Category Archives: psikopat

Baru 3 Bulan Bebas Dari Penjara karena Memperkosa Seorang Sopir Taksi Kembali Memperkosa Penumpangnya

Benar-benar keterlaluan! Seorang sopir taksi di Bangkok, Thailand, terlibat kasus pemerkosaan hanya 3 bulan setelah dirinya bebas dari penjara dalam kasus yang nyaris sama. Sopir taksi ini ditangkap polisi karena memperkosa seorang penumpang wanita di dalam taksi.

Seperti dilansir oleh The Nation, Kamis (31/5/2012), perbuatan bejat Noppadon Tabanrai (30) ini dilakukan pada Senin (28/5) malam waktu setempat. Korban yang berusia 26 tahun ini, sengaja membiarkan telepon seorang rekannya tetap tersambung ketika insiden tersebut terjadi.

Rekan korban pun melapor ke kantor polisi sekitar pukul 19.15 waktu setempat, sembari memperdengarkan sambungan telepon korban tengah diperkosa yang masih tersambung dengan mode pengeras suara. Polisi yang menyadari bahwa korban dalam bahaya, segera meluncur ke lokasi.

Ketika menyisir lokasi yang diduga menjadi tempat kejadian perkara, polisi menemukan korban sedang berjalan seorang diri di wilayah Pattanakarn Soi 32 dan kemudian menanyainya. Korban yang tidak disebutkan namanya ini, memberikan informasi yang detail kepada polisi.

Dia menjelaskan gambaran pelaku dengan jelas, serta mengingat nomor polisi taksi tersebut. Hal ini yang menjadi petunjuk polisi untuk menangkap Noppadon di rumah sewaannya di wilayah On Nut Soi 17.

Kepada polisi, Noppadon mengakui hasrat seksualnya bangkit ketika melihat korban yang mengenakan celana pendek. Ketika korban menyetop taksinya, Noppadon pun dengan licik membujuk korbannya untuk melintasi jalur alternatif dengan dalih kondisi lalu lintas saat itu yang macet.

Ternyata dia kemudian memperkosa korban dan setelah itu melarikan diri. Pria itu tidak menyangka jika korban menjawab telepon ketika sedang diperkosa.

Belakangan, polisi menemukan fakta bahwa Noppadon pernah dipenjara selama 5 tahun dalam kasus pencabulan dan percobaan pemerkosaan terhadap seorang wanita Filipina yang juga penumpang taksinya. Noppadon baru saja bebas dari penjara 3 bulan yang lalu.

Anak Bunuh Bapak Kandung Karena Kesal Tidak Diberikan Warung Untuk Menafkahi Istri Keduanya

Pria satu ini bisa disebut anak durhaka. Ia sampai hati membacok kepala ayah kandungnya di kamar rumahnya di Beji, Depok, Rabu (23/5) dinihari. Tindakan keji ini dipicu rasa kecewa karena warung yang dibangun ayahnya bukan diberikan padanya untuk menafkahi istri keduanya melainkan disewakan ke orang lain.

Usai melampiaskan rasa kesalnya, Imron Rosadi, 36, langsung pergi meninggalkan ayahnya, Masri Muhammad yang tergeletak bersimbah darah di lantai kamar mandi rumah di Jl. Karet , Pondok Cinda, Beji. Beruntung, tetangga mendengar kegaduhan itu cepat berdatangan.

Dalam kondisi kritis, tubuh bapak delapan anak tersebut dibopong tetangga lalu dilarikan ke RS Mitra Keluarga, Depok. Tetangga juga membekuk Imron yang masih memegang clurit bernoda darah.

Dini hari itu, sekitar Pk. 02:00, Masri seorang diri di rumah karena istrinya tengah menginap rumah salah satu dari delapan anaknya. Ia terbangun dari tidur lalu pergi ke kamar kecil di belakang rumah.

Mendadak, Imron datang. Anak kelima Masri yang sudah tiga minggu minggat dari rumah, masuk menggunakan kunci cadangan. Pria beristri dua yang memberinya enam anak itu langsung mencari bapaknya. Mengetahui Masri ada di kamar mandi, Imron yang emosi mendobrak pintu.

Tanpa banyak bicara Imron mengayunkan clurit ke kepala bapaknya. Masri berteriak kesakitan lalu ambruk berdarah-darah. Tetangga pun berdatangan, sebagian meringkus Imron yang lainnya melarikan korban ke rumah sakit. Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Cahyo Putra Wijaya bersama anggotanya datang ke rumah itu meringkus Imron. Clurit yang dipakai untuk menganiaya Masri disita.

KESAL SAMA BAPAK
Menurut Iptu Cahyo Putra Wijaya, saat dibawa ke kantor polisi tercium bau alkohol dari mulut tersangka. “Kami belum bisa meminta keterangan korban karena kondisinya belum memungkinkan,” katanya. Tersangka dijerat dengan pasal pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Undang-Undang Darurat Tahun 1951 karena kedapatan membawa senjata tajam.

Dalam pemeriksaan Imron mengaku kecewa dan kesal sama bapaknya karena warung yang didirikan di tanah orang tuanya itu semula dijanjikan akan diberikan padanya. “Tapi setelah saya merapikan warung, tiba-tiba saja bapak mau menyewakan ke orang lain,” ungkap Imron. “Padahal saya sudah menyiapkan warung itu untuk tempat dagang istri kedua.”

MERTUA DIJOTOS MENANTU
Kekerasan dalam keluarga juga dilakukan Amaluddin, 28, di rumahnya di Kampung Dukuh, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (22/5) malam. Ia menghajar ibu mertuanya, Maryam Sadeli, 55, lantaran kesal ditegur karena sering menganiaya istri.
Maryam yang bibirnya jontor dan hidungnya berdarah, melapor ke Polsek Kebayoran Baru. Amaludin pun digelandang ke kantor polisi, setelah sempat dihakimi massa. Menurut Maryam, menantu pengangguran itu memang tinggal bersamanya. Maryam tak senang anaknya, Fatimah, 26, sering dianiaya hingga ia sering menasihati Amaludin.

Rupanya bapak dua anak ini tersinggung hingga ibu mertuanya dijotos. Amaludin sempat mau kabur, tapi keburu dibekuk massa. ”Dia mau kabur dan sudah mengambil golok tapi kami menangkapnya lalu membawa ke kantor sekretariat RW,” kata Heri, warga.

Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Hamdan Maulana, mengatakan pelaku bisa dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. “Kami masih memeriksanya,” ujar kapolsek.

Terjadi Lagi … Polisi Melakukan Pelecehan Seksual Pada Tahanan Wanita

Anggota Polsek Mamajang, Makassar, Sumatera Selatan, Aiptu TU dilaporkan telah melakukan pelecehan seks pada salah satu tahanan wanita, SY (28). Dalam laporannya, SY mengaku dilecehkan saat mendekam di sel Polsek Mamajang, Jalan Lanto Dg Pasewang, Makassar.

Hal ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Chevy Ahmad. “Saat dipeluk oleh Aiptu TU, SY berusaha lari keluar tahanan dan memilih bertahan di depan ruang tahanan hingga suaminya, Ikram datang ke Polsek Mamajang. Suaminya langsung melaporkan kasus pelecehan yang dialami istrinya pada Provost,” tutur Chevy saat dihubungi wartawan, Sabtu (5/5/2012)..

Peristiwa cabul yang dilakukan Aiptu TU terjadi pada pukul 13.00 Wita, Minggu (29/4/2012). Saat itu TU masuk ke dalam sel dan berupaya memeluk tubuh SY. Chevy menyebutkan kasus ini masih dalam penyidikan Provost kepolisian untuk mengecek kebenaran kasus ini.

Sementara itu sumber detikcom menyebutkan, Aiptu TU sudah sering melakukan pelecehan pada SY yang ditahan sejak 23 April 2012. SY yang merupakan ibu rumah tangga warga jalan Onta Baru ini di sel akibat terlibat perkelahian dengan tetangganya.

Setelah penangguhan penahanan SY dikabulkan oleh Kapolsek Mamajang, Kompol Darwis, SY dan suaminya pun melapor pada Kapolsek atas peristiwa pelecehan yang dilakukan oleh salah satu anggotanya tersebut.

“Pelaku sering mengajak korbannya ngobrol di dalam sel, pelaku sering memegang-megang tangan, meraba-raba dada dan menciumi SY, puncaknya pada tanggal 29 April Aiptu TU kembali melancarkan aksinya hingga akhirnya SY mengancam akan berteriak bila Aiptu TU tetap memaksakan nafsu birahinya,” ujar sumber detikcom.

Baca juga: Polisi Perkosa Tahanan ABG Kemudian Dibebaskan Sebagai Imbalannya

Perusakan Hotel Dafam Semarang Dilakukan Oleh Geng Motor Pimpinan Remaja Umur 15 Tahun

Perusakan oleh geng motor di Hotel Dafam Semarang, Minggu (22/4/2012) kemarin, diduga dilakukan kelompok bernama Ran. Pemimpin dari kelompok tersebut adalah remaja berusia 15 tahun yang biasa dipanggil Mbah Ran.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan mengatakan, dari keterangan para saksi dan korban, diperoleh nama Mbah Ran dan sekarang sudah masuk dalam daftar target operasi (TO) pihak kepolisian.

“Sudah masuk daftar TO. Jika dalam seminggu belum tertangkap, maka kami akan belajar lagi,” kata Kombes Pol Elan Subilan usai menghadiri acara di Jalan Majapahit, Semarang, Senin (23/4/2012).

Kapolrestabes menyatakan Semarang masih masuk dalam katagori aman dari geng motor. Oleh karena itu, pihaknya akan terus melakukan pengamanan di beberapa titik guna mengantisipasi berkembangnya geng motor.

“Di Semarang baru muncul embrio dari geng motor, karena itu kami setiap hari akan melakukan pengamanan di Jalan Seokarno Hatta, Jalan Dr.cipto, Jalan Mataram, Jalan Arteri, dan Jalan Suratmo,” ujar Elan.

“Hal itu dilakukan agar warga Semarang tenang,” imbuhnya.

Hingga saat ini, polisi masih melakukan pengejaran terhadap kelompok Mbah Ran dan puluhan anggotanya yang diperkirakan mencapai 50 orang.

Perusakan oleh sejumlah orang yang diduga geng motor di Semarang terjadi Minggu (22/4), sekitar pukul 04.00 WIB di Hotel Dafam, Jalan Imam Bonjol, Semarang. Akibatnya beberapa fasilitas parkir hotel rusak dan LCD di pos parkir raib.

Gadis ABG Umur 17 Tahun Pura Pura Jatuh Cinta dan Mau Diajak Kencan Kemudian Bunuh Pasangannya Karena Ingin Kuasai Sepeda Motornya

Wanita ABG, berusia 17 tahun, ditangkap Tim Buru Sergap Polres Karawang, terlibat pembunuhan, Beben Salehudin, 20, warga Kampung Sukajaya, Desa Anggadita, Rabu (28/3). Dia berperan merayu dan berpura- pura mencintai korban, sehingga korban mau diajak kencan ke lokasi wisata Danau Cipule.

Mayatnya Beben Salehudin, ditemukan tiga hari kemudian dalam keadaan terapung dan diganduli batu seberat 25 Kg, di Danau Cipule, Karawang, Jawa Barat. Pelaku menceburkan korban ke danau setelah kepalanya dipukul kayu, dibacok lengan kanannya juga tubuhnya diganduli batu.

Tim Buru sergap Polres Karawang, selain menangkap Siti Wahyuni, 17, warga Kampung Waringin Desa Kutapohaci, Ciampel, juga menangkap Taryat alias Sableng, 22, warga Pasir Muncang Desa Mulyasari Ciampel, Karawang, Selasa (10/4) petang di rumahnya masing-masing. Sedangkan satu pelaku lainnya AS, masih diburu polisi.

Kapolres Karawang, AKBP. Arman Achdiyat, SIk, MSi, melalui Kabag Humus Polres Karawang, AKP. Suyitno, Kamis (12/4) mengungkapkan, ketiganya membunuh korban pada Rabu (28/3) pukul 18.30 WIB di tepi Danau Cipule. Sedangkan motif sementara ini mereka baru mengakui hanya untuk menguasai sepeda milik korban.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, korban (Beben) pada hari itu mau diajak kencan oleh Siti Wahyuni, di sekitar Danau Cipule, karena korban merasa pelaku itu adalah pacarnya. Ternyata malah bertepuk sebelah tangan, Siti ternyata sudah merencanakan merampas motornya dibantu dua pelaku lainnya yaitu Taryat dan AS.

Taryat dan AS alias Cepot, tidak lama kemudian tepatnya pukul 18:30, datang ke tempat kencan korban dan Siti di tepi Danau Cipule, setekah Siti, memberitahu keberadaannya saat itu, melalui pesan singkat (SMS) kepada kedua rekannya tersebut.

Kedua pelaku yang mengendarai sepeda motor sampai di lokasi (TKP), mendatangi Beben dan Siti yang sedang duduk dekat motor di tepi danau, korban langsung dipukul AS alias Cepot menggunakan kayu, korban dalam keadaan tak berdaya, lalu Taryat, membacok korban menggunakan golok yang dibawanya dari rumahnya itu, tak puas hanya dibacok tangannya oleh Taryat, lalu AS, meraih golok yang sudah diletakkan di tanah dekat tubuh korban, kemudian dibacokkan lagi ke punggung korban.

Saat korban tak sadarkan diri, pelaku mengikat tubuh korban menggunakan tambang plastik yang disatukan dengan batu belah yang beratnya sekitar 25 Kg yang diambilnya dari tepi danau, selanjutnya korban diceburkan, tenggelam ke kedalaman air danau belasan meter, tiga hari kemudian mayatnya ditemukan warga setempat dalam keadaan terapung .

Dari tangan pelaku, petugas menyita barang bukti, satu sepeda motor Honda Blade, milik pelaku, sebilah golok, dua HP, sepasang anting-anting, karung, tambang plastik dan batang kayu yang digunakan membunuh korban. Sedangkan sepeda motor korban diduga dibawa kabur AS

Polisi Perkosa Tahanan ABG Kemudian Dibebaskan Sebagai Imbalannya

Aparat Kepolisian Resor Timor Tengah Utara menyelidiki kasus pemerkosaan terhadap tahanan yang dilakukan oleh anggota polres setempat, Bripda DT. Setelah diperkosa, tahanan itu dibiarkan kabur dari sel markas polres.

“Awalnya kami menduga korban melarikan diri dengan cara merusak plafon ruang tahanan,” kata Kepala Polres Timor Tengah Utara Ajun Komisaris Besar I Gede Made Suparwitha, yang dihubungi Tempo dari Kupang, Jumat 23 Maret 2012.

Dugaan itu muncul karena plafon di ruang tahanan rusak. Namun, setelah dilakukan dicek ulang, ternyata korban dilepas anggota polisi, DT, yang sedang bertugas malam itu. Polisi pun memeriksa memeriksa korban, YM, yang ditangkap kembali pada 20 Maret 2012, pelaku, dan keluarga korban.

DT diduga memerkosa YM, perempuan berusia 16 tahun yang ditahan di sel polres akibat kasus pencurian. YM mengisahkan saat itu dia sedang tidur di dalam ruang tahanan. Tiba-tiba ia dibangunkan oleh DT, yang saat itu sedang piket, Jumat malam lalu.

DT pun menyuruh korban merusak plafon ruangan tahanan itu. Karena tidak berhasil, DT kemudian masuk ke dalam sel dan merusak plafon tersebut. Lalu DT mengajak korban kabur melalui pintu sel. “Dia (DT) mengajak saya keluar. Katanya akan mengantar saya pulang ke rumah,” kata YM.

Keduanya lalu berjalan melewati belakang kantor polres dan asrama polisi. Di sekitar lokasi itulah DT memerkosa YM. “Kami kemudian pulang ke rumah. Di tengah jalan, saya disuruh pulang sendiri. Akhirnya saya pulang dengan menumpang ojek,” ujar YM.

Emil Bayu Santoso Membunuh Eka Indah Jayanti Karena Cemburu dan Mayatnya Disembunyikan Dalam Tabung Gas Elpiji

Diduga cemburu, Emil tega menghabisi wanita simpanan suaminya, yakni Eka ,18. Setelah dibunuh, mayat Eka dimasukkan tabung dan disimpan di rumahnya Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya. Kasus ini terbongkar oleh kecurigaan warga setempat. Dalam beberapa hari terakhir, warga mencium aroma tidak sedap dari dalam rumah Emil. Takut terjadi apa-apa, warga melapor ke aparat kepolisian.

Laporan ditindaklanjuti dengan penggrebekan oleh aparat Polrestabes Surabaya, Selasa (13/3) pukul10.00 WIB. Hasilnya cukup mengejutkan, aparat menemukan tabung yang diduga menjadi sumber asalnya bau. Tabung dari besi berukuran diameter 43 cm dan panjang 173 cm lantas dibongkar paksa. Kecurigaan petugas terbukti, di dalam tabung, tergolek sosok mayat yang telah membusuk. Setelah diselidiki, mayat bernama Eka yang merupakan selingkuhan dari suami Emil.

Tidak butuh waktu lama, Emil lantas diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. Hasil pemeriksaan sementara, Emil mengakui perbuatannya. Kronologisnya, Emil cemburu akibat hubungan gelap antara Eka dengan suaminya. Hubungan telah terjalin sejak 4 tahun lalu. Bahkan di rumah sebelumnya, keluarga Emil dulu berumah di Jalan Karang Empat Surabaya, dia pernah memergoki suaminya pulang membawa Eka.

“Sejak kepergok, korban tidak pernah dibawa ke rumah tersangka. Tetapi, hubungan berlanjut dari hotel ke hotel,” tutur sumber di kepolisian. Mengetahui hubungan gelap tak pernah putus, Emil merencanakan pembunuhan. Eka lantas diculik ketika sedang menginap di sebuah hotel. Setelah diculik, Eka dibunuh dan mayatnya dibawa pulang untuk disimpan dalam tabung. Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Tri Maryanto saat di lokasi kejadian menyatakan bahwa pembunuhan ini motif dari percintaan. “Nanti akan kita lakukan pemeriksaan terhadap tersangka,” katanya. Untuk sementara ini, aparat menyita beberapa barang bukti. Terdiri dari alat las, alat untuk memukul korban, beberapa benda milik korban berupa HP dan pakaian.

Meski sudah menjalin hubungan intim selama bertahun-tahun, namun Emil Budi Santoso (37) dan Eka Indah Jayanti (27) tak juga menikah. Tetapi Emil sebenarnya ngotot ingin menikahi wanita asal Grobogan Jawa Tengah tersebut. Meski belum menikah namun Emil menyebut Eka sebagai istri. Emil yang sudah beristri itu ingin sekali menikahi dan memiliki anak dari Eka.

Sayangnya keinginan Emil yang tinggal di Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya itu bertepuk sebelah tangan. Eka menolak karena selama ini Emil selalu menggerogoti harta miliknya. “Emil sebenarnya ingin menikahi dan mempunyai anak dari Eka, tetapi Eka menolak dinikahi,” kata AKP Agung Pribadi.

Alasan Eka kata Kanit Resmob Polrestabes Surabaya, Emil seringkali meminta uang kepada Eka. “Eka sering disuruh Emil meminta uang ke orangtuanya, pernah Eka meminta uang Rp 10 juta atas suruhan Emil,” tambah Agung. Ayah Eka, Sutejo, merupakan Kepala Pasar Wirosari, Grobogan. Sedangkan ibunya, Wagirah(49), adalah seorang guru SD dengan golongan IVA.

Seperti diketahui, Eka tewas ditangan Emil yang emosi karena dibakar api cemburu. Mayat Eka yang bekerja sebagai sales promotion girl di Sleman itu dimasukkan tabung besi dan dilas. Rencananya Emil akan membawa tabung besi berisi mayat kekekasihnya ke Flores untuk dimakamkan.

Sayang rencana pengusaha jasa angkutan itu keburu terendus polisi. Kini Emil dan istrinya Patricia Yolansia Dahlia diamankan di Mapolrestabes Surabaya. Emil dari istri pertamanya yang sudah meninggal dikaruniai satu anak. Sedangkan hasil pernikahan dengan Yolansia mendapat 3 anak.

Perbuatan Emil B Santoso (37), warga Kapas Krampung 210 sungguh sadis. Setelah menghajar kepala istri simpanannya sebanyak 9 kali dengan pipa besi, dia membiarkan mayat Eka selama 2 hari sebelum akhirnya dimasukkan dalam tabung elpiji 50 kg.

Menurut Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya kompol Sudamiran, sebelum dimasukkan ke dalam tabung, mayat Eka Indah Jayanti (27) warga Pulokulon, Grobogan, Jawa Tengah sempat dibiarkan selama dua hari di kamar. Bahkan jasad Eka hampir dimakamkan di taman yang ada di lantai II. “Mungkin karena panik,” kata Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya kompol Sudamiran, Selasa (13/3/2012).

Setelah istri simpanannya tak bernyawa, Emil dengan dibantu istrinya Patricia Yolansia Dahlia (29) memandikan jenazah Eka. Setelah dimandikan, jasad Eka dibungkus kain putih dan diletakkan di atas tempat tidur.

Setelah dua hari, jasad Eka menimbulkan bau busuk. Emil mempunyai pikiran menggali taman yang berada di lantai II rumahn. Di areal taman itu sudah digali beberapa centimeter. Namun, niat tersebut akhirnya dibatalkan.

Setelah membatalkan rencana memakamkan di taman di lantai II, Emil bergegas menuju ke kawasan Bagong untuk membeli tabung elpiji bekas yang berukuran panjang 173 centimeter dan berdiameter 43 centimeter. Selain itu, Emil juga membeli peralatan las listrik di supermarket bahan bangunan.

Sebelum dimasukkan ke dalam tabung elpiji, jenazah Eka dibungkus plastik dan dililitkan sebanyak 5 kali. Setelah mayat Eka masuk, Emil menutup bagian atas dan bawah tabung dengan cara dilas tenaga listrik. “Istri tersangka juga turut membantu memasukkan jenazah korban ke dalam tabung,” tuturnya. Setelah dirasa aman dan tidak menimbulkan bau, tabung tersebut diletakkan di ruang garasi. “Memang tidak menimbulkan bau. Tapi saat tabung itu kita bongkar lagi (dengan cara dilas), menimbulkan bau,” jelasnya.

Mayat Eka Indah Jayanti sengaja disembunyikan di tabung besi agar tak mudah terlacak. Selain itu, Emil Budi Santoso rencananya akan mengirim ‘paket’ berisi ‘istri simpanannya’ itu ke Flores, NTT, untuk dikuburkan. “Rencananya tabung itu akan dibawa ke Flores untuk dimakamkan. Baik Emil dan istrinya (Yolansia) kan orang Flores,” kata Kompol Sudamiran kepada wartawan, Selasa (13/3/2012).

Wakasat Reskrim itu mengatakan bahwa Emil berencana akan membawa tabung berisi mayat Eka itu ke Flores melalui kapal. Dengan menguburkan mayat Eka, pria 37 tahun itu akan sempurna sudah menghilangkan jejak kejahatannya. Tetapi sebelum niat itu terlaksana, polisi sudah mencium dan menggagalkan perbuatannya.

“Padahal Emil tinggal menunggu jadwal kapal itu, tapi saya nggak tahu kapan jadwalnya,” tandas Sudamiran. Seperti diketahui, jenazah Eka Indah Jayanti (27) warga Grobogan, Jateng ditemukan di rumah EMil Budi Santoso di Jalan Kapas Krampung 210. Jenazah Eka ditemukan di dalam tabung besi berdiameter 43 cm dan tinggi 173 cm. Dari pengakuan Emil, pembunuhan itu dilakukannya pada Sabtu (11/2/2012) lalu karena didasari rasa cemburu.

Motif pembunuhan yang dilakukan Emil B Santoso terhadap istri simpanannya Eka Indah Jayanti (27) mulai sedikit terkuak. Pelaku menghabisi nyawa perempuan asal Grobokan, Jateng itu karena cemburu.

Emil menduga, Eka yang menjadi istri simpanannya itu tengah menjalin hubungan dengan pria lain. Sebab, Eka yang selama ini tinggal serumah dengan Emil, sering berkirim pesan singkat (SMS) ke selingkuhannya. Selain itu, tersangka menilai, Eka adalah orang suruhan mantan pacarnya.

“Motifnya, tersangka (Emil) merasa cemburu dengan korban, karena korban kerap kali diketahui mengirim SMS ke seseorang yang dianggapnya sebagai selingkuhannya,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Tri Maryanto kepada wartawan di mapolrestabes, Jalan Sikatan, Selasa (13/3/2012).

Meski sebagai istri simpanan, Eka dipersilahkan tinggal serumah bersama tersangka dan istri sahnya Patricia Yolansia Dahlia, di Jalan Kapas Krampung 210 Surabaya. Selama tinggal di rumah tersebut sejak Januari 2012 lalu, Eka mulai menjalani hubungan dengan pria lain. Hal itu tak diinginkan Emil. “Tersangka sudah meminta korban supaya jujur menceritakan apa adanya,” tuturnya.

Jika Eka benar-benar memiliki pacar baru, Emil mengaku rela melepaskan istri simpanannya itu ke pelukan pria lain. Konsekwensinya berhubungan dengan pria lain, Eka disuruh keluar dari rumahnya. Tapi, Eka bersikukuh dan menyangkal tuduhan yang dilayangkan Emil. “Tersangka menduga, korban adalah orang suruhan mantan pacarnya yang ada di Yogya untuk menghancurkan rumah tangganya,” ujarnya. Mantan pacar Emil di Yogya adalah bos toko sepatu. Sedangkan Eka pernah bekerja sebagai SPG di toko tersebut.

Perselisihan itu membuat tersangka marah hingga menghabisi Eka dengan cara memukul bagian kepala korban dengan menggunakan besi bekas meja sebanyak 9 kali. Setelah tewas, korban sempat dimandikan di kamar mandi oleh tersangka bersama istri sahnya, dan akhirnya dimasukkan ke dalam tabung sepanjang 173 sentimeter dan berdiameter 43 sentimeter.

Pembunuhan keji menggegerkan Kapas Krampung, Surabaya. Eka Indah Jayanti dibunuh Emil Bayu Santoso. Emil kemudian menyembunyikan jenazah istri simpanannya itu di dalam bekas tabung elpiji berukuran 50 Kg. Tabung gas warna hijau itu diletakkan di garasi rumah tersangka Emil di Jl Kapas Krampung 210, Selasa (13/3/2012).

Korban yang berasal dari Pulowetan, Grobogan, Jawa Tengah, itu diduga kuat dibunuh oleh Emil pada pukul 15.30 Wib, Sabtu (11/2/2012). Saat ini, tersangka Emil dan istrinya, Yolansia, serta 5 anaknya diamankan polisi. Diduga kuat, pembunuhan itu berlatar belakang cinta segitiga, karena Eka dikenal sebagai istri simpanan Emil. “Korban istri simpanan tersangka. Setelah jenazah dimasukkan tabung, kemudian tabungnya dilas lagi,” kata seorang petugas kepolisian.

Tim Gabungan Mabes Polri Berhasil Menangkap Pemilik Situs Penyedia Layanan Pembunuh Bayaran Indonesia

Tim gabungan kepolisian dari Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Ditreskrim Polda Jabar serta Polrestabes Bandung berhasil menangkap seorang pria berinisial S (30) yang diduga menjadi penyedia layanan pembunuh bayaran di internet.

Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Abdul Rakhman Baso di Mapolrestabes Bandung, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Jumat, menuturkan, S ditangkap di kawasan Klender, Jakarta Timur, oleh tim gabungan kepolisian.

“Pelaku yang diduga pemilik situs penyedia jasa layanan pembunuh bayaran telah kami amankan di sebuah rumah yang diduga milik pelaku, di kawasan Klender, Jakarta Timur, tadi malam,” kata Abdul.

Menurut Abdul, sampai saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan apakah S adalah benar pemilik situs atau bukan dan juga masih mendalami motif serta kemungkinan adanya pelaku lain selain S.

Ia mengatakan, pelaku S diduga pemilik situs indonetasia.com, yang di dalam situs ini disebutkan, disediakan jasa pembunuh bayaran. “Mengenai apakah jasa itu betul atau tidaknya masih pendalaman,” ujar dia.

S terancam dijerat oleh KUH Pidana, Undang-undang IT, teror, dan lain-lain jika terbukti menyediakan layanan pembunuh bayaran di dunia maya.

Sementara itu, Kasatreskim Polrestabes Bandung Ajun Komisaris Besar Widjonarko menambahkan, dari hasil pendalaman kepolisian, S ternyata bekerja di sebuah perusahaan properti di Jakarta. “S itu kerja di perusahaan properti di Jalan Sudirman Jakarta Pusat,” kata Widjonarko.

Sebelumnya, sebuah blog yang beralamat hitmanindonesia.wordpress.com secara terang-terangan menyediakan jasa pembunuhan untuk wilayah Kota Bandung. Di dalam blog tersebut, tertulis kalimat “menyewakan jasa pembunuh bayaran”.

Aparat Badan Reserse Kriminal Polri masih menyelidiki situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran dan penculikan. Situs itu dibuat tahun 2008 dan masih berstatus aktif.

Demikian diungkapkan Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution di Jakarta, Kamis (8/3/2012). “Tim sudah bekerja untuk mengungkap siapa yang berbuat dan apa motifnya,” tutur Saud.

Menurut Saud, penyidik juga masih mendalami ketentuan pidana yang dapat dikenakan, apakah perencanaan atau percobaan pembunuhan sesuai KUHP atau ketentuan UU mengenai informasi dan teknologi.

Kriminolog dari Univeritas Indonesia, Erlangga Masdiana, menyerukan agar aparat penegak hukum—dalam hal ini pihak kepolisian—tidak memandang remeh dan mengabaikan keberadaan situs web penyewaan pembunuh bayaran di internet.

“Kepolisian harus menelusurinya, untuk tujuan apa situs itu dibuat. Sebab, bisa membuat orang jadi takut. Situs itu ada karena sudah pasti adanya permintaan,” kata Erlangga, menanggapi munculnya situs jasa pembunuh bayaran di internet.

Hal senada dikatakan Bambang Widodo Umar. Kriminolog yang juga pengamat kepolisian ini mengatakan, keberadaan pembunuh bayaran menandakan masyarakat memandang penegakan hukum di Indonesia sangat lemah. Mengurus perkara bahkan sampai berlarut-larut dan terkadang tidak mendapatkan kepastian hukum.

Bambang mengatakan, jalan pintas yang dilakukan yakni sewa saja pembunuh bayaran. Bahkan dia menengarai, tidak tertutup kemungkinan oknum aparat bermain dalam penyewaan jasa pembunuh bayaran tersebut. Maka dari itu, pimpinan Polri dan TNI harus meningkatkan pengawasan terhadap anak buahnya yang memegang senjata.

“Sebab, bisa saja senjata api dinas yang dimilikinya itu dipinjamkan atau disewakan atau dia sendiri disewa sebagai pembunuh bayaran,” katanya.

Bambang mengingatkan tentang kasus penembakan Budiharto Angsono, bos PT Asaba, oleh oknum anggota TNI Suud Rusli dkk. Ternyata, Suud Rusli diperintah oleh menantu Budiharto sendiri, yakni Gunawan Santosa.

Bergerak cepat

Aparat Polda Metro Jaya juga bergerak cepat menyusul munculnya situs pembunuh bayaran di internet. Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya kini tengah menelusuri hal itu.

“Begitu mendengar ada informasi temuan tersebut di wilayah hukum Polda Jawa Barat, kami dari Polda Metro Jaya juga langsung bergerak melacak keberadaan situs itu,” kata Kepala Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Audie Latuheru, Rabu (7/3/2012) malam.

Menurut Audie, tidak tertutup kemungkinan situs-situs yang menawarkan sewa pembunuh bayaran marak terjadi di wilayah Ibu Kota Jakarta. Situs seperti itu bisa muncul karena adanya permintaan (demand) dari orang-orang yang membutuhkan jasa pembunuh bayaran dalam menyelesaikan kasus atau perkaranya.

Saat ini, petugas Cyber Crime terus melakukan patroli di dunia maya dengan mencari situs-situs yang sifatnya membahayakan keselamatan jiwa. Dalam sehari, petugas Cyber Crime bisa sampai melacak 100-an situs yang dicurigai berbau tindak kejahatan, seperti bisnis seks dan sewa pembunuh bayaran.

Dikatakan Audie, pihak kepolisian belum bisa menangkap begitu saja penyedia situs sewa jasa pembunuh bayaran. “Terkecuali jika sudah terjadi transaksi antara yang mau sewa pembunuh bayaran dengan si penyedia situs. Jika tertangkap maka keduanya bisa dijerat pasal berlapis,” ujar Audie.

Namun, lanjut Audie, jika belum diketemukan adanya unsur transaksi, maka belum bisa dikategorikan sebagai sebuah tindak pidana. “Kalau di situs itu tertulis sewa pembunuh bayaran untuk pejabat, nah itu sudah masuk pelanggaran tindak pidana, karena sudah menyebut nama baik orang maupun lembaga,” paparnya.

Pasal yang bisa diterapkan kepada penyewa maupun penyedia situs yakni Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Dengan menjalani transaksi, kedua belah pihak dianggap melakukan perencanaan kejahatan yang dapat membahayakan keselamatan jiwa orang lain.

Bukan cuma Pasal 340 KUHP, pembunuh bayaran atau penyedia situs dapat dijatuhi sanksi dalam Undang-Undang Darurat karena memiliki senjata api. Kemudian, penyedia situs juga dapat dijerat dengan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). “Ancamannya sudah pasti berat,” kata Audie.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, dihubungi semalam, mengatakan, dirinya belum tahu betul isi situs sewa pembunuh bayaran yang ditemukan di wilayah Bandung, Jawa Barat. “Saga akan tanyakan dulu ke Bareskrim, situsnya seperti apa dan langkah apa yang akan dilakukan Bareskrim untuk mencegah munculnya situs-situs seperti itu,” kata Saud.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com sebelumnya, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menyelidiki dan mengusut adanya jasa pembunuh bayaran yang ditawarkan lewat internet. Selain pembunuhan, di situs itu juga ditawarkan jasa penculikan.

Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo menegaskan, polisi akan mengusut bisnis jasa tersebut. “Itu jelas merupakan pelanggaran hukum. Kalau itu ada, kami akan tindak tegas. Kami pastikan akan usut dan tindak para pelaku maupun pembuat situs tersebut,” katanya seusai dinobatkan sebagai warga kehormatan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara di Bandung, Rabu (7/3/2012).

Timur menegaskan, pihaknya akan melakukan penyelidikan dan langkah tegas sesuai aturan. “Itu suatu hal yang berbeda. Hukum jika itu terjadi,” tegasnya seperti dikutip Kompas.com.

Belakangan ini dunia maya memang dihebohkan dengan munculnya situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran. Berdasarkan penelusuran, salah sate situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran tersebut adalah hitmanindonesia.wordpress.com.

Pada tampilan awal (home) situs tersebut secara terang-terangan tertulis “Menyewakan Jasa Pembunuh Bayaran”. Dalam situs tersebut juga tertulis jelas jika mereka menyediakan tenaga profesional yang terlatih dan tepercaya untuk melayani pesanan pembunuhan atau penculikan.

Beberapa “peraturan” dicantumkan di situs tersebut, antara lain disebutkan: “Metode eksekusi dapat direncanakan bersama atau Anda serahkan semua pada kami”. Untuk sementara, tulis penyedia jasa, mereka hanya melayani sasaran di daerah kota Bandung.

Soal harga juga diberi gambaran. “Harga penculikan lebih mahal daripada harga pembunuhan, karena target masih dalam keadaan hidup”. Ditulis juga: “Harga wali kota tentu berbeda dengan harga pedagang alat elektronik”.

Pihak penyedia jasa menyebutkan sebuah alamat e-mail yang bisa dihubungi konsumen yang berminat memanfaatkan jasa tersebut. Seramnya, mereka memperingatkan agar konsumen tidak memesan hanya untuk main-main.

“Kami tidak akan menerima permintaan yang main-main. Jika Anda menggunakan jasa kami, dan Anda tidak serius, maka Anda tidak akan lolos dari kami,” begitu ancaman mereka.

Kepolisian Negara Republik Indonesia akan menyelidiki dan mengusut keberadaan laman yang menawarkan jasa pembunuh bayaran.

“Itu jelas merupakan pelanggaran hukum. Kalau itu ada, kami akan tindak tegas,” kata Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo seusai dinobatkan sebagai warga kehormatan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara di Bandung, Rabu (7/3/2012).

Ia menegaskan, pihaknya akan melakukan penyelidikan dan langkah tegas sesuai aturan. “Itu suatu hal yang berbeda. Hukum jika itu terjadi,” katanya tegas.

Belakangan ini dunia maya dihebohkan dengan munculnya situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran. Berdasarkan penelusuran, salah satu situs yang menawarkan jasa pembunuh bayaran tersebut di antaranya hitmanindonesia.wordpress.com.

Pada tampilan awal (home) situs tersebut secara terang-terangan tertulis “Menyewakan Jasa Pembunuh Bayaran”. Dalam laman tersebut juga tertulis jelas jika mereka menyediakan tenaga profesional yang terlatih dan tepercaya untuk melayani pesanan serta memiliki kakas dan dukungan orang dalam di militer dan kepolisian.

Laman tersebut juga mencantumkan sebuah akun e-mail yang bisa dikirimkan pesan jika ada yang tertarik menggunakan jasa pembunuh bayaran itu.

Mujianto Pembunuh Berantai Asal Ngajuk Membunuh 15 Orang Homoseksual

Pengakuan mengejutkan disampaikan Mujianto, tersangka pembunuhan berantai di Nganjuk, Jawa Timur. Pemuda berusia 21 tahun ini mengaku telah meracuni 15 teman kencannya sesama gay sejak 2011.

Dalam sesi wawancara di Markas Kepolisian Resor Nganjuk, Rabu 15 Febaruari 2012, Mujianto mengaku meracuni mereka karena dianggap selingkuhan Joko Suprapto. Joko yang berusia 49 tahun adalah seorang duda majikan sekaligus kekasihnya. “Semua yang berhubungan dengan Pak Joko,” kata Mujianto saat menjelaskan seluruh korbannya, Rabu 15 Februari 2012.

Mujianto mengaku cemburu kepada orang-orang yang berhubungan dengan Joko. Karena itu dia berusaha mencelakai mereka dengan cara dijebak dan diracun. Kepada polisi Mujianto mengaku tak berniat membunuh. “Hanya mengerjai saja biar kapok,” katanya.

Sebelum melancarkan aksinya, Mujianto mencuri semua nomor telepon calon korbannya dari telepon seluler Joko. Selanjutnya dia menghubungi mereka satu per satu dengan dalih ingin berkenalan. Modus ini cukup efektif mengingat hampir semua korbannya berdomisili di luar Kabupaten Nganjuk.

Setelah merasa cukup dekat, Mujianto mengajak korban bertemu muka di Nganjuk. Setibanya di terminal bus Nganjuk, para korban dijemput Mujianto dengan sepeda motor untuk diajak jalan-jalan. Dalam perjalanan tersebut Mujianto sempat melakukan hubungan badan di tempat-tempat umum. Di antaranya areal persawahan hingga toilet Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Usai berkencan, Mujianto mengajak mampir ke warung untuk makan dan minum. Saat itulah dia meracuni minuman korban hingga sekarat. Setelah korbannya lemas, dia memboncengnya lagi dan menurunkan di rumah warga. Kepada pemilik rumah Mujianto mengaku akan memanggil dokter sebelum akhirnya menghilang.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono masih menyelidiki pengakuan tersebut. Saat ini polisi masih fokus pada empat korban tewas dan dua korban selamat untuk melengkapi pemeriksaan. “Kami masih akan selidiki sembilan korban lainnya,” katanya.

Dia mengimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk menghubungi polisi. Sebab hingga saat ini masih terdapat dua jenazah yang belum teridentifikasi di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Sementara dua korban lainnya sudah diketahui sebagai Basori, 42 tahun, warga Pacitan dan Ahya, 30 tahun, warga Situbondo.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono mengatakan korban Mujianto sebenarnya ada enam orang. Empat orang meninggal dunia dan dua lainnya kritis.

Dari empat korban tewas, dua diantaranya berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Basori, 42 tahun, warga Pacitan dan Ahya, 30, warga Situbondo. Sedang dua lainnya masih disimpan di kamar jenasah Rumah Sakit Bhayangkara Kediri sebagai Mr X.

Adapun dua korban selamat lainnya adalah Anton Sumarsono, warga Solo yang masih dirawat di RS Bhayangkara Kediri serta Muhammad Faiz warga Blitar. Faiz sudah diperbolehkan pulang setelah sempat dirawat. “Kami akan periksa kondisi pelaku,” kata Anggoro Senin, 13 Februari 2012.

Mujianto, 24 tahun, warga Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kediri, ditangkap tim reskrim Polres Nganjuk Senin, 13 Februari 2012 pagi. “Pelaku tengah berada di rumah Joko, pasangannya,” kata Anggoro.

Kepada polisi, Mujianto mengaku nekat menghabisi empat orang dan melukai dua lainnya karena cemburu. Keenam korbannya adalah para gay yang pernah menjalin hubungan istimewa dengan Joko, kekasihnya.

Modus yang dilakukan Mujianto cukup unik. Dia berpura-pura menyukai calon korbannya untuk kemudian diajak berkencan. Saat itulah Mujianto memasukkan racun tikus ke dalam makanan korban hingga sekarat.

Setelah melihat korbannya lemas, Mujianto menaikkannya ke atas sepeda motor dan menurunkan ke rumah warga. Kepada pemilik rumah, dia selalu mengatakan korban tengah sakit dan hendak mencari dokter. Setelah ditinggal, pelaku pergi begitu saja hingga akhirnya korban meninggal.

Peristiwa tersebut sempat menghebohkan warga Nganjuk dalam satu bulan terakhir. Sejumlah warga melaporkan menerima korban keracunan yang ditinggalkan seseorang. Polisi sendiri sempat menduga mereka adalah korban pembiusan di atas kendaraan umum.

Sembilan korban Mujianto yang lain masih belum diketahui nasibnya. Dalam pengakuannya di kantor Kepolisian Resor Nganjuk Rabu, 15 Februari 2012 kemarin, Mujianto mengaku membunuh karena cemburu. Para korban itu adalah lelaki simpanan pasangannya, Joko Suprianto.

“Kami masih menyelidiki sembilan korban lainnya,” kata Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono di Nganjuk, Rabu, 15 Februari 2012.

Sejak 2011, Mujianto meracuni 15 teman kencannya sesama gay. “Hanya ngerjain saja biar (mereka) kapok,” kata Mujianto. (Baca: Korban Tewas Mujianto Enam, Dua Selamat)

Mujianto dibekuk di rumah pasangannya, Joko Suprianto, di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Senin, 13 Februari lalu. Joko adalah duda, 49 tahun, majikan dan kekasih Mujianto. Jejaknya terendus dari pengakuan korbannya yang selamat, yakni Muhammad Fais.

Dalam dua bulan ini, pria 21 tahun itu sudah menewaskan empat orang, yakni Ahyani, 46 tahun, warga Situbondo; Romadhon (55), Sudarno alias Basori (42), keduanya warga Ngawi; dan seorang lagi belum diketahui identitasnya, pria berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, asal Pasuruan, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, asal Surakarta. Sedangkan sembilan korban lainnya belum diketahui nasibnya.

Salah seorang korban pembunuhan berantai yang diduga dilakukan Mujianto di Nganjuk adalah Ahyani, 46 tahun, seorang pegawai negeri sipil. Ahyani bertugas di Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kerja Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Menurut Kepala Unit, Ainul Yaqini, korban merupakan pegawai yang berasal dari Solo. Pada 1986, dia diangkat sebagai pegawai negeri di Tuban dan 1991 dipindah ke Situbondo.

Di Situbondo inilah Ahyani menikah dengan Saljunianti, warga Desa Tokelan, Kecamatan Panji. Dari perkawinan tersebut, mereka dikaruniai dua anak.

Ainul bercerita, dia terakhir bertemu Ahyani 30 Desember 2011. Saat itu Ahyani mengeluh sakit. “Ahyani sudah lama punya penyakit diabetes,” katanya saat dihubungi Tempo, Kamis, 16 Februari 2012.

Kemudian pada 1 Januari 2012, Ahyani meminta izin tak masuk kerja pada 2 Januari karena akan menjenguk ibunya di Solo, Jawa Tengah. Namun, keesokan harinya, Ainul menerima informasi bahwa Ahyani ditemukan pingsan di terminal Nganjuk. “Setelah dibawa ke rumah sakit, jam 12 siang Ahyani dikabarkan meninggal,” katanya.

Keluarga menolak jenazah Ahyani diotopsi dan langsung dimakamkan di Solo. Keluarga dan rekan kantornya menduga korban memang tewas karena dibius. Hingga kemudian terungkap bahwa ternyata Ahyani menjadi korban pembunuhan Mujianto. “Kami sangat kaget,” kata Ainul.

Dua dari empat korban pembunuhan berantai oleh Mujianto, 24 tahun, di Kabupaten Nganjuk, adalah warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Keduanya adalah Romadhon, 55 tahun, warga Widodaren, dan Sudarno, 42 tahun, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas.

Menurut Suparno, keluarga Romadhon, korban diduga kuat diberi racun tikus melalui bakso yang diberikan Mujianto. “Sebelum meninggal dunia almarhum sempat bercerita pada orang yang menolongnya bahwa ia ditipu dan mengaku sempat makan bakso,” katanya, Rabu, 15 Februari 2012.

Cerita itu didapat dari petugas Kepolisian Sektor Loceret, Nganjuk, pemilik warung bakso, serta warga yang dititipi tersangka pada awal Januari 2012. Sebelum meninggal dunia Romadhon yang sudah terlihat teler dititipkan ke warga di Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Kepada warga yang dititipi, Mujianto beralasan, korban adalah temannya yang sedang sakit.

“Katanya orang ini (Romadhon) sakit dan akan dihubungi keluarganya serta dicarikan dokter,” ujar Suparno menirukan keterangan polisi dan saksi di Nganjuk. Namun orang yang menitipkan korban tak kunjung datang.

Warga akhirnya melapor ke Kepolisian Sektor Loceret. Korban yang semula diduga korban pembiusan lantas dibawa ke RS Bhayangkara, Nganjuk. Setelah dilakukan pemeriksaan, korban ternyata keracunan racun tikus.

Adik kandung korban, Nasir, semula juga menyangka kakaknya menjadi korban pembiusan dan perampokan. “Tidak menyangka ternyata meninggalnya diracun,” ujarnya. Jenazah Romadhon tiba di Ngawi dan dimakamkan pada 7 Januari 2012. “Saat jenazah tiba sempat dilihat dan sama sekali tidak ada luka bekas penganiayaan,” tutur Nasir.

Keluarga menyangkal Romadhon punya orientasi seksual yang berbeda. Apalagi Romadhon dan istrinya, Siti Fatimah, sudah dikaruniai tiga putri. “Selama ini hubungan almarhum dengan kakak (ipar) saya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda seperti itu,” katanya.

Tersangka Mujianto mengaku meracuni 15 orang sejak 2011 karena cemburu. Ke-15 orang ini diduga kuat pernah berhubungan badan dengan pasangan gay Mujianto, Joko Susilo, yang tinggal di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Mujianto sendiri merupakan warga asal Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Mujianto dan Joko sudah lama hidup serumah di Nganjuk.

Dari 15 orang yang pernah diracun dengan racun tikus lewat makanan dan minuman itu, baru terungkap enam orang. Empat di antaranya akhirnya tewas dan dua lainnya sempat kritis dan bisa diselamatkan. Para korban diracun tidak bersamaan dan empat korban di antaranya meninggal dunia dalam dua bulan terakhir.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono mengatakan penyelidikan kasus pembunuhan berantai sejak 2011 ini cukup sulit. Polisi membentuk tim khusus setelah korban tewas yang ditemukan di rumah warga berjatuhan.

Menurut dia, awal mulanya para korban diduga merupakan target pembiusan yang marak di angkutan umum. “Begitu jumlah korban tewas mencapai empat orang, saya bentuk tim khusus,” kata Anggoro kepada Tempo, Rabu, 15 Februari 2012.

Pengungkapan ini berawal dari lolosnya Muhammad Faiz, 21 tahun, asal Pasuruan, dari upaya pembunuhan itu. Kala itu Faiz tak menghabiskan minuman es teh yang telah dibubuhi racun tikus oleh Mujianto karena terasa pahit. Saat tubuh korban lemas, pelaku mengambil dompet dan telepon genggam Faiz, lalu kabur. Selanjutnya telepon genggam korban dijual kepada penadah di Nganjuk.

Berbekal nomor IMEI, telepon genggam milik Faiz yang tertera di dos book, polisi berhasil melacak keberadaan ponsel itu dan menemukan penadahnya. Selanjutnya polisi membuat sketsa wajah Mujianto berdasarkan keterangan penadah ataupun Faiz.

Tak hanya itu, Faiz juga masih mengingat nomor polisi sepeda motor yang dipergunakan Mujianto saat menjemputnya di terminal, yakni AG 2001 XX. “Setelah kami lacak di registrasi kendaraan, terdapat empat nomor polisi dengan angka itu. Dan kami temukan salah satu pemiliknya dengan wajah yang sama di sketsa,” kata Anggoro.

Pelacakan ini, menurut dia, berjalan lebih cepat dari target yang ditetapkan. Pelaku berhasil diringkus tiga hari setelah perburuan dimulai dari target waktu satu pekan. Ketika dikonfrontasi dengan Faiz, dia membenarkan bahwa Mujianto adalah Feri yang memberinya racun.

Dua korban pembunuhan oleh gay di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dipastikan warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. “Dari empat korban yang meninggal dunia, dua orang warga asal Ngawi,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Nganjuk, Ajun Komisaris Polisi Ali Purnomo, saat dihubungi, Rabu, 15 Februari 2012.

Tersangka Mujianto, 24 tahun, mengaku meracun 15 orang sejak 2011. Ke-15 orang ini diduga pernah berhubungan badan dengan pasangan gay Mujianto, Joko Supriyanto, di rumah Joko di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Mujianto sendiri merupakan warga Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Mujianto dan Joko sudah lama hidup serumah di Nganjuk.

Dari 15 orang yang pernah diracun dengan racun tikus lewat makanan dan minuman itu baru terungkap enam orang. Empat di antaranya tewas dan dua lainnya kritis, tapi bisa diselamatkan. Empat korban diracun tidak bersamaan dan meninggal dunia dalam dua bulan terakhir.

Empat korban tewas adalah Ahyani, 46 tahun, PNS, Desa Tokelan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo; Romadhon, 55 tahun, Desa/Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi; Sudarno, 42 tahun, Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi; Mr X (belum diketahui), diperkirakan berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, swasta, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, guru, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

Modusnya dengan meracun korban saat diajak jalan-jalan. Setelah teler atau sekarat, korban dititipkan di rumah warga. Warga semula mengira korban adalah korban pembiusan. Namun setelah dilaporkan ke polisi setempat dan diotopsi di RS Bhayangkara, korban dipastikan keracunan.

Dua korban asal Ngawi itu adalah Romadhon, 55 tahun, warga Desa/Kecamatan Widodaren dan Sudarno, 42 tahun, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas. “Benar, dua korban orang Ngawi. Saya sudah koordinasi dengan Polres Nganjuk,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Ngawi Ajun Komisaris Polisi Sukono.

Satu dari empat korban tewas sempat dikabarkan bernama Basori asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Namun setelah dilacak berdasarkan pengakuan tersangka dan pasangan gay-nya, Joko, serta keluarga korban, Basori hanya nama samaran. Basori ternyata Sudarno asal Ngawi.

“Setelah diteliti lagi, bukan orang Pacitan tapi Ngawi. Saya sudah koordinasi dengan Polres Nganjuk,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Pacitan Ajun Komisaris Polisi Sukimin.

Satu dari dua korban pembunuhan Mujianto di Nganjuk berhasil diidentifikasi. Istri korban syok saat mengetahui suaminya punya pacar lagi, seorang laki-laki. Ruang penyidikan Satuan Reserse Kriminal Polres Nganjuk mendadak pecah oleh tangis Warsini. Tubuhnya lemas usai melihat foto yang ditunjukkan petugas identifikasi Polres Nganjuk. “Ya, Allah,” katanya diiringi derai air mata, Rabu, 15 Februari 2012.

Ibu rumah tangga asal Desa Sukuwiono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi ini mendatangi Polres Nganjuk untuk mengidentifikasi korban pembunuhan Mujianto siang tadi. Sejak 10 Februari 2012 lalu, Warsini kehilangan suaminya, Sudarno, 42 tahun.

Kala itu Sudarno pamit ke sawah. Saat itu Sudarno hanya mengenakan pakaian biasa dan tidak membawa barang berharga. Warsini pun melepas suaminya tanpa rasa curiga. Sejak itu, pria yang telah memberinya satu anak itu tak pernah kembali.

Warsini tergerak mendatangi Polres Nganjuk setelah melihat tayangan di media massa tentang korban pembunuhan Mujianto. Kala itu polisi menyebut ada dua jasad yang belum teridentifikasi.

Usai menyaksikan foto korban dan ciri-ciri tubuh serta pakaian yang ditemukan polisi, Warsini mengakui bahwa pria itu adalah suaminya. Apalagi Warsini juga membawa Kartu Tanda Penduduk dan Surat Izin Mengemudi milik korban yang identik dengan Sudarno.

Kepada polisi yang memeriksanya, Warsini mengaku tak melihat keganjilan perilakusuaminya. Namun dia menyadari bahwa Sudarno memiliki banyak teman laki-laki di jejaring sosial Facebook. Selama ini Sudarno memang aktif menjalin pertemanan melalui dunia maya yang bisa diakses di rumahnya.

Kepala Kepolisian Resor Nganjuk, Anggoro Sukartono, mengatakan, identifikasi ini telah menguak salah satu Mr X yang selama ini misteri. Saat ini jasad Sudarno sudah dimakamkan oleh petugas kepolisian di Nganjuk bersama satu jasad lain yang belum teridentifikasi. “Karena identitasnya sudah jelas, saya kira tidak perlu membongkarnya kembali,” katanya.

Dengan demikian, tiga dari empat korban meninggal itu telah terungkap. Mereka adalah Ahyani, 30 tahun, warga Situbondo yang berprofesi sebagai pegawai negeri Pemerintah Provinsi Jawa Timur; Romadhon, 42 tahun, warga Ngawi (yang sebelumnya disebut sebagai Basori, warga Pacitan); serta Sudarno, 42 tahun, warga Ngawi.

Ulah Mujianto yang membantai empat orang sesama gay mengundang kemarahan warga. Penduduk di sekitar rumah majikan Mujianto di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Nganjuk menuding Mujianto sebagai perusak kehormatan kampung.

Kecaman ini disampaikan warga saat menyaksikan penggeledahan rumah Joko Suprianto, majikan Mujianto, sore tadi. Saat melihat Mujianto turun dari kendaraan polisi, warga yang memenuhi halaman rumah Joko menyampaikan kekesalannya. “Pendatang baru sudah rusak nama kampung,” kata Didik, 46 tahun, warga Desa Sonopatik, geram, Kamis, 16 Februari 2012.

Didik tidak menyangka Mujianto yang baru dua tahun tinggal di desa ini berbuat sangat keji. Selama ini warga sendiri juga tidak begitu akrab dengan Mujianto. Sebab, Mujianto dikenal selalu berdiam diri di dalam rumah majikannya yang tertutup pagar besi. Sesekali Mujianto terlihat keluar rumah untuk berbelanja ke pasar bersama Joko dengan mengendarai sepeda motor.

Rumah berukuran 25 x 20 meter yang dihuni Joko Suprianto ini terbilang paling bagus di desa itu. Selain mengajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Nganjuk, Joko juga dikenal sebagai seniman yang piawai memainkan elektone atau organ tunggal. Sebagai warga yang telah delapan tahun berdomisili di kampung itu, Joko cukup akrab dengan tetangganya.

Karena itu mereka merasa sangat marah ketika mengetahui ulah Mujianto yang dianggap merusak citra Desa Sonopatik. Apalagi korban pembunuhannya cukup banyak dan dilakukan dengan cara sadis. “Saya ingin ikut menghajar saat melihat dia digelandang polisi,” kata Didik.

Sikap yang sama disampaikan Ny Salami, warga setempat. Ia menganggap Joko Suprianto memelihara anak macan di rumahnya. Salami merinding jika mengingat Mujianto yang kerap berpapasan dengannya. “Dihukum yang berat saja,” katanya saat berjejal di depan rumah Joko.

Mujianto diduga melakukan pembunuhan terhadap empat orang gay dan mencelakai dua lainnya dengan racun tikus. Para korban adalah orang-orang yang dicurigai memiliki hubungan asmara dengan kekasihnya, Joko Suprianto. Kepada polisi, Mujianto mengaku melakukan pembunuhan itu sejak tahun 2011 dengan jumlah korban mencapai 15 orang.

Perampok Minimarket Jakarta Ternyata Psikopat Pasangan Kekasih Seperti Bonnie and Clyde

Tersangka perampokan minimarket PAT alias P (25) dan RAP alias R (25) punya alasan sendiri kenapa nekat berbuat tindak kejahatan. PAT dan RAP mengaku berasal dari keluarga bermasalah (broken home) lalu hidup sendiri di jalanan dan terlalu malas untuk kuliah karena terlalu senang nyabu.

PAT mengaku setelah kedua orangtuanya bercerai, ia tinggal berpindah-pindah. Terkadang ikut Ayahnya di Padang atau ikut Ibunya di Medan. Sampai akhirnya tahun 2009, PAT memutuskan pergi dari kedua orangtuanya dan hijrah ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, PAT langsung bergaul di Kampung Ambon, Jakarta Pusat. Di Kampung Ambon inilah, PAT bertemu dengan tersangka lainnya RAP dan MA alias L. PAT pun memulai mencari kerja sebagai penimbang sabu. Sampai akhirnya merampok minimarket bersama RAP dan pacarnya MA.

“Kerja nimbang sabu belum mencukupi. Kosan saja Rp 800 ribu sebulan, mau pindah ke kosan yang murah … gengsi. Makan kami (dengan MA) berdua Rp 50 ribu sehari. Putus asa cari kerja di Jakarta,” akunya.

Serupa seperti PAT. RAP juga mengaku berasal dari keluarga broken. Kedua orangtua RAP bercerai saat usianya 4 tahun. Ia pun lantas dititipin orangtuanya tinggal di rumah tantenya di Jakarta. RAP pun hijrah dari Surabaya. Sampai di tingkat SMP, RAP kabur dari rumah tantenya.

“Ya hidup sendiri di jalanan. Sampai ketemu sama pacar yang mau bayarin biaya hidup,” katanya.

Pacar RAP lantas membiayai hidupnya hingga kuliah. RAP pun kembali ke Surabaya dan dibiayai kuliah oleh pacarnya di sebuah perguruan swasta di Surabaya. Namun kuliah RAP tak sampai selesai.

“Drop out. Terus putus dan pacaran sama yang lain,” jelasnya.

Sebelumnya Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Angesta Romano Yoyol memerintahkan anggotanya untuk menangkap komplotan perampokan minimarket yang beberapa minggu terakhir sudah meresahkan masyarakat. Dengan dipimpin AKBP Hengki, tim penyidik akhirnya membekuk 4 tersangka.

Keempatnya ditangkap di tempat terpisah. PAT ditangkap pada Senin (16/1) pukul 09.00 WIB di Kampung Ambon. Dari keterangan PAT, pukul 12.30 WIB, tersangka MA alias L ditangkap di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Berselang 30 menit, pukul 13.00 WIB, tersangka TA alias T dibekuk. Terakhir, tersangka RAP ditangkap pukul 19.30 WIB saat hendak masuk ke Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Pasangan kekasih PAT alias P (25) dan MA alias L (23) yang merampok minimarket di kawasan Jakarta, ternyata kecanduan narkoba. Begitu juga dengan tersangka lainnya RAP alias R (25), ditengarai terkait dengan jaringan narkotika.

“P dan L mereka kecanduan narkotika. Rata-rata semuanya kecanduan narkotika,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Yoyol mengatakan, PAT dan tersangka TA alias T bekerja di Kampung Ambon sebagai penimbang sabu. “Dia suka nimbang-nimbang narkoba,” kata Yoyol. Sementara menurut Kepala Satuan Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Hengki Haryadi, tersangka P ditangkap di Kampung Narkoba, Jakarta Barat. “P dan L memang kerjanya di tempat narkoba, tapi ini masih kita dalami,” ujar Hengki.

Bekerja di sebuah event organizer (EO) membuat tersangka perampokan minimarket, RAP alias R (25) masih belum bisa memenuhi kebutuhannya. Apalagi RAP punya utang sebesar Rp 7,5 juta juga di Pegadaian. RAP pun akhirnya mengaku merampok minimarket.

“Saya kerja di EO. Tapi kan kerja di EO nggak rutin dapat penghasilan. Ada utang yang harus dibayar Rp 7,5 juta. Jadi ya butuh uang untuk nutupi utang meskipun lebih sering buat foya-foya sambil nyabu,” ujar RAP .

Menurut RAP, pertama kali ia merampok minimarket yaitu minimarket di Circle-K Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di Kelapa Gading, RAP beraksi bersama PAT alias T (25). “Pertama di Kelapa Gading. Awalnya jalan-jalan. Terus sampai di Kelapa Gading lagi ramai tempatnya (minimarketnya). Terus balik lagi sudah sepi,” jelasnya.

Saat beraksi di Kelapa Gading, pacar RAP, IA juga ikut. Namun RAP mengaku pacarnya tidak tahu menahu mengenai aksinya. Saat aksi berlangsung, IA sedang tidur di dalam mobil. “Dia sebenarnya nggak tahu. Dia tidur. Pas sudah pulang baru saya bangunin dia,” ungkapnya. Sementara itu Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKBP Hengki Haryadi mengatakan komplotan ini sudah beraksi setahun terakhir. Motifnya berawal dari uji nyali alias suka mencoba-coba.

Minimarket yang sepi dan tidak memasang Circuit Closed Television (CCTV) menjadi sasaran empuk komplotan perampok, PAT cs. Mereka mensurvei minimarket sebelum beraksi.

“Mereka mengincar minimarket yang sepi, nggak ada satpam dan CCTV-nya,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Angesta Romano Yoyol saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Yoyol mengatakan kawanan ini melakukan survei lebih dulu ke lokasi sasaran. Survei dilakukan dalam waktu yang singkat. “Hari itu survei, hari itu juga mereka melancarkan aksinya,” ujar Yoyol.

Dalam aksinya, kata Yoyol, masing-masing tersangka memiliki peran yang berbeda. Tersangka P yang merupakan otak perampokan dan tersangka R, bertugas menodongkan senjata airsoft gun.

“Yang lainnya menunggu di dalam mobil atau motor,” imbuhnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Hengki Haryadi menambahkan, tersangka L bertugas sebagai ‘pengepul’ dana hasil kejahatan.

“Dia sempat SMS pacarnya ‘masa cuma segini hasil ngerampok’,” kata Hengki.

Hengki mengatakan kendaraan operasional yang dibawa tersangka yakni motor dan mobil.

“Kadang pakai motor, kadang pakai mobil. Mobil punya tersangka P,” imbuh Hengki.

Setelah datang ke lokasi, dua tersangka yakni P dan R menodongkan senjata airsoft gun ke kasir. Mereka lalu menggasak uang yang ada di meja kasir, juga beberapa barang lain seperti cokelat, susu dan lain-lain.

“Mereka kadang menggunakan masker. Kalau pas bawa motor, mereka masuk ke minimarket menggunakan helm,” lanjutnya.

Usai merampok, kawanan ini lalu membagi-bagikan uang hasil kejahatannya. Rata-rata, uang hasil kejahatan digunakan untuk foya-foya.

Adapun, tersangka sudah melakukan 9 kali perampokan di 9 minimarket berbeda di kawasan DKI Jakarta. Selama aksi itu, mereka telah mengumpulkan uang sebesar Rp 30 juta lebih.

Empat dari lima perampok minimarket yang selama sepekan ini telah meresahkan warga dibekuk. Empat tersangka yakni tiga laki-laki berinisial PAT alias P, TA alias T dan RAP alias R serta seorang perempuan berinisial MA alias L, yang juga kekasih tersangka P.

Salah satu tersangka, RAP alias R mengaku merampok minimarket karena alasan desakan kebutuhan ekonomi. Padahal RAP sendiri bekerja sebagai koordinasi sebuah event organizer (EO).

“R malah bekerja sebagai koordinator event organizer (EO),” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Jakata Pusat, AKBP Hengki Haryadi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Menurut Hengki, RAP berasal dari keluarga mampu. Begitu juga dengan PAT. Sedangkan tersangka MA, TA, dan IA yang masih buron masih belum jelas keterlibatan mereka ikut dalam aksi perampokan ini.

“Kalau PAT dan MA alias L, mereka baru pulang liburan di Bali terus kehabisan uang, lalu muncul ide merampok. Yang RAP alias R, IA dan TA alias T, belum jelas,” ujarnya.

Seperti diketahui, polisi menangkap empat dari lima pelaku perampokan minimarket di kawasan Jakarta. Tiga tersangka yakni pria berinisial PAT alias P, TA alias T dan RAP alias R serta wanita berinisial MA alias L.

“Tersangka I (perempuan) masih dikejar,” imbuhnya.

Tersangka P ditangkap di Jalan Berlian, Kampung Ambon, Jakarta Barat pada Senin (16/1). Dari keterangan P, polisi berhasil membekuk tersangka T di Jl Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Barat, lalu tersangka R yang ditangkap di Plaza Indonesia dan tersangka L ditangkap di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kawanan ini, setidaknya telah melakukan perampokan di 9 lokasi berbeda di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Sasaran mereka adalah minimarket.