Arsip Kategori: pemerkosaan

Polisi Menduga Pembunuh Sadis Wanita Dalam Kardus di Koja dan Anak Wanita Dalam Koper Cakung Adalah Orang Yang Sama

Kepolisian menduga penemuan mayat tak beridentitas di kawasan Koja, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur, saling terkait. Keterkaitan itu dilihat dari cara pembunuhan sadis yang dilakukan pelaku. “Kami duga ada kaitannya karena polanya sama,” ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

Dia melanjutkan, kesamaan pola itu dilihat dari cara yang dilakukan pelaku dalam membuang jenazah korban. “Di Jakarta Timur dimasukkan ke dalam kopor. Di Jakarta Utara dimasukkan ke dalam kardus, ini mirip caranya,” tutur Irwan.

Jenazah juga sengaja dibalut dengan kain. Korban di Jakarta Utara dibalut dengan kain bermotif batik berwarna biru dan merah muda, sedangkan korban tewas di Jakarta Timur dibalut dengan kain kelambu berwarna abu-abu.

Irwan mengatakan, pelaku juga tampak sengaja meninggalkan petunjuk berupa kartu nama untuk mayat bocah perempuan yang dibuang di Cakung dan foto laki-laki untuk mayat perempuan dewasa yang dibuang di sebuah gang di Koja. Petunjuk itu bisa jadi untuk memburamkan identitas pelaku sebenarnya.

“Bisa jadi itu petunjuk sebenarnya untuk memburamkan fakta, kami belum tahu. Saya dapat informasi yang di timur itu setelah diperiksa sama si pemilik kartu nama, ternyata dia enggak ada kaitannya, bisa jadi foto cowok juga begitu,” kata Irwan.

Tetapi, lanjutnya, kepolisian tetap harus menelusuri petunjuk itu. “Hasilnya bagaimana, itu nantilah, kami tetap akan telusuri petunjuk-petunjuk,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan. Kali ini mayat di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Hingga kini belum diketahui identitas mayat perempuan yang dimasukkan ke dalam kardus televisi di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Namun, kuat dugaan pelaku pembunuhan wanita malang berusia sekitar 40 tahun cukup sadis.

Hal ini diakui Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan. Ia mengatakan dugaan kuat kematian wanita itu karena mati lemas setelah dibekap pelaku.

Namun, rupanya pelaku tidak berhenti usai membekap korban. Pelaku justru kembali menyakiti korban dengan menusuk memakai senjata tajam sehingga menyebabkan luka sedalam 25 mm di bagian perut. “Ada juga pendarahan dari luka tusuk itu,” ungkap Irwan.

Ia menambahkan bahwa saat pelaku membunuh, korban tengah hamil dengan usia kandungan 4-6 minggu. “Kami masih belum mengetahui motif di balik ini apa,” ungkap Irwan.

Ia menuturkan penyidik kini melihat adanya kesamaan antara korban tewas di Koja, Jakarta Utara dengan mayat bocah perempuan berusia 10 tahun di Cakung, Jakarta Timur. “Kami lakukan tes DNA keduanya untuk melihat apakah ada hubungan darah,” tandasnya.

Polisi menemukan selembar kartu nama bertuliskan Saripudin bersama dengan mayat bocah perempuan yang dimasukkan ke dalam koper di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Namun, setelah ditelusuri ternyata pemilik kartu nama itu tidak mengenal korban.

Kepala Unit Reskrim Polsek Metro Cakung Ajun Komisaris Made, Senin (17/10/2011) mengatakan, dalam kartu nama itu, tercantum alamat Saripudin di Jalan Boulevard Gading Permai, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polisi kemudian menelusuri alamat tersebut dan memeriksa pemilik kartu nama.

Saat ditunjukkan foto korban, Saripudin mengaku tidak mengenalnya. Ia juga heran mengapa kartu namanya ada di dalam koper bersama anak usia 5-9 tahun yang tewas mengenaskan dalam koper itu.

“Dia itu sales alat elektronik dulunya. Memang dia sebar banyak kartu nama. Dia bingung siapa yang punya kartu namanya dan kenapa ada sama anak itu,” kata Made.

Made mengatakan, polisi masih belum dapat menyimpulkan dugaan kematian bocah malang itu. Tes DNA untuk mencocokkan adanya hubungan darah antara korban dan mayat perempuan dewasa di Koja pun sudah dilakukan hari ini. Namun, hasilnya masih belum keluar.

Mayat bocah itu ditemukan pada Sabtu (15/10/2011) di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 5-9 tahun. Korban memiliki gigi jarang di bagian depan, tinggi badan sekitar 105 cm, memakai anting jarum pentul warna ungu, dan memiliki bekas luka parut di bagian dagu sebelah kiri.

Korban tewas yang ditemukan di dalam kardus yang tergeletak di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara pada Jumat (14/10/2011) lalu diduga tewas karena lemas. Ada dugaan korban tewas setelah sebelumnya sempat dibekap oleh pelaku. Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Dari hasil forensik menyebutkan dia mati lemas atau dibekap,” ujarnya. Irwan menuturkan kesimpulan itu didapat tim forensik setelah melihat bagian-bagian tubuh tertentu.

“Misalnya lubang tinja itu dilihat. Ada tandanya, yang tahu forensik, kalau dia mati lemas itu bagaimana,” ucap Irwan.

Tetapi, kata Irwan, hasil forensik juga menunjukkan penyebab kematian bisa saja karena tusukan benda tajam. Pasalnya, di bagian perut korban ditemukan luka tusuk akibat kemasukan senjata tajam sedalam 25 mm. “Diperkirakan korban tewas 12 jam sebelum ditemukan,” tambah Irwan.

Dari hasil visum yang diterima polisi, perempuan itu diketahui memiliki ciri-ciri berusia 40 tahun, bergolongan darah A, berkulit kuning langsat, berambut panjang berwarna hitam, dan tinggi badan mencapai 155 cm. Bagi pihak yang mengenali ciri-ciri itu, bisa menghubungi call center Polda Metro Jaya di nomor 0816782000, atau Call Center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

“Kami fokus pada pengungkapan identitas korban. Kalau sudah diketahui, akan lebih mudah proses penelusurannya,” pungkas Irwan. Identitas foto anak laki-laki berusia 15-16 tahun yang disertakan bersama mayat perempuan di dalam kardus yang ditemukan di wilayah Koja, Jakarta Utara, masih misterius. Polisi sudah berkoordinasi dengan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara dan memastikan bahwa anak laki-laki berseragam sekolah itu bukanlah pelajar di wilayah Jakarta Utara. Demikian disampaikan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar, Senin (17/10/2011), saat dihubungi wartawan.

“Tadi sudah koordinasi dengan Sudin Disdik Jakut, Pak Gatot. Dia memastikan kalau di Jakarta Utara tidak ada sekolah baik SD, SMP, dan SMA yang memiliki seragam seperti di foto itu,” ujarnya.

Polisi sampai sekarang juga belum mendapatkan laporan pihak yang mengaku mengenali sosok laki-laki berseragam biru tersebut. Demikian pula dengan sosok jenazah perempuan yang dibunuh secara sadis dan dimasukkan ke dalam kardus.

“Belum ada satu pun yang mengenali foto laki-laki dan jenazah perempuan,” kata Irwan.

Pihak polisi, kata Irwan, sudah menyebar ratusan foto wajah perempuan yang diperkirakan berusia 40 tahun itu. Foto-foto korban disebar di berbagai tempat keramaian di wilayah Koja, Tanjung Priok, dan Cilincing.

Polres Metro Jakarta Utara dan Polda Metro Jaya kini juga membuka call center apabila ada pihak yang memiliki informasi penemuan jenazah perempuan malang itu. Adapun nomor telepon call center Polda Metro Jaya yakni 0816782000, sedangkan call center Polrestro Jakarta Utara yakni 081367422777.

Seperti diberitakan sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, usia 40 tahun, kulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam warna hitam.

Sebanyak 11 orang saksi diperiksa terkait penemuan mayat tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus dan koper di wilayah Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur. Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya. Ia melanjutkan untuk kasus penemuan mayat di dalam koper di Cakung sebanyak tiga orang sudah dimintai keterangan.

“Di timur sudah ada tiga orang saksi yang diperiksa. Mereka yang ada di sekitar lokasi saat mayat ditemukan,” ungkap Baharudin.

Sementara untuk penemuan mayat perempuan dewasa di Jakarta Utara, polisi telah memeriksa delapan orang saksi. “Di antaranya dua orang saksi yang menemukan langsung, dua orang yang melihat di ujung gang, dan empat orang pemilik rumah di sekitar lokasi,” kata Baharudin.

Saat ini, polisi juga membuka call center bagi siapa pun yang mengenali sosok mayat tersebut yakni di nomor 0816782000. Diakui Baharudin, polisi akan bertindak proaktif dalam mencari identitas kedua mayat yang diduga saling terkait itu.

“Semua sumber informasi akan jadi saran bagi kepolisian untuk membuat terang kasus ini,” kata Baharudin.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam kopor di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Utara masih terus melakukan pemeriksaan terkait penemuan mayat perempuan tak beridentitas yang dimasukkan ke dalam kardus televisi. Polisi kini mulai mencurigai pengendara motor yang diketahui warga sering bolak-balik di tempat ditemukannya mayat itu.

“Orang yang naik motor bolak-balik ini yang kami dalami. Sampai sekarang kami belum tahu motornya apa dan nomor polisinya berapa,” ungkap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Gatot Edy Pramono, Minggu (16/10/2011) di Mapolda Metro Jaya.

Ia melanjutkan, penyidik sudah meminta keterangan dari warga setempat yang pertama kali menemukan mayat itu dan warga lain yang melihat pengendara motor itu. “Sejauh ini baru warga-warga itu. Belum ada yang lain,” tutur Gatot.

Sebelumnya, sesosok mayat perempuan ditemukan berada di dalam kardus televisi yang dibuang di pinggir Gang B RT 7 RW 17, Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Jumat (14/10/2011) pukul 14.30.

Menurut beberapa warga, kardus itu ditemukan setelah beberapa saat terdengar suara gaduh barang dibuang dan diikuti suara motor. Saat dilihat ternyata ada sebuah kardus televisi besar diletakkan di jalanan.

Ketika dibongkar, warga melihat sesosok mayat perempuan yang dibelit kain batik. Wajahnya ditutup rambut panjangnya yang lurus. Temuan ini pun dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Utara. Penyidik Reskrim Polrestro Jakarta Utara yang membongkar kardus itu menemukan mayat perempuan itu hanya mengenakan pakaian dalam. Tubuhnya pun diikat dengan tali rafia sehingga badan dan kakinya menyatu. Selain itu ditemukan foto bocah laki-laki dan luka tusuk di bagian perut.

Polisi menduga dua mayat tanpa identitas di dalam kardus dan koper yang ditemukan di Koja, Jakarta Utara dan Cakung, Jakarta Timur saling berkaitan. Untuk membuktikan keterkaitan keduanya, polisi akan mencocokan DNA dari kedua jenazah.

“Hari ini dari dua temuan itu akan dicek DNA oleh kedokteran forensik untuk melihat kecocokan apakah dua jasad ini punya keterkaitan atau berhubungan darah atau tidak,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, Senin (17/10/2011), di Mapolda Metro Jaya.

Diakui Baharudin, kepolisian sampai sekarang juga masih belum mengetahui identitas kedua jenazah tersebut. Pasalnya, masih belum ada pihak yang mengaku pernah mengenal jenazah itu. Baharudin menjelaskan, polisi saat ini fokus untuk mengungkap identitas keduanya. Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur langsung membentuk tim khusus didukung Direskrimum Polda Metro Jaya.

“Tujuannya untuk cari identitas korban. Kami juga membuka call center di nomor 0816782000,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua mayat tak beridentitas ditemukan pekan lalu. Pada Jumat (14/10/2011) siang, sesosok mayat ditemukan di dalam kardus televisi yang diletakkan di Jalan Kramat Raya, Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ciri-ciri mayat itu yakni memiliki tinggi 155 cm, berkulit kuning langsat, dan hanya mengenakan pakaian dalam.

Belum selesai pengungkapan mayat di dalam kardus, pada Sabtu (15/10/2011), mayat tak beridentitas lagi-lagi ditemukan di dalam koper di Jalan Cakung Cilincing, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Mayat itu diperkirakan seorang anak perempuan yang berusia 8-10 tahun. Hingga kini, polisi masih mencari identitas kedua mayat itu.

Mayat Wanita berbaju Muslimah Ditemukan Dalam Koper Dengan Alat Kelamin dan Dubur Rusak

Sesosok jasad bocah perempuan yang diduga korban pemerkosaan, ditemukan di dalam koper hitam oleh di pinggir jalan dibawah tiang listrik di wilayah Jl. Cakung-Cilincing, RT 004 RW 4, Cakung Barat, Jaktim, Sabtu (15/10).

“Dugaan sementara adalah korban pembunuhan pemerkosaan, pasalnya alat kemaluan dan dubur korban rusak,” kata Kapolres Jaktim, Kombes Saidal Mursalin.

Korban diduga tewas sejak beberapa hari yang lalu, pasalnya bau menyengat dan kondisi fisiknya yang sudah hancur terlihat sangat mengenaskan. Korban pun sulit dikenali lantaran wajahnya sudah tidak terlihat utuh dimana bola matanya sudah hampir keluar dari posisinya. Selain itu, dari alat kelamin korban, terlihat usus yang keluar.

Saat ditemukan, di koper berukuran 40 cm X 30 cm itu terlihat beberapa potong pakaian, diantaranya baju jilbab muslimah warna merah, kelambu biru, celana pendek tentara, dan baju mandi warna merah jambu. Dibeberapa tumpukan pakaian tersebut, korban ditemukan tanpa sehelai benang pun dengan wajah yang lebam.

Tidak ada ciri-ciri khusus yang terdapat dari tubuh korban, sermua ini lantaran sekujur badannya melepuh akibat disiram air panah Yang terlihat korban berambut hitam yang diperkirakan sepanjang bahu, namun semuanya sudah mulai terlihat rontok.

“Kami terus melakukan penyelidikan, namun bila ada masyarakat yang kehilangan anak berusia 5 tahun sampai delapan tahun segera melaporkan ke polisi terdekat,” ujar Saidal.

Marzuki, 50, salah seorang saksi yang pertama kali menemukan koper dengan merek polo mengatakan “Waktu saya lagi jalan, saya lihat ada koper yang dikerubungi lalat. Saya yakin banget kalau itu mayat, makanya saya langsung lapor polisi,” katanya.

Sementara itu, jasad bocah malang itu langsung dibawa ke RSCM untuk di otopsi.

Terjadi Lagi, Baby Sitter Asal Karawang Diperkosa Oleh Sopir Mikrolet M 28 Jurusan Kampung Melayu – Pondok Gede

Belum habis cerita kasus pemerkosaan yang dilakukan sopir tembak angkutan umum di wilayah Jakarta Selatan, namun kejadian ini kembali terjadi di wilayah Jakarta Timur. Kali ini korbannya wanita yang bekerja sebagai baby sitter di kawasan Kalimalang, Jaktim. Korban diperkosa di sebuah Taman Garuda, Pinang Ranti, Jaktim, tak hanya itu harta benda korban juga diperas pelaku.

Peristiwa yang menimpa HL , 38, tersebut terjadi pada Sabtu (8/10) lalu, namun pelaku akhirnya dapat diringkus Rabu (12/10) malam sekitar pk 23.00 setelah korban melaporkan kejadian tersebut ke polsek Makasar. “Kita baru saja menangkap Edy Sitorus, 25, yang merupakan sopir mikrolet M 28 jurusan Kampung Melayu – Pondok Gede karena terbukti mempemerkosa penumpangnya,” kata Kabag Humas Polres Jaktim, Kompol Didik Heriyadi.

Menurut Didik, pemerkosaan itu terjadi ketika wanita asal Karawang itu, akan pulang ke rumah majikannya setelah berkunjung ke rumah kerabatnya di Pondok Gede. Korban yang baru bekerja sekitar enam bulan di Jakarta memberanikan diri untuk pulang meski sudah malam sekitar pukul 22.00.

Ketika di pertigaan Pondok Gede di mana angkutan umum biasa mangkal, wanita itu terlihat linglung. Hingga akhirnya Mikrolet yang dikendarai Edy melintas di depannya. Spontan HL langsung menanyakan apakah mobil yang dikendarainya itu melewati Jl. Raya Kalimalang, pelaku langsung mengiyakan.”Ayo ini lewat Kalimalang, naik aja,” ucap Didik seperti menirukan Edy.

Singkat cerita korban langsung menaiki angkutan umum tersebut, namun baru setengah jalan korban tersadar kalau jalan yang dilalui mobil yang ditumpainya tidak sesuai dengan rute yang seharusnya. Hingga akhirnya wanita berkulit putih itu memberanikan diri untuk menanyakan kepada sang sopir. Namun si sopir yang merupakan mantan residivis itu langsung berupaya meyakinkan korban dengan berucap “Tenang aja nanti saya anterin sampe rumah”.

Mobil melaju hingga memasuki daerah Terminal Kampung Melayu, di sini mantan tahanan kasus yang dipenjara atas kasus lalulintas itu tetap berupaya meyakinkan korban. “Nanti pokoknya habis ini saya pulangin mobil ke sopir batangan saya, habis itu kita naik angkot ke rumah majikan kamu,” ucap Didik seraya pengakuan Edy kepada penyidik.

Korban dan pelaku akhirnya kembali ke tempat asalnya di kawasan Pondok Gede untuk mengembalikan mobil. Saat sopir asli menanyakan siapa wanita yang dibawa kepada Edy, lelaki ini pun langsung menutup mulut perempuan yang tinggal di daerah Rawagabus Selatan, Karawang, Jabar. Entah mengapa si sopir asli tersebut membiarkan mereka berdua menaiki mobil KR yang akan menuju ke Kampung Rambutan.

Mereka berdua pergi dengan menaiki angkutan umum lain, ketika di kawasan Garuda, tepatnya di sekitar Tamini Square, mereka berdua turun. Di sinilah niat jahat pelaku mulai beraksi. Lelaki yang diketahui tinggal di daerah Bekasi itu, langsung menarik korban masuk ke dalam taman yang kala itu sudah tampak sepi karena waktu sudah menunjukan pk: 01.30.
Dengan nada suara yang tinggi sambil mengancam, korban diminta untuk menyerahkan uang Rp50 ribu yang ada didompetnya dan cincin 1 gram yang dipakainya. Tak hanya itu, pelaku juga langsung melucuti semua pakaian korban untuk melayani nafsu bejatnya. Usai menggauli korbannya pelaku juga masih meminta HP Nokia yang dimiliki korban.

“Sebelum diperkosa, pelaku awalnya memeras harta korban,” tutur Didik.

Usai kejadian tersebut, pelaku tak lantas pergi, demi meyakinkan korban yang terlihat polos itu, Edy memberikan nomor telepon selulernya. Mereka berdua juga masih mampir ke rumah makan untuk mengisi perut yang lapar, dan setelah itu baru pulang sendiri-sendiri.

Korban yang tiba di rumah majikannya di pagi hari sekitar pk: 05.30, langsung masuk kedalam rumah. Sang majikan yang khawatir langsung menanyakan kemana saja semalaman itu karena telepon yang ada tidak bisa dihubungi. Dia pun tidak mau mengatakan kalau dirinya menjadi korban pemerasan dan pemerkosaan.

“Dia (korban) awalnya tidak mengaku, tapi begitu terus didesak baru menceritakan kejadian yang dialaminya,” cerita Didik. Pada Rabu (12/10) korban dan majikannya langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Makasar. Petugas langsung bergerak cepat, dipimpin Kanit Reskrim AKP Ujang Rohanda, pengejaran langsung dilakukan.

Kala itu polisi berupaya memancing korban dengan menghubungi telepon yang dimiliki HL. Secara kebetulanj juga, HP tersebut langsung diangkat Edy. Dengan mengiming-imingi uang sebesar Rp300 ribu, korban janjian dengan pelaku di kawasan Pondok Gede pula. Tepatnya di depan kantor Bank BRI Pondok Gede, petugas langsung dapat meringkus pelaku tanpa adanya perlawanan.

Saat akan dimasukan ke ruang tahanan, wartawan yang mencoba menanyakan kenapa begitu teganya memperkosa dan memeras korban, pria ini mengatakan kalau dirinya melihat korban dengan wajah yang linglung, sehingga dirinya berupaya mengakali korban.

“Awalnya cuma mau iseng-iseng, tapi dia (korban) malah gampang banget dibohongi. Makanya saya setubuhi aja,” kata Edy.
Pelaku yang kini meringkuk di ruang tahanan polsek Makasar sakan dikenakan dengan dua pasal berlapis. Dengan pasal 368 mengenai pemerasan serta pasal 285 tentang pemerkosaan, pelaku akan dijerat dengan hukuman 9 tahun dan 12 tahun penjara.

Novinda Parantika Mahasiswi Institut Musik Indonesia Nekad Lompat Dari Angkot Karena Menolak Diperkosa Sopir Angkot Mikrolet M 27 (Kampungmelayu-Pulogadung) Dijalan Pemuda

Melihat gelagat yang mencurigakan dari sopir angkot, Novinda Parantika (18), mahasiswi Institut Musik Indonesia (IMI) Pulogadung, nekat meloncat dari mikrolet M 27 (Kampungmelayu-Pulogadung) di Jalan Pemuda di dekat halte busway Tugas, Kamis (6/10) pagi sekitar pukul 08.45.

Akibatnya Novinda tak sadarkan diri dan mengalami gegar otak ringan serta luka robek di kepala bagian belakang sepanjang 25 cm. Oleh petugas di halte busway Tugas, Novinda dibawa ke Rumah Sakit Harapan Jayakarta (RSHJ), Cakung.

Erryanto (41) paman korban, saat ditemui wartawan di RSHJ, Jumat (7/10) pagi, menuturkan berdasarkan pengakuan keponakannya, Novinda meloncat saat angkot melaju dengan kecepatan tinggi. Saat itu di dalam angkot hanya ada Novinda, sopir angkot, dan seorang laki-laki yang duduk di belakang sopir.

Dia curiga ada gelagat yang tak baik dari sopir angkot karena melewati jalan yang bukan rute trayeknya. Bahkan saat Novida minta turun sambil menyerahkan uang ongkosnya, sopir angkot justru tancap gas.

Khawatir akan menjadi korban kejahatan, apalagi perkosaan, mahasiswi itu nekat loncat dari angkot di depan shelter busway Tugas di Jalan Pemuda. Tubuh Novida terhempas ke aspal dan langsung tak sadarkan diri.

Menurut Erryanto dari keterangan dokter, Novinda mengalami indikasi gegar otak ringan. Novinda mendapat 5 jahitan di kepala bagian belakangnya. “Dia sadar dan sudah bisa bicara. Tapi dokter meminta kami menunggu perkembangan karena gegar otak ringan. Bisa memburuk atau membaik,” kata Erryanto.

Menurut Erryanto saat kejadian keponakannya itu tidak mengenakan pakaian yang minim atau menggairahkan seperti yang sering digembar gemborkan oleh sekelompok orang pendukung psikopat dan pendukung lelaki yang ahlakhnya buruk yang membenarkan pemerkosaan. Novinda mengenakan celana jins, kaos, dan jaket berbahan jeans.

Erryanto mengatakan pihaknya belum melaporkan peristiwa yang menimpa keponakannya ke polisi. “Mungkin nanti kami akan lapor polisi. Tapi saat ini kita fokus ke kondisi Novinda dulu,” kata Erryanto

Pascaperistiwa pemerkosaan seorang karyawati di dalam angkutan umum D-02 jurusan Pondok Labu-Ciputat, sejumlah mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN), mengaku takut naik angkot tersebut.

Sejumlah mahasiswi itu, kini lebih selektif memilih angkot, serta enggan hanya naik angkot sendirian. Rute angkutan umum D-02, memang melewati kampus UIN di Jalan IR H Juanda.

Mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum, Ana (19), mengatakan, setelah ada peristiwa itu ia jadi lebih berhati-hati.Setiap hari, Iin naik angkot D-02 untuk pulang ke rumahnya di Ciputat.

“Sekarang, saya kalau naik angkutan umum tidak mau sendirian. Harus bareng temen pokoknya,” ujar Iin, ditemui di kampusnya, Kamis (15/9). Padahal, sebelumnya ia kerap naik angkot seorang diri.

Sementara itu, Iin Aminah (19), mahasiswi Fakultas Dakwah UIN angkatan 2011, menuturkan, ia kini lebih selektif memilih angkutan umum, yakni tidak mau naik angkot berkaca gelap dan banyak diisi penumpang lelaki.

Seragam sopir
Sementara itu untuk mengantisipasi maraknya sopir angkutan kota (angkot) tembak, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyarankan agar Dinas Perhubungan DKI Jakarta menata kembali administrasi para sopir angkot. Dengan begitu, pengawasan dan pemberian sanksi terhadap awak angkot nakal mudah dilakukan.

“Sopir angkot harus menggunakan seragam khusus dan membawa surat penunjukan dari depo-nya. Dengan begini kan identitas pengemudinya jelas. Sehingga jika terjadi pelanggaran dan ternyata identitas sopirnya beda, maka bisa ditelusuri,” ucap Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Royke Lumowa, Kamis (15/9) siang.

Penertiban dan pendataan administrasi awak angkot, kata Royke, menjadi kewenangan Dishub DKI. Jika terjadi pelanggaran maka pihak pengusaha angkot bisa kena sanksi administratif. Sedangkan pihak kepoilisian lebih kepada pelanggaran lalu lintas dan tindak kriminalitas.

Saat ini kata Royke, banyak armada angkot yang tidak terawasi keberadaannya oleh pengusaha penyedia angkutan. Angkot banyak yang jarang pulang ke kandang (depo atau pool) tapi seringnya dibawa oleh si pengemudi. Cara seperti ini memudahkan sopir tembak beroperasi.

Novinda Parantika (18), ditemukan telah terbaring tak sadarkan diri tak jauh dari tumpukan sampah, di perempatan Tugas, Pulogadung, Jakarta Timur, tak jauh dari shalter Transjakarta Tugas.

Salah seorang petugas Shalter Tugas Transjakarta, Jumali (43), mengatakan bahwa Novinda ditemukan warga tengah tergeletak tak sadarkan diri, sekitar pukul 09.00 WIB, tak jauh dari tumpukan sampah.

Ia mendapati korban telah terbaring tak sadarkan diri, dengan sejumlah luka di kepalanya. Ia pun kebingungan mengapa perempuan itu bisa tak sadarkan diri. Menurutnya saat itu tak satu pun orang yang sempat melihat adanya angkot M 27 melintas.

“Akhirnya perempuan itu dibawa sama beberapa petugas dengan menggunakan bajaj ke rumah sakit,” katanya. Hingga kini ia pun masih bertanya-tanya, bagai mana perempuan itu bisa tak sadarkan diri diseberang shalter transjakarta tempatnya bekerja.

Menurutnya, Jalan Raya Pemuda tempat Novinda ditemukan terbaring, bukanlah jalur angkot M 27, dan hampir tidak pernah sama sekali dilewati angkot tersebut. Mahasiswi Institute Musik Indonesia itu kini keadaannya sudah berangsur pulih. Perawatannya pun telah dipindah, dari RS Harapan Jayakarta, ke RS Premier Jatinegara.

Juara 1 Lomba Vokal dalam acara World Choir Grand Champion Beijing, China pada tahun 2010 lalu, Putri Novinda (18), di duga telah menjadi korban percobaan perkosaan oleh seorang supir angkot M27 jurusan Pulogadung- Kampung Melayu, Kamis (06/10/2011).

Salah seorang kerabat korban menuturkan, bahwa, Putri yang merupakan mahasiswi Institute Musik Indonesia (IMI), itu hendak berangkat kuliah dari kediamannya kawasan Pulogadung, Jakata Timur, dengan menumpangi angkot M 27.

Namun dalam perjalanan angkot yang sepi penumpang itu kemudian tiba-tiba keluar dari trayeknya, angkot tersebut tiba-tiba berbelok ke Jalan Raya Pemuda. Menurut Eryanto, Putri sempat bertanya kepada sang supir.

“Tapi kata supirnya tidak apa-apa,” katanya.

Saat itu di dalam angkot hanya terdapat sang supir, teman sang supir yang duduk di di depan, dan beberapa laki-laki. Karena ketakutan ia pun nekat melompat keluar dari angkot yang melaju, dan terjembab tepat di Jalan Pemuda.

Akibat aksi nekatnya, Putri kini harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Jayakarta, Pulogadung, Jakarta Timur. Akibat tindakan penyelamatan dirinya itu, Ia di vonis oleh dokter menderita geger otak ringan.

“Tapi kini kondisinya sudah membaik,” kata Eryanto. Novinda Parantika (18), mengaku hingga kini masih merasa pusing-pusing, setelah kepalanya cidera akibat ia melompat dari angkot M 27 Jurusan Pulogadung-Kampung Melayu di perempatan TU Gas, Pulogadung, Jakarta Timur, kemarin (06/10/2011).

Saat ditemui ruangan Cempaka 1, Rumah Sakit Harapan Jayakarta, Cakung, Jakarta Timur, (07/10/2011), ia mengatakan bahwa dirinya juga tidak bisa begitu mengingat ciri-ciri angkot dan sang supir.

Samar-samar ia mengingat bahwa sang supir merupakan laki-laki berumur sekitar 35 – 40 tahun, dengan cara bicara seperti orang mabuk. “Makanya saya takut,” katanya.

Setelah ia melompat keluar, ia langsung tidak sadarkan diri, ia baru kembali sadar setelah ia terbaring di Rumah Sakit. Ia juga tidak bisa mengingat apakah kaca angkot tersebut gelap atau terang.

Pascainsiden, tersebut, perempuan yang mengaku baru tiga bulan di Jakarta itu mengatakan bahwa ia tidak menjadi trauma menumpang angkot. Namun ia akan lebih berhati-hati memilih angkot.

“Saya akan pilih-pilih angkot nanti,” tandasnya.

Seorang Istri Diperkosa Setelah Ditinggal Suaminya Sendirian Di Pasar Sehabis Bertengkar

IV (46), warga Kampung Lengkong Wetan, Serpong, Tangerang Selatan, bernasib naas. Wanita berparas ayu itu menjadi korban perampokan dan perkosaan seorang residivis yang baru saja dikenalnya di Pasar Serpong.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Warta Kota, Iv bersama suaminya pergi ke Pasar Serpong, Rabu (8/6) sore. Entah karena persoalan apa, pasangan itu bertengkar di pasar. Beberapa menit setelah cekcok mulut, Iv ditinggal oleh sang suami.

Dalam posisi bingung dan tidak tahu bagaimana harus pulang ke rumah kontrakannya di Kelurahan Panungganan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Iv bertemu dengan seseorang berinisial MPS (30).

Dalam pertemuan kilat itu, MPS mampu memperdaya Iv yang memang sedang dalam keadaan bingung. MPS hadir seolah bagai malaikat pelindung. Dengan penuh bujuk rayu, MPS bersedia mengantar pulang ke rumah kontrakan Iv.

Namun sesampai di rumah kontrakan sekitar pukul 21.30, kondisi rumah kontrakan kosong. Suami Iv ternyata tidak pulang ke rumah. Keadaan itu dimanfaatkan MPS. Setelah diperbolehkan masuk ke ruang tamu, ia coba meyakinkan Iv dan meminta untuk berhubungan badan. Alasan MPS, agar Iv rileks setelah berhubungan intim.

Niat busuk itu langsung ditolak Iv, apalagi mengingat ia baru saja mengenal MPS. Karena ditolak mentah-mentah, MPS jadi kesal. Dia menjadi buas, dan mencengkeram leher Iv. Dalam pergumulan itu Iv coba menendang dan memukul MPS. Karena MPS sudah kesetanan, kepala dan wajah Iv dipukul dengan batu yang kebetulan ada di ruang tamu Iv. Akibatnya Iv menderita luka pada bagian kepala dan wajah.

Dalam kondisi Iv sekarat, MPS melampiaskan nafsu birahinya. Ia memperkosa Iv yang tak mampu melawan lagi. Setelah memperkosa Iv, MPS lalu merampas ponsel dan perhiasan milik perempuan tersebut.

“Identitas pelaku sudah kami ketahui. Pelaku ternyata residivis yang pernah kami tangkap. MPS pernah dipenjara di Cipinang. Jadi tunggu saja perkembangan kasus ini. Pelaku masih dikejar oleh tim buser,” ucap Kompol Arlon Sitinjak, Kapolsek Cipondoh, saat dihubungi Warta Kota, Kamis (9/6) sore.

Menurut Arlon, MPS berhasil merampas ponsel berharga Rp 400.000 dan perhiasan emas sekitar empat gram.

Bocah Umur 5 Tahun Nyaris Diperkosa Oleh Supir Angkot APB-03 jurusan Terminal Tanjungpriok-Permai

Ulah biadad kembali diperlihatkan sopir angkot. Jika sebelummya warga Jakarta dan sekitarnya digegerkan oleh pemerkosaan terhadap dua wanita oleh sopir angkot, kali ini nasib tragis nyaris serupa menimpa seorang bocah wanita berusia 5 tahun.

Bocah bau kencur berinisial S, warga Jalan Warakas V, Gang 7, Tanjungpriok, Jakarta Utara, itu dicabuli sopir angkot APB-03 jurusan Terminal Tanjungpriok-Permai bernama Sumari (37). Atas kejadian ini, Riyama (37), ibu korban, didampingi Ketua RT setempat melaporkan kejadian itu ke Polrestro Jakarta Utara.

Menurut Riyama, anak hasil perkawinannya dengan almarhum Esli Julian itu telah dicabuli sopir angkot itu. “Anak saya mengeluh sakit saat buang air kecil. Dan di celana dalamnya saya menemukan sperma,” jelas Riyama, Jumat (30/9).
Saat kejadian, Riyama yang bekerja sebagai buruh cuci sedang bekerja di warung Tegal samping rumah pelaku. “Saya lihat sandal anak saya ada di depan pintu rumahnya yang tertutup. Setelah anak saya keluar, saya tanya ngapain di dalam. Saya kaget karena anak saya menceritakan perbuatan tidak senonoh itu,” ucap Riyama.

Riyama sempat bingung dan tak tahu harus bertindak bagaimana. Janda yang ditinggal suaminya 9 bulan lalu itu lantas melapor ke Ketua RT setempat. “Pak RT langsung melapor ke Polsek Tanjungpriok,” tambah dia.

Pelaku sempat berusaha kabur dua kali saat dibawa ke Polrestro Jakarta Utara. “Untungnya ada polisi lalu lintas yang langsung menangkap dan membawanya ke Polres,” ujar Isngadi, Ketua RT/RW 12/09, Warakas VI, Gang 7. Warakas, Jakarta Utara

Pemerkosaan Penumpang Wanita Dalam Angkot D02 Jurusan Ciputat Pondok Labu Terjadi Kembali

Setelah kasus pemerkosaan disertai pembunuhan terhadap Livia Pavita Soelistio (22), kasus pemerkosaan di dalam angkutan umum kembali terjadi. Peristiwa ini menimpa karyawati berinisial RS (27), warga Pondokgede, Bekasi, pada Kamis (1/9).
“Satu pelaku sudah ditangkap, tiga lainnya masih dalam pengejaran,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Budi Irawan, Rabu (14/9) di Mapolres Jakarta Selatan.

Peristiwa ini bermula dari korban pulang kerja sekitar pukul 00.30 dengan menumpang Kopaja P19 trayek Tanahabang-Ragunan. Dia turun di wilayah Cilandak untuk melanjutkan perjalanan ke arah Pasarrebo, Jakarta Timur. Saat sedang menunggu kendaraan lanjutan sebuah angkot D02 (Ciputat-Pondoklabu)berhenti di depannya. Ada empat pria di dalam angkot tersebut.

Diketahui kemudian angkot itu dikemudikan oleh Yg. “Pelaku menawarkan korban akan mengantar sampai ke Pasarrebo. Karena angkutan sudah sepi, korban akhirnya naik angkot itu, padahal harusnya tidak,” ujar Wakasat Lantas Polres Jakarta Selatan Komisaris Sungkono.

Di dalam angkot, penumpang angkot berinisial An alias Putaw mengajak Rs untuk melakukan hubungan badan. Korban menolak, tapi tetap dipaksa melayani nafsu pelaku. “Mulut (korban) dibekap, kaki dan tangan diikat,” ujar Sungkono.

Penumpang lainnya, yakni Yg, Ar, dan Sb, juga memaksakan hubungan badan. Pemerkosaan berlangsung selama angkot itu berjalan berputar-putar di wilayah Trakindo hingga Cilandak. “Untuk enggak ketahuan, mobil dimatikan lampunya dan dipasang musik,” kata Sungkono.

Setelah itu korban dibuang di perumahan Marinir, Pemancingan Cilandak. Beberapa barang bawaan korban berupa dua buah ponsel juga dirampas pelaku. “Satu orang pelaku atas nama Yogi sudah kami tangkap tadi malam saat ngetem di traffic light Lebakbulus,” kata Sungkono

Gadis ABG Bogor Jadi Budak Seks Pria 40 Tahun Yang Baru Dikenal karena Ditawari Senang Senang dan Shabu

GA (15) disekap Tommy (40) di rumah kontrakannya selama 11 hari mulai dari 24 Agustus 2011 sampai 4 September 2011. Selama disekap ABG yang baru duduk di bangku SMA di Bogor tersebut dicekoki sabu setiap harinya. Di bawah pengaruh narkoba, GA pun tak berdaya untuk melayani nafsu birahi Tommy.

Perkenalan GA dimulai sejak 24 Agustus 2011 di sebuah mall di Bogor. Tommy setelah berkenalan dengan GA langsung membuat ABG bogor tersebut lupa diri dengan dibawanya jalan-jalan dan diajaknya senang-senang.

Setelah GA merasa senang dengan apa yang diberikan Tommy, barulah dia dibawa ke rumah kontrakannya di daerah Bogor Barat dan disekap. “Awalnya si pelaku membawa korbannya untuk bersenang-senang, jalan-jalan, kemudian korban dibawa ke suatu tempat di Bogor,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Baharudin Djafar di Mapolda Metro Jaya, Senin (5/9/2011).

Terungkapnya kasus penculikan dan pelecehan seksual tersebut diawali dengan SMS yang dikirimkan GA kepada teman sekolahnya yang memberi tahukan kalau dirinya berada di Kampung Ambon (Jakarta Barat) pada 1 September 2011,” kata Kanit II Subdit Tahbang, Direskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Ardianto Tedjo Baskoro.

GA mencuri-curi mengirimkan pesan tersebut kepada temannya, lantaran selama berada dengan Tommy handphone ABG tersebut selalu dipegang pria yang sudah memiliki anak tersebut. “Di Kampung Ambon paling hanya sekitar dua jam hanya untuk membeli barang saja (sabu),” katanya.

Pesan tersebut disampaikan teman GA kepada orang tuanya, kemudian dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 2 September 2011. “Sebelumnya orang tua korban hanya mencarinya sendiri tidak dilaporkan ke polisi,” ucapnya.

Pesan singkat yang dikirimkan GA tersebut menjadi petunjuk awal polisi untuk mengetahui keberadaan GA. “Dari SMS itu kemudian kita lacak, dan ternyata pelaku dan korban berada di Bogor,” kata Ardianto.

Setelah diketahui tempat penyekapan korban, polisi langsung menggerebek rumah kosan korban yang telah dihuninya selama 5 tahun tersebut pada 4 September 2011 siang. “Kini korban berada di rumah sakit di Bogor dan masih trauma, sedangkan pelakunya sudah diamankan di Polres Bogor,” ungkapnya.

Menurut Ardianto, selama disekap GA setiap hari dicekoki sabu dan setiap setelah memakai barang haram tersebut, pelaku selalu melakukan hubungan seks dengan korban. “Pokoknya sering, setiap habis makai (sabu) langsung berhubungan seks,” katanya.

Dengan terbongkarnya kasus penculikan tersebut Tommy diancam pasal 333 KUHP tentang perampasan kemerdekaan hidup orang lain dengan ancaman pidan 15 tahun, kemungkinan juga terhadap pelaku polisi akan memberikan pasal tambahan seperti narkoba dan pelecehan seksual.

Tetapi meskipun pelaku dan korban positif menggunakan sabu, tetapi polisi tidak menemukan barang bukti sabu di lokasi kejadian. “Kita hanya menemukan bong dan poil saja di lokasi penyergapan,” katanya.

Istri Cantik Ditinggal Sendirian Saat Mudik, Istri Diperkosa Tetangga yang Sudah Sering Intip Istri Saat mandi

Dua penjahat muda melakukan perbuatan biadab. Mereka tidak hanya merampok harta, juga memperkosa wanita pemilik rumah. Peristiwa yang tak mungkin dilupakan korban seumur hidup ini terjadi di kawasan Kunciran, Kota Tengerang, Sabtu (27/8) pagi. Kedua bandit bejad ini berhasil ditangkap.

Sebelum memperkosa Ny. Ri, 42, tersangka Sadam Abduh, 20, dan Rio Sabran Prabowo, 19, menggasak cincin kawin yang dikenakan korban dan HP BlackBerry. Tersangka Sadam menyetubuhi Ri di kamar tamu. Sedangkan Rio mengancam anak Ri yang berusia 12 tahun dan keponakannya berumur 10 tahun agar Ri mau melayani nafsu bejad Sadam dengan sepenuh hati.

Perampokan disertai perkosaan yang membuat heboh warga di kawasan Kunciran ini terjadi sekitar pukul 08.00. Pagi itu, Sadam dan Rio ngobrol-ngobrol di depan rumah Ri. Mereka memang berniat merampok rumah Ri, yang sedang ditinggal suaminya mudik Lebaran ke Palembang, Sumatera Selatan.

Setelah dirasakan aman, mereka masuk ke rumah korban dengan cara melompat pagar. Ternyata pintu utama tidak dikunci hingga keduanya bisa dengan leluasa masuk ke dalam rumah wanita berwajah cantik ini.

Saat itu, Ri hendak kekamar mandi dari kamar tidur karena ingin mandi. Tubuh korban saat itu hanya dibalut handuk kecil. Nyonya Ri kaget mendapati dua pria tak dikenal sudah berada di depannya. Belum sempat mengusir, kedua pemuda mengancam pakai golok dan samurai.

“Cepat lepas cincin. Kalau nggak gua bunuh,” ancam pelaku, seperti ditirukan Ny. Ri kepada petugas. Takut dilukai, Ri melepas cincin kawin yang dikenakannya. Usai mengambil cincin, pelaku mengambil HP BlackBerry di dekat kulkas.

DIPERKOSA
Sadam Abduh yang memegang golok, tergoda melihat tubuh Ri yang hanya mengenakan handuk kecil saja, apalagi pelaku sudah sering mengintip Ri saat mandi dari belakang rumah. Pelaku mengancam Ri agar tidak berteriak. Wanita bertubuh montok dan berwajah cantik ini kemudian digelandang ke ruang tengah dalam keadaan telanjang.

Di tempat ini, Sadam memperkosa dan menyetubuhi Ri beberapa kali, setelah lebih dahulu menyuruh Rio mengancam anak Ri dan keponakannya yang menginap di rumah tersebut. Setelah puas melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku kabur sambil membawa hasil kejahatan.

Ri yang mendapat perlakuan tak senonoh melaporkan kasus ini ke Polsek Cipondoh, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kediamannya. Petugas dipimpin Kapolsek Cipondoh, Kompol Arlon Sitinjak segera melakukan olah TKP termasuk memburu pelaku.

Dari keterangan sejumlah saksi, akhirnya petugas dapat mengenali pelaku yakni Sadam Abduh dan Rio Sabran Prabowo. Keduanya diringkus di tempat kos di kawasan Kunciran, saat hendak mudik Lebaran ke kampung halaman di Jogyakarta, sekitar pukul 16.30.

“Pelaku mengaku nafsu saat melihat korban hendak mandi dan langsung memperkosanya,” kata Kapolres Metro Tangerang, Kombes Tavip Yulianto, didampingi Kapolsek Cipondoh, Kompol Arlon Sitinjak.

Menurut Arlon, pelaku mengaku sering mengintip korban saat mandi dari belakang rumah tersebut. “Namun saat kejadian, mereka benar-benar mau merampok. Ternyata satu pelaku terangsang saat melihat korban dan memperkosanya,” tegasnya.

Pembunuh Mahasiswi Binus Livia Pavita Soelistio Tertangkap dan Ternyata Adalah Supir Angkot Spesialis Perampok dan Pemerkosa Penumpang Wanita

Kamis (25/8) menjelang tengah malam, informasi penting masuk. Sinyal telepon genggam milik Livia Pavita Soelistio yang berhari-hari mati, tiba-tiba terlacak berada di Rawa Belong, Kemangisan, Jakbar. Bersama anggotanya, Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, AKBP Ferdy Sambo, langsung bangkit dari kursi di ruang kerjanya. Tak buang waktu, ia meluncur ke daerah Rawa Belong, tak jauh dari rumah kos mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) itu.

Sesuai petunjuk sinyal HP, Sutarno dan Abdul Madjid dibekuk. Mereka baru saja bertransaksi HP Ericsson. Sutarno menjual HP itu kepada Abdul Majid yang dihargai Rp200.000. Dalam pemeriksaan, Sutarno mengaku HP yang dijualnya milik Rohman.
Tak buang waktu, polisi langsung memburu Rohman. Saat itu, sudah masuk Jumat (26/8) dinihari. Pria 24 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai sopir tembak itu dibekuk di rumah di Rawa Belong. Ketika itu ia bersama Fahri, 22, tengah menunggu Sutarno. Kduanya langsung digelandang ke Polres Jakarta Barat.

Dalam pemeriksaan terungkap Fahri dan Roman berperan dalam hilangnya mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) Livia Pavita Soelistio, 21. Gadis cantik itu hilang pada 16 Agustus usai mengikuti sidang skripsi di jurusan Sastra Mandarin sekitar Pk. 13:00. Sejumlah temannya melihat ia menumpang Mikrolet 24 jurusan Srengseng-Slipi yang biasa ditumpanginya menuju tempat kos di Rawa Belong, Kemanggisan, Jakbar.

Sejak itu, keberadaan mahasiswi yang juga sekretaris sebuah biro perjalanan di Gambir, Jakpus, ini tak terlacak. HP-nya tak bisa dihubungi. Ny. Yusni Chandra, ibu kandung, dan Hermanto, ayah tiri, melapor kehilangan anaknya ke Polsek Kebun Jeruk pada 17 Agustus. Orangtua itu juga mengabarkan kehilangan anaknya melalui BlackBerry Messenger.

Empat hari kemudian, ia ditemukan membusuk di parit sedalam 2 meter di Cisauk, Tangerang. Bajunya terbuka karena seluruh kancingnya terlepas dan celana dalamnya melorot selutut. Ia dikenali sebagai Livia dari pakaian dan kalung berliontin Buddha yang dikenakannya.

PEMBUNUHAN DAN PERKOSAAN
Dalam pemeriksaan yang dilakukan Kanit Krimum AKP Agung Wibowo, SH, Fahri dan Rohman menuding Afri yang mencekik Livia hingga tewas. Aksinya dibantu Rohman dan Raymond. Afri juga memerkosa mayat Livia dalam angkot. Kini, polisi memburu Afri dan Raymond. “Kedua tersangka yang tertangkap itu kami jerat dengan pasal pencurian dengan kekerasan,” ujar Kapolres Jakarta Barat, Kombes Setija Junianta, Hum, tentang Fahri dan Rohman yang dikenakan pasal 365 KUHP karena perampokan HP dan uang Rp200,000 milik korban dan terancam hukuman 20 tahun penjara. “Kami juga memburu dua tersangka lainnya, termasuk pelaku pembunuhan dan perkosaan terhadap korban.”

Didampingi Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Baharuddin Jafar, kapolres mengatakan kawanan itu adalah komplotan bandit yang kerap menjadikan wanita sebagai korbannya. Bahkan, tersangka Rohman pernah dipenjara dua tahun terkait kasus narkoba.

Sementara itu, terhadap tersangka Sutarno dan Abdul Majid, polisi menjerat keduanya dengan pasal 480 KUHP karena menerima barang hasil kejahatan. Mereka terancam hukuman empat tahun penjara. “Kalau tahu HP itu bermasalah, apalagi korban pembunuhan, saya nggak bakal mau terima. Sekarang, saya nggak tau apa-apa masuk penjara juga,” ujar Sutarno.

Malang nian nasib Livia. Wanita cantik ini harus tewas ditangam empat awak angkot. Sedihnya pelaku hanya mengincar dua HP milik mahasiswi Binus, Kemandoran, Jakarta Barat ini. Keempat pelaku rupanya mengincar HP Black Berry dan Sony Ericsson model terbaru. Hanya saja seorang tersangka mengaku karena tergiur atas kecantikan Livia, dia tega memperkosa gadis ini meski sudah tidak berdaya.

PENGAKUAN PELAKU
Dalam wawancara dengan Pos Kota, tersangka Rohman dan Fahri bercerita. Pada Selasa (16/8) siang, angkot M24 B 2912 TK jurusan Srengseng-Slipi, yang dikemudikan Fahri dicegat Livia di depan kampusnya. Tiga teman Fahri; Rohman dan dua tersangka lain yang masih buron; Afri dan Raymond, juga berada di angkot. Mereka berlagak penumpang. “ Kami memang berniat mencari wanita penumpang untuk diambil hartanya, “ kata Rohman.

Meski berada dalam kendaraan yang sama, tersangka Rohman dan Fahri menuding Afri sebagai otak di balik kejahatan sadis itu. Fahri mengatakan, pembunuhan dan pemerkosaan dilakukan Afri di belakang kendaraannya. “ Afri yang mencekik sampai mati lalu memerkosa mayat korban,” ungkap Fahri.

Menurut Fahri, saat itu korban melawan tapi tak kuasa menahan kekuatan tiga pria yang menyergapnya. “ Silahkan ambil HP saya, tapi jangan bunuh saya,” kata Fahri, mengenang permintaan terakhir anak kandung Ny. Yusni Chandra itu.

Permohonan dengan derai airmata itu tak ditanggapi. Sebaliknya, Raymond dan Fahri semakin beringas dan bernafsu langsung memegang kedua tangan gadis itu dan Afri mencekik lehernya. Seketika, korban lemas. Tubuh Livia yang tersungkur diinjak punggungnya oleh Rohman. Kawanan penjahat sadis itu pun mencari tempat pembuangan mayat.

Sampai di kawasan Pos Pengumben, kendaraan diambil alih Rohman yang lebih mengerti daerah itu lalu membawanya ke kawasan Serpong, Tangerang.

Anggota Polres Jakarta Barat yang menangani kasus ini masih terus memeriksa dua tersangka yang sudah diringkus. Diyakini motif awalnya adalah perampokan. “Mereka rupanya mengincar dua HP korban. Apalagi satu yakni yang Sony Ericsson keluaran terbaru. Jika akhirnya

Livia Pavita Soelistio, mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus), telah tiada. Gadis cantik berusia 21 tahun yang baru lulus sidang skripsi jurusan Sastra Mandarin itu, diperlakukan biadab oleh kawanan preman. Ia dicekik hingga menemui ajal. Dalam keadaan tak bernyawa, korban diperkosa dalam angkot yang ditumpangi dari kampus menuju tempat kos.
Delapan hari setelah pembantaian terjadi dan Livia dilaporkan keluarga ke Polsek Kebon Jeruk sebagai orang hilang, petugas Polres Jakarta Barat dipimpin Kasat Reskrim AKBP Ferdy Sambo, yang bekerja keras membongkar peristiwa ini membuahkan hasil.

Tersangka Rohman, 23, dan Fahri, 22, ditangkap tak jauh dari rumah kos Livia Pavita Soelistio, di kawasan Rawa Belong, Kemanggisan, Jakbar, Jumat (26/8) dinihari. Polisi juga membekuk Sutarno dan Abdul Madjid, penadah HP korban yang dirampas pelaku.

Mahasiswi, yang juga sekretaris sebuah biro perjalanan di Gambir ini ditemukan membusuk di Cisauk, Tangerang, empat hari setelah menghilang sepulang dari kampusnya pada 16 Agustus. Saat ditemukan, baju korban terbuka karena seluruh kancingnya terlepas. Bahkan celana dalam korban melorot selutut.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua tersangka pembunuh Livia, mahasiswa Binus ditangkap polisi di Kemanggisan, Jakarta Barat, Jumat dinihari tadi. Pelakunya empat orang awak angkot. Dua lagi pelaku masih dikejar polisi. Menurut informasi, Livia pada 16 Agustus lalu usai mengikuti sidang skripsi pulang naik angkot bersama teman-temannya. Rupanya dia yang terakhir turun. Di angkot tersebut, wanita cantik ini disergap oleh empat orang yang ada di angkot tersebut.

Diduga karena melawan, pelaku makin ganas dan membekap korban. Livia, mahasiswa jurusan Bahasa Mandarin ini dibawa ke Tangerang tepatnya di Cisauk lalu korban dihabisi. Mayatnya dibuang ke selokan hingga akhirnya empat hari kemudian ditemukan penggembala kambing sudah dalam keadaan membusuk.Sebelum dibunuh sempat diperkosa karena ditemukan bercak sperma.

Rupanya pelaku membawa HP Black Berry korban. Oleh pelaku HP tersebut dijual kepada seseorang di Kemanggisan Jakarta Barat. Tadi pagi saat sahur, Black Berry itu tiba-tiba mengudara sehingga polisi berhasil melacak signyalnya. Lelaki yang membeli HP itu lalu ditangkap. Dia mengaku kalau Black Berry itu dibeli dari sopir angkot. Dengan gerak cepat polisi mengejar pelaku di daerah Kemanggisan dan berhasil meringkus dua tersangka. Dua lagi yang sudah diketahui identitasnya masih dikejar polisi.

Kepergian Livia Pavita Soelastio,21, membuat keluarga terpukul. Bagaimana tidak. Setelah dinyatakan lulus kuliah dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta Barat mahasiswi jurusan Sastra Mandarin ini langsung menghilang.
Selama 5 hari mencari keberadaan anak semata wayang pasangan Hermanto,67, dengan Yusni Chandara,50, malah mendapat kabar jika Livia ditemukan sudah tak bernyawa.

“Saya sangat terpukul atas kematian anak saya. Bagaimana tidak, sejak kecil saya merawat dan membesarkan anak saya hingga terakhir dikabarkan lulus kuliah malah berakhir seperti ini. Saya berharap polisi berhasil menangkap anak saya,” ungkap Hermanto terbata-bata. Terakhir 16 Agustus sore, Livia menghubungi dirinya dan memberitahu jika dirinya baru selesai melakukan siding skripsi dan dinyatakan lulus. Mendapat kabar itu, Hermanto kemudian mengucapkan selamat atas kelulusan Livia.

Namun pada keesokan harinya, ketika akan dijemput oleh keluarga, Livia dikabarkan menghilang. Keluarga akhirnya melaporkan ke Polsek Kebun Jeruk. Keluarga kemudian berusaha mencari keberadaan Livia ke teman-temannya bahkan ke paranormal. Namun Minggu (20/8) malam, dirinya mendapat kabar jika ada mayat perempuan dengan pakaian yang sama dengan Livia ditemukan di parit di Jalan Suradita, Cisauk, Kabupaten Tangerang.

Mendapat Informasi tersebut Hermanto kemudian langsung mendatangi kamar mayat RSU Tangerang untuk melihat langsung jenazah wanita tersebut. Setelah diperiksa, mayat wanita malang itu adalah Livia Pavita Soelastio, mahasiswi Bina Nusantara jurusan Sastra Mandarin