Category Archives: pembunuhan

Bos Power Steel Mandiri Dibunuh Debt Collectornya Sendiri Karena Tidak Mau Bayar Hutang Jasa Fee Debt Collector

Aksi pembunuhan terhadap bos PT Sanex Steel Indonesia, kini bernama Power Steel Mandiri, Tan Harry Tantono (45), dibunuh dilakukan ketiga tersangka di kamar 2701 Swiss-Belhotel, Sawahbesar, Jakarta Pusat, tempat di mana Harry tinggal di situ.

Sebelumnya, Harry sempat menghubungi salah satu pelaku untuk menemui dirinya di kamar hotel tersebut. Pertemuan akhirnya jadi dilakukan Kamis (26/1/2012) sekitar pukul 20.00. C, A, dan T datang dan menemui Harry.

“Dari pengakuan pelaku, perbincangan itu dilakukan di kamar hotel. Ketiga pelaku menanyakan masalah uang jasanya. Tapi korban tidak mau memberi uang yang sudah dijanjikannya itu. Pelaku kesal dan sempat mencaci maki korban,” papar Helmy.

Mulanya T yang mengeluarkan senjata tajam jenis pisau. Tanpa banyak tanya lagi, T menyerang Harry dengan menikam bagian perut sebelah kiri. Setelah T, pisau beralih ke tangan C. Dia juga menusuk tubuh Harry di bagian yang sama. Harry berusaha melawan. Namun karena jumlah lawan tidak sebanding, Harry menjadi bulan-bulanan dianiaya oleh ketiga pelaku.

Setelah T dan C, giliran A yang menggenggam pisau yang sudah berlumuran darah itu. Dari arah belakang, A menggorok leher Harry hingga dia jatuh tersungkur di lantai kamar hotel tersebut. Usai melampiaskan kemarahannya, ketiga pelaku pergi dari kamar hotel itu.

Diduga lantaran ingkar janji membayar hutangnya sebesar Rp 600 juta, bos PT Sanex Steel Indonesia, kini bernama Power Steel Mandiri, Tan Harry Tantono (45), dibunuh di Swiss-Belhotel, Sawahbesar, Jakarta Pusat, Kamis (26/1/2012) malam. Kasus ini terungkap setelah tiga orang pelaku yang menghabisi nyawa Harry menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya, Jumat (27/1/2012) dinihari.

Ketiga pelaku masing-masing C (30), A (28), dan T (23). Mereka tercatat tinggal di wilayah Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ketiganya langsung menjalani pemeriksaan. Saat ini, Polisi sedang berusaha mencari senjata tajam berupa pisau yang digunakan pelaku untuk membunuh Harry.

“Dari pengakuan tiga orang yang diamankan ini, mereka membunuh karena persoalan fee yang belum dibayarkan. Nilainya Rp 600 juta,” kata Kepala Subdit Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Helmy Santika , Jumat (27/1/2012).

Dijelaskan Helmy, C, A, dan T ini adalah penagih hutang atau debt collector. Selama ini mereka sudah menjalankan tugas dan amanah Harry untuk menagih hutang. Namun ketiganya belum juga menerima upah seperti yang telah dijanjikan Harry sebelumnya. Kesal dan kecewa dengan janji manis Harry, C dan kedua kawannya itu melampiaskan amarahnya dengan membunuh bosnya itu

Lindy Melissa Pandoh PNS Kabupaten Minahasa Selatan Ditemukan Tewas Telanjang Bulat Dalam Avanza DB 4026 QJ

Berikut kronologi singkat ditemukannya jenazah Lindy Melissa Pandoh, pegawai negeri sipil di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) Sulawesi Utara (Sulut). Kronologi yang bersumber dari polisi sektor Malalayang. Sekitar pukul 17.45 Wita, Polsek Malalayang melakukan patroli menggunakan motor di Kawasan Pantai Malalayang.

Anggota polisi mencurigai sebuah mobil Avanza silver DB 4026 QJ yang terparkir di dekat Tugu Boboca, Malalayang. Mereka kemudian langsung mengecek lalu menyenter ke dalam mobil tersebut. Petugas terkejut karena menemukan sepasang kekasih, satu di antara mereka dalam keadaan telanjang bulat dan di sekujur tubuhnya penuh dengan darah. Ada tiga luka tusukan di bagian tubuh yakni, di dada perut dan paha kiri.

Belakangan dari kartu identitas, korban bernama Lindy Melissa Pondoh. Korban berasal dari Tongkaina, Bunaken dan saat ini bekerja sebagai PNS di Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan. Sementara pria yang mengaku bernama Wensi dan bertugas sebagai Sat Pol PP Minsel dan tinggal di Desa Kinalawiran kecamatan Tompaso Baru Kabupaten Minahasa Selatan itu, tak bisa mengelak dari polisi.

Saat ditanya, Wensi mengaku perempuan terkena tikaman seseorang. “Waktu itu ada yang mau menikam saya, tapi saya mengelak dan mengenai Lindy Melissa Pandoh,” katanya seperti dituturkan polisi. Tak percaya begitu saja, polisi lantas mengamankan pria yang diduga sebagai pelaku itu ke Polsek Malalayang. Pengunjung kawasan Pantai Malalayang heboh dengan ditemukannya mayat gadis muda dalam kondisi tanpa busana alias bugil di dalam mobil Avanza silver. Polisi yang mengidentifikasi di tempat kejadian menemukan KTP korban dengan nama Lindy Melissa Pandoh.

Penelusuran Tribun Manado (grup Tribunnews.com), korban berasal dari Tongkaina Bunaken. Korban saat ini bekerja sebagai PNS di Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan. Menurut pengakuan polisi, korban ditemukan dalam keadaan tak berbusana dan mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuh. Dugaan sementara, korban meninggal akibat penganiayaan.

Kepada penyidik, tersangka Winzy mengaku khilaf dan menyesal sebab korban Lindy Melissa Pandoh terus memintah uang kepadanya. Tersangka mengakui tidak ada pemasalahan sebelumnya dengan korban. Dia mengaku bertanggungjawab atas perbuatan terhadap korban hingga korban kehilangan nyawanya.

Dia menceritakan, sebelum kejadian korban menghubunginya pada pukul 11.00 wita. Korban mengatakan kepadanya bahwa korban ingin menumpang mobilnya saat pulang ke Manado. Mereka pun berjanji akan bertemu jam 16.00 di kantor pengadilan.

Dikatakan, pembunuhan tersebut terjadi di kilometer 19, tepatnya di Desa Mokupa pada pukul 17.00 Wita. Setelah membunuh korban dia langsung mematahkan pisau dan membuangnya di hutan, lalu melanjutkan perjalanan ke Manado dengan perlahan hingga tibah di Pantai Malalayang pukul 19.20 Wita.

Dia mengakui tidak bersetubuh dengan korban karena saat itu dia hanya ingin mengganti pakaian namun kepergok patroli.
Akibat perbuatannya, Winzy dipastikan langsung dipecat dari pekerjaannya sebagai pegawai honorer pada Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Minsel. Perbuatan Winsy dinilai berpengaruh terhadap nama baik dari Sat Pol PP, bahkan memalukan citra Pol PP

Kematian Lindy Melisa Pandoh, yang tak wajar masih menjadi buah bibir masyarakat Manado. Bahkan dalam BlackBerry Masengger (BBM) telah beredar bila korban tidak benar berpacaran dengan si tersangka, Winsi W.

Selain itu juga, dalam edaran BBM juga menceritakan tentang kronologis kematian Lindy yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) berwajah cantik tersebut.

Berikut kronologi kematian Lindy yang beredar luas melalui BBM

The real story of RIP LINDY MELISA PANDOH
Lindy Pandoh TIDAK berpacaran dgn si pelaku Wensy Warou…si pelaku SUDAH MENIKAH,dan tidak benar bahwa Lindy adalah pacarnya menurut kesaksian si pelaku..karna Lindy berpacaran dgn Romel Walingkas…(Yg kebetulan 1 kampung dgn Romel)
Sekitar jam 2 sore lindy mo ke Manado,pas semntra tunggu oto penumpang,si pelaku pas mo ke manado..lindy pada waktu itu janjian sama yg namanya tony..trus karna sudah dapatkan tumpangan Lindy bbm tony “biarjo qt so manumpang dg teman” karna sifat lindy cepat akrab dgn orang2 :( jd lindy anggap teman si pelaku :’(

Setelah diselidiki ternyata si pelaku memang terobsesi pada Lindy…waktu lalu dia melihat lindy dia berkata “seandainya lindy suka pa qt,qt se cerai qt pe bini”. Jd tidak benar bahwa mereka adalah sepasang kekasih!!!
Sktr jam 5 sore oto patroli bolak balik d pinggir pante malalayang,mereka curiga kenapa tu oto d situ trus…lalu drg senter,ada 2 org d dlm,1 tu satpol yg 1 telanjang penuh darah. Ternyata tu satpol so tunggu2 malam krn si pelaku mo buang tu mayat d laut,mar polisi so riki. Kasian Lindy, setelah diotopsi ada 15 tusukan,ada yg da tusuk dr kiri tembus d kanan,dg da iris2 silet dp muka dg badan….

Tadi malam di interogasi polisi,si pelaku tidak mengaku bahwa dia yg melakukan perbuatan biadab itu…dia mengatakan bahwa,pada saat sampai di pantai malalayang ada 2 org menyergap si mereka…yg 1 menahan Lindy yg satunya lagi menahan si Pelaku sebenarnya…dia juga mengatakan akan menikahi si Lindy…padahal sebenarnya mereka tidak ada hub.apa2 :(
Syukur trimakasih Tuhan sudah membuat dia mengaku bahwa dia adalah pelaku yg melakukan Pemerkosaan dan pembunuhan….
Tuhan yang memberi,Tuhan yang mengambil,terpujilah nama Tuhan….Semoga tenang disisiNya Lindy Melisa Pandoh…we always love you dear friend :(

Ineke Gandaprajitna Warga Victoria Park Residence Jalan Rama Raya 2 Blok 1-3 No. 22 Karawaci Tewas Bersimbah Darah Dirumahnya

Seorang wanita muda ditemukan tewas bersimbah darah di kamar rumahnya di Victoria Park Residence Jalan Rama Raya 2 Blok 1-3 No. 22 Rt. 01/09 Kelurahan Nusa Jaya, Karawaci, Kota Tangerang, Kamis (19/1/2012) pagi. Korban bernama Ineke Gandaprajitna, 39 tahun, diduga korban pembunuhan.

Dikutip dari Humas Polda Metro Jaya, jenazah korban pertama kali dari kecurigaan sopir korban, Suyono, 46 , yang melihat ada ceceran darah dari dalam rumah korban. Penghuni rumah tersebut dipanggil-panggil, namun tidak ada jawaban. Karena tak ada jawaban, Suyono pun memberitahu warga dan petugas security yang dilanjutkan ke Polsek metro Karawaci.

Petugas Polsek Metro Karawaci bersama warga kemudian memeriksa dan mendobrak pintu kamar dan menemukan korban sudah tewas bersimbah darah. Jenazah korban selanjutnya dibawa ke RSUD Tangerang. Sedangkan kasus hingga kini masih dalam penyelidikan Polresta Tangerang Kota dan Polsek Metro Karawaci

ABG Cantik Ditemukan Tewas Telanjang Di Kebun Pisang Pancoran Mas Depok Setelah Diantar Timer Supir Angkot

Kasus pembunungan Anak Baru Gede (ABG) di Depok menemui titik terang, Senin (9/1). Gadis jebolan kelas 2 SMP itu dihabisi usai kongkow di Cibinong, Kab. Bogor. Kini, polisi mencari-cari seorang timer angkutan umum yang mengantarnya pulang. Jasad yang ditemukan mengenaskan di kebun pisang di Pancoran Mas, Depok, itu adalah Dwi Julianti alias Debi, 16. Perempuan semata wayang dari tiga anak Sarwani, 42, dan Zaimunah, 40, itu sehari-hari tinggal bersama neneknya di Kp. Kelapa, Rawapanjang, Bojong Gede. Ia juga bekerja di sebuah kafe di Citayem.

Sebelumnya diberitakan (Pos Kota, 9/1), jasad Debi ditemukan Niman alias Ucok pada Minggu (8/1) sekitar Pk. 14:00 di kebun pisang Jl. Mangga, Pancoran Mas, Depok. Jenazah yang hanya mengenakan kaos lengan panjang bergaris hitam putih itu posisinya terlentang dengan kedua kaki merenggang. Bra, celana dalam, sepasang sandal merah bergambar kupu-kupu serta sandal putih bertulisan Hotel Puri Residence ditemukan tak jauh dari jasad yang wajahnya penuh luka itu.

Ayah korban, keluarga dan sejumlah teman korban dimintai keterangan polisi. Data yang dihimpun dari Polda Metro Jaya menyebutkan pada Sabtu (7/1) malam hingga dinihari, Dwi bersama teman pria dan wanitanya kongkow di Jalan Baru tak jauh dari Pemda Cibinong, Kab. Bogor. Sambil ngobrol, anak-anak muda itu juga menenggak minuman keras.

Sekitar Pk. 04:30, Dwi ingin pulang. Seorang timer angkutan umum yang biasa ngetem di Citayem, Bb, 28, berinisiatif mengantar. Menggunakan motor matic milik Py, teman mereka, keduanya meninggalkan tempat itu. Pasangan itu mampir ke tempat timer Citayem lalu kembali pergi. Pagi hari, Py kaget bertemu Bb karena di wajah pria berkulit gelap dengan rambut cepak itu terdapat luka bekas cakaran. Ia juga menanyakan Dwi. Semula, Bb mengaku luka didapat karena jatuh tetapi belakangan ia mengaku luka itu akibat cakaran Dwi yang melawan saat diajaknya berhubungan badan. Bb juga mengaku telah menghabisi Dwi.

PERANGAI BERUBAH
Ditemui usai dimintai keterangan di Polresta Depok, Sarwani menyebutkan perangai anak keduanya itu berubah sejak ia bercerai dengan ibu korban dua tahun lalu. “Anak saya jadi senang main dan susah diingatkan,” ungkap tukang parkir di Tebet, Jaksel, yang tak megetahui anaknya sudah bekerja di sebuah kafe ini. Bahkan, Dwi pun jarang sekolah hingga terpaksa keluar saat duduk di kelas 2 SMP.

Ia mengaku tinggal di Jakarta bersama anak bungsunya sedang anak sulung telah berkeluarga. Meski begitu, setiap Minggu ia selalu menjenguk Dwi. Hanya saja, Minggu (8/1) pagi, ada hal tak biasa. “Anak saya itu nggak ada di rumah, padahal biasanya saya selalu bertemu,” katanya.

Ditunggu-tunggu tak datang, Sarwani mulai gelisah. Ia kaget mendengar kabar ditemukannya gadis korban pembunuhan. Setelah melihat jenazah, ia meyakini mayat itu sebagai Dwi. “Saya hafal benar ada bekas luka di atas mata kaki kiri anak saya,” katanya. Hadis, sepupu korban, bergerak cepat. Ia langsung mencari teman-teman Dwi hingga diketahui adik sepupunya itu pada dinihari diantar Bb.

Mayat perempuan yang ditemukan di kebun pisang Kampung Mangga, Kelurahan Bojong, Pondok Terong, Depok, ternyata berinisial DY, 16 tahun. Dia dikenali keluarganya lewat luka di betis kanannya akibat knalpot.

“Saya mengenalinya karena ada luka knalpot di kaki kanannya. Mukanya juga, tapi samar karena memar,” kata Sarwani, 42 tahun, bapak kandung korban pada wartawan di Kepolisian Sektor Pancoran Mas, Senin, 9 Januari 2012.

Sarwani mengaku syok ketika polisi datang ke rumahnya di Citayam dan memberi tahu ada seorang perempuan yang tewas . Ia pun disuruh ke Rumah Sakit Sukanto Polri, Kramatjati, Jakarta Timur untuk mengenali jenazah tersebut. Setelah melihat ternyata benar. “Ya masih syok, mulai dari laporan polisi yang datang ke rumah,” katanya.

Menurut Sarwani, dia sudah punya firasat mengenai kematian anaknya tersebut. DY yang belum bekerja tidak pulang ke rumah selama dua hari. “Ya ada firasat. Selalu kepikiran, anak saya ini di mana,” katanya. Mayat gadis berusia 16 tahun tersebut ditemukan di bawah pohon pisang di sebuah kebun, di Gang Mangga, Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Depok, sekitar pukul 14.00 WIB, Minggu, 8 Januari 2011. Korban ditemukan dalam keadaan telanjang dengan memar di sekujur wajahnya.

DY, adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Juwanda Riswandi, 18 tahun, sedangkan adiknya, Rangga Saputra, 6 tahun. Sarwani mengetahui DY memang susah diatur sejak ia dan istrinya, Zainunah, 40 tahun, pisah ranjang pada 2006. “Namun ia enggak pernah ngeluh, kalau minta uang biasa,” katanya.

Sarwani sendiri memutuskan tinggal di Kalibata, Jakarta Selatan. Sedangkan DY tinggal bersama neneknya di Jalan Ken Arok, Kampung Kelapa RT 05 RW 19, Rawa Panjang, Bojong Gede, Bogor.

Sarwani mengaku menyesal karena tidak mampu menjaga dan memberikan perhatian kepada putrinya itu. “Ini karena DY kurang perhatian. Dulu DY rajin mengaji,” ujarnya. “DY akan dimakamkan di Citayam.” Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Helmy Santika mengatakan bahwa korban pembunuhan di Depok, Dwi Julianti, sempat diantar oleh seorang kawan menggunakan motor pinjaman.

Menurut Helmy, orang yang mengantar Dwi inilah yang berada bersama korban sebelum ia ditemukan tewas terbunuh. “Dia meminjam motor dengan alasan hendak mengantar korban. Motor itu kemudian dikembalikan lagi ke pemiliknya,” kata Helmy saat ditemui di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya pada Senin sore, 9 Januari 2012.

Seperti diberitakan sebelumnya, mayat Dwi Julianti, 16 tahun, ditemukan di bawah pohon pisang di sebuah kebun, di Gang Mangga, Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Depok, sekitar pukul 14.00 WIB, Minggu, 8 Januari 2011. Korban ditemukan dalam keadaan telanjang dengan memar di sekujur wajahnya.

Kepala Unit I Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Budi Hermanto mengatakan hasil autopsi menunjukkan Dwi tewas lantaran dipukul dengan benda tumpul di kepala. “Ada pendarahan di otak,” katanya.

Meski ditemukan dalam keadaan telanjang, polisi tak dapat memastikan apakah Dwi diperkosa terlebih dahulu sebelum tewas. “Di alat kelamin korban tidak ditemukan sperma,” kata Helmy. Lokasi ditemukannya mayat Dwi, kata Helmy, berdekatan dengan tempat Dwi bekerja. “Dia bekerja di kafe di sekitar Tempat Kejadian Perkara,” katanya.

Polisi Menduga Pembunuh Sadis Wanita Dalam Kardus di Koja dan Anak Wanita Dalam Koper Cakung Adalah Orang Yang Sama

Kepolisian menduga penemuan mayat tak beridentitas di kawasan Koja, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur, saling terkait. Keterkaitan itu dilihat dari cara pembunuhan sadis yang dilakukan pelaku. “Kami duga ada kaitannya karena polanya sama,” ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

Dia melanjutkan, kesamaan pola itu dilihat dari cara yang dilakukan pelaku dalam membuang jenazah korban. “Di Jakarta Timur dimasukkan ke dalam kopor. Di Jakarta Utara dimasukkan ke dalam kardus, ini mirip caranya,” tutur Irwan.

Jenazah juga sengaja dibalut dengan kain. Korban di Jakarta Utara dibalut dengan kain bermotif batik berwarna biru dan merah muda, sedangkan korban tewas di Jakarta Timur dibalut dengan kain kelambu berwarna abu-abu.

Irwan mengatakan, pelaku juga tampak sengaja meninggalkan petunjuk berupa kartu nama untuk mayat bocah perempuan yang dibuang di Cakung dan foto laki-laki untuk mayat perempuan dewasa yang dibuang di sebuah gang di Koja. Petunjuk itu bisa jadi untuk memburamkan identitas pelaku sebenarnya.

“Bisa jadi itu petunjuk sebenarnya untuk memburamkan fakta, kami belum tahu. Saya dapat informasi yang di timur itu setelah diperiksa sama si pemilik kartu nama, ternyata dia enggak ada kaitannya, bisa jadi foto cowok juga begitu,” kata Irwan.

Tetapi, lanjutnya, kepolisian tetap harus menelusuri petunjuk itu. “Hasilnya bagaimana, itu nantilah, kami tetap akan telusuri petunjuk-petunjuk,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan. Kali ini mayat di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Hingga kini belum diketahui identitas mayat perempuan yang dimasukkan ke dalam kardus televisi di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Namun, kuat dugaan pelaku pembunuhan wanita malang berusia sekitar 40 tahun cukup sadis.

Hal ini diakui Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan. Ia mengatakan dugaan kuat kematian wanita itu karena mati lemas setelah dibekap pelaku.

Namun, rupanya pelaku tidak berhenti usai membekap korban. Pelaku justru kembali menyakiti korban dengan menusuk memakai senjata tajam sehingga menyebabkan luka sedalam 25 mm di bagian perut. “Ada juga pendarahan dari luka tusuk itu,” ungkap Irwan.

Ia menambahkan bahwa saat pelaku membunuh, korban tengah hamil dengan usia kandungan 4-6 minggu. “Kami masih belum mengetahui motif di balik ini apa,” ungkap Irwan.

Ia menuturkan penyidik kini melihat adanya kesamaan antara korban tewas di Koja, Jakarta Utara dengan mayat bocah perempuan berusia 10 tahun di Cakung, Jakarta Timur. “Kami lakukan tes DNA keduanya untuk melihat apakah ada hubungan darah,” tandasnya.

Polisi menemukan selembar kartu nama bertuliskan Saripudin bersama dengan mayat bocah perempuan yang dimasukkan ke dalam koper di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Namun, setelah ditelusuri ternyata pemilik kartu nama itu tidak mengenal korban.

Kepala Unit Reskrim Polsek Metro Cakung Ajun Komisaris Made, Senin (17/10/2011) mengatakan, dalam kartu nama itu, tercantum alamat Saripudin di Jalan Boulevard Gading Permai, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polisi kemudian menelusuri alamat tersebut dan memeriksa pemilik kartu nama.

Saat ditunjukkan foto korban, Saripudin mengaku tidak mengenalnya. Ia juga heran mengapa kartu namanya ada di dalam koper bersama anak usia 5-9 tahun yang tewas mengenaskan dalam koper itu.

“Dia itu sales alat elektronik dulunya. Memang dia sebar banyak kartu nama. Dia bingung siapa yang punya kartu namanya dan kenapa ada sama anak itu,” kata Made.

Made mengatakan, polisi masih belum dapat menyimpulkan dugaan kematian bocah malang itu. Tes DNA untuk mencocokkan adanya hubungan darah antara korban dan mayat perempuan dewasa di Koja pun sudah dilakukan hari ini. Namun, hasilnya masih belum keluar.

Mayat bocah itu ditemukan pada Sabtu (15/10/2011) di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 5-9 tahun. Korban memiliki gigi jarang di bagian depan, tinggi badan sekitar 105 cm, memakai anting jarum pentul warna ungu, dan memiliki bekas luka parut di bagian dagu sebelah kiri.

Korban tewas yang ditemukan di dalam kardus yang tergeletak di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara pada Jumat (14/10/2011) lalu diduga tewas karena lemas. Ada dugaan korban tewas setelah sebelumnya sempat dibekap oleh pelaku. Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Dari hasil forensik menyebutkan dia mati lemas atau dibekap,” ujarnya. Irwan menuturkan kesimpulan itu didapat tim forensik setelah melihat bagian-bagian tubuh tertentu.

“Misalnya lubang tinja itu dilihat. Ada tandanya, yang tahu forensik, kalau dia mati lemas itu bagaimana,” ucap Irwan.

Tetapi, kata Irwan, hasil forensik juga menunjukkan penyebab kematian bisa saja karena tusukan benda tajam. Pasalnya, di bagian perut korban ditemukan luka tusuk akibat kemasukan senjata tajam sedalam 25 mm. “Diperkirakan korban tewas 12 jam sebelum ditemukan,” tambah Irwan.

Dari hasil visum yang diterima polisi, perempuan itu diketahui memiliki ciri-ciri berusia 40 tahun, bergolongan darah A, berkulit kuning langsat, berambut panjang berwarna hitam, dan tinggi badan mencapai 155 cm. Bagi pihak yang mengenali ciri-ciri itu, bisa menghubungi call center Polda Metro Jaya di nomor 0816782000, atau Call Center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

“Kami fokus pada pengungkapan identitas korban. Kalau sudah diketahui, akan lebih mudah proses penelusurannya,” pungkas Irwan. Identitas foto anak laki-laki berusia 15-16 tahun yang disertakan bersama mayat perempuan di dalam kardus yang ditemukan di wilayah Koja, Jakarta Utara, masih misterius. Polisi sudah berkoordinasi dengan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara dan memastikan bahwa anak laki-laki berseragam sekolah itu bukanlah pelajar di wilayah Jakarta Utara. Demikian disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Tadi sudah koordinasi dengan Sudin Disdik Jakut, Pak Gatot. Dia memastikan kalau di Jakarta Utara tidak ada sekolah baik SD, SMP, dan SMA yang memiliki seragam seperti di foto itu,” ujarnya.

Polisi sampai sekarang juga belum mendapatkan laporan pihak yang mengaku mengenali sosok laki-laki berseragam biru tersebut. Demikian pula dengan sosok jenazah perempuan yang dibunuh secara sadis dan dimasukkan ke dalam kardus.

“Belum ada satu pun yang mengenali foto laki-laki dan jenazah perempuan,” kata Irwan.

Pihak polisi, kata Irwan, sudah menyebar ratusan foto wajah perempuan yang diperkirakan berusia 40 tahun itu. Foto-foto korban disebar di berbagai tempat keramaian di wilayah Koja, Tanjung Priok, dan Cilincing.

Polres Metro Jakarta Utara dan Polda Metro Jaya kini juga membuka call center apabila ada pihak yang memiliki informasi penemuan jenazah perempuan malang itu. Adapun nomor telepon call center Polda Metro Jaya yakni 0816782000, sedangkan call center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

Seperti diberitakan sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, usia 40 tahun, kulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam warna hitam.

Sebanyak 11 orang saksi diperiksa terkait penemuan mayat tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus dan koper di wilayah Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya. Ia melanjutkan untuk kasus penemuan mayat di dalam koper di Cakung sebanyak tiga orang sudah dimintai keterangan.

“Di timur sudah ada tiga orang saksi yang diperiksa. Mereka yang ada di sekitar lokasi saat mayat ditemukan,” ungkap Baharudin.

Sementara untuk penemuan mayat perempuan dewasa di Jakarta Utara, polisi telah memeriksa delapan orang saksi. “Di antaranya dua orang saksi yang menemukan langsung, dua orang yang melihat di ujung gang, dan empat orang pemilik rumah di sekitar lokasi,” kata Baharudin.

Saat ini, polisi juga membuka call center bagi siapa pun yang mengenali sosok mayat tersebut yakni di nomor 0816782000. Diakui Baharudin, polisi akan bertindak proaktif dalam mencari identitas kedua mayat yang diduga saling terkait itu.

“Semua sumber informasi akan jadi saran bagi kepolisian untuk membuat terang kasus ini,” kata Baharudin.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Utara masih terus melakukan pemeriksaan terkait penemuan mayat perempuan tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus televisi. Polisi kini mulai mencurigai pengendara motor yang diketahui warga sering bolak-balik di tempat ditemukannya mayat itu.

“Orang yang naik motor bolak-balik ini yang kami dalami. Sampai sekarang kami belum tahu motornya apa dan nomor polisinya berapa,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Gatot Edy Pramono, Minggu (16/10/2011) di Mapolda Metro Jaya.

Ia melanjutkan, penyidik sudah meminta keterangan dari warga setempat yang pertama kali menemukan mayat itu dan warga lain yang melihat pengendara motor itu. “Sejauh ini baru warga-warga itu. Belum ada yang lain,” tutur Gatot.

Sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan berada di dalam kardus televisi yang dibuang di pinggir Gang B RT 7 RW 17, Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Jumat (14/10/2011) pukul 14.30.

Menurut beberapa warga, kardus itu ditemukan setelah beberapa saat terdengar suara gaduh barang dibuang dan diikuti suara motor. Saat dilihat ternyata ada sebuah kardus televisi besar diletakkan di jalanan.

Ketika dibongkar, warga melihat sesosok mayat perempuan yang dibelit kain batik. Wajahnya ditutup rambut panjangnya yang lurus. Temuan ini pun dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Utara. Penyidik Reskrim Polrestro Jakarta Utara yang membongkar kardus itu menemukan mayat perempuan itu hanya mengenakan pakaian dalam. Tubuhnya pun diikat dengan tali rafia sehingga badan dan kakinya menyatu. Selain itu ditemukan foto bocah laki-laki dan luka tusuk di bagian perut.

Polisi menduga dua mayat tanpa identitas di dalam kardus dan koper yang ditemukan di Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur saling berkaitan. Untuk membuktikan keterkaitan keduanya, polisi akan mencocokan DNA dari kedua jenazah.

“Hari ini dari dua temuan itu akan dicek DNA oleh kedokteran forensik untuk melihat kecocokan apakah dua jasad ini punya keterkaitan atau berhubungan darah atau tidak,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya.

Diakui Baharudin, kepolisian sampai sekarang juga masih belum mengetahui identitas kedua jenazah tersebut. Pasalnya, masih belum ada pihak yang mengaku pernah mengenal jenazah itu. Baharudin menjelaskan, polisi saat ini fokus untuk mengungkap identitas keduanya. Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur langsung membentuk tim khusus didukung Direskrimum Polda Metro Jaya.

“Tujuannya untuk cari identitas korban. Kami juga membuka call center di nomor 0816782000,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam koper di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Mayat Wanita berbaju Muslimah Ditemukan Dalam Koper Dengan Alat Kelamin dan Dubur Rusak

Sesosok jasad bocah perempuan yang diduga korban pemerkosaan, ditemukan di dalam koper hitam oleh di pinggir jalan dibawah tiang listrik di wilayah Jl. Cakung-Cilincing, RT 004 RW 4, Cakung Barat, Jaktim, Sabtu (15/10).

“Dugaan sementara adalah korban pembunuhan pemerkosaan, pasalnya alat kemaluan dan dubur korban rusak,” kata Kapolres Jaktim, Kombes Saidal Mursalin.

Korban diduga tewas sejak beberapa hari yang lalu, pasalnya bau menyengat dan kondisi fisiknya yang sudah hancur terlihat sangat mengenaskan. Korban pun sulit dikenali lantaran wajahnya sudah tidak terlihat utuh dimana bola matanya sudah hampir keluar dari posisinya. Selain itu, dari alat kelamin korban, terlihat usus yang keluar.

Saat ditemukan, di koper berukuran 40 cm X 30 cm itu terlihat beberapa potong pakaian, diantaranya baju jilbab muslimah warna merah, kelambu biru, celana pendek tentara, dan baju mandi warna merah jambu. Dibeberapa tumpukan pakaian tersebut, korban ditemukan tanpa sehelai benang pun dengan wajah yang lebam.

Tidak ada ciri-ciri khusus yang terdapat dari tubuh korban, sermua ini lantaran sekujur badannya melepuh akibat disiram air panah Yang terlihat korban berambut hitam yang diperkirakan sepanjang bahu, namun semuanya sudah mulai terlihat rontok.

“Kami terus melakukan penyelidikan, namun bila ada masyarakat yang kehilangan anak berusia 5 tahun sampai delapan tahun segera melaporkan ke polisi terdekat,” ujar Saidal.

Marzuki, 50, salah seorang saksi yang pertama kali menemukan koper dengan merek polo mengatakan “Waktu saya lagi jalan, saya lihat ada koper yang dikerubungi lalat. Saya yakin banget kalau itu mayat, makanya saya langsung lapor polisi,” katanya.

Sementara itu, jasad bocah malang itu langsung dibawa ke RSCM untuk di otopsi.

Tim Kuasa Hukum AKBP Mindo Tampubolon Desak Polda Kepri Keluarkan SP3 Karena Tidak Punya Cukup Bukti

Tim kuasa hukum AKBP Mindo Tampubolon mendesak penyidik Polda Kepri untuk segera membuat Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kliennya. Tuntutan agar segera dikeluarga SP3, karena tim kuasa hukum menilai tidak cukup bukti untuk melibatkan Mindo dalam pembunuhan istrinya itu.

Pengacara Mindo, Dion Pongkor SH mengatakan dalam KUHAP (Kitab undang-undang hukum acara pidana) Pasal 184 ada 5 alat bukti yaitu keterangan saksi, ada surat, ada keterangan terdakwa, ada petunjuk dan ada keterangan ahli. Dari lima alat bukti itu seseorang dijadikan tersangka harus memenuhi minimal dua alat bukti.

Namun dalam kasus yang menimpa Mindo tidak cukup bukti hanya pengakuan Ujang dan Rosma saja tanpa didukung bukti lainnya, lalu penyidik menetapkan Mindo sebagai tersangka.

Perlu diingat Ujang seorang residivis yang baru keluar dari penjara dan keterangannya selalu berubah- ubah. Awalnya mengaku para sekuriti ikut terlibat, akhirnya Direskrimum Polda Kepri menangkapnya dan menahan tujuh sekuriti selama sebulan lebih.

Setelah mereka babak belur dihajar, akhirnya Ujang dan Ros mencabut pengakuan keterlibatan sekuriti itu.

“Kami sebagai pengacara tidak melulu membela Mindo, kalau memang terbukti bersalah silakan diproses. Kami hanya menegakkan kebenaran. Jika ada keterlibatan Mindo tentu kami tidak akan menutupi. Ini sangat berbahaya kalau ditutupi karena menyangkut nyawa orang lain yang meninggal secara tidak wajar. Kami pun tidak mungkin datang membelanya, jika dia yang terlibat membunuh istrinya,” kata Dion Jumat lalu, .

Ketika ditanya apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan tim kuasa hukum, Dion mengatakan saat ini pihaknya akan mendesak penyidik segera menerbitkan SP3. “Kami tidak akan tinggal diam dalam kasus ini, kami akan tetap menempuh jalur hukum termasuk menuntut balik,” kata Dion.

Sehari sebelum kejadian pembunuhan Putri Mega Umboh, tidak ada tanda- tanda mencurigakan bakal terjadi sesuatu terhadap Putri. Memang saat itu Mindo dan Putri agak kesal dengan ulah Rosma yang diam-diam mengunci pintu kamar majikannya. Padahal selama ini pintu kamar itu tidak pernah dikunci.

Mindo menyebut tindakan Rosma yang membuat mereka kesal adalah ketika Ros mengunci kamar tidur mereka hari Kamis (23/6/2011). “Kami sekitar pukul 21.00 masuk ke rumah. Saya ingin tidur, tapi pintu terkunci, lalu saya tanya sama istri kenapa kamar dikunci, istri bilang tidak ada dikunci.
Setelah itu Putri menanyakan ke Ros dan dijawab dirinya yang mengunci pintu dan kuncinya dipegang. “Setelah saya buka kunci pintu itu tidak bisa, entah apa yang dibuat Ros sehingga anak kunci itu sulit membuka pintu. Saya coba terus tetap tidak bisa, lalu saya telepon tukang kunci untuk datang, karena sudah malam tukang kunci hanya menganjurkan buka saja pernya. Namun membuka pernya itu sangat sulit, akhirnya saya pakai obeng untuk mencongkel- congkel pernya selama dua jam lamanya baru bisa terbuka,” kata Mindo.

Ia menyebut saat itu dia pun emosi dan memukul Rosma karena menutup kamar tidur, padahal selama ini tidak pernah itu dikunci.
“Saat itu saya juga marah pada Ros, akibat ulahnya yang menutup pintu tanpa disuruh, membuat istri emosi. Saya sekitar dua jam mengutak atik kunci pintu itu dan terbuka sekitar pukul 23.00. Setelah itu istri saya yang sudah geram memukul Ros menggunakan telapak sepatu boat saya kena ke pipinya. Setelah itu besoknya terjadilah kejadian itu,” kata Mindo.
Rosma saat itu dipukul Putri pakai telapak sepatu boat milik Mindo sekitar pukul 21.00 setelah pintu kamar sudah bisa terbuka. Saat itu Mindo masuk kamar bersama Keyza, sedangkan Putri masih di lantai bawah bersama Ros.
Mindo menyebut saat itu dirinya sudah tidur-tiduran, karena baru pulang dan sangat capek sekali. “Saya tidur-tiduran di kamar. Saat itu saya dibanguni istri dan bilang baru memukul Ros dengan telapak sepatu boat ke pipi Ros. Setelah itu saya terbangun dan kembali tidur, saya tidak tahu jam berapa saya bangun, karena tidak selalu saya perhatikan jam,” kata Mindo, Kamis (15/9).

Ketika ditanya apakah tahu Ujang datang sekitar pukul 24.00 atau tengah malam dan menyelinap masuk ke rumah? Mindo menyebut tidak tahu. “Saya tidak tahu dan saya tidak kenal dengan Ujang. Pada malam itu saya tidur dan bangun pagi, setelah itu saya diantar istri ke kantor sekitar pukul 06.30. Saya tidak tahu bahwa Ujang masuk ke rumah,” jelasnya.

Ia menyebut pada saat mengantar jenazah Putri ke Lampung, ketika diperjalanan dirinya membaca koran, bahwa Rosma saat dipukul Putri menelepon ke pacarnya Ujang. Dalam koran itu disebut Rosma kembali dimarahi Putri dan dipukul pakai telapak sepatu wajahnya.

“Terus terang saya tidak tahu apakah Ujang datang, karena saya tidak begitu kenal dengan Ujang. Saya lihat Ujang hanya sekali saat Ros lari dari rumah dan kami ke tempat yayasan untuk menjemputnya, ternyata Ros tidak ada yang ada adalah Ujang. Jadi kalau ada yang mengait- ngaitkan apalagi saya disebut pelaku tidak masuk akal,” katanya.
“Sebenarnya saya sudah bilang sama istri, mending kita cari pembantu yang lain aja tapi istri bilang kalau yang baru nanti masih lama lagi mengajarinya. Selain itu kita sudah membayar gajinya dimuka selama enam bulan. Masa baru berapa bulan langsung kita putus. Lebih baik kita bawa lagi Ros ke rumah,” kata Mindo mengutip omongan Putri.

Karena itulah Ros diajak lagi kerja lewat bujukan pacarnya Ujang. Dan kembali Rosma bekerja sampai terjadi pembunuhan itu. Dari situ sudah jelas, kata Mindo, bahwa istrinya dihabisi Ujang dan Ros karena motif sakit hati dan dendam. Gatwein Mosse, ibunda Putri Mega Umboh belum bisa bernafas lega. Kasus kematian putri kesayangannya hingga hampir tiga bulan berlalu belum juga rampung pemberkasannya.

Bahkan kepedihan hatinya bertambah saat penyidik menyeret menantunya, AKBP Mindo Tampubolon menjadi salah satu tersangka pembunuhan sadis itu. Hanya saja mengenai penetapan tersangka terhadap Mindo ini hingga kini masih kontroversi karena penyidik belum menemukan alat bukti, kecuali hanya pengakuan dari tersangka utama Ujang dan Rosma.
Gatewein Mosse yang dihubungi Tribun, Minggu (18/9/2011), mengaku sampai saat ini masih merasakan ada kejanggalan yang tak bisa ia terima secara akal sehat jika sampai Mindo disebut- sebut terlibat.

Sebab, menurut dia, dari fakta yang ada tak satu pun bukti yang menguatkan sangkaan penyidik di bawah pimpinan Dir Reskrimum Polda Kepri Kombes Pol Wibowo bahwa Mindo terlibat. Ia mengaku masih percaya dengan Mindo. Bahkan, untuk mencari jawaban siapa pembunuh sesungguhnya Putri Mega, Gatwein mengaku sampai rela mendatangi seseorang yang memiliki kemampuan supranatural terkenal di Jakarta.

“Kalau Kapolda menggunakan jasa Ki Joko Bodo, maka saya pun mengimbangi dengan mendatangi ahli supranatural di Jakarta. Pak Chandra cukup terkenal di Jakarta. Dia bukan dukun, tapi memiliki kemampuan supranatural,” kata Gatwein, yang juga istri Kombes Pol James Umboh, seorang perwira di Polda Bali itu.

Tak hanya itu, Gatwein bahkan mengaku telah mendatangi lima paranormal lainnya semenjak kematian Putri. Namun dari mereka Gatwein pun menyatakan tak ada satu paranormal pun yang memiliki petunjuk akan keterlibatan Mindo.
“Saya sempat diminta oleh Kombes Pol Wibowo untuk datang ke paranormal menanyakan hal itu. Sampai sekarang sudah lima orang paranormal saya datangi semenjak kematian Putri, namun hasilnya nihil,” kata Gatwein.

Ia mengatakan, hasil ‘pelacakannya’ itu pun sudah disampaikan kepada Wibowo. Dan, karena ia yakin tidak ada keterlibatan menantunya, ia mendesak agar penyidik segera mengeluarkan SP3.

Putri Mega Umboh dibunuh oleh Ujang dan Rosma, pembantu rumah tangganya pada 24 Juni silam. Jasadnya ditemukan di hutan wilyah Punggur Batam, atau kurang lebih 10 kilometer dari rumahnya, dalam kondisi terdapat banyak luka tusukan dan luka gorokan di bagian leher.

Ujang dan Rosma yang dijadikan tersangka, belakangan menyeret nama Mindo terlibat. Namun Mindo mematahkan tudingan yang disampaikan karena berdasarkan alibinya, saat kejadian ia berada di Mapolda Kepri dari pagi hingga sore hari. Hal itu juga dibenarkan oleh para saksi.

AKBP Mindo Tampubolon Mantan Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri Terlibat Pembunuhan Istrinya Sendiri Putri Mega Umboh

Sosok AKBP Mindo Tampubolon yang ikut terlibat langsung dalam pembunuhan istrinya, Putri Mega Umboh saat gelar rekontruksi, Kamis (8/9/2011), menjadi perhatian warga Angrek Mas 3, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Masyarakat yang melihat langsung reka ulang itu terlihat tidak henti-hentinya menggeleng-gelengkan kepala, merasa belum percaya jika pria yang memperagakan rekonstruksi tersebut adalah Mindo, suami korban sendiri.

Seluruh mata warga Angrek Mas 3 yang melihat rekontruksi tertuju kepada AKBP Mindo Tampubolon saat keluar dari rumahnya hendak membuang jenazah Putri ke hutan Punggur, tak beberapa lama diikuti Ujang dan Rosma sambil membawa koper warna Ping. Pada rekonstruksi itu, Mindo menggunakan baju warna merah dan celana panjang hitam.

“Loh itu kan suaminya, itu ada tulisan di dadanya, Mindo Tampubolon. Waduh, berarti suaminya ikut membunuh ya. Kok tega ya?,” ujar seorang warga sembari menunjuk ke arah Mindo saat keluar dari rumahnya. Dalam rekontruksi itu, Mindo, Rosma, dan Ujang terlihat terlibat langsung mengeksekusi nyawa Putri.

Selama mengeksekusi korban, wartawan yang meliput tak bisa mengetahui detil peran masing-masing tersangka, pasalnya rekontruksi dilakukan secara tertutup dengan penjagaan yang super ketat dari aparat Brimob dan Shabara.
Bahkan tak satu pun wartawan diperbolehkan masuk ke dalam rumah.

Keterlibatan Mindo dalam pembunuhan istrinya mulai terlihat saat keluar dari rumahnya. Mindo terlebih dahulu keluar sebelum Ujang dan Rosma yang sambil membawa jenazah Putri dalam koper. Bahkan saat Ujang dan Rosma membawa jenazah Putri dan anaknya Keysia, Mindo juga ikut terlihat dalam mobil menemani.

Mindo dengan tenang duduk di sebelah Ujang yang membawa mobil miliknya Nisan Extrail BP 24 PM. Ujang terlihat sempat membawa mobil sampai keluar pos sekuriti Angrek Mas 1. Namun tiba-tiba setelah keluar, mobil yang dikendarai Ujang berhenti.

Tak beberapa lama Mindo keluar dari Mobil dan berpindah tempat. Ujang yang awalnya membawa mobil berpindah tempat duduk sebelah kiri yang sebelumnya ditempati Mindo. Setelah Mindo membawa mobil, mereka melanjutkan perjalanan ke SPBU depan Perumahan Plamo Garden.

Setelah sampai di SPBU mengisi bahan bakar, Mindo cs menuju ke mesin ATM bank Mandiri. Saat itu hanya Ujang yang turun dan masuk ke dalam menarik uang. Begitu keluar dari ATM, Ujang menemui operator SPBU membayar bahan bakar yang dibeli.
Selama berada di SPBU, sosok Mindo dan Rosma tidak turun dari mobil.

Kemudian Mindo, Ujang dan Rosma melanjutkan perjalanan ke hutan Punggur membuang jenazah Putri. Tepat di lokasi pembuanggan Putri ditemukan, Ujang turun dari mobil mengambil jenazah Putri yang diletakkan di belakang, tepatnya di sebelah Rosma dan Keysha duduk. Selanjutnya Ujang menarik koper ke dalam hutan sekitar 25 meter dari jalan raya.
Kemudian Mindo bersama Ujang dan Rosma melanjutkan perjalanan. Namun di tengah jalan, tak jauh dari Kapling Punggur, Mindo menghentikan mobilnya.

Ujang dan Rosma, sambil mengendong Keysha, kemudian menumpang taksi, sedangkan Mindo naik taksi yang berbeda.
Mobil Nisan Extrail yang digunakan untuk membuang jenazah Putri ditinggal begitu saja. Saat itu Ujang dan Rosma langsung menuju tempat kosnya di RT 8/RW 4, Kampung Dalam, Baloi Danau. Namun tidak beberapa lama keduanya kembali pergi dengan menggunakan taksi ke Hotel Bali.

Namun sebelum sampai di Hotel Bali, keduanya berhenti di depan pasar Pagi, Jodoh. Selanjutnya Ujang dan Rosma sambil mengendong Keysha menuju Hotel Bali untuk bersembunyi. Bagaimana kondisi AKBP Mindo Tampubolon setelah dinonaktifkan dari jabatan Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Kepri? Meski masih berstatus tersangka, Mindo merasa tenang dan bahagia.
Mengenakan baju hitam bergaris dipadu celana kain hitam, wajah Mindo tidak terlihat tertekan.”Saya sekarang kabar baik. Terkait kasus yang saya hadapi saya sekarang menang. Fitnah yang selama ini ditujukan ke saya ternyata tidak terbukti. Ini bukan karena saya tapi karena Tuhan menyertai saya,” kata Mindo yang terlihat lebih rileks dengan senyum mengembang, Minggu (21/8/2011).

Mindo ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan Putri Mega Umboh, istrinya. Selain Mindo, penyidik telah menangkap Ujang dan Rosma. Selain itu, penyidik juga menetapkan tujuh sekuriti perumahan sebagai tersangka meski saat ini telah ditangguhkan. Belum jelas apa maksud Mindo mengatakan bahwa dia saat ini menang. Namun penyidik memang masih menunggu hasil sidang Rosma dan Ujang sebagai tersangka utama pembunuhan Putri. Getwein Mosse, Ibunda Putri Mega Umboh menyebut hingga kini pihak Polda Kepri belum memberikan hasil autopsi kepadanya. “Kami dari pihak keluarga korban belum mendapat hasil autopsi. Saya akan minta ini ke penyidik bagaimanapun saya berhak tahu seperti apa hasilnya,” katanya.

Rencananya penyidik akan menggelar rekonstruksi pembunuhan Putri. Getwein memastikan akan hadir saat rekonstruksi yang akan digelar minggu depan. “Saya ingin tahu seperti apa cara menghabisi anak saya itu. Saya heran sudah dua bulan penyidik belum bisa membawa ini ke meja hijau,” katanya.

Mertua AKBP Mindo itu mengatakan jangan sampai mengaitkan anaknya dan menantunya terkait adanya orang ketiga dalam rumah tangga Putri. Baik itu pria idaman lain (PIL) atau wanita idaman lain (WIL). “Jangan ada yang mengaitkan anak dan menantu saya dengan PIL maupun WIL. Saya siap berhadapan dengan mereka, termasuk paranormal yang coba mengaitkan hal itu saya siap tantang paranormal itu,” kata Getwein beberapa waktu lalu.

Beberapa waktu lalu, Kapolda Kepri Brigjen Raden Budi Winarso kedatangan paranormal Ki Joko Bodo. Ki Joko mengaku dimintai petunjuk mengenai pembunuhan tersebut. Saat itu, Ki Joko mengatakan pembunuhan itu terkait dengan permasalahan keluarga. Namun ia tidak secara pasti mengatakan bahwa itu menjadi pemicu pembunuhan atau tidak. Getwein sangat yakin menantu dan anaknya keluarga yang harmonis dan taat kepada orangtua.

“Saya melihat ada upaya mengalihkan dan membuat opini seolah-olah menantu saya terlibat. Saya katakan tidak ada menantu saya terlibat,” katanya. Putri ditemukan tewas dengan cara mengenaskan di hutan di Telagapunggur, 24 Juni lalu. Namun hingga sekarang, kasus tersebut belum terbuka secara terang.
Beberapa waktu lalu, Kombes Wibowo meminta Kapolda Kepri, Brigjen Raden Budi Winarso untuk memerintahkan Ditreskrimsus Polda Kepri menyerahkan beberapa item penting. Dalam surat itu berbunyi guna kelancaran pemberkasan terhadap tersangka Ujang dan Rosma dimohon untuk melengkapi administrasi penyidikan terhadap tindakan kepolisian yang dilakukan pada tanggal 25 Juni 2011 dengan mempedomani Pasal 75 KUHP Pidana.

Surat itu dibuat tanggal 15 Agustus 2011. Item yang diminta adalah surat perintah tugas, surat perintah penyelidikan, surat perintah penyidikan, surat perintah penggeledahan di hotel maupun tempat tertutup dan berita acara penggeledahan.

Selanjutnya berita acara pemeriksaan tersangka, dasar penangkapan terhadap tersangka, surat perintah penangkapan dan berita acara penangkapan, surat tanda penerimaan surat perintah penyitaan dan berita acara penyitaan, berita acara pemeriksaan baik di TKP, berita acara pencarian barang bukti di TKP, berita acara penemuan barang bukti di TKP dan berita acara penyerahan tersangka dari Ditreskrimsus ke Ditreskrimum. Getwein menyebut adanya permintaan itu sebagai pertanda, Penyidik Ditreskrimum, tidak sanggup sehingga harus dimulai dari awal lagi.

Sejak diotopsi akhir Juli lalu, hingga saat ini keluarga korban pembunuhan di Perumahan Anggrek Mas 3, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Putri Mega Umboh mengaku belum mendapatkan hasil otopsi tersebut. Getwein Mosse, ibunda Putri Mega menyebut hingga kini pihak Polda Kepri belum memberikan hasil otopsi kepadanya.

“Kami dari pihak keluarga korban belum mendapat hasil otopsi. Saya akan minta ini ke penyidik, bagaimanapun saya berhak tahu seperti apa hasilnya,” kata Getwein. Ia menyebut, reka ulang pembunuhan anaknya akan dilakukan minggu depan dan ia memastikan akan datang ke Batam untuk melihat reka ulang tersebut. “Saya ingin tahu seperti apa cara (tersangka) menghabisi anak saya itu. Saya heran, sudah dua bulan penyidik belum bisa membawa ini ke meja hijau,” kata Getwein lagi.

Mertua AKBP Mindo Tampubolon itu mengatakan, dirinya tidak ingin ada yang mengaitkan anaknya dan menantunya dengan pria idaman lain (PIL) maupun wanita idaman lain (WIL). “Jangan ada yang mengaitkan anak dan menantu saya dengan PIL maupun WIL. Saya siap berhadapan dengan mereka, termasuk paranormal yang coba mengaitkan hal itu saya siap tantang paranormal itu,” kata

Getwein beberapa waktu lalu. Terkait kasus ini, Ditreskrimum Polda Kepri, telah meminta kepada Kapolda agar
memerintahkan Ditreskrimsus (Direktorat Kriminal Khusus) Polda Kepri menyerahkan berkas perkara pembunuhan Putri Mega Umboh yang pernah ditangani Ditreskrimsus Polda Kepri.

Saat Putri dinyatakan hilang, 24 Juni 2011 dan akhirnya ditemukan meninggal dengan cara dibunuh, yang menangani kasus ini adalah Ditreskrimsus sebagai bentuk solidaritas terhadap AKBP Mindo Tampubolon yang merupakan anggota Ditreskrimsus Polda Kepri.

Kini Ditreskrimum pun belum bisa membuat kasus ini jadi terang. Malah semakin sulit mengusutnya sehingga Polda Kepri sempat mendatangkan paranormal Ki Joko Bodo untuk membantu menerawang siapa otak pembunuhan Putri. Sutan Siregar mantan pengacara Nurdin Harahap dan Suprianto, tersangka pembunuhan Putri Mega Umboh menyebut orang yang telah mengancamnya dengan SMS teror pengecut. Yang bersangkutan tidak berani menerima telepon ketika berkali-kali Sutan mencobanya untuk menghubunginya kembali.

“Takut juga orang itu, kirim SMS teror sampai tiga kali, tapi begitu saya coba telepon balik dia tidak angkat. Sejak saya coba untuk telepon dia itulah SMS terornya tidak masuk lagi. Saya juga sudah laporkan SMS itu ke Mapolsek Lubuk Baja dan saya masih tunggu perkembangannya,” kata Sutan, Minggu (21/8).

Setelah lebih dari sebulan mendampingi dua dari tujuh tersangka pembunuhan itri AKBP Mindo Tampubolon, pekan lalu dua kliennya itu mencabut kuasa darinya. Dia sudah mendapatkan informasi bahwa ada pihak yang memaksa mantan kedua kliennya itu untuk mencabut kuasa darinya karena khawatir para sekuriti akan terus memperkarakan penganiayaan yang mereka alamai selama ditahan di Mapolda Kepri.

“Kita sudah tahu siapa yang bawa draft surat pencabutan kuasa itu kemudian meminta kepada dua orang ini tandatangani. Itu bukan masalah bagi saya, karena yang penting keduannya menandatangani surat itu dalam keadaan sadar,” ujar Sutan.
Terkait SMS teror berupa ancaman yang dikirim orang tak dikenal ke nomor ponselnya, Sutan mengaku tidak peduli, karena dia beranggapan pengirim tersebut hanya mengada-ada. Apa yang dia lakukan, kata adalah memperjuangkan keadilan bagi para sekuriti yang teraniaya.

Selain nama dia dalam SMS tersebut juga disebutkan nama AKP Elmanyah, dan Sutan juga langsung menghubungi yang bersangkutan untuk menanyakan apakah menerima SMS yang sama. “Pak Elmasyah bilang dia juga terima, dia bilang tak usah ditanggapi, tapi kalau mau lapor polisi lebih baik,” ujarnya.

Kedatanggan Ujang ke rumah AKBP Mindo Tampubolon sehari sebelum pembunuhan ternyata dibenarkan, Dedek. Sehari sebelumnya, Kamis (23/6/2011) sekitar pukul 00.00 WIB, ia membenarkan mengantar Ujang dari tempat kosnya di Kampung Dalam, Baloi Danau ke Angrek Mas 3.

“Waktu itu benar saya yang ngantar Ujang bang, katanya mau ngantar nasi untuk Rosma. Tapi karena sudah jam 00.00 WIB portal masuk ke perumahan Angrek Mas 3 itu sudah ditutup. Lalu Ujang minta saya masuk melalui lapanggan kosong yang ada disebelah perumahan itu, setelah sampai di lapanggan itu Ujang turun dan saya balik lagi ke Baloi Danau,” ujar Dedek yang mengaku sebagai teman Ujang di tempat khosnya itu.

Bahkan Dedek mengaku sudah empat kali mengantar Ujang ke Angrek Mas 3. Namun sebelum-sebelumnya siang hari. Setiap kali mengantar Ujang, katanya, selalu mengantarkan nasi bungkus untuk Rosma. Namun setiap kali mengantarkan nasi bungkus tersebut, katanya lebih lanjut, selalu dititipkan ke securiti yang jaga di pos dua.

“Dalam permasalahan Rosma dan majikannya, Ujang tidak pernah cerita ke saya. Saya hanya selalu diminta mengantarkannya ke perumahan itu. Ujang ini orangnya pendiam bang. Selama lima bulan tinggal disini, tidak pernah dia cerita masalah pribadinya. Bahkan saat Rosma tinggal disini sebelum kerja di Angrek Mas 3 itu, tidak pernah juga kedua orang itu cerita-cerita,” ujar Dedek sambil menceritakan dirinya juga pernah diamankan selama dua hari di Polda Kepri.

Dedek menambahkan, Ujang diketahuinya bekerja di salah satu usaha pemasanggan Gipsun di daerah Pasar Angkasa. Selain itu Ujang juga dikenal sebagai laki-laki yang cukup perhatian terhadap pacarnya (Rosma-red). Seperti diberitakan sebelumnya, Ujang, Rosma dan AKBP Mindo jadi tersangka pembunuh Putri Mega Umboh. Putri adalah istri dari AKBP Mindo.

Pembunuh Mahasiswi Binus Livia Pavita Soelistio Tertangkap dan Ternyata Adalah Supir Angkot Spesialis Perampok dan Pemerkosa Penumpang Wanita

Kamis (25/8) menjelang tengah malam, informasi penting masuk. Sinyal telepon genggam milik Livia Pavita Soelistio yang berhari-hari mati, tiba-tiba terlacak berada di Rawa Belong, Kemangisan, Jakbar. Bersama anggotanya, Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Ferdy Sambo, langsung bangkit dari kursi di ruang kerjanya. Tak buang waktu, ia meluncur ke daerah Rawa Belong, tak jauh dari rumah kos mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) itu.

Sesuai petunjuk sinyal HP, Sutarno dan Abdul Madjid dibekuk. Mereka baru saja bertransaksi HP Ericsson. Sutarno menjual HP itu kepada Abdul Majid yang dihargai Rp200.000. Dalam pemeriksaan, Sutarno mengaku HP yang dijualnya milik Rohman.
Tak buang waktu, polisi langsung memburu Rohman. Saat itu, sudah masuk Jumat (26/8) dinihari. Pria 24 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai sopir tembak itu dibekuk di rumah di Rawa Belong. Ketika itu ia bersama Fahri, 22, tengah menunggu Sutarno. Kduanya langsung digelandang ke Polres Jakarta Barat.

Dalam pemeriksaan terungkap Fahri dan Roman berperan dalam hilangnya mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) Livia Pavita Soelistio, 21. Gadis cantik itu hilang pada 16 Agustus usai mengikuti sidang skripsi di jurusan Sastra Mandarin sekitar Pk. 13:00. Sejumlah temannya melihat ia menumpang Mikrolet 24 jurusan Srengseng-Slipi yang biasa ditumpanginya menuju tempat kos di Rawa Belong, Kemanggisan, Jakbar.

Sejak itu, keberadaan mahasiswi yang juga sekretaris sebuah biro perjalanan di Gambir, Jakpus, ini tak terlacak. HP-nya tak bisa dihubungi. Ny. Yusni Chandra, ibu kandung, dan Hermanto, ayah tiri, melapor kehilangan anaknya ke Polsek Kebun Jeruk pada 17 Agustus. Orangtua itu juga mengabarkan kehilangan anaknya melalui BlackBerry Messenger.

Empat hari kemudian, ia ditemukan membusuk di parit sedalam 2 meter di Cisauk, Tangerang. Bajunya terbuka karena seluruh kancingnya terlepas dan celana dalamnya melorot selutut. Ia dikenali sebagai Livia dari pakaian dan kalung berliontin Buddha yang dikenakannya.

PEMBUNUHAN DAN PERKOSAAN
Dalam pemeriksaan yang dilakukan Kanit Krimum AKP Agung Wibowo, SH, Fahri dan Rohman menuding Afri yang mencekik Livia hingga tewas. Aksinya dibantu Rohman dan Raymond. Afri juga memerkosa mayat Livia dalam angkot. Kini, polisi memburu Afri dan Raymond. “Kedua tersangka yang tertangkap itu kami jerat dengan pasal pencurian dengan kekerasan,” ujar Kapolres Jakarta Barat, Kombes Setija Junianta, Hum, tentang Fahri dan Rohman yang dikenakan pasal 365 KUHP karena perampokan HP dan uang Rp200,000 milik korban dan terancam hukuman 20 tahun penjara. “Kami juga memburu dua tersangka lainnya, termasuk pelaku pembunuhan dan perkosaan terhadap korban.”

Didampingi Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Baharuddin Jafar, kapolres mengatakan kawanan itu adalah komplotan bandit yang kerap menjadikan wanita sebagai korbannya. Bahkan, tersangka Rohman pernah dipenjara dua tahun terkait kasus narkoba.

Sementara itu, terhadap tersangka Sutarno dan Abdul Majid, polisi menjerat keduanya dengan pasal 480 KUHP karena menerima barang hasil kejahatan. Mereka terancam hukuman empat tahun penjara. “Kalau tahu HP itu bermasalah, apalagi korban pembunuhan, saya nggak bakal mau terima. Sekarang, saya nggak tau apa-apa masuk penjara juga,” ujar Sutarno.

Malang nian nasib Livia. Wanita cantik ini harus tewas ditangam empat awak angkot. Sedihnya pelaku hanya mengincar dua HP milik mahasiswi Binus, Kemandoran, Jakarta Barat ini. Keempat pelaku rupanya mengincar HP Black Berry dan Sony Ericsson model terbaru. Hanya saja seorang tersangka mengaku karena tergiur atas kecantikan Livia, dia tega memperkosa gadis ini meski sudah tidak berdaya.

PENGAKUAN PELAKU
Dalam wawancara dengan Pos Kota, tersangka Rohman dan Fahri bercerita. Pada Selasa (16/8) siang, angkot M24 B 2912 TK jurusan Srengseng-Slipi, yang dikemudikan Fahri dicegat Livia di depan kampusnya. Tiga teman Fahri; Rohman dan dua tersangka lain yang masih buron; Afri dan Raymond, juga berada di angkot. Mereka berlagak penumpang. “ Kami memang berniat mencari wanita penumpang untuk diambil hartanya, “ kata Rohman.

Meski berada dalam kendaraan yang sama, tersangka Rohman dan Fahri menuding Afri sebagai otak di balik kejahatan sadis itu. Fahri mengatakan, pembunuhan dan pemerkosaan dilakukan Afri di belakang kendaraannya. “ Afri yang mencekik sampai mati lalu memerkosa mayat korban,” ungkap Fahri.

Menurut Fahri, saat itu korban melawan tapi tak kuasa menahan kekuatan tiga pria yang menyergapnya. “ Silahkan ambil HP saya, tapi jangan bunuh saya,” kata Fahri, mengenang permintaan terakhir anak kandung Ny. Yusni Chandra itu.

Permohonan dengan derai airmata itu tak ditanggapi. Sebaliknya, Raymond dan Fahri semakin beringas dan bernafsu langsung memegang kedua tangan gadis itu dan Afri mencekik lehernya. Seketika, korban lemas. Tubuh Livia yang tersungkur diinjak punggungnya oleh Rohman. Kawanan penjahat sadis itu pun mencari tempat pembuangan mayat.

Sampai di kawasan Pos Pengumben, kendaraan diambil alih Rohman yang lebih mengerti daerah itu lalu membawanya ke kawasan Serpong, Tangerang.

Anggota Polres Jakarta Barat yang menangani kasus ini masih terus memeriksa dua tersangka yang sudah diringkus. Diyakini motif awalnya adalah perampokan. “Mereka rupanya mengincar dua HP korban. Apalagi satu yakni yang Sony Ericsson keluaran terbaru. Jika akhirnya

Livia Pavita Soelistio, mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus), telah tiada. Gadis cantik berusia 21 tahun yang baru lulus sidang skripsi jurusan Sastra Mandarin itu, diperlakukan biadab oleh kawanan preman. Ia dicekik hingga menemui ajal. Dalam keadaan tak bernyawa, korban diperkosa dalam angkot yang ditumpangi dari kampus menuju tempat kos.
Delapan hari setelah pembantaian terjadi dan Livia dilaporkan keluarga ke Polsek Kebon Jeruk sebagai orang hilang, petugas Polres Jakarta Barat dipimpin Kasat Reskrim AKBP Ferdy Sambo, yang bekerja keras membongkar peristiwa ini membuahkan hasil.

Tersangka Rohman, 23, dan Fahri, 22, ditangkap tak jauh dari rumah kos Livia Pavita Soelistio, di kawasan Rawa Belong, Kemanggisan, Jakbar, Jumat (26/8) dinihari. Polisi juga membekuk Sutarno dan Abdul Madjid, penadah HP korban yang dirampas pelaku.

Mahasiswi, yang juga sekretaris sebuah biro perjalanan di Gambir ini ditemukan membusuk di Cisauk, Tangerang, empat hari setelah menghilang sepulang dari kampusnya pada 16 Agustus. Saat ditemukan, baju korban terbuka karena seluruh kancingnya terlepas. Bahkan celana dalam korban melorot selutut.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua tersangka pembunuh Livia, mahasiswa Binus ditangkap polisi di Kemanggisan, Jakarta Barat, Jumat dinihari tadi. Pelakunya empat orang awak angkot. Dua lagi pelaku masih dikejar polisi. Menurut informasi, Livia pada 16 Agustus lalu usai mengikuti sidang skripsi pulang naik angkot bersama teman-temannya. Rupanya dia yang terakhir turun. Di angkot tersebut, wanita cantik ini disergap oleh empat orang yang ada di angkot tersebut.

Diduga karena melawan, pelaku makin ganas dan membekap korban. Livia, mahasiswa jurusan Bahasa Mandarin ini dibawa ke Tangerang tepatnya di Cisauk lalu korban dihabisi. Mayatnya dibuang ke selokan hingga akhirnya empat hari kemudian ditemukan penggembala kambing sudah dalam keadaan membusuk.Sebelum dibunuh sempat diperkosa karena ditemukan bercak sperma.

Rupanya pelaku membawa HP Black Berry korban. Oleh pelaku HP tersebut dijual kepada seseorang di Kemanggisan Jakarta Barat. Tadi pagi saat sahur, Black Berry itu tiba-tiba mengudara sehingga polisi berhasil melacak signyalnya. Lelaki yang membeli HP itu lalu ditangkap. Dia mengaku kalau Black Berry itu dibeli dari sopir angkot. Dengan gerak cepat polisi mengejar pelaku di daerah Kemanggisan dan berhasil meringkus dua tersangka. Dua lagi yang sudah diketahui identitasnya masih dikejar polisi.

Kepergian Livia Pavita Soelastio,21, membuat keluarga terpukul. Bagaimana tidak. Setelah dinyatakan lulus kuliah dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta Barat mahasiswi jurusan Sastra Mandarin ini langsung menghilang.
Selama 5 hari mencari keberadaan anak semata wayang pasangan Hermanto,67, dengan Yusni Chandara,50, malah mendapat kabar jika Livia ditemukan sudah tak bernyawa.

“Saya sangat terpukul atas kematian anak saya. Bagaimana tidak, sejak kecil saya merawat dan membesarkan anak saya hingga terakhir dikabarkan lulus kuliah malah berakhir seperti ini. Saya berharap polisi berhasil menangkap anak saya,” ungkap Hermanto terbata-bata. Terakhir 16 Agustus sore, Livia menghubungi dirinya dan memberitahu jika dirinya baru selesai melakukan siding skripsi dan dinyatakan lulus. Mendapat kabar itu, Hermanto kemudian mengucapkan selamat atas kelulusan Livia.

Namun pada keesokan harinya, ketika akan dijemput oleh keluarga, Livia dikabarkan menghilang. Keluarga akhirnya melaporkan ke Polsek Kebun Jeruk. Keluarga kemudian berusaha mencari keberadaan Livia ke teman-temannya bahkan ke paranormal. Namun Minggu (20/8) malam, dirinya mendapat kabar jika ada mayat perempuan dengan pakaian yang sama dengan Livia ditemukan di parit di Jalan Suradita, Cisauk, Kabupaten Tangerang.

Mendapat Informasi tersebut Hermanto kemudian langsung mendatangi kamar mayat RSU Tangerang untuk melihat langsung jenazah wanita tersebut. Setelah diperiksa, mayat wanita malang itu adalah Livia Pavita Soelastio, mahasiswi Bina Nusantara jurusan Sastra Mandarin

Pembunuh Mahasiswi Bina Nusantara Livia Pavita Soelistio Ditangkap dan Ternyata Adalah Supir Angkot

BERITA LENGKAP KRONOLOGIS PENANGKAPAN PEMBUNUH DAN PEMERKOSA MAYAT LIVIA BACA DISINI

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Barat, Ajun Komisaris Besar Ferdi Sambo, menyatakan telah menangkap 3 pelaku kasus pembunuhan Livia Pavita Soelistio, mahasiswi Bina Nusantara yang ditemukan tewas pada 20 Agustus 2011.

“Salah satunya adalah residivis,” kata Ferdi saat dihubungi Jumat, 26 Agustus 2011.

Ferdi mengatakan ketiga pelaku tertangkap di daerah Slipi, dekat Universitas Bina Nusantara. “Mereka adalah sopir angkot tembak,” katanya. Kepada polisi, pelaku mengaku telah membunuh korban. Motifnya untuk menguras harta yang dibawa oleh korban.

Livia adalah mahasiswi jurusan Sastra Mandarin angkatan 2007. Ia menghilang sejak Selasa 16 Agustus 2011. Empat hari kemudian, anak tunggal keluarga Yusni Chandra itu ditemukan tewas. Jasadnya teronggok di daerah Jalan Baru, Desa Suradita, Tangerang.

Ferdi mengatakan pelaku menjerat Livia saat ia tengah berada di dalam angkot yang dikendarai pelaku. Di dalam angkot, Livia disekap dan mulutnya dibekap hingga tewas. “Ada 4 pelaku yang membekap,” katanya. Jasad Livia kemudian dibuang di daerah Tangerang. “Motifnya murni pencurian dengan kekerasan,” ujarnya.

Saat ini, kata Ferdi, polisi masih terus memburu pelaku lain yang diduga terlibat pembunuhan. “Nanti kami beri tahu,” ujar Feri.