Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘pembunuh berantai’

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

November 12, 2008 · 1 Tanggapan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Terbukti Metoda Polisi Dalam Mengungkap Kejahatan Masih Dengan Cara Menyiksa Tersangka Hingga Mengaku – Kemat Dihajar Sampai Setengah Mati Agar Mau Mengaku Membunuh Ashori Hingga Dihukun 17 Tahun Penjara … Eh Ternyata Dibunuh Oleh Ryan

Agustus 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Air mata Imam Hambali alias Kemat (34) langsung mengucur saat Eka Lisnawati, sang kemenakan, menyalaminya lewat lubang sebuah pembatas berjeruji kawat yang memisahkan antara pembesuk dan napi LP Jombang, Kamis (28/8) kemarin.

Kemat adalah salah satu terpidana salah tangkap dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idam Henyansah alias Ryan, warga Desa Jatiwates, Jombang, yang telah membantai 11 orang.

Kemat dihukum 17 tahun, sementara Devid Eko Priyanto 12 tahun setelah pengadilan memvonis keduanya membunuh Asrori, pria yang mayatnya ditemukan di kebun tebu Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, 29 September 2007 lalu.

Namun, Rabu (27/8) lalu terungkap bahwa pembunuh Asrori adalah Ryan, dan makam Asrori sesungguhnya bukanlah di kebun tebu, melainkan di belakang rumah orangtua Ryan di Jatiwates.

Keadaan ini membuat pertemuan Kemat dan keluarga yang menjenguknya di LP kemarin diliputi keharuan. “Alhamdulillah…akhirnya kebenaran itu terkuak juga. Doakan ya… semoga masalahnya lekas selesai dan saya bisa bebas,” ujar Kemat sambil terus menangis.

Kemat mengaku sudah mendengar kabar salah tangkap dirinya dan Devid sejak kemarin pagi lewat siaran berita radio yang dibawanya ke Blok A3 LP Jombang. Blok inilah yang dihuni Kemat sejak dia dijebloskan ke bui setelah dicatut polisi sebagai tersangka pembunuh Asrori, 21 Oktober 2007 lalu. Devid menempati Blok F-4.

Sementara itu, Maman Sugianto alias Sugik, yang disangka sebagai pelaku, masih dalam masa karantina dan menempati Blok D-2. Kemarin Sugik menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jombang.

Surya kemarin turut membesuk Kemat di LP Jombang. Kepada Surya, Kemat berkisah bahwa sepanjang Ramadhan 2007 lalu polisi berulang kali menciduknya dari rumahnya di Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Namun, berulang kali pula dia kembali dipulangkan. Pada pemanggilan berikutnya ke polsek saat lebaran ketupat, Kemat akhirnya ditahan. “Ayo guk melu aku nang polsek (ayo Mas ikut saya ke polsek),” ujar Kemat, mengulang kalimatnya saat itu.

Dia mengajak kakaknya yang nomor empat itu karena sudah merasa tak enak akan terjadi sesuatu. Kemat adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Khamin (75) dan Watini (65).

Benar saja. Hingga sore, Kemat tak lagi pulang ke rumah. Sekitar pukul 24.00, Karnadi tiba di rumah tanpa Kemat. Di Polsek Bandarkedungmulyo, Kemat mengaku mendapat siksaan fisik dari penyidik. Bahkan, untuk memaksa agar dia mengakui sebagai otak pembunuh Asrori, menurut Kemat, polisi membawanya ke tanggul Sungai Kayen. “Aku dipukuli Mas pakai karet diesel,” tuturnya.

Kemat ditangkap setelah polisi menangkap Devid di Tuban, rumah neneknya, pertengahan Oktober tahun lalu. Setelah Kemat, nama lain yang disangka terlibat dalam penghilangan nyawa Asrori adalah Maman Sugianto atau Sugik. “Saya enggak tahu apa-apa Mas. Katanya saya bawa sepeda motor Asrori, itu juga tidak benar,” kata Kemat.

Tangis Kemat tak terbendung lagi saat rombongan keluarga Sugik datang membesuk. Orangtua Sugik, Sulistyowati dan Mulyono, datang sekitar pukul 12.40. Mereka mengunjungi LP Jombang setelah mengikuti sidang Sugik di PN Jombang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa. Sebelum mereka, teman-teman Kemat dari desa tiba lebih dulu.

Wis tenang ae. Engko nek wis metu tak kancani sampek elek (Sudah tenang saja kamu. Nanti kalau sudah bebas akan kuajak main-main sampai puas),” ujar Arif, salah satu kawan Kemat.

Tak Dijenguk
Berbeda dengan keluarga Kemat, keluarga Devid tak bisa mengunjungi LP. Ibunda Devid, Siti Rokhanah (38), saat ditemui di kediamannya, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Jombang, mengaku bersyukur akhirnya mayat di kebun tebu bukan Asrori dan berharap Devid segera dibebaskan. Kendati demikian, Rokhanah tidak bisa segera membesuk anaknya ke LP Jombang karena tidak memiliki biaya.

“Ya alhamdulillah kalau sekarang ada bukti anak saya tidak bersalah. Tapi kalau untuk menjenguk ke penjara belum bisa. Ongkosnya dari mana?” tanya Rokhanah. Selain tak ada biaya, Rokhanah juga mengaku, jika membesuk di LP khawatir dirinya tak mampu menahan perasaan karena trauma.

Rokhanah berkisah, Devid ditangkap dalam suasana Idul Fitri 2007. Dalam kisahnya, tersirat ada skenario untuk sengaja menjebloskan Devid maupun Kemat, serta Sugik sebagai terpidana.

Kata Rokhanah, berdasarkan pengakuan Devid setelah divonis, penangkapannya bermula ketika suatu siang Devid sedang minum kopi di warung yang tak jauh dari rumah. Saat itu ada polisi datang dan memberinya uang Rp 20.000 untuk pergi alias kabur.

Entah karena alasan apa, Devid menuruti kemauan polisi itu. Devid kemudian pergi ke Tuban, ke rumah kakeknya. Saat di Tuban itulah dia ditangkap polisi. “Polisi tentu mudah menangkap karena saat itu Idul Fitri dan yang dikunjungi pasti kakeknya yang di Tuban atau di Surabaya,” kata Rokhanah dengan berurai air mata.

Kemarin, polisi membongkar kuburan mayat Asrori di kebun tebu di Desa Kalangsemanding. Pembongkaran ini disaksikan ratusan warga dan dipimpin Kasat I Pidum Ditreskrim Polda Jatim AKBP Susanto sejak pukul 11.00 hingga pukul 13.15.

Mayat ‘Asrori’, yang sekarang berubah menjadi mayat tak dikenal karena mayat Asrori sesungguhnya telah ditemukan di belakang rumah Ryan, kini tinggal tulang belulang dengan sedikit daging yang membusuk dan bau menyengat. Selanjutnya mayat tersebut dikirim ke RS Bhayangkara, Surabaya. AKBP Susanto mengatakan, akan dilakukan uji DNA untuk dicocokkan dengan DNA kerabat orang-orang yang kehilangan keluarganya. “Yang jelas dia bukan Asrori karena sesuai DNA, Asrori dikubur di belakang rumah orangtua Ryan,” kata Susanto.

Tentang kemungkinan adanya sanksi bagi penyidik atau pimpinan di atasnya, Susanto mengaku itu akan mengacu pada aturan yang ada. Sedangkan kepada keluarga terpidana dan terdakwa dibuka peluang untuk melakukan upaya hukum sesuai aturan yang ada, seperti pengajuan peninjauan kembali (PK), rehabilitasi nama baik, dan sebagainya.

Menurut sumber di kepolisian, BAP (Berita Acara Pemeriksaan) kasus Asrori kebun tebu yang menyebabkan salah tangkap itu sudah dibawa ke Polda Jatim. Sejumlah penyidik di jajaran Polres Jombang serta Kapolsek Ngoro AKP Anang Nurwahyudi (yang saat terjadinya kasus penemuan mayat Asrori di kebun tebu menjabat Kapolsek Bandarkedungmulyo dan melakukan penyidikan) juga segera diperiksa tim khusus ini.

Ada yang menarik saat pembongkaran mayat kemarin. Jajaran pimpinan Polres Jombang tampak serba salah, bahkan kelihatan tegang. Agaknya ini karena sebelumnya Polres Jombang tetap bersikukuh mayat yang ditemukan di kebun tebu adalah Asrori.

Anang Nurwahyudi juga tegang dan serba kikuk. Ditanya tentang kemungkinan salah tangkap, dia memilih menghindar. Kapolres Jombang AKBP Moh Khosim, saat dicecar wartawan terkait pembongkaran mayat “Asrori”, juga sangat jelas terlihat gugup. Dengah suara agak bergetar, Khosim mengatakan, terhadap mayat tersebut akan diuji DNA untuk dicocokkan dengan keluarga Asrori.

“Ini untuk melihat apakah ada kesamaannya,” kata Kapolres Khosim. Dengan jawaban demikian, seolah dia mengisyaratkan masih terbuka peluang bahwa mayat tersebut adalah Asrori. Padahal AKBP Susanto mengatakan, tidak mungkin ada kesamaan DNA antara `Asrori` di kebun tebu dengan Asrori di belakang rumah Ryan. “Ini fakta ilmiah, kebenarannya 99,99 persen,” kata Susanto.

Yang mengejutkan, kendati berdasarkan uji DNA mayat Asrori adalah yang ditemukan di belakang rumah Ryan, keluarga Asrori masih meragukannya. Paman Asrori, Jaswadi (43), yakin mayat yang dibongkar kemarin itu adalah mayat Asrori. “Saya yakin itu Asrori karena ada bekas luka kena knalpot, kukunya rapi, dan giginya juga jelas milik Asrori,” kata Jaswadi, Kamis

Kepastian mayat Mr X adalah Asrori membuat lega keluarga Imam Hambali alis Kemat (26). Eka Lisnawati, keponakan Kemat, berulang kali mengucap syukur saat diberitahu kabar itu. “Semua keluarga senang, alhamdulillah akhirnya kebenaran itu terungkap,” ucap Eka, Rabu (27/8).

Dengan kabar ini, Eka bersama keluarganya berencana mengunjungi Kemat di LP Jombang hari ini. Mereka ingin memberi kabar bahagia itu langsung ke Kemat. “Kasihan dia tidak bersalah tapi sudah dihukum setahun,” ujar Eka.

Sebagai rasa syukur, keluarganya berencana menggelar selamatan di rumahnya sambil menunggu kepulangan Kemat.

Kata Eka, sejak awal keluarganya yakin Kemat tidak membunuh Asrori. Keyakinan itu didapat setelah seluruh keluarga menginterogasi Kemat. “Dia ngakunya tidak pernah membunuh, sampai bersumpah. Jadi keluarga mempercayainya,” katanya.

Hingga kemarin, Eka dan anggota keluarga Kemat belum berencana mengajukan gugatan ke polisi terkait kesalahan penangkapan. “Kami menunggu sampai pulang dulu. Enggak tahu nanti,” katanya.

Ayah Kemat, Khamin (75), juga mengaku tak pernah percaya anaknya membunuh Asrori. Menurut Khamin, Kemat tidak mungkin membunuh. “Terhadap hewan saja dia itu tidak tega memukul, apalagi terhadap manusia, membunuh lagi. Lebih-lebih lagi Asrori itu tetangganya sendiri,” kata Khamin.

Kemat, jelas dia, juga sangat penakut. “Kalau keluar rumah, misalnya ke tetangga, pada malam hari, selewat pukul 10.00 malam saja dia pasti akan minta diantar. Orang penakutnya seperti itu kok dituduh membunuh, jelas kami tidak percaya,” ujar Khamin.

Khamin makin yakin Kemat tidak membunuh karena setiap keluarga membesuk Kemat ke LP Jombang, Kemat hampir selalu menangis dan bercerita dirinya tidak membunuh siapa pun. “Dia mengaku kepada kami, saat di kepolisian tubuhnya dipukuli polisi sehingga terpaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya. Kasihan sekali dia,” kata Khamin.

“Kalau mengingat kejadian dia ditangkap, saya dan istri saya pasti menangis karena sedih. Saat itu, sedang enak-enak santai habis makan sahur, menunggu datangnya imsak, tiba-tiba rumah kami didatangi beberapa polisi. Mereka membawa anak saya pergi,” tutur Khamin, dengan suara tersendat

Keluarga terpidana dan terdakwa kasus pembunuhan kebun tebu di Dusun Braan, Desa Bandar Kedungmulyo, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang meminta rehabilitasi nama baik anggota keluarga mereka.

Mereka adalah adalah keluarga terdakwa Maman Sugianto alias Sugik (28), serta terpidana Imam Hambali alias Kemat (35) dan Devid Eko Prianto (19). Kemat dan Devid sudah divonis hukuman masing-masing 17 tahun dan 12 tahun.

“Saya meminta keadilan, saya minta anak saya dibebaskan,” kata Sulistiyawati (43), ibu kandung Sugik. Ia dan suaminya, Mulyono (50) juga berharap agar nama baik keluarganya bisa dipulihkan.

Ini terkait dengan bukti bahwa jenazah korban pembunuhan yang sempat diidentifikasi sebagai Moh. Asrori yang dibunuh pada 29 September 2007 itu ternyata orang lain. Berdasarkan tes DNA yang dilakukan polisi, diketahui jenazah Moh. Asrori adalah yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Very Idam Henyansyah alias Ryan pada penggalian kedua, Senin (28/7) lalu.

Siti Rochana (38), ibu kandung Devid meminta ada upaya rehabilitasi nama baik keluarganya dari polisi akibat kasus ini. Ia belum memikirkan upaya hukum lanjutan terhadap polisi. Adapun Sumarmi (41) kakak ipar Kemat mengatakan pihak keluarga masih menunggu perkembangan kasus tersebut.

“Yang penting keluar (bebas) dulu,” katanya.

Sementara itu, dalam persidangan perdana yang dilakukan terhadap terdakwa Sugik di Pengadilan Negeri Jombang, Kamis (28), Ketua Majelis Hakim Kartijono menyatakan bakal tetap melanjutkan perkara itu.

“Kita sesuai saja dengan hukum acara pidana,” kata Kartijono.

Kategori: kebodohan · kejahatan terorganisasi · korupsi · pelanggaran HAM · pembunuh berantai · pembunuhan · penganiayaan · penipuan · polisi korup · terorisme

Para Koruptor Lebih Kejam dan Lebih Jahat Dari Pada Pembunuh Berantai Ryan

Agustus 22, 2008 · 1 Tanggapan

Mana kejahatan yang lebih buas: pembunuhan yang dilakukan Very Idam Henyansyah (Ryan) atau korupsi oleh para koruptor?

Kedua hal ini menjadi topik pembicaraan khalayak dan liputan media dalam beberapa minggu terakhir karena dua hal. Kejahatan yang dilakukan Ryan tergolong fenomenal karena ia diduga telah membunuh lebih dari 10 orang di beberapa kota. Sementara itu, korupsi yang dilakukan oleh anggota Dewan dengan menerima pemberian dari pihak Bank Indonesia beberapa tahun silam mencakup nilai hingga miliaran rupiah, dan diduga menyangkut hampir seluruh jajaran pemimpin dan anggota komisi di DPR.

Keduanya patut disejajarkan untuk kita kembalikan pada sebuah pemikiran: mana yang lebih jahat bagi masyarakat, seorang pemuda berdarah dingin atau sekelompok politikus dan mereka yang disebut sebagai wakil rakyat, tetapi telah mempermainkan kepercayaan rakyat kepadanya dengan korupsi untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya?

Kesadaran bersama-sama

Kedua kasus ini pula patut disejajarkan, karena di sini kita bicara tentang ambang batas toleransi kesadaran yang bisa diberikan oleh seorang manusia normal terhadap fenomena yang dihadapi ini. Kasus Ryan mengejutkan kita bahwa rupanya ambang batas toleransi kesadaran pribadi dari seorang Ryan telah terlampaui sehingga pembunuhan demi pembunuhan terjadi bak sekadar menghitung statistik belaka.

Sementara itu, kejahatan korupsi yang dilakukan para anggota Dewan dilakukan dengan suatu kesadaran bersama-sama dan itu juga artinya telah melewati ambang batas toleransi kesadaran bersama hingga sudah diterima sebagai hal yang lumrah dan kekayaan dari hasil korupsi adalah sesuatu yang terhormat dimana seorang koruptor dipuja-puja karena berpangkat dan kaya. Para pihak yang terlibat dalam korupsi gotong royong ini mungkin mirip dengan apa yang pernah digambarkan Elias Canetti (1984) sebagai fenomena ”berlindung di balik kerumunan”.

”Hanya dalam suatu kerumunanlah (baca: kelompok), manusia akan merasa dirinya bebas dari persentuhan dengan orang lain dan bebas berbuat apa saja yang ia inginkan. Kerumunanlah satu-satunya situasi di mana ketakutan berubah menjadi kebalikannya (keberanian). Kerumunan yang ia kehendaki adalah kerumunan yang solid, yang membuat tubuh saling bersentuhan, sedemikian rupa sehingga ia tak lagi sadar siapa yang menyentuh dirinya dan siapa yang ia sentuh. Segera setelah ia menyerahkan dirinya pada kerumunan, maka ia kehilangan rasa takut itu.”

Begitulah paparan yang digambarkan Elias Canetti, penulis pemenang Nobel Sastra asal Bulgaria yang lama tinggal di Jerman dalam bukunya yang terkenal, Crowds and Power (Masse und Macht).

Kejahatan Ryan masih terus diselidiki oleh aparat keamanan, sementara kejahatan bergotong royong yang dilakukan oleh para anggota Dewan masih menunggu berbagai proses politik yang mengikutinya. Bisa saja ada yang ditahan, bisa saja ada yang kemudian terbebas dari jeratan hukum. Buat Ryan ini adalah kasus kriminal dan ini telah diliput oleh berbagai media, dan ditaruhnya dalam konteks liputan kriminal. Sementara itu, kejahatan kerah putih anggota Dewan ditaruh dalam segmen ”berita-berita politik atau nasional”. Ironis, kejahatan orang kecil mudah dimasukkan dalam segmen kriminal (bahkan juga dihina-hina oleh presenter info- tainment), sementara kejahatan para tuan berjas ini masih jauh dari jerat kriminal.

Terhadap kasus Ryan dan kasus korupsi para anggota Dewan kita berharap hukum akan tampil adil, dan menghukum setimpal mereka yang terbukti melakukan kejahatan, serta membuat jera mereka-mereka yang tengah mengikuti atau sedang berpikir akan mengikuti jejak, baik Ryan maupun anggota Dewan lainnya.

Keterpurukan bangsa?

Kita mungkin akan bertanya-tanya, konteks personal dan sosial macam apa yang menghasilkan dua fenomena yang melintasi batas toleransi kesadaran diri tersebut? Apakah ini cerminan dari suatu keterpurukan bangsa? Apakah ini cermin bagaimana sosok individu yang terpukau dengan glamournya dunia sekitarnya dan merasa ingin tampil sebagai pemenang dalam dunia glamour tersebut? Apakah ini cermin bahwa suara hati ataupun Ego—dalam terminologi Sigmund Freud soal Id, Ego dan Superego—sudah mati dan tak lagi jadi pertimbangan dalam bertindak? Ataukah memang sudah basi bicara soal suara hati karena tindak manusia tak lebih dari pelampisan terhadap dunia materi ini?

Efek jera hukuman yang diberikan kepada mereka yang terbukti bersalah di sini diperlukan untuk meminimalkan terulangnya kasus ini. Namun, tak ada jaminan sungguh bahwa fenomena pembunuhan dengan sedemikian tenang dilakukan oleh ”Ryan-Ryan” lainnya, dan pula tak ada jaminan bahwa setelah belasan atau puluhan anggota Dewan menjadi terdakwa kasus korupsi, kejahatan ini akan perlahan-lahan pudar dari Indonesia.

Kita tercengang dengan dilewatinya ambang batas toleransi kesadaran manusia. Baik dalam kasus Ryan maupun dalam kasus pemberian suap dari pihak Bank Indonesia dan pihak anggota Dewan terhormat. It takes two to tango, dan ini sodokan yang juga perlu ditujukan kepada para pejabat Bank sentral Indonesia, penguasa lalu lintas keuangan nasional. Kenyataan ini pula menambah ketercengangan kita, bagaimana mungkin sebuah institusi yang dipercaya menjaga kredibilitas keuangan nasional justru melakukan hal yang nista tersebut. Sekali lagi, it takes two to tango. Dua-duanya sami mawon, tak lagi menimbang batas toleransi kesadaran manusia.

Apa kerugian yang dihadapi masyarakat dengan dua kasus ini? Kasus Ryan mengajak masyarakat tak buru-buru percaya kepada pemuda atau orang lain dengan penampilan manis, tutur kata lemah lembut, dan bersikap sopan. Kepercayaan masyarakat tercederai dan banyak pihak merasa telah dibohongi.

Sedangkan dalam kasus korupsi para anggota Dewan, apa kerugian masyarakat? Lebih besar lagi. Masyarakat makin tak percaya kepada para politisi atau para wakil rakyatnya. Wakil rakyat telah berkhianat kepada rakyat. Lebih jauh lagi, seandainya nilai uang yang telah menjadi suap itu disulap dalam bentuk pembangunan gedung sekolah, misalnya, ini artinya ribuan siswa telah dirugikan dengan suap seperti ini. Jika uang yang sama diberikan untuk menambah fasilitas kesehatan, ratusan orang akan terselamatkan. Sementara gedung sekolah reyot membuat siswa tak nyaman belajar, uang bernilai sama hanya dipakai untuk menyuap anggota Dewan untuk tidak menghalangi upaya politik dari Bank sentral Indonesia.

Betapa ironisnya dunia kita dimana para pejabat, wakil rakyat dan pegawai negeri yang seharusnya menjadi hamba pada rakyat ternyata malah semena-mena dan bertindak bagaikan raja terhadap budak yang selalu minta pelayanan dan bukan melayani dengan kerendahan hati serta penuh iklas.

Kategori: korupsi · mutilasi · pelanggaran HAM · pembunuh berantai · pembunuhan · perampokan · pns korup · polisi korup

Ryan Ternyata Hanya Bertobat Menjadi Pembunuh Tetapi Masih Belum Mau Melepaskan Statusnya Sebagai Gay Homoseksual

Agustus 12, 2008 · 1 Tanggapan

Verry Idam Heryansyah,30 alias Ryan mengaku bertobat dan menyesal membunuh 11 orang. Tapi dia belum siap untuk berhenti menjadi gay alias mencintai sesama jenis.

Ryan mengungkapkan hal ini kepada Panglima Front Pembela Islam (FPI), Matsuni yang membimbingnya untuk kembali jalan yang benar. Penjagal 11 orang itu sering curhat kepada Matsuni yang satu sel dengan dia. Ryan patuh bila dinasehati Matsuni.

Hal ini diungkapkan Ustad Mustafa Muhammad Bong, usai membesuk Ustad Masuni di Rutan Narkoba Polda Metro Jaya, Selasa (12/8). “Dia bilang menyesal menjadi pembunuh dan sudah siap bertaubat. Tapi jika untuk berhenti menjadi gay belum siap,” cerita Mustafa.

Kedatangan Mustafa, DPP Ekuin di FPI, selain menjenguk Matsuni juga mengantar pesanan Ryan yang minta dibawakan sarung, baju koko dan kopiah untuk keperluan ibadahnya.

“Pesanan itu disampaikan Ryan saat saya menjenguk Ustad Matsuni Minggu lalu. Katanya setiap kali salat dia harus menunggu giliran orang lain untuk pinjam sarungnya,” urai Bong.

Selain memesan peralatan salat, Ryan juga meminta makanan kesayangannya yakni singkong rebus. “Tadi saya lebih dulu belanja singkong dan merebusnya. Kasihan dia sampai saat ini belum ada keluarganya yang menjenguknya,” tuturnya.

KELUARGA GRANDY
Sementara itu, pihak keluarga Grandy, mantan finalis VJ MTV tahun 2007, yang menjadi korban pembunuhan Ryan menyerahkan hukuman pelaku pembunuhan itu pada pihak kepolisian.

Hal itu diutarakan Mauritz paman Grandy kepada wartawan sesudah serah terima jenazah Grandy di Mapolda Jawa Timur, Selasa. Menurutnya, meski keluarga mengaku geram dan marah atas sikap Ryan.

Namun pihak keluarga pasrah dan menyerahkan diri pada Tuhan terkait kematian Grandy. Pemuda ini dibantai Ryan.

Kategori: gay dan lesbian · mutilasi · pembunuh berantai · pembunuhan · perampokan

Ryan Sang Pembunuh Berantai Dan Gay Homoseksual Menyatakan Diri Bertobat Setelah Belajar Ilmu Agama Dari Panglima Laskar FPi Front Pembela Islam

Agustus 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tersangka kasus pembunuhan berantai Very Idham Henyansyah alias Ryan, 30, menyatakan ingin bertobat dan berhenti menjadi gay homoseksual. Saat ini pria gemulai penjagal 11 manusia asal Jombang itu sedang belajar ilmu agama kepada Panglima Laskar Front Pembela Islam (FPI), Ustadz Matsuni.

Ryan yang ditahan di Rutan Narkoba Polda Metro Jaya memang berada satu sel dengan Ustadz Matsuni yang tersangkut kasus bentrokan di Monas, 3 Juni lalu. “Memang Ryan kini berada satu sel dengan Ustadz Matsuni. Soalnya selama ini tidak ada satu orangpun yang berani satu sel dengan dia,” tutur satu petinggi FPI, Ustadz Mustafa Muhammad Bong, Sabtu (9/8 ).

Panglima Laskar Front Pembela Islam ini, kata Bong, mendapat tugas khusus dari Panglima tertinggi FPI Habib Rizieq Shihab untuk menyadarkan Ryan. “Habib Riziq ditahan di lantai tiga, sedangkan Ustadz Matsuni bersama Ryan di lantai satu bersama dengan Ryan di Blok 9. Makanya dia yang mendapat tugas khusus itu dari Habib (Habib Riziq, red),” jelas Ketua DPP FPI Bidang Ekuin tersebut usai menjenguk Habib Riziq di Polda Metro Jaya.

Ryan sendiri, lanjut Mustafa Bong, saat ini sudah mau menjalankan salat lima waktu. Bahkan dia juga mau memakai sarung, kopiah dan memotong rapi rambutnya. “Alhamdulillah sejak bertemu dengan Ustadz Matsuni, Ryan banyak berubah. Ini tak lepas dari bimbingan Ustadz Matsuni sejak dia masuk penjara,” ungkapnya.

SIAP JALANI REKONSTRUKSI
Matsuni juga sempat bercerita kepada Mustafa Bong, bahwa dirinya siap membina Ryan yang telah membunuh sedikitnya 11 orang tersebut. “Membunuh satu orang saja dosanya sudah banyak, apalagi lebih dari satu. Pokoknya saya siap membantu dia untuk tobat,” tutur Matsuni seperti ditirukan Mustafa Bong.

“Memang antara Ryan dengan FPI tidak ada kaitannya sama sekali. Tapi karena dia sesama muslim, kami terpanggil untuk membimbing dan membina mentalnya kembali ke jalan yang benar.

Ryan dibawa dari Polda Jawa Timur ke Polda Metro Jaya sejak 6 Agustus lalu. Dalam waktu dekat ini, rencananya pembunuh berantai itu akan digelandang ke Apartemen Margonda Residence, Depok, untuk melakukan rekonstruksi kasus mutilasi Ir. Heri Santoso.

Kategori: gay dan lesbian · pembunuh berantai · pembunuhan

Rio Alex Bullo – Sang Martil Maut – Pembunuh Berantai Pengacara Terkenal Purwokerto Dan Pembunuh Koruptor Iwan Zulkarnaen Segera Dihukum Mati

Agustus 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Rio Alex Bullo (30), pembunuh berantai yang beraksi selama 1997-2001 di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Purwokerto, akan dieksekusi mati sebelum 17 Agustus.

Rencananya, Alex Bullo yang dikenal sebagai Si Martil Maut dan kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Batu, Nusakambangan, Cilacap, akan dieksekusi di Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwokerto Diah Sri Kanti, Selasa (22/7), mengatakan hingga saat ini tak ada lagi upaya hukum lainnya yang dapat ditempuh Alex Bullo yang akhirnya aksinya terungkap di Purwokerto pada 2001 lalu untuk lepas dari jeratan hukuman mati.

Hal itu menyusul permohonan grasi yang diajukan terpidana telah ditolak Presiden Megawati Soekarnoputri. Permohonan peninjauan kembali sekitar tiga tahun lalu juga telah ditolak oleh Mahkamah Agung. Sudah tertutup bagi Alex Bullo untuk melanjutkan proses hukum, ucap Sri Kanti. Lebih lanjut, Kepala Seksi Pidana Umum Sunarwan mengatakan dalam waktu dekat ini Kejari Purwokerto akan mengadakan rapat koordinasi dengan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah dan Kepolisian Daerah Jawa Tengah di Semarang, guna membicarakan teknis pelaksanaan eksekusi.

Sampai sekarang, kami belum memutuskan lokasi eksekusi. Namun, pastinya eksekusi akan dilaksanakan di Purwokerto, katanya. Alex Bullo hingga sekarang dipenjara satu kompleks dengan tiga terpidana mati Bom Bali, Amrozi cs, di sel khusus, LP Batu. Dia dipindahkan ke sel itu karena pada Mei 2005 lalu dirinya terbukti membunuh teman satu penjaranya di LP Permisan, terpidana korupsi Rp 27 miliar, Iwan Zulkarnaen (34).

Dalam setiap aksinya, Alex selalu menggunakan dua buah martil untuk membunuh para korbannya yang diperkirakan sudah mencapai lima orang. Kedua martil itu digunakan untuk menikam kepala para korbannya sehingga dia dikenal sebagai Si Martil Maut.

Mei tahun 2005 lalu, Alex kembali melakukan pembunuhan, kali ini teman satu penjaranya di Lembaga Pemasyarakatan Permisan, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, yakni Iwan Zulkarnaen (34). Pembunuhan itu dilakukan dengan cara menutup kepala korban dengan sarung dan membentur-benturkannya ke dinding hingga tewas.

Alex melakukan pembunuhan tersebut karena tersinggung dengan ucapan korban yang tak lain adalah guru mengajinya sendiri selama mendekam di LP Permisan

Iring-iringan mobil penjemput terpidana mati Rio Alex Bullo, Minggu (3/8 ) malam pukul 21.35 WIB meninggalkan LP Nusakambangan menuju arah Purwokerto.

Wartawan ANTARA yang memantau di Dermaga Wijayapura Cilacap, melaporkan, Kapal Pengayoman II merapat di Dermaga Wijayapura pukul 21.35 WIB kemudian satu demi satu mobil yang berada di dalam kapal keluar dari dek dan langsung menuju arah Purwokerto.

Mobil pertama yang turun dari kapal adalah kendaraan patroli pengawal diikuti satu unit mobil antiteror dan bom, kemudian mobil Kijang bertuliskan Brimob, dan terakhir Kijang LGX warna biru nopol B 7352 P.

Terpidana mati dalam kasus pembunuhan tersebut kemungkinan berada di dalam mobil antiteror dan bom.

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari petugas yang berwenang soal kemungkinan pelaksanaan eksekusi terhadap narapidana itu, apakah dilakukan Minggu (3/8 ) malam ini hingga Senin (4/8 ) dini hari atau yang bersangkutan ditempatkan di ruang isolasi LP Purwokerto terlebih dahulu.

Rio Alex Bullo divonis mati Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto karena melakukan pembunuhan sadis terhadap seorang pengacara terkenal sekaligus pemilik persewaan mobil di Purwokerto, Jeje Suraji (39), di Hotel Rosenda Baturaden pada 21 Januari 2001.

Dalam aksinya, Rio mamakai alat berupa martil yang digunakan untuk memukul kepala korban sekaligus menghabisi nyawanya.

Selain Jeje, Rio juga terbukti membunuh tiga korban lain dalam dua peristiwa berbeda di Semarang dan Bandung.

Rio, yang semula mendekam di LP Kedungpane Semarang, dipindahkan ke LP Permisan di Pulau Nusakambangan. Namun di tempatnya yang baru, dia membunuh narapidana kasus korupsi, Iwan Zulkarnaen, pada awal Mei 2005.

Namun aksi pembunuhan tersebut tidak disidangkan lantaran Rio telah mendapat sanksi pidana maksimal, yakni hukuman mati

Meski Rio Alex Bulo sudah mendekati masa eksekusi, keluarga almarhum Jeje Suraji hingga kini masih trauma atas peristiwa pembunuhan pengusaha persewaan mobil sekaligus pengacara kondang di Purwokerto itu.

“Saya membawa ketiga anak untuk tinggal di rumah kerabat di Jakarta karena hingga kini kejadian itu belum hilang dari ingatan. Kami masih dihinggapi perasaan ketakutan yang mendalam,” kata istri almarhum Jeje, Rina Wardani, saat dihubungi dari Purwokerto, Jateng, Sabtu.

Dia mengaku terpaksa meninggalkan rumah di Perum Purwosari, Kecamatan Baturaden, Banyumas, dengan membawa ketiga anaknya Gesa Andani, Riski Asih, dan Gilang Putra Aji karena masih trauma atas peristiwa pembunuhan suaminya di Hotel Rosenda Baturaden tujuh tahun silam.

Ia mengharapkan, pembunuh suaminya (Rio Alex Bulo, red.) segera dieksekusi mati agar trauma terhadap peristiwa tersebut segera hilang.

“Kami akan terus trauma jika Rio masih hidup meski saat ini dia berada di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan,” katanya.

Seperti yang diketahui, Rio Alex Bulo divonis mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto karena melakukan pembunuhan sadis terhadap seorang pengacara terkenal sekaligus pemilik persewaan mobil di Purwokerto, Jeje Suraji (39), di Hotel Rosenda Baturaden pada 21 Januari 2001.

Berbagai upaya hukum berupa grasi, kasasi, hingga PK telah diajukan tetapi semua itu tetap ditolak dan hukumannya tetap, yakni hukuman mati.

Kategori: pembunuh berantai · pembunuhan · perampokan

Very Idam Henyaksyah Alias Ryan – Si Tukang Jagal Dan Pembunuh Berantai Homoseksual Gay Dari Jombang Yang Membunuh 4 Orang

Juli 22, 2008 · 12 Tanggapan

JOMBANG – Terjun ke dunia gay yang salah menurut agama dengan mengobral cinta sejenis membuat Very Idam Heryansyah alias Ryan, 30, lupa diri. Kenikmatan hidup bergelimang dosa itulah membuatnya terjerat dalam kasus pembunuhan berantai.

Pemuda tampan lemah gemulai ini menjadi tukang jagal berdarah dingin. Ia tidak hanya membunuh Ir. Heri Santoso di Apartemen Margonda Residence, Depok, kemudian memotong tubuh korban menjadi 7 bagian, tapi juga menghabisi nyawa Aril Somba Sitanggang, 34. Bahkan, tiga teman kencannya sesama gay dibantai.

Mayat Heri Santoso yang dimutilasi dimasukkan Ryan kedalam dua koper kemudian dibuang di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Sedang empat korban lainnya dibantai di rumah orangtua tersangka kemudian dikubur di belakang rumah. Pembantaian mengerikan itu dilakukan Ryan dalam 12 bulan terakhir ini.

Perbuatan sadis Ryan membuat tetangga dan kerabatnya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Jombang, Jawa Timur, terperangah. Di halaman belakang rumah orangtuanya itulah, polisi menemukan empat kerangka pria yang dikubur secara terpisah. Senin (21/7) pagi, keempat jenazah gay teman bercinta Ryan digali petugas Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur, dan Polres Jombang.

Menjelang siang, penggalian jenazah empat pria, seorang di antaranya diyakini sebagai WN Belanda, selesai dilakukan. Dengan menggunakan dua ambulan, korban pembantaian ini dibawa ke RS Bhayangkara, Surabaya. “ Di rumah sakit ini jenazah keempat korban akan diotopsi, “ kata Kasat Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Fadil Imron.

4 GAY DIKUBUR
Empat gay yang menjadi korban keganasan Ryan kemudian dikubur di halaman belakang rumah orang tua tersangka, menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs. Carlo B. Tewu, adalah Aril Somba Sitanggang, yang dibunuh pada akhir April lalu. Pria yang bekerja di agen properti ini diketahui pergi ke Surabaya bersama Ryan pada 23 April.

“ Dari hasil pelacakan adanya pengeluaran uang di rekening Aril melakui ATM dan printout telepon seluler korban, didapat informasi berharga bahwa tersangka Ryan dicurigai membunuh Aril, “ kata Carlo, yang turun langsung menyaksikan penggalian jenazah di Jombang.

Ditambahkan Carlo, korban lainnya, Vincen, 28, asal Jombang. Pemuda ini dibunuh pada awal April 2008, dua minggu sebelum Aril dihabisi. Guntur, 30, asal Nganjuk, Jawa Timur dibantai pada pertengahan Juli 2007. Sedangkan Grendy, 28, WN Belanda, dibunuh pada pertengahan Januari 2008. Keempat korban yang dijagal Ryan ini dikubur dalam jarak berdekatan di bawah pohon pisang di belakang rumah orangtua tersangka.

“ Keempat korban ini dibunuh dengan cara dipukul pakai batu dan linggis. Pembunuhan dan penguburan korban dilakukan malam hari, “ tegas Carlo.

Ryan tidak hanya membantai keempat gay tersebut, ia juga dicurigai membunuh seorang ibu rumah tangga bernama Nani dan putranya. Empat bulan lalu, ibu dan anak ini dilaporkan warga kepada petugas yang menggali kerangka gay, pernah jalan bersama Ryan. Sejak itu, korban tidak kelihatan batang hidungnya. Namun, kepastian bahwa Ryan membunuh kedua korban warga Jombang itu masih diusut petugas. Pasalnya, tersangka selalu memberi keterangan berbelit-belit.

Tidak tertutup kemungkinan masih ada korban lain yang dibunuh Ryan. Untuk mengungkap tuntas dan mencari tahu ada korban lain, Carlo menyediakan telepon seluler layanan masyarakat yang siap menampung dalam 24 jam. Nomor telepon itu, 0816851777, 081510666666, dan 08179189993. “ Sekecil apapun informasi yang masuk akan kami pelajari , “ tambah Carlo.

RYAN DIBAWA KE JOMBANG
Sebelum ditemukannya 4 korban pembantaian, petugas memeriksa Ryan dengan ketat. Pemuda yang maniak seks dan doyan foya-foya bersama kaum gay ini memberi alibi bahwa ia tidak membunuh Aril. Kendati bukti berupa tiket kereta api, saksi yang dimintai keterangan, adanya hubungan telepon, dan pengambilan uang Aril di ATM, memperkuat kepergian Aril ke Surabaya, tidak membuat Ryan buka mulut.

Pengakuan Aril ini tidak membuat petugas putus asa. Sabtu siang, dengan menumpang pesawat dan dikawal ketat lima petugas Reserse Polda Metro Jaya, Ryan dibawa ke Surabaya kemudian naik mobil ke Jombang, ke rumah orangtuanya.

Di rumah sedarhana itu, Ryan dipertemukan dengan Ahmad, 54, ayah dan Ny. Saitun, 47, ibu kandung tersangka. Berhadapan dengan kedua orangtuanya, Ryan bersujud minta ampun. Tangis pun meledak di rumah tersebut. Dalam waktu singkat, tetangga berdatangan.

Ketika petugas menggeledah rumah ini, ditemukan beberapa potong baju dan celana, yang mirip dengan kepunyaan Aril. Kedua orangtua Ryan menjelaskan bahwa baju dan celana itu milik teman anaknya. Tapi pasangan ini tidak tahu siapa nama teman anak mereka.

Langkah lain yang diambil petugas adalah memeriksa halaman belakang rumah. Dari tumpukan tanah yang ditemui, petugas curiga ada sesuatu dibalik tanah ini. Karena hari sudah menjelang malam, kecurigaan petugas tidak dilanjuti. Ryan dibawa ke Polres Jombang.

Di kantor polisi ini, Ryan diinterogasi ketat yang melibatkan petugas Polda Jawa Timur dan Polres Jombang. Minggu pagi, petugas mulai menyebar ke perkampungan warga. Dari informasi yang dikumpulkan, didapat tahu bahwa ada warga yang pernah melihat Ryan menggali tanah di belakang rumahnya.

Menjelang tengah malam, Ryan buka mulut bahwa memang benar ia membunuh Aril dan mayatnya dikubur di belakang rumahnya. Tanpa membuang waktu, puluhan petugas mendatangi rumah Ahmad. Petugas Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur memasang police line. Warga diminta tidak mendekat ke lokasi ini.

SAKIT HATI
Senin pagi, penggalian tanah pun dimulai. Begitu mata cangkul menembus tanah, petugas menemukan potongan baju kemudian kerangka manusia. Penemuan yang mengejutkan ini mengundang perhatian ratusan warga yang berbondong-bondong datang melihat penemuan kerangka manusia ini. Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, terutama adanya ada balas dendam, rumah tersangka dijaga ketat. Bahkan Detesement 88 Anti Teror Polda Jatim, diterjunkan.

Penemuan mayat ini membuat Ryan tidak bisa berkelit. Apalagi tidak hanya mayat Aril ditemukan, tapi juga tiga korban lainnya. Kepada petugas, gay yang menyewa apartemen di Depok itu mengakui terus terang semua perbuatannya. “ Saya membunuh karena sakit hati. Mereka saya bunuh karena menolak menikahi saya, “ tutur Ryan, yang mengaku berniat nikah dengan Noval di Belanda.

Namun, alasan pelaku dicurigai polisi sebagai alasan yang tidak masuk akal. Carlo menduga, pelaku menghabisi korban karena ingin menguasai harta bendanya.

Menurut Ryan, dia menghabisi Ariel dengan batu yang dihantamkan ke kepala korban sebanyak tiga kali. Korban tewas kemudian dikubur di samping septik tank di dekat pagar belakang rumah.

IBU ARIL SHOCK
Mendapat kabar anaknya dibunuh Ryan dan mayatnya sudah ditemukan, Ny. Tiarma boru Tambunan, ibu kandung Aril, tak mampu menahan sedih. “Saya sudah mendapat kabar kalau anak saya meninggal. Saya shok anak saya meninggal dengan cara seperti itu,” ujar Tiarma. “Hukum mati saja Ryan.”

Kepastian bahwa jenazah yang dikubur adalah Aril diperoleh polisi dari dua anggota keluarganya yang berangkat ke Surabaya, Minggu pagi. Saat ditanya apakah Tiarma mengenal Ryan, wanita tersebut mengaku tidak mengenal pelaku. “Saya tidak kenal dengan Ryan, saya cuma tahu nama dia dari anak saya,” ujarnya.

Sementara itu, Noval Andreas , pacar Ryan kaget ketika mendengar Ryan terlibat pembunuhan Aril Sitanggang.”Dia kaget diberitahu Ryan juga membunuh Aril. Tersangka Noval mengaku tidak kenal dengan Aril,” ujar Desi, teman Noval saat ditanya usai membesuk rekannya itu di tahanan Narkoba Polda Metro Jaya. Menurut Desi, Noval sempat mengantar Ryan ke Stasiun Gambir yang saat itu akan berangkat ke Surabaya.

Ditangkapnya Ryan, membuat keluarga meradang. “Kami tidak percaya kalau Ryan sebagai pelaku mutilasi. Sebab dia anak baik dan ramah dan supel pasti ada orang lain yang sengaja memfitnah dan mengubur mayat dibelakang rumah kami tanpa sepengetahuan kami, ini semua hanya konspirasi untuk menjatuhkan nama baik  keluarga kami,” kata Dedi Sudarsono,32, paman tersangka. Dedi juga mengaku kurang tahu persis tingkah laku Ryan sejak ke Jakarta.

“Kalau saya tidak seberapa paham. Soal kasus yang terjadi, keluarga juga tidak mengerti. Tahu-tahu ada polisi datang ke sini,” katanya.

BELUM TENTU PSIKOPAT
Menanggapi aksi pembunuhan berantai tersebut, Kriminolog Erlangga Masdiana mengatakan, tersangka Ryan belum tentu seorang psikopat. Alasannya, perlu pemeriksaan oleh dokter jiwa untuk melihat kestabilan emosinya dan membuktikannya.

Menurutnya, tindakan yang dilakukan Ryan karena adanya sejumlah faktor yang kondusif di antaranya waktu, tempat, keberanian dan tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menguasai harta selain mengeksekusi korbannya. “Biasanya pelaku termasuk orang supel dan ramah sehingga tak mudah ditebak apa yang akan dilakukannya,” ujarnya.

Mengenai Ryan yang membunuh dan menggasak harta korban, Erlangga mengatakan, kemungkinan tersangka memiliki bermacam motif mulai dari masalah ekonomi hingga kekecewaan yang membuatnya balas dendam. “Paling tidak, ia memiliki sebuah nilai yang dianggapnya benar hingga ia melakukan aksinya,” katanya.

PENEMUAN JENAZAH
Empat jenazah yang diduga menjadi korban pembunuhan tersangka Verry Idham Henyaksyah (versi lain menyebut Very Idam Henyansyah) alias Ryan (30), ditemukan terkubur di sekitar rumah orang tuanya di Jatiwates, Tembelang, Jombang, Jawa Timur, Senin (21/7). Dua lainnya masih dicari polisi.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Carlo Brix Tewu mengimbau, mereka yang merasa kehilangan keluarganya terkait kasus Ryan, diminta menghubungi nomor telepon selular (Ponsel) 0816851777, atau mengirim pesan lewat pelayanan pesan singkat (SMS) Ponsel 1717.

Carlo mengkhawatirkan jumlah korban yang diduga dibunuh Ryan bertambah banyak. Agar kasusnya cepat tuntas, ia ingin masyarakat lebih banyak terlibat.

Menurut pengakuan Ryan, keempat jenazah yang ditemukan di kebun belakang rumahnya adalah jenazah Ariel Somba Sitanggang (34), Vincent, Guntur, dan Grendy warga negara Belanda. Usia ketiganya diperkirakan 25-30 tahun.

Vincent dan Ariel diduga dibunuh pada akhir April 2008. Guntur dibunuh Agustus 2007, sedang Brendy pada Januari 2008. ”Semuanya baru sebatas pengakuan dan dugaan. Belum melewati penelitian forensik dan sejumlah prosedur penyelidikan dan penyidikan polisi lainnya,” kata Carlo.

KAWAN FITNESS
Dua jenazah lainnya yang belum ditemukan adalah Nani Kristanti (35), dan seorang putranya (3). Keduanya dilaporkan hilang oleh suami Nani.

Menurut suaminya, Nani adalah teman fitness Ryan. Ryan, Nani, dan putranya terlihat terakhir di sebuah toko emas di Jombang, pada tanggal sembilan April 2008.

Anggota Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Direskrimum Polda Metro, Ajun Komisaris Danang, membenarkan informasi tersebut.

Ryan adalah tersangka mutilasi Heri Santoso (40) di sebuah apartemen di Margonda, Depok, Jawa Barat, Jumat (11/7). Ryan mengaku mengenal korban di Jalan Karet Pedurenan Raya, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Tiga hari setelah Ariel hilang, orangtuanya melapor ke Polsek Metro Setiabudi dan Polda Metro Jaya. Ryan pernah diperiksa polisi, tetapi dilepas kembali karena tidak cukup bukti. Ariel mengenal Ryan di tempat indekos Ariel yang ditempatinya sejak April 2008 di Jalan Karet Pedurenan Raya, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dua pekan setelah indekos, Ariel menghubungi ibunya. Ariel mengatakan, akan berangkat ke Surabaya bersama Ryan untuk sebuah rencana pembangunan rumah sakit.

ENAM JAM PENGGALIAN
Menjelang penggalian di kebun belakang rumah, Ryan dengan kedua tangan terborgol, diminta menunjukkan lokasi. Penggalian dilakukan mulai pukul 10.00. Sekitar satu setengah jam kemudian, dua dokter forensik Polda Jatim mendapat isyarat, di lubang pertama ada dua mayat. Ketika lubang diperluas, terdapat satu mayat lagi.

Dua jam setelah penggalian pertama, lokasi makam baru ditemukan sekitar empat meter ke arah selatan makam pertama. Di situ terdapat satu mayat. Ketiga jenazah tidak dimutilasi. Penggalian berlangsung hingga enam jam.

Menurut Tarubi (55), tetangga Ryan, tersangka mulai berubah menjadi penyendiri sejak berusia 20 tahun. Ia lalu aktif bergaul dengan menjadi instruktur senam dan pegawai salon di Surabaya.

Kepala Dusun Maijo, Anang Fauzi (33), menambahkan, beberapa tahun terakhir, warga menonaktifkan keluarga orangtua Ryan dari semua kegiatan lingkungan. Tapi ketika ditanya tentang alasan warga mengucilkan keluarga ini, Anang tak mau berkomentar. ”Silakan langsung bertanya kepada warga yang bermasalah dengan keluarga tersebut,” ucapnya.

Di lokasi penggalian, seorang warga, Moh Shobirin (37), mengaku kehilangan keponakannya, Moh Zainul Abidin alias Zaki (21) sejak 7 Januari 2008. Pekerjaan Zaki adalah penyiar Radio Gita FM, Jombang.

“Zaki kenal Ryan lewat temannya yang sudah kenal lebih dulu. Berdasarkan informasi beberapa teman, Zaki terakhir terlihat bersama dengan Ryan,” ujar Shobirin.

Kategori: gay dan lesbian · orang hilang · pembunuh berantai · pembunuhan · perampokan

Aril Somba Sitanggang Diduga Dibunuh Oleh Ryan – Sang Pembunuh Berantai – Pelaku Mutilasi Heri Santoso

Juli 18, 2008 · 2 Tanggapan

JAKARTA – Hidup adalah pilihan. Sedangkan perjalanan hidup yang diambil tersangka Very Idan alias Ariansyah alias Ryan, 30, sebagai kaum gay ternyata tidak seindah yang diharapkannya. Pemuda yang doyan mengobral cinta sejenis ini tidak hanya terlibat pembantaian Ir. Heri Santoso, tapi juga dicurigai sebagai pelaku pembunuh Aril Somba Sitanggang yang juga gay alias homoseksual.

Aril Somba Sitanggang, 34, yang bekerja di salah satu perusahaan agen propeti ini, sejak 23 April lalu hilang bagai ditelan bumi. Tiga hari kemudian, keluarga pemuda ganteng itu melaporkan hilangnya Aril ke Polda Metro Jaya. Bahkan, begitu kasus mutilasi yang menimpa Ir. Heri Sansoto mencuat ke permukaan, keluarga menduga Aril dibunuh Ryan.

Ternyata tidak hanya keluarga Aril yang mencurigai Ryan, petugas Polda Metro Jaya juga mengambil sikap yang sama. Untuk membuktikan keterlibatan Ryan dalam kasus pembunuhan tersebut, pemuda yang menyimpan cinta sejati dengan Noval itu diperiksa ketat oleh satuan Reserse Jatanras Polda Metro Jaya.

Kecurigaan adanya hubungan cinta sejenis antara Ryan dan Aril terungkap dari hasil pemeriksaan. Kepada petugas, tersangka mengaku kenal dekat dengan Aril. Sewaktu Aril indekos di rumah mewah di Jalan Karet Pedurenan, RT 09/04, Kel. Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Ryan kerap menyambanginya.

“ Sampai sejauh mana kedekatan hubungan mereka hingga hilangnya Aril, masih kami telusuri, “ kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Drs. Carlo B. Tewu, Kamis (17/7).

Carlo Tewu menjelaskan, pihaknya saat ini memfokuskan pencarian Aril dan hingga kini belum diketahui dimana keberadaan pria tersebut. “ Sejuah ini tersangka Ryan tetap mengaku tidak tahu keberadaan Aril, “ ujar Carlo.

“ Kami minta petugas mengusut tuntas hilangnya Aril. Apalagi Ryan sudah ditangkap. Kami berharap semua ini bisa terungkap. Kami tidak menuduh Ryan membunuh Aril. Tapi mereka saling kenal, “ kata Ny. Tiarma, ibu Aril.

KE SURABAYA
Hilangnya Aril, anak kelima dari enam bersaudara, membuat resah keluarganya. Menurut Ny. Tiarma, 23 April lalu, Aril minta ijin pergi ke Surabaya, Jawa Timur. Keberangkatannya Aril berkaitan ada rencana proyek pembangunan rumah sakit. “ Proyek pembangunan rumah sakit ini diberikan oleh Ryan, “ ujar Ny. Tiarma.

Ke Surabaya, mereka hendak survei lokasi. Rencananya, pembangunan rumah sakit itu akan dilakukan oleh Aril. “ Anak saya menjelaskan lahan yang akan dibangun untuk rumah sakit itu milik orang tua Ryan, “ kata Ny. Tiarma.

Sebelum Aril berangkat ke Surabaya, sekitar pukul 07.00 pagi, Ryan mengajak Yono penjaga rumah kos untuk membeli tiket kereta api tujuan Surabaya di Stasiun Gambir.

Sekitar pukul 09.00, Yono dan Ryan kembali ketempat kos Ariel. Menurut Yono, yang sempat dimintai keterangan seputar hilangnya Aril, ketika sibuk membersihkan kamar yang berada disamping kamar Ariel, ia menyempatkan menelepon Ny. Tiarma. Kepda wanita ini, Yono menginformasikan bahwa Aril sore ini akan berangkat ke Surabaya dan kini sudah berada di stasiun.

Bahkan Ny. Tiarma sempat menanyakan keseriusan Aril pergi ke Surabaya bersama Ryan, yang baru sebulan dikenalnya. “ Ketika saya berbicara melalui HP dengan Aril, anak saya mengatakan kalau Ryan yang ditunggunnya sudah datang di stasiuan. Aril mengatakan dimana dia tinggal di Surabaya, akan dikabari melalui SMS, “ tutur Ny. Tiarma.

Ternyata pembicaraan melalaui HP itu adalah pembicaraan terakhir antara ibu dan anak. Sejak itu, Aril tak ada kabar beritanya. Nyonya Tiarma mulai cemas dan gelisah. Wanita itupun berkali-kali menghubungi ke telepon seluler anaknya, namun usahanya itu sia-sia. HP Aril tidak aktif. Bahkan ibu rumah tangga ini sempat meminta suadaranya untuk menghubungi Aril, namun hasilnya tetap sama.

RYAN PERNAH DIPERIKSA
Upaya mencari Aril terus dilakukan, tapi nihil. Bersama sopirnya Kurnanto, Ny. Tiarma mendatangi rumah kos Aril, ternyata kamar kos Aril kosong.

Ketika hilangnya Aril dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Kurnanto dimintai keterangan. Kepada penyidik, ia mengatakan, dua hari setelah kepergian Aril ke Surabaya, ia menyempatkan diri datang ke rumah kos Aril. Saat itu, Kurnanto bertemu dengan Ryan.

Ketika Kurnanto menanyakan keberadaan Aril, tersangka Ryan yang membantai Heri Santoso di Apartamen Margonda Residence, Depok kemudian memotong tubuh menjadi 7 bagian, menjelaskan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan Aril, apalagi pergi ke Surabaya. “ Saya juga kesulitan menghubungi Aril, “ kata Ryan ketika itu.

Saat itu Ryan menjelaskan, ia memang pernah janjian dengan Aril di Stasiun Gambir, sekitar pukul 16.00, namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Karena Aril tidak datang, akhirnya Ryan berangkat sendiri ke Surabaya. Pada hari Kamis (24/4), ia balik lagi dan sampai di Jakarta hari Jumat.

Karena tidak kunjung ditemukan, keluarga korban sempat melaporkan kasus hilangnya Ariel ke Polda Metro Jaya dengan No.Pol LP/1077/k/IV/2008/ SPK unit II. Setelah menerima laporan polisi lalu mengecek sinyal keberadaan telepon Aril. Dari situ diketahui Aril sempat berada di Ceper, Solo, Jawa Tengah. Bahkan ada informasi, Aril juga pernah berada di Pantura, Surabaya, dan Mojokerto.

Pada 24 April, polisi juga mengecek ke Stasiun Gambir dan mendapat tahu ada tiket keberangkatan KA Anggrek atas nama Ryan dengan tujuan Surabaya, berangkat pukul 21:30.

Bahkan polisi juga pernah memeriksa Ryan, dari hasil keterangannya dia tetap mengaku tidak tahu keberadaan Aril. Bahkan dua minggu kemudian Ryan kembali diperiksa, namun hasilnya tetap sama belum ada perkembangan. “Saya saat ini sedang sakit karena memikirkan Aril,” tutur Ny.Tiarma Sitanggang.

Dia juga mengaku anaknya bekerja di properti sedirian. “Sejak lulus sekolah pada tahun 2002, Aril pernah menaksir seorang wanita. Ketika itu dia pernah bilang sama saya senang dengan wanita itu. Tapi sejak itu pula mereka tak pernah ketemu lagi,” tambahnya.

KOS DUA MINGGU
Aril Sitanggang, yang dilaporkan hilang tiga bulan lalu sempat kos di Jalan Karet Pedurenan., Jaksel. Namun pria berperawakan atletis dan berkulit putih ini hanya dua minggu kos di tempat mewah yang bertarif Rp2,6 juta/bulan.

Yono, 30, pegawai kos, menyatakan saat tinggal di tempat itu Aril tidak pernah didatangi teman maupun keluarganya. “Aril orangnya tertutup dan jarang bergaul. Saya juga tidak tahu pekerjaan Aril. Ia tiba-tiba pergi dari tempat kos, padahal sudah membayar uang sewa untuk sebulan,” katanya.

Yono mengaku tidak tahu alamat keluarganya. Kamar 212 yang dulu ditempati Aril, kini dihuni seorang karyawati perusahaan asing. Terkait dengan menghilangnya Aril, Yono mengakui pernah dipanggil sebagai saksi oleh Polda Metro Jaya pada April lalu.

IBU NOVAL SHOCK
Nyonya Endang, 50, ibu kandung Noval Andreas, 28, tersangka yang dkasus mutilasi shock berat ketika dijumpai di rumahnya, Kamis (17/7). Bahkan ibu beranak lima ini mengaku tidak ada satupun polisi mengabarkan penangkapan anak bungsunya itu.

Orangtua Noval yang tinggal di Perumahan Cikande Permai Blok H7 No.11, Kec. Cikande, Serang, Banten, langsung menanyakan perihal penangkapan Noval. Setelah dijelaskan, sektika itu juga ia terlihat pucat bahkan nyaris pingsan.

“Sebentar Pak, saya sama sekali belum tahu kabar ini. Bapak tahu dari mana kalau anak saya terlibat kasus pembunuhan,” suara Endang gemetaran seraya memegang bekas jahitan operasi di tubuhnya.

Setelah beristirahat sebentar, istri dari Hanafiah ini menjelaskan pihak keluarga tidak percaya jika anak bungsunya ini terlibat pembunuhan. “Saya nggak percaya, kalau Noval ditangkap. Lagian kenapa polisi tidak memberitahu,” tanya istri pensiunan Imigrasi ini.

Selama ini dirinya jarang bertemu dengan Noval. Komunikasi hanya melalui telepon. “Tidak percaya itu, karena saya tahu benar perilaku anak bungsu saya itu.”

Komunikasi terakhir dengan Noval terjadi Jum’at (11/7) lalu. Anaknya yang bekerja di Kantor Imigrasi Depok, menelepon dan membicarakan rencana untuk pergi ke Kuningan, Jawa Barat menjenguk salah seorang saudaranya.

Ditanya tentang hubungan Noval dengan Very Idam alias alias Ryan, ia mengaku tidak tahu.

TAK KENAL ARIL & RYAN
Yuli Rustinawati, 32, Sekjen Arus Pelangi, sebuah organisasi yang menolak penggunaan segala bentuk kekerasan terhadap kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender, mengaku tidak mengenal Aril Somba Sitanggang. “Kami memiliki 300an anggota di seluruh Indonesia. Kami belum pernah kenal dengan nama itu.”

Ketika disinggung mengenai Ryan yang disebut-sebut sebagai ketua gay Jakarta, Yuli juga tak mengetahuinya. “Tapi mungkin saja benar. Karena banyak sekali kelompok-kelompok gay di Jakarta. Mereka sering kumpul-kumpul bareng,” jelasnya.

RUMAH KOS DIGELEDAH
Petugas gabungan Satuan Jatanras Polda Metro menggeledah rumah kontrakan Ryan di Pesona Kayangan, RT 04/01, Kelurahan Kemiri Muka, Beji, Depok Timur, Kamis (17/7).

Dalam penggeledahan tersebut polisi menyita sejumlah peralatan rumah tangga termasuk sebuah kaos yang terdapat noda darah. Selain di rumah kontrakan, polisi juga menggeledah kamar apartemen yang ditempati Ryan dan pacarnya Noval di Apartemen Margonda Residence. Ditempat itu polisi menemukan besi yang digunakan pelaku untuk menghabisi Heri Santosa.

Polisi menyisir bagian belakang gedung apartemen dan menemukan dompet, dokumen serta tas korban. Barang-barang tersebut dibuang oleh pelaku beberapa jam setelah menghabisi korban. Lokasi pembuangan barang-barang tersebut disamping tembok kolam renang.

“Pertama saya menemukan SIM korban, kemudian tas dan dompet,” ujar Kompol Amir yang turun ke lokasi pembuangan yang lebarnya hanya sekitar 30 centimeter.

Ryan yang diminta melihat proses pencarian barang bukti mengatakan seluruh barang yang ada di mobil korban dia buang ke lokasi itu.”Pokoknya barang-barang yang ada di mobil saya lempar ke situ,” ujar Ryan yang siang itu mengenakan baju tahanan warna orange.

Proses penggeledahan yang dipimpin Kanit V Jatanras Kompol Rudi Renewal pertama kali menyisir rumah kontrakan pelaku di Pesona Kayangan. Di rumah kontrakannya milik H Abdul Majid polisi menyita televisi 21 inci, rak meja, bantal, bedcover, termasuk magig jar.Polisi juga menyisir bagian belakang rumah kontrakan. Dilokasi itu, petugas menemukan abu bekas pembakaran.

Barang yang disita dari kontrakan yang disewa seharga Rp 700 ribu/bulan dibeli dari uang yang diambil dari ATM korban. Barang tersebut dibeli oleh Ryan bersama pacarnya Noval di Giant Hypermarket, Jalan Margonda, Depok.

Di pusat perbelanjaan itu, pelaku juga sempat membeli HP Nokia seharga Rp 2,3 juta. HP tersebut kemudian dihadiahkan kepada Noval. Menurut H Abdul Majid, pemilik kontrakan, Ryan dan Noval datang ke tempat kontrakannya, Sabtu sore sekitar pukul 15.00. “Ryan ngakunya dokter, kalau Noval pengawai Imigrasi,” ujar Abdul Majid.

Kisah Lanjutan: Ryan Si Tukang Jagal Juga Membunuh 6 Orang Yang Dikubur Dibelakang Rumah Orang Tua

Kategori: gay dan lesbian · mutilasi · orang hilang · pembunuh berantai · pembunuhan · pns korup

Kronologis Pembunuhan dan Mutilasi Heri Santoso Oleh Ryan Seorang Gay Homoseksual – Kemungkinan Heri Bukan Korban Ryan Yang Pertama

Juli 17, 2008 · 11 Tanggapan

JAKARTA – Kasus pembunuhan Heri Santoso (40) terungkap sudah. Ia diduga dibunuh Verrry Idham Henyaksyah alias Ryan (30) alias Ryan, karena cemburu. Keduanya sama-sama tertarik pada Novel Andrias alias Noval (28). Mutilasi dilakukan di kamar 309A, Blok C, apartemen Margonda Garden Residence, Depok, Jum’at (11/7) pukul 20.00.

Carlo menjelaskan, awalnya Heri datang ke apartemen Ryan dengan mobil Zuzuki APV hitam, B-8986-CR, pukul 20.00, Jum’at (11/7). Di apartemen, Heri melihat foto Noval, kekasih Feriansyah yang akrab dipanggil Ryan. Heri jatuh hati pada Noval, dan menyampaikan hal itu pada Ryan. Heri lalu menawarkan sejumlah uang kepada Ryan agar Noval bisa berhubungan intim dengan Heri. Ryan tersinggung dan marah. Terjadi cekcok mulut. Menawarkan kekasih untuk berhubungan intim dengan imbalan sejumlah uang adalah hal yang umum dikalangan kaum gay alias homoseksual.

Tersinggung kekasih prianya ditawar, tersangka Ryan (pria, 30) membunuh dan memotong-motong Heri Santoso (40). Harta korban dijarah buat memanjakan kekasih pria, Noval (28). Ryan dicurigai tidak sekali ini melakukan mutilasi. Oleh karena itu, polisi masih memeriksa intensif Ryan.

Ketika Heri melihat foto Noval di apartemen Ryan, Heri segera jatuh hati kepada Noval. Isi hatinya ia sampaikan kepada Ryan. Tapi Ryan mengingatkan, Noval sudah menjadi pasangannya. Heri yang sudah kasmaran karena melihat foto Noval lalu menawarkan sejumlah uang kepada Ryan. Ryan tersinggung kemudian menikam dan menganiaya Heri hingga tewas.

Hal itu diungkapkan Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya Komisaris Besar Carlo Brix Tewu, Rabu (16/7). Ia didampingi Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran. Dalam kasus ini, tim gabungan Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Selatan, dan Polsek Metro Pasar Minggu, memeriksa 14 saksi, setelah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka kasus mutilasi, Ryan.

Kisah berawal ketika Heri datang dengan mobil Suzuki APV hitam, BB 8986 CR, Jumat (11/7), pukul 20.00, ke apartemen Ryan.

Malam itu, dari kamar 309A, Blok C, Margonda Garden Residence, Depok, bau tidak sedap menusuk hidung. Noval, yang mengaku tidak melihat kejadian itu, mencium aroma yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kekasih Ryan yang bernama asli Novel Andrias itu membatalkan niatnya masuk kamar 309A.

DIPOTONG KEMUDIAN DICUCI
Ryan akhirnya menikam Heri dan memukuli korban dengan sebatang besi. Setelah menjadi mayat, Ryan memotong-motong jenazah Heri menjadi tujuh bagian dalam dua koper besar dan kecil, serta dalam sebuah plastik. Sebelum dimasukkan, potongan-potongan mayat itu dicuci Ryan.

Setelah Heri tewas, Ryan, yang nama aslinya Verry Idham Henyaksyah itu, memotong-motong tubuh korban menjadi tujuh bagian. Kemudian mencuci dan membersihkan potongan tubuh itu dari darah. Lantai kamar dan ranjang pun dibersihkan dari darah. Potongan-potongan mayat itu lalu dimasukkan ke dalam dua koper berukuran besar dan kecil serta sebuah tas plastik.

Kebencian Ryan pada Heri ditunjukkan Ryan dengan merusak alat vital Heri. Ekspresi kebencian seperti ini umum dilakukan kalangan homoseksual.Dengan membawa potongan-potongan jenazah itu, Ryan naik taksi. Ia lalu membuang potongan-potongan jenazah itu di dua lokasi di tepi Jalan Kebagusan Raya, Sabtu pagi.

Dengan membawa potongan jenazah itu, Ryan naik taksi. Ia lalu membuang potongan jenazah itu di dua lokasi di tepi Jalan Kebagusan Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (12/7) subuh. Yang entah bagaimana pembuangan mayat yang berbau anyir darah tersebut dan meninggalkan koper besar dijalan tidak mengundang kecurigaan supir taksi. Pukul 08.00, potongan mayat itu ditemukan.

Potongan-potongan mayat korban lalu ditemukan oleh warga setempat pukul 08.00. Ketika ditanya wartawan mengapa Ryan membawa potongan jenazah dengan taksi dan tidak menggunakan mobil Heri, Carlo menjawab, “Ada alat pengaman tingkat tinggi yang rumit di kunci mobil Heri yang membuat Ryan tak bisa menggunakan mobil itu,”.

“Celana jins yang ditemukan di tempat pembuangan itu milik Ryan,” lanjutnya.

Setelah membuang potongan mayat Heri, Ryan memanfaatkan uang korban senilai Rp 3.040.000, dua kartu kredit BNI, dan satu kartu kredit ANZ, serta kartu anjungan tunai mandiri (ATM) BCA untuk berfoya-foya dengan kekasihnya, Noval.

Setelah membunuh Heri, Ryan memanfaatkan uang korban, Rp 3.040.000, kartu kredit dan ATM untuk berfoya-foya dengan kekasihnya, Noval. “Itu sebabnya kami menjerat noval dengan pasal 480 tentang permufakatan jahat karena ia ikut menikmati hasil kejahatan Ryan. Jadi dalam kasus ini, tersangka utamanya tunggal, Feri (maksudnya Ryan, Feriansyah). Ia dijerat pasal 339 tentang pembunuhan dengan tindak pidana lain, juncto pasal 338,” ucap Carlo. Pasal ini sebenarnya juga cukup manjur untuk menangkap istri dan anak dari pelaku korupsi karena pasti ikut menikmati hasil kejahatan korupsi namun tidak pernah digunakan karena alasan khusus.

Polisi menangkap Noval, seorang pegawai negeri sipil, di kantornya, di Margonda, Selasa (15/7) pukul 14.00. Sejam kemudian polisi menggerebek kos Ryan di Pesona Kayangan, Depok.

Carlo mengatakan, untuk mengungkap kasus ini, tim gabungan yang terdiri dari anggota Polsek Metro Pasar Minggu, Polres Metro Jaksel, dan Sat Jatanras Polda Metro telah memeriksa 14 orang yang sebagian berasal dari kaum homoseks. Mereka yang diperiksa di antaranya seorang dokter dan Ar, penyanyi dangdut yang awalnya diduga terlibat kasus ini.

Polisi menyita sejumlah barang bukti dari apartemen, berupa dua kartu kredit BNI, dan kartu kredit ANZ, kartu anjungan mandiri BCA, laptop, telepon selular Nokia 71, cincin, pisau, potongan besi, dan mobil Suzuki APV milik Heri.

CEMBURU DAN TAMAK HARTA
Cemburu, sakit hati, dan ingin mengusai harta, melatarbelakangi pembantaian sadis oleh seorang gay terhadap teman bercintanya Ir. Heri Santoso, 40. Untuk menghilangkan jejak, pelaku memotong tubuh korban menjadi tujuh bagian kemudian dibuang di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.

Keinginan pelaku agar perbuatannya tidak terungkap, gagal total. Empat hari setelah pembantaian, , Selasa (15/7) petang, tersangka Very Idan alias Ariansyah alias Ryan, 30, dan Noval Andreas, 28, ditangkap petugas Jatanras Polda Metro Jaya di Apartemen Margonda Garden Residence Depok.

Kedua gay yang kerap bertemu dengan Heri Santoso diperiksa itensif di Polda Metro Jaya. Pemeriksaan terhadap kedua tersangka yang berpenampilan lemah gemulai dan berkulit bersih itu dilakukan di ruang terpisah. “Kami akan terus mengembangkan kasus ini. Terutama menyangkut hubungan sejenis dan keinginan tersangka mengusai harta korban,“ kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs Carlo B. Tewu, Rabu (16/7) siang.

SIAP DIHUKUM MATI
Dalam wawancara khusus dengan Detektif Conan, tersangka Ryan yang menjadi eksekutor mutilasi tubuh Heri Santoso, lebih banyak murung. Pakaian yang dikenakannya mulai kotor dan lusuh. Ia mengaku menyesal melakukan pembunuhan. “Saya siap dihukum mati. Saya membunuh Heri Santoso karena cemburu dan sakit hati. Dia berniat merebut Noval dari tangan saya. Padahal dia tahu, Noval itu pacar saya “ kata Ryan.

Pertengkaran sesama kaum gay yang berakhir dengan pembunuhan itu memuncak di kamar 309 A, Blok C. Malam itu, di apartemen yang dihuni Ryan dan Noval, muncul Heri Santoso mengendarai Suzuki APV B 8996 KR. Pertemuan ini berlangsung akrab. Maklum, mereka sudah saling kenal. Saat itu, Noval tidak berada di apartemen.

Heri Santoso, yang bekerja sebagai salesman di perusahaan baja di kawasan Cikarang, Bekasi, meminta bantuan Ryan mencarikan teman kencan. “Tolong carikan gua pacar. Gua udah bosan sama yang lama,“ jelas Ryan, menirukan ucapan Hari. Pacar yang lama ini, menurut Ryan adalah Arya Nugraha, finalis KDI, yang sempat diperiksa polisi.

Keinginan itu disambut tersangka. Menurut Ryan, ia mengambil album foto yang berisi sejumlah pemuda tampan. Begitu membolak-balik album, korban jatuh hati dengan seorang pemuda yang belakangan diketahui bernama Noval.
“Gua naksir sama yang ini. Tolong kenalkan gua sama dia. Bagaimana caranya gua bisa tidur sama dia. Nanti kamu gua kasih imbalan, “ kata Heri.

Permintaan Heri membuat Ryan meradang. Pasalnya, Noval adalah pacarnya yang sudah lama hidup bersama di apartemen tersebut. “ Enak aja kamu. Ini kan pacar gua, “ bentak Ryan.

HERI DITIKAM
Keinginan Heri meniduri Noval membuat ia cemburu dan sakit hati. Kedua gay ini bertengkar hebat. Mereka saling pukul dan cakar-cakaran. Merasa terdesak, Ryan lari ke meja. Melihat ada pisau, tersangka bergegas mengambilnya. Dengan pisau di tangan, Ryan, yang mengaku kerap jadi model di majalah, menyerang Heri.

Di ruang tidur apartemen yang sempit itu, mereka kembali baku hantam. Beberapa saat kemudian, Heri ambruk bersimbah darah. Mata pisau bersarang di ulu hati korban. Ryan panik melihat Heri merintih kesakitan.

Dalam kondisi tidak berdaya, Heri diseret ke kamar mandi. Tubuh korban ditelentangkan. Kepala Heri dihajar pakai besi. Seketika Heri kelojotan dan tewas. Melihat pemandangan yang mengerikan ini, tersangka makin panik. “ Saat itu timbul pikiran memotong tubuh Heri, “ ujar Ryan.

KORBAN DIMUTILASI
Proses mutilasi itu dijelaskan tersangka secara rinci. Dengan pisau di tangan, ia memotong kedua lutut korban. Selanjutnya kedua paha dan kedua tangan. Bahkan kelamin korban juga disayat-sayat. “ Terakhir saya potong leher Heri.“

Potongan tubuh pria yang sudah beristri dan mempunyai satu anak itu, yang semula bernoda darah, dicuci tersangka hingga bersih. Potongan tubuh itu dimasukan ke dua koper. Malam itu juga, Ryan keluar apartemen menenteng koper berisi mayat. Di lantai dasar, ia pergi mencari taksi. Sedangkan mayat diletakan di ruang parkir. Kembali dengan taksi, gay ini memasukan dua koper tersebut ke bagasi. Di tempat sepi kawasan Ragunan, dua koper berisi mayat itu dibuang.

Setelah membuang mayat, Ryan kembali ke apartemen dengan taksi yang sama. “ Sopir taksi tidak tahu kalau koper yang saya buang berisi mayat, “ aku tersangka.

Menjelang tengah malam, Noval datang ke apartemen. Kepada pacarnya ini, Ryan mengaku habis membunuh Heri. Ia juga memperlihatkan dompet korban yang diambilnya. Dompet berisi 2 kartu ATM dan 2 kartu kredit. Selain itu, mereka juga mengusai HP suami Ny. Ayu, laptob, dan cincin emas. “ Saya tahu nomor PIN ATM dari HP Heri, “ ujar Ryan, yang mengaku guru ngaji di Jombang, Jawa Timur.

Setelah kejadian, tesangka Ryan dan Noval pergi berbelanja. Mereka membeli teve dan barang keperluan sehari-hari. Bahkan mereka juga membeli ember dan makanan ringan.

“Tersangka Ryan kami jerat dengan pasal 338 tentang pembunuhan dan pasal 365 tentang perampokan yang disertai kekerasan. Sedangkan Noval, dijerat dengan pasal 480 tentang penadahan. Mereka diamankan didua lokasi berbeda,” kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Carlo Brix Tewu didampingi Kasat Jantras AKBP Fadil Imron, Kompol Helmi Santika, dan Kompol Rudi.

Soal keterlibatan dokter ternyata tidak terbukti. Bahkan polisi sudah melepas dokter yang memang juga tinggal di apartemen tersebut.

PENGUSAHA PROPERTI HILANG
Heboh soal mayat dimutilasi, membuat keluarga Ariel,34, khawatir lantaran lelaki itu sudah 4 bulan menghilang. Terkahir pengusaha properti ini putra dari Ny. Tiarma ini disebutkan sebelum menghilang dia ada janji bertemu dengan Ryan.

Tertangkapnya Ryan, mendorong keluarganya untuk menyelidiki keberadaan pemuda ini. Pemuda berkulit bersih itu pamit untuk pergi ke Surabaya pada 23 Maret 2008, dan janji ketemu Ryan di stasiun. Lantaran tak ada khabar, keluarga melapor ke Polda Metro Jaya pada 26 Maret 2008.

ARYA PERGI DARI KOS
Setelah ditangkapnya pelaku mutilasi, Arya Nugroho, finalis KDI 2 menghilang dari kos-nya di Jln. Buang RT 04/05 Lubang Buaya, Cipayung, Jaktim, gagal. Pintu kamar no. 6 tempat pemuda itu tinggal tertutup rapat.

Agus, tetangga sebelah kamar, mengatakan Arya pergi sejak pagi hari. Namun, ia tak tahu kemana perginya. Hal serupa disampaikan Citra. Finalis KDI 2 sampai 15 besar ini mengatakan Arya pergi seorang diri tapi tak tahu tujuannya.

Kisah Lanjutan: Ryan Si Tukang Jagal Juga Membunuh 6 Orang Yang Dikubur Dibelakang Rumah Orang Tua

Kategori: gay dan lesbian · mutilasi · pembunuh berantai · pembunuhan · perampokan · pns korup