Category Archives: pembunuhan

Izzun Nahdiyah Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Diperkosa Ramai Ramai Sebelum Dibunuh Hanya Karena Minta Laptopnya Dikembalikan

Polisi menangkap lima tersangka yang diduga terlibat kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Izzun Nahdiyah, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat. Namun polisi masih merahasiakan identitas para tersangka. “Mereka ditangkap di Desa Ranca Buaya, Kecamatan Jambe, dinihari tadi,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Tangerang Komisaris Besar Bambang Priyo Andogo, Selasa 24 April 2102.

Menurut Bambang, polisi masih mengejar satu tersangka lagi yang diduga sebagai dalang pembunuhan. Dia adalah Muhammad Sholeh alias Oleng, 33 tahun. Oleng dikenal sebagai pemuda penganggur yang tinggal di Desa Jambe. Sejumlah saksi mengatakan, lelaki itu menjalin hubungan asmara dengan korban selama tiga bulan terakhir.

Mayat Izzun ditemukan di Jalan Pemda DKI, Ciangir, Legok, 7 April 2012. Ada luka sayatan di lehernya. Pakaian yang ia kenakan masih lengkap, termasuk jilbab putih di kepala. Identitas Izzun terungkap sepekan kemudian. Gadis 24 tahun itu berasal dari Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Dia duduk di semester 12 Fakultas Hubungan Internasional UIN.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga mengatakan korban memiliki laptop bermerek HP yang dipinjam oleh Oleng. Diam-diam Sholeh menjual laptop itu seharga Rp 600 ribu. Kepada korban, Sholeh mengatakan laptop itu rusak dan dibawa ke tempat servis komputer untuk didandani. Biaya perbaikan sebesar Rp 600 ribu.

Pada 6 April 2012, korban datang ke Desa Jambe untuk mengambil laptop. Izzun membawa uang Rp 600 ribu untuk membayar biaya perbaikan. Oleng tentu saja tidak bisa memberikan laptop itu. Dia menjadi kebingungan. Apalagi korban terus mendesak.

Sikap korban itu membuat Oleng kesal. Dia mengunci korban di dalam kamar dan meninggalkannya begitu saja selama beberapa jam. Saat itulah terlintas di kepala Oleng untuk menghabisi nyawa korban. Dia memanggil lima temannya yang tinggal di sekitar tempat itu. Rencana pembunuhan pun disusun. Namun, sebelum dibunuh, korban diperkosa oleh empat tersangka. “Dua tersangka memang tidak ikut memperkosa, tetapi mengetahui perbuatan itu,” kata Shinto. Mayat korban kemudian dibuang di Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir.

Ketika mayat Izzun ditemukan, polisi sempat kebingungan mengungkap jati diri gadis itu. Identitas Izzun baru diketahui sepuluh hari kemudian setelah keluarganya datang dari Lamongan. Polisi pun bergerak mengumpulkan keterangan dari kawan-kawan korban. Dari sanalah muncul nama Oleng, pria yang baru tiga bulan menjadi kekasih korban.

Kemarin, sekitar pukul 03.00, polisi menangkap lima tersangka di kediaman masing-masing. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto. Karena itu, penangkapan bisa dilakukan secara serentak. Hanya, polisi tidak menemukan Oleng di rumah orang tuanya. Diduga, lelaki itu melarikan diri karena tahu tengah diincar polisi. Menurut Shinto, para pelaku dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Empat dari enam tersangka pembunuh Izzun Nahdiyah, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, melakukan tindakan biadab sebelum membunuh korban. Mereka menyekap dan memperkosa korban secara bergantian.

Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga, Izzun mendatangi rumah Muhammad Soleh alias Oleng, pacar korban, di Desa Ranca Buaya, Jambe, Kabupaten Tangerang, pada Jumat, 6 April 2012. Izzun mau mengambil laptopnya yang dipinjam Oleng, preman di desa tersebut yang berpacaran dengan Izzun dalam tiga bulan terakhir.

Sebelum datang ke rumah pelaku, korban telah menghubungi pelaku dan meminta laptopnya dikembalikan. Tapi Oleng mengatakan laptop tersebut sedang direparasi. ”Korban membawa uang Rp 600 ribu untuk menebus biaya reparasi laptop itu,” kata Shinto, Selasa, 24 April 2012. Ternyata laptop itu tidak pernah direparasi, tapi telah dijual oleh Oleng.

Di rumah tersangka, korban mendesak agar laptopnya segera dikembalikan. Tapi Oleng justru menahan Izzun dan menyekapnya di dalam kamar selama beberapa jam. Selama penyekapan, Oleng merencanakan pembunuhan pacarnya itu dengan lima temannya. Sebelum dibunuh, empat dari enam pelaku, termasuk Oleng, memperkosa Izzun secara bergantian. Setelah itu, korban langsung dibunuh dengan menggorok lehernya. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto.

Kemudian mayat gadis berkerudung putih itu dibuang ke Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir, Legok, Kabupaten Tangerang. Esok harinya, Sabtu, 7 April 2012, warga Ciangir digemparkan dengan penemuan mayat gadis tersebut.

Polisi mencokok kelima tersangka di Desa Ranca Buaya pada Selasa dinihari, 24 April 2012. Adapun Oleng hingga kini masih buron. Motif pembunuhan Izzun Nahdiyah, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, terungkap. Izzun ternyata dibunuh hanya gara-gara meminta laptopnya dikembalikan. “Korban menuntut agar laptop yang dipinjam pelaku dikembalikan,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga, Selasa, 24 April 2012.

Menurut Shinto, Muhammad Soleh alias Oleng, yang diduga pelaku utama, meminjam laptop merek HP berwarna pink milik korban, kemudian menjualnya. Muhammad Soleh dikenal sebagai preman di Desa Ranca Buaya, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, dan berpacaran dengan korban dalam tiga bulan terakhir ini.

Pada 6 April 2012, Izzun mendatangi rumah Oleng di Desa Ranca Buaya untuk mengambil laptop tersebut. Kepada korban, Oleng mengatakan laptop itu sedang direparasi. ”Korban membawa uang Rp 600 ribu untuk menebus biaya reparasi laptop itu,” kata Shinto.

Ketika sampai di rumah pelaku, korban mendesak agar laptopnya segera dikembalikan. Tapi Oleng justru menahan Izzun dan menyekapnya di dalam kamar selama beberapa jam. Selama disekap itu, Oleng merencanakan pembunuhan kekasihnya dengan lima temannya. Sebelum dibunuh, empat dari enam pelaku, termasuk Oleng, memperkosa Izzun secara bergantian. Setelah itu, korban langsung dibunuh dengan menggorok lehernya. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto.

Mayat gadis berkerudung putih itu kemudian dibuang ke Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir, Legok, Kabupaten Tangerang. Keesokan harinya, 7 April 2012, warga Ciangir digemparkan oleh penemuan mayat Izzun.

Setelah hampir dua pekan menyelidiki kasus itu, Selasa dinihari, 24 April 2012, polisi mencokok lima tersangka pembunuh Izzun di Desa Ranca Buaya. Sedangkan Muhammad Soleh masih buron.

Menurut Shinto, para pelaku dijerat Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Pembunuhan Berencana, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Setyo Utomo Membunuh Bibinya Dosen UI Karena Tidak Dipinjami Uang Buat Menafkahi Istri dan Anaknya Serta Bayar Kontrakan

Setyo Utomo alias Uus, 45 tahun, tersangka pembunuhan dosen UI, Suwantji Sisworahardjo, mengaku membunuh bibinya sendiri karena sakit hati tidak dipinjami uang. ”Malah saya dapat caci-maki,” katanya saat ditemui di Polres Metropolitan Tangerang, Rabu, 18 April 2012.

Lelaki pengangguran itu mengaku datang ke kediaman Suwantji pada Jumat, 13 April 2012. Saat itu Utomo langsung menyatakan keinginannya meminjam uang untuk bayar kontrakan dan biaya hidup anak dan istrinya. Namun, saat itu ia dibentak. ”Kamu laki-laki cari kerja dong, sudah lima tahun menganggur,” kata Utomo menirukan pernyataan korban. Utomo sendiri tidak menyebutkan jumlah nominal uang yang ingin dipinjamnya.

Merasa sakit hati, Utomo langsung membekap mulut korban dengan sapu tangan. Kemudian dia mengeluarkan alat setrum yang dibeli di toko ke tubuh Suwantji hingga pingsan. Namun, tak lama korban sadar dan Utomo mencekik leher korban dan membenturkan kepalanya ke lantai.

Setelah korban tidak sadar, Utomo menyatroni rumah dan mencari valas. Setelah mengacak-ngacak rumah korban, yang dicari Utomo tidak ketemu. Dia kemudian mengambil uang sebesar Rp 108 ribu dari dompet korban serta mempreteli perhiasan berupa anting-anting dan gelang yang dipakai korban dengan berat 22 gram.

Atas perbuatannya, tersangka terancam hukuman mati. Menurut Kapolres Metropolitan Tangerang Komisaris Besar Wahyu Widada, tersangka dijerat Pasal 340 subsider 338 atau 365 ayat 1,2 dan 3 KUHP. ”Dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup,” kata Wahyu.

Suwantji ditemukan tewas di kediamannya, Kompleks Larangan Indah, Jalan Kalpataru Ujung 28 RT 05 RW 07 Kelurahan Larangan, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang, Minggu 15 April 2012. Setelah membunuh korban, tersangka kabur ke rumah saudara-saudaranya di Jakarta Selatan. Selasa malam, 17 April 2012, Utomo dibekuk tanpa perlawanan.

Pembunuh Suwantji Sisworahardjo Dosen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia Adalah Keponakannya Utomo

Pembunuh Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia akhirnya terungkap, Selasa (17/4/2012) tengah malam. Tersangka adalah orang terdekat, yakni keponakan almarhumah sendiri, Utomo S. Kepala Polrestro Tangerang Kota Komisaris Besar Wahyu Widada membenarkan penangkapan itu, Rabu (18/4). Penangkapan dilakukan di Jalan Gajah Pungkur, rumah salah satu keluarga.” Penangkapan dilakukan semalam, sekitar pukul 23.00. Tersangka tidak melakukan perlawanan sama sekali,” kata Widada. Humas Polrestro Tangerang Kota Komisaris Manurung mengatakan, penangkapan itu dilakukan melalui pendekatan secara kekeluargaan. Saat itu tersangka mengaku perbuatannya dan menyerahkan diri ke polisi. “Polisi menyita saputangan tersangka yang diduga dipakai untuk menjerat leher korban,” kata Manurung.

Seperti diberitakan, Suwantji yang juga salah seorang pendiri Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI ditemukan tewas di kediamannya, Minggu sore oleh adik bersama anak adik korban dan tetangga. Sosok mayatnya ditemukan sudah membengkak dan biru terduduk dan bersandar di ruang teras belakang. Hasil otopsi dokter forensik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang menyatakan, korban meninggal akibat pendarahan di bagian kepala. Luka di kepala akibat pukulan benda tumpul sehingga menyebabkan pendarahan. Pendarahan dalam kepala ini yang diduga menyebabkan kematian. Pada tubuh korban, lengan kiri terdapat luka goresan di lengan kiri. Dari hasil itu juga, korban mengalami patah rusuk dan tulang lidah tenggorokan.

Hasil otopsi dokter forensik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang menyatakan, Suwantji Sisworahardjo (73) meninggal akibat pendarahan di bagian kepala. “Luka di kepala akibat pukulan benda tumpul sehingga menyebabkan pendarahan. Pendarahan dalam kepala ini yang diduga menyebabkan kematian,” kata dokter spesialis forensik Zulhasmar Samsul kepada wartawan di RSUD Tangerang, Senin (16/4/2012).

Pada tubuh korban, terdapat luka goresan di lengan kiri. Dari hasil itu juga, korban mengalami patah rusuk dan tulang lidah tenggorokan. Seperti diberitakan, Suwantji, dosen di Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia (UI) ditemukan meninggal di rumahnya Minggu sore oleh adik, keponakan, dan tetangganya. Sosok mayatnya ditemukan sudah membengkak dan biru terduduk dan bersandar di ruang teras belakang.

Suwantji Sisworahardjo (73), dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) diduga dibunuh, Jumat (13/4) malam. Sosok mayatnya ditemukan sudah membengkak dan biru di ruang teras belakang, Minggu (15/4/2012) sore. “Sewaktu ditemukan kondisi korban terduduk di lantai dan tubuhnya bersandar di dipan. Tangan kiri terletak di atas kasur dipan,” kata Sumartopo (62), tetangga depan rumah korban yang bersama adik korban pertama kali menemukan korban. Korban ditemukan sekitar pukul 16.30 dan selanjutnya pihak keluarga melaporkan ke pengurus RT setempat. Kemudian pengurus RT melaporkan ke polisi. “Polisi datang setelah magrib dan langsung melakukan olah TKP,” kata Sumartopo.

Menurut Sumartopo, Minggu sore itu adik korban, Kurniawan bersama anaknya datang ke rumah korban. Sebelum masuk ke rumah, mereka mendatangi rumah Sumartopo. “Kebetulan istri saya yang bertemu dan berbincang-bincang dengan Kurniawan dan anaknya. Katanya, Bu De (demikian tetangga memanggil korban) dikontak sejak Jumat enggak ada jawaban. Minggu itu ada rencana acara kumpul keluarga, tapi enggak datang,” kata Sumartopo.

Semasa hidupnya, Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Universitas Indonesia (UI) yang ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Kalpataru Nomor 28, RT 05/ RW 07 Komplek Larangan Indah, tidak sembarangan menerima tamu, termasuk mahasiswa FISIP UI, di rumahnya. “Bu de (panggilan almarhumah) tidak pernah mau menerima tamu ke rumahnya. Bahkan, mahasiswa yang membutuhkan tanda tangan dan bimbingan dari almarhumah tidak pernah diterima. Ia hanya menerima tamu dari pihak keluarga dekat saja,” cerita Iwan Pratama, tetangga bersebelahan dengan rumah korban kepada Kompas di rumah duka, Senin (16/4/2012).

Iwan menceritakan, pernah sekali waktu, seorang mahasiswa datang ke rumah korban membawa sebundelan kertas mirip skripsi. “Mahasiswa itu sudah lama menunggu di luar rumah. Saya samperin dia dan menyuruh dia pulang. Saya bilang, biar saya terima bundelan itu dan buat tanda terimanya. Saya yang bertanggungjawab kalau ibu marah,” kata Iwan.

Besok paginya, lanjut Iwan, korban sedang menyapu di halaman rumahnya. “Saya langsung tegur bu de dan menyampaikan bundelan. Saya bilang, bu de, jangan marah ke mahasiswanya ya. Kalau marah, ke saya. Saya kasian mahasiswa itu karena dia punya anak dan istri yang menunggu lama di rumah hanya gara-gara menunggu bu de,” jelas Iwan. Hal itu tidak membuat korban marah. Malah dengan senang hati menerima bundelan tersebut. Seperti diberitakan, Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Universitas Indonesia (UI) ditemukan tewas di kediamannya, Minggu (15/4). Saat ini jenazah masih diotopsi di RSUD Tangerang, Kota Tangerang.

Hingga pukul 09.30 tadi, jenazah Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Universitas Indonesia (UI), masih di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang. “Rencana jam 09.00 ini jenazah akan diotopsi. Setelah dimandikan dan dikafani, akan dibawa ke rumah duka. Belum tahu jam berapa akan dibawa ke rumah,” kata Tiwi, salah seorang keponakan menantu almarhumah di rumah duka, Senin (16/4/2012).

Iwan Pratama, tetangga bersebelahan rumah korban mengatakan, jenazah dibawa keluar dari rumah duka ke RSUD Tangerang pukul 21.00. “Setelah dibawa keluar rumah dan masuk ke dalam ambulans. Ambulans tidak langsung jalan. Mungkin ada 30 menit baru jalan,” kata Iwan. Direncanakan, kata Iwan, setelah diotopsi, dimandikan, dan dikafani, jenazah dibawa ke rumah duka dan selanjutnya setelah disemayamkan akan dibawa ke Masjid Muhajirin, Larangan Indah. Selanjutnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

Suwantji Sisworahardjo (73), dosen Universitas Indonesia (UI) yang meninggal di rumahnya di Komplek Larangan Indah, Kecamatan Larangan, Minggu (15/4/2012) malam, diketahui sudah hampir 10 tahun tinggal sendirian di rumahnya. “Saya tidak tahu persis berapa lama almarhumah tinggal di rumah ini. Almarhumah tidak menikah dan tinggal sendirian di rumah ini,” kata Tiwi, salah satu keponakan menantu yang ditemui Kompas di rumah duka, Senin (16/4/2012). Sebelum tinggal di Larangan, kata Tiwi, almarhumah tinggal di rumah ibunya (almarhum) di Kebalen, Jakarta Selatan. Saat ini, di rumah duka di Jalan Kalpataru Nomor 28, RT 05/ RW 07 sudah mulai berdatangan para pelayat baik dari pihak keluarga, tetangga, dan alumni FISIP UI.

Gadis ABG Umur 17 Tahun Pura Pura Jatuh Cinta dan Mau Diajak Kencan Kemudian Bunuh Pasangannya Karena Ingin Kuasai Sepeda Motornya

Wanita ABG, berusia 17 tahun, ditangkap Tim Buru Sergap Polres Karawang, terlibat pembunuhan, Beben Salehudin, 20, warga Kampung Sukajaya, Desa Anggadita, Rabu (28/3). Dia berperan merayu dan berpura- pura mencintai korban, sehingga korban mau diajak kencan ke lokasi wisata Danau Cipule.

Mayatnya Beben Salehudin, ditemukan tiga hari kemudian dalam keadaan terapung dan diganduli batu seberat 25 Kg, di Danau Cipule, Karawang, Jawa Barat. Pelaku menceburkan korban ke danau setelah kepalanya dipukul kayu, dibacok lengan kanannya juga tubuhnya diganduli batu.

Tim Buru sergap Polres Karawang, selain menangkap Siti Wahyuni, 17, warga Kampung Waringin Desa Kutapohaci, Ciampel, juga menangkap Taryat alias Sableng, 22, warga Pasir Muncang Desa Mulyasari Ciampel, Karawang, Selasa (10/4) petang di rumahnya masing-masing. Sedangkan satu pelaku lainnya AS, masih diburu polisi.

Kapolres Karawang, AKBP. Arman Achdiyat, SIk, MSi, melalui Kabag Humus Polres Karawang, AKP. Suyitno, Kamis (12/4) mengungkapkan, ketiganya membunuh korban pada Rabu (28/3) pukul 18.30 WIB di tepi Danau Cipule. Sedangkan motif sementara ini mereka baru mengakui hanya untuk menguasai sepeda milik korban.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, korban (Beben) pada hari itu mau diajak kencan oleh Siti Wahyuni, di sekitar Danau Cipule, karena korban merasa pelaku itu adalah pacarnya. Ternyata malah bertepuk sebelah tangan, Siti ternyata sudah merencanakan merampas motornya dibantu dua pelaku lainnya yaitu Taryat dan AS.

Taryat dan AS alias Cepot, tidak lama kemudian tepatnya pukul 18:30, datang ke tempat kencan korban dan Siti di tepi Danau Cipule, setekah Siti, memberitahu keberadaannya saat itu, melalui pesan singkat (SMS) kepada kedua rekannya tersebut.

Kedua pelaku yang mengendarai sepeda motor sampai di lokasi (TKP), mendatangi Beben dan Siti yang sedang duduk dekat motor di tepi danau, korban langsung dipukul AS alias Cepot menggunakan kayu, korban dalam keadaan tak berdaya, lalu Taryat, membacok korban menggunakan golok yang dibawanya dari rumahnya itu, tak puas hanya dibacok tangannya oleh Taryat, lalu AS, meraih golok yang sudah diletakkan di tanah dekat tubuh korban, kemudian dibacokkan lagi ke punggung korban.

Saat korban tak sadarkan diri, pelaku mengikat tubuh korban menggunakan tambang plastik yang disatukan dengan batu belah yang beratnya sekitar 25 Kg yang diambilnya dari tepi danau, selanjutnya korban diceburkan, tenggelam ke kedalaman air danau belasan meter, tiga hari kemudian mayatnya ditemukan warga setempat dalam keadaan terapung .

Dari tangan pelaku, petugas menyita barang bukti, satu sepeda motor Honda Blade, milik pelaku, sebilah golok, dua HP, sepasang anting-anting, karung, tambang plastik dan batang kayu yang digunakan membunuh korban. Sedangkan sepeda motor korban diduga dibawa kabur AS

Pengeroyokan Berantai Anggota Geng Motor Diduga Sebagai Balas Dendam Atas Kematian Anggota TNI AL Yang Tewas Di Keroyok Geng Motor

Juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, korban pengeroyokan orang tak dikenal di Pademangan, Jakarta Utara, pada Sabtu dua pekan lalu bernama Arifin Siri. Dia tercatat sebagai anggota TNI Angkatan Laut. Arifin berkantor di Armada Maritim Kawasan Barat di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. “Korban berpangkat kelasi dan bekerja sebagai staf administrasi di Armabar,” kata Rikwanto Selasa 10 April 2012. Dia menjelaskan, pengeroyokan terhadap Arifin diduga menjadi pemicu keributan berantai di beberapa wilayah di Jakarta dengan motif balas dendam. “Peristiwa di Sunter dan Kemayoran adalah dampak dari pengeroyokan di Pademangan,” katanya.

Sepekan setelah pengeroyokan terhadap Arifin, terjadi pengeroyokan oleh puluhan orang terhadap Soleh, 17 tahun dan Zaenal, 19 tahun. Mereka merupakan dua saudara yang sedang nongkrong di depan pompa bensin Shell, Sunter, Jakarta Utara. Soleh tewas dengan luka tusukan di bagian pinggang. Pengeroyoknya, kata Zaenal, sekitar 30 orang mengendarai sepeda motor. Ciri-cirinya berbadan tegap, rambut cepak, dengan wajah dicat putih. Polisi sempat menduga kelompok itu geng motor baru.

Hanya dalam 24 jam, pengeroyokan oleh geng serupa terjadi lagi. Korbannya empat remaja saat berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, Ahad lalu. Polisi akan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut dan membentuk tim gabungan bersama Polres Jakarta Utara dan Polres Jakarta Barat untuk mengusut kasus ini. Polisi juga menintensifkan patroli di kawasan rawan geng motor. Kepala Pusat Penerangan TNI AL, Laksamana Untung Suropati membenarkan Arifin Siri adalah anggota Armada Barat dengan pangkat kelasi satu. Saat itu, kata Untung, Arifin bersama temannya bernama Albert keluar dari tempat kosnya. Di perjalanan, keduanya melihat seorang supir truk dipukuli sekelompok orang.

“Arifin berhenti dan berniat melerai. Sayangnya, malah terjadi serangan balik. Dia terluka parah di kepala bagian belakang dan punggung,” kata Untung kemarin. Arifin meninggal pada Ahad malam lalu. Untung tak yakin aksi pengeroyokan bermotif dendam. “Dugaan boleh saja. Tanpa bukti, kurang pas disebut motif dendam.” Pengeroyokan berantai yang terjadi di beberapa wilayah di Jakarta diduga kuat bermotif balas dendam. “Peristiwa di Sunter dan Kemayoran merupakan dampak dari pengeroyokan di Pademangan,” kata juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, pada Selasa, 10 April 2012.

Menurut Rikwanto, peristiwa bermula dari tewasnya anggota TNI Angkatan Laut bernama Arifin di Pademangan, Jakarta Utara, pada Sabtu 31 Maret 2012. Arifin tewas dikeroyok oleh sekelompok orang tak dikenal. “Korban berkantor di Armada Maritim Gunung Sahari, Jakarta Pusat, berpangkat Kelasi dan bekerja sebagai staf administrasi,” kata Rikwanto.

Seminggu kemudian, Sabtu 7 April 2012, terjadi pengeroyokan oleh puluhan orang terhadap sejumlah remaja yang sedang nongkrong di depan SPBU Shell, Jakarta Utara. Seorang remaja bernama Soleh tewas dengan luka tusukan di pinggang. Dua rekannya menderita luka-luka. Pada waktu kejadian, para pelaku menggunakan sepeda motor. Adapun mereka memiliki ciri badan tegap, rambut cepak, dan wajah dicat putih. Polisi sempat menduga, kelompok itu adalah geng motor baru.Hanya dalam waktu 24 jam pengeroyokan oleh geng serupa kembali terjadi. Kali ini empat pemuda babak belur dikeroyok puluhan orang saat sedang berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Minggu 8 April 2012.

Sempat tersiar kabar, pelaku Sunter dan Kemayoran, di antaranya adalah anggota TNI AL. “Orang yang badannya tegap dan rambutnya cepak kan belum tentu tentara, jangan menyimpulkan dulu,” ujar Rikwanto.Namun polisi menduga kuat peristiwa Sunter dan Kemayoran adalah buntut dari tewasnya Arifin. “Kami akan berkoordinasi dengan TNI AL,” kata Rikwanto. Polda Metro Jaya berencana membentuk tim dengan Polres Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Kepolisian Resor) untuk mengusut kasus ini. Polisi juga mengerahkan petugasnya untuk berpatroli dan berjaga langsung di wilayah rawan geng motor.

Polisi meningkatkan keamanan sehubungan dengan maraknya pengeroyokan yang dilakukan oleh geng motor. “Patroli dan pengamanan langsung akan dilakukan di wilayah yang rawan kejahatan geng motor,” kata juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Senin, 9 April 2012. Wilayah-wilayah rawan pengeroyokan adalah Sunter di Jakarta Utara, Kemayoran di Jakarta Pusat, dan Depok. Pengamanan dilakukan dengan bekerja sama antara polres dan polsek setempat. “Polisi perlu melakukan pendekatan dengan mendatangi langsung kelompok ini,” kata Rikwanto. Menurut Rikwanto, geng motor ini berawal dari balapan liar yang sifatnya tumbuh, berkembang, dan sewaktu-waktu hilang. “Kelompok ini dibangun karena ikatan pertemanan, senasib-sepenanggungan, serta memiliki musuh yang sama.”

Keterkaitan itu menjadi pemicu terjadinya kejahatan. Jika ada satu anggota bermasalah dengan kelompok lain, maka mereka tidak segan-segan melakukan penyerangan untuk membela temannya. Warga juga perlu mewaspadai daerah yang rawan dilalui oleh kelompok ini. “Biasanya jalan yang lintasannya panjang dan halus.” Dalam waktu dua hari, kasus pengeroyokan yang dilakukan geng motor terjadi dua kali. Pada Jumat, 7 April 2012, puluhan orang bersepeda motor mengeroyok beberapa pemuda yang nongkrong di sebuah SPBU milik Shell di Sunter, Jakarta Utara. Sebelum berkumpul, para remaja itu baru menonton balapan liar.

Korban bernama Soleh tewas dengan luka tusukan di pinggang, sedangkan dua orang rekannya harus dirawat di rumah sakit karena terluka. Saat beraksi, para pelaku mengecat wajahnya dengan warna putih. Keesokan harinya, Sabtu, 8 April 2012, empat pemuda babak belur dikeroyok sekitar 30 orang ketika berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Polisi menduga kelompok pengeroyok memiliki kaitan dengan pelaku di Sunter karena di antara anggotanya ada yang mengecat putih wajah mereka.

Geng motor bukan monopoli kota-kota di luar Jakarta seperti Bandung, Denpasar atau Surabaya. “Wabah” geng motor juga masuk di Jakarta. Dua aksi kekerasan yang melibatkan kelompok pengendara sepeda motor terjadi di Jakarta, Jumat dan Sabtu dinihari lalu adalah buktinya. Dua orang tewas dan tiga lainnya luka-luka karena dua kejadian itu. Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, menduga kekerasan yang terjadi pada Sabtu dinihari itu dilatarbelakangi aksi balap liar. “Korban tewas adalah pelajar bernama Soleh, 17 tahun, warga Kelurahan Lagoa, Jakarta Utara,” kata Rikwanto kemarin.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Tanjung Priok, Komisaris Sunardi, menambahkan bahwa penyerangan terhadap Soleh terjadi menjelang pukul 3 subuh. Menurut Sunardi, saat itu Soleh dan tiga rekannya yang mengendarai dua sepeda motor hendak mengisi bensin di stasiun pengisian bahan bakar Shell di Jalan Danau Sunter. Saat itulah sekelompok pengendara motor lain menyerang keempatnya secara beringas. Soleh mengalami luka tusuk di pinggang kiri. Adapun dua rekannya, Zaenal, 19 tahun, dan Reza, 17 tahun, terluka parah di kepala dan tengkuk. Satu lagi, Ardian, menderita luka ringan.

“Jenazah Soleh sudah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sementara yang terluka dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Koja,” kata Sunardi kemarin. Polisi langsung memburu para pelaku penyerangan di SPBU itu. Meski pelaku mengendarai sepeda motor, Sunardi belum mau menyimpulkan hal itu sebagai bentuk pertikaian antarkelompok geng motor. “Kami masih menyebutnya antarkelompok pemuda,” kata dia. Berbeda dengan di Sunter, kekerasan yang terjadi di Jalan Marga Guna, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sudah jelas buntut dari konflik antargeng sepeda motor. Motif balas dendam terungkap setelah polisi membekuk Azwar Anas, seorang di antara tersangka pengeroyok Rahmad Gunawan, 23 tahun, hingga tewas pada Jumat dinihari lalu.

Pelajar sekolah kejuruan yang ditangkap di rumahnya di Ciputat, Tangerang Selatan, pada Jumat sore, itu mengaku dendam akibat perkelahian yang terjadi sebelumnya antara kelompoknya dan kelompok Rahmad. Dia dan sekitar 30 temannya, dengan mengendarai motor, lalu mendatangi Rahmad dan kelompoknya yang dinihari itu, sekitar pukul 1.30, sedang nongkrong.

Kelompok Azwar menyerang dengan senjata tajam. Rahmad sebenarnya sempat lari, tapi terjatuh. Saat itulah Azwar menggunakan senjata tajamnya. “Ditemukan luka tusuk di leher, lengan, dada, dan punggung korban,” kata Rikwanto. Secara terpisah, Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto membenarkan bahwa Azwar telah diperiksa. “Ya, dia pelakunya,” kata Imam. Tapi Imam mengaku belum tahu persis jumlah pengeroyok. “Soal itu sedang kami kembangkan,” kata dia. Azwar dijerat dengan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman hingga lima tahun penjara.

Misteri Pembunuhan Mahasiswi STT Telkom Diaya Eritasi Belum Terungkap

Pelaku pembunuhan terhadap mahasiswi STT Telkom Diaya Eritasi,20, asal Bekasi hingga Rabu belum terungkap. Timsus yang diturunkan Polres Bandung masih berkeliaran di sejumlah titik untuk melakukan penyelidikan. Meski polisi sudah memerilsa 8 saksi namun pelaku yang membantai korban masih misterius.

“Kami masih melakukan penyidikan dan penyelidikan. Doanya saja mudah mudahan pelaku cepat tertangkap,“ kata Kapolres Bandung AKBP Sandy Nugroho, saat dihubungi ‘Pos Kota’ melalui selulernya, Rabu. Sandi menjelaskan dari hasil penyelidikan dan keterangan sejumlah saksi dugaan kuat korban dibantai pelaku yang sekaligus merampok hartanya. Modusnya perampokan dan pembunuhan,“ ujarnya.

Berdasar hasil identifikasi pelaku setelah membunuh membawa kabur harta korban diantaranya laptop,HP dan perhiasan emas putih seberat tiga gram. “Korban mahasiswi semester empat itu dihabisi nyawanya di kamar mandi,“ tambah Kapolres.
Menyinggung hasil autopsi dari RSHS Bandung, demikian Sandy, menunjukan korban dibantai menggunakan benda tajam dan tumpul. Kemungkinan benda tajam berupa gunting yang kini sudah diamankan polisi. “Kami tegaskan hasil otopsi tidak menunjukan tanda tanda kalau korban diperkosa. Jadi korban hanya dibunuh kemudian hartanya dibawa kabur,“ papar kapolres.

Sementara pengojek di daerah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, siap membantu polisi dalam mengungkap kasus pembunuhan itu. Pasalnya, dengan adanya kejadian itu tak sedikit yang menuding pelakunya persis pengojek. Beberapa jam sebelum tewas korban diantar pulang motor.

“Kami khawatir pelaku menyamar tukang ojek. Imbasnya citra ojek buruk,“ kata Dudung, seorang pengojek.
Diberitakan, mahasiswi tewas dibantai di kamar kosnya di Dauehkolot Bandung sepekan lalu. Pelaku hingga kini masih misterius.

Emil Bayu Santoso Membunuh Eka Indah Jayanti Karena Cemburu dan Mayatnya Disembunyikan Dalam Tabung Gas Elpiji

Diduga cemburu, Emil tega menghabisi wanita simpanan suaminya, yakni Eka ,18. Setelah dibunuh, mayat Eka dimasukkan tabung dan disimpan di rumahnya Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya. Kasus ini terbongkar oleh kecurigaan warga setempat. Dalam beberapa hari terakhir, warga mencium aroma tidak sedap dari dalam rumah Emil. Takut terjadi apa-apa, warga melapor ke aparat kepolisian.

Laporan ditindaklanjuti dengan penggrebekan oleh aparat Polrestabes Surabaya, Selasa (13/3) pukul10.00 WIB. Hasilnya cukup mengejutkan, aparat menemukan tabung yang diduga menjadi sumber asalnya bau. Tabung dari besi berukuran diameter 43 cm dan panjang 173 cm lantas dibongkar paksa. Kecurigaan petugas terbukti, di dalam tabung, tergolek sosok mayat yang telah membusuk. Setelah diselidiki, mayat bernama Eka yang merupakan selingkuhan dari suami Emil.

Tidak butuh waktu lama, Emil lantas diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. Hasil pemeriksaan sementara, Emil mengakui perbuatannya. Kronologisnya, Emil cemburu akibat hubungan gelap antara Eka dengan suaminya. Hubungan telah terjalin sejak 4 tahun lalu. Bahkan di rumah sebelumnya, keluarga Emil dulu berumah di Jalan Karang Empat Surabaya, dia pernah memergoki suaminya pulang membawa Eka.

“Sejak kepergok, korban tidak pernah dibawa ke rumah tersangka. Tetapi, hubungan berlanjut dari hotel ke hotel,” tutur sumber di kepolisian. Mengetahui hubungan gelap tak pernah putus, Emil merencanakan pembunuhan. Eka lantas diculik ketika sedang menginap di sebuah hotel. Setelah diculik, Eka dibunuh dan mayatnya dibawa pulang untuk disimpan dalam tabung. Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Tri Maryanto saat di lokasi kejadian menyatakan bahwa pembunuhan ini motif dari percintaan. “Nanti akan kita lakukan pemeriksaan terhadap tersangka,” katanya. Untuk sementara ini, aparat menyita beberapa barang bukti. Terdiri dari alat las, alat untuk memukul korban, beberapa benda milik korban berupa HP dan pakaian.

Meski sudah menjalin hubungan intim selama bertahun-tahun, namun Emil Budi Santoso (37) dan Eka Indah Jayanti (27) tak juga menikah. Tetapi Emil sebenarnya ngotot ingin menikahi wanita asal Grobogan Jawa Tengah tersebut. Meski belum menikah namun Emil menyebut Eka sebagai istri. Emil yang sudah beristri itu ingin sekali menikahi dan memiliki anak dari Eka.

Sayangnya keinginan Emil yang tinggal di Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya itu bertepuk sebelah tangan. Eka menolak karena selama ini Emil selalu menggerogoti harta miliknya. “Emil sebenarnya ingin menikahi dan mempunyai anak dari Eka, tetapi Eka menolak dinikahi,” kata AKP Agung Pribadi.

Alasan Eka kata Kanit Resmob Polrestabes Surabaya, Emil seringkali meminta uang kepada Eka. “Eka sering disuruh Emil meminta uang ke orangtuanya, pernah Eka meminta uang Rp 10 juta atas suruhan Emil,” tambah Agung. Ayah Eka, Sutejo, merupakan Kepala Pasar Wirosari, Grobogan. Sedangkan ibunya, Wagirah(49), adalah seorang guru SD dengan golongan IVA.

Seperti diketahui, Eka tewas ditangan Emil yang emosi karena dibakar api cemburu. Mayat Eka yang bekerja sebagai sales promotion girl di Sleman itu dimasukkan tabung besi dan dilas. Rencananya Emil akan membawa tabung besi berisi mayat kekekasihnya ke Flores untuk dimakamkan.

Sayang rencana pengusaha jasa angkutan itu keburu terendus polisi. Kini Emil dan istrinya Patricia Yolansia Dahlia diamankan di Mapolrestabes Surabaya. Emil dari istri pertamanya yang sudah meninggal dikaruniai satu anak. Sedangkan hasil pernikahan dengan Yolansia mendapat 3 anak.

Perbuatan Emil B Santoso (37), warga Kapas Krampung 210 sungguh sadis. Setelah menghajar kepala istri simpanannya sebanyak 9 kali dengan pipa besi, dia membiarkan mayat Eka selama 2 hari sebelum akhirnya dimasukkan dalam tabung elpiji 50 kg.

Menurut Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya kompol Sudamiran, sebelum dimasukkan ke dalam tabung, mayat Eka Indah Jayanti (27) warga Pulokulon, Grobogan, Jawa Tengah sempat dibiarkan selama dua hari di kamar. Bahkan jasad Eka hampir dimakamkan di taman yang ada di lantai II. “Mungkin karena panik,” kata Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya kompol Sudamiran, Selasa (13/3/2012).

Setelah istri simpanannya tak bernyawa, Emil dengan dibantu istrinya Patricia Yolansia Dahlia (29) memandikan jenazah Eka. Setelah dimandikan, jasad Eka dibungkus kain putih dan diletakkan di atas tempat tidur.

Setelah dua hari, jasad Eka menimbulkan bau busuk. Emil mempunyai pikiran menggali taman yang berada di lantai II rumahn. Di areal taman itu sudah digali beberapa centimeter. Namun, niat tersebut akhirnya dibatalkan.

Setelah membatalkan rencana memakamkan di taman di lantai II, Emil bergegas menuju ke kawasan Bagong untuk membeli tabung elpiji bekas yang berukuran panjang 173 centimeter dan berdiameter 43 centimeter. Selain itu, Emil juga membeli peralatan las listrik di supermarket bahan bangunan.

Sebelum dimasukkan ke dalam tabung elpiji, jenazah Eka dibungkus plastik dan dililitkan sebanyak 5 kali. Setelah mayat Eka masuk, Emil menutup bagian atas dan bawah tabung dengan cara dilas tenaga listrik. “Istri tersangka juga turut membantu memasukkan jenazah korban ke dalam tabung,” tuturnya. Setelah dirasa aman dan tidak menimbulkan bau, tabung tersebut diletakkan di ruang garasi. “Memang tidak menimbulkan bau. Tapi saat tabung itu kita bongkar lagi (dengan cara dilas), menimbulkan bau,” jelasnya.

Mayat Eka Indah Jayanti sengaja disembunyikan di tabung besi agar tak mudah terlacak. Selain itu, Emil Budi Santoso rencananya akan mengirim ‘paket’ berisi ‘istri simpanannya’ itu ke Flores, NTT, untuk dikuburkan. “Rencananya tabung itu akan dibawa ke Flores untuk dimakamkan. Baik Emil dan istrinya (Yolansia) kan orang Flores,” kata Kompol Sudamiran kepada wartawan, Selasa (13/3/2012).

Wakasat Reskrim itu mengatakan bahwa Emil berencana akan membawa tabung berisi mayat Eka itu ke Flores melalui kapal. Dengan menguburkan mayat Eka, pria 37 tahun itu akan sempurna sudah menghilangkan jejak kejahatannya. Tetapi sebelum niat itu terlaksana, polisi sudah mencium dan menggagalkan perbuatannya.

“Padahal Emil tinggal menunggu jadwal kapal itu, tapi saya nggak tahu kapan jadwalnya,” tandas Sudamiran. Seperti diketahui, jenazah Eka Indah Jayanti (27) warga Grobogan, Jateng ditemukan di rumah EMil Budi Santoso di Jalan Kapas Krampung 210. Jenazah Eka ditemukan di dalam tabung besi berdiameter 43 cm dan tinggi 173 cm. Dari pengakuan Emil, pembunuhan itu dilakukannya pada Sabtu (11/2/2012) lalu karena didasari rasa cemburu.

Motif pembunuhan yang dilakukan Emil B Santoso terhadap istri simpanannya Eka Indah Jayanti (27) mulai sedikit terkuak. Pelaku menghabisi nyawa perempuan asal Grobokan, Jateng itu karena cemburu.

Emil menduga, Eka yang menjadi istri simpanannya itu tengah menjalin hubungan dengan pria lain. Sebab, Eka yang selama ini tinggal serumah dengan Emil, sering berkirim pesan singkat (SMS) ke selingkuhannya. Selain itu, tersangka menilai, Eka adalah orang suruhan mantan pacarnya.

“Motifnya, tersangka (Emil) merasa cemburu dengan korban, karena korban kerap kali diketahui mengirim SMS ke seseorang yang dianggapnya sebagai selingkuhannya,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Tri Maryanto kepada wartawan di mapolrestabes, Jalan Sikatan, Selasa (13/3/2012).

Meski sebagai istri simpanan, Eka dipersilahkan tinggal serumah bersama tersangka dan istri sahnya Patricia Yolansia Dahlia, di Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya. Selama tinggal di rumah tersebut sejak Januari 2012 lalu, Eka mulai menjalani hubungan dengan pria lain. Hal itu tak diinginkan Emil. “Tersangka sudah meminta korban supaya jujur menceritakan apa adanya,” tuturnya.

Jika Eka benar-benar memiliki pacar baru, Emil mengaku rela melepaskan istri simpanannya itu ke pelukan pria lain. Konsekwensinya berhubungan dengan pria lain, Eka disuruh keluar dari rumahnya. Tapi, Eka bersikukuh dan menyangkal tuduhan yang dilayangkan Emil. “Tersangka menduga, korban adalah orang suruhan mantan pacarnya yang ada di Yogya untuk menghancurkan rumah tangganya,” ujarnya. Mantan pacar Emil di Yogya adalah bos toko sepatu. Sedangkan Eka pernah bekerja sebagai SPG di toko tersebut.

Perselisihan itu membuat tersangka marah hingga menghabisi Eka dengan cara memukul bagian kepala korban dengan menggunakan besi bekas meja sebanyak 9 kali. Setelah tewas, korban sempat dimandikan di kamar mandi oleh tersangka bersama istri sahnya, dan akhirnya dimasukkan ke dalam tabung sepanjang 173 sentimeter dan berdiameter 43 sentimeter.

Pembunuhan keji menggegerkan Kapas Krampung, Surabaya. Eka Indah Jayanti dibunuh Emil Bayu Santoso. Emil kemudian menyembunyikan jenazah istri simpanannya itu di dalam bekas tabung elpiji berukuran 50 Kg. Tabung gas warna hijau itu diletakkan di garasi rumah tersangka Emil di Jl Kapas Krampung 210, Selasa (13/3/2012).

Korban yang berasal dari Pulowetan, Grobogan, Jawa Tengah, itu diduga kuat dibunuh oleh Emil pada pukul 15.30 Wib, Sabtu (11/2/2012). Saat ini, tersangka Emil dan istrinya, Yolansia, serta 5 anaknya diamankan polisi. Diduga kuat, pembunuhan itu berlatar belakang cinta segitiga, karena Eka dikenal sebagai istri simpanan Emil. “Korban istri simpanan tersangka. Setelah jenazah dimasukkan tabung, kemudian tabungnya dilas lagi,” kata seorang petugas kepolisian.