Teroris Masih Tinggal Di Kawasan Saleman

AMBON – Untuk mengungkap motif utama penyerangan ke Desa Horale oleh warga Desa Saleman di Kecamatan Seram Utara Barat, Maluku Tengah, Maluku, Jumat pekan lalu, polisi menelusuri jejak teroris. Fakta menunjukkan, jaringan teroris pernah masuk ke Saleman, bahkan ada yang tinggal di sana.

Brigadir Jenderal (Pol) Muhammad Guntur Ariyadi, Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Rabu (7/5), menjelaskan, penyidik kepolisian sedang mencari fakta hukum keterlibatan jaringan teroris. Jika hal itu ditemukan, lanjutnya, pihak ketiga yang terlibat dalam penyerangan ke Horale tak akan bisa mengelak. ”Sudah ada titik terang ke arah keterlibatan pihak ketiga. Saya meyakini ini jaringan teroris, tetapi belum bisa kami ungkapkan sekarang,” papar Ariyadi.

Terkait penyerangan ke Horale, polisi telah menetapkan 26 warga Saleman sebagai tersangka. Mereka adalah penyerang yang bertugas membunuh, membakar, mengebom, atau membawa bensin. Seluruh tersangka masih diperiksa untuk membongkar jaringan teroris yang diperkirakan telah memanfaatkan mereka.

Pola pertikaian antarwarga Saleman-Horale, menurut Ariyadi, sama dengan bentrok antarwarga Laala-Aryate dan Tehoru-Haya. Kedua peristiwa ini didalangi sisa-sisa jaringan teroris. Mereka menggunakan masalah tapal batas petuanan sebagai pemicu konflik.

Sebagaimana diberitakan, akibat konflik tapal batas desa, bentrok antarwarga Horale-Saleman kembali terjadi di Maluku tanggal 2 Mei 2008. Dalam insiden ini, empat warga Horale tewas, 86 bangunan terbakar, dan 511 warga Horale mengungsi. Pengamatan Kompas di Desa Horale dan Horale Lama (Saka), pada Jumat itu 80 rumah ludes terbakar, tiga gereja, satu rumah pastoran, satu gedung SD, dan balai desa juga terbakar.

Menurut Ariyadi, penyerangan pada pukul 04.00 itu dilakukan melalui jalur darat dan laut. ”Pola penyerangan seperti pasukan yang terlatih dan diorganisasi dengan baik,” ujarnya.

Ucu Latumapina (43), warga Saka, menyebutkan, penyerangan diawali dengan suara peluit. Setelah itu terjadi penyerangan serempak dari arah laut dan darat. Warga juga mendengar letusan senapan dan ledakan bom.

Tidak kuat

Ariyadi menilai, alasan konflik tapal batas tidak cukup kuat untuk membakar puluhan rumah, tiga gereja, dan rumah pastori. Bangunan yang dirusak juga dipilih dan dihancurkan dengan menggunakan bom rakitan. ”Penyerangan ternyata dilakukan oleh sekitar 86 orang dan mereka terorganisasi. Ini tidak mungkin dilakukan masyarakat. Pasti ada keterlibatan pihak luar,” katanya.

Secara terpisah, Erik Rumluan, warga Saleman, mengatakan, masalah perbatasan Horale-Saleman tidak pernah diselesaikan secara tuntas oleh pemerintah. Hal ini membuat masyarakat tidak tenang. Ia berharap pemerintah segera memfasilitasi penetapan tapal batas itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s