Monthly Archives: Juni 2008

Tertangkap Tangan Lagi – Anggota DPR Ditangkap Di Plaza Senayan Karena Terima Suap Terkait Dengan Pengadaan Kapal Patroli Dephub

PLAZA SENAYAN – Setelah Al Amin Nur Nasution, malam ini ada seorang lagi anggota DPR RI yang tertangkap tangan telah menerima suap. Kali ini, seorang anggota Komisi V DPR RI, ditangkap di Plaza Senayan Jakarta pada pukul 17.30 tadi.

“Inisialnya BR anggota komisi V,” ujar Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan, Chandra Hamzah, ketika dihubungi wartawan, Senin (30/6). Namun, dia tidak mau menjawab ketika wartawan menanyakan tentang kepanjangan inisial BR itu. Dia hanya tertawa menanggapi pertanyaan tersebut, “Hehehehe….” BR tertangkap petugas KPK terkait kasus pengadaan kapal patroli di Dirjen Perhubungan Laut.

Dia tertangkap tangan telah menerima uang 60.000 dolar AS dan 10.000 Euro dari seseorang yang belum diketahui identitasnya. Saat wartawan menanyakan hal tersebut, Chandra kembali tak bersedia menjawab

BERITA LENGKAP BULYAN ROYAN KLIK DISINI

Dua Supir Angkot Memperkosa Siswi SMK Dibiarkan Bebas Berkeliaran Oleh Polisi Medan

MEDAN – Hampir 2 bulan, kasus pemerkosaan yang menimpa IP, siswa SMK Perguruan Anak Bangsa (PAB), warga Sialang Muda, Kecamatan Hamparan Perak, Medan, belum diproses.

Dua tersangka pelaku yang berprofesi sebagai sopir angkot GD,43, warga Kelambir Lima dan SB,32, warga Kampung Lalang, Medan, tetap bebas berkeliaran.

Menurut Surianto,45, orangtua korban kepada Pos Kota di Medan, kemarin, akibat peristiwa itu, putrinya mengalami trauma bahkan sering menggigau ketakutan.

Selain masa depan anaknya hancur, peristiwa itu membuat pelajar kelas II ini merasa terasing dalam pergaulan sehari-hari karena sering diejek teman-teman sebagai pelacur.

“Kami mengharapkan pihak kepolisian mau menanggapi kasus tersebut dan menangkap pelakunya,” harap Surianto.

Dikatakannya, dirinya bersama anaknya secara resmi membuat pengaduan ke Poltabes Medan pada 3 Mei lalu. Mereka disarankan untuk ke rumah sakit agar korban divisum.

Dari hasil visum dokter disebutkan positif bahwa kemaluan IP, luka akibat dimasuki benda tumpul. Selain itu seorang saksi juga sudah dimintai keterangan.

“Tapi sampai sekarang kedua pelaku masih berkeliaran,” kata ayah 6 anak ini. Diakuinya, keluarga pelaku GD, datang menemuinya untuk berdamai. “Kami tidak mau menempuh jalan damai.

Kasus ini harus diselesaikan secara hukum. Apalagi sepengetahuan warga bahwa pelaku GD sudah tiga kali terlibat dalam kasus cabul,” tambahnya.

Menyikapi kasus cabul tersebut, Kasat Reskrim Poltabes Medan Kompol Budi Haryanto, ketika dikonfirmasi Pos Kota menyatakan, pihaknya masih sibuk mengumpulkan alat bukti jadi selama proses tersebut harus berlaku asas praduga tak bersalah yang sangat menghargai hak-hak asasi pelaku kejahatan sebagai manusia yang tidak bersalah.

PULANG PKL
Diceritakan Surianto, kasus itu bermula ketika anaknya pulang ke rumah usai mengikuti praktek kerja lapangan (PKL) di Kantor Departemen Agama Sumatera Utara, Medan.

Malam itu korban naik angkot ‘Tunas Baru’ jurusan Kampung Lalang-Belawan. Selain korban juga ada beberapa penumpang di dalam angkot tersebut. Satu persatu penumpang turun dan tinggal korban sendirian.

Sebelum korban tiba di tempat tujuan, tiba-tiba sang sopir, membelokkan arah kenderaannya menuju kawasan Medan Tuntungan. Korban sempat menanyakan kepada kenek, kenapa dia tidak diantar ke tempat tujuannya.

Namun, kenek tersebut langsung mengancam korban agar menurut saja. Korban tak bisa berkutik ketika kedua pelaku membawanya ke penginapan. Korban yang tidak berdaya ketika ditelanjangi lalu diperkosa bergiliran oleh kedua pelaku semalaman.

Sopir Bunuh Majikan Hanya Karena Mau Dipecat

MEDAN – Semakin banyak orang yang tidak tahu diri, sudah diuntung dengan dipekerjakan sebagai sopir bukan berterimakasih karena selama ini sudah hidup dari majikannya namun hanya karena mau dipecat, seorang karyawan nekat membunuh majikannya.

Peristiwa tragis itu menimpa Sutikno Wong alias Atek,46, pengusaha elektronik warga Jalan Aksara, Medan, Sabtu malam.

Menurut keterangan, siang itu tersangka Heri,31, penduduk Jalan Kayu Putih, Medan, mendapat kabar dari majikannya bahwa dia akan dipecat sebagai sopir pribadi terhitung 1 Juli 2008.

Malamnya sekitar pukul 21.30 Wib, tersangka ayah satu anak ini mendatangi rumah majikannya menuntut agar dirinya tidak dipecat.

Keduanya terlibat pertengkaran dan tersangka meminta pengusaha elektronik ini memberikan upah mengecat rumah toko (ruko) korban. Namun, korban tetap menolak. Mendengar jawaban itu, Heri langsung menikam korban sebanyak lima kali.

Keluarga korban yang mendengar keributan itu langsung turun dari lantai III dan melihat Sutikno bersimbah darah. Isteri korban Dewi,45, dan anaknya menjerit sehingga mengundang perhatian warga setempat.

Tersangka mencoba kabur, namun massa mengejar dan meringkusnya. Sebelum diserahkan ke Mapolsekta Percut Sei Tuan, tersangka babak belur dihajar warga.

“Melihat dia tetap bersikeras mau memecat, meski sudah saya ancam, saya pun minta uang Rp 100 ribu upah mengecat. Namun dia tetap tak mau memenuhi permintaan saya. Makanya saya bunuh saja supaya saya puas,” kata tersangka kepada polisi.

Pengacara Tidak Beretika Amir Syamsudin Dilaporkan Oleh Warga Amerika

JAKARTA – WN Amerika Serikat (AS), Jonathan Kine, 40, mengadukan tiga pengacara yakni Amir Samsudin, Hardina dan Agusliana ke Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Jumat (27/6) siang. Ketiganya dinilai melanggar kode etik advokat. Pengaduan diterima staf Peradi, Wilda.

Menurut Jonathan Kine, pihaknya terpaksa melaporkan mereka karena telah membuat BAP saksi dalam perkara pidana No. 522/PID.B/2007/PN Jaksel di kantor hukum para teradu. “Perbuatan ini melanggar pasal 7 ayat (e) Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI),” kata pria asal Amerika Serikat yang pasih berbahasa Indonesia ini.

Jonathan Kine yang berprofesi sebagai ahli komputer menjelaskan, saksi Riska pada penyidik Polda mengakui pembuatan BAP itu dilakukan di kantor teradu. “Saya mohon kepada pimpinan Peradi untuk memperhatikan pengaduan ini,” ujarnya.

Warga India Yang Gemar Menyiksa WNI di Amerika Serikat Dihukum 11 Tahun Penjara

WASHINGTON – Tidak seperti di Arab Saudi dimana para penyiksa dan pembunuh warga negara Indonesia bebas berkeliaran tanpa dihukum, di Amerika Serikat penyiksa WNI mendapat hukuman yang berat. Setelah istrinya divonis penjara 11 tahun pada Kamis (26/6) terkait penyiksaan dua warga negara Indonesia (WNI), Pengadilan Tinggi Central Islip di New York kemarin menjatuhkan vonis penjara tiga tahun empat bulan terhadap Mahender Sabhnani, 51.

Pengadilan membuktikan Mahender bekerja sama dengan istrinya Varsha Sabhnani melakukan penyiksaan terhadap Samirah dan Enung yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Selain hukuman penjara, Mahender yang berasal dari India ini harus membayar denda sebesar USD12.500.

Pasangan suami istri Mahender dan Varsha Sabhnani terbukti bersalah melakukan penyiksaan terhadap Samirah dan Enung di rumah mereka di Long Island,New York. Hakim Arthur Spatt yang memimpin sidang mengatakan, meskipun Mahender secara tidak langsung melakukan penyiksaan, dia harus mengetahui apa yang terjadi di rumahnya.

Jaksa penuntut Mark Lesko dan Demetri Jones menyatakan, Mahender juga harus dihukum. ”Dia harus tahu apa yang terjadi di rumahnya dan dia harus dihukum,”ujarnya. Bambang Antarikso dari bidang konsuler KJRI New York yang dihubungi SINDO kemarin mengatakan, jaksa menuntut uang ganti rugi dari terdakwa sebesar USD730.000 untuk Samirah dan USD330.000 untuk Enung.

Hakim Spatt masih akan memutuskan berapa besar uang ganti rugi yang dituntut jaksa. Menurut Bambang,Samirah dan Enung kini dalam kondisi sehat dan dalam proses untuk mendapatkan status imigrasi yang sah di Amerika Serikat.

Pasca Kenaikan BBM Kasus Pencurian Kabel Telpon Telkom Juga Meningkat 56 Persen

BANDUNG – Setelah terus-menerus dirugikan oleh tindakan pencurian kabel telepon di berbagai wilayah di Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. akan menempuh jalur hukum untuk menindak pelaku perusakan dan pencurian kabel telepon. Tahun lalu kasus pencurian kabel telepon tersebut meningkat 56%, ataupun 4.300 kasus pencurian dan perusakan.

Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengatakan, pencurian dan perusakan kabel telepon Telkom terjadi di berbagai wilayah. Hal ini menimbulkan kerugian yang cukup besar. Eddy menilai pencurian ini adalah kejahatan terhadap sarana telekomunikasi dan layak diganjar hukuman berat. “Telekomunikasi merupakan sarana vital. Tak hanya merugikan Telkom tetapi juga kepentingan umum,” ujar Eddy Kurnia, Minggu (29/6).

Eddy mengatakan, frekuensi pencurian terus meningkat akhir-akhir ini. Pada 2006 terjadi sekitar 2.900 kasus. Lalu pada 2007 meningkat menjadi lebih dari 4.300 kasus atau naik sekitar 56 persen. Akibat pencurian dan perusakan itu, kerugian Telkom mencapai puluhan miliar rupiah serta menimbulkan loss of revenue akibat terhentinya jalur telekomunikasi serta kerugian yang diderita pelanggan karena terganggunya fasilitas telekomunikasi.

Lokasi-lokasi pencurian paling tinggi terjadi di Bandung, Cirebon, Binjai, Medan, Solo, Semarang, Jember, dan Malang. Untuk menindak para pencuri, Telkom bekerja sama dengan kepolisian melacak aksi-aksi pencurian kabel. Mereka sepakat meningkatkan pengawasan, pengungkapan, dan penindakan terhadap para pelaku pencurian dan perusakan yang telah merugikan Telkom. “Adanya kerja sama ini, kasus-kasus pencurian jaringan telekomunikasi bisa diminimalisasi,” ujarnya.

Selain melakukan upaya penindakan, Telkom dan Polri akan melakukan tindakan pencegahan dengan meningkatkan patroli. Patroli akan dilakukan khususnya di lokasi yang rawan tindakan pencurian. Telkom bersama Polri beberapa kali telah berhasil menangkap pelaku pencurian di beberapa daerah dan pelakunya segera diajukan ke pengadilan.

Selain itu, Eddy mengharapkan kerja sama dari masyarakat untuk sama-sama memelihara dan menjaga aset Telkom mengingat telekomunikasi merupakan sarana vital dan berpengaruh terhadap kegiatan masyarakat.

Desi Masih Menyimpan Sprei Bekas Bercak Darah Perawannya dan Obat Kuat Serta Gel Pelumas Saat Diperkosa Pertama Kali Oleh Max Moein

JAKARTA – Bercak darah sebagai bukti keperawanannya, obat kuat viagra, jelly dan hand body menjadi alat Max Moein saat memerkosa mantan staf pribadinya, Desi Ferdianti di ruang kerja anggota Gedung DPR RI.

“Bercak darah masih saya simpan dan sudah saya tunjukkan ke Badan Kehormatan, bapak boleh saja membantah dan mengaku sudah tua tetapi saya masih simpan obat-obatan yang digunakan, bahkan masih ada sidik jarinya,” kata Desi Ferdianti didampingi pengurus LBH APIK dan anggota DPR Nursyahbani Katjasungkana di ruang wartawan Gedung DPR.

Anggota DPR, Max Moein yang dituduh memperkosa Desi dipanggil Badan Kehormatan DPR. Max membantah semua yang diungkapkan Desi saat dipanggil BK, dari pelecehan seksual maupun perkosaan.

“Dia membantah, dia menyebutkan usianya sudah 63 tahun sehingga libidonya sudah turun dan sulit ereksi, selain itu korban usianya masih 30 sehingga kalau mau bisa melawan dirinya,” kata Imam Suja’ di sela-sela pemeriksaan Max yang dilakukan secara tertutup.

Kalau pun terjadi hubungan seksual antara kedua orang tersebut, kata Suja’ menirukan, pemerkosaan itu didasari atas rasa suka sama suka sehinga kejadiannya pun bisa lebih dari sekali. “Ya itu intinya Pak Max membantah apa yang disampaikan korban,” tambah Suja’

SELALU DIANCAM
Lebih lanjut Desi mengatakan bahwa Max Moein yang saat itu adalah atasannya benar-benar menggunakan berbagai cara untuk memperdayai dirinya.

“Bapak itu pakai berbagai media mulai dari hand body, jelly, obat viagra dan macam-macam lagi,” katanya. “Saya sudah menolak bahkan melawan, tetapi selalu saja diancam dengan berbagai alasan lain karena Bapak memiliki koneksi kuat akhirnya saya pasrah.”

Desi mengakui, dengan kondisi sekarang ini bukan berarti dirinya tidak malu, bahkan bisa dibilang tak punya muka lagi. Tapi semua sudah terlanjur sehingga segala risiko harus ditempuh.

“Saya malu, semula saya inginkan selesai di internal BK saja, tetapi ternyata melebar ke mana-mana,” jelasnya.

Ditanya apa yang dinginkan dari Max, Desi mengatakan tidak ingin apa-apa kecuali pengakuan dan permintaan maaf kepada kedua orang tuanya.

“Itu saja yang saya inginkan, tetapi ternyata bapak membantah semua. Karena itu saat Bapak (Max) menelpon ke rumah, orang tua saya nggak mau bicara,” ujarnya.