Himpitan Ekonomi Membuat Orang Lemah Iman dan Saraf Melakukan Tindak Kejahatan

Impitan ekonomi di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi salah satu penyebab kian banyaknya tindak kriminalitas belakangan ini mulai dari perampokan hingga pemerkosaan. Demikian disimpulkan dari pendapat beberapa perwira polisi dan sosiolog dari Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola, Minggu (4/5).

Di Sumatera Selatan dan wilayah Kepolisian Metropolitan Jakarta Raya, kualitas tindak kriminalitas meningkat meski secara kuantitas menurun.

Di beberapa kota, seperti Bandar Lampung, Sukabumi, dan Semarang, kuantitas tindak kriminalitas juga kian meningkat selama 2007 dan triwulan pertama tahun 2008.

Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Ito Sumardi di Palembang, Minggu, menuturkan, selama periode Januari-Mei 2008, tindak kriminalitas menurun secara kuantitas, tetapi meningkat secara kualitas. ”Dua jenis kriminalitas yang paling mendapat perhatian kami adalah kasus narkoba dan pencurian dengan kekerasan,” kata Ito.

Pelaku pencurian dengan kekerasan atau perampokan di Sumsel, kata Ito, kini kian banyak memakai senjata api rakitan.

Ito menyebutkan, tindak kriminalitas di Sumsel masih didominasi motif persoalan ekonomi. Salah satunya terlihat dari banyaknya pelaku kejahatan dari kalangan ekonomi kelas menengah dan bawah. ”Jika didetailkan lagi, motif ekonomi berakar pada munculnya kecemburuan sosial kelas kaya-miskin dan ketimpangan kesejahteraan karena masalah korupsi yang kian merajalela dan tidak tersentuh hukum. Ini masalah utama di Sumsel,” ujarnya.

Di wilayah hukum Polda Metropolitan Jakarta Raya (Jaya) pada kuartal pertama, Januari-Maret 2008, terjadi 12.426 kasus kejahatan yang terlapor di kepolisian. Sebagian besar kejahatan, 3.773 kasus, berupa pencurian dengan pemberatan serta kekerasan. Tindak kriminalitas selama empat bulan pertama 2008 di wilayah ini juga kian nekat. Wilayah Polda Metropolitan Jaya mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Data Polda Metropolitan Jaya menunjukkan, jumlah kasus kejahatan yang terlapor di kepolisian pada tiga bulan pertama 2008 sebenarnya lebih rendah daripada periode sama 2007. Pada Januari-Maret 2006 terjadi 13.860 kasus kejahatan, sedangkan pada Januari-Maret 2007 terjadi 13.933 kasus.

Mengaku untuk makan

Di Kota Sukabumi, Jawa Barat, sejumlah tersangka pencuri mengaku tak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecuali mencuri. Menurut Kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II Nyomplong, Kota Sukabumi, Arphan, Minggu, sebagian tahanan dan narapidana yang kini menghuni LP adalah residivis kasus pencurian. ”Banyak narapidana yang keluar dan masuk lagi tersangkut kasus pencurian. Mereka mengaku mencuri agar keluarganya bisa makan,” kata Arphan.

Selain mereka yang sudah ditahan di LP Nyomplong, para tersangka kasus pencurian akibat desakan ekonomi itu ada pula yang ditahan di tingkat kepolisian sektor (polsek). Polsek Citamiang, Kota Sukabumi, misalnya, sedang menangani kasus pencurian karet mentah yang dilakukan anggota satuan pengamanan (satpam) salah satu pabrik.

Kepala Polsek Citamiang Ajun Komisaris Gatot Satrio Utomo mengungkapkan, empat hari lalu, tersangka SU (35) ditangkap karena mencuri karet mentah bersama lima temannya. ”Motif pencurian itu memang desakan ekonomi. Gaji tersangka di pabrik pengolahan karet tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup keluarga,” katanya.

SU, yang bertugas membuka dan menutup pintu pabrik bagi komplotannya, terlibat 15 kali pencurian selama Januari hingga April. ”Dari 15 pencurian itu, saya mendapat Rp 9 juta,” kata SU.

Menurut Kepala Poltabes Bandar Lampung Komisaris Besar Syauqie Achmad, Minggu, tingginya pencurian kendaraan bermotor di wilayahnya karena beberapa faktor. Namun, faktor utamanya adalah kebutuhan ekonomi pelaku dan tidak memiliki akses untuk melakukan korupsi.

Menurut Tamrin Amal Tomagola, kejahatan jalanan, seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, dan penculikan, adalah jenis kejahatan yang cepat meresahkan dan mengancam rasa aman publik. Kejahatan semacam ini kerap berkorelasi dengan faktor kemiskinan atau ketidakberdayaan ekonomi, atau juga dendam.

Sehubungan dengan kasus perampokan dan penembakan di toko perhiasan emas Aladin dan Kausar di Solo, Jawa Tengah, Poltabes Solo didukung Polda Jawa Tengah mulai menemukan titik terang. Menurut Kepala Poltabes Solo Komisaris Besar Syukrani, Minggu, sejumlah residivis diduga terlibat aksi perampokan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s