Arsip Kategori: paedofilia

Antung Gatot Budianto Sudah Beranak Istri Menyekap Gadis 14 Tahun Unutk Dijadikan Pelampiasan Seksual

Kepolisian Sektor Singosari berhasil menangkap Antung Gatot Budianto , 34. Bapak satu anak yang tinggal di Desa Gunung Rejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Senin (11/4) disergap Polisi saat bersembunyi di rumah kakak kandungnya di daerah Singosari.

Antung ditangkap atas tuduhan membawa kabur dan menggagahi Citra (bukan nama sebenarnya).

“Pelaku kami tangkap saat bersembunyi di rumah saudaranya. Saat ini, masih dalam pemeriksaan kami,” ungkap Kepala Kepolisian Sektor Singosari, Kompol Hariyono, Senin (11/4) siang pada wartawan.

Menurut keterangan, Antung ternyata sudah beristri dan punya satu orang anak. Ia memperdaya Citra yang masih berusia 14 tahun, untuk dijadikan kekasih. Perkenalan awal bermula saat Antung, mengirimkan pesan pendek lewat HP.

Dari situlah, Antung akhirnya menjadikan Citra sebagai pacar. Nah, tergiur mendapatkan kemolekan tubuh Citra, seminggu lalu Antung pun merencanakan niat jahatnya untuk menggauli Citra. Hasilnya, setelah janjian ketemu di Jalan Raya dekat rumahnya, Antung akhirnya membawa Citra ke rumah kakak kandungnya.

“Korban tidak dipulangkan pelaku selama empat hari. Atas laporan keluarga korban, pelaku akhirnya kami amankan,” paparnya.

Ditambahkan Hariyono, korban disekap dalam rumah saudara pelaku sejak tanggal 6 hingga 10 April 2011 lalu. Selama dalam penguasaan pelaku, korban dipaksa melayani hasrat seksualnya hingga empat kali. Aksi ini terbongkar setelah korban, pulang ke rumah.

Orang tua korban yang tak terima anak gadisnya dijadikan budak nafsu pelaku, akhirnya melaporkan kejadian asusila tersebut ke Polsek Singosari. Guna menjalani pemeriksaan lanjutan, Antung terpaksa dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang.

“Pelaku sudah kami limpahkan ke UPPA. Pasalnya, korban masih berusia belia,” pungkas Hariyono.

Ibu Guru Cantik Dituntut Karena Ngeseks Bersama Lima Siswa Sekaligus Di Sekolah

Urusan nafsu seks memang bisa membutakan mata. Lihat saja bagaimana seorang guru wanita yang hanya karena ingin melampiaskan nafsu bejatnya itu ia mengajak lima siswanya untuk berhubungan badan.

Adalah Stacy Schuler, seorang guru berusia 32 tahun yang bekerja di Mason High School di Mason, Ohio, Amerika Serikat yang dilaporakan telah melakukan perbuatan itu bersama kelima muridnya. Dalam laporan persidangan disebutkan bahwa Schuler melakukannya dalam rentang waktu lebih dari 5 bulan antara bulan Agustus hingga Desember 2010.Tak tanggung-tanggung, sang guru itu melakukan hubungan seks di areal sekolah.

Sedangkan siswa-siswa yang diajak berbuat mesum itu adalah siswa yang tergabung dalam klub sepakbola sekolah. Schuler sendiri merupakan guru kesehatan dan fisik di sekolah yang terdapat sekitar 3.048 siswa tersebut.

Schuler pun harus menanggung akibat perbuatannya. Dia dikenai 16 tuntutan pengadilan berkaitan dengan perilaku seks yang tidak pantas, tindak kejahatan tingkat ke-3, dan 3 tuntutan berkaitan undang-undang yang melarang hubungan seks dengan siapapun yang di bawah usia.

Para juri di Pengadilan Warren mengindikasikan bahwa Schuler dengan tuntutan berlapis tersebut membawanya berada di balik jeruji besi selama 81 tahun. Tuntutan itu disampaikan pada sidang yang digelar di Warren County Common Pleas Court pada Jumat (4/2) lalu.

Bahkan sang guru yang akan memasuki usia ke-33 pekan depan ini juga akan menghadapi dakwan membawa alkohol ke sekolah.

Asisten kepala penuntut Bruce McGairy sebagaimana dilansir Dayton Daily News menegaskan bahwa perbuatan mesum tersebut tidak terjadi di sebuah pesta. Schuler mendapatkan jaminan 50 ribu dolar untuk tidak dipenjara dan selama masa jaminan tersebut ia tidak diperkenankan untuk mendekati para siswa yang menjadi korban juga harus menggenakan gelang GPS. Namun, sang guru tidak memberikan uang jaminan tersebut.

Karena Ketika Kecil Pernah Disodomi, Sartono Balas Dendam Dengan Menyodomi 69 Anak dan Menjadikannya Pelacur Bagi Kaum Homoseksual

Anak remaja laki-laki yang jadi korban sodomi Sartono (34) bertambah. Jika awalnya Sartono, tersangka pencabulan serta perdagangan anak remaja, mengaku hanya mencabuli 39 anak, dalam penyidikan ia kemudian mengaku telah mencabuli 96 anak.

Hal ini diungkapkan Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor (Polres) Metro Kepulauan Seribu Ajun Komisaris Reynold E P Hutagalung, Rabu (12/1) di Cilincing, Jakarta Utara. ”Dua tahun terakhir tersangka mengaku telah menyodomi 54 anak dan sebelumnya 42 anak. Rata-rata korban berumur sekitar 14 tahun hingga 17 tahun,” ucapnya.

Menurut Reynold, dari pengakuan tersangka, hampir seluruh korbannya adalah anak jalanan yang tinggal di sekitar stasiun kereta. Beberapa stasiun kereta yang sering menjadi daerah incaran Sartono adalah Jatinegara, Serang, Karawang, Cikampek, Purwakarta, dan Bandung.

”Tersangka sering beraksi memperdaya anak-anak remaja korbannya di gerbong-gerbong kereta rusak. Selain melakukan sodomi, tersangka juga melakukan kekerasan fisik dan psikis pada anak-anak remaja itu,” ujarnya.

Korban

Melihat kecenderungan tindakan pencabulan yang dilakukan tersangka, polisi menduga Sartono juga pernah jadi korban pencabulan. Untuk memperkuat dugaan itu, Polres Metro Kepulauan Seribu kemudian berinisiatif memeriksakan kondisi fisik tersangka ke Rumah Sakit Polri. Hasilnya, ternyata Sartono sering melakukan hubungan seksual lewat anus.

”Setelah kami telusuri, ternyata tersangka mengaku pernah menjadi korban sodomi sejak berusia 13 tahun. Hal ini diperkuat dengan hasil pemeriksaan Rumah Sakit Polri yang menyatakan anus tersangka telah rusak,” kata Reynold.

Sebelumnya, tersangka tak pernah mengaku apabila dirinya pernah menjadi korban sodomi. Bahkan, Sartono yang merupakan warga Dusun Wage RT 03/ RW 01, Dusun Sinarancang, Kecamatan Mundu, Cirebon, itu memiliki seorang istri dan empat anak.

Dengan latar belakang itu, polisi menduga Sartono memiliki kecenderungan biseksual. Artinya, ia memiliki ketertarikan seksual kepada wanita maupun laki-laki.

Sartono tertangkap polisi di Stasiun Kota, Jakarta Barat, setelah sempat melarikan seorang remaja berinisial HR (14), asal Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Selama diculik, HR disodomi sebanyak 18 kali. Karena tak punya uang, tersangka menjual korban kepada para lelaki homoseksual dengan imbalan Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per transaksi.

Di bawah ancaman tersangka, HR dipaksa melayani para laki-laki homoseksual. Sementara uang hasil transaksi seluruhnya diminta Sartono.

Selama 1,5 bulan, korban dibawa Sartono berkeliling ke beberapa kota, mulai Serang, Cikampek, Purwakarta, hingga Bandung. ”Ketika singgah lagi di sebuah hotel di Serang, korban dimarahi tersangka karena uang hasil transaksi, Rp 50.000, ternyata palsu. Korban lalu diminta mengembalikan uang itu. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan korban untuk kabur,” kata Kepala Polres Metro Kepulauan Seribu Ajun Komisaris Besar Hero Henrianto Bachtiar.

Dalam kondisi tertekan dan takut, korban akhirnya berhasil lolos hingga ke Muara Angke, Jakarta Utara. Polisi kemudian membantu HR dan mengantar ke keluarganya di Kelurahan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu.

Dari penemuan inilah aksi pencabulan Sartono kemudian terungkap. Pencarian Sartono sempat terkendala karena dia sering berpindah-pindah dan berganti nomor telepon.

Dari keterangan korban, Sartono diduga telah melakukan tindak pidana sesuai Pasal 328 KUHP dan Pasal 83 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Oknum Guru Agama Meskipun Kena Stroke Mampu Berbuat Mesum Terhadap 8 Siswi SD Madiun

Oknum guru Kasidi (56), terdakwa kasus pencabulan atas delapan siswanya di SD Negeri Bulu 2, Desa Bulu, Pilangkenceng, Madiun, divonis hukuman 14 bulan penjara oleh majelis hakim dalam sidang putusan di PN Kabupaten Madiun, Kamis (14/10/2010).

Hakim ketua Muhamad Nur, dalam sidang mengatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan di mata hukum melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak didiknya. Sesuai dengan dakwaan JPU dalam Pasal 290 KUHP tetang Pencabulan.

“Terdakwa terbukti secara sah melanggar Pasal 290 KUHP tetang Pencabulan. Kepada terdakwa kita jatuhkan hukuman satu tahun dua bulan penjara,” kata M Nur saat membacakan putusan.

Putusan ini lebih ringan dari tuntutan JPU yang menuntut hukuman penjara selama dua tahun.

Hal yang memperingan putusan majelis hakim adalah, terdakwa belum pernah terlibat kasus hukum sebelumnya, dan masih memiliki tanggungan anak dan istri.

“Sedangkan yang memperberat adalah, sebagai guru, seharusnya terdakwa memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya,” kata majelis hakim.

Atas putusan majelis hakim tersebut, terdakwa Kasidi, melalui penasihat hukumnya Prijono, mengaku akan menggunakan haknya untuk berpikir selama tujuh hari.

Dalam tenggat waktu tersebut, pihaknya baru akan mengambil keputusan untuk menerima putusan atau melakukan banding.

“Kita masih pikir-pikir dulu karena saya menilai vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim masih terlalu berat,” ujar Prijono seusai persidangan.

Hal yang sama, JPU juga menyatakan pikir-pikir atas putusan majelis hakim terhadap terdakwa oknum guru ini.

“Kami menyatakan pikir-pikir atas putusan majelis hakim,” ujar jaksa penuntut umum, Basuki Arif Wibowo, saat dihubungi wartawan.

Selama masa persidangan tersebut, ruang sidang dipenuhi oleh puluhan teman sejawat terdakwa yang ingin memberikan dukungan moril kepada Karsidi yang mengajar bidang studi agama Islam ini.

Terdakwa Kasidi, oknum guru Agama yang juga warga Desa Purwosari, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, ini didakwa telah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap delapan orang muridnya saat berlangsungnya proses belajar-mengajar di kelas.

Akibatnya, oknum guru yang menderita stroke ringan ini langsung ditahan oleh polisi, setelah dilaporkan orang tua korban ke penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Madiun

Aneh Tapi Nyata … Siswi SMK Madiun Tiba Tiba Melahirkan Di Ruang Kelas

Seorang siswa kelas XI Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Kota Madiun, Jawa Timur, berinisial R diketahui melahirkan bayi perempuan di ruang UKS gedung sekolahnya, Kamis (16/12).

R yang merupakan siswa jurusan Administrasi Perkantoran ini sebelumnya mengeluh sakit perut ke gurunya usai mengikuti ujian semester. Oleh gurunya, ia disuruh ke ruang UKS untuk berobat.

“Namun, setelah berada di ruang UKS, tiba-tiba yang bersangkutan melahirkan seorang bayi perempuan secara normal. Petugas ruang UKS dan guru yang mengetahuinya langsung memanggil dokter dan bidan untuk memeriksanya,” ujar Kepala SMK Negeri 2 Kota Madiun, Sumardiono.

Setelah memeriksa beberapa saat, tim medis yang dipanggil langsung membawa R dan bayinya ke RSUD dr Soedono Madiun untuk dirawat lebih lanjut.

Dokter menyatakan bayi milik R tergolong prematur karena dilahirkan dari kehamilan yang hanya berusia enam bulan.

“Berat badan bayi juga di bawah berat badan bayi secara normal, yakni hanya 600 gram lebih, tidak sampai 700 gram. Namun, saat dilahirkan hingga dibawa ke rumah sakit masih dalam keadaan hidup,” kata Sumardiono.

Pihak sekolah kaget dengan kejadian ini karena tidak menyangka R dalam keadaan hamil. Selain postur tubuh yang kecil, R juga diketahui sehari-harinya mengenakan jilbab yang seharusnya alim dan tidak genit.

Selama ini, R juga terlihat aktif mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di sekolah, baik di kelas maupun olahraga. Selain itu, catatan kehadiran yang bersangkutan cukup bagus dan jarang bolos.

R juga tergolong anak yang biasa di lingkungan sekolahnya, sehingga di luar dugaan guru jika gadis asal Desa Rejosari, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun ini, hamil di luar nikah.

Sekolah akan memberikan sanksi tegas kepada R, yakni dikembalikan ke orangtua atau dikeluarkan dari sekolahi karena dia dinilai telah melanggar peraturan sekolah serta kesepakatan antara orang tua dengan sekolah.

Seorang Siswi SMP Di Perkosa Teman Wanita Yang Dikenalnya Melalui Facebook

Lagi-lagi ada korban ulah orang yang memanfaatkan jejaring sosial facebook. Terkini, perlajar wanita berusia 13 tahun harus naik pesawat berjarak 250 mil jauhnya untuk menemui seorang wanita (35) yang berhasil membujuknya melalui chatting di facebook.

Siswi yang dirahasiakan namanya itu masih mengenakan seragam sekolah saat akan naik pesawat dari rumahnya di Cornwall, Inggris ke Gatwick, Irlandia Utara. Sesampai di tempat itu, dia bertemu dengan wanita kenalannya di facebook.

Kemudian wanita yang kemudian diketahui paedophile mengajaknya ke hotel. Di tempat inilah siswi tersebut “dikerjai” dan mengalami kekerasan seksual. Mail online (26/11) tidak menulis detail bentuk kekerasan seksual seperti apa karena korban masih belia.

Diketahui, siswi tersebut begitu sampai di Irlandia Utara langsung dibelikan baju yang cocok untuk remaja dan semua tiket adalah dibiayai oleh si wanita paedophilie tersebut.

Ibu (40) dari siswi yang tinggal di Newquay, Cornwall tersebut khawatir dan kehilangan anaknya sejak pulang sekolah tapi tidak sampai di rumah. Keesokan harinya, ibu tersebut lapor polisi setempat

Polisi kemudian mengecek facebook dan internet untuk mencari keberadaan siswi yang sudah termakan bujuk rayu itu.

“Ini mimpi buruk bagi setiap orangtua. Anak saya bisa mengalami hal hal buruk apa saja karena kita tidak tahu keberadaannya,” katanya khawatir.

“Dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia baru berusia 13 tahun. Di facebook tertulis, wanita tersebut telah mengajak anak saya untuk hidup selamanya. Dan hal itu membuatku sangat takut,” ujar ibu siswi.

Dari hasil penyelidikan, polisi menganalisis, siswi tersebut sudah kenalan dengan wanita paedophile sejak 6 bulan silam kemudian terjadi chatting akrab hingga akhirnya terjadi pertemuan darat di Irlandia Utara atas biaya wanita itu.

Setelah dilacak, siswi itu saat akan naik pesawat mengaku berusia 17 tahun agar bisa lolos berpelancong sendirian. Polisi kemudian berhasil menemukan hotel dimana siswi itu diajak menginap.

Saat digerebek, siswi itu masih sehat dan sadar, serta mengaku baik-baik saja. Namun berdasar pemeriksaan cctv hotel, tampak siswi itu telah digarap oleh wanita paedophile tersebut.

Wanita itu ditangkap dengan sangkaan kekerasan seksual terhadap wanita di bawah umur dan merawat bocah wanita untuk tujuan seksual. Semua peralatan pun disita untuk barang bukti penyelidikan, demikian si wanita yang membujuknya juga ditahan. Namun belakangan wanita itu dibebaskan dengan jaminan.

Seorang Oknum Polisi Diadukan Ke Komisi Perlindungan Anak Karena Mencabuli Bocah Umur 10 Tahun

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendapat pengaduan mengejutkan. Seorang bocah berusia 10 tahun datang melapor telah dicabuli oleh seorang komisaris polisi di Kalimantan Barat, Jumat (24/9/2010).

Ditemani sang Ayah, Djuhendra, si bocah berinisial C, membeberkan pelecehan seksual yang ia alami. C telah tiga kali dicabuli oleh seorang oknum komisaris polisi berinisial BK.

“Kejadiannya di tiga tempat berbeda. Anak saya dipegang dadanya, celananya diturunkan, dan dipaksa memegang kemaluan oknum polisi tersebut,” kata Djuhendra kepada Tribunnews.com menirukan pengakuan anaknya.

Belakangan diketahui, ibunda C memiliki hubungan khusus dengan oknum komisaris polisi tersebut. Jalinan asmara bermula saat ibunda C, YY alias Ayen, bercerai dengan Djuhendra, ditangkap karena kasus perjudian.

“Mantan istri saya pernah ditahan di polda karena kasus penjudian pada Februari 2007. Pada saat itulah dia berkenalan dengan BK,” lanjut Djuhendra.

Djuhendra sempat melaporkan kasus pencabulan ini ke Polda Kalimantan Barat. Namun, ia malah dijadikan tersangka atas pencemaran nama baik polisi.

“Saya harap KPAI menuntaskan kasus ini dan memberikan keadilan untuk saya dan putri saya,” terang Djuhendra.

Anak Yatim Dijadikan Pelampiasan Nafsu Oleh 9 Orang Termasuk Ketua RT

Malang benar nasib Bunga (12), bukan nama sebenarnya, siswa kelas II SD di Desa Ndungga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Setelah korban hari itu juga kami mintai keterangan, ternyata terungkap pelaku 9 orang, tiga di antaranya adalah ketua RT, saksi, dan tersangka sendiri.

Masa depan bocah belia itu dirusak 9 laki-laki yang menidurinya dengan iming-iming Rp 10.000-Rp 100.000.

Ayah bocah itu, Arnoldus Ado, telah meninggal tahun 2004, dan ibunya, Ny Maria Mide, menjadi buruh migran di Malaysia sejak tahun 2006 dan belum pernah kembali sampai sekarang.

Sehari-hari Bunga bersama kakak dan dua adiknya tinggal di rumah bibinya meski sering pula dia menumpang tidur di rumah tetangga yang lain.

Bunga justru menjadi korban bujuk rayu warga. setempat, mulai dari yang remaja, Patrisius Rhewa (14), sampai kakek-kakek, Mateus Donggo (74), yang tega meniduri korban untuk melampiaskan nafsu bejat mereka.

Hal itu biasa dilakukan pada siang hari ketika korban pulang sekolah, baik di rumah korban, tersangka, maupun di kebun. Pada siang hari, kondisi kampung memang relatif sepi sebab umumnya warga pergi ke ladang atau kebun.

Kasus itu terungkap pada 3 September lalu ketika Marianus Lando (28), yang semula hendak mengajak tidur korban, tapi ternyata melihat Martinus Leta (60), warga kampung lain, sudah lebih dulu bersetubuh dengan korban di kebun.

Rupanya, Marianus jengkel karena nafsu setannya tak terlayani, dia pun melaporkan kejadian itu kepada ketua RT setempat, Matias Bari.

Kemudian digelar pertemuan warga pada 7 September, yang semula hendak diselesaikan secara kekeluargaan, tapi seorang Babinsa mengusulkan kepada keluarga korban untuk melaporkan kepada pihak kepolisian.

Akhirnya disepakati kasus itu dilaporkan ke Kepolisian Sektor (Polsek) Ende pada 9 September, dan yang melaporkan Matias Bari dengan saksi Marianus Lando dan tersangka Martinus Leta.

“Setelah korban hari itu juga kami mintai keterangan, ternyata terungkap pelaku 9 orang, tiga di antaranya adalah ketua RT, saksi, dan tersangka sendiri. Jadi, 3 orang itu langsung kami tahan,” kata Kepala Polsek Ende Ajun Komisaris Yulius Ola, Kamis (30/9/2010) di Ende.

Enam tersangka yang lain adalah Patrisius Rhewa (14), Adrianus Pati (15), Filipus Ngoto (15), Kosmas Remba (18), Mateus Donggo (74), dan Nikolaus Nai (60).

Bahkan, korban juga mengungkapkan, tersangka Kosmas Remba pernah berbuat hal serupa terhadap dirinya tahun 2009 sekali.

Korban yang sering tidur di rumah ketua RT, bahkan sampai seminggu ditiduri juga oleh ketua RT sendiri.

Menurut Kepala Polsek Ende Yulius, para tersangka dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 287 Ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara.

Pelacur Anak Anak Di Surabaya Ternyata Didukung Oleh Orangtua

Aparat Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Surabaya melacak nomor ponsel milik beberapa pelaku dan korban kejahatan prostitusi anak yang terjadi di kota ini. Sebagian pelacur anak tersebut selama ini jika bepergian diantar-jemput orangtua mereka.

Menurut Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Anom Wibowo, pelacakan nomor ponsel ini untuk mengembangkan kasus dan mencari pelaku-pelaku lain yang diduga terlibat.

“Kami mencari nomor-nomor itu untuk mencari tahu dan membongkar kasus ini. Selain mencari pelaku, polisi juga mencari korban agar tidak sampai terjerumus lagi,” ujarnya kepada wartawan di ruangan kerjanya, di Mapolrestabes, Jalan Taman Sikatan 1, Selasa (21/9/2010).

Seperti diketahui, Polrestabes Surabaya menangkap sindikat pelaku praktik perdagangan anak yang dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Kedua tersangka kasus ini menyediakan perempuan yang katanya masih perawan, tidak tanggung-tanggung, jumlahnya sekitar belasan gadis yang mayoritas masih di bawah umur.

Sampai saat ini, piha Anom masih memburu pelaku lain, khususnya yang berperan sebagai mucikari atau pencari korban dan pelanggan. Anom yakin masih ada pelaku lain yang masih berkeliaran.  “Kami yakin masih ada pelaku lain. Semoga bisa segera terungkap dan membongkar sindikat kasus prostitusi perempuan serta perdagangan anak. Saat ini masih dalam tahap pelacakan,” papar dia.

Selain itu, lanjut dia, sampai saat ini polisi sudah mengamankan 12 korban prostitusi perempuan di bawah umur. Ini berarti ada delapan perempuan lain yang terungkap setelah polisi membongkar kasus ini tengah pekan lalu.

“Benar, korban dalam kasus ini bertambah. Awalnya empat, kemudian tambah tiga, kemudian tambah lima lagi. Kami masih berupaya mencari korban lainnya dan mengembalikan anak-anak ini ke bawah pengawasan orang tua,” ujar  mantan Kasat Pidana Umum Ditreskrim Polda Jatim itu.

Diajak Kawan

Anom juga menjelaskan, tidak semua korban terjerumus ke dunia ini karena alasan ekonomi. Di depan penyidik, korban mengaku karena diajak kawan yang sudah dikenalnya sejak lama.

“Korban ada yang setiap harinya di antarjemput orangtua dan mampu, ada juga yang terbentur persoalan ekonomi untuk menambah kehidupan mereka sehari-hari. Tapi ada juga korban terjerumus karena kurangnya perhatian dari orangtua,” ucapnya.

Karena itulah, ia mengimbau kepada para orangtua supaya selalu mengawasi dan memberikan nasihat kepada anaknya, terutama anak gadisnya, untuk tidak mudah terpengaruh dengan ajakan teman-temannya yang salah.

Menyediakan Gadis Gadis Perawan

Wali Kota Surabaya terpilih, Tri Rismaharini alias Risma, di Mapolrestabes Surabaya, Selasa (21/9/2010), memarahi tiga tersangka pelaku perdagangan manusia atau trafficking yang memperjual-belikan perempuan di bawah umur.

“Di mana hati dan nurani kalian? bayangkan kalau yang dijual itu saudara perempuan kalian! Di mana otak kalian? Sikap kalian ini pasti ada balasan dari Tuhan,” ujar Tri Rismaharini dengan nada tinggi kepada para pelaku.

Ketiga pelaku masing-masing berinisial SWM dan PUT, perempuan berusia 21 tahun, dan M, laki-laki yang juga berperan sebagai mucikari, hanya terdiam. Mereka duduk dengan kepala menunduk dimarahi perempuan yang selalu berbusaha Muslim tersebut.

“Ingat itu, jangan diulangi lagi,” tambah pejabat yang akrab disapa Risma tersebut, didampingi Kepala Dinas Badan Pemberdayaan Masyarakat, Dr Iksan S Psi

Selain itu, dia juga memberikan harapan kepada empat perempuan yang menjadi korban trafficking akibat ulah para pelaku. Sambil memegang tangan keempatnya, Risma meminta supaya mereka tetap tabah dan sabar serta tidak putus harapan untuk meraih masa depan.

“Kalian masih punya cita-cita dan harus melanjutkan sekolah. Ingat, Tuhan itu ada dan tidak diam. Ibu juga akan membantu kalian sampai semuanya selesai. Pokoknya jangan sampai putus asa, sebab kalian masih punya harapan,” tutur Risma, sambil memeluk mereka bergantian.

Cari Kehidupan

Mantan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya tersebut mengucapkan terima kasih kepada Satreskrim Polrestabes Surabaya karena bisa mengungkap kasus ini. “Namun yang lebih penting dari semua ini, adalah terhentinya aktivitas pelaku dan korban pelaku, yang kemudian pasti memberikan harapan kepada para korban untuk mencari kehidupan sejatinya. Anak-anak ini punya harapan dan masa depan,” ucap Risma.

Ia juga berharap, supaya kasus semacam ini tidak terjadi lagi, khususnya di Surabaya. Perdagangan anak, lanjut dia, selain mendapat hukuman dari polisi, juga pasti mendapat balasan di akherat kelak.

Seperti diketahui, Polrestabes Surabaya menangkap sindikat pelaku praktik perdagangan anak yang dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) alias pelacur. Kedua tersangka menyediakan perempuan yang katanya masih perawan, tidak tanggung-tanggung jumlahnya belasan gadis yang mayoritas masih di bawah umur.

Pelaku ini cukup lincah juga dalam menjaring pelanggan. Mereka punya cara lain untuk memuaskan tamu yang akan memesan dengan saling berkoordinasi menggunakan telepon seluler dalam mencari pelanggan di kawasan mal-mal di Surabaya.

Orangtua Paskibra Putra dan Putri Akan Lapor Kasus Pelecehan Seksual Pada Polisi Karena Dinas Olahraga Jakarta Tidak Peduli

Sore ini, sekitar pukul 15.00 WIB, orangtua anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Jakarta 2010 putra akan melapor ke Polda Metro Jaya terkait kasus tindakan asusila yang diduga dilakukan seniornya.

“Awalnya, kami minta Disorda yang memproses secara hukum. Tapi ternyata tidak bisa mengakomodasi keinginan kami, mereka lebih bersikap diam,” kata Jusuf Ginting, Jumat 3 September 2010.

Secara terpisah, orangtua Paskibraka putri, Laurent, menambahkan para orangtua yang anak-anaknya diduga menjadi korban pelecehan seksual juga akan turut memberikan kesaksian dan mendampingi Jusuf Ginting. Putri Laurent sendiri diduga menjadi korban seniornya dan kasusnya telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu.

Laurent menambahkan para orangtua anggota Paskibra Jakarta terpaksa mengambil langkah hukum untuk menuntaskan dugaan kasus pelecehan seksual dan kekerasan saat putra-putri mereka mengikuti Orientasi Pelatihan Paskibra di Cibubur, 2-6 Juni 2010.

Langkah ini diambil, lanjut Laurent, karena Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) Jakarta dinilai tidak mampu lagi menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Para orangtua berharap setelah para senior Paskibra Jakarta terbukti bersalah, mereka dijerat dengan UU Perlindungan anak, bukan dengan KUHP