Primadona Pelacur Kalijodo Tewas Dibunuh Dengan Pisau Menancap Dileher

Primadona pelacur Kalijodo di kompleks pelacuran Penjaringan, Jakarta Utara, tewas mengerikan, Rabu (13/8) malam. Wanita ini dibunuh di kamar mandi rumah bordil milik germonya. Dua puluh tusukan senjata tajam bersarang di tubuhnya. Bahkan, pisau pembunuh sadis itu nancap di leher korban.

Ketika ditemukan, mayat Eka Sari alias Tyas, 23, dalam kondisi bugil. Darah dari luka yang diderita primadona penghuni kompleks pelacuran Kalijodo itu membasahi lantai kamar mandi. Selain membunuh, pelaku yang diduga teman kencan korban, membawa kabur HP dan perhiasan emas.

Petugas Polsek Penjaringan yang memerika mayat Tyas mencatat, 20 luka tusukan senjata tajam itu bersarang di sekujur tubuh korban. Luka mematikan ada di leher dan dada. Pembunuh meninggalkan pisau maut itu di leher Tyan. Pisau ini nancap sedalam 10 Cm di leher korban.

“ Dompet korban berisi uang Rp 250 ribu KTP tidak diambil pelaku. Dompet ini kami temukan di kamar korban. Kamis akan mengusut kasus ini sampai tuntas, “ kata Kanit Reskrim Polsek Penjaringan Iptu Ali Zusron.

Peristiwa mengerikan ini mengejutkan penghuni Wisma ME, tempat Tyas mencari napkah sebagai wanita penghibur. Dalam waktu singkat, teman seprofesi korban di Jalan Kepanduan II, Kalijodo, berdatangan ke wisma tersebut. “ Tyas memang primadona disini. Hampir tiap hari dia kedatangan tamu. Setahu saya Tyas belum ada pacar, “ kata Kiki, 22, teman dekat korban yang pertama kali menemukan mayat.

TERIMA TAMU
Kiki, saksi kunci yang diharapkan membantu mengungkap kasus pembunuhan ini dimintai keterangan di Polsek Penjaringan. Kepada petugas, Kiki menjelaskan, Tyas asal Pekalongan, Jawa Tengah itu baru 8 bulan bekerja sebagai pelacur di Kalijodo.

“ Ketika saya membuka pintu kamat mandi, Tyas sudah meninggal. Dia telanjang bulat. Kedua tangannya memeluk ember, “ ujar Kiki.

Ditambahkan Kiki, malam itu sekitar pukul 22:00, ia sempat melihat seorang pemuda masuk ke kamar Tyas. Sejam kemudian, pemuda yang diduga sebagai pelaku pembunuh, keluar dari kamar tersebut. Kepergian pemuda itu tidak dihiraukan Kiki. Hal ini lazim bagi seorang pelacur yang usai kencan.

Beberapa menit kemudian, Kiki mendapat pirasat yang tidak enak tentang temannya itu. Dengan memberanikan diri, ia masuk ke kamar Tyas yang tidak terkunci. Di kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidur itulah Kiki menemukan sehabatnya tewas. Kiki menjerit histeris. Tak lama, wanita penjaja cinta ini pingsan.

Dalam waktu singkat, di rumah bordil berlantai dua yang dilengkapi dengan lantai disco itu, dipenuhi para pelacur dan lelaki hidung belang. Mata mereka mengarah ke kamar nomor 17, tempat pembunuhan sadis itu terjadi.

ANJING PELACAK
Malam itu juga, petugas Polsek Penjaringan dibantu Polres Jakarta Utara, mendatangkan seekor anjing pelacak ke kompleks pelacuran ini. Dikawal petugas, anjing ini mengendus-endus kamar korban. Namun, anjing pelacak yang diharapkan membantu menemukan pelaku, berhenti di ujung jembatan di belakang Wisma ME. Polisi kehilangan jejak. Sedangkan Pohan, 45, pemilik wisma yang juga germo, dimintai keterangan.

Selain mengindikasikan unsur perampokan, petugas menduga pembunuhan ini berlatar belakang cemburu. Petugas mendapat informasi, pemuda yang terakhir meninggalkan kamar, menjalin hubungan cinta dengan korban. “Kami masih menyelidiki motif dibalik aksi pembunuhan ini,” tambah Ali Zusron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s