Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘penganiayaan’

Mayat Wanita Dengan Kedua Payudara Ditembak Ditemukan Di Pinggir Jalan Tol Kebon Nanas

April 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Mayat wanita korban pembunuhan ditemukan dalam karung di pinggir pintu tol Kebon Nanas, Tangerang, Jumat (3/4). Di tubuhnya terdapat luka sayatan dan tusukan, bahkan di kedua buah dadanya terdapat dua lubang seperti bekas tembakan.

Dede Sulaeman, 40, yang pertama kali menemukan karung berisi mayat wanita tersebut. Dede yang berprofesi sebagai satpam curiga saat melihat karung plastik teronggok di pinggir jalan. Rasa penasaran memicu warga Serpong, Tangerang, ini untuk mendekati karung berwarna putih itu. Bau anyir langsung tersengat begitu karung didekati.

“Setelah saya periksa ternyata isinya mayat,” ujar Dede yang langsung memanggil warga sekitar. Dalam sekejap, ratusan warga Kampung Kebon Mangga, Kelurahan Panungganga, Cipondoh, Tangerang, berkumpul di lokasi.

Petugas Polsekta Cipondoh yang datang ke TKP memeriksa mayat yang diperkirakan berusia antara 30-40 tahun itu. Hasil identifikasi petugas menyebutkan, korban memiliki rambut pendek, tinggi sekitar 155 cm, dengan berat badan 50 kg.

Kulitnya yang berwarna putih dihiasi sejumlah luka sayatan dan tusukan. Terkait dua lubang di kedua buah dadanya yang seperti luka bekas ditembak, Kapolsek menegaskan kalau luka tersebut akibat terkena senjata tajam. “Itu luka tusuk, kalau ditembak lukanya akan tembus ke belakang,” jelasnya.

Ia menambahkan, korban diduga dibunuh di tempat lain setelah itu jasadnya yang dikemas dalam karung dibawa menggunakan mobil lalu dilempar dari atas tol. .”Saat ini kami masih mengusut identitas korbannya setelah itu baru mengarah ke pelaku,”jelasnya.

Guna keperluan penyelidikan, jasad wanita malang itu selanjutnya dibawa ke RSUD Tangerang untuk diautopsi. Kapolsek mengimbau warga yang merasa kehilangan keluarganya agar melapor ke Polsek atau melihat mayatnya di RSUD.

Kategori: kekerasan pada wanita · pembunuhan · penganiayaan

Pembunuh dan Pemerkosa Mayat Agen Model Ditangkap

Maret 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hendi Lesmana (23), mantan pembantu yang membunuh Hanny A Wahab (53), ditangkap polisi di tempat persembunyian di Desa Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (16/3) siang. Sebelumnya Hendi yang dibantu Rahmatullah (22) melarikan diri ke Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

”Saya membunuh karena sakit hati sering dimarahi. Saya dianggap tidak bisa masak dan melakukan tugas dengan baik. Sekarang saya menyesal, nikmatnya ngggak seberapa tapi bayarnya lama dipenjara.” kata Hendi di Kepolisian Resor (Polres) Jakarta Barat, Selasa.

Lokasi persembunyian Hendi, ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Barat Komisaris Suyudi Ario Seto, berada di perkampungan terpencil.

”Mobil tidak bisa menjangkau ke sana. Sungguh sulit mencapai tempat persembunyian Hendi di rumah kerabatnya,” ujar Suyudi.

Menurut Suyudi, saat disergap, Hendi sempat berusaha melarikan diri. Hendi dan Rahmatullah bersembunyi tidak jauh dari kampung halaman di Desa Sukakerta, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur.

Hendi, yang berperawakan kecil dengan tinggi sekitar 155 sentimeter, membunuh Hanny A Wahab, mantan majikannya, Rabu (11/3) selepas tengah malam. Hendi sekitar pukul 22.30 sudah mengintai dan bersembunyi di dalam rumah untuk merampok harta benda Hanny.

Saat tiga orang tamu Hanny pamit pada pukul 23.00, Hendi dengan sabar menunggu di dalam rumah. Di luar rumah, Rahmatullah menunggu.

”Saat tengah malam dia beraksi. Rumah sudah sepi dan pembantu (Amir) sudah pulang. Dia mengambil tas, empat telepon genggam, dan play station milik mantan majikan,” kata Wakil Kepala Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Yazid Fanani.

Namun, lanjut Yazid Fanani, Hendi mendapat gagasan untuk membunuh mantan majikan yang sudah dua kali memecat lalu menerimanya bekerja kembali itu.

Dipukul alu

Hendi pergi ke dapur untuk mengambil alu penumbuk padi. Berbekal alu itu, dia menghantam dada dan bagian belakang kepala Hanny di kamar tidurnya.

Seusai membunuh, Hendi mengaku meniduri jasad Hanny. Berdasarkan visum, polisi menemukan bercak sperma pada tubuh korban.

Hendi juga memotret mayat Hanny dengan menggunakan telepon genggam. Selanjutnya, Hendi kabur meninggalkan rumah Hanny di Kompleks Inter Kota Blok B 5 Nomor 24-25 dengan ditemani Rahmatullah ke Cirebon sekitar pukul 01.00. Jenazah Hanny ditemukan putranya, Aat (17), di atas tempat tidur sekitar pukul 06.30.

Hendi bersama Rahmatullah, berbekal uang dan telepon genggam yang dirampok dari rumah Hanny, kabur pertama-tama ke Cirebon. Mencium gelagat ada polisi yang memburu, mereka pun kabur

Alu kayu berukuran panjang 70 sentimeter, bantal berdarah, celana dalam wanita dan daster, serta potongan kuku dijadikan barang bukti polisi.

Uang sebesar Rp 730.000, selembar uang riyal Arab Saudi, dua telepon genggam Nokia, dan anak kunci yang tersisa dari perampokan Hendi dijadikan barang bukti kejahatan.

Pembunuh

Yazid Fanani menambahkan, Hendi sebagai pelaku tunggal pembunuhan dan pemerkosaan serta perampokan dijerat pasal berlapis.

”Untuk pembunuhan, dia bisa dijerat penjara seumur hidup. Belum lagi tuntutan pencurian dengan kekerasan dan pemerkosaan semakin memperberat tuntutan terhadap dia. Tersangka kini dituntut Pasal 338, 340, dan 365 KUHP,” katanya.

Sedangkan terhadap Rahmatullah, polisi menjeratnya dengan Pasal 480 KUHP dengan tuntutan menadah hasil kejahatan

Kategori: kekerasan pada wanita · pembunuhan · pemerkosaan · penganiayaan · perampokan

Siswa SMU Babak Belur Dihajar Teman Karena Punya HP Bagus dan Polisi Menyalahkan Orangtua Siswa Karena Memberikan HP Bagus Buat Anak

Maret 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Telepon genggam keren bisa membawa petaka. Lantaran menggunakan telepon genggam yang dianggap paling bagus di sekolahnya, Danang (17), siswa sebuah sekolah menengah atas di kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, malah babak belur dihajar lima temannya.

Untuk ukuran Jakarta, telepon seluler (ponsel) Nokia tipe 5320 klasik dengan kamera 3,2 megapiksel barangkali tak dilirik orang. Banyak ponsel-ponsel yang lebih mutakhir dan keren lainnya di Ibu Kota. Namun, untuk ukuran Kecamatan Ampel, Boyolali, ponsel seperti itu sudah dianggap paling mentereng dan memancing kecemburuan.

Aga (19) dan Fauzan (17), teman satu sekolah Danang, jadi tertarik ingin memiliki ponsel itu. Akhirnya keduanya menyusun rencana bersama tiga temannya yang lain, termasuk Sulung (19) yang memendam sakit hati lantaran wanita pujaan hatinya pernah direbut Danang.

Mereka mengajak Danang minum minuman keras dan mendatangi lokalisasi Sarirejo, Salatiga, Sabtu (7/3). Setelah mabuk, mereka lalu membawa Danang ke kompleks pekuburan di Ambarawa (Kabupaten Semarang) menaiki mobil Toyota Avanza warna metalik milik Aga. Setiba di sana, Danang diturunkan dan dipukuli hingga luka parah di bagian lengan dan wajah babak belur dihantam potongan bambu.

”Tadinya sempat mau dibunuh sekalian, dilempar ke Kali Tuntang, tetapi enggak tega soalnya niat kami hanya mau ambil HP-nya aja,” kata Fauzan yang ditemui di Markas Polres Salatiga, Selasa (10/3).

Setelah puas menghajar Danang dan menyikat ponsel serta dompet miliknya, dia lalu diturunkan di Kalicacing, Sidomukti, Salatiga. Keluarga korban lalu melaporkan kejadian itu kepada kepolisian.

”Sementara ini alasan mereka (mengerjai Danang) memang karena tertarik dengan HP yang, menurut mereka, paling bagus di sekolah. Kami masih mengejar tiga pelaku lainnya,” kata Kepala Polres Salatiga Ajun Komisaris Besar Agus Rohmat.

Menurut dia, kejadian ini juga harus menjadi pelajaran. Orangtua tidak perlu membelikan ponsel terlalu bagus bagi anak mereka yang masih sekolah. Hanya gara-gara memancing iri, ponsel bagus itu pun malah membawa petaka

Kategori: kebodohan · kejahatan anak · penganiayaan · perampokan · polisi korup

Marcella Somasi Roy Suryo Karena Berhasil Mengangkat Kembali SMS dan Video Rekaman Penyiksaan Yang Telah Dihapus Marcella Dari Handphonenya

Desember 13, 2008 · & Komentar

Marcella Zalianty (MZ) melalui pengacaranya, Minola Sebayang, mensomasi pakar telematika Roy Suryo. Somasi ini buntut dari aksi Roy membeberkan bukti-bukti di handphone (HP) kepada publik.

“Kami menolak seluruh kesaksian Roy Suryo dan kami tunggu 3x 24 jam, kalau dia tidak meminta maaf saya kami akan mensomasinya. Roy itu bersengkongkol dengan Agung, karena tadi dia (Roy, red) bilang sama saya pas malam Idul Adha ketemu dengan pengacara Agung, Malik Bawazier,” cetus Minola, Jumat (12/12).

Minola meyesalkan Roy memberikan pernyataan di tengah penyelidikan. “Ini benar-benar dia mengabaikan azas praduga tak bersalah,” cetusnya.

Menganggapi somasi itu, Roy Suryo mengemukakan itu (somasi) bukti ketidaksiapan pihak MZ terhadap bukti-bukti yang ada. “Biarkan saja kalau mau disomasi. Itu hanya reaksi ketidak siapan saja terhadap perkembangan teknologi yang bisa mengangkat file-file yang sudah dihapus. Saya bicara sesuai fakta,” ujarnya kepada Pos Kota.

Dalam waktu 2 jam, Roy menemukan 8 foto adegan penyekapan pada 3 Desember mulai pukul 02:35 hingga pukul 02:54 WIB, dari ponsel N 70 dan SE K550i milik karyawan MZ, H dan R yang jelas-jelas itu terbukti bentuk penganiyaan yang dialami Agung Setiawan. Selain itu, dirinya menemukan rangkaian SMS yang dimulai dari MZ, AM dan para eksekutor Agung.

“Foto-foto tersebut tidak pantas diceritakan. Soal SMS-SMS tersebut sudah ada 2 hari sebelum kejadian, bahkan setelah kejadian pun ada. Yang paling mencengangkan ada SMS dari MZ yang berbunyi ‘Bego kenapa Agung dikasih HP’. Untuk membuktikan semua ini perlu ahli bahasa,” ungkapnya.

BELUM DIPINDAH
Secara terpisah, Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Pol Ike Edwin mengatakan dari hasil penyidikan, telah mendapatkan bukti kuat berupa hasil foto HP yang telah dihapus tersangka. “Iya, sudah dibuka isi filenya dan bukti itu dapat dijadikan dalam penyidikan nantinya.”

Dia juga mengemukakan pemeriksaan terhadap Marcella belum tuntas. Karena itu, pihaknya belum dapat memindahkan Marcella ke Rutan Pondok Bambu. Bintang sinetron ‘Belahan Jiwa’ tersebut bersama Ananda Mikola masih berada di lantai 2 Reskrim Polres Jakarta Pusat.

Di tempat berbeda, adik Marcella, Olivia Zalianty, menemui Menpora Adyaksa Dault. Olivia menegaskan pertemuan itu bukan dimaksudkan untuk meminta dukungan menpora kepada Marcella.

Kategori: internet · kebodohan · kejahatan terorganisasi · pelanggaran HAM · penculikan · penganiayaan · selebriti psikopat

Marcella Zalianty Akhirnya Dikirim Ke Penjara

Desember 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah diperiksa di kantor Kepolisian Resor Jakarta Pusat sejak Kamis pekan lalu, aktris Marcella Zalianty, yang menjadi tersangka kasus penganiayaan, akan dititipkan di Rumah Tahanan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur.

“Belum pasti kapan, tapi akan dititipkan,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Pusat Komisaris Suwondo Nainggolan kemarin.

Marcela dititipkan di Pondok Bambu karena Polres tidak memiliki ruang tahanan khusus perempuan.

Meskipun sudah resmi ditahan, Marcella memang belum sempat mendekam dalam tahanan karena masih diperiksa polisi. “Ini semua untuk kepentingan penyidikan. Nanti, kalau tidak diperlukan lagi, akan kami titipkan. Kalau butuh, ya, kami jemput,” ujar Suwondo.

Sampai kemarin polisi telah menahan tujuh tersangka kasus penculikan dan penganiayaan terhadap Agung Setiawan. “Surat penahanan sudah ada,” kata Suwondo. Ketujuh tersangka itu adalah Marcella Zalianty, Ananda Mikola, tiga karyawan PT Kreasi Anak Bangsa, yaitu Ruli Hasbi, Yoga Mega Permana, dan M. Harianto, serta Egi (adik Marcella) dan Lasya (asisten pribadi Marcella). Suwondo enggan menerangkan lebih lanjut perihal keterlibatan para tersangka.

Agung adalah kontraktor yang diminta Marcella merombak kantornya pada Februari lalu. Tapi ia dianggap gagal memenuhi janji, sehingga ada sejumlah barang yang dikembalikan dan harus diganti dengan uang Rp 30 juta. Marcella menilai Agung tidak mau membayar utang sehingga terjadilah penganiayaan itu.

Pengacara Marcella menyatakan aktris dan produser film itu tidak pernah memerintahkan anak buahnya menyerang Agung. “Tidak ada instruksi penjemputan, karena Marcella baru minta pengecekan apakah Agung ada di Menara Imperium,” kata pengacaranya, Minola Sebayang.

Agung dicari-cari lantaran sudah dua bulan tidak bisa dihubungi. Karyawan yang disuruh mencari ternyata menemukan Agung di Menara Imperium. Sang karyawan lalu melaporkan penemuan Agung. Laporannya diterima via telepon oleh Lasya, asisten Marcella. Lasya meminta agar sang perancang interior tidak dibiarkan pergi.

Agung malam itu lalu dibawa ke Hotel Ibis Tamarin di Jakarta Pusat dan disiksa. “Tapi sebenarnya tidak ada perintah dari Marcella,” kata Minola.

Keesokan paginya, Agung baru dipertemukan dengan Marcella di kantornya. Di situlah terjadi pemukulan yang, menurut Agung kepada polisi, dilakukan Ananda Mikola.

Menurut Minola, karena disuruh melunasi utangnya, Agung kemudian menelepon ibu dan kakaknya. Minola membantah tuduhan soal penyekapan di kantor Marcella.

Pengacara Ananda Mikola, Heri Subagyo, juga membantah pengakuan Agung yang menyatakan bahwa kliennya ikut memukul dan menendang. Meski dua kali datang ke kantor Marcella, Ananda mengaku tidak menyentuh korban. YUDONO | ISTIQOMATUL HAYATI | SOFIAN | TITO SIANIPAR

Dari Selembar Kontrak…

Setelah filmnya, Lastri, dicekal Front Pembela Islam saat pengambilan gambar di Solo bulan lalu karena dianggap menyebarkan komunisme, aktris sekaligus produser Marcella Zalianty kini menjadi tersangka penganiayaan terhadap Agung Setiawan, kontraktor yang diorder mengerjakan interior kantornya. Marcella menilai Agung melakukan pelanggaran kontrak.

Kasus ini juga melibatkan pacarnya, pembalap Ananda Mikola; tiga karyawannya, Ruli Hasbi, Yoga Mega Permana, dan M. Harianto; adiknya, Egi; serta asisten pribadinya, Lasya.

Februari 2008
Marcella Zalianty meminta Agung Setiawan mengerjakan interior kantornya dengan kontrak senilai Rp 200 juta. Marcella ternyata tak puas dengan hasil kerja Agung.

22 September 2008
Di depan pengacara Juanda, SH, Agung dan Marcella meneken kontrak kesepakatan. Isinya, Agung siap mengembalikan Rp 30 juta lebih karena pembelian barang yang tidak sesuai pada 25 November 2008 dan 28 Desember 2008.

3 Desember 2008
Pukul 01.00 WIB, Agung, yang tengah berada di Menara Imperium, didatangi beberapa pria. Agung dalam keterangan kepada polisi mengatakan ia diculik lalu disekap di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta Pusat, dan dianiaya.

Siang harinya, dari hotel, Agung dibawa ke kantor Marcella di Cikini, Jakarta. Agung mengaku dipukul oleh Ananda, disaksikan Moreno dan Marcella. Agung sempat mengirim SMS ke temannya, yang kemudian menghubungi pengacara dan polisi. Malam harinya, polisi memeriksa beberapa saksi.

4 Desember 2008
Ananda, Moreno, Marcella, dan tiga karyawannya diperiksa polisi. Mereka lalu ditetapkan sebagai tersangka, kecuali Moreno.

Kategori: kejahatan terorganisasi · penculikan · penganiayaan · psikopat · selebriti psikopat

Marcella Zalianty Menonton Secara Langsung Lewat Bluetooth Penyiksaan, Penelanjangan, Pemerkosaan dan Minum Sperma Dari Korban Yang Ia Culik Hanya Karena Berhutang

Desember 6, 2008 · 1 Komentar

Polisi masih memeriksa pembalap Ananda Mikola dan aktris Marcella Zalianty sampai tadi malam dalam kasus penculikan dan penganiayaan desainer interior Agung Setiawan. “Mereka sedang menjalani pemeriksaan tambahan,” kata Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Ike Edwin.

Keduanya bersama tiga orang lainnya sudah diperiksa lebih dari 24 jam sebagai tersangka. Ananda, 28 tahun, dan Marcella, 28 tahun, bersama tiga karyawan Marcella ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis lalu. Tiga karyawan itu adalah M. Harianto, Yoga Mega Permana, dan Ruli Hasbi.

Tadi malam, dua lagi karyawan Marcella dijadikan tersangka. Ananda adalah putra bekas pembalap nasional Tinton Soeprapto. Moreno Soeprapto, adik kandung Ananda, sempat diperiksa sebagai saksi. Ananda dan tiga karyawan Marcella dijerat Pasal Pemaksaan Kehendak dan Penculikan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Marcella dituduh merampas kemerdekaan seseorang, menyandera, serta melakukan perbuatan tak menyenangkan.

Pengacara korban, Petrus Balla Pattyona, mengatakan mestinya polisi menahan para tersangka. “Semua unsur untuk segera menahan para pelaku sudah tercukupi,” katanya. Marcella dinilainya mengendalikan penculikan dan penganiayaan terhadap kliennya.

Menurut dia, ada bukti percakapan telepon antara Marcella dan para karyawannya itu. “Semua aktivitas anak buah Marcella dikoordinasikan dengan Marcella melalui hubungan telepon.” Bahkan gambar ketika Agung disiksa ditransfer via Bluetooth ke telepon seluler Marcella.

Polisi belum menerbitkan surat penahanan. Tapi seorang penyidik memberikan isyarat bahwa mereka bakal ditahan. “Mereka pulang nggak sekarang? Ini udah lewat jamnya (pemeriksaan sebagai tersangka),” kata penyidik kepada Tempo.

Pengacara Marcella, Minola Sebayang, dan Heri Subagyo, pengacara Ananda, menyatakan belum menerima surat penahanan klien mereka. “Kami terpikir mengajukan penangguhan penahanan,” ujar Heri kepada Tempo kemarin petang.

Minola menjelaskan, Hari, Yoga, dan Ruli memang karyawan Marcella. Kliennya tak pernah menyuruh mereka menganiaya Agung. Ketiganya “bertindak” karena kesal lantaran Agung memberikan alamat fiktif dalam kontrak. “Apalagi ketika tahu Agung sedang karaoke di Menara Imperium,” katanya.

Semua itu bermula dari kisah Agung yang berutang kepada PT Kreasi Anak Bangsa, yang dipimpin Marcella, sebesar Rp 54 juta. Utang ini muncul ketika ia menggarap interior kantor PT Kreasi di gedung Central Cikini Nomor 58 W-X, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Diduga, gara-gara itulah ia “dijemput” karyawan Marcella dari Menara Imperium, Kuningan, lalu dianiaya dan diperlakukan tak senonoh di Hotel Ibis Tamarin, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, pada Rabu dinihari lalu. Agung mengaku dipukul, ditelanjangi, difoto, lalu duburnya dimasuki sendok. “Saya juga disuruh meminum sperma,” ucapnya dua hari lalu.

Tinton Soeprapto menyatakan Ananda tak berada di hotel tempat Agung dianiaya. “Kalau dia berniat mau berantem, tak mungkin pakai baju batik,” ujarnya.

Kemarin tim pengacara korban dan Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid menyerahkan bukti rekaman CCTV di Menara Imperium kepada Markas Besar Polri. “Kepala Bareskrim (Komisaris Jenderal Susno Duadji) berjanji mengawal kasus ini,” ucap Usman.

KURSUS KEPRIBADIAN MARCELLA ZALIANTY TIDAK MENGUBAH BANYAK TABIATNYA

Kasus penganiayaan yang menyeret Marcella Zalianty membuat produksi film layar perak berjudul Lastri terhambat. Apalagi belum ada kepastian kapan pemeriksaan oleh polisi bakal tuntas.

Posisi putri aktris senior Tety Liz Indriati tersebut memang menentukan karena ia adalah produser sekaligus pemeran utama film yang disutradarai Erros Djarot itu. “Agenda yang jelas terganggu adalah pembuatan film Lastri,” kata Sheila, manajer Marcella, ketika dihubungi di Jakarta kemarin.

Sebelumnya, pembuatan Lastri tersendat perizinan di Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Sheila pun sedang berembuk dengan tim produksi Lastri untuk mengantisipasi persoalan ini.

Marcella bersama kekasihnya, Ananda Mikola, dan tiga karyawan Marcella menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Agung Setiawan. Marcella, kelahiran Jakarta, 7 Maret 1980, diancam pasal perampasan kemerdekaan seseorang, penyanderaan, serta perbuatan tak menyenangkan. Agung adalah bekas desainer interior kantor PT Kreasi Anak Bangsa di gedung Central Cikini Nomor 58 W-X, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, yang dipimpin Marcella.

Kasus itu dilatarbelakangi utang Agung kepada PT Kreasi sebesar Rp 54 juta. Agung melaporkan, ia “dijemput” karyawan Sheila, lalu dianiaya dan diperlakukan tak senonoh di Hotel Ibis Thamrin pada Selasa malam lalu. Esok harinya, Agung bertemu dengan Marcella dan Ananda di PT Kreasi.

Nama Marcella, putri pertama pasangan Gozali Amran-Tety Liz Indriati, melambung setelah sukses di dunia sinetron dan membintangi film, seperti Bintang Jatuh, Eliana Eliana, dan Brownies. Bahkan ia dianugerahi Pemeran Perempuan Terbaik oleh Festival Film Indonesia 2005 dalam film Brownies.

Ibunya beberapa kali membintangi film, di antaranya Barang Antik (1983), Hatiku Bukan Pualam (1985), dan Takdir Marina (1986). Olivia Zalianty, adik Marcella, juga aktris film dan sinetron. Tety pernah mengatakan sifat maskulin Marcella muncul ketika kecil sehingga ia mendaftarkannya ke kursus kepribadian dan perlombaan model tapi ternyata tidak banyak mengubah kepribadiannya.

ANANDA NIKOLA SANG PEMBALAP NASIONAL DARI HERO KE ZERO

Jika kasus hukum yang melilit Ananda Mikola tak juga selesai, pembalap Formula A1 itu terancam batal mengikuti 10 seri balap Super Star, yang mulai berlangsung pada Februari 2009. “Bisa saja batal,” kata Tinton Soeprapto, ayah Ananda, kepada Tempo kemarin. Super Star adalah arena bagi para pembalap yang tidak bisa mengikuti Formula 1 dan juga World Series.

Menurut Tinton, Ananda tak bisa diganti dalam ajang ini karena pesertanya harus memiliki lisensi A Eropa. Padahal dialah satu-satunya pembalap Indonesia yang memiliki lisensi itu. “Tidak ada yang bisa gantikan Nanda,” katanya.

Ananda Mikola Soeprapto–lahir di Jakarta, 27 April 1980–pertama kali mengikuti lomba balap pada 1993, ketika usianya baru 13 tahun, dengan kendaraan Honda V-Tech Grup N. Pembalap favoritnya adalah mendiang Ayrton Senna, juara dunia tiga kali Formula 1 asal Brasil.

Kata “Mikola” di belakang nama Ananda diadopsi dari nama pereli veteran dan mantan juara dunia Hannu Mikola. Tinton Soeprapto, yang pernah menjadi navigator Hannu Mikola dalam kejuaraan reli di Indonesia pada 1976, sangat terkesan dengan pembalap Finlandia itu sehingga memakai Mikola sebagai nama belakang Ananda.

Nanda–begitu Ananda Mikola biasa dipanggil–bercita-cita ingin tampil di Formula 1, arena balap paling bergengsi di dunia. Bakat balapnya sudah ia perlihatkan ketika masih kanak-kanak dan berkali-kali menjuarai lomba balap sepeda BMX pada 1986.

Ananda tampil di Formula 3.000 pada 1999 hingga 2001. Pada musim lomba 2005, dia menjuarai Asian F3. Ananda ikut membela tim A1 Indonesia di arena A1 GP selama dua musim, yaitu 2005/2006 dan 2006/2007. Pada 2008 ini, Indonesia diwakili Satrio Hermanto.

Di arena Speed Car–arena balap yang mirip balapan Nascar di Amerika–Ananda tampil di empat seri di Uni Emirat Arab, Bahrain, Indonesia, dan Malaysia. Lomba ini digelar pada akhir 2007 hingga pertengahan 2008. Di Sirkuit Sentul, Ananda menempati urutan ketiga. Juni lalu, Ananda berada di urutan ketiga Formula 3.000 di Italia.

“Saya bangga pada Ananda karena dia selalu memberikan prestasi buat saya,” kata Tinton. Entah kasus penculikan dan penganiayaan berat ini termasuk prestasi atau tidak menurut Tinton.

Kategori: kebodohan · kejahatan terorganisasi · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · psikopat · selebriti psikopat

Pembalap Ananda Mikola dan Artis Marcella Zalianty Ditangkap Polisi Terkait Aksi Kekerasan dan Penganiayaan Berat

Desember 4, 2008 · & Komentar

Ananda Mikola digelandang aparat Unit Resmob Polres Jakarta Pusat tadi malam. Pembalap nasional itu dikenai tuduhan mengotaki aksi kekerasan kawanan debt collector. Hingga menjelang tengah malam tadi, Ananda masih menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Unit Resmob Polres Jakpus.

Berdasar informasi yang dihimpun Indo.Pos, korban yang bernama Agung Setiawan dibawa Nikola cs Selasa (2/12) sore dari sebuah kafe di Menara Imperium, Jalan Rasuna Said, Jaksel. Dari kafe itu, Agung digiring ke sebuah kamar di Hotel Ibis, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Di kamar hotel tersebut Agung sempat dianiaya. Bukan hanya itu. Di kamar hotel yang sama, Agung sempat dipaksa menari striptis sambil bugil. Bahkan, dia sempat dilempari uang oleh para pelaku layaknya artis cabul di luar negeri. Hampir 24 jam korban disekap di kamar hotel itu. ”Agung sudah dipukul saat dibawa dari kafe di Menara Imperium,” ujar sebuah sumber di Polres Jakpus.

Penjemputan paksa korban oleh para tersangka bukan tanpa alasan, justru melibatkan artis sinetron Marcella Zalianty. Kabarnya, korban berutang ratusan juta rupiah kepada Marcella, namun tak kunjung melunasi. Marcella yang memang berkawan dengan Ananda mengadukan hal itu. Lantas, Ananda menawarkan jasa baik untuk menagih ke korban dengan memanfaatkan empat orang kawannya sebagai debt collector. Tawaran Mikola itu pun disambut Marcella. Maka, meluncurlah keempat kawan Nikola untuk menagih utang dengan berbagai cara kepada korban.

Beruntung, saat korban menghadapi berbagai bentuk ‘’siksaan” pelaku di kamar Hotel Ibis, korban sempat mengirim pesan singkat melalui ponselnya ke ponsel rekannya yang bernama Chichi. Chichi cepat tanggap dan langsung melaporkan ke aparat Polres Jakpus. Polisi langsung bergerak. Tujuh personel resmob dikirim ke hotel tersebtu dan berhasil mengamankan korban berikut pelakunya ke Polres Jakpus.

Ironis. Berdasar keterangan keempat pelaku kepada penyidik, Ananda Mikola-lah yang menyuruh mereka menyekap dan menyiksa korban. Saat itu juga Ananda dicokok polisi dari hotel yang sama, namun berbeda kamar dengan lokasi kejadian.

Kasatreskrim Polres Jakpus Kompol Suwondo Naenggolan saat dihubungi mengatakan, tempat kejadian perkara (TKP) benar di Menara Imperium dan Hotel Ibis. ”Sekarang kami memeriksa keempat pelaku dan Ananda Mikola. Semua kami periksa secara terpisah agar dapat keterangan yang benar, sekaligus menentukan hubungan antara kejadian, pelaku, dan pembalap itu. Pokoknya semua masih kami dalami,” terangnya.

Senada dengan Kasatreskrim, Kapolres Jakpus Kombespol Ike Edwin sempat memberikan keterangan kepada wartawan bahwa pihaknya memang memeriksa Ananda. ”Sementara ini tuduhannya pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan berat. Tapi, tunggu pemeriksaan penyidik selama 1 x 24 jam. Baru setelah itu kami tentukan tersangka. Soal keterkaitan artis Marcella, nanti kami panggil untuk diperiksa,” tuturnya.

Ayahanda Ananda, Tinton Suprapto, tadi malam sekitar pukul 20.00 sempat menengok anaknya selama satu jam. Namun, sayang, Tinton tak mau memberikan keterangan secuil pun kepada wartawan

Kategori: kejahatan terorganisasi · pelanggaran HAM · penganiayaan · selebriti psikopat

Terjadi Lagi … Wanita Muslim Indonesia Diperkosa, Dipenjara Serta Dicambuk Di Arab Saudi

November 24, 2008 · 1 Komentar

Sosok bocah cantik yang bermain di halaman sebuah rumah berdinding keramik pada Kamis (20/11) siang itu, tampak berbeda dari teman-teman sepermainannya. Bocah itu berumur 18 bulan dengan badan gemuk, kulit putih bersih, rambut berombak indah dan hidung mancung. Wajah kearab-araban bocah bernama Rani Dwi Lestari ini gampang dibedakan dengan wajah khas Jawa teman-teman sebanya.

Memang, Rani yang tinggal bersama ibu kandung dan ayah angkatnya di Desa Wringin Telu, Kecamatan Puger, Jember ini berdarah campuran: Jawa dan Arab. Lalu kenapa bocah itu bisa berada di Puger, yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Jember?

Rani memang anak kandung dari –sebut saja– Nur, 38. Namun Wagiman, 40, yang telah menjadi suami Nur selama 20 tahun terakhir, bukanlah ayah kandung Rani. Nur mengandung Rani setelah dia diperkosa oleh keponakan majikannya saat bekerja di Jeddah, Saudi Arabia. Sejak tiga minggu lalu, Rani menginjak Indonesia dan kemudian tinggal bersama ibunya di Puger.

Nurs menuturkan, dia mulai pergi ke Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) pada April 2006 lewat PT AG yang berada di Malang. Setahun pertama Nur di Saudi tidak ada masalah. Komunikasi terus berjalan dengan keluarga di Puger, dan bahkan setelah 5 bulan bekerja ia bisa mengirimkan uang Rp 4,2 juta.

Tapi setelah itu komunikasi terputus. Keluarga baru mengetahui kondisi Nur pada Februari 2008 dari kabar lewat sepucuk surat yang ditulis teman Nur di Saudi. Surat itu membuat keluarga di Puger kaget. Sebab, isinya memberitahu bahwa Nur sedang dipenjara di tahanan khusus wanita Ar Ruwais Woman Detention Centre di Jeddah karena perbuatan asusila. Dia dikenai hukuman dua tahun plus hukuman cambuk.

Nur menuturkan, pemenjaraannya berawal ketika dirinya melahirkan Rani pada April 2007 lalu. Nur melahirkan Rani di rumah majikannya Abdullah M Argani di kota Jeddah. Tidak ada yang tahu dirinya melahirkan, namun suara bayi membuat seisi rumah kaget. Penghuni rumah itu akhirnya mengetahui bahwa Nur melahirkan seorang bayi perempuan.

Kelahiran anak Nur itu tentu membuat majikannya kalang kabut. Majikannya lantas menuduh Nur telah berzina dengan orang tidak dikenal. “Padahal, saya sudah berulangkali mengaku bahwa saya diperkosa, dan yang memperkosa itu keponakan juragan sendiri,” tutur Nur dengan polos saat ditemui Surya.

Tetapi, tak satupun keluarga juragannya mempercayai ceritanya. Nur tak menyangka, juragannya yang dia kenal baik dan tidak pelit itu, akhirnya harus melaporkan dirinya ke aparat kepolisian. Karena tuduhan berbuat zina, Nur akhirnya dihukum penjara usai empat hari berada di rumah sakit untuk perawatan kelahirannya. “Saya harus membawa bayi saya karena tidak ada yang mau merawat. Jadi, sejak bayi merah, Rani sudah menemani saya di penjara,” kata Nur sambil agak menerawang.

Untunglah, selama di penjara bayinya mendapatkan perawatan cukup memadai. “Saya bisa meminuminya ASI. Oleh pihak penjara, anak saya juga diberi susu kaleng dan imunisasi rutin. Jadi anak saya sehat,” kata Nur.

Meski berada di penjara, Nur melewati hari-harinya dengan cukup terhibur dan penuh kesibukan karena kehadiran Rani. Suasana berubah ketika hari pelaksanaan hukuman cambuk tiba. Sesuai aturan hukum di Saudi, mereka yang terjerat kasus perkosaan dikenai hukuman cambuk dengan rotan. Dan untuk kasus Nur, dia terancam 2.000 kali cambukan yang mesti dicicil selama 2 tahun.

Nur kemudian bisa berkirim surat ke suami dan keluarganya di Puger. “Saya bilang bahwa saya mempunyai anak karena diperkosa keponakan majikan. Saya minta suami saya untuk menikah lagi. Ternyata dia tidak mau dan akan menunggu saya,” kata Nur, yang mengaku bangga dengan suaminya.

Setelah pihak LSM buruh migran Indonesia mendapatkan info tentang Nur dari para buruh di Saudi, nasib Nur mulai terpantau pemerintah Indonesia. Dan hukuman 2.000 kali cambukan, akhirnya cuma didapatkannya sebanyak 50 kali. “Ada sejumlah wanita Indonesia lainnya yang menjalani hukuman di Ar Ruwais,” ucap Nur.Pada akhir Oktober lalu, Nur dibebaskan. Tak mau berurusan lebih panjang jika harus menggugat keponakan majikannya, Nur memutuskan segera pulang ke Indonesia.

Sempat Nur ingin memberikan Rani kepada orang Saudi yang berminat. Tapi, justru keluarga dan suaminya di Puger memberi dukungan dan siap menerima kedatangan Nur bersama bayinya. “Suami saya berpesan agar Rani ikut dibawa pulang. Suami saya sangat menerima. Itu yang menguatkan saya untuk menerima keadaan ini dengan pasrah,” kata Nur.

Dari pernikahannya dengan Wagiman, Nur dikarunai tiga anak, yang sudah beranjak remaja. “Saya terharu karena justru suami dan keluarga di sini sangat sayang pada Rani. Tak bisa saya bayangkan jadinya andaikata Rani saya serahkan pada orang Saudi yang menginginkan dia,” ucap Nur

Kategori: kekerasan pada wanita · pelecehan seksual · pemerkosaan · penganiayaan · perzinahan

Pembantu Disergap Orang Tidak Dikenal dan Diperkosa Selama Tiga Hari Tanpa Diberi Makan

November 15, 2008 · 1 Komentar

Malang nian nasib Sum, gadis pembantu rumah tangga asal Semarang, Jawa Tengah ini. Disuruh belanja majikan ke supermarket, malah diculik dua pria bertopeng di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Cilandak, Jakarta Selatan. Selama tiga hari dalam sekapan pelaku, korban secara terus menerus diperkosa bergilir di rumah kosong.

Gadis berusia 20 tahun itu saat ini masih trauma. Ketika dijumpai di rumah majikannya di Jalan H.Mandor, Cilandak Barat, ia langsung menangis dan menolak diwawancarai. “Dia sangat trauma. Kami menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini ke polisi,” kata majikan korban, Ny.Wayan Dasning, Jumat (14/11).

Kata Supardi, 50, tetangga korban, peristiwa yang menghancurkan masa depan Sum terjadi Minggu (9/11) sekitar pukul 09.30. Mengutip keterangan dari pembantu tetanganya, Supardi menyebut, saat itu Sum berjalan kaki menuju Giant Hypermart sekitar satu kilometer dari rumah majikan. Ketika melewati Jalan Taman Wijaya Kusuma, tiba-tiba sebuah mobil Toyota Kijang warna biru memepetnya. Dalam hitungan detik, salah seorang pria langsung menyeretnya masuk ke kendaraan roda empat tersebut. Korban pun dibawa kabur para pelaku.

Di dalam mobil, korban diikat,  matanya ditutup pelaku dan ditelanjangi para pelaku. Mereka membawa kabur Sum ke suatu tempat yang tidak diketahui korban. “Di tempat inilah, para pelaku menodai korbannya,” kata Supardi berdasarkan pengakuan Sum.

Selama dalam penguasaan penculik, pembantu asal Semarang (Jawa Tengah), itu tidak diberi makan. Ia hanya diberi air putih. Selain itu, korban juga diancam akan dibunuh jika berani berteriak dan tidak mau melayani mereka. Setelah puas memperkosa sum, pelaku kemudian membebaskan Sum dan membuangnya di pinggir Jalan Raya Fatmawati pada Selasa (11/11) malam. Ia ditolong warga yang curiga melihat ada seorang perempuan yang terlihat kelelahan dan merintih kesakitan.

Menurut Supardi, para pelaku juga mengambil HP milik Sum dan uang Rp300 ribu yang sedianya untuk belanja. Kapolsek Cilandak, Kompol Makmur Simbolon yang dihubungi wartawan menyatakan, pihaknya masih mengembangkan kasus ini termasuk memburu pelaku.

Kategori: kekerasan pada wanita · pelecehan seksual · pemerkosaan · penganiayaan

Makin Hari Wanita Semakin Bengis dan Sadis – Karena Senggolan Seorang Wanita Dipukuli Habis Habisan Oleh 4 Wanita

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Senggolan joget di arena musik dangdut, janda muda baku hantam dengan cewek pengunjung diskotek. Duel yang berlanjut jambak-jambakan itu tentu saja menjadi tontonan pengunjung lainnya.

Pertengkaran yang membuat heboh pengunjung diskotek di Jalan Pramuka Raya, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, terjadi Selasa (11/11) dinihari. Belum puas dengan adu fisik di dalam ruangan, di luar arena diskotek keributan berlanjut.

Nurlela,22, janda muda warga Jalan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, dikeroyok oleh Li, De, Ve, Ir dan Ni, geng cewek yang dugem di tempat hiburan malam tersebut. Ibu satu anak ini luka di pipi, leher dan wajah benjol.

Nurlela divisum di RSCM, selanjutnya melapor ke Polsek Cempaka Putih. Sedangkan lima cewek jagoan yang mengeroyoknya kabur. “Saya dibawa paksa ke basement lalu ditarik ke jalan raya dan dikeroyok,” kata Nurlela di Polsek Cempaka Putih.

“Seret tuh Nurlela, biar dia tahu siapa kita,” kata satu pelaku seperti ditirukan korban. Lima pelaku memang mengenal Nurlela karena mereka sama-sama doyan dugem di diskotek. Wanita berkulit sawo matang ini tak terima dianiaya, ia minta lima cewek pengeroyoknya ditangkap.

Awal keributan terjadi, kata Kapolsek Cempaka Putih Kompol Pentus Napitu,SH, lima cewek pengeroyok itu sedang asyik berjoget ria di arena Diskotek Sentral yang menyuguhkan musik dangdut ritmix. Begitupula Nurlela, ia juga asyik bergoyang. Saat itu sekitar pukul 01:30 dinihari.

“Rupanya korban senggolan dengan satu pelaku hingga terjadi cekcok mulut,” jelas Kanit Reskrim Iptu Suhendar. Di tengah hingar binger musik, dua perempuan itu sempat saling pukul bahkan jambak-jambakan.

Saat alunan musik berakhir, tiba-tiba Nurlela dikeroyok oleh 5 pelaku itu hingga menjadi tontonan sejumlah cluber alias penikmat hiburan malam. Keributan itu sempat dilerai pengunjung lainnya.

Merasa kurang puas, salah satu pelaku mengajak korban keluar diskotek. Rupanya di basement empat cewek lainnya sudah menunggu. Nurlela digebuki, ditarik ke jalan raya dan kembali diberi bogem mentah. Setelah itu para perempuan yang mengeroyoknya kabur.

Kategori: kekerasan pada wanita · penganiayaan