Category Archives: pemerkosaan

Mahasiswi Asal Jerman Diperkosa di Karo Sumatera Utara Oleh Tukang Becak

Wanita Warga Negara Jerman diperkosa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.Sarah Walter,22, mahasiswi yang saat ini tugas belajar di ITB Bandung, diperkosa dan dirampok pengemudi becak Jamirto Tambunan, 29, penduduk Desa Situnggaling, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

Pengakuan Sarah kepada wartawan, Kamis (22/11), ia tinggal di Jalan Tubagus Ismail, Bandung. Sementara keluarganya tinggal Germani C 2 V RPTJV 8.0A.90 dan Home Adres Imbaoh Garten 9 5676.Brachten Dorf Germani.

Kejadiannya kemarin petang, saat ia bermaksud mengunjungi tempat wisata Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. “Saya seorang diri dengan berjalan kaki mengunjungi lokasi wisata itu,”katanya. Di perjalanan, lanjut Sarah, tiba-tiba hujan turun, dan ia berteduh sejenak. Usai hujan reda, Sarah melanjutkan perjalanannya ke Desa Tongging. Dalam perjalanannya itu Sarah sempat nyasar ke arah Sipiso-piso. Merasa jalan yang dilaluinya tersesat dan tidak sesuai dengan peta yang dibawanya, ia pun balik menelusuri jalan tersebut.

Saat berjalan, tiba-tiba datang dari arah belakang becak yang di kemudikan Jamirto. Dan Sarahpun menumpang becak menuju Desa Tongging. Setengah jam setelah sampai di Tongging, korban pulang kembali dengan menumpangi becak tersebut.
Di perjalanan tersangka tiba-tiba menghentikan becaknya dan menarik korban ke tengah semak belukar. Karena merasa heran tak ada kata-kata yang dimengerti, Sarahpun melawan dan berteriak minta tolong.

Mendengar teriakan Sarah, membuat tersangka semakin berutal. Karena meronta korban dipukuli oleh tersangka. Melihat kebringasan tersangka dan merasa dirinya tak berdaya lagi untuk melawan, akhirnya korbanpun pasrah menerima perlakuan tersangka.

Korban masih sempat menyarankan supaya tersangka mengambil kondom di dalam tasnya untuk dipakaikan tersangka. Saran wanita bule itupun dituruti tersangka. Tidak puas hanya memperkosa, selanjutnya dengan paksa mengambil uang milik korban Rp. 1.300.000,- dari dalam tasnya. Usai melakukan aksinya itu, si pelakupun kabur bersama becanya.
Aparat Polres Karo yang menerima laporan korban langsung melakukan penyelidikan dan meringkus tersangka Jamirto di kediamannya Desa Situnggaling, Kamis dinihari.

Kapolres Karo AKBP Marcelino Sampouw, melalui Kasat Reskrim AKP Hary Azhar SH SIK, membenarkan kejadian itu dan pelakunya berhasil diringkus.

Sumber berita:

http://www.poskotanews.com/2012/11/22/mahasiswi-asal-jerman-diperkosa-di-karo-sumut/

http://www.harianterbit.com/2012/11/23/mahasiswi-asal-jerman-dirampok-diperkosa/

http://harianandalas.com/Hukum-Kriminal/Mahasiswi-Asal-Jerman-Diperkosa-di-Tongging

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=268954:cewek-jerman-dirampok-dan-diperkosa&catid=15:sumut&Itemid=28

Oknum Polisi Bantul Diduga Memperkosa Dua Gadis Bergantian Di Pos Polisi Karena Tidak Memiliki SIM

Seorang oknum Polantas Polres Bantul diduga memerkosa dua gadis secara bergantian. Lebih bejat lagi, perbuatan tersebut dilakukan di pos penjagaan di bawah ancaman pistol.

Oknum anggota polisi lalu lintas (polantas) berisial Briptu SLS ini dilaporkan dua korbannya, yaitu Ew,25, warga Gunungkidul dan Len,16, warga Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Keduanya kos di Panggungharjo, Kecamatan Sewon. Pelaku bertugas di Pos Penjagaan Perempatan Druwo,Jalan Parangtritis,Bantul. Kapolres Bantul AKBP Dewi Hartati menegaskan bila anggotanya nanti terbukti melakukan tindak pemerkosaan tersebut, maka akan dikenakan sanksi tegas berupa pemecatan.

“Kalau terbukti bersalah, kepolisian tidak segan melakukan pemecatan kepada yang bersangkutan,” ungkap Kapolres kemarin. Setelah para korban melapor ke Polda DIY, lanjut dia, Briptu SLSlangsungditahandiMapolda guna pemeriksaan lebih lanjut. Kasus pemerkosaan sendiri pada Selasa (11/9) pukul 00.30 WIB. Sedangkan korban melaporkannya pada Kamis (13/9) lalu. Kejadian tersebut berawal sekitar satu bulan lalu saat keduanya yang berboncengan terjaring razia operasi lalu lintas.

Seperti para pengendara lainnya, korban dimintai surat-surat kelengkapansepedamotoroleh Briptu SLS.Namun, korban tidak bisa menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Kemudian, kedua korban disuruh masuk ke dalam pos polisi dulu. Di dalam pos korban bukannya diberikan surat tilang, malah dimintai nomor telepon seluler (ponsel) dan langsung disuruh pergi.

Beberapa waktu kemudian, setiap kali kedua korban melintas di jalan itu Briptu SLS memintai uang kepada keduanya. Perbuatan ini dilakukan karena mengetahui mereka tidak memiliki SIM. Pada malam laknat itu, Selasa (11/9), Ew dan Len yang melintas di jalan tersebut dengan berboncengan langsung dihentikan oleh Briptu SLS.Pelaku mencabut kunci kontak motor. Terpaksa mereka mengikuti Briptu SLS masuk ke dalam pos penjagaan.

Saat itulah korban dipaksa untuk melayani nafsu bejat Briptu SLS di bawah ancaman pistol. Dikonfirmasi,kemarin pagi, Ew tidak mau mengatakan hal yang dialaminya secara detail. Hanya dia mengaku memang menjadi korban pemerkosaan. “Iya, saya (memang) menjadi korban pemerkosaan,”ucapnya. Sementara itu, kriminolog dari Universitas Janabadra, Hartanti menilai sejauh ini pembinaan di lingkup kepolisian sudah baik.

Namun, kejadian tersebut kembali menyebabkan nama baik kepolisian kembali disorot. Lebih lanjut dikatakan, latar belakang oknum tersebut juga berpengaruh terhadap aksi bejat yang diduga dilakukannya. Tindak pemerkosaan tersebut, kata dia,memang sudah sering dilakukan dan baru ketahuan sekarang,atau memang baru sekali dilakukan.

Namun Hartanti menambahkan, dalam kasus ini korban sendiri kurang berhati-hati.Yang perlu dipertanyakan adalah korban melintas di jalan tersebut pada malam hari.“Kadang (apa yang dilakukan korban) juga berpengaruh menimbul niat jahat (seseorang),”tambahnya. Terpisah, psikolog dari Universitas Sanata Dharma,Paulus Eddy mengungkapkan, kedua korban pasti akan merasakan trauma karena perilaku kekerasan seksual tersebut.

Untuk mengatasi trauma, saran dia, para korban membutuhkan peran pendamping agar bisa lebih cepat menerima kejadian itu. “Bebannya berat kalau sesuatu yang berharga seperti itu diambil secara paksa oleh orang lain.Korban akan merasakan stres, malu, mengasingkan diri,”pungkasnya.

Sungguh kelewat batas kelakukan Briptu Sl, anggota polisi Polres Bantul. Polisi yang seharusnya mengayomi masyarakat malah dilaporkan melakukan tindakan asusila memperkosa dua gadis. Parahnya lagi, Sl dilaporkan memperkosa di dalam pos lalu lintas.

Pada laporan dua korban ke Mapolda DIY, kelakukan bejat oknum polisi itu dilakukan di dalam pos lalu lintas, Druwo, Jalan Parangtritis, Bantul, Selasa (11/9) sekitar pukul 03.00 dini hari.

Namun kedua korban Ew (25) dan (16) Yogya, baru melaporkan kejadian itu pada Jumat (14/9). Keduanya mengaku telah dipaksa melayani nafsu Sl sembari diancaman menggunakan pistol. Laporan itu masih diproses di kepolisian.

Belum selesai kasus itu, nasib apes menimpa Ew, Minggu (16/9) siang, EW mengaku sedang berada di Mapolda DIY guna melaporkan kendaraannya yang hilang. “Saya di Polda, Motor saya hilang,”ujarnya singkat kemudian menutup pembicaraan.

Perlu diketahui, laporan kasus perkosaan oleh Briptu Sl itu bermula ketika sekitar satu bulan yang lalu saat keduanya berboncengan sepeda motor, terjaring operasi lalu lintas.

Kedua korban kemudian diminta menunjukkan surat-surat oleh Briptu Sl namun hanya bisa menunjukkan STNK karena korban Ew tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Baik Ew maupun Len kemudian digiring ke Poslantas Druwo. Namun anehnya, oknum polisi itu hanya meminta nomor telepon seluler (ponsel) Ew dan kemudian mengembalikan STNK korban. Keduanya pun juga disuruh pulang oleh pelaku.

Beberapa waktu kemudian, pelaku selalu memeras korban saat melewati perempatan Druwo saat hendak pulang di tempat kosnya yang terletak di daerah Panggungharjo, Sewon Bantul.

Perbuatan ini dilakukan pelaku karena mengetahui jika korban tidak memiliki SIM. Pelaku selalu meminta uang dengan paksa kepada korban dengan cara menghentikan kendaraan korban dan langsung membuka jok dan isi dompet setiap korban melewati Poslantas itu. Kejadian pemerasan ini telah berlangsung berulang kali.

Namun pada 11 September 2012, saat korban Ew berboncengan sepeda motor dengan Len, Briptu Sl langsung menghentikan kedua korban dan mencabut kunci kontak motor saat keduanya melewati Tempat Kejadian Perkara (TKP) atau tepat di depan traffic light perempatan Druwo.

Karena kunci kontak dicabut, kedua korban yang saat itu lewat sekitar pukul 00.30 WIB dini hari, terpaksa mengikuti pelaku yang saat itu memasuki Poslantas Druwo lewat pintu belakang.

Sesudah keduanya memasuki ruangan Poslantas, Briptu Sl kemudian mencabut pistol miliknya sembari mengancam kedua korban. Korban lalu ditelanjangi satu persatu dan dipaksa untuk melayani pelaku secara bergiliran.

Selain itu, pelaku juga melempar kursi kepada korban Len yang sempat menolak melayani dirinya. Setelah puas melampiaskan nafsunya, pelaku kemudian membentak-bentak kedua korban dan menyuruh dengan kata-kata kasar agar keduanya pulang sembari melontarkan ancaman agar korban tidak membuka mulut.

“Kejadian itu benar, dia Dia mengancam akan menembak jika kami berteriak,”kata Ew saat melapor.

Menanggapi kasus tersebut, Kapolres Bantul AKBP Dewi Hartati, berjanji akan memberikan sanksi tegas berupa pemecatan bagi kedua anggotanya bila nanti terbukti melakukan tindak pidana.

“Saya tak tebang pilih, sesuai aturanlah, bila memang terbukti faktanya ada anggota terlibat tindak pidanan maka akan saya pecat,” ujarnya ketika dikonfirmasi Tribun via telepon selulernya, Minggu (16/9/2012).

Santri Pondok Pesantren Bondowoso Diperkosa Tiga Kali Oleh Duda Kesepian

Nekat memerkosa seorang santri sebuah pondok pesantren di Kabupaten Bondowoso, Suryadi (27), warga Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (9/9/2012) dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Situbondo oleh Sadin (50), tetangga sekaligus bekas mertuanya.

Suryadi yang menduda setahun lalu diduga memaksa Bunga (13 tahun), santri yang juga mantan adik iparnya, untuk melayani nafsu bejatnya. Bahkan, pelaku melakukan hubungan layaknya suami istri sebanyak tiga kali. Perbuatan itu dilakukan pada Kamis (6/9/2012) lalu, di rumah nenek pelaku di Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan, Situbondo.

Terungkapnya kasus perkosaan ini bermula dari pengakuan Bunga kepada orang tuanya, karena setiap akan membuang air kecil korban diketahui selalu merengek kesakitan.

“Awalnya anak saya tidak mengaku telah diperkosa oleh pelaku, namun setelah didesak anak saya akhirnya mengaku dipaksa untuk melayani nafsu bejat mantan suami kakaknya,” ujar Sa (50), orang tua korban, saat melaporkan ke SPK Polres Situbondo.

Karena mantan menantunya itu terbukti melakukan perbuatan bejat terhadap Bunga, pihaknya berharap Suryadi diberi hukuman setimpal.

Kasubag Humas Polres Situbondo AKP Wahyudi membenarkan adanya laporan dugaan perkosaan dengan korban anak di bawah umur tersebut. Menurutnya, berdasarkan keterangan orang tua korban, sebelum diperkosa korban dijemput di pondoknya di Bondowoso, serta dibujuk untuk diajak jalan-jalan, hingga akhirnya pelaku melakukan perbuatan bejatnya.

“Tersangka dapat dijerat Pasal 81 dan 82 No 23 Tahun 2002 tentang Pencabulan Anak di Bawah Umur, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” katanya.

Istri Di Gerayangi Oleh Calon Pegawai Ketika Suami Tidur Pulas

Lis (16) mengaku masih beruntung karena Ded gagal memerkosanya.

Ketika ditemui di Mapolsek Belinyu, Kamis (30/8/2012) siang, Lis memastikan Ded hanya meraba-raba beberapa bagian tubuhnya.
“Dia hanya meraba-raba saya, tapi saya terbangun dari tidur. Saya tepis tangannya, saya berusaha melawan,” kata Lis yang mengaku sedang hamil lima bulan.

Sedangkan sang suami, Sut alias Ar, mengaku sama sekali tak mengetahui istrinya dicabuli.
“Entah mengapa, saya seolah tertidur pulas, seperti sedang mabuk kapal. Saya sama sekali tak tahu, tak terbangun walaupun tidur bersebelahan dengan istri saya,” ujarnya.

Kejadian ini diakui Sut membawa hikmah. Di kemudian hari, ia harus lebih berhati-hati pada pria yang baru dikenalnya.
“Saya tidak kenal dengan dia (Ded). Kami ketemu dia karena dia diajak oleh kakak saya, dengan maksud akan dipekerjakan di TI (tambang inkonvensional) apung di Batuatap. Karena TI masih ada masalah, maka sementara waktu disuruh menginap di kontrakan,” tutur Sut.

Guru Mengaji Di Bogor Cabuli 13 Anak Gadis Muridnya Dari Usia 8 Hingga SMA

Seorang guru mengaji di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Nana Suryana, 44 tahun, diringkus Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Gunung Putri. Pria paruh baya ini harus mendekam di penjara karena diduga telah mencabuli 13 anak gadis dibawah umur, yang menjadi muridnya.

Menurut Kepala Satuan Resese Kriminal Kepolisian Resor Bogor, Ajun Komisaris Imron Ermawan, pelaku melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut di kamar anaknya di Kampung Wanaherang Pasar, Desa Wana Herang, Kecamatan Gunung Putri.

Saat diciduk dari rumahnya, Nana yang juga karyawan perusahaan swasta tak bisa berkutik. Pelaku pasrah dan mengakui semua perbuatan bejatnya. Bahkan, seorang korban yang kini duduk di kelas 3 sekolah menengah atas masih dipaksa melayani nafsu binatangnya. Padahal, korban sudah dicabulinya sejak berusia 8 tahun.

Semua korban yang berjumlah 13 orang, Imron menjelaskan, rata-rata berusia antara 7-9 tahun. Usai mengaji anak yang mau dicabuli selalu diajak pulang terakhir. Korban ditarik kedalam kamar anaknya. “Setelah dicabuli, pelaku memberi korban uang sebesar Rp 2.000,” kata Imron di kantornya, Sabtu, 25 Agustus 2012.

Terungkapnya perbuatan cabul guru mengaji bejat ini bermula dari laporan salah seorang keluarga korban, sebut saja namanya Bunga,9 tahun. Ibu korban, Ir, 39 tahun, tanpa sengaja mendengar ungkapan anak bungsunya yang sedang bertengkar dengan kakaknya, Bunga.

Ir berusaha melerai pertikaian antara kakak dan adik itu. Rupanya, tindakan ibu kedua anak gadis tersebut dinilai tidak adil. Sang adik jengkel karena ibunya dinilai selalu membela Bunga. “Nah adiknya ini lalu mengatakan ”kenapa kemarin kakak ditiduri guru ngaji ibu diam.” Dari sini ibu Bunga lalu lapor dan pelaku kami tangkap,” kata Imron.

Keluarga korban membuat laporan polisi pada tanggal 22 Agustus 2012 lalu. Polisi langsung bergerak dan meringkus pelaku di rumahnya. Sementara korban melakukan visum karena mengaku telah digagahi guru mengajinya. “Alat vital pelaku masuk kedalam alat vital korban,” ujar Imron.

Kepada petugas, pelaku yang sudah beristri dan punya tiga anak itu mengaku puas jika berhasil mencabuli anak didiknya. Perbuatan terkutuk yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu dilakukan Nana ketika anak dan istrinya tak ada di rumah. Korbannya digagahi secara bergiliran. Para anak gadis ini tak berani melapor karena takut dengan ancaman sang guru.

“Saya merasa kenikmatan lain usai berhubungan dengan anak-anak. Ada satu anak yang sekarang sudah kelas 3 SMA, masih suka saya setubuhi,” kata pelaku kepada penyidik.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 81 dan 82 UU-RI nomor 15 pidana penjara 15 tahun.

3 Anak Jalanan Diperkosa dan Ditinggal Dalam Keadaan Terikat Dipinggir Jalan

Tindakan yang dilakukan TA (42) sungguh bejat. Selain memperkosa anak jalanan, ia juga tega menganiaya dan mengikat korbannya. Setelah melampiaskan hawa nafsunya, para korban diikat dan ditinggal di pinggir jalan.

“Korban yang pertama dan kedua ditemukan terikat. Yang ketiga (korbannya) dibekap,” kata Kasubag Humas Polres Jakarta Timur Kompol Didik Haryadi saat ditemui detikcom di Polres Jakarta Timur, Kamis (26/7/2012).

Didik menceritakan korban pertama dan kedua adalah dua orang kakak beradik. Kedua korban masih ada ikatan saudara dengan pelaku. Kedua korban diajak pelaku bertemu di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur, 23 Maret lalu. Dari sini, pelaku mengiming-imingi korban dengan membelikan es krim dan uang Rp 100 ribu.

“Sebelumnya dikasih makan, diajak ke kebun dekat Gedung BKN, Cililitan. Korban lalu diikat di pohon,” ujarnya.

Setelah mengikat korban, pelaku dengan bengisnya melakukan aksi pemerkosaan terhadap bocah perempuan tersebut. Korban lalu diajak ke Bekasi. Ketiga sempat bermalam di depan sebuah ruko di Bulak Kapal, Bekasi Timur.

“Paginya diajak ke Jakarta lagi dengan bis yang sama,” jelasnya.

Keesokan harinya, 24 Maret, kedua korban diajak kembali ke tempat yang sama. Kedua korban lalu ditinggalkan dan tidak dikasih makan. Keduanya ditemukan warga dalam keadaan terikat.

“Ditemukan warga siang itu karena korban yang menangis keras,” imbuhnya.

TA tak berhenti beraksi sampai di situ. Setelah meninggalkan kedua korban, ia mencari mangsa lainnya. Pada 12 April, pengamen cilik sekitar berusia 11 tahun jadi targetnya. Ia bertemu korban di daerah Bekasi.

“Awalnya korban bertemu di Bekasi. Dek ke daerah Cililitan ke mana ya? tanya pelaku. Dijawab korban, naik 9B Mayasari,” ujar Didik.

Pelaku lalu mengiming-imingi korban akan membelikan baju dan celana. Korban lalu ikut dengan pelaku. Sampai di pintu keluar Tol Kodam Jaya, pelaku melihat kondisi cukup sepi.

“Korban diajak ke situ dan dikerjain. Kali ini korban diancam karena korban sempat menolak, dia ditonjok. Kalau nggak mau akan diikat di atas pohon,” jelasnya.

Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku mengajak korban jalan dan duduk ke sebuah pos ojek. Korban lalu ditinggalkan begitu saja.

Gadis ABG Umur 14 Tahun .. Malam Diperkosa Ayah dan Siang Diperkosa Teman Ayah Setelah Adegannya Direkam Dalam HP

Tragis benar hidup An. Sudah bolak-balik diperkosa ayah kandungnya, gadis berusia 14 tahun ini juga berulang kali dipaksa melayani teman ayahnya. Malam dinodai ayahnya, siang hari digagahi teman ayahnya. Akibat perbuatan bejatnya kedua pemulung, AD, 39, ayah korban, dan Sud, 26, teman ayah korban, dicomot anggota Satreskrim Polres Jakarta Barat, saat tidur di lapak bosnya di Bambu Larangan, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (22/7) dinihari.

Setelah diperiksa di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Barat, dua lelaki bejat itu langsung dijebloksan ke sel. Hilangnya mahkota An itu, berawal dari perbuatan bejat ayah kandungnya pada pertengahan Januari 2012. Saat itu Agus yang sudah duda melihat putri kandungnya sedang tidur pulas di mes lapak pemulung dipaksa melayani layaknya suami istri.

Awalnya An meronta dan menolak kemauan ayahnya yang sudah dikendalikan nafsu setan, tetapi gadis yang tidak lulus SD ini kalah kuat sehingga hanya bisa pasrah. “Saya memang tidur satu kamar bersama korban dan adiknya,” kata AD, pemulung asal Sleman, Yogyakarta, yang ditinggal mati istrinya saat bencana gempa bumi pada tahun 2005 silam.
Perbuatan bejat ADs dilakukan hingga 10 kali pada hari berikutnya. ”Anak saya tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin karena takut dimarahi. Saya memang salah,” tutur tersangka yang menyebutkan bahwa putrinya yang tidak tamat SD itu kini bekerja di pabrik sandal di Cengkareng.

DIREKAM VIDEO
Perlakuan AD terhadap anaknya, rupanya sering diintip Sud, teman AD, dari atap rumah. Dengan gambar di HP, Sud lelaki bermental bejat ini juga suatu siang saat AD tidak di rumahnya mendatangi gadis yang masih bau kencur meminta dilayani seperti ayahnya.

Sambil menunjukkan gambar yang ada di dalam HP, Sud mengancam bila An ogah meluluskan permintaannya maka adegan mesum dengan ayahnya akan disebarluaskan. Kontan saja, An kaget dan ketakutan. Meski awalnya menolak, gadis bernasib sial ini tak berdaya dan terpaksa melayani perbuatan bejat Sud.

“Gambar yang di HP, saya gunakan sebagai senjata agar korban mau melayani,” kata Sud seraya mengaku bahwa perbuatan bejatnya sudah dilakukan 11 kali.

DIANTAR PAMAN
Menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Hengky Haryadi SIK, MH, gading malang itu melaporkan perbuatan bejat ayahnya dan temannya diantar paman dari almarhun ibunya. An melapor ke Polsek Cengkareng lantaran sudah tidak kuat dan ketakutan harus bolak-balik melayani nafsu dua pemulung bejat tersebut.

“Atas petunjuk korban itulah, kedua tersangka kami tangkap. Bapaknya mengaku sudah 10 kali menodai korban, Sedangkan temannya Sudartono telah 11 kali,” jelas Hengky Haryadi didampingi AKP Kasranto selaku Kanit PPA, Senin (23/7) siang.
Tersangka Agus Darmawan di kantor polisi malah terkejut ketika mengetahui temannya Sudartono juga menodai putrinya. “Semua ini karena kesalahan saya. Hukumlah saya, karena saya memang salah,” ujar Agus