Category Archives: penculikan

Korban Penculikan Oleh Polisi Kembali Dengan Penuh Luka

DELI SERDANG – Sehari setelah pertemuan Komisi A DPRD Sumut, Kepolisian Daerah Sumut, dan BPN Sumut dengan warga Desa Durin Tonggal, Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang, Sastra Paranginangin (35), warga yang diculik orang tak dikenal, pulang. Sastra tiba di rumah pada Rabu (25/6) pagi dengan luka dalam.

Rabu siang, istri dan ibu korban didampingi tetangga-tetangga korban melaporkan kejadian yang menimpa Sastra ke Polda Sumut.

Sastra dengan terbata-bata bertutur, pada Senin pagi sekitar pukul 03.30 rumahnya di Dusun IV, Kutalepar, Durin Tonggal, digedor orang.

Ia kemudian diseret orang yang mengaku petugas Polsek Pancur Batu. Korban dinaikkan mobil angkutan KPUM warna kuning yang memiliki bukaan pintu dari belakang. Namun, dia tak tahu nomor polisi mobil itu.

Sastra mengaku dibawa ke sebuah pondok di Pasar 11 Pancur Batu. Di tempat itu, ia dipukuli oleh delapan orang. Setelah itu korban dibawa ke Kompleks Kebun Binatang Kota Medan. Saat di pondok di Pasar 11, Sastra mengaku sempat ditodong pistol, kemudian pistol diledakkan di telinganya.

Di Kompleks Kebun Binatang Medan, ia kembali dipukuli dan ditenggelamkan di kolam. Korban diminta menunjukkan tempat Econ Purba, tetangga korban yang masuk daftar orang yang dicari pascatertembaknya Kepala Polsek Pancur Batu. Akan tetapi, korban mengaku tidak tahu.

Saat penculik menawarkan mi instan, Sastra minta borgolnya dibuka. Saat borgol dibuka itulah ia melawan dan bisa melarikan diri.

Ia mengaku bersembunyi di kebun jagung di dekat Durin Tonggal dan sempat pingsan. Saat sadar, ia melihat banyak orang kumpul di Balai Desa Keloni, termasuk anggota DPRD dan polisi.

”Saya tidak berani keluar, saya tunggu malam. Baru pagi saya kembali pulang,” tutur Sastra yang mengaku masih sangat pusing itu.

Rahang Sastra bengkak dan ia demam. Ia juga mengatakan dadanya sakit, merasa sesak napas, dan kaki kirinya sakit. Istri Sastra, Iyut br Tarigan (30), mengatakan, Sastra pulang dengan sempoyongan.

Menurut Eni br Tarigan yang menemani korban berobat, petugas kesehatan di Klinik Milala Mas, Medan, menyatakan korban terkena luka dalam. Klinik Milala merupakan tempat korban memeriksakan diri untuk pertolongan pertama.

Kepala Unit Jatanras Polda Sumut Ajun Komisaris Besar Darwin Sinaga yang menemui korban di halaman Polda Sumut akhirnya meminta korban pulang. Korban diminta memeriksakan diri ke rumah sakit. Setelah sehat, baru kembali melapor ke Polda Sumut.

Tidak percaya

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Ajun Komisaris Besar Baharuddin Djafar mengatakan, setelah pertemuan dengan warga, Selasa siang, dirinya sudah tahu korban kembali. Namun, yang bersangkutan tidak bersedia melapor ke polsek karena sudah tidak percaya ke polsek.

”Sebenarnya lebih bagus kalau ditangangi polsek, tetapi ke polda juga tetap kami terima,” kata Baharuddin. Namun, saat dikonfirmasi, Sastra mengatakan tidak pernah bertemu dengan polisi atau siapa pun sebelum pulang ke rumah

Seorang Pria Italia Menculik Wanita Hanya Untuk Mencuci Piring

GENOA – Polisi Genoa, Italia, menahan seorang pria berusia 43 tahun atas tuduhan penculikan terhadap perempuan. Persisnya, seperti dituturkan polisi Genoa pekan ini, pria ini mendatangi sebuah pub di kota pelabuhan Genoa. Tanpa banyak bicara, dia lantas menyeret seorang perempuan dari pub itu yang belakangan diketahui adalah mantan pacarnya. Perempuan itu dipaksa masuk mobil dan dibawa ke rumahnya.

Di sana, perempuan itu dipaksa membersihkan piring dan menyetrika semua pakaiannya. Semuanya berlangsung dalam ancaman. Kasus ini akhirnya melibatkan polisi setelah seorang perempuan di pub itu melihat kejadian ini dan melaporkan ke polisi. Pria ini ditangkap atas tuduhan penculikan. Menculik seorang perempuan hanya untuk menyetrika dan cuci piring. Gila benar!!!

Pemuda Tewas Setelah Diculik Dan Disiksa Oleh Empat Orang Yang Mengaku TNI

JAKARTA – Dua pemuda: Nurohman dan Baihaki dituduh mencuri telepon genggam. Mereka diculik empat pria yang mengaku anggota TNI. Mereka disiksa hingga satu di antaranya tewas.

Selama di tangan para penculik, kedua korban dipukuli, disayat, disundut rokok, bahkan kuku jari tangan dan kaki dicopot secara paksa. Nurohman, 29, tewas Kamis (22/5) Pk. 19:00 di ruang perawatan tahanan RS Polri Kramatjati. Sejak masuk rumah sakit itu Sabtu (17/5) malam, warga Kebon Nanas Utara II ini tak pernah sadarkan diri hingga meninggal.

Hampir sekujur tubuh Nurohman dipenuhi luka mulai dari kepala belakang, wajah, dada, kedua tangan yang penuh luka goresan senjata tajam hingga jari kuku di kedua tangan dan kakinya yang dicopot paksa.

Luka hampir sama diderita Baihaki, 22, warga Kebon Nanas Selatan II. Selain disayat senjata tajam, dipukuli, ia juga disunduti rokok hingga meninggalkan bekas di lengan dan pipinya. Kini, ia dirawat di ruang perawatan tahanan RS Polri Kramatjati.

DICULIK DIDEPAN AYAH
Baihaki yang berprofesi sebagai pengojek ini mengaku diculik di hadapan Zainal Abidin, ayahnya, seminggu lalu di depan rumahnya sekitar Pk. 19:00. Upaya Zainal menahan penculikan itu gagal setelah pelaku mengaku sebagai tentara dan melarang Zainal campur tangan serta memintanya untuk menemuinya di Mabes TNI Cilangkap.

Selanjutnya, dengan menggunakan taksi para pelaku dan korban pergi. “Di dalam taksi ada empat orang. Saya terus dipukuli sepanjang perjalanan,” ungkapnya.

Penyiksaan tak hanya berlangsung dalam taksi. Baihaki mengaku sempat beberapa kali dipindah dari satu tempat ke lokasi lain. Salah satu lokasi yang diingatnya adalah sebuah rumah di Pisangan Baru. Dalam keadaan setengah tak sadarkan diri, Baihaki mengaku sempat melihat Nurohman tergeletak bermandi darah.

Oleh para pelaku kedua korban dibuang di pinggir jalan pada Sabtu (17/5) malam. Warga yang menemukan keduanya tergeletak tak sadarkan diri kemudian melapor ke Polsek Matraman yang lalu melarikannya ke RS Polri Kramatjati.

Meski belum sempat diperiksa untuk menentukan statusnya sebagai korban atau tersangka, keduanya masuk ke ruang perawatan tahanan RS Polri Kramatjati.

DITUDUH CURI 8 HP MILIK TOKOH MASYARAKAT
Sementara itu menurut kesaksian Pe’e, Nurohman diculik saat bekerja sebagai tukang parkir di Jln. Otista III sepekan silam. Dua lelaki turun dari taksi lalu menyeret korban. “Nurohman langsung diseret, dipukuli lalu dipaksa masuk taksi,” ungkapnya.

Menurut Yahya, paman korban, informasi yang didapat menyebutkan kedua korban dituduh mencuri delapan HP milik tamu seorang tokoh masyarakat.

Diakuinya, Nurohman memang pernah berbuat salah namun setahun belakangan setelah menikah dan memiliki anak, kemenakannya itu bekerja sebagai tukang parkir dan menjual kardus. Selain itu, HP yang disebut dicuripun tak ada. “Kami tak terima. Kami akan melaporkan kasus ini,” ujarnya.

Sedangkan dari pengakuan Baihaki sehari sebelum diculik ada sepasang suami istri menuduhnya mencuri HP. “Padahal hari itu saya seharian di rumah,” ungkapnya. “Saya sungguh tak mencuri tapi mereka terus menuduh.”

Kapolsek Matraman Kompol I Made Sugawa ketika dikonfirmasi kasus ini mengatakan penanganannya ada di Polres Metro Jaktim.

TIGA BOCAH DICULIK DI KEBAYORAN BARU
Kasus penculikan juga menimpa tiga anak di Jl. Pulo Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (23/5) siang. Di duga pelaku ingin mengambil HP milik salah satu korban yang baru pulang sekolah itu.

Dua anak Ferry Taufiq, 12, pelajar SMP 13, dan Irfan, 11, pelajar kelas 5 SD Bhakti Luhur, dibebaskan setelah dibawa berputar-putar selama satu jam. Sedangkan Billy, 12, pelajar SMP 13 yang memiliki HP tetap dibawa pelaku.

Kelompotan Penculik Asal Medan Beraksi Lagi Di Aceh – Seorang Pelaku Bernama Fajar Hasibuan Tewas Diterjang Pelor Polisi

ACEH -  Tim gabungan Kepolisian Resor Persiapan Aceh Timur, Kepolisian Resor Langsa, dan Kepolisian Resor Lhokseumawe menggagalkan penculikan nakhoda kapal, Senin (19/5) siang. Dua orang yang diduga sebagai pelaku tewas di tempat setelah sempat terjadi baku tembak.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Persiapan Aceh Timur Ajun Komisaris Polisi Ridwan Usman ketika dihubungi, Senin (19/5), mengatakan, salah satu pelaku yang diketahui bernama M Fajar Hasibuan tewas di tempat kejadian setelah sempat menembak petugas yang mengejarnya. Satu pelaku lainnya tewas setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit di wilayah Idi Rayeuk, Aceh Timur.

”Polisi berhasil menyita senapan laras panjang jenis AK-56, granat, dan magasin. Warga yang sempat disandera oleh para pelaku berhasil dibebaskan,” kata Ridwan. Ketika ditanya mengenai identitas para pelaku dan identitas korban penculikan, Ridwan mengaku tidak begitu jelas mendapat informasi dari anak buahnya.

Informasi yang berhasil dikumpulkan Kompas menyatakan, peristiwa itu terjadi Senin siang di sekitar Desa Bireun Kedai, Kecamatan Bireun Bayeun, Kabupaten Aceh Timur. Penculikan nakhoda kapal itu sendiri terjadi di Kota Lhokseumawe.

”Para pelaku berusaha melarikan diri ke arah Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Ketika dihadang aparat, mereka sedang menuju ke perbatasan kedua wilayah,” kata Ridwan.

Kejar-mengejar, kata Ridwan, sudah terjadi sejak dalam wilayah hukum Polres Lhokseumawe. Akan tetapi, katanya, para pelaku berhasil lolos dari sergapan petugas kepolisian. Bahkan, kata Ridwan, seluruh jajaran kepolisian sampai ke wilayah perbatasan Nanggroe Aceh Darussalam-Sumatera Utara sudah diminta berjaga-jaga untuk melakukan penyergapan di wilayah tersebut.

”Brigade Mobil dari Polda NAD juga ikut membantu pengejaran,” katanya.

Kedua pelaku menggunakan kendaraan Isuzu Panther pick-up dengan nomor polisi BL 8787 N. Namun, belakangan diketahui nomor polisi kendaraan tersebut palsu.

Ridwan menyatakan, kejadian ini masih dalam penyidikan pihak kepolisian.

”Karena wilayah hukum terjadinya kasus ini di Lhokseumawe, mereka yang akan melakukannya. Kami hanya membantu di lapangan,” katanya.

Sementara itu, kasus ini menambah panjang daftar kasus penculikan di Aceh. Akhir bulan lalu, aparat kepolisian dari Polres Gayo Lues, Polda Nanggroe Aceh Darussalam membebaskan tujuh warga negara China dan seorang warga negara Indonesia dari sekapan penculik.

Pasukan gabungan Polri dan TNI bergerak setelah memperoleh laporan dari penduduk bahwa delapan orang telah diculik oleh kelompok penculik yang belum diketahui identitas dan motifnya.

Warga negara China itu diculik dari Desa Pasir Putih, Kecamatan Pinding, Kabupaten Gayo Lues, saat melakukan survei terkait rencana pembukaan tambang timah.

Dalam penyerbuan yang dilakukan petugas, para penculik berhasil melarikan diri. Menurut informasi, pelakunya tujuh orang dan bersenjata.

Polisi sempat menyiagakan dua peleton Brigade Mobil di sekitar lokasi selama beberapa hari. Para pelaku penculikan diduga bukan penduduk Kabupaten Gayo Lues.

Penculikan Siswi SMP Terjadi Lagi – Polisi Sudah Mandul Dalam Melawan Kejahatan

Seorang siswa SMP, sebut saja Fikri (13), diculik pada Senin (5/5) pukul 18.30. Ia diculik ketika pulang ke rumahnya usai mampir ke tempat ibunya bekerja di sebuah toko sepatu. Penculik memaksa orangtua korban menyerahkan uang tebusan Rp 100 juta meski korban adalah dari keluarga sederhana.

Demikian disampaikan ibu korban, sebut saja Maria (45), Selasa kemarin. Ia menjelaskan, sepulang sekolah, putrinya mampir ke tempat Maria bekerja.

Maria biasa bekerja pukul 17.00-19.00, tetapi hari itu ia bakal pulang lebih larut. Maria lalu minta putrinya kembali ke rumah. Ia lalu memberi Fikri uang untuk ongkos pulang, naik bajaj.

Fikri pulang sendiri. Ini hal biasa. Setiap berangkat sekolah, Fikri diantar ayahnya. Pulang sekolah, ia naik ojek.

Setengah jam setelah Fikri meninggalkan toko, Maria menelepon putrinya. ”HP-nya (telepon seluler) hidup-mati, hidup-mati, enggak jelas,” tuturnya.

Ketika Maria pulang bekerja dan tiba di rumah pukul 20.30, putrinya belum pulang. Ia dan suaminya khawatir. ”Saya jalan kaki dari toko ke rumah saja cuma 15 menit. Naik ojek cuma 10 menit. Gimana saya enggak waswas?” ujar Maria yang didampingi kakak prianya.

Uang tebusan

Ketika Maria melihat HP-nya, ada tiga kali catatan panggilan tak terjawab (miss call) dari HP putrinya. Pukul 21.00, si penculik menelepon Maria, minta tebusan Rp 30 juta, dan harus diantar malam itu juga. Alasannya, uang itu buat biaya pengobatan anak si penculik yang saat ini dirawat di rumah sakit.

Sadar anaknya diculik, Maria dan keluarganya lapor ke polisi. Tak berapa lama, penculik menghubunginya kembali dan minta uang tebusan ditransfer di anjungan tunai mandiri (ATM), di kawasan Jakarta Selatan.

Sampai di ruang ATM, si penculik menelepon Maria dan memberikan nomor rekeningnya. Maria mengatakan, ia hanya bisa mentransfer uang Rp 10 juta karena kartu ATM-nya adalah kartu ATM perak, bukan kartu ATM emas yang bisa mentransfer uang tak terbatas. Meski demikian, Maria membawa uang tunai sebanyak Rp 25 juta.

Penculik tidak mau, bahkan menaikkan jumlah uang tebusan menjadi Rp 100 juta. ”Saya jawab, lho Bapak kok gitu? Tadi saya sudah siapkan uang Rp 35 juta. Itu, kan, sudah lebih dari tuntutan bapak? Dari mana saya dapat uang sebanyak itu?” kata Maria dengan nada sedih.

Untuk menghidupi keluarga beranak dua ini, Maria dibantu suaminya berdagang telur dan air mineral. Mereka juga membuat usaha kos-kosan di rumahnya.

”Mereka cuma keluarga sederhana,” kata ketua RW setempat, ketika ditemui

Himpitan Ekonomi Membuat Orang Lemah Iman dan Saraf Melakukan Tindak Kejahatan

Impitan ekonomi di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi salah satu penyebab kian banyaknya tindak kriminalitas belakangan ini mulai dari perampokan hingga pemerkosaan. Demikian disimpulkan dari pendapat beberapa perwira polisi dan sosiolog dari Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola, Minggu (4/5).

Di Sumatera Selatan dan wilayah Kepolisian Metropolitan Jakarta Raya, kualitas tindak kriminalitas meningkat meski secara kuantitas menurun.

Di beberapa kota, seperti Bandar Lampung, Sukabumi, dan Semarang, kuantitas tindak kriminalitas juga kian meningkat selama 2007 dan triwulan pertama tahun 2008.

Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Ito Sumardi di Palembang, Minggu, menuturkan, selama periode Januari-Mei 2008, tindak kriminalitas menurun secara kuantitas, tetapi meningkat secara kualitas. ”Dua jenis kriminalitas yang paling mendapat perhatian kami adalah kasus narkoba dan pencurian dengan kekerasan,” kata Ito.

Pelaku pencurian dengan kekerasan atau perampokan di Sumsel, kata Ito, kini kian banyak memakai senjata api rakitan.

Ito menyebutkan, tindak kriminalitas di Sumsel masih didominasi motif persoalan ekonomi. Salah satunya terlihat dari banyaknya pelaku kejahatan dari kalangan ekonomi kelas menengah dan bawah. ”Jika didetailkan lagi, motif ekonomi berakar pada munculnya kecemburuan sosial kelas kaya-miskin dan ketimpangan kesejahteraan karena masalah korupsi yang kian merajalela dan tidak tersentuh hukum. Ini masalah utama di Sumsel,” ujarnya.

Di wilayah hukum Polda Metropolitan Jakarta Raya (Jaya) pada kuartal pertama, Januari-Maret 2008, terjadi 12.426 kasus kejahatan yang terlapor di kepolisian. Sebagian besar kejahatan, 3.773 kasus, berupa pencurian dengan pemberatan serta kekerasan. Tindak kriminalitas selama empat bulan pertama 2008 di wilayah ini juga kian nekat. Wilayah Polda Metropolitan Jaya mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Data Polda Metropolitan Jaya menunjukkan, jumlah kasus kejahatan yang terlapor di kepolisian pada tiga bulan pertama 2008 sebenarnya lebih rendah daripada periode sama 2007. Pada Januari-Maret 2006 terjadi 13.860 kasus kejahatan, sedangkan pada Januari-Maret 2007 terjadi 13.933 kasus.

Mengaku untuk makan

Di Kota Sukabumi, Jawa Barat, sejumlah tersangka pencuri mengaku tak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecuali mencuri. Menurut Kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II Nyomplong, Kota Sukabumi, Arphan, Minggu, sebagian tahanan dan narapidana yang kini menghuni LP adalah residivis kasus pencurian. ”Banyak narapidana yang keluar dan masuk lagi tersangkut kasus pencurian. Mereka mengaku mencuri agar keluarganya bisa makan,” kata Arphan.

Selain mereka yang sudah ditahan di LP Nyomplong, para tersangka kasus pencurian akibat desakan ekonomi itu ada pula yang ditahan di tingkat kepolisian sektor (polsek). Polsek Citamiang, Kota Sukabumi, misalnya, sedang menangani kasus pencurian karet mentah yang dilakukan anggota satuan pengamanan (satpam) salah satu pabrik.

Kepala Polsek Citamiang Ajun Komisaris Gatot Satrio Utomo mengungkapkan, empat hari lalu, tersangka SU (35) ditangkap karena mencuri karet mentah bersama lima temannya. ”Motif pencurian itu memang desakan ekonomi. Gaji tersangka di pabrik pengolahan karet tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup keluarga,” katanya.

SU, yang bertugas membuka dan menutup pintu pabrik bagi komplotannya, terlibat 15 kali pencurian selama Januari hingga April. ”Dari 15 pencurian itu, saya mendapat Rp 9 juta,” kata SU.

Menurut Kepala Poltabes Bandar Lampung Komisaris Besar Syauqie Achmad, Minggu, tingginya pencurian kendaraan bermotor di wilayahnya karena beberapa faktor. Namun, faktor utamanya adalah kebutuhan ekonomi pelaku dan tidak memiliki akses untuk melakukan korupsi.

Menurut Tamrin Amal Tomagola, kejahatan jalanan, seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, dan penculikan, adalah jenis kejahatan yang cepat meresahkan dan mengancam rasa aman publik. Kejahatan semacam ini kerap berkorelasi dengan faktor kemiskinan atau ketidakberdayaan ekonomi, atau juga dendam.

Sehubungan dengan kasus perampokan dan penembakan di toko perhiasan emas Aladin dan Kausar di Solo, Jawa Tengah, Poltabes Solo didukung Polda Jawa Tengah mulai menemukan titik terang. Menurut Kepala Poltabes Solo Komisaris Besar Syukrani, Minggu, sejumlah residivis diduga terlibat aksi perampokan ini.

Seorang Ayah Menyekap Putrinya Selama 24 Tahun Diruang Bawah Tanah Untuk Diperkosa Setiap Hari

WINNA – Seorang pria Austria berusia 73 tahun ditahan dengan tuduhan menyembunyikan putrinya selama 24 tahun diruang bawah tanah rumahnya yang berlantai dua.

Dan menurut polisi, dia juga memiliki enam orang anak hasil hubungan bersama putrinya tersebut. Penyekapan yang berlangsung selama 24 tahun menyebabkan Elisabeth melahirkan tujuh anak. Satu anak meninggal tak lama setelah dilahirkan. Tiga anak kurang lebih tumbuh normal dalam rawatan kakek-nenek mereka. Sedangkan tiga yang lain hidup bersama ibu mereka di kamar bawah tanah itu.

Sabtu malam, Elisabeth dan dua anak laki-lakinya yang berusia 18 dan lima tahun diangkat dari kamar bawah tanah itu. Ketika polisi meyakinkan ia tidak perlu kembali pada ayahnya dan bahwa anak-anaknya selamat, baru Elisabeth berani menuturkan ceritanya.

Kepada polisi, Elisabeth mengaku bahwa sang ayah mulai memperkosanya ketika ia berusia 11 tahun dan menguncinya dalam sebuah kamar di ruang bawah tanah untuk menyimpan anggur pada 28 Agustus 1984. Perkosaan demi perkosaan dialami perempuan itu selama 24 tahun kemudian secara terus menerus.

DISEKAP SELAMA 24 TAHUN
Keberadaan wanita yang dilaporkan hilang sejak tahun 1984 dan sekarang berusia 42 tahun tersebut, baru muncul lagi setelah salah seorang anaknya ditemukan di dalam rumah dalam “kondisi serius.” Wanita itu dan empat anaknya disekap oleh ayahnya sendiri di sebuah ruang bawah tanah dan mengalami pelecehan seksual berat hingga pemerkosaan selama 24 tahun, menurut laporan-laporan Austria.

Polisi yakin kelompok orang itu ditahan di sebuah ruang bawah tanah dan dilecehkan namun mereka menolak memberikan pernyataan lebih lanjut. Penyelidikan masih terus dilakukan, kata polisi. Dalam kasus yang diperkirakan sebagai inses sangat parah, pria itu mungkin adalah ayah dari keempat anak dari putrinya itu, kata televisi pemerintah Austria ORF.

Tersangka yang hanya disebut sebagai Josef Fritzl ditahan dengan tuduhan melakukan incest dan menyandera putrinya sendiri. Polisi memperkirakan dia memiliki enam orang anak, termasuk satu yang meninggal ketika masih bayi yang menurut kesaksian bayi itu dibakar sang ayah untuk menghilangkan jejak.

Tes DNA akan dilakukan untuk mengetahui apakah Josef Fritzl memang ayah mereka.

PIHAK RUMAH SAKIT CURIGA

Menurut laporan media Austria, Sang ayah membawa anak hasil hubungan insest yang telah berusia 19 tahun ke rumah sakit karena sakit parah. Penyelidikan dilakukan oleh pihak berwenang untuk mencari ibu dari wanita tersebut dan kemudian mengarah ke penyanderaan dan incest. Sejak penemuan tersebut, wanita berusia 42 tahun itu mendapatkan perawatan medis dan psikologis.

Pihak berwenang Amstetten memperoleh penjelasan dari rumah sakit bahwa anak perempuan yang disebut-sebut bernama Kerstin itu ditinggalkan bersama mereka dalam keadaan sangat buruk pada 19 April oleh ibunya, yang dilihat terakhir kali oleh pihak berwenang pada 1984.

Wanita itu juga menunjukkan sepucuk surat kepada mereka yang isinya meminta agar tidak ada orang yang mencarinya karena hal ini akan meningkatkan penderitaan dirinya dan anak-anaknya, membuat kasus itu semakin penuh teka-teki.

Wanita itu, yang telah dibebaskan dari penyekapan, dan tiga anaknya yang lain kini dirawat di rumah sakit. Menurut laporan-laporan sebelumnya, ia disebut-sebut memiliki enam anak, tiga diantaranya bersekolah di daerah itu.

PRIA RAMAH DAN PANDAI BERGAUL
Kepada para tetangga pria itu mengaku bahwa anak-anak itu adalah anak asuh dan anak yang ditinggalkan oleh orangtua mereka, para tetangga pria itu menganggap bahwa Josef Fritzl adalah seorang pria yang baik hati dan pandai bergaul.

Aspek yang paling aneh adalah, tidak seorang pun tahu bahwa Elisabeth disekap oleh ayahnya. “Ayahnya itu ramah, orang yang tidak mencolok yang selalu mementingkan anak dan cucunya,” kata seorang bekas tetangga. Bahkan istrinya dan enam anaknya dari istri itu, tidak tahu bahwa beberapa meter di bawah mereka, disekap seorang anggota keluarga lain yang hampir diperkosa setiap hari oleh sang ayah.

RUANG BAWAH TANAH
Di belakang sebuah lemari di rumah itu, terdapat sebuah pintu baja dengan kunci yang hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka. Hanya Fritzl yang tahu kombinasi angka itu.

Elisabeth dan tiga anaknya terkungkung dalam empat kamar kecil dengan luar 60 meter persegi yang tingginya tidak lebih dari 170 cm. Terdapat dapur kecil, satu pesawat televisi, tetapi cahaya matahari tidak dapat masuk. Tiga anak yang lahir dari hubungan gelap Fritzl dengan anak perempuannya diserahkan kepada rumah yatim piatu, bersama sepucuk surat ibu mereka. Kepada polisi dan aparat pemerintah lain, Fritzl berkata anaknya Elisabeth telah hilang karena bergabung dalam sebuah sekte. Dan cerita ini dipercaya oleh siapa saja karena kepandaian Frtizl bergaul.

SAKIT PARAH KARENA INSEST
Putri sulung wanita itu berada dalam kondisi sangat buruk dan masih menjalani perawatan intensif. Pihak berwenang tidak memberikan penjelasan terinci mengenai kesehatannya.

Elisabeth Fritzl dan anak-anaknya sekarang dirawat oleh dokter jiwa. Kerstin yang berusia 19 tahun dalam keadaan sakit parah. Menurut polisi Kerstin mengidap penyakit keturunan sebagai akibat hubungan inses antara ayah dan anak. Kerstin masih merenggang nyawa di rumah sakit. Kesehatan adiknya, Felix yang berusia lima tahun, lebih baik lagi. Untuk pertama kalinya Felix sekarang melihat keadaan siang hari. “Ia senang sekali boleh ikut di dalam mobil asli, bukan mobil mainan anak-anak,” kata seorang agen polisi.

Sampel DNA dari semua orang itu telah diambil untuk pengujian guna menetapkan gambaran yang lebih lengkap mengenai kasus itu, kata polisi seperti dikutip pers.

KASUS SERUPA PERNAH TERJADI JUGA
Penderitaan mereka mengingatkan orang akan kasus Natascha Kampusch, seorang gadis Austria berusia 19 tahun yang melarikan diri dari penculiknya setelah delapan tahun disekap di sebuah ruang bawah tanah pada musim panas 2006.

Natascha Kampusch akhirnya berhasil melarikan diri dari penculiknya, Wolfgang Priklopil, 44 tahun, yang bunuh diri tidak lama sesudahnya. Kampusch diculik di usia 10 tahun di tahun 1998 dan ditahan di sebuah ruangan tanpa jendela di kota Strasshoff, 25 kilometer di dekat Vienna. Natascha mengisahkan bahawa selama 8 tahun disekap dirinya dibiarkan tanpa pakaian sedikitpun dan setiap hari harus mengalami sekedar pelecehan seksual hingga pemerkosaan.

Penculik Ditembak Mati Di Mangga Dua Square Ketika Mengambil Uang Tebusan

JAKARTA – Drama penyergapan terhadap pelaku penculikan berakhir tragis. Pelaku terpaksa ditembak mati oleh polisi di lantai bawah (ground floor) Mal Mangga Dua Square, Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (24/4), petang.

Frangky Halim, 35, penculik, tewas dengan 3 luka tembakan di kepala, dada, dan punggung. Jenazah Frangky langsung dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

Sedangkan Dn, 24, karyawati yang diculik kawanan pelaku, belum diketahui di mana keberadaannya. Situasi ini membuat pihak keluarga korban panik karena mengkhawatirkan keselamatan Dn.

Menurut Kapolres Jakarta Utara, Kombes Pol. M Rum Murkal didampingi Kanit Reskrim Polsek Penjaringan Iptu Ali Zusron MH, langkah petugas menembak mati pelaku dinilai wajar mengingat posisi petugas dalam bahaya. “Tindakan ini terpaksa dilakukan karena pelaku berusaha menembak petugas,” ujar Ali kepada Pos Kota setelah kejadian itu.

MINTA TEBUSAN 100 RIBU DOLAR AS
Ali menuturkan kejadian ini berawal saat petugas menerima laporan dari keluarga korban bahwa Dn diculik pada Senin (21/4). Ketika itu korban yang tercatat sebagai warga Pantai Indah Kapuk (PIK) Penjaringan hendak menuju tempat kerjanya di Pluit. Dalam perjalanan, empat pelaku berkendaraan sedan menculik korban.

Korban sempat dibawa ke sebuah hotel di kawasan Ancol untuk mengambil uang di ATM Rp200 juta. Tiga hari kemudian penculik mengontak keluarga korban dan menuntut tebusan 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp900 juta. Uang tebusan diminta penculik diantar ke kawasan Kebayoran tiga hari kemudian.

Keluarga pun berkoordinasi dengan polisi dan mendatangi tempat yang dimaksud. Namun pelaku saat itu tidak datang. Hari berikutnya, pelaku minta ketemu lagi di Mangga Dua. “Empat kali mereka minta ketemu untuk transaksi, namun selalu bohong,” ujar Ali.

PELAKU LAIN DIBURU
Puncaknya kemarin sekitar Pk. 14:00, pihak keluarga korban mendapat telepon dari kawanan penculik agar mengantar uang tebusan ke Mal Mangga Dua Square, tepatnya di lantai bawah dekat toilet.

Strategi penyergapan untuk membebaskan DN lalu diatur. Namun ternyata yang datang hanya satu pelaku yaitu Frangky Halim. “Kemungkinan besar ada pelaku lain yang memata-matai dari jauh,” tambah Ali.

Begitu terjadi transaksi, petugas yang sebelumnya telah bersiap-siap langsung melakukan penyergapan. Namun saat disergap, pelaku malah mengarahkan senjata api FN nya dan siap menembak petugas yang berjarak sekitar 3 meter.

Aksi nekat Frangky tak berhasil karena peluru petugas lebih dulu melumpuhkannya. Tembakan pertama mengenai dada, namun tidak membuat pelaku menyerah. Frangky masih mencoba menembak, sehingga akhirnya petugas menembak kepala dan punggungnya hingga pelaku tewas. Untuk menghindari kehebohan massa di mal tersebut, petugas lalu menyeret mayat Frangky ke toilet sebelum membawanya ke RS Polri.

“Saat ini kami berupaya keras memburu pelaku lainnya dan membebaskan korban,” kata Ali Zusron.

Penculikan Anak Oleh Pembantu Terjadi Lagi

<div align=”justify”>JAKARTA – Baru sehari bekerja, wanita pembantu rumah tangga (PRT) membawa kabur bocah anak majikan bersama barang berharga lainnya.

Sang bocah korban penculikan itu berhasil diselamatkan petugas, Senin (24/3) di tempat persembunyian tersangka di Serang, Banten. Sedangkan pelaku lolos dari sergapan petugas menggunakan ojek motor.

Peristiwa ini menimpa pasangan Madi, 35, dan Lilis, 33. Anak bungsu mereka Sikilah Sukma, 3, diculik oleh tersangka Erma alias Warna, PRT yang baru satu hari bekerja di rumah mereka di Jalan Menteng RT 02/07, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Erma yang mulai kerja di rumah Madi pada Jumat (21/3) itu tak memperlihatkan gelagat apa pun yang mencurigakan, sehingga Madi tak khawatir meninggalkan anaknya di rumah.

DIKEJAR KE BANTEN
Namun betapa kegetnya Madi dan istrinya, karena pada keesokan harinya (Sabtu, 22/3) saat pulang ke rumahnya sekitar pukul 11:00, keadaan sudah berantakan. Putra bungsunya juga raib. Keduanya kemudian melaporkan kasus ini ke Polres Jakarta Pusat.

Mendapat laporan dari korban, empat anggota Resmob Polres Jakarta Pusat pimpinan AKP Parulian Siregar langsung mengejar ke Serang, Banten. Senin (24/3) petang Sikilah berhasil ditemukan. Namun sayang, pelaku lolos.</div>

Penculikan Anak Marak Kembali, Kejahatan Di Indonesia Akan Seperti Kolombia

KUPANG – Kasus penculikan anak di Nusa Tenggara Timur akhir-akhir ini cukup marak. Selama Januari hingga awal Februari 2008 saja tercatat lima kasus, masing masing di Kabupaten Manggarai Barat (4 Januari 2008), Timor Tengah Selatan (16 Januari), Kupang (26 dan 27 Januari), dan Ende (8 Februari).

Saat ini anak yang menjadi korban penculikan memang sudah dikembalikan ke orangtua mereka, setelah dilepas penculiknya. Belum jelas apa motif penculikan. Dugaan sementara, hal itu mengarah ke pemerasan.

Meski demikian, Ketua Komisi A DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) Marthen Darmonsi, Jumat (29/2), kepada pers di Kupang menyatakan, polisi harus tanggap. ”Kasus ini meresahkan masyarakat karena belum satu pun tersangka penculikan yang berhasil ditangkap. Apalagi, NTT kini juga diresahkan isu pemenggalan kepala,” ujarnya, seraya mengatakan, masalah ini cukup mengganggu aktivitas masyarakat.

”Penculikan anak di Manggarai Barat, Ende, Kupang, dan Timor Tengah Selatan sepatutnya segera diselidiki secara serius. Isu yang berkembang di masyarakat, penculikan itu untuk mendapatkan kepala manusia sebagai barang jualan di luar NTT. Masih menurut isu di masyarakat, kepala manusia sangat dibutuhkan untuk pembangunan sejumlah proyek raksasa. Isu tersebut tidak benar, tetapi masyarakat sudah begitu percaya,” kata Darmonsi.

Menurut pantauan Kompas, isu pemenggalan kepala anak tidak hanya disebar di Kota Kupang, tetapi sudah sampai ke desa-desa. Bahkan, di Timor Tengah Utara diisukan pula adanya sejumlah kasus pemenggalan kepala anak, yang salah satu tubuhnya (tanpa kepala) ditemukan di bawah kolong jembatan.

Akibatnya, sejumlah orangtua kini tidak mengizinkan anak mereka tinggal berpisah dengan mereka untuk sekolah di desa yang lain