Category Archives: pemerkosaan

Siswi SMP Diculik Di Halte Bus dan Diperkosa Dua Kali

Malang nasib Mawar (13), nama samaran, siswi salah satu SMP di Manado, Sulawesi Utara.

Ia mengaku diperkosa pelaku yang tak dia kenal. Peristiwa itu terjadi pada Senin (7/2/2011) sekitar pukul 22.30 Wita. Ketika itu, ia bersama teman-teman sekolahnya sedang menunggu di Halte SMP 1 Manado, Komo Dalam.

Tiba-tiba datang seorang pemuda menggunakan sepeda motor Suzuki Thunder tanpa spidometer. Pemuda itu langsung mendekat ke kerumunan, mengaku sebagai polisi.

Awalnya, pelaku mengajak dua temannya di halte. Tak beberapa lama, pemuda tersebut kembali sendiri, mengeluarkan pisau dan meminta korban untuk ikut. Spontan saja, teman-temannya melarikan diri karena takut.

Sementara itu, Mawar tak kuasa ketika dibawa ke dekat semak-semak ringroad. Korban tak mampu melawan pelaku. Ia mengaku hanya pasrah. Korban mengaku sempat juga menerima pukulan di wajah.

Mawar mengatakan, di lokasi kedua, ia makin tak berdaya. Di sebuah gudang dekat SMA Negeri 7 Manado, pelaku kembali melakukan perbuatannya.

Sempat berusaha berontak, ia akhirnya pasrah karena sebuah pisau ditodongkan ke lehernya.

Seusai diperkosa, Mawar mengaku dibawa ke Tingkulu, sebelum akhirnya melompat dari sepeda motor. Akibat aksi tersebut, tangan dan kakinya lecet.

Tukang ojek di dekat lokasi melihat korban dan langsung mengantar korban ke polisi. Korban bersama keluarganya kemudian melapor ke Polsek Wenang.

Siswi Pelajar SMP Diperkosa Sehari Semalam Oleh 9 Pemuda dan Hasilnya Direkam Pakai HP Untuk Kenang Kenangan

Siswi SMp Diperkosa Seharian dan Direkam HP

Siswi SMp Diperkosa Seharian dan Direkam HP

Seorang siswi kelas II SMP, sebut saja Mawar, warga Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi korban perlakukan tidak senonoh yang diduga dilakukan sembilan pemuda.

Para tersangka mencekoki korban dengan tuak dan pil dextro, lalu menggagahi korban sejak sore hingga keesokan paginya. Sebagian adegan tidak senonoh para tersangka juga direkam melalui video ponsel.

Polisi sudah mengamankan kelima tersangka, Taufik (18), Saefudin (17), Asep Saripudin (21), Rendi Bolu (18), dan Rizki (18). Mereka adalah warga Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis. Polisi juga masih melacak keberadaan empat tersangka lainnya, yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.

“Kami sudah mengamankan lima tersangka dan terus melakukan pengembangan, termasuk masih menunggu hasil visum puskesmas untuk mengetahui kondisi korban,” ujar Kapolsekta Ciawi, AKP Baharudin, Kamis (3/2) sore.

Menurut penyelidikan sementara polisi, kasus tersebut berawal dari perkenalan Mawar (14), dengan Taufik melalui SMS nyasar. Mereka kemudian janjian bertemu. Setelah bertemu satu kali, Taufik mengajak lagi bertemu hari Minggu (30/1) siang. Sesuai dengan janji, Mawar datang menemui Taufik.

Tersangka kemudian membawa korban ke daerah di Cihaurbeuti, dan mampir di sebuah tempat. Di situ sudah menunggu empat tersangka lainnya. Taufik lantas pergi sebentar dan kembali dengan membawa 2 liter tuak serta 170 butir pil dextro.

Taufik kemudian mengajak korban serta teman-temannya menuju sebuah tempat di Desa Cikadu, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Di situlah kelima pelaku menggelar pesta miras dan pil dextro. Mereka pun memaksa Mawar ikut minum tuak.

Melihat korban pingsan, para pelaku memperdayainya dan merekam adegan tak senonoh yang mereka lakukan. Saat hari menjelang sore para tersangka membawa Mawar kembali ke rumah pelaku bernama Markum di Cihaurbeuti. Di tempat itu sudah ada lagi empat pemuda berandal yang lagi-lagi melakukan perbuatan tidak senonoh hingga keesokan paginya.

Taufik akhirnya mengantar Mawar yang mulai sadar ke Ciawi dan meninggalkan begitu saja di sebuah tempat. Korban, yang berhasil pulang ke rumahnya, akhirnya mengadukan perbuatan para tersangka ke polisi.(tribunjabar/ce1)

Belajar Ilmu Hitam Karena Ingin Awet Muda Malah Memperkosa 40 Gadis ABG

Ritual Lie Sidharta Limantara yang akrab disapa Steven untuk mewujudkan impiannya menjadi pria awet muda, tergolong nyeleneh. Lelaki 41 tahun itu bertekad berhubungan intim dengan 40 gadis belia sesuai dengan saran guru spriritualnya. Namun ia keburu ditangkap polisi setelah mengencani gadis ke-16.

Kebanyakan korban Steven adalah siswi kelas III di salah satu SMP swasta di kawasan Surabaya timur. Di kalangan paranormal, aliran ilmu hitam yang didalami warga Jl Dharmahusada Indah Utara I-B itu disebut Batara Karang Abadi. Untuk menguasai ilmu itu, penganutnya harus merenggut keperawanan gadis belia berusia 14 tahun serta mengoleksi sejumlah jimat berupa keris dan bambu atau pring.

Namun ilmu ini gagal didapat Steven karena dia berhenti di angka 16. Anggota Subnit Vice Control (VC) Unit Jatanum Sat Reskrim Polrestabes Surabaya membongkar aksi Steven. Dari 16 korban, baru tujuh orangtua korban yang lapor ke polisi.

Untuk mencari mangsa, Steven yang sehari-hari menjadi pengusaha real estate menyamar sebagai anggota TNI aktif berpangkat Letnan Kolonel (Letkol). Dari umurnya, Steven memang pas menyandang status Letkol. Namun pangkat dan seragam tentara itu didapatnya dari sebuah toko di Pasar Turi.

“Kami sudah cek ke TNI, ternyata dia ini tentara palsu,” ujar Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Coki Manurung didampingi Kasat Reskrim AKBP Anom Wibowo, Senin (31/1).

Steven juga membekali diri dengan airsoft gun dan senjata api jenis Glock. Senpi ini dibelinya dari seorang teman seharga Rp 37 juta. Bapak tiga anak ini mengenal dunia klenik sejak 2008. Dia mengaku mempunyai beberapa guru spiritual sejenis dukun di Surabaya dan Mojokerto. Dari salah satu dukun itulah, Steven mengaku mendapatkan ajaran nyeleneh tentang obat awet muda. Dia disyaratkan meniduri puluhan anak baru gede (ABG) untuk menyempurnakan ajarannya.

Setiap kali melakukan ritual, lanjutnya, dia selalu membeber belasan jimat seperti keris, belati, pring kuning dan keris berbentuk mirip jenglot.

Bahkan, gara-gara ritual magis yang dilakukannya di rumah, Mei 2010 lalu, ia harus kehilangan dua orang yang dicintainya, Hanum, istri, dan Jonathan, anaknya. Saat itu, Steven masih tinggal di Jl Ploso Timur VA. Istri dan anaknya tewas setelah ritual yang diduga melibatkan api itu mengakibatkan tabung elpiji di rumahnya meledak.

“Waktu itu semua mengira itu ledakan karena kecelakaan. Tapi sebenarnya ledakan itu dipicu ritual yang saya lakukan,” aku Steven dengan nada lirih. Ia mengaku tidak luka sedikitpun saat rumahnya meledak. Dia diyakinkan oleh sang guru bahwa kematian anak dan istrinya adalah tumbal agar niatnya mendalami ilmu tercapai.

Kepada Surya, Steven mengakui pernah berhubungan intim dengan tujuh anak di bawah umur dalam satu hari. Bahkan, ia sering kencan dengan dua gadis sekaligus. Anehnya, menurut polisi, para gadis belia itu seperti terhipnotis dengan ilmu guna-guna sehingga menuruti semua keinginan Steven. Steven biasa mengajak para korban untuk melayani nafsu tak terkendalinya di sebuah hotel di Jl Kali Kepiting dan Jl Basuki Rahmad, Surabaya.

“Saya memberinya (korban) uang Rp 500.000 setelah melayani saya. Saya juga sering memberi mereka ponsel dan uang untuk kebutuhan lain,” ujar Steven.

Sebelum berkencan, Steven biasanya meminta korban agar bersedia foto telanjang dan mesra.

Foto-foto tersebut menjadi salah satu senjata Steven untuk terus meniduri para korban. Jika menolak, Steven mengancam akan menyebarkan foto-foto tersebut. Lima di antara tujuh korban Steven yang sudah melapor adalah LI yang dikencani hingga 13 kali. Kini dia hamil 5 bulan akibat ulah Steven.

Selain itu ada LT, RT, HN, dan FL. Semua korban masih duduk di bangku SMP kelas III dan berusia 14 tahun. Mereka merupakan teman satu sekolah. Steven biasanya dikenalkan oleh korban yang sudah lebih dulu dikencani. Sepak terjang Steven terhenti saat Sat Reskrim Polrestabes Surabaya memerintahkan Kasubnit Ipda Iwan Hari Purwanto untuk menindaklanjuti laporan salah satu korban. Steven kedapatan mengajak korban berkencan, Jumat (28/1) siang. Korban saat itu baru saja pulang sekolah.

“Dia mengajak janjian korban di Jl Kertajaya. Dari petunjuk korban, kami mengetahui saat itu tersangka mengendarai mobil Toyota Inova hitam,” ujar Iwan. Tersangka pun ditangkap. Dia pun mengakui semua perbuatannya setelah dihadapkan dengan beberapa korban.

Barang bukti yang berhasil diamankan polisi dari tangan tersangka adalah 11 ponsel termasuk 2 Blackberry, tujuh keris, satu senjata api, satu pistol airsoft gun, atribut dan pelat nomor mobil TNI, serta foto-foto korban yang berhasil diabadikan tersangka. Steven dijerat Pasal 81 dan Pasal 82 UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana kurungan 15 tahun.

Setelah secara intensif memeriksa Steven, polisi menduga kuat bahwa tersangka juga mempraktikkan ilmu guna-guna untuk menjerat korban, selain mengiming-iminginya dengan harta.

“Steven bisa membuat korban seperti gampang saja diajak kencan,” ujar Kasubnit VC, Ipda Iwan Hari Purwanto.

Saat kasusnya digelar di Mapolrestabes Surabaya, Steven mengakui terus terang bahwa dia menggunakan ilmu guna-guna yang mengandalkan daya magis keris dan sejumlah jimat yang dimiliki.

Begitu percaya dirinya dengan ilmu yang dimiliki, Steven bahkan pernah mendatangi rumah beberapa korbannya. Tanpa takut, Steven bertemu langsung dengan orangtua mereka. “Kepada salah satu orangtua korban, tersangka berterus terang berhubungan intim dengan anaknya,” imbuh Iwan.

Ipda Iwan memperoleh keterangan dari sejumlah orangtua korban bahwa mereka seperti terkena hipnotis saat Steven bertandang ke rumahnya. Mereka tak kuasa untuk marah apalagi melaporkan perbuatan tersangka ke polisi.

Steven memang mengakui mempelajari ilmu Batara Karang Abadi. Selain itu, dia juga mendalami ilmu hitam lainnya seperti kekebalan, pengasihan dan pelancar usaha. Steven pun menjaga ilmu itu dengan belasan jimat yang dia dapatkan dari mimpi.

“Saya dikasih sama guru. Ada juga yang saya dapatkan dari mimpi kemudian saya tarik ke alam nyata,” ungkap Steven. Setiap hari-hari tertentu, Steven selalu memandikan jimatnya itu dengan minyak wangi jenis misik.

Keberanian Steven memperdaya korban dan orangtuanya juga ditopang dengan status palsunya sebagai perwira TNI berpangkat Letkol. Senjata api yang dimiliki juga menjadi pelengkap aksi.

SIswi Madrasah Tsanawiyah Diperkosa Ayah Tiri Selama Empat Tahun

Bejat sekali perbuatan Misdana Saputra (58). Bapak tiga anak ini tega mencabuli anak tirinya, Mawar (14)—bukan nama sebenarnya, sejak duduk di kelas V sekolah dasar (SD). Selama empat tahun perbuatan keji Misdana tidak ketahuan karena Mawar tidak berani bercerita.

Peristiwa itu berawal ketika Mawar masih duduk di SD. Ayah tirinya yang tinggal serumah di Desa Jamil, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, memerkosa gadis ingusan tersebut tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulang.

Mawar dinodai petani serabutan itu saat seisi rumah sedang tidur. Tak tahan dengan perlakuan ayahnya, siswi kelas IX sebuah madrasah tsanawiyah di Pantai Hambawang itu mencurahkan isi hatinya kepada ibunya, Hap (32), hingga kasus ini terbongkar.

Setelah kasus ini dilaporkan ke polisi, Misdana kabur. Beruntung, tujuh bulan setelah ia melarikan diri, polisi berhasil membekuknya di rumah kontrakannya, Jalan Pendidikan, Sangatta, Kutai Timur, Rabu (26/1/2011) malam lalu.

“Kami sedang meluncur ke Barabai dari Kutai untuk membawa pelaku,” kata Kapolres Hulu Sungai Tengah AKBP Hendro Wahyudin melalui Kapolsek Labuan Amas Selatan Ipda Nur Alam, yang memimpin langsung penangkapan.

“Saat ditangkap, Misdana sedang santai di rumah kontrakannya. Misdana hendak kabur, tetapi kami berhasil mencegahnya,” tambahnya.

Menurut dia, tersangka biasanya tidur seranjang dengan korban, sedangkan ibunya justru tidur dengan adik korban di bawah. Pencabulan dilakukan tersangka sejak korban masih duduk di kelas V SD. Awalnya korban disuruh memijat, lama-kelamaan tersangka bernafsu dan menyetubuhi korban. “Korban terpaksa menerima ajakan ayah tirinya karena diancam pelaku,” katanya.

Kejadian itu berulang-ulang hingga korban duduk di kelas III madrasah tsanawiyah. Perbuatan pelaku baru terbongkar pada 27 Juli 2010. Saat itu pelaku yang kembali ingin mengulang perbuatannya ditolak korban.

“Pelaku lalu marah-marah dan bahkan hendak mengusir korban serta mengancam memberhentikan sekolah yang dibiayainya,” terang Nur Alam.

Ibu korban, Hap, yang mencoba membela Mawar, kena imbas. Tidak hanya dimarahi, tetapi Hap juga dipukuli Misdana. “Keesokan harinya, ibunya bertanya kepada Mawar penyebab ayah tirinya marah. Mawar pun bercerita soal penolakannya untuk kembali disetubuhi,” sebut Alam.

Mendengar pengakuan polos Mawar, Hap langsung kaget. Ibu tiga anak ini tidak percaya suami yang menjadi tulang punggung keluarganya tega melakukan hal itu. “Namun, setelah itu ibu korban belum melapor ke polisi karena diancam pelaku. Setelah ibunya bercerita kepada keluarganya, lalu diperintahkan langsung melapor,” kata Nur Alam.

Atas perbuatannya, pelaku diancam pasal berlapis, yakni Pasal 81 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengenai Pencabulan dan Pasal 47 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang KDRT yang ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Karyawati Cantik Perusahaan Konveksi Di Perkosa Lalu Dibunuh Saudaranya Sendiri

Tak ada lagi canda dan tawa Ikrimah, yang akrab disapa Dea. Karyawati konveksi berparas cantik yang berusia 17 tahun ini pergi untuk selama-lamanya. Ia diperkosa kemudian dibunuh pemuda saudara tirinya di tempat kerja Jalan Angke Jaya, RT 04/04, Kel. Angke, Jakarta Barat, Sabtu (22) pagi.

Mayat Dea ditemukan dalam posisi telentang, tanpa mengenakan celana dalam di kamar tidur lantai dua rumah bos sekaligus tempat usaha konveksi tersebut. Ada luka tusuk di punggung dan tangan. Tragisnya lagi, leher Dea dijerat kabel antena teve. Pelaku yang sudah diketahui identitasnya itu menggasak handphone korban.

Petugas Polsek Tambora yang memeriksa jasad Dea di tempat kejadian menduga, sebelun dibunuh, korban diperkosa pelaku. Hal ini diketahui dari ceceran sperma dan darah di selangkangan korban. Komar, saudara tiri Dea yang diduga sebagai pelaku, meninggalkan celana pendek jins serta kaos di kamar korban.

BERDUA

Di perusahaan konveksi milik Lie Tjun Djien, 43, terdapat 10 karyawan, dua wanita dan delapan lelaki. Komar dan Nur Salim , 19, tidur di kamar dekat kamar Dea. Sedangkan karyawan lainnya tidak tidur di perusahaan konveksik ini.

Menurut Nur Salim, Dea kelahiran Rangkas Bitung, Banten, sudah lebih dari setahun bekerja di perusahan konveksi. Setiap malam, Dea terlihat berdua bersama pelaku di kamar. “Saya tidak curiga karena mereka saudara tiri,” kata Nur Salim di tempat kejadian.

Jumat (21/1) malam, kebiasaan berdua juga dilakukan lagi oleh Komar. Esok pagi, karyawan muda itu kabur setelah menodai dan menghabisi Dea saudara tirinya.

“Diduga ada perlawanan dari korban, karena tangan Dea ada luka terkena sayatan senjata tajam,” jelas Kapolsek Tambora Kompol Hery Dian Dwiharto di tempat kejadian. Tapi ia belum bisa menjelaskan motif pembunuhan itu maupun memastikan kalau korban dinodai pelaku.

Irpah , 17, dan Neneng, 18, teman sekampung Dea di Desa Marga Jaya, Cimarga Rangkas Bitung, Banten, mengatakan sempat bertemu dengan almarhumah tiga minggu lalu. “Dea bilang kalau minggu ini mau pulang kampung dan tidak kembali lagi ke Jakarta,” cerita Neneng. Rupanya itu firasat yang menjadi kenyataan. Ternyata Dea pergi untuk selama-lamanya.

Siswi Kelas 5 SD Diperkosa Di Sekolah Malakasari Oleh Dua Orang Teman Sekelasnya

Ini cerita soal kekerasan seksual. Kabar miring yang masih saja menghiasi jutaan halaman media massa di Tanah Air. “Korban adalah siswi kelas V SD. Ia mengalami kekerasan seksual oleh teman satu angkatannya,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jakarta Timur Komisaris Dodi Rahmawan, Rabu lalu.

Aksi bejat itu terjadi beberapa hari lalu di sebuah sekolah yang berada di Kecamatan Malakasari. Puluhan siswa yang baru selesai menjalani kegiatan pencak silat diminta gurunya menyalin pakaian di kamar mandi. Namun tidak bagi dua siswa berinisial DK dan RM. Keduanya berkomplot mengajak seorang siswi berinisial WMA ke samping ruang perpustakaan yang saat itu sedang sepi.

“Di tempat itulah keduanya melakukan kekerasan seksual,” ujar Dodi. Permintaan itu mulanya ditolak WMA. Namun malang, penyakit epilepsinya ketika itu mendadak kambuh. WMA pingsan. Kondisi itu lantas dimanfaatkan DK dan RM untuk mencabuli WMA.

“Saat itu, ada beberapa rekan pelaku yang melihat kejadian tersebut. Mereka juga menyaksikan kedua pelaku yang membopong tubuh korban ke kamar mandi,” kata Dodi. Setelah WMA siuman, ia melaporkan kejadian tersebut kepada guru dan orang tuanya. “Dari laporan orang tuanyalah kejadian ini kami ketahui,” kata Dodi.

Hasil visum yang dilakukan pihak rumah sakit menyimpulkan adanya bercak darah dan bekas perlakuan seksual berupa air mani. “Belum bisa kami simpulkan. Masih harus kami uji kembali,” katanya. Saksi mata pun dimintai keterangan.

Tempo sempat menyambangi sekolah dasar bercat hijau dengan satu lantai itu. Salah seorang siswa yang sempat diajak bicara pun membenarkan kejadian tersebut. “Hus… kata Bu Guru masalah itu tidak boleh diceritakan kepada siapa pun,” kata salah seorang temannya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia Ariest Merdeka Sirait menilai kasus kekerasan seksual tersebut sebagai akibat persentuhan anak dengan Internet, khususnya akses pornografi. “Apalagi sekarang sudah bisa diakses lewat telepon genggam,” katanya.

Seorang Gadis Di Mutilasi Setelah Diperkosa Ramai Ramai

Lebih dari satu bulan, aksi keji pemerkosaan dan pembunuhan dengan mutilasi terhadap warga Banjarbaru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Fatmawati (16) sudah berlalu. Meskipun tujuh orang yang diduga melakukan aksi biadab itu telah ditangkap, potongan tubuh Fatma belum utuh ditemukan.

“Kami selalu berharap dan berdoa agar potongan tubuh—bagian dada—itu segera ditemukan. Jika sudah ditemukan, rencananya makam Fatma akan dibongkar lalu dikubur ulang dengan sisa potongan tubuh tersebut. Kasihan jika dimakamkan terpisah,” kata ayah Fatma, Basuni, di Banjarbaru, Sabtu (8/1/2011).

Sebelumnya, potongan-potongan tubuh Fatma yang telah ditemukan sudah dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Muslimin Guntung Harapan, Guntung Manggis, Landasan Ulin Utara, Jumat (26/11/2010) silam. Pencarian pun terus dilakukan aparat kepolisian dibantu relawan dari Team Radio Communication (TRC) Banjarmasin. Namun, hasilnya masih nihil.

Jumat (7/1/2011) sore, pencarian kembali dilakukan di kawasan saluran irigasi Desa Jingah Habang Ilir, Karang Intan, Banjar. Dalam pencarian ini, salah seorang tersangka, yakni Ardiansyah alias Sawa, dilibatkan.

“Kami mencari berdasarkan pengakuan Sawa mengenai tempat dirinya membuang potongan tubuh Fatma. Namun, kami hanya menemukan karung biasa dan bra (penutup dada perempuan). Itu pun belum bisa dipastikan apakah terkait dengan kasus ini,” ujar kerabat Fatma, Syaiful.

Dia mengungkapkan, saat pencarian itu Sawa seperti orang bingung. “Dia diminta menunjukkan lokasinya, tetapi justru bingung, Seperti linglung,” ujar Syaiful.

Syaiful yakin potongan tubuh Fatma akan ditemukan meski sudah membusuk. “Tulang belulangnya pasti masih ada,” tegasnya.

Kasatreskrim Kepolisian Resor Banjar Ajun Komisaris Nuryono saat dikonfirmasi membenarkan adanya pencarian. Dia pun mengungkapkan, hasil pencarian dibawa ke Markas Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan.

Adapun Kasat I Ditreskrim Polda Kalsel Ajun Komisaris Besar Namora menyatakan masih perlu penelitan untuk memastikan karung dan bra itu terkait kasus mutilasi terhadap Fatma. “Masih perlu dibuktikan untuk memastikan,” tegasnya.

Selain Sawa, ada enam tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Fendi Ardiyanto alias Fendi, Akramudin alias Icun, Alex Pratama alias Alex, M Aldiansyah alias Tole, Alamsyah alias Ancah, dan M Syafii Rifani alias Erfan. Diduga, kasus yang terjadi Kamis (18/11/2010) malam itu diotaki oleh Fendi yang mengaku sebagai kekasih Fatma. Padahal, Fatma sudah menikah dengan Syahlan.

Aksi keji tersebut berawal dari pertemuan para tersangka dengan Fatma di kawasan Minggu Raya, Banjarbaru. Di sini Fatma menenggak pil koplo dan meminum alkohol murni dicampur minuman energi yang diberi Icun. Setelah itu mereka menuju hutan pinus.

Berdasarkan pengakuan mereka kepada penyidik, saat itu Icun membawa tas warna hitam merek Revo yang berisi parang. Sementara Fendi membawa tas warna hitam merah berisi parang dan karung beras. Kedua parang tersebut merupakan milik Fendi.

Begitu tiba di hutan pinus, Fatma yang sudah dalam kondisi mabuk dibekap lalu diperkosa secara bergantian. Setelah memerkosa, Sawa mengeluarkan parang dan menggorok leher Fatma. Aksi mutilasi pun dilakukan. Setelah potongan tubuh dimasukkan ke tas dan karung serta dibuang secara terpisah di kawasan Bincau.

Jumat (19/10/2010) petang, tas hitam merek Revo yang berisi potongan kepala, kedua tangan, dan kaki kiri Fatma ditemukan warga di saluran irigasi Desa Bincau. Tiga hari kemudian potongan kaki kanan sampai pusar Fatma ditemukan di sungai Desa Bincau.

Sejak itu polisi terus melakukan penyelidikan dan perburuan terhadap orang-orang yang diduga menjadi pelaku. Informasi yang diperoleh, tujuh tersangka itu dibekuk di tempat berbeda pada Selasa (14/12/2010) hingga Kamis (31/12/2010) malam.

Adalah Fendi yang pertama kali ditangkap di kawasan Pasar Pagi, Banjarmasin. Lalu, Ancah di Sungai Sipai Banjar dan Icun di depan STM Banjarbaru. Tidak lama kemudian giliran Sawa di kawasan Balitan Banjarbaru, Erfan di kawasan Pasar Lama Banjarmasin serta Alex dan Tole di Guntung Paikat Banjarbaru.