Arsip Kategori: pembunuh berantai

Lagi … Mayat Perempuan Telanjang Ditemukan di Belakang Gor Unesa

Sesosok mayat perempuan telanjang ditemukan kaku di belakang Gor Unesa Lidah Wetan. Jasad tersebut ditemukan hanya menggunakan bra berbintik merah dan putih pagi tadi, Sabtu (28/4/2012).

Sekitar pukul 06.30 WIB, Zaini Masturi (49) seorang petani Dusun Bangi, Lemahan Kayan Lor Kediri menemukan mayat tersebut dalam keadaan terlentang. Pria sehari-hari penjual korden ini kaget dan langsung melapor ke kantor satpam Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Zaini pertama mencium bau busuk, setelah dicari ternyata ada mayat dan lapor satpam unesa” kata Kapolsek Lakarsantri, Kompol Kuncoro, Sabtu (28/4/2012).

Berdasar olah tim identifikasi sementara, kematian jenazah perempuan ini terjadi sebelum kejadian pembunuhan Ayu Cahyawati (19) di lokasi yang tidak berjauhan pada Selasa (23/4/2012) lalu.

“Kalau melihat kondisi mayat, kejadian ini diperkirakan sebelum kasus pembunuhan Ayu terungkap,” terangnya.

Kini jenazah perempuan yang masih belum diketahui identitasnya itu dibawa ke kamar mayat RS Bhayangkara Mapolda Jatim.

Keluarga Made Purnabawa Tewas Mengenaskan Dibunuh Supir Pribadi dan Istrinya Di Jembrana Bali

Hasil otopsi terhadap tiga mayat keluarga Made Purnabawa menunjukkan adanya bukti kekerasan. Ketiga korban dibunuh dengan benda tumpul. ”Bukti adanya benda tumpul itu ada di bagian kepala,” kata Kepala Bagian SMF Ilmu Kedokteran Forensik Universitas Udayana Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Ida Bagus Putu Alit, Selasa (21/2/2012).

Tiga mayat keluarga Made Purnabawa itu ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin kemarin. Ketiga mayat tersebut adalah Purnabawa (27), Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (istri, 27), dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (anak, 9).

Menurut Alit, tanda bekas benda tumpul itu terdapat di kepala bagian kiri (mayat Mahayoni), kepala bagian kanan (mayat Ayu Dewi), serta kepala dan wajah (mayat Purnabawa). ”Di tubuh Purnabawa juga terdapat tanda bekas perlawanan di lengannya,” kata Alit.

Kini polisi telah menduga pelaku pembunuhan itu adalah sopir keluarga Purnabawa, yaitu Heru Ardianto. Heru beserta istri dan anaknya yang juga tinggal bersama keluarga Purnabawa masih menghilang.

Keluarga Purnabawa yang tinggal di Kampial Residence, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, Badung, Bali, diduga dibunuh sopirnya sendiri. Pembunuhan diduga bermotif dendam.

Made Purnabawa (27), Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (istri, 27), dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (anak, 9) ditemukan tewas setelah menghilang satu pekan lalu. Mayat keluarga itu ditemukan di sebuah kebun di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Mendoyo, Jembrana, Bali, Senin (20/2/2012) pagi.

Sejak keluarga itu menghilang, sopir korban, yaitu Heru Ardianto juga. menghilang. Heru menghilang bersama istri dan anaknya. Istrinya merupakan pembantu keluarga Purnabawa.

“Pelaku kami duga adalah orang yang tinggal bersama mereka (sopir), ” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Denpasar Komisaris Besar I Wayan Sunartha, Senin malam setelah menerima hasil otopsi mayat Purnabawa di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, Senin malam.

Polisi menduga pelaku sudah berada di luar Bali. Mobil milik korban diperkirakan juga sudah dibawa pelaku. Ketika keluarga Purnabawa diketahui menghilang, satu unit mobil, dan dua unit sepeda motor milik korban juga lenyap. Hasil otopsi terhadap tiga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, menunjukkan bahwa mereka meninggal karena dibunuh. Dua dari tiga mayat diidentifikasi sebagai keluarga yang dilaporkan hilang msiterius.

“Mereka kami pastikan dibunuh,” kata Kepala Polres Kota Denpasar Komisaris Besar I Wayan Sunartha, Senin malam. Pembunuhan itu diperkirakan terjadi sepekan lalu.

Mayat yang teridentifikasi itu adalah mayat Made Purnabawa (27) dan istrinya, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27). Mayat pasangan suami istri itu ditemukan dalam kondisi bertumpuk di sebuah kebun.

Sementara mayat anak perempuan yang berada sekitar 10 meter dari kedua mayat tersebut belum dapat diidentifikasi. Alasannya, kepala korban sudah hancur dan berada sekitar 2,5 meter dari tubuhnya. “Kami akan tes DNA dulu,” kata Sunartha.

Keluarga Made Purnabawa diketahui menghilang sejak awal pekan lalu. Purnabawa memiliki seorang anak perempuan berusia 9 tahun, yaitu Ni Wayan Krisna Ayu Dewi.

Hilangnya keluarga Purnabawa juga diikuti dengan hilangnya sopir mereka, yaitu Heru Ardianto. Istri dan anak Heru juga menghilang.

Tiga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo, Senin (20/02/2012) sekitar pukul 07.00 WITA pagi tadi, seluruhnya dalam kondisi mengenaskan. Tubuh ketiga korban sudah membusuk, bahkan mayat anak kecil ditemukan di dalam jurang dengan kondisi tidak utuh.

“Satu mayat diidentifikasi laki-laki dewasa, satu wanita dewasa dan seorang lagi anak kecil perempuan. Semuanya sudah membusuk dan anak kecil ditemukan sekitar 8 meter di dalam jurang,” ujar Kabag humas Polres Jembrana, AKP Wayan Setiajaya Senin siang.

Saat ini aparat Polsek Kuta Selatan yang menangani kasus keluarga hilang sudah berada di Jembrana untuk mencocokkan ciri-ciri ketiga mayat dengan keluarga yang tinggal di Kampial Residence tersebut.

“Mayat akan diantar petugas Polsek Kuta Selatan dan akan dibawa ke RS Sanglah untuk diotopsi,” jelas Setiajaya. Dari olah TKP, polisi menemukan sebuah telepon genggam, remote, dan selimut di sekitar mayat korban. “Barang bukti ini akan diperiksa oleh Labfor,” imbuh Setiajaya.

iga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin (20/2/2012) pagi, sudah tiba di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, sekitar pukul 20.00 wita.

Tiga mayat tersebut kemudian dibawa satu per satu ke ruang otopsi. Otopsi dilakukan untuk memastikan bahwa ketiga mayat tersebut merupakan mayat dari keluarga Made Purnabawa di Kampial Residence, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Bali.

Keluarga Made Purnabawa (27) menghilang secara misterius sejak awal pekan lalu. Purnabawa hilang bersama istri dan anaknya, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27) dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (9). Heru Ardianto, sopir Purnabawa, beserta istri dan anaknya, Ni Putu Anita dan Agus, juga ikut menghilang.

Senin pagi sekitar pukul 07.00 wita, seorang petani menemukan tiga mayat yang terdiri mayat pria dewasa, perempuan dewasa, dan anak perempuan usia 9 tahun.

Saat penyerahan mayat tersebut tampak beberapa tetangga dan kerabat Made Purnabawa. Meski demikian, polisi belum dapat memastikan bahwa ketiga mayat itu adalah keluarga Purnabawa. Namun, dalam catatan medis penyerahan mayat itu, tertulis nama Purnabawa, istri, dan anaknya.

“Otopsi kira-kira berlangsung dua jam,” kata Kepala Bagian Humas Polda Bali Komisaris Besar Hariadi

Mujianto Pembunuh Berantai Asal Ngajuk Membunuh 15 Orang Homoseksual

Pengakuan mengejutkan disampaikan Mujianto, tersangka pembunuhan berantai di Nganjuk, Jawa Timur. Pemuda berusia 21 tahun ini mengaku telah meracuni 15 teman kencannya sesama gay sejak 2011.

Dalam sesi wawancara di Markas Kepolisian Resor Nganjuk, Rabu 15 Febaruari 2012, Mujianto mengaku meracuni mereka karena dianggap selingkuhan Joko Suprapto. Joko yang berusia 49 tahun adalah seorang duda majikan sekaligus kekasihnya. “Semua yang berhubungan dengan Pak Joko,” kata Mujianto saat menjelaskan seluruh korbannya, Rabu 15 Februari 2012.

Mujianto mengaku cemburu kepada orang-orang yang berhubungan dengan Joko. Karena itu dia berusaha mencelakai mereka dengan cara dijebak dan diracun. Kepada polisi Mujianto mengaku tak berniat membunuh. “Hanya mengerjai saja biar kapok,” katanya.

Sebelum melancarkan aksinya, Mujianto mencuri semua nomor telepon calon korbannya dari telepon seluler Joko. Selanjutnya dia menghubungi mereka satu per satu dengan dalih ingin berkenalan. Modus ini cukup efektif mengingat hampir semua korbannya berdomisili di luar Kabupaten Nganjuk.

Setelah merasa cukup dekat, Mujianto mengajak korban bertemu muka di Nganjuk. Setibanya di terminal bus Nganjuk, para korban dijemput Mujianto dengan sepeda motor untuk diajak jalan-jalan. Dalam perjalanan tersebut Mujianto sempat melakukan hubungan badan di tempat-tempat umum. Di antaranya areal persawahan hingga toilet Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Usai berkencan, Mujianto mengajak mampir ke warung untuk makan dan minum. Saat itulah dia meracuni minuman korban hingga sekarat. Setelah korbannya lemas, dia memboncengnya lagi dan menurunkan di rumah warga. Kepada pemilik rumah Mujianto mengaku akan memanggil dokter sebelum akhirnya menghilang.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono masih menyelidiki pengakuan tersebut. Saat ini polisi masih fokus pada empat korban tewas dan dua korban selamat untuk melengkapi pemeriksaan. “Kami masih akan selidiki sembilan korban lainnya,” katanya.

Dia mengimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk menghubungi polisi. Sebab hingga saat ini masih terdapat dua jenazah yang belum teridentifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Sementara dua korban lainnya sudah diketahui sebagai Basori, 42 tahun, warga Pacitan dan Ahya, 30 tahun, warga Situbondo.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono mengatakan korban Mujianto sebenarnya ada enam orang. Empat orang meninggal dunia dan dua lainnya kritis.

Dari empat korban tewas, dua diantaranya berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Basori, 42 tahun, warga Pacitan dan Ahya, 30, warga Situbondo. Sedang dua lainnya masih disimpan di kamar jenasah Rumah Sakit Bhayangkara Kediri sebagai Mr X.

Adapun dua korban selamat lainnya adalah Anton Sumarsono, warga Solo yang masih dirawat di RS Bhayangkara Kediri serta Muhammad Faiz warga Blitar. Faiz sudah diperbolehkan pulang setelah sempat dirawat. “Kami akan periksa kondisi pelaku,” kata Anggoro Senin, 13 Februari 2012.

Mujianto, 24 tahun, warga Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kediri, ditangkap tim reskrim Polres Nganjuk Senin, 13 Februari 2012 pagi. “Pelaku tengah berada di rumah Joko, pasangannya,” kata Anggoro.

Kepada polisi, Mujianto mengaku nekat menghabisi empat orang dan melukai dua lainnya karena cemburu. Keenam korbannya adalah para gay yang pernah menjalin hubungan istimewa dengan Joko, kekasihnya.

Modus yang dilakukan Mujianto cukup unik. Dia berpura-pura menyukai calon korbannya untuk kemudian diajak berkencan. Saat itulah Mujianto memasukkan racun tikus ke dalam makanan korban hingga sekarat.

Setelah melihat korbannya lemas, Mujianto menaikkannya ke atas sepeda motor dan menurunkan ke rumah warga. Kepada pemilik rumah, dia selalu mengatakan korban tengah sakit dan hendak mencari dokter. Setelah ditinggal, pelaku pergi begitu saja hingga akhirnya korban meninggal.

Peristiwa tersebut sempat menghebohkan warga Nganjuk dalam satu bulan terakhir. Sejumlah warga melaporkan menerima korban keracunan yang ditinggalkan seseorang. Polisi sendiri sempat menduga mereka adalah korban pembiusan di atas kendaraan umum.

Sembilan korban Mujianto yang lain masih belum diketahui nasibnya. Dalam pengakuannya di kantor Kepolisian Resor Nganjuk Rabu, 15 Februari 2012 kemarin, Mujianto mengaku membunuh karena cemburu. Para korban itu adalah lelaki simpanan pasangannya, Joko Suprianto.

“Kami masih menyelidiki sembilan korban lainnya,” kata Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono di Nganjuk, Rabu, 15 Februari 2012.

Sejak 2011, Mujianto meracuni 15 teman kencannya sesama gay. “Hanya ngerjain saja biar (mereka) kapok,” kata Mujianto. (Baca: Korban Tewas Mujianto Enam, Dua Selamat)

Mujianto dibekuk di rumah pasangannya, Joko Suprianto, di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Senin, 13 Februari lalu. Joko adalah duda, 49 tahun, majikan dan kekasih Mujianto. Jejaknya terendus dari pengakuan korbannya yang selamat, yakni Muhammad Fais.

Dalam dua bulan ini, pria 21 tahun itu sudah menewaskan empat orang, yakni Ahyani, 46 tahun, warga Situbondo; Romadhon (55), Sudarno alias Basori (42), keduanya warga Ngawi; dan seorang lagi belum diketahui identitasnya, pria berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, asal Pasuruan, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, asal Surakarta. Sedangkan sembilan korban lainnya belum diketahui nasibnya.

Salah seorang korban pembunuhan berantai yang diduga dilakukan Mujianto di Nganjuk adalah Ahyani, 46 tahun, seorang pegawai negeri sipil. Ahyani bertugas di Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kerja Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Menurut Kepala Unit, Ainul Yaqini, korban merupakan pegawai yang berasal dari Solo. Pada 1986, dia diangkat sebagai pegawai negeri di Tuban dan 1991 dipindah ke Situbondo.

Di Situbondo inilah Ahyani menikah dengan Saljunianti, warga Desa Tokelan, Kecamatan Panji. Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai dua anak.

Ainul bercerita, dia terakhir bertemu Ahyani 30 Desember 2011. Saat itu Ahyani mengeluh sakit. “Ahyani sudah lama punya penyakit diabetes,” katanya saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 Februari 2012.

Kemudian pada 1 Januari 2012, Ahyani meminta izin tak masuk kerja pada 2 Januari karena akan menjenguk ibunya di Solo, Jawa Tengah. Namun, keesokan harinya, Ainul menerima informasi bahwa Ahyani ditemukan pingsan di terminal Nganjuk. “Setelah dibawa ke rumah sakit, jam 12 siang Ahyani dikabarkan meninggal,” katanya.

Keluarga menolak jenazah Ahyani diotopsi dan langsung dimakamkan di Solo. Keluarga dan rekan kantornya menduga korban memang tewas karena dibius. Hingga kemudian terungkap bahwa ternyata Ahyani menjadi korban pembunuhan Mujianto. “Kami sangat kaget,” kata Ainul.

Dua dari empat korban pembunuhan berantai oleh Mujianto, 24 tahun, di Kabupaten Nganjuk, adalah warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Keduanya adalah Romadhon, 55 tahun, warga Widodaren, dan Sudarno, 42 tahun, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas.

Menurut Suparno, keluarga Romadhon, korban diduga kuat diberi racun tikus melalui bakso yang diberikan Mujianto. “Sebelum meninggal dunia almarhum sempat bercerita pada orang yang menolongnya bahwa ia ditipu dan mengaku sempat makan bakso,” katanya, Rabu, 15 Februari 2012.

Cerita itu didapat dari petugas Kepolisian Sektor Loceret, Nganjuk, pemilik warung bakso, serta warga yang dititipi tersangka pada awal Januari 2012. Sebelum meninggal dunia Romadhon yang sudah terlihat teler dititipkan ke warga di Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Kepada warga yang dititipi, Mujianto beralasan, korban adalah temannya yang sedang sakit.

“Katanya orang ini (Romadhon) sakit dan akan dihubungi keluarganya serta dicarikan dokter,” ujar Suparno menirukan keterangan polisi dan saksi di Nganjuk. Namun orang yang menitipkan korban tak kunjung datang.

Warga akhirnya melapor ke Kepolisian Sektor Loceret. Korban yang semula diduga korban pembiusan lantas dibawa ke RS Bhayangkara, Nganjuk. Setelah dilakukan pemeriksaan, korban ternyata keracunan racun tikus.

Adik kandung korban, Nasir, semula juga menyangka kakaknya menjadi korban pembiusan dan perampokan. “Tidak menyangka ternyata meninggalnya diracun,” ujarnya. Jenazah Romadhon tiba di Ngawi dan dimakamkan pada 7 Januari 2012. “Saat jenazah tiba sempat dilihat dan sama sekali tidak ada luka bekas penganiayaan,” tutur Nasir.

Keluarga menyangkal Romadhon punya orientasi seksual yang berbeda. Apalagi Romadhon dan istrinya, Siti Fatimah, sudah dikaruniai tiga putri. “Selama ini hubungan almarhum dengan kakak (ipar) saya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda seperti itu,” katanya.

Tersangka Mujianto mengaku meracuni 15 orang sejak 2011 karena cemburu. Ke-15 orang ini diduga kuat pernah berhubungan badan dengan pasangan gay Mujianto, Joko Susilo, yang tinggal di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Mujianto sendiri merupakan warga asal Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Mujianto dan Joko sudah lama hidup serumah di Nganjuk.

Dari 15 orang yang pernah diracun dengan racun tikus lewat makanan dan minuman itu, baru terungkap enam orang. Empat di antaranya akhirnya tewas dan dua lainnya sempat kritis dan bisa diselamatkan. Para korban diracun tidak bersamaan dan empat korban di antaranya meninggal dunia dalam dua bulan terakhir.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono mengatakan penyelidikan kasus pembunuhan berantai sejak 2011 ini cukup sulit. Polisi membentuk tim khusus setelah korban tewas yang ditemukan di rumah warga berjatuhan.

Menurut dia, awal mulanya para korban diduga merupakan target pembiusan yang marak di angkutan umum. “Begitu jumlah korban tewas mencapai empat orang, saya bentuk tim khusus,” kata Anggoro kepada Tempo, Rabu, 15 Februari 2012.

Pengungkapan ini berawal dari lolosnya Muhammad Faiz, 21 tahun, asal Pasuruan, dari upaya pembunuhan itu. Kala itu Faiz tak menghabiskan minuman es teh yang telah dibubuhi racun tikus oleh Mujianto karena terasa pahit. Saat tubuh korban lemas, pelaku mengambil dompet dan telepon genggam Faiz, lalu kabur. Selanjutnya telepon genggam korban dijual kepada penadah di Nganjuk.

Berbekal nomor IMEI, telepon genggam milik Faiz yang tertera di dos book, polisi berhasil melacak keberadaan ponsel itu dan menemukan penadahnya. Selanjutnya polisi membuat sketsa wajah Mujianto berdasarkan keterangan penadah ataupun Faiz.

Tak hanya itu, Faiz juga masih mengingat nomor polisi sepeda motor yang dipergunakan Mujianto saat menjemputnya di terminal, yakni AG 2001 XX. “Setelah kami lacak di registrasi kendaraan, terdapat empat nomor polisi dengan angka itu. Dan kami temukan salah satu pemiliknya dengan wajah yang sama di sketsa,” kata Anggoro.

Pelacakan ini, menurut dia, berjalan lebih cepat dari target yang ditetapkan. Pelaku berhasil diringkus tiga hari setelah perburuan dimulai dari target waktu satu pekan. Ketika dikonfrontasi dengan Faiz, dia membenarkan bahwa Mujianto adalah Feri yang memberinya racun.

Dua korban pembunuhan oleh gay di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dipastikan warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. “Dari empat korban yang meninggal dunia, dua orang warga asal Ngawi,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Nganjuk, Ajun Komisaris Polisi Ali Purnomo, saat dihubungi, Rabu, 15 Februari 2012.

Tersangka Mujianto, 24 tahun, mengaku meracun 15 orang sejak 2011. Ke-15 orang ini diduga pernah berhubungan badan dengan pasangan gay Mujianto, Joko Supriyanto, di rumah Joko di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Mujianto sendiri merupakan warga Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Mujianto dan Joko sudah lama hidup serumah di Nganjuk.

Dari 15 orang yang pernah diracun dengan racun tikus lewat makanan dan minuman itu baru terungkap enam orang. Empat di antaranya tewas dan dua lainnya kritis, tapi bisa diselamatkan. Empat korban diracun tidak bersamaan dan meninggal dunia dalam dua bulan terakhir.

Empat korban tewas adalah Ahyani, 46 tahun, PNS, Desa Tokelan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo; Romadhon, 55 tahun, Desa/Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi; Sudarno, 42 tahun, Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi; Mr X (belum diketahui), diperkirakan berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, swasta, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, guru, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

Modusnya dengan meracun korban saat diajak jalan-jalan. Setelah teler atau sekarat, korban dititipkan di rumah warga. Warga semula mengira korban adalah korban pembiusan. Namun setelah dilaporkan ke polisi setempat dan diotopsi di RS Bhayangkara, korban dipastikan keracunan.

Dua korban asal Ngawi itu adalah Romadhon, 55 tahun, warga Desa/Kecamatan Widodaren dan Sudarno, 42 tahun, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas. “Benar, dua korban orang Ngawi. Saya sudah koordinasi dengan Polres Nganjuk,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Ngawi Ajun Komisaris Polisi Sukono.

Satu dari empat korban tewas sempat dikabarkan bernama Basori asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Namun setelah dilacak berdasarkan pengakuan tersangka dan pasangan gay-nya, Joko, serta keluarga korban, Basori hanya nama samaran. Basori ternyata Sudarno asal Ngawi.

“Setelah diteliti lagi, bukan orang Pacitan tapi Ngawi. Saya sudah koordinasi dengan Polres Nganjuk,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Pacitan Ajun Komisaris Polisi Sukimin.

Satu dari dua korban pembunuhan Mujianto di Nganjuk berhasil diidentifikasi. Istri korban syok saat mengetahui suaminya punya pacar lagi, seorang laki-laki. Ruang penyidikan Satuan Reserse Kriminal Polres Nganjuk mendadak pecah oleh tangis Warsini. Tubuhnya lemas usai melihat foto yang ditunjukkan petugas identifikasi Polres Nganjuk. “Ya, Allah,” katanya diiringi derai air mata, Rabu, 15 Februari 2012.

Ibu rumah tangga asal Desa Sukuwiono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi ini mendatangi Polres Nganjuk untuk mengidentifikasi korban pembunuhan Mujianto siang tadi. Sejak 10 Februari 2012 lalu, Warsini kehilangan suaminya, Sudarno, 42 tahun.

Kala itu Sudarno pamit ke sawah. Saat itu Sudarno hanya mengenakan pakaian biasa dan tidak membawa barang berharga. Warsini pun melepas suaminya tanpa rasa curiga. Sejak itu, pria yang telah memberinya satu anak itu tak pernah kembali.

Warsini tergerak mendatangi Polres Nganjuk setelah melihat tayangan di media massa tentang korban pembunuhan Mujianto. Kala itu polisi menyebut ada dua jasad yang belum teridentifikasi.

Usai menyaksikan foto korban dan ciri-ciri tubuh serta pakaian yang ditemukan polisi, Warsini mengakui bahwa pria itu adalah suaminya. Apalagi Warsini juga membawa Kartu Tanda Penduduk dan Surat Izin Mengemudi milik korban yang identik dengan Sudarno.

Kepada polisi yang memeriksanya, Warsini mengaku tak melihat keganjilan perilakusuaminya. Namun dia menyadari bahwa Sudarno memiliki banyak teman laki-laki di jejaring sosial Facebook. Selama ini Sudarno memang aktif menjalin pertemanan melalui dunia maya yang bisa diakses di rumahnya.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk, Anggoro Sukartono, mengatakan, identifikasi ini telah menguak salah satu Mr X yang selama ini misteri. Saat ini jasad Sudarno sudah dimakamkan oleh petugas kepolisian di Nganjuk bersama satu jasad lain yang belum teridentifikasi. “Karena identitasnya sudah jelas, saya kira tidak perlu membongkarnya kembali,” katanya.

Dengan demikian, tiga dari empat korban meninggal itu telah terungkap. Mereka adalah Ahyani, 30 tahun, warga Situbondo yang berprofesi sebagai pegawai negeri Pemerintah Provinsi Jawa Timur; Romadhon, 42 tahun, warga Ngawi (yang sebelumnya disebut sebagai Basori, warga Pacitan); serta Sudarno, 42 tahun, warga Ngawi.

Ulah Mujianto yang membantai empat orang sesama gay mengundang kemarahan warga. Penduduk di sekitar rumah majikan Mujianto di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Nganjuk menuding Mujianto sebagai perusak kehormatan kampung.

Kecaman ini disampaikan warga saat menyaksikan penggeledahan rumah Joko Suprianto, majikan Mujianto, sore tadi. Saat melihat Mujianto turun dari kendaraan polisi, warga yang memenuhi halaman rumah Joko menyampaikan kekesalannya. “Pendatang baru sudah rusak nama kampung,” kata Didik, 46 tahun, warga Desa Sonopatik, geram, Kamis, 16 Februari 2012.

Didik tidak menyangka Mujianto yang baru dua tahun tinggal di desa ini berbuat sangat keji. Selama ini warga sendiri juga tidak begitu akrab dengan Mujianto. Sebab, Mujianto dikenal selalu berdiam diri di dalam rumah majikannya yang tertutup pagar besi. Sesekali Mujianto terlihat keluar rumah untuk berbelanja ke pasar bersama Joko dengan mengendarai sepeda motor.

Rumah berukuran 25 x 20 meter yang dihuni Joko Suprianto ini terbilang paling bagus di desa itu. Selain mengajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Nganjuk, Joko juga dikenal sebagai seniman yang piawai memainkan elektone atau organ tunggal. Sebagai warga yang telah delapan tahun berdomisili di kampung itu, Joko cukup akrab dengan tetangganya.

Karena itu mereka merasa sangat marah ketika mengetahui ulah Mujianto yang dianggap merusak citra Desa Sonopatik. Apalagi korban pembunuhannya cukup banyak dan dilakukan dengan cara sadis. “Saya ingin ikut menghajar saat melihat dia digelandang polisi,” kata Didik.

Sikap yang sama disampaikan Ny Salami, warga setempat. Ia menganggap Joko Suprianto memelihara anak macan di rumahnya. Salami merinding jika mengingat Mujianto yang kerap berpapasan dengannya. “Dihukum yang berat saja,” katanya saat berjejal di depan rumah Joko.

Mujianto diduga melakukan pembunuhan terhadap empat orang gay dan mencelakai dua lainnya dengan racun tikus. Para korban adalah orang-orang yang dicurigai memiliki hubungan asmara dengan kekasihnya, Joko Suprianto. Kepada polisi, Mujianto mengaku melakukan pembunuhan itu sejak tahun 2011 dengan jumlah korban mencapai 15 orang.

Polisi Menduga Pembunuh Sadis Wanita Dalam Kardus di Koja dan Anak Wanita Dalam Koper Cakung Adalah Orang Yang Sama

Kepolisian menduga penemuan mayat tak beridentitas di kawasan Koja, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur, saling terkait. Keterkaitan itu dilihat dari cara pembunuhan sadis yang dilakukan pelaku. “Kami duga ada kaitannya karena polanya sama,” ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

Dia melanjutkan, kesamaan pola itu dilihat dari cara yang dilakukan pelaku dalam membuang jenazah korban. “Di Jakarta Timur dimasukkan ke dalam kopor. Di Jakarta Utara dimasukkan ke dalam kardus, ini mirip caranya,” tutur Irwan.

Jenazah juga sengaja dibalut dengan kain. Korban di Jakarta Utara dibalut dengan kain bermotif batik berwarna biru dan merah muda, sedangkan korban tewas di Jakarta Timur dibalut dengan kain kelambu berwarna abu-abu.

Irwan mengatakan, pelaku juga tampak sengaja meninggalkan petunjuk berupa kartu nama untuk mayat bocah perempuan yang dibuang di Cakung dan foto laki-laki untuk mayat perempuan dewasa yang dibuang di sebuah gang di Koja. Petunjuk itu bisa jadi untuk memburamkan identitas pelaku sebenarnya.

“Bisa jadi itu petunjuk sebenarnya untuk memburamkan fakta, kami belum tahu. Saya dapat informasi yang di timur itu setelah diperiksa sama si pemilik kartu nama, ternyata dia enggak ada kaitannya, bisa jadi foto cowok juga begitu,” kata Irwan.

Tetapi, lanjutnya, kepolisian tetap harus menelusuri petunjuk itu. “Hasilnya bagaimana, itu nantilah, kami tetap akan telusuri petunjuk-petunjuk,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan. Kali ini mayat di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Hingga kini belum diketahui identitas mayat perempuan yang dimasukkan ke dalam kardus televisi di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Namun, kuat dugaan pelaku pembunuhan wanita malang berusia sekitar 40 tahun cukup sadis.

Hal ini diakui Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan. Ia mengatakan dugaan kuat kematian wanita itu karena mati lemas setelah dibekap pelaku.

Namun, rupanya pelaku tidak berhenti usai membekap korban. Pelaku justru kembali menyakiti korban dengan menusuk memakai senjata tajam sehingga menyebabkan luka sedalam 25 mm di bagian perut. “Ada juga pendarahan dari luka tusuk itu,” ungkap Irwan.

Ia menambahkan bahwa saat pelaku membunuh, korban tengah hamil dengan usia kandungan 4-6 minggu. “Kami masih belum mengetahui motif di balik ini apa,” ungkap Irwan.

Ia menuturkan penyidik kini melihat adanya kesamaan antara korban tewas di Koja, Jakarta Utara dengan mayat bocah perempuan berusia 10 tahun di Cakung, Jakarta Timur. “Kami lakukan tes DNA keduanya untuk melihat apakah ada hubungan darah,” tandasnya.

Polisi menemukan selembar kartu nama bertuliskan Saripudin bersama dengan mayat bocah perempuan yang dimasukkan ke dalam koper di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Namun, setelah ditelusuri ternyata pemilik kartu nama itu tidak mengenal korban.

Kepala Unit Reskrim Polsek Metro Cakung Ajun Komisaris Made, Senin (17/10/2011) mengatakan, dalam kartu nama itu, tercantum alamat Saripudin di Jalan Boulevard Gading Permai, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polisi kemudian menelusuri alamat tersebut dan memeriksa pemilik kartu nama.

Saat ditunjukkan foto korban, Saripudin mengaku tidak mengenalnya. Ia juga heran mengapa kartu namanya ada di dalam koper bersama anak usia 5-9 tahun yang tewas mengenaskan dalam koper itu.

“Dia itu sales alat elektronik dulunya. Memang dia sebar banyak kartu nama. Dia bingung siapa yang punya kartu namanya dan kenapa ada sama anak itu,” kata Made.

Made mengatakan, polisi masih belum dapat menyimpulkan dugaan kematian bocah malang itu. Tes DNA untuk mencocokkan adanya hubungan darah antara korban dan mayat perempuan dewasa di Koja pun sudah dilakukan hari ini. Namun, hasilnya masih belum keluar.

Mayat bocah itu ditemukan pada Sabtu (15/10/2011) di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 5-9 tahun. Korban memiliki gigi jarang di bagian depan, tinggi badan sekitar 105 cm, memakai anting jarum pentul warna ungu, dan memiliki bekas luka parut di bagian dagu sebelah kiri.

Korban tewas yang ditemukan di dalam kardus yang tergeletak di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara pada Jumat (14/10/2011) lalu diduga tewas karena lemas. Ada dugaan korban tewas setelah sebelumnya sempat dibekap oleh pelaku. Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Dari hasil forensik menyebutkan dia mati lemas atau dibekap,” ujarnya. Irwan menuturkan kesimpulan itu didapat tim forensik setelah melihat bagian-bagian tubuh tertentu.

“Misalnya lubang tinja itu dilihat. Ada tandanya, yang tahu forensik, kalau dia mati lemas itu bagaimana,” ucap Irwan.

Tetapi, kata Irwan, hasil forensik juga menunjukkan penyebab kematian bisa saja karena tusukan benda tajam. Pasalnya, di bagian perut korban ditemukan luka tusuk akibat kemasukan senjata tajam sedalam 25 mm. “Diperkirakan korban tewas 12 jam sebelum ditemukan,” tambah Irwan.

Dari hasil visum yang diterima polisi, perempuan itu diketahui memiliki ciri-ciri berusia 40 tahun, bergolongan darah A, berkulit kuning langsat, berambut panjang berwarna hitam, dan tinggi badan mencapai 155 cm. Bagi pihak yang mengenali ciri-ciri itu, bisa menghubungi call center Polda Metro Jaya di nomor 0816782000, atau Call Center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

“Kami fokus pada pengungkapan identitas korban. Kalau sudah diketahui, akan lebih mudah proses penelusurannya,” pungkas Irwan. Identitas foto anak laki-laki berusia 15-16 tahun yang disertakan bersama mayat perempuan di dalam kardus yang ditemukan di wilayah Koja, Jakarta Utara, masih misterius. Polisi sudah berkoordinasi dengan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara dan memastikan bahwa anak laki-laki berseragam sekolah itu bukanlah pelajar di wilayah Jakarta Utara. Demikian disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Tadi sudah koordinasi dengan Sudin Disdik Jakut, Pak Gatot. Dia memastikan kalau di Jakarta Utara tidak ada sekolah baik SD, SMP, dan SMA yang memiliki seragam seperti di foto itu,” ujarnya.

Polisi sampai sekarang juga belum mendapatkan laporan pihak yang mengaku mengenali sosok laki-laki berseragam biru tersebut. Demikian pula dengan sosok jenazah perempuan yang dibunuh secara sadis dan dimasukkan ke dalam kardus.

“Belum ada satu pun yang mengenali foto laki-laki dan jenazah perempuan,” kata Irwan.

Pihak polisi, kata Irwan, sudah menyebar ratusan foto wajah perempuan yang diperkirakan berusia 40 tahun itu. Foto-foto korban disebar di berbagai tempat keramaian di wilayah Koja, Tanjung Priok, dan Cilincing.

Polres Metro Jakarta Utara dan Polda Metro Jaya kini juga membuka call center apabila ada pihak yang memiliki informasi penemuan jenazah perempuan malang itu. Adapun nomor telepon call center Polda Metro Jaya yakni 0816782000, sedangkan call center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

Seperti diberitakan sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, usia 40 tahun, kulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam warna hitam.

Sebanyak 11 orang saksi diperiksa terkait penemuan mayat tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus dan koper di wilayah Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya. Ia melanjutkan untuk kasus penemuan mayat di dalam koper di Cakung sebanyak tiga orang sudah dimintai keterangan.

“Di timur sudah ada tiga orang saksi yang diperiksa. Mereka yang ada di sekitar lokasi saat mayat ditemukan,” ungkap Baharudin.

Sementara untuk penemuan mayat perempuan dewasa di Jakarta Utara, polisi telah memeriksa delapan orang saksi. “Di antaranya dua orang saksi yang menemukan langsung, dua orang yang melihat di ujung gang, dan empat orang pemilik rumah di sekitar lokasi,” kata Baharudin.

Saat ini, polisi juga membuka call center bagi siapa pun yang mengenali sosok mayat tersebut yakni di nomor 0816782000. Diakui Baharudin, polisi akan bertindak proaktif dalam mencari identitas kedua mayat yang diduga saling terkait itu.

“Semua sumber informasi akan jadi saran bagi kepolisian untuk membuat terang kasus ini,” kata Baharudin.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Utara masih terus melakukan pemeriksaan terkait penemuan mayat perempuan tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus televisi. Polisi kini mulai mencurigai pengendara motor yang diketahui warga sering bolak-balik di tempat ditemukannya mayat itu.

“Orang yang naik motor bolak-balik ini yang kami dalami. Sampai sekarang kami belum tahu motornya apa dan nomor polisinya berapa,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Gatot Edy Pramono, Minggu (16/10/2011) di Mapolda Metro Jaya.

Ia melanjutkan, penyidik sudah meminta keterangan dari warga setempat yang pertama kali menemukan mayat itu dan warga lain yang melihat pengendara motor itu. “Sejauh ini baru warga-warga itu. Belum ada yang lain,” tutur Gatot.

Sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan berada di dalam kardus televisi yang dibuang di pinggir Gang B RT 7 RW 17, Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Jumat (14/10/2011) pukul 14.30.

Menurut beberapa warga, kardus itu ditemukan setelah beberapa saat terdengar suara gaduh barang dibuang dan diikuti suara motor. Saat dilihat ternyata ada sebuah kardus televisi besar diletakkan di jalanan.

Ketika dibongkar, warga melihat sesosok mayat perempuan yang dibelit kain batik. Wajahnya ditutup rambut panjangnya yang lurus. Temuan ini pun dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Utara. Penyidik Reskrim Polrestro Jakarta Utara yang membongkar kardus itu menemukan mayat perempuan itu hanya mengenakan pakaian dalam. Tubuhnya pun diikat dengan tali rafia sehingga badan dan kakinya menyatu. Selain itu ditemukan foto bocah laki-laki dan luka tusuk di bagian perut.

Polisi menduga dua mayat tanpa identitas di dalam kardus dan koper yang ditemukan di Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur saling berkaitan. Untuk membuktikan keterkaitan keduanya, polisi akan mencocokan DNA dari kedua jenazah.

“Hari ini dari dua temuan itu akan dicek DNA oleh kedokteran forensik untuk melihat kecocokan apakah dua jasad ini punya keterkaitan atau berhubungan darah atau tidak,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya.

Diakui Baharudin, kepolisian sampai sekarang juga masih belum mengetahui identitas kedua jenazah tersebut. Pasalnya, masih belum ada pihak yang mengaku pernah mengenal jenazah itu. Baharudin menjelaskan, polisi saat ini fokus untuk mengungkap identitas keduanya. Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur langsung membentuk tim khusus didukung Direskrimum Polda Metro Jaya.

“Tujuannya untuk cari identitas korban. Kami juga membuka call center di nomor 0816782000,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam koper di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Oknum PNS Lampung Di Penjara Karena Gauli Siswi Yang PKL Di Kantornya

Seorang oknum pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pasar Kota Metro, Lampung, terancam dibui akibat tuduhan melakukan pelecehan seksual.

Pria berinisial IR itu menyentuh tubuh bagian belakang siswi kelas II sebuah SMK yang sedang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di dinas tersebut.

Informasi yang dihimpun Tribun Lampung, DE (16) mengalami pelecehan seksual pada Jumat (21/1/2011) lalu sekitar pukul 09.00 WIB. Ketika itu, korban masuk ke dalam salah satu ruang di kantor dinas tersebut.

IR tak mampu menahan gairah saat melihat kemolekan tubuh DE. Ia pun langsung meraba pantat, memegang tangan, buah dada, serta mencium korban.

Tidak terima dengan perlakuan tersebut, korban bersama orangtuanya kemudian melaporkan kejadian ini ke Polres Kota Metro.

Kapolres Kota Metro AKBP Nurochman membenarkan laporan tindak pelecehan seksual tersebut. Menurutnya, korban melaporkan IR, oknum pegawai Dinas Pasar Kota Metro. Ia menuturkan, pemeriksaan terhadap IR sudah dilakukan, korban ataupun saksi-saksi lain juga sudah dimintai keterangan oleh petugas.

“Kami masih terus lakukan pemeriksaan, status IR masih terperiksa belum jadi tersangka,” ujarnya, Kamis (27/1/2011). Ia menjelaskan, setelah proses pemeriksaan selesai dilakukan, barulah IR bisa ditetapkan menjadi tersangka.

Nurochman juga membenarkan bahwa korban adalah siswi sebuah SMK swasta yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Dinas Pasar.

Menurutnya, apabila sudah ditetapkan menjadi tersangka, IR bisa dijerat UU tentang Perlindungan Anak. “Karena korban masih berusia di bawah umur,” imbuhnya.

Sebelas Wanita Ini Diperkosa secara Brutal Oleh Maniak Seks

Delapan dari 11 mayat perempuan ditemukan di rumah Anthony Sowell (50), seorang maniak seks. Jenazah perempuan ini dalam kondisi memelas.

Mereka ditemukan dalam keadaan telanjang, kelaminnya diduga mengalami perlakuan seksual luar biasa sadis, sebelum dibunuh, demikian laporan dari pihak otopsi.

Menurut laporan kantor penyidik Cuyahoga, Kamis (1/4/2010), wanita yang ditemukan di rumah Anthony Sowell di Cleveland, tahun lalu, dibunuh dengan ikat pinggang, kabel, disetrum, diikat, dan dipukuli dengan tali anyaman tas.

Banyak ditemukan bekas luka di sekitar leher mereka. Tiga dari para wanita itu diikat pergelangan tangannya.

Dua diikat pergelangan tangan dan kaki. Satu korban telanjang bulat dan empat orang telanjang dari pinggang ke bawah.

“Dua wanita dilaporkan dalam keadaan sekarat, luka di tubuh mereka membusuk,” kata Dr Frank Miller, penyidik setempat.

Otopsi terhadap korban kesebelas tidak jadi dilakukan karena hanya kepalanya yang tersisa. “Beberapa korban mungkin tewas setelah dicekik dengan tangan,” kata Miller.

Dalam persidangan, Sowell mengaku telah membunuh para wanita tersebut dan mengubur di sekitar rumahnya di wilayah miskin dan kumuh.

Modus operandi yang digunakan Sowell untuk memikat para wanita ini dengan menawarkan narkoba dan alkohol. Sowell mudah melakukan hal ini karena Sowell dikenal sebagai pribadi yang mudah dan senang bergaul, ramah dan murah senyum.

Lima perempuan ditemukan selamat. Selain itu, polisi juga menemukan dua mayat dan menyelidiki laporan seorang perempuan yang mengalami perkosaan brutal di rumah itu.

Pihak penyelidik mengatakan ingin membuktikan secara ilmiah tindak perkosaan biadab yang dilakukan Sowell. “Kami berharap Sowell bertanggung jawab atas semua kejahatan keji itu,” kata Ryan Miday, juru bicara kejaksaan tentang hasil otopsi.

Banyak wanita yang dilaporkan hilang beberapa minggu atau bulan yang lalu ditemukan di rumah Sowell, yang memiliki catatan kriminal panjang ini.

Pihak keluarga korban percaya, polisi akan menangani kasus ini secara serius. Kamis ini, jaksa penuntut kembali membawa 10 dakwaan kepada Sowell.

Mereka menuduh Sowell telah menyerang seorang wanita di rumahnya pada September 2008.

Wanita itu mengatakan kepada pihak berwenang, Sowell telah menyekapnya, memerkosa, dan memaksa wanita tersebut berhubungan seksual dengan tidak patut.

Babeh Pembunuh Berantai Dengan Korban 14 Orang Anak Yang Disodomi Ternyata Teman Robot Gedek

Hasil penyidikan polisi sampai saat ini terungkap, 14 anak di berbagai wilayah dibunuh oleh Baekuni (48) alias Babeh, yang delapan di antaranya dimutilasi. Jumlah korban ini jauh lebih besar dibandingkan kasus Robot Gedek maupun Very Idam Henyansyah alias Ryan.

Demikian diungkapkan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Wahyono, yang didampingi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, psikolog Sarlito Wirawan Sarwono, dan kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala di Polda Metro Jaya, Senin (1/2).

”Jumlah korban dalam kasus Babeh jauh lebih besar daripada kasus Robot Gedek dan Ryan yang ditangani Polda Metro Jaya,” kata Wahyono.

Korban mutilasi Robot Gedek (1994-1996) dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997 disebutkan enam orang, sementara korban Ryan (2006-2008) 11 orang. Dari hasil pemeriksaan polisi, korban pembunuhan dan mutilasi Babeh sampai saat ini sudah mencapai 14 orang. Babeh membunuh sejak tahun 1993.

Korban Babeh yang sudah terungkap adalah Adi, Rio, Arif Abdullah alias Arif ”Kecil”, Ardiansyah, Teguh, dan Irwan Imran yang dimutilasi, serta Aris, Riki, dan Yusuf Maulana. Empat korban terakhir yang terungkap juga dimutilasi adalah Feri, Doli, Adit, dan Kiki. Rata-rata usia mereka 10-12 tahun, kecuali Arif yang masih berusia 7 tahun.

Kasus pembunuhan yang dilakukan Babeh ini, kata Adrianus, layak menjadi sebuah cerita kriminalitas yang paling mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia.

Kasus Robot Gedek

Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menduga Babeh memiliki peran besar dalam kasus Robot Gedek. Bahkan, Babeh kemungkinan besar memanfaatkan kasus Robot Gedek karena Babeh menjadi saksi utama kasus itu.

Data yang dihimpun Kompas menunjukkan, dalam pengadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1997, di depan majelis hakim yang dipimpin hakim Sartono, Babeh mengaku melihat Robot Gedek menggandeng seorang anak laki-laki di Pasar Jiung, Kemayoran. Anak tersebut dibawa Robot Gedek ke semak-semak.

Sementara itu, Babeh menunggu giliran mendapat kesempatan untuk menyodomi bocah lelaki yang dibawa Robot Gedek. Babeh mengaku menunggu satu jam dan setelah itu mendekati lokasi Robot Gedek. Di lokasi itu, dia menyaksikan Robot Gedek memutilasi korbannya.

Akhirnya Robot Gedek (42) divonis pengadilan dengan hukuman mati pada 21 Mei 1997. Namun sehari sebelum dilakukan eksekusi diketahui bahwa Robot Gedek telah meninggal dunia di RSUD Cilacap karena serangan jantung.

Sampel darah

Sementara itu, Kepolisian Resor Magelang telah mengambil sampel darah Askin (54) dan Isromiyah (44), orangtua Sulistyono, bocah yang diduga korban mutilasi Babeh. Sampel darah ini akan dicocokkan dengan tes DNA dari tulang belulang yang ditemukan di Dusun Mranggen, Desa Kajoran, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

”Sampel darah sudah kami kirimkan untuk diteliti dan dicocokkan dengan hasil tes DNA oleh Dokkes (Bidang Kedokteran dan Kesehatan) Polda Jawa Tengah,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Aris Suwarno, Senin. Proses penelitian dan pencocokan ini kira-kira memerlukan waktu sekitar dua minggu

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Terbukti Metoda Polisi Dalam Mengungkap Kejahatan Masih Dengan Cara Menyiksa Tersangka Hingga Mengaku – Kemat Dihajar Sampai Setengah Mati Agar Mau Mengaku Membunuh Ashori Hingga Dihukun 17 Tahun Penjara … Eh Ternyata Dibunuh Oleh Ryan

Air mata Imam Hambali alias Kemat (34) langsung mengucur saat Eka Lisnawati, sang kemenakan, menyalaminya lewat lubang sebuah pembatas berjeruji kawat yang memisahkan antara pembesuk dan napi LP Jombang, Kamis (28/8) kemarin.

Kemat adalah salah satu terpidana salah tangkap dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idam Henyansah alias Ryan, warga Desa Jatiwates, Jombang, yang telah membantai 11 orang.

Kemat dihukum 17 tahun, sementara Devid Eko Priyanto 12 tahun setelah pengadilan memvonis keduanya membunuh Asrori, pria yang mayatnya ditemukan di kebun tebu Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, 29 September 2007 lalu.

Namun, Rabu (27/8) lalu terungkap bahwa pembunuh Asrori adalah Ryan, dan makam Asrori sesungguhnya bukanlah di kebun tebu, melainkan di belakang rumah orangtua Ryan di Jatiwates.

Keadaan ini membuat pertemuan Kemat dan keluarga yang menjenguknya di LP kemarin diliputi keharuan. “Alhamdulillah…akhirnya kebenaran itu terkuak juga. Doakan ya… semoga masalahnya lekas selesai dan saya bisa bebas,” ujar Kemat sambil terus menangis.

Kemat mengaku sudah mendengar kabar salah tangkap dirinya dan Devid sejak kemarin pagi lewat siaran berita radio yang dibawanya ke Blok A3 LP Jombang. Blok inilah yang dihuni Kemat sejak dia dijebloskan ke bui setelah dicatut polisi sebagai tersangka pembunuh Asrori, 21 Oktober 2007 lalu. Devid menempati Blok F-4.

Sementara itu, Maman Sugianto alias Sugik, yang disangka sebagai pelaku, masih dalam masa karantina dan menempati Blok D-2. Kemarin Sugik menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jombang.

Surya kemarin turut membesuk Kemat di LP Jombang. Kepada Surya, Kemat berkisah bahwa sepanjang Ramadhan 2007 lalu polisi berulang kali menciduknya dari rumahnya di Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Namun, berulang kali pula dia kembali dipulangkan. Pada pemanggilan berikutnya ke polsek saat lebaran ketupat, Kemat akhirnya ditahan. “Ayo guk melu aku nang polsek (ayo Mas ikut saya ke polsek),” ujar Kemat, mengulang kalimatnya saat itu.

Dia mengajak kakaknya yang nomor empat itu karena sudah merasa tak enak akan terjadi sesuatu. Kemat adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Khamin (75) dan Watini (65).

Benar saja. Hingga sore, Kemat tak lagi pulang ke rumah. Sekitar pukul 24.00, Karnadi tiba di rumah tanpa Kemat. Di Polsek Bandarkedungmulyo, Kemat mengaku mendapat siksaan fisik dari penyidik. Bahkan, untuk memaksa agar dia mengakui sebagai otak pembunuh Asrori, menurut Kemat, polisi membawanya ke tanggul Sungai Kayen. “Aku dipukuli Mas pakai karet diesel,” tuturnya.

Kemat ditangkap setelah polisi menangkap Devid di Tuban, rumah neneknya, pertengahan Oktober tahun lalu. Setelah Kemat, nama lain yang disangka terlibat dalam penghilangan nyawa Asrori adalah Maman Sugianto atau Sugik. “Saya enggak tahu apa-apa Mas. Katanya saya bawa sepeda motor Asrori, itu juga tidak benar,” kata Kemat.

Tangis Kemat tak terbendung lagi saat rombongan keluarga Sugik datang membesuk. Orangtua Sugik, Sulistyowati dan Mulyono, datang sekitar pukul 12.40. Mereka mengunjungi LP Jombang setelah mengikuti sidang Sugik di PN Jombang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa. Sebelum mereka, teman-teman Kemat dari desa tiba lebih dulu.

Wis tenang ae. Engko nek wis metu tak kancani sampek elek (Sudah tenang saja kamu. Nanti kalau sudah bebas akan kuajak main-main sampai puas),” ujar Arif, salah satu kawan Kemat.

Tak Dijenguk
Berbeda dengan keluarga Kemat, keluarga Devid tak bisa mengunjungi LP. Ibunda Devid, Siti Rokhanah (38), saat ditemui di kediamannya, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Jombang, mengaku bersyukur akhirnya mayat di kebun tebu bukan Asrori dan berharap Devid segera dibebaskan. Kendati demikian, Rokhanah tidak bisa segera membesuk anaknya ke LP Jombang karena tidak memiliki biaya.

“Ya alhamdulillah kalau sekarang ada bukti anak saya tidak bersalah. Tapi kalau untuk menjenguk ke penjara belum bisa. Ongkosnya dari mana?” tanya Rokhanah. Selain tak ada biaya, Rokhanah juga mengaku, jika membesuk di LP khawatir dirinya tak mampu menahan perasaan karena trauma.

Rokhanah berkisah, Devid ditangkap dalam suasana Idul Fitri 2007. Dalam kisahnya, tersirat ada skenario untuk sengaja menjebloskan Devid maupun Kemat, serta Sugik sebagai terpidana.

Kata Rokhanah, berdasarkan pengakuan Devid setelah divonis, penangkapannya bermula ketika suatu siang Devid sedang minum kopi di warung yang tak jauh dari rumah. Saat itu ada polisi datang dan memberinya uang Rp 20.000 untuk pergi alias kabur.

Entah karena alasan apa, Devid menuruti kemauan polisi itu. Devid kemudian pergi ke Tuban, ke rumah kakeknya. Saat di Tuban itulah dia ditangkap polisi. “Polisi tentu mudah menangkap karena saat itu Idul Fitri dan yang dikunjungi pasti kakeknya yang di Tuban atau di Surabaya,” kata Rokhanah dengan berurai air mata.

Kemarin, polisi membongkar kuburan mayat Asrori di kebun tebu di Desa Kalangsemanding. Pembongkaran ini disaksikan ratusan warga dan dipimpin Kasat I Pidum Ditreskrim Polda Jatim AKBP Susanto sejak pukul 11.00 hingga pukul 13.15.

Mayat ‘Asrori’, yang sekarang berubah menjadi mayat tak dikenal karena mayat Asrori sesungguhnya telah ditemukan di belakang rumah Ryan, kini tinggal tulang belulang dengan sedikit daging yang membusuk dan bau menyengat. Selanjutnya mayat tersebut dikirim ke RS Bhayangkara, Surabaya. AKBP Susanto mengatakan, akan dilakukan uji DNA untuk dicocokkan dengan DNA kerabat orang-orang yang kehilangan keluarganya. “Yang jelas dia bukan Asrori karena sesuai DNA, Asrori dikubur di belakang rumah orangtua Ryan,” kata Susanto.

Tentang kemungkinan adanya sanksi bagi penyidik atau pimpinan di atasnya, Susanto mengaku itu akan mengacu pada aturan yang ada. Sedangkan kepada keluarga terpidana dan terdakwa dibuka peluang untuk melakukan upaya hukum sesuai aturan yang ada, seperti pengajuan peninjauan kembali (PK), rehabilitasi nama baik, dan sebagainya.

Menurut sumber di kepolisian, BAP (Berita Acara Pemeriksaan) kasus Asrori kebun tebu yang menyebabkan salah tangkap itu sudah dibawa ke Polda Jatim. Sejumlah penyidik di jajaran Polres Jombang serta Kapolsek Ngoro AKP Anang Nurwahyudi (yang saat terjadinya kasus penemuan mayat Asrori di kebun tebu menjabat Kapolsek Bandarkedungmulyo dan melakukan penyidikan) juga segera diperiksa tim khusus ini.

Ada yang menarik saat pembongkaran mayat kemarin. Jajaran pimpinan Polres Jombang tampak serba salah, bahkan kelihatan tegang. Agaknya ini karena sebelumnya Polres Jombang tetap bersikukuh mayat yang ditemukan di kebun tebu adalah Asrori.

Anang Nurwahyudi juga tegang dan serba kikuk. Ditanya tentang kemungkinan salah tangkap, dia memilih menghindar. Kapolres Jombang AKBP Moh Khosim, saat dicecar wartawan terkait pembongkaran mayat “Asrori”, juga sangat jelas terlihat gugup. Dengah suara agak bergetar, Khosim mengatakan, terhadap mayat tersebut akan diuji DNA untuk dicocokkan dengan keluarga Asrori.

“Ini untuk melihat apakah ada kesamaannya,” kata Kapolres Khosim. Dengan jawaban demikian, seolah dia mengisyaratkan masih terbuka peluang bahwa mayat tersebut adalah Asrori. Padahal AKBP Susanto mengatakan, tidak mungkin ada kesamaan DNA antara `Asrori` di kebun tebu dengan Asrori di belakang rumah Ryan. “Ini fakta ilmiah, kebenarannya 99,99 persen,” kata Susanto.

Yang mengejutkan, kendati berdasarkan uji DNA mayat Asrori adalah yang ditemukan di belakang rumah Ryan, keluarga Asrori masih meragukannya. Paman Asrori, Jaswadi (43), yakin mayat yang dibongkar kemarin itu adalah mayat Asrori. “Saya yakin itu Asrori karena ada bekas luka kena knalpot, kukunya rapi, dan giginya juga jelas milik Asrori,” kata Jaswadi, Kamis

Kepastian mayat Mr X adalah Asrori membuat lega keluarga Imam Hambali alis Kemat (26). Eka Lisnawati, keponakan Kemat, berulang kali mengucap syukur saat diberitahu kabar itu. “Semua keluarga senang, alhamdulillah akhirnya kebenaran itu terungkap,” ucap Eka, Rabu (27/8).

Dengan kabar ini, Eka bersama keluarganya berencana mengunjungi Kemat di LP Jombang hari ini. Mereka ingin memberi kabar bahagia itu langsung ke Kemat. “Kasihan dia tidak bersalah tapi sudah dihukum setahun,” ujar Eka.

Sebagai rasa syukur, keluarganya berencana menggelar selamatan di rumahnya sambil menunggu kepulangan Kemat.

Kata Eka, sejak awal keluarganya yakin Kemat tidak membunuh Asrori. Keyakinan itu didapat setelah seluruh keluarga menginterogasi Kemat. “Dia ngakunya tidak pernah membunuh, sampai bersumpah. Jadi keluarga mempercayainya,” katanya.

Hingga kemarin, Eka dan anggota keluarga Kemat belum berencana mengajukan gugatan ke polisi terkait kesalahan penangkapan. “Kami menunggu sampai pulang dulu. Enggak tahu nanti,” katanya.

Ayah Kemat, Khamin (75), juga mengaku tak pernah percaya anaknya membunuh Asrori. Menurut Khamin, Kemat tidak mungkin membunuh. “Terhadap hewan saja dia itu tidak tega memukul, apalagi terhadap manusia, membunuh lagi. Lebih-lebih lagi Asrori itu tetangganya sendiri,” kata Khamin.

Kemat, jelas dia, juga sangat penakut. “Kalau keluar rumah, misalnya ke tetangga, pada malam hari, selewat pukul 10.00 malam saja dia pasti akan minta diantar. Orang penakutnya seperti itu kok dituduh membunuh, jelas kami tidak percaya,” ujar Khamin.

Khamin makin yakin Kemat tidak membunuh karena setiap keluarga membesuk Kemat ke LP Jombang, Kemat hampir selalu menangis dan bercerita dirinya tidak membunuh siapa pun. “Dia mengaku kepada kami, saat di kepolisian tubuhnya dipukuli polisi sehingga terpaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya. Kasihan sekali dia,” kata Khamin.

“Kalau mengingat kejadian dia ditangkap, saya dan istri saya pasti menangis karena sedih. Saat itu, sedang enak-enak santai habis makan sahur, menunggu datangnya imsak, tiba-tiba rumah kami didatangi beberapa polisi. Mereka membawa anak saya pergi,” tutur Khamin, dengan suara tersendat

Keluarga terpidana dan terdakwa kasus pembunuhan kebun tebu di Dusun Braan, Desa Bandar Kedungmulyo, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang meminta rehabilitasi nama baik anggota keluarga mereka.

Mereka adalah adalah keluarga terdakwa Maman Sugianto alias Sugik (28), serta terpidana Imam Hambali alias Kemat (35) dan Devid Eko Prianto (19). Kemat dan Devid sudah divonis hukuman masing-masing 17 tahun dan 12 tahun.

“Saya meminta keadilan, saya minta anak saya dibebaskan,” kata Sulistiyawati (43), ibu kandung Sugik. Ia dan suaminya, Mulyono (50) juga berharap agar nama baik keluarganya bisa dipulihkan.

Ini terkait dengan bukti bahwa jenazah korban pembunuhan yang sempat diidentifikasi sebagai Moh. Asrori yang dibunuh pada 29 September 2007 itu ternyata orang lain. Berdasarkan tes DNA yang dilakukan polisi, diketahui jenazah Moh. Asrori adalah yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Very Idam Henyansyah alias Ryan pada penggalian kedua, Senin (28/7) lalu.

Siti Rochana (38), ibu kandung Devid meminta ada upaya rehabilitasi nama baik keluarganya dari polisi akibat kasus ini. Ia belum memikirkan upaya hukum lanjutan terhadap polisi. Adapun Sumarmi (41) kakak ipar Kemat mengatakan pihak keluarga masih menunggu perkembangan kasus tersebut.

“Yang penting keluar (bebas) dulu,” katanya.

Sementara itu, dalam persidangan perdana yang dilakukan terhadap terdakwa Sugik di Pengadilan Negeri Jombang, Kamis (28), Ketua Majelis Hakim Kartijono menyatakan bakal tetap melanjutkan perkara itu.

“Kita sesuai saja dengan hukum acara pidana,” kata Kartijono.