Category Archives: pembunuh berantai

Ibu Hamil dan Anaknya Dibantai Kakak Beradik Supardan Irianto dan Achmad Suganda Karena Dendam

Pembunuhan yang menimpa ibu bernama Rika R. Damayanti (32) beserta anaknya, Benyamin Nataniel (8), diduga dipicu dendam. Dua orang karyawan yang diduga pelaku sempat terlibat cekcok dengan korban.

Umri (40), salah seorang warga yang biasa beraktifitas di sekitar Toko Kasur Murah Jaya Makmur di Jalan Jatinegara Barat, RT 01 RW 06 Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur itu mengungkapkan, dua karyawan yang diduga sebagai pelaku baru bekerja selama tiga bulan.

“Tadi pagi mereka dipecat. Pemilik tokonya bilang, kamu kan sudah dipecat, ngapain lagi datang ke sini? Gitu,” ujarnya meniru pembicaraan karyawan yang diduga sebagai pelaku dengan korban saat ditemui, Kamis (15/11/2012).

Sekitar pukul 15.00 WIB, Umri baru mengetahui insiden pembunuhan tersebut dari tukang parkir setempat. Pemilik toko yang menjual karpet dan kasur atas nama Daniel itu datang dan mendapati tokonya dalam kondisi rolling door tertutup.

“Saya baru tahu ada kejadian pembunuhan itu juga jam 15.00 WIB, kondisi toko sudah ramai. Masalah karyawannya itu saya sudah enggak ngeh lagi deh,” lanjutnya.

Sementara, Senut (60), salah seorang warga lainnya mengatakan, pukul 15.15 WIB dirinya mendengar teriakan ‘pembunuh’ dari toko itu. Ia yang tengah berjualan di belakang toko pun mendatangi toko tersebut dan masuk ke dalam. Kedua korban ditemukan tewas dengan kondisi usus terburai akibat sabetan senjata tajam.

“Ditemukan di dalam WC dua-duanya. Saya yang ngeliat pertama kali karena enggak ada yang berani liat. Ibu menghadap kanan, anaknya menghadap kiri,” ujarnya.

Rika yang tengah mengandung empat bulan mengalami luka sabet senjata tajam jenis golok. Begitu juga dengan sang anak yang juga mengalami luka sabet senjata tajam di perut, lengan, dan luka memar di wajah.

Berdasarkan informasi di lapangan, dua orang karyawan itu berinisial S dan AS. Keduanya diketahui adalah kakak beradik yang bekerja di toko tersebut. Keduanya pun diketahui telah menghilang dari indekost pelaku di bilangan Kampung Melayu atau pun lokasi kejadian.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur, AKBP M. Soleh membenarkan pelaku adalah kedua karyawannya. Kini, pihaknya tengah melakukan penyelidikan. “Pelaku sudah kami identifikasi, mereka sedang kami buru,” ujarnya.

Seorang ibu yang dibunuh di toko miliknya di Jalan Jatinegara Barat, Jatinegara, tewas dalam kondisi tengah mengandung empat bulan. Selain korban dan janinnya, anak korban juga tewas dibunuh di toko tersebut.

Korban bernama Rika Rahma Damayanti (32) dan putra kandungnya Benyamin Nataniel (8) ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko karpet dan kasur Murah Jaya Makmur, Kamis (15/11/2012) sore. Mereka ditusuk di bagian perut dengan senjata tajam yang digunakan pelaku.

“Ibunya lagi hamil empat bulan. Tangan sama perutnya disabet pakai golok. Saya sempat lihat korban soalnya,” ujar Winson (46), salah seorang warga setempat, Kamis (15/11/2012).

Berdasarkan informasi dari petugas Polres Jakarta Timur, kedua korban ditemukan pertama kali oleh suami Rika bernama Daniel sekitar pukul 15.15 WIB di dalam kamar mandi lantai satu toko mereka. Kondisi fisik korban mengenaskan. Rika yang tengah mengandung empat bulan mengalami luka sabet senjata tajam jenis golok. Begitu juga dengan sang anak yang juga mengalami luka sabet senjata tajam di perut, lengan dan luka memar di wajah.

Warga tak menyangka kedua korban tewas dengan cara yang mengenaskan. “Enci (Rika) sama engkohnya (Daniel) padahal baik-baik loh orangnya,” ujar Winson.

Saksi mengatakan, sebelum peristiwa tersebut, dua orang karyawan yang diduga pelaku tidak boleh masuk bekerja pada pagi harinya. Itu terjadi karena keduanya terlibat cekcok mulut dengan orang lain yang belum diketahui identitas dan persoalannya.

Hingga kini, belum diketahui kronologi lengkap pembunuhan tersebut. Kedua jenazah telah dibawa ke ruang jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekitar pukul 17.30 WIB. Sementara, lokasi kejadian telah diberi garis polisi.

Pembunuhan sadis yang menimpa seorang ibu hamil bernama Rika R Damayanti (32) dan anaknya, Benyamin Nataniel (8), menyingkap fakta baru. Selain membunuh, pelaku yang diduga karyawan korban dan berjumlah dua orang tersebut juga melakukan aksi perampokan.

“Saya kecewa, itu di televisi polisi ngomongnya dendam. Itu bukan dendam, itu perampokan. Masalahnya HP, duit, dan ATM anak saya hilang semua,” ujar Ali Suwandi, ayah Rika, kepada Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Ali menjelaskan, setelah insiden tersebut, harta anaknya yang hilang berupa uang sebesar Rp 1,5 juta, dua unit ponsel merek Samsung dan Flexi, serta dompet berisi KTP, ATM, dan dokumen penting lain. Menurut Ali, kedua karyawan berinisial S dan AS, yang diduga pelaku pembunuhan disertai perampokan itu, baru bekerja di toko anaknya selama tiga bulan terakhir. Dua pemuda tersebut direkrut dari mantan karyawan atas nama Alfian. Ali sangat menyesalkan kejadian berdarah yang merenggut cucu, anak, dan calon cucu yang tengah dikandung oleh Rika.

“Saya tanya Pian (Alfian), dia bilang dua orang itu baik, makanya saya percaya. Sekarang anak saya, cucu saya, sama janin yang ada di anak saya sudah enggak ada,” ujarnya.

Kini jenazah Rika dan Benyamin masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Makmur Jaya, Jalan Jatinegara Barat, Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Dua orang kakak beradik yang diduga melakukan pembunuhan terhadap majikannya di Jatinegara, Jakarta Timur, dikenal kerap berbuat onar. Salah satu perbuatan onar pelaku terjadi beberapa hari sebelum insiden pembunuhan, Kamis (16/11/2012) lalu.

Hasaniah (60), ibu angkat dua orang terduga pelaku mengungkapkan, beberapa hari sebelum insiden pembunuhan, kakak beradik yang baru bekerja selama tiga bulan di toko kasur dan karpet milik korban itu terlibat keributan dengan sesama penghuni indekos. Rumah indekos itu milik orangtua Rika R Damayanti, ibu hamil yang dibunuh oleh kedua pelaku berinisial SR dan AS tersebut.

“Si AS itu memang orangnya rusuh. Anak kos yang lain enggak suka karena mau tidur enggak bisa karena AS berisik,” ujar Hasaniah saat ditemui Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

SR diketahui sebagai kakak, AS adalah adiknya. Kedua terduga tersangka menghuni indekos di Jalan Permata II, RT 02/RW 06, Kebon Pala, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, milik orangtua korban.

Ikut tersulut amarah atas keributan yang melibatkan adiknya AS, SR pun turun tangan. Ia mengambil golok dan mengancam para penghuni indekos. Keributan tersebut cepat berakhir karena penghuni lain di indekos itu mengalah kepada SR dan AS. Namun, karena kesal terhadap perilaku kedua kakak beradik perantauan itu, penghuni indekos mengadukan ulah mereka kepada Ali Suwandi, sang pemilik indekos. Kebetulan SR dan AS bekerja di toko milik anak Ali.

“Si SR sama AS diusir sama Koh Ali gara-gara kelakuannya kayak gitu. Anak-anak kostan lain bilangnya suka kehilangan barang juga,” kata Hasaniah.

Keputusan berisiko

Ali membenarkan bahwa ia sempat mengusir SR dan AS dari indekos. Atas kelakuan kakak beradik tersebut, Ali pun menyuruh Rika, anaknya, untuk menasihati SR dan AS. Namun, ia tak menyangka justru berujung pada insiden pembunuhan terhadap anak dan cucunya.

“Saya bilang, ‘Kamu enggak boleh tidur di sini lagi.’ Saya enggak ngeh kalau itu berisiko merenggut anak dan cucu saya,” ujar Ali sambil menangis, Jumat.

Kini jenazah Rika dan Benyamin masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur, Jalan Jatinegara Barat, Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Pelaku pembunuhan terhadap Rika Ramadayanti (32) dan putranya, Benjamin Nataniel Septian (8), ternyata tak bisa berlama-lama lari dari perbuatan kejam mereka. Supardan Irianto alias Andi dan Achmad Suganda alias Anda berhasil ditangkap petugas reserse gabungan Polrestro Jakarta Timur dan Polsektro Jatinegara.

“Kedua pelaku ditangkap di daerah Kotabumi, Lampung Utara, sekitar pukul 16.30 WIB tadi,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto dalam pesan singkatnya, Jumat (16/11/2012) sore.

Kedua tersangka ditangkap tanpa perlawanan setelah sempat buron sejak melakukan aksi kejamnya, Kamis (15/11/2012) di Toko Kasur Murah Jaya Makmur di Jalan Jatinegara Barat, RT 01 RW 06 Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur.

Kedua pelaku merupakan eks karyawan toko tersebut. Berdasarkan keterangan dari saksi mata, pelaku diduga sakit hati setelah dipecat dan diusir akibat sering membuat keributan.

Rika dan putranya ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan dengan usus terburai. Para korban ditemukan oleh Daniel, suami Rika sekaligus ayah Benjamin. Di hari kejadian, Daniel sedang keluar rumah untuk membeli makanan. Saat kembali, ia justru menemukan keluarganya telah tergeletak tak bernyawa.

Hingga berita ini diturunkan, kedua pelaku dan anggota reserse masih berada dalam perjalanan pulang dari Lampung menuju Jakarta.

Dua orang pelaku pembunuhan sadis terhadap ibu hamil bernama Rika R Damayanti dan putranya, Benyamin Nataniel, di Jatinegara, Jakarta Timur, akhirnya ditangkap oleh polisi, Jumat (16/11/2012). Keluarga korban menuntut pelaku dihukum berat sesuai undang-undang.

“Kalau saya bilang anak cucu saya mati, nyawa harus dibalas nyawa. Tapi kan enggak begitu caranya. Kita serahkan saja ke polisi,” ujar Ali Suwandi, ayah Rika, kepada Kompas.com, Jumat.

Ali mengutuk peristiwa pembunuhan tersebut. Ia kesal karena selain membunuh anak dan cucunya dengan sadis, pelaku juga mencuri sejumlah harta milik korban. Harta yang diambil oleh pelaku itu meliputi uang tunai sebesar Rp 1,5 juta, dua unit ponsel Samsung dan Flexi, serta dompet berisi KTP, ATM dan dokumen penting lain.

Ali tak menyangka jika pelaku yang merupakan karyawan toko milik korban berbuat sesadis itu. Sekitar tiga bulan lalu, Ali mencari orang untuk dipekerjakan sebagai karyawan di toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur milik Rika dan suaminya Daniel. Ali kemudian meminta bantuan kepada Alfian, mantan karyawannya, untuk mencari orang yang tepat. Alfian kemudian merekomendasikan SR dan AS.

“Saya nanya sama Pian (Alfian), ‘Mereka itu orangnya gimana?’ Dia bilang baik anaknya. Tapi saya bilang harus suka kerja karena sehari di toko cuma dikasih Rp 30.000,” kata Ali.

Akibat merekrut kedua pelaku itu, Ali merasa bersalah karena dituduh turut bertanggung jawab atas kematian anak dan cucunya. Ali pun menyesal karena kedua orang itu telah menjemput nyawa anak dan cucunya dengan cara begitu sadis.

Kini jenazah anak serta cucunya tersebut masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur, Jalan Jatinegara Barat Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Dua orang tersangka yang sempat buron seharian tersebut ditangkap di Kotabumi, Lampung Utara, Jumat tadi sekitar pukul 16.30 WIB.

Latar Belakang Keluarga dan Perkawinan Korban Pembunuhan Kakak Beradik Di Surabaya

Bagaimanakah sosok Sunarsih kakak kandung Supiati yang juga menjadi korban pembunuhan yang diduga dilakukan Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami Sunarsih. Dari keterangan keluarganya, Sunarsih dan Barja jahat dan berbalik dengan Supiati yang dikenal baik hati. “Supiati itu baik. Kalau Sunarsih dan suaminya Jaja itu jahat,” ujar kakak korban beda bapak, Saguni saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Sunarsih setelah lulus sekolah di Surabaya sudah merantau ke daerah Jakarta. Kemudian, ia menikah dengan seorang laki-laki. Sayangnya, pernikahan pertamanya yang barus berusia sebulan sudah pecaha dan keduanya bercerai. Dari suami pertamanya, Sunarsih mempunyai 1 anak. Namun, usianya juga tak berumur panjang.

Kemudian, Sunarsih (46) sering berkunjung ke Surabaya dengan seorang laki-laki yang usianya lebih muda yakni Warja alias Jaja (25) asal Subang Jawa Barat. “Sunarsih sering tinggal di sini sama Jaja. Sunarsih bisanya mengenalkan ke warga kalau Jajaj itu suaminya,” tuturnya. Sayangnya, meskipun keduanya menempati rumah adiknya di Simo Prona Jaya, keduanya nampaknya seperti menjadi tuannya. Bahkan, Jaja pernah melempar cangkir ke Supiati hingga lari meminta perlindungan ke keluarga Saguni. Saguni pun sempat akan bertengkar dengan Jaja, namun dihalau oleh Marnikem.

“Kalau keduanya nggak ada, Supiati mau berkunjung ke rumah kami. Tapi kalau sudah ada 2 orang itu, nggak berani ke sini, takut dimarahinya,” ujarnya. Memang kalau sama tetangga, keduanya baik. Tapi kalau sama keluarga kita, ibaratnya air dengan minyak, nggak akan nempel. “Kalau sama tetangga bisa tersenyum. Kalau sama keluarga kami, ya ibaratnya seperti minyak dan air, nggak pernah tegur sapa,” cetusnya.

Sunarsih dan Jaja sering Bogor-Surabaya. Bahkan ketika di Surabaya dan melahirkan anak pertamnya, Alif, Sunarsih dan Jaja menjual rumah Supiati yang di kawasan Simo Prona Jaya, dengan dalih untuk membiayai persalinan Alif. “Ya sering bolak balik ke Surabaya. Ya sekiranya ke Surabaya untuk mengambil harta atau uang. Kalau uangnya sudah habis, balik lagi ke Surabaya. Pokoknya apa saja yang di Surabaya, kalau bisa di jual ya dijual,” tuturnya.

Saguni menceritakan, dirinya pernah ditipu oleh Sunarsih dan Jaja. Rumahnya yang berda di Citarum, Kampung Karang Suko, Semarang, pernah dijual Sunarsih. Namun, sampai sekarang ini, Saguni tidak pernah merasakan hasil dari penjualan rumahnya. “Katanya Sunarsih, nanti kalau sudah dijual akan dibagikan. Tapi sampai sekarang nggak pernah dikasihkan. Kami sekeluarga nggak mau mengungkit-ngungkit lagi,” ujarnya.

Sunarsih dan Jajaj sudah sering menjual harta benda keluarga Supiati di Surabaya seperti di Semarang. Kemudian rumah kontrakan di Simorejo Timur II dan SImo Prona Jaya III. Namun, hasil penjualan itu tak pernah dirasakan oleh Supiati maupun keluarga lainnya seperti Saguni. Bahkan, ketika Supiati dan Sunarsih tidak ada, Jaja berani mengontrakan rumah Supiati yang juga menjadi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan dan kakak adik itu yang dikubur di kamar belakang.

Rumah di Simo Prona Jaya III/2 ukuran 5×7 meter itu dikontrakan seharga Rp 4 juta untuk 2 tahun. Bahkan, rumah Supiati untuk kos-kosan di Simorejo Timur hendak dijual ke orang lain. Namun transaksi tersebut gagal, karena diketahui oleh anak angkat Juri.

“Anak angkatnya Pak Juri mengetahui kalau rumah di Simorejo itu ditawarkan Jaja mau dijual. Akhirnya nggak jadi dijual,” ujarnya. Saguni menilai Jaja sudah tidak beres dan hanya mengincar harta bendanya. Bahkan, sebelum kejadian ini maupun kelahiran anak kedua Sunarsih dari pasangan Jaja yang hanya berumur 2 hari, Saguni curiga dengan keberadaan Alif yang usainya baru 2,5 tahun.

“Kata tetangga, Alif sudah dipulangkan ke rumah neneknya di Subang. Tapi saya tidak percaya begitu saja. Sampai sekarang ini di mana anaknya juga belum jelas,” katanya. Ia berharap agar kasus ini terbongkar, sehingga semua permasalahan dapat terselesaikan, termasuk ijazah Supiati dan surat-surat sertifikatnya, maupun sertifikat rumah Saguni di Simo Prona Jaya III/5.

“Sertifikatnya saya titipkan ke Supiati, karena dia itu primpen (pandai menyimpan). Saya dengar-dengar rumah ini juga mau dijual oleh (Sunarsih dan Jaja). Kalau sampai ditawarkan ke orang lain, ta jak gelut mas (Saya ajak bertengkar),” jelasnya. Kabar tertangkapnya pelaku pembunuhan kakak adik, Sunarsih dan Supiati, membuat lega hati keluarga korban. Mereka meminta Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami dari Sunarsih, dihukum mati. “Saya nggak terima, harus dihukum mati,” cetus Saguni kepada detiksurabaya.com, Senin (13/8/2012).

Setelah mendengar kabar tertangkapnya Warja alias Jaja suami dari Sunarsih oleh kepolisian, Saguni dengan emosi tidak bisa mengutarakan lagi dan menyerahkan ke istrinya, Manikem untuk berbicara. “Saya mewakili keluarga meminta pelaku dihukum mati. Karena dia sudah membunuh 2 orang sekeligus sekeluarga,” ujar Manikem. Selain itu, Jaja suami korban Sunarsih bukan hanya membunuh saja, tapi juga merampok harta benda Supiati seperti semua isi rumah Supiati di Simo Prona Jaya III/2, seperti lemari dan perabotan rumah lainnya sudah habis dijual ke orang lain.

Rumah tersebut juga dikontrakkan ke orang lain sebesa R 4 juta untuk 2 tahun. Dan uang tersebut dibawa kabur Jaja. “Rencananya juga mau menjual rumah di Simorejo, tapi nggak jadi karena ketahuan. Pokoknya saya nggak terima harus dihukum mati,” katanya. Selain itu, keluarga juga meminta aparat kepolisian untuk mengusut keberadaan Alif (2,5) anak pertama pasangan dari Sunarsih dengan Warja (pelaku). Yang kabarnya dibawa Jaja ke rumah neneknya di Subang. Mereka khawatir Alif menjadi korban trafficking (perdagangan manusia).

“Kami harap keberadaan Alif juga dipertanyakan,” jelasnya. Supiati adalah salah satu korban pembunuhan yang dikubur dalam 1 liang lahat bersama kakaknya, di dalam kamar belakang rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2, Simo Mulyo Baru Surabaya. Siapakah sosok Supiati ? “Sama tetangga juga baik. Sama keluarga juga baik,” ujar Suci yang juga keponakannnya saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Dari informasi yang dihimpun, Supiati sebelumnya tinggal di kawasan Simorejo Timur Surabaya. Kemudian pada sekitar Tahun 2000, ia pindah dan tinggal di rumah orang tua Suci atau kakak beda bapak, Saguni di Simo Prona Jaya. Saat tinggal di rumah tersebut, Supiati sudah keluar dari tempat kerjanya sebagai Caddy Golf di salah satu lokasi di Surabaya barat.

“Setelah keluar dari Caddy, sudah tidak bekerja lagi,” tuturnya. Meskipun tidak bekerja lagi sebagai caddy, Supiati masih mendapatkan pendapatan dari hasil 2 rumahnya di Simorejo yang dikontrakan dan indekos. Kemudian, sekitar 2002 Supiati membangun rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2. Dalam kurun kurang dari setahun, rumah tersebut sudah bisa ditempati.

Sekitar 5 tahun lagi, Supiati berkenalan hingga menjalin hubungan pernikahan dengan duda purnawirawan TNI AL, Pak Juri. Meskipun umur keduanya selisih 30 tahun, hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan tetangga maupun keluarganya. “Ya kalau berjalan seperti anak sama bapaknya. Pak Juri orangnya juga baik kok,” tuturnya.

Sayangnya, hubungan Supiati dengan Juri tak berlangsung lama. Juri yang baru tinggal di rumah Supiati kurang dari setahun, mengidap penyakit diabetes hingga akhirnya meninggal dunia dan dikebumikan di tempat pemakaman umum di kawasan Simo Tambaan. Supiati pun menjanda dan sampai terbunuh pun belum pernah menikah lagi.

“Mbang Supiati itu orang sayang dan setia. Dia nggak mau menikah lagi, karena takut dengan laki-laki dan khawatir laki-laki hanya mau menikah untuk mengincar hartanya saja,” tuturnya. Selama menjanda, Supiati selalu mendapatkan penghasilan dari ‘usaha’ rumah kontrakannya di kawasan Simo Prona Jaya, dan rumah kontrakan serta rumahnya yang di-koskan sebanyak 5 kamar di kawasan Simorejo Timur.

“Selain itu juga mendapatkan pensiunan dari suaminya purnawirawan Pak Juri,” terangnya. Sementara itu, Manikem yang juga kakak iparnya, mengaku Supiati adalah anak yang baik. Bahkan, tak jarang Supiati selalu mengajak istri dari kakak beda bapak, Saguni itu untuk belanja di pasar.

“Ya baik sekali mas. Kalau setelah mengambil uang pensiunan, biasanya mengajak ke pasar,” ujar Manikem sambil menirukan ajakan Supiati, “Ayo yuk belanja ke pasar. Sampeyan mau beli apa,”. Meski mempunyai rumah sendiri, Supiati masih sering berkunjung ke rumah kakaknya, Saguni suami Manikem yang masih sekampung. “Kalau Supiati itu orangnya baik, sama tetangga juga baik,” ujar Ketua RT 1 RW 8, Agus. Bambang juga menilai Supiati masih sering berkomunikasi dengan tetangganya. “Orangnya baik mas. Sama tetangga juga baik,” kata Bambang yang juga tetangganya.

Ryan Pembunuh Berseri Asal Jombang Tetap Dihukum Mati Setelah MA Menolak PK

MAHKAMAH Agung (MA) menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Very Idham Henyansyah alias Ryan pada perkara pembunuhan berencana terhadap 11 orang di Depok, Jawa Barat dan Jombang, Jawa Timur. Dengan demikian pria yang dijuluki ‘Jagal dari Jombang’ itu tetap divonis hukuman mati. Namun Ryan masih dapat mengajukan grasi ke Presiden.

“Berdasarkan musyawarah mufakat majelis terhadap perkara No. 25 PK/PID/2012 Pengadilan Negeri Depok, maka diputuskan bahwa PK perkara saudara Ryan ditolak. Dasar penolakannya adalah berdasarkan putusan PN Depok,” kata Ridwan Mansyur, Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat MA di gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Senin (9/7).

Dijelaskan Mansyur, setelah ini upaya terakhir yang bisa dilakukan Ryan adalah mengajukan grasi ke Presiden. “Dapat mengajukan grasi paling lama setahun setelah ketetapan MA. Ryan dapat mengajukan grasi karena hal itu sesuai dengan undang-undang,” ujar Ridwan seperti dikutip Kompas.com.

Di MA, perkara Ryan diputus pada 5 Juli 2012 oleh majelis hakim yang terdiri dari Artidjo Alkostar, Gayus Lumbuun, dan Salman Luthan. Suara pengambilan keputusan majelis hakim MA dalam perkara PK ini bulat, yaitu menolak PK yang diajukan Ryan.

Dengan ditolaknya permohonan PK oleh MA, maka Ryan tetap divonis hukuman mati karena telah terbukti melakukan pembunuhan berencana.

Hal itu diperjelas oleh keputusan Pengadilan Negeri Depok No. 1036/Pid.B/2008/PN.DPK Tahun 2009 yang sudah berkekuatan hukum tetap atau inkracht. Permohonan grasi, lanjutnya, dapat diajukan oleh terpidana mati, seumur hidup atau minimal 2 tahun kurungan.

“Keputusan eksekusi mati ada di tangan jaksa penuntut umum sebagai eksekutor. Jadi, setelah PK ditolak, Ryan dapat dieksekusi kecuali ada usaha darinya untuk mengajukan grasi ke Presiden. Biasanya pelaksanaan eksekusi mati membutuhkan waktu bertahun-tahun setelah waktu pengajuan grasi lewat,” tambahnya.

Psikopat

Dalam mengajukan PK kemarin, kata Mansyur, Ryan mengajukan novum (bukti baru) bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa, psikopat, sehingga tidak pantas dijatuhi hukuman mati atau bisa dinyatakan tak bersalah. Dalam memori PK-nya pihak Ryan telah menyerahkan novum berupa pendapat tiga orang ahli yang menyatakan bahwa Ryan adalah psikopat, yakni Profesor Robert D Hare dari British Columbia University, Profesor Farouk Muhammad, dan Irjen Iskandar Hasan.

Seperti diketahui, kasus Ryan bermula dengan ditemukannya tujuh potongan tubuh manusia di dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dua tempat di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu 12 Juli 2008. Korban ternyata Heri Santoso (40), seorang manager penjualan sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Heri dibunuh dan dimutilasi oleh Ryan di apartemen Margonda Residence di Jalan Margonda Raya, Depok. Menurut pengakuan Ryan, dia membunuh Heri karena tersinggung setelah Heri menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki).

Dalam penyelidikan polisi, terungkap, korban Ryan tidak hanya Heri. Ryan membunuh 10 orang lainnya dan mengubur mayat mereka di halaman rumah orangtuanya di Jombang, Jawa Timur. Korban pertama Ryan adalah Guruh Setyo Pramono alias Guntur (27) yang dibunuh pada Juli 2007.

Lagi … Mayat Perempuan Telanjang Ditemukan di Belakang Gor Unesa

Sesosok mayat perempuan telanjang ditemukan kaku di belakang Gor Unesa Lidah Wetan. Jasad tersebut ditemukan hanya menggunakan bra berbintik merah dan putih pagi tadi, Sabtu (28/4/2012).

Sekitar pukul 06.30 WIB, Zaini Masturi (49) seorang petani Dusun Bangi, Lemahan Kayan Lor Kediri menemukan mayat tersebut dalam keadaan terlentang. Pria sehari-hari penjual korden ini kaget dan langsung melapor ke kantor satpam Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Zaini pertama mencium bau busuk, setelah dicari ternyata ada mayat dan lapor satpam unesa” kata Kapolsek Lakarsantri, Kompol Kuncoro, Sabtu (28/4/2012).

Berdasar olah tim identifikasi sementara, kematian jenazah perempuan ini terjadi sebelum kejadian pembunuhan Ayu Cahyawati (19) di lokasi yang tidak berjauhan pada Selasa (23/4/2012) lalu.

“Kalau melihat kondisi mayat, kejadian ini diperkirakan sebelum kasus pembunuhan Ayu terungkap,” terangnya.

Kini jenazah perempuan yang masih belum diketahui identitasnya itu dibawa ke kamar mayat RS Bhayangkara Mapolda Jatim.

Keluarga Made Purnabawa Tewas Mengenaskan Dibunuh Supir Pribadi dan Istrinya Di Jembrana Bali

Hasil otopsi terhadap tiga mayat keluarga Made Purnabawa menunjukkan adanya bukti kekerasan. Ketiga korban dibunuh dengan benda tumpul. ”Bukti adanya benda tumpul itu ada di bagian kepala,” kata Kepala Bagian SMF Ilmu Kedokteran Forensik Universitas Udayana Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Ida Bagus Putu Alit, Selasa (21/2/2012).

Tiga mayat keluarga Made Purnabawa itu ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin kemarin. Ketiga mayat tersebut adalah Purnabawa (27), Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (istri, 27), dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (anak, 9).

Menurut Alit, tanda bekas benda tumpul itu terdapat di kepala bagian kiri (mayat Mahayoni), kepala bagian kanan (mayat Ayu Dewi), serta kepala dan wajah (mayat Purnabawa). ”Di tubuh Purnabawa juga terdapat tanda bekas perlawanan di lengannya,” kata Alit.

Kini polisi telah menduga pelaku pembunuhan itu adalah sopir keluarga Purnabawa, yaitu Heru Ardianto. Heru beserta istri dan anaknya yang juga tinggal bersama keluarga Purnabawa masih menghilang.

Keluarga Purnabawa yang tinggal di Kampial Residence, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, Badung, Bali, diduga dibunuh sopirnya sendiri. Pembunuhan diduga bermotif dendam.

Made Purnabawa (27), Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (istri, 27), dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (anak, 9) ditemukan tewas setelah menghilang satu pekan lalu. Mayat keluarga itu ditemukan di sebuah kebun di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Mendoyo, Jembrana, Bali, Senin (20/2/2012) pagi.

Sejak keluarga itu menghilang, sopir korban, yaitu Heru Ardianto juga. menghilang. Heru menghilang bersama istri dan anaknya. Istrinya merupakan pembantu keluarga Purnabawa.

“Pelaku kami duga adalah orang yang tinggal bersama mereka (sopir), ” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Denpasar Komisaris Besar I Wayan Sunartha, Senin malam setelah menerima hasil otopsi mayat Purnabawa di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, Senin malam.

Polisi menduga pelaku sudah berada di luar Bali. Mobil milik korban diperkirakan juga sudah dibawa pelaku. Ketika keluarga Purnabawa diketahui menghilang, satu unit mobil, dan dua unit sepeda motor milik korban juga lenyap. Hasil otopsi terhadap tiga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, menunjukkan bahwa mereka meninggal karena dibunuh. Dua dari tiga mayat diidentifikasi sebagai keluarga yang dilaporkan hilang msiterius.

“Mereka kami pastikan dibunuh,” kata Kepala Polres Kota Denpasar Komisaris Besar I Wayan Sunartha, Senin malam. Pembunuhan itu diperkirakan terjadi sepekan lalu.

Mayat yang teridentifikasi itu adalah mayat Made Purnabawa (27) dan istrinya, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27). Mayat pasangan suami istri itu ditemukan dalam kondisi bertumpuk di sebuah kebun.

Sementara mayat anak perempuan yang berada sekitar 10 meter dari kedua mayat tersebut belum dapat diidentifikasi. Alasannya, kepala korban sudah hancur dan berada sekitar 2,5 meter dari tubuhnya. “Kami akan tes DNA dulu,” kata Sunartha.

Keluarga Made Purnabawa diketahui menghilang sejak awal pekan lalu. Purnabawa memiliki seorang anak perempuan berusia 9 tahun, yaitu Ni Wayan Krisna Ayu Dewi.

Hilangnya keluarga Purnabawa juga diikuti dengan hilangnya sopir mereka, yaitu Heru Ardianto. Istri dan anak Heru juga menghilang.

Tiga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo, Senin (20/02/2012) sekitar pukul 07.00 WITA pagi tadi, seluruhnya dalam kondisi mengenaskan. Tubuh ketiga korban sudah membusuk, bahkan mayat anak kecil ditemukan di dalam jurang dengan kondisi tidak utuh.

“Satu mayat diidentifikasi laki-laki dewasa, satu wanita dewasa dan seorang lagi anak kecil perempuan. Semuanya sudah membusuk dan anak kecil ditemukan sekitar 8 meter di dalam jurang,” ujar Kabag humas Polres Jembrana, AKP Wayan Setiajaya Senin siang.

Saat ini aparat Polsek Kuta Selatan yang menangani kasus keluarga hilang sudah berada di Jembrana untuk mencocokkan ciri-ciri ketiga mayat dengan keluarga yang tinggal di Kampial Residence tersebut.

“Mayat akan diantar petugas Polsek Kuta Selatan dan akan dibawa ke RS Sanglah untuk diotopsi,” jelas Setiajaya. Dari olah TKP, polisi menemukan sebuah telepon genggam, remote, dan selimut di sekitar mayat korban. “Barang bukti ini akan diperiksa oleh Labfor,” imbuh Setiajaya.

iga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin (20/2/2012) pagi, sudah tiba di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, sekitar pukul 20.00 wita.

Tiga mayat tersebut kemudian dibawa satu per satu ke ruang otopsi. Otopsi dilakukan untuk memastikan bahwa ketiga mayat tersebut merupakan mayat dari keluarga Made Purnabawa di Kampial Residence, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Bali.

Keluarga Made Purnabawa (27) menghilang secara misterius sejak awal pekan lalu. Purnabawa hilang bersama istri dan anaknya, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27) dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (9). Heru Ardianto, sopir Purnabawa, beserta istri dan anaknya, Ni Putu Anita dan Agus, juga ikut menghilang.

Senin pagi sekitar pukul 07.00 wita, seorang petani menemukan tiga mayat yang terdiri mayat pria dewasa, perempuan dewasa, dan anak perempuan usia 9 tahun.

Saat penyerahan mayat tersebut tampak beberapa tetangga dan kerabat Made Purnabawa. Meski demikian, polisi belum dapat memastikan bahwa ketiga mayat itu adalah keluarga Purnabawa. Namun, dalam catatan medis penyerahan mayat itu, tertulis nama Purnabawa, istri, dan anaknya.

“Otopsi kira-kira berlangsung dua jam,” kata Kepala Bagian Humas Polda Bali Komisaris Besar Hariadi

Mujianto Pembunuh Berantai Asal Ngajuk Membunuh 15 Orang Homoseksual

Pengakuan mengejutkan disampaikan Mujianto, tersangka pembunuhan berantai di Nganjuk, Jawa Timur. Pemuda berusia 21 tahun ini mengaku telah meracuni 15 teman kencannya sesama gay sejak 2011.

Dalam sesi wawancara di Markas Kepolisian Resor Nganjuk, Rabu 15 Febaruari 2012, Mujianto mengaku meracuni mereka karena dianggap selingkuhan Joko Suprapto. Joko yang berusia 49 tahun adalah seorang duda majikan sekaligus kekasihnya. “Semua yang berhubungan dengan Pak Joko,” kata Mujianto saat menjelaskan seluruh korbannya, Rabu 15 Februari 2012.

Mujianto mengaku cemburu kepada orang-orang yang berhubungan dengan Joko. Karena itu dia berusaha mencelakai mereka dengan cara dijebak dan diracun. Kepada polisi Mujianto mengaku tak berniat membunuh. “Hanya mengerjai saja biar kapok,” katanya.

Sebelum melancarkan aksinya, Mujianto mencuri semua nomor telepon calon korbannya dari telepon seluler Joko. Selanjutnya dia menghubungi mereka satu per satu dengan dalih ingin berkenalan. Modus ini cukup efektif mengingat hampir semua korbannya berdomisili di luar Kabupaten Nganjuk.

Setelah merasa cukup dekat, Mujianto mengajak korban bertemu muka di Nganjuk. Setibanya di terminal bus Nganjuk, para korban dijemput Mujianto dengan sepeda motor untuk diajak jalan-jalan. Dalam perjalanan tersebut Mujianto sempat melakukan hubungan badan di tempat-tempat umum. Di antaranya areal persawahan hingga toilet Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Usai berkencan, Mujianto mengajak mampir ke warung untuk makan dan minum. Saat itulah dia meracuni minuman korban hingga sekarat. Setelah korbannya lemas, dia memboncengnya lagi dan menurunkan di rumah warga. Kepada pemilik rumah Mujianto mengaku akan memanggil dokter sebelum akhirnya menghilang.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono masih menyelidiki pengakuan tersebut. Saat ini polisi masih fokus pada empat korban tewas dan dua korban selamat untuk melengkapi pemeriksaan. “Kami masih akan selidiki sembilan korban lainnya,” katanya.

Dia mengimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk menghubungi polisi. Sebab hingga saat ini masih terdapat dua jenazah yang belum teridentifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Sementara dua korban lainnya sudah diketahui sebagai Basori, 42 tahun, warga Pacitan dan Ahya, 30 tahun, warga Situbondo.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono mengatakan korban Mujianto sebenarnya ada enam orang. Empat orang meninggal dunia dan dua lainnya kritis.

Dari empat korban tewas, dua diantaranya berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Basori, 42 tahun, warga Pacitan dan Ahya, 30, warga Situbondo. Sedang dua lainnya masih disimpan di kamar jenasah Rumah Sakit Bhayangkara Kediri sebagai Mr X.

Adapun dua korban selamat lainnya adalah Anton Sumarsono, warga Solo yang masih dirawat di RS Bhayangkara Kediri serta Muhammad Faiz warga Blitar. Faiz sudah diperbolehkan pulang setelah sempat dirawat. “Kami akan periksa kondisi pelaku,” kata Anggoro Senin, 13 Februari 2012.

Mujianto, 24 tahun, warga Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kediri, ditangkap tim reskrim Polres Nganjuk Senin, 13 Februari 2012 pagi. “Pelaku tengah berada di rumah Joko, pasangannya,” kata Anggoro.

Kepada polisi, Mujianto mengaku nekat menghabisi empat orang dan melukai dua lainnya karena cemburu. Keenam korbannya adalah para gay yang pernah menjalin hubungan istimewa dengan Joko, kekasihnya.

Modus yang dilakukan Mujianto cukup unik. Dia berpura-pura menyukai calon korbannya untuk kemudian diajak berkencan. Saat itulah Mujianto memasukkan racun tikus ke dalam makanan korban hingga sekarat.

Setelah melihat korbannya lemas, Mujianto menaikkannya ke atas sepeda motor dan menurunkan ke rumah warga. Kepada pemilik rumah, dia selalu mengatakan korban tengah sakit dan hendak mencari dokter. Setelah ditinggal, pelaku pergi begitu saja hingga akhirnya korban meninggal.

Peristiwa tersebut sempat menghebohkan warga Nganjuk dalam satu bulan terakhir. Sejumlah warga melaporkan menerima korban keracunan yang ditinggalkan seseorang. Polisi sendiri sempat menduga mereka adalah korban pembiusan di atas kendaraan umum.

Sembilan korban Mujianto yang lain masih belum diketahui nasibnya. Dalam pengakuannya di kantor Kepolisian Resor Nganjuk Rabu, 15 Februari 2012 kemarin, Mujianto mengaku membunuh karena cemburu. Para korban itu adalah lelaki simpanan pasangannya, Joko Suprianto.

“Kami masih menyelidiki sembilan korban lainnya,” kata Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono di Nganjuk, Rabu, 15 Februari 2012.

Sejak 2011, Mujianto meracuni 15 teman kencannya sesama gay. “Hanya ngerjain saja biar (mereka) kapok,” kata Mujianto. (Baca: Korban Tewas Mujianto Enam, Dua Selamat)

Mujianto dibekuk di rumah pasangannya, Joko Suprianto, di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Senin, 13 Februari lalu. Joko adalah duda, 49 tahun, majikan dan kekasih Mujianto. Jejaknya terendus dari pengakuan korbannya yang selamat, yakni Muhammad Fais.

Dalam dua bulan ini, pria 21 tahun itu sudah menewaskan empat orang, yakni Ahyani, 46 tahun, warga Situbondo; Romadhon (55), Sudarno alias Basori (42), keduanya warga Ngawi; dan seorang lagi belum diketahui identitasnya, pria berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, asal Pasuruan, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, asal Surakarta. Sedangkan sembilan korban lainnya belum diketahui nasibnya.

Salah seorang korban pembunuhan berantai yang diduga dilakukan Mujianto di Nganjuk adalah Ahyani, 46 tahun, seorang pegawai negeri sipil. Ahyani bertugas di Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kerja Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Menurut Kepala Unit, Ainul Yaqini, korban merupakan pegawai yang berasal dari Solo. Pada 1986, dia diangkat sebagai pegawai negeri di Tuban dan 1991 dipindah ke Situbondo.

Di Situbondo inilah Ahyani menikah dengan Saljunianti, warga Desa Tokelan, Kecamatan Panji. Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai dua anak.

Ainul bercerita, dia terakhir bertemu Ahyani 30 Desember 2011. Saat itu Ahyani mengeluh sakit. “Ahyani sudah lama punya penyakit diabetes,” katanya saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 Februari 2012.

Kemudian pada 1 Januari 2012, Ahyani meminta izin tak masuk kerja pada 2 Januari karena akan menjenguk ibunya di Solo, Jawa Tengah. Namun, keesokan harinya, Ainul menerima informasi bahwa Ahyani ditemukan pingsan di terminal Nganjuk. “Setelah dibawa ke rumah sakit, jam 12 siang Ahyani dikabarkan meninggal,” katanya.

Keluarga menolak jenazah Ahyani diotopsi dan langsung dimakamkan di Solo. Keluarga dan rekan kantornya menduga korban memang tewas karena dibius. Hingga kemudian terungkap bahwa ternyata Ahyani menjadi korban pembunuhan Mujianto. “Kami sangat kaget,” kata Ainul.

Dua dari empat korban pembunuhan berantai oleh Mujianto, 24 tahun, di Kabupaten Nganjuk, adalah warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Keduanya adalah Romadhon, 55 tahun, warga Widodaren, dan Sudarno, 42 tahun, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas.

Menurut Suparno, keluarga Romadhon, korban diduga kuat diberi racun tikus melalui bakso yang diberikan Mujianto. “Sebelum meninggal dunia almarhum sempat bercerita pada orang yang menolongnya bahwa ia ditipu dan mengaku sempat makan bakso,” katanya, Rabu, 15 Februari 2012.

Cerita itu didapat dari petugas Kepolisian Sektor Loceret, Nganjuk, pemilik warung bakso, serta warga yang dititipi tersangka pada awal Januari 2012. Sebelum meninggal dunia Romadhon yang sudah terlihat teler dititipkan ke warga di Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Kepada warga yang dititipi, Mujianto beralasan, korban adalah temannya yang sedang sakit.

“Katanya orang ini (Romadhon) sakit dan akan dihubungi keluarganya serta dicarikan dokter,” ujar Suparno menirukan keterangan polisi dan saksi di Nganjuk. Namun orang yang menitipkan korban tak kunjung datang.

Warga akhirnya melapor ke Kepolisian Sektor Loceret. Korban yang semula diduga korban pembiusan lantas dibawa ke RS Bhayangkara, Nganjuk. Setelah dilakukan pemeriksaan, korban ternyata keracunan racun tikus.

Adik kandung korban, Nasir, semula juga menyangka kakaknya menjadi korban pembiusan dan perampokan. “Tidak menyangka ternyata meninggalnya diracun,” ujarnya. Jenazah Romadhon tiba di Ngawi dan dimakamkan pada 7 Januari 2012. “Saat jenazah tiba sempat dilihat dan sama sekali tidak ada luka bekas penganiayaan,” tutur Nasir.

Keluarga menyangkal Romadhon punya orientasi seksual yang berbeda. Apalagi Romadhon dan istrinya, Siti Fatimah, sudah dikaruniai tiga putri. “Selama ini hubungan almarhum dengan kakak (ipar) saya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda seperti itu,” katanya.

Tersangka Mujianto mengaku meracuni 15 orang sejak 2011 karena cemburu. Ke-15 orang ini diduga kuat pernah berhubungan badan dengan pasangan gay Mujianto, Joko Susilo, yang tinggal di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Mujianto sendiri merupakan warga asal Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Mujianto dan Joko sudah lama hidup serumah di Nganjuk.

Dari 15 orang yang pernah diracun dengan racun tikus lewat makanan dan minuman itu, baru terungkap enam orang. Empat di antaranya akhirnya tewas dan dua lainnya sempat kritis dan bisa diselamatkan. Para korban diracun tidak bersamaan dan empat korban di antaranya meninggal dunia dalam dua bulan terakhir.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono mengatakan penyelidikan kasus pembunuhan berantai sejak 2011 ini cukup sulit. Polisi membentuk tim khusus setelah korban tewas yang ditemukan di rumah warga berjatuhan.

Menurut dia, awal mulanya para korban diduga merupakan target pembiusan yang marak di angkutan umum. “Begitu jumlah korban tewas mencapai empat orang, saya bentuk tim khusus,” kata Anggoro kepada Tempo, Rabu, 15 Februari 2012.

Pengungkapan ini berawal dari lolosnya Muhammad Faiz, 21 tahun, asal Pasuruan, dari upaya pembunuhan itu. Kala itu Faiz tak menghabiskan minuman es teh yang telah dibubuhi racun tikus oleh Mujianto karena terasa pahit. Saat tubuh korban lemas, pelaku mengambil dompet dan telepon genggam Faiz, lalu kabur. Selanjutnya telepon genggam korban dijual kepada penadah di Nganjuk.

Berbekal nomor IMEI, telepon genggam milik Faiz yang tertera di dos book, polisi berhasil melacak keberadaan ponsel itu dan menemukan penadahnya. Selanjutnya polisi membuat sketsa wajah Mujianto berdasarkan keterangan penadah ataupun Faiz.

Tak hanya itu, Faiz juga masih mengingat nomor polisi sepeda motor yang dipergunakan Mujianto saat menjemputnya di terminal, yakni AG 2001 XX. “Setelah kami lacak di registrasi kendaraan, terdapat empat nomor polisi dengan angka itu. Dan kami temukan salah satu pemiliknya dengan wajah yang sama di sketsa,” kata Anggoro.

Pelacakan ini, menurut dia, berjalan lebih cepat dari target yang ditetapkan. Pelaku berhasil diringkus tiga hari setelah perburuan dimulai dari target waktu satu pekan. Ketika dikonfrontasi dengan Faiz, dia membenarkan bahwa Mujianto adalah Feri yang memberinya racun.

Dua korban pembunuhan oleh gay di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dipastikan warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. “Dari empat korban yang meninggal dunia, dua orang warga asal Ngawi,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Nganjuk, Ajun Komisaris Polisi Ali Purnomo, saat dihubungi, Rabu, 15 Februari 2012.

Tersangka Mujianto, 24 tahun, mengaku meracun 15 orang sejak 2011. Ke-15 orang ini diduga pernah berhubungan badan dengan pasangan gay Mujianto, Joko Supriyanto, di rumah Joko di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Mujianto sendiri merupakan warga Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Mujianto dan Joko sudah lama hidup serumah di Nganjuk.

Dari 15 orang yang pernah diracun dengan racun tikus lewat makanan dan minuman itu baru terungkap enam orang. Empat di antaranya tewas dan dua lainnya kritis, tapi bisa diselamatkan. Empat korban diracun tidak bersamaan dan meninggal dunia dalam dua bulan terakhir.

Empat korban tewas adalah Ahyani, 46 tahun, PNS, Desa Tokelan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo; Romadhon, 55 tahun, Desa/Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi; Sudarno, 42 tahun, Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi; Mr X (belum diketahui), diperkirakan berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, swasta, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, guru, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

Modusnya dengan meracun korban saat diajak jalan-jalan. Setelah teler atau sekarat, korban dititipkan di rumah warga. Warga semula mengira korban adalah korban pembiusan. Namun setelah dilaporkan ke polisi setempat dan diotopsi di RS Bhayangkara, korban dipastikan keracunan.

Dua korban asal Ngawi itu adalah Romadhon, 55 tahun, warga Desa/Kecamatan Widodaren dan Sudarno, 42 tahun, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas. “Benar, dua korban orang Ngawi. Saya sudah koordinasi dengan Polres Nganjuk,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Ngawi Ajun Komisaris Polisi Sukono.

Satu dari empat korban tewas sempat dikabarkan bernama Basori asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Namun setelah dilacak berdasarkan pengakuan tersangka dan pasangan gay-nya, Joko, serta keluarga korban, Basori hanya nama samaran. Basori ternyata Sudarno asal Ngawi.

“Setelah diteliti lagi, bukan orang Pacitan tapi Ngawi. Saya sudah koordinasi dengan Polres Nganjuk,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Pacitan Ajun Komisaris Polisi Sukimin.

Satu dari dua korban pembunuhan Mujianto di Nganjuk berhasil diidentifikasi. Istri korban syok saat mengetahui suaminya punya pacar lagi, seorang laki-laki. Ruang penyidikan Satuan Reserse Kriminal Polres Nganjuk mendadak pecah oleh tangis Warsini. Tubuhnya lemas usai melihat foto yang ditunjukkan petugas identifikasi Polres Nganjuk. “Ya, Allah,” katanya diiringi derai air mata, Rabu, 15 Februari 2012.

Ibu rumah tangga asal Desa Sukuwiono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi ini mendatangi Polres Nganjuk untuk mengidentifikasi korban pembunuhan Mujianto siang tadi. Sejak 10 Februari 2012 lalu, Warsini kehilangan suaminya, Sudarno, 42 tahun.

Kala itu Sudarno pamit ke sawah. Saat itu Sudarno hanya mengenakan pakaian biasa dan tidak membawa barang berharga. Warsini pun melepas suaminya tanpa rasa curiga. Sejak itu, pria yang telah memberinya satu anak itu tak pernah kembali.

Warsini tergerak mendatangi Polres Nganjuk setelah melihat tayangan di media massa tentang korban pembunuhan Mujianto. Kala itu polisi menyebut ada dua jasad yang belum teridentifikasi.

Usai menyaksikan foto korban dan ciri-ciri tubuh serta pakaian yang ditemukan polisi, Warsini mengakui bahwa pria itu adalah suaminya. Apalagi Warsini juga membawa Kartu Tanda Penduduk dan Surat Izin Mengemudi milik korban yang identik dengan Sudarno.

Kepada polisi yang memeriksanya, Warsini mengaku tak melihat keganjilan perilakusuaminya. Namun dia menyadari bahwa Sudarno memiliki banyak teman laki-laki di jejaring sosial Facebook. Selama ini Sudarno memang aktif menjalin pertemanan melalui dunia maya yang bisa diakses di rumahnya.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk, Anggoro Sukartono, mengatakan, identifikasi ini telah menguak salah satu Mr X yang selama ini misteri. Saat ini jasad Sudarno sudah dimakamkan oleh petugas kepolisian di Nganjuk bersama satu jasad lain yang belum teridentifikasi. “Karena identitasnya sudah jelas, saya kira tidak perlu membongkarnya kembali,” katanya.

Dengan demikian, tiga dari empat korban meninggal itu telah terungkap. Mereka adalah Ahyani, 30 tahun, warga Situbondo yang berprofesi sebagai pegawai negeri Pemerintah Provinsi Jawa Timur; Romadhon, 42 tahun, warga Ngawi (yang sebelumnya disebut sebagai Basori, warga Pacitan); serta Sudarno, 42 tahun, warga Ngawi.

Ulah Mujianto yang membantai empat orang sesama gay mengundang kemarahan warga. Penduduk di sekitar rumah majikan Mujianto di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Nganjuk menuding Mujianto sebagai perusak kehormatan kampung.

Kecaman ini disampaikan warga saat menyaksikan penggeledahan rumah Joko Suprianto, majikan Mujianto, sore tadi. Saat melihat Mujianto turun dari kendaraan polisi, warga yang memenuhi halaman rumah Joko menyampaikan kekesalannya. “Pendatang baru sudah rusak nama kampung,” kata Didik, 46 tahun, warga Desa Sonopatik, geram, Kamis, 16 Februari 2012.

Didik tidak menyangka Mujianto yang baru dua tahun tinggal di desa ini berbuat sangat keji. Selama ini warga sendiri juga tidak begitu akrab dengan Mujianto. Sebab, Mujianto dikenal selalu berdiam diri di dalam rumah majikannya yang tertutup pagar besi. Sesekali Mujianto terlihat keluar rumah untuk berbelanja ke pasar bersama Joko dengan mengendarai sepeda motor.

Rumah berukuran 25 x 20 meter yang dihuni Joko Suprianto ini terbilang paling bagus di desa itu. Selain mengajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Nganjuk, Joko juga dikenal sebagai seniman yang piawai memainkan elektone atau organ tunggal. Sebagai warga yang telah delapan tahun berdomisili di kampung itu, Joko cukup akrab dengan tetangganya.

Karena itu mereka merasa sangat marah ketika mengetahui ulah Mujianto yang dianggap merusak citra Desa Sonopatik. Apalagi korban pembunuhannya cukup banyak dan dilakukan dengan cara sadis. “Saya ingin ikut menghajar saat melihat dia digelandang polisi,” kata Didik.

Sikap yang sama disampaikan Ny Salami, warga setempat. Ia menganggap Joko Suprianto memelihara anak macan di rumahnya. Salami merinding jika mengingat Mujianto yang kerap berpapasan dengannya. “Dihukum yang berat saja,” katanya saat berjejal di depan rumah Joko.

Mujianto diduga melakukan pembunuhan terhadap empat orang gay dan mencelakai dua lainnya dengan racun tikus. Para korban adalah orang-orang yang dicurigai memiliki hubungan asmara dengan kekasihnya, Joko Suprianto. Kepada polisi, Mujianto mengaku melakukan pembunuhan itu sejak tahun 2011 dengan jumlah korban mencapai 15 orang.

Polisi Menduga Pembunuh Sadis Wanita Dalam Kardus di Koja dan Anak Wanita Dalam Koper Cakung Adalah Orang Yang Sama

Kepolisian menduga penemuan mayat tak beridentitas di kawasan Koja, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur, saling terkait. Keterkaitan itu dilihat dari cara pembunuhan sadis yang dilakukan pelaku. “Kami duga ada kaitannya karena polanya sama,” ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

Dia melanjutkan, kesamaan pola itu dilihat dari cara yang dilakukan pelaku dalam membuang jenazah korban. “Di Jakarta Timur dimasukkan ke dalam kopor. Di Jakarta Utara dimasukkan ke dalam kardus, ini mirip caranya,” tutur Irwan.

Jenazah juga sengaja dibalut dengan kain. Korban di Jakarta Utara dibalut dengan kain bermotif batik berwarna biru dan merah muda, sedangkan korban tewas di Jakarta Timur dibalut dengan kain kelambu berwarna abu-abu.

Irwan mengatakan, pelaku juga tampak sengaja meninggalkan petunjuk berupa kartu nama untuk mayat bocah perempuan yang dibuang di Cakung dan foto laki-laki untuk mayat perempuan dewasa yang dibuang di sebuah gang di Koja. Petunjuk itu bisa jadi untuk memburamkan identitas pelaku sebenarnya.

“Bisa jadi itu petunjuk sebenarnya untuk memburamkan fakta, kami belum tahu. Saya dapat informasi yang di timur itu setelah diperiksa sama si pemilik kartu nama, ternyata dia enggak ada kaitannya, bisa jadi foto cowok juga begitu,” kata Irwan.

Tetapi, lanjutnya, kepolisian tetap harus menelusuri petunjuk itu. “Hasilnya bagaimana, itu nantilah, kami tetap akan telusuri petunjuk-petunjuk,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan. Kali ini mayat di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Hingga kini belum diketahui identitas mayat perempuan yang dimasukkan ke dalam kardus televisi di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Namun, kuat dugaan pelaku pembunuhan wanita malang berusia sekitar 40 tahun cukup sadis.

Hal ini diakui Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan. Ia mengatakan dugaan kuat kematian wanita itu karena mati lemas setelah dibekap pelaku.

Namun, rupanya pelaku tidak berhenti usai membekap korban. Pelaku justru kembali menyakiti korban dengan menusuk memakai senjata tajam sehingga menyebabkan luka sedalam 25 mm di bagian perut. “Ada juga pendarahan dari luka tusuk itu,” ungkap Irwan.

Ia menambahkan bahwa saat pelaku membunuh, korban tengah hamil dengan usia kandungan 4-6 minggu. “Kami masih belum mengetahui motif di balik ini apa,” ungkap Irwan.

Ia menuturkan penyidik kini melihat adanya kesamaan antara korban tewas di Koja, Jakarta Utara dengan mayat bocah perempuan berusia 10 tahun di Cakung, Jakarta Timur. “Kami lakukan tes DNA keduanya untuk melihat apakah ada hubungan darah,” tandasnya.

Polisi menemukan selembar kartu nama bertuliskan Saripudin bersama dengan mayat bocah perempuan yang dimasukkan ke dalam koper di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Namun, setelah ditelusuri ternyata pemilik kartu nama itu tidak mengenal korban.

Kepala Unit Reskrim Polsek Metro Cakung Ajun Komisaris Made, Senin (17/10/2011) mengatakan, dalam kartu nama itu, tercantum alamat Saripudin di Jalan Boulevard Gading Permai, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polisi kemudian menelusuri alamat tersebut dan memeriksa pemilik kartu nama.

Saat ditunjukkan foto korban, Saripudin mengaku tidak mengenalnya. Ia juga heran mengapa kartu namanya ada di dalam koper bersama anak usia 5-9 tahun yang tewas mengenaskan dalam koper itu.

“Dia itu sales alat elektronik dulunya. Memang dia sebar banyak kartu nama. Dia bingung siapa yang punya kartu namanya dan kenapa ada sama anak itu,” kata Made.

Made mengatakan, polisi masih belum dapat menyimpulkan dugaan kematian bocah malang itu. Tes DNA untuk mencocokkan adanya hubungan darah antara korban dan mayat perempuan dewasa di Koja pun sudah dilakukan hari ini. Namun, hasilnya masih belum keluar.

Mayat bocah itu ditemukan pada Sabtu (15/10/2011) di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 5-9 tahun. Korban memiliki gigi jarang di bagian depan, tinggi badan sekitar 105 cm, memakai anting jarum pentul warna ungu, dan memiliki bekas luka parut di bagian dagu sebelah kiri.

Korban tewas yang ditemukan di dalam kardus yang tergeletak di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara pada Jumat (14/10/2011) lalu diduga tewas karena lemas. Ada dugaan korban tewas setelah sebelumnya sempat dibekap oleh pelaku. Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Dari hasil forensik menyebutkan dia mati lemas atau dibekap,” ujarnya. Irwan menuturkan kesimpulan itu didapat tim forensik setelah melihat bagian-bagian tubuh tertentu.

“Misalnya lubang tinja itu dilihat. Ada tandanya, yang tahu forensik, kalau dia mati lemas itu bagaimana,” ucap Irwan.

Tetapi, kata Irwan, hasil forensik juga menunjukkan penyebab kematian bisa saja karena tusukan benda tajam. Pasalnya, di bagian perut korban ditemukan luka tusuk akibat kemasukan senjata tajam sedalam 25 mm. “Diperkirakan korban tewas 12 jam sebelum ditemukan,” tambah Irwan.

Dari hasil visum yang diterima polisi, perempuan itu diketahui memiliki ciri-ciri berusia 40 tahun, bergolongan darah A, berkulit kuning langsat, berambut panjang berwarna hitam, dan tinggi badan mencapai 155 cm. Bagi pihak yang mengenali ciri-ciri itu, bisa menghubungi call center Polda Metro Jaya di nomor 0816782000, atau Call Center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

“Kami fokus pada pengungkapan identitas korban. Kalau sudah diketahui, akan lebih mudah proses penelusurannya,” pungkas Irwan. Identitas foto anak laki-laki berusia 15-16 tahun yang disertakan bersama mayat perempuan di dalam kardus yang ditemukan di wilayah Koja, Jakarta Utara, masih misterius. Polisi sudah berkoordinasi dengan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara dan memastikan bahwa anak laki-laki berseragam sekolah itu bukanlah pelajar di wilayah Jakarta Utara. Demikian disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Tadi sudah koordinasi dengan Sudin Disdik Jakut, Pak Gatot. Dia memastikan kalau di Jakarta Utara tidak ada sekolah baik SD, SMP, dan SMA yang memiliki seragam seperti di foto itu,” ujarnya.

Polisi sampai sekarang juga belum mendapatkan laporan pihak yang mengaku mengenali sosok laki-laki berseragam biru tersebut. Demikian pula dengan sosok jenazah perempuan yang dibunuh secara sadis dan dimasukkan ke dalam kardus.

“Belum ada satu pun yang mengenali foto laki-laki dan jenazah perempuan,” kata Irwan.

Pihak polisi, kata Irwan, sudah menyebar ratusan foto wajah perempuan yang diperkirakan berusia 40 tahun itu. Foto-foto korban disebar di berbagai tempat keramaian di wilayah Koja, Tanjung Priok, dan Cilincing.

Polres Metro Jakarta Utara dan Polda Metro Jaya kini juga membuka call center apabila ada pihak yang memiliki informasi penemuan jenazah perempuan malang itu. Adapun nomor telepon call center Polda Metro Jaya yakni 0816782000, sedangkan call center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

Seperti diberitakan sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, usia 40 tahun, kulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam warna hitam.

Sebanyak 11 orang saksi diperiksa terkait penemuan mayat tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus dan koper di wilayah Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya. Ia melanjutkan untuk kasus penemuan mayat di dalam koper di Cakung sebanyak tiga orang sudah dimintai keterangan.

“Di timur sudah ada tiga orang saksi yang diperiksa. Mereka yang ada di sekitar lokasi saat mayat ditemukan,” ungkap Baharudin.

Sementara untuk penemuan mayat perempuan dewasa di Jakarta Utara, polisi telah memeriksa delapan orang saksi. “Di antaranya dua orang saksi yang menemukan langsung, dua orang yang melihat di ujung gang, dan empat orang pemilik rumah di sekitar lokasi,” kata Baharudin.

Saat ini, polisi juga membuka call center bagi siapa pun yang mengenali sosok mayat tersebut yakni di nomor 0816782000. Diakui Baharudin, polisi akan bertindak proaktif dalam mencari identitas kedua mayat yang diduga saling terkait itu.

“Semua sumber informasi akan jadi saran bagi kepolisian untuk membuat terang kasus ini,” kata Baharudin.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Utara masih terus melakukan pemeriksaan terkait penemuan mayat perempuan tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus televisi. Polisi kini mulai mencurigai pengendara motor yang diketahui warga sering bolak-balik di tempat ditemukannya mayat itu.

“Orang yang naik motor bolak-balik ini yang kami dalami. Sampai sekarang kami belum tahu motornya apa dan nomor polisinya berapa,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Gatot Edy Pramono, Minggu (16/10/2011) di Mapolda Metro Jaya.

Ia melanjutkan, penyidik sudah meminta keterangan dari warga setempat yang pertama kali menemukan mayat itu dan warga lain yang melihat pengendara motor itu. “Sejauh ini baru warga-warga itu. Belum ada yang lain,” tutur Gatot.

Sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan berada di dalam kardus televisi yang dibuang di pinggir Gang B RT 7 RW 17, Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Jumat (14/10/2011) pukul 14.30.

Menurut beberapa warga, kardus itu ditemukan setelah beberapa saat terdengar suara gaduh barang dibuang dan diikuti suara motor. Saat dilihat ternyata ada sebuah kardus televisi besar diletakkan di jalanan.

Ketika dibongkar, warga melihat sesosok mayat perempuan yang dibelit kain batik. Wajahnya ditutup rambut panjangnya yang lurus. Temuan ini pun dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Utara. Penyidik Reskrim Polrestro Jakarta Utara yang membongkar kardus itu menemukan mayat perempuan itu hanya mengenakan pakaian dalam. Tubuhnya pun diikat dengan tali rafia sehingga badan dan kakinya menyatu. Selain itu ditemukan foto bocah laki-laki dan luka tusuk di bagian perut.

Polisi menduga dua mayat tanpa identitas di dalam kardus dan koper yang ditemukan di Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur saling berkaitan. Untuk membuktikan keterkaitan keduanya, polisi akan mencocokan DNA dari kedua jenazah.

“Hari ini dari dua temuan itu akan dicek DNA oleh kedokteran forensik untuk melihat kecocokan apakah dua jasad ini punya keterkaitan atau berhubungan darah atau tidak,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya.

Diakui Baharudin, kepolisian sampai sekarang juga masih belum mengetahui identitas kedua jenazah tersebut. Pasalnya, masih belum ada pihak yang mengaku pernah mengenal jenazah itu. Baharudin menjelaskan, polisi saat ini fokus untuk mengungkap identitas keduanya. Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur langsung membentuk tim khusus didukung Direskrimum Polda Metro Jaya.

“Tujuannya untuk cari identitas korban. Kami juga membuka call center di nomor 0816782000,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam koper di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.