Rio Alex Bullo – Sang Martil Maut – Pembunuh Berantai Pengacara Terkenal Purwokerto Dan Pembunuh Koruptor Iwan Zulkarnaen Segera Dihukum Mati

Rio Alex Bullo (30), pembunuh berantai yang beraksi selama 1997-2001 di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Purwokerto, akan dieksekusi mati sebelum 17 Agustus.

Rencananya, Alex Bullo yang dikenal sebagai Si Martil Maut dan kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Batu, Nusakambangan, Cilacap, akan dieksekusi di Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwokerto Diah Sri Kanti, Selasa (22/7), mengatakan hingga saat ini tak ada lagi upaya hukum lainnya yang dapat ditempuh Alex Bullo yang akhirnya aksinya terungkap di Purwokerto pada 2001 lalu untuk lepas dari jeratan hukuman mati.

Hal itu menyusul permohonan grasi yang diajukan terpidana telah ditolak Presiden Megawati Soekarnoputri. Permohonan peninjauan kembali sekitar tiga tahun lalu juga telah ditolak oleh Mahkamah Agung. Sudah tertutup bagi Alex Bullo untuk melanjutkan proses hukum, ucap Sri Kanti. Lebih lanjut, Kepala Seksi Pidana Umum Sunarwan mengatakan dalam waktu dekat ini Kejari Purwokerto akan mengadakan rapat koordinasi dengan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah dan Kepolisian Daerah Jawa Tengah di Semarang, guna membicarakan teknis pelaksanaan eksekusi.

Sampai sekarang, kami belum memutuskan lokasi eksekusi. Namun, pastinya eksekusi akan dilaksanakan di Purwokerto, katanya. Alex Bullo hingga sekarang dipenjara satu kompleks dengan tiga terpidana mati Bom Bali, Amrozi cs, di sel khusus, LP Batu. Dia dipindahkan ke sel itu karena pada Mei 2005 lalu dirinya terbukti membunuh teman satu penjaranya di LP Permisan, terpidana korupsi Rp 27 miliar, Iwan Zulkarnaen (34).

Dalam setiap aksinya, Alex selalu menggunakan dua buah martil untuk membunuh para korbannya yang diperkirakan sudah mencapai lima orang. Kedua martil itu digunakan untuk menikam kepala para korbannya sehingga dia dikenal sebagai Si Martil Maut.

Mei tahun 2005 lalu, Alex kembali melakukan pembunuhan, kali ini teman satu penjaranya di Lembaga Pemasyarakatan Permisan, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, yakni Iwan Zulkarnaen (34). Pembunuhan itu dilakukan dengan cara menutup kepala korban dengan sarung dan membentur-benturkannya ke dinding hingga tewas.

Alex melakukan pembunuhan tersebut karena tersinggung dengan ucapan korban yang tak lain adalah guru mengajinya sendiri selama mendekam di LP Permisan

Iring-iringan mobil penjemput terpidana mati Rio Alex Bullo, Minggu (3/8 ) malam pukul 21.35 WIB meninggalkan LP Nusakambangan menuju arah Purwokerto.

Wartawan ANTARA yang memantau di Dermaga Wijayapura Cilacap, melaporkan, Kapal Pengayoman II merapat di Dermaga Wijayapura pukul 21.35 WIB kemudian satu demi satu mobil yang berada di dalam kapal keluar dari dek dan langsung menuju arah Purwokerto.

Mobil pertama yang turun dari kapal adalah kendaraan patroli pengawal diikuti satu unit mobil antiteror dan bom, kemudian mobil Kijang bertuliskan Brimob, dan terakhir Kijang LGX warna biru nopol B 7352 P.

Terpidana mati dalam kasus pembunuhan tersebut kemungkinan berada di dalam mobil antiteror dan bom.

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari petugas yang berwenang soal kemungkinan pelaksanaan eksekusi terhadap narapidana itu, apakah dilakukan Minggu (3/8 ) malam ini hingga Senin (4/8 ) dini hari atau yang bersangkutan ditempatkan di ruang isolasi LP Purwokerto terlebih dahulu.

Rio Alex Bullo divonis mati Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto karena melakukan pembunuhan sadis terhadap seorang pengacara terkenal sekaligus pemilik persewaan mobil di Purwokerto, Jeje Suraji (39), di Hotel Rosenda Baturaden pada 21 Januari 2001.

Dalam aksinya, Rio mamakai alat berupa martil yang digunakan untuk memukul kepala korban sekaligus menghabisi nyawanya.

Selain Jeje, Rio juga terbukti membunuh tiga korban lain dalam dua peristiwa berbeda di Semarang dan Bandung.

Rio, yang semula mendekam di LP Kedungpane Semarang, dipindahkan ke LP Permisan di Pulau Nusakambangan. Namun di tempatnya yang baru, dia membunuh narapidana kasus korupsi, Iwan Zulkarnaen, pada awal Mei 2005.

Namun aksi pembunuhan tersebut tidak disidangkan lantaran Rio telah mendapat sanksi pidana maksimal, yakni hukuman mati

Meski Rio Alex Bulo sudah mendekati masa eksekusi, keluarga almarhum Jeje Suraji hingga kini masih trauma atas peristiwa pembunuhan pengusaha persewaan mobil sekaligus pengacara kondang di Purwokerto itu.

“Saya membawa ketiga anak untuk tinggal di rumah kerabat di Jakarta karena hingga kini kejadian itu belum hilang dari ingatan. Kami masih dihinggapi perasaan ketakutan yang mendalam,” kata istri almarhum Jeje, Rina Wardani, saat dihubungi dari Purwokerto, Jateng, Sabtu.

Dia mengaku terpaksa meninggalkan rumah di Perum Purwosari, Kecamatan Baturaden, Banyumas, dengan membawa ketiga anaknya Gesa Andani, Riski Asih, dan Gilang Putra Aji karena masih trauma atas peristiwa pembunuhan suaminya di Hotel Rosenda Baturaden tujuh tahun silam.

Ia mengharapkan, pembunuh suaminya (Rio Alex Bulo, red.) segera dieksekusi mati agar trauma terhadap peristiwa tersebut segera hilang.

“Kami akan terus trauma jika Rio masih hidup meski saat ini dia berada di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan,” katanya.

Seperti yang diketahui, Rio Alex Bulo divonis mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto karena melakukan pembunuhan sadis terhadap seorang pengacara terkenal sekaligus pemilik persewaan mobil di Purwokerto, Jeje Suraji (39), di Hotel Rosenda Baturaden pada 21 Januari 2001.

Berbagai upaya hukum berupa grasi, kasasi, hingga PK telah diajukan tetapi semua itu tetap ditolak dan hukumannya tetap, yakni hukuman mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s