Cerita Kriminal

Entries categorized as ‘pornografi’

Puluhan Pengguna Internet Penyuka Pornografi Anak-Anak Digerebek

Desember 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Polisi Spanyol pada hari Senin mengatakan  telah menangkap 34 orang di seantero negara itu atas tuduhan memiliki, mendistribusikan dan menjual berbagai gambar pornografi anak-anak di Internet.

Polisi melakukan pencarian di lebih dari 20 provinsi, menyita 88 perangkat keras, dan lebih dari empat juta file pornografi anak, termasuk gambar dan video para korban pelecehan seksual.Polisi Jerman dan Inggris juga berpartisipasi dalam pencarian tersebut.

Lebih dari 400 orang telah ditangkap pada tahun ini atas tuduhan pornografi anak.Penyelidikan dipusatkan pada orang-orang yang menggunakan kartu kredit untuk membeli dan mendistribusikan gambar-gambar pornografi anak tersebut

Kategori: internet · paedofilia · pornografi · prostitusi

Polisi Kini Merazia Game Porno Di Mal

November 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pornografi merasuki masyarakat melalui banyak media. Bahkan akhir-akhir ini, pornografi banyak ditawarkan lewat permainan komputer. Satu toko di Supermall Lippo Karawaci yang menyediakan CD program berisi permainan porno untuk komputer, Selasa (25/11) malam, digerebek Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya.

Pemilik toko, Yul, 40, seorang janda, diringkus berikut barang bukti 25.200 keping VCD/DVD bajakan termasuk CD game porno.

Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raja Erizman, Rabu (26/11), mengatakan Ny.Yul kini masih menjalani pemeriksaan untuk mengetahui dari mana kepingan game porno itu diperoleh.

“CD game porno itu melanggar kesopanan. Di dalam game ini diperlihatkan gambar porno jika pemain telah memenangkan game tersebut, misalnya gadis membuka BH,” kata Raja Erizman didampingi Kepala Satuan Industri dan Perdagangan, AKBP Golkar Pangarso.

RP15 RIBU PER KEPING
Penggerebekan terhadap tempat usaha milik Ny. Yul dipimpin oleh Kompol Parulian Sinaga. Saat dilakukan penggerebekan, pemilik tidak berkutik dan pasrah.

Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku telah menjalani bisnis haramnya ini selama tiga tahun. Tersangka menjual CD game porno seharga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per keping, Harga CD program computer lainnya dipatok Rp 25 ribu – Rp50 ribu per keping. “Tersangka Yul ini melanggar undang-undang hak cipta dengan menggandakan dan memperjualbelikan VCD/DVD bajakan,” kata Raja Erizman.

Kategori: pornografi

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

November 12, 2008 · 1 Komentar

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Kategori: bunuh diri · diskriminasi seks · dukun cabul · gay dan lesbian · hipnotis · internet · kebodohan · kecelakaan · kejahatan anak · kejahatan terorganisasi · kekerasan pada wanita · korupsi · mutilasi · narkotika · orang hilang · paedofilia · pelanggaran HAM · pelecehan seksual · pembunuh berantai · pembunuhan · pemerkosaan · penculikan · penganiayaan · penipuan · penyelundupan · perampokan · perjudian · perzinahan · pns korup · polisi korup · pornografi · prostitusi · selebriti psikopat · tabrak lari · terorisme

Tsunami Maksiat Gay Homoseksual Makin Menjadi Polisi Menggrebek Pesta Seks Gay

November 7, 2008 · 1 Komentar

Polisi Malaysia menahan lebih dari 70 pria pelacur maupun pelanggan mereka dalam empat penggerebekan akhir pekan lalu.

Kantor berita DPA mengutip harian Star yang menyebut polisi di negara bagian Penang melakukan penggerebekan di empat lokasi terpisah termasuk di satu panti pijat dan satu pusat kebugaran.

Penggerebekan itu menghasilkan 28 pria ditangkap termasuk seorang yang berkebangsaan China. Kepala polisi Gan Kong Meng mengemukakan para tersangka berusia antara 20 hingga 40 tahun.

Dia menyebutkan beberapa pelanggan pria pelacur itu berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Harian Star melaporkan bahwa saat penggerebekan beberapa pria dalam keadaan telanjang dan kondom yang sudah terpakai berceceran di lokasi.

Polisi juga menyita barang-barang pornografi dan kotak-kotak kondom. Pemilik tempat yang digerebek akan didakwa dengan pasal-pasal susila.

Kategori: gay dan lesbian · perzinahan · pornografi · prostitusi

Perenang Bugil Dari Inggris Berenang Di Istana Tokyo

Oktober 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang pria bugil berenang di parit Istana Kerajaan Jepang, Selasa. Pria yang mengaku wisatawan Inggris itu memanjat dinding istana dan sempat melemparkan batu ke polisi serta memercikkan air ke aparat, sebelum dia ditangkap.

Sebagaimana dilaporkan Reuters, cuplikan di televisi memperlihatkan pria bertubuh tinggi itu keluar dari air dan mengejar polisi dengan batu dan blok bangunan yang terbuat dari plastik.

Dia lalu kembali “nyemplung” ke air yang berwarna gelap itu dan berenang ke sisi lain parit lalu memanjat tembok istana yang terbuat dari batu setinggi delapan meter.

Orang itu ditangkap oleh dua polisi setelah dikejar selama satu setengah jam.

“Belum pernah saya lihat ada orang melakukan hal seperti itu, dia pasti agak tidak waras,” kata seorang saksi kepada TV Tokyo.

Cuplikan televisi memperlihatkan orang-orang yang lewat menonton ke arah parit serta menyaksikan pengejaran itu.Mereka tertawa geli bahkan memotret lewat kamera Ponsel.

Polisi mengatakan motif pelaku belum jelas, tapi media melaporkan bahwa tas orang itu jatuh ke parit.

Pria berumur sekitar 40 tahun itu awalnya mengaku orang Spanyol namun kemudian dia mengatakan dirinya warga Inggris yang tinggal di Spanyol.

“Kesehatan jiwanya sedang kami periksa,” kata seorang jurubicara kepolisian. Orang tersebut akhirnya dibebaskan.

Istana Kerajaan terletak di jantung Tokyo dan merupakan tempat tinggal kaisar Jepang.Istana itu dikelilingi 12 parit yang total panjangnya 7 km.

Wisatawan bebas berjalan-jalan mengelilingi perbatasan istana bahkan masuk ke dalam jika ikut rombongan tur, namun secara umum, mereka tidak boleh berada di lingkungan Istana seluas 115 hektar itu

Kategori: pelecehan seksual · pornografi · prostitusi

Beredar Kembali Video Mesum Artis KDI Kontes Dangdut Indonesia Asal Tegal Lewat Ponsel Dan Dapat Didownload Di Rapidshare

Agustus 30, 2008 · & Komentar

Jajaran Polres Tegal memburu penyebar video mesum yang melibatkan peserta Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 5 berinisial IRA (20). Hal itu dilakukan untuk menindaklanjuti laporan warga Desa Mejasem, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal yang menjadi korban kasus video mesum tersebut.

Tercatat, hingga kini sebanyak empat orang saksi telah dimintai keterangan terkait dengan kasus video berdurasi sekitar 1 menit 22 detik tersebut. Mereka adalah kekasih korban Nryt (34), ayah korban BS dan dua orang kakak perempuan korban yakni VP dan SDR.

Kapolres Tegal AKBP Drs Agustin Hardiyanto SH MM MH melalui Kasat Reskrim AKP Rudi Hartono SIK mengungkapkan, kasus video mesum tersebut dilaporkan korban ke SPK Mapolres Tegal, Senin (18/8).

Korban saat itu melaporkan kekasihnya yang diduga menjadi penyebar video mesum bersama dirinya. Ia menjelaskan, adegan mesum tersebut dibuat pada tanggal 15 Agustus 2008, tepatnya di rumah Nyrt di Desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal. Sedangkan proses perekamannya menggunakan sebuah alat web cam.

Kemudian, adegan mesum tersebut ditransfer ke telepon seluler Sony Ericsson H320i milik Nyrt. Adegan itu menampilkan kedua sejoli telanjang bulat di ranjang. Terlihat korban mengelap tubuh kekasihnya dengan menggunakan sebuah kain berwarna putih. Sementara Nyrt terus menatap camera yang sedang menyorotnya.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan. Dari hasil pemeriksaan sementara, korban menolak apabila dianggap sebagai penyebar video mesum tersebut,” katanya didampingi Kanit I Reskrim Ipda Bayu Marwanto.

Menurut pengakuan IRA, kasus tersebut dilaporkan setelah ia mengetahui video mesum bersama kekasihnya menyebar luas. Pertama kali, ia melihat adegan mesum itu dari dua orang temannya di Desa Bogares Kidul, Kecamatan Pangkah. Karena merasa dilecehkan, IRA selanjutnya langsung melaporkan kekasihnya ke Mapolres Tegal.

Sedangkan, Nyrt mengaku tidak pernah menyebarluaskan adegan mesumnya bersama korban. Ia mengatakan, tidak mungkin apabila yang melakukan dirinya. Sebab, adegan itu membuatnya malu apabila tersebar luas ke masyarakat.

Video mesum yang diduga diperankan salah satu finalis Kontes Dangdut Indonesia (KDI) beredar di Kota Tegal, Jawa Tengah, baru-baru ini. Rekaman adegan layaknya suami istri itu berdurasi 1 menit 22 detik. Sang pemeran merupakan finalis KDI asal Tegal dengan inisial L. Rekaman beredar tak hanya melalui telepon seluler, tapi juga lewat internet. Menurut polisi, terkait beredarnya rekaman, artis lokal Tegal telah meminta agar kasus ini diusut tuntas, termasuk mencari dalang penyebaran video mesum. Sejauh ini tujuh saksi akan dimintai keterangan

Kategori: internet · perzinahan · pornografi

Dua Orang Gay Asyik Bercumbu Dan Berhubungan Intim Didepan Umum Ditangkap Satpol PP Kota Palembang

Agustus 18, 2008 · 1 Komentar

asangan gay di Palembang sudah berani tampil dan bercumbu di depan umum. Akibat bercumbu di Benteng Kuto Besak (BKB), pasangan gay Dar ,36, dan As,26, diciduk anggota Satpol PP Kota Palembang.

Pasangan ini diciduk, saat dipergoki bercumbu di pinggir turap BKB, Minggu malam. Petugas Satpol PP yang tengah berpartroli mencurigai gerak-gerik keduanya dan langsung menangkapnya.

Kepada petugas seperti dikutip kompas.com, As mengaku baru tiga bulan kenal dengan Dar, pasangan gay. “Saya baru tiga bulan kenal dengan dia. Dan akhirnya kami memulai hubungan ini,” ujarnya.

As mengaku melakukan perbuatan mesum itu karena terbawa suasana romantis sehingga keduanya larut dan nekat melampiaskan berahinya di tempat itu.

Kasat Reskrim Poltabes Palembang, Kompol Kristovo Ariyanto membenarkan telah menerima penyerahan pasangan gay yang di tangkap oleh anggota Polisi Pamong Praja Kota Palembang.

Kedua pelaku telah diperiksa secara intensif dan jika terbukti akan segera di proses sesuai hukum yang berlaku.

Kategori: gay dan lesbian · perzinahan · pornografi · prostitusi

Empat Siswi SMP Bandung Menelanjangi Paksa Temannya Sendiri Untuk Difoto Bugil Dan Disebarkan Pada Teman Sekolahnya

Juli 4, 2008 · & Komentar

BANDUNG – Empat siswi SMP di Kota Bandung bikin ulah. Mereka ditangkap polisi, Jumat (4/7) siang di Jalan Sukabumi, Bandung, karena menelanjangi ABG bernama K,13, kemudian difoto dan hasilnya disebar ke sejumlah HP milik teman mereka.

Hingga Jumat sore, empat siswi masing-masing Eg,13, Ci,13, Din,13, Si,13, masih menjalani pemeriksaan di Sat Reskrim Polwiltabes Bandung.

Berkaitan dengan kasus ini, polisi menetapkan lima tersangka, empat dari kalangan siswa, dan seorang lagi NN,45, pemilik rumah.

Kapolwiltabes Bandung Kombes Pol Bambang Suparsono menjelaskan, penangkapan terhadap empat siswi SMP itu berkaitan adanya laporan dari orang tua korban K, yang memembuat laporan kalau anaknya jadi korban foto bugil di HP kemudian disebar ke sejumlah HP teman-temannya.

Berbekal laporan itu, lanjut Bambang yang didampingi Kasat reskrim AKBP Hendro Pandowo, sejumlah petugas dari unit PPA langsung menangkap para tersangka. Tersangka dibawa ke Mapolwiltabes Bandung.

Menyinggung pengambilasn foto bugil, demikian Kapolwil, berlangsung pada 28 Juni sekitar pukul 15.00 di satu studio Jalan Sukabumi, Bandung. Pengakuan para tersangka, pengambilan gambar bugil korban itu dilakukan cepat.

“Sewaktu mengambil foto, kaki dan tangan korban dipegang oleh tiga tersangka, kemudian ditelanjangi. Tersangka lain mengambil gambar bugil,” kata Bambang.

Kategori: kejahatan anak · kekerasan pada wanita · pelecehan seksual · penganiayaan · pornografi

Video Porno Rianti Cartwright – Bintang Film Ayat-Ayat Cinta Beredar Di Handphone?

Juni 13, 2008 · & Komentar

JAKARTA – Bintang film dan sinetron sekaligus model, Rianti Cartwright, kaget atas beredarnya video porno VJ Rianti MTV. Dalam video berdurasi 5 menit 30 detik tersebut, tampak seorang cewek cantik berhubungan seks dengan seorang lelaki.

Walau judulnya mencatut nama Rianti, namun dalam gambar pembuka justru tertulis Aerobic 1. Lokasinya memang mengambil tempat di sanggar senam, meski begitu salah satu adegan mesum doggy style mempertontonkan si cewek berpegangan di bibir piano.

Adegan dalam video yang beredar di kalangan pengguna telepon genggam itu tampaknya sengaja disyuting dan diedit sehingga sistematis ceritanya dari awal hingga akhir.

Pemeran utama wanita memang mirip dengan Rianti, artis yang melejit namanya saat membintangi film Ayat Ayat Cinta. Di video, cewek itu mengenakan kaos mini u can see dan celana training dengan perpaduan warna biru-putih.

Dalam adegan tersebut sang prianya polos tanpa benang sedikitpun. Sebaliknya dengan pemeran wanita, tak membuka kaos dan sepatu sport putihnya. Kaos pendek tersebut hanya disingkapkan di atas payudara.

Untuk menimbulkan kesan bernuansa romantis, film tersebut diitingkahi lagu My Heart yang dinyanyikan Acha Septriasa dan Irwansyah. Karena lagu itulah, tidak terdengar suara dialog atau desahan layaknya orang berhubungan badan.

MENYESALKAN
Melalui manajernya, Ade, Rianti menyesalkan oknum yang tidak bertanggungjawab yang tega mencatut nama dara ayu yang terlahir dari ayah berdarah Inggris dan ibu Sunda-Jawa dan dikenal publik sebagai VJ MTV Indonesia.

Menurut Ade, bintang kelahiran Bandung, 22 September 1983 itu tidak akan mungkin melakukan hal-hal negatif, apa lagi beradegan porno. “Itu bukan Rianti. Saya pastikan itu bukan Rianti. Dalam berfoto saja, Rianti tak pernah seronok,” tegas Ade.

Ditanya apakah artis berayah berdarah Inggris dan ibu Sunda-Jawa ini akan menuntut atau melaporkan oknum yang mencatut namanya sebagai bintang porno, Ade menegaskan belum menentukan sikap. “Karena Rianti belum pernah melihat video itu. Yang pasti itu adalah perbuatan orang iseng,” ujar Ade.

Rianti saat ini sibuk syuting striping untuk sinetron Munajah Cinta produksi Sinemart ditayangkan RCTI setiap hari pukul 20.00 WIB. Karena lakonnya sebagai Khumairah di sinetron tersebut, membuat bintang film I’m In Love, Jomblo, Pesan Dari Surga dan D’Bijis ini setiap hari berada di lokasi syuting.

ORANG ISENG
Menanggapi video porno tersebut, pakar telematika Roy Suryo itu hanya perbuatan orang iseng. “Inul Daratista dan Gubernur Sulawesi Selatan H. Syahrul Yasin Limpo juga mengalami seperti yang dialami Rianti Cartwright. Ternyata setelah diselidiki, bintang film porno itu artis Philipina yang wajahnya mirip dengan Inul,” cetus Roy Suryo.

Meski begitu, Roy Suryo belum berani berkomentar banyak kebenaran film porno yang wajahnya mirip bintang film yang sedang naik daun itu. “Kita sih tak membela siapa-siapa. Sebab, keasliannya perlu diuji. Benar apa tidak, diperlukan waktu untuk mengujinya,” terang Roy.

Kategori: perzinahan · pornografi