Category Archives: pembunuhan

Anak Umur 6 Tahun Dibunuh Dengan Cara Diberi Parfum Kemudian Dimasukan Tong Air Karena Benci

Malang nian nasib Rahayu Noviandini (6), anak pasangan Dian Hadiansyah (35) dan Lilis (30) warga Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Rahayu ditemukan tewas mengenaskan di dalam tong berisi air di rumah tetangganya.

Menurut paman korban, Muhamad Sulaeman (29), sebelumnya Rahayu sempat dikabarkan hilang usai mengaji di masjid yang tak jauh dari rumahnya. ” Korban harusnya sudah pulang mengaji sekitar jam 19.30 WIB, tapi waktu dicari keluarga di masjid, korban tidak ada,” kata Sulaeman, Jumat (8/6/2012).

Akhirnya pencarian Rahayu dilakukan oleh masyarakat setempat. Namun hingga pukul 01.00 WIB tadi, Rahayu tidak kunjung ditemukan. Sekitar pukul 02.30 WIB, tiba-tiba keluarga mendengar jeritan dari rumah tetangga.

“Kemudian kami bersama-sama mendobrak rumah tetangga dan menemukan korban sudah tak bernyawa di dalam tong,” paparnya. Korban selanjutnya dibawa ke RSU dr Slamet Garut untuk dilakukan autopsi. Dugaan sementara Rahayu meninggal akibat dibunuh. Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Mikra Hasibuan SIK, mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan pemeriksaan terhadap Sr (17) yang diduga sebagai pelaku pembunuhan.

“Kita masih melakukan pengembangan pemeriksaan kepada Sr yang diduga pelaku,” ucapnya singkat.Meski belum bisa memastikan adanya unsur kriminal dalam kematian, Rahayu Noviandini (6), bocah asal Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, polisi menyelidiki kejadian itu. Sejauh ini, mereka menunggu hasil autopsi dari RS.

Kasat Reskrim Polres Garut AKP Mikra Hasibuan SIK, mengatakan pihaknya telah memanggil sejumlah saksi untuk data awal proses penyelidikan, mengingat hingga saat ini masih terjadi kesimpangsiuran informasi terkait peristiwa tersebut. Seorang tetangga korban berinisial SR (17) juga diperiksa.

“Yang sedang kita pastikan, apakah korban tewas diracun kemudian ditaruh di tong atau tenggelam di dalam tong air,” kata Mikra kepada wartawan, Jum’at (8/6/2012). Untuk memastikan kematian korban, polisi juga masih menunggu hasil autopsi dari pihak RSU dr Slamet Garut. “Ya, kalau sacara kasat mata dari bagian mulut dan hidung korban keluar busa,” ungkap Mikra. Sebelumnya, korban yang merupakan anak pasangan Dian Hadiansyah (35) dan Lilis (30) tak pulang ke rumah pada Kamis (7/6) malam. Ia kemudian ditemukan tewas mengenaskan di dalam tong berisi air di rumah tetangganya.

Hanya gara-gara benci, Sr (17), warga Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Jawa Barat, tega membunuh tetangganya yang masih berumur 6 tahun. Bocah itu diracun dan jasadnya dimasukkan dalam tong air. Waka Polres Garut Kompol Legawa Utama mengatakan, Sr sakit hati kepada korban yang sering mengajak adiknya bermain, sehingga adik tersangka sering membantah jika diperintah oleh tersangka. “Jadi adik tersangka lebih menurut korban. Tersangka sakit hati,” ujar Legawa kepada wartawan, Jum’at (8/6/2012).

Untuk proses pemeriksaan berikutnya, pihak Polres Garut akan mendatangkan psikolog untuk memeriksa kejiwaan tersangka. Polisi ingin memastikan tersangka mengalami kelainan atau tidak. Menurut Legawa, pihaknya menjerat tersangka dengan pasal 338 KUHP subsider pasal 340 dan pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup. Rahayu Noviandini (6) ditemukan tewas mengenaskan terendam air di dalam tong di kamar mandi rumah tersangka. Sebelum dimasukan kedalam tong air, tersangka juga meracuni korban dengan parfum hingga korban tak berdaya.

Warga kesal terhadap kelakuan Sr. Mereka merusak dan bahkan hampir membakar rumah Sr. Beruntung petugas Polsek Leuwigoong segera tiba rumah tersangka dan menenangkan warga. Diiringi isak tangis kedua orang tua, Dian Hadinsyah (35) dan Lilis (30), jenazah Rahayu Novindini (6), korban pembunuhan sadis akhirnya dimakamkan di pemakaman umum Kampung Patrol, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Jawa Barat, Jum’at sore ini. Keluarga minta pelaku dihukum mati.

Puluhan pelayat baik sanak saudara maupun tetangga dekat, menitikan air mata mengantar kepergian Ayu, sapaan akrab Rahayu. Sedangkan sang ayah almarhum, Dian Hadiansyah, mengaku sangat terpukul atas peristiwa tersebut. Sebelum peristiwa yang merenggut nyawa anaknya, tidak ada pirasat buruk apapun.

“Hanya saja waktu pencarian, sekelebat saya sempat melihatnya. Bahkan mendengar suaranya memanggil nama saya,” ucap Dian sambil menitikan air mata. Hal yang sama disampaikan kakek korban, Atang (56). Saat melakukan upaya pencarian, dirinya melihat bayangan cucunya di tembok rumah tersangka. “Sehingga waktu itu, kami bersama warga mendobrak pintu rumah tersangka. Hasilnya memang benar, hanya sayang Ayu sudah meninggal,” paparnya sambil menghela napas panjang.

Pihak keluarga meminta aparat kepolisian untuk mengusut kasus tersebut hingga tuntas serta berharap tersangka dihukum dengan hukuman yang setimpal. “Kalau bisa dihukum mati!” tandas Atang.

Anak Bunuh Bapak Kandung Karena Kesal Tidak Diberikan Warung Untuk Menafkahi Istri Keduanya

Pria satu ini bisa disebut anak durhaka. Ia sampai hati membacok kepala ayah kandungnya di kamar rumahnya di Beji, Depok, Rabu (23/5) dinihari. Tindakan keji ini dipicu rasa kecewa karena warung yang dibangun ayahnya bukan diberikan padanya untuk menafkahi istri keduanya melainkan disewakan ke orang lain.

Usai melampiaskan rasa kesalnya, Imron Rosadi, 36, langsung pergi meninggalkan ayahnya, Masri Muhammad yang tergeletak bersimbah darah di lantai kamar mandi rumah di Jl. Karet , Pondok Cinda, Beji. Beruntung, tetangga mendengar kegaduhan itu cepat berdatangan.

Dalam kondisi kritis, tubuh bapak delapan anak tersebut dibopong tetangga lalu dilarikan ke RS Mitra Keluarga, Depok. Tetangga juga membekuk Imron yang masih memegang clurit bernoda darah.

Dini hari itu, sekitar Pk. 02:00, Masri seorang diri di rumah karena istrinya tengah menginap rumah salah satu dari delapan anaknya. Ia terbangun dari tidur lalu pergi ke kamar kecil di belakang rumah.

Mendadak, Imron datang. Anak kelima Masri yang sudah tiga minggu minggat dari rumah, masuk menggunakan kunci cadangan. Pria beristri dua yang memberinya enam anak itu langsung mencari bapaknya. Mengetahui Masri ada di kamar mandi, Imron yang emosi mendobrak pintu.

Tanpa banyak bicara Imron mengayunkan clurit ke kepala bapaknya. Masri berteriak kesakitan lalu ambruk berdarah-darah. Tetangga pun berdatangan, sebagian meringkus Imron yang lainnya melarikan korban ke rumah sakit. Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Cahyo Putra Wijaya bersama anggotanya datang ke rumah itu meringkus Imron. Clurit yang dipakai untuk menganiaya Masri disita.

KESAL SAMA BAPAK
Menurut Iptu Cahyo Putra Wijaya, saat dibawa ke kantor polisi tercium bau alkohol dari mulut tersangka. “Kami belum bisa meminta keterangan korban karena kondisinya belum memungkinkan,” katanya. Tersangka dijerat dengan pasal pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Undang-Undang Darurat Tahun 1951 karena kedapatan membawa senjata tajam.

Dalam pemeriksaan Imron mengaku kecewa dan kesal sama bapaknya karena warung yang didirikan di tanah orang tuanya itu semula dijanjikan akan diberikan padanya. “Tapi setelah saya merapikan warung, tiba-tiba saja bapak mau menyewakan ke orang lain,” ungkap Imron. “Padahal saya sudah menyiapkan warung itu untuk tempat dagang istri kedua.”

MERTUA DIJOTOS MENANTU
Kekerasan dalam keluarga juga dilakukan Amaluddin, 28, di rumahnya di Kampung Dukuh, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (22/5) malam. Ia menghajar ibu mertuanya, Maryam Sadeli, 55, lantaran kesal ditegur karena sering menganiaya istri.
Maryam yang bibirnya jontor dan hidungnya berdarah, melapor ke Polsek Kebayoran Baru. Amaludin pun digelandang ke kantor polisi, setelah sempat dihakimi massa. Menurut Maryam, menantu pengangguran itu memang tinggal bersamanya. Maryam tak senang anaknya, Fatimah, 26, sering dianiaya hingga ia sering menasihati Amaludin.

Rupanya bapak dua anak ini tersinggung hingga ibu mertuanya dijotos. Amaludin sempat mau kabur, tapi keburu dibekuk massa. ”Dia mau kabur dan sudah mengambil golok tapi kami menangkapnya lalu membawa ke kantor sekretariat RW,” kata Heri, warga.

Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Hamdan Maulana, mengatakan pelaku bisa dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. “Kami masih memeriksanya,” ujar kapolsek.

Bos Penyedia Jasa Keamanan Red Guard Bandung Ditembak Mati Didepan Rumah Mertua

Puluhan kerabat dan teman bos Red Guard, Husein Witarja,40, hingga Jumat sore masih bekumpul di kamar jenazah RSHS Bandung. Ternyata, tewasnya bos penyalur satuan pengamanan (Satpam) di bawah bendera Red Guard itu mengejutkan berbagai kalangan.

“Kami sangat terkejut kalau si bos tewas ditembak mati pria misterius,“ kata seorang Satpam dari Red Guard.
Dia menjelaskan, korban semasa hidupnya lebih aktif dalam mendirikan lembaga outsourcing dalam tenaga Satpam (security). “Kami sebelumnya sempat ketemu dan almarhum baik baik saja, “ ungkapnya lagi.

Korban Husein ditembak mati pria misterius saat memarkir mobil Land Cruiser nop D 1 EB di grasi rumah mertuanya di Jalan Kapten Tendean 42 Hegarmana Bandung.

Dua butir peluru yang ditembakan pelaku dari dalam kendaraan Avanza hitam bersarang di dada korban hingga tembus punggung dan jantung. Dalam kondisi luka tembak sempat ngejar pelaku sejauh 100 meter. Di tengah perjalanan korban tewas dan kendaraannya menabrak seng pembatas jalan.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Abdul Rachman Baso, menyebutkan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kasus penembakan terhadap pengusaha Red Guard yang berkantor di Jalan Kebon Kawung Bandung. “Korban pengusaha dan rumahnya masih di Hegarmanaj Bandung. Kami mengamankan barang bukti berupa dua slongsong,“ ujarnya.

Diberitakan bos Red Guard tewas ditembak mati pria misterius Jumat siang. Korban ditembak saat mengemudi mobilnya di grasi rumah mertuanya di Jalan Kapten Tendean atau 100 meter menuju kompleks Secapa TNI.

Polisi kini masih menyelidiki pelaku termasuk motif dibalik penembakan tersebut.

Anak Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Katolik Parahyangan Koerniatmanto Soetoprawiro Tewas Saat Mencoba Menangkap Perampok Rumahnya

Harindaka Maruti (20) tewas ditembak oleh empat pencuri yang baru saja beraksi di rumah keluarganya, Jumat (20/4) siang. Korban adalah putra bungsu dari Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Katolik Parahyangan, Koerniatmanto Soetoprawiro.

Harindaka yang selalu disapa Hari meninggal dunia akibat luka tembak senjata laras pendek kaliber 22 di ketiak kanan yang tembus hingga badan sebelah kiri. Dia sempat dilarikan ke Unit Gawat Darurat RS Borromeus, Bandung, tetapi nyawanya tidak tertolong. Jenazah kemudian diotopsi ke RS Hasan Sadikin, Kota Bandung.

”Saya yakin pelakunya pasti tertangkap. Dia harus tertangkap sebagai pembuktian atas tindakannya,” kata Koerniatmanto sewaktu ditemui di UGD Borromeus, Jumat.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (20/4) sekitar pukul 13.00. Menurut kronologi dari petugas Kepolisian Resor Kota Besar Bandung, rumah Koerniatmanto dimasuki tiga pencuri sekitar pukul 10.00 dan kabur dengan membawa satu laptop dan uang 6.000 dollar AS. Saat peristiwa terjadi, rumah sedang kosong, sementara pembantu sedang berada di warung yang terletak tidak jauh dari rumah. Pembantu hanya sekilas melihat kawanan pelaku yang kabur seusai beraksi.

Hari dan kakaknya, Danandaka Mumpuni (25), yang datang setelah mendapat laporan pembantu rumah, berinisiatif mengejar pelaku menggunakan sepeda motor. Sekitar pukul 13.00, mereka mendapati seseorang yang membawa tas laptop yang mirip dengan milik mereka yang hilang, berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Hari langsung mengonfrontasi mereka.

Dalam pergumulan itu, tiba-tiba salah satu dari pelaku mengeluarkan pistol dan menembaki Hari sehingga Hari jatuh tersungkur. Kakaknya langsung mengangkat tangan sehingga tidak sampai mengalami nasib serupa. Sepeda motor yang dibawa Hari juga dirampas pelaku karena salah satu sepeda motor pelaku tidak bisa dijalankan.

Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Abdul Rakhman Baso mengatakan, pihaknya mewaspadai peningkatan aktivitas pencuri spesialis yang mengincar rumah kosong seperti milik Koerniatmanto. Dia berjanji mengintensifkan patroli kepolisian di tingkat polres maupun polsek.

Penggunaan senjata api dalam aksi kriminalitas tersebut hampir mirip dengan kejadian yang berlangsung sehari sebelumnya, Kamis (19/4). Seorang istri perwira TNI yang ditembaki perampok yang mengincar uang sebesar Rp 200 juta yang dibawanya. Anehnya, kejadian tersebut masih berlangsung di dalam kompleks perumahan militer.

Abdul Rakhman memastikan bakal mengevaluasi peredaran senjata api gelap di Kota Bandung. ”Berdasarkan selongsong peluru dari dua kejadian itu, senjata yang digunakan dipastikan beda jenisnya,” ujarnya.

Terguncang

Meninggalnya Hari membuat keluarga Koerniatmanto terguncang. Korban tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2010 pada Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Ruang tunggu UGD RS Borromeus dipadati para kerabat Koerniatmanto maupun teman kuliah Hari yang datang menyatakan ungkapan belasungkawa. Mereka mengecam keras tindakan kriminalitas itu dan mendesak polisi menangkap pelaku.

Istri Koerniatmanto, Ny Theodora Suwinarni, dikerubuti kerabat yang berusaha menghiburnya. Koerniatmanto mendampingi pemeriksaan jenazah Hari di ruang resusitasi hingga menuju RSHS. Danan, kakak korban, berada di rumah karena dimintai keterangan polisi.

Rumah Koerniatmanto, Guru Besar Ilmu Hukum Tatanegara Unika Parahyangan, yang kebobolan pencuri, ternyata merupakan rumah tanpa pagar. Rumah tersebut berbeda dengan tetangganya yang sudah memasang pagar di depan rumahnya.

Berdasarkan pemantauan Kompas, Jumat (20/4/2012), rumah Koerniatmanto yang terletak di Jalan Cigadung Endah tidak memasang pagar di depan rumahnya. Rumahnya terlihat kontras bila dibandingkan dengan rumah di seberangnya dengan pagar tinggi. Dari jalan menuju rumah, selain ke pintu depan juga bisa melalui garasi yang ditutup dengan pintu kayu.

Rumah Koerniatmanto dibobol sekawanan pencuri berisi empat orang dan membawa kabur satu unit laptop dan uang dollar sebesar 6.000 USD. Akibat kejadian tersebut, anak bungsunya, Harindaka Maruti (20) berinisiatif mengejar pelaku tapi malah tewas karena ditembak pelaku yang mempertahankan barangnya.

“Desain awal perumahan di sini memang tanpa pagar, tapi lambat laun tetangga mulai memasang pagar,” ujar pengajar di UK Parahyangan, Asep Warlan Yusuf yang tinggal tidak jauh dari sana.

Disinggung mengenai kondisi rumah Koerniatmanto, Kapolrestabes Bandung, Komisaris Besar Abdul Rakhman Baso, tidak menyalahkan pemilik rumah. Dia hanya meminta agar tenaga pengamanan rumah lebih intens menggelar patroli di sekitar rumah.

Aparat kepolisian dikabarkan menahan empat orang pelaku yang diduga terlibat dalam penembakan Harindaka Maruti (20). Dia adalah anak bungsu dari Guru Besar Ilmu Hukum Tatanegara Universitas Katolik Parahyangan, Koerniatmanto Soetoprawiro.

Hingga berita diturunkan, Bidang Humas Polda Jawa Barat mengumumkan bahwa mereka akan menunjukkan pelakunya di Mapolda Jabar siang ini.

Harindaka meninggal dunia setelah ditembak pencuri yang baru saja membobol rumahnya dan membawa lari satu unit laptop dan uang asing 6.000 USD tanggal 20 April 2012. Dia ditembak saat merebut tas laptop dari pelaku.

Saat dilarikan ke UGD Santo Borromeus, nyawanya tidak tertolong. Polda Jawa Barat menunjukkan empat tersangka kasus pencurian disertai penembakan terhadap Harindaka Maruti pada tanggal 20 April 2012. Mereka adalah kawanan pencoleng yang sudah sering beraksi.

Inisial empat pelaku itu adalah HDR, MEI, ARD, dan AN. Semuanya mengenakan penutup kepala dan salah satu diperban kakinya. Masih ada tiga nama yang masih diburu, yaitu RZ, SRF, dan KK.

Dari tangan pelaku, kepolisian menyita dua pucuk senjata api, yaitu berjenis revolver dan FN. “Kami masih harus menjalani uji terlebih dahulu untuk memastikan apakah senjata tersebut rakitan atau organik,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Martinus Sitompul, Kamis (3/5/2012).

Berdasarkan penuturan para tersangka, RZ adalah orang yang diduga menghabisi Harindaka. Para pelaku ditangkap dari Palembang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung.

MEI, salah satu tersangka pencuri rumah Koerniatmanto Soetoprawiro, mengatakan, penembakan terhadap Harindaka dia lakukan karena putra bungsu Koerniatmanto itu bersikeras merebut tas laptop dari tangan temannya. Hariandaka pun ditembak hingga roboh bercucuran darah.

Demikian dikatakan MEI saat digelandang di halaman Mapolda Jawa Barat, Kamis (3/5/2012). Dia ditangkap bersama tiga tersangka lainnya, yaitu HDR, ARN dan AN.

“Apa hak kamu buka tas kami,” ujar MEI menirukan perkataan komplotan saat Harindaka berupaya merebut tas laptopnya.

Dia mengungkapkan, HDR dan RZ yang kini masih buron kemudian menodongkan pistol ke arah Harindaka, meminta agar dia menyerah. Sayangnya dia tetap maju sehingga salah satu pistol itu akhirnya menyalak dan pelurunya menembus ketiak kanan hingga tembus ke tubuh sebelah kiri.

MEI beralasan, menembak Harindaka terpaksa dilakukan. Kalau tidak, mereka bakal tertangkap.

Model Cantik dan Siswi Berprestasi Tewas Diduga Diracun Teman Karaoke

Siswi SMKN 1 Kota Bogor tewas diduga karena diracun.Korban sempat dirawat di RS Salak Bogor, Minggu (29/4) sore.Kasus ini baru dilaporkan keluarga korban ke Polres Bogor Kota, Rabu (2/5). Pasalnya keluarga korban mendapat informasi diduga kuat pelajar jurusan akutansi kelas 1 ini diduga diracun.

Maudila Sujanti ,15, siswi berprestasi di kelasnya. Bahkan semasa sekolah SMPN 10, ia adalah juwara dengan nilai yang sangat memuaskan. Korban juga adalah seorang model lokal Bogor. Anak pasangan Jajat Supriyatna 43, dan Suminarti 40, ini mengalami kelainan usai pulang karoke di satu tempat hiburan di kawasan PGB bersama Me 15, dan dua teman prianya.

Di ruangan karaoke, anak karyawan perusahaan peternakan ini mencoba menenggak minuman yang dituangkan temannya. Namun karena merasa yang diminum, kurang bagus, ia lalu menolak minum lagi. Namun saat iturekannya kembali menuangkan minuman kedalam gelasnya.

Korban yang menolak, lalu dipaksa temannya. Diduga, minuman yang diperuntukan buat korban, telah ditaburi racun. Korban yang dalam kondisi sekarat, lalu dibawa ke satu kamar hotel. Namun tidak terjadi perbuatan asusila dalam kamar. Hal ini karena kondisi korban sudah semakin tidak sadarkan diri. Korban oleh rekannya, lalu dibawa pulang. Namun karena terus menurun kondisi fisiknya, ia lalu dibawa keluarganya ke RS Salak. Nasib berkata lain, ia akhirnya meninggal setelah sempat dirawat selama tiga hari di rumah sakit milik TNI AD ini.

Ibu korban Suminarti menuturkan, sesaat setelah pulang sekolah Jumat 27/4) sore, anak sulung dari dua anaknya itu berpamitan padanya. Katanya mau bermain ke rumah Me, temannya. Saat pergi, anaknya terlihat sehat. Menjelang malam, dirinya risau, karena korban belum juga pulang kerumah di Jalan Pancasan Atas RT 01/06 Kelurahan Pasir Jaya Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Upaya pencarian dilakukan, namun tidak mendapat hasil.

“Dia baru pulang Sabtu (28/4) sekitar pukul 15.00. Kondisinya sudah parah karena tidak sadarkan diri. Kami lalu bawa ke rumah sakit,” kata Suminarti. Ibu korban mendapat informasi, jika anaknya di inapkan di sebuah penginapan di Jalan Soleh Iskandar, Kecamatan Tanah Sereal Kota Bogor. Keterangan Me, Jumat ia bersama MS diajak De dan So berkaraoke di Jalan Merdeka, Bogor Tengah. Di dalam ruangan, MS diminta untuk meminum minuman keras.

“Karena sudah tidak sadar diri, Didan So menginapkan kami di penginapan,”kata Me kepada petugas. Ayah korban, mengaku, keputusan keluarga membawa ke rumah sakit, karena anaknya terus muntah serta pusing dan kondisi fisiknya terus menurun. “Dia mengeluh jantungnya sakit. Karena kami awam, makanya kami bawa untuk ditangani medis, guna mencari penyebab rasa sakit tersebut,” kata Jajat.

Menurutnya, semula keluarga enggan lapor polisi, karena menduga anaknya sakit biasa. Namun setelah yakin ada kejanggalan yang mengakibatkan nyawa anaknya tidak tertolong, mereka lalu melapor. Surat laporan bernomor : LP/419/V/2012/Jbr/Polres Bogor Kota, kini dalam penyelidikan penyidik.

“Jenasah sudah diotopsi. Kami masih menunggu hasilnya. Namun saya tidak iklas anak saya meninggal karena penyebab lain, apalagi diracun,” kata Jajat. Kapolres Bogor Kota, AKBP Hilman menuturkan, pihaknya sedang mendalami keterangan saksi, termasuk Me, orang terakhir yang bersama korban baik saat di tempat karaoke atau di kamar hotel.

Sementara dua teman pria korban, kini masih terus didalami keterangannya. Mereka masih berstatus saksi. Kapolres Hilman berjanji, akan mengusut tuntas kematian pelajar yang juga model lokal Bogor yang memiliki tinggi bada 170 Cm ini.

“Apabila korban meninggal karena diracun, maka ini sudah ada perencanaan awal oleh pelaku. Manajemen karaoke juga akan kami mintai keterangan, guna mencari tahu siapa yang memesan minuman termasuk sudah dibuka atau belum minuman itu sebelum diantar keruangan,”tandas Kapolres Hilman

Satpam Apartemen Crown Court Executive Cikarang Bekasi Bunuh Penghuninya Sendiri

Anengsih alias Dini pergi tak kembali. Wanita yang hidup bersama WN Jepang itu dibantai di kamar Apartemen Crown Court Executive, Cikarang, Bekasi. Di tubuh korban bersarang 27 tikaman senjata tajam. Pembunuhan sadis itu terjadi Selasa (3/4) malam. Dini ditemukan menjadi mayat di depan pintu kamar mandi apartemen yang dihuninya bersama Kamijo Hisa Nori. Petugas Polres Kabupaten Bekasi yang menangani kasus ini menyita sebuah sangkur bernoda darah.

Dua minggu kemudian, polisi mengungkap kasus ini. Pelakunya adalah AP, 25, yang bekerja sebagai satpam . Tersangka AP ditangkap di tempat persembunyiannya di Jalan Suntai, Pekanbaru, Riau. Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Drs Toni Hermanto, didampingi Kasat Reskrim Polres Kabupaten Bekasi, Kompol Dedy Murti, menjelaskan, tersangka AP merupakan satpam di Apartemen Crown Court Executive, Cikarang. “ Saya sakit hati karena sering diperlakukan kasar,” ujar Kombes Toni, mengutip alasan pelaku membunuh, Selasa (2/5) siang.

Dalam pemeriksaan tersangka mengaku perlakuan kurang baik korban membuatnya kerap memperlambat menyerahkan setiap paket yang dikirim kerabat korban ke kamar apartemennya. Hal ini membuat wanita itu bertambah kesal lalu memarahinya hingga tersangka menyimpan dendam. Selain meringkus AP, sambung Kompol Dedy Murti, disita barang bukti berupa sangkur, kartu ATM BCA, STNK Toyota Fortuner, dan uang 10.000 Yen serta 1 Ringgit Malaysia. Selain itu disita juga perhiasan emas milik korban. Kartu sekuriti AP dari PT Gunung Rimba Bonanza Jaya juga disita.

MEMINTA MAAF
Pembunuhan dilakukan AP dengan mendatangi korban di kamarnya. Ia berpura-pura meminta maaf dan minta penjelasan alasan korban tak menyukai dirinya. Tersangka juga memohon pada korban untuk tak mengadukan masalahnya yang kerap menunda penyampaian paket barang ke korban pada atasannya karena ia khawatir dipecat. “Tapi setelah berpura-pura jadi tamu, ia malah membunuhnya,” kata Kompol Dedy. Di samping itu, polisi juga mendapati AP terekam CCTV berada di lantai dasar dan lantai tujuh, waktu korban tewas. Dalam rekaman terlihat gerak-gerik pria itu mencurigakan.

Lagi … Mayat Perempuan Telanjang Ditemukan di Belakang Gor Unesa

Sesosok mayat perempuan telanjang ditemukan kaku di belakang Gor Unesa Lidah Wetan. Jasad tersebut ditemukan hanya menggunakan bra berbintik merah dan putih pagi tadi, Sabtu (28/4/2012).

Sekitar pukul 06.30 WIB, Zaini Masturi (49) seorang petani Dusun Bangi, Lemahan Kayan Lor Kediri menemukan mayat tersebut dalam keadaan terlentang. Pria sehari-hari penjual korden ini kaget dan langsung melapor ke kantor satpam Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Zaini pertama mencium bau busuk, setelah dicari ternyata ada mayat dan lapor satpam unesa” kata Kapolsek Lakarsantri, Kompol Kuncoro, Sabtu (28/4/2012).

Berdasar olah tim identifikasi sementara, kematian jenazah perempuan ini terjadi sebelum kejadian pembunuhan Ayu Cahyawati (19) di lokasi yang tidak berjauhan pada Selasa (23/4/2012) lalu.

“Kalau melihat kondisi mayat, kejadian ini diperkirakan sebelum kasus pembunuhan Ayu terungkap,” terangnya.

Kini jenazah perempuan yang masih belum diketahui identitasnya itu dibawa ke kamar mayat RS Bhayangkara Mapolda Jatim.