Category Archives: terorisme

Kronologi Penyerbuan Serangan Balasan Teroris Ke Markas Polsek Hamparan Perak Deli Serdang Sumut Sumatera Utara

Pusat kota Kecamatan Hamparan Perak biasanya ramai pada malam hari. Namun, Selasa (21/9) malam, warga masuk ke rumah lebih cepat. Malam itu, mereka yang biasa duduk mengobrol di Simpang Beringin—pertigaan di kecamatan itu— pun tak terlalu banyak dibandingkan hari biasanya.

Malam mulai menuju dini hari. Tiba-tiba keheningan itu dikejutkan dengan serentetan bunyi tembakan: dor… dor… dor….

”Suara letusan itu sangat keras, awak kira letusan mercon,” kata Dedi, seorang warga yang pada Rabu dini hari itu keluar dari rumahnya tak jauh dari Markas Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang.

Markas polsek itu terletak tepat di salah satu sisi Simpang Beringin. Saat itu, Dedi hendak membeli rokok. Sejumlah warga juga mengungkapkan, mereka semula menduga suara letusan itu berasal dari ledakan mercon. Akan tetapi, tak sedikit pula warga yang menduga bahwa letusan itu berasal dari senjata teroris.

”Saya langsung menduga bahwa itu suara senjata teroris karena minggu lalu ada teroris yang tertangkap tak jauh dari sini,” kata seorang ibu pemilik warung yang berada di depan markas polsek. Pada Minggu lalu, memang ada dua penggerebekan teroris tak jauh dari kota kecamatan itu.

Ia dan keluarganya hanya sempat mengintip dan memilih tidak keluar dari rumah karena sejak awal menduga gelagat buruk dari suara letusan itu. Tak sedikit pula warga yang langsung mematikan lampu begitu mendengar suara letusan tersebut.

”Warga yang berada tak jauh dari markas polsek langsung berhamburan menyelamatkan diri ketika letusan mulai terdengar. Bahkan, ada yang meninggalkan sepeda motornya begitu saja,” kata seorang saksi lainnya.

Beberapa pemuda yang sedang asyik berada di sebuah tempat usaha penyewaan play station yang tak jauh dari Markas Polsek Hamparan Perak berhamburan menjauh. ”Dor… dor… dor…, mirip perang, Bang,” kata salah seorang pemuda yang mengaku menyaksikan penyerbuan itu.

Pakai penutup muka

Beberapa orang yang hendak menjemput istri, anak, atau kerabatnya yang pulang dari kerja menjadi buruh di beberapa pabrik tak jauh dari kecamatan itu lari pontang-panting. Lindung Ginting (56), warga lainnya, saat kejadian baru saja menaikkan beberapa kerbaunya ke mobil bak terbuka. Ia hendak menjual hewan itu ke Pasar Marelan, sekitar 10 kilometer dari Hamparan Perak.

Saat itu Lindung berada di teras rumah dan melihat iring- iringan sepeda motor memasuki halaman Markas Polsek Hamparan Perak. Ia mengira mereka adalah para polisi yang baru saja pulang patroli.

”Tapi ada yang aneh, kok, semua pakai penutup muka. Kendaraannya pun berbeda-beda,” kata pria yang kediamannya hanya dipisahkan dua rumah dari Markas Polsek Hamparan Perak itu.

Selang tiga atau empat menit kemudian, ia mendengar suara tembakan, disusul suara tembakan beruntun, dan diselingi suara pecahan kaca.

Sesaat kemudian, suasana sepi. Dan, Lindung melihat rombongan pesepeda motor itu keluar dari halaman Markas Polsek Hamparan Perak dengan santai. Tidak terdengar suara teriakan atau suara mesin yang menderu-deru. ”Tidak ada kesan buru-buru,” papar Lindung.

Saksi lainnya, Helmi (30), yang saat itu berada di rumahnya, sekitar 200 meter dari lokasi kejadian, juga mendengar suara letusan berkali-kali. Ia menduga itu suara pistol polisi yang sedang memburu penjahat.

Maklum, tiga hari sebelumnya Detasemen Khusus 88 dan polisi dari Kepolisian Daerah Sumatera Utara membekuk sejumlah tersangka teroris di Desa Hamparan Perak dan Desa Kota Rantang yang berjarak 2-3 kilometer dari lokasi. ”Saya kira kelanjutan penangkapan yang kemarin,” ujarnya.

Beberapa saat setelah penyerbuan, warga masih belum beranjak dari rumah dan persembunyian masing-masing. Ketika beberapa warga mengetahui enam sepeda motor pergi dari tempat itu, beberapa warga berinisiatif keluar rumah. Saat melihat api menyala di depan markas polisi itu, mereka mendekati lokasi.

”Ada yang teriak air… air… air…, sambil berlari ke polsek,” kata seorang ibu.

Warga pun mulai makin ramai mendekati markas polsek. Beberapa di antara mereka langsung mengambil air dan mematikan api yang ternyata membakar salah satu ban mobil patroli polisi.

Ketika mulai ada tembakan, beberapa polisi yang tinggal di asrama juga terbangun. Mereka lalu bergabung dengan warga yang berada di sekitar markas polsek. Belakangan diketahui, tiga polisi tewas dengan luka tembak di sejumlah bagian tubuhnya.

”Saya kenal Pak Deto. Ia baru saja pergi umrah. Kami memanggilnya Pak Haji. Ia banyak berbicara soal keagamaan setiap kali bertemu. Orangnya baik dan tidak macam-macam,” kata seorang pemilik warung yang kerap didatangi Ajun Inspektur Satu Deto Sutejo, salah seorang polisi yang tewas tersebut.

Rabu dini hari itu akan menjadi kenangan sedih dan juga menakutkan bagi warga Hamparan Perak. Selama ini mereka hidup tenteram dan tak pernah ada kerusuhan ataupun kejahatan besar di tempat itu. Tiba-tiba kini ketenteraman itu terusik….

Penyerangan oleh kelompok bersenjata ke Markas Kepoli- sian Sektor Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (22/9) dini hari, yang menewaskan tiga polisi, dinilai sebagai penantangan terhadap negara. Karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksi- kan Polri dan TNI agar nega- ra tidak boleh kalah.

Instruksi Presiden Yudhoyono itu disampaikan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Rabu pagi, seusai melepas keberangkatan Wakil Presiden Boediono menuju New York, Amerika Serikat, di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

”Ya, itu menantang. Negara tidak boleh kalah dan menyerah dengan aksi-aksi bersenjata yang dilakukan kelompok bersenjata tersebut. Oleh sebab itu, instruksi Presiden kepada Kepolisian Negara RI adalah agar segera mencari dan memburu serta menangkap dan meminta pertanggungjawaban,” ujar Djoko.

Menurut Djoko, Polri harus bekerja sama dengan aparat lainnya, seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Badan Intelijen Negara (BIN), serta komponen masyarakat lainnya untuk segera menangkap dan memberikan ketenangan kepada masyarakat.

Markas Polsek Hamparan Perak, sekitar 30 kilometer arah utara Kota Medan, diserang sekitar 12 orang bersenjata, Rabu dini hari. Tiga anggota kepolisian tewas. Kesaksian sejumlah warga mengindikasikan para pelaku penyerangan sangat tenang menjalankan operasinya.

Kesaksian sejumlah warga menyebutkan, sebelum ada penyerangan, seseorang yang diduga sebagai salah satu bagian dari kelompok penyerang telah mendatangi tempat itu sekitar pukul 00.30. Ia mengobrol sebentar dengan warga.

”Ia sempat meminjam korek api untuk menyalakan rokok,” kata seorang saksi. Setelah itu, ia menelepon seseorang. Tak sampai lima menit, ada enam sepeda motor datang dari arah Desa Kelumpang langsung mendekati Markas Polsek Hamparan Perak.

”Anggota gerombolan yang berjaga di luar sempat meminta warga untuk pulang atau pergi,” kata saksi mata. Setelah itu, penembakan terjadi dan warga lari berhamburan menjauh. ”Kami mengira mereka adalah polisi yang sedang bertugas,” kata saksi lainnya yang berada di samping markas saat penyerangan.

Para pelaku menggunakan penutup muka, tetapi tak menggunakan helm. Para penyerang itu menaiki sejumlah sepeda motor, di antaranya Yamaha RX King, Suzuki Spin, dan Honda Vario. ”Anggota kami mengira mereka itu mau melapor. Begitu mau keluar untuk menemui, langsung ditembak,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Inspektur Jenderal Oegroseno.

Sedikitnya lima saksi memastikan, penyerbuan itu berlangsung hanya sekitar 15 menit. Penyerang yang masuk ke markas polsek langsung menembak Aiptu Baik Sinulingga yang berjaga di depan. Ia tewas seketika dengan tiga peluru bersarang di badannya. Pelaku kemudian masuk dan menembak mati polisi lainnya yang berada di ruangan tengah, yaitu Bripka Riswandi, yang tewas dengan lima luka tembak. Mereka kemudian menembak Aiptu Deto Sutejo. Deto meninggal dengan satu peluru bersarang di tubuhnya.

Warga setempat, Lindung Ginting (56), mengatakan, saat kejadian, tidak terdengar suara teriakan atau suara mesin yang menderu-deru. ”Mereka pergi dengan santai. Tidak ada kesan buru-buru,” kata Lindung.

Menurut Oegroseno, pelaku melemparkan kantong plastik berisi bensin ke arah mobil patroli. Api hanya membakar satu ban mobil patroli itu. Beberapa kaca markas polsek pecah dan sebuah mobil patroli rusak. Seusai kejadian, para pelaku meninggalkan markas polsek menuju ke arah Marelan yang merupakan jalan menuju Medan.

Dari olah tempat kejadian perkara sementara, polisi menemukan sedikitnya 30 selongsong peluru dengan tiga varian kaliber, yakni kaliber 7,62 mm, 5,6 mm, dan 9 mm. Kemungkinan besar pelaku menggunakan senjata jenis FN, AK-47, dan M-16. ”Sangat mungkin pelakunya terlatih karena pakai senapan laras panjang,” kata Oegroseno.

Pada Minggu malam lalu, Densus 88 dan Polda Sumut menangkap 20 tersangka teroris dan pelaku perampokan di Medan. Di antara mereka ada yang ditembak mati dan ditangkap di dua titik di Kecamatan Hamparan Perak, yakni di Desa Hamparan Perak dan Desa Kota Rantang.

Terkait perampokan

Ditanya soal kemungkinan serangan itu terkait penyergapan para tersangka teroris sekaligus perampokan di Bank CIMB Niaga Medan, Oegroseno mengatakan, ”Kemungkinan itu ada. Memang ada kelompok yang masih dalam pengejaran, mungkin mereka memberikan reaksi. Tapi kita tidak akan menyerah menghadapi mereka.”

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Iskandar Hasan mengatakan, pelaku penyerbuan diduga terkait para teroris yang merampok Bank CIMB Niaga. Senjata yang digunakan penyerang markas polsek kemungkinan sama dengan yang digunakan perampok Bank CIMB.

Oegroseno menjelaskan, penyerangan seperti itu tidak pernah polisi duga. Kekuatan penyerang itu juga jauh lebih besar dibanding kekuatan polisi yang ada di Markas Polsek Hamparan Perak saat itu yang hanya tiga orang. Sebagian lainnya sedang berpatroli. Soal kekuatan senjata, di polsek itu hanya ada 5 revolver dan 4 senjata laras panjang. Jumlah itu tetap tidak sebanding dengan senjata milik penyerang.

Mengantisipasi kemungkinan penyerangan ulang, kekuatan di polsek pun ditambah. Kemarin sore, anggota Brimob polda ditempatkan di sejumlah polsek di Kota Medan dan Deli Serdang.

Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri menegaskan, penyerangan oleh kelompok bersenjata itu berkaitan erat dengan jaringan teroris yang baru-baru ini ditangkap di Medan. ”Ini jaringan yang ada kaitannya dengan pelatihan di Aceh kemarin, kemudian mereka melakukan kegiatan berikutnya. Jadi, kegiatan mereka tidak terputus dari rangkaian kegiatan pelatihan, kemudian di Bandung dan di Sumatera Utara, menyiapkan pembelian senjata, serta aktivitas-aktivitas tertentu,” ujar Kepala Polri di halaman Istana Negara,

Polsek Deli Serdang Sumatera Utara Diserbu 12 Laki Laki Bersenjata Ak 47 Menewaskan 3 Polisi

Kantor Polisi Sektor (Polsek) Hamparan Perak, Deli Serdang,Sumatera Utara, diserang belasan orang bersenjata api, Rabu (22/9) dinihari.Dalam peristiwa itu tiga polisi tewas di tempat ditembak kawanan pelaku.

Informasi yang diterima Pos Kota, kejadian itu sekitar pukul 00.30 Wib. Kawanan pelaku dengan mengendarai sepeda motor diperkirakan berjumlah 12 orang menerobos masuk ke Polsek.
Kemudian pelaku menembak seorang petugas piket dan dua lainnya di dalam kantor. Sedangkan satu orang di dalam ruangan luput dari serangan.

Ketiga korban tewas yakni Bripka Irswandi, Aiptu Sinulingga dan Aiptu Deto. Ketiga jenazah saat ini berada di Rumah Sakit Bhayangkara, Jalan KH Wahid Hasyim, Medan.

Kepala Polda Sumut Irjen Pol Oegroseno, mengatakan, kelompok penyerang merupakan orang terlatih. Dengan penutup kepala, penyerang menggunakan senjata laras panjang dan pistol.Disebutkannya, dari lokasi kejadian polisi menemukan 30 selongsong peluru

Pasca penyerangan Markas Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Rabu inihari, yang dilakukan belasan orang tak dikenal dan mengakibatkan 3 polisi tewas ditembak suasana di sejumlah markas kepolisian terlihat tegang.

Seperti di Markas Brimob Jalan KH Wahid Hasyim,Medan. Suasana di komplek kesatuan ini terlihat mencekam. Bahkan penjagaan yang dilakukan petugas disekitar markas dan RS Bhayangkara juga diperketat.

Petugas kepolisian Brimob bersiaga dengan senjata lengkap dan kenderaan taktis milik Brimob juga terlihat.Keluarga korban yang berada di RS Bhayangkara terlihat cemas menunggu kabar tentang kondisi para korban.

Pasca penyerangan di Polsek Hamparan Perak, Kepala Polda Sumut Irjen Pol Oegroseno, memerintahkan seluruh jajarannya waspada. Bahkan seluruh Polsek di sekitar Medan dan Deli Serdang kini dikawal ketat petugas Brimob.

Apalagi berkembang isu aksi penyerangan yang dilakukan sekitar 12 orang diduga dilakukan para OTK sebagai aksi balas dendam atas tindakan Densus 88 yang mengungkap aksi terorisme di Sumatera Utara.

Kepolisian belum dapat memastikan kesamaan senjata api yang digunakan kelompok penyerang Mapolsek Hamparan Perak dengan senjata yang digunakan dalam perampokan Bank CIMB Niaga.

Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Oegroseno di Medan, Rabu, mengatakan, ia belum dapat memastikan hal itu karena masih dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan Laboratorium Forensik (Labfor) Cabang Medan.

Berdasarkan selongsong yang ditemukan di Mapolsek Hamparan Perak, diperkirakan senjata api yang digunakan kelompok penyerang itu berjenis AK dan senjata berpeluru 5,6 milimeter.

Mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri itu tidak menyebutkan jenis AK yang dipergunakan, apakah AK-47 atau AK-56.

Meski telah diketahui jenis selongsongnya tetapi, Kapolda Sumut belum dapat memastikan kesamaannya dengan senjata api yang digunakan pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan pada 18 Agustus 2010.

“Bukti pelurunya masih diselidiki Labfor,” kata mantan Kapolda Sulawesi Tengah tersebut.

Sebelumnya, Mapolsek Hamparan Perak yang dibawah wilayah hukum Polres KP3 Belawan diserang kelompok tidak dikenal dengan menggunakan senjata api pada Rabu dinihari sekitar pukul 00:30 WIB.

Akibat penyerangan itu, tiga personel Polsek Hamparan Perak yakni Aiptu Baik Sinulingga, Aiptu Deto Sutejo dan Bripka Riswandi tewas tertembak.

Selain itu, penyerangan yang dilakukan kelompok berjumlah sekitar 10 orang tersebut juga menyebabkan sejumlah kaca di tempat tersebut rusak terkena tembakan.

Pihak kepolisian memberlakukan status waspada tingkat tinggi terhadap keamanan di Kota Medan dan sejumlah wilayah perbatasan.

Empat Teroris Tewas Ditembak Densus 88 Termasuk Nurdin Top … Horee

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan meskipun mastermind, pemimpin dan arsitek teroris sudah dapat dilumpuhkan, tapi tidak berarti sel-sel atau jaringan terorisme sudah menghentikan kegiatan atau gerakannya.

Itu disampaikan SBY dalam jumpa pers, semalam di Istana Negara, Jakarta, yang dimulai pukul 19:20 dan berakhir pukul 20:20 usai acara buka puasa bersama dengan wartawan di lingkungan Kompleks Istana Kepresidenan.

Menurut SBY masih diperlukan langkah pencegahan yang optimal dan terus mengejar bagi jaringan dan tokoh-tokoh yang sekarang masih dalam pencarian.

Sebagai Kepala Negara, kata SBY, dirinya memiliki perasaan (feeling)  bahwa banyak anak-anak Indonesia, putra-putri kita untuk melakukan aksi teror berikutnya lagi, termasuk dengan merakit bahan peledak. “Mereka menjadi teroris tetapi sesungguhnya mereka menjadi korban dari orang seperti mendiang Dr Azhari dan Noordin M Top,” kata dia.

Karena itu, tambah SBY, dirinya merasa prihatin atas generasi muda kita serta anak-anak kita menjadi korban teroris. Karena itu, ke depan perlu pendekatan dan langkah yang tepat, di mana dalam menangani teroris bukan hanya membarantas semata tapi juga mencegah dengan mengatasi akar dari permasalahan penyebab kejahatan teroris tersebut di Indonesia, di Asia Tenggara dan dunia.

Pada bagian lain dalam keterangannya SBY juga mengucapkan terima kasih Polri yang telah berhasil melumpuhkan mastermind, gembong dan arsitek teroris seperti Noordin M Top. Ini merupakan keberhasila yang harus kiat syukuri semua karena mastermind dari perencanaan pembunuhan atas dirinya telah tewas.

Empat orang diduga jaringan teroris tewas ditembak anggota  Densus 88 Antiteror Mabes Polri dalam aksi penggerebekan di satu rumah kontrakan di Kampung Kpeuh Sari, Mojosongo, Kecamatan Jebres, Jawa Tengah. Empat mobil ambulan polisi sudah memasuki lokasi penyergapan dan mengevakuasi korban.

Keempat korban itu disebut-sebut 3 pria dan satu wanita. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari aparat kepolisian, termasuk  benar atau tidaknya ada korban maupun identitas sasaran tembak polisi itu.

Sebagai mana dimaklumi, penggerebekan ini berlangsung sejak pukul 23:00 Wib, sempat diwarnai suara tembakan dan ledakan yang kemungkinan dari bahan peledak atau sejenisnya. Suara ledakan itu terdengar ratusan meter dari lokasi.

Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, didampingi sejumlah petinggi Mabes Polri, segera memberi keterangan pers tentang identitas 4 korban yang diduga teroris.

Keterangan berlangsung di Ruang Rapat Utama Mabes Polri, Kamis (17/9) sekitar pukul 16:00 Wib.

Sebelumnya diberitakan, dugaan yang mengarah satu dari empat jasad teroris yang tewas di Solo, Jateng, adalah Noordin M Top semakin kuat saat sejumlah pejabat negara dan petinggi Polri datang ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (17/9) siang, untuk melihat keempat jasad tersebut.

Pejabat yang datang antara lain Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, Menteri Perhubungan Jusman Safii Jamal dan Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri. kendati belum ada pernyataan resmi terkait identitas keempat jasad terkait, namun santer dikabarkan kalau satu dari mereka adalah gembong teroris Noordin M Top.

Kapolri BHD hanya bisa mengangkat kedua jempolnya ketika sejumlah wartawan menanyakan kepastian telah tewasnya Noordin M Top. Dari balik kaca mobil dinasnya, orang nomor satu di Polri itu hanya tersenyum sambil terus mengangguk ketika pertanyaan tersebut dilontarkan kepadanya.

Sebagai mana diberitakan, 4 orang yang diuga teroris tewas ditembak anggota Densus 88 Antiteror Mabes Polri di kawasan Solo, Jawa Tengah, tadi pagi, setelah dikepung selama 6,5 jam lebih.

Suara tembakan seliweran yang diarahkan anggota Densus 88. hasilnya 4 tewas dan dua luka tembak. Hingga kini wartawan masih menunggu keterangan resmi soal kepastian identitas korban.

Selain itu, terdengar suara rentetan senjata yang diduga dilepaskan oleh anggota Densus 88 Antiteror. Sedangkan lokasi sudah dikosongkan dengan cara mengevakuasi warga sekitar ke lokasi aman.

Seperti di tempat penyergapan lain, usai sahur dan Salat Subuh, warga mulai berdatangan ke sekitar lokasi. Tujuannya, tidak lain untuk menyaksikan secara dekat penyergapan yang dilakukan anggota Densus 88.

Rumah kontrakan itu disebut-sebut Totok, dan sejak dua bulan lalu dihuni oleh Susilo alias Adeb dan kemungkinan menjadi tempat perseumbunyian Bagus Budi Pranata alias Urwah, satu di antara buronan Polisi pasca ledakan bom di JW Marriott dan Rizt Carlton, kawasan Megakuningan, Jakarta Selatan.

Mabes Polri memastikan korban tewas penggrebekan sarang teroris di Desa Kertosari Mojosongo Jebres Solo Jawa Tengah oleh tim Densus 88, empat orang tewas dan tiga hidup.

“Dua orang ditangkap siangnya yang masih selamat dan seorang perempuan juga masih hidup yang ada dalam rumah, namun dia sedang hamil atau tidak belum bisa dipastikan,” tegas Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Nanan Soekarna, Kamis (17/9).

Masalah detailnya siapa para korban , kata Nanan masih menunggu tim dari Solo. Sedangkan korban meninggal akan dibawa ke RS Polri untuk dilakukan pengecekan secara forensik agar bisa dipertanggung jawabkan.

Ia juga mengatakan di lokasi penggrebekan petugas menemukan delapan karung bahan peledak, granat maupun senjata. Diduga mereka terkait jaringan peledakan JW Marriot.

“Penggrebekan ini serangkaian terkait aksi terorisme dan rumah tersebut merupakan persinggahan yang disewa oleh Susilo,” sambungnya.

Nanan juga menambahkan jika korban tewas adalah seorang yang di DPO belum bisa memastikan. Sebab petugas masih akan melakukan tes DNA untuk memastikan para korban

Keluarga Bagus Budi Pranoto alias Urwah di Kudus Jawa-Tengah mengaku ikhlas bila salah satu anggota keluarganya itu akhirnya tewas dalam aksi penyergapan terhadap kelompok teroris di Solo , Rabu malam ( 16/9) . Hanya saja pihak keluarga sangat berharap jenasah Urwah bisa dikuburkan di Kudus .

Ismanto, ayah Urwah ketika dihubungi wartawan mengaku belum menerima kabar soal kematian anaknya . Ismanto juga belum yakin anaknya tewas dalam penyergapan terhadap kelompok teroris yang dilakukan Densus 88 Mabes Polri . ” Ya kalau dari empat korban tewas itu salah satunya anak saya Urwah , kami minta jasadnya bisa dikuburkan di Kudus , ujar Ismanto kepada sejumlah wartawan yang menemuinya pasca penggerebekan yang dilakukan di Kampung Kepuh Sari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo.

Dalam penggerebekan tersebut dilaporkan empat orang tewas . Menurut sumber empat korban tewas yang jasadnya langsung diterbangkan ke Jakarta itu adalah gembong teroris Noordin M Top , Bahridin , Bagus Budi Pranoto alias Urwah dan Susilo .

Menurut Ismanto, warga di Kudus juga tidak keberatan bila jasad Urwah dimakamkan di Desa Mijen, Kaliwungu, Kudus , tempat asalnya. Hingga kini pihak keluarga masih berkumpul di rumah Ismanto untuk menunggu kepastian kabar tewasnya Urwah .

Selain pihak keluarga, sejumlah tetangga juga terlihat berada di rumah Ismanto

Direktur PT. Putra Rajawali Banjaran Tewas Dieksekusi Pembunuh Bayaran

Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PTB), Nasrudin Zulkarnaen, yang menjadi korban penembakan, akhirnya meninggal setelah dirawat intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Minggu.

Petugas bagian informasi RSPAD Gatot Subroto, Bagyo, menyatakan Nasrudin Zulkarnaen meninggal pada sekitar pukul 13.00 WIB.

“Saat ini, mungkin masih dalam perjalanan ke rumah duka,” katanya.

Seperti yang diberitakan di sejumlah media massa, Nasrudin Zulkarnaen ditembak sepulang bermain golf di Lapangan Golf Modernland, Tangerang, pada Sabtu (14/3) sore oleh orang yang tidak dikenal.

Saat kejadian, korban tengah duduk di kursi kiri belakang mobil BMW-nya, dan di tengah laju kendaraan, tiba-tiba muncul dua pria yang menggunakan motor dan langsung menembaknya dua kali.

Peluru tersebut bersarang di pelipis kiri korban, kemudian korban dibawa ke Rumah Sakit (RS) Mayapada, Kompleks Perumahan Modernland.

Karena kondisi korban yang kritis, kemudian korban dibawa ke RSPAD Gatot Subroto hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Jenazah Nasrudin disemayamkan di Perumahan Banjar Wijaya, Blok B50, RT 07/RW 07, Cipondoh, Tangerang, Banten

Nasrudin Zulkarnaen (50), salah seorang direktur perusahaan yang berkantor di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, ditembak sepulang dari bermain golf di Lapangan Golf Modernland, Kota Tangerang, Sabtu (14/3) pukul 14.00.

Kepala Kepolisian Resor Metro Tangerang Kota Komisaris Besar Hamidin menjelaskan, Nasrudin yang tinggal di Banjar Wijaya Blok B50, Kelurahan Cipete, Tangerang, diduga ditembak dua pria yang mengenakan jaket warna coklat. ”Keduanya berboncengan sepeda motor Yamaha Scorpio warna hijau,” ucap Hamidin, Sabtu malam.

Menurut dia, peristiwa terjadi saat Nasrudin usai bermain golf. Ia duduk di kursi kiri belakang mobil BMW-nya. Ketika melintas marka kejut di tepian danau, mobil berjalan lebih lambat. Saat itulah dua pria dengan sepeda motor muncul dari arah belakang kiri mobil.

”Pria yang membonceng lalu mengeluarkan senjata api laras pendek dan menembak korban dua kali. Peluru bersarang di pelipis kiri korban,” papar Hamidin, mengutip keterangan saksi.

Korban lalu dibawa ke Rumah Sakit Mayapada yang berada di Kompleks Perumahan Modernland. ”Peluru masih bersarang di kepala korban. Mungkin baru besok pagi dikeluarkan, menunggu pendarahan di kepala reda,” kata Hamidin.

Kepala Polsek Metro Benteng, Kota Tangerang, Ajun Komisaris Titin mengatakan, kasus ini ditangani Polres Metro Tangerang Kota. Ia menambahkan, sampai sekarang polisi belum mengetahui motif penembakan. ”Pelaku hanya menembak. Tak ada tanda perampokan. Isi mobil dan harta benda korban lainnya di mobil tersebut utuh,” ucapnya.

Hingga Sabtu pukul 22.00, Nasrudin belum sadar. Ia dirawat di ruang gawat darurat. Keluarga dan kerabat ramai berdatangan, tetapi tak seorang pun bersedia diwawancara.

Media Massa Indonesia Tidak Memiliki Etika Yang Penting Laku dan Banyak Kunjungan

Kegelisahan masyarakat terkait praktik media massa akhirnya muncul juga.

Media massa dianggap sebagai salah satu agen yang amat berperan dalam imitasi perilaku sosial, termasuk kriminalitas. Harian Kompas dan Tb Ronny Nitibaskara (10/11/2008) menulis, media massa, terutama televisi, berperan dalam imitasi perilaku kejahatan, termasuk mutilasi.

Telaah tentang pengaruh media massa bagi perilaku sosial sebenarnya sudah menjadi kajian lama. Riset Albert Bandura tahun 1977 menemukan, televisi mendorong peniruan perilaku sosial, bahkan pada tahap akhir mampu menciptakan realitas (teori pembelajaran sosial kognitif). Untuk konteks Indonesia, debat tentang tema itu masih berlangsung tanpa refleksi berarti bagi media massa, terutama televisi.

Dua wilayah etika media

Hingga kini, fokus perhatian etika media massa ada pada wilayah teknik jurnalistik. Wilayah teknis dalam etika media massa ini terkait proyek bagaimana menghasilkan berita yang sesuai dengan fakta dan mengurangi bias sekecil mungkin. Nilai berita, yaitu kebaruan, kedekatan, kebesaran, signifikansi, dan human interest, menjadi rambu-rambu teknis untuk menentukan kelayakan berita.

Pada wilayah itu, pembangunan etika didasarkan prinsip-prinsip teknis, yaitu akurasi, keberimbangan, dan keadilan (fairness). Tujuan utamanya adalah membangun obyektivitas dan kebenaran (truth). Hingga kini, berbagai jenis pelatihan etika jurnalistik hanya berorientasi pada masalah etika dalam wilayah teknik jurnalistik.

Dalam kompetisi industri media yang kian seru, pertimbangan teknis sering hanya didasari etika teknis. Sebuah talkshow di televisi baru-baru ini membahas mutilasi dengan mengundang dua narasumber: seorang kriminolog dan ahli forensik. Sang ahli forensik dengan dingin memaparkan aneka jenis modus mutilasi dengan amat rinci, termasuk cara pemotongan bagian-bagian tubuh.

Jika memakai kaidah etika teknik, tidak ada yang salah dengan acara itu karena memenuhi kaidah akurasi. Namun, sulit disanggah, susah menemukan makna publik di balik pemaparan berbagai teknik mutilasi itu bagi masyarakat. Tak heran jika Sri Rumiyati memutilasi suaminya karena terinspirasi Ryan lewat tayangan televisi.

Masalahnya, ada di wilayah etika kedua terkait makna publik. Wilayah ini melampaui wilayah teknik dan berusaha menampilkan media massa terkait makna publik (public meaning) di balik berita. Etika pada level ini tidak lagi berurusan dengan operasi teknis, tetapi sebagai landasan moral dalam menghadapi fakta publik (Ashadi Siregar, 2008).

Jadi, masalahnya bukan bagaimana menyusun reportase sesuai fakta, tetapi menyampaikan analisis berita (news analysis) agar mempunyai makna publik. Dengan demikian persoalannya bukan apakah sebuah berita sesuai dengan fakta, tetapi apakah berita itu memiliki nilai publik.

Dalam konteks televisi, temuan Bandura tiga puluh tahun lalu seharusnya menjadi peringatan bahwa menampilkan fakta apa adanya ternyata tidak cukup. Menampilkan ahli forensik dalam talkshow TV dan memaparkan teknik mutilasi secara rinci harus dihadapkan pada konteks makna publiknya.

Berita dan kompetisi wacana

Konsekuensi dari etika jenis kedua adalah melihat berita sebagai wacana (discourse) dalam konteks kompetisi perebutan makna adalah kehidupan publik. Berita diposisikan sebagai unit yang mampu memengaruhi proses pembentukan makna dalam kehidupan publik. Kehidupan publik merupakan kawanan makna yang dihasilkan dari perebutan makna oleh berbagai pemegang alat produksi makna.

Postmodernitas mengajarkan, makna selalu relatif bergantung pada siapa yang keluar sebagai pemenang dari medan pertempuran makna. Media massa tidak bisa bersikap naif dengan melarikan diri dari pertempuran itu dan dengan selubung teknik jurnalisme. Persis saat media massa merupakan salah satu lembaga yang signifikan dalam produksi makna, di situ masalah etika publik menjadi relevan.

Dalam perang makna, ada tiga peserta utama, yaitu negara, pasar, dan masyarakat. Tiga hal ini saling berseteru memperebutkan makna sesuai kepentingan masing-masing. Kehidupan publik yang ideal adalah fungsi dari keseimbangan tiga sektor itu.

Di manakah posisi media massa? Secara struktural, sebenarnya bangunan kehidupan media massa sudah ideal. Negara sudah menumpulkan sengat politiknya lewat UU Pers No 49/1999 dan UU Penyiaran No 32/2002. Artinya, hegemoni negara sudah bisa dilucuti. Untuk media penyiaran, aspirasi masyarakat sipil sudah termanifestasikan melalui KPI (meski KPI sering kelimpungan menghadapi industri yang keras kepala). Secara bisnis, bisnis media massa Indonesia sudah amat leluasa, bahkan cenderung mendominasi. Tiga pilar itu sudah hidup dengan leluasa dalam habitat media massa Indonesia.

Ketika fasilitas makro sudah diberikan dan ternyata masih timbul masalah, pendulum harus diarahkan pada wilayah internal media massa sendiri. Dalam iklim kebebasan media, mekanisme swa-sensor menjadi acuan utama dalam menentukan kelayakan berita, meninggalkan sensor eksternal dari negara. Dengan demikian, etika menjadi signifikan dalam proses self-censorship. Masalah muncul karena yang dominan dipakai media massa Indonesia adalah etika teknis yang amat rentan bagi publik dalam konteks kompetisi industrial.

Di sisi lain, menyambut liberalisasi, kita dihadapkan fakta, ada perbedaan bentuk kontrol negara dan kontrol pasar. Kontrol negara bersifat koersif, sedangkan kontrol pasar bersifat intrusif. Intrusivitas kontrol pasar itu menjelma dalam watak berita yang berorientasi pada kompetisi pasar, berlandaskan etika teknis sehingga berita sering kehilangan makna publiknya.

R Kristiawan Senior Program Officer for Media, Yayasan TIFA, Jakarta; Mengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Televisi Indonesia Sebuah Industri Kejahatan

Berbagai berita kejahatan yang disajikan media, terutama televisi, dinilai mampu menginspirasi khalayak melakukan aksi-aksi kriminalitas.

Hal ini terbukti dari mutilasi yang dilakukan Sri Rumiyati (48). Perempuan yang akrab disapa Yati itu mengaku menirukan cara Very Idam Henyansyah (Ryan) dalam membunuh salah satu korbannya. Yati memotong mayat suaminya, Hendra, guna menghilangkan jejak.

Dalam catatan Litbang Kompas, sejak Januari hingga November 2008 terjadi 13 peristiwa pembunuhan mutilasi di Indonesia. Angka tertinggi untuk periode tahunan sejak kasus mutilasi muncul tahun 1967. Pada tahun 2007 terjadi tujuh peristiwa mutilasi (Kompas, 10/11/2008). Apakah tingginya kasus mutilasi merupakan akibat televisi gencar menayangkan kasus-kasus yang ditiru anggota masyarakat lainnya? Lebih mengerikan lagi, kejahatan telah menjadi industri tontonan yang dihadirkan televisi?

Tidak mudah menyimpulkan, berita kejahatan yang disajikan televisi berpengaruh langsung bagi khalayak. Ada tiga perspektif yang dapat dikemukakan. Pertama, media dipandang memiliki kekuatan penuh mendikte perilaku khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap pasif sehingga merespons begitu saja stimulus yang digelontorkan media. Situasi masyarakat yang penuh alienasi, isolasi, depresi, dan tingkat pengangguran tinggi merupakan lahan subur bagi media dalam menancapkan pesan-pesan kejahatan.

Kedua, media dipandang amat lemah untuk memengaruhi khalayak. Dalam kondisi ini, khalayak bisa bersikap aktif untuk menegosiasikan atau menolak pesan-pesan kejahatan yang disajikan media. Daya intelektualitas, level ekonomi, atau usia merupakan faktor determinan yang tidak dapat dikesampingkan.

Ketiga, media memiliki dampak terbatas bagi khalayak. Hal ini dapat terjadi karena media dipandang sebagai salah satu faktor, selain faktor-faktor lain, seperti kematangan psikologis, konteks sosial yang melingkupi individu-individu, dan daya selektivitas khalayak terhadap muatan media sehingga media bisa berpengaruh pada tingkat gagasan, sikap, atau perilaku.

Fenomena yang tidak boleh dianggap sepele adalah televisi terlalu permisif untuk menampilkan kasus-kasus kriminalitas. Adegan rekonstruksi yang secara rutin ditampilkan televisi telah menjadi tontonan keseharian. Industrialisasi kejahatan menjadi kian marak digulirkan televisi. Kejahatan dikemas secara masif dan berulang-ulang dalam ruang keluarga. Alasan utama yang menjadi dalih klise ialah tontonan kejahatan amat diminati khalayak. Hasrat penonton menjadi justifikasi yang tidak boleh disanggah. Rating, sharing, atau perhitungan komersial mengakibatkan kriminalitas mudah dikonsumsi.

Mistifikasi pasar

Ketika para pengelola televisi berdalih tingginya berita-berita kejahatan yang ditampilkan karena permintaan konsumen, maka terjadilah mistifikasi pasar. Artinya, pasar dianggap sebagai kekuatan penentu yang tidak dapat dibantah. Padahal, dalam pasar itu ada mekanisme penawaran dan permintaan. Selera pasar bisa diciptakan dan diarahkan. Pasar tontonan seolah berlangsung secara alami, padahal yang sebenarnya berlangsung di pasar kemungkinan dapat direkayasa.

Pasar mendorong jurnalisme berita kejahatan sekadar mengabdi kepentingan modal dan pelipatgandaan keuntungan. Kenyataan ini berlangsung konsisten karena, seperti dikatakan John H McManus (Market-Driven Journalism: Let the Citizen Beware?, 1994), pasar memiliki enam karakteristik, yaitu (1) kualitas dan nilai ditentukan konsumen ketimbang produsen atau pemerintah; (2) responsif terhadap konsumen; (3) koreksi diri karena pasar bersifat fleksibel; (4) motivasi konstan dari pelaku pasar untuk berkompetisi; (5) mengandalkan efisiensi; dan (6) konsumen bebas untuk menentukan pilihan.

Namun, nilai yang sering diabaikan pasar ialah moralitas. Pasar televisi tak pernah menggubris apakah tayangan berita kriminalitas berdampak buruk bagi khalayak. Doktrin utama pasar adalah semua tontonan dijual bagi konsumen. Apakah konsumen menjadi berperilaku jahat karena meniru adegan sadisme yang ditayangkan, para produsen tontonan tidak peduli. Bahkan, produsen cenderung menyalahkan khalayak yang dianggap tidak bisa bersikap kritis terhadap berita-berita kriminalitas. Itulah yang dalam bisnis dinamakan externalities, yakni kehancuran dan imoralitas sosial yang terjadi dianggap di luar tanggung jawab media. Televisi tidak pernah keliru karena konsumen sendiri yang dinilai tahu risikonya.

Dilanda anomi

Industrialisasi kejahatan yang dijalankan televisi secara potensial dan nyata mampu menciptakan inspirasi bagi aksi- aksi kejahatan berikutnya. Hal ini mudah dipicu saat masyarakat dilanda anomi, yakni situasi tanpa norma. Pada situasi anomi, tatanan komunitas dan sosial merosot, digantikan rasa keterasingan dan kekacauan. Dalam situasi anomi, terjadi penekanan berlebihan pada tujuan-tujuan hidup, tetapi cara-cara meraih tujuan itu tidak mampu disediakan secara mencukupi yang dikarenakan nilai-nilai kebaikan yang semuanya relatif seperti koruptor dihormati dan disegani. Salah satu kekuatan kunci yang terlibat dalam penanaman tujuan-tujuan hidup adalah media. Media pula yang mengajarkan bagaimana menjalankan kejahatan untuk meraih tujuan hidup itu (Yvonne Jewkes, Media and Crime, 2005).

Televisi berulang memberi contoh bagaimana cara menerabas hukum dapat digunakan untuk meraih tujuan hidup yang dianggap sukses. Meski itu dianggap tindak kejahatan, yang berarti pelanggaran terhadap hukum dan norma-norma, tetap saja diimitasi individu-individu tertentu. Sebab, mereka berpikir tiada cara lain yang lebih baik ketimbang beraksi sebagai kriminal. Di situlah televisi menanamkan perilaku kejahatan dan masyarakat melakukan pembelajaran. Mereka yang melakukan peniruan itu biasanya dari kelompok marjinal yang tidak punya akses untuk meraih tujuan hidup yang baik yang juga dikarenakan koruptor-koruptor yg duduk dipemerintahan.

Lazimnya, industri kejahatan yang diandalkan televisi adalah kasus-kasus kriminalitas jalanan yang melibatkan kaum pinggiran. Bukankah kejahatan jalanan mudah memancing sensasi karena melibatkan kekerasan fisik yang berdarah-darah? Klop dengan dogma industri kejahatan di televisi yang berbunyi: If it bleeds, it leads. Semakin berdarah-darah semakin meriah karena masyarakat yang dilanda anomi seperti Indonesia sangat haus darah seperti zaman romawi kuno.

Triyono Lukmantoro Dosen Sosiologi Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang

Tabungan Teroris Nurhasani Mencapai 800 Juta Rupiah

Jaringan teroris tak kehabisan dana untuk menjalankan kegiatannya. Ini terbukti dengan ditemukannya buku tabungan di rumah tersangka Nurhasani alias Hasan. Tabungan itu pernah mencapai saldo Rp800 juta, namun beberapa ratus juta sudah ditarik.

Rumah kontrakan tersangka teroris Nurhasani alias Hasan di Jalan Monumen Pancasila Sakti RT 06/08 No. 9D Kel. Lubang Buaya, Kec. Cipayung, Jaktim, digeledah polisi, Kamis (23/10) dinihari.

Dari rumah yang dihuni pedagang buku keliling itu, disita sejumlah VCD, gambar, buku dan dua buku tabungan yang satu di antaranya pernah mencapai saldo tertinggi Rp800 juta. Padahal kegiatan Nurhasani hanya pedagang buku.

Berdasarkan pemantuan, rumah kontrakan yang berada di pinggir jalan besar itu sepintas mirip toko karena bagian depannya dipasangi rolling door. Di sebelah kanannya toko pin, dan sebelah kirinya salon kecantikan.

Sebuah gerobak putih parkir di depan rumah. Rumah itu dihuni Nurhasani bersama istrinya, Fitri, 23, serta tiga anak pasangan itu masing-masing dua balita perempuan dan seorang bayi lelaki,

Hasan mengontrak rumah itu pada Lahmudin Lubis, purnawirawan TNI AD seharga Rp450 ribu per bulan. Identitas yang disodorkan pada pemilik rumah adalah KTP atas nama Nurhasana, kelahiran Tangerang, 20 Juni 1980 dan beralamat di Kec. Benda, Tangerang. Padahal Hasan lahir di pemalang 26 Juni 1980. “Ia selalu tepat membayar uang sewa rumah, tak pernah telat sama sekali,” ujar Lahmudin sambil menambahkan Hasan sudah hampir tiga tahun mengontak di sana.

Informasi yang dihimpun Pos Kota menyebutkan penggeledahan dilakukan sejumlah petugas Densus 88 Mabes Polri, aparat kepolisian setempat serta disaksikan berapa tokoh masyarakat sekitar pk. 03:30.

TABUNGAN RATUSAN JUTA
Dari rumah kontrakan Hasan petugas menyita fotokopi KTP atas Nurhasani, VCD dan buku-buku masalah jihad, gambar-gambar perjuangan di Afganistan, buku tabungan atas nama Fitri dan buku tabugan Bank Mandiri atas nama seorang lelaki yang disebut-sebut tetangga Nurhasani di Tangerang. Polisi masih menelusuri apakah nama pemilik rekening itu fiktif, atau ia anggota teroris.

Pada tabungan Fitri tak ada saldo tersisa lagi sedangkan pada buku tabungan lainnya sempat tercatat saldo tertinggi Rp 800 juta. “Hanya saja uang itu sudah diambil, hanya bersisa beberapa ratus juta lagi,” ungkap sumber Pos Kota.

Polri tengah berkoordinasi dengan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan) untuk menelusuri asal usul uang yang hampir mencapai satu milyar rupiah itu termasuk aliran dananya kemana saja.

“Sumber dana jaringan teroris bisa dari kegiatan legal maupun ilegal. Ini masih kita telusuri,” kata sumber di kepolisian. Kegiatan legal bisa dari berdagang voucer HP, dagang buku, pakaian dan sebagainya. Sedangkan ilegal dengan cara melakukan tindak pidana seperti perampokan, perjudian dan pelacuran.

Sebelum penggeledahan, Lahmudin bersama Zulharmasyah, 25, anaknya, mendatangi Pospol Lubang Buaya sekitar Pk. 22:00. Ini karena Zulharmansyah melihat gambar teroris Plumpang yang beredar.

Ia meyakini satu di antaranya adalah Nurhasani. Usai melapor ke Pospol yang lokasinya sekitar 200 meter dari rumah yang dihuni Nurhasani, terlihat Suzuki Carry B 8248 PY warna biru parkir di depan rumah.

Penumpangnya, pria yang mengaku adik kandung Nurhasani, meminta ijin untuk mengambil barang-barang karena kakaknya ditahan. Berkoordinasi dengan polisi, mereka mengatakan tak bisa memberikan kunci rumah karena tak ada ijin resmi dari pengontraknya.

DIKENAL BAIK,  RAMAH DAN PANDAI BERGAUL
Tertangkapnya Nurhasani mengagetkan warga setempat. Mereka tak menyangka pria yang menjadi penjaja buku-buku agama keliling itu ditangkap dengan tuduhan teroris.

Alasannya, selain baik, ramah dan pandai bergaul, Nurhasani dan istrnya, Fitri tak seperti ciri teroris yang sering ditonton di televisi yang bersikap tertutup. Fitri beberapa kali ikut pengajian warga sedangkan Nurhasani selalu solat di mesjid Al Syuhada yang tak jauh dari rumahnya.

“Ia mau ngobrol seperti kami,” ujar Santi, warga. Fitri pulang kampung ke Tasikmalaya tak lama usai melahirkan anak ke tiganya di bulan puasa.

Selanjutnya, Nurhasani tinggal sendiri di rumah. Itu makanya ketika lelaki itu dua hari tak pulang ke rumah banyak yang khawatir ia menjadi korban kejahatan, eh ternyata dia sendiri adalah biang segala kejahatan. Suyatni, 48, pemilik salon tepat di sebelah kiri rumah Nurhasani, mengatakan warga sempat akan melapor ke polisi.

Nurhasani bukan orang baru di lingkungan itu. Suyatni mengaku mengenalnya semasa pria itu berusia 20-an karena tinggal dengan kakak perempuannya. Keluarga Nurhasani dikenal ramah,  baik hati dan pandai bergaul. Begitu baik hatinya hingga Nurhasani membeli gerobak dagangan saat pemiliknya kepepet tak punya uang.

“Padahal ia jelas tak membutuhkan gerobak itu tapi berniat menolong orang kesulitan dan sekarang ketahuan ternyata dia baik hati karena itu bukan uang hasil jerih payahnya sendiri, pantesan royal,” katanya menunjuk gerobak putih yang parkir di depan rumah Nurhasani.

Seorang pengojek mengatakan Nurhasani pernah meminta tolong Jum, pengojek, untuk mengantar barang ke Kelapa Gading. Hanya saja tak ada yang tahu apa isi barang itu. “Beruntung tak meledak di jalan,” seloroh pengojek itu.

INCAR OBJEK EKONOMI
Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menegaskan pihaknya terus akan memerangi terorisme. Menurut Kapolri, kelompok teroris kini bukan mengincar objek vital milik negara asing seperti Amerika Serikat atau Australia.

“Objek ekonomi yang akan menjadi target mereka karena bila ekonomi terganggu, mereka akan sangat mudah dalam mengindoktrinasi warga menjadi teroris,  mereka juga mengincar para pejabat yang memerangi terorisme,” kata Kapolri di Mabes Polri, Jumat (24/10). Namun dia tidak menyebut pejabat mana yang akan diincar.

Ditambahkan Kapolri, objek ekonomi Depo Plumpang salah satu target kelompok Wahyu Cs. Karena itu pelaku memilih mengontrak rumah di kawasan Jalan Sengon, Kelapa Gading, tak jauh dari target yang diincarnya

Densus Anti Teror Menangkap Seorang Teroris Beserta 3 Kilo TNT Di Tanah Merah Kelapa Gading

Sel jaringan teroris masih terus tumbuh dan melakukan akvitas ‘bawah tanah’ mereka. Kali ini jaringan teroris memilih rumah kontrakan di kawasan Tanah Merah, Kelapa Gading, Jakut, untuk merakit bom. Bila bom meledak, kawasan itu bisa menjadi lautan api karena hanya berjarak satu kilometer dari Depo Pertamina Plumpang.

Wahyu,28, penghuni rumah kontrakan yang diduga kuat bagian dari sel-sel jaringan teroris tak berada di rumah saat penggerebekan. Padahal tak kurang dari 20 personil Densus 88 Mabes Polri dan Den 88 ATB Polda Metro Jaya, Selasa (21/10) pagi merangsek rumah Wahyu, lelaki yang oleh warga dikenal sebagai pembuat sumur bom.

Polisi hanya menemukan 21 amunisi senjata laras panjang dibalut kain dan disimpan di bawah tempat tidur. Benda lainnya, cairan kimia serta kabel yang diduga sebagai bahan membuat bom, serta dokumen teknik pembuat bom yang ditulis di kertas HVS ditemukan di dekat rak TV.

Juga ditemukan pipa paralon untuk mngemas bom, 3 kilo TNT (trinitro toluent) bahan berdaya ledak tinggi.

Sejauh ini Polri belum bersedia memberi pernyataan resmi. “Dengan ditemukannya bahan-bahan peledak itu kita bisa mencegah aktivitas peledakan. Soal keterlibatan pelaku belum bisa kita ungkapkan,” kata Wakil Kadiv Humas Polri, Brigjen Pol Sulistiyo Ishak. Dia juga belum mau menyebutkan apakah Wahyu adalah kaki tangan Noordin M Top, buronan nomor satu kasus teroris.

AKSI DI AMBON
Sumber di kepolisian menyebutkan Wahyu alias Uci terlibat serangkaian kasus peledakan bom. Antara lain di Batu Gantung, Kota Waringin, Ambon, Maluku, 22 April 2005 atau dua hari menjelang HUT RMS (Republik Maluku Selatan).

Wahyu juga diindikasikan terlibat penyerangan Pos Brimob di Lokki, Seram, Ambon, pada 16 Mei 2005 yang menewaskan 7 korban. Dia diduga sebagai anggota kelompok mujahid yang aktif melakukan aksi di wilayah Maluku dan Sulawesi Utara.

Belum diketahui apakah Wahyu juga anggota JI (Jemaah Islamiyah). Polisi masih menelusuri apakah ia terkait kelompok ‘teroris Palembang’ yang digulung Densus 88 pada Juli 2008. Polisi waktu menangkap 10 tersangka dan menyita 50 kilo TNT, mesiu, bom rakitan dan senjata api.

DIKENAL TERTUTUP
Penggerebekan rumah Wahyu membuat warga Tanah Merah, Jalan Kelapa Gading Sengon I, RT 05/14, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Selasa (21/10) pagi, membuat warga gempar.

Saat polisi datang, pukul 06:00 Wahyu sudah mengantar istrinya, Rohayati,25, kerja di kawasan KBN Cakung. Bayi mereka, Wafa (9 bulan )dititipkan kepada Ny Endang Supriyati, istri Muntasir, pemilik kontrakan.

Wahyu mengontrak rumah beridinding papan berukuran sekitar 10×4 meter itu seharga Rp200 ribu per bulan dan sudah dua tahun tinggal di lingkungan padat penduduk tersebut.

Tri Utami,33, tetangga, mengaku saat rombongan polisi tiba ia sedang ngobrol dengan Muntasir di depan rumah Wahyu. Tiba-tiba istri Muntasir tergopoh-gopoh mengatakan ada 8 polisi bersenjata laras panjang datang.

“Pak Muntasir ditangkap di depan saya dan istrinya,” kata Utami. Endang mengikuti suaminya bersama 8 orang tersebut ke rumah Ketua RW 14, H. Abdul Wahab, 56, setelah itu dimasukkan ke mobil.

DUA BULAN DIINTAI
Wahab juga menjelaskan sebelum adanya peristiwa itu dia mengaku ditemui beberapa petugas yang menyebutkan kalau di rumah tersebut akan digerebek. “Saya masih sempat menyaksikan ada alat pembuat bom , bubuk warna abu-abu, 21 butir peluru berbagai jenis serta kabel-kabel, dokumen di rak laci dan laci TV,” ungkapnya.

Wahyu disebutkan memiliki tanda fisik bibir tebal, telinga lebar, dan kulit sawo matang. “Pak Wahyu orangnya pendiam rajin salat . Tak menduga kalu ia merupakan teroris,” kata Utami sambil menyebutkan Wahyu mengaku asal dari Sulawesi.

Sebelum penggrebekan, tiga rumah di sekitar rumah Wahyu digunakan Densus 88 sebagai tempat mengintai selama dua bulan. Satu perwira di Mabes Polri menyebutkan, Wahyu sudah lama buron.

Tim Reserse Satgas Mabes Polri pimpinan Kombes Pol Usman Nasution semenjak bulan Ramadhan sudah mengintai Wahyu. Bahkan ada polisi yang menyamar sebagai tukang sumur bor untuk memantau aktivitas Wahyu.

Dua Tenaga Kerja Wanita Indonesia TKW Dipukuli Habis Habisan Didepan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno Karena Mau Mengadu Tentang Beratnya Hidup Di Hongkong

Malang nian nasib sembilan wanita warga negara Indonesia (WNI) yang tengah mengais nafkah di Hongkong. Ketika mau mengadu ke Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno yang tengah berkunjung ke Hongkong, mereka malah digebuki. Ironisnya para pelaku pemukulan adalah petugas Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Hongkong.  

Akibat pemukulan itu, dua wanita dilarikan ke rumah sakit karena terluka cukup parah, sementara empat wanita lainnya mengalami memar-memar dan berdarah. Pemukulan itu disaksikan Menakertrans Erman Suparno yang berada di Gedung Queen Elizabeth, Hongkong, Minggu (7/9).

Duta Buruh Migran, Franky Sahilatua, saat dihubungi Warta Kota semalam mengatakan, pemukulan itu terjadi sekitar pukul 11.00 waktu Hongkong. Saat itu, puluhan tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di Hongkong mengadakan pertemuan dengan Menakertrans. Beberapa TKW kemudian menggelar spanduk bertuliskan ”Stop Underpayment” (hentikan pembayaran upah di bawah standar) di depan menteri.

”Tiba-tiba saja, mereka langsung diseret dan dipukuli oleh petugas keamanan sampai luka-luka, padahal mereka hanya menggelar spanduk. Wajar dong, mereka mengutarakan aspirasi kepada menteri,” ujar penyanyi balada ini.

Franky menegaskan, pemukulan itu terjadi persis di depan Menakertrans. Anehnya, kata Franky, Pak Menteri hanya berdiam dan tidak bereaksi apa-apa. Petugas keamanan yang memukuli para TKW, jumlahnya lebih dari dua orang, juga berkewarganegaraan Indonesia. ”Mereka itu lebih sok berkuasa dibanding polisi Hongkong, mereka harus diberi sanksi tegas,” katanya.

Ia menyesalkan tindakan pemukulan petugas keamanan tersebut. Ia berharap Menakertrans lebih cerdas dalam memimpin, sehingga tidak terjadi peristiwa seperti ini. Dalam pertemuan itu, sejumlah pejabat Depnakertrans, dan DPRD Tingkat I Jawa Timur juga ikut serta. Namun tidak ada yang melerai pemukulan itu dan hanya membiarkannya. ”Sudah wanita, lagi puasa, belum digaji, dipukuli bangsa sendiri lagi, ini kan jahanam sekali,” tegasnya.

Hingga semalam, baru tiga TKW yang terluka yang diketahui namanya yakni Luluk, Ganis, dan Rudi. Organisasi yang peduli TKW, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) akan melayangkan protes kepada Menakertrans dan Departemen Luar Negeri atas arogansi para petugas keamanan Konjen RI tersebut.

Ketika Warta Kota hendak minta tanggapan ke Departemen Luar Negeri (Deplu), telepon genggam Juru bicara Deplu Teuku Faizasyah tidak aktif.

Rp 4 juta

Menurut Franky, para TKW di Hongkong yang membentangkan spanduk berusaha mengutarakan aspirasi mereka bahwa masih ada TKW yang digaji di bawah standar upah yang ditentukan Pemerintah Hongkong. Mereka minta perhatian Pemerintah Indonesia untuk memperjuangkan hak mereka mendapatkan upah yang layak.

Upah minimum TKW di Hongkong adalah 3.450 dolar Hongkong per bulan. Namun sejumlah TKW mendapat upah sekitar 2.000 dolar Hongkong per bulannya. ”Itu pun banyak yang belum dibayarkan selama berbulan-bulan. Ada yang sejak pertama datang tidak menerima upah sedikit pun,” jelas Franky. Selain itu, sejumlah TKW menghadapi pemotongan gaji oleh Perusahan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) dan agen-agen tenaga kerja.

Komisioner Komnas Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan, Sri Wiyanti Eddyono, semalam, mengaku belum mendengar kabar tentang pemukulan TKW oleh aparat keamanan Konjen RI di Hongkong. Meski demikian, Sri Wiyanti menyesalkan tindakan kekerasan terhadap para TKW. ”Apa pun alasannya, upaya kekerasan bukan jalan yang terbaik, mengapa tidak melakukan dialog saja,” ujarnya.

Ia mengatakan, ekspresi para TKW dengan membentangkan spanduk merupakan pernyataan yang wajar. Mereka memang merasakan kepahitan nasib buruh migran. ”Kekerasan itu tindakan yang tidak bijaksana karena TKW sedang berada dalam keadaan tidak menguntungkan,” imbuhnya.

TKW Indonesia yang bekerja di Hongkong jumlahnya lebih dari 100.000 orang. Mereka, rata-rata, mendapatkan gaji sekitar 3.000 dolar Hongkong per bulan atau sekitar Rp 4 juta. Jumlah tersebut memang cukup fantastis bila dibandingkan gaji pembantu rumah tangga di Jakarta yang berkisar Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per bulan.

Alasan para wanita itu menjadi TKW di Hongkong antara lain kemiskinan, perceraian, poligami, dan ditinggal mati oleh suami. Rata-rata dari mereka harus menghidupi anak, orangtua, serta keluarga yang miskin.

SUmber: Kompas.Com

Terbukti Metoda Polisi Dalam Mengungkap Kejahatan Masih Dengan Cara Menyiksa Tersangka Hingga Mengaku – Kemat Dihajar Sampai Setengah Mati Agar Mau Mengaku Membunuh Ashori Hingga Dihukun 17 Tahun Penjara … Eh Ternyata Dibunuh Oleh Ryan

Air mata Imam Hambali alias Kemat (34) langsung mengucur saat Eka Lisnawati, sang kemenakan, menyalaminya lewat lubang sebuah pembatas berjeruji kawat yang memisahkan antara pembesuk dan napi LP Jombang, Kamis (28/8) kemarin.

Kemat adalah salah satu terpidana salah tangkap dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idam Henyansah alias Ryan, warga Desa Jatiwates, Jombang, yang telah membantai 11 orang.

Kemat dihukum 17 tahun, sementara Devid Eko Priyanto 12 tahun setelah pengadilan memvonis keduanya membunuh Asrori, pria yang mayatnya ditemukan di kebun tebu Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, 29 September 2007 lalu.

Namun, Rabu (27/8) lalu terungkap bahwa pembunuh Asrori adalah Ryan, dan makam Asrori sesungguhnya bukanlah di kebun tebu, melainkan di belakang rumah orangtua Ryan di Jatiwates.

Keadaan ini membuat pertemuan Kemat dan keluarga yang menjenguknya di LP kemarin diliputi keharuan. “Alhamdulillah…akhirnya kebenaran itu terkuak juga. Doakan ya… semoga masalahnya lekas selesai dan saya bisa bebas,” ujar Kemat sambil terus menangis.

Kemat mengaku sudah mendengar kabar salah tangkap dirinya dan Devid sejak kemarin pagi lewat siaran berita radio yang dibawanya ke Blok A3 LP Jombang. Blok inilah yang dihuni Kemat sejak dia dijebloskan ke bui setelah dicatut polisi sebagai tersangka pembunuh Asrori, 21 Oktober 2007 lalu. Devid menempati Blok F-4.

Sementara itu, Maman Sugianto alias Sugik, yang disangka sebagai pelaku, masih dalam masa karantina dan menempati Blok D-2. Kemarin Sugik menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jombang.

Surya kemarin turut membesuk Kemat di LP Jombang. Kepada Surya, Kemat berkisah bahwa sepanjang Ramadhan 2007 lalu polisi berulang kali menciduknya dari rumahnya di Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Namun, berulang kali pula dia kembali dipulangkan. Pada pemanggilan berikutnya ke polsek saat lebaran ketupat, Kemat akhirnya ditahan. “Ayo guk melu aku nang polsek (ayo Mas ikut saya ke polsek),” ujar Kemat, mengulang kalimatnya saat itu.

Dia mengajak kakaknya yang nomor empat itu karena sudah merasa tak enak akan terjadi sesuatu. Kemat adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Khamin (75) dan Watini (65).

Benar saja. Hingga sore, Kemat tak lagi pulang ke rumah. Sekitar pukul 24.00, Karnadi tiba di rumah tanpa Kemat. Di Polsek Bandarkedungmulyo, Kemat mengaku mendapat siksaan fisik dari penyidik. Bahkan, untuk memaksa agar dia mengakui sebagai otak pembunuh Asrori, menurut Kemat, polisi membawanya ke tanggul Sungai Kayen. “Aku dipukuli Mas pakai karet diesel,” tuturnya.

Kemat ditangkap setelah polisi menangkap Devid di Tuban, rumah neneknya, pertengahan Oktober tahun lalu. Setelah Kemat, nama lain yang disangka terlibat dalam penghilangan nyawa Asrori adalah Maman Sugianto atau Sugik. “Saya enggak tahu apa-apa Mas. Katanya saya bawa sepeda motor Asrori, itu juga tidak benar,” kata Kemat.

Tangis Kemat tak terbendung lagi saat rombongan keluarga Sugik datang membesuk. Orangtua Sugik, Sulistyowati dan Mulyono, datang sekitar pukul 12.40. Mereka mengunjungi LP Jombang setelah mengikuti sidang Sugik di PN Jombang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa. Sebelum mereka, teman-teman Kemat dari desa tiba lebih dulu.

Wis tenang ae. Engko nek wis metu tak kancani sampek elek (Sudah tenang saja kamu. Nanti kalau sudah bebas akan kuajak main-main sampai puas),” ujar Arif, salah satu kawan Kemat.

Tak Dijenguk
Berbeda dengan keluarga Kemat, keluarga Devid tak bisa mengunjungi LP. Ibunda Devid, Siti Rokhanah (38), saat ditemui di kediamannya, Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Jombang, mengaku bersyukur akhirnya mayat di kebun tebu bukan Asrori dan berharap Devid segera dibebaskan. Kendati demikian, Rokhanah tidak bisa segera membesuk anaknya ke LP Jombang karena tidak memiliki biaya.

“Ya alhamdulillah kalau sekarang ada bukti anak saya tidak bersalah. Tapi kalau untuk menjenguk ke penjara belum bisa. Ongkosnya dari mana?” tanya Rokhanah. Selain tak ada biaya, Rokhanah juga mengaku, jika membesuk di LP khawatir dirinya tak mampu menahan perasaan karena trauma.

Rokhanah berkisah, Devid ditangkap dalam suasana Idul Fitri 2007. Dalam kisahnya, tersirat ada skenario untuk sengaja menjebloskan Devid maupun Kemat, serta Sugik sebagai terpidana.

Kata Rokhanah, berdasarkan pengakuan Devid setelah divonis, penangkapannya bermula ketika suatu siang Devid sedang minum kopi di warung yang tak jauh dari rumah. Saat itu ada polisi datang dan memberinya uang Rp 20.000 untuk pergi alias kabur.

Entah karena alasan apa, Devid menuruti kemauan polisi itu. Devid kemudian pergi ke Tuban, ke rumah kakeknya. Saat di Tuban itulah dia ditangkap polisi. “Polisi tentu mudah menangkap karena saat itu Idul Fitri dan yang dikunjungi pasti kakeknya yang di Tuban atau di Surabaya,” kata Rokhanah dengan berurai air mata.

Kemarin, polisi membongkar kuburan mayat Asrori di kebun tebu di Desa Kalangsemanding. Pembongkaran ini disaksikan ratusan warga dan dipimpin Kasat I Pidum Ditreskrim Polda Jatim AKBP Susanto sejak pukul 11.00 hingga pukul 13.15.

Mayat ‘Asrori’, yang sekarang berubah menjadi mayat tak dikenal karena mayat Asrori sesungguhnya telah ditemukan di belakang rumah Ryan, kini tinggal tulang belulang dengan sedikit daging yang membusuk dan bau menyengat. Selanjutnya mayat tersebut dikirim ke RS Bhayangkara, Surabaya. AKBP Susanto mengatakan, akan dilakukan uji DNA untuk dicocokkan dengan DNA kerabat orang-orang yang kehilangan keluarganya. “Yang jelas dia bukan Asrori karena sesuai DNA, Asrori dikubur di belakang rumah orangtua Ryan,” kata Susanto.

Tentang kemungkinan adanya sanksi bagi penyidik atau pimpinan di atasnya, Susanto mengaku itu akan mengacu pada aturan yang ada. Sedangkan kepada keluarga terpidana dan terdakwa dibuka peluang untuk melakukan upaya hukum sesuai aturan yang ada, seperti pengajuan peninjauan kembali (PK), rehabilitasi nama baik, dan sebagainya.

Menurut sumber di kepolisian, BAP (Berita Acara Pemeriksaan) kasus Asrori kebun tebu yang menyebabkan salah tangkap itu sudah dibawa ke Polda Jatim. Sejumlah penyidik di jajaran Polres Jombang serta Kapolsek Ngoro AKP Anang Nurwahyudi (yang saat terjadinya kasus penemuan mayat Asrori di kebun tebu menjabat Kapolsek Bandarkedungmulyo dan melakukan penyidikan) juga segera diperiksa tim khusus ini.

Ada yang menarik saat pembongkaran mayat kemarin. Jajaran pimpinan Polres Jombang tampak serba salah, bahkan kelihatan tegang. Agaknya ini karena sebelumnya Polres Jombang tetap bersikukuh mayat yang ditemukan di kebun tebu adalah Asrori.

Anang Nurwahyudi juga tegang dan serba kikuk. Ditanya tentang kemungkinan salah tangkap, dia memilih menghindar. Kapolres Jombang AKBP Moh Khosim, saat dicecar wartawan terkait pembongkaran mayat “Asrori”, juga sangat jelas terlihat gugup. Dengah suara agak bergetar, Khosim mengatakan, terhadap mayat tersebut akan diuji DNA untuk dicocokkan dengan keluarga Asrori.

“Ini untuk melihat apakah ada kesamaannya,” kata Kapolres Khosim. Dengan jawaban demikian, seolah dia mengisyaratkan masih terbuka peluang bahwa mayat tersebut adalah Asrori. Padahal AKBP Susanto mengatakan, tidak mungkin ada kesamaan DNA antara `Asrori` di kebun tebu dengan Asrori di belakang rumah Ryan. “Ini fakta ilmiah, kebenarannya 99,99 persen,” kata Susanto.

Yang mengejutkan, kendati berdasarkan uji DNA mayat Asrori adalah yang ditemukan di belakang rumah Ryan, keluarga Asrori masih meragukannya. Paman Asrori, Jaswadi (43), yakin mayat yang dibongkar kemarin itu adalah mayat Asrori. “Saya yakin itu Asrori karena ada bekas luka kena knalpot, kukunya rapi, dan giginya juga jelas milik Asrori,” kata Jaswadi, Kamis

Kepastian mayat Mr X adalah Asrori membuat lega keluarga Imam Hambali alis Kemat (26). Eka Lisnawati, keponakan Kemat, berulang kali mengucap syukur saat diberitahu kabar itu. “Semua keluarga senang, alhamdulillah akhirnya kebenaran itu terungkap,” ucap Eka, Rabu (27/8).

Dengan kabar ini, Eka bersama keluarganya berencana mengunjungi Kemat di LP Jombang hari ini. Mereka ingin memberi kabar bahagia itu langsung ke Kemat. “Kasihan dia tidak bersalah tapi sudah dihukum setahun,” ujar Eka.

Sebagai rasa syukur, keluarganya berencana menggelar selamatan di rumahnya sambil menunggu kepulangan Kemat.

Kata Eka, sejak awal keluarganya yakin Kemat tidak membunuh Asrori. Keyakinan itu didapat setelah seluruh keluarga menginterogasi Kemat. “Dia ngakunya tidak pernah membunuh, sampai bersumpah. Jadi keluarga mempercayainya,” katanya.

Hingga kemarin, Eka dan anggota keluarga Kemat belum berencana mengajukan gugatan ke polisi terkait kesalahan penangkapan. “Kami menunggu sampai pulang dulu. Enggak tahu nanti,” katanya.

Ayah Kemat, Khamin (75), juga mengaku tak pernah percaya anaknya membunuh Asrori. Menurut Khamin, Kemat tidak mungkin membunuh. “Terhadap hewan saja dia itu tidak tega memukul, apalagi terhadap manusia, membunuh lagi. Lebih-lebih lagi Asrori itu tetangganya sendiri,” kata Khamin.

Kemat, jelas dia, juga sangat penakut. “Kalau keluar rumah, misalnya ke tetangga, pada malam hari, selewat pukul 10.00 malam saja dia pasti akan minta diantar. Orang penakutnya seperti itu kok dituduh membunuh, jelas kami tidak percaya,” ujar Khamin.

Khamin makin yakin Kemat tidak membunuh karena setiap keluarga membesuk Kemat ke LP Jombang, Kemat hampir selalu menangis dan bercerita dirinya tidak membunuh siapa pun. “Dia mengaku kepada kami, saat di kepolisian tubuhnya dipukuli polisi sehingga terpaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya. Kasihan sekali dia,” kata Khamin.

“Kalau mengingat kejadian dia ditangkap, saya dan istri saya pasti menangis karena sedih. Saat itu, sedang enak-enak santai habis makan sahur, menunggu datangnya imsak, tiba-tiba rumah kami didatangi beberapa polisi. Mereka membawa anak saya pergi,” tutur Khamin, dengan suara tersendat

Keluarga terpidana dan terdakwa kasus pembunuhan kebun tebu di Dusun Braan, Desa Bandar Kedungmulyo, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang meminta rehabilitasi nama baik anggota keluarga mereka.

Mereka adalah adalah keluarga terdakwa Maman Sugianto alias Sugik (28), serta terpidana Imam Hambali alias Kemat (35) dan Devid Eko Prianto (19). Kemat dan Devid sudah divonis hukuman masing-masing 17 tahun dan 12 tahun.

“Saya meminta keadilan, saya minta anak saya dibebaskan,” kata Sulistiyawati (43), ibu kandung Sugik. Ia dan suaminya, Mulyono (50) juga berharap agar nama baik keluarganya bisa dipulihkan.

Ini terkait dengan bukti bahwa jenazah korban pembunuhan yang sempat diidentifikasi sebagai Moh. Asrori yang dibunuh pada 29 September 2007 itu ternyata orang lain. Berdasarkan tes DNA yang dilakukan polisi, diketahui jenazah Moh. Asrori adalah yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Very Idam Henyansyah alias Ryan pada penggalian kedua, Senin (28/7) lalu.

Siti Rochana (38), ibu kandung Devid meminta ada upaya rehabilitasi nama baik keluarganya dari polisi akibat kasus ini. Ia belum memikirkan upaya hukum lanjutan terhadap polisi. Adapun Sumarmi (41) kakak ipar Kemat mengatakan pihak keluarga masih menunggu perkembangan kasus tersebut.

“Yang penting keluar (bebas) dulu,” katanya.

Sementara itu, dalam persidangan perdana yang dilakukan terhadap terdakwa Sugik di Pengadilan Negeri Jombang, Kamis (28), Ketua Majelis Hakim Kartijono menyatakan bakal tetap melanjutkan perkara itu.

“Kita sesuai saja dengan hukum acara pidana,” kata Kartijono.