Kekerasan Anak

Dari pelaksanaan survei mengenai gambaran bullying di sekolah, Yogyakarta mencatat angka tertinggi dibanding Jakarta dan Surabaya. Ditemukan kasus bullying di 70,65 persen SMP dan SMU di Yogyakarta. Psikolog Universitas Indonesia (UI) Ratna Juwita, yang melakukan penelitian ini, mengatakan, tingginya kasus bullying di Yogyakarta belum diketahui sebabnya.

“Belum bisa dijelaskan mengapa. Padahal kalau dipikir-pikir itu adalah wilayah Jawa Tengah yang orang-orangnya mengaku memiliki sifat halus, ramah, senang bergaul dan tidak kasar tetapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya” ujar Ratna dalam konferensi pers mengenai upaya penanganan bullying di Jakarta, Sabtu (17/5). Menurut Ratna, dirinya belum dapat memastikan betul apa yang menjadi penyebab tingginya persentase bullying di Yogyakarta.

“Yang rendah ini di sekolahnya terdapat hubungan antara guru dan siswa yang sangat baik. Sekolahnya kecil dan nyaman, dalam arti hijau, anak-anak bebas main-main. Sekolah yang sangat biasa dan membosankan,” ujar Ratna. Maraknya aksi bullying atau tindakan yang membuat seseorang merasa teraniaya di sekolah, baik oleh sesama siswa, alumni, atau bahkan guru harus disikapi secara serius. Masalahnya, menurut Ketua Yayasan Sejiwa yang aktif memerangi tindak bullying Diena Haryana, ini tidak hanya dapat berakibat langsung pada anak, namun berakibat jangka panjang terhadap psikologis anak.

Kasus-kasus ini jarang menguak ke permukaan karena guru, orangtua, bahkan siswa belum memiliki kesadaran tentang bullying. Bullying merupakan istilah yang belum cukup dikenal masyarakat luas di Indonesia meski perilakunya eksis di dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan di dalam institusi pendidikan.

Menurut Andrew Mellor dari Antibullying Network University of Edinburgh, bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain, baik berupa verbal, fisik, maupun mental dan orang tersebut takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi.

KASUS KEKERASAN ANAK DILAKUKAN OLEH GURU
Selama Januari hingga April 2008, jumlah kasus kekerasan terhadap anak berusia 0-18 tahun di Indonesia, terdata 95 kasus. Dari jumlah itu, persentase tertinggi, yaitu 39,6 persen diantaranya, dilakukan oleh guru.

“Mayoritas kekerasan yang dilakukan oleh tenaga pendidik ini adalah tindak percabulan, ” ujar Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Hadi Supeno, saat ditemui usai acara seminar di Universitas Muhammadiyah Magelang, Kamis (5/6).

Data ini didapatkan dari hasil laporan masyarakat serta pemberitaan yang muncul di media. Selain percabulan, tindakan lain yang menonjol adalah kekerasan fisik seperti memukul. Tahun lalu, kekerasan yang dilakukan oleh seorang guru di Jawa Barat, bahkan m enyebabkan salah seorang muridnya tewas.

Dari data yang diperoleh, menurut Hadi, angka kekerasan yang dilakukan oleh guru, terlihat meningkat drastis. Sebab, pada tahun 2007, persentase kekerasan dari tenaga pendidik tersebut hanya mencapai 11,3 persen. Namun, dalam pantauan selama dua tahun ter akhir tersebut, korban terbanyak selalu berasal dari siswa SD dan SMP.

Dengan perkembangan kasus ini, diharapkan masyarakat terutama para orangtua murid dapat meningkatkan kewaspadaan dan lebih memperhatikan kegiatan belajar putra-putrinya. “Sebab, kenyataan yang terlihat dari kasus-kasus kekerasan itu membuktikan bahwa sekolah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, ” ujarnya.

Hadi mengatakan, penyebab terjadinya tindak kekerasan oleh para guru tersebut, perlu diteliti lebih lanjut. Dimungkinkan, hal ini terjadi karena beban pekerjaan guru semakin berat dan tingkat stres yang dialami semakin tinggi. Dengan kondisi ini, mereka p un akhirnya lupa pada norma-norma dasar dan tugas utama melindungi murid.

Namun, bisa jadi, kasus ini sekaligus mengindikasikan bahwa tingkat pengawasan yang dilakukan oleh para kepala sekolah, orangtua murid, dan masyarakat sekitar sekolah, semakin lemah, paparnya. Angka kekerasan ini bisa akan terlihat mencapai puncaknya pada bulan Juni dan Juli. Pola ini pun, perlu diteliti lebih lanjut.

Berdasarkan lokasi kejadian, 29,6 persen kasus kekerasan yang dialami anak-anak terjadi di Jawa Barat dan 16,3 persen di Banten. Selain guru, pelaku kekerasan lainnya berada pada nomor urut kedua terbanyak adalah, sesama anak, 15,4 persen, dan aparat ata u oknum 12 persen.

Mengacu pada kondisi tersebut, Hadi mengatakan, diperlukan serangkaian langkah untuk menyelamatkan anak-anak. Dalam hal ini, pemerintah harus rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang hak-hak anak, memberikan hukuman yang berat bagi pelaku kej ahatan terhadap anak-anak, dan menerapkan kebijakan perencanaan pembangunan berbasis anak.

Selain itu, perguruan tinggi diharapkan pula berperan serta dengan melakukan pengkajian tentang hak anak dan perlindungannya. Di berbagai lembaga pendidikan mulai dari SD hingga SMA, diperlukan pula adanya model pembelajaran alternatif untuk membantu anak -anak bermasalah.

11 responses to “Kekerasan Anak

  1. anak anak harusnya disayangi bukan dijadikan pelampiasan kemarahan’
    kekerasan bukanlah jalan untuk mengajarkan disiplin pada anak, dengan kasih sayang yang tulus menjadikan anak lebih disiplin dan bertanggung jawab

  2. Hmmmmm….. Eh, Yogyakarta itu bukan wilayah Jawa Tengah! Mohon dibedakan, karena ianya merupakan provinsi tersendiri. Atau mungkin kata-kata tsb salah untuk maksud yg benar?
    Tapi kenapa ya? Ironinya kota pelajar dan orang jawa

  3. kodratsatlatuii

    iya, po jogja?!…
    semakin berkembang kota maka akan semakin berkembang pola pikir anak…
    tinggal teachernya mau bertindak seperti apa?!
    dan orang tua pun mengawasi…

  4. kodratsatlatuii

    Yogyakarta memang tetanggaan… sebelahan lagi dengan Jawa Tengah tapi beda loh..

  5. Lho? Justru kekerasan meningkat bukan karena tutur kata halus melainkan karena masih kentalnya unsur FEODALISME dan HEDONISME.

  6. ya pada dasar nya yang nama nya anak ya kekanak-kanakan, suka nyari2 perhatian. dalam hal ini nyari perhatian nya sebatas apa? kenakalan hanya simbol untuk lebih di perhatikan yang mungkin di tujukan kepada teman atau lingkup lingkungan , sekarang lingkungan yang mana yang di maksud!, kalo di sekolah ya para guru harus mampu menjadi guru, teman, juga orang tua, mungkin kita bisa mulai dari menyelami akar masalah posisikan beberapa % pola pikir guru adalah jika kita menjadi anak, bukan kekanak kanakan. siswa nakal brutal malah di balas atau di tanggapi dengan kekerasan. mengelola emosi lebih susah ketika kita di hadapkan dengan anak nakal(brutal), di sini peran guru di tuntut lebih arif bijaksana, sekolah sekarang lebih mementingkan angka2(nilai) dari pada etika norma sopan santun. guru adalah tauladan dan panutan bukan guru komersil cuma cari kerjaan buat makan

  7. anak adalah harta yang paling berharga cOz anak titipan dri tuhan YME

  8. tolong kalo nulis sgl ssuatu dikasih sumber informasi darimana. itu survei yang dilakukan siapa/badan apa pada tanggal berapa. biar keliatan kalo itu tu fakta, bukan cuma opini aja. ato jangan2 cuma opini.

  9. artikel sangat menarik…thanks

  10. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s