Arsip Kategori: prostitusi

Jhon Weko Spesialis Perampok Wanita Panggilan High Class PSK Kelas Atas

Jimmi Muliku alias Jhon Weko (33) tidak hanya berhasil memperdaya wanita panggilan (PSK) high class. Bahkan seorang wanita yang berprofesi sebagai sopir bus TranJ pun ia kadali. “Jadi, dia (John) kalau mau transfer uang hasil kejahatan itu melalui rekening perempuan berinisial DS. Dia ini sopir busway,” kata Kasubdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (9/8/2013).

Herry mengungkapkan, DS tidak terlibat dalam aksi kejahatan tersebut. Jhon Weko adalah pelaku tunggal dalam kejahatan perampokan yang disertai penyekapan itu. “DS ini hanya dipakai rekeningnya untuk menampung transferan uang dari rekening korban, setelah itu ditransfer ke rekening Jhon,” ujar Herry. Jhon mengaku kenal dengan DS ketika dia ditahan di Rutan Salemba. Saat itu DS tengah membesuk temannya yang juga ditahan di Rutan Salemba.

“Saya pacaran sama DS. DS tinggal di Mampang,” kata Jhon. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu kiranya pepatah yang menggambarkan aksi kejahatan Jhon Weko. Jhon tidak hanya menggasak harta benda korban, tetapi juga menikmati kemolekan tubuh para wanita panggilan yang merupakan korbannya.

“Modusnya yakni dengan mengajak kencan melalui mucikari, kemudian korbannya dilakban, ditodong pisau dan setelah itu diambil barang-barangnya,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (9/7/2013). Jhon mengaku telah melakukan aksi perampokan dengan sasaran wanita panggilan ini selama 16 kali sejak tahun 2010 lalu. Selama 2 kali tertangkap, Jhon tidak pernah mengubah sasaran dan modus operandinya.

“Selama saya melakukan ini, saya tidak pernah menganiaya korban-korban saya, saya tidak pernah memukul juga. Paling hanya mengancam dan mengikat korban dengan lakban,” jelas Jhon. Sasaran Jhon adalah wanita-wanita panggilan kelas atas mulai dari ayam kampus hingga model-model profesional. Menurut Jhon, wanita-wanita panggilan kelas atas (high class) memiliki banyak uang dan harta yang bisa dia rampas.

Berlaga borjuis, Jhon mulai mencari mangsanya melalui mami-mami pemandu karaoke. Kepada mami, Jhon meminta disediakan wanita panggilan yang berkelas. Soal tarif, tidak jadi masalah. “Kalau yang high class itu biasanya Rp 5-15 juta semalam. Katanya suka dipakai pejabat-pejabat,” ujar Jhon. Setelah bersepakat dengan mami mengenai tarif booking, Jhon akan menyiapkan kamar hotel berbintang. Agar meyakinkan korbannya, Jhon menyewa kamar suite yang memiliki ruang tamu di dalamnya.

“Saya yang check in dan menggunakan uang saya,” ujar Jhon. Setelah janjian, Jhon akan mengajak PSK tersebut ke dalam kamar hotel. Biasanya, Jhon mengajak 2 wanita PSK sekaligus. Setelah berada di dalam kamar, Jhon lalu mengencani salah satu korbannya, sementara korban lainnya disuruh menunggu di ruang tamu.

Setelah memuaskan nafsunya, Jhon lalu memborgol korban dan mengikat kaki serta tangan korban dalam keadaan masih telanjang. Ia lantas menodongkan pisau lipat ke korban dan mengancam korban untuk segera menyerahkan barang-barang berharga milik korban. “Setelah itu saya keluar dari dalam kamar hotel dan setelah di luar, baru saya telepon resepsionis dan meminta resepsionis untuk merapikan kamar,” ujar Jhon.

Sementara Jhon langsung kabur ke Surabaya, Jawa Timur. Tujuannya adalah untuk menjual barang-barang hasil rampasan ke penadah di Surabaya. “Kalau BlackBerry Q10, Z10, Porsche itu dihargai Rp 4 juta satunya. Kalau berlian yang kata korban harganya Rp 150 juta, saya jual ke engko itu harganya Rp 8 juta,” pungkas Jhon.Perjalanan hidup Jimmy Muliku alias Jhon Weko (33), penuh lika-liku. Lahir dari keturunan keluarga ningrat, namun hidupnya melarat. Kekayaan sang kakek, rupanya tidak diwariskan kepada orangtuanya lantaran memiliki prinsip hidup yang berseberangan.

Alasan pribadi ini pula, yang melatarbelakangi Jhon melakukan kejahatan perampokan. Ia ingin kaya dengan cepat, namun tanpa harus mengeluarkan keringat. “Awalnya dari masalah pribadi, punya keluarga di Gorontalo. Opa-oma saya orang terkaya di Kopayato, Gorontalo. Mereka tuan tanah,” kata Jhon Weko kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (9/7/2013). Jhon lahir di Manado pada tanggal 2 Juni 1980 silam. Dikisahkan Jhon, kakeknya yang kaya itu menghambur-hamburkan uangnya untuk wanita simpanan. Hal ini lantas membuat ayah Jhon gerah, hingga menegur sang kakek. “Opa saya suka main perempuan, gonta-ganti wanita, lalu ditegur bapak saya,” ujar Jhon.

Saat itu, Jhon masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas 3. Enam tahun sekolah di Manado dan terpisah dari orangtua, Jhon harus menerima kenyataan pahit ketika kembali ke Gorontalo. “Selidik punya selidik, Opa malah bunuh bapak saya. Tetapi opa tidak pernah dipenjara. Dari situ, warisan-warisan ke bapak saya tidak ada satu pun,” kenang Jhon. Pengalaman itu, membuatnya bertekad untuk menjadi orang kaya. “Di situ saya berpikir harus bisa jadi orang banyak duit agar bisa bahagiakan mama saya. Dari situ punya inisiatif, cara apa pun harus bahagiakan ortu saya,” jelas Jhon.

Sekitar tahun 2001, Jhon lalu merantau ke Surabaya. Ia lalu tinggal di keluarganya di Surabaya. Tahun 2008, ia kemudian ke Batu Licin, Kalimantan. “Ketemu perempuan muslim, lalu pacaran sama dia dan dia hamil. Saya tidak menikahi dia karena ortunya nggak setuju” kata dia. Ia kemudian melanjutkan hidupnya. Sekitar tahun 2009, Jhon muda pergi ke Bontang hingga 2010 akhir, ia kembali ke Surabaya. “Lalu akhir 2010 baru ke Jakarta, kos di Cempaka Mas. Di situ saya punya pemikiran bagaimana saya harus bisa dapat duit,” kata Khon.

Suatu hari, ia membaca koran Ibu Kota. Ia lalu tertarik dengan sebuah iklan cewek panggilan. Jhon lalu timbul niat untuk merampok cewek panggilannya. Modusnya, dengan meniduri cewek panggilan itu lebih dulu. “Terpikir di benakku bahwa wanita malam punya banyak duit,” tutur Jhon. Jimmi Muliku alias Jhon Weko merampok puluhan wanita panggilan high class. Dengan modus pura-pura hendak berkencan, Jhon yang mengaku pengusaha ini setidaknya meraup keuntungan hingga miliaran rupiah. Namun, uang panas itu pun habis tak bersisa lantaran gaya hidup Jhon.

“Saya pakai uangnya untuk hura-hura saja. Tidur dari hotel ke hotel,” ungkap Jhon di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (9/7/2013). Jhon telah memperdaya puluhan wanita PSK high class yang memiliki barang-barang mewah. Ia melakukan aksinya di belasan hotel berbintang di kawasan Bogor, Jakarta dan Bandung. Namun, sepak terjang Jhon berakhir ketika digerebek aparat Subdit Jatanras Polda Metro Jaya, ketika ia mengencani wanita panggilannya di Hotel Grand Mercure, Jl Gadjah Mada, Jakarta Pusat pada Sabtu (7/7/2013) lalu. Jhon dibekuk tanpa perlawanan.

Polisi menyita barang bukti berupa 4 buah borgol, 2 buah handphone, 1 buah pisau lipat, 1 lakban, beberapa KTP korban berikut memory card dan SIM cardnya, 2 buah cincin berlian dan 1 buah liontin berlian. Atas perbuatannya, Jhon dijerat dengan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Sepak terjang Jimmy Muliku alias Jhon Weko (33) berakhir. Perampok spesialis wanita panggilan kelas atas ini dibekuk tim Jatanras Polda Metro Jaya. Catatan kepolisian, sedikitnya Jhon telah merampok lebih dari 16 wanita. Wanita korban perampokannya, rata-rata memiliki harta benda yang berlimpah.

“Terpikir di benakku bahwa wanita malam punya banyak duit,” kata Jhon kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (8/6/2013). Jhon mengaku, telah melancarkan aksinya itu sejak 2011 lalu. Awalnya, ia mengencani seorang wanita panggilan bernama Deby, yang ia peroleh dari iklan baris sebuah harian ibu kota.

“Lalu saya telepon dia dan saya ajak dia ke Hotel Pecenongan,” kata Jhon. Untuk mengencani cewek tersebut, Jhon harus merogok kocek Rp 1,5 juta plus uang untuk sewa kamar seharga Rp 300 ribu. Namun, hal itu tidak seberapa dengan hasil kejahatan yang ia dapat. “Saya waktu itu cuma ambil handphone, 2 handphone. Waktu itu saya jual HP-nya di Cempaka Mas, Jakarta Pusat,” kata Jhon.

Sejak itu, Jhon mulai ‘ketagihan’. Ia kemudian kembali membooking sejumlah wanita panggilan, mulai dari cewek-cewek pemandu karaoke hingga ayam kampus yang berkelas tinggi. “Kalau ayam-ayam kampus sama model-model gitu sekali booking itu Rp 5-15 juta. Kata maminya, mereka ini suka dipakai pejabat-pejabat,” kata Jhon.

Awalnya, ia mendapat cewek panggilan berkelas kakap, dari seorang mami yang biasa nongkrong di mal besar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Untuk meyakinkan sang mami, Jhon saat itu mengaku sebagai pengusaha. “Kebetulan saat itu saya pakai kalung emas yang 300 gram, sehingga maminya percaya kalau saya banyak uang. Lalu saya minta cewek sama mami, ” kata Jhon.

Dari situ, link dia ke sejumlah mami kian melebar. Ia pun bisa mengencani sejumlah wanita panggilan yang berkelas. Hingga ia tertangkap, korbannya sudah mencapai puluhan. “Kalau yang berkelas kan handphonenya banyak, mereka juga pakai perhiasan,” tutup Jhon. Jimmy Muliku alias John Weko (33), bukan sekali ini dia tertangkap polisi lantaran merampok wanita-wanita panggilan yang ia kencani. Jhon rupanya pernah dipenjara pada tahun 2011 lalu atas kasus yang sama.

Jhon bercerita, 29 Desember 2011 lalu, ia pernah ditangkap aparat polisi dari Polres Jakarta Barat. “Saya ditangkap di Citraland, Jakarta Barat setelah mengencani cewek kampus, model juga,” kenang John kepada wartawan. Kala itu, Jhon dilaporkan seorang korbannya karena telah menyekap dan merampok korban di sebuah hotel berbintang di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Jhon lalu divonis 2 tahun penjara atas perbuatannya itu.

“Waktu itu, saya sudah melakukan 8 kali kasus yang serupa,” ujar Jhon. Jhon lalu mendapat Pembebasan Bersyarat (PB), hingga ia hanya menghabiskan 1 tahun 8 bulan penjara di Rutan Salemba karena kelakuannya dianggap baik. Selama di Rutan. Selama di Rutan Salemba, Jhon mengenal seorang perempuan asal Manado yang sering datang ke rutan untuk memberikan pelayanan. Jhon dan perempuan itu pun terlibat hubungan asmara.

“Saya bohong sama cewek itu, saya bilang kalau saya ditahan karena kasus curanmor,” ujar Jhon. Dengan memanfaatkan hubungannya itu, Jhon lalu meminta perempuan tersebut untuk mengumpulkan sejumlah uang dari keluarganya. “Saya bilang sama dia, kalau mau ambil mobil-mobil mewah, sama saya saja, tinggal kumpulkan saja uangnya,” ungkap dia.

Jhon rupanya berhasil memperdaya perempuan itu. Melalui perempuan tersebut, Jhon akhirnya bisa mengumpulkan uang hingga Rp300 juta. Setelah keluar dari penjara tanggal 26 Januari 2013, Jhon langsung mencairkan uang di rekeningnya.

“Di dalam saya pegang HP. Pertama kali keluar cairkan Rp300 juta untuk beli mobil,” kata dia. Sepekan setelah bebas dari penjara, Jhon kembali meminta pacarnya untuk kembali mengumpulkan uang lagi. Ia meminta pacarnya mengumpulkan uang Rp200 juta untuk membeli mobil seperti yang ia janjikan sebelumnya. “Sambil nunggu uang Rp200 juta cair, itu saya bikin KTP Sorong atas nama Jhon Weko dan rekening atas nama Jhon Weko,” kata dia.

Uang terkumpul hingga Rp500 juta. Setelah itu, Jhon kabur ke Jogjakarta, tepatnya Maret 2013. Di sana, uang yang ia dapat, digunakan untuk hura-hura. “Saya beli mobil CRV, motor besar Ninja dan hura-hura. Sebagian, Rp20 juta saya kasih mama saya plus 2 motor saya belikan buat mama,” kata dia.

Di Jogja, ia kemudian menyewa sebuah rumah minimalis seharga Rp20 juta dari seorang tentara. Seiring berjalannya waktu, uang hasil kejahatan menipis. Di situ, ia pun kembali mengakali cewek-cewek panggilan. “Di Jogja saya terpikir untuk begitu lagi di Hotel Ibis Malioboro, dapat ceweknya ini tetangga kontrakan. Cewek ini cuma mahasiswi,” kata Jhon.

Melalui seorang mami yang juga pemilik kontrakan, Jhon dikenalkan dengan ayam kampus. Untuk ‘memakan’ mangsanya, Jhon mengeluarkan uang Rp1 juta. “Saya pancing mereka ke Hotel Ibis, saya siapkan borgol, lakban. Pertama mahasiswi high class bawa BB Z10. Setelah itu saya pakai dia,” kata dia.

Jhon rupanya kurang puas. Ia lalu meminta mami untuk kembali menyiapkan 2 orang perempuan. Permintaan Jhon dipenuhi, lantas dua orang perempuan tadi dimasukkan ke kamar Hotel Ibis, di lantai atas.”Lalu saya telpon maminya sambil maminya menuju ke kamar itu, saya bawa 2 ke bawah, lalu saya kumpulkan lalu saya ancam, borgol, pisau lipat kayak tentara itu. Bawa 4 borgol,” kata dia.

Setelah semua terkumpul, sang mami mendatanginya ke kamar hotel itu. Ia pun memborgol sang mami di kamar hotel tersebut, lalu mengambil barang-barang berharga milik 4 korban sekaligus. “Dari Jogja, saya baru ke Jakarta lagi, dan selama di Jakarta, saya tinggal di hotel,” tutup Jhon.

Polisi Berhasil Ungkap Prostitusi Gadis ABG Bogor Yang Gunakan Sistem MLM Multi Level Marketing

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Martinus Sitompul menuturkan, berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku yang menjual gadis Bogor melalui situs online mendapat komisi Rp500 ribu dari setiap transaksi. “Dari transaksi short time seharga Rp1,5 juta, pelaku dapat Rp500 ribu,”kata Kombes Martinus.

Menurutnya, pelaku menjaring korban dengan sistim multi level marketing (MLM).

Dari satu korban, kemudian membawa lagi rekannya. Untuk meyakinkan korban, pelaku mengaku, memasang tarif tinggi. Tarif yang hanya bisa dijangkau kalangan menengah keatas. Hal ini demi menjaga privasi pelanggan dan melindungi bisnis haramnya dari pantauan aparat. Korban yang didapat, oleh pelaku lalu dipasarkan melalui blog “bogorcantik.blogspot.com.

Korban lalu digiring ke hotel, saat pelaku mendapat pesanan dari Konsumen.

Menurut Kombes Martinus, yang menjadi pegangan pelaku sebenarnya ada delapan gadis Bogor. Namun petugas hanya mengamankan tiga orang. Operasi bisnis seks online yang dilakukan oleh oknum mahasiswa salah satu kampus ternama di Kota Bogor ini, sudah berlangsung enam bulan. Hemud Farhan Ibnu Hasan 24, pelaku penyedia gadis melalui online merupakan mahasiswa jurusan Agrobisnis semester 12.

Pihak humas kampus diakui Kombes Martinus sudah datang ke Polda Jabar Sabtu siang. Usai menjalani pemeriksaan, ketiga cewek Bogor yang ditangkap bersama pelaku di kamar no 5 Hotel Papaho, lalu dikembalikan ke keluarganya masing-masing.
“Korban kami beri pembinaan. Kami minta mereka tidak kembali lagi ke profesi ini. Semua korban masih berstatus pelajar SMA dan asli warga Bogor,”tandas Martinus.Polda Jawa Barat terus mengembangkan kasus penjualan gadis Bogor melalui internet yang diungkap Jumat (8/2) kemarin.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Martinus Sitompul mengatakan, tersangka Hemud Farhan Ibnu Hasan 24, penyedia gadis melalui online yang ditangkap Ditreskrimsus dibawa pimpinan Kompol Irwansyah adalah mahasiswa IPB jurusan Agrobisnis semester 12. Pelaku ditangkap sekitar pukul 16.00 bersama tiga gadis Bogor Mem 17, Ma 16, dan De 18.

“Pelaku menyediakan gadis untuk dijual ke lelaki hidung belang melalui Blog “bogorcantik.blogspot.com. Pelaku bersama korban yang siap dijual, kami tangkap saat berada di Hotel Papaho Kamar No.5 di Jalan Padjajaran Kota Bogor,”kata Kombes Martinus.

Dari laptop pelaku yang disita, didapat jika pelaku sudah mengoperasikan bisnis seks online ini selama enam bulan.
Dalam jangka waktu ini, pelaku sudah mengantongi ratusan juta dari setiap transaksi yang mencapai Rp1,5 juta untuk short time. Jika konsumen meminta full time, maka bayarannya berlipat-lipat.

Kisah Germo Keyko dan 7 Polwan Cantik Yang Menyamar Jadi Pelacur

Sekian lama beroperasi sebagai manajer bisnis esek-esek, Yunita alias Keyko dikenal amat berhati-hati. Salah satu kunci kesuksesannya menyelenggarakan bisnis rahasia ini adalah kemampuannya menjaga identitas klien sekaligus perempuan yang bekerja untuknya. Maklum, para wanita yang bekerja untuk Keyko rata-rata punya profesi lain sehari-hari, seperti mahasiswa, perawat, dan pekerja kantoran.

Satu prinsip kehati-hatian yang dipegang Keyko adalah dia nyaris tak pernah bertemu dengan germo dan pelacur di bawah jaringannya sendiri. Semua transaksi dilakukan via BlackBerry Messenger.

Keyko kerap memamerkan koleksi terbaru pelacurnya dengan memajang foto mereka di profil BlackBerry-nya. Ia juga rajin mengirimkan foto ”barang terbaru” kepada para pelanggan. Sebagian foto itu ia simpan di laptopnya. Saat Keyko ditangkap di rumahnya, polisi menemukan foto-foto perempuan panggilan koleksinya. Semua ini, menurut sejumlah penyelidik, ”Akan dijadikan bukti di pengadilan.”

Tiga germo Keyko: Nugroho Tjahjojo alias Dion, Lanny Agustina alias Nonik, dan Gloria Nansiska Maulina, misalnya, tak pernah sama sekali bertatap muka dengan bosnya. Ketiganya ditangkap polisi pada 11 September 2012 lalu dan dipertemukan dengan Keyko di Markas Kepolisian Resor Kota Surabaya. “Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon tanpa tatap muka,” kata sumber Tempo.

Terbongkarnya jaringan bisnis seks Yunita alias Keyko bisa dibilang tak sengaja. Awal Agustus lalu, polisi menangkap seorang pelacur muda berusia 16 tahun di sebuah hotel berbintang di Surabaya.

Remaja ini mengaku berasal dari Malang dan datang ke hotel itu untuk melayani permintaan seseorang. Diinterogasi berjam-jam, remaja ini akhirnya buka mulut. “Ternyata dia bagian dari jaringan Nita di Malang,” kata Kepala Unit Kejahatan Umum Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris M.S. Ferry kepada majalah Tempo pekan lalu.

Dari si remaja inilah, polisi mendapat banyak keterangan yang berujung pada penangkapan Keyko di Bali, akhir Agustus 2012 lalu. Kini, dia bersiap untuk duduk di kursi terdakwa. Tuduhan terhadap perempuan ini tak main-main: pemimpin jaringan prostitusi di berbagai kota di Pulau Jawa dan Kalimantan. Kliennya tersebar di sejumlah kota. “Dia juga melayani pesanan PSK untuk ke Papua,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Hilman Thayib kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

Menurut polisi, Keyko memiliki 2.000 lebih pelacur dalam jaringannya. Para pelacur itu tersebar di berbagai kota: mulai Surabaya, Malang, Semarang, Jakarta, Bandung, hingga Banjarmasin. Dalam mengoperasikan jaringan ini, ia dibantu 50 germo.

Untuk menangkap germo terkenal asal Surabaya, Yunita alias Keyko, Polda Jawa Timur harus bekerja keras. Mereka bahkan sempat menugaskan tujuh polisi wanita untuk menyamar menjadi pelacur, anak buah Keyko.

Mereka bukan polwan sembarangan. “Mereka ini yang paling cantik se-Polda Jatim,” ujar seorang penyidik kepada Majalah Tempo pekan lalu. Dari tujuh polwan yang ditugaskan, hanya satu yang berhasil lolos dan masuk jaringan Keyko.

Keyko rupanya sangat selektif dalam soal ini. Tak sekadar wajah atawa bodi molek yang dipertimbangkan Nita, rekomendasi dari germo atau pelacur lain yang mengenal perempuan itu pun menjadi pertimbangan.

Setelah polisi masuk ke lingkaran Keyko, penyidik lain berusaha memancing Nita keluar dari sarangnya. Caranya, polisi menelepon dan berpura-pura memesan teman kencan. Namun, cara ini kandas karena perempuan itu ternyata memiliki aturan tersendiri untuk memverifikasi kesahihan calon pelanggannya. “Meskipun jumlah pelanggannya banyak, ia sangat mengutamakan prinsip kehati-hatian,” kata Hilman.

Polisi juga ”mengepung” rumah Nita di Jalan Dharmahusada Megah Permai Kavling 29, Surabaya. Polisi berharap bisa menangkap perempuan itu di sana. Namun, rumah itu selalu kosong. “Setiap hari selalu ada beberapa polisi bergantian menunggu di sana,” ujar seorang penjaga kompleks rumah Nita menunjukkan rumah di kavling 29 itu kepada Tempo pekan lalu.

Sebelum terjun ke bisnis esek-esek, Yunita alias Keyko adalah model laris di Surabaya, Jawa Timur. Profesi model ini dia jalani saat awal-awal duduk di bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Surabaya.

Dunia model ini pula yang membawa Keyko ke gaya hidup glamor. Dia selalu memakai tas dan baju bermerek serta makan dan minum di hotel berbintang.

Seiring dengan berjalannya waktu, Keyko pun mulai merintis agensi modelnya sendiri. Menurut sumber Tempo yang mengaku cukup mengenal Keyko, perubahan mulai terjadi ketika honor model dan pendapatan agensinya tak lagi mendukung gaya hidupnya yang jetset. Dia pun memilih jalan pintas menjadi pelacur. Untuk layanannya yang spesial ini, ia mematok harga tinggi. “Ia laris karena wajahnya manis,” kata sumber Tempo ini.

Para modelnya, seperti juga dirinya, ternyata juga tertarik melayani lelaki hidung belang. Tanpa disangka, bisnis ‘sampingan’ ini ternyata berkembang pesat. Para model yang memiliki fungsi ganda ini senang bekerja sama dengan Keyko. Soalnya, harga jasa yang ditawarkan Keyko ke para klien dianggap masuk akal dan pembagiannya dengan sang model pun memuaskan.

Lebih dari itu, Keyko bisa menjamin identitas para pelanggannya selalu tertutup. Kerahasiaan ini yang membuat bisnisnya, ujar seorang penyelidik kasus ini, jauh mengalahkan bisnis sejenis yang dilakukan oleh “legenda esek-esek Hartono Ayam” di Jakarta pada 1990-an.

“Hartono dulu jaringannya hanya kuat di Jakarta dan hanya memiliki beberapa ratus perempuan, sedangkan ini ribuan…,” ujar sumber Tempo sambil geleng-geleng kepala.

Bisnis esek-esek Keyko sudah amat terkenal di Surabaya. Para lelaki hidung belang tahu persis bagaimana menghubungi perempuan ini dan menyewa jasa hiburannya. Rahasia kesuksesan Keyko adalah kemampuannya menghimpun para perempuan muda dari berbagai profesi untuk menjajakan diri pada klien-klien terpilih.

Pekan lalu, seorang sumber Tempo menunjukkan puluhan file foto koleksi milik Keyko. Dari file itu, tampak bahwa Keyko sangat rapi menyusun daftar ”anak asuh”-nya itu. Setiap file foto diberi nama sesuai dengan nama si pelacur, lokasi, dan tarifnya. Kebanyakan berasal dari Surabaya, Bandung, Malang, dan Semarang. Di sana tercantum tarif mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 15 juta. Seorang penyelidik kepada Tempo menyatakan angka itu juga diakui Keyko saat ia diinterogasi.

Penampilan para perempuan dalam file Keyko itu memang bisa membuat darah pria berdesir. Wajah mereka tak kalah cantik dibanding artis sinetron yang kerap muncul di layar televisi. Rambut terawat segar dan baju yang dikenakan terlihat mewah. Sebagian berpose seperti sengaja menampilkan dada mereka yang busung.

Seorang penyidik telah mengidentifikasi sebagian foto para pelacur itu. Usia mereka 19-23 tahun. Kebanyakan masih berstatus mahasiswa dan karyawan berbagai perusahaan, termasuk bank swasta. Beberapa foto bahkan menunjukkan si pelacur berada di Hollywood dan sedang berada di limusin.

Tempo juga menemukan seorang pelacur yang masih mengenakan baju perawat sebuah rumah sakit di Surabaya. “Jadi, profesi sampingan mereka itu menjual diri dengan masuk jaringan Nita (Yunita atau Keyko),” kata sumber Tempo.

Kepada penyidik, Keyko mengaku tak perlu repot merekrut para pelacur itu. Kebanyakan dari mereka justru menawarkan diri kepada sejumlah germo untuk mencari uang tambahan demi menutupi gaya hidup mewah mereka. Beberapa di antaranya ada yang langsung datang kepada Keyko.

Keberhasilan polisi mengungkap bisnis pelacuran kelas tinggi yang dikelola Keyko kabarnya membuat sejumlah pejabat tinggi di Jawa Timur panas-dingin. Maklum, pelanggan Keyko selama ini ditengarai sebagian merupakan para pejabat.

Sejumlah sumber Tempo membenarkan bahwa pelanggan Keyko berasal dari kalangan atas. Kencan dengan pelacurnya biasa dilakukan di sejumlah hotel mewah di Surabaya, tempat wisata sekitar Malang, atau Denpasar. Kencan itu bisa hanya beberapa jam, sehari, atau berhari-hari. “Pelanggan saya banyak yang pejabat,” kata Keyko kepada wartawan saat jumpa pers di Polrestabes Surabaya, dua pekan lalu.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur dan Surabaya kini gonjang-ganjing lantaran Keyko sempat menyebut nama beberapa anggota Dewan sebagai pelanggannya. Kepada Tempo, seorang polisi bercerita, Keyko juga menyebut nama seorang pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai pelanggannya. “Karena itu, beberapa hari setelah Nita (Yunita alias Keyko) ditangkap, ada pejabat yang merayu penyidik agar kasus ini dibuat berakhir damai,” ujarnya.

Jumlah pelanggan Nita, sesuai dengan jumlah koleksi pelacurnya, sangat banyak. Saat ia ditangkap, menurut seorang polisi, puluhan pesan pendek dan pesan BBM masih masuk ke teleponnya. “Isi pesan itu menanyakan apakah dia punya barang baru atau tidak,” ujar polisi tersebut. Polisi pun kini sudah punya daftar siapa saja pelanggan Keyko.

Sebelum ditangkap polisi, Keyko hidup mewah dari penghasilannya sebagai germo papan atas. Penghasilan Keyko sendiri murni berasal dari kutipan jasa anak buahnya. Dia memang mengendalikan semua transaksi sebelum membagi honor untuk perempuan yang bekerja pada jaringannya.

Ketika seorang pelanggan menghubungi Keyko lewat BlackBerry, biasanya si klien sudah memesan siapa perempuan yang dia inginkan. Keyko lantas mengontak germonya sesuai dengan kota tempat pemesan berada. Setelah dipastikan pelacur yang dipesan tersedia, klien diminta mentransfer sejumlah uang ke rekening Bank Central Asia milik Keyko.

Meski berperan sebagai bos, Keyko ternyata hanya mengambil Rp 500 ribu dari setiap transaksi. Sisanya, dia kirim langsung pada pelacur dan germo yang mengatur jaringannya di kota itu. “Setelah ada uang, baru pelacur itu melayani pelanggan,” kata sumber Tempo. Polisi memperkirakan pendapatan Keyko dari ”bisnis” ini per hari tak kurang dari Rp 25 juta.

Yunita Germo Dengan Jaringan Ribuan PSK Antar Kota Ditangkap Polisi

Tertangkapnya Yunita (34) alias Keyko, penyalur pekerja seks komersial (PSK) kelas atas, tidak hanya menghanguskan omzet ratusan juta rupiah, tetapi juga meninggalkan para pelanggan yang selama ini setia mencari teman kencan darinya.
Siapa saja pelanggan Yunita? Menurut pengakuan Yunita, karena yang disediakan adalah para PSK kelas atas, pelanggannya juga kalangan menengah ke atas.

”Mereka mulai dari kalangan pejabat hingga pengusaha besar,” kata perempuan yang pada 25 Agustus lalu ditangkap di Kuta, Bali, itu. Namun, sayangnya, dia tidak pernah bertatap muka dengan para pelanggannya demi kerahasiaan praktiknya.
Kompol Suparti, Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, mengatakan setelah klien memilih teman kencan lewat BBM (Blackberry Messenger), sebagian ongkos ditransfer ke rekeningnya sebagai tanda jadi. Sisanya baru diberikan langsung kepada PSK yang dipilih,” ujarnya Senin (10/9/2012).

Adapun tarif yang dipatok untuk sekali kencan, mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Data yang dihimpun di Polrestabes Surabaya menyebutkan, setiap kota ada seorang subgermo yang membawahi PSK-PSK tersebut. Di Surabaya sebanyak 790 orang, Malang 50 orang, Semarang 400 orang, Banjar sebanyak 125 orang, dan Jakarta sebanyak 500 orang.

Para PSK di bawah kendali Yunita ini bukanlah PSK sembarangan. Bahkan, Yunita melakukan seleksi dari foto yang dikirim melalui subgermo. “Para subgermo ini mengirimkan foto ke Yunita dan selanjutnya dia yang menyeleksi calon PSK dan diteruskan kepada pelanggan yang memesan,” katanya.

Polisi yakin aksi Yunita tidak dilakukan sendiri. Oleh karena itu, Unit Jatanum Subnit Vice Control (VC) Satreskrim Polrestabes Surabaya terus mengembangkan penyelidikan jaringan perdagangan manusia antarkota ini.

Polisi Akan Segera Lakukan Rekonstruksi 13 Adegan Video Porno Dengan Tersangka Di Hotel 41Transit Parung Bogor

Penyidik Satuan Reskrim Polres Bogor melakukan rekonstruksi kasus pembuatan video porno yang dilakukan di kamar B 41Hotel Transit Parunk yang berlokasi di Jalan Raya Parung, Kabupaten Bogor. Rekonstruksi digelar Selasa (13/3/2012) malam dengan menghadirkan seluruh tersangka baik perekam maupun pemain video porno itu. Kepala Satuan Reskrim Polres Bogor Kota AKP Imron Ermawan mengatakan,rekonstruksi memperagakan 13 adegan, mulai dari LL dipesan hingga masuk kamar dan melakukan hubungan badan bersama pasangannya DE.

“Selain melakukan reskonstruksi, kita juga sudah memeriksa manajemen hotel Transit terkait kejadian itu. Kemungkinan masih banyak saksi yang kita mintai keterangan,” ujar Imron Ermawan kepada wartawan. Imron menjelaskan, hingga saat ini para pelaku masih bungkam soal siapa penyandang dana video porno tersebut. Termasuk, tujuan sebenarnya dari proses pembuatan video porno itu.”Mereka (pelaku-red) masih tertutup saat ditanya siapa orang dibalik pembuatan video porno itu,” katanya

Pornografi semakin merajalela. Di Bogor, empat orang ditangkap karena sengaja membuat video porno layaknya blue film di luar negeri. Keempat orang itu terdiri dari seorang pemain (bintang) perempuan, seorang pemain laki-laki, satu juru kamera, dan satu fotografer. Empat orang tersebut tertangkap basah oleh petugas Polres Bogor saat tengah membuat video porno dan foto-foto bugil. Mereka ditangkap di sebuah hotel di Jalan Raya Parung, Bogor, Minggu (11/3/2012) dini hari.

Dari lokasi penggerebekan, polisi menyita sejumlah peralatan untuk membuat video dan foto, yakni kamera DSLR, smartphone BlackBerry (BB), dua set pakaian, dan uang Rp 200.000. DSLR adalah singkatan dari Digital Single-Lens Reflex. Kamera DSLR tidak hanya dipakai untuk memotret, namun juga bisa dipakai untuk merekam video dengan hasil cukup baik. “Saat digerebek, mereka sedang memproduksi video mesum menggunakan kamera DSLR. Dua pelaku bertindak sebagai pemeran, dan dua pelaku lagi sebagai pembuat video dan foto,” ucap Kapolres Bogor AKBP Herry Santoso, Senin (13/3/2012). Mereka dicokok di kamar B41 hotel di Jalan Raya Parung itu.

Terungkapnya pembuatan video porno itu bermula saat petugas Polres Bogor melakukan operasi gabungan di hotel. Saat itu, tim gabungan Satuan Narkoba Polres Bogor yang dipimpin Kasat Narkoba Polres Bogor AKP Luki B Irawan melakukan pemeriksaan seluruh penghuni hotel. PORNOGRAFI semakin merajalela. Di Bogor, empat orang ditangkap karena sengaja membuat video porno layaknya blue film di luar negeri. Keempat orang itu terdiri dari seorang pemain (bintang) perempuan, seorang pemain laki-laki, satu juru kamera, dan satu fotografer.

Empat orang tersebut tertangkap basah oleh petugas Polres Bogor saat tengah membuat video porno dan foto-foto bugil. Mereka ditangkap di sebuah hotel di Jalan Raya Parung, Bogor, Minggu (11/3) dini hari. Dari lokasi penggerebekan, polisi menyita sejumlah peralatan untuk membuat video dan foto, yakni kamera DSLR, smartphone BlackBerry (BB), dua set pakaian, dan uang Rp 200.000. DSLR adalah singkatan dari Digital Single-Lens Reflex. Kamera DSLR tidak hanya dipakai untuk memotret, namun juga bisa dipakai untuk merekam video dengan hasil cukup baik.

“Saat digerebek, mereka sedang memproduksi video mesum menggunakan kamera DSLR. Dua pelaku bertindak sebagai pemeran, dan dua pelaku lagi sebagai pembuat video dan foto,” ucap Kapolres Bogor AKBP Herry Santoso, Senin (13/3). Mereka dicokok di kamar B41 hotel di Jalan Raya Parung itu. Terungkapnya pembuatan video porno itu bermula saat petugas Polres Bogor melakukan operasi gabungan di hotel. Saat itu, tim gabungan Satuan Narkoba Polres Bogor yang dipimpin Kasat Narkoba Polres Bogor AKP Luki B Irawan melakukan pemeriksaan seluruh penghuni hotel.

“Saat akan dilakukan pemeriksaan, dari dalam kamar keluar seorang wanita. Kami langsung memeriksa wanita itu, juga terhadap beberapa pria yang ada di kamar tersebut,” ujar Luki saat dikonfirmasi Warta Kota, kemarin. Luki menjelaskan, saat petugas masuk ke kamar itu, terdapat tiga pria yang salah satu di antaranya tidak mengenakan pakaian dan hanya ditutupi handuk. Sedangkan dua pria lainnya tampak buru-buru membereskan perlengkapan fotografi, seperti kamera DSLR dan BB.

“Sesuai protap, kami melakukan pemeriksaan seluruh ruangan kamar untuk mengetahui apakah ada narkoba di kamar itu, termasuk mengecek kamera milik pria tersebut,” katanya. Saat diperiksa, kata Luki, ternyata kamera DSLR itu berisi rekaman video mesum antara salah satu pria dengan wanita yang sebelumnya keluar dari kamar. “Saat kita periksa kamera, ternyata berisi adegan video porno, juga beberapa foto wanita itu,” katanya.

Polisi pun menangkap keempat orang tersebut. Mereka adalah M alias LL (25), yang bertindak sebagai artis pemain perempuan; DE (27) yang menjadi pemain laki-laki, RD (20) yang bertindak sebagai juru kamera yang merekam video porno; serta JA (23) yang menjadi fotografer untuk foto-foto bugil pemain. LL diduga adalah pekerja seks komersial (PSK) yang dibooking oleh pembuat video untuk satu malam.

Keempat orang itu kemudian dibawa ke Mapolres Bogor untuk menjalani pemeriksaan. “Sudah kami mintai keterangan dalam kasus tersebut,” ujar Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Imron Ermawan. Imron menjelaskan, para pelaku terancam Pasal 29 dan 35 UU Nomor 44/2008 tentang pornografi dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. Bersama keempat orang itu, sebenarnya polisi juga menangkap dua orang laki-laki lainnya yang saat itu menonton pembuatan video. Namun, keduanya kemudian dilepaskan polisi karena dini

Kepada penyidik LL, wanita yang menjadi pemain dalam video porno itu mengaku hanya sebagai PSK freelance di hotel tersebut. Dia datang ke kamar B 41 setelah ditelepon seorang mami yang bertindak sebagai mucikari. Sedangkan DE, pemain pria berprofesi sebagai karyawan swasta. Sedangkan dalam pemeriksaan manajemen Hotel Parun’k mengaku, tidak mengetahui jika orang yang menyewa kamar hotel membuat video porno. “Selain Pasal Pornografi, kita juga menjerat pelaku perekam dengan pasal narkotika, karena hasil test urine keduanya positif mengandung ganja,” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Bogor Kota AKP Imron Ermawan

Seperti diberitakan sebelumnya, empat pelaku salah satunya wanita diamankan petugas Polres Bogor karena tertangkap tangan sedang membuat membuat video mesum. Mereka ditangkap di sebuah hotel di Jalan Raya Parung, Minggu (11/3/2012) dinihari. Dari lokasi penggerebekan, polisi menyita sejumlah peralatan untuk merekam video, seperti kamera DSLR, Handphone Blackberry, dua set pakaian dan uang tunai Rp 200 ribu.

“Saat digerebek, mereka sedang memproduksi video mesum menggunakan kamera DSLR. Dua pelaku bertindak sebagai pemeran, dan dua pelaku lagi sebagai pembuat video itu,” ujar Kapolres Bogor AKBP Hery Santoso. Informasi diperoleh menyebutkan, penangkapan dilakukan saat petugas melakukan operasi miras dan narkoba di salah hotel. Seorang pelaku video mesum berinisial M alias LL (25) diduga Pekerja Seks Komersial (PSK) yang dibooking oleh dua pelaku untuk satu malam. Sedangkan satu pelaku lagi merupakan pasangan main LL berinisial DE (27).

“Saat petugas memasuki kamar B 41, ternyata ditemukan sejumlah peralatan kamera, dan lainnya,” ujarnya. Sementara itu, dua pelaku lainnya yang juga ditangkap petugas berinisial RD (20) dan JA (23) adalah sebagai perekam dan photografer dalam pembuatan video mesum itu. Hingga saat ini, keempatnya masih dalam pemeriksaan penyidik Polres Bogor. Polisi terus mengusut kasus pembuatan video porno yang dilakukan empat orang di Parung, Bogor. Dari tes urine yang dilakukan, terbukti bahwa dua orang perekam video porno itu, yakni RD (20) dan JA (23), positif mengonsumsi narkoba.

Tes urine itu dilakukan petugas kesehatan dari Dokkes bersama penyidik Satuan Reskrim Polres Bogor pada Selasa (13/3) pagi. Kapolres Bogor Ajun Komisaris Besar Hery Santoso menjelaskan, RD dan JA diketahui mengonsumsi narkoba jenis ganja. “Hasil tes urine menunjukkan mereka positif menggunakan ganja,” ujar Hery di Mapolres Bogor kemarin siang.

Sedangkan dua orang lagi, yaitu LL (25) dan DE (27), tidak terbukti menggunakan narkoba. LL adalah pemain perempuan dan DE pemain laki-laki dalam video asusila tersebut. Hery menjelaskan, pihaknya masih mengembangkan pengusutan kasus tersebut dengan mengumpulkan barang bukti dan memeriksa sejumlah saksi. Pihaknya juga mengamankan lokasi kejadian, yaitu kamar B 41 Hotel Transit, Parung.”Kami juga akan memanggil pengelola Hotel Transit untuk dimintai keterangan,” ujarnya.

Dalam rekaman yang disita polisi terdapat sejumlah adegan ranjang antara LL dan DD di kamar hotel tersebut dengan total durasi selama 10 menit. Adegan dalam video porno itu dipecah dalam empat file. “Ada empat file rekaman yang kami amankan, yaitu yang 15 detik, 45 detik, 3 menit, dan 6 menit,” kata Hery. Selain rekaman video, terdapat juga 10 foto adegan ranjang LL dengan DD dalam berbagai gaya. “Kami masih mendalami, apakah perekaman itu baru sekali dilakukan atau sudah berkali-kali,” ujar Hery.

Dia menegaskan, pihaknya tidak main-main dalam mengusut kasus pembuatan video porno ini, termasuk mengungkap siapa dalangnya. “Pelaku sih ngakunya rekaman video itu untuk keperluan pribadi. Tapi kami masih belum yakin, jangan-jangan video mesum yang banyak beredar di handphone juga ada kaitannya dengan mereka,” ujarnya. Kasat Reskrim Polres Bogor Ajun Komisaris Imron Ermawan mengungkapkan, berdasarkan pengakuan keempat orang itu ide pembuatan video porno tersebut berasal dari RD. Kemudian, RD bersama JA mencari ‘pemain’ yang mau adegan ranjangnya direkam.

“Mengenai bayaran si perempuan, kami masih melakukan penyelidikan. Yang jelas, di lokasi kejadian ditemukan uang Rp 200.000,” kata Imron. Keempat pelaku video mesum itu, kata Imron, tinggal di Parung. “LL (pemain wanita dalam video itu—Red) berstatus janda. Dia ngakunya freelance aja di hotel itu,” ujarnya. Seperti diberitakan (Warta Kota, 13/3), petugas Polres Bogor membekuk tiga lelaki dan seorang perempuan yang tengah membuat video mesum di kamar sebuah hotel di Jalan Raya Parung, Minggu (11/3) dini hari. Dari lokasi penggerebekan, polisi menyita sejumlah peralatan untuk merekam video, seperti kamera DSLR dan handphone Blackberry, serta dua set pakaian dan uang Rp 200.000

Demi Menghindari Tilang Polisi, 3 Orang Ibu Muda Ini Rela Ngeseks Rame Rame Bersama Polisi Di TKP

London-Ajun Brigadir Troy Van-Eda sungguh luar biasa. Anggota Kepolisian Manchester Raya berumur 43 tahun ini meniduri tiga perempuan selama kurang dari 24 jam saat sedang bertugas. Itu belum seberapa. Joanne Pinder, 34 tahun, mengaku bersebadan dengan Van-Eda di sebuah pos polisi di Rochdale.

“Setelah dia menyetopku karena tak pakai sabuk pengaman,” tutur Pinder. Dua perempuan lainnya juga mengadukan hal yang sama kepada Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Manchester Raya. Tapi hanya Pinder yang bersedia mengungkap jati dirinya. Ketiga perempuan itu mengaku tak cuma bercinta di kantor polisi, tapi juga di rumah mereka.

Kendati begitu, ketiganya mengaku melakukan hubungan seks itu atas dasar suka sama suka. “Kami tak menemukan adanya tindak kriminal,” demikian pernyataan Divisi Propam. Tak disebutkan alasan mengapa ketiganya mengadukan duda beranak tiga itu. Sejauh ini Van-Eda diberi sanksi disiplin, berupa larangan berhubungan dengan warga selama 12 bulan.

Seorang Gigolo Coba Bius dan Rampok Pelanggannya Wanita Muda Usia 23 Tahun Karena Tersinggung Dibayar Sedikit

Polsek Metro Palmerah kini tengah mengejar dua saksi lain dalam kasus pembiusan dan percobaan perampokan oleh seorang gigolo berinisial M di sebuah hotel di bilangan Palmerah, Jakarta Barat, pada Selasa (10/5/2011). Dua saksi penting itu adalah seorang germo dan gigolo lain, AD.

“Dua orang itu sedang kami kejar, tetapi sampai sekarang baru sebatas saksi. Tidak tertutup kemungkinan salah satunya terlibat dan jadi tersangka,” ucap Kepala Unit Reskrim Ajun Komisaris Saiful Anwar, Kamis (12/5/2011), saat dihubungi wartawan.

Saiful melanjutkan, aksi pembiusan M terhadap A sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari. Pasalnya, polisi menemukan sebuah tas kecil berisi obat bius dan handuk kecil.

“Jelas ini sudah dipersiapkan sebelumnya,” kata Saiful.

Polsek Palmerah juga mencium adanya kerja sama antara M dan temannya, AD, yang juga berprofesi sebagai gigolo. Mereka diduga sudah merencanakan untuk menyita harta milik A, yang menjadi pelanggan M.

“Mereka merencanakan bersama, tetapi AD masih kami kejar,” ujar Saiful.

Adapun peran sang germo, menurut Saiful, hanya sebatas menjadi perantara antara A dan M. Tidak ditemukan indikasi keterlibatan sang germo dalam aksi M membius A.

“Germonya kami duga tidak tahu apa-apa karena hanya menerima pesanan, tetapi masih dalam pengejaran kami untuk dimintai keterangan. Jadi germo dan AD adalah orang yang beda. AD teman pelaku lain yang berprofesi sama,” ucap Saiful.

Seperti diberitakan, A, seorang perempuan muda cantik berusia 23 tahun, memesan jasa gigolo kepada seorang germo. Dari situlah A bertemu dengan M di sebuah hotel di Palmerah.

Awalnya, A meminta M memijat tubuhnya, tetapi lama-kelamaan mereka pun berhubungan intim. Seusai berhubungan intim, A memberikan upah atas jasa M. Namun, tak disangka, upah yang diberikan A jauh dari harapan M. M pun geram dan akhirnya berusaha membekap A dengan sebuah handuk kecil yang dibubuhi obat bius.

Namun, obat bius itu diduga tak berfungsi maksimal karena A mampu menahan napas. Setelah kejadian itu, A dan M kembali berdamai dan mulai membangun suasana romantis di antara keduanya. Saat itulah M lengah dan A melaporkan kejadian itu kepada sekuriti yang langsung menelepon polisi.

Polsek Metro Palmerah menahan M di Markas Polsek Metro Palmerah. M disangkakan Pasal 53 juncto 365 tentang perencanaan dan percobaan perampokan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Seorang gigolo alias pekerja seks pria tak kuasa menahan amarah saat perempuan muda yang menjadi pelanggannya memberikan upah tidak sesuai dengan harapan seusai memberi layanan kepada perempuan tersebut di Hotel MA, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (10/5/2011) siang.

Mus (27), sang gigolo, pun nekat mengambil selembar handuk yang sudah dibubuhkan obat bius untuk membekap wanita tersebut. Namun, sialnya, perempuan pelanggannya itu mampu bertahan dari pengaruh obat bius. Alhasil, sang gigolo pun ditangkap dan kini terpaksa mendekam di Kepolisian Sektor (Polsek) Palmerah.

“Jadi, si gigolo ini sudah janjian dengan pelanggannya lewat jasa germo. Mereka janjian ketemu di Hotel MA,” kata Kepala Polsek Palmerah Kompol M Yusuf, Rabu (11/5/2011), saat dihubungi wartawan.

Perempuan itu awalnya meminta Mus untuk memberikan pijatan sampai akhirnya mereka berhubungan intim. Seusai berhubungan intim, perempuan berinisial A yang diyakini berusia 23 tahun itu lalu memberikan upah. “Rupanya upahnya itu enggak sesuai atau terlalu dikit, jadi si gigolo marah sampai nekat membekap korban,” kata Yusuf.

Anehnya, setelah gagal melancarkan aksinya, sang gigolo bersama dengan perempuan itu justru mampu kembali membangun suasana romantis. Akan tetapi, di saat itulah Mus lengah dan korbannya melapor ke sekuriti setempat. Tak beberapa lama polisi datang dan meringkus sang gigolo.

Mus kini harus mendekam di Polsek Palmerah atas tuduhan melakukan pembiusan dan percobaan pencurian.

Gadis ABG Asal Bekasi Dipaksa Layani 7 Lelaki Setelah Keperawanannya Direngut Oleh Calo Tenaga Kerja

MAWAR (17), bukan nama sesungguhnya, anak dari warga Kelurahan Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi mengaku dijebak tetangganya sendiri. Diiming-imingi bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ternyata perempuan belia itu diperkosa perantara dan dijual kepada pengelola diskotik di Mangga Besar, Jakarta Barat.

Selama sepekan keluar dari rumah orangtuanya, perempuan berusia 17 tahun yang berasal dari Suradadi, Tegal, Jawa Tengah itu dipaksa melayani tujuh lelaki tanpa ampun. “Saya tidak tahan diperlakukan begitu, makanya saya minta pulang,” tutur Mawar membuka percakapan.

Awalnya, cerita Mawar, dia diiming-imingi Eni (28), salah satu tetangganya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. “Saya dijanjikan akan dapat bayaran lumayan untuk kerja di rumah kenalan dia,” kata Mawar.

Eni pun mengenalkan Mawar pada Sesil (25) yang mengaku berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Oleh Sesil, Mawar kemudian diperkenalkan kepada kerabatnya yang bernama Sutarno (35). Senin (14/3) malam, Mawar dibawa menginap di rumah Sesil di Jalan Flamboyan, Perumnas I RT8/10, Bekasi Selatan. “Di rumah Sesil itu, saya diperkosa Sutarno dua kali. Saya nggak berani melawan karena diancam dibunuh,” kata Mawar.

Selasa (15/3) pagi, dia pun dibonceng Sutarno ke kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat. Mawar kemudian dititipkan kepada Mami Lily, pengelola salah satu diskotik di kawasan itu. Selama sepekan di diskotek itu, Mawar tak boleh absen melayani nafsu para tamu diskotek.

“Hari pertama saya dipaksa melayani orang Papua, hari kedua melayani orang Ciamis dan hari berikutnya orang-orang Cina. Pernah satu kali, sehari harus melayani dua orang sekaligus. Setiap kali saya berontak, saya diancam mau dibunuh Mami Lily. Dibilangnya saya sudah dibeli Rp5 juta sama si Mami,” tutur Mawar sembari terisak

TSN (37), perempuan asal Cilodong, Kota Depok, diamankan ke Polres Bogor karena diduga terlibat dalam kasus penjualan anak baru gede (ABG) atau trafficking. SN digelandang ke Polres Bogor, Selasa (22/3) malam karena telah membawa Bunga (19) ABG asal Pabuaran, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Oleh SN, Bunga kemudian dijual ke seorang bos dan dipekerjakan di sebuah Kafe dan Karoeke di Biak, Papua.

Kasus penjualan ABG itu terungkap setelah MD (45), orangtua Bunga, mendapat pesan yang dikirim melalui SMS, yang mengatakan kalau dirinya tengah berada di sebuah Kafe di Biak, Papua. Melalui SMS tersebut, Bunga juga mengaku kalau dirinya ingin segera pulang karena sudah tidak betah. “katanya dia tidak boleh keluar dari mess. Yang bikin anak saya curiga, karena anak saya disuruh suntik KB,” ujar MD kepada polisi.

Mendengar pengaduan dari anak bungsunya, MD kemudian khawatir dan langsung melaporkan peristiwa tersebut ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bogor. Berdasarkan laporan MD yang diperoleh dari anaknya, Polisi kemudian bergerak cepat dengan mengamankan SN di rumahnya.

Kepada polisi, SN mengaku sudah mengirim perempuan yang akan dipekerjakan di Biak, Papua, sejak tiga bulan yang lalu. “sudah sejak 3 bulan yang lalu sampai sekarang sudah 8 orang saya kirim ke sana,” kata SN kepada polisi.

SN berdalih sudah memberitahu apa yang akan dikerjakan para korbannya selama di Papua.

Mitsubishi Pajero B 11 HMB Terjun Dari Jalan Tol Tanjung Priok-Grogol Berisikan Dua Pria Keturunan Arab dan 5 Gadis ABG Telanjang Bulat

Secara tiba-tiba mobil Mitsubishi Pajero terjun dari jalan layang Tol Tanjung Priok-Grogol di Kilometer 24, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (22/3) pukul 00.30. Akibatnya, mobil itu mengalami kerusakan parah karena langsung menabrak badan jalan di bawah jalan layang tol. Sopir mobil itu pun tewas seketika.

Sebanyak enam penumpang di mobil itu, selain sopir, yang terdiri dari seorang laki-laki dan lima gadis berumur 16 tahun hingga 17 tahun yang masih duduk di sekolah menengah atas, mengalami cedera berat dan ringan. Bahkan, laki-laki penumpang itu pun akhirnya tewas dalam perjalanan ke Rumah Sakit Atmajaya, Penjaringan.

Cerita kecelakaan mengenaskan ini tak berhenti di sini. Ada cerita lain yang masih menyimpan tanya dari kecelakaan ini.

Cerita itu dimulai ketika Hamed Bahrun (51), warga Jalan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, memacu mobil Mitsubishi Pajero dengan kecepatan tinggi dari arah Tanjung Priok ke Grogol. Diduga saat itu dia berada di bawah pengaruh alkohol sehingga terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi hingga ban depan sisi kiri mobil itu pecah.

Mobil itu menjadi kehilangan kendali dan terjun dari jalan layang tol. Seketika Hamed menemui ajalnya, sedangkan enam penumpang lain di mobil itu masih selamat.

Namun, kemudian cerita berkembang ketika aparat Kepolisian Sektor Penjaringan mengevakuasi sopir dan penumpang di mobil itu. Tanpa disangka, Humas Polsek Penjaringan Ajun Komisaris Teddy Hartanto mengaku, aparat kepolisian malah menemukan seorang laki-laki penumpang, Abu Bakar (39), yang tak lain teman Hamed, duduk setengah bugil ditemani salah satu dari lima gadis belia yang menumpangi mobil itu, yang juga tak mengenakan busana.

Menurut Teddy, diduga kuat keduanya habis melakukan hubungan intim. Pasalnya, tak jauh dari mereka ditemukan beberapa butir obat kuat yang berfungsi untuk meningkatkan vitalitas pria.

”Di tengah perjalanan ke rumah sakit, Abu Bakar juga tewas,” katanya.

Menurut Teddy, aparat kepolisian juga mencium aroma alkohol yang cukup menyengat di mobil itu. Aroma itu juga tercium pada tubuh lima gadis di dalam mobil itu, yakni AA (17), LP (17), FS (16), SW (17), dan ML (17).

Beruntung, kelima gadis itu selamat dari kecelakaan maut itu. Mereka memperoleh perawatan di RS Atma Jaya. Hingga Selasa siang, tinggal FS dan SW yang dirawat karena mengalami luka serius. SW, misalnya, mengalami patah tulang pada kaki kirinya.

Ketiga gadis lainnya, menurut anggota staf Humas RS Atma Jaya, Ningsih, sudah pulang ke rumah masing-masing di kawasan Tambora dan Taman Sari, Jakarta Barat. ”Mereka yang pulang sudah pulih kesehatannya,” kata Ningsih.

Menyimak cerita ini, kita teringat kembali dengan kehebohan cerita pesta seks di dalam mobil sekitar tiga tahun lalu di kawasan Pluit, Jakarta Utara, yang dikenal dengan cerita Pajero Goyang. Apakah cerita itu terulang kembali?

Teddy mengaku tak dapat memastikan kelima gadis di mobil itu bagian dari prostitusi di Jakarta. Dia pun mengaku, pihaknya belum mengembangkan kecelakaan itu masuk ke wilayah kasus prostitusi.

”Kami belum bisa memastikan aktivitas kelima gadis itu. Namun, memang diduga kuat salah satu di antara mereka berhubungan intim dengan korban Abu Bakar,” katanya.

Kepala Induk Jaya II Patroli Jalan Raya Tanjungpriok Ajun Komisaris Tri Waluyo pun menampik jalan tol di kawasan Tanjung Priok biasa digunakan untuk bisnis prostitusi di dalam mobil. Hanya memang, dia melanjutkan, sudah satu tahun ini area istirahat di sepanjang tol itu ditutup agar truk tak lagi parkir di dalam tol.

”Area istirahat itu ditutup bukan karena dipakai untuk kencan. Sebab, setahu saya, itu tidak ada,” katanya.

Jakarta memang punya segudang cerita. Kemewahan dan kilau lampunya telah menyilaukan. Semua pilihan kembali kepada diri kita sendiri?

2 Wanita PNS Kena Razia Dikamar Hotel Bersama 49 Wanita Pelacur Seks Komersial

Sebanyak 49 orang yang diduga pekerja seks komersial dan lelaki hidung belang terjaring razia di lokasi wisata Parangkusumo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (17/3/2011) sore.

Aparat kepolisian berkekuatan 100 personel mendapati mereka umumnya sedang berduaan di kamar. Kepala Polsek Kretek Komisaris Teguh Mulyono mengungkapkan, dari 49 orang yang berhasil diamankan, terdapat tiga orang yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil.

“Dua orang PNS dengan inisial NS dan SN kami dapati sedang berduaan di kamar Losmen Jiran, Parangkusumo,” ujar Teguh Mulyono. Menurut dia, NS adalah perempuan yang juga bekerja sebagai PNS di Pemkab Bantul, sebagaimana SN.

Ia menambahkan, ada lagi perempuan berinisial ST yang dirazia ketika sedang di dalam kamar losmen. Ia diketahui bekerja sebagai anggota Satuan Polisi Pamong Praja di Pemkab Kulonprogo.

“Meski sebagai PNS dan anggota Sat Pol PP, mereka tetap dijerat pasal tindak pidana ringan,” ungkap Teguh Mulyono.

Ia menambahkan, selain para PNS tadi, semua yang terjaring razia juga dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Bantul, Jumat (18/3/2011).