Category Archives: penculikan

Marcella Zalianty Menonton Secara Langsung Lewat Bluetooth Penyiksaan, Penelanjangan, Pemerkosaan dan Minum Sperma Dari Korban Yang Ia Culik Hanya Karena Berhutang

Polisi masih memeriksa pembalap Ananda Mikola dan aktris Marcella Zalianty sampai tadi malam dalam kasus penculikan dan penganiayaan desainer interior Agung Setiawan. “Mereka sedang menjalani pemeriksaan tambahan,” kata Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Ike Edwin.

Keduanya bersama tiga orang lainnya sudah diperiksa lebih dari 24 jam sebagai tersangka. Ananda, 28 tahun, dan Marcella, 28 tahun, bersama tiga karyawan Marcella ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis lalu. Tiga karyawan itu adalah M. Harianto, Yoga Mega Permana, dan Ruli Hasbi.

Tadi malam, dua lagi karyawan Marcella dijadikan tersangka. Ananda adalah putra bekas pembalap nasional Tinton Soeprapto. Moreno Soeprapto, adik kandung Ananda, sempat diperiksa sebagai saksi. Ananda dan tiga karyawan Marcella dijerat Pasal Pemaksaan Kehendak dan Penculikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Marcella dituduh merampas kemerdekaan seseorang, menyandera, serta melakukan perbuatan tak menyenangkan.

Pengacara korban, Petrus Balla Pattyona, mengatakan mestinya polisi menahan para tersangka. “Semua unsur untuk segera menahan para pelaku sudah tercukupi,” katanya. Marcella dinilainya mengendalikan penculikan dan penganiayaan terhadap kliennya.

Menurut dia, ada bukti percakapan telepon antara Marcella dan para karyawannya itu. “Semua aktivitas anak buah Marcella dikoordinasikan dengan Marcella melalui hubungan telepon.” Bahkan gambar ketika Agung disiksa ditransfer via Bluetooth ke telepon seluler Marcella.

Polisi belum menerbitkan surat penahanan. Tapi seorang penyidik memberikan isyarat bahwa mereka bakal ditahan. “Mereka pulang nggak sekarang? Ini udah lewat jamnya (pemeriksaan sebagai tersangka),” kata penyidik kepada Tempo.

Pengacara Marcella, Minola Sebayang, dan Heri Subagyo, pengacara Ananda, menyatakan belum menerima surat penahanan klien mereka. “Kami terpikir mengajukan penangguhan penahanan,” ujar Heri kepada Tempo kemarin petang.

Minola menjelaskan, Hari, Yoga, dan Ruli memang karyawan Marcella. Kliennya tak pernah menyuruh mereka menganiaya Agung. Ketiganya “bertindak” karena kesal lantaran Agung memberikan alamat fiktif dalam kontrak. “Apalagi ketika tahu Agung sedang karaoke di Menara Imperium,” katanya.

Semua itu bermula dari kisah Agung yang berutang kepada PT Kreasi Anak Bangsa, yang dipimpin Marcella, sebesar Rp 54 juta. Utang ini muncul ketika ia menggarap interior kantor PT Kreasi di gedung Central Cikini Nomor 58 W-X, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Diduga, gara-gara itulah ia “dijemput” karyawan Marcella dari Menara Imperium, Kuningan, lalu dianiaya dan diperlakukan tak senonoh di Hotel Ibis Tamarin, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, pada Rabu dinihari lalu. Agung mengaku dipukul, ditelanjangi, difoto, lalu duburnya dimasuki sendok. “Saya juga disuruh meminum sperma,” ucapnya dua hari lalu.

Tinton Soeprapto menyatakan Ananda tak berada di hotel tempat Agung dianiaya. “Kalau dia berniat mau berantem, tak mungkin pakai baju batik,” ujarnya.

Kemarin tim pengacara korban dan Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid menyerahkan bukti rekaman CCTV di Menara Imperium kepada Markas Besar Polri. “Kepala Bareskrim (Komisaris Jenderal Susno Duadji) berjanji mengawal kasus ini,” ucap Usman.

KURSUS KEPRIBADIAN MARCELLA ZALIANTY TIDAK MENGUBAH BANYAK TABIATNYA

Kasus penganiayaan yang menyeret Marcella Zalianty membuat produksi film layar perak berjudul Lastri terhambat. Apalagi belum ada kepastian kapan pemeriksaan oleh polisi bakal tuntas.

Posisi putri aktris senior Tety Liz Indriati tersebut memang menentukan karena ia adalah produser sekaligus pemeran utama film yang disutradarai Erros Djarot itu. “Agenda yang jelas terganggu adalah pembuatan film Lastri,” kata Sheila, manajer Marcella, ketika dihubungi di Jakarta kemarin.

Sebelumnya, pembuatan Lastri tersendat perizinan di Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Sheila pun sedang berembuk dengan tim produksi Lastri untuk mengantisipasi persoalan ini.

Marcella bersama kekasihnya, Ananda Mikola, dan tiga karyawan Marcella menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Agung Setiawan. Marcella, kelahiran Jakarta, 7 Maret 1980, diancam pasal perampasan kemerdekaan seseorang, penyanderaan, serta perbuatan tak menyenangkan. Agung adalah bekas desainer interior kantor PT Kreasi Anak Bangsa di gedung Central Cikini Nomor 58 W-X, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, yang dipimpin Marcella.

Kasus itu dilatarbelakangi utang Agung kepada PT Kreasi sebesar Rp 54 juta. Agung melaporkan, ia “dijemput” karyawan Sheila, lalu dianiaya dan diperlakukan tak senonoh di Hotel Ibis Thamrin pada Selasa malam lalu. Esok harinya, Agung bertemu dengan Marcella dan Ananda di PT Kreasi.

Nama Marcella, putri pertama pasangan Gozali Amran-Tety Liz Indriati, melambung setelah sukses di dunia sinetron dan membintangi film, seperti Bintang Jatuh, Eliana Eliana, dan Brownies. Bahkan ia dianugerahi Pemeran Perempuan Terbaik oleh Festival Film Indonesia 2005 dalam film Brownies.

Ibunya beberapa kali membintangi film, di antaranya Barang Antik (1983), Hatiku Bukan Pualam (1985), dan Takdir Marina (1986). Olivia Zalianty, adik Marcella, juga aktris film dan sinetron. Tety pernah mengatakan sifat maskulin Marcella muncul ketika kecil sehingga ia mendaftarkannya ke kursus kepribadian dan perlombaan model tapi ternyata tidak banyak mengubah kepribadiannya.

ANANDA NIKOLA SANG PEMBALAP NASIONAL DARI HERO KE ZERO

Jika kasus hukum yang melilit Ananda Mikola tak juga selesai, pembalap Formula A1 itu terancam batal mengikuti 10 seri balap Super Star, yang mulai berlangsung pada Februari 2009. “Bisa saja batal,” kata Tinton Soeprapto, ayah Ananda, kepada Tempo kemarin. Super Star adalah arena bagi para pembalap yang tidak bisa mengikuti Formula 1 dan juga World Series.

Menurut Tinton, Ananda tak bisa diganti dalam ajang ini karena pesertanya harus memiliki lisensi A Eropa. Padahal dialah satu-satunya pembalap Indonesia yang memiliki lisensi itu. “Tidak ada yang bisa gantikan Nanda,” katanya.

Ananda Mikola Soeprapto–lahir di Jakarta, 27 April 1980–pertama kali mengikuti lomba balap pada 1993, ketika usianya baru 13 tahun, dengan kendaraan Honda V-Tech Grup N. Pembalap favoritnya adalah mendiang Ayrton Senna, juara dunia tiga kali Formula 1 asal Brasil.

Kata “Mikola” di belakang nama Ananda diadopsi dari nama pereli veteran dan mantan juara dunia Hannu Mikola. Tinton Soeprapto, yang pernah menjadi navigator Hannu Mikola dalam kejuaraan reli di Indonesia pada 1976, sangat terkesan dengan pembalap Finlandia itu sehingga memakai Mikola sebagai nama belakang Ananda.

Nanda–begitu Ananda Mikola biasa dipanggil–bercita-cita ingin tampil di Formula 1, arena balap paling bergengsi di dunia. Bakat balapnya sudah ia perlihatkan ketika masih kanak-kanak dan berkali-kali menjuarai lomba balap sepeda BMX pada 1986.

Ananda tampil di Formula 3.000 pada 1999 hingga 2001. Pada musim lomba 2005, dia menjuarai Asian F3. Ananda ikut membela tim A1 Indonesia di arena A1 GP selama dua musim, yaitu 2005/2006 dan 2006/2007. Pada 2008 ini, Indonesia diwakili Satrio Hermanto.

Di arena Speed Car–arena balap yang mirip balapan Nascar di Amerika–Ananda tampil di empat seri di Uni Emirat Arab, Bahrain, Indonesia, dan Malaysia. Lomba ini digelar pada akhir 2007 hingga pertengahan 2008. Di Sirkuit Sentul, Ananda menempati urutan ketiga. Juni lalu, Ananda berada di urutan ketiga Formula 3.000 di Italia.

“Saya bangga pada Ananda karena dia selalu memberikan prestasi buat saya,” kata Tinton. Entah kasus penculikan dan penganiayaan berat ini termasuk prestasi atau tidak menurut Tinton.

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Putri Intel TNI AD Diculik dan Minta Tebusan 40 Juta

Maharani Nur Anika (5,5), putri seorang staf Intel Angkatan Darat, diculik oleh kenalan ayahnya, Rabu (29/10) sekitar pukul 15.00. Penculik mengancam akan menjual Anika jika orangtuanya tidak membayar uang tebusan sebesar Rp 40 juta.

Menurut Toto, paman korban, Nika panggilan akrab Anika diduga diculik oleh TY dengan berpura-pura diajak membeli voucer telepon. TY juga diduga mencuri sebuah telepon genggam yang kemudian dipakai untuk mengirim pesan singkat kepada ayah korban, Sersan Kepala Tata Mardi Utama (37).

TY adalah kenalan Nunu, teman Tata. Mereka berkenalan saat ada pendaftaran menjadi tamtama pada tahun 2006. Setiap kali ujian, TY dan Nunu menginap di rumah Tata di Jalan Bulaksari RT 14 RW 09, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Namun, keduanya gagal menjadi tamtama.

Setelah pengumuman itu, TY tak pernah lagi mengontak Tata. Tiba-tiba, Selasa, TY datang lagi ke rumah Tata dan menginap. Pada Rabu siang, saat Tata kerja, dan di rumah hanya ada ibu korban, Titin Nurbayanti (37), Nika, dan Ima (2), tiba-tiba TY meminta izin keluar mau membeli voucer pulsa telepon.

Tidak lama setelah TY dan Nika pergi, TY mengirim pesan singkat kepada Tata yang isinya meminta tebusan Rp 40 juta. Jika Tata tidak mengabulkan permintaan itu, dia akan menjual Nika.

Tata pun segera pulang dan benar tidak menemukan Nika di rumah. Dalam SMS itu, TY bilang tidak akan berkomunikasi dengan berbicara, dia hanya mau berkomunikasi melalui SMS.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Royke Harilangi yang dihubungi terpisah mengatakan, sejak Rabu malam anggotanya sudah disebar. ”Kami sudah melacak kerabat pelaku,” ujarnya

Mahasiswi Bina Nusantara Binus Yang Hilang Ternyata Melarikan Diri Dair Rumah Untuk Tinggal Bersama Pemain Sinetron

Dua belas hari tanpa kabar, mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus) yang diduga diculik, akhirnya ditemukan polisi tinggal bersama pemain sinetron horor di Poncol RT 03/05 Susukan, Ciracas, Jaktim, Sabtu (25/10) siang.

Melina Herawati, 22, ditemukan polisi sekitar Pk. 14:00 tengah bersenda gurau bersama Ilham Ridho Susilo, 25, kekasihnya, di rumah kontrakan sederhana di Susukan.

Pasangan itu tak bisa berbuat apa-apa ketika sejumlah petugas yang dipimpin Kasat Reskrim, Kompol Roycke Harrilangi, membawanya ke Polres Metro Jaktim.

Selama pemeriksaan, Melina terus menangis. Ilham pun tak kuasa menahan air matanya sambil terus mengatakan takut kehilangan kekasihnya itu. “Saya sangat sayang sama Melina,Pak,” katanya.

Informasi, Melina mengaku pamit dari rumahnya di Jl. Kebon Pala I, Jaktim, untuk pergi kuliah pada 13 Oktober. Namun, ia tak ke kampus melainkan mendatangi rumah keluarga Ilham di Komplek Gaya Motor, Cilincing, Jakut.

Kepada pemuda pemain figuran sejumlah sinetron horor, di antaranya Misteri Gunung Merapi, itu Melina banyak cerita tentang keluarganya.Di antaranya soal sikap Liliana, ibunya, yang sering memarahi.

NGONTRAK RUMAH
Sepuluh hari bermalam di rumah keluarga Ilham, Melina berniat pulang ke rumahnya. Namun, pemuda yang telah dua bulan menjadi kekasih Melina itu khawatir gadisnya terus bersedih karena mendapat tekanan dari sang ibu.

Mereka pun mencari rumah kontrakan. Mereka menjual dua HP milik masing-masing yang dihargai Rp 200.000 per buah. Bermodalkan uang Rp 400.000, pasangan itu mendapat rumah kontrakan seharga Rp 300.000 pada Jumat (24/10) sekitar Pk 23:30.

Di rumah milik Ningsih yang berukuran 3 meter x 4 meter itulah mereka tinggal hingga dijemput polisi Sabtu (25/10) siang.

Kapolres Metro Jaktim Kombes Hasanuddin mengatakan Melina pergi dari rumahnya atas kemauannya sendiri. “Jadi, ia bukan diculik,” ujarnya. “Keduanya manusia dewasa dan tak ada unsur paksaan satu sama lain.”

Sebelumnya, Liliana Herawati, 53, ibu Melina, melaporkan kehilangan anaknya ke Polres Metro Jaktim pada 15 Oktober.

Awas Lesbian Disekitar Kita – Putri Pengusaha Konveksi Dibawa Kabur Oleh Pacar Lesbiannya Yang Dikenal Lewat Chating Dengan Menyamar Sebagai Laki Laki

Putri pengusaha konveksi warga Jalan Kalianyar II Gang 2, Jakarta Barat, sudah satu minggu kabur bersama temannya yang diduga lesbian. Kepergiaan siswi kelas dua SMK Santo Paulus itu oleh keluarganya dilaporkan ke Polsek Tambora, Kamis (7/8) petang.

Henny, 16, diperkirakan dibawa kabur gadis lesbian yang mempunyai banyak nama itu ke Cirebon. Namun hingga Jumat sore, meskipun ayah korban Tju Min Fon alias Herry, 44, telah menyusul ke kota udang itu belum menemukan putrinya.

Hernando, 18, kakak Henny yang ditemui Pos Kota di rumahnya, perkenalan Henny dengan lesbian yang mempunyai nama asli Tya, tetapi jika menyamar sebagai lelaki mengaku bernama Doro alis Dion, berawal dari chating melalui internet setahun lalu.

Awalnya, Henny mengetahui bahwa Tya itu lelaki tulen karena penampilannya seperti lelaki remaja. Selama satu tahun Dion kerap menemui Henny di sekolahnya di kawasan Setia Kawan, Jakarta Pusat, lalu mengajaknya main ke restoran di Gajah Mada Plasa.

“Anak saya sekarang tidak mau berpisah dengan lesbian itu. Henny malah mengatakan kepada keluarga Dion bahwa dirinya sering dimarahi orangtuanya,” tutur Ny. Moi Chi, sambil menangis dan berharap anaknya segera pulang.

Korban Penculikan Oleh Polisi Kembali Dengan Penuh Luka

DELI SERDANG – Sehari setelah pertemuan Komisi A DPRD Sumut, Kepolisian Daerah Sumut, dan BPN Sumut dengan warga Desa Durin Tonggal, Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang, Sastra Paranginangin (35), warga yang diculik orang tak dikenal, pulang. Sastra tiba di rumah pada Rabu (25/6) pagi dengan luka dalam.

Rabu siang, istri dan ibu korban didampingi tetangga-tetangga korban melaporkan kejadian yang menimpa Sastra ke Polda Sumut.

Sastra dengan terbata-bata bertutur, pada Senin pagi sekitar pukul 03.30 rumahnya di Dusun IV, Kutalepar, Durin Tonggal, digedor orang.

Ia kemudian diseret orang yang mengaku petugas Polsek Pancur Batu. Korban dinaikkan mobil angkutan KPUM warna kuning yang memiliki bukaan pintu dari belakang. Namun, dia tak tahu nomor polisi mobil itu.

Sastra mengaku dibawa ke sebuah pondok di Pasar 11 Pancur Batu. Di tempat itu, ia dipukuli oleh delapan orang. Setelah itu korban dibawa ke Kompleks Kebun Binatang Kota Medan. Saat di pondok di Pasar 11, Sastra mengaku sempat ditodong pistol, kemudian pistol diledakkan di telinganya.

Di Kompleks Kebun Binatang Medan, ia kembali dipukuli dan ditenggelamkan di kolam. Korban diminta menunjukkan tempat Econ Purba, tetangga korban yang masuk daftar orang yang dicari pascatertembaknya Kepala Polsek Pancur Batu. Akan tetapi, korban mengaku tidak tahu.

Saat penculik menawarkan mi instan, Sastra minta borgolnya dibuka. Saat borgol dibuka itulah ia melawan dan bisa melarikan diri.

Ia mengaku bersembunyi di kebun jagung di dekat Durin Tonggal dan sempat pingsan. Saat sadar, ia melihat banyak orang kumpul di Balai Desa Keloni, termasuk anggota DPRD dan polisi.

”Saya tidak berani keluar, saya tunggu malam. Baru pagi saya kembali pulang,” tutur Sastra yang mengaku masih sangat pusing itu.

Rahang Sastra bengkak dan ia demam. Ia juga mengatakan dadanya sakit, merasa sesak napas, dan kaki kirinya sakit. Istri Sastra, Iyut br Tarigan (30), mengatakan, Sastra pulang dengan sempoyongan.

Menurut Eni br Tarigan yang menemani korban berobat, petugas kesehatan di Klinik Milala Mas, Medan, menyatakan korban terkena luka dalam. Klinik Milala merupakan tempat korban memeriksakan diri untuk pertolongan pertama.

Kepala Unit Jatanras Polda Sumut Ajun Komisaris Besar Darwin Sinaga yang menemui korban di halaman Polda Sumut akhirnya meminta korban pulang. Korban diminta memeriksakan diri ke rumah sakit. Setelah sehat, baru kembali melapor ke Polda Sumut.

Tidak percaya

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Ajun Komisaris Besar Baharuddin Djafar mengatakan, setelah pertemuan dengan warga, Selasa siang, dirinya sudah tahu korban kembali. Namun, yang bersangkutan tidak bersedia melapor ke polsek karena sudah tidak percaya ke polsek.

”Sebenarnya lebih bagus kalau ditangangi polsek, tetapi ke polda juga tetap kami terima,” kata Baharuddin. Namun, saat dikonfirmasi, Sastra mengatakan tidak pernah bertemu dengan polisi atau siapa pun sebelum pulang ke rumah