengaruh langsung dalam perilaku keji. Dia (media) boleh jadi sebatas penyebab antara,” ujar Adrianus.
Tentang copy cat, Fadhil mengatakan, copy cat berpotensi menciptakan kecenderungan atau tren. ”Sebagian masyarakat kita adalah masyarakat yang latah. Kalau sebagian latah, sikap latah itu cepat meluas. Saya berharap, kasus Yati tidak berpotensi menjadi sikap latah,” tuturnya.
Rasa aman tergerus
Sementara itu, kejahatan yang makin beragam jenisnya dan makin kejam menyebabkan masyarakat dipaksa meningkatkan kewaspadaan di mana pun ia berada. Sistem keamanan di perkantoran, pusat perbelanjaan, dan di rumah-rumah makin ditingkatkan.
Namun, terkadang bukan rasa aman yang dicapai, tetapi justru ketidaknyamanan serta rasa takut yang amat mengganggu. Apalagi, terkadang kejahatan muncul tanpa bisa diduga, bahkan di lokasi yang selama ini dianggap aman, seperti di gedung pengadilan atau di lingkungan paling dekat, yaitu di sekitar rumah sendiri. Pelakunya pun bisa jadi adalah orang-orang yang selama ini kita kenal baik.
Suasana yang melingkupi Kompleks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, akhir-akhir ini misalnya, berubah kaku dan tegang. Terali besi warna hijau tua mengapit rapat sebuah alat pendeteksi logam berdiri di pintu masuk gedung pengadilan yang berlantai tiga. Jika dulu setiap pengunjung pengadilan bebas keluar masuk gedung, kini semua harus dicek.
Humas PN Pusat Sugeng Riyono mengatakan, sistem keamanan diperketat setelah kasus pembunuhan yang terjadi di lantai 3 gedung pengadilan, Selasa, 21 Oktober.
”Ini sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadi lagi kasus serupa. Kami juga meningkatkan kerja sama dengan pihak kepolisian agar selalu menyiagakan petugasnya di kompleks ini,” kata Sugeng Riyono, Sabtu (1/11).
Suasana yang tidak nyaman juga kental terasa di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Puluhan pedagang kaki lima di kawasan itu sudah menyiapkan banyak skenario penyelamatan diri jika tiba-tiba tawuran antarmahasiswa, mahasiswa dengan satuan polisi pamong praja, atau antarpreman terjadi lagi.
”Yang pasti, jantung selalu deg-degan. Pertama, takut kita yang jadi korban, entah terkena lemparan batu atau salah pukul. Kedua, kerugian materiil karena dagangan diobrak-abrik atau hilang akibat tidak sempat diselamatkan,” kata Hanafi (32), pedagang aneka minuman ringan di tepi Jalan Diponegoro.
Hanafi selalu merasa dirinya tidak aman. Namun, ia tidak memiliki pilihan selain tetap berdagang di kawasan rawan tawuran. Di Salemba ini terdapat empat universitas, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia, dan Universitas Bung Karno.
”Setiap hari, di sini selalu ada minimal satu unit mobil patroli satpol PP atau polisi. Namun, kalau suasana sudah panas tanpa tahu siapa yang memulai, tetap saja tawuran. Saya juga heran, kenapa satpol PP atau polisi kurang bisa mencegah terjadinya tawuran,” kata Sukesti (40), pedagang ketoprak.
Data dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, tawuran di kawasan Salemba sudah terjadi sejak tahun 2002. Seorang sumber di Polres Metro Jakarta Pusat mengatakan, polisi sebenarnya selalu memantau kawasan itu, namun karena kejadian yang tidak terduga, terkadang terlihat polisi lamban mengantisipasi.
Pindah kontrakan
Selain rasa waswas, trauma berkepanjangan dialami orang-orang yang berada di sekitar lokasi terjadinya kejahatan. Para tetangga korban mutilasi di Kampung Teriti Kotabumi, Sepatan, Kabupaten Tangerang, misalnya, hingga kini masih diliputi rasa ketakutan.
Ini semua disebabkan, di salah satu rumah petak kontrakan di Kampung Teriti, tepatnya di RT 04 RW 04 Kotabumi, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Ny Sri Rumiyati membunuh suaminya, Hendra.
Data dari Kepolisian Polda Metro Jaya dan Kepolisian Sektor Pasar Kemis, Tangerang, ada warga setempat yang sampai memilih meninggalkan rumah kontrakannya hanya karena lokasinya berdekatan dengan rumah pembantaian Hendra. Warga sekitar sama sekali tidak menduga, seorang perempuan yang mereka kenal dan terlihat baik, serta ramah sehari-harinya itu bisa membunuh dengan cara sekejam itu.