Selain Gemar Membantu Pejabat Berinvestasi dan Berbisnis, Ratu Suap Artalyta Suryani Juga Sering Diperas Hakim Agung Agar Membiayai Tour Golf Luar Negeri Mereka

JAKARTA – Artalyta Suryani tak cuma dikenal di kalangan Kejaksaan Agung. Kepala Pengadilan Negeri Jakarta Barat Khaidir pernah menghubungi Artalyta pada 1 Maret 2008, sehari sebelum Artalyta ditangkap, agar Artalyta membiayai kunjungan dua hakim agung bermain golf ke China.

Hal ini terungkap dalam persidangan di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (30/8), yang memeriksa keterangan Artalyta Suryani sebagai terdakwa. Artalyta Suryani didakwa telah memberikan uang kepada Jaksa Urip Tri Gunawan sebesar 660.000 dollar AS karena diduga terkait dengan perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang melibatkan Sjamsul Nursalim.

Hakim Andi Bachtiar menanyakan apakah Artalyta mempunyai profesi lain sebagai pengurus perkara, Artalyta pun membantah.

”Saya merasa terhina kalau disebut mengurus perkara. Saya ini pengusaha nasional. Joker dengan saya satu level. Saya ini sebagai pengusaha bisa dibilang sudah mapan dan tidak punya pinjaman kepada siapapun. Maaf ini saya katakan kalau saya dianggap mengurus perkara. Kalau saya membantu Djoko Tjandra apakah saya disebut orangnya Djoko? Kalau saya membantu Nursalim apakah saya disebut orangnya Nursalim? Dan kalau saya membantu Anthony apakah saya disebut orangnya Anthony?” kata Artalyta.

Pertanyaan ini diajukan Andi Bachtiar karena adanya percakapan telepon Artalyta dengan seorang perempuan dengan nomor telepon kode negara +65 terkait dengan pengurusan perkara PT Nusa Mineral di Mahkamah Agung.

”Saya bacakan transkrip percakapan Anda, (Artalyta : ”Bohong kalau orang lain tahu. Saya kan juga punya kaki tangan. Hakim-hakim saya kenal. Saya bukan percayain hanya pada tiga hakim agung itu, tetapi masih banyak hakim agung lainnya, masih ada Ibu Marianna, ada Pak Paulus, dan sekretaris-sekretaris di MA.”) Apa kaitannya ini?” tanya Andi Bachtiar.

Artalyta menjawab bahwa itu tidak ada kaitannya dengan perkara BLBI, tetapi menyangkut perkara PT Nusa Mineral Utama perusahaan yang menurut Artalyta adalah miliknya sendiri.

Petinggi negara

Di dalam persidangan, Artalyta juga mengaku kalau setelah Urip ditangkap ia juga menelpon sejumlah petinggi negara di luar Kejaksaan Agung. Namun, ia menolak menyebutkan identitas petinggi-petinggi yang ia kontak tersebut.

Di dalam persidangan diputarkan pula percakapan telepon antara Artalyta dengan seorang perempuan dengan nomor telepon +659361689. Komunikasi telepon ini terjadi pada tanggal 1 Maret 2008 pukul 10.28.

(Suara perempuan): Udah pulang, Yin?

AS; Sudah, saya mau ke salon. Mau datang ke undangan launching lagunya SBY.

(Suara perempuan): Yin, saya dengar dari telepon tetapi saya tidak tahu benar atau tidak, si Tommy Gozali telepon, ada teman dia dari Kehakiman katanya, kita punya perkara Nursalim kayaknya ditolak. Jadi keputusannya sudah keluar. Dia bilang temannya sih bilang, ini masih bisa kita masukkin dengan cara perdata. Maksudnya dia mau cari obyek, kerjaanlah. Saya bilang sama dia gak usah, saya sudah aman, si Ayin yang urus, jangan campurinlah. Saya cuma mau kasih tahu Ayin, saya dengar begitu, asal Ayin tahu aja gitu.

AS: Ini namanya teori melebur. Itu jawaban lawan, harus melalui perdata. Ini keputusan belum, kemarin deadlock.

Berbelit-belit

Di dalam persidangan, Artalyta beberapa kali ditegur para hakim karena dinilai berbicara berbelit-belit dan tidak jujur.

Artalyta mengatakan, ia pertama kali kenal dengan Urip karena komunitas gerejanya. Namun, Ketua Majelis Hakim Mansyurdin Chaniago mengatakan, ”Anda mengatakan Anda beragama Buddha, kok ini Anda sebut komunitas gereja?”

Artalyta pun mengatakan, ”Maksudnya teman-teman saya banyak komunitas gereja, Pak Hakim.”

Artalyta bersikeras bahwa uang yang ia berikan kepada Urip adalah uang pinjaman karena Urip mau membuka bengkel. ”Urip tadinya minta hampir Rp 10 miliar,” kata Artalyta.

Namun, saat ditanya soal kenapa Urip minta tambahan bonus, Artalyta mengaku tidak tahu. ”Kalau terdakwa mengatakan ini pinjaman, kenapa Urip minta bonus?” tanya hakim Edward Pattinasarani.

Hakim Agung Kenal

Juru bicara Mahkamah Agung Djoko Sarwoko mengatakan, perkara yang dimaksud Artalyta adalah perkara Tata Usaha Negara yang ditangani Paulus Effendi Lotulung dengan anggota Marina Sidabutar dan Prof Sukardja.

”Putusannya No atau tidak dapat diterima. Artalyta saat ini masih mengajukan PK dengan nomor perkara 926/PK/TUN/2008, hingga kini belum putus,” kata Djoko.

Djoko mengakui bahwa banyak hakim agung yang mengenal Artalyta tetapi tidak ada indikasi mengarah pada adanya permainan.

”Mudah-mudahan tidak mengarah ke sana,” kata Djoko

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s