Category Archives: pemerkosaan

Karyawati Cantik Kaget Ada Pria Pamer Penis Di Halte Trans Jakarta Buncit Indah

Kasus pelecehan seksual di fasilitas umum ibu kota Jakarta kembali terjadi. Kali ini seorang karyawati di wilayah Jakarta Selatan, mengalami kejadian itu di jembatan penyeberangan Halte Busway Buncit Indah. Karyawati bernama Sastri, itu menceritakan ketika dirinya baru pulang kantor sekitar pukul 20.00 WIB, Kamis kemarin. Saat dirinya mau menuju loket pembayaran Bus Way, dirinya dicegat oleh seorang laki-laki.

Tak ada angin ataupun hujan, lelaki itu tiba-tiba saja membuka risleting celananya dan mengeluarkan ‘burungnya’. Sontak hal itu membuat Sastri takut dan cemas. Suasana jembatan penyeberangan itu juga sepi. “Saya langsung lari saja melihat si cowok kayak gitu. Saya takut, saya lari saja, saya tabrak orangnya,” kata Sastri kepada detikcom, Jumat (23/8/2013).

Sesampainya di loket pembayaran, Sastri kembali menoleh ke laki-laki tersebut. “Pas saya lihat lagi, itu cowoknya melihat saya lagi dengan kondisi yang sama,” tuturnya. Dia menggambarkan laki-laki yang melakukan tindakan asusila tersebut memiliki ciri-ciri kulit agak cokelat, menggunakan kaos biru dan celana jeans. Usianya sekitar 30-an tahun.

Pemuka Agama Di Nganjuk Beristri 3 Setubuhi Anak Kandungnya Sendiri Kini Buron

Pemuka agama di Kabupaten Nganjuk Jatim, berinisial AK (50) alias Gus Put terkenal sebagai ahli spiritual dan bidang agama. Ratusan jamaahnya, datang untuk berguru di sebuah masjid di depan rumahnya. Namun sejak perbuatan cabulnya pada 3 putri kandungnya terungkap, aktivitas pengajian berhenti total.

Salah seorang tetangga Gus Put yang bernama Slamet (41) yang ditemui, Kamis (15/8/2013) mengatakan, sejak dilaporkan ke polisi sekitar awal Juli 2013 lalu, aktivitas pengajian di masjid dan rumah sepi. Bahkan masjid yang berdiri kokoh itu, bak bangunan kosong.

Sebelum Gus Put dilaporkan telah berbuat cabul kepada ketiga putrid kandungnya ini, masjid dan rumahnya ramai dikunjungi warga dan jamaah. Namun kini, akses jalan ke rumahnya pun enggan dilalui warga. “Biasanya warga ke sawah lewat depan rumahnya itu. Namun kini warga yang ke sawah enggan lewat jalan itu. Entah apa sebabnya, saya juga tak berani lewat situ,” ungkap pria ini.

Berdasarkan pantauan akses jalan menuju rumah Gus Put memang sangat sepi. Jalan selebar 4 meter tak beraspal ini sepi dari petani yang berjalan menuju sawah. Bahkan sejumlah petani memilih jalan lain menuju areal persawahan. Rumah yang dikelilingi pohon bambu ini juga berpagar beton. Saat di lokasi, terlihat dua pemuda berpeci putih dan hitam duduk di gazebo depan rumah. Bahkan dua pemuda ini melarang detikcom yang hendak masuk ke dalam rumah Gus Put.

Gus Put tengah dicari polisi. Polres Nganjuk akan memeriksanya terkait laporan putri kandungnya yang masih duduk di bangku SMA. Sang anak melapor kerap disetubuhi ayahnya. Padahal sang ayah sudah memiliki 3 istri. Polres Nganjuk baru menerima satu laporan dugaan tindakan asusila yang dilakukan pemuka agama di Nganjuk, Jatim berinisial AK (50). Pihak kepolisian menegaskan, tidak menutup kemungkinan, korban masih ada tapi belum melapor.

“Sejauh ini masih ada seorang korban yang melapor. Korban satu ini adalah putri kadungnya sendiri,” kata Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Anton Prasetya, Kamis (15/8/2013). Data yang diperoleh dari Polres Nganjuk, kasus yang dilakukan AK terhadap putri kandungnya ini dilaporkan pada 27 Juni 2013 lalu. Saat melapor, korban ditemani ibunya berinisial P.

“Saat melapor, korban ditemani ibunya,” ujarnya. Sementara Kanit Reskrim Polres Nganjuk Iptu Asful mengatakan, memang AK mempunyai 3 anak. Putri yang pertama, menjadi korban persetubuhan bapaknya sendiri. Namun dirinya belum mendapat laporan jika korban ada 3 orang. “Memang tak menutup kemungkinan korbannya ada 3, itu informasi yang berkembang di masyarakat. Namun sementara ini yang melapor hanya seorang korban,” kata Asful saat ditemui di ruangannya.

Asful mejelaskan, informasi yang berkembang di kalangan para tetangga Gus Put, korban tak hanya 3, namun 4 orang ditambah seorang kepokanannya. “Namun itu hanya isu yang berkembang di masyarakat,” ujarnya. Pihak kepolisian juga tak mendapati data resmi jikalau Gus Put mempunyai 3 istri. Namun lagi-lagi informasi yang berkembang, buronan polisi ini beristri 3. “Istri sahnya hanya satu. Entah istri lainnya itu sah apa tidak belum diketahui,” ungkapnya.elakukan bejat AK (50), pemuka agama di Nganjuk, Jawa Timur menyetubuhi putri kandungnya diduga karena dirinya jauh dari istri. Sudah beberapa tahun ini, sang istri memang merantau ke negeri jiran Malaysia menjadi TKW.

Kasat Reskrim Polres Nganjuk AKP Anton Prasetya mengatakan, diduga karena tak bisa menahan hasratnya selama bertahun-tahun ini, AK nekat menyetubuhi putri kandungnya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA. “Istrinya jadi TKW, dan selama bertahun-tahun hasratnya tak terpenuhi. Ada dugaan karena terlapor tak tahan menahan hasratnya, dia nekat berbuat demikian,” kata Anton, Kamis (15/8/2013). Meski ada dugaan mengarah kesana, namun pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. Sebab tak menutup kemungkinan, ada dugaan motifnya lain. Semisal AK mendalami ilmu spiritual atau motif lainnya. “Meski ada dugaan kesana, namun kita akan lakukan penyelidikan ke dugaan motif lainnya. Namun untuk sementara ini terlapor masih berstatus buronan,” pungkas mantan Kasat Reskrim Polres Malang Kota ini.

AK (50) tengah diburu polisi. Dia diduga melakukan tindakan bejat. Menggauli 3 anak kandungnya. Polisi hingga kini masih melakukan pencarian atas AK, yang juga pimpinan sebuah pondokan agama. “Namun tersangka masih buron,” kata Kasat Reskrim Polres Nganjuk AKP Anton Prasetya saat dihubungi detikcom, Rabu (14/8/2013). Menurut Anton, pihaknya sudah melakukan penyidikan atas kasus ini. Anak gadis AK yang masih duduk di bangku SMA melakukan pelaporan. “Kita sudah periksa saksi-saksi,” imbuhnya.

AK diketahui sudah sejak beberapa bulan menyetubuhi 3 anak kandungnya di Nganjuk. Karena tak tahan dengan perlakuan bejat sang ayah, anak gadisnya, dengan dibantu warga melapor ke polisi. Kasus ini pun ditangani Polres Nganjuk. Namun sang ayah keburu melarikan diri. AK (50), seorang pemuka agama di Nganjuk, Jawa Timur, dilaporkan ke polisi karena berbuat cabul pada ketiga putri kandungnya. AK kini diburu polisi. Siapa sebenarnya AK?

AK adalah seorang pemuka agama dengan gelar Kyai di kampungnya. Dia merupakan keturunan seorang ulama di Ngronggot, Nganjuk. Warga setempat memanggilnya dengan sebutan Gus Put. Pria ini dipandang sebagai guru, dalam ajaran Islam dan ahli spiritual.

“Gus Put ini sangat pandai kalau mengaji kitab-kitab pesantren. Dia juga keluarga ulama di kampung ini,” kata Wahyudi (37), seorang pedagang kopi di depan gang rumah Gus Put saat berbincang, Kamis (15/8/2013). Menurut Wahyudi, tiap seminggu sekali, rumah Gus Put selalu ramai dihadiri ratusan jamaah yang datang dari luar kota. Para jamaah ini mengaji pada pemuka agama ini. Meski Gus Put mahir dalam agama, namun warga kampung ini kurang berminat untuk berguru.

“Seminggu sekali banyak yang ngaji di rumahnya, kebanyakan dari luar Nganjuk. Namun warga sini kurang berminat untuk berguru padanya, meskipun dia orang pandai mengaji,” ujar Wahyudi. Sementara itu Kepala Desa Kelutan Ali Shodiq tak menampik jika warganya ini memang ahli di bidang agama. Bahkan para jamaahnya sering megaji dan meminta saran spiritual terhadap Gus Put. “Beliau ini juga ahli spiritual. Banyak jamaahnya,” ungkap Ali. Sebelumnya, Gus Put tengah diburu polisi. Anak gadisnya yang masih duduk di SMA melaporkan ke polisi. Sang anak tak tahan selalu disetubuhi ayahnya. AK diketahui sudah mempunyai 3 istri.

AK (50) memang sudah bertindak di luar norma agama. Seharusnya selaku pemuka agama di Nganjuk, dia memberikan contoh dan perilaku yang baik. Tapi yang dilakukannya, dia malah menyetubuhi putri kandungnya.

Sang putri, malah sempat dikurung di rumah. Bahkan warga menyebut, anak AK menjadi pemuas nafsunya. Bagaimanakah cara korban berhasil kabur? Dalam laporan korban ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Nganjuk, terakhir persetubuhan yang dilakukan AK terhadap putri kandungnya pada 23 Juni 2013. Sejak saat itu, korban dikurung dalam rumah.

Bahkan dalam laporannya itu, korban dilarang keluar rumah selain bersekolah. Namun pada 27 Juni, korban meminta izin kepada ayahnya untuk buang air kecil ke kamar mandi belakang. Sang ayah pun akhirnya mengizinkan. Korban yang sudah tertekan dengan perbuatan bejat ayahnya ini, memilih kabur melalui jembatan bambu di belakang rumahnya menuju pemukiman warga. Saat itu korban bercerita tentang perbuatan ayahnya.

Beberapa saat kemudian, warga melapor ke Polres Nganjuk. Dari situ kasus asusila ini terbongkar. Kanit PPA Satreskrim Polres Nganjuk Ipda Woro mengatakan, dari laporan itu polisi memintakan visum. Hasilnya, gadis ini positif menjadi korban persetubuhan. Terbukti melakukan perbuatan itu, polisi melayangkan surat pemanggilan. Karena tak segera memenuhi panggilan itu, AK dijemput paksa. Namun saat polisi hendak memanggil terlapor ke kediamannya, AK sudah menghilang.

“Saat hendak dijemput paksa, terlapor menghilang. Bahkan telepon genggamnya sudah tak aktif lagi. Dari situ dia berstatus buronan,” kata Woro saat ditemui di ruangannya, Kamis (15/8/2013).

Gadis Cantik Umur 18 Tahun Ditelanjangi dan Diperkosa Berkali Kali Selama 11 Hari

Seorang gadis berumur 18 tahun di China diculik dan disekap selama 11 hari di ruang bawah tanah. Selama disekap, gadis ini dibiarkan telanjang dan diperkosa berkali-kali oleh pelaku.

Pelaku yang berusia 36 tahun sengaja membuat ruang bawah tanah di rumahnya yang terletak di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China. Gadis ini dipaksa untuk selalu berada di dalam ruang bawah tanah yang hanya berukuran 2,7 meter x 0,9 meter tersebut.

Seperti dilansir Asia One, Senin (12/8/2013), korban hanya diperbolehkan keluar dari ruang bawah tanah sebanyak 2 kali dan itupun hanya untuk mandi. Pelaku yang bernama Chen Xialong bahkan merantai korban dan memaksanya tetap telanjang.

Korban yang dikenal sebagai Guo berhasil kabur saat pelaku tengah pergi keluar rumah. Dia keluar dari ruang bawah tanah dan berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan.

Sejumlah tetangga mendengar teriakannya dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Dengan bantuan tetangga, korban berhasil keluar dan melapor ke polisi.

Beberapa saat kemudian, polisi berhasil menangkap pelaku yang seorang pengangguran. Oleh aparat setempat, pelaku dijerat dakwaan penculikan dan sejumlah dakwaan pemerkosaan.

Dilaporkan, pelaku telah mengakui bahwa dirinya memang menyekap korban dan mengancam akan membunuhnya. Pelaku juga mengancam akan menyebarkan foto telanjang korban. Terungkap bahwa korban diculik dari sebuah karaoke bar setempat.

Wartawati Diperkosa Di Gang Kecil Samping Halte Busway Pramuka Yayasan LIA Jakarta Timur

Seorang wartawati diperkosa oleh orang tak dikenal saat melintas di di Gang samping halte Busway Pramuka tepatnya samping Yayasan LIA, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (20/6) malam. Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Timur, Kompol Didik Haryadi ketika dikonfirmasi terkait perkosaan yang menimpa salah seorang wartawan televisi nasional itu mengakuinya. Menurutnya, hingga saat ini pihaknya masih memintai keterangan beberapa orang saksi termasuk korban dan suaminya.

“Hingga saat ini kami masih mengejar pelakunya. Sedangkan ciri-cirinya lelaki itu sudah diketahui yakni umur sekitar 18 tahun ,kulit gelap, rambut lurus, tinggi 165 cm, perawakan tegap, logat halus, memakai kaos hitam ketat, celana jeans sepatu kets,”kata Didik.

Peristiwa perkosaan yang menimpa warga, Jakarta Utara itu menurut Didik berawal sekitar pukul 18.22, . Saat itu wanita berusia 31 tahun itu baru pulang dari tempat kerjanya di daerah Matraman, Jakarta Timur ke Jakarta Utara dan melintasi gang sepi tersebut. Namun, saat berjalan sendirian dia berpapasan dengan seorang pria tak dikenal. Lelaki yang hingga saat ini masih diburu Polres Jakarta Timur itu langsung memukul korban hingga terjatuh. Bukan hanya itu, pelaku juga menyeret dan mencekeknya hingga korban pisang.

Dalam keadaan pingsan, pelaku langsung menyetubuhi korban. Puas melampiaskan nafsu bejarnya, pelaku kabur meninggalkan korban tergeletak tak sadarkan diri di lokasi. “Dalam keadaan pingsan korban ditemukan warga yang kebetulan melintas di lokasi. Dengan dibantu warga, korban menghubungi suaminya dan melapor ke Polres Jakarta Timur,”kata Didik. Beberapa saat suami korban yang di hubungi itu datang ke lokasi dan melaporkan kasus yang dialami istrinya itu ke Polres Jakarta Timur.

Petugas yang mendapat laporan itu langsung ke memeriksa korban dan menyita barang bukti berupa, baju kemeja lengan pendek bergaris merah bernoda tanah milik korban, celana dalam warna putih kebiruan, kaca mata korban, jepitan rambut dan copotan kancing baju korban. Ditambahkan oleh Didik, saat ini korban belum bisa dimintai keterangan karena kondisinya masih shock. Bukan hanya itu M saat ini juga masih menjalani perawatan di RS Polri Kramatjati.

Seorang wartawati di salah satu media nasional diduga menjadi korban pemerkosaan oleh orang tidak dikenal, pada Kamis malam, 20 Juni 2013. Pemerkosaan itu terjadi di Jalan Pramuka Raya, Matraman, Jakarta Timur, atau tepatnya di gang yang terletak di samping halte bus Pramuka.

“Korban diduga diperkosa saat hendak pulang ke rumah sekitar pukul 19.00 WIB,” kata Kepala Subbagian Humas Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, Komisaris Didik Hariyadi, kepada Tempo, Jumat, 21 Juni 2013. Namun, sesampainya di halte Pramuka, pelaku menabrak korban dan melakukan tindakan bejatnya.

Menurut Didik, saat pelaku yang berjumlah satu orang ini menjalankan tindakan bejatnya, korban sempat memberontak. Namun, pelaku melawannya dan memukul muka korban hingga mengalami luka lebam. “Pelakunya belum tertangkap dan masih dalam pengejaran petugas,” ujarnya.

Saat ini, kata Didik, korban masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. “Untuk sementara rumah sakitnya kami rahasiakan. Pemeriksaan visum terhadap korban belum dilakukan karena masih menunggu kesehatannya pulih,” ujarnya.

6 Pemuda Sehabis Mabuk dan Nonton Film Porno Perkosa Anak Tetangga Umur 8 Tahun Yang Lewat Didepan Rumah Lalu Dibunuh

Gadis cilik Im ,8, yang ditemukan tewas di semak belukar ternyata diperkosa secara bergilir lalu dibunuh dengan cara perutnya ditusuk senjata tajam dan bekas luka cekikan. Ini terungkap setelah lima dari enam tersangka ditangkap . Kelima tersangka itu PI ,20, RI ,17, R,20, C ,25, dan W ,17,

Menurut Kapolres Lampung Selatan, AKBP. Tatar Nugroho, pada Senin (15/10) pembunuhan terhadap Im terbilang sangat sadis. Bocah kelas I SD ini diperkosa enam pelaku. “Pelaku juga membuang baju bocah ini jauh dari lokasi ditemukan mayatnya,” ujar Tatar.

Tersangka akan dijerat dengan pasal berlapis yakni pembunuhan, pemerkosaan dan tentang perlindungan anak. UU RI No.23/2002 tentang perlindungan anak pasal 81 dan 340 KUHP dengan ancaman minimal 10 tahun.

Pengakuan pelaku mereka sebelumnya minum-minuman keras lalu bersama-sama menonton film porno. Saat itulah bocah malang yang pulang dari sekolah melintas di tidak jauh dari depan mereka yang langsung mereka gendong ke semak-semak lalu digilir. Mereka menusuk Imel karena terus menangis lalu dicekik hingga tewas. Setelah tewas tubuh Imel yang sudah tidak pakai baju ditutupi daun-daun pisang.

Terungkapnya kasus pembunuhan ini setelah melakukan olah TKP dan keterangan beberapa orang saksi yang melihat pelaku yang masih tetangga korban dalam keadaan mabuk menceritakan aksi bejat mereka. Celoteh mabuk mereka terdengar oleh salah seorang warga yang melintas sehingga saat dipemeriksa mereka mengakui menggilir Imel dan membunuhnya untuk menghilangkan jejak perbuatan bejat mereka.

Kedua orang tua Im meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya.
Sebelumnya diberitakan, diduga diperkosa lalu dibunuh, mayat gadis cilik Im ,8, warga Kalianda, Lampung Selatan, ditemukan warga hanya mengenakan rok sekolah di semak belukar areal perbukitan, wilayah Kelurahan Kalianda, Keacamatan Kalaianda, Lampung Selatan, pada Kamis (11/10) sekitar pukul 07.30 WIB.

Diduga diperkosa lalu dibunuh, mayat Imel ,8, warga Kalianda, Lampung Selatan, ditemukan warga pada Kamis (11/10) sekitar pukul 07.30 WIB. Imel ditemukan hanya mengenakan rok sekolah warna merah dan tidak mengenakan baju dan telah membusuk di semak belukar areal perbukitan, wilayah Kelurahan Kalianda, Keacamatan Kalaianda, Lampung Selatan.

Kepanikan warga sekitar pecah setelah mendengar informasi penemuan mayat gadis cilik di areal perbukitan Kebun Way Curup pagi itu. Tanpa dikomandoi mereka berbondong-bondong melihat mayat tersebut. Saat ditemukan kondisinya sudah membusuk dengan posisi terlentang mengenakan celana pendek warna merah dan rok sekolah warna merah dan tanpa baju.
Menurut Fikri ,30, warga Kalianda, mayat itu temukan bermula saat dia mencari rumput di kebun yang jaraknya 200 meter dari pemukiman.

Bau tak sedap membuat dia berhenti mengarit rumput dan mencari sumbernya. “Sebelumnya saya mengira bau itu dari hewan yang mati . Tetapi setelah diketemukan ternyata mayat gadis cilik yang telah membusuk,” kata Fikri.
Sontak Fikri lari ke kelurahan dan melaporkan hal itu ke aparat . Pihak kelurahan bersama warga datang ke lokasi, dan melaporkannya ke polisi .

Menurut keterangan, Amel , 8, merupakan putri pasangan Rali ,45, dan Darmini ,37, warga Kalianda Bawah,yang sudah 4 hari menghilang. Diduga sebelum dibunuh korban diperkosa terlebih dahulu, karena 5 meter dari jenazah ditemukan pakaian gadis cilik itu, lanjut Fikri.

Kapolres Lampung Selatan, AKBP. Tatar Nugroho membenarkan adanya laporan penemuan mayat bocah kecil siswa SD yang sudah membusuk. “Kami langsung olah TKP dan akan melakukan penyelidikan terhadap pelaku yang tega melakukan perbuatan sadis ini,” ujarnya.

Berdasarkan hasil visum Rumah Sakit Kalianda korban diperkosa dulu lalu dibunuh karena ditemukan luka di kemaluan dan bekas jeratan tali di leher korban. Mayatnya dibuang di semak belukar oleh pelaku dan ditutupi daun-daun pisang yang ada di lokasi kejadian.

Orang tua korban yang datang ke rumah sakit terlihat shock. “Saya sudah lapor polisi sejak anak saya hilang sepulang dari sekolah. Tapi sekarang saya tidak menyangka kalau nasib anak saya bisa seperti ini,” kata orang tua korban.

Wanita Pembantu Di Pondok Gede Dibunuh Oleh Pacar Yang Baru Dikenal 3 Bulan Di Facebook

Kasus pembunuhan wanita pembantu di Pondok Gede, Bekasi terungkap sudah.Ternyata Desi Juwitasati dibunuh pacarnya yang dikenal lewat facebook. Wanita berusia 23 tahun itu dihabisi karena menolak diajak berhubungan badan. Tersangka Asep Kamaludin alias Asep alias Indra,24 dibekuk polisi di daerah Bogor, Jawa Barat.

Menurut tersangka, ia baru kenal Desi Juwitasari, 3 bulan lalu lewat jejaring sosial. Saat majikannya tidak di rumah karena pergi ke Ambon, Desi mengundang lelaki itu datang ke rumah majikannya Perumahan Kranggan Permai Jalan Cendrawasih V BP 6 No 6 RT 04/15 Kelurahan Jatisampurna, Kota Bekasi, Sabtu malam.

Ketika mereka berbincang-bicang di ruang tamu, Asep, lelaki pengangguran ini minta kepada Desi agar dilayani berhubungan badan. Namun lantaran ditolak, Asep marah lalu menganiaya korban. Wanita asal Cibungbulang Bogor ini dicekek. Bibir dan wajah korban luka akibat dipukuli. Diduga akibat cekikan tadi, Desi akhirnya tewas. Ia pun diletakkan di sofa di ruang tamu dengan ditutupi selimut.

Esoknya, korban ditemukan saudara pemilik rumah (bukan pemilik seperti diberitakan sebelumnya) sudah tidak bernyawa. Kasus ini lalu dilaporkan ke Polsek Pondok Gede yang lalu mengirim jasad korban ke RS Kramatjati. Setelah diotopsi. Setelah diotopsi, jasad Desi dikebumikan di kampung halamannya Kampung Cibereum Desa Ciaruteun Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Berdasarkan keterangan saksi tiga anak majikan, maupun tetangga dan saudara majikan korban, petugas Polsek Pondok Gede menangkap Asep Kamaludin di Kampung Pasir Benda, Desa Cibening, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, sekitar 8 jam kemudian.

Tersangka Asep mengaku melakukan perbuatan itu lantaran kesal hasrat hubungan intim layaknya suami istri ditolak Desi. Sejumlah barang bukti berupa 4 HP, sepeda motor Honda Beat Hijau F 2121 PP, jam tangan, kasur dan selimut ada sperma dan bercak darah disita. Kini tersangka menjalani pemeriksaan intensif petugas Polsek Pondok Gede.

Kapolsek Pondok Gede Kompol Dermawan Karosekali didampingi Kanitserse Iptu Agus Adiwijaya, Senin(3/9) siang, mengungkapkan, pembunuhan yang dilakukan tersangka Asep, berawal sejoli ini berkenalan melalui jejaring sosial facebook.

Dari perkenalan itu, Asep sempat sekali datang ke rumah majikan menemui Desi. Pada Sabtu(2/9) malam, Asep datang lagi menemui Desi, dimana saat itu yang ada di rumah tiga anak majikan Rina,11, Amelia,7, dan Regina,4, terlelap di kamarnya. Sedangkan Ny Risma Panjaitan,45,majikan perempuan menyusul suami pelaut yang kapalnya sedang sandar di daerah Ambon.

Di ruang tamu rumah majikannya di Kranggan dua sejoli ini memadu kasih, Namun Asep masih saja kurang puas meski telah diberikan kepuasan, Bujang tunakarya ini minta lebih, agar Desi mau berhubungan intim layaknya suami istri. Desi menolak, Asep marah. Asep kemudian memukuli tengkuk Desi dari belakang sebanyak 5 kali. Menerima perlakuan kasar sang pacar, membuat Desi membela diri dengan melakukan perlawanan.

Desi pun terjatuh saat didorong Asep. Lagi-lagi Asep memukul hingga bibir sang pembantu berdarah. Tak sampai disitu, Asep terus menganiaya pembantu ini lalu mencekik leher dan membekap mulut korban hingga meregang nyawa. Sebelum pergi, Asep menutupi wajah korban pakai bantal dan selimut dengan posisi telungkup.

Setela itu, Asep pamit pada Amelia, anak kedua majikan yang saat itu berada dalam kamar. “Mbaknya tidur lagi sakit,” tukas Asep, ditirukan Kapolsek. Bocah wanita usia tujuh tahun ini pun percaya saja. Setelah membukakan pintu pada tamu pembantunya itu, Amelia kembali ke kamar tidur. Esoknya, (Minggu, 3/9) sekiitar pukul 11.00, anak majikan korban menghubungi Ny Simangunsong, saudra orantunya kalau Desi, wanita pembantunya itu tak bangun-bangun di ruang tamu.
Ny Simangunsong pun datang memeriksa kondisi wanita pembantu yang dikatakan Asep sakit. Ternyata korban sudah meninggal, Ny Mangunsong pun menghubungi polisi.

Petugas yang datang ke lokasi memeriksa jasad korban. Korban masih mengenakan celana dalam, sedangkan di wajah memar.
Tersangka Asep ditangkap saat tidur di rumahnya di Bogor.”Kami jerat pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara,” papar Ka;olsek Kompol Dermawan Karosekali

Kasus Pemerkosaan Anak Mendominasi Kejahatan Tahun 2012

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Maria Ulfah Anshor mengatakan kejahatan pada anak di tahun 2012 didominasi kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual.

“Di tahun 2012 tertinggi adalah kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak dengan nilai 30 persen,” kata Maria Ulfah Anshor kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Kasus kejahatan kepada anak selanjutnya menurut dia adalah kekerasan di lembaga pendidikan. Dia mengatakan dari hasil pemantauan KPAI sebanyak 87 persen anak sekolah mengaku telah mendapatkan kekerasan di sekolah.

“Kekerasan di sekolah angkanya cukup tinggi yaitu 87 persen anak mengaku mendapatkan kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh guru, wali kelas, petugas administrasi, dan satuan pengaman (satpam) sekolah,” ujarnya.

Dari hasil temuan di tahun 2012 itu menurut dia KPAI memiliki beberapa rekomendasi di 2013, yaitu untuk menghindari kekerasan di sekolah maka perlu disosialisasikan konsep sekolah ramah anak. Melalui langkah itu menurut dia diupayakan semua pihak yang ada di sekolah mengetahui tentang konsep dan aplikasi perlindungan terhadap anak.

“Sehingga ketika anak mengalami dan mengetahui kekerasan bahwa ada temannya dianiaya bisa diadukan dan pihak sekolah harus terbuka yaitu dengan menyediakan layanan aduan dan konseling,” katanya.

Dia mengatakan untuk kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual pada anak, KPAI mewacanakan pemberian pengetahuan pada anak mengenai berbagai indikasi yang mengarah pada kedua kasus tersebut. Hal ini menurut dia ketika anak akan dilecehkan mereka bisa melawan.

“Lingkungan juga harus peka, jika mendengar atau menyaksikan seorang anak dilecehkan harus melaporkan kepada Polisi,” katanya.

Maria mengatakan selama ini kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak masih dianggap hal yang tabu, terutama dengan pelaku dari keluarga sendiri. Mereka menurut dia, tidak mau melaporkan kepada polisi dan lebih memilih untuk diselasikan di tingkat keluarga.

“Padahal pemerkosaan dan pelecehan seksual itu masuk pidana dengan ancaman hukuman penjara minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun,” tegas Maria.

Dia menegaskan kasus kejahatan tertinggi pada anak berbeda-beda tiap tahunnya. Dia mencontohkan di tahun 2011 banyak anak berhadapan dengan hukum dan di rumah tahanan (rutan) anak sering mengalami kekerasan

Karena Kasus Pemerkosaannya Belum Ditangani Oleh Polisi Siswi SMP Malu Masuk Sekolah

Malu akibat kasus pelecehan disertai pemerkosaan oleh seorang pegawai negeri sipil (PNS), PH (15) memilih berhenti dari sekolahnya. Padahal, peristiwa yang menimpa gadis malang itu sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian sejak tiga bulan lalu.

Orang tua korban, Nurjanah (39) mengaku bingung mendengar keputusan putrinya tersebut. Terlebih, tempat PH bersekolah segera melaksanakan ujian dalam waktu dekat.

“Saya bingung membujuknya untuk kembali sekolah. Padahal sebentar siswa kelas III akan ujian,” keluhnya.

Tidak hanya Nurjanah, pihak sekolah juga mengharapkan agar PH kembali bersekolah karena namanya sudah terdaftar sebagai peserta UN 2013. Namun, keputusan untuk berhenti tetap berlanjut jika polisi belum melanjutkannya ke jalur hukum.

“Pihak sekolah sudah meminta kami untuk membujuk PH sekolah, tapi anaknya tetap tidak mau. Katanya malu. Dan memilih berhenti kalau persoalannya belum selesai di jalur hukum,” ungkap dia.

Diakui Nurjanah, hingga saat ini kasus pemerkosaan yang dialami oleh anaknya belum juga selesai ditangan kepolisian. Bahkan, dia juga tidak mendapat Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Jambi.

“Padahal saya sudah datangi polresta. Tapi kata polisi dua saksi bernama Firman dan Dara tidak datang ketika dipanggil untuk dimintai keterangan, jadi SP2HP-nya belum ada,” jelas Nurjanah.

Nurjanah mengaku bingung, pasalnya sudah lebih dari tiga bulan kasus ini ditangani oleh pihak yang berwajib, namun sampai kini belum juga ada kejelasan dari yang berwajib.

“Bahkan pengacara yang mendampingi anak saya dari LSM perlindungan anak memilih mengundurkan diri dari urusan ini. Dia mengaku tidak tahan ditekan dan diancam oleh banyak pihak. Jadi saya haru mengadu kemana lagi?” lanjut Nurnajah memelas.

Kanit PPA Polsresta Jambi, Iptu Sri Kurniati yang dikonfirmasi wartawan terkait masalah ini tidak mengangkat panggilan. Pesan pendek yang dikirim tidak dibalas.

Nurjanah melaporkan PNS Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jambi berinisial U (46) ke polisi dengan tuduhan telah mencabuli PH (15) siswa kelas IX salah satu SMP di Kota Jambi pada 25 Oktober 2012 lalu.

Pada saat melapor, kata Nurjanah, pelaku sempat berunding dan meminta perdamaian dan ditandatangani di atas materai.

“Isi surat perjanjian itu menyatakan bahwa pelaku mengaku telah menyetubuhi anak di bawah umur, namun dia berjanji menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan,” katanya.

Selain itu, pelaku berjanji akan akan menanggung biaya sekolah PH sampai dia kuliah. Dan pihak keluarga korban akan mencabut laporan dan tuntutan di kepolisian, kejaksaan serta Pengadilan Negeri Jambi.

Karena tidak merealisasikan isi perjanjian perdamaian, keluarga PH kemudian mencabut perjanjian tersebut dan melaporkan kembali U ke Unit PPA Polresta Jambi pada Sabtu 15 Desember 2012.

“Tapi telah lebih tiga bulan sejak kejadian itu, sampai kini pelaku tidak juga bertanggung-jawab atas apa yang menimpa anak saya, sehingga dia merasa malu ke sekolah dan bermain,” pungkas Nurjanah.

Mahasiswi Asal Jerman Diperkosa di Karo Sumatera Utara Oleh Tukang Becak

Wanita Warga Negara Jerman diperkosa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.Sarah Walter,22, mahasiswi yang saat ini tugas belajar di ITB Bandung, diperkosa dan dirampok pengemudi becak Jamirto Tambunan, 29, penduduk Desa Situnggaling, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

Pengakuan Sarah kepada wartawan, Kamis (22/11), ia tinggal di Jalan Tubagus Ismail, Bandung. Sementara keluarganya tinggal Germani C 2 V RPTJV 8.0A.90 dan Home Adres Imbaoh Garten 9 5676.Brachten Dorf Germani.

Kejadiannya kemarin petang, saat ia bermaksud mengunjungi tempat wisata Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. “Saya seorang diri dengan berjalan kaki mengunjungi lokasi wisata itu,”katanya. Di perjalanan, lanjut Sarah, tiba-tiba hujan turun, dan ia berteduh sejenak. Usai hujan reda, Sarah melanjutkan perjalanannya ke Desa Tongging. Dalam perjalanannya itu Sarah sempat nyasar ke arah Sipiso-piso. Merasa jalan yang dilaluinya tersesat dan tidak sesuai dengan peta yang dibawanya, ia pun balik menelusuri jalan tersebut.

Saat berjalan, tiba-tiba datang dari arah belakang becak yang di kemudikan Jamirto. Dan Sarahpun menumpang becak menuju Desa Tongging. Setengah jam setelah sampai di Tongging, korban pulang kembali dengan menumpangi becak tersebut.
Di perjalanan tersangka tiba-tiba menghentikan becaknya dan menarik korban ke tengah semak belukar. Karena merasa heran tak ada kata-kata yang dimengerti, Sarahpun melawan dan berteriak minta tolong.

Mendengar teriakan Sarah, membuat tersangka semakin berutal. Karena meronta korban dipukuli oleh tersangka. Melihat kebringasan tersangka dan merasa dirinya tak berdaya lagi untuk melawan, akhirnya korbanpun pasrah menerima perlakuan tersangka.

Korban masih sempat menyarankan supaya tersangka mengambil kondom di dalam tasnya untuk dipakaikan tersangka. Saran wanita bule itupun dituruti tersangka. Tidak puas hanya memperkosa, selanjutnya dengan paksa mengambil uang milik korban Rp. 1.300.000,- dari dalam tasnya. Usai melakukan aksinya itu, si pelakupun kabur bersama becanya.
Aparat Polres Karo yang menerima laporan korban langsung melakukan penyelidikan dan meringkus tersangka Jamirto di kediamannya Desa Situnggaling, Kamis dinihari.

Kapolres Karo AKBP Marcelino Sampouw, melalui Kasat Reskrim AKP Hary Azhar SH SIK, membenarkan kejadian itu dan pelakunya berhasil diringkus.

Sumber berita:

http://www.poskotanews.com/2012/11/22/mahasiswi-asal-jerman-diperkosa-di-karo-sumut/

http://www.harianterbit.com/2012/11/23/mahasiswi-asal-jerman-dirampok-diperkosa/

http://harianandalas.com/Hukum-Kriminal/Mahasiswi-Asal-Jerman-Diperkosa-di-Tongging

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=268954:cewek-jerman-dirampok-dan-diperkosa&catid=15:sumut&Itemid=28

Oknum Polisi Bantul Diduga Memperkosa Dua Gadis Bergantian Di Pos Polisi Karena Tidak Memiliki SIM

Seorang oknum Polantas Polres Bantul diduga memerkosa dua gadis secara bergantian. Lebih bejat lagi, perbuatan tersebut dilakukan di pos penjagaan di bawah ancaman pistol.

Oknum anggota polisi lalu lintas (polantas) berisial Briptu SLS ini dilaporkan dua korbannya, yaitu Ew,25, warga Gunungkidul dan Len,16, warga Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Keduanya kos di Panggungharjo, Kecamatan Sewon. Pelaku bertugas di Pos Penjagaan Perempatan Druwo,Jalan Parangtritis,Bantul. Kapolres Bantul AKBP Dewi Hartati menegaskan bila anggotanya nanti terbukti melakukan tindak pemerkosaan tersebut, maka akan dikenakan sanksi tegas berupa pemecatan.

“Kalau terbukti bersalah, kepolisian tidak segan melakukan pemecatan kepada yang bersangkutan,” ungkap Kapolres kemarin. Setelah para korban melapor ke Polda DIY, lanjut dia, Briptu SLSlangsungditahandiMapolda guna pemeriksaan lebih lanjut. Kasus pemerkosaan sendiri pada Selasa (11/9) pukul 00.30 WIB. Sedangkan korban melaporkannya pada Kamis (13/9) lalu. Kejadian tersebut berawal sekitar satu bulan lalu saat keduanya yang berboncengan terjaring razia operasi lalu lintas.

Seperti para pengendara lainnya, korban dimintai surat-surat kelengkapansepedamotoroleh Briptu SLS.Namun, korban tidak bisa menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Kemudian, kedua korban disuruh masuk ke dalam pos polisi dulu. Di dalam pos korban bukannya diberikan surat tilang, malah dimintai nomor telepon seluler (ponsel) dan langsung disuruh pergi.

Beberapa waktu kemudian, setiap kali kedua korban melintas di jalan itu Briptu SLS memintai uang kepada keduanya. Perbuatan ini dilakukan karena mengetahui mereka tidak memiliki SIM. Pada malam laknat itu, Selasa (11/9), Ew dan Len yang melintas di jalan tersebut dengan berboncengan langsung dihentikan oleh Briptu SLS.Pelaku mencabut kunci kontak motor. Terpaksa mereka mengikuti Briptu SLS masuk ke dalam pos penjagaan.

Saat itulah korban dipaksa untuk melayani nafsu bejat Briptu SLS di bawah ancaman pistol. Dikonfirmasi,kemarin pagi, Ew tidak mau mengatakan hal yang dialaminya secara detail. Hanya dia mengaku memang menjadi korban pemerkosaan. “Iya, saya (memang) menjadi korban pemerkosaan,”ucapnya. Sementara itu, kriminolog dari Universitas Janabadra, Hartanti menilai sejauh ini pembinaan di lingkup kepolisian sudah baik.

Namun, kejadian tersebut kembali menyebabkan nama baik kepolisian kembali disorot. Lebih lanjut dikatakan, latar belakang oknum tersebut juga berpengaruh terhadap aksi bejat yang diduga dilakukannya. Tindak pemerkosaan tersebut, kata dia,memang sudah sering dilakukan dan baru ketahuan sekarang,atau memang baru sekali dilakukan.

Namun Hartanti menambahkan, dalam kasus ini korban sendiri kurang berhati-hati.Yang perlu dipertanyakan adalah korban melintas di jalan tersebut pada malam hari.“Kadang (apa yang dilakukan korban) juga berpengaruh menimbul niat jahat (seseorang),”tambahnya. Terpisah, psikolog dari Universitas Sanata Dharma,Paulus Eddy mengungkapkan, kedua korban pasti akan merasakan trauma karena perilaku kekerasan seksual tersebut.

Untuk mengatasi trauma, saran dia, para korban membutuhkan peran pendamping agar bisa lebih cepat menerima kejadian itu. “Bebannya berat kalau sesuatu yang berharga seperti itu diambil secara paksa oleh orang lain.Korban akan merasakan stres, malu, mengasingkan diri,”pungkasnya.

Sungguh kelewat batas kelakukan Briptu Sl, anggota polisi Polres Bantul. Polisi yang seharusnya mengayomi masyarakat malah dilaporkan melakukan tindakan asusila memperkosa dua gadis. Parahnya lagi, Sl dilaporkan memperkosa di dalam pos lalu lintas.

Pada laporan dua korban ke Mapolda DIY, kelakukan bejat oknum polisi itu dilakukan di dalam pos lalu lintas, Druwo, Jalan Parangtritis, Bantul, Selasa (11/9) sekitar pukul 03.00 dini hari.

Namun kedua korban Ew (25) dan (16) Yogya, baru melaporkan kejadian itu pada Jumat (14/9). Keduanya mengaku telah dipaksa melayani nafsu Sl sembari diancaman menggunakan pistol. Laporan itu masih diproses di kepolisian.

Belum selesai kasus itu, nasib apes menimpa Ew, Minggu (16/9) siang, EW mengaku sedang berada di Mapolda DIY guna melaporkan kendaraannya yang hilang. “Saya di Polda, Motor saya hilang,”ujarnya singkat kemudian menutup pembicaraan.

Perlu diketahui, laporan kasus perkosaan oleh Briptu Sl itu bermula ketika sekitar satu bulan yang lalu saat keduanya berboncengan sepeda motor, terjaring operasi lalu lintas.

Kedua korban kemudian diminta menunjukkan surat-surat oleh Briptu Sl namun hanya bisa menunjukkan STNK karena korban Ew tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Baik Ew maupun Len kemudian digiring ke Poslantas Druwo. Namun anehnya, oknum polisi itu hanya meminta nomor telepon seluler (ponsel) Ew dan kemudian mengembalikan STNK korban. Keduanya pun juga disuruh pulang oleh pelaku.

Beberapa waktu kemudian, pelaku selalu memeras korban saat melewati perempatan Druwo saat hendak pulang di tempat kosnya yang terletak di daerah Panggungharjo, Sewon Bantul.

Perbuatan ini dilakukan pelaku karena mengetahui jika korban tidak memiliki SIM. Pelaku selalu meminta uang dengan paksa kepada korban dengan cara menghentikan kendaraan korban dan langsung membuka jok dan isi dompet setiap korban melewati Poslantas itu. Kejadian pemerasan ini telah berlangsung berulang kali.

Namun pada 11 September 2012, saat korban Ew berboncengan sepeda motor dengan Len, Briptu Sl langsung menghentikan kedua korban dan mencabut kunci kontak motor saat keduanya melewati Tempat Kejadian Perkara (TKP) atau tepat di depan traffic light perempatan Druwo.

Karena kunci kontak dicabut, kedua korban yang saat itu lewat sekitar pukul 00.30 WIB dini hari, terpaksa mengikuti pelaku yang saat itu memasuki Poslantas Druwo lewat pintu belakang.

Sesudah keduanya memasuki ruangan Poslantas, Briptu Sl kemudian mencabut pistol miliknya sembari mengancam kedua korban. Korban lalu ditelanjangi satu persatu dan dipaksa untuk melayani pelaku secara bergiliran.

Selain itu, pelaku juga melempar kursi kepada korban Len yang sempat menolak melayani dirinya. Setelah puas melampiaskan nafsunya, pelaku kemudian membentak-bentak kedua korban dan menyuruh dengan kata-kata kasar agar keduanya pulang sembari melontarkan ancaman agar korban tidak membuka mulut.

“Kejadian itu benar, dia Dia mengancam akan menembak jika kami berteriak,”kata Ew saat melapor.

Menanggapi kasus tersebut, Kapolres Bantul AKBP Dewi Hartati, berjanji akan memberikan sanksi tegas berupa pemecatan bagi kedua anggotanya bila nanti terbukti melakukan tindak pidana.

“Saya tak tebang pilih, sesuai aturanlah, bila memang terbukti faktanya ada anggota terlibat tindak pidanan maka akan saya pecat,” ujarnya ketika dikonfirmasi Tribun via telepon selulernya, Minggu (16/9/2012).