Category Archives: psikopat

Perampokan dan Pembunuhan Sadis Bapak dan Anak Di Perumahan Griya Satria Jingga Bojong Gede Adalah Anak Umur 14 Tahun

Perampokan disertai pembunuhan sadis terjadi di Bojong Gede, Depok. Jordan (50) dan Edward (22), yang merupakan ayah dan anak dihabisi dengan luka-luka di kepala dan leher. Polisi sudah menangkap pelaku yang ternyata bocah masih berusia 14 tahun yang kemungkinan adalah psikopat muda. Informasi yang dikumpulkan detikcom, Kamis (19/7/2012) pelaku berinisial A dengan rekannya D merampok rumah korban di Bojong Gede karena ingin menguasai harta korban. A mengira Jordan dan anaknya memiliki harta berlimpah sehingga nekat menyatroni rumah korban.

Saat pelaku beraksi, korban melakukan perlawanan. Hingga akhirnya pelaku bertindak kejam dan membunuh korban. Namun pihak kepolisian yang dikonfirmasi soal kasus ini masih belum mau berbicara banyak. Pihak kepolisian hanya menyebut, A masih diperiksa intensif. “Ya masih diinterogasi,” kata Kanit Reskrim Polsek Bojong Gede, Iptu Ibnu. Pelaku ditangkap dini hari tadi sekitar pukul 02.00 WIB. Tidak ada perlawanan yang dilakukan remaja tersebut.

R, anak bungsu korban pembunuhan sadis di Bojong Gede, Yordan diinapkan di kantor Mapolsek Bojong Gede. Polisi butuh keterangannya untuk mengungkap pelaku sambil terus memberinya rasa aman. Dari keterangan polisi, R adalah orang pertama yang menemukan jenazah Yordan (50) dan Edward (20). Saat ini, gadis belia ini sekrarang berada di sebuah ruangan Mapolsek Bojonggede Jalan Raya Tojong, didampingi Kasat Reskrim olresta Depok Kompol Febriansyah. “Kasihan dia menerima kenyataan begini. Kita harus menanyainya secara perlahan-lahan. Kita buat dia senyaman mungkin dulu,” ujar seoran polisi.

Dari pengamatan, gadis belia coklat manis ini perawakan kurus dengan tinggi 140 cm dan berambut ikal panjang sebahu. Mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam, dia hanya diam termangu dengan pandangan mata kosong. Polisi masih mencoba menghubungi ponsel Dina Sutiyem, istri Yordan. Pasangan tersebut mempunyai tiga anak. Sejak ada pertengkaran dengan Yordan, Dina sudah sekitar 2 bulan meninggalkan rumah. Informasi yang detikcom kumpulkan, polisi juga memanggil Buluk, hansip perumahan Griya Satria Jingga, Ragajaya ke Mapolsek Bojonggede. Namun, Buluk masih bertugas sebagai Satpam di PT KAI di Depok. penyidik ingin tanyakan kepada Buluk, apakah dia melihat orang yang mencurigakan ketika malam Selasa itu.

Polisi mencari istri dari korban perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Polisi mencoba menghubungi istri korban tersebut. Namun perempuan tersebut tidak bisa dikontak. “Istrinya menghilang, Karena kita coba hubungi namun tidak bisa,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (18/7/2012).

Hingga saat ini polisi masih terus mencari istri dari korban pembunuhan itu. Diketahui korban bernama Jordan Raturomon (50) dan Edwar (22). “Kita masuh upayakan pencarian untuk dimintai keterangan,” ucapnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Pelaku menggasak uang tunai sekitar Rp 10 Juta, Motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi masih mendalami kasus perampokan dan pembunuhan sadis di Bojong Gede, Depok, Jawa Barat. Malam ini polisi akan memeriksa lima orang saksi. Pelaku pembunuhan atas Jordan (50) dan anaknya Edwar (22) diperkirakan lebih dari satu orang. “Lima orang akan kita periksa,” kata Kapolsek Bojong Gede, Kompol Bambang Irianto, kepada detikcom, Rabu (18/7/2012). Bambang menjelaskan polisi saat ini masih berada di lokasi. Saat ini petugas masih mengumpulkan keterangan dari sekitar lokasi kejadian. “Kita coba urai. Kita panggil saksi, saksi korban, saksi yang dengar ada suara motor jam berapa, saksi yang kemungkinan melihat. Masih kita selidiki,” paparnya.

Bambang menduga pelakunya lebih dari satu orang. “Kalau melihat korbannya ada dua orang, kemungkinan pelakunya lebih dari satu orang,” ujarnya. Sebelumnya diberitakan, Jordan Ratumoron (50) dan anaknya Edwar tewas dengan luka-luka di kepala. Ayah dan anak ini ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah mereka di Perumahan Satria Jingga, Bojong Gede, Depok, Jabar. Keduanya diduga dibunuh perampok. Bambang juga menegaskan, bahwa dari rumah korban yang hilang hanya motor Jupiter Z dan beberapa barang lainnya.

Polisi terus mengembangkan penyidikan atas tewasnya Edward alias Edo dan ayahnya Yordan di Bojong Gede, Bogor. Motif aksi keji tersebut masih dicari. Namun sementara beberapa pihak menduga karena utang-piutang.

Sebagai langkah awal menyidik kasus ini, polisi memeriksa istri Edo, Fifi Oktavianus. Wanita muda itu diperiksa oleh tim Reskrim gabungan dari Polda Metro Jaya, Polresta Depok dan Polsek Bojong Gede di rumah korban, Perumahan Griya Satria Jingga di RT 3/14, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat.

Dalam pemeriksaan sementara, Fifi mengaku sudah dua minggu kerap bertengkar dengan sang suami seputar masalah keluarga. Cekcok biasanya dipicu oleh masalah keyakinan. “Karena beda agama, jadi kami kadang suka berantem,” tutur Fifi di lokasi, Rabu (18/7/2012). Dari Fifi, polisi ingin mengumpulkan serpihan-serpihan kasus ini sehingga dapat menemukan siapa pelakunnya. Menurut Fifi, sekitar pukul 00.00 WIB, Selasa (17/7/2012) dirinya masih SMS-an dengan Edo.

“Kalau saya sedang libur kerja, Edo suka mengajak saya jalan. Jadi semalam dia SMS saya ngajak jalan. Dia ingin baikan. Edo belum punya kerja tetap, sekarang kerja jaga internet di Tanah Baru, Kota Depok,” sambungnya.

Selain Fifi, polisi juga meminta ayahnya untuk datang ke Mapolsek Bojong Gede guna menjalani pemeriksaan. Terkait motif peristiwa sadis ini, polisi masih melakukan pengembangan. Namun dari informasi yang beredar di TKP, ada dugaan pembunuhan ini terkait masalah utang piutang. Belum bisa pastikan siapa pelakunya. Tapi ini korban pembunuhan. Bisa jadi utang-piutang atau pun jual beli sepeda motor,” ujar seorang polisi kepada detikcom di lokasi.

Polisi mencari informasi dan sumber terkait untuk merangkai kisi-kisi dari kasus pembunuhan ini. Namun, diduga, pembunuh adalah orang yang kenal dengan korban karena karpet dalam keadaan terbuka layaknya sedang menerima tamu dan duduk bersama di atas karpet.

“Kita masih terus menyidik dan mengumpulkan informasi dari pelbagai pihak. Semua yang kita anggap kenal dan terkait dengan korban perlu kita mintai keterangan,” tambah polisi tersebut. Para tetangga pun menduga kasus ini berkaitan dengan urusan utang piutang motor. “Saya dengar Pak Edo ngomong beberapa hari lalu, dia sekarang sedang rintis usaha jual-beli motor,” ujar Roland tetanggga korban.

Ryan Pembunuh Berseri Asal Jombang Tetap Dihukum Mati Setelah MA Menolak PK

MAHKAMAH Agung (MA) menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Very Idham Henyansyah alias Ryan pada perkara pembunuhan berencana terhadap 11 orang di Depok, Jawa Barat dan Jombang, Jawa Timur. Dengan demikian pria yang dijuluki ‘Jagal dari Jombang’ itu tetap divonis hukuman mati. Namun Ryan masih dapat mengajukan grasi ke Presiden.

“Berdasarkan musyawarah mufakat majelis terhadap perkara No. 25 PK/PID/2012 Pengadilan Negeri Depok, maka diputuskan bahwa PK perkara saudara Ryan ditolak. Dasar penolakannya adalah berdasarkan putusan PN Depok,” kata Ridwan Mansyur, Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat MA di gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Senin (9/7).

Dijelaskan Mansyur, setelah ini upaya terakhir yang bisa dilakukan Ryan adalah mengajukan grasi ke Presiden. “Dapat mengajukan grasi paling lama setahun setelah ketetapan MA. Ryan dapat mengajukan grasi karena hal itu sesuai dengan undang-undang,” ujar Ridwan seperti dikutip Kompas.com.

Di MA, perkara Ryan diputus pada 5 Juli 2012 oleh majelis hakim yang terdiri dari Artidjo Alkostar, Gayus Lumbuun, dan Salman Luthan. Suara pengambilan keputusan majelis hakim MA dalam perkara PK ini bulat, yaitu menolak PK yang diajukan Ryan.

Dengan ditolaknya permohonan PK oleh MA, maka Ryan tetap divonis hukuman mati karena telah terbukti melakukan pembunuhan berencana.

Hal itu diperjelas oleh keputusan Pengadilan Negeri Depok No. 1036/Pid.B/2008/PN.DPK Tahun 2009 yang sudah berkekuatan hukum tetap atau inkracht. Permohonan grasi, lanjutnya, dapat diajukan oleh terpidana mati, seumur hidup atau minimal 2 tahun kurungan.

“Keputusan eksekusi mati ada di tangan jaksa penuntut umum sebagai eksekutor. Jadi, setelah PK ditolak, Ryan dapat dieksekusi kecuali ada usaha darinya untuk mengajukan grasi ke Presiden. Biasanya pelaksanaan eksekusi mati membutuhkan waktu bertahun-tahun setelah waktu pengajuan grasi lewat,” tambahnya.

Psikopat

Dalam mengajukan PK kemarin, kata Mansyur, Ryan mengajukan novum (bukti baru) bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa, psikopat, sehingga tidak pantas dijatuhi hukuman mati atau bisa dinyatakan tak bersalah. Dalam memori PK-nya pihak Ryan telah menyerahkan novum berupa pendapat tiga orang ahli yang menyatakan bahwa Ryan adalah psikopat, yakni Profesor Robert D Hare dari British Columbia University, Profesor Farouk Muhammad, dan Irjen Iskandar Hasan.

Seperti diketahui, kasus Ryan bermula dengan ditemukannya tujuh potongan tubuh manusia di dalam dua buah tas dan sebuah kantong plastik di dua tempat di dekat Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu 12 Juli 2008. Korban ternyata Heri Santoso (40), seorang manager penjualan sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Heri dibunuh dan dimutilasi oleh Ryan di apartemen Margonda Residence di Jalan Margonda Raya, Depok. Menurut pengakuan Ryan, dia membunuh Heri karena tersinggung setelah Heri menawarkan sejumlah uang untuk berhubungan dengan pacarnya, Noval (seorang laki-laki).

Dalam penyelidikan polisi, terungkap, korban Ryan tidak hanya Heri. Ryan membunuh 10 orang lainnya dan mengubur mayat mereka di halaman rumah orangtuanya di Jombang, Jawa Timur. Korban pertama Ryan adalah Guruh Setyo Pramono alias Guntur (27) yang dibunuh pada Juli 2007.

Amirudin Penjual Busana Di Kompleks Cadrabaga Tewas Dibunuh Oleh Istri dan Anaknya Sendiri

Akhirnya terungkap siapa otak dan pelaku pembunuhan Amirudin (67), penjual busana, di kiosnya di Jalan Kompleks Candrabaga, RT 27 RW 19 Bahagia, Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/6) pukul 02.30.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bekasi Kota Komisaris Dedy Murti Haryadi mengungkapkan, tersangka pelaku berjumlah empat orang, yang semua telah ditangkap. Mereka ialah Njn (47), HN (26), Tiy (20), dan Wwn (30).

Yang mengejutkan, otak pembunuhan Njn adalah istri kedua korban dan HN, anak sulung dari enam bersaudara buah pernikahan korban dengan Njn.

Selain merencanakan pembunuhan, Njn dan HN terlibat dalam eksekusi yang menyebabkan korban tewas dengan luka sayat, tusuk, dan bacok di leher, dada, perut, pantat, serta tangan kanan.

Yang ironis, setelah pembunuhan, Njn meminta agar diikat dan mulutnya disumpal kain oleh pelaku untuk mengelabui.

Pembunuhan itu terungkap setelah warga mendengar tangis dan teriakan anak bungsu korban, Muhammad Sabri (5). Ada warga yang sempat melihat tiga lelaki berkelebat dan dicurigai sebagai pelaku.

Dari penyelidikan, petugas berhasil menangkap dua orang, yaitu Tiy dan HN, di Jakarta Utara. Kedua tersangka ditangkap sehari setelah peristiwa. Perburuan dan penangkapan kedua tersangka itu berdasarkan ciri-ciri pelaku dari Njn yang saat itu dimintai keterangan sebagai saksi.

Untuk menguatkan alibi bukan sebagai pelaku, pada awal dimintai keterangan, Njn berkali-kali histeris dan pingsan di hadapan penyidik.

Namun, dari penyidikan, petugas justru mengendus ada ketidakberesan dari keterangan Njn, HN, dan Tiy. Kecurigaan itu menguat setelah petugas bisa menangkap Wwn di Mesuji, Lampung, Sabtu (30/6).

”Dia (Wwn) mengakui bekerja sama dengan ketiga tersangka lainnya,” kata Dedy dalam jumpa pers pengungkapan kasus di Polres Bekasi Kota, Senin.

Tidak dapat warisan

Berdasarkan keterangan tersangka, pembunuhan itu sudah direncanakan sejak awal Juni 2012. Waktu itu, Amirudin menjual rumah di RT 4 RW 12 Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara, dan mendapatkan uang Rp 1,5 miliar. Korban masih tercatat sebagai warga Rawa Badak Utara berdasarkan kartu tanda penduduk yang ditemukan petugas.

Setelah penjualan aset itu, diduga terjadi percekcokan antara korban dan istrinya. Amirudin mengancam tak akan mewariskan harta atau uang hasil penjualan rumah itu kepada Njn.

”Akibatnya, tersangka mulai merencanakan pembunuhan terhadap korban demi mendapat warisan,” kata Dedy.

Njn kemudian mengajak HN, anak sulung dari pernikahannya dengan Amirudin, untuk menghabisi korban. Si sulung tergiur dan bersedia memenuhi tuntutan ibundanya karena diiming- imingi uang warisan korban.

Untuk memuluskan aksi, HN meminta bantuan Wwn dan menjanjikan imbalan Rp 20 juta. Wwn merasa aksi itu harus didukung satu orang lagi.

Untuk itu, Wwn mengajak Tiy bergabung dan meminta imbalan dinaikkan menjadi Rp 30 juta untuk dibagi dua. Oleh HN, kedua tersangka sudah dibayar Rp 8 juta. Namun, uang pembayaran itu didapat dari menjarah laci kios seusai korban dihabisi.

Atas perbuatan itu, keempat tersangka akan dijerat pelanggaran hukum berupa pembunuhan yang direncanakan (Pasal 340 KUHP) disertai pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 KUHP). Ancaman hukuman yang bisa dijatuhkan kepada para tersangka ialah penjara seumur hidup.

Baru 3 Bulan Bebas Dari Penjara karena Memperkosa Seorang Sopir Taksi Kembali Memperkosa Penumpangnya

Benar-benar keterlaluan! Seorang sopir taksi di Bangkok, Thailand, terlibat kasus pemerkosaan hanya 3 bulan setelah dirinya bebas dari penjara dalam kasus yang nyaris sama. Sopir taksi ini ditangkap polisi karena memperkosa seorang penumpang wanita di dalam taksi.

Seperti dilansir oleh The Nation, Kamis (31/5/2012), perbuatan bejat Noppadon Tabanrai (30) ini dilakukan pada Senin (28/5) malam waktu setempat. Korban yang berusia 26 tahun ini, sengaja membiarkan telepon seorang rekannya tetap tersambung ketika insiden tersebut terjadi.

Rekan korban pun melapor ke kantor polisi sekitar pukul 19.15 waktu setempat, sembari memperdengarkan sambungan telepon korban tengah diperkosa yang masih tersambung dengan mode pengeras suara. Polisi yang menyadari bahwa korban dalam bahaya, segera meluncur ke lokasi.

Ketika menyisir lokasi yang diduga menjadi tempat kejadian perkara, polisi menemukan korban sedang berjalan seorang diri di wilayah Pattanakarn Soi 32 dan kemudian menanyainya. Korban yang tidak disebutkan namanya ini, memberikan informasi yang detail kepada polisi.

Dia menjelaskan gambaran pelaku dengan jelas, serta mengingat nomor polisi taksi tersebut. Hal ini yang menjadi petunjuk polisi untuk menangkap Noppadon di rumah sewaannya di wilayah On Nut Soi 17.

Kepada polisi, Noppadon mengakui hasrat seksualnya bangkit ketika melihat korban yang mengenakan celana pendek. Ketika korban menyetop taksinya, Noppadon pun dengan licik membujuk korbannya untuk melintasi jalur alternatif dengan dalih kondisi lalu lintas saat itu yang macet.

Ternyata dia kemudian memperkosa korban dan setelah itu melarikan diri. Pria itu tidak menyangka jika korban menjawab telepon ketika sedang diperkosa.

Belakangan, polisi menemukan fakta bahwa Noppadon pernah dipenjara selama 5 tahun dalam kasus pencabulan dan percobaan pemerkosaan terhadap seorang wanita Filipina yang juga penumpang taksinya. Noppadon baru saja bebas dari penjara 3 bulan yang lalu.

Anak Bunuh Bapak Kandung Karena Kesal Tidak Diberikan Warung Untuk Menafkahi Istri Keduanya

Pria satu ini bisa disebut anak durhaka. Ia sampai hati membacok kepala ayah kandungnya di kamar rumahnya di Beji, Depok, Rabu (23/5) dinihari. Tindakan keji ini dipicu rasa kecewa karena warung yang dibangun ayahnya bukan diberikan padanya untuk menafkahi istri keduanya melainkan disewakan ke orang lain.

Usai melampiaskan rasa kesalnya, Imron Rosadi, 36, langsung pergi meninggalkan ayahnya, Masri Muhammad yang tergeletak bersimbah darah di lantai kamar mandi rumah di Jl. Karet , Pondok Cinda, Beji. Beruntung, tetangga mendengar kegaduhan itu cepat berdatangan.

Dalam kondisi kritis, tubuh bapak delapan anak tersebut dibopong tetangga lalu dilarikan ke RS Mitra Keluarga, Depok. Tetangga juga membekuk Imron yang masih memegang clurit bernoda darah.

Dini hari itu, sekitar Pk. 02:00, Masri seorang diri di rumah karena istrinya tengah menginap rumah salah satu dari delapan anaknya. Ia terbangun dari tidur lalu pergi ke kamar kecil di belakang rumah.

Mendadak, Imron datang. Anak kelima Masri yang sudah tiga minggu minggat dari rumah, masuk menggunakan kunci cadangan. Pria beristri dua yang memberinya enam anak itu langsung mencari bapaknya. Mengetahui Masri ada di kamar mandi, Imron yang emosi mendobrak pintu.

Tanpa banyak bicara Imron mengayunkan clurit ke kepala bapaknya. Masri berteriak kesakitan lalu ambruk berdarah-darah. Tetangga pun berdatangan, sebagian meringkus Imron yang lainnya melarikan korban ke rumah sakit. Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Cahyo Putra Wijaya bersama anggotanya datang ke rumah itu meringkus Imron. Clurit yang dipakai untuk menganiaya Masri disita.

KESAL SAMA BAPAK
Menurut Iptu Cahyo Putra Wijaya, saat dibawa ke kantor polisi tercium bau alkohol dari mulut tersangka. “Kami belum bisa meminta keterangan korban karena kondisinya belum memungkinkan,” katanya. Tersangka dijerat dengan pasal pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Undang-Undang Darurat Tahun 1951 karena kedapatan membawa senjata tajam.

Dalam pemeriksaan Imron mengaku kecewa dan kesal sama bapaknya karena warung yang didirikan di tanah orang tuanya itu semula dijanjikan akan diberikan padanya. “Tapi setelah saya merapikan warung, tiba-tiba saja bapak mau menyewakan ke orang lain,” ungkap Imron. “Padahal saya sudah menyiapkan warung itu untuk tempat dagang istri kedua.”

MERTUA DIJOTOS MENANTU
Kekerasan dalam keluarga juga dilakukan Amaluddin, 28, di rumahnya di Kampung Dukuh, Kebayoran Baru, Jaksel, Selasa (22/5) malam. Ia menghajar ibu mertuanya, Maryam Sadeli, 55, lantaran kesal ditegur karena sering menganiaya istri.
Maryam yang bibirnya jontor dan hidungnya berdarah, melapor ke Polsek Kebayoran Baru. Amaludin pun digelandang ke kantor polisi, setelah sempat dihakimi massa. Menurut Maryam, menantu pengangguran itu memang tinggal bersamanya. Maryam tak senang anaknya, Fatimah, 26, sering dianiaya hingga ia sering menasihati Amaludin.

Rupanya bapak dua anak ini tersinggung hingga ibu mertuanya dijotos. Amaludin sempat mau kabur, tapi keburu dibekuk massa. ”Dia mau kabur dan sudah mengambil golok tapi kami menangkapnya lalu membawa ke kantor sekretariat RW,” kata Heri, warga.

Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol Hamdan Maulana, mengatakan pelaku bisa dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. “Kami masih memeriksanya,” ujar kapolsek.

Terjadi Lagi … Polisi Melakukan Pelecehan Seksual Pada Tahanan Wanita

Anggota Polsek Mamajang, Makassar, Sumatera Selatan, Aiptu TU dilaporkan telah melakukan pelecehan seks pada salah satu tahanan wanita, SY (28). Dalam laporannya, SY mengaku dilecehkan saat mendekam di sel Polsek Mamajang, Jalan Lanto Dg Pasewang, Makassar.

Hal ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Chevy Ahmad. “Saat dipeluk oleh Aiptu TU, SY berusaha lari keluar tahanan dan memilih bertahan di depan ruang tahanan hingga suaminya, Ikram datang ke Polsek Mamajang. Suaminya langsung melaporkan kasus pelecehan yang dialami istrinya pada Provost,” tutur Chevy saat dihubungi wartawan, Sabtu (5/5/2012)..

Peristiwa cabul yang dilakukan Aiptu TU terjadi pada pukul 13.00 Wita, Minggu (29/4/2012). Saat itu TU masuk ke dalam sel dan berupaya memeluk tubuh SY. Chevy menyebutkan kasus ini masih dalam penyidikan Provost kepolisian untuk mengecek kebenaran kasus ini.

Sementara itu sumber detikcom menyebutkan, Aiptu TU sudah sering melakukan pelecehan pada SY yang ditahan sejak 23 April 2012. SY yang merupakan ibu rumah tangga warga jalan Onta Baru ini di sel akibat terlibat perkelahian dengan tetangganya.

Setelah penangguhan penahanan SY dikabulkan oleh Kapolsek Mamajang, Kompol Darwis, SY dan suaminya pun melapor pada Kapolsek atas peristiwa pelecehan yang dilakukan oleh salah satu anggotanya tersebut.

“Pelaku sering mengajak korbannya ngobrol di dalam sel, pelaku sering memegang-megang tangan, meraba-raba dada dan menciumi SY, puncaknya pada tanggal 29 April Aiptu TU kembali melancarkan aksinya hingga akhirnya SY mengancam akan berteriak bila Aiptu TU tetap memaksakan nafsu birahinya,” ujar sumber detikcom.

Baca juga: Polisi Perkosa Tahanan ABG Kemudian Dibebaskan Sebagai Imbalannya

Perusakan Hotel Dafam Semarang Dilakukan Oleh Geng Motor Pimpinan Remaja Umur 15 Tahun

Perusakan oleh geng motor di Hotel Dafam Semarang, Minggu (22/4/2012) kemarin, diduga dilakukan kelompok bernama Ran. Pemimpin dari kelompok tersebut adalah remaja berusia 15 tahun yang biasa dipanggil Mbah Ran.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan mengatakan, dari keterangan para saksi dan korban, diperoleh nama Mbah Ran dan sekarang sudah masuk dalam daftar target operasi (TO) pihak kepolisian.

“Sudah masuk daftar TO. Jika dalam seminggu belum tertangkap, maka kami akan belajar lagi,” kata Kombes Pol Elan Subilan usai menghadiri acara di Jalan Majapahit, Semarang, Senin (23/4/2012).

Kapolrestabes menyatakan Semarang masih masuk dalam katagori aman dari geng motor. Oleh karena itu, pihaknya akan terus melakukan pengamanan di beberapa titik guna mengantisipasi berkembangnya geng motor.

“Di Semarang baru muncul embrio dari geng motor, karena itu kami setiap hari akan melakukan pengamanan di Jalan Seokarno Hatta, Jalan Dr.cipto, Jalan Mataram, Jalan Arteri, dan Jalan Suratmo,” ujar Elan.

“Hal itu dilakukan agar warga Semarang tenang,” imbuhnya.

Hingga saat ini, polisi masih melakukan pengejaran terhadap kelompok Mbah Ran dan puluhan anggotanya yang diperkirakan mencapai 50 orang.

Perusakan oleh sejumlah orang yang diduga geng motor di Semarang terjadi Minggu (22/4), sekitar pukul 04.00 WIB di Hotel Dafam, Jalan Imam Bonjol, Semarang. Akibatnya beberapa fasilitas parkir hotel rusak dan LCD di pos parkir raib.