Calon Dokter Hilang Setelah Menerima Uang 92 Juta, Diduga Akibat Ikuti Ajaran Sesat

DEPOK – Penghuni rumah sederhana di Jalan Ancol Selatan, RT 02/01, Tanjung Priok, Jakarta Utara itu menyimpan cerita duka. Kusno Sujarwadi, 21, anak tertua pasangan Kusmanto, 45, dan Ny. Gini, 38, yang diharapkan menjadi dokter, hilang tak tentu rimbanya. Tragisnya, mahasiswa kedokteran Universitas Pembangunan Nasional (UPN) itu menghilang dari rumah kosnya setelah menerima kiriman uang sebesar Rp 92 juta.Tanpa kabar kemana perginya Kus, panggilan akrab anak tertua dari empat bersaudara ini tentu membuat duka yang mendalam bagi keluarga tersebut. “ Sudah tingga minggu ini kami tidak mendapat kabar kemana perginya Kusno. Hilangnya Kusno sudah kami laporkan ke Polsek Limo, “ tutur Kusmanto, yang ditemui Pos Kota, Rabu (12/3) siang.

Dijelaskan Kusmanto, anak tertuanya itu menuntut ilmu di UPN mengambil jurusan kedokteran. Untuk menghemat biaya hidup, Kusno kos di dekat kampusnya di Depok. “ Sebelum melapor ke polisi, saya mendatangi rumah kos, tapi sudah kosong. Bahkan barang-barang berharga milik anak saya sudah tidak ada. Tolong bantu saya mencari Kusno, “ kata Kusmanto penuh harap.

KOMUNITAS KEAGAMAAN
Hilangnya mahasiswa semester tiga ini, kata Kusmanto, diduga kuat terkait dengan ajaran sebuah komunitas agama Islam yang gencar ia promosikan kepada orang tua dan saudaranya. “ Komunitas keagamaan ini berpusat di daerah Indramayu. Anak saya pernah memutar DVD yang berisi ajaran keagamaan itu. Saya yakin anak saya terpengaruh dengan ajaran ini. Tapi mungkin saja ia diculik, “ ujar Kusmanto.

Nyonya Gini menambahkan anak pertamanya yang diharapkan akan menjadi dokter itu menghilang tanpa pesan. “Komunikasi terakhir Selasa (4/3) malam. Waktu itu dia nelepon nanya kabar saya,” tutur Gini sedih.

Ketika itu Kus hanya sebentar menghubungi.“Dia cuma bertanya tentang keadaan saya dan keluarga. Setelah itu langsung ditutup teleponnya tanpa menyebutkan keberadaannya,” lanjut Gini.

Sikap tak biasa putra sulungnya itu pun menyulut kecurigaan kedua pasangan suami istri ini. Namun, perasaan itu masih dipendamnya. Jumat (7/3) malam, Gini bersama suaminya mengunjungi tempat kos Kus di Jalan Pangkalan Jati II, RT 05/02, Limo, Depok. Di tempat ini keduanya mendapati kamar yang dihuni anaknya telah kosong.

Kusmanto langsung tersentak saat Hj. Andayani, pemilik kos, menyebutkan kalau sudah dua minggu lebih ini Kus tidak datang ke tempat kosnya. “Mendengar itu saya langsung lemas,” ujar Kusmanto.

Terekam dalam benak Kusmanto tentang perilaku sang anak yang sempat diperlihatkan kepadanya sebelum hilang. Kusno terakhir datang ke rumah pada 22 Februari lalu. Saat itu, dia datang untuk menaruh sepeda motor bebeknya. “Waktu itu dia juga sempat memperlihatkan sebuah kepingan DVD yang dibawanya tentang profil dan ajaran pesantren di daerah Indramayu. Bahkan dia juga sempat meminta sama saya kalau adiknya nanti disekolahkan di tempat itu,” kata Gini.

Sambil sedikit berpromosi, Kusno kembali menyebutkan kepada sang ibu bahwa masa depan akan cerah jika mengikuti ajaran yang diterapkan pesantren tersebut. “ Pokoknya apa yang kita inginkan pasti bisa terwujud jika kita masuk ke kelompok itu,” ujar Gini menirukan ucapan Kusno.

MINTA UANG
Sebelumnya, awal Februari, Kusno meminta uang sebesar Rp92 juta kepada orang tuanya. Beralasan untuk membayar uang kuliah, Kusno mendesak agar segera mentransfer uang sebesar itu. Permintaan calon dokter ini dituruti. Pada 18 dan 20 Februari, Kusmanto bersama istri mentransfer ke rekening milik anaknya itu. “Sebenarnya saya nggak punya uang sebanyak itu. Uang itu terkumpul berkat pinjaman dari saudara saudara saya,” tutur Kusmanto yang mengaku percaya dengan permintaan anaknya setelah diperlihatkan sebuah kertas rincian biaya yang dikeluarkan dari kampus tempat Kusno kuliah. “Belakangan diketahui kalau surat itu palsu,” lanjut Kusmanto.

Selama ini Kusno dikenal berperilaku baik. Oleh warga di sekitar tempatnya tinggal, Kusno dikenal sebagai sesosok pemuda yang taat beragama. Perilaku itulah yang memicu kedua orang tuanya untuk menyekolahkan SMP nya di Pondok Pesantren Al Muchlisin, Parung, Bogor. “Lulus dari pondok, dia saya sekolahkan di SMA 41 Sunter,” kata Kusmanto, yang bekerja sebagai karyawan di Ancol.

Terkait kekhawatiran dirinya dengan masuknya sang putra ke dalam suatu kelompok ajaran keagamaan tertentu. Kusmanto sempat menyebutkan kehadiran seorang rekan Kusno yang datang ke rumahnya pada bulan puasa tahun lalu. Saat itu seorang pria berpenampilan rapi dan alim datang ke rumahnya.

“Saya lupa nama lelaki itu. Tetapi semenjak lelaki itu datang, prilaku anak saya langsung berubah. Setiap apa yang dia minta mesti dituruti. Saya juga heran, sepetinya ada yang menyuruh dia” ungkap Kusmanto. Kini, lelaki asal Sragen, Jawa Tengah ini berharap sang putra bisa kembali dengan selamat.

“Masalah uang saya tak pikirkan, yang penting anak saya bisa berkumpul kembali,” kata Kusmanto, sambil mengimbau kepada warga yang mengetahui keberadaan anaknya segera menghubungi nomor telepon 021-98184639.

Hilangnya Kusno ini bukan cerita baru. Beberapa waktu lalu, Fitri, mahasiswi yang kuliah di Bandung, juga tak tentu rimbanya. Orangtua mahasiswi ini menduga, sang anak pergi tanpa pamit karena terpengaruh ajaran sesat. Bahkan, kasus serupa menimpa Anggraini, mahasiswa di Bogor

One response to “Calon Dokter Hilang Setelah Menerima Uang 92 Juta, Diduga Akibat Ikuti Ajaran Sesat

  1. kusno……………………..
    balik no bapak menunggu
    kembalilah kuliah. kami sudah merindukan kehadiranmu ditengah2 kami.

    kasihanilah ke 2 orang tuamu yang telah berharap kamu menjadi seorang dokter yang sholeh.Yang merawatmu ketika kamu kecil. menjagamu sewaktu kamu sakit….

    masih inget ga kamu ketika kamu di timang – timang waktu kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s