Penculikan Siswi SMP Terjadi Lagi – Polisi Sudah Mandul Dalam Melawan Kejahatan

Seorang siswa SMP, sebut saja Fikri (13), diculik pada Senin (5/5) pukul 18.30. Ia diculik ketika pulang ke rumahnya usai mampir ke tempat ibunya bekerja di sebuah toko sepatu. Penculik memaksa orangtua korban menyerahkan uang tebusan Rp 100 juta meski korban adalah dari keluarga sederhana.

Demikian disampaikan ibu korban, sebut saja Maria (45), Selasa kemarin. Ia menjelaskan, sepulang sekolah, putrinya mampir ke tempat Maria bekerja.

Maria biasa bekerja pukul 17.00-19.00, tetapi hari itu ia bakal pulang lebih larut. Maria lalu minta putrinya kembali ke rumah. Ia lalu memberi Fikri uang untuk ongkos pulang, naik bajaj.

Fikri pulang sendiri. Ini hal biasa. Setiap berangkat sekolah, Fikri diantar ayahnya. Pulang sekolah, ia naik ojek.

Setengah jam setelah Fikri meninggalkan toko, Maria menelepon putrinya. ”HP-nya (telepon seluler) hidup-mati, hidup-mati, enggak jelas,” tuturnya.

Ketika Maria pulang bekerja dan tiba di rumah pukul 20.30, putrinya belum pulang. Ia dan suaminya khawatir. ”Saya jalan kaki dari toko ke rumah saja cuma 15 menit. Naik ojek cuma 10 menit. Gimana saya enggak waswas?” ujar Maria yang didampingi kakak prianya.

Uang tebusan

Ketika Maria melihat HP-nya, ada tiga kali catatan panggilan tak terjawab (miss call) dari HP putrinya. Pukul 21.00, si penculik menelepon Maria, minta tebusan Rp 30 juta, dan harus diantar malam itu juga. Alasannya, uang itu buat biaya pengobatan anak si penculik yang saat ini dirawat di rumah sakit.

Sadar anaknya diculik, Maria dan keluarganya lapor ke polisi. Tak berapa lama, penculik menghubunginya kembali dan minta uang tebusan ditransfer di anjungan tunai mandiri (ATM), di kawasan Jakarta Selatan.

Sampai di ruang ATM, si penculik menelepon Maria dan memberikan nomor rekeningnya. Maria mengatakan, ia hanya bisa mentransfer uang Rp 10 juta karena kartu ATM-nya adalah kartu ATM perak, bukan kartu ATM emas yang bisa mentransfer uang tak terbatas. Meski demikian, Maria membawa uang tunai sebanyak Rp 25 juta.

Penculik tidak mau, bahkan menaikkan jumlah uang tebusan menjadi Rp 100 juta. ”Saya jawab, lho Bapak kok gitu? Tadi saya sudah siapkan uang Rp 35 juta. Itu, kan, sudah lebih dari tuntutan bapak? Dari mana saya dapat uang sebanyak itu?” kata Maria dengan nada sedih.

Untuk menghidupi keluarga beranak dua ini, Maria dibantu suaminya berdagang telur dan air mineral. Mereka juga membuat usaha kos-kosan di rumahnya.

”Mereka cuma keluarga sederhana,” kata ketua RW setempat, ketika ditemui

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s