Category Archives: pembunuhan

Polisi Ungkap Identitas Mayat ABG Yang Ditemukan Tewas Setengah Telanjang Di Hutan Pinus Bogor

Identitas mayat ABG yang ditemukan di hutan pinus, Leuwiliang Kabupaten Bogor, Senin (10/9) sekitar pukul 06.30 pagi lalu, akhirnya diketahui, Senin (24/9) atau tepatnya dua minggu kemudian.

Korban diketahui bernama Nopianti 14, warga Kampung Ciemas Desa Banyu Asih Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor.
Pihak Polsek Leuwiliang, belum mau memberikan keterangan detail tentang pengungkapan identitas korban yang saat ditemukan dalam kondisi tanpa celana dengan baju tersingkap keatas hingga terlihat payudaranya.
Alasannya, sedang mengejar pelaku yang diduga orang dekat korban.

Identitas korban diketahui, dari temuan bukti baru disamping tebing sejauh 12 meter dari lokasi temuan mayat.
Kanit Reskrim Polsek Leuwiliang, AKP Asep Triono melalui pesan singkatnya enggan mengungkap kronolis hingga pengungkapan identitas korban, dengan alasan, pihaknya sedang memburu pelaku.

“Memang benar mayat gadis berjilbab yang ditemukan warga dalam posisi tertelungkup ditengah hutan pinus yang sekitarnya hanya di huni 70 rumah warga, diketahui bernama Nopianti. Detailnya nanti saya kabarin, karena sekarang saya lagi ngejar pelaku,”kata AKP Asep dalam pesan singkatnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, jasad cewek ABG tanpa identitas ditemukan dua warga Senin (10/9) sekitar pukul 06.30 pagi.

Korban diduga dihabisi teman dekatnya sekitar pukul 00.00. Hal ini karena sekitar pukul 23.30, masih ada warga yang melihat korban duduk diatas motor bebek dengan ditemani seorang pemuda yang umurnya sebaya.

Polisi Belum Mengetahui Identitas Mayat Wanita Telanjang Di Pondok Aren Bintaro

Polisi menyebar sketsa wajah wanita tanpa busana yang ditemukan di rumah kosong di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Polisi berupaya keras mengungkap identitas wanita yang mengenakan cincin di jarinya itu. Belum diketahui apakah wanita yang ditaksir berusia lebih dari 35 tahun itu korban pembunuhan atau bukan.

“Kita sudah sebar selebaran sketsa wajahnya. Kita juga mengimbau masyarakat yang tahu agar melapor,” kata Kapolsek Pondok Aren, Kompol Kompol Pramono, saat dikonfirmasi, Rabu (12/9/2012).

Mayat wanita itu ditemukan Selasa (11/9) di sebuah rumah kosong di Kelurahan Pondok Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Penemuan bermula saat warga sekitar mencium bau busuk dari rumah kosong yang ada di pinggir jalan. Setelah dicek ternyata ditemukan jenazah wanita.

Polisi memperkirakan korban sudah meninggal 4-5 hari yang lalu. Di sekitar tubuh korban ditemukan celana dalam dan daster. Ditemukan juga sebilah pisau dan botol minuman keras.

“Wanita itu rambutnya sebahu agak sudah beruban, giginya ada yang sudah ompong. Ada cincin berwarna emas di tangan kanan di jari tengahnya,” terangnya.

Mayat wanita itu masih diautopsi di RSUD Tangerang untuk diperiksa apakah ada tanda kekerasan atau tidak. “Kita berharap identitasnya bisa segera terungkap,” harap Pramono.

Latar Belakang Keluarga dan Perkawinan Korban Pembunuhan Kakak Beradik Di Surabaya

Bagaimanakah sosok Sunarsih kakak kandung Supiati yang juga menjadi korban pembunuhan yang diduga dilakukan Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami Sunarsih. Dari keterangan keluarganya, Sunarsih dan Barja jahat dan berbalik dengan Supiati yang dikenal baik hati. “Supiati itu baik. Kalau Sunarsih dan suaminya Jaja itu jahat,” ujar kakak korban beda bapak, Saguni saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Sunarsih setelah lulus sekolah di Surabaya sudah merantau ke daerah Jakarta. Kemudian, ia menikah dengan seorang laki-laki. Sayangnya, pernikahan pertamanya yang barus berusia sebulan sudah pecaha dan keduanya bercerai. Dari suami pertamanya, Sunarsih mempunyai 1 anak. Namun, usianya juga tak berumur panjang.

Kemudian, Sunarsih (46) sering berkunjung ke Surabaya dengan seorang laki-laki yang usianya lebih muda yakni Warja alias Jaja (25) asal Subang Jawa Barat. “Sunarsih sering tinggal di sini sama Jaja. Sunarsih bisanya mengenalkan ke warga kalau Jajaj itu suaminya,” tuturnya. Sayangnya, meskipun keduanya menempati rumah adiknya di Simo Prona Jaya, keduanya nampaknya seperti menjadi tuannya. Bahkan, Jaja pernah melempar cangkir ke Supiati hingga lari meminta perlindungan ke keluarga Saguni. Saguni pun sempat akan bertengkar dengan Jaja, namun dihalau oleh Marnikem.

“Kalau keduanya nggak ada, Supiati mau berkunjung ke rumah kami. Tapi kalau sudah ada 2 orang itu, nggak berani ke sini, takut dimarahinya,” ujarnya. Memang kalau sama tetangga, keduanya baik. Tapi kalau sama keluarga kita, ibaratnya air dengan minyak, nggak akan nempel. “Kalau sama tetangga bisa tersenyum. Kalau sama keluarga kami, ya ibaratnya seperti minyak dan air, nggak pernah tegur sapa,” cetusnya.

Sunarsih dan Jaja sering Bogor-Surabaya. Bahkan ketika di Surabaya dan melahirkan anak pertamnya, Alif, Sunarsih dan Jaja menjual rumah Supiati yang di kawasan Simo Prona Jaya, dengan dalih untuk membiayai persalinan Alif. “Ya sering bolak balik ke Surabaya. Ya sekiranya ke Surabaya untuk mengambil harta atau uang. Kalau uangnya sudah habis, balik lagi ke Surabaya. Pokoknya apa saja yang di Surabaya, kalau bisa di jual ya dijual,” tuturnya.

Saguni menceritakan, dirinya pernah ditipu oleh Sunarsih dan Jaja. Rumahnya yang berda di Citarum, Kampung Karang Suko, Semarang, pernah dijual Sunarsih. Namun, sampai sekarang ini, Saguni tidak pernah merasakan hasil dari penjualan rumahnya. “Katanya Sunarsih, nanti kalau sudah dijual akan dibagikan. Tapi sampai sekarang nggak pernah dikasihkan. Kami sekeluarga nggak mau mengungkit-ngungkit lagi,” ujarnya.

Sunarsih dan Jajaj sudah sering menjual harta benda keluarga Supiati di Surabaya seperti di Semarang. Kemudian rumah kontrakan di Simorejo Timur II dan SImo Prona Jaya III. Namun, hasil penjualan itu tak pernah dirasakan oleh Supiati maupun keluarga lainnya seperti Saguni. Bahkan, ketika Supiati dan Sunarsih tidak ada, Jaja berani mengontrakan rumah Supiati yang juga menjadi tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan dan kakak adik itu yang dikubur di kamar belakang.

Rumah di Simo Prona Jaya III/2 ukuran 5×7 meter itu dikontrakan seharga Rp 4 juta untuk 2 tahun. Bahkan, rumah Supiati untuk kos-kosan di Simorejo Timur hendak dijual ke orang lain. Namun transaksi tersebut gagal, karena diketahui oleh anak angkat Juri.

“Anak angkatnya Pak Juri mengetahui kalau rumah di Simorejo itu ditawarkan Jaja mau dijual. Akhirnya nggak jadi dijual,” ujarnya. Saguni menilai Jaja sudah tidak beres dan hanya mengincar harta bendanya. Bahkan, sebelum kejadian ini maupun kelahiran anak kedua Sunarsih dari pasangan Jaja yang hanya berumur 2 hari, Saguni curiga dengan keberadaan Alif yang usainya baru 2,5 tahun.

“Kata tetangga, Alif sudah dipulangkan ke rumah neneknya di Subang. Tapi saya tidak percaya begitu saja. Sampai sekarang ini di mana anaknya juga belum jelas,” katanya. Ia berharap agar kasus ini terbongkar, sehingga semua permasalahan dapat terselesaikan, termasuk ijazah Supiati dan surat-surat sertifikatnya, maupun sertifikat rumah Saguni di Simo Prona Jaya III/5.

“Sertifikatnya saya titipkan ke Supiati, karena dia itu primpen (pandai menyimpan). Saya dengar-dengar rumah ini juga mau dijual oleh (Sunarsih dan Jaja). Kalau sampai ditawarkan ke orang lain, ta jak gelut mas (Saya ajak bertengkar),” jelasnya. Kabar tertangkapnya pelaku pembunuhan kakak adik, Sunarsih dan Supiati, membuat lega hati keluarga korban. Mereka meminta Warja Suwatman Mandala Putra alias Jaja suami dari Sunarsih, dihukum mati. “Saya nggak terima, harus dihukum mati,” cetus Saguni kepada detiksurabaya.com, Senin (13/8/2012).

Setelah mendengar kabar tertangkapnya Warja alias Jaja suami dari Sunarsih oleh kepolisian, Saguni dengan emosi tidak bisa mengutarakan lagi dan menyerahkan ke istrinya, Manikem untuk berbicara. “Saya mewakili keluarga meminta pelaku dihukum mati. Karena dia sudah membunuh 2 orang sekeligus sekeluarga,” ujar Manikem. Selain itu, Jaja suami korban Sunarsih bukan hanya membunuh saja, tapi juga merampok harta benda Supiati seperti semua isi rumah Supiati di Simo Prona Jaya III/2, seperti lemari dan perabotan rumah lainnya sudah habis dijual ke orang lain.

Rumah tersebut juga dikontrakkan ke orang lain sebesa R 4 juta untuk 2 tahun. Dan uang tersebut dibawa kabur Jaja. “Rencananya juga mau menjual rumah di Simorejo, tapi nggak jadi karena ketahuan. Pokoknya saya nggak terima harus dihukum mati,” katanya. Selain itu, keluarga juga meminta aparat kepolisian untuk mengusut keberadaan Alif (2,5) anak pertama pasangan dari Sunarsih dengan Warja (pelaku). Yang kabarnya dibawa Jaja ke rumah neneknya di Subang. Mereka khawatir Alif menjadi korban trafficking (perdagangan manusia).

“Kami harap keberadaan Alif juga dipertanyakan,” jelasnya. Supiati adalah salah satu korban pembunuhan yang dikubur dalam 1 liang lahat bersama kakaknya, di dalam kamar belakang rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2, Simo Mulyo Baru Surabaya. Siapakah sosok Supiati ? “Sama tetangga juga baik. Sama keluarga juga baik,” ujar Suci yang juga keponakannnya saat bincang-bincang dengan detiksurabaya.com di rumahnya, Senin (13/8/2012).

Dari informasi yang dihimpun, Supiati sebelumnya tinggal di kawasan Simorejo Timur Surabaya. Kemudian pada sekitar Tahun 2000, ia pindah dan tinggal di rumah orang tua Suci atau kakak beda bapak, Saguni di Simo Prona Jaya. Saat tinggal di rumah tersebut, Supiati sudah keluar dari tempat kerjanya sebagai Caddy Golf di salah satu lokasi di Surabaya barat.

“Setelah keluar dari Caddy, sudah tidak bekerja lagi,” tuturnya. Meskipun tidak bekerja lagi sebagai caddy, Supiati masih mendapatkan pendapatan dari hasil 2 rumahnya di Simorejo yang dikontrakan dan indekos. Kemudian, sekitar 2002 Supiati membangun rumahnya sendiri di Simo Prona Jaya III/2. Dalam kurun kurang dari setahun, rumah tersebut sudah bisa ditempati.

Sekitar 5 tahun lagi, Supiati berkenalan hingga menjalin hubungan pernikahan dengan duda purnawirawan TNI AL, Pak Juri. Meskipun umur keduanya selisih 30 tahun, hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan tetangga maupun keluarganya. “Ya kalau berjalan seperti anak sama bapaknya. Pak Juri orangnya juga baik kok,” tuturnya.

Sayangnya, hubungan Supiati dengan Juri tak berlangsung lama. Juri yang baru tinggal di rumah Supiati kurang dari setahun, mengidap penyakit diabetes hingga akhirnya meninggal dunia dan dikebumikan di tempat pemakaman umum di kawasan Simo Tambaan. Supiati pun menjanda dan sampai terbunuh pun belum pernah menikah lagi.

“Mbang Supiati itu orang sayang dan setia. Dia nggak mau menikah lagi, karena takut dengan laki-laki dan khawatir laki-laki hanya mau menikah untuk mengincar hartanya saja,” tuturnya. Selama menjanda, Supiati selalu mendapatkan penghasilan dari ‘usaha’ rumah kontrakannya di kawasan Simo Prona Jaya, dan rumah kontrakan serta rumahnya yang di-koskan sebanyak 5 kamar di kawasan Simorejo Timur.

“Selain itu juga mendapatkan pensiunan dari suaminya purnawirawan Pak Juri,” terangnya. Sementara itu, Manikem yang juga kakak iparnya, mengaku Supiati adalah anak yang baik. Bahkan, tak jarang Supiati selalu mengajak istri dari kakak beda bapak, Saguni itu untuk belanja di pasar.

“Ya baik sekali mas. Kalau setelah mengambil uang pensiunan, biasanya mengajak ke pasar,” ujar Manikem sambil menirukan ajakan Supiati, “Ayo yuk belanja ke pasar. Sampeyan mau beli apa,”. Meski mempunyai rumah sendiri, Supiati masih sering berkunjung ke rumah kakaknya, Saguni suami Manikem yang masih sekampung. “Kalau Supiati itu orangnya baik, sama tetangga juga baik,” ujar Ketua RT 1 RW 8, Agus. Bambang juga menilai Supiati masih sering berkomunikasi dengan tetangganya. “Orangnya baik mas. Sama tetangga juga baik,” kata Bambang yang juga tetangganya.

Dua Mayat Wanita Kakak Beradik Ditemukan Dikubur Di Satu Liang Di Jalan Simo Prona Jaya III/2 Surabaya

Perkampungan di Simo Prona Jaya, Surabaya, digemparkan dengan penemuan mayat wanita kakak adik yang dikubur di kamar rumah mereka.

Jenazah kakak adik itu dikubur dalam satu liang. Keduanya itu diperkirakan korban pembunuhan. “Memang benar ada 2 jenazah perempuan yang dikubur di dalam rumah,” kata Kapolsek Sukomanunggal Kompol M Baderi, Minggu (12/8/2012) pagi.

Kedua jenazah perempuan yakni, Sunarsih yang diperkirakan berumur 46 tahun dan adiknya Supiati 34 tahun. Saat digali kuburannya, Sunarsih masih mengenakan pakaian daster. Bambang, warga setempat yang ikut menyaksikan evakuasi menyatakan bila kedua jenazah telah membusuk.

Kedua jenazah itu dikubur di kamar belakang. “Di rumah itu ada 2 kamar,” jelasnya.

Setelah mendapatkan laporan dari warga pada Minggu dini hari, polisi langsung melakukan penyelidikan ke lokasi. Kemudian, kedua jenazah yang dikubur di kedalaman sekitar 60 sentimeter, langsung dievakuasi ke kamar mayat RSU dr Soetomo Surabaya.

Pantauan detiksurabaya.com, rumah Supiati berukuran 5 x 7 meter di Kelurahan Simo Mulyo Baru Kecamatan Sukomanunggal telah diberi garis police line. Ratusan warga sekitar masih bergerombol ingin menyaksikan rumah yang rencananya akan dikontrakkan itu.

Kematian dua wanita kakak beradik masih misterius. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku yang mengubur dua korban dalam satu liang di kampung Simo Prona Jaya III/2, Surabaya.

Dua wanita itu yang kuburannya dibongkar polisi adalah Sunarsih yang diperkirakan berumur 46 tahun dan adiknya Supiati 34 tahun.

Kapolsek Sukomanunggal Kompol M Baderi masih belum bisa memastikan motif pembunuhan yang korbannya dikubur di dalam kamar belakang tersebut. Rumah milik Supiati itu kini diberi garis police line.

“Kita masih menyelidikinya,” kata Baderi, Minggu (12/8/2012).

Informasi yang dihimpun, selain kakak beradik itu yang tinggal di rumah tersebut adalah Barja. Pria asli Subang, Jawa Barat, itu adalah suami Sunarsih. Saat polisi membongkar kuburan korban di kamar belakang, Barja tak terlihat.

Saat dikonfirmasi, polisi masih enggan memberi penjelasan banyak. “Sementara saya belum bisa bicara banyak. Tunggu hasil penyelidikan dulu ya mas,” kata Baderi.

Pembunuh Instruktur Fitness Sabur Ditangkap Polisi Yang Ternyata Kelompok Spesialis Perampok Gay

Pembunuh instruktur fitnes Sabur akhirnya tertangkap. Pelaku dibekuk di tempat berbeda, salah satunya di Palembang. “Sudah ketangkap 4 hari lalu. Yang menangkap petugas dari Polda Metro,” kata Kapolsek Mampang Kompol Siswono saat dihubungi detikcom, Rabu (2/8/2012). Informasi yang dikumpulkan detikcom, pelaku berinisial AD, PR, dan DD. Otak dari pembunuhan Sabur ini diduga dilakukan oleh PR. PR ditangkap di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Setelah itu polisi menangkap AD di Jakarta Pusat, menyusul DD ditangkap di Palembang.

Sabur awalnya dilaporkan hilang oleh keluarganya, Sabtu (7/7). Warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, kemudian ditemukan tewas di kamar kostnya di Mampang, Jakarta Selatan, Sabtu Para pembunuh instruktur fitnes, Sabur alias Arbi, mencari sasaran pria-pria homoseksual untuk menjadi korban pemerasan. Mereka mencari sasaran di kafe-kafe atau mal-mal.

“Modusnya kalau ada (korban) yang suka sejenis, dikasih umpan sejenis. Kalau (korbannya) suka perempuan, dikasih perempuan,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Toni Harmanto, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (2/8/2012). Bila korban sudah masuk dalam jeratannya, pelaku kemudian akan mengajak korban ke rumah kontrakannya. Untuk menyempurnakan aksinya, para pelaku sengaja menyewa rumah kontrakan untuk jangka waktu yang pendek.

“Rumah kontrakannya itu baru disewa, baru dua hari,” katanya. Jika korban menunjukkan gelagat menyukai pelaku, maka pelaku akan mengajak korban ke rumah kontrakannya untuk berhubungan badan. Saat korban telah telanjang bulat, salah satu pelaku kemudian mengirim pesan singkat kepada temannya untuk datang. “Kemudian teman-temannya ini menggerebek dan mengambil barang-barang milik korban dan korban akan diancam bila melapor ke aparat atau ke warga sekitar,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Helmy Santika mengatakan, para pelaku mengaku telah melakukan aksi pemerasan sedikitnya selama 10 kali. Semua korbannya adalah laki-laki. “Yang sudah-sudah tidak sampai dibunuh karena tidak melawan,” katanya. Hanya saja, korban-korban sebelumnya enggan melapor karena merasa malu. “Ini kan ada keengganan dari korban untuk melapor karena menurut mereka ini adalah aib,” tutupnya.

Pembunuh Sabur alias Arbi (45), instruktur fitnes yang ditemukan tewas di kamarnya di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, berjumlah 6 orang. Empat orang di antaranya berhasil ditangkap dan dua lainnya masih buron. Empat tersangka yang sudah ditangkap yakni HG alias FR (34), ditangkap di atas bus jurusan Merak-Bandung saat melintas di jalan Tol Merak arah Jakarta pada Rabu (25/7).

HG alias FR ditangkap bersama tersangka AS alias AN (23). Kemudian tersangka AL alias DM (38) ditangkap pada Kamis (26/7), di rumah kos Opak Tapa Jl Kayu Manis IV No 60 RT 07/14 Jakarta Timur, dan tersangka DD alias DDG ditangkap di Dusun Tiga, Desa Tirta Kencana, Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Dua orang lagi masih diburu, satu laki-laki dan satu lagi perempuan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Kamis (2/8/2012). Dari keempatnya, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa 2 buah kartu ATM, 2 unit handphone, sepasang sepatu warna biru-putih, selembar lakban bekas pakai, seutas tali rafia, sepotong celana jeans berlumuran darah dan sepotong kaos berkerah warna biru.

Sabur awalnya dilaporkan hilang oleh keluarganya, Sabtu (7/7). Warga Jl Pembangunan IV, Gambir, Jakarta Pusat, kemudian ditemukan tewas di kamar kosnya di Mampang, Jakarta Selatan, Sabtu (14/7).

Terdakwa Pembunuh Raafi Aga Winasya Benjamin Divonis Bebas

Terdakwa kasus penusukan Raafi Aga Winasya Benjamin, Sher Muhammad Febryawan alias Febry, dinyatakan tidak bersalah. Febry dibebaskan dari segala dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

“Dengan ini kami membebaskan dan memerintahkan terdakwa dikeluarkan dari tahanan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Muhammad Razad, dalam pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 31 Juli 2012.

Razad menyatakan Febry, yang sebelumnya dituntut hukuman 12 tahun penjara ini, tidak terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan, pengeroyokan, dan penganiayaan terhadap Raafi.

Raafi Aga merupakan siswa Pangudi Luhur yang terlibat bentrok dengan rekan-rekan Febry di Resto and Lounge Shy Rooftop, Kemang, pada Sabtu, 5 November 2011. Dalam perkelahian itu, Raafi mengalami luka tusuk. Ia meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit.

Mendengar keputusan hakim, Febry, yang mengenakan baju putih lengan panjang dan celana berwarna hitam, mengucap syukur dan langsung sujud di depan kursi terdakwa.

Saat dimintai tanggapan atas vonis tersebut, Febry mengatakan sangat senang dan berterima kasih kepada jaksa. “Saya percaya hukum itu pasti ada,” ujarnya. Saat itu pula keluarga dan kerabat Febry berpelukan.

Ditemui usai persidangan, Febry berharap dengan bebasnya dirinya dapat membebaskan juga empat terdakwa lain yang merupakan rekannya. Mereka, lanjut Febry, tidak terlibat dan harus bebas.

Namun, Febry enggan merinci siapa empat terdakwa tersebut. “Baru sekarang ini saya melihat hukum di Indonesia adil. Saya sudah nyatakan, saya bukan pelakunya,” ujarnya sambil tersenyum. “Allah sangat adil, saya tidak meminta adik-adik saya di 234 SC melakukan tindakan apapun walau mereka telah merebut kebahagiaan saya dan memisahkan saya dengan keluarga saya. Fitnah itu akhirnya terbukti.”

Perampokan dan Pembunuhan Sadis Bapak dan Anak Di Perumahan Griya Satria Jingga Bojong Gede Adalah Anak Umur 14 Tahun

Perampokan disertai pembunuhan sadis terjadi di Bojong Gede, Depok. Jordan (50) dan Edward (22), yang merupakan ayah dan anak dihabisi dengan luka-luka di kepala dan leher. Polisi sudah menangkap pelaku yang ternyata bocah masih berusia 14 tahun yang kemungkinan adalah psikopat muda. Informasi yang dikumpulkan detikcom, Kamis (19/7/2012) pelaku berinisial A dengan rekannya D merampok rumah korban di Bojong Gede karena ingin menguasai harta korban. A mengira Jordan dan anaknya memiliki harta berlimpah sehingga nekat menyatroni rumah korban.

Saat pelaku beraksi, korban melakukan perlawanan. Hingga akhirnya pelaku bertindak kejam dan membunuh korban. Namun pihak kepolisian yang dikonfirmasi soal kasus ini masih belum mau berbicara banyak. Pihak kepolisian hanya menyebut, A masih diperiksa intensif. “Ya masih diinterogasi,” kata Kanit Reskrim Polsek Bojong Gede, Iptu Ibnu. Pelaku ditangkap dini hari tadi sekitar pukul 02.00 WIB. Tidak ada perlawanan yang dilakukan remaja tersebut.

R, anak bungsu korban pembunuhan sadis di Bojong Gede, Yordan diinapkan di kantor Mapolsek Bojong Gede. Polisi butuh keterangannya untuk mengungkap pelaku sambil terus memberinya rasa aman. Dari keterangan polisi, R adalah orang pertama yang menemukan jenazah Yordan (50) dan Edward (20). Saat ini, gadis belia ini sekrarang berada di sebuah ruangan Mapolsek Bojonggede Jalan Raya Tojong, didampingi Kasat Reskrim olresta Depok Kompol Febriansyah. “Kasihan dia menerima kenyataan begini. Kita harus menanyainya secara perlahan-lahan. Kita buat dia senyaman mungkin dulu,” ujar seoran polisi.

Dari pengamatan, gadis belia coklat manis ini perawakan kurus dengan tinggi 140 cm dan berambut ikal panjang sebahu. Mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam, dia hanya diam termangu dengan pandangan mata kosong. Polisi masih mencoba menghubungi ponsel Dina Sutiyem, istri Yordan. Pasangan tersebut mempunyai tiga anak. Sejak ada pertengkaran dengan Yordan, Dina sudah sekitar 2 bulan meninggalkan rumah. Informasi yang detikcom kumpulkan, polisi juga memanggil Buluk, hansip perumahan Griya Satria Jingga, Ragajaya ke Mapolsek Bojonggede. Namun, Buluk masih bertugas sebagai Satpam di PT KAI di Depok. penyidik ingin tanyakan kepada Buluk, apakah dia melihat orang yang mencurigakan ketika malam Selasa itu.

Polisi mencari istri dari korban perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Polisi mencoba menghubungi istri korban tersebut. Namun perempuan tersebut tidak bisa dikontak. “Istrinya menghilang, Karena kita coba hubungi namun tidak bisa,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (18/7/2012).

Hingga saat ini polisi masih terus mencari istri dari korban pembunuhan itu. Diketahui korban bernama Jordan Raturomon (50) dan Edwar (22). “Kita masuh upayakan pencarian untuk dimintai keterangan,” ucapnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Pelaku menggasak uang tunai sekitar Rp 10 Juta, Motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi masih mendalami kasus perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Malam ini polisi akan memeriksa lima orang saksi. Pelaku pembunuhan atas Jordan (50) dan anaknya Edwar (22) diperkirakan lebih dari satu orang. “Lima orang akan kita periksa,” kata Kapolsek Bojong Gede, Kompol Bambang Irianto, kepada detikcom, Rabu (18/7/2012). Bambang menjelaskan polisi saat ini masih berada di lokasi. Saat ini petugas masih mengumpulkan keterangan dari sekitar lokasi kejadian. “Kita coba urai. Kita panggil saksi, saksi korban, saksi yang dengar ada suara motor jam berapa, saksi yang kemungkinan melihat. Masih kita selidiki,” paparnya.

Bambang menduga pelakunya lebih dari satu orang. “Kalau melihat korbannya ada dua orang, kemungkinan pelakunya lebih dari satu orang,” ujarnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Bambang juga menegaskan, bahwa dari rumah korban yang hilang hanya motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi terus mengembangkan penyidikan atas tewasnya Edward alias Edo dan ayahnya Yordan di Bojong Gede, Bogor. Motif aksi keji tersebut masih dicari. Namun sementara beberapa pihak menduga karena utang-piutang.

Sebagai langkah awal menyidik kasus ini, polisi memeriksa istri Edo, Fifi Oktavianus. Wanita muda itu diperiksa oleh tim Reskrim gabungan dari Polda Metro Jaya, Polresta Depok dan Polsek Bojong Gede di rumah korban, Perumahan Griya Satria Jingga di RT 3/14, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat.

Dalam pemeriksaan sementara, Fifi mengaku sudah dua minggu kerap bertengkar dengan sang suami seputar masalah keluarga. Cekcok biasanya dipicu oleh masalah keyakinan. “Karena beda agama, jadi kami kadang suka berantem,” tutur Fifi di lokasi, Rabu (18/7/2012). Dari Fifi, polisi ingin mengumpulkan serpihan-serpihan kasus ini sehingga dapat menemukan siapa pelakunnya. Menurut Fifi, sekitar pukul 00.00 WIB, Selasa (17/7/2012) dirinya masih SMS-an dengan Edo.

“Kalau saya sedang libur kerja, Edo suka mengajak saya jalan. Jadi semalam dia SMS saya ngajak jalan. Dia ingin baikan. Edo belum punya kerja tetap, sekarang kerja jaga internet di Tanah Baru, Kota Depok,” sambungnya.

Selain Fifi, polisi juga meminta ayahnya untuk datang ke Mapolsek Bojong Gede guna menjalani pemeriksaan. Terkait motif peristiwa sadis ini, polisi masih melakukan pengembangan. Namun dari informasi yang beredar di TKP, ada dugaan pembunuhan ini terkait masalah utang piutang. Belum bisa pastikan siapa pelakunya. Tapi ini korban pembunuhan. Bisa jadi utang-piutang atau pun jual beli sepeda motor,” ujar seorang polisi kepada detikcom di lokasi.

Polisi mencari informasi dan sumber terkait untuk merangkai kisi-kisi dari kasus pembunuhan ini. Namun, diduga, pembunuh adalah orang yang kenal dengan korban karena karpet dalam keadaan terbuka layaknya sedang menerima tamu dan duduk bersama di atas karpet.

“Kita masih terus menyidik dan mengumpulkan informasi dari pelbagai pihak. Semua yang kita anggap kenal dan terkait dengan korban perlu kita mintai keterangan,” tambah polisi tersebut. Para tetangga pun menduga kasus ini berkaitan dengan urusan utang piutang motor. “Saya dengar Pak Edo ngomong beberapa hari lalu, dia sekarang sedang rintis usaha jual-beli motor,” ujar Roland tetanggga korban.