Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘orang hilang’

Warga Rusia Diculik Di Jakarta Oleh Jaringan Narkoba Rusia Yang Bekerjasama dengan Mafia Narkoba Bulan Sabit Iran

Desember 11, 2008 · 1 Komentar

Seorang warga negara Rusia berinisial Sev diculik sekelompok pria Rusia yang diduga menjadi salah satu mata rantai jaringan narkoba Rusia. Penculikan terjadi di Jakarta, Senin (1/12). Para pelaku menuntut uang tebusan senilai 200.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,2 miliar.

Sov, istri korban, sudah mentransfer uang sebanyak 18.400 dollar AS atau sekitar Rp 202, 4 juta, tetapi para penculik belum membebaskan Sev. Mereka menuntut Sov memenuhi seluruh tuntutan uang tebusan dulu.

Kasus ini terungkap setelah Konsuler Kedutaan Besar Rusia di Jakarta Vladimir Pronin melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya, Selasa (9/12). Ketika dihubungi kemarin sore, Vladimir membenarkan laporan tersebut.

”Untuk lebih jelasnya, silakan menemui saya di kedutaan besok (maksudnya Kamis ini),” ucapnya dalam bahasa Inggris. Hal yang sama disampaikan seorang konsuler Rusia lainnya, Grennady A Boyko. ”Besok saja, kedutaan sudah tutup,” ujarnya.

Sore kemarin, Wisma Duta Besar Rusia di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, sepi. Tombol bel pintu sudah ditekan dua kali, tetapi tak seorang pun keluar dari wisma tersebut. Di seberang, di Gedung Kedutaan Besar Rusia, dua petugas keamanan yang ditemui menganjurkan datang Kamis pagi. ”Lebih baik datang besok. Kantor sudah tutup,” ucap salah seorang petugas.

Bertemu mitra bisnis

Dalam laporan ke polisi, Vladimir menjelaskan, awalnya suami Sov, Sev, terbang ke Jakarta menemui seorang mitra bisnisnya berinisial K, yang juga warga negara Rusia. Keduanya bertemu Sabtu (29/11).

Hari Senin (1/12), Sev menghubungi Sov, istrinya, memberi tahu bahwa ia berada di satu ruang. Di sana, ia diberi minum mitra bisnisnya. Sev merasa minuman yang ia minum telah dicampur obat.

Dalam keadaan setengah sadar, Sev dihadapkan kepada seorang pria yang membawa sekantong heroin. Pria itu mengaku polisi. Sampai di sini cerita terputus.

Mengomentari bagian ini, Kepala Unit II Badan Narkotika Nasional Komisaris Besar Siswandi menduga kasus ini ada hubungannya dengan sindikat heroin Rusia.

Sepengamatannya, sampai saat ini polisi di Tanah Air belum pernah mengungkap jaringan narkoba Rusia, ”Dan tampaknya memang belum masuk ke sini,” ucapnya.

Meski demikian, kalaupun akhirnya terungkap, Siswandi menduga sindikat narkoba Rusia menumpang jaringan Narkoba Bulan Sabit. Jaringan ini beranggotakan sindikat Iran, Afghanistan, dan Pakistan.

Pada bagian lain laporan Vladimir ke polisi disebutkan, sejak suaminya mengaku diracun dengan minuman, seorang pria Rusia berulang kali menghubungi Sov, menuntut uang tebusan.

Sov lalu mentransfer uang empat kali, masing-masing sebanyak 4.600 dollar AS atau total 18.400 dollar AS. Uang ditransfer dari sebuah bank ke sebuah cabang bank di Bekasi dan Jakarta. Meski demikian, para penculik belum mau membebaskan Sev. Mereka menuntut Sov mentransfer sisa uang tebusan yang belum diserahkan.

Dalam penyelidikan

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan (Kasat Jatanras) Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nico Afinta yang dihubungi semalam membenarkan adanya kasus penculikan ini. Ia mengatakan, pihaknya sedang menyelidiki kasus tersebut.

”Identitas korban sudah kami peroleh berdasarkan keterangan istrinya,” tutur Nico yang mengaku sedang memburu sejumlah tersangka bersama rekan-rekan kerjanya. Tentang keberadaan istri korban sekarang, Nico tidak bersedia mengungkapkan. Ia juga tidak bersedia memberi penjelasan lebih jauh mengenai kasus penculikan ini.

Menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane, penculikan terhadap orang asing di Indonesia tergolong jarang. Kasus penculikan terakhir terjadi empat tahun lalu. Umumnya bermotif ekonomi. Neta mengingatkan polisi harus serius menanganinya karena menyangkut citra Indonesia di mata internasional

Kategori: narkotika · orang hilang · pelanggaran HAM · penculikan

Marcella Zalianty Menonton Secara Langsung Lewat Bluetooth Penyiksaan, Penelanjangan, Pemerkosaan dan Minum Sperma Dari Korban Yang Ia Culik Hanya Karena Berhutang

Desember 6, 2008 · 1 Komentar

Polisi masih memeriksa pembalap Ananda Mikola dan aktris Marcella Zalianty sampai tadi malam dalam kasus penculikan dan penganiayaan desainer interior Agung Setiawan. “Mereka sedang menjalani pemeriksaan tambahan,” kata Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Ike Edwin.

Keduanya bersama tiga orang lainnya sudah diperiksa lebih dari 24 jam sebagai tersangka. Ananda, 28 tahun, dan Marcella, 28 tahun, bersama tiga karyawan Marcella ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis lalu. Tiga karyawan itu adalah M. Harianto, Yoga Mega Permana, dan Ruli Hasbi.

Tadi malam, dua lagi karyawan Marcella dijadikan tersangka. Ananda adalah putra bekas pembalap nasional Tinton Soeprapto. Moreno Soeprapto, adik kandung Ananda, sempat diperiksa sebagai saksi. Ananda dan tiga karyawan Marcella dijerat Pasal Pemaksaan Kehendak dan Penculikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Marcella dituduh merampas kemerdekaan seseorang, menyandera, serta melakukan perbuatan tak menyenangkan.

Pengacara korban, Petrus Balla Pattyona, mengatakan mestinya polisi menahan para tersangka. “Semua unsur untuk segera menahan para pelaku sudah tercukupi,” katanya. Marcella dinilainya mengendalikan penculikan dan penganiayaan terhadap kliennya.

Menurut dia, ada bukti percakapan telepon antara Marcella dan para karyawannya itu. “Semua aktivitas anak buah Marcella dikoordinasikan dengan Marcella melalui hubungan telepon.” Bahkan gambar ketika Agung disiksa ditransfer via Bluetooth ke telepon seluler Marcella.

Polisi belum menerbitkan surat penahanan. Tapi seorang penyidik memberikan isyarat bahwa mereka bakal ditahan. “Mereka pulang nggak sekarang? Ini udah lewat jamnya (pemeriksaan sebagai tersangka),” kata penyidik kepada Tempo.

Pengacara Marcella, Minola Sebayang, dan Heri Subagyo, pengacara Ananda, menyatakan belum menerima surat penahanan klien mereka. “Kami terpikir mengajukan penangguhan penahanan,” ujar Heri kepada Tempo kemarin petang.

Minola menjelaskan, Hari, Yoga, dan Ruli memang karyawan Marcella. Kliennya tak pernah menyuruh mereka menganiaya Agung. Ketiganya “bertindak” karena kesal lantaran Agung memberikan alamat fiktif dalam kontrak. “Apalagi ketika tahu Agung sedang karaoke di Menara Imperium,” katanya.

Semua itu bermula dari kisah Agung yang berutang kepada PT Kreasi Anak Bangsa, yang dipimpin Marcella, sebesar Rp 54 juta. Utang ini muncul ketika ia menggarap interior kantor PT Kreasi di gedung Central Cikini Nomor 58 W-X, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Diduga, gara-gara itulah ia “dijemput” karyawan Marcella dari Menara Imperium, Kuningan, lalu dianiaya dan diperlakukan tak senonoh di Hotel Ibis Tamarin, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, pada Rabu dinihari lalu. Agung mengaku dipukul, ditelanjangi, difoto, lalu duburnya dimasuki sendok. “Saya juga disuruh meminum sperma,” ucapnya dua hari lalu.

Tinton Soeprapto menyatakan Ananda tak berada di hotel tempat Agung dianiaya. “Kalau dia berniat mau berantem, tak mungkin pakai baju batik,” ujarnya.

Kemarin tim pengacara korban dan Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid menyerahkan bukti rekaman CCTV di Menara Imperium kepada Markas Besar Polri. “Kepala Bareskrim (Komisaris Jenderal Susno Duadji) berjanji mengawal kasus ini,” ucap Usman.

KURSUS KEPRIBADIAN MARCELLA ZALIANTY TIDAK MENGUBAH BANYAK TABIATNYA

Kasus penganiayaan yang menyeret Marcella Zalianty membuat produksi film layar perak berjudul Lastri terhambat. Apalagi belum ada kepastian kapan pemeriksaan oleh polisi bakal tuntas.

Posisi putri aktris senior Tety Liz Indriati tersebut memang menentukan karena ia adalah produser sekaligus pemeran utama film yang disutradarai Erros Djarot itu. “Agenda yang jelas terganggu adalah pembuatan film Lastri,” kata Sheila, manajer Marcella, ketika dihubungi di Jakarta kemarin.

Sebelumnya, pembuatan Lastri tersendat perizinan di Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Sheila pun sedang berembuk dengan tim produksi Lastri untuk mengantisipasi persoalan ini.

Marcella bersama kekasihnya, Ananda Mikola, dan tiga karyawan Marcella menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Agung Setiawan. Marcella, kelahiran Jakarta, 7 Maret 1980, diancam pasal perampasan kemerdekaan seseorang, penyanderaan, serta perbuatan tak menyenangkan. Agung adalah bekas desainer interior kantor PT Kreasi Anak Bangsa di gedung Central Cikini Nomor 58 W-X, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, yang dipimpin Marcella.

Kasus itu dilatarbelakangi utang Agung kepada PT Kreasi sebesar Rp 54 juta. Agung melaporkan, ia “dijemput” karyawan Sheila, lalu dianiaya dan diperlakukan tak senonoh di Hotel Ibis Thamrin pada Selasa malam lalu. Esok harinya, Agung bertemu dengan Marcella dan Ananda di PT Kreasi.

Nama Marcella, putri pertama pasangan Gozali Amran-Tety Liz Indriati, melambung setelah sukses di dunia sinetron dan membintangi film, seperti Bintang Jatuh, Eliana Eliana, dan Brownies. Bahkan ia dianugerahi Pemeran Perempuan Terbaik oleh Festival Film Indonesia 2005 dalam film Brownies.

Ibunya beberapa kali membintangi film, di antaranya Barang Antik (1983), Hatiku Bukan Pualam (1985), dan Takdir Marina (1986). Olivia Zalianty, adik Marcella, juga aktris film dan sinetron. Tety pernah mengatakan sifat maskulin Marcella muncul ketika kecil sehingga ia mendaftarkannya ke kursus kepribadian dan perlombaan model tapi ternyata tidak banyak mengubah kepribadiannya.

ANANDA NIKOLA SANG PEMBALAP NASIONAL DARI HERO KE ZERO

Jika kasus hukum yang melilit Ananda Mikola tak juga selesai, pembalap Formula A1 itu terancam batal mengikuti 10 seri balap Super Star, yang mulai berlangsung pada Februari 2009. “Bisa saja batal,” kata Tinton Soeprapto, ayah Ananda, kepada Tempo kemarin. Super Star adalah arena bagi para pembalap yang tidak bisa mengikuti Formula 1 dan juga World Series.

Menurut Tinton, Ananda tak bisa diganti dalam ajang ini karena pesertanya harus memiliki lisensi A Eropa. Padahal dialah satu-satunya pembalap Indonesia yang memiliki lisensi itu. “Tidak ada yang bisa gantikan Nanda,” katanya.

Ananda Mikola Soeprapto–lahir di Jakarta, 27 April 1980–pertama kali mengikuti lomba balap pada 1993, ketika usianya baru 13 tahun, dengan kendaraan Honda V-Tech Grup N. Pembalap favoritnya adalah mendiang Ayrton Senna, juara dunia tiga kali Formula 1 asal Brasil.

Kata “Mikola” di belakang nama Ananda diadopsi dari nama pereli veteran dan mantan juara dunia Hannu Mikola. Tinton Soeprapto, yang pernah menjadi navigator Hannu Mikola dalam kejuaraan reli di Indonesia pada 1976, sangat terkesan dengan pembalap Finlandia itu sehingga memakai Mikola sebagai nama belakang Ananda.

Nanda–begitu Ananda Mikola biasa dipanggil–bercita-cita ingin tampil di Formula 1, arena balap paling bergengsi di dunia. Bakat balapnya sudah ia perlihatkan ketika masih kanak-kanak dan berkali-kali menjuarai lomba balap sepeda BMX pada 1986.

Ananda tampil di Formula 3.000 pada 1999 hingga 2001. Pada musim lomba 2005, dia menjuarai Asian F3. Ananda ikut membela tim A1 Indonesia di arena A1 GP selama dua musim, yaitu 2005/2006 dan 2006/2007. Pada 2008 ini, Indonesia diwakili Satrio Hermanto.

Di arena Speed Car–arena balap yang mirip balapan Nascar di Amerika–Ananda tampil di empat seri di Uni Emirat Arab, Bahrain, Indonesia, dan Malaysia. Lomba ini digelar pada akhir 2007 hingga pertengahan 2008. Di Sirkuit Sentul, Ananda menempati urutan ketiga. Juni lalu, Ananda berada di urutan ketiga Formula 3.000 di Italia.

“Saya bangga pada Ananda karena dia selalu memberikan prestasi buat saya,” kata Tinton. Entah kasus penculikan dan penganiayaan berat ini termasuk prestasi atau tidak menurut Tinton.

Kategori: kebodohan · kejahatan terorganisasi · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · psikopat · selebriti psikopat

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

November 12, 2008 · 1 Komentar

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Wanita Asal Lampung Diduga Menjadi Pelaku Mutilasi Di Bus Mayasari

Oktober 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Polisi menunda menyebar sketsa wajah wanita pembawa mayat potong 13 yang ditinggal di bus untuk penyidikan lebih lanjut. Alasannya keluarga H Hasan, pria yang diduga sebagai korban mutilasi, mengenal sosok perempuan itu.

Sumber Pos Kota menyebutkan perempuan berambut pendek itu suka merokok dan berasal dari Lampung. Dia termasuk salah satu dari sekian teman wanita yang cukup dekat dengan makelar tanah yang tinggal di Bekasi tersebut.

Meskipun hasil tes DNA belum diumumkan polisi, namun penyidikan mulai mengarah kepada H Hasan Basri sebagai korbannya. Keluarga Hasan sendiri kini tertutup, bahkan istri dan ibunya syock dan mengurung diri di rumah.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman saat dikonfirmasi mengatakan tidak mau gegabah dalam menyimpulkan siapa korban mutilasi. Sketsa wajah pembawa bungkusan potongan mayat belum disebar karena identitas korban belum dipastikan.

“Kita tidak mau salah identifikasi, kita masih menunggu kecocokan tes DNA. Penyidikan memang mulai mengerucut,” kata kapolda usai sertijab Kapolri di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (9/10).

GOLONGAN DARAH B
Ahli Forensik RSCM, dr Mun’im Idris mengatakan, belum mengetahui secara pasti penyebab kematian korban sebelum akhirnya dimutilasi. “Baru ditemukan tusukan di bagian tubuhnya. Golongan darah korban adalah B,” katanya.

Tim penyidik Polda Metro Jaya mengaku kesulitan mengungkap kasus potongan tubuh manusia yang ditinggal di bus Mayasari Bakti P 64 jurusan Pulogadung-Kalideres pada 29 September 2008 itu.

Kanit Jatanras Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kompol J.Saragih mengku penyelidikan terfokus pada pencarian identitas korban karena bukti yang dimiliki polisi sangat minim.

“Kami belum bisa mempublikasikan sketsa wajah itu karena belum sempurna. Bukti yang bisa dipublikasi hanya tato macan,” dalih Saragih.

Dia mengimbau masyarakat yang keluarganya hilang dan mempunyai ciri tato macan untuk segera melapor. “Hingga saat ini baru ada dua warga melapor salah satunya keluarga Hasan Basri dari Bekasi,” katanya.

KELUARGA HASAN TERPUKUL
Ditemui di rumahnya di Bekasi, keluarga H Hasan Basri terlihat terpukul meski polisi belum menyimpulkan siapa korban mutilasi itu. “Istri Haji Hasan dan ibu saya sekarang syock, tidak mau keluar rumah,” kata H Mustofa, adik Hasan.

Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya saat baru melapor kehilangan kakaknya, H Mustofa kini tak mau banyak komentar. “Semua kami serahkan ke polisi,” tambah Mustofa yang berencana akan ke Cirebon untuk mencari pembuat tato macan di lengan kakaknya.

Kategori: mutilasi · orang hilang · pembunuhan

Pelaku Mutilasi Di Bus Mayasari Diduga Mengidap Kelainan Seksual

Oktober 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pelaku mutilasi di Bus Mayasari diduga kuat mengidap kelainan seksual. Hal itu terlihat dari bentuk sayatan dan cara pemotongan tubuh korban yang dilakukan pelaku. Meski demikian, polisi masih belum menemui titik terang mengenai kepastian identitas pelaku maupun korbannya.

“Mutilasi biasanya dilakukan untuk menghilangkan jejak atau dilatarbelakangi oleh kelainan seksual pelakunya,” kata dr Mun’im Idris, ahli forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), usai gelar perkara kasus mutilasi di Mapolda Metro Jaya, Rabu (8/10).

Meski demikian, Mun’im belum bisa menentukan jenis kelainan seksual yang diderita oleh pelaku. “Belum tentu homoseksual karena bentuk kelainan seksual itu bermacam-macam,” katanya. Mun’im menambahkan, tidak menutup kemungkinan pelaku menggunakan kekerasan ketika berhubungan seks.

Kesimpulan yang menyatakan pelaku diduga mengidap kelainan seksual terlihat dari 13 potongan tubuh korban mutilasi yang ditemukan di dalam bus Mayasari Bakti P64. Salah satu potongan tubuh tersebut adalah bagian kemaluan pria dan potongan kulitnya. “Banyak bagian tubuh korban yang dihilangkan oleh pelaku,” kata Mun’im.

TES DNA
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Metro Jaya, Kombes dr Agus Prayitno, mengatakan, pihaknya segera melakukan tes Deoxyribo Nucleic Acid(DNA) terhadap tubuh korban. “Nanti hasil tes DNA akan dicocokkan dengan DNA keluarga yang merasa kehilangan,” kata Agus.

Kasat Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya, AKBP Fadhil Imran, mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan ciri-ciri tambahan yang menunjukkan identitas korban. “Tinggi badannya 170 Cm memiliki ukuran sepatu di atas 40,” katanya. Selain itu, korban merupakan pria dewasa yang sudah disunat.

Fadhil menambahkan, korban merupakan seorang pria yang sering menjalani terapi kesehatan tubuh. “Korban memiliki kebiasaan merawat kesehatan tubuh,” kata Fadhil. Namun, lanjutnya, belum diketahui jenis perawatan tubuh seperti apa yang dilakukan oleh korban

Hingga Rabu (8/10), baru ada dua keluarga yang mengaku mengetahui korban, namun polisi belum bisa memastikan kebenarannya. Kalau ada keluarga yang kehilangan silahkan melaporkannya ke call centre Polda Metro Jaya: 08129508867

Sumber Pos Kota

Kategori: mutilasi · orang hilang · pembunuhan

Penyebaran Sketsa Wajah Tersangka Pelaku Mutilasi Ditunda Agar Sempurna

Oktober 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Polda Metro Jaya menunda penyebaran sketsa wajah tampak samping dan tampak muka seorang wanita yang diduga membawa 13 potongan jenazah. Polisi menyatakan, kasus mutilasi masih gelap.

”Penyebaran sketsa ditunda. Kami masih harus melengkapi data dari saksi-saksi lain tentang bentuk wajah yang paling dekat kebenaran,” kata Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran, Rabu (8/10).

”Saya belum bisa menentukan kapan sketsa akan kami sebar. Saya hanya mengatakan, sampai polisi yakin betul bahwa sketsa dua sisi yang dibuat sudah mendekati kebenaran,” tandasnya.

Fadhil menambahkan, saat ini belum ada data dan fakta signifikan dan kasus ini masih gelap. ”Satu-satunya andalan cuma hasil pembanding DNA (deoxyribonucleic acid) antara korban dan keluarga korban. Tapi hasilnya belum ada,” kata Fadhil tegas.

Kategori: mutilasi · orang hilang · pembunuhan

Very Idam Henyaksyah Alias Ryan – Si Tukang Jagal Dan Pembunuh Berantai Homoseksual Gay Dari Jombang Yang Membunuh 4 Orang

Juli 22, 2008 · & Komentar

JOMBANG – Terjun ke dunia gay yang salah menurut agama dengan mengobral cinta sejenis membuat Very Idam Heryansyah alias Ryan, 30, lupa diri. Kenikmatan hidup bergelimang dosa itulah membuatnya terjerat dalam kasus pembunuhan berantai.

Pemuda tampan lemah gemulai ini menjadi tukang jagal berdarah dingin. Ia tidak hanya membunuh Ir. Heri Santoso di Apartemen Margonda Residence, Depok, kemudian memotong tubuh korban menjadi 7 bagian, tapi juga menghabisi nyawa Aril Somba Sitanggang, 34. Bahkan, tiga teman kencannya sesama gay dibantai.

Mayat Heri Santoso yang dimutilasi dimasukkan Ryan kedalam dua koper kemudian dibuang di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Sedang empat korban lainnya dibantai di rumah orangtua tersangka kemudian dikubur di belakang rumah. Pembantaian mengerikan itu dilakukan Ryan dalam 12 bulan terakhir ini.

Perbuatan sadis Ryan membuat tetangga dan kerabatnya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Jombang, Jawa Timur, terperangah. Di halaman belakang rumah orangtuanya itulah, polisi menemukan empat kerangka pria yang dikubur secara terpisah. Senin (21/7) pagi, keempat jenazah gay teman bercinta Ryan digali petugas Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur, dan Polres Jombang.

Menjelang siang, penggalian jenazah empat pria, seorang di antaranya diyakini sebagai WN Belanda, selesai dilakukan. Dengan menggunakan dua ambulan, korban pembantaian ini dibawa ke RS Bhayangkara, Surabaya. “ Di rumah sakit ini jenazah keempat korban akan diotopsi, “ kata Kasat Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Fadil Imron.

4 GAY DIKUBUR
Empat gay yang menjadi korban keganasan Ryan kemudian dikubur di halaman belakang rumah orang tua tersangka, menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs. Carlo B. Tewu, adalah Aril Somba Sitanggang, yang dibunuh pada akhir April lalu. Pria yang bekerja di agen properti ini diketahui pergi ke Surabaya bersama Ryan pada 23 April.

“ Dari hasil pelacakan adanya pengeluaran uang di rekening Aril melakui ATM dan printout telepon seluler korban, didapat informasi berharga bahwa tersangka Ryan dicurigai membunuh Aril, “ kata Carlo, yang turun langsung menyaksikan penggalian jenazah di Jombang.

Ditambahkan Carlo, korban lainnya, Vincen, 28, asal Jombang. Pemuda ini dibunuh pada awal April 2008, dua minggu sebelum Aril dihabisi. Guntur, 30, asal Nganjuk, Jawa Timur dibantai pada pertengahan Juli 2007. Sedangkan Grendy, 28, WN Belanda, dibunuh pada pertengahan Januari 2008. Keempat korban yang dijagal Ryan ini dikubur dalam jarak berdekatan di bawah pohon pisang di belakang rumah orangtua tersangka.

“ Keempat korban ini dibunuh dengan cara dipukul pakai batu dan linggis. Pembunuhan dan penguburan korban dilakukan malam hari, “ tegas Carlo.

Ryan tidak hanya membantai keempat gay tersebut, ia juga dicurigai membunuh seorang ibu rumah tangga bernama Nani dan putranya. Empat bulan lalu, ibu dan anak ini dilaporkan warga kepada petugas yang menggali kerangka gay, pernah jalan bersama Ryan. Sejak itu, korban tidak kelihatan batang hidungnya. Namun, kepastian bahwa Ryan membunuh kedua korban warga Jombang itu masih diusut petugas. Pasalnya, tersangka selalu memberi keterangan berbelit-belit.

Tidak tertutup kemungkinan masih ada korban lain yang dibunuh Ryan. Untuk mengungkap tuntas dan mencari tahu ada korban lain, Carlo menyediakan telepon seluler layanan masyarakat yang siap menampung dalam 24 jam. Nomor telepon itu, 0816851777, 081510666666, dan 08179189993. “ Sekecil apapun informasi yang masuk akan kami pelajari , “ tambah Carlo.

RYAN DIBAWA KE JOMBANG
Sebelum ditemukannya 4 korban pembantaian, petugas memeriksa Ryan dengan ketat. Pemuda yang maniak seks dan doyan foya-foya bersama kaum gay ini memberi alibi bahwa ia tidak membunuh Aril. Kendati bukti berupa tiket kereta api, saksi yang dimintai keterangan, adanya hubungan telepon, dan pengambilan uang Aril di ATM, memperkuat kepergian Aril ke Surabaya, tidak membuat Ryan buka mulut.

Pengakuan Aril ini tidak membuat petugas putus asa. Sabtu siang, dengan menumpang pesawat dan dikawal ketat lima petugas Reserse Polda Metro Jaya, Ryan dibawa ke Surabaya kemudian naik mobil ke Jombang, ke rumah orangtuanya.

Di rumah sedarhana itu, Ryan dipertemukan dengan Ahmad, 54, ayah dan Ny. Saitun, 47, ibu kandung tersangka. Berhadapan dengan kedua orangtuanya, Ryan bersujud minta ampun. Tangis pun meledak di rumah tersebut. Dalam waktu singkat, tetangga berdatangan.

Ketika petugas menggeledah rumah ini, ditemukan beberapa potong baju dan celana, yang mirip dengan kepunyaan Aril. Kedua orangtua Ryan menjelaskan bahwa baju dan celana itu milik teman anaknya. Tapi pasangan ini tidak tahu siapa nama teman anak mereka.

Langkah lain yang diambil petugas adalah memeriksa halaman belakang rumah. Dari tumpukan tanah yang ditemui, petugas curiga ada sesuatu dibalik tanah ini. Karena hari sudah menjelang malam, kecurigaan petugas tidak dilanjuti. Ryan dibawa ke Polres Jombang.

Di kantor polisi ini, Ryan diinterogasi ketat yang melibatkan petugas Polda Jawa Timur dan Polres Jombang. Minggu pagi, petugas mulai menyebar ke perkampungan warga. Dari informasi yang dikumpulkan, didapat tahu bahwa ada warga yang pernah melihat Ryan menggali tanah di belakang rumahnya.

Menjelang tengah malam, Ryan buka mulut bahwa memang benar ia membunuh Aril dan mayatnya dikubur di belakang rumahnya. Tanpa membuang waktu, puluhan petugas mendatangi rumah Ahmad. Petugas Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur memasang police line. Warga diminta tidak mendekat ke lokasi ini.

SAKIT HATI
Senin pagi, penggalian tanah pun dimulai. Begitu mata cangkul menembus tanah, petugas menemukan potongan baju kemudian kerangka manusia. Penemuan yang mengejutkan ini mengundang perhatian ratusan warga yang berbondong-bondong datang melihat penemuan kerangka manusia ini. Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, terutama adanya ada balas dendam, rumah tersangka dijaga ketat. Bahkan Detesement 88 Anti Teror Polda Jatim, diterjunkan.

Penemuan mayat ini membuat Ryan tidak bisa berkelit. Apalagi tidak hanya mayat Aril ditemukan, tapi juga tiga korban lainnya. Kepada petugas, gay yang menyewa apartemen di Depok itu mengakui terus terang semua perbuatannya. “ Saya membunuh karena sakit hati. Mereka saya bunuh karena menolak menikahi saya, “ tutur Ryan, yang mengaku berniat nikah dengan Noval di Belanda.

Namun, alasan pelaku dicurigai polisi sebagai alasan yang tidak masuk akal. Carlo menduga, pelaku menghabisi korban karena ingin menguasai harta bendanya.

Menurut Ryan, dia menghabisi Ariel dengan batu yang dihantamkan ke kepala korban sebanyak tiga kali. Korban tewas kemudian dikubur di samping septik tank di dekat pagar belakang rumah.

IBU ARIL SHOCK
Mendapat kabar anaknya dibunuh Ryan dan mayatnya sudah ditemukan, Ny. Tiarma boru Tambunan, ibu kandung Aril, tak mampu menahan sedih. “Saya sudah mendapat kabar kalau anak saya meninggal. Saya shok anak saya meninggal dengan cara seperti itu,” ujar Tiarma. “Hukum mati saja Ryan.”

Kepastian bahwa jenazah yang dikubur adalah Aril diperoleh polisi dari dua anggota keluarganya yang berangkat ke Surabaya, Minggu pagi. Saat ditanya apakah Tiarma mengenal Ryan, wanita tersebut mengaku tidak mengenal pelaku. “Saya tidak kenal dengan Ryan, saya cuma tahu nama dia dari anak saya,” ujarnya.

Sementara itu, Noval Andreas , pacar Ryan kaget ketika mendengar Ryan terlibat pembunuhan Aril Sitanggang.”Dia kaget diberitahu Ryan juga membunuh Aril. Tersangka Noval mengaku tidak kenal dengan Aril,” ujar Desi, teman Noval saat ditanya usai membesuk rekannya itu di tahanan Narkoba Polda Metro Jaya. Menurut Desi, Noval sempat mengantar Ryan ke Stasiun Gambir yang saat itu akan berangkat ke Surabaya.

Ditangkapnya Ryan, membuat keluarga meradang. “Kami tidak percaya kalau Ryan sebagai pelaku mutilasi. Sebab dia anak baik dan ramah dan supel pasti ada orang lain yang sengaja memfitnah dan mengubur mayat dibelakang rumah kami tanpa sepengetahuan kami, ini semua hanya konspirasi untuk menjatuhkan nama baik  keluarga kami,” kata Dedi Sudarsono,32, paman tersangka. Dedi juga mengaku kurang tahu persis tingkah laku Ryan sejak ke Jakarta.

“Kalau saya tidak seberapa paham. Soal kasus yang terjadi, keluarga juga tidak mengerti. Tahu-tahu ada polisi datang ke sini,” katanya.

BELUM TENTU PSIKOPAT
Menanggapi aksi pembunuhan berantai tersebut, Kriminolog Erlangga Masdiana mengatakan, tersangka Ryan belum tentu seorang psikopat. Alasannya, perlu pemeriksaan oleh dokter jiwa untuk melihat kestabilan emosinya dan membuktikannya.

Menurutnya, tindakan yang dilakukan Ryan karena adanya sejumlah faktor yang kondusif di antaranya waktu, tempat, keberanian dan tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menguasai harta selain mengeksekusi korbannya. “Biasanya pelaku termasuk orang supel dan ramah sehingga tak mudah ditebak apa yang akan dilakukannya,” ujarnya.

Mengenai Ryan yang membunuh dan menggasak harta korban, Erlangga mengatakan, kemungkinan tersangka memiliki bermacam motif mulai dari masalah ekonomi hingga kekecewaan yang membuatnya balas dendam. “Paling tidak, ia memiliki sebuah nilai yang dianggapnya benar hingga ia melakukan aksinya,” katanya.

PENEMUAN JENAZAH
Empat jenazah yang diduga menjadi korban pembunuhan tersangka Verry Idham Henyaksyah (versi lain menyebut Very Idam Henyansyah) alias Ryan (30), ditemukan terkubur di sekitar rumah orang tuanya di Jatiwates, Tembelang, Jombang, Jawa Timur, Senin (21/7). Dua lainnya masih dicari polisi.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Carlo Brix Tewu mengimbau, mereka yang merasa kehilangan keluarganya terkait kasus Ryan, diminta menghubungi nomor telepon selular (Ponsel) 0816851777, atau mengirim pesan lewat pelayanan pesan singkat (SMS) Ponsel 1717.

Carlo mengkhawatirkan jumlah korban yang diduga dibunuh Ryan bertambah banyak. Agar kasusnya cepat tuntas, ia ingin masyarakat lebih banyak terlibat.

Menurut pengakuan Ryan, keempat jenazah yang ditemukan di kebun belakang rumahnya adalah jenazah Ariel Somba Sitanggang (34), Vincent, Guntur, dan Grendy warga negara Belanda. Usia ketiganya diperkirakan 25-30 tahun.

Vincent dan Ariel diduga dibunuh pada akhir April 2008. Guntur dibunuh Agustus 2007, sedang Brendy pada Januari 2008. ”Semuanya baru sebatas pengakuan dan dugaan. Belum melewati penelitian forensik dan sejumlah prosedur penyelidikan dan penyidikan polisi lainnya,” kata Carlo.

KAWAN FITNESS
Dua jenazah lainnya yang belum ditemukan adalah Nani Kristanti (35), dan seorang putranya (3). Keduanya dilaporkan hilang oleh suami Nani.

Menurut suaminya, Nani adalah teman fitness Ryan. Ryan, Nani, dan putranya terlihat terakhir di sebuah toko emas di Jombang, pada tanggal sembilan April 2008.

Anggota Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direskrimum Polda Metro, Ajun Komisaris Danang, membenarkan informasi tersebut.

Ryan adalah tersangka mutilasi Heri Santoso (40) di sebuah apartemen di Margonda, Depok, Jawa Barat, Jumat (11/7). Ryan mengaku mengenal korban di Jalan Karet Pedurenan Raya, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Tiga hari setelah Ariel hilang, orangtuanya melapor ke Polsek Metro Setiabudi dan Polda Metro Jaya. Ryan pernah diperiksa polisi, tetapi dilepas kembali karena tidak cukup bukti. Ariel mengenal Ryan di tempat indekos Ariel yang ditempatinya sejak April 2008 di Jalan Karet Pedurenan Raya, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dua pekan setelah indekos, Ariel menghubungi ibunya. Ariel mengatakan, akan berangkat ke Surabaya bersama Ryan untuk sebuah rencana pembangunan rumah sakit.

ENAM JAM PENGGALIAN
Menjelang penggalian di kebun belakang rumah, Ryan dengan kedua tangan terborgol, diminta menunjukkan lokasi. Penggalian dilakukan mulai pukul 10.00. Sekitar satu setengah jam kemudian, dua dokter forensik Polda Jatim mendapat isyarat, di lubang pertama ada dua mayat. Ketika lubang diperluas, terdapat satu mayat lagi.

Dua jam setelah penggalian pertama, lokasi makam baru ditemukan sekitar empat meter ke arah selatan makam pertama. Di situ terdapat satu mayat. Ketiga jenazah tidak dimutilasi. Penggalian berlangsung hingga enam jam.

Menurut Tarubi (55), tetangga Ryan, tersangka mulai berubah menjadi penyendiri sejak berusia 20 tahun. Ia lalu aktif bergaul dengan menjadi instruktur senam dan pegawai salon di Surabaya.

Kepala Dusun Maijo, Anang Fauzi (33), menambahkan, beberapa tahun terakhir, warga menonaktifkan keluarga orangtua Ryan dari semua kegiatan lingkungan. Tapi ketika ditanya tentang alasan warga mengucilkan keluarga ini, Anang tak mau berkomentar. ”Silakan langsung bertanya kepada warga yang bermasalah dengan keluarga tersebut,” ucapnya.

Di lokasi penggalian, seorang warga, Moh Shobirin (37), mengaku kehilangan keponakannya, Moh Zainul Abidin alias Zaki (21) sejak 7 Januari 2008. Pekerjaan Zaki adalah penyiar Radio Gita FM, Jombang.

“Zaki kenal Ryan lewat temannya yang sudah kenal lebih dulu. Berdasarkan informasi beberapa teman, Zaki terakhir terlihat bersama dengan Ryan,” ujar Shobirin.

Kategori: gay dan lesbian · orang hilang · pembunuh berantai · pembunuhan · perampokan

Aril Somba Sitanggang Diduga Dibunuh Oleh Ryan – Sang Pembunuh Berantai – Pelaku Mutilasi Heri Santoso

Juli 18, 2008 · & Komentar

JAKARTA – Hidup adalah pilihan. Sedangkan perjalanan hidup yang diambil tersangka Very Idan alias Ariansyah alias Ryan, 30, sebagai kaum gay ternyata tidak seindah yang diharapkannya. Pemuda yang doyan mengobral cinta sejenis ini tidak hanya terlibat pembantaian Ir. Heri Santoso, tapi juga dicurigai sebagai pelaku pembunuh Aril Somba Sitanggang yang juga gay alias homoseksual.

Aril Somba Sitanggang, 34, yang bekerja di salah satu perusahaan agen propeti ini, sejak 23 April lalu hilang bagai ditelan bumi. Tiga hari kemudian, keluarga pemuda ganteng itu melaporkan hilangnya Aril ke Polda Metro Jaya. Bahkan, begitu kasus mutilasi yang menimpa Ir. Heri Sansoto mencuat ke permukaan, keluarga menduga Aril dibunuh Ryan.

Ternyata tidak hanya keluarga Aril yang mencurigai Ryan, petugas Polda Metro Jaya juga mengambil sikap yang sama. Untuk membuktikan keterlibatan Ryan dalam kasus pembunuhan tersebut, pemuda yang menyimpan cinta sejati dengan Noval itu diperiksa ketat oleh satuan Reserse Jatanras Polda Metro Jaya.

Kecurigaan adanya hubungan cinta sejenis antara Ryan dan Aril terungkap dari hasil pemeriksaan. Kepada petugas, tersangka mengaku kenal dekat dengan Aril. Sewaktu Aril indekos di rumah mewah di Jalan Karet Pedurenan, RT 09/04, Kel. Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Ryan kerap menyambanginya.

“ Sampai sejauh mana kedekatan hubungan mereka hingga hilangnya Aril, masih kami telusuri, “ kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Drs. Carlo B. Tewu, Kamis (17/7).

Carlo Tewu menjelaskan, pihaknya saat ini memfokuskan pencarian Aril dan hingga kini belum diketahui dimana keberadaan pria tersebut. “ Sejuah ini tersangka Ryan tetap mengaku tidak tahu keberadaan Aril, “ ujar Carlo.

“ Kami minta petugas mengusut tuntas hilangnya Aril. Apalagi Ryan sudah ditangkap. Kami berharap semua ini bisa terungkap. Kami tidak menuduh Ryan membunuh Aril. Tapi mereka saling kenal, “ kata Ny. Tiarma, ibu Aril.

KE SURABAYA
Hilangnya Aril, anak kelima dari enam bersaudara, membuat resah keluarganya. Menurut Ny. Tiarma, 23 April lalu, Aril minta ijin pergi ke Surabaya, Jawa Timur. Keberangkatannya Aril berkaitan ada rencana proyek pembangunan rumah sakit. “ Proyek pembangunan rumah sakit ini diberikan oleh Ryan, “ ujar Ny. Tiarma.

Ke Surabaya, mereka hendak survei lokasi. Rencananya, pembangunan rumah sakit itu akan dilakukan oleh Aril. “ Anak saya menjelaskan lahan yang akan dibangun untuk rumah sakit itu milik orang tua Ryan, “ kata Ny. Tiarma.

Sebelum Aril berangkat ke Surabaya, sekitar pukul 07.00 pagi, Ryan mengajak Yono penjaga rumah kos untuk membeli tiket kereta api tujuan Surabaya di Stasiun Gambir.

Sekitar pukul 09.00, Yono dan Ryan kembali ketempat kos Ariel. Menurut Yono, yang sempat dimintai keterangan seputar hilangnya Aril, ketika sibuk membersihkan kamar yang berada disamping kamar Ariel, ia menyempatkan menelepon Ny. Tiarma. Kepda wanita ini, Yono menginformasikan bahwa Aril sore ini akan berangkat ke Surabaya dan kini sudah berada di stasiun.

Bahkan Ny. Tiarma sempat menanyakan keseriusan Aril pergi ke Surabaya bersama Ryan, yang baru sebulan dikenalnya. “ Ketika saya berbicara melalui HP dengan Aril, anak saya mengatakan kalau Ryan yang ditunggunnya sudah datang di stasiuan. Aril mengatakan dimana dia tinggal di Surabaya, akan dikabari melalui SMS, “ tutur Ny. Tiarma.

Ternyata pembicaraan melalaui HP itu adalah pembicaraan terakhir antara ibu dan anak. Sejak itu, Aril tak ada kabar beritanya. Nyonya Tiarma mulai cemas dan gelisah. Wanita itupun berkali-kali menghubungi ke telepon seluler anaknya, namun usahanya itu sia-sia. HP Aril tidak aktif. Bahkan ibu rumah tangga ini sempat meminta suadaranya untuk menghubungi Aril, namun hasilnya tetap sama.

RYAN PERNAH DIPERIKSA
Upaya mencari Aril terus dilakukan, tapi nihil. Bersama sopirnya Kurnanto, Ny. Tiarma mendatangi rumah kos Aril, ternyata kamar kos Aril kosong.

Ketika hilangnya Aril dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Kurnanto dimintai keterangan. Kepada penyidik, ia mengatakan, dua hari setelah kepergian Aril ke Surabaya, ia menyempatkan diri datang ke rumah kos Aril. Saat itu, Kurnanto bertemu dengan Ryan.

Ketika Kurnanto menanyakan keberadaan Aril, tersangka Ryan yang membantai Heri Santoso di Apartamen Margonda Residence, Depok kemudian memotong tubuh menjadi 7 bagian, menjelaskan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan Aril, apalagi pergi ke Surabaya. “ Saya juga kesulitan menghubungi Aril, “ kata Ryan ketika itu.

Saat itu Ryan menjelaskan, ia memang pernah janjian dengan Aril di Stasiun Gambir, sekitar pukul 16.00, namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Karena Aril tidak datang, akhirnya Ryan berangkat sendiri ke Surabaya. Pada hari Kamis (24/4), ia balik lagi dan sampai di Jakarta hari Jumat.

Karena tidak kunjung ditemukan, keluarga korban sempat melaporkan kasus hilangnya Ariel ke Polda Metro Jaya dengan No.Pol LP/1077/k/IV/2008/ SPK unit II. Setelah menerima laporan polisi lalu mengecek sinyal keberadaan telepon Aril. Dari situ diketahui Aril sempat berada di Ceper, Solo, Jawa Tengah. Bahkan ada informasi, Aril juga pernah berada di Pantura, Surabaya, dan Mojokerto.

Pada 24 April, polisi juga mengecek ke Stasiun Gambir dan mendapat tahu ada tiket keberangkatan KA Anggrek atas nama Ryan dengan tujuan Surabaya, berangkat pukul 21:30.

Bahkan polisi juga pernah memeriksa Ryan, dari hasil keterangannya dia tetap mengaku tidak tahu keberadaan Aril. Bahkan dua minggu kemudian Ryan kembali diperiksa, namun hasilnya tetap sama belum ada perkembangan. “Saya saat ini sedang sakit karena memikirkan Aril,” tutur Ny.Tiarma Sitanggang.

Dia juga mengaku anaknya bekerja di properti sedirian. “Sejak lulus sekolah pada tahun 2002, Aril pernah menaksir seorang wanita. Ketika itu dia pernah bilang sama saya senang dengan wanita itu. Tapi sejak itu pula mereka tak pernah ketemu lagi,” tambahnya.

KOS DUA MINGGU
Aril Sitanggang, yang dilaporkan hilang tiga bulan lalu sempat kos di Jalan Karet Pedurenan., Jaksel. Namun pria berperawakan atletis dan berkulit putih ini hanya dua minggu kos di tempat mewah yang bertarif Rp2,6 juta/bulan.

Yono, 30, pegawai kos, menyatakan saat tinggal di tempat itu Aril tidak pernah didatangi teman maupun keluarganya. “Aril orangnya tertutup dan jarang bergaul. Saya juga tidak tahu pekerjaan Aril. Ia tiba-tiba pergi dari tempat kos, padahal sudah membayar uang sewa untuk sebulan,” katanya.

Yono mengaku tidak tahu alamat keluarganya. Kamar 212 yang dulu ditempati Aril, kini dihuni seorang karyawati perusahaan asing. Terkait dengan menghilangnya Aril, Yono mengakui pernah dipanggil sebagai saksi oleh Polda Metro Jaya pada April lalu.

IBU NOVAL SHOCK
Nyonya Endang, 50, ibu kandung Noval Andreas, 28, tersangka yang dkasus mutilasi shock berat ketika dijumpai di rumahnya, Kamis (17/7). Bahkan ibu beranak lima ini mengaku tidak ada satupun polisi mengabarkan penangkapan anak bungsunya itu.

Orangtua Noval yang tinggal di Perumahan Cikande Permai Blok H7 No.11, Kec. Cikande, Serang, Banten, langsung menanyakan perihal penangkapan Noval. Setelah dijelaskan, sektika itu juga ia terlihat pucat bahkan nyaris pingsan.

“Sebentar Pak, saya sama sekali belum tahu kabar ini. Bapak tahu dari mana kalau anak saya terlibat kasus pembunuhan,” suara Endang gemetaran seraya memegang bekas jahitan operasi di tubuhnya.

Setelah beristirahat sebentar, istri dari Hanafiah ini menjelaskan pihak keluarga tidak percaya jika anak bungsunya ini terlibat pembunuhan. “Saya nggak percaya, kalau Noval ditangkap. Lagian kenapa polisi tidak memberitahu,” tanya istri pensiunan Imigrasi ini.

Selama ini dirinya jarang bertemu dengan Noval. Komunikasi hanya melalui telepon. “Tidak percaya itu, karena saya tahu benar perilaku anak bungsu saya itu.”

Komunikasi terakhir dengan Noval terjadi Jum’at (11/7) lalu. Anaknya yang bekerja di Kantor Imigrasi Depok, menelepon dan membicarakan rencana untuk pergi ke Kuningan, Jawa Barat menjenguk salah seorang saudaranya.

Ditanya tentang hubungan Noval dengan Very Idam alias alias Ryan, ia mengaku tidak tahu.

TAK KENAL ARIL & RYAN
Yuli Rustinawati, 32, Sekjen Arus Pelangi, sebuah organisasi yang menolak penggunaan segala bentuk kekerasan terhadap kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender, mengaku tidak mengenal Aril Somba Sitanggang. “Kami memiliki 300an anggota di seluruh Indonesia. Kami belum pernah kenal dengan nama itu.”

Ketika disinggung mengenai Ryan yang disebut-sebut sebagai ketua gay Jakarta, Yuli juga tak mengetahuinya. “Tapi mungkin saja benar. Karena banyak sekali kelompok-kelompok gay di Jakarta. Mereka sering kumpul-kumpul bareng,” jelasnya.

RUMAH KOS DIGELEDAH
Petugas gabungan Satuan Jatanras Polda Metro menggeledah rumah kontrakan Ryan di Pesona Kayangan, RT 04/01, Kelurahan Kemiri Muka, Beji, Depok Timur, Kamis (17/7).

Dalam penggeledahan tersebut polisi menyita sejumlah peralatan rumah tangga termasuk sebuah kaos yang terdapat noda darah. Selain di rumah kontrakan, polisi juga menggeledah kamar apartemen yang ditempati Ryan dan pacarnya Noval di Apartemen Margonda Residence. Ditempat itu polisi menemukan besi yang digunakan pelaku untuk menghabisi Heri Santosa.

Polisi menyisir bagian belakang gedung apartemen dan menemukan dompet, dokumen serta tas korban. Barang-barang tersebut dibuang oleh pelaku beberapa jam setelah menghabisi korban. Lokasi pembuangan barang-barang tersebut disamping tembok kolam renang.

“Pertama saya menemukan SIM korban, kemudian tas dan dompet,” ujar Kompol Amir yang turun ke lokasi pembuangan yang lebarnya hanya sekitar 30 centimeter.

Ryan yang diminta melihat proses pencarian barang bukti mengatakan seluruh barang yang ada di mobil korban dia buang ke lokasi itu.”Pokoknya barang-barang yang ada di mobil saya lempar ke situ,” ujar Ryan yang siang itu mengenakan baju tahanan warna orange.

Proses penggeledahan yang dipimpin Kanit V Jatanras Kompol Rudi Renewal pertama kali menyisir rumah kontrakan pelaku di Pesona Kayangan. Di rumah kontrakannya milik H Abdul Majid polisi menyita televisi 21 inci, rak meja, bantal, bedcover, termasuk magig jar.Polisi juga menyisir bagian belakang rumah kontrakan. Dilokasi itu, petugas menemukan abu bekas pembakaran.

Barang yang disita dari kontrakan yang disewa seharga Rp 700 ribu/bulan dibeli dari uang yang diambil dari ATM korban. Barang tersebut dibeli oleh Ryan bersama pacarnya Noval di Giant Hypermarket, Jalan Margonda, Depok.

Di pusat perbelanjaan itu, pelaku juga sempat membeli HP Nokia seharga Rp 2,3 juta. HP tersebut kemudian dihadiahkan kepada Noval. Menurut H Abdul Majid, pemilik kontrakan, Ryan dan Noval datang ke tempat kontrakannya, Sabtu sore sekitar pukul 15.00. “Ryan ngakunya dokter, kalau Noval pengawai Imigrasi,” ujar Abdul Majid.

Kisah Lanjutan: Ryan Si Tukang Jagal Juga Membunuh 6 Orang Yang Dikubur Dibelakang Rumah Orang Tua

Kategori: gay dan lesbian · mutilasi · orang hilang · pembunuh berantai · pembunuhan · pns korup

Dicari : Pengantin Baru Hilang Dalam Perjalanan Ke Jakarta

Juli 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

PURWAKARTA – Baru sepekan menikah, Ai Rima Kusmiati,21, Minggu Minggu (13/7), dilaporkan hilang misterius. Pihak keluarga meyakini pengantin baru ini hilang dalam perjalanan dari rumahnya di Kp Cijolang, Kec Darangdan, Purwakarta, menuju Jakarta, pada 24 Juni lalu.

Menurut ayah korban, Yayat Sudrajat,50, di Polsek Darangdan, Minggu, keberangkatan Ai seorang diri ke Jakarta karena disuruh suaminya, Ajat Sudrajat, 21, untuk menetap di Jakarta. Pagi itu, pada Rabu (24/6) sekitar pukul 07.00 WIB, Ai yang mengenakan kerudung putih, bercelana jeans hitam berbaju coklat berangkat menumpang bis Warga Baru jurusan Ciganea (Purwakarta) – Kampung Rambutan (Jakarta).

Dalam perjalanan, tuturnya, Ajat sempat berkomunikasi melalui HP yang dipegang istrinya. Dalam percakapannya, Ai mengaku sedang dalam perjalanan di atas bis Warga Baru menuju Jakarta.

“Kepada suaminya, Ai sempat bilang, ada lelaki yang memperhatikannya terus dalam bis,” ungkap ayah korban seraya menambahkan, sekitar pukul 10.00, suaminya kembali menghubungi namun HPnya sudah tidak aktif. Ajat yang menunggu di UKI, Jaktim, mencegat bisa Warga Baru, namun sang istri sudah tidak ada.

Diakuinya, berbagai upaya untuk mencari jejak Ai yang hilang telah dilakukan diantaranya dengan menanyakan ke sejumlah paranormal. Namun, tidak membuahkan hasil. Jejak Ai tidak terdeteksi.

Selain ke paranormal, lanjut dia, pihak keluarga berikhtiar menanyakan ke seluruh kerabat Ai dan Ajat yang berada di wilayah Jawa Barat dan Jakarta termasuk rekan bekerja Ai, namun tak satu pun kerabat dan rekan kerja Ai mengetahui keberadaan Ai. Keluarga pun melaporkan ke polisi.

“Saya sudah berikhitiar kesana kemari untuk bisa menemukan Ai,” ungkap Yayat Sudjarat sedih. Dia mengimbau, bagi warga yang menemukan Ai harap segera menghubunginya.

Kategori: orang hilang