RSCM Sarang Korupsi, Pasien Miskin Adalah Sasaran Empuk

JAKARTA – Di tengah belitan ekonomi yang terus mendera rakyat, perhatian pemerintah terhadap kaum papa masih sangat kurang. Himpitan hidup di tengah harga yang terus melonjak tinggi, pelayanan kesehatan gratis yang digembar-gemborkan ternyata masih jauh dari harapan.

Pantauan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), salah satu rumah sakit yang ditunjuk melayani warga miskin (gakin) masih mengecewakan. Tidak jarang warga miskin yang menggunakan Asuransi Kesehatan Warga Miskin (Askeskin) dan Kartu Jaminan Keluarga Miskin (Gakin) ditelantarkan. Bahkan mereka harus mengeluarkan uang untuk oknum etugas agar cepat mendapat perhatian.

UANG PELICIN
Sejumlah pasien Gakin dan Askeskin saat dijumpai di RSCM mengaku harus mengeluarkan sejumlah uang antara Rp20 ribu sampai dengan Rp50 ribu kepada oknum petugas. Pemberian uang pelicin itu agar kartu gakin maupun askeskin bisa segera ditukar dengan surat dari RSCM, sehingga bisa berobat gratis.

Was, 34, orangtua salah satu pasien dari AT, 1,5 tahun yang dirawat karena penyakit tumor, sangat kecewa dengan pelayanan petugas di RSCM tersebut. “Untuk bisa dilayani, saya menunggu cukup lama hingga sebulan. Itupun harus memberi uang pelicin,” katanya, Senin (10/3).

Warga asal Banten ini, membeberkan awalnya datang ke RSCM berkaitan dengan penyakit ganas yang diderita anaknya karena rujukan dari RSUD Serang. Alasannya di RSUD Serang belum memiliki alat untuk proses penyembuhan anaknya.

“Saya sudah mendaftarkan anak hingga 3 minggu tetapi belum dilayani. Kesannya saya dipingpong. Tapi, setelah sebulan saya baru keluar surat keterangan miskin dari RSCM. Itu pun setelah saya kasih uang pelicin,” tutur Was dengan raut muka sedih.

OBAT 10 PERSEN
Soal sogok-menyogok bukan sampai di situ. Was juga menceritakan obat bagi pasien warga miskin baik yang menggunakan Askeskin maupun Gakin oleh pihak RSCM juga diwajibkan membayar 10 persen dari total harga obat. Padahal, sesuai dengan aturan warga miskin yang nyata-nyata sudah memiliki kartu Gakin atau Askeskin dan sudah disetujui RSCM tidak dikenakan biaya serupiah pun termasuk untuk mendapatkan obat.

“Kalau obatnya harganya Rp1 juta, saya harus membayar Rp100 ribu. Saya harus membayar obat Rp600 ribu, karena harga total obatnya sampai Rp6 juta,” sambungnya dengan memelas.

ASKESKIN DIPERSULIT
Kekecewaan terhadap pelayanan warga miskin di RSCM juga menimpa YS, 20, pasien tumor leher. Ia mengaku saat berobat di rumah sakit tersebut, sering dipersulit karena menggunakan kartu Askeskin.

Bahkan, katanya, saat penyakit yang dideritanya pendarahan hebat hingga berbau busuk dan membentuk lubang besar di sekitar lehernya masih juga ditelantarkan. “Dokter malah menyuruh kami pulang dengan alasan tensi darah masih normal, padahal anak saya kelihatannya sudah tidak kuat,” tutur Lis, warga Mega Mendung, Bogor, sembari menitikkan air matanya.

Lantaran tidak diperhatikan pihak RSCM, YS mendatangi Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) di Ciputat, Tangerang. Berkat bantuan LKC inilah anaknya berhasil dirawat di RSCM.

Kasus lain menimpa Wandi, warga Matraman, saat mengantarkan orangtuanya berobat ke RSCM dengan menenteng kartu Gakin juga dipersulit petugas. “Agar cepat diurus surat-suratnya saya terpaksa mengeluarkan untuk uang rokok,” ucapnya tanpa merinci besarnya uang rokok tersebut.

SANKSI BERAT
Dirut RSCM Akmal Taher saat dikonfirmasi seputar uang pelicin bagi pasien Gakin dan Askeskin kaget. Katanya, warga pemegang kartu Gakin dan Askeskin gratis berobat di RSCM.

“Jika ada oknum pegawai RSCM yang meminta uang rokok atau pelicin laporkan ke kami, sehingga bisa dikenakan sanksi berat,” tegasnya.

Mendengar pemegang kartu Gakin dan Askeskin dipersulit saat hendak berobat, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari meminta agar semua rumah sakit melayani pasien miskin tanpa kecuali. “Kalau yang bersangkutan membawa kartu Askeskin atau Gakin harus diberikan pelayanan yang baik,” perintahnya.

Perubahan aturan main pendanaan Askeskin yang semula berkoordinasi dengan PT Askes dan kini ditangani langsung oleh Depkes, tidak semestinya membuat pelayanan terhadap pemegang kartu Askeskin mengendur. “Kami tetap akan bayar klaim yang diajukan oleh rumah sakit, karena Depkes sudah menyiapkan dana Rp4,6 triliun untuk berobat warga miskin,” tandasnya.

LAMA DIKELUHKAN
Sebenarnya, perhatian pemerintah untuk warga miskin sudah lama dikeluahkan. Di Jakarta. Data Biro Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta saat ini tidak kurang dari 405 ribu warga hidup melarat. Sementara yang dirilis versi Urban Poor Consorsium (UPC) atau Konsorsium Kemiskinan pimpinan Wardah Hafidz warga miskin di Jakarta lebih dari satu juta orang.

Perbedaan angka BPS dan UPC tidak perlu diperdebatkan. Yang jelas pemerintah mau pun Pemda DKI harus mencari jalan keluar mememrangi kemiskinan di Jakarta.

Potret kemiskinan dialami Ny. Eha, warga RT 11 / RW 01 Kelurahan Galur, Jakarta Pusat. Wanita berusia 33 tahun ini, mengaku hampir setiap hari menyiasati hidup, mulai dari mengurangi makan, membatasi pemakaian listrik, mengurangi uang jajan dan ongkos sekolah anak, dan lainnya. “Biasanya kami makan tiga kali sehari, kini sekeluarga makan paling banyak dua kali sehari. Itu pun dengan lauk pauk seadanya,” tutur Ny. Eha.

Ny. Eha adalah ibu rumah tangga dengan suami tukang ojek dengan penghasilan antara Rp20 ribu sampai dengan Rp30 ribu/hari. “Kita semua tahu berapa sih pendapatan tukang ojek motot zaman sekarang,” sambungnya sambil menjelaskan penghasilan suaminya harus untuk bayar cicilan kredit motor, bayar kontrakan, listrik, dan lainnya.

TAK BERPIHAK
“Ini memang ironis. Jakarta sebagai ibukota negara, warganya banyak yang hidupnya melarat,” ucap Wardah Hafidz.

Sesuai dengan data, jumlah penduduk Jakarta pada siang hari 11 juta jiwa, dan malam hari tercatat 8 juta jiwa. Sementara itu, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pemda DKI Jakarta sebesar Rp20,591 trilyun.

Wardah menuding kebijakan pemda sejauh ini belum memihak kepada warga miskin. “Buktinya penggusuran masih marak. Penggusuran adalah proses pemiskinan,” tegasnya.

Menanggapi kritikan UPC, Gubernur H. Fauzi Bowo bertekad menurunkan angka kemiskinan. Sejumlah program pengentasan kemiskinan yang sudah digulirkan akan dievaluasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s