Arsip Kategori: pemerkosaan

Pengantin Baru Dihipnotis dan Dibawa Ke Hotel Untuk Diperkosa Oleh Supir

JAKARTA – Bermodalkan ilmu hipnotis yang dipelajarinya selama tiga bulan di Lampung, sopir angkot memperkosa wanita pengantin baru di hotel. Pelaku juga menggasak perhiasan serta uang ratusan ribu milik korban.

Tr, 20, dua kali diperkosa di hotel kelas melati di kawasan Tanah Abang, Jakpus, oleh Andri Ari Wibowo,25, sopir angkot jurusan Grogol-Muara Angke. Perempuan ini bertemu Ari saat tengah menanti angkutan umum di Terminal Blok M, Jumat (11/7) siang.

Sebuah tepukan di pundak menjadi awal malapetaka bagi perempuan yang baru empat bulan dinikahi oleh Abdul, 29, ini. Saat itu, korban berniat pulang ke rumahnya di Muara Baru, Penjaringan usai berkunjung ke rumah salah seorang kerabatnya.

“Mau kemana mbak?,” tanya Andri saat itu sambil menepuk korban.

“Saya nggak sadar, pokoknya setiap ajakannya waktu itu saya turuti,” kata korban yang ditemui di Polsek Penjaringan, Sabtu (12/7) siang.

Korban menurut saja ketika dibawa ke sebuah hotel kelas melati di kawasan Tanah Abang. Di tempat itu, dua kali lelaki asal Brebes, Jateng itu melampiaskan hawa nafsunya. Selanjutnya uang Rp700 ribu, cincin serta HP Tr diambil pelaku. “Dia bilang biar aman disimpan sama dia,” lanjut korban.

Pelaku kemudian membawa korban ke daerah Penjaringan. Persis di depan Mega Mal Pluit, korban ditinggal. “Setelah pelaku pergi, saya baru sadar kalau kena tipu,” tandasnya.

Kapolsek Penjaringan Kompol Asep Adi Saputra menyebutkan, Andri berhasil ditangkap saat sedang nongkrong di Jalan Tanah Merah, Jembatan Tiga. “Dia ternyata pelaku perampasan motor pengojek dengan modus hipnotis,” jelas kapolsek didampingi Kanit Reskrim Iptu Ali Zusron.

Andri mengaku belajar hipnotis di Lampung. “Tiga bulan saya berguru ilmu itu,” ucapnya.

PURA-PURA MINTA DAUN JAMBU
Aksi hipnotis juga menimpa Ny.Eli, 55, warga RT 08/12 No. 29, Kelurahan Pasar Manggis, Setiabudi, Jaksel, Sabtu (12/7). Empat pelaku pura-pura minta daun jambu untuk obat muntaber, menggasak perhiasan senilai Rp20 juta dan uang Rp100 ribu. Korban baru menyadari kena hipnotis setelah pelaku kabur.

Eli menurut saja saat pelaku menyuruhnya mengambil daun jambu, seorang pelaku menyelinap masuk ke kamar lalu menggasak perhiasan. Kasusnya ditangani Polsek Setiabudi, Jaksel.

Seorang Ayah Kandung Berhubungan Intim dengan Dua Anak Kandungnya Selama 18 Tahun

JAKARTA – Biadab. Nuropin alias Bibing, 48, sehari-harinya tukang urut, tega memerkosa dua putri kandungnya selama bertahun-tahun. Selasa (1/7) malam, warga Palmerah itu dibekuk petugas Polres Jakarta Barat.

Perbuatan bejatnya baru terungkap setelah 18 tahun. Ayah delapan anak itu mengaku pasrah jika dirinya diganjar hukuman apapun. “Saya sudah merusak masa depan dua putri kandung sendiri,” katanya seraya mengatakan pada awalnya mereka selalu saya ancam untuk tidak memberitahu ibu namun lama-lama tidak perlu lagi karena sudah terbiasa.

Pengakuan Bibing, perbuatan bejatnya sejak tahun 1990 terhadap anak kandungnya berinisial NM saat putri pertamanya itu berusia 10 tahun. Saat itu sepulang mencari nafkah, ia tidak mendapati Ny. Id, 45, istrinya, di rumah. Sang istri saat itu juag sedang mencari nafkah.

Tergiur dengan kemulusan tubuh putrinya yang saat itu tidur hanya mengenakan pakaian dalam, tersangka tak kuat menahan nafsu lalu mengancam NM yang kini sudah berusia 28 tahun itu. Sang bocah lalu dinodai. “Seminggu dua kali saya menidurinya mulai dari masih umur 10 tahun hingga umur 28 tahun,” aku tersangka yang menjelaskan bahwa istrinya selain tukang urut juga kuli cuci yang setiap hari pulang malam.

Tak hanya NM yang menjadi korban kebuasan Bibing. Pada tahun 2004, ia memperkosa anaknya yang lain, IR yang kini sudah berusia 17 tahun. Bertahun-tahun perbuatan bejatnya dilakukan dengan aman. Tapi akhir Juni 2008 lalu, kedua kakak beradik IR dan NM saling curhat tentang kelakuan ayah mereka hingga akhirnya kasus aib dalam keluarga terbongkar.

Seorang Wanita Muslim Dihukum Cambuk 200 Kali Oleh Pengadilan Akibat Diperkosa Beramai-ramai

JEDDAH – Diskriminasi seksual masih sering terjadi di Arab Saudi seperti kasus wanita muslim muda ini. Malang nian nasib wanita muda ini. Sudah diperkosa oleh sekelompok pria, dirinya malah dijatuhi hukuman cambuk oleh pengadilan.

Peristiwa memilukan ini menimpa seorang perempuan dari suku Syiah di Kota Qatif, Arab Saudi. Oleh pengadilan Saudi, wanita berusia 19 tahun itu dihukum cambuk 200 kali.

Wanita yang dirahasiakan identitasnya itu diculik dan diperkosa oleh 7 pria arab saudi yang biadab. Saat itu dia sedang bersama seorang pria yang bukan muhrimnya. Demikian seperti diberitakan harian Sydney Morning Herald.

Pengadilan Agama Saudi awalnya menjatuhkan hukuman cambuk 90 kali pada wanita malang itu. Sedangkan para pemerkosa dihukum penjara antara 10 bulan dan lima tahun. Pengadilan Agama Saudi beralasan, wanita itu juga harus dihukum karena dia berdua-duaan dengan pria yang bukan muhrimnya dan berhubungan seksual dengan pria yang juga bukan muhrimnya.

Namun pekan lalu, Dewan Pengadilan Tinggi Saudi memberikan hukuman yang lebih berat bagi korban pemerkosaan tersebut. Wanita itu dikenai hukuman cambuk 200 kali dan penjara 6 bulan. Sedangkan para pemerkosa divonis antara 2 tahun dan 9 tahun penjara, tanpa hukuman cambuk.

Pengadilan Agama Saudi bahkan mengambil tindakan disiplin terhadap pengacara korban, Abdul-Rahman al-Lahem. Dia dipaksa melepas kasus tersebut karena telah berbicara ke media.

Putusan yang berdasarkan hukum Islam Saudi yang ketat ini menimbulkan kritikan dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mencetuskan, sebagian besar orang akan terheran-heran melihat hal seperti ini terjadi.

Badan HAM internasional, Human Rights Watch yang berbasis di New York, AS telah meminta Raja Abdullah untuk mencabut semua tuduhan terhadap wanita tersebut. Bulan lalu, Raja Abdullah mengumumkan rencana untuk mengubah sistem peradilan di negeri itu.

Dua Supir Angkot Memperkosa Siswi SMK Dibiarkan Bebas Berkeliaran Oleh Polisi Medan

MEDAN – Hampir 2 bulan, kasus pemerkosaan yang menimpa IP, siswa SMK Perguruan Anak Bangsa (PAB), warga Sialang Muda, Kecamatan Hamparan Perak, Medan, belum diproses.

Dua tersangka pelaku yang berprofesi sebagai sopir angkot GD,43, warga Kelambir Lima dan SB,32, warga Kampung Lalang, Medan, tetap bebas berkeliaran.

Menurut Surianto,45, orangtua korban kepada Pos Kota di Medan, kemarin, akibat peristiwa itu, putrinya mengalami trauma bahkan sering menggigau ketakutan.

Selain masa depan anaknya hancur, peristiwa itu membuat pelajar kelas II ini merasa terasing dalam pergaulan sehari-hari karena sering diejek teman-teman sebagai pelacur.

“Kami mengharapkan pihak kepolisian mau menanggapi kasus tersebut dan menangkap pelakunya,” harap Surianto.

Dikatakannya, dirinya bersama anaknya secara resmi membuat pengaduan ke Poltabes Medan pada 3 Mei lalu. Mereka disarankan untuk ke rumah sakit agar korban divisum.

Dari hasil visum dokter disebutkan positif bahwa kemaluan IP, luka akibat dimasuki benda tumpul. Selain itu seorang saksi juga sudah dimintai keterangan.

“Tapi sampai sekarang kedua pelaku masih berkeliaran,” kata ayah 6 anak ini. Diakuinya, keluarga pelaku GD, datang menemuinya untuk berdamai. “Kami tidak mau menempuh jalan damai.

Kasus ini harus diselesaikan secara hukum. Apalagi sepengetahuan warga bahwa pelaku GD sudah tiga kali terlibat dalam kasus cabul,” tambahnya.

Menyikapi kasus cabul tersebut, Kasat Reskrim Poltabes Medan Kompol Budi Haryanto, ketika dikonfirmasi Pos Kota menyatakan, pihaknya masih sibuk mengumpulkan alat bukti jadi selama proses tersebut harus berlaku asas praduga tak bersalah yang sangat menghargai hak-hak asasi pelaku kejahatan sebagai manusia yang tidak bersalah.

PULANG PKL
Diceritakan Surianto, kasus itu bermula ketika anaknya pulang ke rumah usai mengikuti praktek kerja lapangan (PKL) di Kantor Departemen Agama Sumatera Utara, Medan.

Malam itu korban naik angkot ‘Tunas Baru’ jurusan Kampung Lalang-Belawan. Selain korban juga ada beberapa penumpang di dalam angkot tersebut. Satu persatu penumpang turun dan tinggal korban sendirian.

Sebelum korban tiba di tempat tujuan, tiba-tiba sang sopir, membelokkan arah kenderaannya menuju kawasan Medan Tuntungan. Korban sempat menanyakan kepada kenek, kenapa dia tidak diantar ke tempat tujuannya.

Namun, kenek tersebut langsung mengancam korban agar menurut saja. Korban tak bisa berkutik ketika kedua pelaku membawanya ke penginapan. Korban yang tidak berdaya ketika ditelanjangi lalu diperkosa bergiliran oleh kedua pelaku semalaman.

Desi Masih Menyimpan Sprei Bekas Bercak Darah Perawannya dan Obat Kuat Serta Gel Pelumas Saat Diperkosa Pertama Kali Oleh Max Moein

JAKARTA – Bercak darah sebagai bukti keperawanannya, obat kuat viagra, jelly dan hand body menjadi alat Max Moein saat memerkosa mantan staf pribadinya, Desi Ferdianti di ruang kerja anggota Gedung DPR RI.

“Bercak darah masih saya simpan dan sudah saya tunjukkan ke Badan Kehormatan, bapak boleh saja membantah dan mengaku sudah tua tetapi saya masih simpan obat-obatan yang digunakan, bahkan masih ada sidik jarinya,” kata Desi Ferdianti didampingi pengurus LBH APIK dan anggota DPR Nursyahbani Katjasungkana di ruang wartawan Gedung DPR.

Anggota DPR, Max Moein yang dituduh memperkosa Desi dipanggil Badan Kehormatan DPR. Max membantah semua yang diungkapkan Desi saat dipanggil BK, dari pelecehan seksual maupun perkosaan.

“Dia membantah, dia menyebutkan usianya sudah 63 tahun sehingga libidonya sudah turun dan sulit ereksi, selain itu korban usianya masih 30 sehingga kalau mau bisa melawan dirinya,” kata Imam Suja’ di sela-sela pemeriksaan Max yang dilakukan secara tertutup.

Kalau pun terjadi hubungan seksual antara kedua orang tersebut, kata Suja’ menirukan, pemerkosaan itu didasari atas rasa suka sama suka sehinga kejadiannya pun bisa lebih dari sekali. “Ya itu intinya Pak Max membantah apa yang disampaikan korban,” tambah Suja’

SELALU DIANCAM
Lebih lanjut Desi mengatakan bahwa Max Moein yang saat itu adalah atasannya benar-benar menggunakan berbagai cara untuk memperdayai dirinya.

“Bapak itu pakai berbagai media mulai dari hand body, jelly, obat viagra dan macam-macam lagi,” katanya. “Saya sudah menolak bahkan melawan, tetapi selalu saja diancam dengan berbagai alasan lain karena Bapak memiliki koneksi kuat akhirnya saya pasrah.”

Desi mengakui, dengan kondisi sekarang ini bukan berarti dirinya tidak malu, bahkan bisa dibilang tak punya muka lagi. Tapi semua sudah terlanjur sehingga segala risiko harus ditempuh.

“Saya malu, semula saya inginkan selesai di internal BK saja, tetapi ternyata melebar ke mana-mana,” jelasnya.

Ditanya apa yang dinginkan dari Max, Desi mengatakan tidak ingin apa-apa kecuali pengakuan dan permintaan maaf kepada kedua orang tuanya.

“Itu saja yang saya inginkan, tetapi ternyata bapak membantah semua. Karena itu saat Bapak (Max) menelpon ke rumah, orang tua saya nggak mau bicara,” ujarnya.

Syarat Lulus Ujian Nasional Adalah Ditiduri Hansip

BEKASI – Sebagai Danton (komandan pleton) Hansip, rupanya Na, 45, tak tahan melihat hal-hal yang sip. Dengan terapi ritual agar lulus ujian, dia mencabuli seorang siswa SMP di Bekasi. Tapi akibat ulahnya pula, rumah Hansip mesum itu rusak diamuk massa.

Peristiwa ini terjadi Selasa malam (24/6) di Karangbahagia. Na sendiri kabur entah ke mana, tapi perabot rumahnya hancur diacak-acak massa. Kalau saja polisi Polsek Cikarang tak segera tiba, niscaya rumah oknum Hansip ini jadi abu dibakar warga.

HADAPI UAS
Menurut keterangan, pada 12 Juni lalu 12 siswi SMPN yang baru saja mengikuti Ujian Nasional (UN), akan menghadapi Ujian Akhir Sekolah (UAS). Entah siapa yang menunjuk Na, semua siswa dikumpulkan di ruang komputer dan diajarkan ritual bagaimana cara supaya lulus UAS. “Mereka diberi minum air oleh Na,” kata Nean, satu orang tua siswi.

Belakangan ada satu siswi yang ditaksir Na. Sebut saja Melati, 14. Otak Na pun langsung ngeres. Hampir setiap hari dia mendatangi rumah Melati, dengan dalih memberikan semacam minuman. “Katanya agar anak saya bisa lulus ujian,” tutur janda tiga anak ini.

Selama melakukan ritual ayah dua anak ini tidak sendiri, tetapi selalu ditemani Luk, yang mengaku menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Tapi pihak keluarga tidak tahu apakah Luk terlibat. “Soalnya Na selalu berdua dalam ritual tersebut,” imbuh Naran, 35, paman Melati.

Sejak mengikuti ritual dengan cara mengaji dan membaca huruf-huruf arab, Melati keponakannya itu jadi lain. Selain memberi minuman khusus, sang Danton ini juga meminta Melati harus dirajah (dijamah) dalam menjalani ritual tersebut. “Dia sempat teriak, saat dijamah dalam kamar,” tutur ibu korban, Ny Damih.

Sejak itu tingkah korban berubah, murung dan tidak mau makan. Kemudian ketika diajak bicara dia malah ngomong ngelantur. Kecurigan keluarga Melati bertambah, setelah Na dan Luk tidak muncul lagi, “Kami ini orang susah, kalau memang sudah terjadi biarlah dimusyawarahkan,” tutur Naran, paman Melati.

Keluarga Ny. Damih pernah mendatangi rumah lelaki asal Haurgeulis (Indramayu) ini untuk minta tanggungjawab. Tapi niat baik keluarga korban tidak digubris, sehingga akhirnya terjadi penyerangan terhadap rumah pelaku. Polsek Cikarang kini sedang mengusut kasusnya dan membawa korban ke RS untuk di visum.

Dijanjikan Kerja Disalon, Gadis ABG Perawan Melayani Tiga Pria Pada Hari Pertama Kerja

BOGOR – Himpitan ekonomi memang bisa membuat orang kehilangan kewaspadaan. Itulah yang dialami RK, 14. Ditawari pekerjaan menggiurkan di sebuah salon, tanpa pikir panjang lagi langsung disambar.

Namun akibatnya fatal buat gadis bau kencur warga Kampung Pada Beunghar, Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor, ini. Ia dipaksa mami salon melayani tiga pria hidung belang sekaligus di hari pertama kerjanya.

Peristiwa ini terjadi ketika pada 12 Juni lalu, korban didatangi seorang pria bernama Epi yang menawarinya pekerjaan sebagai karyawati salon di bilangan Jakarta Selatan.

Siti Asiah ,38, ibu korban, yang terbelit masalah ekonomi semenjak ditinggal mati suaminya setahun silam kemudian mengizinkan anak gadisnya dibawa ke Jakarta.

LAYANI HIDUNG BELANG
Namun iming-iming pekerjaan di salon sebagai karyawati ternyata cuma isapan jempol belaka. Gadis yang hanya jebolan kelas 1 SMP ini ternyata dijadikan budak seks oleh mami pemilik salon.

Di malam pertamanya bekerja, RK diminta melayani tiga pria hidung belang sekaligus yang menjadi tamu di salon tersebut.

Korban yang diselamatkan ibunya Kamis (19/6) pagi dan melapor ke Mapolresta Bogor sore harinya menuturkan sekitar pukul 21.00 pada tanggal 13 Juni ia dipaksa mami pemilik salon untuk melayani tiga pria hidung belang.

Upaya perlawanan korban saat itu si-sia karena sang mami memaksa bahkan menamparnya. ”Saya tidak pernah membayangkan kalau kegadisan saya harus diserahkan pada tiga pria sekaligus,” aku korban kepada petugas.

Peristiwa serupa terus berulang di malam-malam berikutnya. Menurut penuturan RK, dalam semalam ia diwajibkan melayani minimal 2 lelaki.

KONTAK ORANGTUA
Hingga pada Rabu (18/6) malam RK mendapat kesempatan keluar kamar dan mengontak orangtuanya lewat HP temannya. Bagai d sambar petir Siti Asiah sangat kaget mendengar pengaduan buah hatinya.

Bersama keluarga, Siti lalu mendatangi alamat yang diberikan anaknya. Saat ditemui, pemilik salon sempat bersitegang dengan ibu korban karena menggelak dikatakan sebagai mami dalam memperjual belikan keperawanan korban, menurut sang mami Rk sudah tidak perawan saat kejadian tersebut. Ibu korban yang berang, lalu melapor ke Polresta Bogor.

Kapolresta Bogor, AKBP Yazid Fanani, Jumat (20/6), mengatakan pihaknya tengah mendalami laporan ini. ”Pelaku sedang kami buru. Apapun alasannya, memperdagangkan keperawanan gadis di bawah umur adalah pelanggaran hukum yang harus ditindak,” tegas Yazid.

Maksud Hati Ingin Berbuat Kebajikan dan Menolong Gadis Korban Pemerkosaan Namun Apa Daya Tak Kuasa Menahan Nafsu Akhirnya Ikutan Memperkosa

LEBAK – Niatnya ingin menolong gadis korban perkosaan. Namun karena kepincut kemolekan tubuh dan kecantikan korban yang tergeletak tak sadarkan diri, Encep, 26, nekat ingin mencicipi.

Sialnya, pada saat tengah melepaskan syahwatnya, Krt, 19, sadar dan berteriak. Karena korban mengenali wajahnya, polisi pun dengan mudah menangkap Encep di rumahnya di Kampung Cibuah Cipanyawad, Desa Cibuah, Kecamatan Warung Gunung, Lebak, Banten, Rabu (18/6).

Kasat Reskrim Polres Lebak, AKP Yudis Wibisana mengatakan, peristiwa perkosaan itu terjadi Senin (16/6) dinihari. Berawal ketika gadis ABG asal Kampung Kadubanen, Desa Kabayan, Kecamatatan/Kabupaten Pandeglang, berkenalan dengan pelaku bernama Pendi, 26, di Alun-alun Pandeglang.

Setelah saling mengenal, Pendi mengajak korban ke rumahnya di Pasir Tangkil, Kecamatan Warung Gunung, Lebak.

“Setibanya di Pasir Tangkil, ternyata korban bukan dibawa ke rumah Pendi, melainkan ke lapangan terbuka yang kondisinya gelap gulita. Setiba di lapangan, tiga teman Pendi ternyata sudah menunggu,” ujar Kasat.

Saat korban sedang ngobrol ngarul ngidul dengan Pendi, tiba-tiba korban dipukul dari belakang hingga tak sadarkan diri, begitu korban jatuh pingsan keempat pelaku menelanjangi korban bulat-bulat. “Korban lalu diperkosa keempat pelaku bergiliran. Puas menikmati tubuh korban, korban ditinggalkan masih dalam kondisi pingsan,” ungkap Yudis.

TERGELETAK DI LAPANGAN
Setelah diperkosa Pendi Cs, korban ditinggalkan tergeletak begitu saja di pinggir lapangan sepakbola. Saat itu, pakaian yang dikenakan korban ditinggalkan begitu saja dibawah pohon hingga korban tergeletak tanpa sehelai benangpun.

Kebetulan, Encep yang baru saja nonton organ tunggal di kampung tetangganya, melintas di tempat tersebut. Melihat sosok wanita telanjang tergeletak tak bergerak, Encep sempat panik karena disangka adalah sosok mayat korban pembunuhan, namun dia akhirnya memberanikan diri untuk mendekati. Setelah dengan saksama mengamati, Encep tidak menemukan bekas luka dan untuk memastikan bahwa wanita itu bukan korban pembunuhan, Encep meletakan tangannya pada dada korban untuk merasakan detak jantung.

Namun bukan hanya detak jantung korban yang ia rasakan, detak jantungnya sendiripun bertambah kencang merasakan hangatnya buah dada korban. Wajah cantik serta bodi montok, akhirnya membuat iman Encep mejadi terganggu. Mula-mula niat Encep hanya mengerayangi saja sambil menciumi namun bisikan setan lebih hebat dan karena merasa tidak diketahui orang lain, tukang ojek ini malah nekat ingin mencicipi tubuh hangat Krt yang terbering lemah dan pingsan di atas tanah.

Namun apes, ketika sedang sibuk-sibuknya melepas syahwat, Krt siuman. Krt pun berteriak dan Encep yang tidak menyangka Krt sadar secepat itu, terkejut lari tunggang langgang sambil membenahi celananya.

“Encep, kita tangkap karena korban sempat mengenali wajahnya dan di TKP kami menemukan celana dalam Encep yang tertinggal sebagai barang bukti. Saat ini, kami memfokuskan menangkap Pendi Cs,” lanjut AKP Yudis.

Pelaku Pembunuhan dan Pemerkosaan Dua Siswi SD Adalah Sepupu Korban Karena Diejek Menikahi Gadis Bekas Pakai Alias Tidak Perawan Lagi

KARAWANG – Hanya dalam waktu 8 jam, misteri pembunuhan 2 bocah siswi sekolah dasar (SD) yang mayatnya ditemukan di semak-semak bantaran sungai Kampung Singapadu, Desa Tinggar, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten, diungkap Satuan Reskrim Polres Serang.

Sulhah, 12, dan Mulyati, 13, ternyata dihabisi saudara sepupunya sendiri Arsyad, 23, warga Kampung Singapadu, Desa Tinggar, Kecamatan Curug, Kota Serang. Pelaku ditangkap ketika bersembunyi di rumah istri mudanya di Kampung/Desa Sungai, Kecamatan Johor, Kerawang, Jawa Barat, Kamis (12/6) malam. Dua butir timah panas menerjang kaki kiri tersangka. Polisi terpaksa menembak karena tersangka melawan saat ditangkap.

Arsyad (23), pelaku pembunuhan dua murid sekolah dasar, Sulkhah dan Mulyati, ditangkap polisi di sebuah tempat di Karawang, Jawa Barat, Kamis malam. Arsyad mengaku membunuh dan memerkosa korban karena kesal mendengar ejekan Sulkhah.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Serang Ajun Komisaris Besar Lilik Heri Setiadi dalam gelar perkara, Jumat (13/6), mengatakan, Arsyad diringkus di rumah ibu tiri istrinya di Desa Sungai, Kecamatan Johar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis malam. Polisi menembak kaki kiri Arsyad karena dia melakukan perlawanan saat dibawa ke markas Polres Serang.

Kapolres Serang, AKBP Drs. Lilik Heri Setiadi yang didampingi Kasat Reskrim, AKP M. Nazly Harahap  mengatakan hasil penyelidikan ada saksi yang melihat tersangka membawa kedua korban mengendarai motor. Setelah itu, tersangka kembali sendirian.

Dalam pemeriksaan, Arsyad mengaku telah membunuh adik sepupunya, Sulkhah, serta tetangganya yang bernama Mulyati. Didukung keterangan dari sejumlah saksi, polisi menetapkan Arsyad sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana tersebut.

Selain menangkap pelaku, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya sebilah golok dan sepeda motor korban yang disembunyikan di rumah kerabat pelaku, Ahmad Fauzi, di Desa Cibuah, Kecamatan Warung Gunung, Kabupaten Lebak.

Diejek

Arsyad menuturkan bahwa dirinya terpaksa membunuh Sulkhah karena tidak tahan mendengar ejekannya. Bukan karena ingin memiliki sepeda motor milik Mulyati, seperti dugaan sebelumnya.

Awalnya pada hari Selasa lalu, Arsyad hanya ingin diantarkan ke rumah istrinya, Tining, di Kampung Singapadu, Desa Tinggar, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten. Namun, karena hujan turun di tengah perjalanan, ketiganya berteduh di bawah pohon. Saat itulah tiba-tiba Sulkhah melontarkan kata-kata yang dianggap sebagai ejekan.

”Dia bilang ke saya, ’mau-maunya nikah sama bekas orang, udah enggak perawan’. Makanya saya emosi, masa saudara sendiri dikatain begitu. Sulkhah kan masih anak kecil, sudah bisa omong begitu,” tutur Arsyad.

Hinaan itu, kata Arsyad, menimbulkan niat untuk memberi pelajaran kepada adik sepupunya itu berupa diperkosa supaya tahu rasa dan tidak perawan lagi. Setelah itu, pelaku membawa Sulkhah ke tepian parit dengan dalih minta diantar buang air kecil. Sesampainya di parit, Arsyad langsung membekap mulut Sulkhah dan memperkosanya lalu dicekik hingga tewas. Mayat korban kemudian diseret dan disembunyikan di balik semak-semak.

Takut perbuatannya diketahui warga, Arsyad pun berniat untuk membunuh Mulyati. Selanjutnya tersangka yang juga Ayah satu anak itu pun memanggil Mulyati yang sedang menunggu motor. “Mul ke sini, coba temani Sulhah. Dia sedang buang air di sungai,” kata tersangka. Sampai di lokasi kejadian, Mulyati langsung dicekik dengan menggunakan tangan kosong. Pelaku sempat membacok kepala Mulyati lantaran terus melawan.

Pelaku pun sempat memerkosa korban sebelum membuangnya ke semak-semak. Padahal, saat itu, kondisi korban sudah tidak bernyawa lagi.

”Waktu sudah roboh, saya perkosa si Mulyati. Cuma pengin tahu saja rasanya memperkosa gadis yang sudah mati sekaligus ingin tahu apa dia itu masih perawan atau tidak, anak sekarang kan kecil-kecil sudah jago ngeseks pak,” ujar Arsyad saat ditemui pada Jumat sore.

Setelah itu, Arsyad meninggalkan mayat Sulkhah dan Mulyati di semak-semak beserta sepeda motor yang mereka tumpangi.

Tersangka pulang menggunakan motor Honda Supra Fit A 6106 AV milik korban lalu kembali ke lokasi pembunuhan untuk menyimpan motor. Sepeda motor milik korban itu diambil pada Rabu pagi, dan langsung dititipkan di rumah Ahmad Fauzi, sudaranya di Kecamatan Warung Gunung, Kabupaten Lebak, Banten.

SUASANA DUKA
Suasana duka masih menyelimuti keluarga Muklas dan Suheri, orangtua korban. Beberapa guru SD Tejamari I maupun teman sekelas korban terlihat berdatangan di rumah duka di Kampung Kopeng, Desa Sidamukti, Kecamatan Baros, Serang, untuk mengucapkan belasungkawa.

Di mata teman-teman sekelas, Sulhah dan Mulyati dikenal sebagai dua sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan keduanya dikenal suka membantu teman-teman sekelasnya.

“Kami sangat kehilangan. Kalau bisa, orang yang ngebunuh itu juga dimatiin aja, Pak,” ungkap Aan dan Tuti, teman sekelas Sulhah dan Mulyati.

Belum Puas Merampas Motor, Perampok Juga Menganiaya dan Memperkosa Dua Bocah ABG Hingga Tewas

SERANG – Dua murid sekolah dasar ditemukan tewas membusuk di tepi Sungai Kampung Singapadu, Desa Tinggar, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten, Kamis (12/6). Diduga, warga Kampung Kopeng, Desa Sinar Mukti, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, itu tewas dibunuh karena sepeda motor yang mereka tumpangi raib.

Kedua murid sekolah dasar (SD) itu bernama Sulkhah (12) dan Mulyati (13). Mayat korban pertama kali ditemukan oleh Jaja (50), warga Singapadu, yang akan mencari bambu sekitar pukul 08.00. Awalnya, Jaja mencium bau busuk dari arah semak-semak di tepian sungai.

Kakek yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu pun kemudian mendekati sungai, dan melihat dua mayat bocah perempuan tertelungkup di balik semak-semak. Dibantu warga lain, Jaja melaporkan hal itu kepada Kepolisian Sektor (Polsek) Curug.

Polisi yang datang ke lokasi kejadian langsung mengidentifikasi kedua mayat bocah tersebut. Setelah dicocokkan, kedua mayat itu ternyata adalah Sulkhah dan Mulyati, yang dilaporkan hilang tiga hari lalu.

Menghilang sejak Selasa

Menurut keterangan Kepala Desa (Kades) Sinar Mukti Juneri, Sulkhah dan Mulyati menghilang sejak hari Selasa lalu. Sebelumnya, sekitar pukul 13.00, mereka diminta mengantar Arsyad, kakak sepupu Sulkhah, menengok istrinya di Kampung Singapadu, Desa Tinggar.

Ketiganya kemudian berboncengan menuju Singapadu, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari tempat tinggal mereka. Mereka menumpang sepeda motor milik orangtua Mulyati yang bernama Maemunah.

Namun, hingga malam hari, keduanya tak kunjung pulang ke rumah. Heri dan Suheti, orang- tua Sulkhah, pun melapor ke aparat desa dan Polsek Baros. Bersama dengan warga lain, mereka mencari ke sejumlah desa yang berdekatan dengan Desa Sinar Mukti.

Bahkan, Arsyad pun turut mencari korban hingga ke rumah istrinya di Singapadu. ”Dia juga yang usul agar ditanyakan ke ”orang pintar”. Dia bilang, orang pintar itu menunjukkan dua korban berada di daerah pegunungan,” tutur Juneri.

Pencarian selama dua malam berturut-turut tak membuahkan hasil, hingga akhirnya warga mendapat kabar Sulkhah dan Mulyati ditemukan tewas pada Kamis pagi. Bersamaan dengan itu, Arsyad menghilang dan hingga Kamis sore belum juga ditemukan.

Dianiaya

Berdasarkan hasil otopsi diketahui, kedua bocah perempuan itu tewas setelah dianiaya. Kepala Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serang Dokter Budi Suhendar mengatakan ditemukan bekas luka bacokan senjata tajam di kepala Mulyati. Selain itu, ditemukan pula bekas cekikan tangan kosong pada leher dan luka lebam serta darah yang mengering di kemaluan korban.

Adapun pada mayat Sulkhah ditemukan luka lebam di bagian pipi, serta mulut, seperti bekas bekapan. Sama dengan Mulyati, ditemukan pula luka bekas cekikan tangan kosong di leher Sulkhah dan darah kering disekitar kemaluan.

”Pola lukanya memang mengarah pada tindak pidana,” kata Budi Suhendar, saat ditanya dugaan korban tewas karena pembunuhan dan pemerkosaan.