Category Archives: pembunuhan

Pembunuh Suwantji Sisworahardjo Dosen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia Adalah Keponakannya Utomo

Pembunuh Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia akhirnya terungkap, Selasa (17/4/2012) tengah malam. Tersangka adalah orang terdekat, yakni keponakan almarhumah sendiri, Utomo S. Kepala Polrestro Tangerang Kota Komisaris Besar Wahyu Widada membenarkan penangkapan itu, Rabu (18/4). Penangkapan dilakukan di Jalan Gajah Pungkur, rumah salah satu keluarga.” Penangkapan dilakukan semalam, sekitar pukul 23.00. Tersangka tidak melakukan perlawanan sama sekali,” kata Widada. Humas Polrestro Tangerang Kota Komisaris Manurung mengatakan, penangkapan itu dilakukan melalui pendekatan secara kekeluargaan. Saat itu tersangka mengaku perbuatannya dan menyerahkan diri ke polisi. “Polisi menyita saputangan tersangka yang diduga dipakai untuk menjerat leher korban,” kata Manurung.

Seperti diberitakan, Suwantji yang juga salah seorang pendiri Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI ditemukan tewas di kediamannya, Minggu sore oleh adik bersama anak adik korban dan tetangga. Sosok mayatnya ditemukan sudah membengkak dan biru terduduk dan bersandar di ruang teras belakang. Hasil otopsi dokter forensik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang menyatakan, korban meninggal akibat pendarahan di bagian kepala. Luka di kepala akibat pukulan benda tumpul sehingga menyebabkan pendarahan. Pendarahan dalam kepala ini yang diduga menyebabkan kematian. Pada tubuh korban, lengan kiri terdapat luka goresan di lengan kiri. Dari hasil itu juga, korban mengalami patah rusuk dan tulang lidah tenggorokan.

Hasil otopsi dokter forensik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang menyatakan, Suwantji Sisworahardjo (73) meninggal akibat pendarahan di bagian kepala. “Luka di kepala akibat pukulan benda tumpul sehingga menyebabkan pendarahan. Pendarahan dalam kepala ini yang diduga menyebabkan kematian,” kata dokter spesialis forensik Zulhasmar Samsul kepada wartawan di RSUD Tangerang, Senin (16/4/2012).

Pada tubuh korban, terdapat luka goresan di lengan kiri. Dari hasil itu juga, korban mengalami patah rusuk dan tulang lidah tenggorokan. Seperti diberitakan, Suwantji, dosen di Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia (UI) ditemukan meninggal di rumahnya Minggu sore oleh adik, keponakan, dan tetangganya. Sosok mayatnya ditemukan sudah membengkak dan biru terduduk dan bersandar di ruang teras belakang.

Suwantji Sisworahardjo (73), dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) diduga dibunuh, Jumat (13/4) malam. Sosok mayatnya ditemukan sudah membengkak dan biru di ruang teras belakang, Minggu (15/4/2012) sore. “Sewaktu ditemukan kondisi korban terduduk di lantai dan tubuhnya bersandar di dipan. Tangan kiri terletak di atas kasur dipan,” kata Sumartopo (62), tetangga depan rumah korban yang bersama adik korban pertama kali menemukan korban. Korban ditemukan sekitar pukul 16.30 dan selanjutnya pihak keluarga melaporkan ke pengurus RT setempat. Kemudian pengurus RT melaporkan ke polisi. “Polisi datang setelah magrib dan langsung melakukan olah TKP,” kata Sumartopo.

Menurut Sumartopo, Minggu sore itu adik korban, Kurniawan bersama anaknya datang ke rumah korban. Sebelum masuk ke rumah, mereka mendatangi rumah Sumartopo. “Kebetulan istri saya yang bertemu dan berbincang-bincang dengan Kurniawan dan anaknya. Katanya, Bu De (demikian tetangga memanggil korban) dikontak sejak Jumat enggak ada jawaban. Minggu itu ada rencana acara kumpul keluarga, tapi enggak datang,” kata Sumartopo.

Semasa hidupnya, Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Universitas Indonesia (UI) yang ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Kalpataru Nomor 28, RT 05/ RW 07 Komplek Larangan Indah, tidak sembarangan menerima tamu, termasuk mahasiswa FISIP UI, di rumahnya. “Bu de (panggilan almarhumah) tidak pernah mau menerima tamu ke rumahnya. Bahkan, mahasiswa yang membutuhkan tanda tangan dan bimbingan dari almarhumah tidak pernah diterima. Ia hanya menerima tamu dari pihak keluarga dekat saja,” cerita Iwan Pratama, tetangga bersebelahan dengan rumah korban kepada Kompas di rumah duka, Senin (16/4/2012).

Iwan menceritakan, pernah sekali waktu, seorang mahasiswa datang ke rumah korban membawa sebundelan kertas mirip skripsi. “Mahasiswa itu sudah lama menunggu di luar rumah. Saya samperin dia dan menyuruh dia pulang. Saya bilang, biar saya terima bundelan itu dan buat tanda terimanya. Saya yang bertanggungjawab kalau ibu marah,” kata Iwan.

Besok paginya, lanjut Iwan, korban sedang menyapu di halaman rumahnya. “Saya langsung tegur bu de dan menyampaikan bundelan. Saya bilang, bu de, jangan marah ke mahasiswanya ya. Kalau marah, ke saya. Saya kasian mahasiswa itu karena dia punya anak dan istri yang menunggu lama di rumah hanya gara-gara menunggu bu de,” jelas Iwan. Hal itu tidak membuat korban marah. Malah dengan senang hati menerima bundelan tersebut. Seperti diberitakan, Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Universitas Indonesia (UI) ditemukan tewas di kediamannya, Minggu (15/4). Saat ini jenazah masih diotopsi di RSUD Tangerang, Kota Tangerang.

Hingga pukul 09.30 tadi, jenazah Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Universitas Indonesia (UI), masih di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang. “Rencana jam 09.00 ini jenazah akan diotopsi. Setelah dimandikan dan dikafani, akan dibawa ke rumah duka. Belum tahu jam berapa akan dibawa ke rumah,” kata Tiwi, salah seorang keponakan menantu almarhumah di rumah duka, Senin (16/4/2012).

Iwan Pratama, tetangga bersebelahan rumah korban mengatakan, jenazah dibawa keluar dari rumah duka ke RSUD Tangerang pukul 21.00. “Setelah dibawa keluar rumah dan masuk ke dalam ambulans. Ambulans tidak langsung jalan. Mungkin ada 30 menit baru jalan,” kata Iwan. Direncanakan, kata Iwan, setelah diotopsi, dimandikan, dan dikafani, jenazah dibawa ke rumah duka dan selanjutnya setelah disemayamkan akan dibawa ke Masjid Muhajirin, Larangan Indah. Selanjutnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Universitas Indonesia (UI) yang meninggal di rumahnya di Komplek Larangan Indah, Kecamatan Larangan, Minggu (15/4/2012) malam, diketahui sudah hampir 10 tahun tinggal sendirian di rumahnya. “Saya tidak tahu persis berapa lama almarhumah tinggal di rumah ini. Almarhumah tidak menikah dan tinggal sendirian di rumah ini,” kata Tiwi, salah satu keponakan menantu yang ditemui Kompas di rumah duka, Senin (16/4/2012). Sebelum tinggal di Larangan, kata Tiwi, almarhumah tinggal di rumah ibunya (almarhum) di Kebalen, Jakarta Selatan. Saat ini, di rumah duka di Jalan Kalpataru Nomor 28, RT 05/ RW 07 sudah mulai berdatangan para pelayat baik dari pihak keluarga, tetangga, dan alumni FISIP UI.

Gadis ABG Umur 17 Tahun Pura Pura Jatuh Cinta dan Mau Diajak Kencan Kemudian Bunuh Pasangannya Karena Ingin Kuasai Sepeda Motornya

Wanita ABG, berusia 17 tahun, ditangkap Tim Buru Sergap Polres Karawang, terlibat pembunuhan, Beben Salehudin, 20, warga Kampung Sukajaya, Desa Anggadita, Rabu (28/3). Dia berperan merayu dan berpura- pura mencintai korban, sehingga korban mau diajak kencan ke lokasi wisata Danau Cipule.

Mayatnya Beben Salehudin, ditemukan tiga hari kemudian dalam keadaan terapung dan diganduli batu seberat 25 Kg, di Danau Cipule, Karawang, Jawa Barat. Pelaku menceburkan korban ke danau setelah kepalanya dipukul kayu, dibacok lengan kanannya juga tubuhnya diganduli batu.

Tim Buru sergap Polres Karawang, selain menangkap Siti Wahyuni, 17, warga Kampung Waringin Desa Kutapohaci, Ciampel, juga menangkap Taryat alias Sableng, 22, warga Pasir Muncang Desa Mulyasari Ciampel, Karawang, Selasa (10/4) petang di rumahnya masing-masing. Sedangkan satu pelaku lainnya AS, masih diburu polisi.

Kapolres Karawang, AKBP. Arman Achdiyat, SIk, MSi, melalui Kabag Humus Polres Karawang, AKP. Suyitno, Kamis (12/4) mengungkapkan, ketiganya membunuh korban pada Rabu (28/3) pukul 18.30 WIB di tepi Danau Cipule. Sedangkan motif sementara ini mereka baru mengakui hanya untuk menguasai sepeda milik korban.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, korban (Beben) pada hari itu mau diajak kencan oleh Siti Wahyuni, di sekitar Danau Cipule, karena korban merasa pelaku itu adalah pacarnya. Ternyata malah bertepuk sebelah tangan, Siti ternyata sudah merencanakan merampas motornya dibantu dua pelaku lainnya yaitu Taryat dan AS.

Taryat dan AS alias Cepot, tidak lama kemudian tepatnya pukul 18:30, datang ke tempat kencan korban dan Siti di tepi Danau Cipule, setekah Siti, memberitahu keberadaannya saat itu, melalui pesan singkat (SMS) kepada kedua rekannya tersebut.

Kedua pelaku yang mengendarai sepeda motor sampai di lokasi (TKP), mendatangi Beben dan Siti yang sedang duduk dekat motor di tepi danau, korban langsung dipukul AS alias Cepot menggunakan kayu, korban dalam keadaan tak berdaya, lalu Taryat, membacok korban menggunakan golok yang dibawanya dari rumahnya itu, tak puas hanya dibacok tangannya oleh Taryat, lalu AS, meraih golok yang sudah diletakkan di tanah dekat tubuh korban, kemudian dibacokkan lagi ke punggung korban.

Saat korban tak sadarkan diri, pelaku mengikat tubuh korban menggunakan tambang plastik yang disatukan dengan batu belah yang beratnya sekitar 25 Kg yang diambilnya dari tepi danau, selanjutnya korban diceburkan, tenggelam ke kedalaman air danau belasan meter, tiga hari kemudian mayatnya ditemukan warga setempat dalam keadaan terapung .

Dari tangan pelaku, petugas menyita barang bukti, satu sepeda motor Honda Blade, milik pelaku, sebilah golok, dua HP, sepasang anting-anting, karung, tambang plastik dan batang kayu yang digunakan membunuh korban. Sedangkan sepeda motor korban diduga dibawa kabur AS

Pengeroyokan Berantai Anggota Geng Motor Diduga Sebagai Balas Dendam Atas Kematian Anggota TNI AL Yang Tewas Di Keroyok Geng Motor

Juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, korban pengeroyokan orang tak dikenal di Pademangan, Jakarta Utara, pada Sabtu dua pekan lalu bernama Arifin Siri. Dia tercatat sebagai anggota TNI Angkatan Laut. Arifin berkantor di Armada Maritim Kawasan Barat di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. “Korban berpangkat kelasi dan bekerja sebagai staf administrasi di Armabar,” kata Rikwanto Selasa 10 April 2012. Dia menjelaskan, pengeroyokan terhadap Arifin diduga menjadi pemicu keributan berantai di beberapa wilayah di Jakarta dengan motif balas dendam. “Peristiwa di Sunter dan Kemayoran adalah dampak dari pengeroyokan di Pademangan,” katanya.

Sepekan setelah pengeroyokan terhadap Arifin, terjadi pengeroyokan oleh puluhan orang terhadap Soleh, 17 tahun dan Zaenal, 19 tahun. Mereka merupakan dua saudara yang sedang nongkrong di depan pompa bensin Shell, Sunter, Jakarta Utara. Soleh tewas dengan luka tusukan di bagian pinggang. Pengeroyoknya, kata Zaenal, sekitar 30 orang mengendarai sepeda motor. Ciri-cirinya berbadan tegap, rambut cepak, dengan wajah dicat putih. Polisi sempat menduga kelompok itu geng motor baru.

Hanya dalam 24 jam, pengeroyokan oleh geng serupa terjadi lagi. Korbannya empat remaja saat berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, Ahad lalu. Polisi akan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut dan membentuk tim gabungan bersama Polres Jakarta Utara dan Polres Jakarta Barat untuk mengusut kasus ini. Polisi juga menintensifkan patroli di kawasan rawan geng motor. Kepala Pusat Penerangan TNI AL, Laksamana Untung Suropati membenarkan Arifin Siri adalah anggota Armada Barat dengan pangkat kelasi satu. Saat itu, kata Untung, Arifin bersama temannya bernama Albert keluar dari tempat kosnya. Di perjalanan, keduanya melihat seorang supir truk dipukuli sekelompok orang.

“Arifin berhenti dan berniat melerai. Sayangnya, malah terjadi serangan balik. Dia terluka parah di kepala bagian belakang dan punggung,” kata Untung kemarin. Arifin meninggal pada Ahad malam lalu. Untung tak yakin aksi pengeroyokan bermotif dendam. “Dugaan boleh saja. Tanpa bukti, kurang pas disebut motif dendam.” Pengeroyokan berantai yang terjadi di beberapa wilayah di Jakarta diduga kuat bermotif balas dendam. “Peristiwa di Sunter dan Kemayoran merupakan dampak dari pengeroyokan di Pademangan,” kata juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, pada Selasa, 10 April 2012.

Menurut Rikwanto, peristiwa bermula dari tewasnya anggota TNI Angkatan Laut bernama Arifin di Pademangan, Jakarta Utara, pada Sabtu 31 Maret 2012. Arifin tewas dikeroyok oleh sekelompok orang tak dikenal. “Korban berkantor di Armada Maritim Gunung Sahari, Jakarta Pusat, berpangkat Kelasi dan bekerja sebagai staf administrasi,” kata Rikwanto.

Seminggu kemudian, Sabtu 7 April 2012, terjadi pengeroyokan oleh puluhan orang terhadap sejumlah remaja yang sedang nongkrong di depan SPBU Shell, Jakarta Utara. Seorang remaja bernama Soleh tewas dengan luka tusukan di pinggang. Dua rekannya menderita luka-luka. Pada waktu kejadian, para pelaku menggunakan sepeda motor. Adapun mereka memiliki ciri badan tegap, rambut cepak, dan wajah dicat putih. Polisi sempat menduga, kelompok itu adalah geng motor baru.Hanya dalam waktu 24 jam pengeroyokan oleh geng serupa kembali terjadi. Kali ini empat pemuda babak belur dikeroyok puluhan orang saat sedang berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Minggu 8 April 2012.

Sempat tersiar kabar, pelaku Sunter dan Kemayoran, di antaranya adalah anggota TNI AL. “Orang yang badannya tegap dan rambutnya cepak kan belum tentu tentara, jangan menyimpulkan dulu,” ujar Rikwanto.Namun polisi menduga kuat peristiwa Sunter dan Kemayoran adalah buntut dari tewasnya Arifin. “Kami akan berkoordinasi dengan TNI AL,” kata Rikwanto. Polda Metro Jaya berencana membentuk tim dengan Polres Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Kepolisian Resor) untuk mengusut kasus ini. Polisi juga mengerahkan petugasnya untuk berpatroli dan berjaga langsung di wilayah rawan geng motor.

Polisi meningkatkan keamanan sehubungan dengan maraknya pengeroyokan yang dilakukan oleh geng motor. “Patroli dan pengamanan langsung akan dilakukan di wilayah yang rawan kejahatan geng motor,” kata juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Senin, 9 April 2012. Wilayah-wilayah rawan pengeroyokan adalah Sunter di Jakarta Utara, Kemayoran di Jakarta Pusat, dan Depok. Pengamanan dilakukan dengan bekerja sama antara polres dan polsek setempat. “Polisi perlu melakukan pendekatan dengan mendatangi langsung kelompok ini,” kata Rikwanto. Menurut Rikwanto, geng motor ini berawal dari balapan liar yang sifatnya tumbuh, berkembang, dan sewaktu-waktu hilang. “Kelompok ini dibangun karena ikatan pertemanan, senasib-sepenanggungan, serta memiliki musuh yang sama.”

Keterkaitan itu menjadi pemicu terjadinya kejahatan. Jika ada satu anggota bermasalah dengan kelompok lain, maka mereka tidak segan-segan melakukan penyerangan untuk membela temannya. Warga juga perlu mewaspadai daerah yang rawan dilalui oleh kelompok ini. “Biasanya jalan yang lintasannya panjang dan halus.” Dalam waktu dua hari, kasus pengeroyokan yang dilakukan geng motor terjadi dua kali. Pada Jumat, 7 April 2012, puluhan orang bersepeda motor mengeroyok beberapa pemuda yang nongkrong di sebuah SPBU milik Shell di Sunter, Jakarta Utara. Sebelum berkumpul, para remaja itu baru menonton balapan liar.

Korban bernama Soleh tewas dengan luka tusukan di pinggang, sedangkan dua orang rekannya harus dirawat di rumah sakit karena terluka. Saat beraksi, para pelaku mengecat wajahnya dengan warna putih. Keesokan harinya, Sabtu, 8 April 2012, empat pemuda babak belur dikeroyok sekitar 30 orang ketika berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Polisi menduga kelompok pengeroyok memiliki kaitan dengan pelaku di Sunter karena di antara anggotanya ada yang mengecat putih wajah mereka.

Geng motor bukan monopoli kota-kota di luar Jakarta seperti Bandung, Denpasar atau Surabaya. “Wabah” geng motor juga masuk di Jakarta. Dua aksi kekerasan yang melibatkan kelompok pengendara sepeda motor terjadi di Jakarta, Jumat dan Sabtu dinihari lalu adalah buktinya. Dua orang tewas dan tiga lainnya luka-luka karena dua kejadian itu. Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, menduga kekerasan yang terjadi pada Sabtu dinihari itu dilatarbelakangi aksi balap liar. “Korban tewas adalah pelajar bernama Soleh, 17 tahun, warga Kelurahan Lagoa, Jakarta Utara,” kata Rikwanto kemarin.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Tanjung Priok, Komisaris Sunardi, menambahkan bahwa penyerangan terhadap Soleh terjadi menjelang pukul 3 subuh. Menurut Sunardi, saat itu Soleh dan tiga rekannya yang mengendarai dua sepeda motor hendak mengisi bensin di stasiun pengisian bahan bakar Shell di Jalan Danau Sunter. Saat itulah sekelompok pengendara motor lain menyerang keempatnya secara beringas. Soleh mengalami luka tusuk di pinggang kiri. Adapun dua rekannya, Zaenal, 19 tahun, dan Reza, 17 tahun, terluka parah di kepala dan tengkuk. Satu lagi, Ardian, menderita luka ringan.

“Jenazah Soleh sudah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sementara yang terluka dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Koja,” kata Sunardi kemarin. Polisi langsung memburu para pelaku penyerangan di SPBU itu. Meski pelaku mengendarai sepeda motor, Sunardi belum mau menyimpulkan hal itu sebagai bentuk pertikaian antarkelompok geng motor. “Kami masih menyebutnya antarkelompok pemuda,” kata dia. Berbeda dengan di Sunter, kekerasan yang terjadi di Jalan Marga Guna, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sudah jelas buntut dari konflik antargeng sepeda motor. Motif balas dendam terungkap setelah polisi membekuk Azwar Anas, seorang di antara tersangka pengeroyok Rahmad Gunawan, 23 tahun, hingga tewas pada Jumat dinihari lalu.

Pelajar sekolah kejuruan yang ditangkap di rumahnya di Ciputat, Tangerang Selatan, pada Jumat sore, itu mengaku dendam akibat perkelahian yang terjadi sebelumnya antara kelompoknya dan kelompok Rahmad. Dia dan sekitar 30 temannya, dengan mengendarai motor, lalu mendatangi Rahmad dan kelompoknya yang dinihari itu, sekitar pukul 1.30, sedang nongkrong.

Kelompok Azwar menyerang dengan senjata tajam. Rahmad sebenarnya sempat lari, tapi terjatuh. Saat itulah Azwar menggunakan senjata tajamnya. “Ditemukan luka tusuk di leher, lengan, dada, dan punggung korban,” kata Rikwanto. Secara terpisah, Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto membenarkan bahwa Azwar telah diperiksa. “Ya, dia pelakunya,” kata Imam. Tapi Imam mengaku belum tahu persis jumlah pengeroyok. “Soal itu sedang kami kembangkan,” kata dia. Azwar dijerat dengan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman hingga lima tahun penjara.

Misteri Pembunuhan Mahasiswi STT Telkom Diaya Eritasi Belum Terungkap

Pelaku pembunuhan terhadap mahasiswi STT Telkom Diaya Eritasi,20, asal Bekasi hingga Rabu belum terungkap. Timsus yang diturunkan Polres Bandung masih berkeliaran di sejumlah titik untuk melakukan penyelidikan. Meski polisi sudah memerilsa 8 saksi namun pelaku yang membantai korban masih misterius.

“Kami masih melakukan penyidikan dan penyelidikan. Doanya saja mudah mudahan pelaku cepat tertangkap,“ kata Kapolres Bandung AKBP Sandy Nugroho, saat dihubungi ‘Pos Kota’ melalui selulernya, Rabu. Sandi menjelaskan dari hasil penyelidikan dan keterangan sejumlah saksi dugaan kuat korban dibantai pelaku yang sekaligus merampok hartanya. Modusnya perampokan dan pembunuhan,“ ujarnya.

Berdasar hasil identifikasi pelaku setelah membunuh membawa kabur harta korban diantaranya laptop,HP dan perhiasan emas putih seberat tiga gram. “Korban mahasiswi semester empat itu dihabisi nyawanya di kamar mandi,“ tambah Kapolres.
Menyinggung hasil autopsi dari RSHS Bandung, demikian Sandy, menunjukan korban dibantai menggunakan benda tajam dan tumpul. Kemungkinan benda tajam berupa gunting yang kini sudah diamankan polisi. “Kami tegaskan hasil otopsi tidak menunjukan tanda tanda kalau korban diperkosa. Jadi korban hanya dibunuh kemudian hartanya dibawa kabur,“ papar kapolres.

Sementara pengojek di daerah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, siap membantu polisi dalam mengungkap kasus pembunuhan itu. Pasalnya, dengan adanya kejadian itu tak sedikit yang menuding pelakunya persis pengojek. Beberapa jam sebelum tewas korban diantar pulang motor.

“Kami khawatir pelaku menyamar tukang ojek. Imbasnya citra ojek buruk,“ kata Dudung, seorang pengojek.
Diberitakan, mahasiswi tewas dibantai di kamar kosnya di Dauehkolot Bandung sepekan lalu. Pelaku hingga kini masih misterius.

Emil Bayu Santoso Membunuh Eka Indah Jayanti Karena Cemburu dan Mayatnya Disembunyikan Dalam Tabung Gas Elpiji

Diduga cemburu, Emil tega menghabisi wanita simpanan suaminya, yakni Eka ,18. Setelah dibunuh, mayat Eka dimasukkan tabung dan disimpan di rumahnya Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya. Kasus ini terbongkar oleh kecurigaan warga setempat. Dalam beberapa hari terakhir, warga mencium aroma tidak sedap dari dalam rumah Emil. Takut terjadi apa-apa, warga melapor ke aparat kepolisian.

Laporan ditindaklanjuti dengan penggrebekan oleh aparat Polrestabes Surabaya, Selasa (13/3) pukul10.00 WIB. Hasilnya cukup mengejutkan, aparat menemukan tabung yang diduga menjadi sumber asalnya bau. Tabung dari besi berukuran diameter 43 cm dan panjang 173 cm lantas dibongkar paksa. Kecurigaan petugas terbukti, di dalam tabung, tergolek sosok mayat yang telah membusuk. Setelah diselidiki, mayat bernama Eka yang merupakan selingkuhan dari suami Emil.

Tidak butuh waktu lama, Emil lantas diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. Hasil pemeriksaan sementara, Emil mengakui perbuatannya. Kronologisnya, Emil cemburu akibat hubungan gelap antara Eka dengan suaminya. Hubungan telah terjalin sejak 4 tahun lalu. Bahkan di rumah sebelumnya, keluarga Emil dulu berumah di Jalan Karang Empat Surabaya, dia pernah memergoki suaminya pulang membawa Eka.

“Sejak kepergok, korban tidak pernah dibawa ke rumah tersangka. Tetapi, hubungan berlanjut dari hotel ke hotel,” tutur sumber di kepolisian. Mengetahui hubungan gelap tak pernah putus, Emil merencanakan pembunuhan. Eka lantas diculik ketika sedang menginap di sebuah hotel. Setelah diculik, Eka dibunuh dan mayatnya dibawa pulang untuk disimpan dalam tabung. Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Tri Maryanto saat di lokasi kejadian menyatakan bahwa pembunuhan ini motif dari percintaan. “Nanti akan kita lakukan pemeriksaan terhadap tersangka,” katanya. Untuk sementara ini, aparat menyita beberapa barang bukti. Terdiri dari alat las, alat untuk memukul korban, beberapa benda milik korban berupa HP dan pakaian.

Meski sudah menjalin hubungan intim selama bertahun-tahun, namun Emil Budi Santoso (37) dan Eka Indah Jayanti (27) tak juga menikah. Tetapi Emil sebenarnya ngotot ingin menikahi wanita asal Grobogan Jawa Tengah tersebut. Meski belum menikah namun Emil menyebut Eka sebagai istri. Emil yang sudah beristri itu ingin sekali menikahi dan memiliki anak dari Eka.

Sayangnya keinginan Emil yang tinggal di Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya itu bertepuk sebelah tangan. Eka menolak karena selama ini Emil selalu menggerogoti harta miliknya. “Emil sebenarnya ingin menikahi dan mempunyai anak dari Eka, tetapi Eka menolak dinikahi,” kata AKP Agung Pribadi.

Alasan Eka kata Kanit Resmob Polrestabes Surabaya, Emil seringkali meminta uang kepada Eka. “Eka sering disuruh Emil meminta uang ke orangtuanya, pernah Eka meminta uang Rp 10 juta atas suruhan Emil,” tambah Agung. Ayah Eka, Sutejo, merupakan Kepala Pasar Wirosari, Grobogan. Sedangkan ibunya, Wagirah(49), adalah seorang guru SD dengan golongan IVA.

Seperti diketahui, Eka tewas ditangan Emil yang emosi karena dibakar api cemburu. Mayat Eka yang bekerja sebagai sales promotion girl di Sleman itu dimasukkan tabung besi dan dilas. Rencananya Emil akan membawa tabung besi berisi mayat kekekasihnya ke Flores untuk dimakamkan.

Sayang rencana pengusaha jasa angkutan itu keburu terendus polisi. Kini Emil dan istrinya Patricia Yolansia Dahlia diamankan di Mapolrestabes Surabaya. Emil dari istri pertamanya yang sudah meninggal dikaruniai satu anak. Sedangkan hasil pernikahan dengan Yolansia mendapat 3 anak.

Perbuatan Emil B Santoso (37), warga Kapas Krampung 210 sungguh sadis. Setelah menghajar kepala istri simpanannya sebanyak 9 kali dengan pipa besi, dia membiarkan mayat Eka selama 2 hari sebelum akhirnya dimasukkan dalam tabung elpiji 50 kg.

Menurut Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya kompol Sudamiran, sebelum dimasukkan ke dalam tabung, mayat Eka Indah Jayanti (27) warga Pulokulon, Grobogan, Jawa Tengah sempat dibiarkan selama dua hari di kamar. Bahkan jasad Eka hampir dimakamkan di taman yang ada di lantai II. “Mungkin karena panik,” kata Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya kompol Sudamiran, Selasa (13/3/2012).

Setelah istri simpanannya tak bernyawa, Emil dengan dibantu istrinya Patricia Yolansia Dahlia (29) memandikan jenazah Eka. Setelah dimandikan, jasad Eka dibungkus kain putih dan diletakkan di atas tempat tidur.

Setelah dua hari, jasad Eka menimbulkan bau busuk. Emil mempunyai pikiran menggali taman yang berada di lantai II rumahn. Di areal taman itu sudah digali beberapa centimeter. Namun, niat tersebut akhirnya dibatalkan.

Setelah membatalkan rencana memakamkan di taman di lantai II, Emil bergegas menuju ke kawasan Bagong untuk membeli tabung elpiji bekas yang berukuran panjang 173 centimeter dan berdiameter 43 centimeter. Selain itu, Emil juga membeli peralatan las listrik di supermarket bahan bangunan.

Sebelum dimasukkan ke dalam tabung elpiji, jenazah Eka dibungkus plastik dan dililitkan sebanyak 5 kali. Setelah mayat Eka masuk, Emil menutup bagian atas dan bawah tabung dengan cara dilas tenaga listrik. “Istri tersangka juga turut membantu memasukkan jenazah korban ke dalam tabung,” tuturnya. Setelah dirasa aman dan tidak menimbulkan bau, tabung tersebut diletakkan di ruang garasi. “Memang tidak menimbulkan bau. Tapi saat tabung itu kita bongkar lagi (dengan cara dilas), menimbulkan bau,” jelasnya.

Mayat Eka Indah Jayanti sengaja disembunyikan di tabung besi agar tak mudah terlacak. Selain itu, Emil Budi Santoso rencananya akan mengirim ‘paket’ berisi ‘istri simpanannya’ itu ke Flores, NTT, untuk dikuburkan. “Rencananya tabung itu akan dibawa ke Flores untuk dimakamkan. Baik Emil dan istrinya (Yolansia) kan orang Flores,” kata Kompol Sudamiran kepada wartawan, Selasa (13/3/2012).

Wakasat Reskrim itu mengatakan bahwa Emil berencana akan membawa tabung berisi mayat Eka itu ke Flores melalui kapal. Dengan menguburkan mayat Eka, pria 37 tahun itu akan sempurna sudah menghilangkan jejak kejahatannya. Tetapi sebelum niat itu terlaksana, polisi sudah mencium dan menggagalkan perbuatannya.

“Padahal Emil tinggal menunggu jadwal kapal itu, tapi saya nggak tahu kapan jadwalnya,” tandas Sudamiran. Seperti diketahui, jenazah Eka Indah Jayanti (27) warga Grobogan, Jateng ditemukan di rumah EMil Budi Santoso di Jalan Kapas Krampung 210. Jenazah Eka ditemukan di dalam tabung besi berdiameter 43 cm dan tinggi 173 cm. Dari pengakuan Emil, pembunuhan itu dilakukannya pada Sabtu (11/2/2012) lalu karena didasari rasa cemburu.

Motif pembunuhan yang dilakukan Emil B Santoso terhadap istri simpanannya Eka Indah Jayanti (27) mulai sedikit terkuak. Pelaku menghabisi nyawa perempuan asal Grobokan, Jateng itu karena cemburu.

Emil menduga, Eka yang menjadi istri simpanannya itu tengah menjalin hubungan dengan pria lain. Sebab, Eka yang selama ini tinggal serumah dengan Emil, sering berkirim pesan singkat (SMS) ke selingkuhannya. Selain itu, tersangka menilai, Eka adalah orang suruhan mantan pacarnya.

“Motifnya, tersangka (Emil) merasa cemburu dengan korban, karena korban kerap kali diketahui mengirim SMS ke seseorang yang dianggapnya sebagai selingkuhannya,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Tri Maryanto kepada wartawan di mapolrestabes, Jalan Sikatan, Selasa (13/3/2012).

Meski sebagai istri simpanan, Eka dipersilahkan tinggal serumah bersama tersangka dan istri sahnya Patricia Yolansia Dahlia, di Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya. Selama tinggal di rumah tersebut sejak Januari 2012 lalu, Eka mulai menjalani hubungan dengan pria lain. Hal itu tak diinginkan Emil. “Tersangka sudah meminta korban supaya jujur menceritakan apa adanya,” tuturnya.

Jika Eka benar-benar memiliki pacar baru, Emil mengaku rela melepaskan istri simpanannya itu ke pelukan pria lain. Konsekwensinya berhubungan dengan pria lain, Eka disuruh keluar dari rumahnya. Tapi, Eka bersikukuh dan menyangkal tuduhan yang dilayangkan Emil. “Tersangka menduga, korban adalah orang suruhan mantan pacarnya yang ada di Yogya untuk menghancurkan rumah tangganya,” ujarnya. Mantan pacar Emil di Yogya adalah bos toko sepatu. Sedangkan Eka pernah bekerja sebagai SPG di toko tersebut.

Perselisihan itu membuat tersangka marah hingga menghabisi Eka dengan cara memukul bagian kepala korban dengan menggunakan besi bekas meja sebanyak 9 kali. Setelah tewas, korban sempat dimandikan di kamar mandi oleh tersangka bersama istri sahnya, dan akhirnya dimasukkan ke dalam tabung sepanjang 173 sentimeter dan berdiameter 43 sentimeter.

Pembunuhan keji menggegerkan Kapas Krampung, Surabaya. Eka Indah Jayanti dibunuh Emil Bayu Santoso. Emil kemudian menyembunyikan jenazah istri simpanannya itu di dalam bekas tabung elpiji berukuran 50 Kg. Tabung gas warna hijau itu diletakkan di garasi rumah tersangka Emil di Jl Kapas Krampung 210, Selasa (13/3/2012).

Korban yang berasal dari Pulowetan, Grobogan, Jawa Tengah, itu diduga kuat dibunuh oleh Emil pada pukul 15.30 Wib, Sabtu (11/2/2012). Saat ini, tersangka Emil dan istrinya, Yolansia, serta 5 anaknya diamankan polisi. Diduga kuat, pembunuhan itu berlatar belakang cinta segitiga, karena Eka dikenal sebagai istri simpanan Emil. “Korban istri simpanan tersangka. Setelah jenazah dimasukkan tabung, kemudian tabungnya dilas lagi,” kata seorang petugas kepolisian.

Tim Gabungan Mabes Polri Berhasil Menangkap Pemilik Situs Penyedia Layanan Pembunuh Bayaran Indonesia

Tim gabungan kepolisian dari Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Ditreskrim Polda Jabar serta Polrestabes Bandung berhasil menangkap seorang pria berinisial S (30) yang diduga menjadi penyedia layanan pembunuh bayaran di internet.

Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Abdul Rakhman Baso di Mapolrestabes Bandung, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Jumat, menuturkan, S ditangkap di kawasan Klender, Jakarta Timur, oleh tim gabungan kepolisian.

“Pelaku yang diduga pemilik situs penyedia jasa layanan pembunuh bayaran telah kami amankan di sebuah rumah yang diduga milik pelaku, di kawasan Klender, Jakarta Timur, tadi malam,” kata Abdul.

Menurut Abdul, sampai saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan apakah S adalah benar pemilik situs atau bukan dan juga masih mendalami motif serta kemungkinan adanya pelaku lain selain S.

Ia mengatakan, pelaku S diduga pemilik situs indonetasia.com, yang di dalam situs ini disebutkan, disediakan jasa pembunuh bayaran. “Mengenai apakah jasa itu betul atau tidaknya masih pendalaman,” ujar dia.

S terancam dijerat oleh KUH Pidana, Undang-undang IT, teror, dan lain-lain jika terbukti menyediakan layanan pembunuh bayaran di dunia maya.

Sementara itu, Kasatreskim Polrestabes Bandung Ajun Komisaris Besar Widjonarko menambahkan, dari hasil pendalaman kepolisian, S ternyata bekerja di sebuah perusahaan properti di Jakarta. “S itu kerja di perusahaan properti di Jalan Sudirman Jakarta Pusat,” kata Widjonarko.

Sebelumnya, sebuah blog yang beralamat hitmanindonesia.wordpress.com secara terang-terangan menyediakan jasa pembunuhan untuk wilayah Kota Bandung. Di dalam blog tersebut, tertulis kalimat “menyewakan jasa pembunuh bayaran”.

Aparat Badan Reserse Kriminal Polri masih menyelidiki situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran dan penculikan. Situs itu dibuat tahun 2008 dan masih berstatus aktif.

Demikian diungkapkan Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution di Jakarta, Kamis (8/3/2012). “Tim sudah bekerja untuk mengungkap siapa yang berbuat dan apa motifnya,” tutur Saud.

Menurut Saud, penyidik juga masih mendalami ketentuan pidana yang dapat dikenakan, apakah perencanaan atau percobaan pembunuhan sesuai KUHP atau ketentuan UU mengenai informasi dan teknologi.

Kriminolog dari Univeritas Indonesia, Erlangga Masdiana, menyerukan agar aparat penegak hukum—dalam hal ini pihak kepolisian—tidak memandang remeh dan mengabaikan keberadaan situs web penyewaan pembunuh bayaran di internet.

“Kepolisian harus menelusurinya, untuk tujuan apa situs itu dibuat. Sebab, bisa membuat orang jadi takut. Situs itu ada karena sudah pasti adanya permintaan,” kata Erlangga, menanggapi munculnya situs jasa pembunuh bayaran di internet.

Hal senada dikatakan Bambang Widodo Umar. Kriminolog yang juga pengamat kepolisian ini mengatakan, keberadaan pembunuh bayaran menandakan masyarakat memandang penegakan hukum di Indonesia sangat lemah. Mengurus perkara bahkan sampai berlarut-larut dan terkadang tidak mendapatkan kepastian hukum.

Bambang mengatakan, jalan pintas yang dilakukan yakni sewa saja pembunuh bayaran. Bahkan dia menengarai, tidak tertutup kemungkinan oknum aparat bermain dalam penyewaan jasa pembunuh bayaran tersebut. Maka dari itu, pimpinan Polri dan TNI harus meningkatkan pengawasan terhadap anak buahnya yang memegang senjata.

“Sebab, bisa saja senjata api dinas yang dimilikinya itu dipinjamkan atau disewakan atau dia sendiri disewa sebagai pembunuh bayaran,” katanya.

Bambang mengingatkan tentang kasus penembakan Budiharto Angsono, bos PT Asaba, oleh oknum anggota TNI Suud Rusli dkk. Ternyata, Suud Rusli diperintah oleh menantu Budiharto sendiri, yakni Gunawan Santosa.

Bergerak cepat

Aparat Polda Metro Jaya juga bergerak cepat menyusul munculnya situs pembunuh bayaran di internet. Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya kini tengah menelusuri hal itu.

“Begitu mendengar ada informasi temuan tersebut di wilayah hukum Polda Jawa Barat, kami dari Polda Metro Jaya juga langsung bergerak melacak keberadaan situs itu,” kata Kepala Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Audie Latuheru, Rabu (7/3/2012) malam.

Menurut Audie, tidak tertutup kemungkinan situs-situs yang menawarkan sewa pembunuh bayaran marak terjadi di wilayah Ibu Kota Jakarta. Situs seperti itu bisa muncul karena adanya permintaan (demand) dari orang-orang yang membutuhkan jasa pembunuh bayaran dalam menyelesaikan kasus atau perkaranya.

Saat ini, petugas Cyber Crime terus melakukan patroli di dunia maya dengan mencari situs-situs yang sifatnya membahayakan keselamatan jiwa. Dalam sehari, petugas Cyber Crime bisa sampai melacak 100-an situs yang dicurigai berbau tindak kejahatan, seperti bisnis seks dan sewa pembunuh bayaran.

Dikatakan Audie, pihak kepolisian belum bisa menangkap begitu saja penyedia situs sewa jasa pembunuh bayaran. “Terkecuali jika sudah terjadi transaksi antara yang mau sewa pembunuh bayaran dengan si penyedia situs. Jika tertangkap maka keduanya bisa dijerat pasal berlapis,” ujar Audie.

Namun, lanjut Audie, jika belum diketemukan adanya unsur transaksi, maka belum bisa dikategorikan sebagai sebuah tindak pidana. “Kalau di situs itu tertulis sewa pembunuh bayaran untuk pejabat, nah itu sudah masuk pelanggaran tindak pidana, karena sudah menyebut nama baik orang maupun lembaga,” paparnya.

Pasal yang bisa diterapkan kepada penyewa maupun penyedia situs yakni Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Dengan menjalani transaksi, kedua belah pihak dianggap melakukan perencanaan kejahatan yang dapat membahayakan keselamatan jiwa orang lain.

Bukan cuma Pasal 340 KUHP, pembunuh bayaran atau penyedia situs dapat dijatuhi sanksi dalam Undang-Undang Darurat karena memiliki senjata api. Kemudian, penyedia situs juga dapat dijerat dengan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). “Ancamannya sudah pasti berat,” kata Audie.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, dihubungi semalam, mengatakan, dirinya belum tahu betul isi situs sewa pembunuh bayaran yang ditemukan di wilayah Bandung, Jawa Barat. “Saga akan tanyakan dulu ke Bareskrim, situsnya seperti apa dan langkah apa yang akan dilakukan Bareskrim untuk mencegah munculnya situs-situs seperti itu,” kata Saud.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com sebelumnya, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menyelidiki dan mengusut adanya jasa pembunuh bayaran yang ditawarkan lewat internet. Selain pembunuhan, di situs itu juga ditawarkan jasa penculikan.

Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo menegaskan, polisi akan mengusut bisnis jasa tersebut. “Itu jelas merupakan pelanggaran hukum. Kalau itu ada, kami akan tindak tegas. Kami pastikan akan usut dan tindak para pelaku maupun pembuat situs tersebut,” katanya seusai dinobatkan sebagai warga kehormatan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara di Bandung, Rabu (7/3/2012).

Timur menegaskan, pihaknya akan melakukan penyelidikan dan langkah tegas sesuai aturan. “Itu suatu hal yang berbeda. Hukum jika itu terjadi,” tegasnya seperti dikutip Kompas.com.

Belakangan ini dunia maya memang dihebohkan dengan munculnya situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran. Berdasarkan penelusuran, salah sate situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran tersebut adalah hitmanindonesia.wordpress.com.

Pada tampilan awal (home) situs tersebut secara terang-terangan tertulis “Menyewakan Jasa Pembunuh Bayaran”. Dalam situs tersebut juga tertulis jelas jika mereka menyediakan tenaga profesional yang terlatih dan tepercaya untuk melayani pesanan pembunuhan atau penculikan.

Beberapa “peraturan” dicantumkan di situs tersebut, antara lain disebutkan: “Metode eksekusi dapat direncanakan bersama atau Anda serahkan semua pada kami”. Untuk sementara, tulis penyedia jasa, mereka hanya melayani sasaran di daerah kota Bandung.

Soal harga juga diberi gambaran. “Harga penculikan lebih mahal daripada harga pembunuhan, karena target masih dalam keadaan hidup”. Ditulis juga: “Harga wali kota tentu berbeda dengan harga pedagang alat elektronik”.

Pihak penyedia jasa menyebutkan sebuah alamat e-mail yang bisa dihubungi konsumen yang berminat memanfaatkan jasa tersebut. Seramnya, mereka memperingatkan agar konsumen tidak memesan hanya untuk main-main.

“Kami tidak akan menerima permintaan yang main-main. Jika Anda menggunakan jasa kami, dan Anda tidak serius, maka Anda tidak akan lolos dari kami,” begitu ancaman mereka.

Kepolisian Negara Republik Indonesia akan menyelidiki dan mengusut keberadaan laman yang menawarkan jasa pembunuh bayaran.

“Itu jelas merupakan pelanggaran hukum. Kalau itu ada, kami akan tindak tegas,” kata Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo seusai dinobatkan sebagai warga kehormatan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara di Bandung, Rabu (7/3/2012).

Ia menegaskan, pihaknya akan melakukan penyelidikan dan langkah tegas sesuai aturan. “Itu suatu hal yang berbeda. Hukum jika itu terjadi,” katanya tegas.

Belakangan ini dunia maya dihebohkan dengan munculnya situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran. Berdasarkan penelusuran, salah satu situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran tersebut di antaranya hitmanindonesia.wordpress.com.

Pada tampilan awal (home) situs tersebut secara terang-terangan tertulis “Menyewakan Jasa Pembunuh Bayaran”. Dalam laman tersebut juga tertulis jelas jika mereka menyediakan tenaga profesional yang terlatih dan tepercaya untuk melayani pesanan serta memiliki kakas dan dukungan orang dalam di militer dan kepolisian.

Laman tersebut juga mencantumkan sebuah akun e-mail yang bisa dikirimkan pesan jika ada yang tertarik menggunakan jasa pembunuh bayaran itu.

Kronologi Penyerangan Di RSPAD Gatot Subroto Yang Menewaskan 2 Orang dan Melukai 6 Orang Serta Dilakukan Oleh Wanita

Penyerangan brutal terjadi di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto pada Kamis (23/2/2012) dini hari menyebabkan dua orang tewas.

Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol mengatakan, peristiwa tersebut bermula saat kelompok yang berjumlah 15 orang sedang melayat salah seorang kerabatnya, yakni Bob, di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto. Mereka berkumpul di rumah duka itu pada Rabu (22/2/2012) pukul 22.00.

Pada Kamis dini hari tepatnya pukul 01.30, sekitar 50 orang tak dikenal mendatangi rumah duka. Mereka datang dengan menumpang delapan mobil taksi. “Begitu keluar, mereka bawa golok dan langsung menyerang secara membabi buta kelompok yang sedang duduk-duduk di rumah duka itu,” ucap Yoyol, Kamis pagi, saat dihubungi wartawan.

Kelompok penyerang ini langsung menyeruak masuk dan menikam para pelayat. Penyerangan, kata Yoyol, berlangsung selama 20 menit. Sebanyak dua orang tewas di lokasi kejadian, yakni Stanley AY Wenno dan Ricky Tutu Boy dari kelompok pelayat. Sementara itu, enam orang lainnya mengalami luka berat hingga ringan. Mereka adalah Oktavianius (35), Yopi (35), Stanley (39), Ricky (37), Erol (38), dan Jefrey (38) yang juga dari kelompok pelayat.

Setelah menyerang, para pelaku lalu meninggalkan lokasi menggunakan taksi. Menurut Yoyol, kedua kubu berasal dari Kampung Ambon, Jakarta Barat. Korban tewas sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), sementara enam korban luka dilarikan ke RS Mitra Kemayoran. Polisi kini juga tengah mengejar pelaku. Motif penyerangan masih belum diketahui.

Bentrokan yang terjadi di antara dua kelompok pemuda di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, dini hari tadi, berlangsung sadis. Hal itu dikatakan Egidius (20), salah seorang saksi mata. Peristiwa tersebut diakui terjadi sekitar pukul 02.00 saat ia tengah berjaga di Ruang A RSPAD, tempat jenazah salah satu keluarganya disemayamkan.

“Kami lagi duduk-duduk di depan sana, mereka kejar orang dari depan. Yang beta lihat dua orang,” ujarnya kepada Kompas.com di lokasi kejadian, Kamis (23/2/2012).

Kelompok tersebut diakui berjumlah belasan dan semuanya menggunakan senjata tajam berupa parang. “Beta tidak tahu mereka ke sini naik apa. Korban yang satu kabur bersembunyi di dalam ruangan rumah duka, itu ditebas sampai putus tangannya,” ujarnya.

Dia mengatakan, salah satu korban lainnya sempat diserang di bagian dada dan punggung sampai terjatuh. Peristiwa kedua tersebut berjarak sekitar 20 meter dari ruangan rumah duka. “Kami lihat tidak begitu jelas, tapi dia masih bangun lagi, lari ke tempat parkir, sampai dibantai di sana. Kondisinya mengenaskan sekali. Ada luka bacok di leher,” ujarnya.

Diakuinya, setelah membantai dua orang tersebut, pelaku kemudian melarikan diri ke arah pintu gerbang rumah sakit. Dalam peristiwa yang berlangsung lebih kurang 20 menit tersebut, Egi sama sekali tidak melihat aparat kepolisian atau TNI yang berjaga sehingga kelompok tersebut dengan mudahnya masuk dan melakukan penganiayaan.

Egi yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengaku tidak mengenal, baik belasan orang yang menganiaya, maupun kedua korban. Ia mengaku bahwa kejadian begitu cepat dan pada saat pembantaian terjadi, dia bersembunyi di bawah meja sambil mengintip pembantaian tersebut. Diketahui, identitas korban tewas adalah Ricky Tutu Boy, kelahiran Ambon 29 april 1975, warga Jalan F Kalasut RT 08 RW 06 Barong Utara, Sorong, Papua, dengan luka di kepala. Korban tewas lainnya adalah Stanley AY Wenno, warga Jalan Ruas B2 Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan luka di kepala dan perut, serta kaki kiri patah.

Sementara itu, informasi satu korban lain yang dikabarkan tewas masih belum bisa dipastikan. Salah satu korban luka diketahui bernama Oktavianus Maximilion, warga Jalan Kelapa Dua Wetan Nomor 1A RT 11, Cibubur, dengan luka tusuk di perut kiri. Semuanya berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi bahwa kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan berasal dari kelompok pemuda daerah tertentu. Kepolisian Daerah Metro Jaya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dari lokasi, polisi menemukan sebuah gagang parang, celana, dan kemeja berlumuran darah.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis (23/2/2012), di Mapolda Metro Jaya. “Barang bukti yang disita adalah gagang parang, celana, dan kemeja berlumuran darah,” ujar Rikwanto.

Seluruh barang bukti itu diduga milik para kelompok penyerang. Saat ini, seluruh barang bukti sedang diuji tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor). “Nanti kita lihat hasil Labfor-nya,” papar Rikwanto.

Diberitakan sebelumnya, sekelompok orang tak dikenal yang berjumlah sekitar 50 orang menyerang sekelompok orang yang tengah melayat kerabatnya di RSPAD Gatot Subroto, Kamis (23/2/2012) dini hari pukul 01.30 WIB.

Sebanyak dua orang tewas di lokasi kejadian, yakni Stenley Wenno dan Ricky Tutuboy. Sedangkan enam orang lainnya mengalami luka berat hingga ringan.

Mereka adalah Oktvianius (35), Yopi (35), Stanley (39), Ricky (37), Erol (38), dan Jefrey (38). Polisi saat ini masih memeriksa EC yang dicurigai sebagai salah satu pelaku penyerangan.

Ricky Tutu Boy dan Stanley AY Wenno diketahui bekerja sebagai penagih utang atau yang kerap disebut debt collector. Hal tersebut dikatakan Sumiyati (31), istri Stanley, saat bertemu di kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2012).

“Kerjanya debt collector, tapi nggak ngerti kerjaannya kaya apa,” ujarnya kepada wartawan sambil mengeluarkan air mata.

Sehari-hari, suaminya tidak pernah bercerita ada masalah dalam pekerjaannya. “Nggak ada masalah sebelumnya, tiba-tiba nemuinnya sudah mayat aja,” lanjutnya.

Sumiyati mengungkapkan bahwa ia kali terakhir bertemu Stanley sekitar pukul 20.00 di rumahnya di kawasan Kramat Pulo, Kramat, Jakarta Pusat. “Dia bilang mau nengok temannya yang meninggal. Saya juga nggak kenal,” lanjutnya.

Almarhum yang berasal dari Maluku tersebut diakui Sumiyati sempat memberikan uang sebesar Rp 20.000 ke anak tunggalnya, Brian Weno (13), sebelum pergi.

Sumiyati mengaku terpukul saat kali terakhir melihat jenazah Stanley karena kondisi tubuh suaminya sangat mengenaskan dengan luka besar di bagian kening dan lengan, serta luka tusuk di bagian pinggang sebelah kiri. Ia mengaku tidak tahu motif penganiayaan yang berakibat tewasnya suami yang dinikahinya 14 tahun lalu tersebut.

Sebelumnya diberitakan, terjadi bentrokan di antara dua kelompok di dalam Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30 dini hari.

Pihak kepolisian masih menyelidiki motif tewasnya dua orang tersebut. Namun, Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi bahwa kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan berasal dari sesama kelompok pemuda daerah tertentu. Seorang dari puluhan pelaku penyerangan di halaman parkir Rumah Duka RSPAD di Jakarta Pusat, adalah seorang perempuan. Adapun enam orang yang menjadi korban penyerangan, tidak satu orang pun masuk daftar pencarian orang (DPO) Polda Metro Jaya.

“Berdasarkan keterangan saksi, salah seorang yang ikut dalam rombongan penyerang itu seorang perempuan. Ciri-cirinya berbadan kurus, tinggi, dan rambutnya kemerahan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis (23/2/2012) siang.

Sementara ketika ditanya, siapa saja saksi tersebut, ia menolak menyebut nama-nama saksi, dengan alasan untuk melindunginya dan keperluan penyidikan.

Rikwanto menambahkan, enam orang yang menjadi korban penyerangan itu, tidak satu pun yang masuk daftar pencarian orang, terkait kasus pembunuhan Tan Harry Tantono.

Terkait kasus pembunuhan Tan Harry, selain sudah menangkap enam orang tersangka kasus pembunuhan itu, polisi masih mencari sekitar 10 orang lagi, yang diduga terlibat atau mengetahui proses pembunuhan terhadap pengusaha peleburan baja itu. Pembunuhannya terjadi di kamar 2701 Swiss Belhotel pada 26 Januari lalu.

Bagian Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah melakukan otopsi terhadap kedua jenasah korban penganiayaan hingga menyebabkan meninggal dunia. Hasilnya, kedua korban diidentifikasi mengalami luka akibat senjata tajam.

“Jadi, proses otopsi itu ada dua, otopsi luar dan otopsi dalam. Korban pertama atas nama Riki Tutu Boy (37), hanya dilakukan otopsi luar atas permintaan keluarga,” ujar Yuli Budiningsih, Kepala Departemen Ilmu Forensik dan Medikolega RSCM.

Pria asal Maluku tersebut diketahui mengalami luka mengenaskan di bagian tubuhnya, yaitu luka akibat senjata tajam di leher sampai menembus ke pembuluh darah, kerongkongan putus, luka lecet lengan, tungkai, kaki dan kepala. Sementara korban meninggal kedua bernama Stanley AY Wenno (39) diketahui telah dilakukan otopsi dalam dan luar. Hasilnya ia diidentifikasi mengalami luka akibat senjata tajam di dahi dan pelipis menembus ke otak, lengan, perut.

Kedua jenasah adalah korban penyerangan yang terjadi di area parkir Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30 WIB. Situasi di kamar jenazah di RSCM pun tampak didatangi oleh kerabat dan keluarga korban yang berasal dari Maluku. Meski demikian, tidak ada yang mau berkomentar tentang peristiwa tersebut.

asca-penganiayaan yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, dini hari lalu, kedua jenazah masih disemayamkan di kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kamis (23/2/2012).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, dari kedua jenazah yang disemayamkan, yaitu Ricky Tutu Boy dan Stanley AY Wenno, hanya keluarga dari almarhum Stanley yang berada di ruangan jenazah, sementara belum ada pihak yang mengatasnamakan keluarga dari Ricky.

Sumiati, istri Stanley, mengaku masih tak percaya, pria yang dinikahinya 14 tahun silam tersebut meninggal dengan cara yang mengenaskan. “Tiap hari dia sebenarnya pulang ke rumah, kemarin doang izin minta nggak pulang,” ujarnya sambil tak kuasa menahan tangis.

Kerabat kedua korban tampak berada di sekitar ruangan jenazah. Mereka yang rata-rata berkulit gelap, berbadan kekar, dan sebagian bertato tersebut menunggu kedua jenazah diserahkan kepada keluarga untuk disemayamkan.

Sebelumnya diberitakan, terjadi bentrokan antar-kelompok yang terjadi di dalam Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30. Pihak kepolisian masih menyelidiki motif tewasnya dua orang tersebut. Namun, Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan itu berasal dari daerah yang sama.

Isak tangis keluarga pecah saat salah satu jenazah, Stenly AY Wenno, korban penyerangan di RSPAD Gatot Subroto, dini hari tadi, dipindahkan dari kamar otopsi ke ruang persemayaman di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2012).

“Biar dihukum mati pelakunya, karena dia sudah bunuh suami saya,” teriak Sumiyati (31), istri korban.

Sumiyati datang bersama anak semata wayangnya, ibunya, dan sepupunya. Sumiyati hanya bisa memandangi petugas rumah sakit mendorong kereta jenazah menuju ruang persemayaman sambil menangis tersedu-sedu.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, jenazah Stenly telah selesai diotopsi dan dimandikan sekitar pukul 14.10 WIB. Mengenakan jas hitam dengan bunga mawar di saku kiri, jenazah pria berbadan kekar tersebut dibaringkan di dalam peti jenazah. Tampak luka bekas jahitan disepanjang pelipis dan dagu.

Anak tunggal korban, Brian Wenno (13) yang masih duduk di kelas VI SD, tampak terduduk lesu sambil terisak. Tampaknya, bocah lugu tersebut telah mengerti peristiwa yang terjadi pada ayahnya. “Enggak mau kayak bapak, ngeri,” ujarnya sambil menatap dengan pandangan kosong.

Dia mengenang saat terakhir bertemu adalah pada malam sebelum insiden yang merenggut nyawa ayahnya tersebut. “Bapak kasih duit Rp 20.000, katanya buat sekolah besok,” kata bocah yang bercita-cita menjadi pemain bola terkenal tersebut.

Hingga Kamis sore, baru jenazah Stenly yang telah dibawa ke ruangan persemayaman untuk selanjutnya dibawa ke kediaman masing-masing. Sementara jenazah Ricky Tutu Boy masih berada di ruang otopsi dan belum ada keluarga yang menjemput. Kedua jenazah merupakan korban penyerangan oleh sekelompok orang dengan menggunakan senjata tajam di RSPAD Gatot Subroto, dini hari lalu. Pihak kepolisian telah menangkap empat pelaku dan tengah melakukan penyelidikan intensif.

Dokter Yuli Budiningsih dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan dua korban tewas dalam perkelahian di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) disebabkan kekerasan senjata tajam.

Kepala Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolega, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, ini menuturkan korban pertama, Ricky Tutuboy, 37 tahun, ditemukan dengan luka di leher sampai menembus ke dalam, memutuskan pembuluh darah di leher, tulang rawan gondok.

“Luka utamanya di leher. Kerongkongannya putus jadi seperti digorok,” kata Yuli kepada wartawan, Kamis, 23 Februari 2012. Luka lain juga ditemukan. Tapi, menurut Yuli, itu tidak fatal. “Luka lecet di lengan, tungkai, dahi. Terjatuh barangkali,” ujarnya. Ada pula luka dangkal terbuka di daerah kepala.

Hasil otopsi korban kedua, Stendly Ayweno, 39 tahun, menunjukkan terdapat luka tebasan sajam di kepala, dari dahi sampai pelipis sepanjang sepuluh sentimeter. “Tembus sampai tulang tengkorak dan sampai ke otak,” katanya. Terdapat juga luka lain di lengan bawah, perut, jari, dan kepala belakang.

Ricky meninggal di tempat. Sedangkan luka Stendly sempat dijahit di RSPAD sebelum meninggal.

Terhadap jenazah Ricky, kata dia, sudah dilakukan pemeriksaan luar maupun dalam. Sedangkan pada jenazah Stendly, tim medis melakukan pemeriksaan luar karena pihak keluarga tidak menyetujui otopsi atau pemeriksaan dalam. “Saya tidak tahu alasannya. Biasanya banyak yang menolak otopsi karena dianggapnya sudah jelas sebab (kematiannya) dan sudah menerima,” ucap Yuli.

Soal jenis senjata, Yuli mengatakan belum dapat menyimpulkan. Yang jelas, luka-luka itu karena senjata tajam, bukan senjata api. “Kami belum meneliti sampai ke sana. Luka tembakan tidak ada, cuma luka akibat kekerasan sajam,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut mengenai soal itu, menurut dia, adalah wewenang penyidik. “Tentang jenis senjata, itu kewenangan penyidik. Kami hanya yang berkaitan dengan tubuh manusia,” katanya.

Pukul enam pagi, RSCM menerima kedua jenazah. Bersama jenazah, pihak rumah sakit menerima surat permintaan visum dari kantor Kepolisian Sektor Senen, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, sekitar pukul 02.00, sekelompok orang menyerang beberapa orang di Rumah Duka RSPAD. Saksi mata menyebutkan orang-orang itu membawa parang dan menebas korban.

Pihak kepolisian hingga saat ini masih bekerja keras untuk menyelidiki motif penusukan pada peristiwa penusukan di RSPAD. Beberapa orang telah diperiksa untuk mengetahui kronologis peristiwa tersebut.

“Kita enggak tau motifnya seperti apa. Karena orang besuk kok tau-tau di serang. Itu yang masih kita selidiki,” terang Kabareskrim Polri, Komjen Pol Sutarman, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Sutarman juga mengakui pihaknya hingga kini belum mengetahui apakah peristiwa ini terkait dengan kelompok tertentu atau tidak. Karena ini masih dalam tahap penyelidikan awal.

“Belum kita temukan ada keterkaitan dengan kelompok mana. Saat ini kita masih melakukan pengumpulan bukti, keterangan saksi terhadap peristiwa tersebut,” tuturnya.

Sebelumnya, terjadi penyerangan di RSPAD terjadi sekitar pukul 01.30 WIB – 02.30 WIB. Puluhan pelaku yang menumpang taksi tiba-tiba menyerang beberapa orang di rumah duka RSPAD. 4 Orang terluka dan 2 orang meninggal yaitu:

1. Oktavianus Mag Milion, mengalami luka tusuk di pinggang kanan.
2. Yopi Jonatan B, mengalami luka di kepala, pergelangan tangan, pinggang.
3. Stendly Wenno, meninggal dunia dengan luka di dahi, perut dan kepala.
4. Ricky Tutuboy, meninggal dengan luka bacok kepala dan wajah.
5. Errol Karl, mengalami luka di bahu kiri dan kepala.
6. Jefry H, mengalami luka di pinggang kiri.

Bisnis Kelompok John Refra alias John Kei Tersebar Di Indonesia, Singapura dan Australia

Kelompok pemuda pimpinan John Refra, alias John Kei, populer dengan nama Pemuda Kei. Nama itu diambil dari daerah asal mereka, yaitu Kei, di Maluku. Kelompok ini memiliki pesaing yang terdiri dari para pemuda Flores.

Di bawah pimpinan John Kei, kelompok ini bergerak di jasa pengamanan dan penagihan utang. Kelompok ini menguasai pusat perbelanjaan Tanah Abang di Jakarta Pusat. Tidak cukup hanya di Tanah Air, bisnisnya meluas ke Singapura dan Australia.

Kelompok John Kei banyak berbisnis di jasa pengamanan tempat hiburan, pembebasan lahan, dan lahan parkir. Pentolan kelompok Kei, Agrafinus, mengklaim bisnisnya bukan usaha kelas rendahan. “Kami etnis Maluku tidak ada bisnis penjagaan tempat hiburan,” ujar Agrafinus dalam wawancaranya dengan majalah Tempo yang terbit pada 15 November 2010.

Karena itu, bisnis tempat parkir dan tempat hiburan tidak disentuh John Kei cs. Pemuda Kei beberapa kali dikabarkan terlibat dalam bentrokan. Tidak jarang perkelahian menimbulkan pertumpahan darah yang menyebabkan korban tewas.

Kompetitor kelompok John Kei berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipimpin oleh Thalib Makarim. Mereka menguasai pusat hiburan elite di daerah Jakarta Selatan. Lingkungan pasar di Blok M dan Melawai pun dikuasainya.

Salah satu tempat hiburan ternama yang dikuasai kelompok Thalib adalah “Blowfish Kitchen and Bar” di gedung Menara Mulia, Jakarta Selatan. Di situlah mereka bertugas menjaga keamanan.

Pada 4 April 2010, terjadi bentrokan antara kelompok Kei dan kelompok Flores. Pertumpahan darah mengakibatkan dua anggota kelompok Kei tewas.

Bentrokan Blowfish ini berlanjut dalam persidangan 29 September 2010 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, di Jalan Ampera. Sidang ini menyulut pertikaian yang mengakibatkan jatuhnya lebih banyak korban. Tiga orang dari kelompok Kei tewas, puluhan lainnya luka-luka.

Wakil Angkatan Muda Kei (AMKei), Daud Kei, mengatakan konflik sudah bukan lagi melibatkan kelompok, namun membawa nama daerah. “Ini bukan antara Kei dan Flores, tapi antara Maluku dan Flores Ende. Jangan salah tulis,” katanya.

Kini John kembali berhadapan dengan hukum. Ia ditangkap pada Jumat malam, 17 Februari 2012 di sebuah kamar di Hotel C’One, Pulomas, Jakarta Timur. Ketika ditangkap, ia sedang bersama artis Alba Fuad yang mengisap obat terlarang jenis sabu-sabu.

John ditangkap atas dugaan terlibat kasus pembunuhan Direktur Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono. Harry ditemukan tewas dengan luka penuh tusukan di Swiss Bell Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, 26 Januari 2012.

John Kei, alias John Refra, dikenal memiliki bisnis jasa pengamanan yang cakupannya luas. Di Ibu Kota, bisnis tersebut menguasai wilayah Tanjung Priok sampai Tanah Abang. Bahkan bisnisnya juga berkembang ke luar negeri hingga menyeberang ke Singapura dan Australia.

Menurut salah seorang pentolan kelompok John Kei, Agrafinus, kelompok John Kei juga berfokus kepada jasa penagihan utang dan pengacara. Wawancara tersebut diterbitkan di majalah Tempo pada 15 November 2010.

Pria yang sempat menjadi pencari bakat tinju ini, sebelum ditangkap pada Jumat malam, 17 Februari 2012, pernah terbentur berbagai kasus. Pada 2008, John Kei ditangkap di Kota Tual, Maluku. Ia diduga menganiaya dua warga Tual, Charles Refra dan Remi Refra. Penganiayaan menyebabkan jari kedua pemuda itu putus.

Sidang pada kasus tersebut diselenggarakan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 9 Desember 2008. Pemindahan tempat sidang disebabkan situasi keamanan tidak memadai untuk mengadili preman seperti John Kei yang sudah sangat dikenal di daerahnya.

Kelompok John Kei pernah bentrok dengan kelompok Basri Sangaji yang juga asal Maluku. Perseteruan kedua kelompok terjadi di Diskotek Stadium, Jakarta Barat, pada 2004. Bentrokan menewaskan dua orang.

Pada Juni 2005, bentrok kelompok John Kei-Basri kembali terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat. Kakak John Kei, Walferus Refra, tewas dalam bentrokan ini. Kematian Walferus disebut-sebut sebagai ganti rugi nyawa atas kejadian di Diskotek Stadium yang menewaskan anggota kelompok Basri.

John Kei kembali berurusan dengan kepolisian setelah ditangkap Jumat malam, 17 Februari 2012 di sebuah kamar di Hotel C’One, Pulomas, Jakarta. Ia ditangkap bersama artis Alba Fuad ketika keduanya tengah pesta sabu-sabu.

John ditangkap atas dugaan terlibat kasus pembunuhan Direktur Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono. Harry ditemukan tewas dengan luka penuh tusukan di Swiss Bell Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, 26 Januari 2012 lalu.

Tito Refra, adik kandung John Kei, menuduh Kepala Satuan Reserse Mobil (Resmob) Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar (AKBP) Herry Heriawan yang menembak kakaknya.

Tito menyampaikan hal tersebut setelah membesuk John Kei yang sedang dirawat di Rumah Sakit Kepolisian RI Kramat Jati pada Minggu 19 Februari 2012.

“Saat bertemu dia (John Kei) hanya satu hal yang saya tanyakan. Apa yang terjadi saat penangkapan?” kata Tito di RS Polri Kramat Jati, Senin 20 Februari 2012. “Dia bilang ketika pintu kamarnya dibuka, polisi acungkan senjata. Dia angkat tangan kemudian ditembak,” kata Tito.

Tito mengatakan John ingat siapa yang menembaknya itu. Menurut John yang menembak adalah AKBP Herry Heriawan.

Herry Heriawan sendiri membantah ia menembak John Kei. Ia mengatakan dirinya datang terlambat saat penangkapan. “Saya datang sudah bubar,” ujarnya ketika dihubungi pada Sabtu 18 Februari 2012 dini hari lalu.

John Kei ditangkap di Hotel C’one, Pulomas, Jakarta Timur, pada Jumat 17 Februari 2012 malam. Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan ada 75 reserse yang dikerahkan untuk menangkap John. Menurut Rikwanto jumlah polisi yang dikerahkan sepadan dengan tingkat ancaman. “Dia itu kan orang yang dituakan. Ke mana-mana pasti banyak loyalisnya yang ikut,” katanya.

Keluarga Made Purnabawa Tewas Mengenaskan Dibunuh Supir Pribadi dan Istrinya Di Jembrana Bali

Hasil otopsi terhadap tiga mayat keluarga Made Purnabawa menunjukkan adanya bukti kekerasan. Ketiga korban dibunuh dengan benda tumpul. ”Bukti adanya benda tumpul itu ada di bagian kepala,” kata Kepala Bagian SMF Ilmu Kedokteran Forensik Universitas Udayana Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Ida Bagus Putu Alit, Selasa (21/2/2012).

Tiga mayat keluarga Made Purnabawa itu ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin kemarin. Ketiga mayat tersebut adalah Purnabawa (27), Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (istri, 27), dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (anak, 9).

Menurut Alit, tanda bekas benda tumpul itu terdapat di kepala bagian kiri (mayat Mahayoni), kepala bagian kanan (mayat Ayu Dewi), serta kepala dan wajah (mayat Purnabawa). ”Di tubuh Purnabawa juga terdapat tanda bekas perlawanan di lengannya,” kata Alit.

Kini polisi telah menduga pelaku pembunuhan itu adalah sopir keluarga Purnabawa, yaitu Heru Ardianto. Heru beserta istri dan anaknya yang juga tinggal bersama keluarga Purnabawa masih menghilang.

Keluarga Purnabawa yang tinggal di Kampial Residence, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, Badung, Bali, diduga dibunuh sopirnya sendiri. Pembunuhan diduga bermotif dendam.

Made Purnabawa (27), Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (istri, 27), dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (anak, 9) ditemukan tewas setelah menghilang satu pekan lalu. Mayat keluarga itu ditemukan di sebuah kebun di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Mendoyo, Jembrana, Bali, Senin (20/2/2012) pagi.

Sejak keluarga itu menghilang, sopir korban, yaitu Heru Ardianto juga. menghilang. Heru menghilang bersama istri dan anaknya. Istrinya merupakan pembantu keluarga Purnabawa.

“Pelaku kami duga adalah orang yang tinggal bersama mereka (sopir), ” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Denpasar Komisaris Besar I Wayan Sunartha, Senin malam setelah menerima hasil otopsi mayat Purnabawa di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, Senin malam.

Polisi menduga pelaku sudah berada di luar Bali. Mobil milik korban diperkirakan juga sudah dibawa pelaku. Ketika keluarga Purnabawa diketahui menghilang, satu unit mobil, dan dua unit sepeda motor milik korban juga lenyap. Hasil otopsi terhadap tiga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, menunjukkan bahwa mereka meninggal karena dibunuh. Dua dari tiga mayat diidentifikasi sebagai keluarga yang dilaporkan hilang msiterius.

“Mereka kami pastikan dibunuh,” kata Kepala Polres Kota Denpasar Komisaris Besar I Wayan Sunartha, Senin malam. Pembunuhan itu diperkirakan terjadi sepekan lalu.

Mayat yang teridentifikasi itu adalah mayat Made Purnabawa (27) dan istrinya, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27). Mayat pasangan suami istri itu ditemukan dalam kondisi bertumpuk di sebuah kebun.

Sementara mayat anak perempuan yang berada sekitar 10 meter dari kedua mayat tersebut belum dapat diidentifikasi. Alasannya, kepala korban sudah hancur dan berada sekitar 2,5 meter dari tubuhnya. “Kami akan tes DNA dulu,” kata Sunartha.

Keluarga Made Purnabawa diketahui menghilang sejak awal pekan lalu. Purnabawa memiliki seorang anak perempuan berusia 9 tahun, yaitu Ni Wayan Krisna Ayu Dewi.

Hilangnya keluarga Purnabawa juga diikuti dengan hilangnya sopir mereka, yaitu Heru Ardianto. Istri dan anak Heru juga menghilang.

Tiga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo, Senin (20/02/2012) sekitar pukul 07.00 WITA pagi tadi, seluruhnya dalam kondisi mengenaskan. Tubuh ketiga korban sudah membusuk, bahkan mayat anak kecil ditemukan di dalam jurang dengan kondisi tidak utuh.

“Satu mayat diidentifikasi laki-laki dewasa, satu wanita dewasa dan seorang lagi anak kecil perempuan. Semuanya sudah membusuk dan anak kecil ditemukan sekitar 8 meter di dalam jurang,” ujar Kabag humas Polres Jembrana, AKP Wayan Setiajaya Senin siang.

Saat ini aparat Polsek Kuta Selatan yang menangani kasus keluarga hilang sudah berada di Jembrana untuk mencocokkan ciri-ciri ketiga mayat dengan keluarga yang tinggal di Kampial Residence tersebut.

“Mayat akan diantar petugas Polsek Kuta Selatan dan akan dibawa ke RS Sanglah untuk diotopsi,” jelas Setiajaya. Dari olah TKP, polisi menemukan sebuah telepon genggam, remote, dan selimut di sekitar mayat korban. “Barang bukti ini akan diperiksa oleh Labfor,” imbuh Setiajaya.

iga mayat yang ditemukan di Banjar Sumbul, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin (20/2/2012) pagi, sudah tiba di ruang jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, sekitar pukul 20.00 wita.

Tiga mayat tersebut kemudian dibawa satu per satu ke ruang otopsi. Otopsi dilakukan untuk memastikan bahwa ketiga mayat tersebut merupakan mayat dari keluarga Made Purnabawa di Kampial Residence, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Bali.

Keluarga Made Purnabawa (27) menghilang secara misterius sejak awal pekan lalu. Purnabawa hilang bersama istri dan anaknya, Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27) dan Ni Wayan Krisna Ayu Dewi (9). Heru Ardianto, sopir Purnabawa, beserta istri dan anaknya, Ni Putu Anita dan Agus, juga ikut menghilang.

Senin pagi sekitar pukul 07.00 wita, seorang petani menemukan tiga mayat yang terdiri mayat pria dewasa, perempuan dewasa, dan anak perempuan usia 9 tahun.

Saat penyerahan mayat tersebut tampak beberapa tetangga dan kerabat Made Purnabawa. Meski demikian, polisi belum dapat memastikan bahwa ketiga mayat itu adalah keluarga Purnabawa. Namun, dalam catatan medis penyerahan mayat itu, tertulis nama Purnabawa, istri, dan anaknya.

“Otopsi kira-kira berlangsung dua jam,” kata Kepala Bagian Humas Polda Bali Komisaris Besar Hariadi

John Refra alias John Key Ditangkap Terkait Dengan Pembunuhan Direktur Power Steel Tan Hary Tantono

Polda Metro Jaya membenarkan penangkapan, John Key di kawasan Jakarta Timur, Jumat 17 Februari 2012. Penangkapan d Hotel C’One Pulomas, Jakarta Timur itu diduga terkait kasus pembunuhan.

Kasus itu, menurut Kepala Satuan Kejahatan Kekerasan (Jatanras) Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Helmy Santika, terkait kasus pembunuhan mantan Drektur Power Steel, Tan Hary Tantono, 45 tahun. Harry dibunuh dengan luka penuh tusukan di Swiss Bel Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis 26 Januari 2012 lalu.

Polisi, sudah menetapkan lima tersangka terkat kasus itu Mereka adalah C, A, T, DK dan KP. C, A dan T menyerahkan diri sehari setelah pembunuhan terjadi. Adapun DK dan KPK ditangkap polis.

” Kelimanya diduga ada kaitannya dengan John Key” kata Helmy Santika, Sabtu 18 Februar 2012. “John Key juga berada di hotel tersebut pada saat kejadan”

Pengacara John Key, Taufik Chandra membenarkan kliennya berada di hotel tersebut pada malam penusukan. Tapi ia mengatakan bahwa pada saat penusukan terjadi, John Key sudah pergi ke tempat lain. “Jadi ceritanya anak buah John minta waktu untuk bicara dengan korban. Mereka naik ke kamar sementara John pergi ke luar,” kata Taufik.

Keterangan itu, kata Taufik, juga sudah tercantum di Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) kelima tersangka. “Saya juga kuasa hukumnya,” kata Taufk.

Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap gembong preman John Refra alias John Key. Tokoh kelompok pemuda Angkatan Muda Kei (AMKEI) itu ditangkap polisi saat berada di sebuah kamar di Hotel C’one, Pulomas, Jakarta Timur.

Tito Refra, adik kandung John Key, yang juga berada di Hotel C’one mengatakan mengatakan penangkapan tersebut berlangsung sangat singkat. “Tidak ada setengah jam. Paling hanya 15 menit,” kata Tito saat ditemui di Rumah Sakit Kepolisian Kramat Jati pada Sabtu 18 Februari 2012.

Menurut Tito penangkapan tersebut terjadi sekitar pukul 19.30. Malam itu kebetulan ia bertandang ke Hotel C’one untuk bersantai-santai dan bertemu rekan kantornya. Ia datang bersama dua adiknya bernama Jusuf Fakaubun alias alias Pokem dan Amko. Saat itu mereka tidak tahu bahwa John Key sedang berada di hotel tersebut.
“Kami memang jarang komunikasi,” katanya.

Tak berapa lama setelah tiba di hotel, polisi datang menggerebek hotel. Menurut perkiraan Tito, jumlah mereka mencapai seratus. “Datang menggunakan puluhan mobil plat hitam,” katanya.

Ia juga sempat melihat ada satu personil tentara berseragam loreng hijau dan mobil patrolinya ikut memantau. “Mereka bertanya di mana John, saya jawab tidak tahu,” katanya.

Tak berapa lama polisi menemukan keberadaan John. Ia tengah berada di sebuah kamar. Tapi Tito tak tahu di mana kamar itu berada dan siapa yang menemani John Key di sana. Setelah polisi menggerebek kamar tersebut muncullah sosok John Key. “Ia dipapah, tangannya diborgol dan kakinya ditembak,” kata Tito.

Belum ada pernyataan resmi dari polisi yang menjelaskan alasan penangkapan John Key. Tapi informasi yang dihimpun dari penyidik menyatakan bahwa ia ditangkap atas keterlibatannya dalam kasus pembunuhan mantan Direktur Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono, 45 tahun.

Kasus pembunuhan tersebut terjadi pada Kamis 26 Januari 2012 malam di Swiss-Bel Hotel, Sawah Besar Jakarta Pusat. Tan Harry Tantono tewas dengan luka tusukan di sekujur badannya, tubuhnya terkulai tak bernyawa di sofa kamar 2701 hotel tersebut.