Arsip Kategori: pembunuhan

Albino Bunuh WNA Wanita Asal Korea Selatan Karena Ditagih Hutang

Albino tersangka pembunuhan WNA asal Korea Selatan, bernama Mis Lim (51) yang mayatnya ditemukan tanpa kepala di RT 1/2 Kampung Sela, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikalongkulon, Minggu (16/3/2014), diketahui pembunuhan terjadi karena masalah utang.

Hal itu diutarakan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Selasa (25/3/2014) di Mapolda Metro Jaya.
“Yang jelas ALB (Albino) dia mengakui terakhir bertemu korban dan dia melakukan pembunuhan. Saat ini informasi belum sempurna, pelaku dalam perjalanan ke rumah korban di Bekasi,” ungkap Rikwanto.

Rikwanto menjelaskan pada penyidik, Albino mengaku ia melakukan pembunuhan pada korban di rumah korban, Kemang Pratama 2, Kota Bekasi pada Sabtu 15 maret 2014 pukul 20.00 WIB. “Motif masih digali, pengakuan pelaku dia punya utang pada korban. Dan pelaku ini tidak suka ditagih. Pelaku dengan korban sudah kenal lama”. Informasi yang dihimpun, pasca identitas korban terungkap bernama Mis Lim yang memiliki tato tulisan bahasa asing di bagian lengan kiri. Penyidikan menemukan titik terang.

Pihak kepolisian menetapkan satu tersangka terkait kasus pembunuhan WNA asal Korea Selatan, yang diketahui bernama Mis Lim (sebelumnya diberitakan Mis K) berusia 51, yang mayatnya ditemukan tanpa kepala di RT 1/2 Kampung Sela, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikalongkulon, Minggu (16/3/2014).

Potongan kepala yang hilang selama satu minggu itu akhirnya ditemukan tim penyidik gabungan dari Polres Cianjur, Polda Jawa Barat (Jabar) dan Mabes Polri, Senin (24/3/2014) malam di tempat sampah di pinggir jalan di daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor.

“Tersangka ALB (Albino) sedang dibawa dari Polres Cianjur ke lokasi eksekusi di rumah korban di Kemang Pratama 2 Kota Bekasi,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Selasa (25/3/2014) di Mapolda Metro Jaya. Rikwanto mengatakan Albino ditangkap oleh Polres Cianjur di sebuah wilayah di Cianjur, Jawa Barat. Diutarakan Rikwanto, dari penyelidikan kepolisian ditemukan Albino merupakan orang terakhir yang bersama dengan korban.

“Polres Cianjur melakukan pengembangan dan didapatkan siapa yang terakhir bersama korban, yaitu ALB,” kata Rikwanto.
Rikwanto manambahkan pada penyidik, Albino juga mengakui dirinya yang terakhir bersama korban dan dia yang melakukan pembunuhan pada korban.

Informasi yang dihimpun, pasca identitas korban terungkap bernama Mis Lim yang memiliki tato tulisan bahasa asing di bagian lengan kiri. Penyidikan menemukan titik terang. Senin (24/3/2014) malam penyidik gabungan dari Polres Cianjur dan Polda Metro bergerak ke rumah korban di kawasan elit di Bekasi untuk melakukan penyelidikan. Mis K tinggal di Indonesia selama 10 tahun dan bekerja. Mis K diketahui tinggal di kawasan Kota Bekasi. Mis K masih berstatus single.
Atas penemuan Mis K, Polres Cianjur melakukan kordinasi dengan Kedutaan Korea Selatan dan Korean Nasional Police (KNP).

Kapolres Cianjur, AKBP Dedy Kusuma Bakti mengatakan, pihaknya sudah memeriksa delapan saksi, yakni empat WNA yang mengenali korban dengan melihat ciri-ciri korban, seorang yang diduga sebagai pembantu korban, seorang sekuriti, seorang rekan kerja, dan penemu mayat untuk pertama kali. “Untuk sementara kasus temuan mayat ini jika dilihat dari olah tempat kejadian perkara, pembunuhan diduga kuat tidak dilakukan di lokasi penemuan mayat (Cikalongkulon). Lokasi penemuan mayat diduga hanya merupakan tempat pembuangan,” ujar Dedy.

Sebelum dibunuh, Kim Jeung Sim (51), sempat meminta Juju (45), pembantu rumah tangganya untuk mencium tangan. Juju sempat heran dengan permintaan majikannya itu. Warga Kelurahan Bojongmenteng, Rawalumbu, Kota Bekasi itu terakhir ketemu dengan majikannya, Kamis (13/3/2014) lalu. Majikannya itu pamit hendak pergi ke Korea.

“Tumben dia minta saya cium tangan. Nggak biasanya majikan saya begitu. Waktu tanggal 13 Maret itu, dia pamit rencananya mau ke Korea,” tuturnya, Selasa (25/3). Juju mengaku baru sekitar 1,5 tahun lalu bekerja sebagai pembantu freelance Kim Jeung Sim. “Saya bekerja cuma dua jam, bersih-bersih rumah antara jam 7-9 pagi. Jam 4 sore saya balik lagi untuk nyalain lampu, sama nutup hordeng,” tutur Nyonya Juju.

Tanggal 15 Maret, Juju sengaja balik lagi ke rumah majikannya untuk menutup korden. Saat mengetok-pintu rumah, dia mendengar suara musik, namun pintu tak dibukakan. Juju pun balik kanan pulang ke rumahnya. Besoknya tanggal 16 Maret, dia mendapat kabar majikannya meninggal. Dia pun dipanggil polisi tanggal 17 Maret 2014. Kim telah belasan tahun tinggal di Indonesia dan baru sekitar dua tahun tinggal di Jalan Anggrek V Blok AP-23 RT2/12 Kelurahan Bojongmenteng, Rawalumbu, Kota Bekasi.

Juju mengenal majikannya itu orang yang baik. Setiap bulannya, Juju mendapat gaji Rp700.000 dari majikannya itu. “Biasanya sebelum tanggal 25, uang gajian saya sudah disiapkan di meja,” tuturnya. Tersangka Albeno Sion Parulian Sarumpaet (31) menghabisi nyawa Miss Kim Jung Sim di rumah korban di Perumahan Kemang Pratama 2, Jalan Anggrek V Blok AP-23 RT2/12, Bojongmenteng, Rawalumbu, Kota Bekasi, Sabtu (15/3/2014) malam.

Namun tidak ada darah berceceran di rumah kontrakan itu. Lalu dimana pelaku memutilasi kepala korban sebelum membuangnya di Cikalongkulon, Cianjur? Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti usai olah TKP di Perumahan Kemang Pratama 2, Jalan Anggrek V Blok AP-23 RT2/12 Kelurahan Bojongmenteng, Rawalumbu, Kota Bekasi, Senin (25/3/2014) mengatakan bahwa korban dibawa pelaku dalam kondisi masih utuh.

Korban dimutilasi menggunakan pisau lipat di dalam mobil korban yang dibawa kabur pelaku. Sebelumnya, pelaku yang tersinggung karena perkataan korban, menarik dan mencekik korban menggunakan kabel mesin cuci di dekat kamar mandi lantai satu rumah kontrakan itu. “Korban dimutilasi di lokasi pembuangan. Mutilasi itu dilakukan setelah semalaman korban dibawa pelaku di dalam mobil korban. Pelaku juga yang menunjukkan dimana kepala korban dibuang, dia kami bawa untuk memberi tahu lokasi,” terang Kapolres.

Kepala korban baru ditemukan Senin (24/3/2014) malam sekitar pukul 22.00 di tempat sampah, dekat perempatan Cileungsi, Bogor. Sementara mobil toyota Avanza warna hitam milik korban sudah ditemukan di wilayah Citeureup, Bogor.

Tukang Kayu Perkosa Pramugari Yang Dikenal Lewat Facebook Di Pantai Indah Kapuk

rwan Alexandria alias Aldo (20), pelaku pembunuhan dan korbannya DES (19), wanita yang ditemukan setengah bugil di Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (3/3) lalu, berkenalan di situs jejaring sosial Facebook. Saat berkenalan, keduanya sama-sama menutupi masing-masing jatidirinya. “Korban dengan tersangka ini kenalan via Facebook. Saat kenalan di Facebook itu, tersangka mengaku sebagai polisi sedangkan korban mengaku sebagai pramugari,” jelas Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi, Sabtu (8/3/2014).

Padahal, tersangka sendiri bekerja sebagai tukang profil kayu di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. “Makanya tersangka menusuk korban dengan alat pahat. Alat itu biasa dia pakai untuk bekerja sebagai tukang profil kayu,” imbuhnya. Sementara itu, mengetahui korban sebagai ‘pramugari’, tersangka pun punya keinginan untuk menguasai harta korban.

“Tersangka berpikir kalau pramugari, dia kaya. Makanya timbul niat jahat sejak awal untuk menguasai harta korban,” imbuhnya. Hingga akhirnya, korban datang ke Jakarta pada Senin (3/3) lalu. Tersangka kemudian menjemput korban di Kota Tua setelah janjian lebih dahulu via telepon genggam. “Tersangka ke Kota Tua diantar oleh temannya bernama Iik. Setelah mengantar tersangka, Iik ditinggal dan tersangka bersama korban langsung pergi ke TKP,” lanjutnya.

Setibanya di TKP, korban kemudian diajak untuk berhubungan intim. Namun korban menolak, sehingga akhirnya tersangka mengeluarkan alat pahat untuk mengancam korban. Tersangka lalu memperkosanya.

Setelah itu, tersangka menusuk leher korban dan beberapa bagian tubuh lainnya dengan pahat itu. Tidak hanya itu, tersangka juga mencekik leher korban hingga korban sesak nafas. Selanjutnya tersangka membenamkan wajah korban ke dalam lubang tanah, hingga akhirnya korban tewas.

Irwan Alexandria alias Aldo (20) tega membunuh teman wanita yang dia kenal lewat Facebook hanya karena hasrat seksualnya yang ditolak korban. Aldo tega menghabisi nyawa wanita asal Pemalang, Jawa Tengah itu dengan cara ditusuk menggunakan alat pahat. Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi mengungkapkan, sebelum melakukan pembunuhan, tersangka memperkosanya lebih dahulu.

“Namun karena korban menolak, tersangka melakukan penganiaayan dengan menusuk leher dan beberapa bagian tubuh korban dengan menggunakan alat pahat,” kata Daddy, kepada wartawan, Jumat (7/3/2014). Dari hasil otopsi, kata Daddy, ditemukan bekas luka akibat senjata tajam pada kepala bagian belakang sebanyak 4 lobang, dahi kanan sebanyak 1 lobang, leher kiri 1 lobang, pergelangan tangan kanan 1 lobang, dagu 1 lobang.

“Dan terdapat luka gigitan pada lengan tangan kanan korban,” imbuh Daddy. Setelah menusuk korban bertubi-tubi, tersangka lalu mencekik korban dan menjerat leher korban dengan syal berwarna pink. Tidak puas sampai di situ, tersangka juga membenamkan wajah korban ke dalam lubang.

Korban ditemukan di lokasi oleh tukang sapu, pada Senin (3/3) pagi lalu, dalam kondisi setengah bugil dengan posisi menungging dan kepala terbenam di tanah. Penemuan mayat ini kemudian dilaporkan kepada Satpam PIK bernama Suparman, yang diteruskan ke Polsek Metro Penjaringan.

Polisi menangkap pelaku pembunuhan wanita yang ditemukan tewas di Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (3/3) pagi lalu. Sebelum membunuh, pelaku bernama Irawan Alexandria alias Aldo (19), lebih dulu memperkosa korban yang merupakan kenalannya di Facebook itu.

“Korban dibawa ke TKP, lalu di TKP korban diancam agar mau berhubungan intim dengan pelaku,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi kepada wartawan, Jumat (7/3/2014). Daddy menjelaskan, korban dan tersangka berkenalan di jejaring sosial Facebook dan intens berkomunikasi selama 1 bulan ke belakang via telepon genggam. Korban kemudian datang ke Jakarta, lalu dijemput tersangka di Stasiun Kota, Senin (3/3) lalu.

Tersangka lalu membawa korban ke PIK bersama temannya bernama Iik. Setibanya di TKP, korban kemudian diajak berhubungan intim dengan ancaman senjata tajam. “Karena korban menolak, pelaku memperkosa korban,” imbuh Daddy.

Usai memperkosa korban, tersangka lalu menganiaya dan menusuk leher dan beberapa bagian tubuhnya hingga korban tewas. Tersangka juga sempat mencekik leher korban. “Selanjutnya korban dibenamkan ke dalam lubang tanah,” Daddy menambahkan, dari hasil otopsi korban, ditemukan bercak sperma tersangka pada vagina korban. Daddy menyebut, korban tidak hamil.

Korban ditemukan di lokasi oleh tukang sapu, pada Senin (3/3) pagi lalu, dalam kondisi setengah bugil dengan posisi menungging dan kepala terbenam di tanah. Penemuan mayat ini kemudian dilaporkan kepada Satpam PIK bernama Suparman, yang diteruskan ke Polsek Metro Penjaringan. Dari hasil penyelidikan, diketahui korban berinisial DES (19), warga Pemalang, Jawa Timur.pungkasnya

Aparat Polres Jakarta Utara menangkap pelaku pembunuhan DES (19), wanita asal Pemalang yang mayatnya ditemukan dengan posisi kepala terbenam di tanah di PIK, Penjaringan, Jakut, Senin (3/3) pagi lalu. Tersangka pembunuhan, Irawan Alexandria alias Aldo merupakan teman korban yang dikenal via jejaring sosial Facebook.

“Kesimpulan sementara berdasarkan pengakuan tersangka bahwa tersangka dengan korban berkenalan di Facebook,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi, kepada wartawan, Jumat (7/3/2014). Daddy mengungkapkan, keduanya intens berkomunikasi via telepon genggam selama 1 bulan ke belakang. Korban kemudian diminta untuk menemui tersangka di Jakarta.

“Pada saat sebelum kejadian, tersangka menjemput korban di Kota Tua dan dibawa ke TKP bersama dengan temannya bernama Iik,” imbuh Daddy. Tersangka ditangkap di Gudang Profil, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (7/3) siang tadi.

Saat ini polisi masih menginterogasi tersangka untuk memperdalam motif pembunuhan. Tersangka dijerat dengan Pasal 340 KUHP dan atau 338 KUHP dan 365 KUHP tentang pembunuhan berencana, pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan.

Korban ditemukan di lokasi oleh tukang sapu, pada Senin (3/3) pagi lalu, dalam kondisi setengah bugil dengan posisi menungging dan kepala terbenam di tanah. Penemuan mayat ini kemudian dilaporkan kepada Satpam PIK bernama Suparman, yang diteruskan ke Polsek Metro Penjaringan.

Epi Suhendar Tusuk Anak dan Istri Hingga Kemudian Keluarkan Hatinya

Pembunuhan yang dilakukan Epi Suhendar (30) terhadap anaknya, Ikhsan Fazel Mawlana (3) sungguh biadab. Epi membunuh korban dengan cara menusuknya hingga 18 kali. Sadis benar-benar sadis.Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, pihaknya masih melakukan olah TKP di lokasi kejadian di Perum BCL Jl Arjuna X Blok B35 No 17, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

“Dari hasil olah TKP ditemukan potongan hati korban di kursi tamu,” kata Rikwanto kepada wartawan, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (27/1/2014). Rikwanto mengatakan, usai menusuk-nusuk korban, tersangka Epi membelah perut korban lalu mengambil hati korban. “Kemudian diambil potongan hatinya seukuran 1 Cm,” ucap Rikwanto.

Aksi sadis ini diketahui oleh istri tersangka, Ai Cucun (23). Karena aksinya ini diketahui, tersangka juga menusuk-nusuk Ai hingga 10 kali. “Istrinya masih dirawat,” imbuhnya. Belum diketahui apa motif pembunuhan yang dilakukan oleh tersangka. Polisi masih menyelidiki kasus itu dan memeriksa saksi-saksi di lokasi kejadian.

Entah apa yang merasuki fikiran Epi Suhendar (30), sehingga tega membunuh anaknya sendiri, Ikhsan Fazle Mawla (3), dengan cara menusuknya hingga 18 kali. Bahkan bocah kecil itu dibunuh tepat di hari ulang tahunnya yang ke-3, pada Senin 27 Januari 2014 dini hari tadi.

Pembunuhan itu terjadi di rumah korban di Perum BCL Jl Arjuna X Blok B 35 No 17, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Informasi yang dihimpun dari petugas SPK Polres Bekasi Kabupaten, pembunuhan itu terungkap oleh istri tersangka, Ai Cucun (23). Bahkan Ai Cucun pun ditusuk tersangka hingga 10 kali. Ai saat ini masih dirawat di rumah sakit.

“Saat itu, saksi bernama Cecep yang merupakan adik ipar korban, mendengar teriakan korban Ai Cucun ‘Astagfirullah dan Allahu Akbar’,” ucap petugas SPK Polres Bekasi Kabupaten kepada detikcom, Senin (27/1/2014). Saat itu, Ai melihat suaminya sedang menusuk-nusuk anaknya di rumah tersebut. Mengetahui aksinya ini diketahui istrinya, tersangka pun mengejar Ai lalu menusuknya berulang kali hingga 10 kali ke bagian perut dan kepala.

“Kemudian Cecep datang, lalu tersangka mengejar Cecep,” katanya. Cecep pun langsung melarikan diri ke lantai 2 rumahnya. Cecep berhasil meloloskan diri setelah membongkar genteng rumah korban. Cecep kemudian turun dari genteng rumah korban dan diketahui tersangka.

Cecep kemudian melaporkan hal itu kepada warga. Warga pun mengepung rumah hingga akhirnya Ikhsan diamankan oleh warga. Ai Cucun kemudian dibawa ke RS Anissa. Sementara tersangka diserahkan kepada aparat Polsek Cikarang untuk diperiksa. Pria ini sungguh tega membunuh anaknya sendiri yang masih berusia 3 tahun. Tidak hanya itu, tersangka bernama Epi Suhendar (29) ini juga membacok istrinya sendiri usai membunuh anaknya. Keji!

Informasi yang dihimpun dari Polda Metro Jaya, peristiwa itu terjadi pada subuh tadi, di rumah korban di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Tersangka membacok Ayi Jujun, istrinya dan anaknya Iksan Fajri hingga tewas. “Istrinya masih hidup, dia mengalami luka bacok,” ujar anggota Polres Bekasi Kabupaten, Senin (27/1/2014).

Aparat Kepolisian Sektor Cikarang dikabarkan telah menangkap tersangka. Dari tersangka diamankan barang bukti 2 bilah pisau serta baju yang berlumuran darah. Belum diketahui motif pembunuhan sadis ini. Pihak kepolisian setempat masih memeriksa tersangka. Usai menusuk anaknya, Iksan Fesal Mawlana (3) sebanyak 18 kali hingga tewas,
Epi Suhendar (30) malah mencoba bunuh diri. Apa daya, karena gemuk, pisau yang digunakan Epi bunuh diri malah tidak bisa menembus badannya.

“Pelaku sempat mencoba mencoba bunuh diri dengan melukai dadanya dengan pisau,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (27/1/2014). Namun, lanjut Rikwanto, upaya itu tidak berhasil lantaran Epi memiliki badan yang gemuk. “Pisaunya tidak tembus karena badan pelaku yang gemuk atau obesitas,” imbuh Rikwanto. Belum diketahui jelas bagaimana kronologi lengkap peristiwa itu. Polisi saat ini masih mengumpulkan keterangan saksi-saksi untuk menyempurnakan kronologinya.

Pembunuhan itu terjadi di rumah korban di Perum BCL Jl Arjuna X Blok B 35 No 17, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, pukul 03.30 WIB tadi, bertepatan di hari ultah korban ke-3, 27 Januari 2014. Informasi yang dihimpun, pembunuhan itu terungkap oleh istri tersangka, Ai Cucun (23). Bahkan Ai Cucun pun ditusuk tersangka hingga 10 kali. Ai saat ini masih dirawat di rumah sakit. Saat itu, Ai melihat suaminya sedang menusuk-nusuk anaknya di rumah tersebut. Mengetahui aksinya ini diketahui istrinya, tersangka pun mengejar Ai lalu menusuknya berulang kali hingga 10 kali ke bagian perut dan kepala.

Cecep melarikan diri ke lantai 2 rumahnya dan berhasil meloloskan diri setelah membongkar genteng rumah korban. Cecep kemudian turun dari genteng rumah korban dan diketahui tersangka. Cecep kemudian melaporkan hal itu kepada warga. Warga pun mengepung rumah korban, hingga akhirnya tersangka diamankan oleh warga. Korban kemudian dibawak ke RS Anissa. Sementara tersangka diserahkan kepada aparat Polsek Cikarang untuk diperiksa.

Mayat Pria Denga Luka Tembak Dibuang Di Jalan MT Haryono Belakang Indomobil

Mayat pria tanpa identitas yang ditemukan di Jalan MT Haryono diyakini dibuang oleh seseorang. Polisi akan memeriksa CCTV milik gedung Indomobil untuk mengetahui pembuang mayat pria tersebut. “Tidak ada saksi yang melihat kejadian, namun kita akan periksa CCTV milik Gedung Indomobil dan yang terpasang di jalan tol,” kata Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Mulyadi Kaharni saat dihubungi wartawan, Selasa (22/10/2013).

Mulyadi menuturkan, saat melakukan identifikasi di lokasi, Polisi tidak menemukan bercak darah pada jasad korban. Diduga, pelaku membunuh korban tidak di lokasi penemuan mayat sekitar pukul 02.00. “Korban sudah dibawa ke RSCM untuk divisum. Dari hasil olah TKP, tak ada darah, bajunya kering, tak ada identitas. Kami menduga sebelum dibuang, semua sudah dipreteli (identitasnya) dahulu oleh pelaku,” katanya. Untuk memastikan penyebab kematian korban, saat ini pihaknya masih menunggu hasil visum dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang tengah memeriksa korban.

olres Metro Jakarta Timur menduga mayat dengan kondisi penuh luka yang ditemukan di Jalan MT Haryono, Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, merupakan korban pembunuhan. Polisi juga mengindikasikan adanya bekas luka yang diduga akibat tembakan pada jenazah pria yang ditemukan pada Selasa (22/10/2013) pukul 05.00 tersebut.

“Ada bekas luka, diduga (berasal dari) tembakan,” kata Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, Komisaris Besar Mulyadi Kaharni, saat dihubungi wartawan, Selasa (22/10/2013). Mulyadi mengatakan, mayat yang ditemukan tersebut diduga merupakan korban pembunuhan. Hingga kini polisi masih menelusuri identitas daripada jenazah korban. Menurutnya, korban diperkirakan berusia 25 tahunan dan memiliki tinggi 165cm.

“Tak ditemukan ciri-ciri khusus di tubuh korban,” ujar Mulyadi. Mulyadi menambahkan, tim identifikasi dari Polres Metro Jakarta Timur sudah melakukan olah tempat kejadian perkara tak lama berselang setelah jenazah korban ditemukan. Polisi masih memeriksa sejumlah saksi atas kasus tersebut. Sebelumnya, mayat pria yang belum diketahui identitasnya tersebut ditemukan dengan kondisi tubuh penuh dengan luka di beberapa bagian tubuh seperti di kening, punggung, kaki dan bagian tubuh lainnya.

Pria malang tersebut diduga merupakan korban pembunuhan. Pakaian korban ditemukan dalam kondisi sudah sobek-sobek. Sementara jenazah korban sudah dibawa ke RSCM guna kepentingan visum. Sesosok mayat pria ditemukan dengan kondisi tubuh penuh dengan luka, di Jalan MT Haryono, Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (22/10/2013) sekitar pukul 05.00 WIB. Belum diketahui apakah jenazah tersebut merupakan korban aksi kriminal atau korban kecelakaan.

Kepala Kepolisian Sektor Jatinegara Komisaris Suminto menuturkan, korban pertama kali ditemukan oleh tukang ojek yang tengah mangkal di sekitar lokasi. “Ditemukan oleh tukang ojek. Kondisi terdapat luka seret di kaki, luka di kening, dan punggung,” kata Suminto, saat dihubungi, Selasa pagi.

Suminto mengatakan, kondisi baju yang dikenakan korban juga sudah dalam keadaan sobek-sobek. Identitas korban pun menurutnya belum diketahui. Hingga kini polisi belum menyimpulkan apa penyebab tewasnya korban. “Dugaan korban apa, saya belum tahu. Kita masih tunggu hasil visum untuk menentukan penyebabnya,” ujar Suminto.

Polisi masih mempelajari keterangan saksi tukang ojek yang menemukan korban pertama kali. Sementara itu, Suminto mengatakan sampai dengan saat ini pihaknya tengah meminta keterangan saksi-saksi lainnya. Jenazah korban saat ini sudah dibawa petugas ke RSCM.

Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan unit identifikasi kepolisian di lokasi penemuan sesosok mayat pria misterius di Jalan MT Haryono, Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, tidak menemukan bekas darah pada tubuh korban.
“Dari hasil olah TKP tak ada darah pada tubuh korban. Bajunya kering dan tidak ada identitas,” kata Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Mulyadi Kaharni, saat dihubungi wartawan, Selasa (22/10/2013). Mulyadi mengatakan, dari temuan tersebut, kuat dugaan bahwa korban tidak dibunuh di lokasi penemuan mayat tetapi di tempat lain lalu kemudian dibuang di kawasan Jalan MT Haryono. “Diduga itu korban pembuangan saja. Dibunuhnya bukan di lokasi penemuan mayat,” ujar Mulyadi.

Mulyadi menambahkan, hingga kini pihaknya belum menemukan saksi utama yang melihat langsung korban dibuang di lokasi tersebut. Sejumlah saksi yang dimintai keterangannya mengaku tidak melihat langsung kejadian tersebut. Untuk itu, kata Mulyadi, pihak kepolisian akan memeriksa rekaman CCTV sekitar gedung tempat lokasi penemuan korban. “Saksi tidak ada yang melihat kejadian, kami akan periksa CCTV Gedung Indomobil dan CCTV jalan tol (dalam kota),” ujar Mulyadi.

Sebelumnya, sesosok mayat pria ditemukan dengan kondisi tubuh penuh dengan luka di beberapa bagian tubuh seperti di kening, punggung, kaki, dan bagian tubuh lainnya. Selain itu, polisi mengindikasi adanya dugaan bekas luka tembak pada tubuh korban. Pakaian yang dikenakan korban juga ditemukan dalam kondisi sudah sobek-sobek. Sementara itu, jenazah korban sudah dibawa ke RSCM guna kepentingan visum.

Wanita Pembantu Di Pondok Gede Dibunuh Oleh Pacar Yang Baru Dikenal 3 Bulan Di Facebook

Kasus pembunuhan wanita pembantu di Pondok Gede, Bekasi terungkap sudah.Ternyata Desi Juwitasati dibunuh pacarnya yang dikenal lewat facebook. Wanita berusia 23 tahun itu dihabisi karena menolak diajak berhubungan badan. Tersangka Asep Kamaludin alias Asep alias Indra,24 dibekuk polisi di daerah Bogor, Jawa Barat.

Menurut tersangka, ia baru kenal Desi Juwitasari, 3 bulan lalu lewat jejaring sosial. Saat majikannya tidak di rumah karena pergi ke Ambon, Desi mengundang lelaki itu datang ke rumah majikannya Perumahan Kranggan Permai Jalan Cendrawasih V BP 6 No 6 RT 04/15 Kelurahan Jatisampurna, Kota Bekasi, Sabtu malam.

Ketika mereka berbincang-bicang di ruang tamu, Asep, lelaki pengangguran ini minta kepada Desi agar dilayani berhubungan badan. Namun lantaran ditolak, Asep marah lalu menganiaya korban. Wanita asal Cibungbulang Bogor ini dicekek. Bibir dan wajah korban luka akibat dipukuli. Diduga akibat cekikan tadi, Desi akhirnya tewas. Ia pun diletakkan di sofa di ruang tamu dengan ditutupi selimut.

Esoknya, korban ditemukan saudara pemilik rumah (bukan pemilik seperti diberitakan sebelumnya) sudah tidak bernyawa. Kasus ini lalu dilaporkan ke Polsek Pondok Gede yang lalu mengirim jasad korban ke RS Kramatjati. Setelah diotopsi. Setelah diotopsi, jasad Desi dikebumikan di kampung halamannya Kampung Cibereum Desa Ciaruteun Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Berdasarkan keterangan saksi tiga anak majikan, maupun tetangga dan saudara majikan korban, petugas Polsek Pondok Gede menangkap Asep Kamaludin di Kampung Pasir Benda, Desa Cibening, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, sekitar 8 jam kemudian.

Tersangka Asep mengaku melakukan perbuatan itu lantaran kesal hasrat hubungan intim layaknya suami istri ditolak Desi. Sejumlah barang bukti berupa 4 HP, sepeda motor Honda Beat Hijau F 2121 PP, jam tangan, kasur dan selimut ada sperma dan bercak darah disita. Kini tersangka menjalani pemeriksaan intensif petugas Polsek Pondok Gede.

Kapolsek Pondok Gede Kompol Dermawan Karosekali didampingi Kanitserse Iptu Agus Adiwijaya, Senin(3/9) siang, mengungkapkan, pembunuhan yang dilakukan tersangka Asep, berawal sejoli ini berkenalan melalui jejaring sosial facebook.

Dari perkenalan itu, Asep sempat sekali datang ke rumah majikan menemui Desi. Pada Sabtu(2/9) malam, Asep datang lagi menemui Desi, dimana saat itu yang ada di rumah tiga anak majikan Rina,11, Amelia,7, dan Regina,4, terlelap di kamarnya. Sedangkan Ny Risma Panjaitan,45,majikan perempuan menyusul suami pelaut yang kapalnya sedang sandar di daerah Ambon.

Di ruang tamu rumah majikannya di Kranggan dua sejoli ini memadu kasih, Namun Asep masih saja kurang puas meski telah diberikan kepuasan, Bujang tunakarya ini minta lebih, agar Desi mau berhubungan intim layaknya suami istri. Desi menolak, Asep marah. Asep kemudian memukuli tengkuk Desi dari belakang sebanyak 5 kali. Menerima perlakuan kasar sang pacar, membuat Desi membela diri dengan melakukan perlawanan.

Desi pun terjatuh saat didorong Asep. Lagi-lagi Asep memukul hingga bibir sang pembantu berdarah. Tak sampai disitu, Asep terus menganiaya pembantu ini lalu mencekik leher dan membekap mulut korban hingga meregang nyawa. Sebelum pergi, Asep menutupi wajah korban pakai bantal dan selimut dengan posisi telungkup.

Setela itu, Asep pamit pada Amelia, anak kedua majikan yang saat itu berada dalam kamar. “Mbaknya tidur lagi sakit,” tukas Asep, ditirukan Kapolsek. Bocah wanita usia tujuh tahun ini pun percaya saja. Setelah membukakan pintu pada tamu pembantunya itu, Amelia kembali ke kamar tidur. Esoknya, (Minggu, 3/9) sekiitar pukul 11.00, anak majikan korban menghubungi Ny Simangunsong, saudra orantunya kalau Desi, wanita pembantunya itu tak bangun-bangun di ruang tamu.
Ny Simangunsong pun datang memeriksa kondisi wanita pembantu yang dikatakan Asep sakit. Ternyata korban sudah meninggal, Ny Mangunsong pun menghubungi polisi.

Petugas yang datang ke lokasi memeriksa jasad korban. Korban masih mengenakan celana dalam, sedangkan di wajah memar.
Tersangka Asep ditangkap saat tidur di rumahnya di Bogor.”Kami jerat pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara,” papar Ka;olsek Kompol Dermawan Karosekali

Ibu Hamil dan Anaknya Dibantai Kakak Beradik Supardan Irianto dan Achmad Suganda Karena Dendam

Pembunuhan yang menimpa ibu bernama Rika R. Damayanti (32) beserta anaknya, Benyamin Nataniel (8), diduga dipicu dendam. Dua orang karyawan yang diduga pelaku sempat terlibat cekcok dengan korban.

Umri (40), salah seorang warga yang biasa beraktifitas di sekitar Toko Kasur Murah Jaya Makmur di Jalan Jatinegara Barat, RT 01 RW 06 Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur itu mengungkapkan, dua karyawan yang diduga sebagai pelaku baru bekerja selama tiga bulan.

“Tadi pagi mereka dipecat. Pemilik tokonya bilang, kamu kan sudah dipecat, ngapain lagi datang ke sini? Gitu,” ujarnya meniru pembicaraan karyawan yang diduga sebagai pelaku dengan korban saat ditemui, Kamis (15/11/2012).

Sekitar pukul 15.00 WIB, Umri baru mengetahui insiden pembunuhan tersebut dari tukang parkir setempat. Pemilik toko yang menjual karpet dan kasur atas nama Daniel itu datang dan mendapati tokonya dalam kondisi rolling door tertutup.

“Saya baru tahu ada kejadian pembunuhan itu juga jam 15.00 WIB, kondisi toko sudah ramai. Masalah karyawannya itu saya sudah enggak ngeh lagi deh,” lanjutnya.

Sementara, Senut (60), salah seorang warga lainnya mengatakan, pukul 15.15 WIB dirinya mendengar teriakan ‘pembunuh’ dari toko itu. Ia yang tengah berjualan di belakang toko pun mendatangi toko tersebut dan masuk ke dalam. Kedua korban ditemukan tewas dengan kondisi usus terburai akibat sabetan senjata tajam.

“Ditemukan di dalam WC dua-duanya. Saya yang ngeliat pertama kali karena enggak ada yang berani liat. Ibu menghadap kanan, anaknya menghadap kiri,” ujarnya.

Rika yang tengah mengandung empat bulan mengalami luka sabet senjata tajam jenis golok. Begitu juga dengan sang anak yang juga mengalami luka sabet senjata tajam di perut, lengan, dan luka memar di wajah.

Berdasarkan informasi di lapangan, dua orang karyawan itu berinisial S dan AS. Keduanya diketahui adalah kakak beradik yang bekerja di toko tersebut. Keduanya pun diketahui telah menghilang dari indekost pelaku di bilangan Kampung Melayu atau pun lokasi kejadian.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur, AKBP M. Soleh membenarkan pelaku adalah kedua karyawannya. Kini, pihaknya tengah melakukan penyelidikan. “Pelaku sudah kami identifikasi, mereka sedang kami buru,” ujarnya.

Seorang ibu yang dibunuh di toko miliknya di Jalan Jatinegara Barat, Jatinegara, tewas dalam kondisi tengah mengandung empat bulan. Selain korban dan janinnya, anak korban juga tewas dibunuh di toko tersebut.

Korban bernama Rika Rahma Damayanti (32) dan putra kandungnya Benyamin Nataniel (8) ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko karpet dan kasur Murah Jaya Makmur, Kamis (15/11/2012) sore. Mereka ditusuk di bagian perut dengan senjata tajam yang digunakan pelaku.

“Ibunya lagi hamil empat bulan. Tangan sama perutnya disabet pakai golok. Saya sempat lihat korban soalnya,” ujar Winson (46), salah seorang warga setempat, Kamis (15/11/2012).

Berdasarkan informasi dari petugas Polres Jakarta Timur, kedua korban ditemukan pertama kali oleh suami Rika bernama Daniel sekitar pukul 15.15 WIB di dalam kamar mandi lantai satu toko mereka. Kondisi fisik korban mengenaskan. Rika yang tengah mengandung empat bulan mengalami luka sabet senjata tajam jenis golok. Begitu juga dengan sang anak yang juga mengalami luka sabet senjata tajam di perut, lengan dan luka memar di wajah.

Warga tak menyangka kedua korban tewas dengan cara yang mengenaskan. “Enci (Rika) sama engkohnya (Daniel) padahal baik-baik loh orangnya,” ujar Winson.

Saksi mengatakan, sebelum peristiwa tersebut, dua orang karyawan yang diduga pelaku tidak boleh masuk bekerja pada pagi harinya. Itu terjadi karena keduanya terlibat cekcok mulut dengan orang lain yang belum diketahui identitas dan persoalannya.

Hingga kini, belum diketahui kronologi lengkap pembunuhan tersebut. Kedua jenazah telah dibawa ke ruang jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekitar pukul 17.30 WIB. Sementara, lokasi kejadian telah diberi garis polisi.

Pembunuhan sadis yang menimpa seorang ibu hamil bernama Rika R Damayanti (32) dan anaknya, Benyamin Nataniel (8), menyingkap fakta baru. Selain membunuh, pelaku yang diduga karyawan korban dan berjumlah dua orang tersebut juga melakukan aksi perampokan.

“Saya kecewa, itu di televisi polisi ngomongnya dendam. Itu bukan dendam, itu perampokan. Masalahnya HP, duit, dan ATM anak saya hilang semua,” ujar Ali Suwandi, ayah Rika, kepada Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Ali menjelaskan, setelah insiden tersebut, harta anaknya yang hilang berupa uang sebesar Rp 1,5 juta, dua unit ponsel merek Samsung dan Flexi, serta dompet berisi KTP, ATM, dan dokumen penting lain. Menurut Ali, kedua karyawan berinisial S dan AS, yang diduga pelaku pembunuhan disertai perampokan itu, baru bekerja di toko anaknya selama tiga bulan terakhir. Dua pemuda tersebut direkrut dari mantan karyawan atas nama Alfian. Ali sangat menyesalkan kejadian berdarah yang merenggut cucu, anak, dan calon cucu yang tengah dikandung oleh Rika.

“Saya tanya Pian (Alfian), dia bilang dua orang itu baik, makanya saya percaya. Sekarang anak saya, cucu saya, sama janin yang ada di anak saya sudah enggak ada,” ujarnya.

Kini jenazah Rika dan Benyamin masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Makmur Jaya, Jalan Jatinegara Barat, Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Dua orang kakak beradik yang diduga melakukan pembunuhan terhadap majikannya di Jatinegara, Jakarta Timur, dikenal kerap berbuat onar. Salah satu perbuatan onar pelaku terjadi beberapa hari sebelum insiden pembunuhan, Kamis (16/11/2012) lalu.

Hasaniah (60), ibu angkat dua orang terduga pelaku mengungkapkan, beberapa hari sebelum insiden pembunuhan, kakak beradik yang baru bekerja selama tiga bulan di toko kasur dan karpet milik korban itu terlibat keributan dengan sesama penghuni indekos. Rumah indekos itu milik orangtua Rika R Damayanti, ibu hamil yang dibunuh oleh kedua pelaku berinisial SR dan AS tersebut.

“Si AS itu memang orangnya rusuh. Anak kos yang lain enggak suka karena mau tidur enggak bisa karena AS berisik,” ujar Hasaniah saat ditemui Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

SR diketahui sebagai kakak, AS adalah adiknya. Kedua terduga tersangka menghuni indekos di Jalan Permata II, RT 02/RW 06, Kebon Pala, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, milik orangtua korban.

Ikut tersulut amarah atas keributan yang melibatkan adiknya AS, SR pun turun tangan. Ia mengambil golok dan mengancam para penghuni indekos. Keributan tersebut cepat berakhir karena penghuni lain di indekos itu mengalah kepada SR dan AS. Namun, karena kesal terhadap perilaku kedua kakak beradik perantauan itu, penghuni indekos mengadukan ulah mereka kepada Ali Suwandi, sang pemilik indekos. Kebetulan SR dan AS bekerja di toko milik anak Ali.

“Si SR sama AS diusir sama Koh Ali gara-gara kelakuannya kayak gitu. Anak-anak kostan lain bilangnya suka kehilangan barang juga,” kata Hasaniah.

Keputusan berisiko

Ali membenarkan bahwa ia sempat mengusir SR dan AS dari indekos. Atas kelakuan kakak beradik tersebut, Ali pun menyuruh Rika, anaknya, untuk menasihati SR dan AS. Namun, ia tak menyangka justru berujung pada insiden pembunuhan terhadap anak dan cucunya.

“Saya bilang, ‘Kamu enggak boleh tidur di sini lagi.’ Saya enggak ngeh kalau itu berisiko merenggut anak dan cucu saya,” ujar Ali sambil menangis, Jumat.

Kini jenazah Rika dan Benyamin masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur, Jalan Jatinegara Barat, Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Pelaku pembunuhan terhadap Rika Ramadayanti (32) dan putranya, Benjamin Nataniel Septian (8), ternyata tak bisa berlama-lama lari dari perbuatan kejam mereka. Supardan Irianto alias Andi dan Achmad Suganda alias Anda berhasil ditangkap petugas reserse gabungan Polrestro Jakarta Timur dan Polsektro Jatinegara.

“Kedua pelaku ditangkap di daerah Kotabumi, Lampung Utara, sekitar pukul 16.30 WIB tadi,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto dalam pesan singkatnya, Jumat (16/11/2012) sore.

Kedua tersangka ditangkap tanpa perlawanan setelah sempat buron sejak melakukan aksi kejamnya, Kamis (15/11/2012) di Toko Kasur Murah Jaya Makmur di Jalan Jatinegara Barat, RT 01 RW 06 Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur.

Kedua pelaku merupakan eks karyawan toko tersebut. Berdasarkan keterangan dari saksi mata, pelaku diduga sakit hati setelah dipecat dan diusir akibat sering membuat keributan.

Rika dan putranya ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan dengan usus terburai. Para korban ditemukan oleh Daniel, suami Rika sekaligus ayah Benjamin. Di hari kejadian, Daniel sedang keluar rumah untuk membeli makanan. Saat kembali, ia justru menemukan keluarganya telah tergeletak tak bernyawa.

Hingga berita ini diturunkan, kedua pelaku dan anggota reserse masih berada dalam perjalanan pulang dari Lampung menuju Jakarta.

Dua orang pelaku pembunuhan sadis terhadap ibu hamil bernama Rika R Damayanti dan putranya, Benyamin Nataniel, di Jatinegara, Jakarta Timur, akhirnya ditangkap oleh polisi, Jumat (16/11/2012). Keluarga korban menuntut pelaku dihukum berat sesuai undang-undang.

“Kalau saya bilang anak cucu saya mati, nyawa harus dibalas nyawa. Tapi kan enggak begitu caranya. Kita serahkan saja ke polisi,” ujar Ali Suwandi, ayah Rika, kepada Kompas.com, Jumat.

Ali mengutuk peristiwa pembunuhan tersebut. Ia kesal karena selain membunuh anak dan cucunya dengan sadis, pelaku juga mencuri sejumlah harta milik korban. Harta yang diambil oleh pelaku itu meliputi uang tunai sebesar Rp 1,5 juta, dua unit ponsel Samsung dan Flexi, serta dompet berisi KTP, ATM dan dokumen penting lain.

Ali tak menyangka jika pelaku yang merupakan karyawan toko milik korban berbuat sesadis itu. Sekitar tiga bulan lalu, Ali mencari orang untuk dipekerjakan sebagai karyawan di toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur milik Rika dan suaminya Daniel. Ali kemudian meminta bantuan kepada Alfian, mantan karyawannya, untuk mencari orang yang tepat. Alfian kemudian merekomendasikan SR dan AS.

“Saya nanya sama Pian (Alfian), ‘Mereka itu orangnya gimana?’ Dia bilang baik anaknya. Tapi saya bilang harus suka kerja karena sehari di toko cuma dikasih Rp 30.000,” kata Ali.

Akibat merekrut kedua pelaku itu, Ali merasa bersalah karena dituduh turut bertanggung jawab atas kematian anak dan cucunya. Ali pun menyesal karena kedua orang itu telah menjemput nyawa anak dan cucunya dengan cara begitu sadis.

Kini jenazah anak serta cucunya tersebut masih disemayamkan di Rumah Duka Santo Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Keluarga korban masih akan melakukan koordinasi terkait pemakaman korban, apakah dengan kremasi atau dikubur.

Rika dan putranya ditemukan tewas bersimbah darah di kamar mandi toko kasur dan karpet Murah Jaya Makmur, Jalan Jatinegara Barat Nomor 39, RT 01 RW 06, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (15/11/2012) sore. Rika kena sabetan senjata tajam jenis golok di perut bagian kanan sehingga mengalami luka parah. Begitu juga dengan anaknya, yang mengalami luka sabet golok di perut, lengan, dan luka sobek di wajah.

Dua orang tersangka yang sempat buron seharian tersebut ditangkap di Kotabumi, Lampung Utara, Jumat tadi sekitar pukul 16.30 WIB.

4 ABG Jadi Pembunuh Bayaran Karena Tergiur Uang 2 Juta Rupiah

Tiga anak baru gede (ABG) ditangkap karena dituduh jadi pembunuh bayaran. Mereka menghabisi bos restoran ayam kremas dengan imbalan Rp2 juta per orang . Sebelum melakukan aksinya ketiga ABG itu terlebih dahulu menenggak minuman keras.
Namun ketiga remaja itu; At, 16, Ja, 16, dan Vi, 15, kini meringkuk di sel polisi. Mereka dibekuk di rumah masing-masing di Meruya Selatan, Jakarta Barat.

Petugas gabungan Jatanras Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Barat dan Polsek Kembangan yang menangani kasus ini awalnya meringkus Bayu, 19, di rumahnya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Jumat (5/1). Bayu yang memberi order membunuh.
“Tersangka Bayu berutang Rp20 juta pada korban. Ia membunuh agar utangnya tak ditagih lagi,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, Senin (8/10) didampingi Kasubdit Jatanras AKBP Herry Heriawan.

Dalam pemeriksaan terungkap, ajakan untuk membunuh dilakukan Bayu dengan janji upah Rp8 juta untuk empat remaja itu. Mereka memang berteman. Upaya memuluskan niatnya, Bayu juga mencekoki mereka dengan minuman yang dicampur dengan obat yang membuat keempatnya agresif dan mabuk berat.

KORBAN DIJEMPUT
Pembunuha itu terjadi Rabu (26/9) malam. Saat itu, Bayu menjemput korban di kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan. Kepada pegawai Kementrian Pekerjaan Umum itu, Bayu berdalih akan melunasi utangnya. Yayan yang tak curiga. Ia mau saja dibonceng anak buahnya dengan Yamaha Mio.

Namun bukannya utangnya dibayar namun korban justru dibawa Bayu ke lapangan bola di belakang komplek pemadam kebakaran. Di lokasi itu, empat pembunuh bayaran menanti. Tersangka At langsung menarik tubuh Yayan dari motor hingga terjatuh. Belum sempat bangun, korban dibacok clurit yang diayunkan tersangka Vi. Tak cuma itu, wajah pria lajang juga disayat-sayat dengan clurit.

Kesadisan berlanjut. Dua pelaku lain, termasuk Bayu, menghantam batu ke wajah korban hingga pengusaha muda itu tal lagi bergerak. Upaya menghilangkan jejak, kawanan pembunuh membakar wajah korban lalu meninggalkannya begitu saja dengan membawa dua HP dan dompet berisi Rp142.000.

Keesokannya, jasad Yayan ditemukan . Saat itu, tak ada identitas apapun. Jati dirinya baru diketahui lima hari kemudian ketika ada keluarga mendatangi kamar mayat RSCM, tempat jasad Yayan diotopsi. Keluarga itu memastikan korban adalah Yayan, anggota keluargaya.

Atas perbuatannya, polisi menjerat Bayu dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuan berencana dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati. “Sedangkan, tersangka lainnya dikenakan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan,” kata Kombes Rikwanto

Tersangka Vi mengaku mau membunuh karena tergiur upah Rp2 juta. Ia percaya Bayu akan memberinya uang. Orangtua Bayu punya usaha konveksi di Tangerang.

Daim, 38, bapak At, terkejut mengetahui putranya membunuh orang. “Saya tidak menyangka anak itu ikut membunuh. Selama ini, meskipun anak saya tidak sekolah lagi tapi sering diawasi. Biarin saya dibilang cerewet, asalkan anak saya tidak nakal,” ujar bapak tiga anak yang tinggal di Meruya Selatan, Jakarta Barat.

Pelaku pembunuhan berencana pegawai Dinas Pekerjaan Umum (PU), Yayan Suryana, 28, berinisial BR berniat mengambil alih usaha korban “Bebek Remes”, seusai menghabisi nyawanya bersama teman tersangka.

“Rencananya, saya akan ambil usaha milik korban, seolah-olah korban punya utang kepada saya,” kata BR di Markas Polda Metro Jaya, Senin. BR juga akan mempekerjakan empat tersangka lainnya, MFM (17), AT (15), JB (16) dan CM (16), jika rencana pembunuhan terhadap korban sudah dilakukan.

Tersangka BR yang merupakan mantan pegawai korban di tempat makan “Bebek Remes” Blok M Square itu, menyebutkan dirinya menjanjikan pekerjaan kepada para pelaku lainnya. Awalnya, BR menjanjikan akan membayar Rp2 juta, namun para tersangka

meminta “upah” membunuh Yayan sebesar Rp5 juta, kemudian BR menawarkan akan mempekerjakan tersangka di rumah makan tersebut.

BR dan empat tersangka lainnya diduga terlibat pembunuhan berencana terhadap Yayan dengan motif utang piutang di sekitar Komplek Pemadam Kebakaran, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, Minggu (26/9). Diketahui, BR merasa sakit hati karena Yayan kerap menagih utang sebesar Rp15 juta yang digunakan untuk modal dagang celana di Blok M, Jakarta Selatan.

Selanjutnya, BR dan empat orang temannya merencanakan pembunuhan terhadap Yayan hingga pakaian korban dibakar di atas tubuh jasadnya. Beberapa hari kemudian, anggota Polda Metro Jaya berhasil menangkap para tersangka pada beberapa lokasi di wilayah Jakarta Barat.

Polisi Ungkap Identitas Mayat ABG Yang Ditemukan Tewas Setengah Telanjang Di Hutan Pinus Bogor

Identitas mayat ABG yang ditemukan di hutan pinus, Leuwiliang Kabupaten Bogor, Senin (10/9) sekitar pukul 06.30 pagi lalu, akhirnya diketahui, Senin (24/9) atau tepatnya dua minggu kemudian.

Korban diketahui bernama Nopianti 14, warga Kampung Ciemas Desa Banyu Asih Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor.
Pihak Polsek Leuwiliang, belum mau memberikan keterangan detail tentang pengungkapan identitas korban yang saat ditemukan dalam kondisi tanpa celana dengan baju tersingkap keatas hingga terlihat payudaranya.
Alasannya, sedang mengejar pelaku yang diduga orang dekat korban.

Identitas korban diketahui, dari temuan bukti baru disamping tebing sejauh 12 meter dari lokasi temuan mayat.
Kanit Reskrim Polsek Leuwiliang, AKP Asep Triono melalui pesan singkatnya enggan mengungkap kronolis hingga pengungkapan identitas korban, dengan alasan, pihaknya sedang memburu pelaku.

“Memang benar mayat gadis berjilbab yang ditemukan warga dalam posisi tertelungkup ditengah hutan pinus yang sekitarnya hanya di huni 70 rumah warga, diketahui bernama Nopianti. Detailnya nanti saya kabarin, karena sekarang saya lagi ngejar pelaku,”kata AKP Asep dalam pesan singkatnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, jasad cewek ABG tanpa identitas ditemukan dua warga Senin (10/9) sekitar pukul 06.30 pagi.

Korban diduga dihabisi teman dekatnya sekitar pukul 00.00. Hal ini karena sekitar pukul 23.30, masih ada warga yang melihat korban duduk diatas motor bebek dengan ditemani seorang pemuda yang umurnya sebaya.

Polisi Belum Mengetahui Identitas Mayat Wanita Telanjang Di Pondok Aren Bintaro

Polisi menyebar sketsa wajah wanita tanpa busana yang ditemukan di rumah kosong di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Polisi berupaya keras mengungkap identitas wanita yang mengenakan cincin di jarinya itu. Belum diketahui apakah wanita yang ditaksir berusia lebih dari 35 tahun itu korban pembunuhan atau bukan.

“Kita sudah sebar selebaran sketsa wajahnya. Kita juga mengimbau masyarakat yang tahu agar melapor,” kata Kapolsek Pondok Aren, Kompol Kompol Pramono, saat dikonfirmasi, Rabu (12/9/2012).

Mayat wanita itu ditemukan Selasa (11/9) di sebuah rumah kosong di Kelurahan Pondok Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Penemuan bermula saat warga sekitar mencium bau busuk dari rumah kosong yang ada di pinggir jalan. Setelah dicek ternyata ditemukan jenazah wanita.

Polisi memperkirakan korban sudah meninggal 4-5 hari yang lalu. Di sekitar tubuh korban ditemukan celana dalam dan daster. Ditemukan juga sebilah pisau dan botol minuman keras.

“Wanita itu rambutnya sebahu agak sudah beruban, giginya ada yang sudah ompong. Ada cincin berwarna emas di tangan kanan di jari tengahnya,” terangnya.

Mayat wanita itu masih diautopsi di RSUD Tangerang untuk diperiksa apakah ada tanda kekerasan atau tidak. “Kita berharap identitasnya bisa segera terungkap,” harap Pramono.

Latar Belakang Keluarga dan Perkawinan Korban Pembunuhan Kakak Beradik Di Surabaya

Bagaimanakah sosok Sunarsih kakak kandung Supiati yang juga menjadi korban pembunuhan yang diduga dilakukan Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami Sunarsih. Dari keterangan keluarganya, Sunarsih dan Barja jahat dan berbalik dengan Supiati yang dikenal baik hati. “Supiati itu baik. Kalau Sunarsih dan suaminya Jaja itu jahat,” ujar kakak korban beda bapak, Saguni saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Sunarsih setelah lulus sekolah di Surabaya sudah merantau ke daerah Jakarta. Kemudian, ia menikah dengan seorang laki-laki. Sayangnya, pernikahan pertamanya yang barus berusia sebulan sudah pecaha dan keduanya bercerai. Dari suami pertamanya, Sunarsih mempunyai 1 anak. Namun, usianya juga tak berumur panjang.

Kemudian, Sunarsih (46) sering berkunjung ke Surabaya dengan seorang laki-laki yang usianya lebih muda yakni Warja alias Jaja (25) asal Subang Jawa Barat. “Sunarsih sering tinggal di sini sama Jaja. Sunarsih bisanya mengenalkan ke warga kalau Jajaj itu suaminya,” tuturnya. Sayangnya, meskipun keduanya menempati rumah adiknya di Simo Prona Jaya, keduanya nampaknya seperti menjadi tuannya. Bahkan, Jaja pernah melempar cangkir ke Supiati hingga lari meminta perlindungan ke keluarga Saguni. Saguni pun sempat akan bertengkar dengan Jaja, namun dihalau oleh Marnikem.

“Kalau keduanya nggak ada, Supiati mau berkunjung ke rumah kami. Tapi kalau sudah ada 2 orang itu, nggak berani ke sini, takut dimarahinya,” ujarnya. Memang kalau sama tetangga, keduanya baik. Tapi kalau sama keluarga kita, ibaratnya air dengan minyak, nggak akan nempel. “Kalau sama tetangga bisa tersenyum. Kalau sama keluarga kami, ya ibaratnya seperti minyak dan air, nggak pernah tegur sapa,” cetusnya.

Sunarsih dan Jaja sering Bogor-Surabaya. Bahkan ketika di Surabaya dan melahirkan anak pertamnya, Alif, Sunarsih dan Jaja menjual rumah Supiati yang di kawasan Simo Prona Jaya, dengan dalih untuk membiayai persalinan Alif. “Ya sering bolak balik ke Surabaya. Ya sekiranya ke Surabaya untuk mengambil harta atau uang. Kalau uangnya sudah habis, balik lagi ke Surabaya. Pokoknya apa saja yang di Surabaya, kalau bisa di jual ya dijual,” tuturnya.

Saguni menceritakan, dirinya pernah ditipu oleh Sunarsih dan Jaja. Rumahnya yang berda di Citarum, Kampung Karang Suko, Semarang, pernah dijual Sunarsih. Namun, sampai sekarang ini, Saguni tidak pernah merasakan hasil dari penjualan rumahnya. “Katanya Sunarsih, nanti kalau sudah dijual akan dibagikan. Tapi sampai sekarang nggak pernah dikasihkan. Kami sekeluarga nggak mau mengungkit-ngungkit lagi,” ujarnya.

Sunarsih dan Jajaj sudah sering menjual harta benda keluarga Supiati di Surabaya seperti di Semarang. Kemudian rumah kontrakan di Simorejo Timur II dan SImo Prona Jaya III. Namun, hasil penjualan itu tak pernah dirasakan oleh Supiati maupun keluarga lainnya seperti Saguni. Bahkan, ketika Supiati dan Sunarsih tidak ada, Jaja berani mengontrakan rumah Supiati yang juga menjadi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan dan kakak adik itu yang dikubur di kamar belakang.

Rumah di Simo Prona Jaya III/2 ukuran 5×7 meter itu dikontrakan seharga Rp 4 juta untuk 2 tahun. Bahkan, rumah Supiati untuk kos-kosan di Simorejo Timur hendak dijual ke orang lain. Namun transaksi tersebut gagal, karena diketahui oleh anak angkat Juri.

“Anak angkatnya Pak Juri mengetahui kalau rumah di Simorejo itu ditawarkan Jaja mau dijual. Akhirnya nggak jadi dijual,” ujarnya. Saguni menilai Jaja sudah tidak beres dan hanya mengincar harta bendanya. Bahkan, sebelum kejadian ini maupun kelahiran anak kedua Sunarsih dari pasangan Jaja yang hanya berumur 2 hari, Saguni curiga dengan keberadaan Alif yang usainya baru 2,5 tahun.

“Kata tetangga, Alif sudah dipulangkan ke rumah neneknya di Subang. Tapi saya tidak percaya begitu saja. Sampai sekarang ini di mana anaknya juga belum jelas,” katanya. Ia berharap agar kasus ini terbongkar, sehingga semua permasalahan dapat terselesaikan, termasuk ijazah Supiati dan surat-surat sertifikatnya, maupun sertifikat rumah Saguni di Simo Prona Jaya III/5.

“Sertifikatnya saya titipkan ke Supiati, karena dia itu primpen (pandai menyimpan). Saya dengar-dengar rumah ini juga mau dijual oleh (Sunarsih dan Jaja). Kalau sampai ditawarkan ke orang lain, ta jak gelut mas (Saya ajak bertengkar),” jelasnya. Kabar tertangkapnya pelaku pembunuhan kakak adik, Sunarsih dan Supiati, membuat lega hati keluarga korban. Mereka meminta Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami dari Sunarsih, dihukum mati. “Saya nggak terima, harus dihukum mati,” cetus Saguni kepada detiksurabaya.com, Senin (13/8/2012).

Setelah mendengar kabar tertangkapnya Warja alias Jaja suami dari Sunarsih oleh kepolisian, Saguni dengan emosi tidak bisa mengutarakan lagi dan menyerahkan ke istrinya, Manikem untuk berbicara. “Saya mewakili keluarga meminta pelaku dihukum mati. Karena dia sudah membunuh 2 orang sekeligus sekeluarga,” ujar Manikem. Selain itu, Jaja suami korban Sunarsih bukan hanya membunuh saja, tapi juga merampok harta benda Supiati seperti semua isi rumah Supiati di Simo Prona Jaya III/2, seperti lemari dan perabotan rumah lainnya sudah habis dijual ke orang lain.

Rumah tersebut juga dikontrakkan ke orang lain sebesa R 4 juta untuk 2 tahun. Dan uang tersebut dibawa kabur Jaja. “Rencananya juga mau menjual rumah di Simorejo, tapi nggak jadi karena ketahuan. Pokoknya saya nggak terima harus dihukum mati,” katanya. Selain itu, keluarga juga meminta aparat kepolisian untuk mengusut keberadaan Alif (2,5) anak pertama pasangan dari Sunarsih dengan Warja (pelaku). Yang kabarnya dibawa Jaja ke rumah neneknya di Subang. Mereka khawatir Alif menjadi korban trafficking (perdagangan manusia).

“Kami harap keberadaan Alif juga dipertanyakan,” jelasnya. Supiati adalah salah satu korban pembunuhan yang dikubur dalam 1 liang lahat bersama kakaknya, di dalam kamar belakang rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2, Simo Mulyo Baru Surabaya. Siapakah sosok Supiati ? “Sama tetangga juga baik. Sama keluarga juga baik,” ujar Suci yang juga keponakannnya saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Dari informasi yang dihimpun, Supiati sebelumnya tinggal di kawasan Simorejo Timur Surabaya. Kemudian pada sekitar Tahun 2000, ia pindah dan tinggal di rumah orang tua Suci atau kakak beda bapak, Saguni di Simo Prona Jaya. Saat tinggal di rumah tersebut, Supiati sudah keluar dari tempat kerjanya sebagai Caddy Golf di salah satu lokasi di Surabaya barat.

“Setelah keluar dari Caddy, sudah tidak bekerja lagi,” tuturnya. Meskipun tidak bekerja lagi sebagai caddy, Supiati masih mendapatkan pendapatan dari hasil 2 rumahnya di Simorejo yang dikontrakan dan indekos. Kemudian, sekitar 2002 Supiati membangun rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2. Dalam kurun kurang dari setahun, rumah tersebut sudah bisa ditempati.

Sekitar 5 tahun lagi, Supiati berkenalan hingga menjalin hubungan pernikahan dengan duda purnawirawan TNI AL, Pak Juri. Meskipun umur keduanya selisih 30 tahun, hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan tetangga maupun keluarganya. “Ya kalau berjalan seperti anak sama bapaknya. Pak Juri orangnya juga baik kok,” tuturnya.

Sayangnya, hubungan Supiati dengan Juri tak berlangsung lama. Juri yang baru tinggal di rumah Supiati kurang dari setahun, mengidap penyakit diabetes hingga akhirnya meninggal dunia dan dikebumikan di tempat pemakaman umum di kawasan Simo Tambaan. Supiati pun menjanda dan sampai terbunuh pun belum pernah menikah lagi.

“Mbang Supiati itu orang sayang dan setia. Dia nggak mau menikah lagi, karena takut dengan laki-laki dan khawatir laki-laki hanya mau menikah untuk mengincar hartanya saja,” tuturnya. Selama menjanda, Supiati selalu mendapatkan penghasilan dari ‘usaha’ rumah kontrakannya di kawasan Simo Prona Jaya, dan rumah kontrakan serta rumahnya yang di-koskan sebanyak 5 kamar di kawasan Simorejo Timur.

“Selain itu juga mendapatkan pensiunan dari suaminya purnawirawan Pak Juri,” terangnya. Sementara itu, Manikem yang juga kakak iparnya, mengaku Supiati adalah anak yang baik. Bahkan, tak jarang Supiati selalu mengajak istri dari kakak beda bapak, Saguni itu untuk belanja di pasar.

“Ya baik sekali mas. Kalau setelah mengambil uang pensiunan, biasanya mengajak ke pasar,” ujar Manikem sambil menirukan ajakan Supiati, “Ayo yuk belanja ke pasar. Sampeyan mau beli apa,”. Meski mempunyai rumah sendiri, Supiati masih sering berkunjung ke rumah kakaknya, Saguni suami Manikem yang masih sekampung. “Kalau Supiati itu orangnya baik, sama tetangga juga baik,” ujar Ketua RT 1 RW 8, Agus. Bambang juga menilai Supiati masih sering berkomunikasi dengan tetangganya. “Orangnya baik mas. Sama tetangga juga baik,” kata Bambang yang juga tetangganya.