Category Archives: narkotika

Ingin Dihukum Ringan Dalam Kasus Narkoba … Jadilah Artis

Rendahnya hukuman terhadap artis yang tersandung kasus narkoba disorot kalangan praktisi hukum. Mereka menilai seharusnya pengadilan menghukum lebih berat mengingat artis merupakan figur publik.

“Sebaiknya hukuman kepada mereka diperberat. Karena sebagai panutan, gaya hidup mereka mendapat peniruan dari masyarakat,” ucap selebriti, pengacara sekaligus politisi Ruhut Sitompul, Sabtu (20/12).

Pria yang selama ini menunjukkan perlawanannya terhadap narkoba itu bahkan menegaskan tidak setuju anggapan bahwa seorang pemakai adalah korban sehingga hukumannya menjadi rendah. Menurut Ruhut, saat menggunakan Narkoba mereka umumnya sadar ingin mencapai sesuatu dengan cara yang melawan hukum. “Memang sampai saat ini hukuman pengguna Narkoba pertama kali sekitar satu tahunan,” katanya.

Diharapkan hukuman ini bisa diperberat, apalagi untuk bandar dan pengedar yang dikatakannya harus dihukum seberat-beratnya.

Hal sama juga disampaikan praktisi hukum Ferry Juan. Seharusnya Public figure atau artis layak dihukum berat asal sesuai dengan tingkat kesalahannya.”

Karenanya, dia menyesalkan hukuman ringan. “Apalagi, jika tersangka kasus narkoba dari kalangan artis itu, malah mengulangi perbuatannya untuk kedua kali,” jelas dia.

SETAHUN PENJARA
Pernyataan keras Ruhut dan Ferry berkaitan dengan hukuman setahun penjara terhadap Sheila Marcia oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena kasus shabu-shabu.

Hukuman ringan tersebut juga dinikmati Roy Marten, Imam S Arifin, Ahmad Albar, Zarima, dan Polo. Begitu juga Ibra Azhari, kasus pertamanya pada tahun 2001, meskipun divonis 1 tahun penjara oleh PN Jaksel, bintang film dari keluarga Azhari ini tak sempat masuk penjara karena dibebaskan sebelum vonis dijatuhkan.

Dia masuk penjara pada tahun 2003 setelah tertangkap lagi karena sebagai pengedar. Aktor ganteng itu divonis hukuman 15 tahun penjara.

Warga Rusia Diculik Di Jakarta Oleh Jaringan Narkoba Rusia Yang Bekerjasama dengan Mafia Narkoba Bulan Sabit Iran

Seorang warga negara Rusia berinisial Sev diculik sekelompok pria Rusia yang diduga menjadi salah satu mata rantai jaringan narkoba Rusia. Penculikan terjadi di Jakarta, Senin (1/12). Para pelaku menuntut uang tebusan senilai 200.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,2 miliar.

Sov, istri korban, sudah mentransfer uang sebanyak 18.400 dollar AS atau sekitar Rp 202, 4 juta, tetapi para penculik belum membebaskan Sev. Mereka menuntut Sov memenuhi seluruh tuntutan uang tebusan dulu.

Kasus ini terungkap setelah Konsuler Kedutaan Besar Rusia di Jakarta Vladimir Pronin melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya, Selasa (9/12). Ketika dihubungi kemarin sore, Vladimir membenarkan laporan tersebut.

”Untuk lebih jelasnya, silakan menemui saya di kedutaan besok (maksudnya Kamis ini),” ucapnya dalam bahasa Inggris. Hal yang sama disampaikan seorang konsuler Rusia lainnya, Grennady A Boyko. ”Besok saja, kedutaan sudah tutup,” ujarnya.

Sore kemarin, Wisma Duta Besar Rusia di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, sepi. Tombol bel pintu sudah ditekan dua kali, tetapi tak seorang pun keluar dari wisma tersebut. Di seberang, di Gedung Kedutaan Besar Rusia, dua petugas keamanan yang ditemui menganjurkan datang Kamis pagi. ”Lebih baik datang besok. Kantor sudah tutup,” ucap salah seorang petugas.

Bertemu mitra bisnis

Dalam laporan ke polisi, Vladimir menjelaskan, awalnya suami Sov, Sev, terbang ke Jakarta menemui seorang mitra bisnisnya berinisial K, yang juga warga negara Rusia. Keduanya bertemu Sabtu (29/11).

Hari Senin (1/12), Sev menghubungi Sov, istrinya, memberi tahu bahwa ia berada di satu ruang. Di sana, ia diberi minum mitra bisnisnya. Sev merasa minuman yang ia minum telah dicampur obat.

Dalam keadaan setengah sadar, Sev dihadapkan kepada seorang pria yang membawa sekantong heroin. Pria itu mengaku polisi. Sampai di sini cerita terputus.

Mengomentari bagian ini, Kepala Unit II Badan Narkotika Nasional Komisaris Besar Siswandi menduga kasus ini ada hubungannya dengan sindikat heroin Rusia.

Sepengamatannya, sampai saat ini polisi di Tanah Air belum pernah mengungkap jaringan narkoba Rusia, ”Dan tampaknya memang belum masuk ke sini,” ucapnya.

Meski demikian, kalaupun akhirnya terungkap, Siswandi menduga sindikat narkoba Rusia menumpang jaringan Narkoba Bulan Sabit. Jaringan ini beranggotakan sindikat Iran, Afghanistan, dan Pakistan.

Pada bagian lain laporan Vladimir ke polisi disebutkan, sejak suaminya mengaku diracun dengan minuman, seorang pria Rusia berulang kali menghubungi Sov, menuntut uang tebusan.

Sov lalu mentransfer uang empat kali, masing-masing sebanyak 4.600 dollar AS atau total 18.400 dollar AS. Uang ditransfer dari sebuah bank ke sebuah cabang bank di Bekasi dan Jakarta. Meski demikian, para penculik belum mau membebaskan Sev. Mereka menuntut Sov mentransfer sisa uang tebusan yang belum diserahkan.

Dalam penyelidikan

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan (Kasat Jatanras) Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nico Afinta yang dihubungi semalam membenarkan adanya kasus penculikan ini. Ia mengatakan, pihaknya sedang menyelidiki kasus tersebut.

”Identitas korban sudah kami peroleh berdasarkan keterangan istrinya,” tutur Nico yang mengaku sedang memburu sejumlah tersangka bersama rekan-rekan kerjanya. Tentang keberadaan istri korban sekarang, Nico tidak bersedia mengungkapkan. Ia juga tidak bersedia memberi penjelasan lebih jauh mengenai kasus penculikan ini.

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane, penculikan terhadap orang asing di Indonesia tergolong jarang. Kasus penculikan terakhir terjadi empat tahun lalu. Umumnya bermotif ekonomi. Neta mengingatkan polisi harus serius menanganinya karena menyangkut citra Indonesia di mata internasional

Pabrik Shabu Shabu Beromzet 500 Milyar Per Bulan Digrebek Polisi

Polda Metro Jaya membongkar sindikat perdagangan narkoba internasional di Perumahan Taman Ratu, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Polisi menduga komplotan Shichan ini memasarkan barang haram itu untuk kawasan Asia yakni Thailand, Hongkong, Malaysia dan Singapura menggunakan jalur transportasi pengiriman lewat laut dan udara.

Menurut Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Pol, Arman Depari, tersangka Shinchan dan kaki tangannya: Thamrin,34, Apen,33, Hendrik, 35, dan istrinya Ny.Shinta sudah lama diburu polisi. Komplotan ini dalam memproduksi shabu dibantu dua ahli WN Hongkong yakni Wing Yiu dan Shi Yung.

“Komplotan ini, bisa memproduksi shabu-shabu sedikitnya 300 kilogram dalam satu bulan. Total uang yang mereka dapatkan lebih dari Rp 500 miliar setiap bulannya,” kata Arman Depari, Jumat (21/11).

Pelaku diduga meloloskan bubuk haram itu setelah kerjasama dengan oknum-oknum di bandara. Khusus Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, menurut Shichan dalam beberapa bulan terakhir sulit dilewati karena pengawasannya ketat. Sebagai jalur alternatif, komplotan ini mengirim barang lewat beberapa bandara di Pulau Jawa dan Sumatera.

Menurut Arman, sebelum tim polisi pimpinan AKBP Jufri melakukan pengerebekan sekitar pukul 21.00 pihaknya mencurigai taksi yang ditumpangi beberapa orang masuk ke rumah tersebut. Tak lama kendaraan itu keluar dan penumpangnya kosong. Bersamaan itu, anggota langsung menggerebeknya.

Saat rumah digerebek, polisi menemukan barang bukti shabu-shabu yang sudah jadi dan setengah jadi. Selain itu, polisi juga mengamankan sembilan orang , dua diantaranya WN Hongkong. Mereka adalah Chi Shing dan Wing Yui, keduanya dikenal sebagai tim ahli soal shabu.

Barang bukti yang disita bahan untuk memproduksi shabu yakni shabu kristal halus seberat 20 kg dan 10 kg bubuk, aseton 9 botol, efidrin 3 botol, botol kimia yg berisi bahan jenis shabu belum matang, timbangan digital, pemanas listrik, beberapa plastik rekat, beberapa bahan kimia yang masih diteliti dan mobil colt B 9784 QB.

Sejumlah bahan campuran kimia itu, menurut Arman, adalah bahan pembuat sabu-shabu itu didatangkan khusus dari Hongkong. “Keberhasilan ini setelah kami mendapat informasi dari Singapura,” ujar Arman. Ia menjelaskan keberhasilan ini atas kerja sama dengan kepolisian dari Bangkok, Filipina,Thailand, Singapura, Manila dan Australia dan Hongkong dalam pemberantasan narkoba.

BAHAN BARU
Metode produksi pembuat shabu-sahbu ini tergolong baru yakni mencampurnya dengan cairan kimia. ” Cara seperti ini baru pertama kali terjadi di Indonesia.” Selain Indonesia produksi pembuat shabu-shabu juga pernah terjadi di Malaysia. “Kami masih mengembangkan kasus ini untuk mengetahui tempat lainnya,”ungkapnya.

Kapolri Jenderal Bambang ,Hendarso Danuri, yang datang ke lokasi mengatakan, pabrik shabu-shabu yang diungkap Polda Metro Jaya ini terbesar tahun 2008. “Setiap hari pabrik sabu ini mampu memproduksi sepuluh hingga dua puluh kilogram shabu-shabu dengan nilai Rp40 miliar,” ujar Kapolri yang didampingi Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman.

Menurut Bambang, lokasi tersebut sudah lama diintai petugas. Sebelum mengontrak di lokasi itu tersangka juga pernah tinggal di daerah Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakut.

DIKONTRAK Rp 25 JUTA
Rumah semi permanen berukuran 300 M2 di Taman Ratu Blok E 1 No. 6 A letaknya sangat strategis. Selain di blok tersebut jalan buntu, pintu gerbangnya ditutup pagar besi setinggi tiga meter. Rumah dikontrakan seharga Rp 25 juta per tahun. “Saya tidak menduga dijadikan sebagai pabrik shabu-shabu,” jelas Ahwet, pemilik rumah.

Didi, 50, Ketua RT 012/013 Kel. Kedoya Utara, menjelaskan, di Taman Ratu dalam kurun dua tahun terakhir sudah tiga kali berlangsung penggerebekan rumah yang dijadikan pabrik ekstasi, penggandaan VCD dan kali ini sebagai pabrik shabu-shabu beromzet puluhan miliar sehari. “Meskipun sudah sebulan lalu dikontrak, tapi penghuni baru tiga hari masuk rumah. Dan selama itu tidak pernah melapor ke pengurus RT,” tutur Didi di lokasi.

Kasus Penyalahgunaan Narkoba Di Palembang Meningkat Tajam

Kasus penyalahgunaan narkoba di Palembang dalam setahun terakhir cenderung meningkat. Sebagian besar pelaku berusia di bawah 30 tahun. Peningkatan tersebut perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat guna menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkoba.

Ketua Pelaksana Harian Badan Narkotika Kota (BNK) Palembang Zailani Ujang Dani, Senin (17/11), mengatakan, sejak Januari hingga Oktober 2008, kasus penyalahgunaan narkoba yang terungkap sebanyak 195. Pelaku yang tertangkap meliputi pemakai dan pengedar dengan persentase pemakaian terbesar ganja.

Pada tahun 2007, jumlah kasus penyalahgunaan narkoba yang terungkap 198 kasus. Meskipun lebih besar, angka tersebut menunjukkan jangka waktu setahun. Sementara data tahun 2008 masih terhitung sampai Oktober. ”Artinya ada peningkatan,” ujarnya.

Menurut Zailani, sebagian besar pelaku penyalahgunaan narkoba berusia di bawah 30 tahun, beberapa di antaranya pelajar. ”Pelajar yang masuk kasus sekitar satu persen, tetapi tidak bisa meraba yang belum terkasus,” katanya.

Ia mengatakan, di satu sisi peningkatan jumlah pengungkapan kasus penyalahgunaan narkoba memperlihatkan meningkatnya kinerja petugas. Namun di sisi lain, kondisi tersebut memprihatinkan karena menunjukkan semakin banyaknya masyarakat yang menjadi korban narkoba.

Oleh karena itu, upaya untuk memberantas peredaran narkoba harus terus dilakukan. Persoalan tersebut merupakan persoalan serius karena menyangkut masa depan generasi muda. ”Lihat pencandu sangat menyedihkan, terapi juga tidak mudah sembuh,” ujar Zailani.

Penyuluhan

Salah satu upaya memberantas peredaran narkoba adalah dengan memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah. Penyuluhan dalam bentuk tatap muka dan razia seperti dilakukan kemarin. Salah satu sekolah yang dirazia adalah SMA negeri di Kecamatan Gandhus.

Selain di sekolah, tim menjaring 14 siswa saat keluyuran di pusat perbelanjaan pada jam belajar. Sosialisasi juga dilakukan di 107 kelurahan yang ada di Kota Palembang.

BNK juga memfasilitasi para pemakai yang ingin melakukan terapi. Terapi dilaksanakan di Pusat Rehabilitasi Lido, Sukabumi, Jawa Barat.

BNK meminta masyarakat untuk aktif memberikan informasi mengenai keberadaan para pengedar narkoba. Saat ini peredaran narkoba diperkirakan sudah merata di Palembang.

Koordinator LSM Sriwijaya Plus, LSM pendamping korban narkoba, Rahmat Saleh, mengatakan, pemerintah harus memutus jaringan narkoba. Para pemakai merupakan korban dari peredaran barang-barang terlarang tersebut.

Menurut dia, isu narkoba merupakan isu paling berat karena menyangkut masa depan bangsa. Banyak korban narkoba yang terpaksa tak melanjutkan sekolah.

Selain itu, penyalahgunaan narkoba juga bisa mengarah pada tindakan kriminal.

Para pengguna narkoba suntik bisa menghabiskan Rp 500.000 per hari untuk memenuhi kebutuhannya. ”Dari situ bisa tumbuh perilaku kriminal,” ujarnya.

Pengguna narkoba suntik juga merupakan populasi terbesar pengidap HIV/AIDS di Palembang.

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Waspadai Bandar Narkoba Asal Afrika Barat

Mabes Polri mengingatkan warga tentang kian kuat dan liciknya peredaran narkoba oleh jaringan Afrika Barat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam Operasi Paniki dengan target khusus orang asing selama Oktober lalu, ada 19 warga asing terlibat dan tiga orang di antaranya ditembak mati.

Direktur IV/Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Brigadir Jenderal (Pol) Harry Montolalu mengungkapkan itu kepada pers di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Jakarta, Jumat (7/11). Harry didampingi Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Bambang Kuncoko.

Operasi dilaksanakan lima tim, yakni BNN dan Mabes Polri serta empat tim daerah, yakni Badan Narkotika Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, dan Sumatera Utara. Dari 498 warga asing yang terjaring, ada 19 orang terlibat kasus narkoba dan tiga orang di antaranya ditembak mati karena melawan atau melarikan diri saat akan ditangkap.

Tiga orang yang ditembak mati ialah Oliver Uchechukwu Osondo alias Today Taouray (Nigeria) dengan barang bukti 100 gram heroin, Victor Thembo Macoba (Afrika Selatan) yang hendak mengedarkan 59,6 gram heroin, dan Steve alias Richard (Nigeria) yang memiliki 40 gram heroin. Total barang bukti heroin yang diambil dari tiga orang ini 199,6 gram.

Sebanyak 16 orang lainnya kini diproses hukum sehingga dari total 19 warga asing yang terlibat kasus narkoba, aparat berhasil menyita 370,1 gram heroin, 28,3 gram hasis, 13,7 gram ganja kering, tiga batang pohon ganja, 25.500 butir ekstasi, dan 200,5 gram sabu. Apabila dijual, nilai narkoba itu mencapai Rp 2,223 miliar lebih.

”Prakiraan jumlah penduduk yang dapat diselamatkan, yakni khusus para pencandu pemula dari barang bukti yang disita, adalah 308.161 orang,” kata Harry.

Menurut Harry, dalam pertemuan interpol yang terkait pemberantasan jaringan narkoba di Bangkok bulan lalu, ada satu catatan penting yang harus diketahui publik di Asia Tenggara, terutama rakyat Indonesia. Catatan itu adalah dari berbagai kasus yang terungkap, jaringan pengedar narkoba di kawasan ini umumnya dipelopori warga asal Afrika Barat.

Bahkan, warga asing yang menjadi narapidana karena kasus narkoba di lembaga pemasyarakatan (LP) masih bisa mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. Kasus seperti ini antara lain ditemukan lewat terpidana Mirke (Nigeria).

Mereka mengendalikan anak buahnya dari LP lewat telepon seluler. Seharusnya, napi atau tersangka kasus narkoba tidak boleh menggunakan telepon.

Bambang menambahkan, modus yang dilakukan warga asing, terutama dari Afrika, tergolong unik. Untuk memuluskan peredaran narkoba, yang pertama dilakukan ialah dengan menikahi perempuan lokal dan mendapatkan keturunan sebagai pengikat hubungan darah. Baru setelah itu istri dijadikan sebagai kurir.

Dengan demikian, semakin luas warga Indonesia yang terlibat jaringan peredaran narkoba. ”Bahkan sampai ada beberapa warga Indonesia yang tertangkap di negara lain karena kasus narkoba ini,” ujar Bambang.

Operasi narkoba yang dilakukan dalam tiga bulan sebelumnya (Juli, Agustus, September), terjaring 6.383 tersangka, termasuk pelajar sekolah menengah. Ada 54 orang dijatuhi hukuman mati. ”Kita berharap tidak ada napi yang dihukum ringan, atau mendapat remisi,” kata Harry

Barang bukti yang disita selama tiga bulan itu mencapai Rp 195,641 miliar. ”Prakiraan jumlah penduduk yang dapat diselamatkan sebagai pencandu pemula dari barang bukti tersebut lebih dari 69 juta orang,” kata Harry.

Selain itu, BNK Kepulauan Seribu hari Jumat kemarin menangkap 13 orang, termasuk dua siswa SMU karena berpesta ganja di Dermaga Pulau Kelapa