Category Archives: pembunuhan

Dua Mayat Wanita Kakak Beradik Ditemukan Dikubur Di Satu Liang Di Jalan Simo Prona Jaya III/2 Surabaya

Perkampungan di Simo Prona Jaya, Surabaya, digemparkan dengan penemuan mayat wanita kakak adik yang dikubur di kamar rumah mereka.

Jenazah kakak adik itu dikubur dalam satu liang. Keduanya itu diperkirakan korban pembunuhan. “Memang benar ada 2 jenazah perempuan yang dikubur di dalam rumah,” kata Kapolsek Sukomanunggal Kompol M Baderi, Minggu (12/8/2012) pagi.

Kedua jenazah perempuan yakni, Sunarsih yang diperkirakan berumur 46 tahun dan adiknya Supiati 34 tahun. Saat digali kuburannya, Sunarsih masih mengenakan pakaian daster. Bambang, warga setempat yang ikut menyaksikan evakuasi menyatakan bila kedua jenazah telah membusuk.

Kedua jenazah itu dikubur di kamar belakang. “Di rumah itu ada 2 kamar,” jelasnya.

Setelah mendapatkan laporan dari warga pada Minggu dini hari, polisi langsung melakukan penyelidikan ke lokasi. Kemudian, kedua jenazah yang dikubur di kedalaman sekitar 60 sentimeter, langsung dievakuasi ke kamar mayat RSU dr Soetomo Surabaya.

Pantauan detiksurabaya.com, rumah Supiati berukuran 5 x 7 meter di Kelurahan Simo Mulyo Baru Kecamatan Sukomanunggal telah diberi garis police line. Ratusan warga sekitar masih bergerombol ingin menyaksikan rumah yang rencananya akan dikontrakkan itu.

Kematian dua wanita kakak beradik masih misterius. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku yang mengubur dua korban dalam satu liang di kampung Simo Prona Jaya III/2, Surabaya.

Dua wanita itu yang kuburannya dibongkar polisi adalah Sunarsih yang diperkirakan berumur 46 tahun dan adiknya Supiati 34 tahun.

Kapolsek Sukomanunggal Kompol M Baderi masih belum bisa memastikan motif pembunuhan yang korbannya dikubur di dalam kamar belakang tersebut. Rumah milik Supiati itu kini diberi garis police line.

“Kita masih menyelidikinya,” kata Baderi, Minggu (12/8/2012).

Informasi yang dihimpun, selain kakak beradik itu yang tinggal di rumah tersebut adalah Barja. Pria asli Subang, Jawa Barat, itu adalah suami Sunarsih. Saat polisi membongkar kuburan korban di kamar belakang, Barja tak terlihat.

Saat dikonfirmasi, polisi masih enggan memberi penjelasan banyak. “Sementara saya belum bisa bicara banyak. Tunggu hasil penyelidikan dulu ya mas,” kata Baderi.

Pembunuh Instruktur Fitness Sabur Ditangkap Polisi Yang Ternyata Kelompok Spesialis Perampok Gay

Pembunuh instruktur fitnes Sabur akhirnya tertangkap. Pelaku dibekuk di tempat berbeda, salah satunya di Palembang. “Sudah ketangkap 4 hari lalu. Yang menangkap petugas dari Polda Metro,” kata Kapolsek Mampang Kompol Siswono saat dihubungi detikcom, Rabu (2/8/2012). Informasi yang dikumpulkan detikcom, pelaku berinisial AD, PR, dan DD. Otak dari pembunuhan Sabur ini diduga dilakukan oleh PR. PR ditangkap di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Setelah itu polisi menangkap AD di Jakarta Pusat, menyusul DD ditangkap di Palembang.

Sabur awalnya dilaporkan hilang oleh keluarganya, Sabtu (7/7). Warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, kemudian ditemukan tewas di kamar kostnya di Mampang, Jakarta Selatan, Sabtu Para pembunuh instruktur fitnes, Sabur alias Arbi, mencari sasaran pria-pria homoseksual untuk menjadi korban pemerasan. Mereka mencari sasaran di kafe-kafe atau mal-mal.

“Modusnya kalau ada (korban) yang suka sejenis, dikasih umpan sejenis. Kalau (korbannya) suka perempuan, dikasih perempuan,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Toni Harmanto, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (2/8/2012). Bila korban sudah masuk dalam jeratannya, pelaku kemudian akan mengajak korban ke rumah kontrakannya. Untuk menyempurnakan aksinya, para pelaku sengaja menyewa rumah kontrakan untuk jangka waktu yang pendek.

“Rumah kontrakannya itu baru disewa, baru dua hari,” katanya. Jika korban menunjukkan gelagat menyukai pelaku, maka pelaku akan mengajak korban ke rumah kontrakannya untuk berhubungan badan. Saat korban telah telanjang bulat, salah satu pelaku kemudian mengirim pesan singkat kepada temannya untuk datang. “Kemudian teman-temannya ini menggerebek dan mengambil barang-barang milik korban dan korban akan diancam bila melapor ke aparat atau ke warga sekitar,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Helmy Santika mengatakan, para pelaku mengaku telah melakukan aksi pemerasan sedikitnya selama 10 kali. Semua korbannya adalah laki-laki. “Yang sudah-sudah tidak sampai dibunuh karena tidak melawan,” katanya. Hanya saja, korban-korban sebelumnya enggan melapor karena merasa malu. “Ini kan ada keengganan dari korban untuk melapor karena menurut mereka ini adalah aib,” tutupnya.

Pembunuh Sabur alias Arbi (45), instruktur fitnes yang ditemukan tewas di kamarnya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, berjumlah 6 orang. Empat orang di antaranya berhasil ditangkap dan dua lainnya masih buron. Empat tersangka yang sudah ditangkap yakni HG alias FR (34), ditangkap di atas bus jurusan Merak-Bandung saat melintas di jalan Tol Merak arah Jakarta pada Rabu (25/7).

HG alias FR ditangkap bersama tersangka AS alias AN (23). Kemudian tersangka AL alias DM (38) ditangkap pada Kamis (26/7), di rumah kos Opak Tapa Jl Kayu Manis IV No 60 RT 07/14 Jakarta Timur, dan tersangka DD alias DDG ditangkap di Dusun Tiga, Desa Tirta Kencana, Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Dua orang lagi masih diburu, satu laki-laki dan satu lagi perempuan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Kamis (2/8/2012). Dari keempatnya, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa 2 buah kartu ATM, 2 unit handphone, sepasang sepatu warna biru-putih, selembar lakban bekas pakai, seutas tali rafia, sepotong celana jeans berlumuran darah dan sepotong kaos berkerah warna biru.

Sabur awalnya dilaporkan hilang oleh keluarganya, Sabtu (7/7). Warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, kemudian ditemukan tewas di kamar kosnya di Mampang, Jakarta Selatan, Sabtu (14/7).

Terdakwa Pembunuh Raafi Aga Winasya Benjamin Divonis Bebas

Terdakwa kasus penusukan Raafi Aga Winasya Benjamin, Sher Muhammad Febryawan alias Febry, dinyatakan tidak bersalah. Febry dibebaskan dari segala dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

“Dengan ini kami membebaskan dan memerintahkan terdakwa dikeluarkan dari tahanan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Muhammad Razad, dalam pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 31 Juli 2012.

Razad menyatakan Febry, yang sebelumnya dituntut hukuman 12 tahun penjara ini, tidak terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan, pengeroyokan, dan penganiayaan terhadap Raafi.

Raafi Aga merupakan siswa Pangudi Luhur yang terlibat bentrok dengan rekan-rekan Febry di Resto and Lounge Shy Rooftop, Kemang, pada Sabtu, 5 November 2011. Dalam perkelahian itu, Raafi mengalami luka tusuk. Ia meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit.

Mendengar keputusan hakim, Febry, yang mengenakan baju putih lengan panjang dan celana berwarna hitam, mengucap syukur dan langsung sujud di depan kursi terdakwa.

Saat dimintai tanggapan atas vonis tersebut, Febry mengatakan sangat senang dan berterima kasih kepada jaksa. “Saya percaya hukum itu pasti ada,” ujarnya. Saat itu pula keluarga dan kerabat Febry berpelukan.

Ditemui usai persidangan, Febry berharap dengan bebasnya dirinya dapat membebaskan juga empat terdakwa lain yang merupakan rekannya. Mereka, lanjut Febry, tidak terlibat dan harus bebas.

Namun, Febry enggan merinci siapa empat terdakwa tersebut. “Baru sekarang ini saya melihat hukum di Indonesia adil. Saya sudah nyatakan, saya bukan pelakunya,” ujarnya sambil tersenyum. “Allah sangat adil, saya tidak meminta adik-adik saya di 234 SC melakukan tindakan apapun walau mereka telah merebut kebahagiaan saya dan memisahkan saya dengan keluarga saya. Fitnah itu akhirnya terbukti.”

Perampokan dan Pembunuhan Sadis Bapak dan Anak Di Perumahan Griya Satria Jingga Bojong Gede Adalah Anak Umur 14 Tahun

Perampokan disertai pembunuhan sadis terjadi di Bojong Gede, Depok. Jordan (50) dan Edward (22), yang merupakan ayah dan anak dihabisi dengan luka-luka di kepala dan leher. Polisi sudah menangkap pelaku yang ternyata bocah masih berusia 14 tahun yang kemungkinan adalah psikopat muda. Informasi yang dikumpulkan detikcom, Kamis (19/7/2012) pelaku berinisial A dengan rekannya D merampok rumah korban di Bojong Gede karena ingin menguasai harta korban. A mengira Jordan dan anaknya memiliki harta berlimpah sehingga nekat menyatroni rumah korban.

Saat pelaku beraksi, korban melakukan perlawanan. Hingga akhirnya pelaku bertindak kejam dan membunuh korban. Namun pihak kepolisian yang dikonfirmasi soal kasus ini masih belum mau berbicara banyak. Pihak kepolisian hanya menyebut, A masih diperiksa intensif. “Ya masih diinterogasi,” kata Kanit Reskrim Polsek Bojong Gede, Iptu Ibnu. Pelaku ditangkap dini hari tadi sekitar pukul 02.00 WIB. Tidak ada perlawanan yang dilakukan remaja tersebut.

R, anak bungsu korban pembunuhan sadis di Bojong Gede, Yordan diinapkan di kantor Mapolsek Bojong Gede. Polisi butuh keterangannya untuk mengungkap pelaku sambil terus memberinya rasa aman. Dari keterangan polisi, R adalah orang pertama yang menemukan jenazah Yordan (50) dan Edward (20). Saat ini, gadis belia ini sekrarang berada di sebuah ruangan Mapolsek Bojonggede Jalan Raya Tojong, didampingi Kasat Reskrim olresta Depok Kompol Febriansyah. “Kasihan dia menerima kenyataan begini. Kita harus menanyainya secara perlahan-lahan. Kita buat dia senyaman mungkin dulu,” ujar seoran polisi.

Dari pengamatan, gadis belia coklat manis ini perawakan kurus dengan tinggi 140 cm dan berambut ikal panjang sebahu. Mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam, dia hanya diam termangu dengan pandangan mata kosong. Polisi masih mencoba menghubungi ponsel Dina Sutiyem, istri Yordan. Pasangan tersebut mempunyai tiga anak. Sejak ada pertengkaran dengan Yordan, Dina sudah sekitar 2 bulan meninggalkan rumah. Informasi yang detikcom kumpulkan, polisi juga memanggil Buluk, hansip perumahan Griya Satria Jingga, Ragajaya ke Mapolsek Bojonggede. Namun, Buluk masih bertugas sebagai Satpam di PT KAI di Depok. penyidik ingin tanyakan kepada Buluk, apakah dia melihat orang yang mencurigakan ketika malam Selasa itu.

Polisi mencari istri dari korban perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Polisi mencoba menghubungi istri korban tersebut. Namun perempuan tersebut tidak bisa dikontak. “Istrinya menghilang, Karena kita coba hubungi namun tidak bisa,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (18/7/2012).

Hingga saat ini polisi masih terus mencari istri dari korban pembunuhan itu. Diketahui korban bernama Jordan Raturomon (50) dan Edwar (22). “Kita masuh upayakan pencarian untuk dimintai keterangan,” ucapnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Pelaku menggasak uang tunai sekitar Rp 10 Juta, Motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi masih mendalami kasus perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Malam ini polisi akan memeriksa lima orang saksi. Pelaku pembunuhan atas Jordan (50) dan anaknya Edwar (22) diperkirakan lebih dari satu orang. “Lima orang akan kita periksa,” kata Kapolsek Bojong Gede, Kompol Bambang Irianto, kepada detikcom, Rabu (18/7/2012). Bambang menjelaskan polisi saat ini masih berada di lokasi. Saat ini petugas masih mengumpulkan keterangan dari sekitar lokasi kejadian. “Kita coba urai. Kita panggil saksi, saksi korban, saksi yang dengar ada suara motor jam berapa, saksi yang kemungkinan melihat. Masih kita selidiki,” paparnya.

Bambang menduga pelakunya lebih dari satu orang. “Kalau melihat korbannya ada dua orang, kemungkinan pelakunya lebih dari satu orang,” ujarnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Bambang juga menegaskan, bahwa dari rumah korban yang hilang hanya motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi terus mengembangkan penyidikan atas tewasnya Edward alias Edo dan ayahnya Yordan di Bojong Gede, Bogor. Motif aksi keji tersebut masih dicari. Namun sementara beberapa pihak menduga karena utang-piutang.

Sebagai langkah awal menyidik kasus ini, polisi memeriksa istri Edo, Fifi Oktavianus. Wanita muda itu diperiksa oleh tim Reskrim gabungan dari Polda Metro Jaya, Polresta Depok dan Polsek Bojong Gede di rumah korban, Perumahan Griya Satria Jingga di RT 3/14, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat.

Dalam pemeriksaan sementara, Fifi mengaku sudah dua minggu kerap bertengkar dengan sang suami seputar masalah keluarga. Cekcok biasanya dipicu oleh masalah keyakinan. “Karena beda agama, jadi kami kadang suka berantem,” tutur Fifi di lokasi, Rabu (18/7/2012). Dari Fifi, polisi ingin mengumpulkan serpihan-serpihan kasus ini sehingga dapat menemukan siapa pelakunnya. Menurut Fifi, sekitar pukul 00.00 WIB, Selasa (17/7/2012) dirinya masih SMS-an dengan Edo.

“Kalau saya sedang libur kerja, Edo suka mengajak saya jalan. Jadi semalam dia SMS saya ngajak jalan. Dia ingin baikan. Edo belum punya kerja tetap, sekarang kerja jaga internet di Tanah Baru, Kota Depok,” sambungnya.

Selain Fifi, polisi juga meminta ayahnya untuk datang ke Mapolsek Bojong Gede guna menjalani pemeriksaan. Terkait motif peristiwa sadis ini, polisi masih melakukan pengembangan. Namun dari informasi yang beredar di TKP, ada dugaan pembunuhan ini terkait masalah utang piutang. Belum bisa pastikan siapa pelakunya. Tapi ini korban pembunuhan. Bisa jadi utang-piutang atau pun jual beli sepeda motor,” ujar seorang polisi kepada detikcom di lokasi.

Polisi mencari informasi dan sumber terkait untuk merangkai kisi-kisi dari kasus pembunuhan ini. Namun, diduga, pembunuh adalah orang yang kenal dengan korban karena karpet dalam keadaan terbuka layaknya sedang menerima tamu dan duduk bersama di atas karpet.

“Kita masih terus menyidik dan mengumpulkan informasi dari pelbagai pihak. Semua yang kita anggap kenal dan terkait dengan korban perlu kita mintai keterangan,” tambah polisi tersebut. Para tetangga pun menduga kasus ini berkaitan dengan urusan utang piutang motor. “Saya dengar Pak Edo ngomong beberapa hari lalu, dia sekarang sedang rintis usaha jual-beli motor,” ujar Roland tetanggga korban.

Sabur Instruktur Fitness Yang Hilang Ditemukan Tewas Di Mampang Dalam Keadaan Terikat

Sabur (45), warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, yang hilang sejak Sabtu 7 Juli 2012 ditemukan tewas di kamar kostnya di Mampang, Jakarta Selatan. Tetangga menemukan Sabur pada Sabtu (14/7). “Ya, tewas dibunuh,” kata Kapolsek Mampang Kompol Siswono saat dikonfirmasi detikcom, Senin (16/7/2012).

Siswono menyebut, Sabur diduga dibunuh beberapa hari sebelumnya. Tetangga menemukan jasad Sabur karena mencium bau tidak sedap. Sabur baru seminggu kost di kawasan itu. “Mayat sudah membusuk, kita duga tewas sudah lebih dar 3 hari,” terang Siswono. Dugaan dibunuh itu, berdasarkan kondisi jasad korban. “Tangan dan kaki diikat, kemudian mulut disumpal,” jelas Siswono.

Polisi sudah membawa jasad korban ke RSCM untuk divisum. Hasil visum baru keluar seminggu kemudian. “Kita masih melakukan penyelidikan,” tutur Siswono.Keluarga mencium keganjilan atas tewasnya Sabur (45), instruktur fitnes di kamar kostnya di Mampang, Jakarta Selatan. Sabur melakukan 6 kali transfer dengan total Rp 12 juta.

“Ada bukti yang ganjil, seperti bukti transfer rekenening yang dilakukan kakak saya sebanyak 6 kali pada malam Minggu (7/7),” kata Hanifah, adik Sabur, saat dikonfirmasi detikcom, Senin (16/7/2012). Menurutnya, jumlah dari 6 bukti transfer tersebut sekitar Rp 12 juta. Bukti tersebut didapatkan keluarga setelah mendatangi BNI Cabang Kembangan, Jakarta Barat.

“Dari situ terlihat ada 6 kali transferan uang dengan total hingga Rp 12 juta, dan ini yang membuat ganjil,” tutur Hanifah. Hanifah menduga Sabur diculik dan diperas oleh pelaku pembunuhan keji itu. Ia juga tidak mengetahui siapa orang terakhir yang bertemu dengan Sabur.

Sabur (45) warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, menghilang sejak Sabtu, 7 Juli 2012 lalu. Sabur sehari-hari bekerja sebagai instruktur fitnes freelance. Ia akhirnya ditemukan tewas pada 14 Juli 2012.abur (45) warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, menghilang sejak Sabtu, 7 Juli 2012 lalu. Sabur sehari-hari bekerja sebagai instruktur fitnes freelance.

Hanifah, Adik kandung Sabur, mengaku kakaknya menghilang sejak Sabtu malam. Sampai saat ini Sabur belum kembali ke rumah, dan ponselnya pun tidak aktif. “Biasanya dia kalau mau menginap selalu kabarin keluarga. Baru kali ini, dia tidak ada kabar,” jelasnya. Hanifah pun sudah melapor kejadian ini ke Polres Jakarta Pusat dan Polsek Gambir. Dirinya berharap agar menemui titik terang dari kejadian ini.

“Saya sudah lapor ke Polres Jakpus dan Polsek Gambir, hari ini. Cuma saya seperti di ping-pong saat membuat laporan,” ujarnya. Bagi yang menemukan Sabur, dapat menghubungi ke nomor 081584443538 (Hanifa).

Ryan Pembunuh Berseri Asal Jombang Tetap Dihukum Mati Setelah MA Menolak PK

MAHKAMAH Agung (MA) menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Very Idham Henyansyah alias Ryan pada perkara pembunuhan berencana terhadap 11 orang di Depok, Jawa Barat dan Jombang, Jawa Timur. Dengan demikian pria yang dijuluki ‘Jagal dari Jombang’ itu tetap divonis hukuman mati. Namun Ryan masih dapat mengajukan grasi ke Presiden.

“Berdasarkan musyawarah mufakat majelis terhadap perkara No. 25 PK/PID/2012 Pengadilan Negeri Depok, maka diputuskan bahwa PK perkara saudara Ryan ditolak. Dasar penolakannya adalah berdasarkan putusan PN Depok,” kata Ridwan Mansyur, Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat MA di gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Senin (9/7).

Dijelaskan Mansyur, setelah ini upaya terakhir yang bisa dilakukan Ryan adalah mengajukan grasi ke Presiden. “Dapat mengajukan grasi paling lama setahun setelah ketetapan MA. Ryan dapat mengajukan grasi karena hal itu sesuai dengan undang-undang,” ujar Ridwan seperti dikutip Kompas.com.

Di MA, perkara Ryan diputus pada 5 Juli 2012 oleh majelis hakim yang terdiri dari Artidjo Alkostar, Gayus Lumbuun, dan Salman Luthan. Suara pengambilan keputusan majelis hakim MA dalam perkara PK ini bulat, yaitu menolak PK yang diajukan Ryan.

Dengan ditolaknya permohonan PK oleh MA, maka Ryan tetap divonis hukuman mati karena telah terbukti melakukan pembunuhan berencana.

Hal itu diperjelas oleh keputusan Pengadilan Negeri Depok No. 1036/Pid.B/2008/PN.DPK Tahun 2009 yang sudah berkekuatan hukum tetap atau inkracht. Permohonan grasi, lanjutnya, dapat diajukan oleh terpidana mati, seumur hidup atau minimal 2 tahun kurungan.

“Keputusan eksekusi mati ada di tangan jaksa penuntut umum sebagai eksekutor. Jadi, setelah PK ditolak, Ryan dapat dieksekusi kecuali ada usaha darinya untuk mengajukan grasi ke Presiden. Biasanya pelaksanaan eksekusi mati membutuhkan waktu bertahun-tahun setelah waktu pengajuan grasi lewat,” tambahnya.

Psikopat

Dalam mengajukan PK kemarin, kata Mansyur, Ryan mengajukan novum (bukti baru) bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa, psikopat, sehingga tidak pantas dijatuhi hukuman mati atau bisa dinyatakan tak bersalah. Dalam memori PK-nya pihak Ryan telah menyerahkan novum berupa pendapat tiga orang ahli yang menyatakan bahwa Ryan adalah psikopat, yakni Profesor Robert D Hare dari British Columbia University, Profesor Farouk Muhammad, dan Irjen Iskandar Hasan.

Seperti diketahui, kasus Ryan bermula dengan ditemukannya tujuh potongan tubuh manusia di dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dua tempat di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu 12 Juli 2008. Korban ternyata Heri Santoso (40), seorang manager penjualan sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Heri dibunuh dan dimutilasi oleh Ryan di apartemen Margonda Residence di Jalan Margonda Raya, Depok. Menurut pengakuan Ryan, dia membunuh Heri karena tersinggung setelah Heri menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki).

Dalam penyelidikan polisi, terungkap, korban Ryan tidak hanya Heri. Ryan membunuh 10 orang lainnya dan mengubur mayat mereka di halaman rumah orangtuanya di Jombang, Jawa Timur. Korban pertama Ryan adalah Guruh Setyo Pramono alias Guntur (27) yang dibunuh pada Juli 2007.

Istri dan Anak Pembunuh Bapak Kandung Pingsan Saat Rekonstruksi Pembunuhan

Reka ulang pembunuhan pedagang kain digelar di kios pakaian Perumahan Candra Baga, Kelurahan Bahagia, Babelan, Kabupaten Bekasi, Senin(9/7) siang. Rekonstruksi ini disaksikan kedua anak korban dari istri pertama. Dalam reka ulang itu, Ny Nurjanah,55, yang menjadi dalang lenyapnya nyawa Amirudin,62, suaminya itu, pingsan saat memperagakan adegan ke 40.

Petugas akhirnya mengganti peran Ny Nurjanah dengan Ny Dewi, wanita pedagang kacamata yang berjualan tak jauh dari lapak korban. Sementara Ny Nurjanah dipapah keluar kamar tempat terjadinya aksi pembantaian tersebut. Tersangka ibu lima anak ini dibaringkan di ruang dagangan baju. Sementara Rosanta,20, seorang wanita perawat didatangkan dari RSI Sayang Bunda Sektor Timur, berupaya menyadarkan Ny Nurjanah yang pingsan itu dengan mengoleskan minyak ke hidung tersangka.

Sedangkan tersangka Iwan,30, yang terpincang kakinya akibat ditembak petugas, terduduk tak jauh dari rebahan Ny Nurjanah. “Sekitar 66 adegan mereka memperagakan. Mulai dari perencanaan di Tanjung Priok sampai ke pembantaian,” papar Kasatreskrim Polresta Bekasi Kompol Dedi Murti Haryadi seraya mengatakan mereka dijerat pasal 338 KUHP, pasal 340 KUHP dan pasal 365 KUHP ancamannya seumur hidup atau hukuman mati.

Lanjut Dedi, saat pembantaian, Ny Nurjanah memegangi kaki suaminya. Yang menghajar pakai clurit dan pisau adalah Tiyo dan Hendrik alias Ompong (anak pertama Ny Nurjanah-red). Usai melakukan perbuatan itu, kedua pelaku mengikat Ny Nurjanah selanjutnya kabur dan berteriaklah Ny Nurjanah kalau kiosnya dirampok.

BU HAJI KOK TEGA
Di luar areal ratusan massa berdesakan ingin melihat dari dekat aksi pembantaian itu. Massa pun berteriak hu…. saat para pelaku kejahatan ini dikeluarkan dari kios. “Bu.. bu haji kok tega sih … bu kok tega sih.. ” teriak seorang ibu rumahtangga sambil menyaksikan wanita berkerudung itu dimasukkan ke dalam mobil petugas.

Sementara itu Hendra Jaya,30, dan Ny. Yesi Andriyani,34, kakak beradik anak dari Ny Refni,60,(istri pertama Amirudin-red), datang jauh-jauh dari Desa Ipuh Mandiangin, Bukittinggi, Sumatera Barat, ingin menyaksikan adegan pembunuhan yang dilakukan ibu tirinya bersama antek-anteknya itu.

Namun lelaki berambut pendek ini dan wanita berkacamata minus ini tak diperkenankan polisi untuk masuk melihat. “Saya sabar kok Pak saya ini sangat sabar.. saya sudah pasrah,” papar Hendra Jaya meyakinkan petugas. Namun petugas tetap tak memperbolehkannya.

MANTAN KARYAWATI
Menurut Ny Yesi Andriyani, Amirudin ayahnya itu menceraikan Ny Refni,(ibunya-red) ketika ia masih berusia sekitar 9 tahun dan duduk di bangku kelas 4 SD. Setelah bercerai, ayahnya menikahi Nurjanah yang saat itu wanita tersebut sebagai pembantu melayani dagangan baju di Padang. Diakui wanita berkaca mata minus ini, sejak menikah dengan Nurjanah, kehidupan ayahnya tak harmonis dan selalu ribut setiap harinya. “Ayah suka curhat sama saya,” papar Ny Yesi. Pernah suatu ketika ibu tirinya akan memberikan uang masing-masing Rp 100 juta untuk anak dari istri pertama jika rumah di Tanjung Priok laku dijual. Dan Ny Yesi akhirnya bercanda pada sang ayah dengan cara menghubungi lewat telepon soal janji sang ibu tiri.

Namun memperoleh jawaban dari sang ayah, kalau hal itu tak mungkin terjadi.”Memang buktinya sampai sekarang saya dan adik-adik nggak pernah dapet. Tapi kami lapang dada saja,” papar Yesi lagi.

Diungkapkan Hendra Jaya, sebenarnya seminggu sebelum peristiwa terjadi, ia sempat menghubungi Hendrik alias Ompong untuk ikut membantu berjualan pakaian di Padang bersamanya. Namun ketika dihubungi telepon adik tirinya itu tak pernah diangkat sampai akhirnya keluarga di Padang mendapat kabar kalau Amirudin, meninggal dunia. “Kami mohon dihukum sesuai aturan yang berlaku,” papar Hendrajaya.(yanto/b)

Pengusaha Siomay Yang Terkenal Lewat Wisata Kuliner Dibunuh dan Dibakar Oleh Anak Kandungnya Sendiri Karena Kalah Main Judi

Suami istri pengusaha siomay ditemukan tewas dibakar di rumahnya Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Jumat (5/7/2012). “Korban suaminya Jo Ribut,64 ditemukan luka dikepala dan bekas dibakar diruang tamu dan istrinya li sek nyo,58 ditemukan di ruang belakang luka di kepala robek dan bajunya terbakar.”

Menurut keterangan di lokasi kejadian pembunuhan disertai pembkaran suami istri diketahui pertama kali oleh anak korban bernama Budi. Budi anak ketiga dari lima bersaudara ini bersama istrinya datang ke rumah korban dan memberitahukan kepada warga dan keluarganya bahwa orangtuanya dirampok dan dibakar penjahat. Bahkan Budi yang sehari-harinya tukang parkir di rumah orangtuanya itu kepada polisi juga mengaku orangtuanya dibunuh perampok.

DUGAAN KUAT
Hasil olah TKP polisi tak ada perusakan pintu dan anjing korban tidak menggonggong sehingga polisi mencurigai pelaku orang yang sudah dikenal korban. Ada dugaan kuat pelakunya adalah anak kandung korban bernama Budi yang sering bertugas memarkir, sehingga diamankan oleh petugas Polres Metro Tangerang. Menurut Kasatreskrim AKBP Suharyanto yang ditemui di TKP ada kecurigaan pelakunya adalah Budi anak ke tiga dari lima bersaudara.

Awalnya justru Budi yang melaporkan terjadinya pembunuhan, namun petugas mencurigai pria yang sudah beristri dan selama ini bertugas menjaga parkiran di halaman restoran siomay Andy milik orangtuanya itu. Karena petugas tak menemukan kerusakan pintu dan anjing yng galak tidak menggonggong. “Saya menduga pelaku orang dekat korban,” tegas Suharyanto.

Di TKP petugas menemukan serokan penggorengan bernoda darah, jrigen berisi bensin dan balok kayu. Korban sang istri ditemukan tergeletak dengan luka kepala di ruang belakang dekat kamar mandi dan suami di ruang tengah keduanya luka di kepala dan luka bakar tapi wajah masih bisa dikenali. Petugas juga menyita seekor anjing kesayangan korban yang dikenal warga setia kepada majikannya dibawa ke polres, sedangkan dua mayat suaami istri dibawa ke RSU Tangerang untuk diotopsi.

Penyesalan selalu datang terlambat. Itulah yang dialami Budi Liya Putra yang tega membunuh orang tuanya, juragan ‘Siomay Andy’ alias Siomay Sewan. Putra ketiga pasangan Liesek Nio (istri, 58 tahun) dan Yo Ribut (suami, 63 tahun) ini mengaku menyesal. “Pengakuan dia, nyesal,” kata Kapolres Tangerang Kombes Wahyu Widada saat dihubungi detikcom, Sabtu (7/7/2012).

Menurut dia, Budi terlihat tenang saat dimintai keterangan. “Dia tidak menangis, tenang,” ujar Wahyu. Wahyu mengatakan aparat kepolisian masih melakukan pemberkasan. “Kita selanjutnya akan memintai keterangan saksi-saksi yang melihat, mendengar dan mengetahui. Saat ini keluarga masih berduka dan melakukan pemakaman,” kata dia.

Wahyu melanjutkan Budi bakal menjalani tes psikologi apabila diperlukan. “Kalau dibutuhkan, ya kita akan lakukan (tes psikologi),” kata Wahyu. Kemungkinan besar Budi menderita penyakit psikopat.

Hidup juragan ‘Siomay Andy’ alias Siomay Sewan, Liesek Nio (istri, 58 tahun) dan Yo Ribut (suami, 63 tahun) berakhir di tangan anaknya, Budi Liya Putra (32). Usai memukul kedua orang tuanya hingga tewas karena tidak diberi uang setelah kalah judi koprok, Budi masih tega mencuri uang dan membakar jasad kedua uang orang tuanya. Duh!

“Dia udah melihat bapak-ibunya terkapar, dia mengambil uang di laci Rp 1.350.000,” ujar Kapolres Tangerang Kombes Wahyu Widada saat dihubungi, Jumat (6/7/2012). Lantas, dengan tega pula Budi membakar jasad kedua orang tuanya itu.

“Mungkin untuk menghilangkan jejak, dia bakar jasad bapak-ibunya pakai koran. Koran ditumpukin di atasnya (jasad), dibakar, tapi badannya nggak sampai hangus hanya sebagian baju dan badan terbakar. Dia sempat mau pakai bensin tapi nggak jadi,” jelas Wahyu.

Untuk sementara, Budi yang juga anak ketiga pasangan itu ditetapkan sebagai pelaku tunggal. Apakah ada benda lain yang hilang, Wahyu mengatakan masih menyelidiki dan menginventarisirnya. Liesek Nio dan Yo Ribut memiliki 5 anak yang menetap di sekitar rumahnya, salah satunya Budi. Anak-anak korban juga turut membantu usaha dagang warung Siomay Andy yang beroperasi pukul 08.00 – 19.00 WIB. Budi diamankan polisi setelah anjing pelacak tak juga berhenti mengendusnya.

Budi Liya Putra, anak ketiga juragan ‘Siomay Andy’ alias Siomay Sewan membunuh kedua orang tuanya pada Jumat dini hari. Sebabnya, Budi jengkel karena tidak dikasih uang setelah meminta dengan paksa kepada orang tuanya, Yo Ribut (63) dan Liesek Nio (58). Budi habis kalah main judi. “Jadi dia ini senang main judi, kalah. Judinya judi koprok. Kalah judi Rp 450 ribu. Terus meminta sama orang tuanya, karena nggak dikasih kemudian dipukul,” jelas Kapolres Tangerang Kombes Wahyu Widada saat dihubungi, Jumat (6/7/2012).

Budi datang ke rumah orang tuanya pada Jumat pukul 03.00 WIB dini hari. Mulanya Budi mengetok jendela. Tak ada respons dari dalam rumah, kemudian Budi masuk ke rumah melalui pintu belakang. “Terus dia minta uang sama bapaknya, bangunin gitu, minta uang, nggak dikasih sama bapaknya. Terus dia marah lalu memukul bapaknya pakai besi. Ibunya waktu itu mau keluar, terus dimintain juga uang tapi nggak dikasih, terus ibunya juga dipukul,” jelas Wahyu.

Liesek Nio (istri, 58 tahun) dan Yo Ribut (suami, 63 tahun) memiliki 5 anak yang menetap di sekitar rumahnya, salah satunya Budi. Anak-anak korban juga turut membantu usaha dagang warung Siomay Andy yang beroperasi pukul 08.00 – 19.00 WIB. Budi diamankan polisi setelah anjing pelacak tak juga berhenti mengendusnya.

Pasangan suami istri pemilik Siomay Andy ditemukan tewas mengenaskan di kediamannya. Siomay ini sebelumnya sudah dikenal luas oleh masyarakat. Apa yang menyebabkan siomay ini terkenal? “Siomaynya enak, garing. Ikannya berasa dan enggak lembek. Biasanya siomay kan lembek,” ujar Iwa (48), Jumat (6/7/2012) di rumahnya, Sawan, Tangerang. Iwa yang merupakan istri ketua RT 001/006 ini sebetulnya bukan merupakan warga asli daerah tersebut. Namun ia mengaku sebagai pelanggan setia dari Siomay Andi.

“Harganya Rp 3.000 per siomaynya. Orang dari mana-mana kan juga sudah tahu tentang siomaynya. Terkenal emang,” kata Iwa.Andy tidak hanya sekedar menjual siomay, dia juga menjajakan kentang, tahu, kol, pare, dan telor yang kerap menjadi menu sandingan siomay. Rasanya juga tidak kalah enak. “Ya biasa, ada siomay, kentang, tahu, kol, pare sama telor. Termasuk minumnya es teh manis, es jeruk. Biasalah,” kata Iwa. Meski pemilik usaha siomay ditemukan tewas, Iwa berharap usaha tersebut tetap berjalan. “Kan sebelumnya anak mantunya yang kerja, ya mudah-mudahan dilanjutin usahanya sama anak-anaknya, tetap buka,” jelasnya.

Keluarga Yo Ribut (63) sudah lama menggeluti usaha dagang siomay. Makanan yang terbuat dari ikan tenggiri hasil racikan keluarga Yo Ribut dikenal banyak orang karena rasanya yang gurih dan teksturnya yang kenyal namun tidak alot. Siomay Andy, begitulah mereka memberi nama warung tersebut.

Warung Siomay Andy yang lebih dikenal dengan Siomay Sewan ini berlokasi di Gang Sewan, Rawakucing, Neglasari, Kota Tangerang. Dari Jalan Raya Rawakucing, lokasinya sekitar 100 meter. Di tempat ini, Yo Ribut bersama sang istri, Liesek Nio (58), dan anak-anaknya mencari rezeki. Beberapa tetangga turut membantu usaha itu. Aktivitas ini berlangsung sejak lama hingga Kamis kemarin. Sebab hari ini, Jumat (6/7/2012) sang pasutri tewas dibunuh.

Tidak mudah memang menemukan lokasi warung ini. Namun bagi yang sudah tahu daerah Kota Tangerang, tentu bukan masalah. Nah, di Gang Sewan itu, keluarga Yo Ribut bukan satu-satunya pedagang siomay. Ada beberapa pedagang siomay lainnya di situ. Warung Siomay Andy berada satu kompleks dengan rumah pemiliknya. Kedua bangunan ini sama-sama bercat pink. Di warung tersebut, tempat untuk meracik siomay dan tempat para pengunjung menikmati makanan itu terpisah.

Siomay diracik di dalam ruangan. Di ruangan itu terdapat tempat untuk menggiling daging, kompor, piring, tempat kecap, dan tempat untuk mencuci piring.Bagi pengunjung yang ingin menikmati gurihnya siomay dengan bumbu kacang yang kental dan legit, bisa duduk di kursi semen dan kursi kayu yang telah disediakan. Di tempat itu ada 11 meja yang disiapkan untuk para pengunjung.

Di tempat makan, lantai ruangan adalah keramik lama warna kuning. Tempat itu adalah ruangan beratap, seperti teras. Kipas angin kecil dipasang di salah satu sudut langit-langit. Ada ornamen tulisan China di pintu masuk. Kaca cembung kecil di pasang di ventilasi di luar warung. Di depan warung terdapat WC dengan cat dinding bercat biru untuk para pengunjung. Tulisan dengan huruf bercat kuning terdapat di dinding luar WC yang berisi informasi operasional warung. “Siomay Andy. Hari Senin tutup, kecuali senin libur buka terus….! Buka jam: 08.00 s/d 19.00 WIB.” Sedangkan di sebelah kiri informasi itu terdapat tulisan WC umum dan tanda panah warna kuning.

Warung itu memiliki nomor bangunan 50, sedangkan rumah pemilik warung bernomor 49. Kawat berduri dipasang mengelilingi tembok yang dipasang di sekitar rumah dan warung. Dua pohon ukuran sedang berada di halaman yang telah dipasangi paving block. Halaman itu sanggup menampung sekitar 18 mobil.

Menurut Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Wahyu Widada, pembunuhan pada pasangan suami istri itu terjadi sekitar 04.30 WIB. Menurut Wahyu, korban meninggal akibat luka di kepala dihantam dengan serok yang terbuat dari besi. Informasi yang dihimpun wartawan, pelaku pembunuhan diduga anak ketiga pasutri ini, Budi Liya Putra. Pria itu lahir pada tahun 1980.

Dalam hitungan jam, pembunuhan pasutri Liesek Nio (58) dan Yo Ribut (63) berhasil diungkap polisi. Anjing pelacak berperan besar dalam pengungkapan pembunuhan yang ternyata dilakukan anak kandung korban sendiri, Budi Liya Putra (32). Berikut ini kronologi peristiwa tersebut:

Pukul 03.00 WIB
Anak ketiga Liesek Nio (istri, 58 tahun) dan Yo Ribut (suami, 63 tahun) yang bernama Budi Liya Putra (32) mengetok jendela. Dia bermaksud minta uang kepada orangtuanya setelah kalah judi keprok Rp 450 ribu. Yo Ribut menolak memberi uang sehingga Budi marah dan memukul ayahnya dengan besi. Ibunya yang juga menolak memberi uang, juga dipukul hingga tewas. Budi mencoba membakar jasad orangtuanya untuk menghilangkan jejak. Dia lantas mengambil uang Rp 1.350.000.

Pembunuhan ini terjadi di kediaman pasutri itu di Gang Sewan, Jl Raya Rawakucing, Kota Tangerang. Rumah ini terletak bersebelahan dengan warung Siomay Andy, tempat keluarga ini mengais rezeki. Pecinta kuliner menyebut siomay bikinan mereka enak dan menyebut siomay itu sebagai Siomay Sewan.

Pukul 04.30 WIB
Budi yang biasa turut membantu mempersiapkan dagangan siomay memberitahu keluarganya atas peristiwa pembunuhan itu. Saat itu, jasad Yo Ribut ditemukan di ruang tengah, sedang Liesek Nio ditemukan di kamar mandi. Polisi menyebut ada bekas pukulan seperti serok di kepala korban.

Pukul 10.00 WIB
Polisi melakukan olah TKP. Anjing pelacak dikerahkan. Budi banyak memberikan informasi kepada polisi. Akibat peristiwa kejahatan ini, warung Siomay Andy terpaksa tidak beroperasi. Deretan kursinya melompong. Warung bercat pink ini sebelumnya biasa buka pukul 08.00 – 19.00 WIB. Anak-anak korban biasa turut membantu operasional warung ini. Warung ini menyediakan siomay yang gurih dan sambal kacang yang legit.

Pukul 12.50 WIB
Polisi mengamankan Budi Liya Putra sebagai tersangka pembunuhan. Hal ini dilakukan setelah anjing pelacak yang dikerahkan polisi tak berhenti mengendusnya. Setelah itu, Budi diinterogasi dan terkuaklah motif pembunuhan yang menggegerkan tersebut dalam hitungan jam. Sementara itu, siomay yang seharusnya dijual per buti Rp 3.000 itu hari ini terpaksa tidak bisa dijajakan. Siomay itu tinggal dihangati saja.

Japrot Bunuh 2 Wanita Tetangganya Sendiri Karena Dituduh Dukun Santet

Sakit hati lantaran sering dituduh sebagai tukang santet, Karsa alias Japrot, 45, warga Kampung Kadu Lagon, Desa Kadu Hejo, Kec. Pulosari, Kab. Pandeglang, tega menghabisi nyawa Juju Jeleha, 40, tetangganya sendiri. Sarnah, 75, yang memergoki aksi sadis juga dibunuh secara biadab oleh tersangka. Tersangka yang berniat melarikan diri, diringkus petugas reskrim Polres Pandeglang di rumahnya beberapa jam setelah kejadian.

Diperoleh keterangan, aksi brutal yang menghebohkan warga Kampung Kadu Lagon ini terjadi Ju’mat (29/6) sekitar pukul 14:00. Pelaku yang sudah merencanakan niat jahat tersebut masuk ke rumah korban melalui pintu belakang yang tidak terkunci. Diduga sebelum masuk ke dalam rumah korban, tersangka yang tinggal bertetangga sudah mengetahui jika korban sedang sendiri di dalam rumah.

Lantaran pintu kamar terkunci, pelaku mendobrak dengan cara menendang daun pintu. Mendengar suara pintu kamar dibuka paksa, korban yang sedang beristirahat terbangun dan terkejut karena melihat Karsa berdiri di kamar tidurnya sambil menenteng golok. Setelah itu, pelaku menyerang membacok kepala korban akan tetapi korban berhasil menghindari sabetan golok dan lari keluar rumah.

Pelakupun mengejarnya dan berhasil menjambak rambut korban dengan menggunakan tangan kiri. Golok yang dipegang di tangan kanan pelaku kemudian dibabatkan ke kepala korban. Korbanpun tersungkur dengan kondisi batok kepala terbelah. Masih belum puas, pelaku yang kesetanan kemudian menggorok leher korban hingga meninggal dunia.

Begitu akan meninggalkan rumah korban, tersangka dipergoki Sarnah, 75, yang sedang berjalan pulang. Khawatir ulahnya diketahui, Karsa langsung menghampiri korban dan membacok leher korban. Wanita renta tak berdosa ini ambruk bersimbah darah dengan luka robek di leher. Tak puas sampai disitu, pembunuh berdarah dingin ini kembali menghujani Sarnah ini dengan sabetan golok. Berdasarkan visum, ditemukan ada sekitar 8 luka bacokan ditubuh wanita lanjut usia ini.

Usai melampiaskan dendam kesumatnya, pelaku ngeloyor pergi ke rumahnya yang tak jauh dari lokasi kejadian. Warga yang mengetahui kejadian itu, tidak berani menolong lantaran takut menjadi sasaran pembunuhan. Namun belum sempat melarikan diri, petugas reskrim Polres Pandeglang mengamankan tersangka setelah memperoleh laporan.

Kapolres Pandeglang, AKBP Tb Ade Hidayat mengatakan hasil pemeriksaan tersangka telah merencanakan aksi pembantaian itu. Ia menyelinap kedalam rumah korban mendobrak pintu kamar lalu menyerang korban yang istirahat dengan golok yang sudah dipersiapkan.

“Atas tindakannya itu, tersangka terancam dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan yang direncanakan dengan ancaman hukuman mati,” terang Kapolres didampingi Kasat Reskrim, AKP Dhani Gumilar, Minggu (1/7).

Menurut pengakuan, lanjut Kapolres, tersangka mengaku tega membunuh karena sakit hati terhadap korban Juju yang sering menuduhnya sebagai dukun santet. “Seperti itulah pengakuan tersangka tapi perlu pembuktian. Namun kemungkinan ada motif lain, penyidik akan terus mendalami kasus pembunuhan sadis ini,” tegas

Amirudin Penjual Busana Di Kompleks Cadrabaga Tewas Dibunuh Oleh Istri dan Anaknya Sendiri

Akhirnya terungkap siapa otak dan pelaku pembunuhan Amirudin (67), penjual busana, di kiosnya di Jalan Kompleks Candrabaga, RT 27 RW 19 Bahagia, Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/6) pukul 02.30.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bekasi Kota Komisaris Dedy Murti Haryadi mengungkapkan, tersangka pelaku berjumlah empat orang, yang semua telah ditangkap. Mereka ialah Njn (47), HN (26), Tiy (20), dan Wwn (30).

Yang mengejutkan, otak pembunuhan Njn adalah istri kedua korban dan HN, anak sulung dari enam bersaudara buah pernikahan korban dengan Njn.

Selain merencanakan pembunuhan, Njn dan HN terlibat dalam eksekusi yang menyebabkan korban tewas dengan luka sayat, tusuk, dan bacok di leher, dada, perut, pantat, serta tangan kanan.

Yang ironis, setelah pembunuhan, Njn meminta agar diikat dan mulutnya disumpal kain oleh pelaku untuk mengelabui.

Pembunuhan itu terungkap setelah warga mendengar tangis dan teriakan anak bungsu korban, Muhammad Sabri (5). Ada warga yang sempat melihat tiga lelaki berkelebat dan dicurigai sebagai pelaku.

Dari penyelidikan, petugas berhasil menangkap dua orang, yaitu Tiy dan HN, di Jakarta Utara. Kedua tersangka ditangkap sehari setelah peristiwa. Perburuan dan penangkapan kedua tersangka itu berdasarkan ciri-ciri pelaku dari Njn yang saat itu dimintai keterangan sebagai saksi.

Untuk menguatkan alibi bukan sebagai pelaku, pada awal dimintai keterangan, Njn berkali-kali histeris dan pingsan di hadapan penyidik.

Namun, dari penyidikan, petugas justru mengendus ada ketidakberesan dari keterangan Njn, HN, dan Tiy. Kecurigaan itu menguat setelah petugas bisa menangkap Wwn di Mesuji, Lampung, Sabtu (30/6).

”Dia (Wwn) mengakui bekerja sama dengan ketiga tersangka lainnya,” kata Dedy dalam jumpa pers pengungkapan kasus di Polres Bekasi Kota, Senin.

Tidak dapat warisan

Berdasarkan keterangan tersangka, pembunuhan itu sudah direncanakan sejak awal Juni 2012. Waktu itu, Amirudin menjual rumah di RT 4 RW 12 Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara, dan mendapatkan uang Rp 1,5 miliar. Korban masih tercatat sebagai warga Rawa Badak Utara berdasarkan kartu tanda penduduk yang ditemukan petugas.

Setelah penjualan aset itu, diduga terjadi percekcokan antara korban dan istrinya. Amirudin mengancam tak akan mewariskan harta atau uang hasil penjualan rumah itu kepada Njn.

”Akibatnya, tersangka mulai merencanakan pembunuhan terhadap korban demi mendapat warisan,” kata Dedy.

Njn kemudian mengajak HN, anak sulung dari pernikahannya dengan Amirudin, untuk menghabisi korban. Si sulung tergiur dan bersedia memenuhi tuntutan ibundanya karena diiming- imingi uang warisan korban.

Untuk memuluskan aksi, HN meminta bantuan Wwn dan menjanjikan imbalan Rp 20 juta. Wwn merasa aksi itu harus didukung satu orang lagi.

Untuk itu, Wwn mengajak Tiy bergabung dan meminta imbalan dinaikkan menjadi Rp 30 juta untuk dibagi dua. Oleh HN, kedua tersangka sudah dibayar Rp 8 juta. Namun, uang pembayaran itu didapat dari menjarah laci kios seusai korban dihabisi.

Atas perbuatan itu, keempat tersangka akan dijerat pelanggaran hukum berupa pembunuhan yang direncanakan (Pasal 340 KUHP) disertai pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 KUHP). Ancaman hukuman yang bisa dijatuhkan kepada para tersangka ialah penjara seumur hidup.