Category Archives: perampokan

Tuntut Semua Bank Jahat Yang Lemah Dalam Mengawasi ATMnya

Persoalan keamanan pada era digital sekarang ini secara bersamaan juga telah menghadirkan ancaman baru yang membayangi kehidupan kita sehari-hari. Berbagai tindakan kriminal pun bermunculan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi informasi.

Akhir-akhir ini, ancaman kriminalitas memanfaatkan kemajuan digitalisasi meluas tidak hanya terjadi di ruang maya layar komputer dalam jejaring internet, tetapi meluas ke lingkup ruang nyata kehidupan sehari-hari dan berkembang secara cepat.

Salah satu contoh yang paling sering kita baca dan dengar belum lama ini adalah kejahatan yang dilakukan di anjungan tunai mandiri (ATM) yang disediakan berbagai bank pemerintah dan swasta yang memungkinkan nasabah melakukan transaksi perbankan, mulai dari menarik tunai hingga melakukan transfer sejumlah uang tertentu.

Aktivitas kriminalitas di ATM yang sekarang marak adalah pemasangan rongga palsu untuk memasukkan kartu ATM yang menjadi alat pengenal jati diri nasabah. Yang terjadi, setelah nasabah memasukkan kartu ATM dan menyangkut di perangkat palsu tersebut, pada bagian mesin ATM ada stiker palsu agar nasabah menghubungi nomor tertentu.

Biasanya, tanpa memeriksa lebih lanjut, nasabah langsung menelepon pusat pelayanan palsu, memberikan berbagai identitas jati diri, termasuk PIN kartu ATM yang tersangkut tersebut. Berbekal informasi itu, dengan mudah para kriminalis melakukan transaksi, menyebabkan nasabah kehilangan jutaan rupiah.

Anehnya, pihak bank tidak berupaya mengambil tindakan, membiarkan nasabah mereka tersendu kehilangan jutaan rupiah tabungannya. Ribuan ATM yang tersebar di Indonesia lebih banyak memiliki kamera pemantau dummy sehingga kejahatan tidak bisa diperiksa siapa yang telah mengambil simpanan nasabah memanfaatkan tersangkutnya kartu ATM.

Belum lama ini terjadi tindak serupa pada salah satu mesin ATM sebuah bank yang didirikan di Jawa Tengah sekitar 100 tahun lalu. Pusat pelayanan nasabah dengan mudahnya menyalahkan nasabah dan membiarkan terjadinya transaksi elektronik tanpa berupaya menghentikan mengalirnya uang tidak sah dari tabungan satu ke lainnya.

Sudah waktunya otoritas perbankan melakukan pemeriksaan penggunaan kamera pengawas pada berbagai mesin ATM dan mengubah peraturan transaksi terutama berkaitan dengan kejahatan terselubung tersebut.

Karena tidak masuk akal kalau sebuah kejahatan dilakukan di mesin ATM tidak bisa dihentikan sama sekali dan tidak bisa dilacak oleh pihak kepolisian. Kemajuan teknologi komunikasi informasi seharusnya mampu melindungi nasabah, bukan sebaliknya bank menjadi jahat kepada nasabahnya karena tidak mau melindungi dengan memasang berbagai perangkat pengaman yang memadai.

Awas Ranjau Paku Gentayangan Di Jalan Gatot Subroto – Polisi Berhasil Menemukan 4kg Ranjau Paku

Meski sering disweeping dan beberapa pelakunya sudah ditangkap, kawanan bandit tebar paku ternyata masih saja berkeliaran. Buktinya dalam operasi Citra Pelayanan Prima gelaran Polda Metro Jaya, Kamis (6/11), petugas menemukan paku 1 kilogram di sepanjang Jalan Gatot Subroto.

Menurut Kompol Jumarno, petugas Ditlantas Polda Metro Jaya yang memimpin operasi, pihaknya banyak mendapat laporan dari warga yang ban kendaraannya bocor akibat terkena ranjau paku. “Dengan cara seperti ini diharapkan warga dapat berkendaraan dengan aman dan nyaman.”

Sementara itu, dalam sweeping yang dilakukan oleh Polantas Polres Jakarta Utara, juga diamankan 4 kg paku di Jalan Raya Cilincing dan Plumpang. “Paku-paku itu sengaja ditebar karena bentuknya menyerupai leter L,” kata Kasat Lantas Polres Jakut, Kompol Irvan Prawira.

Indonesia Adalah Negeri Yang Sangat Kaya Akan Budaya Kekerasan Terbukti Dalam Sejarah

Merebaknya budaya kekerasan di tengah masyarakat saat ini merupakan bingkai besar dari ragam praktik kriminalitas dengan berbagai gradasi kekejian. Di tengah kondisi itu media massa seharusnya kembali kepada perannya yang juga mengemban tanggung jawab sosial. Media massa tidak sepatutnya terus terjerumus dalam kendali pasar serta mengutamakan kepentingan modal.

”Bingkai besarnya adalah kekerasan yang menjadi budaya di tengah masyarakat kita. Kekerasan menjadi jalan, menjadi cara yang digunakan masyarakat dalam menghadapi masalah. Demokrasi yang kita nikmati saat ini adalah demokrasi yang menciptakan kekerasan. Kriminalitas menjadi salah satu wujudnya,” kata Hotman Siahaan, sosiolog dari Universitas Airlangga.

Hotman menambahkan, secara akademis dan statistik memang belum dapat dikatakan bahwa kriminalitas saat ini cenderung makin keji atau sadis. Sebab, di masa lampau pun tindak kriminalitas yang keji atau sadis beberapa kali telah terjadi.

”Meski begitu, frekuensi kriminalitas yang tampak berturut-turut bisa mengindikasikan masyarakat saat ini berada dalam situasi yang anomali, cenderung mencari cara gampang, penyelesaian yang cepat, dengan segala risikonya,” kata Hotman.

Hotman menjelaskan, situasi anomali merupakan suatu keadaan tidak normal, kacau, dan gamang. Realitas sosial saat ini, kata Hotman, banyak diwarnai oleh kekerasan dengan berbagai gradasinya. ”Mulai dari kekerasan politik, yang saban hari kita lihat di media. Masyarakat mudah marah tanpa takut terhadap konsekuensi hukumnya, gejala sektarian menguat, masyarakat tidak bisa memahami perbedaan. Tanpa ada rasa tanggung jawab dan dampak hukumnya,” papar Hotman.

Media massa

Dalam kondisi demikian, menurut Hotman, media sedikit banyak turut berperan.

”Sebenarnya masih debatable (diperdebatkan) apakah media massa membuat orang melakukan imitasi praktik kekerasan. Namun, ada juga yang berpendapat media justru membingkai bahwa perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum akan mendapat ganjarannya sehingga orang tidak mudah berbuat kriminal,” kata Hotman.

Terlepas ada atau tidak pengaruh media, Hotman berpandangan, media massa harus sekuat mungkin mempertahankan perannya dalam mengemban tanggung jawab sosial. Meskipun, tambah Hotman, media massa cenderung terkungkung dalam kekuasaan pasar dan persaingan antarmedia yang ketat.

Senada dengan Hotman, Awang Ruswandi, pengajar Jurnalistik Televisi di Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, berpandangan, media massa cukup berperan dalam memengaruhi perilaku agresif di tengah masyarakat, termasuk yang berujung pada praktik kriminalitas.

Paling tidak, menurut Awang, pengemasan pemberitaan kriminal, khususnya di televisi, memiliki kekuatan untuk menginspirasi penontonnya dalam perbuatan kriminal.

”Kasus Smack Down (acara di televisi yang menginspirasi anak kecil berbuat serupa), misalnya, itu terbukti. Tayangan rekonstruksi perbuatan kriminal di televisi dengan detail itu juga sebenarnya tidak beretika,” kata Awang.

Awang berpendapat, sebagian praktisi media, khususnya televisi, tidak lagi berpedoman kuat kepada etika jurnalistik. Peristiwa kriminal dieksploitasi sedemikian rupa tanpa mengindahkan etika. Menurut Awang, penyebabnya adalah industri media massa cenderung semakin digerakkan kepentingan pasar. Kriminalitas menjadi komoditas.

”Market-driven journalism, begitu gambarannya,” kata Awang.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, mengatakan, dalam hal kecenderungan gejala copycat (meniru) peristiwa kriminalitas, media massa sebatas merupakan penyebab antara.

”Praktik kriminalnya itu sendiri banyak faktor yang mendorong. Sementara, informasi dari media massa hanya menginspirasi caranya. Memutilasi, misalnya, lebih didorong oleh keinginan kuat untuk menghilangkan jejak, Sebab, pelaku sadar bahwa identitas korban adalah entry point bagi polisi untuk menuju ke pelaku,” kata Adrianus.

Senada dengan Adrianus, psikolog sosial Sartono Mukadis meyakini gejala copycat, jika toh demikian, tidak begitu saja terjadi. Sartono lebih cenderung meyakini sudah ada sesuatu yang salah di tengah masyarakat saat ini. Sartono menjelaskannya sebagai kondisi state of anomie, suatu kondisi masyarakat yang gamang karena mulai kehilangan norma.

Penuh perhitungan

Kesadaran pelaku kriminal tersebut justru dianggap Adrianus sebagai indikasi yang ”positif”. Menurutnya, masyarakat, termasuk pelaku kejahatan, sadar bahwa segala ruang saat ini telah terjangkau oleh hukum.

Dengan demikian, praktik kriminalitas harus dilakukan dan disembunyikan dengan upaya lebih keras. Pelaku kejahatan menjadi lebih kalkulatif. Dalam hal ini, mutilasi, menurut Adrianus, boleh dibilang cermin dari upaya keras itu. Sebab, hampir semua kasus mutilasi bertujuan menghilangkan jejak pelaku dengan cara merusak korban sehingga tanpa identitas.

Selain faktor media massa, Sudarmono, sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, mencermati dampak urbanisasi yang membuat kaum urbannya mengalami perubahan perilaku, mulai dari aspek materialisme sampai kekerasan.

”Hal-hal buruk dari Jakarta (kota) pun tertular dan dibawa pulang ke tempat asal. Begitu pula kekerasan, menjadi mudah diadopsi,” imbuh Sudarmono.

Sudarmono menilai sejarah negeri ini memang ”kaya” akan cerita kekerasan berikut kekejiannya. Bahkan, sejak zaman raja-raja Jawa berkuasa luas. Sudarmono memberi contoh pada suatu masa pernah ada seorang penjahat yang dihukum dengan dikuliti, lalu kulitnya dilekatkan di pintu alun-alun selatan Kota Solo sebagai peringatan.

Terlepas dari rentetan sejarah itu, bagaimanapun kekejian terus menggejala. Tak heran, Sartono pun bertanya apakah saat ini merupakan gejala mass neurosis, gangguan mental massal?

Dicurigai Berselingkuh Dengan Istrinya, Seorang Suami Bodoh Menyewa Orang Untuk Membunuh Pacar Istrinya

Sebanyak lima kasus pembunuhan sadis terjadi di Jakarta Barat dalam dua bulan terakhir dan baru satu kasus terungkap. Kepala Polres Jakarta Barat Komisaris Besar Polisi Iza Fadri yang ditemui Senin (27/10) menjelaskan, pihaknya terus mengumpulkan bukti dan saksi dari empat kasus yang belum terungkap.

”Dalam kasus pembunuhan guru SMP Rosalina Sibarani sudah diperiksa 17 saksi. Sejauh ini kecurigaan belum terbukti karena ada alibi yang kuat dari orang yang dicurigai. Kita berusaha mengumpulkan bukti dan kontak manusia di sekitar korban. Polisi tidak mau sembarang tangkap,” kata Iza.

Sebelumnya, Iza menjelaskan penangkapan Rudy Candra, otak pembunuhan Johny alias Bobby, warga Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yang ditemukan penuh luka tusuk di Kamar 420 Hotel Royal Regal, Jalan Mangga Besar VIII, Jakarta Barat, Sabtu (25/10). Polisi juga menangkap Andri Wijaya dan Bachtiar yang menjadi eksekutor serta diupah uang masing-masing Rp 1,5 juta.

Kasus itu terungkap kurang dua hari setelah penemuan mayat Johny. Johny dibunuh karena Rudy Candra cemburu ada affair antara istrinya, Romy Widyasari alias Jeanette, dengan korban.

Para pembunuh sebelum mengeksekusi meminta nomor pengaman ATM korban. Setelah membunuh, mereka menjarah isi ATM Rp 10 juta, kalung, gelang, dan dua telepon seluler milik Johny yang pengusaha bengkel.

Melalui penyelidikan menyeluruh dan bantuan teknologi, komplotan pembunuh ditangkap di Bogor dan Mangga Besar, Jakarta Barat.

Adapun rangkaian pembunuhan dalam dua bulan terakhir yang belum terungkap adalah kasus penikaman yang menewaskan Turwan (27) seusai shalat tarawih di Jalan Gudang Bandung, RT 05 RW 05, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora (3/9). Kemudian, kasus pembunuhan Komaruddin (29) di halaman SDN 01-07 Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora (16/9). Pembunuhan Jimmy Tjik Zahari alias Iwan (36), desainer distro. Ia ditemukan tewas membusuk dengan luka benda tumpul di kamar kos di Jalan AA RT 11 RW 04, Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk (8/10). Terakhir kasus pembunuhan Guru SMP Citra Kasih Rosalina Sibarani (25) di kamar kos di Jalan Waru RT 06 RW 11, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres.

Kepadatan penduduk

Kriminolog Universitas Indonesia Erlangga Masdiana yang dihubungi menerangkan, belum terungkapnya empat kasus pembunuhan biasanya disebabkan kesulitan dalam pengumpulan data. ”Kalau ada indikasi tertentu tetap dibutuhkan pengumpulan data. Terkadang minim alat bukti di TKP. Bukti awal sangat penting,” kata dia.

Tingginya tingkat pembunuhan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara dipicu karakter penduduk yang heterogen. Itu membawa konsekuensi, setiap individu atau kelompok memiliki perilaku masing-masing yang kerap terjadi benturan.

Di permukiman padat terjadi pembunuhan karena tingkat stres lebih tinggi dibanding di wilayah kurang padat. Tingginya interaksi antarmanusia di daerah padat sepadan dengan tingkat kekerasan

Perawan Eh Perempuan Disarang Penyamun

Jakarta, kota yang serba gemerlap ini, pada saat yang sama sekaligus terasa semakin kelam. Kriminalitas terus merajalela. Perampokan semakin nekat, pembunuhan jadi berita ”biasa” sehari-hari. Belum lagi kejahatan yang dilakukan secara lebih halus. Jakarta semakin tak ramah.

Kriminalitas memang senantiasa mengintai warga Jakarta di mana pun, kapan pun. Tekanan ekonomi memang kerap menjadi faktor yang diyakini menjadi penyebab tindak kriminal. Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri saat melantik Kepala Badan Reserse Kriminal Polri yang baru Inspektur Jenderal Susno Duadji pekan lalu memperingatkan soal kecenderungan maraknya berbagai macam kriminalitas belakangan ini.

Menurut Bambang, gejala melesunya perekonomian belakangan ini yang menyebabkan penurunan produksi barang dan jasa di sektor riil akan menimbulkan pengangguran bertambah. Dan, hal itu pada akhirnya berpotensi menyulut tindak kriminal, khususnya yang berkategori konvensional. Kriminalitas berkategori konvensional itu, misalnya penganiayaan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor, dan pemerkosaan.

Berdasar data Litbang Kompas, ”surga” kejahatan saat ini terdapat di wilayah Jakarta Barat. Tercatat sepanjang Januari-Mei terjadi lebih dari 2.000 kasus yang dilaporkan. Padahal dari rasio jumlah polisi dan penduduk, Jakarta Barat dengan rasio 1:983 masih ”lebih baik” dibandingkan dengan Jakarta Timur misalnya, yaitu 1:1.067.

Permukiman padat dan kampung kumuh menjadi salah satu titik maraknya kejahatan. Dalam berbagai peristiwa, pada kesempatan pertama, kejahatan kerap menjadikan perempuan dan anak sebagai sasaran empuk. Salah satu contoh mutakhir adalah pembunuhan Rosalina Sibarani (25), Guru SMP Citra Kasih, di Kalideres, Jakarta Barat. Rosa ditemukan terbunuh di kamar kos di permukiman padat di Gang Waru, Kelurahan Kalideres, Jumat (10/10) pagi.

Di Jakarta Barat, berdasarkan data yang dikumpulkan Litbang Kompas dari berbagai sumber, kawasan rawan kejahatan adalah Daan Mogot, Kyai Tapa, dan Tomang. Kerawanan kriminalitas tersebut tak hanya di DKI Jakarta, melainkan juga di wilayah pendukung lainnya, seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang.

Makin tak nyaman

Lantas siapakah yang senantiasa jadi sasaran tindak kriminal di perkotaan? Kriminolog dari Universitas Indonesia Erlangga Masdiana mengatakan, di tengah kondisi sosial ekonomi saat ini—yang berpotensi menyulut praktik kejahatan—sasaran empuk tindak kejahatan selalu saja adalah perempuan. Erlangga menyebut, perempuan merupakan potential victim (korban potensial) tindak kriminal. ”Persepsi terhadap kaum perempuan itu memengaruhi terhadap realitas kejahatan itu sendiri,” kata Erlangga.

Erlangga menjelaskan, persepsi mendasar terhadap perempuan tersebut adalah bahwa perempuan bisa dieksploitasi membuat perempuan senantiasa bisa dijadikan korban. Turunan dari persepsi itu, di antaranya, perempuan dianggap punya rasa takut yang lebih tinggi, lemah, gampang menyerah, bisa dipaksa, mudah disuruh-suruh, lebih penyabar, tidak mudah melawan. Persepsi itulah yang senantiasa membuat perempuan kerap menjadi korban kejahatan.

Sejak enam bulan terakhir, setidaknya ada 11 peristiwa kriminal menonjol yang menyasar perempuan sebagai korban. Bentuknya, mulai dari perampokan sampai pembunuhan. Sementara motifnya, mulai dari faktor ekonomi sampai sakit hati.

Peristiwa terkini ialah pembunuhan terhadap Irma Yuli (19), mahasiswa Universitas Gunadarma Program Diploma III Bidang Kebidanan. Irma diduga dirampok sebelum dibunuh. Jenazahnya lalu dibuang di dekat gerbang masuk Universitas Indonesia di Pondok Cina, Depok.

Peristiwa semacam itu tentu saja mudah menebarkan rasa waswas dan ketakutan, khususnya di kalangan perempuan. Meskipun pembunuhan Irma tidak terjadi di areal Kampus UI, Yenti Aprianti, mahasiswi pascasarjana UI, Jurusan Antropologi, merasa semakin tidak aman. Yenti kini selalu meminta tukang ojek memilih jalan memutar melalui daerah yang ramai. ”Lebih jauh tidak apa dibanding memotong jalan yang dekat, tetapi sepi. Saya merasa tidak aman,” kata Yenti.

Erlangga mengatakan, kota Jakarta—yang lebih merupakan sebagai kota jasa ketimbang industri—sebenarnya tengah mengalami anomi terhadap peran perempuan. Anomi adalah suatu gejala kehilangan nilai moral yang merujuk pada pemikiran sosiolog asal Perancis David Emile Durkheim, belum terbentuknya nilai yang baru namun nilai yang lama semakin tergerus, penderita Anomi ini biasanya adalah mereka yang senang bergaul dan pandai bicara. Perempuan, misalnya, sejak dahulu dianggap harus dilindungi, dihormati, dihargai. Namun, dalam kehidupan kota saat ini, nyatanya kaum perempuan banyak yang dieksploitasi dan menjadi sasaran kejahatan.

Pada kota jasa seperti Jakarta, tambah Erlangga, perempuan banyak berperan dan dimanfaatkan sebagai pelaku ekonomi di sektor jasa. Hal itu karena bertolak dari persepsi perempuan cocok dalam hal pelayanan.

Namun, semakin tinggi keterlibatan perempuan di luar rumah atau wilayah domestik, keamanan terhadap mereka tidak terjamin baik. ”Sehingga di satu sisi kaum perempuan banyak terlibat dan berjasa dalam proses pembangunan, tapi di sisi lain sekaligus juga menjadi korban pembangunan,” tambah Erlangga.

Akibatnya, di tengah kondisi kota demikian, keberadaan perempuan seolah jadi serba salah. Di lingkungan domestik terancam KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), di lingkungan nondomestik senantiasa dibayangi jadi sasaran empuk kriminalitas.

Dengan demikian, mau tak mau kaum perempuan—terlebih yang turut terlibat di sektor nondomestik—sebaiknya lebih waspada menyadari wilayah-wilayah rawan serta berbagai modus kejahatan yang bisa sewaktu-waktu menimpa dirinya. Sebab, rasanya tak mungkin menunggu kondisi kota menjadi lebih ramah.

Satpam Merampok Uang Yang Dijaganya Senilai 1,2 Milyar Tertangkap Warga Dan Digebuki

Seorang staf sekuriti perusahaan jasa pengisian anjungan tunai mandiri (ATM) Certis Cisco dibekuk warga, Jumat (24/10) siang, lantaran berupaya membawa kabur uang miliaran rupiah yang dibawanya.

Abdul Haris, 37, melakukan aksinya saat kedua orang rekannya salat Jumat. Haris menunggu di mobil yang diparkir di area Ruko Taman Cibodas, Jatiuwung bersama uang yang diduga mencapai miliaran rupiah.

Uang yang berada di dua tas koper sedianya akan diisikan ke sejumlah ATM seperti ATM Bank Lippo, Bank Mandiri, dan Bank Danamon.

Haris kemudian memindahkan uang-uang tersebut ke dalam dua tas ransel besar dan membawanya kabur. Saat keluar dari mobil, Udin, seorang karyawan supermarket mencurigainya karena jalan terburu-buru.

Udin mengikutinya. “Saat dia hendak naik becak membawa dua tas besar saya teriak. Karena berusaha kabur saya tangkap bersama warga dan sekuriti,” ujar Udin.

Polisi menggelandangnya ke Polsek Jatiuwung. Haris pun dimintai keterangan seputar aksinya tersebut.

Kapolsek Jatiuwung, AKP YS Ujung belum mamu membeberkan kasus ini secara detil dengan alasan masih dalam proses pemeriksaan. Hingga sore Jumat (24/10), Haris bersama barang bukti masih diamankan di Polsek Jatiuwung, Tangerang.

AH (37), anggota Satuan Pengamanan PT Certies Cisco, perusahaan jasa pengantaran dan pengamanan uang, Jumat (24/10) siang, ditangkap aparat Kepolisian Sektor Kota Jatiuwung Kota Tangerang karena dituduh mencuri uang Rp 1,2 miliar dari dalam mobil uang yang ia kawal.

Dari tangan AH polisi menyita dua tas berisi boks besi berisi uang untuk mengisi kotak ATM di swalayan Tip Top Jatiuwung. Belakangan polisi mengungkapkan, AH bersama SKJ dan RL, petugas satpam yang sama-sama bertugas mengawal mobil itu, ternyata sudah berkomplot untuk mencuri.

”Ketiga anggota satpam itu sudah merencanakan tindak pencurian tersebut. Mereka mengaku tergiur uang yang sangat besar itu,” kata Kepala Polsek Kota Jatiuwung Ajun Komisaris YS Ujung, Jumat malam. Menurut Ujung, ketiga petugas satpam yang kini berstatus tersangka sudah merencanakan skenario pencurian dan menentukan di mana mereka akan bertemu lagi untuk membongkar uang hasil curian.

Aksi kejahatan itu dilakukan dengan cara SKJ dan RL meninggalkan AH sendirian di mobil Certies Cisco yang diparkir di swalayan Tip Top. SKJ dan RL lalu pamit untuk melaksanakan shalat Jumat. Saat itulah, AH membongkar tempat penyimpanan uang di dalam mobil, lalu mengambil delapan kotak besi berisi uang untuk dipindahkan ke dalam tas yang ia bawa.

AH kemudian meninggalkan mobil dengan tenang. Saat itu tak ada orang di swalayan tersebut curiga, sebab kepada orang di swalayan ia pamit akan mencari tempat laundry untuk mencuci baju di dalam tas yang ia bawa.

Tak lama, SKJ dan RL datang lalu berteriak-teriak mencari AH. Tak hanya itu, keduanya berpura-pura panik, bahkan melapor ke Polsek Jatiuwung. Anggota polsek langsung meluncur ke swalayan Tip Top dan mencari informasi tentang keberadaan AH.

Beruntung orang-orang yang sedang berada di sekitar pasar swalayan mengetahui ke arah mana AH pergi. ”Anggota mendapat informasi bahwa AH berada di depan swalayan untuk mencari taksi. Ketika sedang menunggu taksi itulah anggota kami menangkapnya,” kata Kepala Polsek Jatiuwung.

Kepala Polsek melihat ada kejanggalan dalam pengantaran dan pengamanan uang untuk ATM Bank Mandiri dan Lippo itu. Seharusnya tak hanya di kawal satpam, tetapi juga seorang anggota polisi, tetapi kemarin hanya dikawal tiga petugas satpam

KAKAK BERADIK DIANIAYA RAMPOK
Sementara itu, dua wanita kakak beradik dianiaya perampok di kontrakannya Kampung Cikiwul, Bantargebang, Jumat (24/10) dinihari. Tersangka Sepri Mantoni,23, babak belur dihajar massa yang memergokinya sebelum diamankan petugas Polsek Bantargebang.

Darwati,33, dan adiknya ,Yeni,22, yang menderita luka goresan pisau di leher dan telinga diobati di RSU Bekasi. Sebilah pisau dapur yang digunakan pelaku disita petugas.

Sekitar pukul 02:00, Darwati dan Yeni masih terlelap di rumah kontrakan. Darwati terbangun mendengar suara berisik di kamar adiknya. Setelah ditengok, ternyata Yeni tengah dibekap mulutnya dengan banyal oleh pelaku.

Melihat Darwati datang, pelaku mengancamnya dengan pisau. Namun Darwati sekuat tenaga meronta meski akibatnya leher dan telinganya tergores pisau.

Darwati berteriak minta tolong. Warga berdatangan dan menangkap pelaku yang bersembunyi di plafon rumah korban

Perampok Anak-Anak Lebih Kejam Dari Perampok Dewasa

Tiga anggota kawanan bajing loncat yang sering beraksi di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, digulung aparat Polres Jakarta Utara, Kamis (16/10) malam. Ketiga bajing loncat yang ditangkap itu ternyata masih belia alias ABG.

Namun meski masih remaja, mereka cukup kejam dalam beraksi. Seorang kernet yang mencoba menghalau mereka saat beraksi di atas truk bermuatan garmen disayat kupingnya hingga nyaris putus. Mereka juga memukuli kernet naas itu.

Di tempat berbeda, dua dari empat pencuri ban serep kontener di Tol Cikampek diringkus petugas PJR. Satu dari komplotan ini terpaksa ditembak kakinya lantaran melawan saat hendak ditangkap.

Andri,16, Dony, 16, dan David, 17, tak berkutik ketika petugas Polres Jakut menciduk mereka dari tempatnya mangkal di Persimpangan Lampu Merah Mambo, Jl. Yos Sudarso, Tanjung Priok. Petugas menangkap ketiga bajing loncat berusia ABG itu setelah menerima laporan dari Samsul Arifin, 46, kernet truk PT. Gemilang yang berkantor di Pusat Bisnis Pluit, Penjaringan.

NAIK DI LAMPU MERAH
Menurut Samsul, pada Kamis malam itu, truk bermuatan bahan garmen yang diawaki dirinya dan Oktavianto, 36, menuju Pelabuhan Tanjung Priok usai mengambil muatan dari Cileungsi, Bogor.

Di lokasi kejadian, kendaraan mereka terhenti lantaran terkena lampu merah. Saat itulah, Samsul melihat keenam remaja mengitari truk yang dikernetinya. Bahkan ada yang berusaha menaiki truk.

Melihat itu, si kernet turun. “Woi turun dari mobil,” teriak Samsul menghalau kawanan pelaku. Namun mereka malah berbalik menyerang Samsul. Tanpa mampu melawan pria asal Serang, Banten, itu pun dikeroyok hingga babak belur. Bahkan satu pelaku menyayatkan pisau ke telinga kiri korban.

Korban terkapar di jalan, sementara pelaku kabur. Diantar sopirnya, Samsul berobat ke RS terdekat sebelum akhirnya melaporkan peristiwa itu ke Polres Jakut. Petugas yang menerima laporan langsung memburu pelaku ke TKP dan berhasil meringkus tiga dari enam bajing loncat tersebut.

Dony, satu pelaku yang pernah ditahan di Rutan Salemba mengaku sudah beberapa kali beraksi menggasak muatan truk di sekitar persimpangan lampu merah tersebut. Namun ia menyangkal kalau dirinya yang telah menyayat telinga Samsul. “Yang melakukan itu adalah satu dari tiga teman saya yang kabur, namanya Di, Er dan He,” ujar ABG yang tak tamat SMP ini.

Bajing loncat seperti ini juga marak di Pulogadung dan Simpang Kelapagading-Kayuputih. Mereka begitu leluasa beraksi padahal di dekat tempat tersebut ada pos polisi.

PENCURI BAN DIDOR
Sementara itu Martin Wijaya, 39, satu dari dua pencuri ban serep kontener ambruk diterjang peluru polisi lantaran melawan saat hendak ditangkap. Bersama rekannya Yatno, 53, Martin diserahkan ke Polres Karawang, sementara dua tersangka lainnya lolos dari sergapan petugas.

Nurman, 31, sopir truk B 9607 SW yang bermuatan bahan kertas, menuturkan mobilnya mogok, di Jalan Tol Cikampek KM 50 arah Karawang Tiba-tiba saja seorang pengendara berteriak kalau ban serep truknya dibawa kabur orang. Saat Nurman turun, ia melihat sejumlah orang tengah memasukkan ban curiannya ke dalam mobil Suzuki APV B 8970 YZ.

Nurman pun berteriak memancing petugas patroli jalan raya (PJR) yang tengah berpatroli yakni Aiptu Toto, Aiptu M Irbar, Briptu Petrus dan Briptu Mutohar.

Petugas pun mengejar pelaku. Setelah nyaris menabrak bus, mobil yang ditunggangi keempat pelaku terhenti menabrak pembatas jalan. Kawanan pencuri itu pun berhamburan keluar dari mobil. Dua pelaku berhasil ditangkap. Sementara dua tersangka lainnya, Oben dan Aji buron.

“Dia (tersangka Martin-red) kami ambil tindakan tegas karena melawan,” kata Kanit PJR Tol Cikampek AKP Marso, seraya mengatakan kedua tersangka sudah diserahkan ke Polres Karawang