Category Archives: perampokan

Anak Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Katolik Parahyangan Koerniatmanto Soetoprawiro Tewas Saat Mencoba Menangkap Perampok Rumahnya

Harindaka Maruti (20) tewas ditembak oleh empat pencuri yang baru saja beraksi di rumah keluarganya, Jumat (20/4) siang. Korban adalah putra bungsu dari Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Katolik Parahyangan, Koerniatmanto Soetoprawiro.

Harindaka yang selalu disapa Hari meninggal dunia akibat luka tembak senjata laras pendek kaliber 22 di ketiak kanan yang tembus hingga badan sebelah kiri. Dia sempat dilarikan ke Unit Gawat Darurat RS Borromeus, Bandung, tetapi nyawanya tidak tertolong. Jenazah kemudian diotopsi ke RS Hasan Sadikin, Kota Bandung.

”Saya yakin pelakunya pasti tertangkap. Dia harus tertangkap sebagai pembuktian atas tindakannya,” kata Koerniatmanto sewaktu ditemui di UGD Borromeus, Jumat.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (20/4) sekitar pukul 13.00. Menurut kronologi dari petugas Kepolisian Resor Kota Besar Bandung, rumah Koerniatmanto dimasuki tiga pencuri sekitar pukul 10.00 dan kabur dengan membawa satu laptop dan uang 6.000 dollar AS. Saat peristiwa terjadi, rumah sedang kosong, sementara pembantu sedang berada di warung yang terletak tidak jauh dari rumah. Pembantu hanya sekilas melihat kawanan pelaku yang kabur seusai beraksi.

Hari dan kakaknya, Danandaka Mumpuni (25), yang datang setelah mendapat laporan pembantu rumah, berinisiatif mengejar pelaku menggunakan sepeda motor. Sekitar pukul 13.00, mereka mendapati seseorang yang membawa tas laptop yang mirip dengan milik mereka yang hilang, berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Hari langsung mengonfrontasi mereka.

Dalam pergumulan itu, tiba-tiba salah satu dari pelaku mengeluarkan pistol dan menembaki Hari sehingga Hari jatuh tersungkur. Kakaknya langsung mengangkat tangan sehingga tidak sampai mengalami nasib serupa. Sepeda motor yang dibawa Hari juga dirampas pelaku karena salah satu sepeda motor pelaku tidak bisa dijalankan.

Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Abdul Rakhman Baso mengatakan, pihaknya mewaspadai peningkatan aktivitas pencuri spesialis yang mengincar rumah kosong seperti milik Koerniatmanto. Dia berjanji mengintensifkan patroli kepolisian di tingkat polres maupun polsek.

Penggunaan senjata api dalam aksi kriminalitas tersebut hampir mirip dengan kejadian yang berlangsung sehari sebelumnya, Kamis (19/4). Seorang istri perwira TNI yang ditembaki perampok yang mengincar uang sebesar Rp 200 juta yang dibawanya. Anehnya, kejadian tersebut masih berlangsung di dalam kompleks perumahan militer.

Abdul Rakhman memastikan bakal mengevaluasi peredaran senjata api gelap di Kota Bandung. ”Berdasarkan selongsong peluru dari dua kejadian itu, senjata yang digunakan dipastikan beda jenisnya,” ujarnya.

Terguncang

Meninggalnya Hari membuat keluarga Koerniatmanto terguncang. Korban tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2010 pada Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Ruang tunggu UGD RS Borromeus dipadati para kerabat Koerniatmanto maupun teman kuliah Hari yang datang menyatakan ungkapan belasungkawa. Mereka mengecam keras tindakan kriminalitas itu dan mendesak polisi menangkap pelaku.

Istri Koerniatmanto, Ny Theodora Suwinarni, dikerubuti kerabat yang berusaha menghiburnya. Koerniatmanto mendampingi pemeriksaan jenazah Hari di ruang resusitasi hingga menuju RSHS. Danan, kakak korban, berada di rumah karena dimintai keterangan polisi.

Rumah Koerniatmanto, Guru Besar Ilmu Hukum Tatanegara Unika Parahyangan, yang kebobolan pencuri, ternyata merupakan rumah tanpa pagar. Rumah tersebut berbeda dengan tetangganya yang sudah memasang pagar di depan rumahnya.

Berdasarkan pemantauan Kompas, Jumat (20/4/2012), rumah Koerniatmanto yang terletak di Jalan Cigadung Endah tidak memasang pagar di depan rumahnya. Rumahnya terlihat kontras bila dibandingkan dengan rumah di seberangnya dengan pagar tinggi. Dari jalan menuju rumah, selain ke pintu depan juga bisa melalui garasi yang ditutup dengan pintu kayu.

Rumah Koerniatmanto dibobol sekawanan pencuri berisi empat orang dan membawa kabur satu unit laptop dan uang dollar sebesar 6.000 USD. Akibat kejadian tersebut, anak bungsunya, Harindaka Maruti (20) berinisiatif mengejar pelaku tapi malah tewas karena ditembak pelaku yang mempertahankan barangnya.

“Desain awal perumahan di sini memang tanpa pagar, tapi lambat laun tetangga mulai memasang pagar,” ujar pengajar di UK Parahyangan, Asep Warlan Yusuf yang tinggal tidak jauh dari sana.

Disinggung mengenai kondisi rumah Koerniatmanto, Kapolrestabes Bandung, Komisaris Besar Abdul Rakhman Baso, tidak menyalahkan pemilik rumah. Dia hanya meminta agar tenaga pengamanan rumah lebih intens menggelar patroli di sekitar rumah.

Aparat kepolisian dikabarkan menahan empat orang pelaku yang diduga terlibat dalam penembakan Harindaka Maruti (20). Dia adalah anak bungsu dari Guru Besar Ilmu Hukum Tatanegara Universitas Katolik Parahyangan, Koerniatmanto Soetoprawiro.

Hingga berita diturunkan, Bidang Humas Polda Jawa Barat mengumumkan bahwa mereka akan menunjukkan pelakunya di Mapolda Jabar siang ini.

Harindaka meninggal dunia setelah ditembak pencuri yang baru saja membobol rumahnya dan membawa lari satu unit laptop dan uang asing 6.000 USD tanggal 20 April 2012. Dia ditembak saat merebut tas laptop dari pelaku.

Saat dilarikan ke UGD Santo Borromeus, nyawanya tidak tertolong. Polda Jawa Barat menunjukkan empat tersangka kasus pencurian disertai penembakan terhadap Harindaka Maruti pada tanggal 20 April 2012. Mereka adalah kawanan pencoleng yang sudah sering beraksi.

Inisial empat pelaku itu adalah HDR, MEI, ARD, dan AN. Semuanya mengenakan penutup kepala dan salah satu diperban kakinya. Masih ada tiga nama yang masih diburu, yaitu RZ, SRF, dan KK.

Dari tangan pelaku, kepolisian menyita dua pucuk senjata api, yaitu berjenis revolver dan FN. “Kami masih harus menjalani uji terlebih dahulu untuk memastikan apakah senjata tersebut rakitan atau organik,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Martinus Sitompul, Kamis (3/5/2012).

Berdasarkan penuturan para tersangka, RZ adalah orang yang diduga menghabisi Harindaka. Para pelaku ditangkap dari Palembang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung.

MEI, salah satu tersangka pencuri rumah Koerniatmanto Soetoprawiro, mengatakan, penembakan terhadap Harindaka dia lakukan karena putra bungsu Koerniatmanto itu bersikeras merebut tas laptop dari tangan temannya. Hariandaka pun ditembak hingga roboh bercucuran darah.

Demikian dikatakan MEI saat digelandang di halaman Mapolda Jawa Barat, Kamis (3/5/2012). Dia ditangkap bersama tiga tersangka lainnya, yaitu HDR, ARN dan AN.

“Apa hak kamu buka tas kami,” ujar MEI menirukan perkataan komplotan saat Harindaka berupaya merebut tas laptopnya.

Dia mengungkapkan, HDR dan RZ yang kini masih buron kemudian menodongkan pistol ke arah Harindaka, meminta agar dia menyerah. Sayangnya dia tetap maju sehingga salah satu pistol itu akhirnya menyalak dan pelurunya menembus ketiak kanan hingga tembus ke tubuh sebelah kiri.

MEI beralasan, menembak Harindaka terpaksa dilakukan. Kalau tidak, mereka bakal tertangkap.

Seorang Wanita Muda Berhasil Menebas Penis Pemuda Yang Akan Memperkosanya

Kejadian ini mungkin akan membuat perampok ini kapok. Seorang perampok mencoba memperkosa seorang wanita muda di Malaysia. Namun perampok itu malah harus mengaduh kesakitan karena alat kelaminnya terkena sabetan parang!

Saat kejadian pada Kamis, 26 April sore waktu setempat, wanita berumur 20 tahun itu sedang berjalan menuju toko kelontong dekat rumahnya di Ampang, Kuala Lumpur. Ketika itulah, seorang pria mencegat dia dan menempelkan parang ke lehernya.

Pria tak dikenal itu pun menarik wanita muda itu ke tempat yang gelap dan sepi. Tubuhnya kemudian didorong ke tanah. Pria itu lalu meminta uang dan perhiasan yang dikenakan wanita tersebut.

Dikatakan sumber kepolisian kepada harian lokal Malaysia, Harian Metro dan dilansir The Star, Sabtu (28/4/2012), ketika wanita itu menolak, penjahat tersebut merogoh saku celananya dan mengambil uang 100 ringgit serta telepon genggamnya.

Wanita tersebut terus memohon agar dirinya tidak dilukai. Namun perampok tersebut tetap menginjak tubuh korban dan bahkan memerintahkannya untuk melepas pakaiannya.

Ketika wanita itu menolak, perampok tersebut mencoba membuka celana si wanita. “Wanita itu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menendangnya. Dia pun kehilangan keseimbangan dan parangnya lepas dari tangannya,” kata sumber kepolisian.

“Si wanita dengan cepat merebut parang dan menebas alat kelaminnya,” imbuh sumber kepolisian tersebut.

Akibat kejadian itu, perampok tersebut mengalami luka pada penisnya. Dia pun harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Izzun Nahdiyah Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Diperkosa Ramai Ramai Sebelum Dibunuh Hanya Karena Minta Laptopnya Dikembalikan

Polisi menangkap lima tersangka yang diduga terlibat kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Izzun Nahdiyah, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat. Namun polisi masih merahasiakan identitas para tersangka. “Mereka ditangkap di Desa Ranca Buaya, Kecamatan Jambe, dinihari tadi,” kata Kepala Kepolisian Resor Kota Tangerang Komisaris Besar Bambang Priyo Andogo, Selasa 24 April 2102.

Menurut Bambang, polisi masih mengejar satu tersangka lagi yang diduga sebagai dalang pembunuhan. Dia adalah Muhammad Sholeh alias Oleng, 33 tahun. Oleng dikenal sebagai pemuda penganggur yang tinggal di Desa Jambe. Sejumlah saksi mengatakan, lelaki itu menjalin hubungan asmara dengan korban selama tiga bulan terakhir.

Mayat Izzun ditemukan di Jalan Pemda DKI, Ciangir, Legok, 7 April 2012. Ada luka sayatan di lehernya. Pakaian yang ia kenakan masih lengkap, termasuk jilbab putih di kepala. Identitas Izzun terungkap sepekan kemudian. Gadis 24 tahun itu berasal dari Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Dia duduk di semester 12 Fakultas Hubungan Internasional UIN.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga mengatakan korban memiliki laptop bermerek HP yang dipinjam oleh Oleng. Diam-diam Sholeh menjual laptop itu seharga Rp 600 ribu. Kepada korban, Sholeh mengatakan laptop itu rusak dan dibawa ke tempat servis komputer untuk didandani. Biaya perbaikan sebesar Rp 600 ribu.

Pada 6 April 2012, korban datang ke Desa Jambe untuk mengambil laptop. Izzun membawa uang Rp 600 ribu untuk membayar biaya perbaikan. Oleng tentu saja tidak bisa memberikan laptop itu. Dia menjadi kebingungan. Apalagi korban terus mendesak.

Sikap korban itu membuat Oleng kesal. Dia mengunci korban di dalam kamar dan meninggalkannya begitu saja selama beberapa jam. Saat itulah terlintas di kepala Oleng untuk menghabisi nyawa korban. Dia memanggil lima temannya yang tinggal di sekitar tempat itu. Rencana pembunuhan pun disusun. Namun, sebelum dibunuh, korban diperkosa oleh empat tersangka. “Dua tersangka memang tidak ikut memperkosa, tetapi mengetahui perbuatan itu,” kata Shinto. Mayat korban kemudian dibuang di Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir.

Ketika mayat Izzun ditemukan, polisi sempat kebingungan mengungkap jati diri gadis itu. Identitas Izzun baru diketahui sepuluh hari kemudian setelah keluarganya datang dari Lamongan. Polisi pun bergerak mengumpulkan keterangan dari kawan-kawan korban. Dari sanalah muncul nama Oleng, pria yang baru tiga bulan menjadi kekasih korban.

Kemarin, sekitar pukul 03.00, polisi menangkap lima tersangka di kediaman masing-masing. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto. Karena itu, penangkapan bisa dilakukan secara serentak. Hanya, polisi tidak menemukan Oleng di rumah orang tuanya. Diduga, lelaki itu melarikan diri karena tahu tengah diincar polisi. Menurut Shinto, para pelaku dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Empat dari enam tersangka pembunuh Izzun Nahdiyah, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, melakukan tindakan biadab sebelum membunuh korban. Mereka menyekap dan memperkosa korban secara bergantian.

Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga, Izzun mendatangi rumah Muhammad Soleh alias Oleng, pacar korban, di Desa Ranca Buaya, Jambe, Kabupaten Tangerang, pada Jumat, 6 April 2012. Izzun mau mengambil laptopnya yang dipinjam Oleng, preman di desa tersebut yang berpacaran dengan Izzun dalam tiga bulan terakhir.

Sebelum datang ke rumah pelaku, korban telah menghubungi pelaku dan meminta laptopnya dikembalikan. Tapi Oleng mengatakan laptop tersebut sedang direparasi. ”Korban membawa uang Rp 600 ribu untuk menebus biaya reparasi laptop itu,” kata Shinto, Selasa, 24 April 2012. Ternyata laptop itu tidak pernah direparasi, tapi telah dijual oleh Oleng.

Di rumah tersangka, korban mendesak agar laptopnya segera dikembalikan. Tapi Oleng justru menahan Izzun dan menyekapnya di dalam kamar selama beberapa jam. Selama penyekapan, Oleng merencanakan pembunuhan pacarnya itu dengan lima temannya. Sebelum dibunuh, empat dari enam pelaku, termasuk Oleng, memperkosa Izzun secara bergantian. Setelah itu, korban langsung dibunuh dengan menggorok lehernya. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto.

Kemudian mayat gadis berkerudung putih itu dibuang ke Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir, Legok, Kabupaten Tangerang. Esok harinya, Sabtu, 7 April 2012, warga Ciangir digemparkan dengan penemuan mayat gadis tersebut.

Polisi mencokok kelima tersangka di Desa Ranca Buaya pada Selasa dinihari, 24 April 2012. Adapun Oleng hingga kini masih buron. Motif pembunuhan Izzun Nahdiyah, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, terungkap. Izzun ternyata dibunuh hanya gara-gara meminta laptopnya dikembalikan. “Korban menuntut agar laptop yang dipinjam pelaku dikembalikan,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Tangerang Komisaris Shinto Silitonga, Selasa, 24 April 2012.

Menurut Shinto, Muhammad Soleh alias Oleng, yang diduga pelaku utama, meminjam laptop merek HP berwarna pink milik korban, kemudian menjualnya. Muhammad Soleh dikenal sebagai preman di Desa Ranca Buaya, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, dan berpacaran dengan korban dalam tiga bulan terakhir ini.

Pada 6 April 2012, Izzun mendatangi rumah Oleng di Desa Ranca Buaya untuk mengambil laptop tersebut. Kepada korban, Oleng mengatakan laptop itu sedang direparasi. ”Korban membawa uang Rp 600 ribu untuk menebus biaya reparasi laptop itu,” kata Shinto.

Ketika sampai di rumah pelaku, korban mendesak agar laptopnya segera dikembalikan. Tapi Oleng justru menahan Izzun dan menyekapnya di dalam kamar selama beberapa jam. Selama disekap itu, Oleng merencanakan pembunuhan kekasihnya dengan lima temannya. Sebelum dibunuh, empat dari enam pelaku, termasuk Oleng, memperkosa Izzun secara bergantian. Setelah itu, korban langsung dibunuh dengan menggorok lehernya. “Para pelaku tinggal saling bertetangga,” kata Shinto.

Mayat gadis berkerudung putih itu kemudian dibuang ke Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir, Legok, Kabupaten Tangerang. Keesokan harinya, 7 April 2012, warga Ciangir digemparkan oleh penemuan mayat Izzun.

Setelah hampir dua pekan menyelidiki kasus itu, Selasa dinihari, 24 April 2012, polisi mencokok lima tersangka pembunuh Izzun di Desa Ranca Buaya. Sedangkan Muhammad Soleh masih buron.

Menurut Shinto, para pelaku dijerat Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Pembunuhan Berencana, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Misteri Pembunuhan Mahasiswi STT Telkom Diaya Eritasi Belum Terungkap

Pelaku pembunuhan terhadap mahasiswi STT Telkom Diaya Eritasi,20, asal Bekasi hingga Rabu belum terungkap. Timsus yang diturunkan Polres Bandung masih berkeliaran di sejumlah titik untuk melakukan penyelidikan. Meski polisi sudah memerilsa 8 saksi namun pelaku yang membantai korban masih misterius.

“Kami masih melakukan penyidikan dan penyelidikan. Doanya saja mudah mudahan pelaku cepat tertangkap,“ kata Kapolres Bandung AKBP Sandy Nugroho, saat dihubungi ‘Pos Kota’ melalui selulernya, Rabu. Sandi menjelaskan dari hasil penyelidikan dan keterangan sejumlah saksi dugaan kuat korban dibantai pelaku yang sekaligus merampok hartanya. Modusnya perampokan dan pembunuhan,“ ujarnya.

Berdasar hasil identifikasi pelaku setelah membunuh membawa kabur harta korban diantaranya laptop,HP dan perhiasan emas putih seberat tiga gram. “Korban mahasiswi semester empat itu dihabisi nyawanya di kamar mandi,“ tambah Kapolres.
Menyinggung hasil autopsi dari RSHS Bandung, demikian Sandy, menunjukan korban dibantai menggunakan benda tajam dan tumpul. Kemungkinan benda tajam berupa gunting yang kini sudah diamankan polisi. “Kami tegaskan hasil otopsi tidak menunjukan tanda tanda kalau korban diperkosa. Jadi korban hanya dibunuh kemudian hartanya dibawa kabur,“ papar kapolres.

Sementara pengojek di daerah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, siap membantu polisi dalam mengungkap kasus pembunuhan itu. Pasalnya, dengan adanya kejadian itu tak sedikit yang menuding pelakunya persis pengojek. Beberapa jam sebelum tewas korban diantar pulang motor.

“Kami khawatir pelaku menyamar tukang ojek. Imbasnya citra ojek buruk,“ kata Dudung, seorang pengojek.
Diberitakan, mahasiswi tewas dibantai di kamar kosnya di Dauehkolot Bandung sepekan lalu. Pelaku hingga kini masih misterius.

Kantor Pegadaian Lenteng Agung Dirampok Pada Siang Hari Tanpa Ada yang Tahu

Setelah perampokan toko emas di Pasar Ciputat, aksi perampokan bersenjata api kembali terjadi di sebuah kantor Pegadaian, Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Kamis (8/3/2012) sekitar pukul 11.10. Dalam aksinya, pelaku berhasil menyandera petugas dan sekuriti, lalu menggasak brankas kantor berisi perhiasan dan uang tunai milik nasabah.

Pelaku diperkirakan lebih dari empat orang yang datang menggunakan sepeda motor. Sutisna, petugas sekuriti kantor Pegadaian yang sedang berjaga di dalam kantor, menuturkan bahwa pada saat itu tiba-tiba ada dua orang pria tak dikenal memegangi tangannya dari belakang. Ketika itu, Sutisna sedang berjaga di dalam kantor.

“Saya datang dari belakang, tiba-tiba ada yang pegang tangan saya dari belakang,” ujarnya, Kamis (8/3/2012), di lokasi kejadian.

Dua pelaku itu, kata Sutisna, memiliki postur tubuh yang lebih pendek darinya. “Saya mau melawan, tapi saya ditendang dan dipukul sampai terjungkal,” imbuhnya. Akibat pemukulan itu, Sutisna mengalami luka lebam di bagian pelipis kanannya.

Seusai melumpuhkan Sutisna, pelaku kemudian menyandera semua karyawan dengan menggunakan tali rafia. Sambil mengikatkan tali, seorang pelaku yang menggunakan senjata api juga mengancam petugas untuk tidak melawan. Semua korban disekap di ruang tengah, kecuali seorang perempuan yang dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil.

Setelah itu, pelaku menggasak isi brankas yang berada di ruang tengah tersebut. Sejumlah perhiasan dan uang tunai milik nasabah pun raib seketika. “Semuanya habis diambil dari brankas itu. Uang dan perhiasan,” ungkap Sutisna.

Pelaku kemudian pergi melarikan diri dengan meninggalkan seluruh petugas dengan tangan terikat. Mereka pergi menggunakan sepeda motor yang diparkir di luar kantor Pegadaian. Masih belum diketahui total kerugian yang dialami Pegadaian.

Manajemen kantor Pegadaian saat ini masih mendata total kerugian akibat peristiwa ini. Semua korban saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Polres Metro Jakarta Selatan. Sementara operasional toko untuk sementara ini dihentikan karena petugas masih menyisir tempat kejadian perkara.

Komplotan perampok bersenjata api beraksi di sebuah kantor Pegadaian di Jalan Raya Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Kamis (8/3/2012) siang. Aksi para perampok di tengah siang bolong ini tergolong rapi karena tak ada satu pun warga di sekitar kantor itu yang menyadari ada aksi perampokan.

Saman, petugas bengkel sepeda motor yang ada di samping kantor Pegadaian, mengaku tak tahu-menahu adanya aksi perampokan itu. Padahal, saat kejadian dirinya sedang memperbaiki sepeda motor di luar bengkel yang langsung bersebelahan dengan kantor Pegadaian.

“Saya enggak tahu ada perampokan itu. Tahunya pas polisi datang sekitar pukul 11.30, bilang di sini ada yang kerampokan. Tahunya di kantor Pegadaian di samping bengkel dan ada korban disandera,” tutur Saman, Kamis siang, saat dijumpai di lokasi kejadian.

Saat mencoba memasuki kantor Pegadaian bersama dua anggota polisi, ternyata pintu luar kantor yang berukuran 3 x 5 meter ini dalam keadaan terkunci. Saman kemudian mengambil peralatan untuk membobol pintu itu.

“Saat saya masuk dengan polisi di situ ada tiga orang laki-laki dan seorang perempuan, sudah termasuk sekuriti. Yang perempuan dimasukkan ke sebuah ruangan yang pintunya sudah terbuka. Tangan mereka sudah dilepas dari tangan yang sebelumnya terikat,” ucap Saman.

Menurut Saman, kondisi di dalam kantor Pegadaian saat itu terbilang cukup rapi. “Enggak berantakan. Rapi kondisinya. Hanya para korban yang perempuan cukup shock tampangnya,” kata Saman.

Hingga Kamis sore, petugas kepolisian masih ada di lokasi kejadian, mulai dari reserse Polres Metro Jakarta Selatan hingga Direktorat Reserse Umum Polda Metro Jaya. Sementara empat orang petugas yang menjadi korban saat ini masih dimintai keterangan di Polres Metro Jakarta Selatan.

Diberitakan sebelumnya, perampokan di kantor Pegadaian Jalan Raya Lenteng Agung, di depan Stasiun Tanjung Barat, terjadi pada pukul 11.10. Pelaku diperkirakan lebih dari empat orang dengan menggunakan senjata api. Modus yang digunakan para pelaku ini adalah dengan menodong kepala korban dengan senjata api.

Para pelaku kemudian mengikat korban dengan tali, lalu menggasak barang-barang di dalam brankas. Setelah selesai merampok, pelaku kemudian meninggalkan Pegadaian dengan mengunci pintu.

Pegadaian di Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, arah ke Depok diserbu gerombolan laki-laki bersenjata api sekitar pukul 11.00-11.30 tadi. Mereka menodongkan senjata api dan menggasak barang-barang berharga, terutama perhiasan emas.

“Perampok antara 4-5 orang. Iya, pakai senpi. Kerugian masih dihitung. Sebagian besar yang dibawa perhiasan emas,” kata Kapolsek Jagakarsa Komisaris Sunarto, Kamis (8/3/2012) siang ini, saat dihubungi Kompas.

Sunarto dan petugas Reskrim Polres Jakarta Selatan tengah berada di tempat kejadian perkara untuk keperluan penyelidikan. Saksi-saksi masih dikumpulkan dan ditanyai. Para pelaku yang kabur dengan sepeda motor sampai sekarang masih dalam pengejaran.

Perampokan bersenjata api beberapa pekan ini marak terjadi di sejumlah tempat di Jakarta dan sekitarnya. Selain menyasar rumah pribadi, perampok juga menjadikan toko emas, minimarket, dan pegadaian sebagai target mereka.

Brigadir Rahmat Merampok SPBU 34-13502 di Jalan Raya Condet 500 Meter Dari Rumahnya

BRIGADIR Rahmat (29), dalang aksi perampokan di pom bensin Condet, Senin (13/2) dini hari, ternyata sempat mendatangi sasarannya satu jam sebelumnya dengan berpakaian preman. Sekitar setengah jam polisi itu berada di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 34-13502 di Jalan Raya Condet, RT 01/03, Kelurahan Batuampar, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur tersebut.

Hal itu diungkapkan Supervisor SPBU 34-13502, Rosyid (40), mengutip pernyataan Saut Siburian (29) supervisor SPBU lainnya yang menjadi korban penembakan Rahmat, saat ditemui Warta Kota di ruang kerjanya, Selasa (14/2) siang.

“Sekitar pukul 02.00 dini hari Rahmat sempat datang ke sini. Dia melihat dua karyawan kami, Ahmad Mualim dan Mahmud, tidur di sofa di ruang pertemuan,” kata Rosyid.

Menurut Rosyid saat itu, Rahmat juga bertemu dengan Saut Siburian, supervisor SPBU lainnya yang malam itu bertugas, dan kemudian menjadi korban penembakan senjata api Rahmat. “Saya juga heran dia bisa begitu. Hubungan kami dengan Rahmat dan polisi lainnya baik,” kata Rosyid.

Seperti diberitakan Warta Kota (14/2), Brigadir Rahmat dan Fajar Yiono alias Jarot merampok SPBU 34-13502 di Jalan Raya Condet, Senin (13/2) dini hari pukul 3.30. Mereka menggasak uang senilai Rp 217 juta dan kabur dengan motor rampasan. Rahmat sempat menembak Saut Siburian, supervisor SPBU di bagian betisnya.

Namun pelarian mereka tak bertahan lama. Lima jam kemudian, sekitar pukul 9.00, Jarot diciduk di bengkelnya di kawasan Makasar dan Rahmat dibekuk di rumahnya di Jalan Batu Alam Jaya, Gang Lurungtentrem, RT 07/03 Batuampar, Kramatjati. Kini mereka ditahan di Polda Metro Jaya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Bawa anak-istri

Rosyid menuturkan pada Minggu malam sekitar pukul 22.00 atau sekitar 5 jam sebelum perampokan, dengan berpakaian dinas, Brigadir Rahmat yang bertugas di Unit Patko Polsektro Kramatjati juga sempat bertemu dirinya. “Malam itu dia ngobrol biasa sama saya. Saya nggak nyangka dini harinya dia merampok di sini juga,” kata Rosyid.

Menurutnya, Brigadir Rahmat dan sejumlah anggota Polsektro Kramatjati memang sering main dan berkumpul di Kantor SPBU. Saking dekatnya hubungan karyawan SPBU dengan para polisi termasuk Brigadir Rahmat, tak jarang Rahmat membawa istri dan anak perempuannya datang serta bermain di Kantor SPBU Condet itu. “Sering juga bawa istri sama anaknya main ke sini,” kata Rosyid.

Bahkan, usai perampokan dan Rahmat dibekuk, Senin sore istri dan anak Rahmat datang ke SPBU menemui pemilik SPBU. “Saya nggak tahu pembicaraan mereka apa,” katanya.

Rumah Brigadir Rahmat yang berada di Jalan Batu Alam Jaya, Gang Lurungtentrem, RT 07/03, Kelurahan Batuampar, Kramatjati, memang terbilang dekat dengan pom bensin yang dirampoknya. Jaraknya hanya sekitar 500 meter. Karena dekat, bukan hal yang aneh jika Rahmat sering berkunjung ke SPBU itu.

Saat Warta Kota mendatangi rumah Brigadir Rahmat, Selasa (14/2) siang, bangunan satu lantai berpagar hitam itu tampak sepi. Rumah Rahmat berada di gang cukup sempit, yakni di Gang Lurungtentrem setelah melalui Jalan Batu Alam, Kelurahan Batuampar.

Walau sederhana, rumah Brigadir Rahmat tampak paling terawat di antara deretan rumah lainnya. Temboknya berwarna abu-abu dan diselingi warna merah, berpadu dengan pintu rumah berwarna putih. Jarak gerbang rumah warna hitam, dengan pintu rumahnya hanya sekitar satu setengah meter. Karenanya teras rumah cukup mungil dengan lebar sekitar 5 meter. Ada stiker bertanda kepolisan Polda Metro Jaya di kaca depan rumah.

Menurut sejumlah warga, di rumah itu Rahmat tinggal bersama istri dan seorang anak perempuannya sejak 3 tahun lalu. Saat Warta Kota mencoba memberi salam, tak ada jawaban dari dalam rumah. “Mungkin orangnya pergi Mas. Rumahnya kosong sejak kemarin,” kata salah seorang warga.

Selain memiliki rumah sendiri, Rahmat juga memiliki satu mobil Avanza warna silver dan dua sepeda motor. “Padahal hidupnya enak. Jadi saya nggak sangka dia mau merampok,” kata salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Utang atau narkoba

Mengenai dugaan motif perampokan yang dilakukan Rahmat dan Fajar Yiono alias Jarot di SPBU 34-13502 hingga kemarin belum jelas.

Kasubag Humas Polrestro Jakarta Timur Komisaris Didik Hariyadi menjelaskan motif perampokan diduga karena narkoba atau bermotif ekonomi. “Saya rasa nggak jauh-jauh dari motif ekonomi. Pasti dia juga lagi butuh uang atau terlibat utang,” ujarnya.

Mengenai kemungkinan narkoba, Didik, mengaku belum dapat memastikannya. “Dalam penyelidikan belum ada temuan bahwa dia pecandu, tapi selama ini dia dinilai cukup baik dalam pekerjaannya,” katanya.

Didik mengatakan, Brigadir Rahmat dikenal rajin dan disiplin oleh rekan-rekannya. Karenanya ia mengaku tidak menyangka Rahmat pelaku perampokan SPBU itu. Rahmat masuk kepolisian tahun 2003. Dengan pangkat Brigadir, Rahmat digaji sekitar Rp 3,5 juta sebulan.

Dipecat

Kapolsektro Kramatjati Komi­saris Polisi Imran Gultom, atasan Rahmat, juga tak menyangka anak buahnya menjadi pelaku perampokan. Menurut Imran, pihaknya tidak bisa mengawasi seluruh anak buahnya selama 24 jam. “Pengawasan ke dia kan hanya selama dinas,” kata Imran, Selasa (14/2).

Menurutnya, Rahmat bakal dipecat dari kepolisian. “Perbuatan dia tidak bisa ditolerir,” tegas Imran, Selasa.

Menurut dia, sanksi itu biasanya diberlakukan terhadap polisi yang melakukan kejahatan. Segera setelah proses hukumnya selesai, Rahmat tak akan lagi berkarier sebagai polisi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, kemarin menyatakan, pihaknya akan menunggu proses hukum terhadap Rahmat lebih dulu. “Kami tunggu dulu proses pidananya. Tentu, vonis hakim nanti bisa mempengaruhi sanksi disiplin dan kode etik yang akan diberikan buat R ini,” katanya.

Soal motif perampokan, Rikwanto mengatakan, penyidik masih mendalaminya. “Motif sementara, J mengaku butuh uang dan bersama R, mereka melakukan perampokan,” ucapnya

Perampok Minimarket Jakarta Ternyata Psikopat Pasangan Kekasih Seperti Bonnie and Clyde

Tersangka perampokan minimarket PAT alias P (25) dan RAP alias R (25) punya alasan sendiri kenapa nekat berbuat tindak kejahatan. PAT dan RAP mengaku berasal dari keluarga bermasalah (broken home) lalu hidup sendiri di jalanan dan terlalu malas untuk kuliah karena terlalu senang nyabu.

PAT mengaku setelah kedua orangtuanya bercerai, ia tinggal berpindah-pindah. Terkadang ikut Ayahnya di Padang atau ikut Ibunya di Medan. Sampai akhirnya tahun 2009, PAT memutuskan pergi dari kedua orangtuanya dan hijrah ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, PAT langsung bergaul di Kampung Ambon, Jakarta Pusat. Di Kampung Ambon inilah, PAT bertemu dengan tersangka lainnya RAP dan MA alias L. PAT pun memulai mencari kerja sebagai penimbang sabu. Sampai akhirnya merampok minimarket bersama RAP dan pacarnya MA.

“Kerja nimbang sabu belum mencukupi. Kosan saja Rp 800 ribu sebulan, mau pindah ke kosan yang murah … gengsi. Makan kami (dengan MA) berdua Rp 50 ribu sehari. Putus asa cari kerja di Jakarta,” akunya.

Serupa seperti PAT. RAP juga mengaku berasal dari keluarga broken. Kedua orangtua RAP bercerai saat usianya 4 tahun. Ia pun lantas dititipin orangtuanya tinggal di rumah tantenya di Jakarta. RAP pun hijrah dari Surabaya. Sampai di tingkat SMP, RAP kabur dari rumah tantenya.

“Ya hidup sendiri di jalanan. Sampai ketemu sama pacar yang mau bayarin biaya hidup,” katanya.

Pacar RAP lantas membiayai hidupnya hingga kuliah. RAP pun kembali ke Surabaya dan dibiayai kuliah oleh pacarnya di sebuah perguruan swasta di Surabaya. Namun kuliah RAP tak sampai selesai.

“Drop out. Terus putus dan pacaran sama yang lain,” jelasnya.

Sebelumnya Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Angesta Romano Yoyol memerintahkan anggotanya untuk menangkap komplotan perampokan minimarket yang beberapa minggu terakhir sudah meresahkan masyarakat. Dengan dipimpin AKBP Hengki, tim penyidik akhirnya membekuk 4 tersangka.

Keempatnya ditangkap di tempat terpisah. PAT ditangkap pada Senin (16/1) pukul 09.00 WIB di Kampung Ambon. Dari keterangan PAT, pukul 12.30 WIB, tersangka MA alias L ditangkap di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Berselang 30 menit, pukul 13.00 WIB, tersangka TA alias T dibekuk. Terakhir, tersangka RAP ditangkap pukul 19.30 WIB saat hendak masuk ke Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Pasangan kekasih PAT alias P (25) dan MA alias L (23) yang merampok minimarket di kawasan Jakarta, ternyata kecanduan narkoba. Begitu juga dengan tersangka lainnya RAP alias R (25), ditengarai terkait dengan jaringan narkotika.

“P dan L mereka kecanduan narkotika. Rata-rata semuanya kecanduan narkotika,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Yoyol mengatakan, PAT dan tersangka TA alias T bekerja di Kampung Ambon sebagai penimbang sabu. “Dia suka nimbang-nimbang narkoba,” kata Yoyol. Sementara menurut Kepala Satuan Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Hengki Haryadi, tersangka P ditangkap di Kampung Narkoba, Jakarta Barat. “P dan L memang kerjanya di tempat narkoba, tapi ini masih kita dalami,” ujar Hengki.

Bekerja di sebuah event organizer (EO) membuat tersangka perampokan minimarket, RAP alias R (25) masih belum bisa memenuhi kebutuhannya. Apalagi RAP punya utang sebesar Rp 7,5 juta juga di Pegadaian. RAP pun akhirnya mengaku merampok minimarket.

“Saya kerja di EO. Tapi kan kerja di EO nggak rutin dapat penghasilan. Ada utang yang harus dibayar Rp 7,5 juta. Jadi ya butuh uang untuk nutupi utang meskipun lebih sering buat foya-foya sambil nyabu,” ujar RAP .

Menurut RAP, pertama kali ia merampok minimarket yaitu minimarket di Circle-K Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di Kelapa Gading, RAP beraksi bersama PAT alias T (25). “Pertama di Kelapa Gading. Awalnya jalan-jalan. Terus sampai di Kelapa Gading lagi ramai tempatnya (minimarketnya). Terus balik lagi sudah sepi,” jelasnya.

Saat beraksi di Kelapa Gading, pacar RAP, IA juga ikut. Namun RAP mengaku pacarnya tidak tahu menahu mengenai aksinya. Saat aksi berlangsung, IA sedang tidur di dalam mobil. “Dia sebenarnya nggak tahu. Dia tidur. Pas sudah pulang baru saya bangunin dia,” ungkapnya. Sementara itu Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKBP Hengki Haryadi mengatakan komplotan ini sudah beraksi setahun terakhir. Motifnya berawal dari uji nyali alias suka mencoba-coba.

Minimarket yang sepi dan tidak memasang Circuit Closed Television (CCTV) menjadi sasaran empuk komplotan perampok, PAT cs. Mereka mensurvei minimarket sebelum beraksi.

“Mereka mengincar minimarket yang sepi, nggak ada satpam dan CCTV-nya,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Yoyol mengatakan kawanan ini melakukan survei lebih dulu ke lokasi sasaran. Survei dilakukan dalam waktu yang singkat. “Hari itu survei, hari itu juga mereka melancarkan aksinya,” ujar Yoyol.

Dalam aksinya, kata Yoyol, masing-masing tersangka memiliki peran yang berbeda. Tersangka P yang merupakan otak perampokan dan tersangka R, bertugas menodongkan senjata airsoft gun.

“Yang lainnya menunggu di dalam mobil atau motor,” imbuhnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Hengki Haryadi menambahkan, tersangka L bertugas sebagai ‘pengepul’ dana hasil kejahatan.

“Dia sempat SMS pacarnya ‘masa cuma segini hasil ngerampok’,” kata Hengki.

Hengki mengatakan kendaraan operasional yang dibawa tersangka yakni motor dan mobil.

“Kadang pakai motor, kadang pakai mobil. Mobil punya tersangka P,” imbuh Hengki.

Setelah datang ke lokasi, dua tersangka yakni P dan R menodongkan senjata airsoft gun ke kasir. Mereka lalu menggasak uang yang ada di meja kasir, juga beberapa barang lain seperti cokelat, susu dan lain-lain.

“Mereka kadang menggunakan masker. Kalau pas bawa motor, mereka masuk ke minimarket menggunakan helm,” lanjutnya.

Usai merampok, kawanan ini lalu membagi-bagikan uang hasil kejahatannya. Rata-rata, uang hasil kejahatan digunakan untuk foya-foya.

Adapun, tersangka sudah melakukan 9 kali perampokan di 9 minimarket berbeda di kawasan DKI Jakarta. Selama aksi itu, mereka telah mengumpulkan uang sebesar Rp 30 juta lebih.

Empat dari lima perampok minimarket yang selama sepekan ini telah meresahkan warga dibekuk. Empat tersangka yakni tiga laki-laki berinisial PAT alias P, TA alias T dan RAP alias R serta seorang perempuan berinisial MA alias L, yang juga kekasih tersangka P.

Salah satu tersangka, RAP alias R mengaku merampok minimarket karena alasan desakan kebutuhan ekonomi. Padahal RAP sendiri bekerja sebagai koordinasi sebuah event organizer (EO).

“R malah bekerja sebagai koordinator event organizer (EO),” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Jakata Pusat, AKBP Hengki Haryadi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Menurut Hengki, RAP berasal dari keluarga mampu. Begitu juga dengan PAT. Sedangkan tersangka MA, TA, dan IA yang masih buron masih belum jelas keterlibatan mereka ikut dalam aksi perampokan ini.

“Kalau PAT dan MA alias L, mereka baru pulang liburan di Bali terus kehabisan uang, lalu muncul ide merampok. Yang RAP alias R, IA dan TA alias T, belum jelas,” ujarnya.

Seperti diketahui, polisi menangkap empat dari lima pelaku perampokan minimarket di kawasan Jakarta. Tiga tersangka yakni pria berinisial PAT alias P, TA alias T dan RAP alias R serta wanita berinisial MA alias L.

“Tersangka I (perempuan) masih dikejar,” imbuhnya.

Tersangka P ditangkap di Jalan Berlian, Kampung Ambon, Jakarta Barat pada Senin (16/1). Dari keterangan P, polisi berhasil membekuk tersangka T di Jl Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Barat, lalu tersangka R yang ditangkap di Plaza Indonesia dan tersangka L ditangkap di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kawanan ini, setidaknya telah melakukan perampokan di 9 lokasi berbeda di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sasaran mereka adalah minimarket.