Arsip Kategori: penganiayaan

Geng Wools dan Teror 58 Spesialis Mengincar Pelajar Untuk Dipukuli Setiap Hari Berantem Di Johar Baru

Geng Wools, kelompok pemuda yang dipimpin tersangka berinisial LH, 16 tahun, sering bikin onar. Terakhir, geng ini membacok dua remaja pada Kamis dan Sabtu, 21 April 2012 lalu. LH ditangkap polisi pada 22 April.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, mengatakan kelompok itu sering tawuran. “Hampir setiap hari mereka bikin ribut di daerah Johar Baru, Kemayoran, dan Cempaka Putih,” kata Gozali saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, anggota geng Wools berjumlah 17 sampai 19 orang. Mereka memiliki ciri-ciri, yakni memakai jaket berwarna biru dengan tulisan “We Are The Wools Big Family”.

Geng ini mengincar pelajar yang mengenakan seragam sekolah. “Tidak ada target tertentu. Pokoknya, kalau ada anak sekolah yang bergerombol atau agak ngebut, pasti diserang,” kata Gozali.

Pengakuan LH kepada penyidik, geng Wools sudah eksis sejak dua tahun lalu. Tapi, kata Gozali, kasus pembacokan secara tiba-tiba seperti yang menimpa Dwiki Hendra Saputra, siswa SMP Negeri 216 Jakarta, 21 April 2012, baru pertama terjadi. “Sebelumnya mereka sering tawuran. Kalau itu, kami sudah antisipasi dengan berjaga di lapangan,” kata Gozali.

LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai sepeda motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, saya bacok saja mereka,” kata LH, 22 April 2012. LH juga membacok Rusydan Fathy, siswa MAN 3 Jakarta, Kamis, 19 April 2012.

Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng ini, yakni LH, 16 tahun; RP (16); dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Salemba Jakarta. Di sana ada tempat untuk anak. Di sini kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Geng Wools, yang tiga anggotanya kini ditahan Kepolisian Sektor Metro Cempaka Putih, ternyata masih bersaudara dengan geng Teror 58. Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Metro Cempaka Putih, Ajun Komisaris Gozali Luhulima, menyatakan ada beberapa anggota Wools yang merangkap sebagai anggota Teror 58. “Ketua gengnya pun sama, LH,” kata dia saat dihubungi Selasa, 24 April 2012.

Menurut Gozali, dalam melakukan aksinya, kedua geng itu sama-sama mengincar pelajar. “SMP, SMA, SMK, tidak ada sasaran dari sekolah tertentu,” kata Gozali menceritakan hasil pemeriksaan LH yang ditengarai sebagai Ketua Geng Wools maupun Teror 58. Perbedaannya, geng Teror 58 mengincar siswa-siswa berseragam yang menumpang Kopaja 58. “Makanya, namanya Teror 58,” ujar Gozali.

Polisi belum mengetahui jumlah anggota Teror 58. Hanya, ada beberapa anggota geng itu yang juga tergabung dalam geng Wools. Tempat nongkrong mereka pun sama, yakni di warung Wools di Jalan Cempaka Tengah IV, Jakarta Pusat. Adapun jumlah anggota geng Wools berkisar antara 17 sampai 19 orang.

Geng yang sering berkumpul di warung itu, menurut Gozali, memang kerap tawuran di daerah Johar Baru, Kemayoran, atau Cempaka Putih. “Mereka sudah ada sejak dua tahun lalu,” katanya.

Sabtu pekan lalu, LH membacok Dwiki, seorang siswa SMP Negeri 216, Jakarta Pusat. LH mengatakan Dwiki dan temannya mengendarai motor dan menggeber gas di depan tempat LH dan teman-temannya berkumpul. “Saya emosi, jadi saya bacok,” kata LH saat ditemui Ahad, 22 April.

Saat ini Kepolisian Sektor Cempaka Putih telah menangkap tiga orang anggota geng, yakni LH, 16 tahun, RP (16), dan E (16). Ketiganya saat ini masih ditahan di Polsek Metro Cempaka Putih. “Tapi satu atau dua hari lagi akan dipindahkan ke Lapas Salemba yang ada tempat untuk anak. Di sini, kami tidak punya fasilitas untuk anak,” ujarnya.

Anak Bunuh Bapak Kandung Karena Kesal Tidak Diberikan Warung Untuk Menafkahi Istri Keduanya

Pria satu ini bisa disebut anak durhaka. Ia sampai hati membacok kepala ayah kandungnya di kamar rumahnya di Beji, Depok, Rabu (23/5) dinihari. Tindakan keji ini dipicu rasa kecewa karena warung yang dibangun ayahnya bukan diberikan padanya untuk menafkahi istri keduanya melainkan disewakan ke orang lain.

Usai melampiaskan rasa kesalnya, Imron Rosadi, 36, langsung pergi meninggalkan ayahnya, Masri Muhammad yang tergeletak bersimbah darah di lantai kamar mandi rumah di Jl. Karet , Pondok Cinda, Beji. Beruntung, tetangga mendengar kegaduhan itu cepat berdatangan.

Dalam kondisi kritis, tubuh bapak delapan anak tersebut dibopong tetangga lalu dilarikan ke RS Mitra Keluarga, Depok. Tetangga juga membekuk Imron yang masih memegang clurit bernoda darah.

Dini hari itu, sekitar Pk. 02:00, Masri seorang diri di rumah karena istrinya tengah menginap rumah salah satu dari delapan anaknya. Ia terbangun dari tidur lalu pergi ke kamar kecil di belakang rumah.

Mendadak, Imron datang. Anak kelima Masri yang sudah tiga minggu minggat dari rumah, masuk menggunakan kunci cadangan. Pria beristri dua yang memberinya enam anak itu langsung mencari bapaknya. Mengetahui Masri ada di kamar mandi, Imron yang emosi mendobrak pintu.

Tanpa banyak bicara Imron mengayunkan clurit ke kepala bapaknya. Masri berteriak kesakitan lalu ambruk berdarah-darah. Tetangga pun berdatangan, sebagian meringkus Imron yang lainnya melarikan korban ke rumah sakit. Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Cahyo Putra Wijaya bersama anggotanya datang ke rumah itu meringkus Imron. Clurit yang dipakai untuk menganiaya Masri disita.

KESAL SAMA BAPAK
Menurut Iptu Cahyo Putra Wijaya, saat dibawa ke kantor polisi tercium bau alkohol dari mulut tersangka. “Kami belum bisa meminta keterangan korban karena kondisinya belum memungkinkan,” katanya. Tersangka dijerat dengan pasal pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Undang-Undang Darurat Tahun 1951 karena kedapatan membawa senjata tajam.

Dalam pemeriksaan Imron mengaku kecewa dan kesal sama bapaknya karena warung yang didirikan di tanah orang tuanya itu semula dijanjikan akan diberikan padanya. “Tapi setelah saya merapikan warung, tiba-tiba saja bapak mau menyewakan ke orang lain,” ungkap Imron. “Padahal saya sudah menyiapkan warung itu untuk tempat dagang istri kedua.”

MERTUA DIJOTOS MENANTU
Kekerasan dalam keluarga juga dilakukan Amaluddin, 28, di rumahnya di Kampung Dukuh, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (22/5) malam. Ia menghajar ibu mertuanya, Maryam Sadeli, 55, lantaran kesal ditegur karena sering menganiaya istri.
Maryam yang bibirnya jontor dan hidungnya berdarah, melapor ke Polsek Kebayoran Baru. Amaludin pun digelandang ke kantor polisi, setelah sempat dihakimi massa. Menurut Maryam, menantu pengangguran itu memang tinggal bersamanya. Maryam tak senang anaknya, Fatimah, 26, sering dianiaya hingga ia sering menasihati Amaludin.

Rupanya bapak dua anak ini tersinggung hingga ibu mertuanya dijotos. Amaludin sempat mau kabur, tapi keburu dibekuk massa. ”Dia mau kabur dan sudah mengambil golok tapi kami menangkapnya lalu membawa ke kantor sekretariat RW,” kata Heri, warga.

Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Hamdan Maulana, mengatakan pelaku bisa dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. “Kami masih memeriksanya,” ujar kapolsek.

DPR Berharap TNI Jangan Lindungi Kapten A Sang Cowboy Palmerah

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) didesak untuk memberikan sanksi tegas kepada Kapten A yang melakukan aksi layaknya koboi jalanan di kawasan Palmerah, Jakarta Pusat. Tindakan oknum tersebut dinilai arogan.

“POM TNI AD jangan melindungi kapten ini, tapi harus memeriksanya dan menyidiknya. Apabila ada pelanggaran, harus diberikan sanksi tegas,” kata Wakil Ketua Komisi III DPR Nasir Djamil melalui pesan singkat, Kamis (2/5/2012).

Nasir meragukan keterangan bahwa senjata yang ditembakkan Kapten A hanya airsoft gun. Menurut dia, pengakuan itu hanyalah kamuflase. “Masak sih kapten bawa pistol mainan?” kata dia.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu berharap agar TNI mengecek kebenaran mengenai pistol tersebut. Jika terbukti pistol itu bukan pistol mainan, makan oknum tersebut harus diberi sanksi lebih berat. “Saya pikir, sudah tidak ada tempatnya bagi sikap arogansi dengan korps ataupun simbol-simbol negara,” kata Nasir.

Ulah Kapten A itu terjadi tatkala ia dan seorang pengendara sepeda motor berinisial SSP hendak menggunakan lajur kiri di Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (30/4/2012). Saat sedang berada di kiri, tiba-tiba SSP mengetuk kaca mobil dan mengatakan, “Jangan mentang-mentang anggota lalu seenaknya.”

Anggota TNI itu sempat turun untuk mengecek apakah ada yang terserempet. Setelah mengetahui tidak ada yang terserempet, dia masuk lagi ke dalam mobil. Namun, pengendara motor menendang mobil sehingga menyulut emosi A.

Peristiwa itu direkam oleh salah satu warga yang melintas dan diunggah ke situs Youtube dengan judul “Koboy Palmerah”. Dalam video tersebut, A tampak menenteng benda menyerupai senjata api jenis FN. Sempat terdengar pula bunyi seperti tembakan. A juga tampak beberapa kali memukul pengendara motor dengan sebuah tongkat. Pukulan itu mengenai helm yang masih dikenakan SSP.

Kapten A, pelaku pengumbar tembakan ke warga sipil di Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (30/4/2012), terancam sanksi tegas. Keputusan sanksi apa yang akan diterima A masih menunggu pemeriksaan dari Polisi Militer Kodam Jaya (Pomdam Jaya).

Hal ini diungkapkan Kepala Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Pandji Suko Hari Yudho dalam jumpa pers di Mabes Angkatan Darat, Rabu (2/5/2012). “KSAD sudah komit agar tidak ada prajurit yang kebal hukum. Pasti tindak tegas!” ujarnya. Menurut Pandji, setiap tindakan oknum anggota TNI yang dinilai sudah di luar batas kepatutan, seperti memukul, pasti akan diproses.

Kepala Subdis Penerangan AD Kolonel Zainal Mutaqin mengatakan, sanksi yang diterapkan bisa bermacam-macam tergantung keputusan Pomdam Jaya. “Kalau misalnya ada unsur pidana, akan langsung dilimpahkan ke pengadilan militer. Kalau enggak, sanksi disiplin,” kata Zainal.

Sanksi disiplin yang bisa diterapkan kepada Kapten A adalah penundaan kenaikan jabatan, non-job, dan dimutasi. “Itu jadi kewenangan ankum (atasan hukum), kami masih menunggu apa hasilnya,” ujar Zainal.

Peristiwa umbar tembakan oleh A terjadi saat ia mengendarai mobil Toyota Avanza berpelat nomor Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Jalan Tentara Pelajar, Senin lalu. Insiden itu direkam oleh warga sekitar dan diunggah ke situs Youtube.

Dalam video berdurasi 2 menit dengan judul “Koboy Palmerah” itu, terdengar suara tembakan dari senjata yang dipegang oleh A. Saat itu A berdiri di belakang mobil berpelat nomor 1394-00 warna hijau milik TNI AD. Ia terlihat emosi dan mulai menghardik seorang pria berkaus biru dan masih menggunakan helm putih berdiri di depan motor miliknya. Pengendara motor itu kemudian diketahui berinisial SSP.

A juga menenteng senjata mirip senjata api jenis FN dan sebuah tongkat besi. Ia berkali-kali menghardik SSP sambil memukulinya dengan tangan ataupun senjata yang digenggamnya ke arah kepala dan paha SSP.

Berdasarkan keterangan saksi mata, Andri, perselisihan antara keduanya terjadi karena pengendara sepeda motor merasa dipepet oleh mobil yang dikendarai A. “Kejadiannya sekitar 20 menit karena berhasil dilerai sama polisi militer yang datang berseragam dan pakai mobil warna putih. Si penembak juga langsung dibawa polisi militer,” kata Andri.

Aksi umbar tembakan di Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin (30/4/2012) siang, kini tinggal menunggu proses hukum terhadap Kapten Infanteri MA, sang “Koboi Palmerah”. Antara MA dan korban yang ia intimidasi sudah tidak lagi ada masalah karena keduanya sepakat untuk berdamai.

Kepala Subdis Penerangan Umum Angkatan Darat Kolonel TNI Zainal Mutakin mengatakan, pengemudi sepeda motor berinisial SSP yang merasa ditabrak oleh MA tidak mengajukan tuntutan terhadap oknum TNI tersebut. Hal itu dikarenakan tidak ada satu pun kerugian yang diderita SSP.

“Antara anggota kami dengan pengendara motor itu sudah sepakat damai langsung di lokasi kejadian setelah polisi militer mengamankan anggota itu. Akhirnya tidak ada tuntutan karena setelah diperiksa, kan, tidak ada yang rusak dan tidak ada yang luka,” ujar Zainal, Rabu (2/5/2012) di Markas Besar Angkatan Darat.

Peristiwa itu bermula ketika MA mengendarai mobil Toyota Avanza berpelat nomor TNI di kawasan Palmerah. Insiden itu direkam oleh warga sekitar. Video berdurasi 2 menit dengan judul “Koboy Palmerah” itu kemudian diunggah oleh akun bernama Unplugged The TV pada Selasa (1/5/2012) sekitar pukul 13.00.

Video tersebut dimulai dengan aksi MA yang tengah mengintimidasi SSP. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan dari senjata yang dipegang MA. Saat itu, MA berdiri di belakang mobil Toyota Avanza berpelat nomor 1394-00 warna hijau milik TNI AD. Ia terlihat emosi dan mulai menghardik SSP yang berkaus biru dan masih menggunakan helm putih berdiri di depan sepeda motor miliknya.

MA juga menenteng senjata mirip senjata api jenis FN dan sebuah tongkat besi. Ia berkali-kali menghardik SSP sambil memukulinya dengan tangan ataupun senjata yang digenggamnya ke arah kepala dan paha SSP.

Berdasarkan keterangan saksi mata, Andri, perselisihan antara keduanya terjadi karena pengendara sepeda motor merasa dipepet oleh mobil yang dikendarai MA. “Kejadiannya sekitar 20 menit karena berhasil dilerai sama polisi militer yang datang berseragam dan pakai mobil warna putih. Si penembak juga langsung dibawa polisi militer,” kata Andri.

Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat Brigadir Jenderal TNI Pandji Suko mengatakan, peristiwa itu terjadi ketika MA hendak mengemudikan mobilnya ke lajur ke tengah, lalu berubah dan berusaha mengambil lajur kiri. Saat itu MA melihat sepeda motor di sisi kiri mobilnya. “Pengendara motor yang ngerasa kesenggol itu ketok-ketok mobil. Saat kaca dibuka sama anggota kami, pengendara itu marah-marah,” kata Pandji.

Pandji mengatakan, saat itu pengemudi sepeda motor berkata kepada MA, “Jangan mentang-mentang aparat bisa seenaknya!” Mendengar teriakan itu, MA meminggirkan langsung mobilnya di jalan. Ia pun turun dan menanyakan apakah SSP terluka.

“Ternyata setelah dia turun, enggak ada yang luka dan lecet juga. Berarti enggak ada masalah dan dia masuk lagi ke mobil. Saat kembali ke mobil itu, orang ini (SSP) datangi anggota dan tendang mobil,” ujar Pandji. Pandji mengatakan, SSP sempat mencekik leher MA dan membuat MA pun naik pitam.

MA kembali keluar dari mobilnya dengan menenteng besi kecil dan airsoft gun. Airsoft gun itu ia tembakkan ke udara sebanyak dua kali. “Itu naluri, insting. Kalau terjadi begitu, instingnya kita lari atau melindungi diri dan lihat saya punya apa,” ujar Pandji.

Meski permasalahannya dengan SSP berakhir, MA masih harus menghadapi pemeriksaan dari Polisi Militer Kodam Jaya (Pomdam Jaya). Jika terbukti bersalah, MA dapat dikenai sanksi disiplin atau diajukan ke pengadilan militer.

Pengeroyokan Berantai Anggota Geng Motor Diduga Sebagai Balas Dendam Atas Kematian Anggota TNI AL Yang Tewas Di Keroyok Geng Motor

Juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, korban pengeroyokan orang tak dikenal di Pademangan, Jakarta Utara, pada Sabtu dua pekan lalu bernama Arifin Siri. Dia tercatat sebagai anggota TNI Angkatan Laut. Arifin berkantor di Armada Maritim Kawasan Barat di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. “Korban berpangkat kelasi dan bekerja sebagai staf administrasi di Armabar,” kata Rikwanto Selasa 10 April 2012. Dia menjelaskan, pengeroyokan terhadap Arifin diduga menjadi pemicu keributan berantai di beberapa wilayah di Jakarta dengan motif balas dendam. “Peristiwa di Sunter dan Kemayoran adalah dampak dari pengeroyokan di Pademangan,” katanya.

Sepekan setelah pengeroyokan terhadap Arifin, terjadi pengeroyokan oleh puluhan orang terhadap Soleh, 17 tahun dan Zaenal, 19 tahun. Mereka merupakan dua saudara yang sedang nongkrong di depan pompa bensin Shell, Sunter, Jakarta Utara. Soleh tewas dengan luka tusukan di bagian pinggang. Pengeroyoknya, kata Zaenal, sekitar 30 orang mengendarai sepeda motor. Ciri-cirinya berbadan tegap, rambut cepak, dengan wajah dicat putih. Polisi sempat menduga kelompok itu geng motor baru.

Hanya dalam 24 jam, pengeroyokan oleh geng serupa terjadi lagi. Korbannya empat remaja saat berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, Ahad lalu. Polisi akan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut dan membentuk tim gabungan bersama Polres Jakarta Utara dan Polres Jakarta Barat untuk mengusut kasus ini. Polisi juga menintensifkan patroli di kawasan rawan geng motor. Kepala Pusat Penerangan TNI AL, Laksamana Untung Suropati membenarkan Arifin Siri adalah anggota Armada Barat dengan pangkat kelasi satu. Saat itu, kata Untung, Arifin bersama temannya bernama Albert keluar dari tempat kosnya. Di perjalanan, keduanya melihat seorang supir truk dipukuli sekelompok orang.

“Arifin berhenti dan berniat melerai. Sayangnya, malah terjadi serangan balik. Dia terluka parah di kepala bagian belakang dan punggung,” kata Untung kemarin. Arifin meninggal pada Ahad malam lalu. Untung tak yakin aksi pengeroyokan bermotif dendam. “Dugaan boleh saja. Tanpa bukti, kurang pas disebut motif dendam.” Pengeroyokan berantai yang terjadi di beberapa wilayah di Jakarta diduga kuat bermotif balas dendam. “Peristiwa di Sunter dan Kemayoran merupakan dampak dari pengeroyokan di Pademangan,” kata juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, pada Selasa, 10 April 2012.

Menurut Rikwanto, peristiwa bermula dari tewasnya anggota TNI Angkatan Laut bernama Arifin di Pademangan, Jakarta Utara, pada Sabtu 31 Maret 2012. Arifin tewas dikeroyok oleh sekelompok orang tak dikenal. “Korban berkantor di Armada Maritim Gunung Sahari, Jakarta Pusat, berpangkat Kelasi dan bekerja sebagai staf administrasi,” kata Rikwanto.

Seminggu kemudian, Sabtu 7 April 2012, terjadi pengeroyokan oleh puluhan orang terhadap sejumlah remaja yang sedang nongkrong di depan SPBU Shell, Jakarta Utara. Seorang remaja bernama Soleh tewas dengan luka tusukan di pinggang. Dua rekannya menderita luka-luka. Pada waktu kejadian, para pelaku menggunakan sepeda motor. Adapun mereka memiliki ciri badan tegap, rambut cepak, dan wajah dicat putih. Polisi sempat menduga, kelompok itu adalah geng motor baru.Hanya dalam waktu 24 jam pengeroyokan oleh geng serupa kembali terjadi. Kali ini empat pemuda babak belur dikeroyok puluhan orang saat sedang berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Minggu 8 April 2012.

Sempat tersiar kabar, pelaku Sunter dan Kemayoran, di antaranya adalah anggota TNI AL. “Orang yang badannya tegap dan rambutnya cepak kan belum tentu tentara, jangan menyimpulkan dulu,” ujar Rikwanto.Namun polisi menduga kuat peristiwa Sunter dan Kemayoran adalah buntut dari tewasnya Arifin. “Kami akan berkoordinasi dengan TNI AL,” kata Rikwanto. Polda Metro Jaya berencana membentuk tim dengan Polres Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Kepolisian Resor) untuk mengusut kasus ini. Polisi juga mengerahkan petugasnya untuk berpatroli dan berjaga langsung di wilayah rawan geng motor.

Polisi meningkatkan keamanan sehubungan dengan maraknya pengeroyokan yang dilakukan oleh geng motor. “Patroli dan pengamanan langsung akan dilakukan di wilayah yang rawan kejahatan geng motor,” kata juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Senin, 9 April 2012. Wilayah-wilayah rawan pengeroyokan adalah Sunter di Jakarta Utara, Kemayoran di Jakarta Pusat, dan Depok. Pengamanan dilakukan dengan bekerja sama antara polres dan polsek setempat. “Polisi perlu melakukan pendekatan dengan mendatangi langsung kelompok ini,” kata Rikwanto. Menurut Rikwanto, geng motor ini berawal dari balapan liar yang sifatnya tumbuh, berkembang, dan sewaktu-waktu hilang. “Kelompok ini dibangun karena ikatan pertemanan, senasib-sepenanggungan, serta memiliki musuh yang sama.”

Keterkaitan itu menjadi pemicu terjadinya kejahatan. Jika ada satu anggota bermasalah dengan kelompok lain, maka mereka tidak segan-segan melakukan penyerangan untuk membela temannya. Warga juga perlu mewaspadai daerah yang rawan dilalui oleh kelompok ini. “Biasanya jalan yang lintasannya panjang dan halus.” Dalam waktu dua hari, kasus pengeroyokan yang dilakukan geng motor terjadi dua kali. Pada Jumat, 7 April 2012, puluhan orang bersepeda motor mengeroyok beberapa pemuda yang nongkrong di sebuah SPBU milik Shell di Sunter, Jakarta Utara. Sebelum berkumpul, para remaja itu baru menonton balapan liar.

Korban bernama Soleh tewas dengan luka tusukan di pinggang, sedangkan dua orang rekannya harus dirawat di rumah sakit karena terluka. Saat beraksi, para pelaku mengecat wajahnya dengan warna putih. Keesokan harinya, Sabtu, 8 April 2012, empat pemuda babak belur dikeroyok sekitar 30 orang ketika berkumpul di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Polisi menduga kelompok pengeroyok memiliki kaitan dengan pelaku di Sunter karena di antara anggotanya ada yang mengecat putih wajah mereka.

Geng motor bukan monopoli kota-kota di luar Jakarta seperti Bandung, Denpasar atau Surabaya. “Wabah” geng motor juga masuk di Jakarta. Dua aksi kekerasan yang melibatkan kelompok pengendara sepeda motor terjadi di Jakarta, Jumat dan Sabtu dinihari lalu adalah buktinya. Dua orang tewas dan tiga lainnya luka-luka karena dua kejadian itu. Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, menduga kekerasan yang terjadi pada Sabtu dinihari itu dilatarbelakangi aksi balap liar. “Korban tewas adalah pelajar bernama Soleh, 17 tahun, warga Kelurahan Lagoa, Jakarta Utara,” kata Rikwanto kemarin.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Tanjung Priok, Komisaris Sunardi, menambahkan bahwa penyerangan terhadap Soleh terjadi menjelang pukul 3 subuh. Menurut Sunardi, saat itu Soleh dan tiga rekannya yang mengendarai dua sepeda motor hendak mengisi bensin di stasiun pengisian bahan bakar Shell di Jalan Danau Sunter. Saat itulah sekelompok pengendara motor lain menyerang keempatnya secara beringas. Soleh mengalami luka tusuk di pinggang kiri. Adapun dua rekannya, Zaenal, 19 tahun, dan Reza, 17 tahun, terluka parah di kepala dan tengkuk. Satu lagi, Ardian, menderita luka ringan.

“Jenazah Soleh sudah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sementara yang terluka dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Koja,” kata Sunardi kemarin. Polisi langsung memburu para pelaku penyerangan di SPBU itu. Meski pelaku mengendarai sepeda motor, Sunardi belum mau menyimpulkan hal itu sebagai bentuk pertikaian antarkelompok geng motor. “Kami masih menyebutnya antarkelompok pemuda,” kata dia. Berbeda dengan di Sunter, kekerasan yang terjadi di Jalan Marga Guna, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sudah jelas buntut dari konflik antargeng sepeda motor. Motif balas dendam terungkap setelah polisi membekuk Azwar Anas, seorang di antara tersangka pengeroyok Rahmad Gunawan, 23 tahun, hingga tewas pada Jumat dinihari lalu.

Pelajar sekolah kejuruan yang ditangkap di rumahnya di Ciputat, Tangerang Selatan, pada Jumat sore, itu mengaku dendam akibat perkelahian yang terjadi sebelumnya antara kelompoknya dan kelompok Rahmad. Dia dan sekitar 30 temannya, dengan mengendarai motor, lalu mendatangi Rahmad dan kelompoknya yang dinihari itu, sekitar pukul 1.30, sedang nongkrong.

Kelompok Azwar menyerang dengan senjata tajam. Rahmad sebenarnya sempat lari, tapi terjatuh. Saat itulah Azwar menggunakan senjata tajamnya. “Ditemukan luka tusuk di leher, lengan, dada, dan punggung korban,” kata Rikwanto. Secara terpisah, Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto membenarkan bahwa Azwar telah diperiksa. “Ya, dia pelakunya,” kata Imam. Tapi Imam mengaku belum tahu persis jumlah pengeroyok. “Soal itu sedang kami kembangkan,” kata dia. Azwar dijerat dengan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman hukuman hingga lima tahun penjara.

Dewi Buruh Di Cirebon Mencoba Membunuh Ibu Kosnya Karena Diminta Bayar Uang Kos

Kesel ditagih uang kos dengan cara gedor-gedor pintu saat sedang tidur, seorang buruh pabrik garmen nekat menikam pemilik rumah kos dengan cara dibekap saat sedang tidur. Beruntung korban yang juga istri seorang anggota TNI dari kesatuan Arhanud Cirebon, itu selamat dan hanya mengalami luka dibagian tangan dan bahu terkena sabetan senjata tajam, Sabtu (24/3/2012).

Informasi yang diperoleh, tersangka bernama Dewi, 19, warga Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, saat itu tengah tertidur di dalam kamar kosnya. Tersangka baru lima hari menghuni kamar kos yang berada di RT 03 RW 02 Blok Buyut, Desa Karang Mulya, Kecamatan Plumbon. Pemilik kos, Ny Uherti, 31, istri Aat Suhardi, yang rumahnya berada tak jauh kost-kosan datang ke kamar tersangka dengan maksud untuk menagih uang kos. Kebetulan sejak menempati lima hari sebelumnya, tersangka belum membayar.

Rupanya kedatangan korban untuk menagih uang kos tersebut membuat tersangka kesal. Apalagi saat menagih dengan cara menggedor pintu itu, dilakukan saat tersangka tengah tertidur. “Siapa yang tidak kesel, dia gedor pintu keras banget, saya khan jengkel, saya tidak peduli dia juga jengkel karena saya tidak mau bayar uang kos tapi kalo dia buat saya jengkel harus dikasih pelajaran,” kata tersangka.

Karena keselnya itulah, perempuan bertubuh kecil ini marah dan dendam terhadap korban. Ketika malam tiba, tersangka mengambil pisau di dapur. Lalu dia mendatangi rumah korban, dan mendapati korban sedang tertidur. Tak rasa takut, tersangka mengambil bantal dan membekapkan ke wajah korban. Korban kaget dan sempat melawan.

Tersangka sudah kalap, dan mengeluarkan pisau dari sakunya. Pisau itu dia hujamkan ke tubuh korban. Tapi korban yang terus berontak hingga pisau itu hanya megenai bagian tangan dan bahu korban saja. Meski demikian darah sudah berceceran di lantai. Usai melampiaskan aksinya, tersangka melarikan diri.

Menurut Kapolsek Depok AKP Dian S, tersangka memang sudah berniat melakukan perbuatan itu. “Selain sudah membawa pisau, tersangka juga sudah mengemasi pakaiannya. Rencananya setelah melakukan perbuatan itu tersangka akan kabur, tapi tersangka sudah kita amankan di Mapolsek Depok,” kata kapolsek.

Selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa pisau, kaos dan bantal korban yang berlumuran darah.

Kronologi Penyerangan Di RSPAD Gatot Subroto Yang Menewaskan 2 Orang dan Melukai 6 Orang Serta Dilakukan Oleh Wanita

Penyerangan brutal terjadi di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto pada Kamis (23/2/2012) dini hari menyebabkan dua orang tewas.

Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol mengatakan, peristiwa tersebut bermula saat kelompok yang berjumlah 15 orang sedang melayat salah seorang kerabatnya, yakni Bob, di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto. Mereka berkumpul di rumah duka itu pada Rabu (22/2/2012) pukul 22.00.

Pada Kamis dini hari tepatnya pukul 01.30, sekitar 50 orang tak dikenal mendatangi rumah duka. Mereka datang dengan menumpang delapan mobil taksi. “Begitu keluar, mereka bawa golok dan langsung menyerang secara membabi buta kelompok yang sedang duduk-duduk di rumah duka itu,” ucap Yoyol, Kamis pagi, saat dihubungi wartawan.

Kelompok penyerang ini langsung menyeruak masuk dan menikam para pelayat. Penyerangan, kata Yoyol, berlangsung selama 20 menit. Sebanyak dua orang tewas di lokasi kejadian, yakni Stanley AY Wenno dan Ricky Tutu Boy dari kelompok pelayat. Sementara itu, enam orang lainnya mengalami luka berat hingga ringan. Mereka adalah Oktavianius (35), Yopi (35), Stanley (39), Ricky (37), Erol (38), dan Jefrey (38) yang juga dari kelompok pelayat.

Setelah menyerang, para pelaku lalu meninggalkan lokasi menggunakan taksi. Menurut Yoyol, kedua kubu berasal dari Kampung Ambon, Jakarta Barat. Korban tewas sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), sementara enam korban luka dilarikan ke RS Mitra Kemayoran. Polisi kini juga tengah mengejar pelaku. Motif penyerangan masih belum diketahui.

Bentrokan yang terjadi di antara dua kelompok pemuda di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, dini hari tadi, berlangsung sadis. Hal itu dikatakan Egidius (20), salah seorang saksi mata. Peristiwa tersebut diakui terjadi sekitar pukul 02.00 saat ia tengah berjaga di Ruang A RSPAD, tempat jenazah salah satu keluarganya disemayamkan.

“Kami lagi duduk-duduk di depan sana, mereka kejar orang dari depan. Yang beta lihat dua orang,” ujarnya kepada Kompas.com di lokasi kejadian, Kamis (23/2/2012).

Kelompok tersebut diakui berjumlah belasan dan semuanya menggunakan senjata tajam berupa parang. “Beta tidak tahu mereka ke sini naik apa. Korban yang satu kabur bersembunyi di dalam ruangan rumah duka, itu ditebas sampai putus tangannya,” ujarnya.

Dia mengatakan, salah satu korban lainnya sempat diserang di bagian dada dan punggung sampai terjatuh. Peristiwa kedua tersebut berjarak sekitar 20 meter dari ruangan rumah duka. “Kami lihat tidak begitu jelas, tapi dia masih bangun lagi, lari ke tempat parkir, sampai dibantai di sana. Kondisinya mengenaskan sekali. Ada luka bacok di leher,” ujarnya.

Diakuinya, setelah membantai dua orang tersebut, pelaku kemudian melarikan diri ke arah pintu gerbang rumah sakit. Dalam peristiwa yang berlangsung lebih kurang 20 menit tersebut, Egi sama sekali tidak melihat aparat kepolisian atau TNI yang berjaga sehingga kelompok tersebut dengan mudahnya masuk dan melakukan penganiayaan.

Egi yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengaku tidak mengenal, baik belasan orang yang menganiaya, maupun kedua korban. Ia mengaku bahwa kejadian begitu cepat dan pada saat pembantaian terjadi, dia bersembunyi di bawah meja sambil mengintip pembantaian tersebut. Diketahui, identitas korban tewas adalah Ricky Tutu Boy, kelahiran Ambon 29 april 1975, warga Jalan F Kalasut RT 08 RW 06 Barong Utara, Sorong, Papua, dengan luka di kepala. Korban tewas lainnya adalah Stanley AY Wenno, warga Jalan Ruas B2 Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan luka di kepala dan perut, serta kaki kiri patah.

Sementara itu, informasi satu korban lain yang dikabarkan tewas masih belum bisa dipastikan. Salah satu korban luka diketahui bernama Oktavianus Maximilion, warga Jalan Kelapa Dua Wetan Nomor 1A RT 11, Cibubur, dengan luka tusuk di perut kiri. Semuanya berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi bahwa kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan berasal dari kelompok pemuda daerah tertentu. Kepolisian Daerah Metro Jaya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dari lokasi, polisi menemukan sebuah gagang parang, celana, dan kemeja berlumuran darah.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis (23/2/2012), di Mapolda Metro Jaya. “Barang bukti yang disita adalah gagang parang, celana, dan kemeja berlumuran darah,” ujar Rikwanto.

Seluruh barang bukti itu diduga milik para kelompok penyerang. Saat ini, seluruh barang bukti sedang diuji tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor). “Nanti kita lihat hasil Labfor-nya,” papar Rikwanto.

Diberitakan sebelumnya, sekelompok orang tak dikenal yang berjumlah sekitar 50 orang menyerang sekelompok orang yang tengah melayat kerabatnya di RSPAD Gatot Subroto, Kamis (23/2/2012) dini hari pukul 01.30 WIB.

Sebanyak dua orang tewas di lokasi kejadian, yakni Stenley Wenno dan Ricky Tutuboy. Sedangkan enam orang lainnya mengalami luka berat hingga ringan.

Mereka adalah Oktvianius (35), Yopi (35), Stanley (39), Ricky (37), Erol (38), dan Jefrey (38). Polisi saat ini masih memeriksa EC yang dicurigai sebagai salah satu pelaku penyerangan.

Ricky Tutu Boy dan Stanley AY Wenno diketahui bekerja sebagai penagih utang atau yang kerap disebut debt collector. Hal tersebut dikatakan Sumiyati (31), istri Stanley, saat bertemu di kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2012).

“Kerjanya debt collector, tapi nggak ngerti kerjaannya kaya apa,” ujarnya kepada wartawan sambil mengeluarkan air mata.

Sehari-hari, suaminya tidak pernah bercerita ada masalah dalam pekerjaannya. “Nggak ada masalah sebelumnya, tiba-tiba nemuinnya sudah mayat aja,” lanjutnya.

Sumiyati mengungkapkan bahwa ia kali terakhir bertemu Stanley sekitar pukul 20.00 di rumahnya di kawasan Kramat Pulo, Kramat, Jakarta Pusat. “Dia bilang mau nengok temannya yang meninggal. Saya juga nggak kenal,” lanjutnya.

Almarhum yang berasal dari Maluku tersebut diakui Sumiyati sempat memberikan uang sebesar Rp 20.000 ke anak tunggalnya, Brian Weno (13), sebelum pergi.

Sumiyati mengaku terpukul saat kali terakhir melihat jenazah Stanley karena kondisi tubuh suaminya sangat mengenaskan dengan luka besar di bagian kening dan lengan, serta luka tusuk di bagian pinggang sebelah kiri. Ia mengaku tidak tahu motif penganiayaan yang berakibat tewasnya suami yang dinikahinya 14 tahun lalu tersebut.

Sebelumnya diberitakan, terjadi bentrokan di antara dua kelompok di dalam Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30 dini hari.

Pihak kepolisian masih menyelidiki motif tewasnya dua orang tersebut. Namun, Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi bahwa kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan berasal dari sesama kelompok pemuda daerah tertentu. Seorang dari puluhan pelaku penyerangan di halaman parkir Rumah Duka RSPAD di Jakarta Pusat, adalah seorang perempuan. Adapun enam orang yang menjadi korban penyerangan, tidak satu orang pun masuk daftar pencarian orang (DPO) Polda Metro Jaya.

“Berdasarkan keterangan saksi, salah seorang yang ikut dalam rombongan penyerang itu seorang perempuan. Ciri-cirinya berbadan kurus, tinggi, dan rambutnya kemerahan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis (23/2/2012) siang.

Sementara ketika ditanya, siapa saja saksi tersebut, ia menolak menyebut nama-nama saksi, dengan alasan untuk melindunginya dan keperluan penyidikan.

Rikwanto menambahkan, enam orang yang menjadi korban penyerangan itu, tidak satu pun yang masuk daftar pencarian orang, terkait kasus pembunuhan Tan Harry Tantono.

Terkait kasus pembunuhan Tan Harry, selain sudah menangkap enam orang tersangka kasus pembunuhan itu, polisi masih mencari sekitar 10 orang lagi, yang diduga terlibat atau mengetahui proses pembunuhan terhadap pengusaha peleburan baja itu. Pembunuhannya terjadi di kamar 2701 Swiss Belhotel pada 26 Januari lalu.

Bagian Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah melakukan otopsi terhadap kedua jenasah korban penganiayaan hingga menyebabkan meninggal dunia. Hasilnya, kedua korban diidentifikasi mengalami luka akibat senjata tajam.

“Jadi, proses otopsi itu ada dua, otopsi luar dan otopsi dalam. Korban pertama atas nama Riki Tutu Boy (37), hanya dilakukan otopsi luar atas permintaan keluarga,” ujar Yuli Budiningsih, Kepala Departemen Ilmu Forensik dan Medikolega RSCM.

Pria asal Maluku tersebut diketahui mengalami luka mengenaskan di bagian tubuhnya, yaitu luka akibat senjata tajam di leher sampai menembus ke pembuluh darah, kerongkongan putus, luka lecet lengan, tungkai, kaki dan kepala. Sementara korban meninggal kedua bernama Stanley AY Wenno (39) diketahui telah dilakukan otopsi dalam dan luar. Hasilnya ia diidentifikasi mengalami luka akibat senjata tajam di dahi dan pelipis menembus ke otak, lengan, perut.

Kedua jenasah adalah korban penyerangan yang terjadi di area parkir Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30 WIB. Situasi di kamar jenazah di RSCM pun tampak didatangi oleh kerabat dan keluarga korban yang berasal dari Maluku. Meski demikian, tidak ada yang mau berkomentar tentang peristiwa tersebut.

asca-penganiayaan yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, dini hari lalu, kedua jenazah masih disemayamkan di kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kamis (23/2/2012).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, dari kedua jenazah yang disemayamkan, yaitu Ricky Tutu Boy dan Stanley AY Wenno, hanya keluarga dari almarhum Stanley yang berada di ruangan jenazah, sementara belum ada pihak yang mengatasnamakan keluarga dari Ricky.

Sumiati, istri Stanley, mengaku masih tak percaya, pria yang dinikahinya 14 tahun silam tersebut meninggal dengan cara yang mengenaskan. “Tiap hari dia sebenarnya pulang ke rumah, kemarin doang izin minta nggak pulang,” ujarnya sambil tak kuasa menahan tangis.

Kerabat kedua korban tampak berada di sekitar ruangan jenazah. Mereka yang rata-rata berkulit gelap, berbadan kekar, dan sebagian bertato tersebut menunggu kedua jenazah diserahkan kepada keluarga untuk disemayamkan.

Sebelumnya diberitakan, terjadi bentrokan antar-kelompok yang terjadi di dalam Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto di Jalan Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Jakarta Pusat, sekitar pukul 01.30. Pihak kepolisian masih menyelidiki motif tewasnya dua orang tersebut. Namun, Polda Metro Jaya telah mengidentifikasi kedua kelompok yang terlibat dalam bentrokan itu berasal dari daerah yang sama.

Isak tangis keluarga pecah saat salah satu jenazah, Stenly AY Wenno, korban penyerangan di RSPAD Gatot Subroto, dini hari tadi, dipindahkan dari kamar otopsi ke ruang persemayaman di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2012).

“Biar dihukum mati pelakunya, karena dia sudah bunuh suami saya,” teriak Sumiyati (31), istri korban.

Sumiyati datang bersama anak semata wayangnya, ibunya, dan sepupunya. Sumiyati hanya bisa memandangi petugas rumah sakit mendorong kereta jenazah menuju ruang persemayaman sambil menangis tersedu-sedu.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, jenazah Stenly telah selesai diotopsi dan dimandikan sekitar pukul 14.10 WIB. Mengenakan jas hitam dengan bunga mawar di saku kiri, jenazah pria berbadan kekar tersebut dibaringkan di dalam peti jenazah. Tampak luka bekas jahitan disepanjang pelipis dan dagu.

Anak tunggal korban, Brian Wenno (13) yang masih duduk di kelas VI SD, tampak terduduk lesu sambil terisak. Tampaknya, bocah lugu tersebut telah mengerti peristiwa yang terjadi pada ayahnya. “Enggak mau kayak bapak, ngeri,” ujarnya sambil menatap dengan pandangan kosong.

Dia mengenang saat terakhir bertemu adalah pada malam sebelum insiden yang merenggut nyawa ayahnya tersebut. “Bapak kasih duit Rp 20.000, katanya buat sekolah besok,” kata bocah yang bercita-cita menjadi pemain bola terkenal tersebut.

Hingga Kamis sore, baru jenazah Stenly yang telah dibawa ke ruangan persemayaman untuk selanjutnya dibawa ke kediaman masing-masing. Sementara jenazah Ricky Tutu Boy masih berada di ruang otopsi dan belum ada keluarga yang menjemput. Kedua jenazah merupakan korban penyerangan oleh sekelompok orang dengan menggunakan senjata tajam di RSPAD Gatot Subroto, dini hari lalu. Pihak kepolisian telah menangkap empat pelaku dan tengah melakukan penyelidikan intensif.

Dokter Yuli Budiningsih dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengatakan dua korban tewas dalam perkelahian di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) disebabkan kekerasan senjata tajam.

Kepala Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolega, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, ini menuturkan korban pertama, Ricky Tutuboy, 37 tahun, ditemukan dengan luka di leher sampai menembus ke dalam, memutuskan pembuluh darah di leher, tulang rawan gondok.

“Luka utamanya di leher. Kerongkongannya putus jadi seperti digorok,” kata Yuli kepada wartawan, Kamis, 23 Februari 2012. Luka lain juga ditemukan. Tapi, menurut Yuli, itu tidak fatal. “Luka lecet di lengan, tungkai, dahi. Terjatuh barangkali,” ujarnya. Ada pula luka dangkal terbuka di daerah kepala.

Hasil otopsi korban kedua, Stendly Ayweno, 39 tahun, menunjukkan terdapat luka tebasan sajam di kepala, dari dahi sampai pelipis sepanjang sepuluh sentimeter. “Tembus sampai tulang tengkorak dan sampai ke otak,” katanya. Terdapat juga luka lain di lengan bawah, perut, jari, dan kepala belakang.

Ricky meninggal di tempat. Sedangkan luka Stendly sempat dijahit di RSPAD sebelum meninggal.

Terhadap jenazah Ricky, kata dia, sudah dilakukan pemeriksaan luar maupun dalam. Sedangkan pada jenazah Stendly, tim medis melakukan pemeriksaan luar karena pihak keluarga tidak menyetujui otopsi atau pemeriksaan dalam. “Saya tidak tahu alasannya. Biasanya banyak yang menolak otopsi karena dianggapnya sudah jelas sebab (kematiannya) dan sudah menerima,” ucap Yuli.

Soal jenis senjata, Yuli mengatakan belum dapat menyimpulkan. Yang jelas, luka-luka itu karena senjata tajam, bukan senjata api. “Kami belum meneliti sampai ke sana. Luka tembakan tidak ada, cuma luka akibat kekerasan sajam,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut mengenai soal itu, menurut dia, adalah wewenang penyidik. “Tentang jenis senjata, itu kewenangan penyidik. Kami hanya yang berkaitan dengan tubuh manusia,” katanya.

Pukul enam pagi, RSCM menerima kedua jenazah. Bersama jenazah, pihak rumah sakit menerima surat permintaan visum dari kantor Kepolisian Sektor Senen, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, sekitar pukul 02.00, sekelompok orang menyerang beberapa orang di Rumah Duka RSPAD. Saksi mata menyebutkan orang-orang itu membawa parang dan menebas korban.

Pihak kepolisian hingga saat ini masih bekerja keras untuk menyelidiki motif penusukan pada peristiwa penusukan di RSPAD. Beberapa orang telah diperiksa untuk mengetahui kronologis peristiwa tersebut.

“Kita enggak tau motifnya seperti apa. Karena orang besuk kok tau-tau di serang. Itu yang masih kita selidiki,” terang Kabareskrim Polri, Komjen Pol Sutarman, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Sutarman juga mengakui pihaknya hingga kini belum mengetahui apakah peristiwa ini terkait dengan kelompok tertentu atau tidak. Karena ini masih dalam tahap penyelidikan awal.

“Belum kita temukan ada keterkaitan dengan kelompok mana. Saat ini kita masih melakukan pengumpulan bukti, keterangan saksi terhadap peristiwa tersebut,” tuturnya.

Sebelumnya, terjadi penyerangan di RSPAD terjadi sekitar pukul 01.30 WIB – 02.30 WIB. Puluhan pelaku yang menumpang taksi tiba-tiba menyerang beberapa orang di rumah duka RSPAD. 4 Orang terluka dan 2 orang meninggal yaitu:

1. Oktavianus Mag Milion, mengalami luka tusuk di pinggang kanan.
2. Yopi Jonatan B, mengalami luka di kepala, pergelangan tangan, pinggang.
3. Stendly Wenno, meninggal dunia dengan luka di dahi, perut dan kepala.
4. Ricky Tutuboy, meninggal dengan luka bacok kepala dan wajah.
5. Errol Karl, mengalami luka di bahu kiri dan kepala.
6. Jefry H, mengalami luka di pinggang kiri.

Pengendara Motor Ditembak Di Jalan Raya Bekasi Lampu Merah Pondok Ungu Karena Bersenggolan Dengan Mobil Sedan

Aksi koboi jalanan terjadi di Jl.Raya Bekasi, Bekasi, Rabu (4/1) dini hari. Berawal dari senggolan antarkendaraan, seorang pengendara motor ambruk ditembak lehernya oleh penumpang mobil. Hasanudin yang terluka dilarikan ke rumah sakit terdekat di Bekasi lalu dirujuk ke RS Polri Kramatjati. Namun, menjelang sore, pria 32 tahun itu dibawa ke RSPAD Gatot Subroto untuk dirawat di rumah sakit tersebut.

Informasi yang dihimpun Pos Kota menyebutkan sekitar Pk. 02:00, Hasanudin yang tinggal di Jatiuwung, Tangerang, melintas di jalan itu dengan membonceng seorang teman prianya. Di sekitar lampu merah Pondok Ungu, Medan Satria, Bekasi, motornya tak sengaja menyenggol sedan Mitsubishi hitam berpenumpang tiga pria berambut cepak.

LEHER BELAKANG
Kepala Humas Polsek Cakung, Iptu Sutrisno, mengatakan serempetan itu melahirkan cekcok mulut. Teman pria Hasanudin berupaya memukul pengendara mobil. Tiga pria penumpang mobil turun hingga situasi bertambah panas. Upaya pemukulan itu dibalas penumpang mobil dengan menembak leher belakang Hasanudin yang langsung tersungkur ke jalan. Usai menembak, penumpang mobil kabur.

“Kasus ini ditangani Polsek Medan Satria karena kejadian ada di wilayah itu,” ungkapnya pada wartawan. “Korban dalam keadaan kritis.”

Seorang pengendara sepeda motor, Hasanudin (32) ditembak seorang pengendara sedan di Jalan Raya Bekasi tepatnya di lampu merah Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/1/2012) dinihari sekitar pukul 02.00. Hasanudin terkena tembakan di bagian tengkuk atau leher belakang. Oleh warga, Hasanudin yang terluka dilarikan ke RS Bekasi untuk mendapatkan perawatan.

Kasi Humas Polsektro Cakung, Inspektur Dua Sutrisno menuturkan dari identitasnya, Hasanudin diketahui warga Jatiuwung, RT 01/017, Kelurahan Ujungjaya, Tangerang.

Sutrisno menuturkan peristiwa terjadi sekitar pukul 02.00 dinihari. Peristiwa berawal saat sepeda motor yang dikendarai korban melaju ke arah Bekasi dari Cakung. Sepeda motor Hasanudin lalu bersenggolan dengan mobil jenis sedan di sekitar lampu merah Pondok Ungu di Jalan Raya Bekasi.

Menurut Sutrisno, sempat terjadi cekcok mulut antara Hasanudin dengan pengendara sedan itu. “Saat cekcok mulut itu, pengendara sedan mengeluarkan senjata api dan menembak ke arah korban,” kata Sutrisno.

Sutrisno menuturkan peluru bersarang di tengkuk atau leher belakang korban. Saat itu Hasanudin yang terkena tembakan senjata langsung terkapar di sisi jalan. Oleh warga dan polisi patroli yang melintas, korban dilarikan ke RS Bekasi.
“Saat itu proyektil peluru masih bersarang di tengkuk atau leher belakang korban. Kondisi korban saat itu kritis,” kata Sutrisno.

Rekan Hasanuddin korban penembakan pengendara mobil sedan di sekitar lampu merah Pondokungu di Jalan Raya Bekasi masih misteri. Kasi Humas Polsektro Cakung, Inspektur Dua Sutrisno menuturkan saat peristiwa penembakan, Hasanudin dibonceng seseorang. Pengendara sepeda motor yang membonceng Hasanudin kabur melarikan diri, karena takut. Sang pengendara sedan yang menembak Hasanudin pun tancap gas ke arah Bekasi. Hingga kini, pembonceng Hasanuddin diperlukan untuk memberikan keterangan.

Menurut pengakuan, Sutrisno petugas belum tahu identitas pembonceng Hasanuddin. Bahkan dari pengakuan Hasanudin sendiri, dia mengaku juga baru kenal dengan orang itu. “Kata Hasanudin, dia juga baru kenal,” kata Sutrino. Saat ditanya apakah kemungkinan itu tukang ojek atau bukan, menurut Sutrisno hal itu mungkin saja.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hasanudin (32) ditembak seorang pengendara sedan di Jalan Raya Bekasi tepatnya di lampu merah Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/1/2012) dinihari sekitar pukul 02.00. Hasanudin terkena tembakan di bagian tengkuk atau leher belakang. Oleh warga, Hasanudin yang terluka dilarikan ke RS Bekasi untuk mendapatkan perawatan.

Muhammad Falah Guru SMP PGRI Megamendung Ditembak Secara Membabi Buta Saat Saat Makan Bersama Teman Wanitanya

Kondisi korban penembakan, Muhammad Falah 26,mulai membaik. Menurut guru SMP PGRI Megamendung, Bogor ini, pelaku dua orang. Usianya diperkirakan di bawah 30 tahun, masing-masing memegang senjata api jenis revolver dan menembak dirinya secara membabi buta.

“Sebelum kabur, kedua pelaku menembak lebih dari lima kali ke saya, dan mengenai rusuk kiri, pipi dan tangan kiri saya,” kata Muhamad Falah saat ditemui di RS PMI Bogor, Kamis (11/8) pagi.

Kondisi fisik Falah mulai membaik pasca pengangkatan peluru yang bersarang di tubuhnya. Hanya saja, korban belum bisa berbicara banyak, karena bagian pipi kirinya masih sakit.

“Sudah mulai lumayan, tapi masih sakit kalau bicara,” kata Falah.

Guru mata pelajaran PKN di SMP PGRI Megamendung itu mengatakan, sore itu dia sedang berbuka puasa dengan Tika Komala teman dekatnya di samping danau Rainbow Hils, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Dalam kesempatan itu Falah meluruskan informasi bahwa Tika bukanlah pacarnya, tapi hanya teman dekat korban. “Bukan pacar saya, tapi cuma teman dekat, Tika sudah punya pacar, saya juga,” ujar pria berpostur gempal itu.

Falah menjelaskan, sore itu dia baru usai berbuka puasa dengan Tika dekat danau Rainbow Hils. Tiba-tiba muncul dua pria, yang turun dari motor matic menghampiri korban. Dua orang itu kata Falah, berusaha merampas motor Yamaha Vixion, namun korban berusaha mempertahankannya.

“Saya teriak minta tolong, mereka langsung kabur ke arah Gunung Geulis,” kata pria yang memiliki beladiri Tae Kwon Do itu.

Falah menjelaskan, dokter sudah melakukan operasi pengangkatan peluru yang bersarang di tubuhnya. Tapi, hanya satu peluru yang berhasil diangkat.

“Ternyata yang di pipi gak ada pelurunya, mungkin mantul lagi soalnya tiga gigi saya patah,” katanya.

Sementara itu Mimin (59) ibu korban mengatakan, Falah merupakan anak ke lima dari enam bersaudara. Selama ini anaknya sedang menjalin hubungan dengan Rini siswi SMU.

“Yang saya tahu pacarnya Rini, kalau Tika saya enggak kenal,” kata Mimin di RS PMI.

Untuk membayar biaya perawatan dan operasi anaknya di RS PMI, Mimin terpaksa harus meminjam uang ke beberapa orang serta berharap dari sekolah tempat dia bekerja dan dari Pemkab Bogor. “Mudah-mudahan pas Lebaran sudah di rumah,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Muhammad Falah dan temen wanitanya Tika Komala menjadi korban penembakan yang dilakukan empat pelaku pengendara dua sepeda motor.

Aksi penembakan terjadi di Samping Danau Rainbow Bukit Pelangi, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Selasa (9/8) malam. Korban mengalami luka tembak di pipi dan lengan kiri.

Kakek Nenek dan Cucu Warga Jalan Raya Banjaran Kabupaten Bandung Tewas Digorok Perampok

Perampokan disertai pembunuhan terjadi di Jalan raya Banjaran, Kabupaten Bandung, Jumat malam. Satu keluarga terdiri dari pasangan suami isteri dan cucunya tewas mengenaskan akibat digorok kawanan garong yang beraksi di rumah itu. Ratusan warga berkerumun ingin mengaksikan evakuasi mayat korban Apo,66, isterinya Lilis,64, serta mayat cucunya Teisha,4.

Ketiga korban ditemukan sudah tewas dan bersimbah darah dengan kondisi leher luka gorok. Polisi hingga kini masih melakukan penyelididikan dan identifikasi di lokasi kejadian. Setelah dilakukan pemeriksaan besar kemungkinan sekeluarga tewas dibantai rampok lantaran harta benda korban berupa kendaraan jenis karimun raib.

Undang,36, seorangh warga menjelaskan, terungkapnya ksus perampokan disertai pembunuhan terhadap tiga korban berawal salah seorang tetangga merasa curiga lantaran korban Apo suami Lilis, sudah dua hari tak kelihatan keluar rumah. Bahkan, aktifitas di rumah itu praktis tak ada. Saking penasaran, warga pun mencoba mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut namun tak ada jawaban. Warga setempat mulai curag, pasalnya dari dalam rumah itu tercium bau tak sedap. Saking penasaran, warga pun mencoba mendobrak pintu depan rumah korban. ” Pintu terbuka warga pun menjerit karena di dalam rumah tiga korban sudah tewas dan mulai membusuk,” katanya.

Dengan adanya peristiwa tersebut, warga pun bergegas melapor ke Polsek Bajjaran dan Polres Bandung. Sejumlah anggota yang tiba di lokasi Jumat petang sekira pukul 18.00 langsung melakukan pemeriksaan. ratusan warga mendadak tumplek di halaman rumah itu ingin melihat ketiga korban yang sudah tewas dan mulai membusuk. Dalam pemeriksaan, polisi menemukan kalau ketiga korban tewas lantaran dibantai pelaku menggunaklan gorok. ” Luka mengaga kelihat di ketiga leher korban.,”ucapnya.

Setelah empat jam melakukan olah TKP polisi mengevakuasi ketiga jenazah ke kamar mayat RSHS Bandung. ” Tubuh ketiga korban sudah mulai membusuk. warga yang melihat peristiwa itu hampir semua menutup hidung,”. Empat hari sebelum kejadian ini, Undang mengakui sempat melihat korban Apo yang tinggal Kampung Pengkolan RT 3 RW 3 Desa Banjaran Wetan Kecamatan Banjaran berdiri dihalaman. ” Tak menyangka tiga anghota keluarga tewas mengenaskan,”.

Kapolres Bandung AKBP Sony Sonjaya, menjelaskan berdasar hasil identifikasi ketiga korban dibantai pelaku lima hari lalu. pasalnya, selain ketiga korban sudah mulai membusuk, juga darah yang berceceran di dalam rumah itu sudah kering. Ketiga korban dibantai dengan cara lehernya dogorok. ” Kami menduga kuat ketiga korban dibantai kawanan garong.

Kendaraan korban jenis suzuki Karimun hilang,” kata kapolres. terkait kasus ini, Kapolres, menandaskan, ketiga korvban dibunuh perampok yang sudah kenal. ” tak ada kerusakan di rumah itu baik daun ;pintu maupun jendela. Ini membuktikan jika pelaku kenal dekat dengan korban.”

Pelakunya telah tertangkap: Baca disini kronologis dan motif pelaku yang adalah teman korban yang dibantu oknum TNI

Sekelompok Pemuda Serbu dan Menculik Anak Gadis Di Pondok Gede Dari Rumah Orangtua Karena Tidak Tahan Melihat Kecantikannya

SEKELOMPOK pemuda bersenjata pistol dan parang menyerang rumah Johanes Kerans (47) di Bekasi, Rabu (22/6) dini hari. Mereka melepaskan dua kali tembakan dan menculik anak perempuan Johanes.

Ditemui Warta Kota di rumahnya di Jalan Raya Kampung Sawah, Gang Angsana RT 07/22, Kelurahan Jatimurni, Pondokgede, Kota Bekasi, kemarin, Johanes Kerans menuturkan apa yang dialaminya.

Menurut Johanes, sekitar pukul 00.30 kemarin ia berada di kamar beserta istrinya, Melani (43). Dua anaknya, Kristin Kerans (22) dan Dedi Kerans (14), berada di kamar yang lain.

Johanes terbangun saat mendengar suara pintu rumah kontrakannya digedor dan ditendang-tendang orang. “Saya bangun dari tempat tidur. Saya bilang, iya sebentar. Baru saja saya keluar dari pintu kamar dan menyalakan lampu, pintu rumah sudah didobrak. Mereka langsung masuk dan menembak saya. Tembakan itu kena dinding dekat kamar, baru pelurunya nyerempet siku kiri saya,” ungkapnya.

Para penyerang itu bukan hanya menembaknya. Seorang di antaranya langsung mengayunkan parang hendak melukai Johanes. Lelaki asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur, ini pun buru-buru menghindar. Ayunan parang itu mengenai pintu kamarnya.

Melihat gelagat buruk, Johanes pun melangkah menuju kamar tidur kedua anaknya. Namun, sabetan parang penyerang mengurungkan langkahnya. “Maksud saya pengin menghalang-halangi mereka yang terus merangsek masuk itu. Tapi sampai di pojokan, sewaktu saya merunduk, punggung saya kena sabetan parang,” katanya.

Melani, istri Johanes, tak kalah paniknya. Ibu empat anak itu tak kuasa menahan tangis saat baku tarik dengan para penyerang yang hendak menyeret Kristin Karens. Demikian pula halnya dengan Kristin. Gadis lulusan D3 jurusan ekonomi dari Universitas Kristen Indonesia itu menangis saat diseret keluar.

Sedangkan Dedi, salah satu anak lelaki Johanes yang juga sempat diancam hendak dikepruk balok oleh gerombolan pemuda itu, akhirnya bisa lepas dari penganiayaan. “Mereka beringas, untung saya bisa menghindar,” tutur Dedi.

Sebelum kabur, salah satu penyerang kembali meletuskan pistolnya, namun tidak mengenai anggota keluarga Johanes. Sementara yang lainnya melemparkan sejumlah pot beserta tanamannya ke arah kaca depan rumah hingga kaca jendela itu pecah berantakan.

Senjata rakitan

Gerombolan pemuda itu akhirnya membawa kabur Kristin Kerans menggunakan sepeda motor. Belakangan diketahui, meraka berjumlah sembilan orang dan datang ke rumah Johanes menggunakan lima sepeda motor. Seluruh sepeda motor itu diparkir sekira 20 meter dari rumah Johanes dalam posisi siap dilarikan.

Johanes mengenali, salah satu pelaku adalah Snd (30), lelaki yang dikenal Kristin Kerans. Snd pernah melarikan Kristin selama dua bulan, dari 28 Maret 2011 hingga 1 Juni 2011. Snd sebenarnya ingin menikahi Kristin.

Aparat Polsektro Pondokgede dan Polres Bekasi Kota kini tengah melakukan pengejaran terhadap para pelaku penyerangan dan penculikan itu.

Kapolres Bekasi Kota Kombes Imam Sugianto mengatakan, pada olah tempat kejadian perkara (TKP) pihaknya menemukan sebutir proyektil peluru. Sementara sebutir peluru lainnya belum ditemukan.

“Kalau dilihat dari materi proyektil yang ditemukan, dugaan kami senjata yang digunakan para penyerang itu senjata rakitan,” ujarnya.