Malas Bekerja PRT Dipukul Kepalanya Pakai Palu

JAKARTA – Seorang pembantu rumah tangga, Atik (41), mengalami luka di kepalanya akibat dimartil oleh adik majikannya di Jalan Mawar Merah V No 156, Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (19/4) sore. Atik kini dirawat di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur, karena kepalanya bengkak akibat dipukul lima kali dengan martil.

Menurut Muhammad Ali (46), majikan Atik, pembantunya dipukul oleh adik iparnya, Sandy Surya (16). Saat kejadian Ali sedang pergi bersama istri dan anaknya ke Taman Mini Indonesia Indah. ”Tahu-tahu ketika saya pulang, keadaan rumah sudah ramai. Sandy diamankan di kamar mandi, sedangkan Atik sudah dilarikan ke rumah sakit karena mengeluarkan banyak darah,” tutur Ali sepulang dari RS Islam mengurus pengobatan Atik.

Ali mengaku tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Namun, dia menduga Sandy kesal karena Atik melaporkan ke Irma, istri Ali yang juga kakak Sandy, bahwa Sandy ada di rumah.

”Seharusnya Sandy berada di pondok pesantren karena dia tinggal di sana. Ternyata dia bukannya kembali ke pondok, malah tidur dengan temannya di Stasiun Klender. Lalu dia pulang ke rumah saya, alasannya mau ambil baju. Atik pun melapor ke istri saya,” kata Ali.

Sementara itu, menurut AM Thoyib, Ketua RW 07 Malaka Jaya, Duren Sawit, saat kejadian tidak ada orang di dalam rumah. ”Tahu-tahu saja Atik berlari ke luar rumah sambil berteriak minta tolong. Warga yang mendengar langsung memberikan pertolongan. Sebagian orang lagi langsung menjaga Sandy supaya tidak mengamuk. Martil yang dia pakai untuk memukul tergeletak di meja,” tutur Thoyib.

Thoyib dan warga sudah berusaha menanyakan kepada Sandy alasan dia mengamuk. Namun, Sandy hanya bilang dia kesal, tetapi kepada siapa, Sandy tidak menuturkan.

”Dia memang orangnya tertutup. Tidak ada yang tahu apa yang dia rasakan. Saya saja yang ayahnya tidak tahu,” kata Suryana, ayah Sandy.

Ali menduga Sandy mengamuk karena dia sedang stres. ”Awal 2007, dia pernah mencoba bunuh diri dengan meminum minyak wangi. Setelah itu, dia coba memotong urat nadi di tangan. Namun, belum sampai terlambat, sudah kepergok keluarga,” cerita Ali.

Sandy nekat melakukan itu karena diancam akan dikeluarkan oleh gurunya saat masih bersekolah di sebuah STM. ”Mungkin kali ini dia juga stres. Tetapi apa yang membuat dia stres, tidak ada yang tahu,” tutur Ali.

Kondisi Atik yang berasal dari Kebumen ini, kini sudah sadar, tetapi belum bisa diajak bicara. Dia sudah menjalani pemeriksaan CT Scan dan tidak ada gegar otak. ”Yang dialaminya luka lebam akibat dipukul martil itu. Ada lima luka,” kata Ali yang menganggap Atik sebagai keluarga sendiri karena telah tiga tahun bekerja di rumahnya.

Marjinal

Sementara itu, Sophia Syarif dari Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan, LSM yang bekerja untuk perempuan, termasuk untuk PRT, mengatakan, kekerasan terhadap PRT kerap terjadi karena PRT masih dianggap lemah, hina, dan mempunyai posisi tawar yang rendah. Akibatnya, posisi pembantu masih marjinal di dalam masyarakat.

”Posisi yang rendah ini membuat PRT menjadi sasaran kekerasan oleh majikan atau keluarganya. PRT sendiri sulit untuk melawan karena ada perasaan takut, tidak mengerti, dan juga tidak tahu harus berbuat apa,” kata Sophia.

Mengenai kasus Atik, Sophia melihat kasus ini tidak bisa diangkat dengan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2003 tentang Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

”Kekerasan terhadap PRT juga termasuk dalam KDRT. Namun, karena pelakunya bukan penghuni rumah itu, kasusnya hanya bisa dikenai dengan KUHP Pasal 351 tentang Kekerasan,” ujar Sophia.

Walaupun kasus ini dikategorikan kekerasan, Sophia mengatakan tetap harus didampingi karena sering kali kasus kekerasan PRT dipeti-eskan, terutama untuk kasus yang ringan.

”Sering kali kasus kekerasan kepada PRT tidak dilanjutkan karena keluarga pelaku mengajak damai kepada keluarga korban. Keluarga korban mau saja diajak damai karena mereka tak mengerti dan juga merasa tidak enak karena pengobatan telah dilakukan dan diberi sejumlah uang sebagai pengganti,” kata Sophia.

Dia menuturkan, selain kasus kekerasan fisik, PRT juga sering mendapatkan kekerasan ekonomi, yakni upah kerja tidak dibayarkan. ”Kasus ini juga sulit dibawa ke jalur hukum karena menurut penyidik kasus ini tidak termasuk dalam UU KDRT dan sifatnya ringan. Padahal, ada pembantu yang gajinya belum dibayar sampai lima tahun. Orang lain tentu heran, lima tahun tidak dibayar kok diam saja. Tetapi ya itu, PRT masih tidak tahu haknya. Makanya perlu pendidikan buat PRT,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s