Mental Bobrok Bangsa Indonesia – Korban Kebakaran Pasar Petamburan Bukan Ditolong Malah Dijarah Dan Tidak Menggubris Isak Tangis Memohon Mohon Dari Para Korban

Pagi ini, merupakan pagi yang suram bagi pedagang di Pasar Petamburan Jakarta. Bagaimana tidak? Seluruh harta benda bersama sumber mata pencaharian mereka ludes dilalap si jago merah. Maklum, kios-kios kecil di pasar itu juga berfungsi sebagai tempat tinggal, dan tempat berteduh bagi mereka.

Kobaran api meratakan bangunan semi permanen itu dalam waktu yang begitu cepat, dua jam. Alhasil, hanya arang yang tersisa dari pasar yang berada tepat di samping sungai untuk pembangunan banjir kanal barat itu.

Namun, bagi sebagian orang, kebakaran ini merupakan suatu berkah, terutama bagi pengumpul besi rongsokan dan para penjarah. Begitu api padam, beberapa pengumpul dan penjarah, antre untuk memasuki lokasi kebakaran. Pita berwarna kuning bertuliskan ‘police line’ di sekeliling lokasi tak dihiraukan oleh mereka.

Sejumlah gerobak yang ditinggal pemiliknya, berjejer di samping pasar. Rupanya, sang pemilik sedang mencari korban kebakaran yang berniat menjual sisa barangnya yang terbuat dari seng atau besi. Satu tumpuk besi dan seng, kebanyakan ditawar dengan harga Rp150.000-Rp200.000.

Sejumlah korban kebakaran pun lantas berlomba untuk mengumpulkan besi dan seng di lokasi itu, meski barang-barang itu bukan milik mereka. “Ya, lumayan mbak. Buat uang makan anak atau tambah-tambah ngontrak kamar,” ujar Kasmiran sembari mengumpulkan seng, Selasa (19/8).

Menurut pengumpul, seng dan besi bekas itu dibelinya dengan harga relatif murah karena yang ditawarkan korban kebakaran, biasanya lebih banyak seng dari pada besi. “Kalau dijual, seng itu hanya laku Rp500 per kilogram. Kalau besi Rp2.000 per kilogram,” jelas Bakri, salah satu tukang rongsok.

Selain itu, puing-puing musibah pagi ini juga menyisakan keuntungan bagi penjarah dagangan. Sebagian besar merupakan ibu-ibu yang mengambil bahan makanan pokok atau palawija. Gosong sedikit, itu tak masalah. Alasannya cukup sederhana, yaitu kenaikan harga bahan makanan. Memang dasar mental maling dan berahlak tipis, apa saja bisa dijadikan alasan pembenaran untuk menjarah harta benda orang lain.

Para korban kebakaran tak berdaya dengan keberadaan para penjarah itu. Mereka hanya bisa berteriak, “Bu, jangan bu. Sudah, cukup. Nanti saya jualan apa lagi?” teriak Asep, seorang pedagang palawija yang cabai keriting dan tomatnya sedang dijarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s